The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by My Flower English, 2020-02-05 02:30:00

Perbaiki Diri

Perbaiki Diri

Perbaiki Diri…
Let’s Hijrah!

Sumber:
Instagram & Youtube Aa Gym Official/Kajian Singkat KH Abdullah Gymnastiar

Kandungan

1. Ikhlas
2. Agar Mendapat Pertolongan Allah
3. Istiqomah Dzikrullah
4. Jangan Buang Waktu
5. Terus Gigih Mencari Ilmu
6. Pemilik Hati Yang Bersih
7. Mencintai Sesama Makhluk
8. Sempurna Dalam Melakukan
9. Bahagia Dengan Ikhlas Memberi
10. Setiap Mikir Jadi dzikir
11. Usaha Yang Berkah
12. Keberuntungan Seseorang
13. Yakin Kepada Allah
14. Sedikit Kebaikan
15. Diterimanya Amal Sholeh
16. Husnul Khotimah
17. “Kita Jumpa di Puncak”

- Sebuah Nota Motivasi

1. Ikhlas

Ikhlas itu ada tiga tempatnya. Di awal, di tengah dan di akhir. Di awal bisa ikhlas
tanpa mengharapkan apapun tapi di tengah bisa belok niatnya. Oleh karena itu
harus sungguh-sungguh menjaga niat karena kebahagiaan itu ada dalam
keikhlasan. Nikmatnya beramal juga ada dalam keikhlasan. Maka kalau di
tengah hilang keikhlasan, hilang pula kebahagiaan dan kenikmatan beramal.

Dan yang ketiga sesudah beramal kita harus benar-benar sekuat tenaga
menjauhi dari kerinduan memamerkan kebaikan kita karena sebetulnya bukan
kita yang berbuat baik tapi Alloh yang membimbing kita berbuat baik. Seperti
kita sedekah ke anak yatim. Sebetulnya bukan kita yang bersedekah tapi Alloh
memberi rezeki kepada mereka dan kita dititipi jadi jalan.

Kalau kita ikhlas maka jadilah pahalanya ganjarannya untuk kita. Tapi kalau kita
merasa berjasa, merasa sudah berbuat yang terbaik dari tenaga kita maka bisa
hilang pahalanya. Kita menolong orang lain dalam bentuk apapun sebetulnya
Alloh lah yang menolong mereka dan kita menjadi jalan. Mudah-mudahan kita
menjadi orang yang ikhlas di awal, di tengah dan di akhir sehingga semua amal
yang kita lakukan bisa kita nikmati kebahagiaannya, bisa mengangkat derajat
kita dan bisa jadi bekal pulang kita nanti.

2. Agar Mendapat Pertolongan Allah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Mengatur segala-galanya. Lihatlah tubuh kita
ini. Begitu rumit. Pelik tidak terbayangkan dengan jumlah sel hampir 100
milyar, 100 triliun sel dengan beragam bentuk dan beres setiap saat urusan
tubuh kita ini. Lalu silahkan bandingkan dengan persoalan hidup yang kita
jalanin, sangat remeh dibanding dengan kerumitan tubuh kita.

Sayang kita lebih sibuk mengurus urusan kita tanpa mengandalkan pertolongan
Allah. Padahal jelas kita mengurus diri saja tidak bisa tanpa pertolongan Allah.
Mengurus tubuh saja tidak sanggup tanpa pertolongan Allah.

Maka beruntunglah orang-orang yang selalu mendekat kepada Allah. Karena
ketaqwaan lah yang jalan keluar terbaik yang mendatangkan pertolongan Allah.

3. Istiqomah Dzikrullah

Istiqomah yang pertama yang harus kita perjuangkan adalah istiqomah
dzikrullah. Kita kadang-kadang ingin istiqomah tahajud, ingin istiqomah baca
Qur’an tapi hari-harinya kurang dzikirnya.

Kenapa kita gampang maksiat? Karena tidak berdzikir. Jadi hati lengah dari
Allah, setan yang nipu. Kalau dipenuhi dengan dzikrullah, setan juga susah
nipunya. Allah tahu kita sedang dzikir. “Aa, saya tuh dzikir lisan saya tapi hati
saya ko belum dzikir.” Lisan saja dulu yang bagus. “cing” istiqomah. Nanti Allah
yang melihat kita sedang dzikir mudah untuk menambah istiqomahnya dzikir di
hati.

