The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Hasan Syahn, 2022-05-25 22:41:56

Flipbook Madina 2022 05 26

Flipbook Madina 2022 05 26

Mitigasi Bencana Alam

Untuk SMA/MA Kelas XI

1 Pulau Bawean

Kata Pengantar

Segala puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas Rahmat
dan karunia-Nya, sehingga bahan ajar materi mitigasi bencana lokal di Pulau
Bawean pada siswa SMA/MA kelas XI IPS ini bisa saya selesaikan. Bahan ajar
ini dilengkapi dengan penjelasan teks dan ilustrasi gambar yang
mendeskripsikan tentang fenomena bencana yang terjadi di Pulau Bawean.
Sehingga dengan penggunaan gambar dan fenomena sesuai yang terjadi di
Pulau Bawean tersebut bisa membantu siswa dalam memahami materi tentang
mitigasi bencana pada siswa SMA/MA kelas XI IPS secara umum, khususnya
kepada siswa-siswi MA Hasan Jufri di Pulau Bawean sebagai lokasi
penggunaan bahan ajar ini.

Selain itu, bahan ajar tentang mitigasi bencana ini disusun berdasarkan
pendekatan kontekstual yang terjadi di Pulau terkait dengan beberapa
bencana seperti banjir, longsor dan gelombang tinggi. Melalui pengembangan
bahan ajar ini diharapkan siswa bisa memahami dan memberikan kemudahan
bagi siswa dalam mencerna materi terkait dengan mitigasi bencana baik dalam
aspek pengetahuan dan sikap siswa tersebut.

Akhir kata, saya selaku penyusun bahan ajar berkaitan dengan materi mitigasi
bencana yang diperuntukan siswa SMA/MA kelas XI IPS ini menyadari bahwa
bahan ajar ini jauh dari kesempurnaan, sehingga penyusun mengharapkan kritik
dan saran dalam penyempurnaan bahan ajar ini agar bisa digunakan dengan
optimal.

Penyusun

i

Daftar Isi

Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Daftar Gambar iv
Kompetensi Dasar v
Tujuan Pembelajaran v

BAB I Pendahuluan 1
1. Apa itu bencana Alam? 1
2. Klasifikasi Bencana Alam 2
3. Kondisi Geografis Pulau Bawean 3
4. Kondisi Geologis Pulau Bawean 4
6
a. Formasi Batugamping Gelam 9
b. Formasi Batugamping Kepongan 10
c. Formasi Batuan Gunungapi Balibak 10
d. Formasi Aluvium 12
5. Kondisi Geomorfologis Pulau Bawean 14
6. Kondisi Hidroklimatologis Pulau Bawean 15
7. Kondisi Tanah Pulau Bawean
16
BAB II Jenis dan Karakteristik Bencana Alam 16
1. Banjir 16
17
a. Pengertian Banjir 18
b. Faktor Pemicu Bencana Banjir 19
c. Dampak Bencana Banjir 19
2. Longsor 19
a. Pengertian Longsor 20
b. Faktor Pemicu Bencana Longsor 21
c. Dampak Bencana Longsor 21
3. Gelombang Tinggi 22
a. Pengertian Gelombang Tinggi 23
b. Faktor Pemicu Gelombang Tinggi
c. Dampak Bencana Gelombang Tinggi 24

BAB III Siklus Penanggulangan Bencana Alam 26
26
BAB IV Lembaga-Lembaga yang Berkontribusi dalam Mitigasi 27
Bencana Alam
1. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) 28
2. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

BAB V Mitigasi dan Adaptasi Bencana Alam

ii

1. Mitigasi 28
a. Bencana Banjir 28
b. Tanah Longsor 29
c. Gelombang Tinggi 30
31
2. Adaptasi 31
a. Bencana Banjir 32
b. Tanah Longsor 33
c. Gelombang Tinggi
34
Soal Evaluasi 36
Daftar Pustaka 37
Identitas Penulis

iii

Daftar Gambar

Gambar 1.1 Klasifikasi Bencana Alam 2
Gambar 1.2
Gambar 1.3 Peta Geografis Pulau Bawean 3

Gambar 1.4 Peta Geologi Pulau Bawean 1:100.000 (Usman, 2012

Gambar 1.5 disederhanakan dari Aziz dkk., 1993) 5
Gambar 1.6
Singkapan Coraline bindstone (a) dan kenampakan sampel
Gambar 1.7
setangan Coraline bindstone (b) di Kepuh Legundi 7
Gambar 1.8
Singkapan Coraline framestone di Desa Gelam 7
Gambar 1.9
Sampel Traventine di Kepuh Legundi dengan kenampakan
Gambar 1.10
fosil cetakan daun 7
Gambar 1.11
Sampel setangan Floatstone di beberapa lokasi
Gambar 1.12
Gambar 1.13 pengamatan di Pulau Bawean 8

Gambar 1.14 Singkapan Batugamping pada Lahan Tambang
Gambar 1.15
Gambar 1.16 Kecamatan Sangkapura 8

Gambar 2.1 Kenampakan Petrografi Batuan pada Formasi Batugamping
Gambar 2.2
Gambar 3.1 Gelam (Marmer) 8

Kenampakan Singkapan Batuan pada Formasi Batupasir

Kepongan 9

Kenampakan Singkapan Batuan pada Formasi Gunungapi

Balibak di Air Terjun Murtalaje, Air Terjun Danau Kastoba,

Air Terjun Laccar (dari kiri ke kanan) 10

Endapan Pasir Aktif dari Gugusan Gili Noko 11

Peta DEM (Digital Elevation Model) Pulau Bawean,

Kabupaten Gresik, Propinsi Jawa Timur 12

Puncak Gunung Soka 13

Puncak Mayangkara 13

Kondisi (a) Banjir dan (b) Longsor yang cenderung terjadi

saat intensitas hujan tinggi 14

Kondisi Banjir di Kecamatan Sangkapura, Bawean 17

Dampak Banjir di Pulau Bawean 18

Siklus Penanggulangan Bencana 24

iv

Kompetensi Dasar

3.7 Menganalisis jenis dan penanggulangan bencana alam melalui
edukasi, kearifan lokal, dan pemanfaatan teknologi modern.

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, siswa diharapkan mampu :
❖ Memahami bencana
❖ Memahami jenis-jenis bencana
❖ Mengidentifikasi faktor pemicu bencana
❖ Memahami dampak yang ditimbulkan oleh bencana
❖ Memahami siklus penanggulangan bencana
❖ Mengidentifikasi lembaga-lembaga yang berperan dalam
penanggulangan bencana
❖ Menganalisis mitigasi dan adaptasi bencana

v

BAB I Pendahuluan

1. Apa itu bencana Alam?

Sebelum membahas lebih jauh, baik kita pahami dulu apa yang dimaksud
dengan bencana dan bencana alam. Menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun
2007 tentang Penanggulangan Bencana, bencana adalah peristiwa atau
rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau
faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya
korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak
psikologis.

Sementara, masih menurut UU Penanggulangan Bencana, bencana alam
adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa
yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung
meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah langsor. Selain itu, bencana
alam dapat terjadi karenaad faktor campur tangan manusia yang tidak
bertanggung jawab, misalnya penebanga hutan secara berlebihan yang
menyebkan tanah longsor.

Apa yang dipahami sebagai bencana alam sesungguhnya adalah
perspektif manusia. Disebut bencana jika ada korban jiwa manusia dan kerugian
lain yang dialami manusia.

1

2. Klasifikasi Bencana Alam

Bencana Alam Bencana alam geologis merupakan
Geologis bencana alam yang terjadi di

permukaan bumi. Contoh bencana
aam geologi yaitu gempa bumi,
tanah longsor, tsunami, gunung

meletus, dan lain sebagainya

Bencana Bencana Alam Bencana alam meteorologis
Alam Meteorologis merupakan bencana alam yang
/Klimatologis terjadi karena perubahan iklim yang
ekstrem. Contoh bencana alam
meteorologis, yaitu kekeringan,
banjir, angin puting beliung, dan lain

sebagainya

Bencana Alam Bencana alam ekstraterestrial
Ekstraterestrial merupakan bencana alam yang
terjadi karena benda dari luar
angkasa, bencana alam ini tergolong
bencana alam yang paling jarang
terjadi. Contoh bencana alam
ekstraterestrial yaitu badai matahari

Gambar 1.1 Klasifikasi Bencana Alam

2

3. Kondisi Geografis Pulau Bawean

Kondisi geografis berkaitan dengan letak suatu daerah dilihat dari
kenyataanya di bumi atau posisi daerah itu pada bumi dibandingkan dengan
posisi daerah lain.

Secara geografis, Pulau
Bawean merupakan
salah satu pulau kecil di
Indonesia yang terletak
120 km ke arah utara
dari Pulau Jawa.
Secara geografis Pulau
Bawean berada pada
koordinat
05°76'49,54" sampai
05°87'13,43" Lintang
Selatan dan
112°56'90,92" sampai
112°77'63,14" Bujur
Timur.

Gambar 1.2 Peta Geografis Pulau Bawean

Secara administratif, Pulau Bawean menjadi bagian wilayah Kabupaten Gresik
Provinsi Jawa Timur. Luas total Pulau Bawean sekitar 197 km2 dengan daerah yang
bergunung (400-646 m dpl) berada di sekitar barat dan tengah pulau., yang terbagi
menjadi dua kecamatan yakni Sangkapura 118,72km2 dan Tambak 78,70 km2,
terdapat 30 desa dengan rincian Kecamatan Sangkapura terdiri dari 17 desa yaitu:
Dekatagung, Suwari, Kumalasa, Pudakit Timur, Pudakit Barat, Lebak, Bululanjang,
Sungai Teluk, Patar Selamat, Gunungteguh, Sawah mulya, Kotakusuma, Sungai Rujing,
Daun, Sidogedungbatu, Balik Terus, dan Kebun Teluk Dalam. Sedangkan Kecamatan
Tambak terdiri dari 13 desa, yaitu: Kepuh Legundi, Kepuh Teluk, Diponggo, Tanjungori,
Paromaan, Grejeg, Tambak, Pekalongan, Sukalela, Sukaoneng, Kalompanggubug,
Gelam, dan Telukjati. Terdapat sekitar 143 dusun atau kampung dengan jumlah
penduduk 118.841 jiwa. (Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur, 2016).

3

4. Kondisi Geologis Pulau Bawean

Kondisi geologis berkaitan dengan lempeng tektonik yang menyusun
wilayah tersebut. Sebelum membahas jauh tentang kondisi geologis Pulau
Bawean, maka pada gambar berikut terdapat link terkait video tentang
gambaran geologis Pulau Bawean.

Dongeng Geologi Project : Pulau Bawean - YouTube
Secara geologi, Gunung Bawean termasuk ke dalam zona Cekungan
Jawa timur. Pulau Bawean tersusun dari batuan vulkanik (lava dan piroklastik),
batuan sedimen pasir, dan batugamping. Selain itu, terdapat sumber air panas
yang menunjukkan bahwa aktifitas vulkanik di Pulau Bawean masih aktif (Usman,
2012). Secara stratigrafi regional menurut penelitian Aziz dkk. (1993), Pulau
Bawean tersusun dari beberapa formasi batuan, antara lain sebagai Formasi
tertua ialah Formasi Batugamping gelam yang pada keadaan di lapangan
sebagai contoh dijumpai batu marmer (onyx) yang merupakan produk ubahan
dari batugamping. Di atas formasi ini dijumpai Formasi Batupasir kepongan, yang
dalam keadaan di lapangan ditambang untuk dijadikan bahan bangunan.
Formasi yang muncul kemudian dan paling dominan dijumpai di permukaan Pulau
Bawean adalah Formasi Batuan Gunungapi Balibak, yang hadir di lapangan

4

sebagai batuan penyusun dinding-dinding air terjun dan hasil pelapukannya
dapat dijumpai sebagai pasir di sepanjang pantai.

Gambar 1.3 Peta Geologi Pulau Bawean 1:100.000 (Usman, 2012
disederhanakan dari Aziz dkk., 1993)
5

Menurut penelitian Aziz dkk. (1993), secara stratigrafi berikut adalah
formasi penyusun Pulau Bawean dari yang tertua dan yang termuda yaitu:
a. Formasi Batugamping Gelam

Formasi ini merupakan formasi tertua yang tersusun atas batugamping
terumbu, batugamping klastika, dan setempat batugamping kristalin. Formasi
ini berumur Oligosen Akhir-Miosen Awal. Formasi ini setara dengan Formasi
Kujung yang ada di Cekungan Pati dan Cekungan Jawa Timur Utara. Formasi
ini tersingkap secara setempat-setempat.

Sebagian besar singkapan batugamping yang dijumpai merupakan
batugamping terumbu, dimana tekstur batuan menunjukan kenampakan coral
dan alga dalam suatu tubuh batuan yang utuh. Batugamping terumbu yang
ditemukan pada daerah ini melalui deskripsi lapangan dapat diklasifikasikan
menurut klasifikasi Embry and Klovan (1971) sebagai Coraline bindstone dan
Coraline framestone. Singkapan ideal Coraline bindstone dapat ditemukan di
daerah sekitar Mata Air Panas Kepuhlegundi (Gambar 1.4) sedangkan
singkapan ideal Coraline framestone dapat ditemukan di Desa Gelam
(Gambar 1.5). Pada daerah di sekitar Mata Air Panas Kepuh Legundi juga
dijumpai Traventin, dimana Traventin merupakan batuan yang terbentuk dari
presipitasi mineral karbonat yang terbawa oleh fluida dari mata air,
khususnya mata air panas. Kenampakan traventine di daerah penelitian
menunjukan warna coklat yang cerah serta menunjukan tekstur kenampakan
fosil berupa fosil cetakan daun (Gambar 1.6).

6

Gambar 1.4 Singkapan Coraline bindstone (a) dan kenampakan sampel
setangan Coraline bindstone (b) di Kepuh Legundi

Gambar 1.5 Singkapan Coraline framestone di Desa Gelam

Gambar 1.6 Sampel Traventine di Kepuh Legundi dengan kenampakan
fosil cetakan daun
7

Pada beberapa lokasi di Pulau Bawean juga dapat ditemukan
batugamping klastika, dimana tekstur batuan menunjukan fragmen pecahan
sisa organisme seperti pecahan terumbu, alga, dan cangkang gastropoda
yang memiliki ukuran lebih dari 2 mm dan memiliki kemas terbuka (Gambar
1.7). Sehingga melalui deskripsi lapangan batugamping kalstika ini diberi
nama Floatstone (Embry and Klovan, 1971).

Gambar 1.7 Sampel setangan Floatstone di beberapa lokasi pengamatan
di Pulau Bawean

Pada beberapa lokasi juga di jumpai singkapan batugamping kristalin
hingga marmer sebagai hasil dari kontak batugamping dengan lava maupun
fluida panas bumi (Gambar 1.8 dan Gambar 1.9).

Gambar 1.8 Singkapan Batugamping pada Lahan Tambang Kecamatan
Sangkapura

Gambar 1.9 Kenampakan Petrografi Batuan pada Formasi Batugamping
Gelam (Marmer)
8

b. Formasi Batugamping Kepongan
Formasi Batupasir Kepongan terendapkan secara tidak selaras di atas

Formasi Batugamping Gelam. Formasi ini tersusun atas batupasir kuarsa,
sisipan batulempung, dan gambut dengan umur Miosen Akhir-Pliosen Akhir.
Pelamparan dari formasi ini sangat sedikit apabila dibandingkan dengan
formasi-formasi lainnya.

Salah satu lokasi yang tersusun oleh Formasi Batupasir Kepongan berada
di Desa Sungaiterus, Kecamatan Sangkapura dengan ciri batuan yang cukup
rapuh dan mudah terurai (Gambar 1.6). Komposisi dari batuan tersebut
didominasi oleh butiran kuarsa yang subangular dan lempung (Gambar 1.10).
Pada singkapan batuan dijumpai adanya pola arah aliran purba yang
membentuk batuan tersebut yaitu timur laut.

Gambar 1.10 Kenampakan Singkapan Batuan pada Formasi Batupasir
Kepongan

9

c. Formasi Batuan Gunungapi Balibak
Formasi Gunungapi Balibak merupakan formasi yang menumpang di

atas batuan yang lebih tua secara tidak selaras. Formasi ini tersusun material
hasil letusan gunungapi, antara lain seperti perselingan lava, kubah tephrite,
breksi gunungapi, dan tuff. Formasi ini berumur Pleistosen. Pelamparan dari
formasi ini sangat dominan di Pulau Bawean, dengan batuan yang tersingkap
dengan baik di banyak lokasi (Gambar 1.11).

Gambar 1.11 Kenampakan Singkapan Batuan pada Formasi Gunungapi
Balibak di Air Terjun Murtalaje, Air Terjun Danau Kastoba, Air Terjun
Laccar (dari kiri ke kanan)
Singkapan yang ditemukan di lapangan umumnya berwarna abu-abu

kehitaman dan abu-abu kehijauan dengan tekstur batuan porfiroafanitik
sampai afanitik. Di lain tempat dijumpai singkapan yang memiliki struktur
berupa kekar lembaran dan juga terdapat singkapan dengan keadaan
masif.
d. Formasi Aluvium

Endapan aluvium merupakan formasi termuda yang ada di Pulau
Bawean. Endapan tersusun dari endapan kerakal, kerikil, pasir, lumpur, dan
lempung. Persebarannya relatif di daerah pesisir pantai. Endapan pasir
pantai yang masih aktif pembentukannya dapat dilihat pada pembentukan
Gili Noko, dimana dijumpai 2 pertemuan arus dari sisi timur dan sisi barat
yang membawa sedimen hasil rombakan terumbu karang di sekitar perairan
Gili Noko (Gambar 1.12). Timbulan pulau pasir Gili Noko (seluas 49,29 Ha,

10

Balai BKSDA Jatim, 2017) ini ada di bagian barat dari Pulau Noko (yang
tersusun oleh batuan beku andesit basaltik). Endapan pasir pantai dan
pembentukan Gili Noko secara geologi berumur Holosen (berumur muda).

Gambar 1.12 Endapan Pasir Aktif dari Gugusan Gili Noko

11

5. Kondisi Geomorfologis Pulau Bawean

Kondisi geomorfologis merupakan kondisi yang menggambarkan tentang
tinggi rendahnya suatu tempat terhadap permukaan air laut misalnya berupa
bentuk permukaan bumi Indonesia seperti dataran rendah, dataran tinggi dan
pegunungan.

Gambar 1.13 Peta DEM (Digital Elevation Model) Pulau Bawean,
Kabupaten Gresik, Propinsi Jawa Timur

Pada (Gambar 1.13) tersebut dipaparkan peta tentang hasil Digital
Elevation Model yang memberikan gambaran tentang bentuk permukaan
(topografi), hasil model tersebut menunjukkan bahwa Pulau Bawean memiliki
beberapa dataran tinggi yang menyebabkan daerah tersebut memiliki bentuk
khas berupa area perbukitan yang banyak dijumpai pada beberapa desa,
formasi tersebut diantaranya berdampak pada terciptanya beberapa puncak
yang cukup terkenal yaitu Puncak Gunung Soka (Gambar 1.14) dan dataran
tinggi Mayangkara (Gambar 1.15).

12

Gambar 1.14 Puncak Gunung Soka
Puncak ini Berada di desa Gunungteguh, Kecamatan Sangkapura.
Dibagian utara dibatasi oleh Gunung Soka. Dibagian selatan dibatasi oleh
dataran dan laut Jawa. Gunung Soka berada pada tinggian yang melereng ke
arah selatan.

Gambar 1.15 Puncak Mayangkara
Puncak Mayangkara berupa bukit yang menghadap timur dengan
pemandangan laut Jawa. Pada daerah ini juga memiliki ciri berupa lerengan
yang menjorok langsung ke area laut.

13

6. Kondisi Hidroklimatologis Pulau Bawean

Keunikan di Pulau bawean adalah melimpahnya air. Berbeda dengan
pulau kecil lain yang umumnya memiiki permasalahan ketersediaan air layak
minum. Pulau Bawean berdasarkan pengamatan, memiliki ketersediaan air yang
melimpah, baik permukaan maupun bawah permukaan. Salah satu cadangan air
yang besar adalah danau kastoba yang berada di sisi utara pulau Bawean,
dengan air yang selalu ada sepanjang tahun. Selain itu pulau Bawean memiliki
sistem drainase berupa sungai yang mengalirkan air dari hulu hingga ke hilir.
Mata air dan sumur banyak ditemukan dan dimanfaatkan warga untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari. Pulau Bawean beriklim tropis, sehingga terdapat 2 musim
yaitu musim kemarau dan musim hujan. Pada saat musim penghujan apabila curah
hujan tinggi, kondisi ini kan memicu terjadinya bencana alam seperti banjir dan
tanah longsor.

Gambar 1.16 Kondisi (a) Banjir dan (b) Longsor yang cenderung terjadi saat
intensitas hujan tinggi

14

7. Kondisi Tanah Pulau Bawean

Menurut Hoogerwerf, Pulau Bawean terbentuk dari sisa-sisa gunung
berapi tua dengan ketinggian maksimal 655 m yang membentuk kerucut
gunugapi. Terdiri dari batuan alkali yang mengandung asam silikon. Bahan
vulkanis terutama terdiri dari batuan leusit dan nefelin. Menurut cerita lisan orang
Bawean, terdapat 99 bukit di Pulau Bawean. Cerita ini bernuansa religius. Jumlah
99 dikaitkan dengan asmaul husna (nama-nama Allah yang indah). Bawean
dikenal dengan pulau yang kaya dengan bukit, apabila dilihat dari kejauhan di
tengah laut, tampak bukit-bukit yang lancip. Bukit tersebut adalah tanah berpasir
dengan kondisi tanah yang sangat subur. Kondisi tanah di Pulau Bawean cukup
menguntungkan untuk kegiatan pertanian. Tambahan pula curah hujan yang
relatif tinggi. Semua jenis tanaman bisa tumbuh dengan baik di Bawean seperti
padi, jagung, sorgum, semua jenis sayuran, durian, klengkeng, rambutan, buah
merah, cengkeh, pala, kopi dan lada. Bahkan buah kelapa, nanas, mangga dan
pisang kurang ada harganya karena masyarakat.

Sebagian besar tanah di wilayah Pulau Bawean adalah merupakan
sebagian dataran rendah yang cukup subur dengan jenis tanah mediteran coklat
kemerahan dan sebagian merupakan daerah berbukit sehingga di bagian
wilayah ini merupakan daerah yang cocok untuk pertanian. Potensi bahan-bahan
galian di wilayah ini cukup potensial dengan adanya jenis bahan galian mineral
non logam spesifik (batu onyx).

15

BAB II Jenis dan Karakteristik Bencana
Alam

1. Banjir

a. Pengertian Banjir
Banjir merupakan peristiwa ketika air menggenangi suatu wilayah

yang biasanya tidak digenangi air dalam jangka waktu tertentu. Banjir
biasanya terjadi karena curah hujan turun terus menerus dan mengakibatkan
meluapnya air sungai, danau, laut atau drainase karena jumlah air yang
melebihi daya tampung media penopang air dari curah hujan tadi. Selain
disebabkan faktor alami, yaitu curah hujan yang tinggi, banjir juga terjadi
karena ulah manusia. Contoh, berkurangnya kawasan resapan air karena
alih fungsi lahan, penggundulan hutan yang meningkatkan erosi dan
mendangkalkan sungai, serta perilaku tidak bertanggung jawab seperti
membuang sampah di sungai dan mendirikan hunian di bantaran sungai.

16

b. Faktor Pemicu Bencana Banjir

Gambar 2.1 Kondisi Banjir di Kecamatan Sangkapura, Bawean
Banjir pada umumnya disebabkan oleh beberapa faktor-faktor sebagai

berikut :
❖ Tidak adanya penyerapan air saat turun hujan akibat hutan yang hutan

yang gundul
❖ Selokan/saluran air yang tersumbat karena pembuangan sampah yang

sembarangan
❖ Daerah resapan air di daerah permukiman yang kurang
❖ Pendangkalan sungai
❖ Pembuangan sampah yang sembarangan, baik ke aliran sungai maupun

selokan
❖ Pembuatan saluran air yang tidak memenuhi syarat
❖ Pembuatan tanggul yang kurang baik
❖ Air laut, sungai atau danau yang meluap dan menggenangi lautan

17

c. Dampak Bencana Banjir

Gambar 2.2 Dampak Banjir di Pulau Bawean
Akibat banjir sungai karena tingkat curah hujan yang sangat tinggi di
daerah-daerah tangkapan air, membawa air lebih banyak kedalam sistim
hydrologi yang cukup dapat dikeringkan ke dalam kanal-kanal sungai yang
ada. Sedimen dasar-dasar sungai dan penggundulan hutan di daerah-
daerah tangkapan air yang memperburuk kondisi-kondisi yang
mengakibatkan terjadinya banjir.

