WANITA HEBATKU
Begitu baiknya kiriman Sang Khaliq
Memberiku wanita dengan paras sikap yang baik
Aku menyebutnya titisan bidadari
Manusia yang nyaris mengelabui hati
Dengan tingkah yang mendobrak sealam tawa
Tutur manja yang mencipta kerinduan
Cerdas yang senantiasa menutupi kebodohan
Juga segudang pencapaian yang tak biasa
Katanya bukan harta yang ia incar
Juga bukan paras yang ia puja
Tak ia peduli tentang resesi yang mendewakan rupiah
Maka beranilah aku tiba dengan apa yang aku punya
Wanitaku,
Jika tulus yang kau pinta
Adalah rasa yang kan sama lembutnya hingga ujung masa
Maka kesanggupanku takkan berada di bawah ketulusan pria
lainnya
Jika sabar yang kau harap
Adalah tiada bentakan atas kesalahan yang kau perbuat
Maka tutur lembut penuh sayang
Kan kuberikan padamu tanpa batas
Kau kerap menangis iba padaku
Menyebut namaku disepertiga malam yang syahdu
44
Kau bahkan menguras separuhmu
Tuk menutupi ketiadaanku di hadapan kalanganmu
Karena kau tak pernah malu
Tuk bersamaku yang kalah dari sisi manapun
Maka kau selalu jadi alasanku bersyukur
Di hadapanmu kupersembahkan segalanya dariku
Sungguh kau terlahir memberi teduh
Sungguh pula Tuhan baik padaku
Atas segala sepi yang kumaksud
Berakhir pada kau yang kini kerap bersandar di bahuku
Bantul, 29 Oktober 2022
45
INGKAR
Setelah sekian senyum bermekaran
Saat percaya telah sampai pada puncaknya
Kau mandikan wajah cerahku dengan cucuran air mata
Kau tepis paksa bahagia yang kugenggam
Di balik penantian panjang
Di belakang kumenangis sembilu
Kau penuhi hari dengan tawamu
Entah di mana kau sembunyikan sumpahmu
Aku masih tidak tahu
Atas dasar apa kau hancurkan percayaku
Setelah dengan sepenuh hati aku merajut
Balasanmu berupa luka menyayat di atmaku
Sudahkah aku tak lagi berarti
Lalu ini cara yang kau lakukan tuk mengusir
Sudahkah hilang rasa itu di hati
Ataukah aku saja yang pergi tanpa permisi
Jika kau masih ingin kebebasan
Jangan membangun hubungan dalam sebuah ikatan
Jika komunikasi mengganggumu bersenang-senang
Jangan pernah berniat mencari pasangan
Lepas saja segala janji yang kau ucap
Tak perlu kau tumpuki sesalmu dengan kata maaf
Jagalah kesenanganmu dengan kejujuran
Jangan bersamaku dengan kebohongan
Bantul, 30 Oktober 2022
46
JODOH PALSU
Kau penuhi hariku dengan penantian
Dipinta diam tanpa sebuah kepastian
Meski malam kusuguhi dengan pertanyaan
Kau tetap tak kunjung beri jawaban
Kau datang padaku mengeluhkan masalah
Tentang ayah yang mengintimidasi anaknya
Tentang anak yang dipantau penuh oleh ayahnya
Tetapi tak kumengerti maksud itu semua
Mungkin usiaku yang begitu muda
Atau aku mentah di pengalaman
Juga bisa jadi karena aku yang selalu percaya
Hingga tak tumbuh secercah curiga
Tapi kebohongan kan nampak selayaknya bangkai
Sesempit apapun tersembunyi
Kan tercium dengan pasti
Begitupun rapatnya kau menyimpan dengan baik
Kau pikir sedalam apa aku tersayat
Tahukah kau tentang tangis yang benar-benar pecah
Apa yang kau perbuat di atas ambang perpisahan
Masihkah kau jual sebuah perjodohan palsu demi permainan
yang kau idamkan
Dengan sendumu bercerita perihal nikah paksa
Tentang kabar yang tak kunjung sampai karena ancaman orang tua
47
Lalu pinta maaf yang kau bawa pulang
Begitulah hati dan mental kau pecah dan hamburkan
Jika memang tak ada sisa rasa
