Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Pendidikan Indonesia
2022
Modul Bahasa Indonesia Kelas XII SMA/SMK/Sederajat
MEMANFAATKAN
NILAI SOSIAL
MELALUI NOVEL
NILAI SOSIAL DALAM NOVEL DISORDER KARYA AKMAL NASERY BASRAL
Memanfaatkan Nilai Sosial Melalui Novel
Oleh: 1. Riska Mutiara Dewi
2. Dr. Yulianeta, M.Pd.
3. Dheka Dwi Agustiningsih, M.Pd.
Cetakan pertama, Juli 2022
Hak Cipta © pada penulis
Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang Hak Cipta No. 28 Tahun 2014.
Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini
dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penulis.
Penyusun : Riska Mutiara Dewi, Dr. Yulianeta, M.Pd., dan Dheka Dwi
Agustiningsih, M.Pd.
Penyunting : Dr. Yulianeta, M.Pd., dan Dheka Dwi Agustiningsih, M.Pd.
Layout : Riska Mutiara Dewi
Ilustrasi : www.canva.com
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah Swt, karena berkat rahmat
dan inayah-Nya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan modul
pembelajaran novel yang berjudul Memanfaatkan Nilai Sosial Melalui
Novel. Tak lupa salawat serta salam dicurah limpahkan kepada Nabi
Muhammad SAW, kepada keluarga, kepada sahabatnya, dan sampai
kepada kita selaku umatnya yang mudah-mudahan selalu taat pada
ajaran-Nya.
Nilai sosial merupakan salah satu nilai yang esensial bagi seseorang
dalam menjalani kehidupan sosialnya. Nilai sosial yang merupakan salah
satu bagian dari nilai didaktif sebuah karya termuat dalam prosa,
khususnya novel. Nilai sosial pada sebuah novel dapat dipelajari melalui
dialog atau naratif yang disajikan. Beberapa bentuk nilai sosial di
antaranya meliputi nilai kasih sayang, tanggung jawab, dan keserasian
hidup. Masing-masing bentuk niai tersebut tentunya menurunkan
beberapa nilai yang lebih rinci lagi yang dapat dimanfaatkan seseorang
dalam peranannya sebagai makhluk sosial. Hadirnya nilai sosial adalah
salah satu bentuk kontribusi dalam masyarakat yang bertujuan sebagai
kontrol terhadap jalannya sebuah sistem sosial masyarakat.
Modul ini dapat digunakan untuk memahami makna dan esensi
kehidupan sosial melalui novel yang mengandung nilai sosial di dalamnya.
Dalam modul ini, siswa akan mempelajari materi-materi sebagai berikut:
(1) Hakikat novel, (2) Unsur intrinsik yang terkandung dalam novel, dan (3)
Nilai sosial yang terkandung dalam novel. Setelah mempelajari modul ini,
siswa diharapkan dapat memahami dan mengaplikasikan nilai nosial
yang dipahami dalam kehidupan sosial dan/atau permasalahan sosial
yang dialaminya.
Atas segala doa dan usaha, penulis dapat menyajikan modul ini yang
disusun berdasarkan hasil penelitian skripsi yang berjudul Nilai Sosial
dalam Novel Disorder Karya Akmal Nasery Basral dan Pemanfaatannya
sebagai Bahan Ajar Pembelajaran Novel di SMA. Semoga modul ini dapat
dimanfaatkan oleh guru dan siswa, khususnya dalam pembelajaran novel
bahasa Indonesia di kelas XII SMA/SMK sederajat.
iii
Penulis menyadari bahwa modul ini masih jauh dari kata sempurna.
Dengan demikian, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari berbagai pihak demi terwujudnya modul yang lebih
baik, relevan, dan mimiliki daya guna. Semoga modul yang telah disusun
ini bermanfaat bagi pembaca dan penulis.
Bandung, Juli 2022
Penyusun
iv
DAFTAR ISI
iii Kata Pengantar
v Daftar Isi
1 Pendahuluan
1 A. Identitas Modul
1 B. Kompetensi Inti/Kompetensi Dasar (KI/KD)
1 C. Petunjuk Penggunaan Modul
1 D. Deskripsi Materi Pembelajaran
3 Peta Konsep
5 Kegiatan Pembelajaran 1
5 Isi dan Kebahasaan Novel Melalui Unsur Intrinsik
5 A. Tujuan Pembelajaran
5 B. Uraian Materi
10 C. Rangkuman
11 D. Penugasan Mandiri
18 E. Latihan Soal
19 F. Pembahasan Soal
21 G. Penilaian Diri
21 H. Tindak Lanjut
24 Kegiatan Pembelajaran 2
24 Nilai Sosial yang Terkandung dalam Novel
24 A. Tujuan Pembelajaran
24 B. Uraian Materi
29 C. Rangkuman
29 D. Penugasan Mandiri
33 E. Latihan Soal
34 F. Pembahasan Soal
35 G. Penilaian Diri
36 H. Tindak Lanjut
39 Evaluasi
vi Glosarium
vii Jendela Sastra
viii Biografi Penulis
ix Daftar Pustaka
v
PENDAHULUAN
A. Identitas Modul
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas : XII
Alokasi Waktu : 4 x 45 menit (2 kali pertemuan)
Judul Modul : Memanfaatkan Nilai Sosial Melalui Novel
B. Kompetensi Inti/Kompetensi Dasar (KI/KD)
a. Kompetensi Inti
Siswa mampu menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab,
peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan
menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan
diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
b. Kompetensi Dasar
3.9 Menganalisis isi dan kebahasaan novel.
4.9 Merancang novel atau novelet dengan memerhatikan isi dan kebahasaan baik secara
lisan maupun tulis.
C. Petunjuk Penggunaan Modul
Sebelum mempelajari modul ini, sebaiknya kalian memahami petunjuk umum modul ini.
Berikut adalah beberapa hal yang perlu kalian lakukan agar belajar kalian dapat bermakna
ketika menggunakan modul ini.
1. Modul ini digunakan sebagai bahan belajar mandiri kalian untuk memahami materi
pembelajaran mengenai novel dan nilai-nilai sosial yang terkandung dalam novel.
2. Apabila kalian mengalami kesulitan dalam mempelajari modul ini, maka kalian
disarankan untuk menghubungi guru.
3. Pahami target kompetensi yang akan dicapai.
4. Bacalah pemetaan konsep materi pembelajaran yang akan dipelajari.
5. Mulailah dengan memahami materi yang disajikan.
6. Kerjakan soal penugasan mandiri dan soal latihan yang diberikan.
7. Jika sudah menyelesaikan soal penugasan mandiri dan soal latihan, bukalah kunci
jawaban yang terdapat pada bagian akhir kegiatan pembelajaran. Hitunglah skor yang
kalian peroleh, dan lengkapilah penilaian mandiri untuk menilai pemahaman belajar
kalian.
8. Jika skor kalian sudah mencapai minimal 76, kalian dapat melanjutkan ke kegiatan
pembelajaran berikutnya.
B. Deskripsi Materi Pembelajaran
Novel merupakan bagian dari teks naratif yang menampilkan rangkaian peristiwa fiktif
secara kronologis tentang kehidupan seseorang dan orang di sekelilingnya melalui watak
dan karakter setiap tokoh. Untuk memperluas pemahaman kalian mengenai novel, khususnya
nilai sosial dalam novel kalian diajak untuk mempelajari modul Bahasa Indonesia kelas XII
dengan judul Memanfaatkan Nilai Sosial Melalui Novel. Nilai Sosial yang diangkat berasal
dari novel Disorder karya Akmal Nasery Basral.
1
Modul ini terbagi menjadi dua pertemuan, di dalam modul ini terdapat uraian materi,
penugasan mandiri, soal latihan, dan evaluasi.
Pertemuan 1 : Isi dan kebahasaan novel melalui unsur intrinsik
Pertemuan 2 : Nilai sosial yang terkandung dalam novel
Modul ini sangat bermanfaat bagi kalian. Kalian dapat mengetahui unsur-unsur intrinsik
dan nilai sosial yang termuat dalam sebuah novel. Pengetahuan kalian dapat digunakan
untuk menganalisis unsur intrinsik dan nilai sosial, bahkan untuk merancang novel. Jika ada
kosakata atau istilah yang tidak kalian pahami, kalian dapat mencermati glosarium yang
terdapat pada bagian akhir modul ini sebagai penjelasan makna kosakata atau istilah
tersebut.
Selamat Belajar
dan Semangat!
2
PETA KONSEP
Isi dan Kebahasaan Hakikat
Melalui Unsur Intrinsik Novel
Pembelajaran Isi dan
Novel kebahasaan
dalam novel
Nilai Sosial
dalam Novel Nilai-nilai
kasih sayang
Nilai-nilai
tanggung-
jawab
Nilai-nilai
keserasian
hidup
3
Kegiatan Pembelajaran 1
Unsur Intrinsik
dalam Novel
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1
Unsur Intrinsik dalam Novel
Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran satu ini secara mandiri, kalian diharapkan dapat
menganalisis isi novel berdasarkan unsur intrinsik dengan cermat, teliti, dan penuh tanggung
jawab sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Uraian Materi
Pernahkah kalian mendengar atau membaca novel? Novel genre
apa saja yang pernah kalian baca selama ini? Tentunya kalian sudah
tidak asing lagi dengan istilah novel bukan? Novel adalah salah satu
bentuk karya sastra yang mengisahkan peristiwa kompleks di
dalamnya. Novel yang baik tidak terlepas dari unsur-unsur
pembangun cerita novel. Novel memiliki unsur cerita yang kronologis.
Agar kalian lebih memahami novel, maka kalian perlu mengetahui
unsur-unsur pembangun novel melalui unsur instrinsiknya. Maka dari
itu, mari kita pelajari materi kegiatan pembelajaran 1 mengenai unsur
instrinsik novel di bawah ini.
sumber: www.bing.com dan berbagai referensi lainnya
1. Hakikat Novel
Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra prosa fiksi yang ceritanya cukup panjang.
Nurgiyantoro (2013) menjelaskan bahwa novel dalam bahasa Inggris novelet yang artinya
sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukup, tidak terlalu panjang, namun tidak terlalu
pendek. Biasanya, cerita di dalam novel diawali dengan munculnya sebuah persoalan yang
dialami oleh tokoh, dan diakhiri dengan penyelesaian masalahnya.
Beberapa isi karya sastra fiksi novel berdasarkan pada fakta, sebab pada dasarnya karya
fiksi merupakan hasil tiruan dari kenyataan yang disertai proses imajinatif. Karya fiksi yang
demikian oleh Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2010: hlm. 4) digolongkan sebagai fiksi dan non-
fiksi yang terdiri atas: 1) Fiksi historis atau novel historis, dimana penulisan novel berpijak pada
fakta sejarah. 2) Fiksi biografis atau novel biografis, dan yang menjadi acuan penulisan
adalah fakta biografis. 3) Fiksi sains atau novel sains, jika yang menjadi acuan dasar
penulisan adalah fakta ilmu pengetahuan.
5
Novel memiliki karakteristik tersendiri, di antaranya adalah sebagai berikut. (a) Pada
umumnya novel terdiri dari sekurang-kurangnya 100 halaman, atau jumlah katanya lebih dari
35.000 kata. (b) Novel ditulis scara naratif atau deskriptif untuk mengisahkan suasana
kejadian di dalamnya. (c) Alur cerita dalam sebuah novel cukup kompleks dan terdapat lebih
dari satu impresi, efek, dan emosi. (d) Umumnya, setiap orang perlu waktu setidaknya 120
menit untuk membaca tuntas sebuah novel.
Novel pada dasarnya dibangun oleh beberapa unsur di dalamnya. Unsur intrinsik adalah
salah satu bagian yang melekat dalam pembentukan cerita sebuah novel. Agar lebih jelas,
pelajarilah materi lanjutan di bawah ini mengenai unsur intrinsik novel.
2. Isi dan Kebahasaan Novel Melalui Unsur Intrinsik
Novel yang baik dan utuh memiliki unsur-unsur pembangun di dalam ceritanya.
Nurgiyantoro (2013) menjelaskan bahwa unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang secara
langsung turut serta membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur intrinsik ini terlibat dan
memiliki peranan penting dalam pembentukan cerita dalam sebuah novel. Beberapa unsur
intrinsik dalam sebuah novel memiliki keterkaitan satu sama lain, sehingga tidak bisa
dipisahkan. Berikut adalah beberapa unsur intrinsik yang ada dalam novel menurut Stanton
(2019).
a.Plot/Alur Tahukah Kamu
Alur merupakan rangkaian peristiwa-
Peristiwa kausal merupakan
peristiwa dalam sebuah cerita. Istilah alur
biasanya terbatas pada peristiwa-peristiwa peristiwa yang menyebabkan atau
yang terhubung secara kausal saja.]
Peristiwa kausal tidak terbatas pada hal-hal menjadi dampak dari berbagai
yang fisik saja, seperti ujaran atau tindakan,
tetapi juga mencakup perubahan sikap peristiwa lain dan tidak dapat
karakter, kilasan-kilasan pandangannya,
keputusan-keputusannya, dan segala yang diabaikan karena dapat
menjadi variabel pengubah dalam dirinya.
berpengaruh terhadap keseluruhan
isi cerita.