18

2. Longsor

a. Pengertian Longsor
Longsor adalah pergerakan massa tanah, batuan dan/atau kombinasi

keduanya yang menuruni lereng dengan kecepatan tertentu. Bencana tanah
longsor seringkali dipicu karena kombinasi dari curah hujan yang tinggi,
lereng terjal, tanah yang kurang padat serta tebal, terjadinya pengikisan,
berkurangnya tutupan vegetasi, dan getaran.
b. Faktor Pemicu Bencana Longsor
❖ Erosi

Erosi adalah salah satu faktor penyebab tanah longsor. Erosi disebabkan
oleh aliran air permukaan atau air hujan, sungai-sungai atau gelombang
laut, yang menggerus kaki lereng hingga bertambah curam.
❖ Lereng dari bebatuan yang lemah
Faktor penyebab tanah longsor yang berikutnya adalah lereng dari
bebatuan dan tanah yang semakin lemah karena saturasi yang
diakibatkan oleh hujan lebat.

19

❖ Gempa bumi
Gempa bumi menimbulkan getaran, tekanan pada partikel-partikel, dan
bidang lemah pada massa batuan serta tanah. Oleh sebab itu, gempa
bumi dapat menjadi faktor penyebab tanah longsor.

❖ Gunung berapi
Gunung berapi dapat menciptakan simpanan debu yang lengang, hujan
lebat, dan aliran debu-debu. Tanah longsor yang disebabkan oleh gunung
berapi juga dapat mengandung abu vulkanik panas dan lahar dari letusan.

❖ Berat yang berlebihan
Berat atau beban yang berlebihan juga menjadi salah satu faktor
penyebab tanah longsor, contohnya adalah adanya bangunan yang
berada pada area lereng.

❖ Aktivitas manusia
Aktivitas manusia seperti pertanian dan kontruksi dapat meningkatkan
risiko tanah longsor. Penebangan pohon, penggalian, dan kebocoran air
juga termasuk aktivitas manusia yang membantu melemahkan lereng.

c. Dampak Bencana Longsor
Terjadinya bencana tanah longsor memiliki dampak yang sangat besar

terhadap kehidupan, khususnya manusia. Bila tanah longsor itu terjadi pada
wilayah yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, maka korban jiwa
yang ditimbulkannya akan sangat besar, terutama bencana tanah longsor
yang terjadi secara tiba-tiba tanpa diawali adanya tanda-tanda akan
terjadinya tanah longsor. Adapun dampak yang ditimbulkan dengan
terjadinya tanah longsor terhadap kehidupan adalah sebagai berikut:
❖ Bencana longsor banyak menelan korban jiwa
❖ Terjadinya kerusakan infrastruktur seperti jalan, jembatan dan rumah atau

bangunan
❖ Terjadinya kerusakan lahan dan hilangnya vegetasi penutup lahan
❖ Terganggunya keseimbangan ekosistem

20

3. Gelombang Tinggi

a. Pengertian Gelombang Tinggi
Gelombang adalah gerakan naik turunnya permukaan air laut yang

berlangsung secara periodik dan umumnya disebabkan oleh angin.
Gelombang pada umumnya bergerak menuju pantai hingga pecah dan
mempengaruhi geomorfologi pantai. Pecahnya gelombang ketika sampai ke
pantai dipengaruhi oleh gesekan dasar laut perairan dangkal yang
mereduksi gerakan melingkar dari partikel-partikel paling bawah dari
gelombang.

Gelombang tinggi dapat menjadi ekstrim ketika dibangkitkan oleh angin
badai yang terjadi di perairan laut. Gelombang dikatakan ekstrim
berdasarkan dampak kerusakan yang ditimbulkan, berupa rusaknya
bangunan pantai, menyebabkan abrasi pantai dan dapat pula ditinjau dari
penghambatan aktivitas pelayaran, perikanan yang umumnya sehari-hari
berlangsung di suatu perairan tertentu.

21

b. Faktor Pemicu Gelombang Tinggi
Gelombang tinggi dan angin kencang yang terjadi disebabkan oleh

adanya pertemuan siklon tropis (angin) dan low pressure (cikal bakal siklon
tropis) yang terjadi di bagian bawah pulau Bali. Jika low pressure meningkat
menjadi siklon tropis maka kecepatan angin dapat mencapai kecepatan
diatas 100 km/jam yang sangat berbahaya untuk aktivitas pelayaran. Untuk
memahami tentang pemicu terjadinya gelombang tinggi dapat disimak pada
link video tentang proses terjadinya gelombang berikut.

https://www.youtube.com/watch?v=eiUXb5ibw1E

22

c. Dampak Bencana Gelombang Tinggi
❖ Penyusutan lebar pantai secara terus menerus sehingga menyempitnya
lahan bagi penduduk yang tinggal di pinggir pantai.
❖ Kerusakan sarana dan prasarana, termasuk perumahan, infrastruktur
transportasi, dan pelabuhan.
❖ Kerugian ekonomi karena nelayan tidak bisa melaut, dan kerusakan
infrastruktur jalan menyebabkan akses dari daerah tersebut menjadi
terputus.
❖ Kehilangan tempat berkumpulnya ikan-ikan perairan pantai karena
terkikisnya hutan bakau.
❖ Kerusakan hutan bakau di sepanjang pantai karena terpaan ombak yang
didorong angin kencang.

23

BAB III Siklus Penanggulangan Bencana
Alam

Gambar 3.1 Siklus Penanggulangan Bencana

Rangkaian kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana dapat
digambarkan dalam siklus penanggulangan bencana (Gambar 3.1). Pada
dasarnya, penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi tiga tahapan
berikut:
1. Pra-bencana, yang meliputi:

a. Dalam situasi tidak terjadi bencana
b. Dalam situasi terdapat potensi terjadinya bencana
2. Tanggap darurat, dilakukan dalam situasi terjadi bencana, kegiatannya
meliputi
a. Penyelamatan dan evakuasi korban dan harta benda
b. Pemenuhan kebutuhan dasar
c. Perlindungan
d. Pengurusan pengungsi penyelamatan
e. Pemulihan prasarana dan sarana

24

3. Pasca bencana, dilakukan saat setelah terjadi bencana dalam rangka
pemulihan, kegiatannya meliputi:
a. Rehabilitasi
b. Rekonstruksi
Tahapan bencana yang digambarkan di atas, sebaiknya tidak dipahami

sebagai suatu pembagian tahapan yang tegas, dimana kegiatan pada tahap
tertentu akan berakhir pada saat tahapan berikutnya dimulai. Akan tetapi harus
dipahami bahwa setiap waktu semua tahapan dilaksanakan secara bersama-
sama dengan porsi kegiatan yang berbeda. Misalnya pada tahap pemulihan,
kegiatan utamanya adalah pemulihan tetapi kegiatan pencegahan dan mitigasi
juga sudah dimulai untuk mengantisipasi bencana yang akan datang.

