The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Modul Pegangan Asistensi Lab Kimia Organik

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by zuhairiahnasution, 2022-10-02 22:34:59

Pegangan Asistensi Lab Kimia Organik

Modul Pegangan Asistensi Lab Kimia Organik

Keywords: Refluks,destilasi,sokletasi

MODUL PEGANGAN
ASISTENSI LABORATORIUM

KIMIA ORGANIK

Oleh : Zuhairiah NST.,S.Pd.,M.Si

LABORATORIUM KIMIA
JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN, Jl. Willem Iskandar / Pasar V, Medan, Sumatera Utara – Indonesia
Website : unimed.ac.id

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan kemudahan dalam penulisan Modul Pegangan Asistensi
Laboratorium Kimia Organik sehingga modul ini dapat diselesaikan
dengan baik dan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. Modul
ini disusun dengan tujuan untuk mempermudah asisten laboratorium
kimia organik dalam mendampingi mahasiswa menjalankan mata
kuliah praktikum kimia organik.

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak
yang telah banyak membantu penyusunan modul pelatihan asistensi
laboratorium kimia organik ini.

Penulis menyadari modul ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari semua pihak demi perbaikan modul ini kedepannya.

Medan, September 2022

Penulis

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………. i
DAFTAR ISI …………………………………………………………… ii
BAGIAN 1. PROSEDUR PEMINJAMAN DAN PENGEMBALIAN

ALAT LABORATORIUM ……………………………….. 1
A. Tujuan ……………………………………………….. 1
B. Ruang Lingkup dan Pihak Terkait ………………… 1
C. Tugas Pihak yang Terlibat …………………………. 2
D. Bagan Alir ……………………………………………. 3
BAGIAN 2. ALAT-ALAT PADA PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK … 5
A. Molymod …………………………………………….. 5
B. Alat Refluks …………………………………………. 8
C. Alat Destilasi ………………………………………… 10
D. Alat Sokhletasi ……………………………………… 13
E. Heating Mantle (Mantel Pemanas)……………….. 16
BAGIAN 3. HAL-HAL PENTING UNTUK DIPERHATIKAN …….. 18
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………. 23

ii

BAGIAN 1
PROSEDUR PEMINJAMAN DAN PENGEMBALIAN ALAT-ALAT

LABORATORIUM

A. Tujuan

Tujuan penyusunan prosedur peminjaman dan pengembalian
alat-alat laboratorium ini adalah sebagai berikut :

1. Sebagai panduan bagi mahasiswa, asisten laboratorium,
laboran, dosen dan pihak lain yang terlibat tentang peminjaman
dan pengembalian alat-alat laboratorium.

2. Menjamin bahwa kegiatan pemanfaatan alat laboratorium
dapat berjalan tertib, sehingga kegiatan praktikum dapat
dilaksanakan sesuai dengan waktu dan mutu yang
direncanakan.

3. Menjamin bahwa alat yang digunakan untuk praktikum sesuai
dengan kondisi dan fungsi yang baik.

B. Ruang Lingkup dan Unit Terkait

Prosedur ini berlaku dan dilaksanakan di Laboratorium Kimia
Organik Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Negeri Medan dalam pelaksanaan praktikum. Dalam
pelaksanaannya melibatkan :

a. Mahasiswa
b. Laboran
c. Asisten Laboratorium Kimia Organik
d. Kepala Laboratorium Kimia

1

C. Tugas Pihak yang Terlibat
1. Asisten Laboratorium Kimia Organik
 Merekap kebutuhan alat-alat yang akan digunakan pada
praktikum
 Berkoordinasi dengan laboran untuk menyiapkan alat-alat
praktikum sesuai kebutuhan
 Memastikan alat-alat praktikum yang akan digunakan sudah
tersedia di meja praktikan di waktu pelaksanaan praktikum.
 Menerima alat-alat dari mahasiswa setelah selesai
praktikum.
 Memeriksa dan mencatat jika terdapat alat yang kurang
atau rusak setelah selesai praktikum dan
mengkomunikasikan dengan mahasiswa yang bertanggung
jawab.
2. Laboran
 Berkoordinasi dengan asisten laboratorium untuk
menyiapkan alat-alat praktikum sesuai kebutuhan.
 Menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan dalam
pelaksanaan praktikum sesuai jumlah dan konsentrasi yang
dibutuhkan.
3. Mahasiswa
 Memeriksa keadaan alat-alat praktikum yang sudah
disediakan di meja masing-masing praktikan.
 Berkoordinasi dengan asisten laboratorium jika terdapat alat
yang rusak atau kurang.
 Mengisi bon peminjaman alat sesuai keadaan alat yang
disediakan.

2

 Menyerahkan bon peminjaman alat kepada asisten
laboratorium sebelum praktikum dimulai.

 Memastikan kebersihan alat-alat setelah selesai praktikum.
 Mengecek keadaan alat-alat praktikum sebelum diserahkan

Kembali kepada asisten laboratorium setelah selesai
praktikum.
 Mengganti dengan alat yang sama apabila terdapat alat
yang rusak atau hilang Ketika dipakai.
D. Bagan Alir

a. Peminjaman Alat Laboratorium

Aslab Menyiapkan Alat Praktikum sesuai
judul percobaan di atas meja praktikum

Praktikan memeriksa keadaan
dan jumlah alat

Ada Alat Kurang/Rusak Alat Lengkap dan
Lapor Aslab kondisi baik

Dilengkapi/Diganti

Mengisi Bon alat sesuai
keadaan sebenarnya

Pelaksanaan praktikum

3

b. Pengembalian Alat Laboratorium
Selesai praktikum

Praktikan mengecek
kelengkapan alat-alat

praktikum

Tidak sesuai Sesuai
(Kurang/Rusak) Selesai

Praktikan mengganti
dengan alat yang sama

4

BAGIAN 2
ALAT-ALAT PADA PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

A. Molymod

Bentuk molekul merupakan konsep dasar dalam kimia organik.
Molekul ini berbentuk tiga dimensi dan interaksi ruang dari suatu
bagian molekul dengan bagian molekul lainnya sangat penting dalam
menentukan sifat fisik dan kimia dari molekul-molekul tersebut
(Syaffrudin, 2000).

Molekul terlalu kecil untuk diamati langsung. Cara efektif
untukmemvisualisasikan molekul adalah dengan menggunakan model
molekul. Salah satu model molekul yang sering digunakan dikenal
dengan istilah Molymod.

Molymod yaitu suatu media pembelajaran kimia yang terdiri atas
bola warna-warni yang menggambarkan suatu atom dan mempunyai
lubang sesuai dengan jumlah atom yang dapat diikat oleh atom
tersebut serta pasak yang menggambarkan ikatan yang terjadi antara
dua atom tersebut. Penggunaan molymod dapat menjadikan materi
yang bersifat abstrak menjadi konkrit dihadapan mahasiswa. Melalui
media molymod mahasiswa dapat melihat secara langsung model
molekul dari senyawa hidrokabon. Selain itu keuntungan media
molymod salah satunya adalah dapat dibongkar pasang sehingga
mahasiswa dapat berlatih sendiri untuk membentuk struktur dari
hidrokarbon serta isomernya (Sari, 2013).

Set Molymod dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut :

5

Gambar 2.1. MMS-008 - Organic Student Set
(Sumber : https://www.molymod.com/sets.html)

Set Molymod terdiri atas :

1. Bola warna-warni yang mewakili masing-masing atom
dengan jumlah lubang pada bola sesuai dengan jumlah
valensi atom tersebut. Bola-bola atom ini memiliki warna
yang berbeda untuk mewakili atom-atom yang berbeda.
Sebagai contoh :
Bola Hitam, memiliki 4 lubang  Atom C dengan 4 valensi
Bola Putih, memiliki 1 lubang  Atom H dengan 1 valensi
Bola Merah, memiliki 2 lubang  Atom O dengan 2 valensi
Bola Biru, memiliki 3 lubang  Atom N dengan 3 valensi
Bola Hijau, memiliki 1 lubang  Halogen dengan 1 valensi

2. Bagian Panjang yang disebut Link sebagai ikatan antar
atom. Terdapat 3 ukuran link pada setiap set molymod yaitu
pendek (short link) berukuran 2 mm, sedang (medium link)
berukuran 19 mm dan Panjang (long link) berukuran 30 mm.

6

Ikatan tunggal dibuat menggunakan medium link,
sedangkan ikatan rangkap dibuat menggunakan long link.
Short link pada umumnya digunakan untuk ikatan antara C
dengan H.
Molymod dapat digunakan untuk membuat model hampir semua
molekul organik. Pada gambar 2.2 berikut ini dapat dilihat beberapa
bentuk molekul senyawa organik menggunakan molymod.

ab

cd
Gambar 2.2. Beberapa contoh model molekul senyawa organik
dengan menggunakan molymod : a. metana b. propana c. benzene
dan d. etanol

7

B. ALAT REFLUKS

Refluks merupakan proses yang harus dilalui agar reaksi yang
terjadi dapat berjalan lebih cepat dan sempurna, sehingga diperoleh
hasil dengan rendemen yang cukup baik (Purwono dkk., 2013).
Umumnya refluks dilakukan pada reaksi yang lambat terbentuk produk.
Refluks dilakukan menggunakan seperangkat alat refluks. Dua bahan
atau lebih yang akan direaksikan biasanya termasuk katalis dan batu
didih dimasukkan ke dalam labu alas bulat (leher satu, dua atau tiga
tergantung kebutuhan). Labu kemudian disambungkan dengan
pendingin bola yang telah disambungkan dengan selang untuk air
pendingin.

Setelah alat terpasang semua, labu dipanaskan sampai
campuran mendidih. Uap pelarut atau uap campuran akan naik sampai
pendingin bola, dan akan terkondensasi kembali ke dalam labu. Begitu
seterusnya sampai beberapa menit atau beberapa jam sampai
diperoleh hasil yang diinginkan.

Cara merangkai alat refluks adalah sebagai berikut :

1. Letakkan labu alas bulat diatas pemanas yang akan
digunakan. Posisi pemanas dalam keadaan off.

2. Tuang sampel yang akan direfluks kedalam labu alas bulat
lalu jepit leher labu menggunakan klem yang terhubung
pada statif. Labu tidak boleh terisi lebih dari setengah.

3. Masukkan beberapa buah batu didih kedalam labu alas
bulat. Batu didih tidak boleh digunakan saat merefluks
larutan pekat asam sulfat atau asam fosfat, karena akan
mewarnai larutan.

8

4. Hubungkan kondensor secara tegak berdiri ke dalam mulut
labu. Jangan lupa untuk mengoleskan Vaseline di mulut labu
dan pinggir kondensor. Jepit kondensor menggunakan klem
yang terhubung pada statif.

5. Hubungkan selang dari keran air untuk air masuk pada
bagian bawah dan selang untuk air keluar pada bagian atas.
Pastikan selang air keluar menuju ke saluran pembuangan
air. Nyalakan keran air secara perlahan dan biarkan air
memenuhi kondensor. Pastikan air dapat masuk dan keluar
dengan lancar.

6. Jika seluruh rangkaian sudah set, pemanas dapat
dinyalakan dan proses refluks dapat berlangsung.

Rangkaian alat refluks dapat dilihat pada gambar 2.3 berikut :

Gambar 2.3. Set alat refluks

9

C. ALAT DESTILASI

Destilasi adalah suatu metode pemisahan campuran yang
berwujud cair berdasarkan perbedaan titik didih masing-masing
komponen dalam campuran. Prinsip destilasi adalah penguapan cairan
dan pengembunan kembali uap tersebut pada suhu titik didih. Titik
didih suatu cairan adalah suhu dimana tekanan uapnya sama dengan
tekanan atmosfer. Cairan yang diembunkan kembali disebut destilat.
Tujuan destilasi adalah pemurnian zat cair pada titik didihnya, dan
memisahkan cairan tersebut dari zat padat yang terlarut atau dari zat
cair lainnya yang mempunyai perbedaan titik didih cairan murni. Pada
destilasi biasa, tekanan uap di atas cairan adalah tekanan atmosfer
(titik didih normal). Untuk senyawa murni, suhu yang tercatat pada
termometer yang ditempatkan pada tempat terjadinya proses destilasi
adalah sama dengan titik didih destilat (Sahidin, 2008).

Destilasi ada beberapa macam diantaranya adalah destilasi
biasa atau destilasi sederhana, destilasi fraksinasi, destilasi uap,
destilasi vakum dan destilasi azeotrope. Pada praktikum kimia organik
ini, destilasi yang digunakan adalah destilasi sederhana.

Set alat destilasi sederhana terdiri atas labu alas bulat,
kondensor (pendingin), termometer, erlenmeyer, pemanas. Peralatan
lainnya sebagai penunjang adalah statif dan klem, adaptor
(penghubung), selang yang dihubungkan pada kondensor tempat air
masuk dan air keluar, batu didih.