Jangan kau paksa untuk bertahan
Jangan merusaka hubungan dengan kebohongan
Pergilah dengan benar sebagaimana kau datang
Bantul, 30 Oktober 2022
48
KESEMPATAN KEDUA
Kemari dan hapus air matamu
Sejujurnya masih ada rasa dalam qalbu
Seterangnya masih lara kumelihatmu terluka
Dengan segenap sesal yang kau rasa
Aku takkan menghakimi sebuah salah yang kau perbuat
Anggap saja tak ada kisah itu di antara kita
Aku memaafkan segala khilaf yang sempat kau tingkahkan
Anggaplah aku tak pernah tahu kejadian silam
Kemarilah dan kuberi kesempatan kedua
Bohong yang kau lafazkan takkan jadi alasan perpisahan
Masih ada rasa iba yang tersisa dalam benak
Pakailah itu tuk selamatkan hubungan
Pesanku jangan ada bohong yang kedua
Cukup sekali seumur panjang ikatan
Jika rusak lagi untuk ikhlas yang kuberi
Maka tak ada sempat ketiga yang kau dapati
Bantul, 30 Oktober 2022
49
KAU DAN IMPIAN
Bagai dipinta memmilih antara baju dan celana
Bagai dipaksa mengambil satu di antara emas yang kadarnya
sama
Saat terbaca jelas kertas di tangan kanan
Tetapi di tangan kiri engkau eratkan genggaman
Bagaimana jika kukejar dulu mimpi di kertas itu
Lalu kau di sini cukup sabar menunggu
Kupastikan setia dan kembali padamu
Asal kau ridho melepasku
Kutahu kan ada rindu di jarak yang jauh
Namun mimpi itu juga telah lama masa kurajut
Setelah sekian kali patah jarum
Kini akhirnya laku terjual ke seberang laut
Mari kita lihat sejenak senja di ujung sana
Di tepi langit tempat kita menatap bersama
Jika senja masih seindah ini cara pamitnya
Aku juga kan kembali dengan kita yang masih sama
Maaf jika tak kupilih dekat
Maaf atas aku yang egois membuang hasrat tuk bersama
Tetapi ini demi kita di masa depan
Percayalah, jika nyawa masih dikandung badan
Pun kau akan tetap menjadi yang satu-satunya hingga aku
pulang
Bantul, 31 Oktober 2022
50
TAK MENCARI RINDU
Seharusnya tak ada rasa menunggu yang terjerat
Setelah sekian bulan aku tak lagi dekat
Kupikir akan ada yang membawamu mencariku
Dan itulah yang kuharap rindu
Bukannya hari-hari milikmu kan sepi
Tidakkah ada sedih melihatku pergi
Kau bahkan tak memberiku pesan tuk memastikan
Kabar dan rasaku apakah masih baik-baik saja
Yang lain pisahnya selalu membawa rindu
Tetapi kau tak mencari rindu itu
Kau tak cemas terhadap jarak yang jauh
Pergiku tak kau lihat pun jauhku tak kau cemas
Sedang aku yang berlayar ke pangkalan laut sebelah
Aku pula mencarimu yang tak ke mana
Berbondong pesan menghampiriku tentang tanya sampaikah
aku ke tujuan
Tetapi justru kau mengabaikan tanpa sebait tanya
Ah betapa tak berartinya diriku
Padahal kulihat siang malam kau bergerilya di semua media
Centang dua abu-abu pun bergetar
Tetapi sudah dasarnya memang kau yang menghindar
Sudahlah
Bantul, 31 Oktober 2022
51
BERITA BURUK
Tak perlu kau tahu dalam lukaku
Tak perlu kau tanya keadaanku
Sebaiknya bawalah pulang kata maafmu
Yang sekiranya sebesar alam takkan mengubah nasibku yang
buruk
Hati mana yang tak hangus terbakar
Jika janji yang ditanam tersiram racun khianat
Tidakkah kau lihat pohonnya ranum nan rindang
Layu tak tersisa akibat kau melukai akarnya
Tak guna lagi bulan dan bintang bagi malamku
Tak terang lagi mentari dan pelangi di siang hariku
Kau telah membuang asa dalam kubur
Kau tutupi ruang yang kiranya kita dapat bersatu