25

BAB IV Lembaga-Lembaga yang

Berkontribusi dalam Mitigasi

Bencana Alam

1. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
(BMKG)

Lembaga berupa BMKG (Badan
Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)
merupakan lembaga yang memiliki peran
penting dalam memberikan informasi kepada
publik terkait dengan potensi bencana yang akan
terjadi pada suatu wilayah pada waktu tertentu.
Hal ini merupakan aspek penting dalam tahapan
pra-bencana untuk mendeteksi secara dini
sehingga upaya penanggulangan bencana
menjadi lebih efektif dan efisien.
Informasi yang disampaikan BMKG tidak hanya mengenai
kebencanaan. BMKG tak hanya berurusan mengenai hujan, suhu, atau cuaca.
Peran BMKG sangat penting untuk memperkirakan kemungkinan-
kemungkinan berkaitan dengan cuaca, iklim, hingga bencana alam. Jasa
BMKG begitu besar bagi mitigasi bencana di Indonesia. Karena informasi
dari BMKG, masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan dan kehati-
hatian dalam menyikapi fenomena bencana.

26

Kepanjangan BMKG adalah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan
Geofisika. Badan ini menyelenggarakan fungsi terkait mitigasi di
antaranya:
a. Memperkirakan cuaca
b. Mendeteksi dini gempa bumi
c. Memprediksi potensi tsunami
d. Memperhitungkan iklim
e. Menghitung kualitas udara

2. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

Lembaga BNPB yang merupakan
singkatan dari Badan Nasional Penanggulangan
Bencana merupakan lembaga yang didasarkan
pada Undang-undang nomor 24 tahun 2007
tersebut memiliki visi berupa “Ketangguhan
Bangsa Dalam Menghadapi Bencana”.

Sesuai kondisi faktual lingkungan strategis upaya penanggulangan
bencana, serta kemampuan untuk mewujudkan visi “Ketangguhan Bangsa Dalam
Menghadapi Bencana” secara sistematis dan bertahap yang menuntut adanya
kesiapan dalam menghadapi potensi bencana serta kemampuan untuk
menanggulangi bencana pada saat maupun setelahnya. Untuk itu, misi BNPB
dirumuskan sebagai berikut :
a. Melindungi bangsa dari ancaman bencana melalui pengurangan risiko

bencana
b. Membangun sistem penanggulangan bencana yang handal
c. Menyelenggarakan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu,

terkoordinasi dan menyeluruh

27

BAB V Mitigasi dan Adaptasi Bencana

Alam

1. Mitigasi

Mitigasi Bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko
bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan
peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Pencegahan atau
mitigasi bencana adalah tindakan atau upaya melalui berbagai cara, untuk
mencegah terjadinya bencana atau paling tidak mengurangi efeknya.
Tingkat resiko bencana selain ditentukan oleh potensi bencana juga
ditentukan oleh upaya mitigasi bencana dan kesiapsiagaan dalam
menghadapi bencana.

Dalam siklus penanggulangan bencana, mitigasi bencana termasuk
dalam kategori pra-bencana dimana situasi tidak terjadi bencana. Upaya
atau kegiatan dalam rangka pencegahan dan mitigasi yang dilakukan,
bertujuan untuk menghindari terjadinya bencana serta mengurangi resiko
yang ditimbulkan oleh bencana. Maka dapat disimpulkan bahwa mitigasi
bencana merupakan setiap aspek dan upaya untuk mengurangi terjadinya
dampak negatif dari bencana yang terjadi baik secara alami ataupun
karena tindakan manusia. Beberapa aspek mitigasi yang bisa dilakukan
sesuai bencana yang terjadi dijabarkan sebagai berikut:
a. Bencana Banjir

Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam mitigasi sebagai berikut:
❖ Penataan daerah aliran sungai secara terpadu dan sesuai fungsi lahan
❖ Tidak membangun rumah dan pemukiman di bantaran sungai serta di

daerah banjir

28

❖ Pemasangan pompa untuk daerah yang lebih rendah dari pemukiman
laut

❖ Program penghijauan daerah hulu sungai harus selalu dilaksanakan
serta mengurangi aktifitas di bagian sungai rawan banjir.

b. Tanah Longsor
Beberapa hal terkait dengan pendeteksian dini sebelum terjadinya

tanah longsor yaitu:
❖ Munculnya retakan vertikal pada tebing
❖ Munculnya air tanah secara tiba-tiba
❖ Air sumur di sekitar tebing menjadi keruh
❖ Adanya longsoran batu-batu kecil

Sedangkan beberapa daerah rawan tanah longsor yaitu:
❖ Daerah dengan sejarah longsor yaitu tebing yang tidak ditumbuhi

pohon (gersang)
❖ Daerah tempat mengalirnya air hujan yang merupakan daerah dengan

curah hujan yang tinggi sepanjang tahun

Sedangkan beberapa langkah yang bisa dilakukan dalam mitigasi
dan upaya pengurangan risiko bencana tanah longsor yaitu:
❖ Hindarkan daerah rawan bencana untuk pembangunan pemukiman dan

fasilitas utama lainnya
❖ Mengurangi tingkat keterjalan lereng permukaan maupun air tanah.

(Fungsi drainase adalah untuk menjauhkan air dari lereng, menghindari
air meresap ke dalam lereng atau menguras air ke dalam lereng ke
luar lereng. Jadi drainase harus dijaga agar jangan sampai tersumbat
atau meresapkan air ke dalam tanah)
❖ Pembuatan bangunan penahan, jangkar (anchor) dan pilling
❖ Terasering dengan sistem drainase yang tepat (drainase pada teras -
teras dijaga jangan sampai menjadi jalan meresapkan air ke dalam

