The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku saya adalah buku sejarah bahasa Indonesia

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Aldino, 2023-03-26 23:53:48

Sejarah bahasa

Buku saya adalah buku sejarah bahasa Indonesia

Keywords: #buku#sejarah bahasa Indonesia

1 Aldino adalah salah satu mahasiswa universitas negeri medan yang sudah berkecimpung di dunia tulis menulis bertema sejarah ia sangat senang melakukan riset kecil kecilan untuk mencari tahu makna dari setiap peristiwa di masa lampau,mahasiswa semester dua yang senang berbicara dan melakukan riset kecil kecilan Buku ini dikeluar untuk memenuhi ujian tengah semester yang membuat dia sedikit pusing,mual,dan panas dalam, saat pengerjaanya bersyukur buku ini bisa selesai dengan tempo yang sesingkat -singkatnya Tebing tinggi 19 maret 2023. Buku ini berisikan seluk beluk Bahasa Indonesia Ebook ini adalah panduan bagi mahasiswa untuk memahami sejarah bahasa indonesia yang begitu panjang dan sedikit rumit seperti hubunganmu dengan si Dia, dimulai dari anda belum lahir bahkan nenek anda sekalipun belum lahir.penulis mengupas tuntas seluk beluk lahirnya bahasa indonesia.Ibarat kata seperti mengupas kulit kacang lalu memakan kacangnya seperti itulah penulis menuliskan sejarah bahasa indonesia HISTORY OF INDONESIA LANGUAGE OLEH aldino HISTORY OF INDONESIA


HISTORYOFINDONESIALANGUAGEOLEHaldino HISTORY OF INDONESIA LANGUAGE ALDINO


I KATA PENGANTAR Puji dan syukur atas kehadirat alllah swt, tuhan yang maha esa yang telah memberikan rahmat dan karunianya sehingga saya dapat menyelesaikan ebook yang berjudul “menelusuri asal muasal bahasa indonesia”ini dengan sebaik-baiknya. ebook ini telah penulis susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan ebook ini. Untuk itu penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan buku ini terutama kepada Bangku Diandera Mirja yang telah meminjamkan komputernya dan juga ayah, ibu, dan kakak yang telah mendoahkan saya di dari sana, Terlepas dari semua itu,penulis meyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya Oleh karena itu dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki ebook yang sederhana ini Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan manfaatnya untuk masyarakat ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca. Tebing tinggi, 20 maret 2023 Aldino


II DAFTAR ISI Table of Contents KATA PENGANTAR.............................................................................................................................. I DAFTAR ISI......................................................................................................................................... II BAB I ................................................................................................................................................. 1 HAKIKAT BAHASA .............................................................................................................................. 1 A. PENDAHULUAN...................................................................................................................... 1 B. Apa Itu Bahasa....................................................................................................................... 1 C. Kenapa bahasa itu ada? ......................................................................................................... 2 1.1 Bisakah Kita Hidup Tanpa Bahasa?Beberapa hal yang akan terjadi jika kita hidup tanpa ..... 3 BAB II ................................................................................................................................................ 5 SEJARAH BAHASA.............................................................................................................................. 5 A. Bagaimanan Bahasa Manusia Terbentuk ............................................................................ 5 BAB III............................................................................................................................................... 7 SEJARAH BAHASA INDONESIA............................................................................................................ 7 BAB IV ............................................................................................................................................... 9 KERAJAAN MELAYU ........................................................................................................................... 9 BAB V .............................................................................................................................................. 14 FUNGSI BAHASA INDONESIA............................................................................................................ 14 BAB VI ............................................................................................................................................. 16 KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA ................................................................................................... 16 BAB VII ............................................................................................................................................ 18 RAGAM BAHASA INDONESIA ........................................................................................................... 18 BAB VIII ........................................................................................................................................... 21 PENUTUP......................................................................................................................................... 21 Daftar Pustaka................................................................................................................................. 22 BIOGRAFI PENULIS........................................................................................................................... 23


1 BAB I HAKIKAT BAHASA A. PENDAHULUAN apa itu bahasa jika pertanyaan semacam ini diajukan kepada orang awam, jawaban yang paling serig terucap ialah bahasa merupakan alat komunikasi, kalau saya waktu itu di gedung 72.1.04 saat mata kuliah kajian kebahasaan saya mendifinisikan bahwasanya bahasa adalah ketika bibir atas dan bawahmu bertemu sehingga menghasilkan suara yang dapat mempengaruhi kawan bicaramu semua teman saya pada tertwa terbahak-bahak karena definisi yang saya beritahukan berbeda dari yang lain . langsung saja saya mulai kalau bahasa adalah sebuah bunyi-bunyian yang dikeluarkan yang dapat mengutarakan pendapat dan gagasan,meminta sesuatu, memerintah, memberi informasi, menyampaikan petunjuk, melayangkan kritik, meghujat mengekspresikan pikiran atau apapun itu dalam bentuk lisan maupun tulis. Tetapi pernahkah anda berpikir tentang bagaimana awal mulanya umat manusia berbahasa.,dari mana bahasa manusia berasal dan mengapa ada begitu banyak bahasa di dunia ini dan apakah bermacam-macam bahasa itu berasal dari satu bahasa yang terbagibagi atau memang dari sananya seperti itu ? Entahlah saya akan mengupas satu persatu dari kulitnya hingga memakan kacangnya. Pada bab selanjutnya. untuk di bab ini kita akan berkenalan dengan bahasa yang meliputi Apa itu bahasa ? Kenapa bahasa itu ada? Dan bisakah kita hidup tanpa bahasa B. Apa Itu Bahasa Catatan ahli bahasa John McWhorter, seorang profesor bahasa Inggris dan sastra komparatif di Universitas Columbia. Atau seperti yang dikatakan Guy Deutscher dalam karya seminalnya, "The Unfolding of Language: An Evolutionary Tour of Mankind's Greatest Invention," b ahasa adalah "apa yang menjadikan kita manusia” Sebuah mural di Teotihuacan, Meksiko (c. abad ke-2) yang menggambarkan seseorang mengeluarkan gulungan pidato dari mulutnya, melambangkan ucapan Cuneiform adalah bentuk bahasa tertulis pertama yang diketahui, tetapi bahasa lisan mendahului tulisan setidaknya puluhan ribu tahun. Anak-anak dari orang dewasa tunarungu menggunakan Bahasa Isyarat Amerika Braille, sistem penulisan taktil Bahasa adalah sistem komunikasi terstruktur yang terdiri dari tata bahasa dan kosa kata. Ini adalah sarana utama yang digunakan manusia untuk


2 menyampaikan makna, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, dan juga dapat disampaikan melalui bahasa isyarat. Sebagian besar bahasa manusia telah mengembangkan sistem penulisan yang memungkinkan perekaman dan pelestarian bunyi atau tanda bahasa. Bahasa manusia dicirikan oleh keragaman budaya dan sejarahnya, dengan variasi signifikan yang teramati antar budaya dan lintas waktu.[1] Bahasa manusia memiliki sifat produktivitas dan perpindahan, yang memungkinkan terciptanya kalimat dalam jumlah tak terbatas, dan kemampuan untuk merujuk pada objek, peristiwa, dan gagasan yang tidak langsung hadir dalam wacana. Penggunaan bahasa manusia tergantung pada konvensi sosial dan diperoleh melalui pembelajaran.maka dengan demikian bahasa adalah sebuah sistem komunikasi terstruktur yang yang terdiri dari tata bahasa dan kosa kata dengan bahasa menjadikan kita sebagai manusia yang dapat dimengerti,mengetahu,menyampaikan,dan mengingat segala informasi yang masuk ke telingga kita. C. Kenapa bahasa itu ada? Alasan munculnya bahasa adalah untuk memudahkan manusia dalam berkomunikasi. Bahasa tidak harus selalu diucapkan, tetapi bisa saja tertulis atau diisyaratkan.kalau tidak ada bahasa kita tidak akan bisa menyampaikan pesan,tidak bisa berbicara yang akan menyebabkan bumi ini membisu,jika ini terjadi ya balik lagi kita seperti di sub bab selanjutnya tidak menjadikan kita manusia karena tidak menggunakan bahasa ,Selain sebagai alat komunikasi maupun berinteraksi, bahasa juga memiliki arti penting sebagai metode pembelajaran pada lingkup bahasa itu sendiri. (Bahasa symbol pengetahuan GOGGLE JPEG) Bahasa juga berfungsi sebagai identitas suatu suku atau bangsa karena keunikannya. Karena setiap suku atau bangsa tentunya memiliki bahasa yang berbeda. Manfaat bahasa Sejalan dengan pengertiannya, bahasa memiliki manfaat yang didapat oleh manusia. Di antaranya: Bahasa resmi suatu negara Beberapa negara memiliki banyak bahasa daerah, salah satunya Indonesia. Hal ini karena suku di Indonesia beragam. Sehingga bahasa resmi


3 dibutuhkan untuk mempersatukan masyarakat dari berbagai suku, yaitu Bahasa Indonesia. Alat pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan Untuk mengembangkan kebudayaan yang ada di sebuah negara, dibutuhkan bahasa. Sehingga komunikasi antar individu maupun kelompok bisa tercapai dengan maksimal. Pengantar dunia pendidikan Dengan bahasa maupun bahasa resmi maka banyak manusia yang mengerti dan paham. Khususnya menyangkut dunia pendidikan. Dengan penyampaian menggunakan bahasa yang mudah dimengerti maka ilmu pendidikan bisa diterima dengan baik. 1.1 Bisakah Kita Hidup Tanpa Bahasa?Beberapa hal yang akan terjadi jika kita hidup tanpa bahasa tidak ada komunikasi tulis dan verbal, hanya ada komukasi biologis seperti binatang, atau seperti bayi baru lahir yang menangis, yang artinya bisa : lapar, haus, kepanasan, kedinginan, sakit, tidak enak di badan. Seperti anjing menggong gong jika ada makhluk asing masuk wilayahnya. Seperti kucing mengerang jika birahinya muncul. Seperti ayam jago berkokok dan siap perang jika ada penjantan lain yang akan merebut betinanya… Gambar 1.1 simbol bahasa ( Goggle Jpeg) Tidak ada komunikasi tulis dan verbal, tidak ada sekolah. Pendidikan hanya terjadi dalam lingkup kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidup biologis sehari hari. Anak anak hanya melihat ibu memasak di dapur, ambil air di sumber. Pendidikan terbatas hanya pengetahuan pemenuhan kebutuhan dasar hidup. Belajar membuat sarang untuk berteduh dari panas dan hujan dan tidur di malam hari. Tidak ada filsafat dan ilmu pengetahuan. Tidak ada sains teknologi, karena pengetahuan tidak memiliki sarana untuk dikomunikasikan. Komunikasi pengetahuan hanya pada lingkup gerombolan manusia. (zaman pra sejarah ). Pengetahuan sangat terbatas untuk memenuhi kebutuhan dasar biologis, sex, pertahanan dari bahaya musuh dan predator. Pengetahuan terbatas yang berupa: berburu binatang untuk dimakan, mencari sumber air


4 untuk minum, membuat api, membuat kampak batu, mencari tempat berteduh atau perlindungan dari bahaya musuh predator. Gambar 1.1 simbol bahasa ( goggle jpeg) Tetapi zaman prasejarah manusia sudah memulai berbahasa dengan simbol simbol,( artefak archeology). Bahasa dalam simbol simbol alam yang masih terselamatkan di gua gua, berupa gambar gambar primitive : matahari, bulan, binatang buruan, binatang pemangsa yang ganas (singa, harimau), ular yang mematikan, banteng yang susah dirobohkan dan dibunuh. fakta pra sejarah, menjelaskan kemampuan berbahasa yang sangat terbatas, memaksa manusia menggantungkan kebutuhan hidup di alam, karena tidak tahu cara beternak dan bertani untuk memenuhi kebutuhan pangan, agar bisa hidup menetap. Hidup harus berpindah jika sumber pangan di suatu tempat sudah habis. Hidup selalu berpindah dengan pola nomaden. kalo penduduk dunia hari ini lebih dari 5 milyar, hari ini manusia sudah harus kanibal. Tanpa bahasa tidak ada batas hak individu, tidak ada cara untuk menjelaskan hak individu. Manusia menjadi seperti serigala dan buaya yang lapar, ada makanan di mulut yg lainpun boleh direbut, karena dorongan perut lapar. Tidak ada status sosial, seorang anak bisa merebut makanan di mulut ibu, ayah atau mulut si kakek dan nenek. Tidak ada juga rasa hormat. Karena perasaan dibuat secara social dengan bahasa. Tidak ada hukum dan undang undang untuk ketertiban, Yang ada hanya siapa kuat dan siapa lemah. The survival for the fittest. Kakek atau ayah yang gagah perkasa, boleh mengawini betina muda yang secara biologis adalah cucu nya ( dorongan sexual tercetus secara alamiah, tidak dalam kerangka budaya ). Yang kuat boleh berbuat apa saja terhadap yang lemah dan lengah. Tidak ada hak individu dan status social, kita hidup seperti gerombolan kera di kebon binatang. Juga tidak ada Negara.Maka dengan demikian hidup tanpa bahasa akan menyebabkan banyak bencana dan hidup yang tidak teratur karena semua manusia membisu hening tanpa bahasa.


5 BAB II SEJARAH BAHASA A. Bagaimanan Bahasa Manusia Terbentuk Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya telah lama membuat penasaran para cendekiawan dari berbagai latar belakang ilmu. Penelitian-penelitian telah banyak dilakukan menghasilkan beragam teori. Salah satu contoh berkenaan dengan pertanyaan bagaimana bahasa manusia terbentuk? Ada banyak teori tentang kemunculan bahasa manusia, di antaranya bahasa manusia berasal dari sumber suci, berasal dari konsep bunyi alami, berasal dari adaptasi fisik, sumber genetik, dan lain sebagainya. Teori yang menjelaskan bahasa manusia berasal dari bunyi-bunyian alami ada pada teori “bow-wow” dan teori “pooh-pooh”. Teori “pooh-pooh” mengemukakan pendapat bahwa bahasa berkembang dari bunyi-bunyi instingtif yang dikeluarkan oleh manusia dalam situasi emosional (Yule, 2015). Beragam teori tersebut sampai sejauh ini dianggap kurang memuaskan sebab beberapa di antaranya masih bersifat spekulatif. Bahkan, sekiranya kecil kemungkinan akan diperoleh sebuah teori tentang asal-usul bahasa yang menghasilkan kara sepakat walaupun telah dilakukan observasi. Namun demikian, banyaknya usaha penelitian dan perumusan teori tentang asal-usul bahasa tidaklah sia-sia, Dari situ, muncul kesimpulan bahwa sejarah bahasa manusia Setua sejarah peradaban umat manusia. Pertanyaan-pertanyaan tentang awal mula manusia berbahasa, dari mana bahasa manusia muncul, atau pertanyaan lain yang sejenis memang belum mendapatkan jawaban yang valid. Akan tetapi, beberapa bukti dari catatan filologis menjadi data tentang sejarah perkembangan bahasa manusia. Diketahui bahwa tradisi filsafat Yunani Kuno pada ratusan tahun sebelum masehi telah menempatkan bahasa sebagai objek filsafat. Sedikit menyinggung tentang sejarah filsafat, manusia mulai berfilsafat sejak terbuka kesadaran sebagai makhluk bereksistensi. Permulaan tersebut kira-kira terjadi pada abad ke-6 SM. Kegiatan filsafat ini menandai penggunaan akal untuk menjelaskan segala sesuatu tentang dunia. Misalnya, ada dongeng yang menceritakan bahwa pelangi adalah tangga yang digunakan oleh bidadari-bidadari untuk turun dari langit ke bumi. Lalu, manakala di langit muncul pelangi, orang yang menggunakan akalnya mulai tidak percaya pada dongeng bidadari tersebut. Mereka memikirkan dan mempertimbangkan bagaimana sampai terbentuk pelangi. Praktis, ketika manusia mulai tidak memercayai dongeng dan mitos lalu berupaya menggunakan akal untuk menjelaskan sesuatu dari situlah kegiatan filsafat bermula sebuah buku tentang tata bahasa Yunani disusun dan berjudul Dianysius Thrax. Tata bahasa yang dipaparkan mencakup fonologi dan morfologi bahasa Yunani. Buku ing adalah buku tata bahasa pertama yang bersifat komprehensip dan sistematis di dunia Barat (Chaer, 2015: 67). Berlanjut abad demi abad, bahasa tetap menjadi salah satu objek pemikiran dalam dunia filsafat. Awal mulanya masih bersifat spekulatif, tetapi lama-kelamaan mengarah pada dasar-dasar studi ketatabahasaan atau linguistik. Pada abad ke-20, Ferdinand de Saussure, seorang sarjana dari Swiss menulis buku Cours de Linguistigue Genenerale. Buku tersebut


6 meletakkan dasar-dasar dalam ilmu linguistik. Namun demikian, pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang bahasa agaknya masih terus diperdebatkan. Sampai kini, ilmu bahasa atau linguistik masih terus dikaji dan dikembangkan. Berbagai pemikiran, pengkajian, dan penelitian tentang bahasa masih terus berkembang. Dari sini muncul apa yang diistilahkan sebagai ilmu linguistik murni dan ilmu linguistik terapan. Pada perkembangan ilmu linguistik terapan, ilmu bahasa bersinggungan dengan berbagai disiplin ilmu lain. Ilmu linguistik atau ilmu antropologi mempelajari bahasa yang berkaitan dengan masyarakat budaya yang beraspek lampau menghasilkan bidang ilmu antropologi bahasa. Interrelasi antara linguistik dengah ranah psikologi menghasilkan bidang psikolinguistik. Selainnya, bahasa juga tercakup dalam sosiologi menghasilkan bidang keilmuan sosiolinguistik. Ketika bahasa dihubungkan dengan kemampuan fungsi otak menghasilkan ilmu neurolinguistik. Jadi, bahasa adalah sebuah lahan umum, tempat berbagai —uan bidang ilmu dapat mengkajinya. Tidak hanya lahan umum bagi — bidang ilmu, bahasa juga milik umum, baik akademik maupun awam, masyarakat akademik maupun masyarakat awam. Implikasi dari ini semua adalah setiap orang bisa membicarakan bahasa dari beragam perspektif.


