Para ilmuwan akhir-akhir ini juga tergerak hatinya melakukan
penelitian secara mendalam akan khasiat madu secara ilmiah. Mereka
membuktikan bahwa ternyata madu memang memiliki banyak manfaat bagi
kesehatan tubuh.
Pertama, madu dapat digunakan sebagai zat anti bakteri dan jamur.
Karena madu ternyata dapat menghambat pertumbuhan bakteri seperti
staphylococcus aureus, patogen tertentu, serta fungi atau jamur, semisal
Candida albicans. Dengan konsentrasi 30-50 persen, madu mampu
memperlihatkan khasiatnya sebagai antibiotik konvensional untuk infeksi
saluran kencing.
Kedua, madu digunakan sebagai anti diare. Dengan konsentrasi
hingga 40 persen, madu memberikan efek bakterial yang akan menghambat
laju sejumlah bakteri yang menyebabkan diare serta disentri, seperti
Salmonella, Shigella, enteropatogenik E coli, dan Vibrio cholera. Dalam
sebuah studi, madu dengan cairan rehidrasi oral mampu mengurangi durasi
bakteri baik pada anak-anak maupun bayi yang menderita diare.
Ketiga, madu dapat digunakan sebagai penyembuh luka dan anti-
inflammatory (luka bakar). Madu memiliki arti penting dalam
menyembuhkan luka bakar, infeksi bekas operasi.
Keempat, madu dapat digunakan sebagai zat antitusif dan
ekspektoran. Madu yang diandalkan sebagai obat batuk ini terkait dengan
kemampuannya untuk mencairkan dahak dan melegakan tenggorokan.
Kelima, madu sebagai sumber nutrisi. Madu yang tak terkontaminasi
sangat sehat, makanan yang alami, dan mengandung banyak energi. Karena
mengandung karbohidrat, protein, lipid, enzim, vitamin dan mineral.
Madu juga dapat digunakan sebagai pengganti gula karena madu lebih
menyehatkan dibandingkan gula yang ada di pasaran. Dan juga sebagai
sumber antioksidan dan mengandung zat antibiotik.
Hasil penelitian para ilmuwan menunjukkan bahwa madu memiliki
keunikan dan manfaat yang luar biasa bagi kesehatan tubuh. Selain sebagai
obat, madu juga bisa dimanfaatkan untuk perawatan kecantikan dan bahan
penyedap makanan. Hebatnya lagi madu manfaat madu dapat dirasakan
49
untuk semua usia baik balita, anal-anak, remaja, dewasa, ataupun manula.29
Wallahu a’lam bis showab.
D. Penutup
Hadis tentang keutamaan madu yang terdapat dalam Kitab Sunan
Ibnu Majah memiliki jalur periwayatan yang bermasalah, karena terdapat perawi
yang dinilai lemah secara intelektual. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa
hadis ini kualitasnya dhaif dan tidak boleh dijadikan sebagai hukum. Walaupun
demikian mengkonsumsi madu tetap dianjurkan oleh Rosulullah Saw. Karena
dalam hadis Rosulullah Saw. yang lain yaitu hadis riwayat Imam Bukhori
disebutkan bahwa madu dapat menyembuhkan penyakit. Dan sudah dibuktikan
juga bahwa madu sangat bermanfa’at bagi kesehatan tubuh.
Bibliograf
Al-Kharasani, Ahmad bin Al-Hussein bin Ali bin Musa Al-Khusrawjirdi.
Syu’abul Iman. Juz 8. Riyadh: Maktabah Ar-Rusyd, 2003.
Al-Mizzi, Jamaluddin Abi al-Hajjaj Yusuf. Tahzib Al-Kamal fi
Asma Al-Rijal, Juz 8-20. Beirut: Dar Al-Fikr, 1994.
Al-Qazwini, Ibnu Majah Abu Abdullah Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu
Majah. Juz 2. Saudi Arabia: Dar Ihya’ Al-Kutub, 1889.
Asy-Syami, Sulaiman bin Ahmad bin Ayub bin Matir Al-Lakhmi. Al-Mu’jamul
Ausath. Juz 1. Kairo: Dar Al-Haramain, 1986.
Sakri, M. Faisal. Madu dan Khasiatnya Suplemen Sehat Tanpa Efek Samping.
Yogyakarta: penerbit Diandra Pustaka Indonesia, 2015.
29 Faisal M. Sakri, Madu dan Khasiatnya Suplemen Sehat Tanpa Efek Samping, hal. 5
50
LA NIKAHA ILLA BI WALI
Oleh: Siti Hajrah Akib
A. Pendahuluan
Menghabiskan hidup dan Menua bersama kekasih hidup merupakan
impian bagi setiap orang,sehingga sudah banyak yang melakukan
pernikahan.Islam memandang pernikahan merupakan sesuatu yang luhur dan
sakral,bermakna ibadah kepada Allah, mengikuti sunnah Rasulullah dan
dilaksankan atas dasar keikhlasan, tanggung jawab dan mengikuti ketentuan-
ketentuan hukum yang harus diindahkan.
Adapun dalil anjuran nikah dalam Al-Qur’an :
َُٖواَنْكِ ُحوا اْلَََّي ٰمى ِمْن ُك ْم َوال ٰصلِ ِحَْْي ِم ْن ِعبَاِدُك ْم َواَِم ٰۤا ِٕى ُك ْم اِ ْن ّيَ ُكْونُْوا فَُقَٰۤراءَ يُ ْغنِِهُم اَّٰللُ ِم ْن فَ ْضلِه
َٖواَّٰللُ َوا ِس ٌع عَلِْيم
Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga
orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki
dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada
mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha
Mengetahui. (QS. An-Nur 24: Ayat 32)
Dalam Islam,pernikahan dianggap sah apabila terpenuhi rukun nikah
dan syarat sah nikah.pasangan muslim yang hendak menikah,hendaknya
mengetahui rukun dan syarat sah nikah,agar perkawinanannya sah dimata hukum
dan agama. Adapun salah satu rukun nikah yaitu adanya Wali dari calon
pengantin perempuan.apabila wali dari perempuan tidak ada,maka dianggap tidak
sah.
Maka dari itu, alasan mengapa saya mengambil hadis “la nikaha illa
bi wali” untuk dibahas pada pentakhrijan hadis ini, karena menurut
saya,Sebagian atau bahkan masih banyak orang beranggapan bahwa Wanita itu
dapat menikahkan dirinya sendiri dan itu termasuk salah satu haknya selagi
syariat mengakui keridhaannya.tetapi yang patut diketahui bahwa,disamping
Wanita mempunyai hak untuk menerima suami yang diridhainya,hak ini terikat
dengan izin walinya.sebab,nikah tidak sah kecuali dengan keberadaan
wali.wanita tidak mempunyai hak untuk menikahkan dirinya sendiri,tidak pula
selainnya,dan tidak boleh pula mewakilkan kepada selain walinya untuk
menikahkannya.jika dia melakukannya,maka pernikahannya tidak sah.Hal ini
banyak terdapat dalilnya baik dalam AlQuran maupun hadis.
Adapun sabda Rasulullah saw terkait wali :
لَ نِ َكا َح إِ ّلَ بَِوٍِل
51
Artinya: tidak sah nikah kecuali dengan keberadaan wali.
Pada pentakhrijan hadis yang saya lakukan, Saya mengambil hadis diatas.
B. Pembahasan
a. Redaksi Hadis
1. Musnad Ahmad bin Hambal
حدثنا عبد الله حدثِن أِب ثنا وكيع وعبد الرْحن عن إسرائيل عن أِب إسحاق عن أِب بردة عن قال
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :أبيه ل نكاح ال بول
“Telah memberitakan kepada kami Abdullah, mengabarkan kepadaku
ayahku, memberitakan kepada kami Waki’ dan Abdurrahman dari Israil
dari Abu Ishaq dari Abu Burdah dari ayahnya, ia berkata, “Nabi SAW,
bersabda: Tiada nikah kecuali dengan wali.”30
2. Sunan Abu Daud31
حدثنا ُممد بن قدامة بن أعْي ثنا أبو عبيدة اْلداد عن يونس وإسرائيل عن أِب إسحاق عن أِب
’‘ بردة عن أِب موسى :أن النِب صلى الله عليه وسلم قال ” ل نكاح إل بول
3. Sunan at-Tirmidzi32
حدثنا علي بن حجر أخَبَن شريك بن عبد الله عن أِب إسحق وحدثنا قتيبة حدثنا إسحق ح
وحدثنا ُممد بن بشار حدثنا عبد الرْحن بن مهدي عن إسرائيل عن أِب إسحق ح وحدثنا عبد الله
بن أِب زَّيد حدثنا زيد بن حباب عن يونس بن أِب إسحق عن أِب إسحق عن أِب بردة عن أِب
موسى قال :قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ل نكاح إل بول قال وِف الباب عن عائشة و ابن
عباس و أِب هريرة و عمران بن حصْي و أنسأبو عوانة عن أِب
30 Musnad Ahmad bin Hambal,juz 4,hal.394
31 Sunan Abi Daud,juz 1,hal.635
32 Sunan At-Tirmizi,juz 3,hal.407
52
4. Sunan Ibnu Majah33
حدثنا ُممد بن عبد الملك بن أِب الشوارب .حدثنا أبو عوانة .حدثنا أبو إسحاق اْلمداِن عن
أِب بردة عن أِب موسى قال – :قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :ل نكاح إل بول
5. Sunan ad-Darimi34
َح َّدثَنَا َعلِ ُّى بْ ُن ُح ْجٍر أَ ْخَََبََن َشِري ٌك َع ْن أَِبى إِ ْس َحا َق َع ْن أَِبى بُْرَدةَ َع ْن أَِبى ُمو َسى َع ِن الّنَِِب -صلى
» الله عليه وسلم -قَاَل «:لَ نِ َكا َح إِ ّلَ بَِوٍِل
33 Sunan Ibnu Maja,juz 1,hal.605
34 Sunan Ad-Darimi,juz 6,hal.446
53
b. Takhrij Hadis Utama
حدثنا عبد الله حدثِن أِب ثنا وكيع وعبد الرْحن عن إسرائيل عن أِب إسحاق عن أِب بردة عن قال
أبيه ل نكاح ال بول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
Artinya: Telah memberitakan kepada kami Abdullah, mengabarkan kepadaku
ayahku, memberitakan kepada kami Waki’ dan Abdurrahman dari
Israil dari Abu Ishaq dari Abu Burdah dari ayahnya, ia berkata,
“Nabi SAW, bersabda: Tiada nikah kecuali dengan wali.
c. Skema Sanad
ْرسولْالله قال
ْأبيْبردة عن
ْأبيْإسحاق عن
ْإسرائيل
ْْعبدْالرحمن عن
عن وكيع
أبي عبدْالله عن
عبدْالله
حدثنا
54
Dalam rangkaian sanad diatas,para perawi menggunakan kata
( حدثناtelah memberitakan kepada kami).beberapa ulama menganggapnya
sama dengan memberikan keterangan langsung kepada periwayatan yang
menyampaikan hadis tersebut.dan memiliki kekuatan bahwa para perawi
sebelumnya menyampaikan langsung kepada rawi setelahnya.dan kata عن
(dari) menunjukkan bahwa hadis diterima dengan cara didengar/sama’.
d. Biografi Perawi Serta Jarh Wa Ta’dil
1. Abdullah
Nama lengkap Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin
Hilal bin Asad asy-syaibani Abu Abdurrahman Al-bagdadi.Menurut Ali
bin Al-Shawwaf beliau lahir pada 213 H.wafat pada 290 H menurut Ali
bin Al shawwaf,sedangkan menurut Ismail bin Ali Al-khttabi 9 Jumadil
Akhir 270 H.tempat tinggal beliau yakni di Baghdad.adapun Guru :
Ahmad bin Muhammad bin Hambal,Ibrahim bin Al-Hajjaj asy-syami,dll.