29

tanah. Penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam
dan jarak tanam yang tepat (khusus untuk lereng curam, dengan
kemiringan lebih dari 40 derajat atau sekitar 80% sebaiknya tanaman
tidak terlalu rapat serta diseling-selingi dengan tanaman yang lebih
pendek dan ringan, di bagian dasar ditanam rumput)
❖ Mendirikan bangunan dengan fondasi yang kuat
❖ Melakukan pemadatan tanah di sekitar perumahan
❖ Pengenalan daerah rawan longsor
❖ Menanami kawasan yang gersang dengan tanaman yang memiliki
akar kuat, banyak dan dalam seperti nangka, durian, pete, kaliandra
dan sebagainya
❖ Tidak mendirikan bangunan permanen di daerah tebing dan tanah
yang tidak stabil (tanah gerak)
❖ Membuat selokan yang kuat untuk mengalirkan air hujan. Waspada
ketika curah hujan tinggi
❖ Jangan menggunduli hutan dan menebang pohon sembarangan

c. Gelombang Tinggi
Mitigasi yang bisa dilakukan dalam upaya pengurangan risiko

bencana gelombang tinggi yaitu:
❖ Peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap bahaya

gelombang tinggi
❖ Pembangunan tembok penahan air pasang pada garis pantai yang

berisiko
❖ Penanaman mangrove serta tanaman lainnya sepanjang garis pantai

untuk meredam gelombang tinggi
❖ Peningkatan pengetahuan masyarakat lokal khususnya yang tinggal

di pinggir pantai tentang pengenalan tanda-tanda gelombang tinggi
cara-cara penyelamatan diri terhadap bahaya gelombang tinggi
❖ Pembangunan rumah yang tahan terhadap bahaya gelombang tinggi

30

❖ Melaporkan secepatnya jika mengetahui tanda-tanda akan
terjadinya gelombang tinggi kepada petugas yang berwenang :
Kepala Desa, Polisi, Stasiun Radio, SATLAK PB maupun institusi terkait

❖ Melengkapi diri dengan alat komunikasi

2. Adaptasi

Adaptasi adalah suatu strategi penyesuaian diri yang digunakan
manusia selama hidupnya untuk merespon terhadap perubahan-perubahan
lingkungan dan sosial. Adaptasi terhadap bencana adalah kemampuan
suatu sistem untuk menyesuaikan diri dari dampak yang diakibatkan oleh
bencana dengan cara mengurangi kerusakan yang ditimbulkan, mengambil
manfaat atau mengatasi perubahan dengan segala akibatnya.
a. Bencana Banjir

Beberapa hal yang perlu dilakukan ketika banjir adalah sebagai
berikut:
❖ Hindari berjalan di dekat saluran air untuk menghindari terseret arus

banjir
❖ Matikan aliran listrik di dalam rumah atau hubungi PLN untuk mematikan

aliran listrik di wilayah yang terkena bencana
❖ Mengungsi ke daerah aman atau posko banjir sedini mungkin saat

genangan air masih memungkinkan untuk dilewati
❖ Segera amankan barang-barang berharga ke tempat yang lebih

tinggi
❖ Jika air terus meninggi hubungi instansi yang terkait dengan

penanggulangan bencana seperti Kantor Kepala Desa, Lurah ataupun
Camat

Selanjutnya beberapa hal yang perlu dilakukan setelah banjir
adalah sebagai berikut:

31

❖ Secepatnya membersihkan rumah, gunakan antiseptik untuk membunuh
kuman penyakit

❖ Cari dan siapkan air bersih untuk menghindari terjangkitnya penyakit
diare

b. Tanah Longsor
Adaptasi masyarakat terhadap longsor lahan dalam penelitian ini

difokuskan pada bentuk adaptasi yang dilihat dari aspek fisik, aspek
ekonomi dan aspek sosialnya saja dalam mengurangi risiko bencana
longsor lahan, adaptasi masyarakat dari aspek fisik dapat dilihat dari
kontruksi bangunan, lingkungan dan infrastruknya yang bersifat
meminimalisir ataupun mencegah terjadinya longsor lahan, serta dari
aspek sosial seperti pengajian, penanaman pohon, gotong-royong, dan
musyawarah yang dipercaya dan dilakukan masyarakat untuk
mengurangi dampak yang diakibatkan longsor lahan.
❖ Strategi Ekonomi: Membentuk kelompok arisan, mendirikan koperasi,

melakukan kerja sampingan sebagai petani
❖ Strategi Struktural: Memasang bronjong kawat & dinding penguat,

memperkuat konstruksi jalan, menutup retakan pada tanah,
membangun & menyiapkan tempat evakuasi. Terasering.
❖ Strategi Sosial: Penanaman pohon, musyawarah, pengajian, ronda
malam, gotong royong, bersama-sama membersihkan material
longsor

32

c. Gelombang Tinggi
Rencana adaptasi pembangunan wilayah pesisir dan kelautan

terhadap dampak gelombang tinggi dari komponen: pengelolaan
bentang laut (sea scape management), pendekatan ekosistem dalam
pengelolaan perikanan, penerapan ‘resilient principles’ dalam
pembangunan jejaring kawasan konservasi laut, mitigasi bencana,
rehabilitasi pesisir dan mengurangi dampak kerusakan dari pengaruh
perubahan iklim global. Sedangkan beberapa hal yang bisa dilakukan
terkait dengan beberapa hal yang dilakukan saat terjadi gelombang
tinggi yaitu:
❖ Pemberitahuan dini kepada masyarakat dari hasil prakiraan cuaca

melalui radio dan alat komunikasi
❖ Bila sedang berlayar di tengah laut, usahakan menghindari daerah

laut yang sedang dilanda cuaca buruk
❖ Membuat atau merencanakan pengungsian apabila terjadi

gelombang tinggi di pinggir pantai
❖ Membuat infrastruktur pemecah ombak untuk mengurangi energi

gelombang yang datang terutama di daerah pantai yang
bergelombang besar
❖ Saat gelombang tinggi terjadi, jauhi pantai dan berlarilah ke dataran
yang lebih tinggi

33

Soal Evaluasi

A. Pilihan Ganda

Petunjuk: Jawablah pertanyaan ini dengan memberikan tanda silang (X) pada

jawaban yang Anda anggap benar !