Siapa wanita yang telah meraih simpati ayahmu
Sehebat apa dia sampai aku jauh tersungkur
Hanya karena jauh aku mengejar impian
Kau putuskan kabar lalu hendak meminang gadis yang dekat
Tidakkah kau pikir malam yang selalu jadi tempat peraduan
Dia yang tahu kelamku dalam pencarian
Lantas kau tak bernurani seketika menghilang
Hingga kabar buruk mendarat paksa di telinga
Tak perlu ada klarifikasi soal ini
Sudah jelas bagiku meski dari mulut yang lain
52
Sebaiknya undurkan langkahmu tuk datang kembali
Sebab rasa baik yang kau bunuh telah tumbuh menjadi akar
benci
Bantul, 01 November 2022
53
KEKASIHKU ATAU KOPI YANG BARU
Hari ini antara kopi dan teh di meja yang sama
Kopi berargumen bahwa menanti tanpa kepastian
Adalah kebodohan yang di sengaja
Jadi pilihlah yang ada dan tak ambil susah
Teh di sebelahnya membelai lembut tatapan
Hangatnya seakan memberi aroma semangat
Hembusan asap lembutnya sangat menenangkan jiwa
Katanya, lebih baik usaha untuk hal yang disukai dibanding
memaksa diri atas pilihan orang lain
Tetapi kopi tetaplah pemenang tahta
Teh hanya sempat berbisik agar tak terdengar melawan
Kopi membawaku terbuai dalam alunan hitamnya
Ia membawa kopi yang lain tuk berbaris di meja yang sama
Bagaimana dengan janji pada kekasihku
Apakah ada obat baginya atas luka yang kuberikan
Siapa yang kan meminum kopi yang ia suguhkan
Betapa lama kan dia ratapi hari penuh haru
Bagaimana jika dia tahu
Tidak, kopi baru tak boleh terteguk olehku
Akan kubuat ia tumpah ke dasar tanah
Akan kubuat ia pulang dan tak bersaing dengan kopi milik
kekasihku
54
Antara kekasih dan kopi yang baru
Sedekat apapun jika bukan milikku
Aku takkan melirik dan tergiur
Waktuku hanya sebatas menunggu kepulangan kekasihku
Bantul, 02 November 2022
55
JANGAN SEBUT KATA PISAH
Hendakkah kubawa setumpuk juang yang lalu
Hendakkah kupasung diriku dalam kayu
Untuk meyakinkanmu atas luka-lukaku
Untuk menyeimbangi laramu
Tak ada niatku atas semua ini
Bukan inginku melepasmu menuju ajang persaingan
Tak sebanding dengan apapun yang ia punya
Aku tetap bertekuk menantimu pulang
Tak hanya tangis dewi yang kugenangkan
Tangisku pun tak terhitung jumlahnya
Lalu bagaimana mungkin kan kujelaskan
Sedang berita t’lah sampai padamu dari yang tidak seharusnya
Bisakah kau duduk di sampingku lagi
Biar kucerita bahwa kita tak diambang pisah
Agar kusampaikan bahwa waktu membawaku pulang
Bukan bersamanya yang baru tiba
Bisakah aku menjemputmu kemari
Biar tak kau sebut kata pisah
Sebab tak adil rasanya jika kau pergi
Telah kuarsip harga diri demi membela tahtamu tetap di hati
Bantul, 22 November 2022
56
TULUS TAK IKUT PERGI
Tulus itu masih bersarang bersamamu
Tak ikut pergi denganku
Tulus itu masih erat memelukmu
Tak sudi mendekapku
Aku dengannya tak lagi bersama
Dia menerimamu sedangan aku membencimu
Dia peduli padamu saat aku tak sudi melakukan itu
Tulus itu tetap memelukmu
Semakin jauh aku membawa diri
Berharap jauhku dapat menariknya kesini
Semakin pula ia tinggal dan mencari
Bahkan berharap justru aku yang kembali
Jadi, orang yang kutemui setelah kita
Hanya mendapatkan aku saja
Tak ada tulus yang dapat kuberi padanya
Bahkan tak ada rasa yang tumbuh untuknya
Atas nama ketulusan yang menetap
Aku dibawa kembali tuk memulai kisah
Tak ada orang baru yang berhak menggantikan
Sebab ketulusan itu telah menjadi milikmu saja
Bantul, 18 November 2022
57
SELALU KAU YANG SALAH
Waktu yang tiada maka kau penyebabnya
Aku sepi di kamar maka kau dalangnya
Meski kutahu kau sedang berusaha dan berjuang
Bagiku kau selalu salah
Saat sepi kupeluk di sudut bibir bumi
Saat itu juga aku menangis tanpa sedih
Air mata keluar begitu saja tanpa permisi
Juga tanpa penyebab yang pasti
Kau tak salah saat itu
Tapi aku butuh sosokmu
Aku mencari dan menantimu
Lalu kau sibuk dengan usahamu
Yah, usaha itu untukku
Tapi setan bersarang di kepalaku
Tetap membencimu saat jauh dariku
Tak ada hari baik tanpamu
Maka ketika aku menangis kau harus di sini
Kau harus meminta maaf atas kesalahan orang lain
Tanpamu maka tak ada episode sedih yang berakhir baik
Jika kau tak di sini maka akar masalah akan tumbuh dari
wajahmu
Bantul, 20 November 2022
58
KALIMANTAN TEMPAT BERLABUH
Kulihat kau semakin dewasa
Bertumbuh dan lepas dari masa remaja
Nampak tanggungjawabku semakin dekat
Tanpa sadar waktu menuntutku melengkapi itu semua
Awalmu yang tak pinta apa-apa
Jadi kamu yang sekarang banyak siap siaga
Mulanya kau yang sepintas meminta gulali
Kini jadi gadis yang pinta banyak kebutuhan sehari-hari
Tak cukup lagi jika kudiam
Sudah tiba saatnya aku berdiri menjadi Si pejuang
Menjadi pria yang tak membuatmu kekurangan
Merajut niat baik melalui benang rupiah
Jika aku merayap di tanah gersang kampung halaman
Memberimu makanpun takkan sempat
Maka Kalimantan jadi tempat kulabuhkan pengharapan
Agar dapat kuraih kau di tahun yang akan datang
Bantul, 22 november 2022
59
SEPUH PUNGGUNG
Hai tuanku
Kulihat kau tak lagi muda
Seperempat abad telah kau tapaki dunia
Kini wajahmu nampak begitu lelah
Kulirik tuan puteri yang kau damba
Masih belia dan nampak asyik dengan semesta
Mimpinya yang terajut tak terarah
Membawanya kearus yang tak berlabuh kepastian
Sekiranya kau mau, Tuan
Dapat kau petik tangkai mawar di taman kota
Kau bawa pulang tuk puteri desa
Tak perlu menanti puteri yang sibuk dengan harapnya
Tapi tak kusebut
Sepuh sudah kulihat punggungmu
Menggendong asa menuju puteri pengharapanmu
Jadi pergilah menujunya meski banyak sembilu
Kutahu tak begitu besar jalan yang kau susuri
Tapi besarnya yakinmu mendorongmu terhimpit di lorong yang
sempit
Sehingga menarikmu pulang hanya akan memberimu luka
Jika diujung kau gagal setidaknya telah kau tunaikan ketulusan
Bantul, 24 November 2022
60
BERLIANKU
Ditemukan di dasar laut yang dalam
Di sela karang yang tajam
Kubawa ke bibir laut dengan terengah melawan ombak
Bagaimana mungkin kan kulepas begitu saja
Tak kuambil Ia tuk jadi tontonan
Tak kuasa aku berenang di gempuran badai menerjang
Jika hanya untuk menjadi kesenangan semua orang
Kalau hanya sekedar dinikmati semua mata
Bahkan sekiranya ada cahaya yang memantulkan kilauannya
Kan kututup cahaya itu agar tak menembus dirinya
Kan kubaluti kain agar tak sedikitpun Ia nampak
Agar yang tertarik cukup aku saja
Sebegitu dalamnya aku menjagamu hai, berlian
Bagaimanapun aku telanjang dilirik semesta
Asal bukan dirimu yang dingin tanpa sebalut pakaian
Asal kau tak menggigil kedinginan
Bantul, 24 November 2022
61
HARTA, TAHTA, RESTU KELUARGA
Ini cerita tentang sebuah pasangan
Dua insan yang berbeda jalan
Satunya kiri satunya kanan
Tapi nekad jua bertemu di persimpangan jalan
Kata separuh orang Makassar
Pantang sarjana jika tak bersama sarjana juga
Pantang dasi disandingkan cangkul besi
Sedangkan dua sejoli ini sudah siap menentang takdir
Mengapa sarjana tak pantas jika bersama kuli
Biar kuli asal royal memberi
Dibanding berdasi tapi pelit
Buat apa seragam rapi jika tak sesuai kata hati
Tak apa gaji ratusan
Asal yang diberi sesuai nominal
Isi panci tak dipertanyakan
Anak cucu tak kurang didikan
Bukan tak takut kekurangan
Tapi rezeki siapa yang pernah ditukar Tuhan
Imam yang baik tergantung segumpal darah dalam diri
Siapapun ia tergantung caranya memikat hati
Bantul, 24 November 2022
62
KELONAN
Entah apa guna angka banyak di usianya
Hingga nyenyak masih tak bisa sendirian
Entah apa yang Ia lakukan belasan tahun lamanya
Malam tetap saja penuh dongeng-dongeng balita
Di Kasur menghentakkan kaki
Memutar badan kesana kemari
Hingga tiba pelukan mendekapnya begitu manis
Barulah Ia menuju mimpi-mimpi
Bisikan merdu mengantarnya tertidur lelap
Usapan lembut mengulur di rambutnya
Harus ada satu nyawa yang menjaga hingga terjaga
Juga kelonan tak lepas menuntun nyawanya tenang dari usik
malam
Kekasih yang mengabdikan diri menjadi pembaca
Setiap malam harus buang semua lelah
Kantuk tak boleh mengalahkannya
Tak boleh meninggalkan tidur Sang puteri tanpa sajak berirama
‘Ush Ush bobolah …’
Bantul, 24 November 2022
63
TAK LAGI MAU
Kalau kemarin aku meraung mencari salahmu
Kini aku tak lagi mau
Kalau kemarin aku menaruh bohong
Kini aku tak juga mau
Kau sudah sepuh berjuang
Pasti lelah dengan sikap yang kuberikan
Kau sudah melangkah sendirian
Pasti juga remuk menarikku sendirian
Amarahku kau balas senyuman
Cacianku kau dekap dengan kelembutan
Memar badanmu kubuat
Tetap kau lindungi tubuhku dari segala luka
Segala macam air mata
Dari deras karena kecewa hingga yang keluar tanpa alasan
Telah menghias perjalanan kita
Telah melembabkan segenap kisah
Segala bentuk duka lara yang perih
Telah kita tapaki dengan pincang
Kadang tergores di aspal yang rusak
Sekali lagi, kini aku tak lagi mau
Mari kuajak kau menemui mimpimu
Yang sempat kau sebut saat menangis menahan pergiku
64
Kau sebut satu-satunya citamu adalah aku
Dan kini ambillah itu untukmu
Bantul, 24 November 2022
65
RISWAN RISI
R~intikan dan rintihan tak lagi dapat dibedakan
I~barat mereka telah berperang di dalam ruang hati yang sama
S~ampai pada sendi-sendi di tubuh ikut bergetar
W~alau sebenarnya tetap ada kekuatan yang dicadangkan agar
tetap bertahan
A~kan tetapi rindu telah eratnya bersahabat dalam raga
N~anti jika ada pertemuan kuharap dirimu dan apa yang
membersamaimu dapat menaklukannya
R~uang waktu telah membuktikan hadirmu
I~mbang pada kasih santun yang tertanam dalam karaktermu
S~eperti sejuk embun yang membelai suasana pagi
I~tulah sebab percaya ini menjadi milikmu
Bantaeng, 26 Juli 2022
66
NIKAH ATAU S1
Sungguh jauh selalu rindu
Rindu berujung suntuk
Suntuk pun jadi kalut
Lalu kita akhirnya bertengkar terus
Kau mengganggu kuliahku
Aku mengganggu kerjamu
Kita pengganggu
Sama-sama hampir menjadi benalu
Ah sial,
Bagaimana jika kita runtuhkan jauhnya jarak
Lalu pulang membangun bahtera rumah tangga
Dan bahagia menjadi Ibu dan Ayah
Ah tidak
Itu pikiran kesenangan sesaat