4. Jangan Buang Waktu

Jangan sibuk mengomentari apa yang tidak perlu dikomentari. Jangan sibuk
mengurusi yang bukan bagian urusannya kecuali menjadi kewajiban. Jangan
sibuk memikirkan yang tidak perlu dipikirkan. Jangan buang waktu kecuali
untuk yang benar-benar harus kita lakukan.

Dan sebaik-baik apa yang kita lakukan adalah kalau kita dibimbing oleh Allah.
Dan bimbingan Allah diberikan kepada orang yang paling banyak dzikrulloh
ta’ala. Makin jarang berdzikir seperti lampu yang padam. Makin banyak
berdzikir seperti lampu yang bercahaya. Lebih ringan, lebih jelas. Maka
sibukkanlah dengan dzikrulloh. Insya Allah, Allah akan membimbing lisan,
pikiran, hati dan sikap kita. Wadzkurullaha katsiron la’allakum tuflihun. “Dan
berdzikirlah sebanyak-banyaknya niscaya engkau akan beruntung.” Semoga
kita menjadi orang yang selalu basah lisan ini menyebut nama Allah. Aamin Ya
Robbal Alamin.

5. Terus Gigih Mencari Ilmu

Dari waktu ke waktu, masalah kita akan bertambah. Keperluan akan
bertambah. Kesulitan juga akan bertambah. Namun semua kesulitan dan
keperluan akan menjadi ringan kalau iman kita bertambah. Dan pupuk iman
adalah ilmu.

Barangsiapa yang tiap hari ilmunya tidak bertambah, maka dia akan digulung,
dilindas oleh masalah yang ada. Oleh karena itu wajib bagi kita untuk lebih gigih
mencari ilmu terutama ilmu yang manfaat.

Ilmu yang manfaat itu dua kuncinya. Satu, ilmu mengenal Allah sehingga kita
kenal nama dan sifat Allah. Yang kedua adalah ilmu apa yang Allah sukai, amal
apa yang Allah sukai dan yang tidak Allah sukai. Tanpa mengenal dua fondasi ini
ilmu apapun yang kita miliki tidak akan karena Allah dan belum tentu
diamalkan di jalan Allah. Mudah-mudahan tiada hari tanpa bertambah ilmu dan
bertambah amal. Aamin Ya Robbal Alamin.

6. Pemilik Hati Yang Bersih

Kita sering berdoa untuk sesuatu yang kita inginkan di luar diri kita. Ingin ini.
Ingin itu. Tapi apakah kita sudah sungguh-sungguh berdoa untuk memiliki hati
yang bersih? Untuk memiliki kemampuan menjauhi maksiat?

Kadang-kadang kita hanya meminta yang di luar diri kita, yang jauh. Padahal
hati ini harus kita minta kepada Allah supaya memiliki hati yang khusyu’, pikiran
yang jernih, kemampuan mengendalikan nafsu agar tidak diperbudak
keinginan. Kita harus minta agar kita tidak diperbudak syahwat, amarah karena
diri kita pun sepenuhnya dalam genggaman Allah. Kita tidak bisa berubah
kecuali Allah yang mengubahnya.

7. Mencintai Sesama Makhluk

Kepada yang sesama Islam tentu kita harus mencintai tetapi kepada yang
belum beragama Islam, mereka juga hamba Allah. Ciptaan Allah. Seharusnya
ada keinginan bagi kita agar sesedikit mungkin orang yang masuk neraka,
sebanyak mungkin masuk syurga.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdiri pada waktu ada seorang
yahudi yang meninggal. Ditanya, “Rasul bukankah dia yahudi?” Rasulullah
menjawab, “bukankah dia manusia?” Satu orang tidak selamat menuju syurga.
Begitulah hadirin. Kepada binatang juga begitu. Pemberi minum seekor anjing
padahal dia seorang penzina. Allah menyukai amalnya dan diampuni dosanya.
Kalau akhlak kepada anjing saja begitu, apalagi kepada sesama.