Plot/alur adalah peristiwa yang ditampilkan pada cerita berdasarkan hubungan sebab
akibat. Singkatnya, alur merupakan sebuah rangkaian peristiwa dari awal hingga akhir cerita.
Berdasarkan kriteria urutan waktu, alur dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu: (1) alur maju,
mengambarkan peristiwa secara kronologis atau berurutan dari tahap awal, tengah, sampai
akhir cerita; (2) alur mundur menggambarkan peristiwa yang diawali dengan tahapan
penyelesaian yang kemudian terus mundur ke tahapan antiklimaks, klimaks, kemunculan
konflik, dan berakhir ke tahap pengenalan. Cerita yang menggunakan alur ini biasanya berisi
cerita kilas balik seorang tokoh dalam menjalani kehidupannya; (3) alur campuran
menampilkan gabungan alur maju dan alur mundur. Biasanya, penulis menyajikan ceritanya
secara urut dan kemudian pada suatu waktu, penulis menceritakan kembali kisah masa lalu
atau flash back.
6
b. Karakter (tokoh dan penokohan)
Karakter biasanya dipakai dalam dua konteks. Konteks pertama, karakter merujuk pada
jumlah individu yang muncul dalam cerita fiksi (tokoh). Konteks kedua, karakter merujuk pada
pencampuran dari berbagai kepentingan, keinginan, emosi, dan prinsip moral dari individu-
individu tersebut, atau lebih jelasnya mendeskripsikan setiap individu yang ada dalam cerita
fiksi tersebut (penokohan).
Contoh:
“Saya suka Anda, Doktor Ata. Seluruh saraf sensorik saya menafsirkan
Anda sebagai seorang dokter yang baik, cerdas – saya sudah baca
riwayat pendidikan dan pekerjaan anda – dan berwajah bening seperti
malaikat.” (Basral, 2020, hlm. 390)
Berdasarkan kutipan tersebut, tokoh Ata memiliki karakter baik, cerdas, dan berwajah
bening.
c. Latar
Latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita. Latar dapat
berwujud tempat, seperti sebuah pegunungan di Indonesia, sebuah jalan buntu di sudut kota,
dan lainnya. Latar juga dapat berwujud waktu-waktu tertentu (hari, bulan, dan tahun), cuaca,
atau satu periode sejarah. Selain itu, latar juga dapat mendeskripsikan situasi sosial tertentu.
Pada kenyataannya, latar memiliki daya untuk memunculkan tone dan mood emosional yang
melingkupi sang karakter.
Contoh:
Latar waktu
“Bandara Internasional Soekarno-Hatta, November
2026.” (Basral, 2020, hlm. 4)
Berdasarkan kutipan tersebut, latar waktu yang terjadi pada bulan November tahun 2026.
Latar tempat
“Sepekan setelah undangan Profesor Shochet, Ata kini di
Bandara Soekarno-Hatta dalam perjalanan menuju Prancis.”
(Basral, 2020, hlm. 113)
Berdasarkan kutipan tersebut, latar tempat kejadian ada di Bandara Internasional
Soekarno-Hatta.
Latar sosial
“Sebuah meja panjang berisi makanan tradisional terhidang. Mulai dari kalo (nasi
bakar di dalam bamboo dan diberi rempah), se’i (daging asap dibumbui garam, lada,
madu, dan dipanggang di atas bara api), sambal lu’at (dengan aroma kemangi dan
perasan jeruk yang merupakan “pasangan hidup semati” se’i), sambal ikan teri,…”
(Basral, 2020, hlm. 27)
7
Berdasarkan kutipan tersebut, ditampilkan latar sosial kehidupan masyarakat Indonesia
Timur. Dari kebiasaan tersebut tercermin nilai sosial toleransi kepada sesama masyarakat,
meskipun Ata bukan orang daerah tersebut.
d. Tema
Tema memiliki padanan istilah dengan gagasan utama, dan maksud utama. Adanya tema
membuat cerita lebih terfokus, menyatu, mengerucut, dan berdampak. Bagian awal, dan akhir
sebuah cerita fiksi akan menjadi pas, sesuai, dan memuaskan berkat keberadaan tema. Tema
merupakan elemen yang relevan dengan setiap peristiwa dan detail sebuah cerita.
Contoh:
“Satu alasan singkat?” Ata menghela napas. “Jika kita terlambat, ribuan orang
akan mati di sini. Infeksi akan menyebar cepat dan menewaskan ratusan ribu
lainnya secara nasional, mungkin tembus satu juta jiwa. Jauh lebih parah
dibandingkan COVID-19 tahun 2020.” (Basral, 2020, hlm. 36)
Berdasarkan kutipan tersebut tecermin perjuangan seorang Ata sebagai tokoh utama
dalam mengungkap asal muasal virus SOIV-26 yang menjangkit hampir ratusan ribu orang.
d. Sudut pandang
Sudut pandang merupakan posisi pusat kesadaran tempat kita dapat memahami setiap
peristiwa dalam cerita. Dalam menyusun sebuah cerita fiksi, pengarang harus memilih sudut
pandangnya dengan hati-hati agar cerita yang diutarakannya menimbulkan efek yang pas.
Dilihat dari sisi tujuan, sudut pandang terbagi menjadi empat tipe utama.
a) Pada orang pertama utama, sang karakter bercerita dengan kata-katanya sendiri.
b) Pada orang pertama sampingan, cerita dituturkan oleh satu karakter, tetapi bukan
karakter utama melainkan karakter sampingan.
c) Pada orang ketiga terbatas, pengarang mengacu pada semua karakter dan
memosisikannya sebagai orang ketiga tetapi hanya menggambarkan apa yang dapat dilihat,
didengar, dan dipikirkan oleh satu orang karakter saja.
d) Pada orang ketiga tidak terbatas, pengarang mengacu pada setiap karakter dan
memosisikannya sebagai orang ketiga. Pengarang juga dapat membuat beberapa karakter
melihat, mendengar, berpikir, atau saat ketika tidak ada satu karakter pun hadir.
Contoh:
“…Profesor TS pernah menjadi peneliti USAMRID, Fort Detrick, USA,
sebeum kembali ke Prancis untuk ikut menakhodai pembangunan
Laboratorium BSL-4 di Lyon sekaligus memimpin Laboratorium
Lyon…” (Basral, 2020, hlm. 415)
“Ata mengabaikan jawaban Alex dan terus membombardir
pertanyaan. “Sudah berapa lama kamu kenal Indarto Razadin,
Jansen Kusuma, dan Donal Salasal?”” (Basral, 2020, hlm. 463)
Berdasarkan kutipan tersebut, sudut pandang yang digunakan dalam menuturkan cerita
menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas.
8
f. Gaya bahasa
Gaya adalah suatu cara yang digunakan pengarang dalam menggunakan bahasa.
Meskipun dua pengarang memakai alur, karakter, dan latar yang sama, hasil tulisan keduanya
bisa sangat berbeda. Perbedaan tersebut secara umum terletak pada bahasa dan menyebar
dalam berbagai aspek, seperti kerumitan, ritme, panjang-pendek kalimat, detail, humor,
kekonkretan, serta banyaknya imaji dan metafora. Campuran dari berbagai aspek di atas
dengan kadar tertentu akan menghasilkan gaya.
Gaya bahasa memiliki macam-macam jenis. Berikut adalah penjelasan mengenai jenis-jenis
gaya bahasa menurut Tarigan (2013).
1) Perumpamaan (Simile)
Perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan dan yang
sengaja kita anggap sama. Perbandingan itu dijelaskan oleh penggunaan kata seperti, bak,
bagaikan, ibarat, umpama, laksana, serupa dan sejenisnya.
Contoh:
seperti anak ayam kehilangan induk
ibarat mengejar bayangan
2) Metafora
Metafora dalah gaya bahasa yang melukiskan suatu gambaran yang jelas melalui
komparasi atau kontras. Metafora membuat perbandingan antara dua hal atau benda untuk
menciptakan suatu kesan mental yang hidup walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit
dengan penggunaan kata-kata seperti ibarat, bak, seperti, dan sejenisnya.
Contoh:
Ali mata keranjang
Perpustakaan gudang ilmu
3) Personifikasi
Personifikasi adalah jenis majas yang melekatkan sifat-sifat insani kepada benda yang
tidak bernyawa dan ide yang abstrak.
Contoh:
angin yang meraung
pepohonan tersenyum riang
4) Hiperbola
Hiperbola adalah jenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebihan
jumlahnya. Ukurannya, atau sifatnya dengan maksud memberi penekanan pada suatu
pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
Contoh:
sempurna sekali, tiada kekurangan suatu
apapun sebagai pengganti baik atau cantik
9
Rangkuman
Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra prosa fiksi yang ceritanya cukup
panjang. Biasanya, cerita di dalam novel diawali dengan munculnya sebuah
persoalan yang dialami oleh tokoh, dan diakhiri dengan penyelesaian masalahnya.
Novel memiliki karakteristik tersendiri, di antaranya adalah sebagai berikut. (a)
Pada umumnya novel terdiri dari sekurang-kurangnya 100 halaman, atau jumlah
katanya lebih dari 35.000 kata. (b) Novel ditulis scara naratif atau deskriptif untuk
mengisahkan suasana kejadian di dalamnya. (c) Alur cerita dalam sebuah novel
cukup kompleks dan terdapat lebih dari satu impresi, efek, dan emosi. (d)
Umumnya, setiap orang perlu waktu setidaknya 120 menit untuk membaca tuntas
sebuah novel.
Novel yang baik dan utuh memiliki unsur-unsur pembangun yang lengkap di
dalam ceritanya. Unsur-unsur intrinsik merupakan unsur pembangun yang terlibat
dan memiliki peranan penting dalam pembentukan cerita dalam sebuah novel.
Beberapa unsur intrinsik dalam sebuah novel memiliki keterkaitan satu sama lain,
sehingga tidak bisa dipisahkan. Berikut adalah unsur-unsur intrinsik beserta
penjelasannya secara singkat.
a)Alur/plot adalah hubungan logis kausalitas (sebab-akibat) antar peristiwa yang
membentuk cerita secara utuh.
b)Karakter (tokoh dan penokohan) adalah bagian yang memuat tokoh dan
penokohan, tokoh adalah pelaku-pelaku yang terlibat dalam cerita, sedangkan
penokohan adalah karakter atau sifat yang melekat pada pelaku dalam cerita.
c)Latar adalah komponen cerita yang mendeskripsikan kapan peristiwa itu terjadi
(latar waktu), di mana peristiwa itu terjadi (latar tempat), dan di lingkungan seperti
apa peristiwa itu terjadi (latar sosial).
d)Tema adalah ide pokok atau gagasan utama yang melatarbelakangi jalannya
sebuah cerita.
f)Sudut pandang adalah cara pengarang memosisikan dirinya dalam cerita.
g)Gaya bahasa adalah ciri khas bahasa yang digunakan pengarang dalam
menyampaikan gagasannya dalam cerita. Jenis-jenis gaya bahasa meliputi, gaya
bahasa perumpamaan (simile), metafora, personifikasi, dan hiperbola.
10
Penugasan Mandiri
Bacalah penggalan novel berikut ini!
sumber: hot.detik.com
21 – Musibah di HVRI (halaman 171 – 185)
Harbin, China
Keluar dari Terminal Kedatangan Harbin Taiping International Airport, Provinsi Heilongjiang.
Ata disambut pasangan suami istri yang menggunakan masker P100 – dia sendiri hanya
mengenakan N95 yang sederhana. Sang lelaki memegang karton putih dengan tulisan “DR.
PERMATA PERTIWI, INDONESIA”, sedangkan yang perempuan tiap sebentar melihat foto Ata
pada layar ponselnya untuk mencocokkan dengan penumpang yang lalu-lalang.
Harbin begitu dingin. Gigil anginnya yang bertiup dari arah Siberia menyelusup ke dalam
bandara yang sudah dilengkapi penghangat udara. Meski belum masuk musim dingin, suhu
sudah mencapai -2̊ Celsius. Pada musim dingin suhu bisa anjlok hingga -37 Celsius. Angka itu
memang masih jauh dari -87,2 Celsius, suhu terendah yang pernah tercatat dirasakan
manusia di Stasiun Vostok Rusia, Antartika, pada 21 Juli 1983. Namun, tetap saja Harbin
merupakan salah satu kota terdingin di dunia. Apalagi bagi pendatang dari wilayah tropika.
Hebatnya, siksaan cuaca penyebab gigil itu justru menjadi berkah karena disulap menjadi
Festival Es dan Salju yang megah. Wisatawan mancanegara datang berbondong-bondong
untuk menikmati pesona musim dingin. Para penggemar ski memuaskan luapan adrenalin
mereka di Yabuli Ski Resort yang tak kalah memukau––jika tak melebihi––tempat
peristirahatan dan olahraga ski yang lebih terkenal di sekujur Eropa. Ata melihat karton
bertuliskan namanya dan mendekati keduanya. “Hai, saya Dr. Ata,” katanya menyorongkan
tangan kepada wanita sebelum kepada si lelaki.