Murid : An nasai,Abu Bakr Ahad bin Ja’far bin Hamdan bin Malik al-
Qathi’i.adapun Jarh dan Ta’dil : menurut Abu Bakr Al-Khatib yaitu
Tsiqoh.
2. Ayah Abdullah(Ahmad bin Hambal)35
Nama lengkap Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad
asy-syaibani Abu Abdurrahman Al-baghdadi atau kerap dengan sapaan
Ahmad bin Hambal.beliau lahir pada 164 H.wafat pada 241 H dan
bertempat tinggal di Baghdad.adapun Guru : Waki bin Al-Jarrah,Sufyan
bin Uyainah,Abu Daud Ath-Thayalisi,dll. Murid : Bukhari,Muslim Abu
Daud,Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Hambal,dll. Jarh dan
Ta’dil nya,menurut Imam Syafi’I,”aku tidak menemui di Baghdad orang
yang lebih faqih,lebih zuhud,lebih wara’,lebih alim,daripada Ahmad bin
Hambal”.menurut Abu Hati,Imam Hujjah.Menurut Nasai Tsiqoh
ma’mun.
3. Waki’36
Nama lengkap Waki’bin Al-Jarrah bin Malih.beliau wafat pada 196 H.
Bertempat tinggal di Kufah.Guru : Abana bin Sham’ah,Israil bin
Yunus,dll.Murid : Ibrahim bin Said Al-Jauhari,Ahmad bin Hambal.dll.
Jarh dan Ta’dil : Al-Ijli Tsiqoh,termasuk salah satu penghafal
Hadis.Menurut Muhammad bin Saad Tsiqoh Ma’mun.
35 Ahmad bin Ali bin Hajar Abu al-Fadl al-Asqallani asy-Syafi’i, Tahdzib at-Tahdzib.,
(Beirut: Dar al-Fikr, 1984),
juz 1, hal. 62-65
36 Al-Mizzi, Tahzibul Kamal, op. cit., juz 30, hal. 462-484.
55
4. Abdurrahman37
Nama lengkap Abdurrahman bin Mahdi bin Hisan Abdurrahman Al-
Anbari.menurut Abu Daud ath-thayalisi beliau lahir pada 135 H dan
wafat pada 198 H.beliau bertempat tinggal di Bashrah.Guru : Aban bin
Yazid al-Attar,Israil bin Yunus,dll. Murid:Ahmad bin Hambal,Yahya
bin Ma’in,dll. Jarh dan Ta’dil : Menurut Ibnu Hibban
Tsiqoh,Muhammad bin Sa’ad Tsiqoh banyak hadisnya,dan menurut Ibnu
Hatim Imam Tsiqoh.
5. Israil38
Nama lengkap Israil bin Yunus bin Ali bin Ishaq al Hamdani as-Sabi’I
Abu Yusuf al-Kufi.beliau wafat pada 165 H dan bertempat tinggal di
Kufah.adapun Guru : Abu Ishaq Amr bin Abdullah bin Ubaid,Ishaq bin
Mansur,Fudhail bin Amr,dll.Murid : Waki’ bin al Jarrah,Abdurrahman
bin Mahdi,Ishaq bin Mansur,dll.adapun Jarh dan Ta’dil menurut Ahmad
bin Hambal,Yahya bin Ma’in,Muhammad bin Saad,Al Ijli yaitu
Tsiqoh,Abu Hatim Ar-Razi Tsiqoh ma’mun,dan menurut Abu Ya’qub
bin Syaibah orang yang hadisnya baik,tapi pada hadisnya terdapat
kelemahan.
6. Abu Ishaq39
Nama lengkap Amr bin Abdullah bin Ubaid.pendapat lain,Namanya
adalah Amr bin Abdullah bin Ali.pendapat lain lagi,Amr bin Abdullah
bin Abi Syagirah.nama lainnnya lagi yaitu Dzu Yahmad al-Hamdani Abu
Ishaq al-Sabi’I al-Kufi.beliau bertempat tinggal di Kufah.Para ulama
tidak sepakat dengan tahun wafatnya,tapi menurut Al-Wakidi,al-Haitsam
bin Adi,Yahya bin Bukair dan Muhammad bin Abdullah bin
Numair,wafat pada 127 H. Guru : Muhammad bin Sa’ad bin Abi
Waqqash,Abu Burdah bin Amir bin Abdillah bin Qais,dll. Murid : Israil
bin Yunus bin Abi Ishaq,Sufyan bin Uyainah dll. Jarh dan Ta’dil :
menurut Ahmad bin Hambal,Yahya bin Ma’in,An-Nasa’I,Abu Hatim Ar-
Razi,dan Al Ijli yaitu Tsiqoh.sedangkan ,menurut Ibnu Hibban
disebutkan dalam at-tsiqot,kadang-kadang melakukan tadlis.
7. Abu Burdah40
Nama lengkap Abu Burdah Amir bin Abdillah bin Qais.beliau wafat pada
104 H.Bertempat tinggal di Kufah .Guru : Abdullah bin Qais,Aisyah
37 Ibid., juz 17, hal. 430-442.
38 Ibid., juz 2, hal. 515-524.
39 Ibid., juz 22, hal. 102-113.
40 Ibnu Hibban, ats-Tsiqat, juz 5, hal. 187-188.
56
binti Abi Bakar,Ali bin Abi Thalib,Mu’awiyah bin Abi Sufyan dll.
Murid : Hamzah bin Ali bin Ja’far,Abu Ishaq bin Amr bin Abdullah bin
‘Ubaid,Qatadah bin Di’amah dll. Jarh dan Ta’dil : Muhammad bin
Saad,Al Ijli,Ibnu Kharasy dan Ibnu Hibban Tsiqoh.
8. Ayah Abu Burdah41
Nama lengkap Abdullah bin Qais bin Salim bin Hadhar.tinggal di Kufah
dan wafat pada 50 H. Guru : Nabi Muhammad SAW,Abu Bakar,Umar
bin Khattab,Ali bin Abi Thalib,Ammar Yasir,Muadz bin Jabal,Abdullah
bin Abbas,dll. Murid : Abu Burdah Amir bin Abdillah bin Qais,Masruq
bin Aus,dll. Jarh dan Ta’dil : para ulama hadis sepakat sahabat adalah
Tsiqoh.
e. Analisa Sanad
Berdasarkan uraian di atas tentang biografi para perawi, bisa dilihat
bahwa semua perawinya adalah terpercaya (Tsiqah). Meski demikian, ada
dua orang perawi, yaitu Israil dan Abu Ishaq yang juga mendapat tudingan
jarh selain ta’dil dari ulama hadis. Israil oleh Abu Ya’qub bin Syaibah
dianggap bahwa di dalam hadisnya terdapat kelemahan (layyin). Sedangkan
Abu Ishaq oleh Ibnu Hibban dituding terkadang melakukan tadlis.
Tudingan Abu Ya’qub bin Syaibah terhadap Israil bahwa di dalam
hadisnya terdapat kelemahan (layyin), memang patut diperhatikan. Meski
demikian yang paling dicermati apakah terdapat kelemahan dalam hadis ini.
Hal ini mungkin hanya betul-betul mampu dideteksi oleh pakar ilmu hadis.
Tapi yang jelas, bagi kita yang masih dalam taraf belajar, sekilas hadis
tersebut tidak ada kelemahan atau keanehan. Israil memiliki hubungan guru
dengan Abu Burdah, dan hubungan murid dengan Abdurrahman dan Waki’.
Sementara Ibnu Hibban menuding bahwa Abu Ishaq terkadang
melakukan tadlis. Tudingan ini juga merupakan sesuatu yang mungkin
membuat hadis ini tidak masuk dalam kumpulan hadis Sahih Bukhari dan
Muslim. Karena bagaimanapun, kedua maestro hadis tersebut memang
mempersyaratkan perawi dengan sangat ketat. Meski demikian, hal tersebut
tidaklah berarti tindakan tadlis itu selalu dilakukan oleh Abu Ishaq. Tentu
penelitian ini akan memakan waktu lebih lama jika betul-betul hendak
mendalami unsur tadlis yang dilakukan oleh Abu Ishaq.
Dari aspek ketersambungan sanad (ittishal al-sanad), hadis ini
memang berkesinambungan. Dari setiap rangkaian, semua perawi memiliki
hubungan guru dan murid antara satu sama lain. Di samping itu, dilihat dari
masa hidup dan tahun wafat masing-masing perawi, juga tampak bahwa
mereka dimungkinkan untuk saling bertemu. Dengan kata lain, tidak
ditemukan fakta sejarah yang menyebutkan bahwa salah satu perawi
41 Al-Asqallani, Tahzib a-Tahdzib., op. cit., juz 5, hal. 318
57
memiliki rentang masa hidup yang berjauhan dengan guru atau muridnya
sehingga menjadi mustahil untuk keduanya saling bertemu.
Sedangkan dari aspek tempat tinggal, juga tidak terdapat masalah.
Kufah, Bashrah, dan Baghdad yang merupakan tempat tinggal para perawi
hadis ini tidaklah berjauhan. Apalagi para ulama zaman dulu lazim
bepergian, bahkan antara negara, untuk memperoleh hadis. Sebagaimana kita
ketahui, Imam Bukhari sendiri meninggalkan negerinya di Bukhara,
Tajikistan, untuk mencari hadis ke negeri-negeri Timur Tengah. Dengan
demikian, dilihat dari aspek sanad, bisa disimpulkan bahwa hadis ini adalah
Hadis Sahih.
f. Penjelasan Matan
Untuk menganalisa matan suatu hadis, ada baiknya kita mengetahui
lebih dahulu kriteria sahih dari aspek matan. Sebagaimana diketahui, suatu
matan bisa dikategorikan sahih jika tidak bertentangan dengan akidah dan
syariat Islam, akal sehat, fakta sejarah, serta tidak berisi propaganda aliran
atau kelompok tertentu. Nah, jika dilihat dari kriteria kritik matan tersebut,
maka matan hadis ini adalah sahih. Tidak ada unsur dalam matan hadis
tersebut yang bertentangan dengan hukum pokok syariah, akal sehat, dan
fakta sejarah. Di samping itu, teks hadis itu tersebut juga tidak mengandung
propaganda aliran atau kelompok tertentu.
Namun dikaitkan dengan ayat al-Qur’an, redaksi hadis ini biasa
dikaitkan dengan ayat:
أَْزَوا َج ُه َّن إِذَا تََرا َضْوا بَْينَ ُه ْم َِبلْ َم ْعُرو ِف أَ ْن يَْن ِك ْح َن فََبكَالَ ْغَنَنِمْنأَ ُكَجلَْمُهيَُّْنؤِمفَََُنّلَِبتََّْعَلِل ُضَولاُلْويَُهْوِّمَن ََوإِذَا طَّلَْقتُُم النِ َساء
أَْزَكى لَ ُك ْم َوأَطَْهُر َواََّللُ يَْعلَُم َوأَنْتُْم َل اْل ِخِر ذَلِ ُك ْم ذَلِ َك يُوَع ُظ بِِه َم ْن
]232 : ) [البقرة232( تَ ْعلَُموَن
Artinya: Apabila kamu menalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya,
maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi
dengan calon suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara
mereka dengan cara yang ma’ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada
orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari
kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 232)
Hal ini pula yang dilakukan Imam Bukhari dengan menyebutkan ayat
tersebut di atas sebagai dasar pencantuman bab Tak Ada Nikah Tanpa Wali
dalam Sahih-nya. Ayat tersebut memang tidak secara eksplisit menyatakan
bahwa pernikahan harus dilaksanakan dengan adanya wali. Tapi secara
implisit, bisa dipahami bahwa adanya larangan kepada para wali untuk
menghalangi perkawinan menunjukkan bahwa sang wali merupakan faktor
penting yang bisa menghalangi perkawinan seorang perempuan. Jika
memang seorang wali tidak bisa menghalangi pernikahan atau seorang wali
58
tidak diperlukan dalam pernikahan, tentu Allah tidak perlu melarang mereka
untuk menghalangi pernikahan. Di samping itu, dalam menafsirkan ayat
tersebut, Ibnu Kasir juga menyatakan ayat tersebut mengandung petunjuk
bahwa perempuan tidak bisa menikahkan dirinya sendiri, tapi juga harus ada
wali.