Mari bantu aku lalui gelar ahli madya
Lalu temani aku hingga wisudah
Sampai tetanggamu bilang
Sarjana multilante itu milik Si dia
Sembari melirikmu bangga
Bantul, 24 November 2022
67
AKHIR SYAIR
Empat kali dua belas bulan kita berpisah
Sengaja kutuliskan ini semua
Agar kelak ketika kebahagiaan nyata di genggaman
Kau tak lupa akan susah di masa silam
Sengaja kutuliskan kisah antara kita
Susah senang dan kenangan perjalanan cinta
Agar ketika wanita lain lebih indah di manik matamu
Kau ingat sabarku menemanimu terpuruk
Tulisan ini kan mengabadikan cerita kita
Cerita yang sampai pada berkali-kali purnama
Pertengkaran dan perdebatan kecil dan besar
Selalu ada hampir di setiap jejak hubungan
Tulisan ini kan kuberikan pada makhluk masa depan
Dan mereka akan paham tanpa harus kuceritakan
Kita yang dulu tak punya apa-apa
Lalu berjalan merangkak meyakini rasa
Aku dan kamu yang terjatuh
Yang mengemis pedih pada restu
Lalu bertarung pada doa-doa tulus
Aku akan perlihatkan ke mereka
Terimakasih telah bersamaku membangun asa
Mengusap air mataku mengarungi lara
68
Menerima aku menguatkan segala lelah
Meratukan aku dari awal hingga tiada batas
Bantul, 07 Desember 2022
69
BIONARASI
AIRIS, penulis buku “Tuhan, Aku sedang berjalan” lahir
pada tanggal 23 April 2003. Usia yang kedua puluh tepat di
tahun penantian kelulusannya, berhasil menerbitkan buku
keduanya dengan judul “Aira dan Airis Curhatkan Luka”. Airis,
menyelesaikan pendidikan dasar di SD INP Tamaona 2014,
lanjut ke Pondok Pesantren Ahlu Shuffah Muhammadiyah
Bantaeng hingga menamatkan Sekolah Menengah Kejuruan
di tahun 2020. Saat ini menempuh pendidikan tinggi di
Akademi Manajemen Administrasi Yogyakarta dari usia 17
tahun. Beberapa buku antalogi yang dibuat dari awal tahun
2020 yaitu: berubah 180 derajat karena korona, Rindu di kala
corona, Queen of the quotes, Toga buat bapak, kemerdekaan
perempuan masa kini. Beberapa juara puisi yang diraihnya
selama ini adalah, Juara I Puisi Islami tingkat mahasiswa AMAYO
2021, Juara I Lomba puisi islami tingkat mahasiswa Akademi se-
DIY 2021, Juara I Lomba puisi islami tingkat mahasiswa AMAYO
2022, Juara II lomba baca puisi HUT KOPI ke-V 2021. Leburlah
mimpimu pada hal baik yang kau dapati hari ini maka besok kau
kan temukan jawaban dan jalan yang lebih jelas.
70
AIRA DAN aIRIS
Curhatkan
Penulis titipkan syair-syair puisi dalam buku ini kepada
pembaca, dengan harapan apa yang pernah penulis
alami tidak hanya menjadi pelajaran pribadi
melainkan juga syair yang memanjakan naluri galau
dan kenangan untuk para pembaca-pembaca buku
AIRIS. Jika kalian membaca buku ini maka kalian
akan tahu betapa bangun bukan hanya sekedar
membuka mata lalu berucap syukur dan menanti
malam tuk kembali terlelap. Namun, bangun adalah
luka yang dipaksa kering saat masih bersimbah darah,
hati yang dipaksa untuk utuh ketika hancur tak tersisa,
dan tentang iman yang dipaksa bertahan saat
keindahan nafsu berkuasa. Lalu perihal cinta, tidak
hanya sekedar menemukan orang yang tepat tetapi
juga menempatkan cinta pada orang yang keluarga,
lingkungan dan juga keadaan menerimanya
Buku ini akan menyampaikan pusisi tentang marah
yang akhirnya menjadi ramah, dendam yang akhirnya
menjadi ikhlas, juga tentang berharap yang berakhir
pasrah