“Saya Dr. Vera Liu. Ini suami saya, Dr. Kenny Zheng.”
“Kenny saja,” ujar si lelaki menjabat tangan Ata. “Saya dan Vera junior Profesor Shochet
ketika kami masih menjadi mahasiswa di Universitas Manitoba, Winnipeg.”
11
“Saya baru pertama kali ke kota ini.” Ata melihat sekelilingnya yang ramai. “Suasana terlihat
normal, padahal saya dengar semakin banyak korban SOIV-26. Kalian sendiri bahkan
memakai masker P100. Tidak mungkin mereka tidak tahu kondisi saat ini, bukan?”
“Mereka tahu, hanya tidak peduli. Pandemi sudah bukan hal asing bagi rakyat Cina. Ini isu
yang sensitif dibicarakan di tempat umum. Nanti saja,” ujar Kenny dengan suara rendah.
“Bagaimana kabar Profesor Shochet? Kami sudah lama tidak bertemu. Terakhir delapan
tahun lalu saat kami ke Prancis. Beliau sedang melatih ilmuan Lab BSL-4 Wuhan. Setelah itu,
paling kami saling menelepon, sesekali virtual meeting. Kita bisa ke hotel sekarang?”
“Ayo,” jawab Ata bersemangat. Begitu keluar dari bandara, dia segera tahu bahwa suhu
kota yang menyambutnya saat ini lebih dingin daripada terpaan cuaca Lyon yang baru
ditinggalkan kemarin. Langit putih susu.
Ata dan Vera berbincang di lobi Hotel Holiday Inn Express, menikmati welcome drink saat
Kenny mengurus check-in.
“Ini wilayah Nangang, satu Kawasan dengan Lab BSL-4 HVRI,” ujar Vera.
“Saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih,” Ata menata kalimat berikutnya dengan
hati-hati agar tak menyinggung perasaan Vera. “Apakah boleh jika saya menanggung biaya
selama di hotel ini?” lanjutnya menyodorkan kartu kredit kepada Vera. “Tidak etis memberikan
kepada Dr. Kenny di depan resepsionis. Dr. Vera bisa bantu saya?”
Vera Liu tersenyum. “Semua sudah diurus oleh Profesor Shochet. Jangan khawatir.”
“Apa?” Ata terperanjat. “Profesor Shochet itu sebetulnya ilmuan atau raja minyak?”
“Senyum Vera pecah menjadi tawa. “Mungkin juga dia raja minyak. Who knows?”
Kenny datang dan memberikan keycard. “Selamat beristirahat, Doktor Ata.”
“Eh, nanti dulu.” Ata menerima keycard dan menyimpan ke dalam tas tangannya. “Kita
makan dulu di resto hotel? Saya masih ingin bicara dengan kalian.”
“Terima kasih. Sebaiknya Doktor Ata istirahat dulu setelah menempuh penerbangan
antarbenua,” jawab Kenny.
“Kita atur lagi waktu bertemu, termasuk jika Doktor Ata berkenan datang ke apartemen
kami yang sederhana,” tambah Vera. “Sebelum lupa, ini kartu nama saya,” lanjutnya. Kenny
mengikuti istrinya dengan memberikan kartu namanya sendiri kepada Ata, yang membalas
dengan memberikan kartu namanya kepada mereka berdua.
Dari kamar hotelnya di Lantai 7 yang menghadap Jalan Wenping, Ata memotret panorama
kota dan mengirimkan foto kepada Profesor Shochet. “Saya sudah di Harbin, dijemput Dr.
Vera Liu dan Dr. Kenny Zheng yang ramah. Terima kasih.”
Dia menyalakan televisi, menelusuri kanal berita lokal. Karena tak mengerti bahasa
Mandarin, Ata hanya mengandalkan gambar demi gambar dalam mengambil kesimpulan.
Setelah setengah jam menonton, dia tak menemukan sedikit pun liputan tentang SOIV-26
meski terlihat ada warga yang mengenakan masker. Dimatikannya televisi dan dicobanya
beristirahat. Matanya tak mau terpejam meski selama penerbangan Lyon-Paris-Beijing-Harbin
dia habiskan sebagian besar waktu untuk membaca. Dia seharusnya sangat mengantuk,
nyatanya tidak. Apakah ini pengaruh kopi yang diminumnya selama di pesawat?
Ata turun dari ranjang, mendekati jendela kamar. Langit mengeruh, menandakan udara
dingin semakin menancapkan pengaruh. Dipakainya coat. Diputuskannya untuk mengenali
lingkungan sekitar hotel dengan berjalan kaki.
Keluar hotel, Ata berbelok ke kiri––mengandalkan peta digital––sampai bertemu perempatan
Jalan Wenping dengan jalan Lianbu. Angin dingin mencengkeram, mengiris merajam. Namun,
warga kota demi populasi belasan juta jiwa ini terlihat biasa saja. Pejalan kaki terlihat di
mana-mana.
12
Seharusnya tidak sulit menjangkau lokasi Lab BSL-4 karena tinggal menyusuri Jalan Lianbu
menuju Sungai Majiagou dan berjalan lurus sampai bertemu Jalan Nanhegou, lalu belok
kanan dan menyusuri jalan itu sampai bertemu perempatan Jalan Renhe dan Jalan Dacheng
tempat terdapat bangunan Jiamingjia Fangxin Food. Persis di sampingnya berdiri gagah
Harbin Veterinary Research Institute atau HVRI––nama resmi Lab BSL-4 yang beroperasi di
bawah Akademi Ilmu Pertanian Cina.
HVRI sempat menjadi kontroversi sengit pada 2013 karena beredar kabar bahwa lab itu
tempat menciptakan jenis baru virus mematikan, konon sampai 127 jenis. Delapan jenis di
antaranya bersifat airborne, bisa menyebar melalui udara untuk menginfeksi manusia.
Vera benar. Letak hotel dan HVRI yang berada di satu kawasan seharusnya bukan
tantangan besar. Namun, lain keinginan lain pula kenyataan. Belum sampai 500 meter
menyusuri Jalan Lianbu, napasnya terengah-engah karena cambukan udara kian menggila.
Sebuah mesin uap yang teronggok di dadanya siap meledak. Asap respirasi yang keluar dari
mulutnya setiap kali bernapas membuat rasa lelahnya meruap. Pengaruh jet lag akibat
penerbangan lintas benua sangat menguras tenaga. Ata memprediksi tak akan kuat berjalan
kaki sampai ke Lab BSL-4 sehingga memutuskan untuk menggunakan taksi.
Sebuah taksi dengan warna biru pada bagian atap dan lis jendela warna cokelat keemas-
an pada badan mobil langsung mendekati begitu dia melambaikan tangan. Jendela taksi
turun perlahan. Sopir mencondongkan tubuhnya dan bertanya dalam bahasa Mandarin yang
tak dimengertinya.
Ata menjawab keras, “Harbin Veterinary Research Institute, Renhe Street.”
“Aaah … BSL-Fo’? Oke, oke.” Sopir menganggukkan kepala.
Ata membuka pintu belakang. Jok taksi berubah menjadi singgasana ternyaman.
“Anda Malaysia?” tanya sopir taksi.
“Bukan. Indonesia.”
“Aaah, Indonesia. Seharusnya saya bekerja di sana 9 tahun lalu,” jawabnya dalam bahasa
Inggris patah-patah.
“Oh, ya? Kenapa seharusnya?”
“Waktu itu ada kesempatan kerja di Indonesia. Banyak pekerja Cina yang tertarik termasuk
saya. Tetapi, saya batalkan.”
“Penyebabnya?”
“Saya baru mengerti rezeki ada lima, yaitu shou, ‘panjang umur’, fu ‘cukup harta’, kang ning,
‘hidup sehat’, hao de, ‘bersikap baik’, dan shan zhong, ‘meninggal dunia dengan tenang’.
Semua bisa saya dapatkan di sini, tak harus mencari di tempat lain.
“Pendapat menarik. Akan saya ingat.”
Sopir menatap Ata melalui spion. “Apakah perempuan Indonesia seperti Anda semua?”
“Itu hal lain yang membuat saya batal ke Indonesia.”
“Saya tidak mengerti.” Ata menatap spion. “Kenapa wajah seperti saya membatalkan niat
Anda mencari kerja?”
“Saya tak yakin bisa setia dengan istri di Harbin jika tetap ke Indonesia dan bertemu
perempuan secantik Anda.”
Wajah Ata merona. “Anda humoris juga, Pak.”
“Saya serius,” jawabnya dengan ekspresi datar. “Kita hamper sampai. Di perempatan depan
tinggal belok kanan. Apakah Anda seorang ahli biologi?”
“Saya dokter, ahli epidemiologi.”
13
“Hebat. Apakah mau saya tunggu sampai urusan Anda di HVRI selesai?” katanya menunjuk
langit yang semakin gelap. “Tampaknya akan hujan lebat. Biasanya susah cari taksi karena
pengemudi istirahat. Saya bukan menakut-nakuti.”
“Saya tidak ada rencana masuk ke HVRI, belum ada perjanjian. Saya ingin mengambil
beberapa foto, lalu kembali ke Holiday Inn. Anda mau mengantar saya kembali?”
“Tentu saja,” katanya sambil memutar kemudi mobil ke kanan begitu bertemu perempatan
Jalan Dacheng. Ata melihat bangunan dengan tulisan Jiamingjia Fangxin Food dan di
sampingnya … bangunan HVRI yang lebih dikenal sebagai Laboratorium BSL-4 Harbin!
Kebahagiannya membuncah seperti seorang atlet menemukan stadion olahraga.
“Kita berhenti di mana?” tanya sopir.
“Sedekat mungkin dengan tulisan itu.” Ata menunjuk tulisan Mandarin dan Latin berwarna
emas “National Key Laboratory of Biology Technology” di baris pertama dan “National Avian
Influenza Referece Laboratory” di baris kedua pada marmer cokelat sehingga menghasilkan
efek visual yang cukup mencolok.
Sopir menepikan taksinya. “Tahukah Anda bahwa laboratorium ini berdiri setahun sebelum
Republik Rakyat Cina diproklamasikan?” katanya.
Ata yang masih menyiapkan kamera menggelengkan kepala. “Saya tidak tahu.”
“Lab ini berdiri pada 1948, sedangkan proklamasi pada 1949 oleh Ketua Mao. Waktu saya
kecil dulu, melihat lab ini biasa saja. Tetapi, sekarang….”
“Maaf, bisakah mobil dimajukan sedikit? Saya ingin mendapatkan sudut pemotretan lebih
baik.”
"Boleh.”
Sebelum mobil bergerak terdengar ketukan di jendela bertubi-tubi. Sopir menurunkan kaca.
Seorang lelaki berseragam bertanya dalam bahasa Mandarin yang dijawab oleh sopir. Ata
takt ahu sama sekali apa yang mereka bicarakan. Lelaki berseragam itu menganggukkan
kepala tanpa mendapat respons. Lelaki berseragam kembali bicara dengan sopir, lalu
berjalan menjauh. Sopir menutup jendela. “Kita harus melapor kepada komandannya.”
Ata terkejut. “Kenapa? Kita tidak melakukan sesuatu yang salah. Dia bilang apa?”
“Ini fasilitas negara. Dia memperhatikan sejak taksi ini berhenti, tapi tidak mendekati
gerbang. Menurutnya mencurigakan. Saya jelaskan bahwa Anda dokter dari Indonesia.”
“Betul sekali,” jawab Ata. “Apakah dia mengerti dan kita bisa pergi?”
“Tidak bisa karena dia mencatat nomor mobil saya. Nanti saya yang repot.” Sopir
menjalankan mobilnya menuju pos jaga. “Anda bawa paspor?”
“Ada.”
“Kalau begitu, tak perlu khawatir meski sebenarnya saya cemas juga.” Ujarnya jujur.
Sesampainya di pos jaga, taksi disuruh memasuki kawasan Lab dengan diapit dua mobil
petugas keamanan yang mengambil posisi di depan dan belakang, sampai bertemu
bangunan terpisah dari gedung utama.
“Ini kantor sekuriti,” ujar sopir menerjemahkan plang dengan tulisan Mandarin yang
terpancang di depan bangunan. Ata tak sempat lagi memperhatikan bangunan utama HVRI
karena sibuk menenangkan perasaannya sendiri. Ini sama sekali bukan hal yang
menyenangkan, dia pernah mendengar bahwa sikap apparat keamanan Cina sangat
berbeda dengan kolega mereka di Eropa yang menjunjung tinggi HAM. Sementara itu, di
Cina pasal-pasal tentang HAM bisa tersimpan rapi di laci.
14
Berada di lingkungan BSL-4, Ata dan sopir taksi harus menjalani protokol kesehatan. Mereka
diharuskan memakai APD bagi tamu. Meski tidak serumit pakaian Hazmat, kependekan dari
Hazardous material, yang dipakai para peneliti, ketentuan ini cukup mengagetkan sopir taksi.
Ruangan keamanan itu ditata modern dengan kumpulan panel layer televisi resolusi tinggi
yang memindai sekeliling laboratorium. Salah satu layar TV menayangkan lokasi tempat taksi
berhentI ketika Ata ingin memotret. “Pantas saja,” batinnya. Tak ada satu millimeter pun
Kawasan yang terlewat pantauan mereka.
Wajah komandan petugas keamanan mengingatkan Ata pada Jacky Chan muda. Hanya,
jika ekspresi aktor legendaris itu hampir selalu tersenyum, komandan ini tidak. Wajahnya
dingin dan kurang simetris. Ditambah bentuk rahang seperti kuda liar, tampangnya semakin
bengis. Untungnya saat bicara dia cukup fasih berbahasa Inggris, sehingga Ata tak terlalu
bergantung pada terjemahan sopir taksi.
“Siapa sponsor Anda di sini?” tanya Komandan.
Ata nyaris menyebut nama Pofesor Tobias Shochet, sebelum mengubahnya pada detik
terakhir menjadi, “Dr. Vera Liu dan Dr. Kenny Zheng,” katanya menyerahkan kartu nama
mereka kepada komandan.
“Setiap orang bisa memiliki kartu nama orang lain,” tukas Komandan dengan skeptis. “Bisa
saja Anda bertemu mereka di suatu acara. Tidak berarti Anda kenal satu sama lain.”
“Apa yang harus saya lakukan agar Anda percaya bahwa mereka sponsor saya?”
“Suruh mereka datang ke sini agar saya tahu mereka bukan rekayasa Anda.”
Ata terperanjat. “Apa?” katanya menunjuk keluar jenelda degan desau angina gugur yang
membuat dahan pepohonan menari-nari. “Di tengah cuaca seperti ini?”
“Datangkan sponsor Anda ke sini atau staf Konsultan Indonesia. Pilihan di tangan Anda.
Saya masih banyak urusan,” katanya sembari menuju ruangannya tanpa menunggu jawaban
Ata.
“Lakukan saja apa yang dia minta,” desis sopir taksi perlahan. “Lebih cepat lebih baik.”
Dengan enggan Ata menghubungi Dr. Vera Liu. “Bisakah Anda ke HVRI? Saya ada sedikit
masalah. Apa? Tidak, tidak, saya tidak apa-apa. Mereka bersikap baik. Nanti saya jelaskan di
sini apa yang terjadi. Terima kasih, Doktor Vera.”
Vera datang cukup cepat, hanya sekitar lima menit, seorang diri tanpa Kenny. Keduanya
bicara dengan komandan di ruangan tertutup yang dikelilingi kaca berukuran besar. Vera
terlihat ekspresif karena sering menggunakan gerakan tangan. Tak lama kemudian keduanya
keluar ruangan. Komandan mengembalikan paspor Ata, tetap dengan nada dingin dan
ekspresi datar, “Anda boleh pergi.”
Vera menawarkan Ata ikut mobilnya untuk kembali ke hotel, tetapi dia memilih tetap
dengan sopir taksi yang sudah banyak membantu. Taksi keluar dari gerbang HVRI berbelok
kanan memasuki Jalan Dacheng menuju Hotel Holiday Inn Express, Nangang.
“Maaf saya jadi merepotkan,” ujar Ata kepada sopir taksi. “Nama saya Ata.”
“Saya Qing. Tadi saya agak takut, tetapi sekarang saya senang. Kalau tidak karena Anda,
saya seperti tak pernah masuk ke gedung mengerikan itu.”
“Mengerikan?” Ata penasaran. “Apa maksud Anda, Qing?”
“Lab itu tempat pembuatan virus, termasuk virus Flu Burung dan Flu Babi, untuk persiapan
perang biologi melawan musuh-musuh Cina terutama Amerika Serikat.”
“Dari mana Anda mendapat info itu?”
15
“Dari Kawasan kawan saya yang sepupunya bekerja di HVRI. Katanya, ini memang proyek
rahasia Pemerintah karena musuh Cina banyak sekali.”
“Kalau info pembaruan virus itu benar, bahaya sekali jika terjadi kebocoran.” Ata
memancing sopir agar terus menyampaikan apa yang dia ketahui.
“Betul. Contohnya Corona. Saya yakin asalnya bukan dari Pasar Huanan di Wuhan. Bukan
juga dari kelelawar yang dimakan masyarakat.”
“Kenapa?”
“Kelelawar bukan baru dimakan masyarakat Cina 1-2 tahun, tapi sudah ribuan tahun. Tentu
ada yang pernah keracunan daging kelelawar, tetapi paling korbannya sedikit. Saya tidak
pernah mendengar ada penduduk satu kota, satu negara, apalagi satu dunia di mana orang
berjatuhan sakit seperti saat wabah COVID-19. Teori virus Corona dari kelelawar itu, menurut
saya, penjelasan dungu.”
Ata terus memancing, “Kalau bukan dari kelelawar, lalu dibocorkan?”
“Dari Lab Wuhan yang bocor,” jawab Qing yakin. “Atau dibocorkan.”
“Dibocorkan?”
“Bukan menurut saya, melainkan menurut Dr. Li Mengyan yang tulisannya saya baca di
internet. Banyak orang Cina setuju dengan pendapatnya.” Qing menunjuk ke kanan. “Itu hotel
Anda?”
“Ya, betul. Rasanya cepat sekali.”
“Perjalanan pulang selalu lebih cepat dibandingkan perjalanan pergi” ujar Qing
mengarahkan mobil memasuki Kawasan hotel dan berhenti di teras lobi. Dia memberikan
kartu nama kepada Ata. “Jika ada urusan lagi ke mana pun, hubungi saya.”
“Oke. Sekali lagi terima kasih atas kebaikan Qing hari ini.”
“Semua kebaikan tak akan berbuah apa pun selain kebaikan yang lebih bagus lagi.”
“Pengingat yang bagus. Saya belajar banyak hari ini. Terima kasih atas kebaikan Qing.”
Ata baru menginjak lobi hotel ketika teleponnya berdering. Panggilan masuk dari Alex.
“Saya baru mendarat di Harbin. Kita ketemu di mana?”
“Alex menginap di mana?”
“Belum tahu. Belum booking.”
“Aku di Holiday Inn Nangang. Mau di sini? Aku bookingkan.”
“Boleh. Aku segera ke sana.”
Sambil menunggu kedatangan Alex, Ata mengingat kembali pengalamannya selama di
Kupang dan Atambua. Dia teringat pada Valerie Sumowinoto. Segera dihubunginya sang
jurnalis. “Val? Sedang sibuk?”
“Hai, Doktor Ata. Tidak terlalu. Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya ingin tanya apakah saat Val ke Kupang pernah mendengar kematian peternak babi
yang misterius di Atambua?”
“Saat itu tidak. Saya mengikuti suatu acara Gubernur di So’e, kemudian wawancara khusus
di rumah dinasnya di Kupang. Setelah itu, membuat liputan potensi UMKM. Saya baru dengar
kematian peternak babi itu setelah sampai Jakarta. Saya lihat liputan di koresponden kami di
sana. Cuma tak jadi ditayangkan karena dianggap magnitude berita terlalu kecil. Sangat
lokal. Apalagi penyebab remi kematian masih belum diketahui dengan pasti sampai saat
tenggat. Kabarnya para peternak itu baru pulang dari Cina. Namun, tak ada bukti valid,”
papar Valerie. “Ada apa, Dok Ata?”
“Saat ini saya sedang di Cina. Di kota Harbin.”
“What?” Valerie terkejut. “Apakah ada hubungannya dengan kejadian di Atambua?”
16
“Belum tahu. Mungkin juga ada hubungannya setelah saya telusuri nanti. Soal kematian di
Atambua yang tidak jadi ditayangkan, siapa yang memutuskan?”
“Pemimpin Redaksi.”
“Kalau menurut pertimbanganmu, apakah berita itu juga tidak layak?”
“Justru layak.”
“Kenapa?”
“Ada warga yang meninggal dunia. Tugas pers adalah mewartakan hal seperti ini. Apalagi
yang meninggal lebih dari satu orang.”
“Jadi kenapa bosmu membatalkan penayangan berita ini?”
“Saya tidak tahu. Seorang pemimpin redaksi memiliki veto terhadao semua berita yang
akan ditayangkan, dengan atau tanpa penjelasan.”
Ekor mata Ata melihat Alex yang memasuki lobi hotel sehingga perhatiannya terbagi. “Val,
nanti saya hubungi lagi. Terima kasih informasinya,” katanya sambil berdiri dan melambaikan
tangan ke arah Alex yang melihatnya.
Ata memberikan isyarat kepada Alex agar menuju meja resepsionis untuk check-in. Sambil
menunggu percakapan resepsionis dan Alex berlangsung dia melayangkan pandangan pada
televisi yang berada di lobi. Dia tak mendengar jelas berita yang disampaikan kerna volume
disetel perlahan, selain memusatkan perhatian pada gambar seorang lelaki parlente yang
marah-marah diborgol aparat kepolisian. Sebuah teks bahasa Inggris muncul di gambar:
PEMIMPIN LEGA DESTRA D’ITALIA DITANGKAP.
---
1. Analisislah unsur intrinsik pada penggalan novel di atas.
2. Tuliskan jawabanmu dalam kolom berikut ini.
Alur/plot
Karakter (tokoh dan
penokohan)
Waktu :
Latar Tempat :
Sosial :
17
Tema
Judul
Sudut Pandang
Gaya Bahasa
Latihan
Untuk melatih pemahaman kalian, kerjakanlah latihan berikut.
Setelah membaca novel di atas, jawablah pertanyaan di bawah ini.
1. Jelaskan hakikat sebuah novel dengan bahasamu sendiri!
2. Jelaskan unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam sebuah novel!
3. Jelaskan gaya bahasa yang digunakan dalam penggalan novel di bawah ini!
36 – Mutasi Isi Hati (halaman 291 – 297)
---
Baru saja perbincangan selesai, suara ponselnya kembali berderai. Nama yang muncul di
layar membuat senyumnya mengurai. “Assalamualaikum, Bu.”
“Waalaikumsalam, Nduk. Wah, kamu kok enggak bilang-bilang muncul di televisi. Hampir
tadi Ibu kelewat kalau ndak dikabari Mas Panca.”
“Bukannya ndak mau ngabari. Ini mendadak sekali, Bu. Ata baru dikabari orang televisi
beberapa menit sebelumnya. Mohon maaf ya, Bu. Barusan Mas Panca juga sudah
ditelepon.”
---
“Nduk, kamu masih ingat Dokter Wahyuni?” tanya ibunya. “Dokter Puskesmas yang sayang
sekali sama kamu waktu kamu kecil?”
“Ingat dong, Bu. Ata punya cita-cita jadi dokter, kan, karena terinspirasi Dokter Wahyuni.
Bagaimana kabarnya sekarang?”
“Dokter Wahyuni baru saja meninggal kemarin, Nduk,” ujar ibunya tersendat. “Orang baik,
banyak menolong orang lain.”
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” Ata terbata-bata sebelum lisannya mengucap doa,
“Allahummaghfirlaha warhamha wa’fiha wa’fu’anha.”
18
Angin dingin Harbin kini terasa semakin memisau, meliuk, menembus ulu hati, menebas
pucuk jantungnya, seolah menggarami luka dengan cuka. Begitu perih. Semua
pencapaiannya saat ini atas izin Allah, tetapi pemantiknya melalui perhatian Dokter Wahyuni
Suprapti. Sekiranya dia tak pernah bertemu dokter ramah itu di masa kecil, akankah dia
mengejar impian sebagai dokter? Atau, memilih jadi pedagang batik seperti ibunya?”
---
Ata menyeka air mata yang membasahi pipi. “Sakit apa Dokter Wahyuni?”
“Sesak napas dan demam tinggi. Apakah itu karena pegbluk ini, Nduk?”
“Ata tidak bisa memastikan, Bu, karena sesak napas dan demam itu gejala awal banyak
penyakit. Harus ada pemeriksaan lebih lanjut.”
Kabar yang beredar sekarang bilang Dokter Wahyuni kena virus itu, Nduk.”
Ulu hati Ata seperti dicakar serigala lapar. Kabar itu mungkin saja benar, tetapi dia tidak ingin
membuat ibunya panik.
---
Lalu, dia balik badan, bersiap memasuki lobi. Langkahya terhenti. Badannya mematung.
Alex Lauw bediri persis sekitar tiga langkah di depannya!
Alex mendekat. “Maaf aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan ibumu.”
Wajah Ata semerah udang rebus. Dia tak mampu menjawab selain menutup wajah dengan
kedua telapak tangan. Lebih baik lantai yang diinjaknya terbelah dan menyedotnya ke bawah
ketimbang harus menatap lelaki di depannya yang berdiri gagah.
Pembahasan dan Pedoman Penskoran Latihan Soal Kegiatan Pembelajaran 1
Berikut disajikan pembahasan dan pedoman pemberian skor untuk Latihan Soal sebagai
acuan mengukur pemahamanmu.
No. Jawaban Soal Aspek yang Dinilai Skor
Berikut ulasan untuk pengertian
novel. Novel merupakan salah Peserta didik menjawab soal 30
dengan tepat. 20
satu bentuk karya sastra prosa
Peserta didik menjawab soal
fiksi yang ceritanya cukup kurang tepat.