Cara merangkai alat destilasi sederhana hampir mirip dengan
alat refluks, yaitu :

10

1. Letakkan labu destilasi diatas pemanas yang akan
digunakan. Posisi pemanas dalam keadaan off.

2. Tuang sampel kedalam labu destilasi lalu jepit leher labu
menggunakan klem yang terhubung pada statif.

3. Masukkan beberapa buah batu didih kedalam labu destilasi
4. Hubungkan kondensor dengan labu. Jepit kondensor

menggunakan klem yang terhubung pada statif.
5. Letakkan thermometer di mulut labu bagian atas.
6. Hubungkan selang dari keran air untuk air masuk pada

bagian bawah dan selang untuk air keluar pada bagian atas.
Nyalakan keran air secara perlahan dan biarkan air
memenuhi kondensor. Pastikan air dapat masuk dan keluar
dengan lancar.
7. Tempatkan labu penampung di ujung kondensor untuk
menampung destilat yang keluar.
8. Jika seluruh rangkaian sudah set, pemanas dapat
dinyalakan dan proses destilasi dapat berlangsung

Set alat destilasi sederhana dapat dilihat pada gambar 2.4.

Gambar 2.4. Set alat destilasi sederhana

11

Adapun fungsi masing-masing alat yaitu labu alas bulat (labu
destilasi) sebagai wadah untuk penyimpanan sampel yang akan
didestilasi. Kondensor atau pendingin yang berguna untuk
mendinginkan uap destilat yang melewati kondensor sehingga
menjadi cair. Kondensor atau pendingin yang digunakan
menggunakan pendingin air dimana air yang masuk berasal dari
bawah dan keluar di atas, karena jika airnya berasal (masuk) dari atas
maka air dalam pendingin atau kondensor tidak akan memenuhi isi
pendingin sehingga tidak dapat digunakan untuk mendinginkan uap
yang mengalir lewat kondensor tersebut. Oleh karena itu pendingin
atau kondensor air masuknya harus dari bawah sehingga pendingin
atau kondensor akan terisi dengan air maka dapat digunakan untuk
mendinginkan komponen zat yang melewati kondensor tersebut dari
berwujud uap menjadi berwujud cair.

Termometer digunakan untuk mengamati suhu dalam proses
destilasi sehingga suhu dapat dikontrol sesuai dengan suhu yang
diinginkan untuk memperoleh destilat murni. Erlenmeyer sebagai
wadah untuk menampung destilat yang diperoleh dari proses
destilasi. Pipa penghubung (adaptor) untuk menghubungkan antara
kondensor dan wadah penampung destilat (Erlenmeyer) sehingga
cairan destilat yang mudah menguap akan tertampung dalam
erlenmeyer dan tidak akan menguap keluar selama proses destilasi
berlangsung. Pemanas berguna untuk memanaskan sampel yang
terdapat pada labu alas bulat. Penggunaan batu didih pada proses
destilasi dimaksudkan untuk mempercepat proses pendidihan
sampel dengan menahan tekanan atau menekan gelembung panas
pada sampel serta menyebarkan panas yang ada ke seluruh bagian
sampel. Sedangkan statif dan klem berguna untuk menyangga

12

bagian-bagian dari peralatan destilasi sederhana sehingga tidak jatuh
atau goyang.

D. ALAT SOKHLETASI

Sokletasi adalah metode pemisahan suatu komponen yang
terdapat di dalam sampel padat dengan cara penyarian secara
berulang-ulang dengan pelarut tertentu sehingga semua komponen
yang diinginkan akan terisolasi sempurna. Pelarut yang
digunakan tergantung pada jenis komponen yang akan dipisahkan.
Peralatan yang digunakan dalam sokletasi disebut soklet. Senyawa
organik yang terdapat dalam sampel tersebut harus tahan terhadap
suhu panas atau senyawa organik tersebut tidak mengalami degradasi
karena suhu panas. Pelarut dan sampel ditempatkan secara terpisah
dan penyarian dilakukan secara berulang-ulang. Bila penyarian telah
selesai maka pelarutnya diuapkan Kembali dan sisanya adalah yang
tersaring. Pelarut yang digunakan haruslah sesuai dengan jenis
senyawa yang akan disari. Senyawa polar hanya dapat larut dalam
pelarut polar begitu juga dengan senyawa non polar hanya dapat larut
dalam senyawa non polar.

Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagai pelarut yang
akan digunakan adalah sebagai berikut :

1. Pelarut yang digunakan masih baru.
2. Pelarut yang digunakan adalah pelarut murni. Hal ini

bertujuan agar hasil yang diperoleh lebih maksimal
3. Pelarut tersebut harus terpisah secara tepat jika dikocok.

13

Metode sokletasi mempunyai keuntungan dari metode lain
karena :

1. Sampel dapat terekstraksi dengan senyawa secara sempurna
karena dalam metode ini penyarian dilakukan beberapa kali
atau secara kontinu.

2. Menggunakan pelarut yang tidak banyak dan pelarut yang
digunakan tersebut tidak habis karena penyarian yang
dilakukan beberapa kali dan dapat digunakan lagi setelah hasil
isolasi dipisahkan.

3. Proses ekstraksi cepat

Sebaliknya, metode sokletasi ini juga mempunyai kekurangan
di antaranya yaitu tidak baik digunakan untuk mengekstraksi senyawa-
senyawa yang tidak tahan panas.

Dalam sokletasi juga dikenal istilah selongsong. Selongsong

merupakan kertas saring yang dibentuk sedemikian rupa sehingga

menyerupai silinder yang di dalamnya dimasukkan

sampel padat yang akan diekstraksi. Selongsong ini biasanya dibuat

sesuai dengan ukuran alat soklet supaya pada saat pemasukan

selongsong ke dalam alat soklet tidak mengalami kesulitan.

Tahapan untuk melakukan sokhletasi adalah :
1. Sampel padat yang akan digunakan harus dihaluskan terlebih

dahulu, kemudian dibungkus dengan kertas saring agar tidak
tercampur dengan pelarut.
2. Letakkan labu alas bulat diatas pemanas, dengan keadaan
pemanas tidak menyala. Tuang pelarut dan masukkan batu
didih kedalam labu alas bulat. Leher labu dijepit dengan klem
yang terhubung ke statif.

14

3. Masukkan sampel yang telah dibungkus kertas saring kedalam
timbal. Lalu, hubungkan timbal dengan mulut labu alas bulat.
Jepit bagian tubuh timbal dengan klem yang terhubung ke statif.

4. Pasang kondensor diatas timbal, lalu hubungkan selang air
masuk dari bagian bawah kondensor dan selang air keluar
dibagian atas kondensor.

5. Jika rangkaian alat sudah set, pemanas dapat dinyalakan dan
sokhletasi dapat berlangsung.

Set Alat Sokhlet dapat dilihat pada gambar 2.5 berikut ini :

Gambar 2.5. Rangkaian alat sokhlet

15

E. HEATING MANTLE (MANTEL PEMANAS)

Mantel pemanas adalah peralatan laboratorium yang digunakan
untuk memanaskan sampel dalam botol atau wadah. Alat ini sering
digunakan pada laboratorium kimia terutama laboratorium kimia
organik. Fungsi mantel pemanas ini berbeda dengan alat pemanas
lainnya seperti waterbath, hotplate, oven dan lain-lain karena pada
mantel pemanas, wadah sampel langsung diletakkan kedalam
cekungan yang merupakan sumber energi panas. Sumber energi
panas ini berasal dari arus listrik yang mengalir kedalam topi elemen
(berbentuk setengah bulat) yang didalamnya terdapat nikelin yang dililit
dan diselubungi oleh selongsong panas. Selain itu, mantel pemanas
dapat memberikan panas yang langsung dan merata terhadap bahan
uji.

Untuk memanaskan bahan uji tertentu menggunakan heating
mantle, bahan uji diletakkan kedalam botol atau wadah yang terbuat
dari bahan kaca seperti labu destilasi atau labu alas bulat. Heating
mantle memiliki ukuran yang berbeda-beda karena disesuaikan
dengan ukuran wadah. Makin besar ukuran wadah sampel, makin
besar pula ukuran mantel pemanas yang digunakan.

Cara menggunakan alat ini bisa dibilang cukup mudah. Berikut
tahapannya :

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Rangkai alat atau labu ukur yang sudah berisi bahan/sampel di

atas alat tersebut tepatnya didalam cekungan mantel.
3. Sambungkan dengan arus listrik, lalu tekan tombol on.
4. Anda bisa mengatur suhu dari skala paling kecil hingga paling

besar.

16

5. Jika sudah, dapat dilakukan pemanasan sesuai prosedur kerja
yang ditentukan.
Contoh Heating mantle (mantel pemanas) dapat dilihat pada

gambar 2.6 berikut :

gambar 2.6. Contoh Heating Mantle
(Sumber : https://analitika.co.id/heating-mantle/)

17

BAGIAN 3
HAL-HAL PENTING UNTUK DIPERHATIKAN

A. Pakaian di Laboratorium

Pekerja laboratorium harus mentaati etika berbusana di
laboratorium. Busana yang dikenakan di laboratorium berbeda dengan
busana yang digunakan sehari hari. Busana atau pakaian di
laboratorium hendaklah mengikuti aturan sebagai berikut :

a. Dilarang memakai perhiasan yang dapat rusak oleh bahan kimia,
sepatu yang terbuka, sepatu licin, atau berhak tinggi.

b. Wanita dan pria yang memiliki rambut panjang harus diikat, rambut
panjang yang tidak terikat dapat menyebabkan kecelakaan. karena
dapat tersangkut pada alat yang berputar.

c. Pakailah jas praktikum, sarung tangan dan pelindung yang lain
dengan baik meskipun, penggunaan alat alat keselamatan
menjadikan tidak nyaman.

B. Bekerja dengan Bahan Kimia

Bila anda bekerja dengan bahan kimia maka diperlukan
perhatian dan kecermatan dalam penanganannya. Adapun hal umum
yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :

a. Hindari kontak langsung dg bahan kimia ada
b. Hindari menghirup langsung uap bahan kimia
c. Dilarang mencicipi atau mencium bahan kimia kecuali

perintah khusus ( cukup dg mengkibaskan kearah hidung )

18

d. Bahan kimia dapat bereaksi langsung dg kulit menimbulkan iritasi
(pedih dan gatal)

C. Memindahkan Bahan Kimia

Dalam memindahkan bahan kimia maka harus diperhatikan hal
hal sebagai berikut :

a. Baca label bahan sekurang kurangnya dua kali untuk menghindari
kesalahan dalam pengambilan bahan misalnya antara asam sitrat
dan asam nitrat.

b. Pindahkan sesuai jumlah yang diperlukan
c. Jangan menggunakan bahan kimia secara berlebihan
d. Jangan mengembalikan bahan kimia ke tempat botol semula untuk

menghindari kontaminasi, meskipun dalam hal ini kadang terasa
boros

D. Memindahkan Bahan Kimia Cair

Untuk memindahkan bahan kimia yang wujudnya cair terdapat
beberapa hal yang harus diperhatikan adalah :

a. Tutup botol dibuka dengan cara dipegang dengan jari tangan dan
sekaligus telapak tangan memegang botol tersebut.

b. Tutup botol jangan ditaruh diatas meja karena isi botol bisa
terkotori oleh kotoran yang ada diatas meja.

c. Pindahkan cairan dengan mengalirkannya melalui batang
pengaduk untuk menghindari percikan.

d. Pindahkan dengan alat lain seperti pipet volume sehingga lebih
mudah.

19

E. Memindahkan Bahan Kimia Padat

Pemindahan bahan kimia padat memerlukan penanganan
sebagai berikut :

a. Gunakan sendok sungu atau alat lain yang bukan berasal dari
logam.

b. Jangan mengeluarkan bahan kimia secara berlebihan.
c. Gunakan alat untuk memindahkan bebas dari kontaminasi. Hindari

satu sendok untuk bermacam macam keperluan.

F. Cara Pemanasan Larutan dalam Tabung Reaksi

Pemanasan tabung reaksi sering dilakukan dalam suatu
percobaan di laboratorium. Ada banyak reaksi yang harus dilakukan
pemanasan untuk mempercepat proses reaksi. Tata cara melakukan
pemanasan tabung reaksi adalah :

a. Isi tabung reaksi sebagian saja, sekitar sepertiganya.
b. Api pemanas terletak pada bagian bawah larutan.
c. Goyangkan tabung reaksi agar pemanasan merata.
d. Arah mulut tabung reaksi pada tempat yang kosong agar

percikannya tidak mengenai orang lain.

G. Cara memanaskan dengan Gelas Kimia

Pemanasan yang dilakukan menggunakan gelas kimia ( bukan
tabung reaksi) maka harus memperhatikan aturan sebagai berikut :

a. Gunakan kaki tiga sebagai penopang gelas kimia tersebut.
b. Letakkan batang gelas atau batu didih pada gelas kimia untuk

menghindari pemanasan mendadak.

20

c. Jika gelas kimia tersebut berfungsi sebagai penangas air , isikan
air seperempatnya saja supaya tidak terjadi tumpahan.

H. Peralatan dan Cara Kerja

Bekerja dengan alat alat kimia juga berpotensi terjadinya
kecelakaan kerja, oleh karena itu harus diperhatikan hal hal sebagai
berikut :

a. Botol reagen harus dipegang dengan cara pada bagian label ada
pada telapak tangan .

b. Banyak peralatan terbuat dari gelas , hati hati kena pecahan kaca.
Bila memasukkan gelas pada prop-karet gunakan sarung tangan
sebagai pelindung.

c. Ketika menggunakan pembakar spritus hati hati jangan sampai
tumpah di meja karena mudah terbakar. Jika digunakan bunsen
amati keadaan selang apakah masih baik atau tidak.

d. Hati hati bila mengencerkan asam sulfat pekat, asam sulfatlah
yang dituang sedikit demi sedikit dalam air dan bukan sebaliknya.

I. Pembuangan Limbah

Limbah bahan kimia secara umum meracuni lingkungan, oleh
karena itu perlu penanganan khusus :

a. Limbah bahan kimia tidak boleh dibuang langsung ke lingkungan.
b. Buang pada tempat yang disediakan
c. Limbah organik dibuang pada tempat terpisah agar bisa didaur

ulang.
d. Limbah padat (kertas saring, korek api, endapan) dibuang ditempat

khusus.
21

e. Limbah yang tidak berbahaya (Misal : detergen) boleh langsung
dibuang ,dengan pengenceran air yang cukup banyak.

f. Buang segera limbah bahan kimia setelah pengamatan selesai.
g. Limbah cair yang tidak larut dlm air dan beracun dikumpulkan pada

botol dan diberi label yang jelas.
J. Gas Berbahaya

Ada beberapa gas yang berbahaya keberadaannya di
laboratorium. Gas gas tersebut adalah :
a. Bersifat Iritasi , misalnya gas HCl, HF, nitrat dan nitrit, klorin,sulfur

dioksida (cermati baunya yang menyengat).
b. Karbon monoksida merupakan gas yang sangat mematikan,

semua reaksi yang menghasilkan gas tersebut dihindari, karena
tidak berwarna, dan tidak berbau
c. Hidrogen sianida berbau seperti almond, Hidrogen sulfida dikenali
dari baunya dan Hidrogen selenida (H2Se) gas yg sangat beracun.

22

DAFTAR PUSTAKA

Bahan Ajar Pelatihan Manajemen Laboratorium, Deroktoral Jendral
Pendidikan Tinggi, Proyek Peningkayan Manajemen
Pendidikan tinggi, 2002

https://analitika.co.id/heating-mantle/
https://www.molymod.com/sets.html
Ibrahim. 2009, Ekstraksi, Sekolah Farmasi ITB, Bandung.
Mujiono & Milyardi, Indra. 2013. Evaluasi Kinerja Heating Mantle Hasil

Perekayasaan. Prosiding Seminar Pengelolaan Perangkat
Nuklir dan Pemanfaatan Isotop dan radiasi. BATAN.
Sari, Amalia. P. Ashadi. Nugroho, A. 2014. Studi Komparasi Model
Pembelajaran Sted Dengan Menggunakan Media Animasi
Macromedia Flash Player dan Molymod pada Pembelajaran
Kimia Materi Pokok Ikatan Kovalen Ditinjau dari Kreativitas
Siswa. Jurnal Pendidikan Kimia. Vol 2 (2).
Supaya. 2019. Refdes Kombinasi Alat Refluks dan Distilasi, Upaya
Efisiensi Proses Refluks dan Distilasi untuk Praktikum Kimia
Organik. Indonesian Journal ofLaboratory Vol 2 Ed 1.
Syaffrudin, Nuraini. 2000. Ikatan Molekul. Bandung :
Universitas Terbuka.

23



UNIVERSITAS NEGERI MEDAN, Jl. Willem Iskandar / Pasar V, Medan, Sumatera Utara – Indonesia
Website : unimed.ac.id


Click to View FlipBook Version