7 BAB III SEJARAH BAHASA INDONESIA A. Melayu Sebagai Asal Muasal Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia adalah hasil pertumbuhan dan perkembangan bahasa Melayu. Untuk mengetahui perkembangan bahasa Melayu itu diuraikan oleh S. Takdir Alisyahbana bahwa negeri kita yang terdiri dari beribu-ribu pulau ini selayaknya mempunyai bahasa dan dialog yang begitu banyak, namun bahasa dan dialog itu sebagian besar termasuk dalam satu rumpun bahasa-bahasa Melayu.Sedangkan sebagian lagi termasuk dalam rumpun yang lebih besar, yaitu rumpun bahasa Austronesia dan bahasa Melayu Polinesia Pertumbuhan bahasa Melayu yang telah menjadi bahasa Indonesia dapat dikemukakan dengan rumus Matemetika yaitu: BM+bd+ba.Dimana BM mewakili bahasa Melayu, bd mewakili bahasa daerah, dan ba mewakili bahasa asing. Artinya modal utama bahasa Indonesia sekarang adalah bahasa Melayu. Kemudian diperkaya dengan sebagian kecil bahasa daerah dan bahasa asing.Sebelum kemerdekaan sebagian besar daerah Nusantara telah diperkaya oleh bahasa Daerah dan bahasa Asing Sejak zaman penjajahan Belanda, bahasa Indonesia (bahasa Melayu) telah diajarkan di Sekolah-sokolah. Di Bumi Putera (Jawa) bahasa Melayu tidak dijadikan bahasa pengantar, akan tetapi masih dijadikan sebagai mata Pelajaran sebanyak 2 jam sekali dalam satu minggu dimulai pada kelas IV. B. Periodesasi Kongres II bahasa Indonesia tahun 1954 mengakui bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Dalam catatan bahwa bahasa Melayu memiliki sejarah yang cukup panjang. Dari batu-batu bertulis yang ditemukan, seperti Kedukan Bukit, Talang Tuwo, Kota Kapur, Karang Brahi, Gandasuli, Bogor, dan Pagaruyung, maka yang paling awal bertahun 683 M. Hal ini menunjukkan bahwa sejak abad ke-7, bahasa Melayu sudah ditemukan dalam tulisan dengan aksara Pallawa (Collins, 2009: 78; Adul, 1981:1-2). Dari bukti ini dapat diduga bahwa secara lisan beberapa abad sebelumnya Bahasa Melayu sudah digunakan masyarakat penuturnya (orang Melayu). Bahasa Melayu adalah bahasa yang digunakan oleh Kerajaan Sriwijaya sebagai salah satu kerajaan di nusantara ini yang berpusat di Sumatera bagian Selatan dan Riau (Ophuijsen, 1983). Kerajaan Sriwijaya pada masanya pernah menguasai wilayah yang cukup luas di nusantara ini, sehingga bahasa Melayu sebagai bahasa kerajaan menyebar seiring dengan meluasnya wilayah Kerajaan Sriwijaya. Faktor kedua, pusat Kerajaan Sriwijaya merupakan wilayah pusat perdagangan internasional. Di wilayah ini terjadi pertemuan dagang antar pedagang di nusantara ini dengan pedagang yang datang dari luar nusantara. Dalam pertemuan perdagangan tersebut terjadi komunikasi dengan menggunakan bahasa Melayu sehingga secara tidak langsung para pedagang dari pelosok nusantara ini dan juga pedagang yang datang dari luar, mau tidak mau mesti berkomunikasi dalam bahasa Melayu. Faktor ketiga, pusat Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat pendidikan, kebudayaan, dan keagamaan agama Buddha. Sebagai pusat pembelajaran agama Buddha, membuat wilayah


8 ini didatangi oleh para pembelajar agama Buddha dari berbagai wilayah, termasuk yang berasal dari Cina, Champa dan Kamboja dengan bahasa pengantar bahasa Melayu Kuno. Dalam kaitan ini terjadilah persentuhan antara penutur bahasa Melayu dengan penutur yang berbahasa asing. Sebagai pusat pendidikan, kebudayaan, dan keagamaan, intensitas hubungan berbahasa sangat kuat sehingga berdampak terhadap penguasaan dan pemakaian bahasa Melayu. Faktor keempat, letak geografis kerajaan Sriwijaya ini di selat Melaka menjadi pintu masuk para pedagang dari dan ke nusantara sehingga frekuensi dan intensitas pertemuan dan komunikasi sangat tinggi di jalur ini. Faktor kelima adalah bahasa dan sastra Melayu. Bahasa Melayu memiliki sistem bahasa yang sangat sederhana, tidak mengenal tingkat kebahasaan, serta terbuka, sehingga mudah dipelajari, sedangkan dari segi kesusastraan, sastra Melayu sudah demikian tinggi yang berarti bahwa bahasa Melayu sudah mempunyai tradisi kesusastraan yang sudah sangat baik. Kelima faktor di atas yang membuat bahasa Melayu tersebar dan digunakan di nusantara ini dalam komunikasi antarsuku dan antarbangsa, bagi kepentingan perdagangan, kebudayaan, pendidikan, dan keagamaan. Dalam kondisi ini memposisikan bahasa Melayu tidak hanya sebagai bahasa daerah, tetapi sudah menjadi bahasa perantara ‘lingua franca’ dari berbagai suku dan bangsa yang berbeda bahasa di nusantara ini. Bahkan oleh Van Ophuijsen (1983) disebutnya sebagai bahasa internasional


9 BAB IV KERAJAAN MELAYU A. Sejarah Singkat Melayu Sejarah Indonesia mencatat bahwa berbagai batu tertulis (prasasti) kuno yang ditemukan, seperti (1) Prasasti Kedukan Bukit di Palembang, tahun 683; (2) Prasasti Talang Tuo di Palembang, tahun 684; (3) Prasasti Kota Kapur di Bangka Barat, tahun 686; dan (4) Prasasti Karang Brahi antara Jambi dan Sungai Musi, tahun 688, yang bertulis Pra-Nagari dan bahasanya Melayu Kuno, memberi petunjuk kepada kita bahwa bahasa Melayu dalam bentuk Melayu Kuno sudah dipakai sebagai alat komunikasi pada zaman Sriwijaya. Gambar 4.1 Bagan Sejarah Penyebaran Bahasa Melayu Prasasti-prasasti yang juga tertulis di dalam Melayu Kuno terdapat di Jawa Tengah (Prasasti Gandasuli, tahun 832) dan di Bogor (Prasasti Bogor, tahun 942). Kedua prasasti di Pulau Jawa inilah yang memperkuat dugaan bahwa bahasa Melayu Kuno pada waktu itu bukan saja dipakai di Pulau Sumatera saja, melainkan juga dipakai di Pulau Jawa(Prasasti, 2016). Salah satu bukti dari isi tulisan bahasa Melayu Kuno di Prasasti Kedukan Bukit sebagai berikut. (Collins, 2005) Pada zaman Kerajaan Sriwijaya, bahasa Melayu mempunyai beberapa fungsi berikut. 1. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa kebudayaan, yaitu bahasa-bahasa buku-buku yang berisi aturan-aturan hidup dan sastra 2. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa perhubungan (lingua franca) antarsuku di Indonesia


10 3. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa perdagangan, terutama di sepanjang pantai, baik suku yang ada di Indonesia maupun bagi pedagang-pedagang yang datang dari luar Indonesia 4. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa resmi di kerajaan. (Duija, 2005) Gambar 4.2 Prasasti Kedukan Bukit di Palembang Tahun 683 (anangpaser.wordpress.com) Prasasti Kedukan Bukit ditemukan oleh M. Batenburg pada tanggal 29 November 1920 di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatera Selatan, di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi. Prasasti ini berbentuk batu kecil berukuran 45×80 cm, ditulis dalam aksara Pallawa, dan menggunakan bahasa Melayu Kuno. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia dengan nomor D.146 Gambar 4.3 Ilustrasi Kerajaan Sriwijaya di Pesisir Pantai Sumatera Selatan (www.google.com) Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa perdagangan, terutama di sepanjang pantai, baik suku yang ada di Indonesia maupun bagi pedagang-pedagang yang datang dari luar Indonesia. Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa resmi kerajaan Sriwijaya Seiring dengan berjalannya waktu, bahasa Melayu diresmikan sebagai bahasa Indonesia. Dan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia. 1. Bahasa Melayu sudah merupakan lingua franca di Indonesia, bahasa perhubungan, dan bahasa perdagangan


11 2. Sistem bahasa Melayu sederhana, mudah dipelajari, karena bahasa Melayu dikenal tingkatan bahasa, seperti dalam bahasa Jawa (ada ngoko, kromo) atau perbedaan bahasa kasar dan halus, seperti dalam bahasa Sunda (kasar, lemes) 3. Suku-suku di Indonesia sangat menerima dengan sukarela bahasa Melayu dijadikan sebagai bahasa negara Indonesia (sebagai bahasa nasional) 4. Bahasa Melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang lebih luas. (Abdullah, 2013) Gambar 4.4 Jembatan Ampera ikon Kota Palembang, Sumatera Selatan Provinsi Sumatera Selatan sudah dikenal dengan nama Bumi Sriwijaya sejak berabadabad yang lalu. Pada abad ke-7 hingga abad ke-12 Masehi wilayah ini merupakan pusat kerajaan Sriwijaya. Dan, pada awal abad ke-15 berdirilah Kesultanan Palembang. Kesultanan inilah yang pada akhirnya berkuasa sampai datangnya kolonialisme Barat, lalu disusul oleh Jepang. Jembatan inilah yang menjadi saksi sejarah sebagai sarana perhubungan Internasional. B. Perkembangan Bahasa Melayu (Indonesia) Perkembangan bahasa Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor pendukung, antara lain (1) penyerapan bahasa daerah, (2) penyerapan dari bahasa asing1 . Pertama, penyerapan dari bahasa daerah. Bahasa Indonesia dalam proses perkembangannya mendapat pengaruh berbagai bahasa daerah, seperti bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Ambon, dan lain sebagainya. Pengaruh dari bahasa-bahasa daerah tersebut mencakup faktor fonologis, morfologis, dan sintaksis. Pengaruh fonologis antara lain tampak dalam lafal /b/, /d/, /g/, dan akhiran –kan yang sering dilafalkan /k n/. Pengaruh dalam tataran morfologis tampak dalam kata-kata seperti: heboh, memper, becus, seret, awet, sumber, bobot, macet, mendingan, dan gampang. (Indonesia, 1988) Kedua, penyerapan dari bahasa Asing. Selain pengaruh bahasa daerah, bahasa Indonesia mendapat pengaruh dari bahasa Asing, baik dari segi kosakata maupun dari segi struktur. Pengaruh kosakata dari bahasa Asing dalam bahasa Indonesia sangat dominan, contoh (1) dari bahasa Sansekerta, seperti neraka, puasa, desa, dewa, dewi, durhaka, berita, ganda, ganja, manusia, mutiara, mangsa, ulama, dan usaha; (2) dari bahasa Arab, seperti abda, ajal, awal, badan, berkat, biadab, kabar, akhirat, khotbah, jahil, jawab, paham, hadir, wajib, dan wafat;


12 (3) dari bahasa Inggris, seperti akuntabilitas, program, demokrasi, struktur, transmigrasi, teori, ide, administrasi, instruksi, demografi, birokrasi, dan sebagainya; (4) dari bahasa Perancis, seperti biro, kudeta; (5) dari bahasa Tionghoa, seperti pisau, tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan cukong. Pengaruh pembentukan kosakata bahasa asing tampak pada contoh kata sejarawan, sastrawan, budayawan, surgawi, duniawi, manusiawi, peragawati, mahasiswa, individualisme, materialisme, urbanisasi, dan lain sebagainya. (Keraf, 1994) Ada beberapa catatan tentang peristiwa atau tahun-tahun penting, yang mengandung arti sangat menentukan sejarah perkembangan bahasa Melayu atau Indonesia. Adapun tahun-tahun penting tersebut dirincikan berikut. 1. Pada tahun 1901 disusun ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch. A. Van Ophuijsen dan dimuat dalam Kitab Logat Melayu 2. Pada tahun 1908 Pemerintah mendirikan sebuah badan penerbitan buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volklectuur (Taman Bacaan Rakyat), yang kemudian pada tahun 1917 diubah menjadi Balai Pustaka. Balai Pustaka menerbitkan bukubuku novel, seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, buku-buku penuntun memelihara kesehatan, yang secara keseluruhan berdampak positif terhadap penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas. 3. Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan saat yang paling menentukan dalam perkembangan bahasa Indonesia, karena pada tanggal 28 Oktober 1928 itulah para pemuda pilihan Indonesia memancangkan tonggak yang kukuh untuk perjalanan bahasa Indonesia 4. Pada tahun 1933 secara resmi berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya sebagai angkatan Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana dan kawan-kawan 5. Pada tanggal 25–28 Juni 1938, Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil Kongres Bahasa Indonesia I ini dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan kita 6. Pada tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganinya Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yang salah satu pasal di dalamnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara 7. Pada tanggal 19 Maret 1947 diresmikanlah penggunaan Ejaan Republik (Ejaan Soewandi) sebagai pengganti Ejaan van Ophuijsen 8. Kongres Bahasa Indonesia II di Medan pada tanggal 28 Oktober – 2 November 1954 merupakan salah satu perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang kemudian diangkat sebagai bahasa Nasional dan ditetapkan sebagai bahasa negara Indonesia 9. Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia (Soeharto) meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato


13 kenegaraan di depan sidang DPR yang dikuatkan pula Keputusan Presiden No. 57, tahun 1972 10. Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh Indonesia 11. Kongres Bahasa Indonesia III yang diadakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1978 merupakan peristiwa penting bagi kehidupan bahasa Indonesia. Kongres yang diadakan dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda yang ke-50 ini, selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia 12. Kongres Bahasa Indonesia IV diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 21-26 November 1983. Kongres ini diselenggarakan dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan, sehingga amanat yang tercantum dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapatlah tercapai 13. Kongres Bahasa Indonesia V juga diadakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober s.d 3 November 1988. Kongres ini dihadiri sekitar tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Nusantara dan peserta tamu dari negara sahabat; seperti Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres ini ditandai dengan dipersembahkannya dua buah karya Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pecinta bahasa Nusantara, yakni berupa buku (1) Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dan (2) Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia 14. Kongres Bahasa Indonesia VI diadakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober s.d 2 November 1993. Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia, dan 53 peserta tamu dari Mancanegara (Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat). Kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia ditingkatkan menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia. 15. Kongres Bahasa Indonesia VII diselenggarakan di Hotel Indonesia (HI) pada tanggal 26–30 Oktober 1998. Kongres ini mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa dengan ketentuan berikut. a. Keanggotaannya terdiri atas tokoh masyarakat dan pakar yang mempunyai kepedulian terhadap bahasa dan sastra b. Tugasnya ialah memberikan nasehat kepada Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa serta mengupayakan peningkatan status lembaga Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.(Mansyur, 2016)


14 BAB V FUNGSI BAHASA INDONESIA A. Bahasa bangsa Bangsa itu adalah suatu lembaga sosial yang tumbuh sebagai akibat pengalaman sejarah berupa perjuangan dan penderitaan dari penjajahan yang sama, yang lalu menimbulkan keinginan untuk tetap bersama pada masa-masa sekarang dan masa-masa yang akan datang (Gazalba, dalam Muslich dan Oka, 2010:68). Bahasa adalah alat pengikat sosial yang paling kuat, kalau kita hubungkan dengan kenyataan fungsi sosial budaya bahasa itu dalam masyarakat (Vendreyes, dalam Muslichdan Oka, 2010: 68). Menurut Chase (Muslich dan Oka, 2010: 68), suatu bahasa didalam masyarakat mempunyai 3 fungsi (1) sebagai alat komunikasi eksternal (antarwarga), (2) sebagai alat komunikasi internal (berpikir), dan (3) sebagai pembentuk pandangan hidup. Menurut Voessler (Muslich dan Oka, 2010: 71), rasa kebangsaan (nasionality) itutergantung sekali oleh bahasa nasional itu, karena bahasa nasional itu merupakan elemen yang membentuk rasa kebangsaan suatu bangsa. Tentang peranan bahasa nasional sebagai pembentuk rasa kebangsaan dikemukakan oleh Grya (Muslich dan Oka,2010: 71) bahwa dengan peranan bahasa sebagai alat pembentuk rasa kebangsaanmaka setiap bangsa berkeinginan untuk memiliki suatu bahasa sendiri karena memiliki suatu bahasa itu sama saja dengan memiliki suatu peradaban. Voessler (Muslich danOka, 2010: 71) menyatakan antara rasa kebangsaan atau nasional karakter itu identik dengan bahasa nasional. Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional Republik Indonesia mempunyai fungsi yang khusus sesuai dengan kepentingan bahasa Indonesia, yaitu: a. Sebagai bahasa resmi, maksudnya bahasa Indonesia merupakan alat untuk menjalankan administrasi negara. Fungsi itu jelas tampak dalam surat menyurat resmi, perauran-peraturan, undang-undang, pidato, dan pertemuan-pertemuan resmi. b. Sebagai bahasa persatuan, maksudnya bahasa Indonesia memrupakan alat untuk mempersatu berbagai suku di Indonesia. Indonesia terdiri dari berbagai macam suku yang masing-masing memiliki bahasa dan dialeknya sendiri. Maka, dalam mengintegrasikan semua suku tersebut, bahasa Indonesia memainkan peranan yang penting. c. Sebagai bahasa kebudayaan, maksudnya bahwa dalam pembinaan kebudayaan Nasional, bahasa Indonesia berperan sebagai wadah penampung kebudayaan. 6 Segala ilmu pengetahuan dan kebudayaan harus diajarkan dan diperdalam dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat pengantarnya. Bahasa memiliki fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997 : 3). a. Bahasa sebagai alat ekspresi diri, sebagai alat untuk diri, bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita Unsur-unsur yang mendorong ekspresi dini antara lain: Agar menarik perhatian orang lain terhadap kita, keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi. b. Bahasa sebagai Alat


15 Komunikasi, komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga la mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita (Keraf, 1997:4). c. Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal, asal usul bangsa dan negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri. d. Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalamanpengalaman mereka, mempelajar dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang lain. Anggota-anggota masyarakat hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa.


16 BAB VI KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA A. KEDUDUKAN BAHASA INDONESIA Pada kedudukan bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa nasional. Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai : (1) lambang kebanggaan kebangsaan, (2) bahasa resmi kenegaraan, (3) bahasa pengantar di dunia pendidikan, (4) alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan 7 perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, dan (5) alat pengembangan kebudayaan dan IPTEK. Bahasa Indonesia mempunyai dua kedudukan yang sangat penting, yaitu : 1. Bahasa Nasional Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia diantaranya berfungsi mempererat hubungan antar suku di Indonesia. Fungsi ini sudah ditegaskan di dalam butir ketiga ikrar Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. 2. Bahasa Negara Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dikukuhkan sehari setelah kemerdekaan RI dikumandangkan atau seiring dengan diberlakukannya UUD 1945. Bab XV pasal 36 dalam UUD 1945 menegaskan bahwa bahasa negara adalah bahasa Indonesia yang berfungsi sebagai bahasa dalam penyelenggaraan administrasi negara, seperti bahasa dalam penyelenggaraan pendidikan. (Tim Dosen, 2023). Gambar 1.7 Teks Sumpah Pemuda Hasil Putusan Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia dan Mohammad Yamin, salah satu tokoh pencetus teks Sumpah Pemuda (www.google.com)