1. panjang. Biasanya, cerita di
dalam novel diawali dengan
munculnya sebuah persoalan
yang dialami oleh tokoh, dan
diakhiri dengan penyelesaian
masalahnya.
19
Berikut ulasan unsur-unsur intrinsik novel. Peserta didik
a) Alur/plot adalah hubungan logis menjawab soal 40
kausalitas (sebab-akibat) antar peristiwa dengan tepat.
yang membentuk cerita secara utuh.
b) Karakter (tokoh dan penokohan) adalah Peserta didik 20
bagian yang memuat tokoh dan penokohan, menjawab soal
tokoh adalah pelaku-pelaku yang terlibat kurang tepat.
dalam cerita, sedangkan penokohan adalah
karakter atau sifat yang melekat pada
pelaku dalam cerita.
c) Latar adalah komponen cerita yang
2. mendeskripsikan kapan peristiwa itu terjadi
(latar waktu), di mana peristiwa itu terjadi
(latar tempat), dan di lingkungan seperti apa
peristiwa itu terjadi (latar sosial).
d) Tema adalah ide pokok atau gagasan
utama yang melatarbelakangi jalannya
sebuah cerita.
f) Sudut pandang adalah cara pengarang
memosisikan dirinya dalam cerita.
g) Gaya bahasa adalah ciri khas bahasa
yang digunakan pengarang dalam
menyampaikan gagasannya dalam cerita.
- Majas personifikasi Peserta didik 30
Angin dingin Harbin kini terasa semakin menjawab soal
memisau, meliuk, menembus ulu hati, dengan tepat.
menebas pucuk jantungnya, seolah
menggarami luka dengan cuka. Peserta didik
3. menjawab soal 20
- Majas simile kurang tepat.
Ulu hati Ata seperti dicakar serigala lapar
- Majas metafora Peserta didik 10
Wajah Ata semerah udang rebus. menjawab soal tidak
tepat.
20
Penilaian Diri
Setelah kalian belajar melalui kegiatan pembelajaran 1 mengenai unsur intrinsik sebuah
novel, berikut diberikan tabel untuk mengukur pemahaman diri kalian terhadap materi yang
sudah kalian pelajari. Jawablah sejujurnya terkait dengan penguasaan materi, dan isilah
tabel refleksi diri terhadap pemahaman materi dari tabel berikut dengan memberikan tanda
(✔).
No. Pertanyaan Ya Tidak
1. Apakah kalian telah memahami hakikat novel?
2. Apakah kalian telah memahami karakteristik novel?
3. Apakah kalian telah memahami unsur-unsur intrinsik sebuah
novel?
4. Dapatkah kalian menentukan alur/plot sebuah cerita dalam
novel?
5. Dapatkan kalian menentukan karakter tokoh dalam novel?
6. Dapatkan kalian menentukan latar tokoh dalam novel?
Tindak Lanjut
Untuk mengukur penguasaan materi, kalian sebaiknya tidak melihat kunci jawaban ketika
mengerjakan latihan soal. Setelah selesai mengerjakan latihan soal, cobalah sesuaikan
jawaban yang kalian kerjakan dengan kunci jawaban yang telah disediakan. Jangan
beranjak ke kegiatan selanjutnya jika masih merasa kesulitan dalam materi ini. Hubungilah
guru kalian jika perlu mendiskusikan materi yang tidak dipahami. Lakukan pengukuran
kemampuan untuk mengetahui tingkat pemahaman materi yang kalian pelajari dalam
kegiatan pembelajaran ini. Gunakan rumus penghitungan seperti di bawah ini.
Nilai: skor yang diperoleh x 100
_____________________ = …
skor maksimal
Hasil penghitungan di atas jika menunjukan hasil:
a.0 – 65 : kurang
b.66 – 75 : cukup
c.76 – 85 : baik
d.86 – 100 : sangat baik
21
Jika kalian telah mencapai tingkat penguasaan materi sebesar 76 atau lebih, maka kalian
dapat melanjutkan belajar pada kegiatan selanjutnya. Namun, jika tingkat penguasaan
materi kalian di bawah 76, maka sebaiknya kalian mengulangi materi pada kegiatan
pembelajaran 1. Jangan putus asa untuk mengulang lagi. Semangat!
Kuis Tebak Majas
Angin dingin Harbin kini terasa Wajah Ata semerah udang
semakin memisau, meliuk, rebus
menembus ulu hati, menebas
pucuk jantungnya, seolah __T__O__
menggarami luka dengan
cuka.
P______F_____
Ulu hati Ata seperti dicakar Napasnya terengah-engah
serigala lapar karena cambukan udara kian
menggila.
_I___E
__P__ B___
Hebat! Kamu berhasil
menyelesaikan kegiatan ini.
22
23
Kegiatan Pembelajaran 2
Nilai Sosial yang
Terkandung
dalam Novel
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2
Nilai Sosial yang Terkandung dalam Novel
Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran dua ini secara mandiri, kalian diharapkan dapat
menganalisis nilai-nilai sosial melalui narasi atau dialog dalam sebuah novel dengan cermat,
teliti, dan penuh tanggung jawab sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Uraian Materi
Tahukah kamu bahwa novel banyak sekali menyimpan nilai-nilai
kebaikan di dalamnya? Ya, salah satu nilai sosial yang termuat dalam
sebuah novel adalah nilai sosial. Nilai sosial sangat penting untuk
diaplikasikan dalam kehidupan sosial sebab hal itu merupakan
pondasi bagi setiap orang dalam berinteraksi dengn lingkungannya.
Jika nilai sosial dapat diterapkan dengan baik dalam kehidupan
sehari-hari, maka keharmonisan pun akan terealisasi. Sebagai
makhluk sosial, sudah sepatutnya dapat menerapkan nilai sosial
dengan baik.
sumber: www.canva.com
Karya sastra sudah seharusnya dapat memberikan implikasi untuk kehidupan sebab sastra
merupakan hasl tiruan kehidupan. Implikasi yang dihasilkan dari karya sastra diantaranya
adalah adanya beberapa nilai-nilai dalam sebuah karya sastra. Endraswara (2013, hlm. 2)
menjelaskan bahwa secara sosiologis, sastra memiliki aspek kegunaan (useful) untuk
membangun karakter. Hal ini sejalan dengan konsep yang diusung oleh Horatius (dalam
Andari, 2013, hlm. 46) bahwa karya seni yang baik, termasuk sastra, selalu memenuhi dua
butir kriteria, yaitu dulce et utile (bermanfaat dan menghibur). Dengan begitu, selain
memberikan hiburan, sastra tentunya dapat memberikan kebermanfaatan bagi pembaca.
25
Nilai sosial merupakan salah satu nilai yang termuat dalam sebuah karya sastra. Nilai sosial
adalah bagian dari penguatan karakter yang perlu dimiliki oleh seseorang untuk menjalani
peranannya di lingkungan masyarakat. Yulianeta, dkk. (2020, hlm. 271) memaparkan bahwa
karakter adalah nilai dasar yang perlu dijadikan sebagai acuan dasar seseroang dalam
membangun interaksi di lingkungannya. Beberapa karakter secara umum yang digunakan
sebagai nilai hidup bersama (sosial) diklasifikasikan oleh Ghufron (2010, hlm. 15) ke dalam
beberapa bentuk nilai, diantaranya adalah kedamaian, menghargai, kerja sama,
kebebasan, kebahagiaan, kejujuran, kerendahan hati, kasih sayang, tanggung jawab,
kesederhanaan, toleransi, dan persatuan.
Menurut Zubaedi (2012, hlm. 13) beberapa bentuk nilai yang terdapat dalam nilai sosial
adalah sebagai berikut: (1) Kasih sayang (loves) yang terdiri atas pengabdian, tolong
menolong, kekeluargaan, kesetiaan, dan kepedulian; (2) Tanggung jawab (responsibility)
yang terdiri atas nilai rasa memiliki, disiplin, dan empati; (3) Keserasian hidup (life
harmony) yang terdiri atas nilai keadilan, toleransi, kerja sama, dan demokrasi. Nilai sosial
dalam novel dapat memberikan dampak positif bagi pembacanya. Dalam menjalani
kehidupan sehari-hari, tentunya sebagai masyarakat harus memegang dan memahami nilai-
nilai sosial agar keharmonisan lingkungan sosial terwujud.
Berikut adalah contoh beberapa nilai sosial yang termuat dalam novel Disorder karya Akmal
Nasery Basral.
Novel tersebut mengisahkan perjuangan seorang
epidemiolog dalam mengungkap asam muasal
virus SOIV-26 yang mengintai kota demi kota di
Indonesia, bahkan hampir berbagai penjuru dunia.
Novel ini memiliki alur dan penokohan yang cukup
kompleks, sehingga menyajikan banyak nilai sosial
di dalamnya.
sumber: www.republika.com
A. Nilai Kasih Sayang
1. Nilai pengabdian
Nilai pengabdian adalah nilai yang menggambarkan suatu cara untuk membantu atau
membaktikan diri kepada sesuatu, misalnya keluarga, negara, kelompok tertentu, dan
sebagainya. Contoh nilai pengabdian terdapat pada kutipan berikut.
“…Tepuk tangan membahana memenuhi ruangan saat Ata mengakhiri paparan
topik “Diagnosis Mikrofilariasis Menggunakan Mikrohematokrit Reader serta
Hematologi Analyzer & Cara Mengkultu
r Bakteri Salmonella spp Menggunakan
Teknik Imunomagnetik” yang tertulis dengan huruf besar pada backdrop di
dinding ruang seminar.” (Basral, 2020, hlm. 26)
26
2. Nilai tolong menolong
Nilai tolong menolong adalah salah satu budaya kehidupan yang dimiliki masyarakat
Indonesia. Tolong menolong merupakan salah salah perilaku yang baik karena dapat
membantu sesama manusia untuk menciptakan keharmonisan. Contoh nilai tolong menolong
terdapat pada kutipan berikut.
“Aaah … BSL-Fo’? Oke, oke.” Sopir meng
anggukkan kepala.” (Basral, 2020, hlm.
175)
3. Nilai kepedulian
Nilai kepedulian merupakan salah satu bentuk keharmonisan dalam kehidupan sosial.
Kepedulian artinya dapat menaruh perhatian yang baik terhadap sesuatu dengan
menghiraukan kendala suatu kondisi atau situasi. Contoh nilai kepedulian terdapat pada
kutipan berikut.
Nanti, Ata minta Mas Tri membelikan masker buat Ibu dan Bapak. Ata minta Mas
Tri belikan untuk Ibu dan Bapak masing-m
asing stokuntuk tiga bulan dulu.” (Basral,
2020, hlm. 294)
4. Nilai kekeluargaan
Nilai kekeluargaan adalah tindakan yang mencerminkan usaha membangun hubungan
keluarga yang harmonis, misalnya menyelesaikan perselisihan di keluarga, atau saling
menjaga hubungan baik antaranggota keluarga. Contoh nilai kekeluargaan terdapat pada
kutipan berikut.
“Kalau begitu, kamu kabari Mas Dwi-mu s
upaya dia hati-hati.” (Basral, 2020, hlm.
292)
B. Nilai Tanggung Jawab
1. Nilai rasa memiliki
Nilai rasa memiliki merupakan sebuah tindakan yang mencerminkan kebutuhan seseorang
untuk menjadi bagian dari kelompok sosial tertentu yang dihasilkan dari berbagai kesamaan,
baik itu kesamaan visi, kesukaan, kepunyaan, dan sebagainya. Contoh nilai rasa memiliki
terdapat pada kutipan berikut.
“Untuk membangun acara ini, pada awalnya Va yang perfeksionis sering
begadang di kraatnintogr.tiHngagmipdiransebtieabperhaapr
ia kecuali akhir pekan. Begitu acaranya
mendapatkan kali menyabet penghargaan talkshow
terbaik,…” (Basral, 2020, hlm. 329)
2. Nilai kejujuran
Nilai kejujuran adalah tindakan yang mencerminkan sifat benar dan dapat dipercaya
dalam diri seseorang. Contoh nilai kejujuran terdapat pada kutipan berikut.
27
“Untuk membangun acara ini, pada awalnya Va yang perfeksionis sering
begadang di kraatnintogr.tiHngagmipdiransebtieabperhaapr
ia kecuali akhir pekan. Begitu acaranya
mendapatkan kali menyabet penghargaan talkshow
terbaik,…” (Basral, 2020, hlm. 329)
3. Nilai disiplin
Nilai disiplin adalah tindakan yang mencerminkan kepatuhan serta ketaatan terhadap nilai
yang berlaku pada lingkungan tertentu dan dapat juga menjadi tanggung jawabnya sebagai
bagian dari lingkungan tersebut. Contoh nilai disiplin terdapat pada kutipan berikut.
“Dia menyusuri belalai mekanik itu dengan bergegas, kebiasaan berjalan yang
mulai terbentuk sejak menjadi mahasis
wi Fakultas Ilmu Kedokteran…” (Basral,
2020, hlm. 4)
4. Nilai empati
Nilai empati adalah tindakan yang mencerminkan penerimaan terhadap perasaan orang
lain dan dapat meletakkan dirinya pada orang tersebut. Contoh nilai empati terdapat pada
kutipan berikut.