Jika kita merujuk ke hal yang lebih substansial tentang tujuan
perkawinan dalam Islam, kita bisa merujuk kepada surat ar-Ruum 21.
ذَلِ َك ِف إِ َّن ًَوَرْْحَة ًَمَوَّدة بَْينَ ُك ْم َو َجَع َل إِلَْي َها لِتَ ْس ُكنُوا أَْزَوا ًجا :ن)أَنْ[ُافلِرسومُك ْم2ْ ِم1ََْولِمََّيْن ٍآتََّيلِتَِقِهْوٍأمَ ْنيَتََفَخلََّكَُقرولََنُك ْ(م
]21
Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Tuhan
menciptakan untukmu pasangan-pasanganmu dari jenismu
sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,
dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Untuk mencapai tujuan sakinah, mawaddah dan rahmah tersebut,
tentu saja tidak hanya melibatkan dua orang yang hendak menikah saja,
calon suami dan calon istri. Tapi sejak semula, orang-orang yang terkait,
terutama pihak keluarga, juga harus dilibatkan. Hubungan baik terhadap
anggota keluarga yang lain, terutama orang tua, yang telah terjalin sejak
sebelum menikah tentu bisa menjadi modal yang baik untuk membangun
keluarga yang harmonis. Karena itulah, Islam pun menetapkan adanya
instrumen wali dalam pernikahan.
C. Fiqh Hadis
a) Pendapat dan Ikhtilaf Para Ulama
Adapun pendapat pendapat para ulama diantaranya;
1. As-Suyuthi rahimahullah berkata: “Pernyataan: ‘Laa Nikaaha illaa bi-
waliyyin’, difahami oleh jumhur sebagai penafian keabsahan.”42
2. At-Tirmidzi rahimahullah berkata: “Demikian pula diriwayatkan dari
sebagian ahli fiqih Tabi’in, mereka menyatakan bahwa nikah tidak sah
kecuali dengan wali. Di antara mereka ialah Sa’id bin al-Musayyab, al-
Hasan al-Bashri, Syuraih, Ibrahim an-Nakha’i, ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz
dan selainnya.”43
42 Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jaami’ at-Tirmidzi (IV/191).
43Ibid.
59
3. Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Firman Allah:
َوإِذَا طَّلَْقتُُم النِ َساءَ فَبَلَغْ َن أَ َجلَُه َّن فََّلَ تَ ْع ُضلُْوُه َّن
Artinya: Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis (masa)
‘iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi
mereka. [Al-Baqarah/2: 232]
Ini merupakan ayat al-Qur-an yang paling jelas bahwa wali mempunyai
hak di samping wanita ini (juga) mempunyai hak kepada dirinya sendiri,
dan wali tidak boleh menghalanginya jika ingin menikah dengan cara
yang ma’ruf.”44
4. Al-Qadhi Abu Bakar bin al-‘Arabi rahimahullah berkata, ketika
menafsirkan ayat di atas: “Ini adalah dalil qath’i (pasti) bahwa wanita
tidak mempunyai hak untuk melangsungkan pernikahan. Ini hanyalah
hak wali. Seandainya bukan karena itu, niscaya Allah Subhanahu wa
Ta’ala tidak melarang wali menghalangi pernikahannya. Kemudian
disebutkan sebab turunnya ayat. Sekiranya Ma’qil tidak mempunyai
hak, niscaya Allah berkata kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa
sallam: ‘Ma’qil tidak berhak berbicara”45
5. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dalam hadits Ma’qil
bahwa jika wali menghalangi, maka penguasa tidak menikahkannya
kecuali setelah ia menyuruh wali supaya menarik penolakannya. Jika
dia memenuhinya, maka itu adalah haknya, dan jika tetap menolak,
maka hakimlah yang menikahkannya. Wallaahu a’lam.”46
6. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Para ulama berselisih
tentang disyaratkannya wali dalam pernikahan. Jumhur berpendapat
demikian. Mereka berpendapat bahwa pada prinsipnya wanita tidak
dapat menikahkan dirinya sendiri. Mereka berdalil dengan hadits-
hadits yang telah disebutkan. Dan dalil yang paling kuat adalah ayat
yang disebutkan di atas tentang sebab turunnya ayat tersebut, dan ini
adalah dalil yang paling tegas atas perwalian. Jika tidak, niscaya
penolakannya (untuk menikahkan wanita yang berada di bawah
perwaliannya) tidak ada artinya. Seandainya wanita tadi mempunyai
44 Takmilatul Majmuu’ Syarh al-Muhadzdzab (XV/41).
45 Ahkaamul Qur-aan (I/201), al-Jaami’ li Ahkaamil Qur-aan karya al-Qurthubi (III/158).
46 Fat-hul Baari (IX/187).
60
hak untuk menikahkan dirinya sendiri, niscaya dia tidak butuh
kepada saudara laki-lakinya. Ibnul Mundzir menyebutkan bahwa
tidak diketahui dari seorang Sahabat pun yang menyelisihi hal itu.”
7. Yang mulia al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah
menyebutkan suatu bentuk penolakan yang didasarkan atas fanatisme
(terhadap keluarga) dengan pernyataannya: “Di antara permasalahan
yang patut diingkari dalam masalah ini adalah apa yang dilakukan
oleh banyak masyarakat dusun dan sebagian masyarakat kota, yaitu
mengikat sepupu dan menghalanginya untuk menikah dengan orang
selainnya. Ini adalah kemunkaran yang besar; tradisi Jahiliyyah dan
menzhalimi kaum wanita. Karena akan muncul fitnah yang banyak
dan keburukan yang besar, berupa permusuhan, terputusnya
hubungan kekerabatan, pembunuhan dan selainnya.”47
8. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Nikah tidak sah kecuali
dengan wali. Wanita tidak berhak menikahkan dirinya sendiri, tidak
pula selainnya, dan tidak boleh mewakilkan kepada selain walinya
untuk menikahkannya. Jika ia melakukannya, maka nikahnya tidak
sah. Menurut Abu Hanifah, wanita boleh melakukannya. Tetapi kita
memiliki dalil bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَ نِ َكا َح إِ ّلَ بَِوٍِل.
Artinya: Pernikahan tidak sah kecuali dengan keberadaan wali.48
9. Ibnu Hazm rahimahullah berkata: “Tidak halal bagi wanita untuk
menikah, baik janda maupun gadis, kecuali dengan izin walinya;
ayah, saudara laki-laki, kakek atau pamannya.”49
10. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan tentang
wali, kemudian mengatakan: “Ayat-ayat al-Qur-an dan hadits-hadits
menunjukkan, dan ini kebiasaan para Sahabat, bahwa yang
menikahkan kaum wanita hanyalah kaum pria. Tidak pernah dikenal
bahwa seorang wanita menikahkan dirinya sendiri. Karena itu
‘Aisyah berkata: ‘Wanita tidak boleh menikahkan dirinya sendiri.
Sebab, hanya pelacurlah yang menikahkan dirinya sendiri.’ Tetapi
47 Risalah dengan judul, Nashiihah wa Tanbiih ‘alaa Masaa-ili fin Nikaah Mukhaalafah lisy
Syar’i, nukilan dari ‘Audatul Hijaab (II/246).
48 Al-Mughni (VI/448).
49 Al-Muhalla (IX/453).
61
tidak cukup hanya dengan wali sehingga pernikahan tersebut
diumumkan.”50
b) Pengertian Kedudukan, Hukum, dan Rukun serta Syarat-Syarat Nikah
dalam Islam
Salah satu ujian yang Allah Ta’ala berikan untuk mereka yang hidup
di akhir zaman adalah tersebarnya fitnah syahwat, di mana manusia begitu
mudahnya mengumbar aurat, baik itu berpakaian minim ataupun berpakaian
namun membentuk lekuk tubuh. Belum lagi betapa mudahnya kita
menemukan dan mendapati foto maupun video yang menampilkan hal-hal
yang tidak pantas untuk kita lihat. Ini semua sejalan dengan hadis Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam,
َونِ َساءٌ َكا ِسيَا ٌت، قَْومٌ َمعَ ُه ْم ِسيَا ٌط َكأَْذََن ِب الْبََقِر يَ ْضِربُوَن ِِبَا الّنَا َس،ِصْن َفا ِن ِم ْن أَْهِل الّنَاِر َلْ أََرُُهَا
َوإِ َّن، َوَل َِي ْد َن ِريحََها،َ َل يَْد ُخلْ َن اْْلَّنَة، ُرءُو ُس ُه َّن َكأَ ْسنَِمِة الْبُ ْخ ِت الْ َمائِلَِة،َعا ِرََّي ٌت ُمِيََّل ٌت َمائََِّل ٌت
ِريحََها لَيُو َج ُد ِم ْن َم ِسَْيِة َك َذا َوَك َذا
“Dua (jenis manusia) dari ahli neraka yang aku belum melihatnya sekarang,
yaitu: kaum yang membawa cemeti-cemeti seperti ekor sapi yang mereka
memukul manusia dengannya dan perempuan-perempuan yang berpakaian
tapi telanjang, yang berjalan berlenggak lenggok yang kepala mereka seperti
punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga bahkan tidak akan
mendapati wanginya, padahal sesungguhnya wangi surga itu telah tercium
dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim)
Harus kita ketahui, tidaklah Allah Ta’ala menurunkan cobaan dan
fitnah, kecuali pasti Allah Ta’ala menurunkan penangkalnya serta
memberikan penggantinya. Fitnah syahwat ini sudah Allah Ta’ala takdirkan
terjadi di zaman kita, namun tentu saja Allah sudah memberikan solusinya.
Apa itu?
Menikah. Rasulullah sangat menganjurkan umatnya untuk menikah,
terutama untuk para pemudanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
َْل َوَم ْن ،لِلَْفْرِج َوأَ ْح َص ُن لِْلبَ َصِر أَغَ ُّض ُفَِإّنَه ،فَْليَتََزَّو ْج َالْبَاءَة ا ْستَطَا َع ِمنْ ُك ُم َيََّيْستََم ْعِط َْعشَرفَاَعللَْيَّشِهبَاَِبلِب َّصَمْوِِمن
ٌفَِإّنَهُ لَهُ ِو َجاء
50 Majmuu’ Fataawaa Ibni Taimiyyah (XXXII/131).
62
“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk
menikah, maka menikahlah. Karena sesunguhnya nikah itu lebih
menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa
yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa. Karena sesungguhnya puasa
itu dapat membentengi dirinya.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan
lainnya).