17 Tasal dan Zaenal Arifin (2000:10) menjelaskan secara tegas bahwa berkaitan dengan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai (1) lambang kebanggaan kebangsaan, (2) lambang identitas nasional, (3) alat perhubungan antarwarga, antardaerah, antarbudaya, dan (4) alat yang memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasanya masing-masing ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia. Dan, di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai (1) bahasa resmi kenegaraan, (2) bahasa pengantar di dunia pendidikan, (3) alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, dan (4) alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. (Bawa, 1983) Tasal dan Zaenal Arifin (2000:10) menjelaskan secara tegas bahwa berkaitan dengan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai (1) lambang kebanggaan kebangsaan, (2) lambang identitas nasional, (3) alat perhubungan antarwarga, antardaerah, antarbudaya, dan (4) alat yang memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasanya masing-masing ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia. Dan, di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai (1) bahasa resmi kenegaraan, (2) bahasa pengantar di dunia pendidikan, (3) alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, dan (4) alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi. (Bawa, 1983)


18 BAB VII RAGAM BAHASA INDONESIA A. Ragam bahasa Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ragam bahasa diartikan variasi bahasa menurut pemakaiannya; dapat dilihat dari topik yang dibicarakan, hubungan pembicara dan teman bicara, serta media pembicaraannya (2011: 1131). Pengertian ragam bahasa ini dalam berkomunikasi perlu memperhatikan aspek (1) situasi yang dihadapi, (2) permasalahan yang hendak disampaikan, (3) latar belakang pendengar atau pembaca yang dituju, dan (4) media atau sarana bahasa yang digunakan. Keempat aspek dalam ragam bahasa tersebut lebih mengutamakan aspek situasi yang dihadapi dan aspek media bahasa yang digunakan dibandingkan kedua aspek yang lain. Adanya ragam bahasa sebagai bentuk gejala sosial dilihat dari pemakaian bahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor kebahasaan, tetapi juga oleh faktor-faktor nonkebahasaan. Faktor tersebut, antara lain, faktor lokasi geografis, situasi, waktu, dan sosiokultural. Faktor-faktor itu mendorong timbulnya perbedaan dalam pemakaian bahasa. Perbedaan tersebut akan tampak dalam segi pelafalan, pemilihan kata, dan penerapan kaidah tata bahasa. Perbedaan atau varian dalam bahasa Ragam bahasa yang berhubungan dengan faktor daerah atau letak geografis disebut dialek. Luasnya pemakaian bahasa dapat menimbulkan perbedaan pemakaian bahasa (Departemen Pendidikan Menengah Kejuruan, 2004: 4). Bahasa Melayu dialek Langkat, misalnya, berbeda dengan bahasa Melayu dialek Batubara, walaupun keduanya satu bahasa. Demikian pula halnya dengan bahasa Aceh dialek Aceh Besar berbeda dengan bahasa Aceh dialek Pasai yang digunakan sebagian besar masyarakat Aceh di Kabupaten Aceh Utara, atau berbeda juga dengan bahasa Aceh dialek Pidie di Kabupaten Pidie. Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), saat ini sekurang-kurangnya hidup enam (6) dialek masing-masing yaitu dialek Aceh Besar, Pidie, Peusangan, Pasai, Aceh Timur, dan Aceh Barat (lihat Sulaiman dkk., 1983: 5). Selain ragam yang sudah disebutkan, terdapat pula ragam bahasa yang berkaitan dengan perkembangan waktu atau disebut dengan kronolek. Misalnya, bahasa Melayu masa Kerajaan Sriwijaya berbeda dengan bahasa Melayu masa Abdullah bin Abdul Kadir Munsji, dan berbeda pula dengan bahasa Melayu Riau sekarang.Ragam bahasa yang berkaitan dengan golongan sosial para penuturnya disebut dialek sosial. Faktorfaktor sosial yang memengaruhi pemakaian bahasa, antara lain, tingkat pendidikan,


19 usia, dan tingkat sosial ekonomi. Bahasa golongan buruh, bahasa golongan atas (bangsawan dan orang-orang berada), dan bahasa golongan menengah (orang-orang terpelajar) akan memperlihatkan perbedaan dalam berbagai bidang. Dalam bidang tata bunyi, misalnya, bunyi /f/ dan gugus konsonan akhir /-ks/ sering terdapat dalam ujaran kaum yang berpendidikan, seperti pada bentuk fadil, fakultas, film, fitnah, dan kompleks. Bagi orang yang tidak dapat menikmati pendidikan formal, bentuk-bentuk tersebut sering diucapkan padil, pakultas, pilm, pitnah, dan komplek. Demikian pula,ungkapan “apanya dong?” dan “trims” yang disebut bahasa prokem sering diidentikkan dengan bahasa anak-anak muda.Ragam bahasa tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat penutur bahasa Satu hal yang perlu mendapat catatan bahwa semua ragam bahasa tersebut tetaplah merupakan bahasa yang sama. Dikatakan ketika saling pengertian di antara setiap penutur ragam tidak terjadi lagi, saat itu pula tiap-tiap bahasa yang mereka pakai gugur statusnya sebagai ragam bahasa. Dengan pernyataan lain, ragam-ragam bahasa itu sudah berubah menjadi bahasa baru atau bahasa mandiri.Penggunaan ejaan yang baku pada ragam bahasa tulis dan lafal yang baku pada ragam bahasa lisan.Berdasarkan kriteria ragam bahasa formal di atas, pembedaan antara ragam formal, ragam semiformal, dan ragam nonformal diamati dari hal berikut: 1. pokok masalah yang sedang dibahas, 2. hubungan antara pembicara dan pendengar, 3. medium/mediabahasa yang digunakan lisan maupun tulis, 4. area atau lingkungan pembicaraan terjadi, dan 5. situasi ketika pembicaraan berlangsung. B. Faktor sejarah dan perkembangan masyarakat turut berpengaruh pada timbulnya sejumlah ragam bahasa Indonesia. Berikut disajikan ragam bahasa yang ada. 1. Ragam Bahasa Menurut Daerah Ragam daerah sejak lama dikenal dengan nama logat atau dialek. Bahasa yang luas wilayah pemakaiannya selalu mengenal logat. Masing-masing logat dapat dipahami secara timbal balik oleh penuturnya. Sekurang-kurangnya oleh penutur logat yang daerahnya berdampingan. Menurut Chaer dan Leonie (2010: 63) bahwa dialek merupakan variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat, wilayah, atau area tertentu.Jika di dalam wilayah pemakaiannya, individu atau sekelompok orang tidak mudah berhubungan, misalnya karena tempat kediaman mereka dipisahkan oleh pegunungan, selat, atau laut, lambat laun tiap logat dapat mengalami perkembangan sendiri-sendiri. Selanjutnya, logat itu semakin sulit dimengerti oleh penutur ragam lainnya. Pada saat itu, ragam-ragam bahasa tumbuhJika di dalam wilayah pemakaiannya, individu atau sekelompok orang tidak mudah berhubungan, misalnya karena tempat kediaman mereka dipisahkan oleh pegunungan, selat, atau laut, lambat laun tiap logat dapat mengalami perkembangan sendiri-sendiri. Selanjutnya, logat itu semakin sulit dimengerti oleh penutur ragam lainnya 2. Ragam Bahasa Menurut Pendidikan Formal