“Ada salah seorang sumberku di Mabes Polri yang biasa menangani hal seperti
ini. Nanti aku bisa kenalkan Dok Ata deng
an dia. Bagaimana?” (Basral, 2020, hlm.
91)
C. Nilai Keserasian Hidup
1. Nilai toleransi
Nilai toleransi adalah nilai yang mencerminkan tindakan sikap tidak memihak dan objektif
terhadap ide, ras, ajaran yang berbeda pada seseorang. Contoh nilai toleransi terdapat
pada kutipan berikut.
“… O, ya, satu lagi. Kalau berdasarkan resep aslinya. Daging se’i atau muku loto
biasanya daging babi. Tetapi, semua dag
ing yang terhidang sekarang ini daging
sapi.” (Basral, 2020, hlm. 28)
2. Nilai kerja sama
Nilai kerja sama adalah nilai yang mencerminkan tindakan yang dilakukan beberapa pihak
sebagai bentuk interaksi sosial. Kerja sama bisa dilakukan antara dua orang atau lebih
maupun antarkelompok untuk mencapai tujuan bersama. Contoh nilai kerja sama terdapat
pada kutipan berikut.
“Setelah itu, mereka menghabiskan malam dengan mendatangi situs web demi
situs web, menjelajahi rerimbun informasi lama, mencari dokumentasi
pembicaraan warganet pada era 90-an
ketika diskusi dilakukan melalui mailing
list, sampai malam mencapai puncaknya dan bersalin hari.” (Basral, 2020, hlm.
332)
28
Rangkuman
Karya sastra memiliki implikasi untuk kehidupan sebab karya sastra adalah hasil
tiruan dari kehidupan nyata. Beberapa manfaat karya sastra diantaranya adalah
adanya nilai dulce et utile (bermanfaat dan menghibur). Karya sastra yang baik
dapat memberikan hiburan, dan dapat memberikan kebermanfaatan bagi
kehidupan.
Nilai sosial merupakan salah satu nilai yang termuat dalam sebuah karya sastra.
Nilai sosial adalah bagian dari penguatan karakter yang perlu dimiliki oleh
seseorang untuk menjalani peranannya di lingkungan masyarakat.
Bentuk nilai-nilai sosial dijelaskan lebih lanjut oleh Zubaedi (2012, hlm. 13)
bahwa terdapat beberapa sub nilai yang terdapat dalam nilai sosial. Beberapa
nilai sosial tersebut antara lain: (1) Kasih sayang (loves) yang terdiri atas
pengabdian, tolong menolong, kekeluargaan, kesetiaan, dan kepedulian; (2)
Tanggung jawab (responsibility) yang terdiri atas nilai rasa memiliki, disiplin, dan
empati; (3) Keserasian hidup (life harmony) yang terdiri atas nilai keadilan,
toleransi, kerja sama, dan demokrasi.
Penugasan Mandiri
Bacalah penggalan novel berikut ini!
sumber: www.canva.com
5 - Rahasia di Atambua (halaman 26 – 31)
Kupang, Indonesia
Ata baru selesai menyampaikan paparan di Ruang Seminar RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes
yang penuh sesak. Beberapa orang peserta terpaksa berdiri karena tak kebagian kursi. Tepuk
tangan membahana memenuhi ruangan saat Ata mengakhiri paparan topik “Diagnosis
Mikrofilariasis Menggunakan Mikrohematokrit Reader serta Hematologi Analyzer & Cara
Mengkultur Bakteri Salmonella spp Menggunakan Teknik Imunomagnetik” yang tertulis dengan
huruf besar pada backdrop di dinding ruang seminar.
29
Direktur Utama RSUD, Profesor Hermanus Mboi, tersenyum lebar. Menghasilkan kontras
indah dari gigi putih sempurna yang dikelilingi kulit sawo matangnya. “Materi yang luar
biasa,” pujinya dengan mengacungkan kedua ibu jari tangan. “Kami di daerah selalu suka jika
ada pakar yang bersedia datang dan tak pelit berbagi ilmu seperti Doktor Ata. Penambahan
ilmu epidemiologi yang disajikan sederhana, tetapi tetap menyisipkan perkembangan terbaru,
sangat membantu. Semoga ini bukan pertemuan pertama dan terakhir kita.”
“Tentu saja. Prof.” Ata meletakkan tangan di dada sebagai tanda terima kasih.
Sebuah meja panjang berisi makanan tradisional terhidang. Mulai dari kolo (nasi bakar di
dalam bambu dan diberi rempah), se’i (daging asap dibumbui garam, lada, madu, dan
dipanggang di atas bara api), sambal lu’at dengan aroma kemangi dan perasan jeruk yang
merupakan “pasangan sehidup semati” se’i, sambal ikan teri, jagung katemak (jagung,
kacang, dan biji-bijian lain direbus, ditambah daun pepaya), jagung bose (bubur jagung
ditabur kacang tanah goreng), ubi nuabosi (ubi direbus bersama garam), dan muku loto
(pisang muda direbus bersama potongan daging sampai mengental).
Jajan pasar seperti kue cucur, jawada (atau kue rambut, dari adonan tepung dicampur
gula merah, santan, dan air nira sebelum digoreng), emping jagung, kacang sembunyi
(kacang kulit dibalut adonan tepung pedas-manis) menambah meriah menu yang tersedia.
Profesor Mboi menjelaskan setiap makanan selancar pakar kuliner. “Kami tak menyajikan
makanan internasional karena Doktor Ata kuliah di Prancis. Untuk itu, kami siapkan menu
tradisional berbasis jagung, salah satu hasil alam terbaik Timor.”
“Kuliner lokal justru favorit saya.” Pandangan matanya menyapu seluruh makanan yang
terhidang. “Tampaknya semua menu ini bisa saya habiskan sekali makan.”
Seisi ruangan tertawa termasuk Profesor Mboi yang membuat perut buncitnya terguncang-
guncang. “O, silakan. Dengan senang hati,” ujarnya menunjuk teko yang mengeluarkan aroma
harum. “Itu kopi flores. Apakah Doktor minum kopi?”
“Hanya kopi hitam tanpa gula. Saya tak minum kopi sachet karena pencernaan saya
gampang terganggu. Kopi hitam saya minum rutin setiap hari karena membangkitkan tenaga
antioksidan, mengurangi peradangan di dalam tubuh, dan risiko diabetes.”
“Cocok! Kaka Ata ini ahli kopi juga rupanya,” puji Profesor Mboi. “O, ya, satu lagi. Kalau
berdasarkan resep aslinya, daging se’i atau muku loto biasanya daging babi. Tetapi, semua
daging yang terhidang sekarang ini daging sapi.”
“Penghormatan yang luar biasa. Terima kasih, Profesor.”
Usai makan siang yang menyenangkan, Profesor Mboi menyampaikan sebuah saran.
“Karena pesawat Doktor Ata besok pagi, berarti hari ini masih ada waktu lowong. Sopir saya
dan ibu-ibu panitia ini akan menemani Doktor jika ingin mengunjungi lokasi wisata Pantai
Lasiana, Pantai Tablolong, Pantai Oesapa, Bukit Cinta, Gua Kristal, atau lainnya. Atau,
barangkali mau belanja tenun Timor untuk hadiah? Silakan.”
“Terimakasih, Prof. Tapi, apakah sopir boleh mengantarkan saya ke Kabupaten Belu?”
“Kabupaten Belu? Sekarang?” Profesor Mboi melihat jam dinding. “Cukup jauh dari sini,
sekitar enam jam. Ada urusan apa di sana jika saya boleh tahu?”
Ata menceritakan berita di situs Warta Nusa Tenggara tentang kematian tiga peternak
babi yang dibacanya semalam. “Saya ingin ke lapangan mumpung sedang di pulau ini.”
“Begitu, ya?” Profesor Mboi mengusap-usap dagunya. “Baiklah. Karena ada perubahan
rencana, berarti ibu-ibu tidak perlu ikut ke Belu karena bisa sampai sini lagi lewat tengah
malam. Namun, Doktor Ata tak bisa hanya dengan sopir,” lanjutnya menatap anak buahnya
yang lain. “Dokter Gustaf bisa ikut? Yang lain sudah berkeluarga, hanya Dokter yang lajang.”
30
Mobil operasional RSUD memasuki Atambua, Ibu Kota Kabupaten Belu, pukul enam petang
waktu setempat. Ketika berangkat dari Kupang, Gustaf meminta Yeskiel menyetir secepat
mungkin agar Ata bisa punya waktu lebih banyak untuk melakukan penyelidikan. Sopir itu
dengan senang hati memperlihatkan bakat terpendam sebagai pembalap. Kondisi jalan yang
tak selalu mulus setelah keluar kota membuat ulu hati Ata mual dan tubuhnya pegal-pegal.
Namun, dia tahan untuk tak mengeluh karena niat ke Belu bukan untuk rekreasi.
Dari Atambua mereka meluncur ke sebuah desa di perbatasan Republik Demokratik Timor
Leste di mana terdapat peternakan babi cukup besar. Ketiga jenazah yang ingin dilihat Ata
sudah tak ada. Mayat pertama dikremasi tadi pagi, mayat kedua dikuburkan di pemakaman
Katolik, dan mayat ketiga dibawa kerabatnya dari Timor Leste untuk dimakamkan di sana.
Kondisi daerah perbatasan memang khas. Sering kali warga desa di kedua negara masih
berkeluarga dan satu rumpun leluhur seperti di wilayah Motain yang membagi wilayah
Indonesia dan Timor Leste-yang pernah menjadi provinsi Indonesia dengan nama Timor Timur.
Mereka terpisah menjadi warga negara berbeda bukan karena keinginan pribadi, melainkan
akibat konsekuensi geopolitik. Untungnya, warga kedua desa tak haru membawa paspor
setiap kali ingin mengunjungi kerabat mereka, kecuali surat keterangan identitas sederhana.
Koko Han, pemilik peternakan babi yang mereka datangi menolak memberikan penjelasan
tentang penyebab kematian anak buahnya. “Saya sudah buat laporan untuk Dinas
Peternakan dengan tembusan kepada Bupati,” katanya jengkel. “Cek saja.”
Bahkan, meski Gustaf mengajaknya berbicara bahasa daerah dan menyampaikan bahwa
Ata mengorbankan waktu luang di Kupang demi mendapatkan informasi, pemilik peternakan
bergeming. “Saya harus tidur cepat karena kurang tidur kemarin,” katanya sembari pura-pura
menguap, membuat emosi Gustaf meluap.
Ata langsung menginterupsi. “Baiklah. Ini nomor telepon saya sekiranya nanti ada hal yang
ingin disampaikan,” katanya menyodorkan kartu nama kepada pemilik peternakan yang
menerima tanpa melihat sedikit pun selain kembali menguap secara demonstratif.
Begitu keluar peternakan, Atas minta diantarkan ke rumah Kepala Dinas Peternakan atau
Bupati. “Saya ingin melihat laporan orang itu. Apakah dia benar atau mengarang saja.”
Gustaf meminta Yeskiel untuk mendatangi rumah Bupati. Namun, tuan rumah sedang tak di
tempat karena bertugas ke Merauke. “Baru berangkat kemarin,” ujar petugas pos jaga. “Saya
tidak tahu kapan Bapak pulang karena jadwalnya dipegang ajudan.”
Dari rumah Bupati, mereka menuju rumah Kepala Dinas Peternakan, yang untungnya
sedang ada di rumah. Sikpanya ramah. “Laporan pemilik peternakan ada di kantor, tidak saya
bawa pulang. Saya baca laporan itu tadi siang. Gejala umum yang dialami peternak: batuk,
demam, persendian ngilu, kerongkongan kering, kelelahan.”
“Seperti apa batuknya? Berapa suhu tubuh tertinggi?” Ata penasaran.
“Saya tidak ingat persisnya, tetapi tidak ada angka ekstrem. Di kawasan Indonesia Timur ini
banyak sekali peternakan babi. Setiap hari ada peternak yang mati. Selain keletihan, mereka
sering terlambat makan atau kurang menjaga kebersihan badan.”
Argumennya masuk akal, tetapi Ata ingin menggali lebih dalam. “Berapa jumlah kematian
babi sebulan terakhir? Mungkin Bapak ingat?”
Di Kabupaten Belu tercatat 764 ekor. Terinfeksi ASF.”
“African Swine Flu? Astaga! itu angka yang cukup tinggi.”
31
“Itulah Dok. Bukan saya menganggap remeh kematian ketiga peternak. Tidak. Mereka
manusia, punya keluarga. Tetapi, berdasarkan catatan kami hanya mereka bertiga peternak
di Kabupaten Belu yang meninggal dunia dalam dua bulan terakhir. Secara statistik bukan
angka yang mengkhawatirkan. Sementara itu, 764 ekor babi yang mati itu angka menakutkan.
Kalau dalam semiggu ke depan angkanya terus naik, ribuan ekor harus disembelih agar tidak
mati sia-sia. Dijual murah pun tak ada yg mau beli daging berpenyakit. Mau dibuang atau
dikuburkan juga menyulitkan karena menambah pekerjaan. Serbasalah. Belum lagi kalau
jumlah itu ditambah dengan babi sakit dari peternakan di Pulau Sumba, Flores, Solor, dan
Alor,” katanya seraya memberikan kartu nama bertuliskan Dr. Agustinus Manefe.
“Terima kasih.” Ata memberikan kartu namanya: dr. Permata Pertiwi, MHSc., PhD.
Departmeen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang
tercetak di bagian depan, sementara di belakang tertulis Rumah Sakit Universitas Indonesia”.
---
1. Analisislah nilai-nilai sosial pada penggalan novel di atas.
2. Tuliskan jawabanmu dalam kolom berikut ini.
Nilai kepedulian .............................................................................................
.............................................................................................
.............................................................................................
.............................................................................................
Nilai kekeluargaan .............................................................................................
.............................................................................................
.............................................................................................
.............................................................................................
Nilai rasa memiliki .............................................................................................
.............................................................................................
.............................................................................................
.............................................................................................
Nilai kerja sama .............................................................................................
.............................................................................................
.............................................................................................
.............................................................................................
Nilai toleransi .............................................................................................
.............................................................................................
.............................................................................................
.............................................................................................
32
Latihan Soal
Untuk melatih pemahaman kalian, kerjakanlah latihan berikut. Jawablah pertanyaan di
bawah ini pada lembar kerja terpisah.
1. Jelaskan nilai sosial dengan bahasamu sendiri!
2. Jelaskan bentuk-bentuk nilai sosial yang terdapat dalam sebuah novel!
3. Analisislah nilai-nilai sosial yang terkandung dalam penggalan novel di bawah ini!
16 - Bumerang (halaman 113 – 115)
Kupang, Indonesia
Sepekan setelah undangan Profesor Shocher, Ata kini di Bandara Soekarno-Hatta dalam
perjalanan menuju Prancis. Dia mendapat telepon dari sebuah nomor dari luar negeri yang
belum dikenalnya. Saran Valerie agar merekam setiap pembicaraan dengan nomor tak
dikenal berkelebat di kepalanya. Ata menjalankan saran itu.
“Dokter Permata, apakah bisa membantu saya?” tanya seorang lelaki. “Saya Hansen
Kusuma, pemilik perternakan babi di Atambua.”
“Ya, saya ingat. Selain di Atambua, kita juga bertemu di pesawat ke Jakarta, bukan?”
“Benar,” jawab Hansen gugup. “Saya sedang ada masalah.”
“Anda dimana? Saya dengan Anda tak ada di Atambua?”
“Melbourne, Istri saya, Felicia, sakit. Demam tinggi, sering bersin, susah napas juga ....”
“Sejak kapan?”
“Dari semalam. Dia baru cerita kepada saya bahwa saat di Atambua pernah menjenguk
Jonas yang sakit. Feli kasihan kepada istri Jonas yang sedang hamil. Saya sama sekali tidak
tahu soal ini karena waktu itu saya melarangnya kontak dengan ketiga peternak kami. Apakah
dia terjangkit infeksi yang sama seperti Jonas?” Suara Hansen khawatir.
“Sudah dilakukan swab test?”
“Belum. Saya takut hasilnya positif dan kami diwajibkan menjalani karantina. Kalau Feli
ternyata spreader, saya khawatir kami kena blacklist Pemerintah Australia. Bisa-bisa
kesempatan anak saya untuk kuliah di sini tertutup. Apa yang harus saya lakukan?”
“Kalau istri Anda tidak menjalani swab test, cepat atau lambat Otoritas Australia akan tahu
juga. Apakah Anda pikir mereka bisa dikelabui seperti yang anda lakukan di Atambua?”
Hening beberapa saat sebelum suara Hansen terdengar lagi. “Apakah bisa istri saya
dibawa ke Indonesia? Saya baca kartu nama Dokter ternyata bekerja di RSUI. Saya ingin Feli
dirawat di sana. Jika Dokter bisa mengusahakan, tolong kirim nomor rekening, saya transfer
satu miliar uang muka sekarang. Bukan buat biaya RS, tapi untuk Dokter pribadi.”
“Ini bukan menyangkut uang. Ini menyangkut ....”
“Kalau Dokter tak mau rupiah, bagaimana dengan dolar Australia?” cecar Hansen tak
sensitif, membuat Ata semakin sebal.
“Dengar! Ceritakan semua hal kepada dokter yang merawat istri Anda, jangan ada yang di
tutupin. Jika istri Anda meninggal dunia, Anda bisa menyesal seumur hidup!” tukasnya tajam.
Panggilan boarding untuk penumpang ke Prancis berkumandang.
“Saya harus masuk pesawat.” Ata melunakkan suaranya.
Semoga istri anda cepat sembuh.”
Tak ada jawaban, tetapi Hansen juga tidak memutus pembicaraan.
33
“Satu lagi, tolong jawab pertanyaan saya dengan jujur.
Bisa?” tanya Ata.
“Apa itu, Dok?”
“Sudah sepeka Yeskiel Ndaumanu, wartawan yang menulis kematian peternakan Anda, tak
diketahui di mana keberadaannya. Di mana dia?” Ata melesatkan panah-panah kata.
“Saya tidak tahu.” Telepon dimatikan dari seberang.
Ata menghubung Dokter Gustaf. “Saya sudah tahu siapa yang membungkam Yeskiel.
Sekarang saatnya Dokter Gustaf melibatkan kawan dokter di Porles Belu untuk mengusut
kasus ini. Saya kirimkan rekaman pembicaraan kami,” katanya sambil mendekati antrean yang
akan memasuki badan pesawat.
Sebelum memasuki Garbarata, Ata menelepon Valerie. Telepon kawannya itu mati. Ata
meninggalkan voice massage. “Val, ada WNI jadi suspect SOIV-26 di Melbourne. Namanya
Felica. Barusan aku dihubungi suaminya, Hansen. Aku kirim biz card. Mungkin bisa di-follow up
tim redaksimu. Aku sebentar lagi terbang ke Prancis, Bye.”
Sambil memasuki tubuh pesawat Air France, Ata membayangkan kehebohan apa yang
segera pecah di Australia esok hari begitu media massa Negeri Kangguru mengumumkan
ditemukannya pasien positif SOIV-26 di Melbourne.
Upaya Hansen menyuapnya hanya menjadi bumerang. Peternak tamak itu menggali kuburan
sendiri di benua sekarang.
---
Pembahasan dan Pedoman Penskoran Latihan Soal Kegiatan Pembelajaran 2
Berikut disajikan pembahasan dan pedoman pemberian skor untuk Latihan Soal sebagai
acuan mengukur pemahamanmu.
No. Jawaban Soal Aspek yang Dinilai Skor
Berikut ulasan mengenai
pengertian nilai sosial. Peserta didik menjawab soal 30
dengan tepat. 20
Nilai sosial merupakan salah satu
Peserta didik menjawab soal
nilai yang termuat dalam sebuah kurang tepat.
1. karya sastra. Nilai sosial adalah
bagian dari penguatan karakter
yang perlu dimiliki oleh
seseorang untuk menjalani
peranannya di lingkungan
masyarakat.
34
Berikut ulasan mengenai bentuk-bentuk nilai Peserta didik
sosial dalam novel. menjawab soal 40
Beberapa nilai sosial tersebut antara lain: dengan tepat.
(1) Kasih sayang (loves) yang terdiri atas
pengabdian, tolong menolong, kekeluargaan, Peserta didik 20
2. kesetiaan, dan kepedulian; menjawab soal
(2) Tanggung jawab (responsibility) yang terdiri kurang tepat.
atas nilai rasa memiliki, disiplin, dan empati;
(3) Keserasian hidup (life harmony) yang terdiri
atas nilai keadilan, toleransi, kerja sama, dan
demokrasi.
- Nilai kepedulian Peserta didik 30
Kepedulian tokoh Hansen pada istrinya, Felicia menjawab soal
dengan meminta Ata untuk mengobati istrinya. dengan tepat.
Kepedulian Ata terhadap Felicia dengan
menyarankan agar Felicia melakukan swab test.
- Nilai kejujuran
Nilai kejujuran tercermin dari tokoh Ata yang Peserta didik
3. menolak suapan dari Hansen. menjawab soal 20
- Nilai kerja sama kurang tepat.
Nilai kerja sama yang baik tercermin dari
tindakan tokoh Ata yang langsung
menghubungi Gustaff dan Valerie untuk Peserta didik 10
memberitahukan dugaannya terkait pelaku menjawab soal tidak
penculikan Yeskiel, dan pasien suspect virus di
Melbourne, Australia. tepat.
Penilaian Diri
Setelah kalian belajar melalui kegiatan pembelajaran 2 mengenai nilai sosial yang
terkandung dalam novel, berikut diberikan tabel untuk mengukur pemahaman diri kalian
terhadap materi yang sudah kalian pelajari. Jawablah sejujurnya terkait dengan penguasaan
materi, dan isilah tabel refleksi diri terhadap pemahaman materi dari tabel berikut dengan
meberikan tanda (✔).
No. Pertanyaan Ya Tidak
1. Apakah kalian telah pengertian nilai sosial dalam novel?
2. Apakah kalian telah memahami bentuk nilai-nilai sosial kasih
sayang dalam novel?
35
3. Apakah kalian telah memahami bentuk nilai-nilai sosial
tanggung jawab dalam novel?
4. Apakah kalian telah memahami bentuk nilai-nilai sosial
keserasian hidup dalam novel?
5. Dapatkah kalian menghubungkan dan menerapkan nilai
sosial dalam novel dengan kehidupan sehari-hari?
Tindak Lanjut
Untuk mengukur penguasaan materi, kalian sebaiknya tidak melihat kunci jawaban ketika
mengerjakan latihan soal. Setelah selesai mengerjakan latihan soal, cobalah sesuaikan
jawaban yang kalian kerjakan dengan kunci jawaban yang telah disediakan. Jangan
beranjak ke kegiatan selanjutnya jika masih merasa kesulitan dalam materi ini. Hubungilah
guru kalian jika perlu mendiskusikan materi yang tidak dipahami. Lakukan pengukuran
kemampuan untuk mengetahui tingkat pemahaman materi yang kalian pelajari dalam
kegiatan pembelajaran ini. Gunakan rumus penghitungan seperti di bawah ini.
Nilai: skor yang diperoleh x 100 =…
_____________________
skor maksimal
Hasil penghitungan di atas jika menunjukan hasil:
a.0 – 65 : kurang
b.66 – 75 : cukup
c.76 – 85 : baik
d.86 – 100 : sangat baik
Jika kamu telah mencapai tingkat penguasaan materi sebesar 76 atau lebih, maka kamu
dapat melanjutkan belajar pada kegiatan selanjutnya. Namun, jika tingkat penguasaan
materi kamu di bawah 76, maka sebaiknya kamu mengulangi materi pada kegiatan
pembelajaran 2. Jangan putus asa untuk mengulang lagi. Semangat!
36
Kuis Teka-teki Nilai Sosial
Carilah nilai-nilai sosial dengan menandai kata tersebut pada kolom berikut ini!
K R T Y N K E R J A S A MA F P
E QWE T Y I O P L K J H GGO
P WD V B P E N G A B D I A N L
E A S V F U H Z S GH T K Y A T
D K E K E L U A R GA A N M I O
U Y U GF T D S A WR T Y U K L
L J MP A T H J H Y GF D S A E
I OA E V B A H C F D S A QT R
A L V R B GY T F R H J K L OA
N GH S GH J K L OP GF D A N
M H J A V GH J E MP A T I M S
B H P T V GF D S A E WQZ X I
M K Z U B H J K L OP U Y H F D
E OU A I OB V L I K I F OP N
D T K N H U I F D E Y GF S T W
QDSZRASAMEMI L I K I
Hebat! Kamu berhasil
menyelesaikan kegiatan ini.
37
EVALUASI
A. Berilah tanda silang (X) pada a, b, c, d, atau e yang dianggap sebagai jawaban
yang paling tepat!
1. Nilai sosial merupakan salah satu nilai yang tercermin dalam sebuah novel dan memiliki
manfaat dalam kehidupan sosial untuk ….
A. digunakan untuk seseorang dalam menjalani perannya sebagai makhluk individualis
B. dijadikan sebagai acuan dasar seseorang dalam membangun interaksi dengan
lingkungan sosialnya
C. dijadikan sebagai pedoman seseorang dalam menjalin hubungan baik dengan alam
sekitar
D. dijadikan sebagai acuan dasar seseorang dalam menjalin hubungan baik dengan
Tuhannya.
E. dijadikan sebagai acuan dasar seseorang dalam menjalani perannya sebagai makhluk
yang apatis.
Bacalah penggalan novel berikut!
Nanti, Ata minta Mas Tri membelikan masker buat Ibu dan Bapak. Ata minta Mas
Tri belikan untuk Ibu dan Bapak masing-m
asing stokuntuk tiga bulan dulu.” (Basral,
2020, hlm. 294)
2. Nilai sosial yang terkandung dalam penggalan novel di atas adalah….
A. kerja sama
B. persatuan
C. toleransi
D. empati
E. kepedulian
Bacalah penggalan novel berikut!
“… O, ya, satu lagi. Kalau berdasarkan resep aslinya. Daging se’i atau muku loto
biasanya daging babi. Tetapi, semua dag
ing yang terhidang sekarang ini daging
sapi.” (Basral, 2020, hlm. 28)
3. Nilai sosial yang terkandung dalam penggalan novel di atas adalah….
A. kerja sama
B. rasa memiliki
C. toleransi
D. persatuan
E. empati
Bacalah penggalan novel berikut!
“Ada salah seorang sumberku di Mabes Polri yang biasa menangani hal seperti
ini. Nanti aku bisa kenalkan Dok Ata deng
an dia. Bagaimana?” (Basral, 2020, hlm.
91)
39
4. Pengungkapan nilai sosial pada penggalan novel di atas dilakukan dengan cara….
A. lugas
B. metafora
C. humor
D. simbolik
E. imaji
5. Nilai sosial kerja sama tercermin pada kutipan ….
A. “Ada salah seorang sumberku di Mabes Polri yang biasa menangani hal seperti ini. Nanti
aku bisa kenalkan Dok Ata dengan dia. Bagaimana?” (Basral, 2020, hlm. 91)
B. “O, ya, satu lagi. Kalau berdasarkan resep aslinya. Daging se’i atau muku loto biasanya
daging babi. Tetapi, semua daging yang terhidang sekarang ini daging sapi.” (Basral, 2020,
hlm. 28)
C. “Dia menyusuri belalai mekanik itu dengan bergegas, kebiasaan berjalan yang mulai
terbentuk sejak menjadi mahasiswi Fakultas Ilmu Kedokteran…” (Basral, 2020, hlm. 4)
D. “Kalau begitu, kamu kabari Mas Dwi-mu supaya dia hati-hati.” (Basral, 2020, hlm. 292)
E. “Setelah itu, mereka menghabiskan malam dengan mendatangi situs web demi situs
web, menjelajahi rerimbun informasi lama, mencari dokumentasi pembicaraan warganet
pada era 90-an ketika diskusi dilakukan melalui mailing list, sampai malam mencapai
puncaknya dan bersalin hari.” (Basral, 2020, hlm. 332)
6. Manakah di antara gaya bahasa di bawah ini yang termasuk dalam gaya bahasa simile?
A. Ulu hati Ata seperti dicakar serigala lapar.
B. Wajah Ata semerah udang rebus.
C. Lebih baik lantai yang diinjaknya terbelah dan menyedotnya ke bawah.
D. Angin dingin Harbin kini terasa semakin memisau, meliuk, dan menembus ulu hati.
E. Nama yang muncul di layar membuat senyumnya mengurai.
Bacalah penggalan novel berikut!
AmnegnienbadsinpguincuHkajarbnitnunkginniyate, rsaesoalashemmeankgin
gamraemmiislaukua, meliuk, menembus ulu hati,
dengan cuka. Begitu perih.
7. Penggalan novel tersebut menampilkan gaya bahasa….
A. metafora
B. perumpamaan
C. personifikasi
D. hiperbola
E. ironi
Bacalah penggalan novel berikut untuk menjawab soal nomor 8 – 9!
Ruangan keamanan itu ditata modern dengan kumpulan panel layar televisi
resolusi tinggi yang memindai sekeliling laboratorium. Salah satu layar TV
menayangkan lokasi tempat taksi berhe
ntu ketika Ata ingin memotret. “Pantas
saja,” batinnya. Tak ada satu millimeter pun kawasan yang terlewat pantauan
mereka.
40
Wajah komandan petugas keamanan mengingtkan Ata pada Jacky Chan muda.
Hanya, jika ekspresi actor legendaris itu hampir selalu tersenyum, komandan ini
tidak. Wajahnya dingin dan kurang simetris. Ditambah bentuk rahang seperti kuda
liar, tampangnya semakin bengis. Untungnya saat bicara dia cukup fasih
berbahasa Inggris, sehingga Ata tak terlalu bergantung pada terjemahan sopir
taksi.
“Siapa sponsor Anda di sini?” tanya Komandan.
Ata nyaris menyebut nama P“Dofre. sVorerTa
obLiiaus Shochet, sebelum mengubahnya
pada detik terakhir menjadi, dan Dr. Kenny Zheng,” katanya
menyerahkan kartu nama mereka kepada komandan.
“Setiap orang bisa memiliki kartu nama orang lain,” tukas Komandan dengan
skeptis. “Bisa saja Anda bertemu mereka di suatu acara. Tidak berarti Anda kenal
satu sama lain.”
“Apa yang harus saya lakukan agar Anda percaya bahwa mereka sponsor
saya?”
“Suruh mereka datang ke sini agar saya tahu mereka bukan rekayasa Anda.”
8. Manakah penokohan yang paling cocok untuk tokoh komandan?
A. jahat dan keji
B. sinis dan tegas
C. sinis dan keji
D. bengis dan tegas
E. jujur dan bengis
9. Dimana tempat kejadian peristiwa tersebut?
A. apartemen
B. rumah sakit
C. ruang keamanan
D. HVRI
E. ruang lab
10. Beberapa nilai sosial yang perlu diterapkan untuk mewujudkan keserasian hidup
adalah….
A. nilai kepedulian, kekeluargaan, dan kesetiaan
B. nilai kesetiaan, pengabdian, dan empati
C. nilai disiplin, kerja sama, dan rasa memiliki
D. nilai kerja sama, toleransi, dan demokrasi
E. nilai kerja sama, keadilan, dan disiplin
Selamat mengerjakan!
"Kejujuran adalah kebijakan terbaik." - Benjamin Franklin
41
B. Buatlah rancangan sebuah novel. Untuk merancang sebuah novel, perhatikanlah
langkah-langkah sebagai berikut!
1. Pilihlah satu tema yang akan kalian angkat dalam novel kalian!
Sosial
Pendidikan
Persahabatan
2. Tentukanlah tokoh-tokohnya dan karakter setiap tokohnya!
Tokoh dan Karakter
1. ......... 2. ......... 3. .........
...................... ...................... ......................
...................... ...................... ......................
...................... ...................... ......................
...................... ...................... ......................
...................... ...................... ......................
3. Tentukanlah alur yang akan digunakan!
Maju Campuran Mundur
(Maju Mundur)
4. Tentukanlah latar waktu, tempat, dan sosial yang akan digunakan!
Latar/Setting
Latar Waktu Latar Tempat Latar Sosial
...................... ...................... ......................
...................... ...................... ......................
...................... ...................... ......................
...................... ...................... ......................
5. Jika kalian sudah menentukan tema, tentukanlah nilai sosial yang ingin kalian sampaikan
dalam novel yang kalian rancang!
Misalnya: nilai kepedulian, nilai kekeluargaan, nilai kerja sama, nilai persatuan, dan lainnya
42
Kunci Jawaban Soal Evaluasi
Bagian A
1. B dijadikan sebagai acuan dasar seseorang dalam membangun interaksi dengan
lingkungan sosialnya
2. E kepedulian
3. C toleransi
4. A lugas
“Setelah itu, mereka menghabiskan malam dengan mendatangi situs web demi
situs web, menjelajahi rerimbun informasi lama, mencari dokumentasi
5. E pembicaraan warganet pada era 90-an ketika diskusi dilakukan melalui mailing
list, sampai malam mencapai puncaknya dan bersalin hari.” (Basral, 2020, hlm.
332)
6. A Ulu hati Ata seperti dicakar serigala lapar.
7. C Personifikasi
8. D bengis dan tegas
9. C ruang keamanan
10. D nilai kerja sama, toleransi, dan demokrasi
Bagian B
Novel yang dirancang harus sesuai dengan langkah-langkah yang
disajikan, serta unsur-unsur intrinsik dan nilai sosial yang telah
dipelajari sebelumnya.
43
GLOSARIUM
deskriptif : bersifat menggambarkan apa adanya
empati : keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi
dirinya dalam keadaan atau pikiran yang sama dengan orang atau
kelompok lain
fiksi : cerita rekaan
gagasan : hasil pemikiran
intrinsik : unsur atau peristiwa yang terkandung di dalamnya
imaji : sesuatu yang dibayangkan dalam pikiran, atau sebuah bayangan
impresi : efek atau pengaruh yang dalam terhadap pikiran atau perasaan
kausal : hubungan sebab akibat dalam sebuah peristiwa
konsep : rancangan atau gambaran yang digunakan untuk memahami sesuatu
klimaks : puncak dari suatu hal, kejadian, atau peristiwa yang berkembang secara
berangsur-angsur
kronologis : berkenaan dengan kronologi, menurut urutan waktu dalam sebuah
peristiwa
majas : cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu
yang lain
metafora : pemakaian kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya,
melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau
perbandingan
naratif : bersifat narasi atau uraian
padanan : bahasa yang memiliki kesejajaran makna dengan kata atau farasa dalam
bahasa lain
pandemi : wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi
yang luas
plot : jalan cerita
prosa : karangan bebas yang tidak terikat oleh kaidah yang terdapat dalam puisi
ritme : irama
skor : angka perolehan dalam tes
vi
BILIK SASTRA
Akmal Nasery Basral merupakan salah satu
novelis Indonesia yang sudah cukup lama. Akmal
Nasery Basral membagi kreativitasnya sebagai
novelis menjadi dua periode, periode pertama
pada tahun 2005 - 2014, dan periode kedua pada
tahun 2018 - sekarang. Pada periode pertama,
novel-novelnya lebih cenderung bergenre novel
sejarah, atau biografi. Sementara itu, pada
periode kedua Akmal lebih cenderung
menciptakan novel yang bergenre nonsejarah.
Adapun beberapa karyanya pada periode
pertama yang bergenre sejarah adalah sebagai
berikut; Imperia (2005) yang kemudian
bermetamorfosis menjadi Trilogi Imperia (Ilusi
Imperia, Rahasia Imperia, Coda Imperia);
Nagabonar Jadi 2 (2007), Parlemen, Undercover:
Kisah-kisah Sontoloyo Wakil Rakyat Negeri
Indosiasat (2008), Presiden Prawiranegara (2011),
dan Batas (2011). Beberapa karyanya pun berhasil
difilmkan, seperti Nagabonar Jadi 2 (2007), dan
Sang Pencerah (2010). Sementara itu, pada
periode kedua untuk genre nonsejarah meliputi
dwilogi Dilarang Bercanda dengan Kenangan
(2018 & 2020), Te O Toriatte (2019), kumpulan
cerpen Putik Safron di Sayap Izrail, serta pada
akhir tahun 2020 Akmal menciptakan novel
Disorder.
vii
BIOGRAFI PENULIS
Riska Mutiara Dewi lahir di Cianjur pada 21 Februari 2000.
Mulai mengenyam pendidikan di SD Negeri Bingawati pada tahun
2007. Selanjutnya penulis menyelesaikan pendidikannya di SMP
Negeri 3 Cianjur pada tahun 2015, SMK Negeri 1 Cianjur pada
tahun 2018, dan saat ini berstatus mahasiswa Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
pada tahun 2022.
Penulis mempunyai hobi jalan-jalan, menonton, dan membaca
cerita. Selain itu, penulis pernah bergiat di Himpunan Bahasa dan
Sastra Indonesia UPI. Beberapa karyanya adalah puisi, buku
dongeng, dan opini yang pernah dimuat di situs Literat
(literat.my.id), dan kelompok Nulis Yuk (Instagram: @nulisyuk).
Penulis dapat dihubungi melalui surel [email protected].
Dr. Yulianeta, M.Pd. adalah dosen Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia, dan asisten profesor Fakultas Pendidikan
Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia. Beliau aktif
di bidang sastra, pendidikan, bahasa, menjadi pengisi dalam
seminar Bahasa dan Sastra Indonesia, menulis karya, baik ilmiah
maupun fiksi.
Sejak 2017 beberapa karya tulis ilmiahnya berhasil disitasi
sebanyak 79 sitasi dan 6 yang terindeks baik. Beberapa karya
tulisnya adalah Certa Rakyat Sebagai Bahan Pengayaan Literasi
Budaya Bagi Pemelajar BIPA Tingkat Menengah, The
Communication Activities and Women's Roles in Rudat Culture
Based on Adat Law, Morality Aspect in the Short Stories of Seno
Gumira Ajidarma, dan masih banyak lainnya.
Dheka Dwi Agustiningsih, M.Pd. adalah dosen Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia.
Beliau aktif di bidang bahasa dan sastra Indonesia.
Sejak 2017 beberapa karya tulis ilmiahnya berhasil disitasi
sebanyak 11 sitasi, dan 2 yang terindeks baik. beberapa karya
yang pernah ditulisnya adalah Kritik Sosial dalam Kumpulan Puisi
Negeri Terluka Karya Saut Situmorang, Ideologi Marxix serta Latar
Ekspresif dalam Cerita Merah Karya Liem Khing Hoo, Konstruksi
Perempuan dalam Film Hantu Sundel Bolong, dan masih banyak
lainnya.
viii