1. Klasifikasi bencana alam dibagi menjadi 3 yaitu…

a. Bencana banjir, longsor dan c. Bencana alam geologis,

kebakaran meteorologis dan ekstraterestrial

b. bencana longsor, gelombang d. Bencana alam oleh manusia,

tinggi dan kebakaran hewan dan bencana buatan

2. Contoh bencana alam geologis yaitu…

a. Gempa bumi c. Banjir

b. Kekeringan d. Badai matahari

3. Contoh bencana alam ekstraterestrial yaitu…

a. Gempa bumi c. Banjir

b. Kekeringan d. Badai matahari

4. Kondisi yang berkaitan dengan letak suatu daerah dilihat dari

kenyataanya di bumi atau posisi daerah itu pada bumi dibandingkan

dengan posisi daerah lain disebut kondisi…

a. Kondisi geografis c. Kondisi geomorfologis

b. Kondisi geologis d. Kondisi Hidroklimatologis

5. Kondisi banjir di Bawean yang sering terjadi ketika mengalami intensitas

air hujan yang tinggi merupakan contoh dari bencana…

a. Bencana alam geologis c. Bencana alam ekstraterestrial

b. Bencana alam meteorologis d. Bencana alam akibat ulah manusia

6. Dibawah ini yang bukan salah satu pemicu bencana longsor yang terjadi

di Bawean yaitu…

a. Erosi c. Berat yang berlebihan

b. Lereng dari bebatuan yang d. Gunung berapi

lemah

7. Sektor pekerjaan yang paling dirugikan dari aspek pendapatan dan
perekonomian dari bencana gelombang tinggi adalah…

34

a. Nelayan c. Petani
b. Guru d. Tukang bangunan

8. Tahapan penanggulangan bencana pada aspek pasca bencana yaitu…
a. Perlindungan dan Perencanaan c. Rehabilitasi dan rekonstruksi
b. Perencanaan dan pengungsian d. Penyelamatan dan evakuasi

9. Dibawah ini yang bukan termasuk peran BMKG dalam mitigasi bencana

yaitu…

a. Memperkirakan cuaca c. Mendeteksi dini gempa bumi

b. Memberikan bantuan kepada d. Memperhitungkan iklim

korban bencana alam

10. Mitigasi bencana banjir dapat dilakukan dengan cara berikut, kecuali…

a. Penataan daerah aliran sungai c. Menambah area resapan air

b. Program penghijauan d. Meningkatkan pembangunan lahan

dengan sistem cor

B. Uraian
Petunjuk: Jawablah pertanyaan ini dengan memberikan uraian secara
lengkap sesuai dengan pertanyaan yang diajukan !
1. Apa yang dimaksud dengan mitigasi bencana?
2. Sebutkan apa saja faktor penyebab terjadinya banjir di Pulau Bawean?
3. Apa saja tanda atau pendeteksian dini sebelum terjadinya tanah longsor?
4. Gelombang tinggi seringkali berdampak pada kondisi ekonomi
masyarakat pesisir, Uraikan pendapat Anda tentang cara adaptasi yang
bisa dilakukan masyarakat pesisir ketika terjadi bencana gelombang
tinggi!
5. Pada visi BNPB yaitu “ketangguhan bangsa dalam menghadapi
bencana”, jelaskan makna dari visi tersebut!

35

Daftar Pustaka

Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana. 2007. Pengenalan
Karakteristik Bencana Dan Upaya Mitigasinya di Indonesia. Jakarta:
Direktorat Mitigasi

BNPB. 2012. Buku Saku Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana.
Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana

_______ 2020. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2020-2024.
Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. 2017. Modul Manajemen
Penanggulangan Bencana Pelatihan Penanggulangan Bencana Banjir.
Bandung: Badan Pusat Pengembangan Sumberdaya Manusia

Pemerintah Kabupaten Gresik dan Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat
UGM. 2019. Laporan Akhir Tahun Anggaran 2019. Gresik: Badan
Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. 2020. Kuasa Kala: Bawean dalam Lintas
Narasi. Yogyakarta: Balai Arkeologi Provinsi D.I Yogyakarta

Banjir Terparah di Pulau Bawean. Artikel dalam
https://www.mediabawean.com/2021/01/banjir-terparah-di-pulau-
bawean.html. Diakses pada tanggal 12 November 2021, 21:32 WIB

Kenapa Memasuki Pulau Bawean, Gelombang Laut Lebih Tinggi?. Artikel dalam
https://www.mediabawean.com/2011/12/kenapa-memasuki-pulau-
bawean-gelombang.html. Diakses pada tanggal 13 Januari 2022, 13:54
WIB

Arus Balik Lebaran dari Bawean Terhalang Gelombang Tinggi. Artikel dalam
http://www.mediabawean.com/2018/06/arus-balik-lebaran-dari-
bawean.html. Diakses pada tanggal 21 Februari 2022, 19:38 WIB

36

Identitas Penulis

Rizki Ardiansyah (peneliti) dilahirkan di Banyuwangi
tepatnya di Dusun Temurejo, RT 002, RW 007,
Kembiritan, Genteng, Banyuwangi pada tanggal 15
Maret 1995. Penulis merupakan anak dari pasangan
Mardi Winoto (ayah) dan Anik Suprapti (Ibu). Penulis
menenmpuh pendidikan dasar pada tahun 2001- 2007
di SDN 5 Jajag, dan melanjutkan pada tingkat SLTP.
pada tahun 2007- 2010 di SMPN 1 Gambiran dan melanjutkan pendidikan SLTA
nya pada tahun 2010- 2013 di SMKN 5 Malang, yang kemudian memilih
Perguruan Tinggi di Kota Malang (Universitas Brawijaya Malang) pada tahun
2013 untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Pertanian. Selama menjadi
mahasiswa, penulis juga pernah melakukan kegiatan magang pada tahun 2016 di
Puri Bagus Agrowisata Plaga.

37

Bahan ajar tentang mitigasi bencana alam ini dikhususkan untuk
siswa kelas XI SMA/MA jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) yang
terdapat di Pulau Bawean, sehingga setiap materi dan penjelasan
yang terdapat dalam bahan ajar ini menggambarkan tentang
kondisi dan beberapa fenomena bencana alam yang terjadi di
Pulau Bawean.

Melalui bahan ajar ini diharapkan bisa meningkatkan
pengetahuan dan kesadaran dari siswa serta pembaca secara
umum terkait dengan langkah-langkah yang bisa digunakan
dalam meminimalisir kerugian atau dampak negatif yang
disebabkan bencana alam.

Bahan ajar ini juga disediakan dalam format soft file yang bisa
diunduh dan digunakan secara bebas oleh peneliti, tenaga
pendidik dan pihak lain secara terbuka tanpa unsur komersialisasi.

Jurusan Pendidikan Geografi
Fakultas Ilmu Sosial
Universitas Negeri Malang
Jalan Semarang No. 5 Sumbersari
Kecamatan Lowokwaru
Kota Malang - Jawa Timur
65145


Click to View FlipBook Version