8. Sempurna Dalam Melakukan

Kita sering melakukan sesuatu tapi yang mungkin agar tertinggal adalah
menyempurnakan apa yang bisa kita lakukan. Contoh barusan sholat. Kita
sholat. Tapi apakah kita berusaha menyempurnakan sholat kita atau tidak. Kita
wudhu. Apakah kita berusaha menyempurnakan wudhu atau alakadarnya saja?

Termasuk dzikir. Kadang hanya lisan saja. Hati tidak ikut. Juga dalam munajat.
Kadang kita munajat benar-benar alakadarnya padahal Allah memperhatikan
kita, mendengarkan apa yang kita ucapkan. Kadang kita melakukan sesuatu
tanpa niat yang jelas. Amal juga tidak kita sempurnakan padahal kita sanggup
melakukannya.

9. Bahagia Dengan Ikhlas Memberi

Kita berfikir kebaikan orang, berfikir keburukan orang, mana yang lebih
menenangkan hati? Kita diberi orang, senang tapi sebetulnya ada yang lebih
menyenangkan, memberi orang lain. Dan ada yang paling menyenangkan,
memberi orang lain dengan ikhlas.

Makanya siapapun yang ingin bahagia, lakukan saja apa yang Allah suka. Di
sanalah letaknya bahagia. Terutama putus berharap dari makhluk. Semakin
banyak berharap dari makhluk semakin tertekan hidup ini.

Semakin berharap hanya dari Allah akan semakin nikmat. Dan asal tau saja
tidak ada yang terjadi tanpa ijin Allah. Apapun strategi kita, apapun ikhtiar kita,
kalau Allah tidak mengijinkan, tidak terjadi. Bukan perkata-kata orang kata ini,
kata itu, tidak. Yang terjadi itulah apa yang Allah mau.

10. Setiap Mikir Jadi Dzikir

Kita tuh kebanyakan mikir, kurang dzikir. Makanya hidup ini terpelintir, mutir-
mutir. Stres itu karena kebanyakan mikir. Galau, risau, resah, gelisah. Itu pasti
kebanyakan mikir dan kurang dzikir. Jadi gimana nih? Apa kita tidak boleh
mikir? Siapa yang melarang? Harus mikir tapi setiap mikir jadi dzikir. Setiap
mikir tidak jadi dzikir, stres. Setiap mikir jadi dzikir, huwalladzi anzala sakinah
(Dialah yang telah menurunkan ketenangan). Itu rumusnya.

11. Usaha Yang Berkah

Bahwa ciri usaha yang diberkahi Allah itu adalah nyaman. Nyaman itu hanya
akan ada kalau hatinya baik, hatinya tulus. Allah menghadiahi hati yang baik itu
dengan nyaman. Kita akan nyaman dan orang lain di sekitar kita akan nyaman.

Jauhi penyakit tengil. T nya adalah takabbur. Ciri orang yang sombong itu dua.
Satu mendustakan kebenaran. Jadi dia tidak suka mendapatkan input
kebenaran apapun. Yang kedua, meremehkan dan merendahkan orang lain.

Hati-hati yah. Setiap orang berpotensi jadi orang yang sombong. Pokoknya
kalau orang sudah terkunci oleh merasa diri benar, paling benar, itu dia tidak
akan nyaman dan orang di sekitarnya pun tidak nyaman.

12. Keberuntungan Seseorang

Salah satu keberuntungan dalam hidup kita adalah kita jadi bagian penyeru ke
jalan kebaikan. Jadi kita harus memperbaiki diri, sholih. Dan juga kita harus
mengajak orang lain menjadi lebih baik. Muslih.

Jadi tidak cukup hidup ini hanya memperbaiki diri. Kita memperbaiki diri dalam
rangka mengajak orang lain menjadi baik. Kita tidak boleh acuh kepada
keadaan. Kita harus terlibat dalam skala apapun dan tidak usah menunggu
sempurna. Kalau kita menunggu sempurna maka tidak ada orang yang
berdakwah karena tidak ada orang yang sempurna selain Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam.

13. