prajurit wanita itu di sebuah ruangan yang khusus untuk
menerima para tamu di barak prajurit Srikandi itu.
Prajurit wanita itu pun sudah menghilang di balik pintu
ruang khusus tamu itu.
Maka tidak lama berselang, terlihat Nyi Rangga Nariratih
telah datang menemui mereka berdua.
“Baru saja aku akan ke Tanah Ujung Galuh untuk
mengunjungi kalian”, berkata Nyi Rangga Nariratih
kepada Gajahmada dan Pendeta Gunakara.
“Waktu kami lebih senggang daripada Nyi Rangga
Nariratih”, berkata Pendeta Gunakara kepada Nyi
Rangga Nariratih yang sejak tinggal di Puri Tanah Ujung
Galuh jarang sekali bertemu muka. Sementara
Gajahmada hampir setiap hari menyempatkan waktunya
mengunjungi ibundanya di barak itu setelah berlatih di
sanggar istana bersama Pangeran Jayanagara.
Akhirnya setelah menanyakan keadaan dan keselamatan
masing-masing, pendeta Gunakara menyampaikan
rencana mereka berkunjung ke Tanah Pasundan.
“Perjalanan ke Tanah Pasundan sangat jauh, aku akan
merindukan kalian”, berkata Nyi Rangga Nariratih.
“Sebuah perjalanan baru dari Mahesa Muksa mengenal
dunia yang lebih luas”, berkata Pendeta Gunakara.
“Kutitipkan putraku ini yang nakal”, berkata Nyi Nariratih
sambil tersenyum kepada Pendeta Gunakara yang
diketahui begitu sayangnya pendeta itu kepada
Gajahmada sebagaimana dirinya. Itulah sebabnya tidak
ada kekhawatiran apapun melepas Gajahmada pergi ke
Tanah Pasundan agar dapat menambah wawasan dan
pengalaman diri bagi masa depannya sendiri.
Diam-diam Nyi Nariratih merasa bersyukur bahwa
651
putranya berada dilingkungan orang-orang hebat.
Mendapat bimbingan olah kanuragan dari seorang guru
yang hebat, Putu Risang bersama Pangeran
Jayanagara. Mendapat bimbingan olah kejiwaan dari
seorang pendeta Gunakara. Juga selama tinggal di
Tanah Ujung Galuh telah banyak mengenal pengetahuan
tentang ketata negaraan lewat seorang Jayakatwang,
seorang Maharaja Besar yang pernah berkuasa di Tanah
Jawa itu.
“Bawalah bersamamu senjata cakra ini, semoga hati
ibundamu selalu ada dalam ingatanmu”, berkata Nyi
Rangga Nariratih kepada Gajahmada sambil
menyerahkan sebuah cakra kepada Gajahmada.
Terlihat Gajahmada menerima senjata cakra dari tangan
ibundanya, sebuah senjata lingkaran bergerigi dengan
sebuah tangkai untuk memegangnya. Bukan main
gembiranya hati Gajahmada, ketika berlatih di sanggar
istana telah banyak mengenal berbagai jenis senjata.
Dan senjata cakra inilah yang dianggapnya sangat
sempurna, seperti penggabungan dari berbagai jenis
senjata. Namun senjata cakra milik Nyi Rangga Nariratih
tidak terlalu besar, jadi dapat disembunyikan di balik
pakaiannya.
“Terima kasih ibunda”, berkata Gajahmada penuh rasa
terimakasih.
Sebagaimana seorang ibu kepada anaknya yang akan
pergi jauh, banyak pesan dan nasehat diberikan Nyi
Rangga Nariratih kepada putranya Gajahmada.
Dan suasana ruang tamu di barak pasukan Srikandi
terasa menjadi lebih ramai lagi manakala Jayakatwang
dan istrinya Turuk Bali telah datang.
“Baginda Raja Kertarajasa telah berkenan mengijinkan
652
keberangkatan kita ke Tanah Pasundan, bahkan telah
mengusulkan putranya Pangeran Jayanagara dan Putu
Risang untuk ikut bersama”, berkata Jayakatwang
memberi kabar tentang pertemuan mereka di istana
dengan Raja Kertarajasa.
Dan pagi itu awan putih telah memenuhi cakrawala langit
biru seperti kapas di hamparan permadani biru yang luas
berarak ditiup angin timur. Terlihat tiga ekor elang laut
melintas terbang menuju laut lepas di atas tiang-tiang
layar perahu dagang yang tengah merapat di Dermaga
Bandar Tanah Ujung Galuh.
Tidak begitu jauh dari Bandar Tanah Ujung terlihat
sebuah puri yang berdiri begitu indah seperti sebuah
menara api bila dilihat dari arah laut lepas. Itulah puri
Jayakatwang yang menjadi tempat kediamannya
bersama istri tercintanya Turuk Bali. Di puri indah itu pula
Jayakatwang mengisi hari tuanya sebagai seorang
begawan yang melahirkan banyak tembang jiwa, menulis
banyak karya sastra jiwa yang indah bersama istri
tercintanya yang setia menemani dan mendampinginya.
Dan pagi itu terlihat dua orang lelaki telah memasuki
halaman muka puri itu, ternyata adalah Pangeran
Jayanagara bersama gurunya, Putu Risang.
“Keindahan pagi ini menjadi sempurna dengan
kedatangan kalian berdua”, berkata Jayakatwang
menyambut kedatangan Pangeran Jayanagara dan Putu
Risang ketika mereka tengah naik diatas tangga
pendapa puri itu.
“Semoga darma kita langgeng sampai datang Hari
Galungan tahun depan”, berkata Putu Risang mewakili
Pangeran Jayanagara ketika telah berada diatas
pendapa puri Jayakatwang.
653
Gajahmada dan Pendeta Gunakara yang berada diatas
pendapa itu juga menyambut kedatangan Pangeran
Jayanagara dan Putu Risang.
“Baginda Raja Kertarajasa telah meminta Rakyan
Argalanang mendampingi pelayaran kita sampai ke
bandar Muara Jati”, berkata Putu Risang mengawali
pembicaraan mereka yang akan berangkat besok menuju
Tanah Pasundan.
“Begitu besar perhatian Baginda Raja, sampai mengutus
seorang pejabat istana”, berkata Jayakatwang penuh
kegembiraan mendengar perhatian Raja Kertarajasa
begitu besar menyiapkan keberangkatan mereka ke
Tanah Pasundan.
“Keberangkatan kita adalah kunjungan kekeluargaan
antara keluarga Majapahit dan keluarga Pasundan. Itulah
sebabnya Baginda Raja Kertarajasa telah menyiapkan
segalanya, memastikan kita akan sampai di tujuan
dengan selamat”, berkata Putu Risang
“Benar, keluarga Majapahit dan Keluarga Pasundan
adalah dua suadara penguasa di Tanah Jawa ini. Tali
persaudaraan itu harus terus terjalin, saling menjaga,
saling asah, asih dan asuh, itulah pesan Eyang buyut
Prabu Guru Darmasiksa kepada kita”, berkata Pangeran
Jayanagara.
“Gusti Yang Maha Agung telah mengaruniakan
keturunan Prabu Guru Darmasiksa seperti sang surya
yang bersinar dari timur dan barat. Mengikat seperti tali
sutra yang halus lewat pernikahan putra putrinya,
berbesan dengan Raja tanah Melayu dan Raja
Singasari”, berkata Jayakatwang
“Mengikat tali perdamaian, itulah cita-cita luhur Prabu
Guru Darmasiksa untuk semua keturunannya”, berkata
654
pendeta Gunakara setelah lama berdiam diri.“Sebuah
cita-cita yang begitu mulia yang harus kita jaga dan
lestarikan bersama”, berkata kembali pendeta Gunakara.
“Damai di hati, damai di bumi”, berkata Jayakatwang
perlahan.
(TAMAT)
bersambung ke KISAH DUA NAGA DI PASUNDAN
655