20 Ragam bahasa Indonesia menurut pendidikan formal menunjukkan perbedaan yang jelas antara kaum yang berpendidikan formal dan yang tidak. Tata bunyi bahasa Indonesia golongan penutur yang kedua itu berbeda dengan fonologi kaum terpelajar. Bunyi /f/ dan gugus konsonan akhir /-ks/, misalnya, sering tidak terdapat dalam ujaran orang yang tidak bersekolah atau hanya berpendidikan rendah. 3. Ragam Bahasa Menurut Sikap Penutur Ragam bahasa menurut sikap penutur mencakup sejumlah corak bahasa Indonesia yang masing-masing, pada asasnya, tersedia bagi tiap pemakai bahasa. Ragam ini disebut langgam atau gaya. Pemilihannya bergantung pada sikap penutur atau penulis terhadap orang yang diajak berbicara atau pembacanya. Sikap itu dipengaruhi, antara lain, oleh usia dan kedudukan orang yang disapa, tingkat keakraban antarpenutur, pokok persoalan yang hendak disampaikan, dan tujuan penyampaian informasi. Ketika berbicara dengan seseorang yang berkedudukan lebih tinggi, penutur akan menggunakan langgam atau gaya berbahasa yang berbeda daripada ketika dirinya berhadapan dengan seseorang yang berkedudukan lebih rendah. Sama halnya ketika berbicara dengan seseorang yang usianya lebih muda atau tua, penutur tentu akan menggunakan langgam atau gaya bertutur yang berbeda disesuaikan dengan kondisi lawan tutur. 4. Ragam Bahasa Menurut Jenis Pemakaian 1. Menurut jenis pemakaiannya, ragam bahasa dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu berdasarkan pokok persoalan, berdasarkan media pembicaraan yang digunakan, dan 2. berdasarkan hubungan antarpenutur. 3. Berdasarkan pokok persoalan, ragam bahasa dibedakan menjadi ragam bahasa undang-undang, ragam bahasa jurnalistik, ragam bahasa ilmiah, ragam bahasa sastra, dan ragam bahasa sehari-hari


21 BAB VIII PENUTUP A. Kesimpulan Dalam buku Bahasa dan ilmu penegtahuan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan segala aktifitas keilmuan dalam ilmupengetahuan tentunya sanagat bergantung dengan Bahasa sebab Bahasa digunakan untuk menyampaikan berbagai konsep ilmu pengetahuan oleh karena itu penguasaan Bahasa yang baik dan benar menjadi kebutuhan wajib bagi para intelektual. Dalam kaitan ini para mahasiswa sudah jelas termasuk para intelektual dan calon ilmuwan, tentu sangat perlu untuk memahami bagaimana pwnguasaan Bahasa yang baik dan benar B. Saran Dalam penyusunan EBook ini, masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, diperlukan kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki ebook ini menjadi lebih baik. Penulis berharap dibalik ketidaksempurnaan penyusunan Ebook ini, terdapat manfaat bagi pembaca.


22 DAFTAR PUSTAKA Abdullah, A. A. (2013). Metode penelitian bahasa: Buku perkuliahan Program S-1 Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya. IAIN Press. Arief, E. (2012). “Performance” Pembawa Acara yang Profesional. Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, Dan Seni, 10(1). Bawa, I. W. (1983). Bahasa Bali di daerah propinsi Bali: Sebuah analisis geografi dialek I. Burke, P. (2001). Sejarah dan teori sosial. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Collins, J. T. (2005). Bahasa Melayu bahasa dunia: Sejarah singkat. Yayasan Obor Indonesia. Duija, I. N. (2005). Tradisi lisan, naskah, dan sejarah Sebuah catatan politik kebudayaan. Wacana, 7(2), 115–128. Hasanah, N. (2018). Analisis Kesalahan Gramatika Bahasa Indonesia Dalam Surat Resmi di Kantor Desa Mamben Lauk. Prasasti: Journal of Linguistics, 3(1), 98–112. Indonesia, D. P. D. K. R. (1988). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Keraf, G. (1994). Diksi & [ie dan] gaya bahasa. Mansyur, U. (2016). Bahasa Indonesia dalam Belitan Media Sosial: Dari Cabe-Cabean Hingga Tafsir Al-Maidah 51. NGELU, M. S., & INDONESIA, P. B. D. S. (n.d.). CITRA DAN PERAN PEREMPUAN ADONARA DALAM KUMPULAN PUISI BARA PATTYRADJA: PENDEKATAN PSYCHO-FEMINISM. Prasasti, R. (2016). Pengaruh bahasa gaul terhadap penggunaan bahasa Indonesia mahasiswa Unswagati. LOGIKA Jurnal Ilmiah Lemlit Unswagati Cirebon, 18(3), 114–119. Ricklefs, M. C. (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Penerbit Serambi. Rose Kusumaning Ratri, M.A.Cakap Bebahasa Indonesia.Jakarta.Penerbit Ar-Ruzz Media


23 BIOGRAFI PENULIS Penulis bernama aldino yang dilahirkan di desa kecil di sumatera utara Air Joman Baru, menempuh pendidikan di sekolah dasar air joman baru, sekolah menengah pertama negeri 1 kota tanjung balai,sekolah menengah atas negeri 1kota tanjung balai, dan sekarang menempuh pendidikan perguruan tinggi negeri di Medan dan di masa depan akan melanjutkan perguruan tinggi tingkat magister memiliki impian yang amat sangat besar menjadi presiden dan kepala sekolah dan memiliki mimpi kecil menjadi guru. Aldino mengambil jurusan pendidikan guru sekolah dasar yang sedang berjuang menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa kuker kuliah kerja-kuliah kerja.ngekos di jalan gurila no 6 sidorejo, kec. Medan, sumatera utara 2022 , beragama Islam rajin sholat, dekat dengan tuhan dan selalu mengingat kematian sebagai bentuk menghargai hidup.


Click to View FlipBook Version