Pernikahan merupakan salah satu kenikmatan terbesar yang Allah
Ta’ala berikan kepada kita, serta merupakan salah satu ibadah yang paling
agung. Dengannya kita akan meraih ketenangan hati, ketentraman jiwa, serta
menjaga kehormatan diri kita. Allah Ta’ala berfirman :
ٰذلِ َك ِ ْف اِ َّن ًَّوَرْْحَة ًَّمَوَّدة بَْينَ ُك ْم َو َجَع َل اِلَْي َها لِتَ ْس ُكنُْوا اَْزَوا ًجا اَنُْف ِس ُك ْم ِم ْن لَ ُك ْم وِم ْن اٰيٰتِهُٖ اَ ْن َخلَ َق
َ ٰليٰ ٍت لَِقْوٍم ّيَتََف َّكُرْون
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan
pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan
merasa tenteram kepadanya dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-
tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Yang tidak kalah penting, pernikahan merupakan pintu untuk
kebaikan-kebaikan lainnya. Salah satunya adalah ia merupakan wasilah
keselamatan dan ladang pahala jika kita sudah meninggal dunia. Bagaimana
bisa? Ya, ketika dengan pernikahan ini kita dikaruniai anak-anak saleh yang
selalu mendoakan kita, dan memintakan ampunan untuk kita kelak ketika kita
meninggal, ketika diri kita sudah tidak mampu melakukan semua hal.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
أَْو َولَ ٍد َصالِ ٍح، أَْو ِعلٍْم يُْنتََف ُع بِِه، َص َدقٍَة َجاِريٍَة: إِذَا َما َت ابْ ُن آَدَم انَْقطَ َع عَ َملُهُ إِل ِم ْن ثََّل ٍث
ُيَْدعُو لَه
“Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya, kecuali
3 (perkara), yaitu : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh
yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Kata pernikahan berasal dari bahasa Arab, yaitu ‘An-nikah’ yang
memiliki beberapa makna. Menurut bahasa, kata “nikah” berarti berkumpul,
bersatu, dan berhubungan. Sedangkan menurut istilah fikih sebagaimana
yang tertera di dalam kitab-kitab fikih-fikih mazhab Syafi’i, pernikahan
adalah “akad yang membolehkan hubungan seksual dengan lafaz nikah,
tazwij, atau lafadz lain dengan makna serupa”.
63
Sedangkan hukum pernikahan, maka itu tergantung berdasarkan
kondisi yang terjadi pada kedua calon pasangan pengantin. Hukum
pernikahan dalam Islam dibagi ke dalam beberapa jenis, yakni:
Pertama, wajib. Jika baik pihak laki-laki dan perempuan sudah
memasuki usia wajib nikah, tidak ada halangan, mampu membayar mahar
dan menafkahi, serta ia yakin akan terjatuh ke dalam zina jika tidak menikah.
Dan hal itu tidak bisa dibendung walau dengan berpuasa. Kita ketahui
bersama bahwa seorang muslim dituntut dan diwajibkan untuk menjaga
kesucian dan kehormatan dirinya dari terjatuh kepada hal-hal yang Allah
Ta’ala haramkan. Sedangkan ada kaidah yang berbunyi “sesuatu yang
menjadi syarat bagi sebuah kewajiban, maka hukumnya juga menjadi wajib”.
Sehingga, menikah pun dihukumi wajib karena kita tidak dapat terhindar dari
perbuatan haram, kecuali dengan melaksanakannya.
Kedua, sunah. Menurut pendapat para ulama, sunah adalah kondisi di
mana seseorang memiliki kemauan dan kemampuan untuk menikah, namun
belum juga melaksanakannya. Orang ini juga masih dalam kondisi terhindar
atau terlindung dari perbuatan zina. Sehingga, meskipun belum menikah,
tidak khawatir terjadi zina.
Ketiga, haram, ketika pernikahan dilaksanakan saat seseorang tidak
memiliki keinginan dan kemampuan untuk menikah, namun dipaksakan.
Nantinya dalam menjalani kehidupan rumah tangga, dikhawatirkan istri dan
anaknya ditelantarkan.
Keempat, makruh, apabila seseorang memiliki kemampuan untuk
menahan diri dari perbuatan zina. Akan tetapi, belum berkeinginan untuk
melaksanakan pernikahan dan memenuhi kewajiban sebagai suami.
Kelima, mubah, jika pernikahan dilakukan oleh orang yang memiliki
kemampuan dan keinginan. Akan tetapi, jika tidak menikah pun dia bisa
menahan diri dari zina. Jika pernikahan dilakukan, orang tersebut juga tidak
akan menelantarkan istrinya.
Sebagaimana akad dan ibadah lainnya, agar menjadi akad yang sah
dan diterima tentu harus memenuhi rukun dan syaratnya. Rukun nikah adalah
semua perkara yang wajib dilaksanakan untuk menentukan sah atau tidaknya
sebuah pernikahan. Rukun pernikahan dalam Islam ada 5 hal, yaitu: Pertama,
calon pengantin pria, yang memiliki persyaratan seperti: beragama islam,
tidak sedang dalam keadaan ihram, berdasarkan keinginannya sendiri dan
bukan paksaan, identitas jelas, mengetahui nama calon istrinya ataupun
sosoknya ataupun sifatnya, mengetahui dengan jelas bahwa calonnya bukan
dari kategori perempuan yang haram untuk dinikahi (misalnya adanya
pertalian darah ataupun saudara sepersusuan), serta jelas kelaminnya bahwa
ia laki-laki (tidak memiliki kelainan kelamin).
64
Kedua, calon pengantin perempuan, yang memenuhi persyaratan
seperti tidak sedang dalam keadaan ihram, identitas jelas, berstatus single
(tidak dalam status menikah dengan orang lain), dan tidak sedang dalam
masa iddah dari pernikahannya dengan orang lain.
Ketiga, wali, rukun ini disebutkan di dalam hadis sahih:
لَ نِ َكا َح إِ ّلَ بَِوٍِل َو َشا ِه َديْ ِن
“Tidak (sah) nikah, kecuali dengan kehadiran wali dan dua orang saksi.”
(HR. Thabrani. Hadis ini juga terdapat dalam kitab Shahih Al-Jami’, no.
7558).
Sedangkan syarat-syaratnya adalah: berdasarkan keinginannya
sendiri, merdeka (bukan budak), laki-laki, dewasa (sudah balig), tidak disifati
dengan kefasikan, tidak mengalami gangguan akal, baik itu karena tua
(pikun) ataupun karena gila, tidak bodoh dan dungu, dan tidak dalam kondisi
ihram. Wali seorang perempuan adalah ayahnya ataupun pewaris laki-laki
(asobah) untuk seorang perempuan.
Keempat, dua orang saksi, di mana saksi ini nantinya yang akan
menentukan apakah pernikahan sah ataukah tidak. Sedangkan syaratnya:
kompeten di bidang persaksian, dan ia tidak ditunjuk sebagai wali nikah
(tidak bisa dirangkap pada diri seseorang, dia menjadi wali sekaligus saksi).
Kelima, ada ijab dan qabul, yaitu akad yang dilakukan calon
pengantin pria dan wali dalam prosesi pernikahan. Syarat-syaratnya adalah:
menggunakan kata-kata zawwajtuka atau ankahtuka ataupun yang terbentuk
dari keduanya maupun terjemahnya ke bahasa lain, membaca ijab dan qabul
dengan jelas dan lantang, tidak ada jeda antara keduanya, secara kontan
(tanpa syarat apapun dan untuk saat itu juga tidak terikat dengan waktu).
Sedangkan syarat-syaratnya adalah: berdasarkan keinginannya
sendiri, merdeka (bukan budak), laki-laki, dewasa (sudah balig), tidak disifati
dengan kefasikan, tidak mengalami gangguan akal, baik itu karena tua
(pikun) ataupun karena gila, tidak bodoh dan dungu dan tidak dalam kondisi
ihram. Wali seorang perempuan adalah ayahnya ataupun pewaris laki-laki
(asobah) untuk seorang perempuan.51
51 Kitab Al-Yaquut An-Nafiis Fii Mazhab Ibn Idris karya Syekh Ahmad bin Umar As-Syatiri
65
D. Penutup
Berdasarkan uraian perawi hadis diatas bisa dilihat bahwa perawinya
adalah terpercaya (tsiqoh).meski demikian,dua orang perawi yakni Israil dan Abu
Ishak terdapat kelemahan(layyin) dan juga terkadang melakukan tadlis.tapi yang
jelas,bagi kita yang masih belajar,sekilas hadis tersebut tidak ada kelemahan atau
keanehan.Israil memiliki hubungan guru dengan Abu Burdah dan hubungan
murid dengam Abdurrahman dan Waki'.kemudian tudingan Abu Ishaq
melakukan tadlis bukanlah tindakan yang selalu dilakukan.tentu penelitian ini
memakan waktu lama jika betul-betil hendak mendalami unsur tadlis yang
dilakukan Abu Ishaq. Dari aspek ketersambungan sanad (ittishal sana),hadis ini
memang berkesenambungan.dari setiap rangkaian,perawi memiliki hubungan
guru dan murid antara satu sama lain.
Di samping itu, dilihat dari masa hidup dan tahun wafat masing-
masing perawi, juga tampak bahwa mereka dimungkinkan untuk saling bertemu.
Dengan kata lain, tidak ditemukan fakta sejarah yang menyebutkan bahwa salah
satu perawi memiliki rentang masa hidup yang berjauhan dengan guru atau
muridnya sehingga menjadi mustahil untuk keduanya saling bertemu.
Sedangkan dari aspek tempat tinggal, juga tidak terdapat masalah.
Kufah, Bashrah, dan Baghdad yang merupakan tempat tinggal para perawi hadis
ini tidaklah berjauhan. Apalagi Sebagaimana kita ketahui, Imam Bukhari sendiri
meninggalkan negerinya di Bukhara, Tajikistan, untuk mencari hadis ke negeri-
negeri Timur Tengah. Dengan demikian, dilihat dari aspek sanad, bisa
disimpulkan bahwa hadis ini adalah Hadis Sahih.
Bibliograf
Ahmad,imam bin Hambal.”Musnad Ahmad bin Hambal ” al-Qahirah:darul-
hadis,1990.
Al-Mizzi,Abu al-Hajjaj Jamaluddin.”Tahdzib al-kamal”. Beirut:Muassasah ar-
Risalah,1980.
Al-Asqalani,Ibnu Hajar.”Tahdzib at-tahdzib”.Beirut:Dar al-fikr,1984.
Ahmad,imam bin Umar Asy-Syatiri.”Al-Yaquut an-Nafis”.Mesir:Ad-Darul
Alamiyah.
66
Suja Holifah
Lahir di Bangka Belitung, 7 Januari 2003. Menyelesaikan Sekolah Menengah
Pertama di MTS Nurul Falah di Bangka Tengah. Lalu melanjutkan SMA di MAN
Insan Cendekia Bangka Tengah. Karena ketertarikan untuk mengembangkan ilmu
Al-Qur’an, jadi melanjutkan pendidikan di PTIQ Jakarta, memilih jurusan Ilmu Al-
Qur’an dan Tafsir.
Siti Hajrah Akib
Lahir di Pare-Pare 01 maret 2003,pernah menempuh pendidikan di Madrasah
Aliyah Al-ikhlas Ujung Bone,Sulawesi Selatan,dan pondok pesantren tahfidz
Alhudzaifiyah Kolaka, Sulawesi Tenggara.sekarang aktif menjadi mahasiswi di
Institut perguruan tinggi ilmu Al-Qur'an(ptiq) Jakarta.
Rina Putriana
Lahir di muara bulian,. Batang hari , jambi 24 september 2000. Menyelesaikan
sekolah di pondok pesantren zulhijjah muara bulian, kemudian melanjutkan ke
pondok pesantren tahffdz nurul quran depok selama 2 tahun. Sekarang masih
menjadi mahasiswa di institut ptiq jakarta.
Hasna Hauna Nazihah
Lahir di sidoarjo,25 agustus 1999. Anak pertama dari 3 bersaudara , Riwayat
pendiidkan Lulusan pondok pesantren islam , al mu'min, ngruki. Sukoharjo, jawa
tengah. Saat ini sedang menempuh pendidikan S1 di institut ptiq jakarta prodi ilmu
alquran dan tafsir .
67
68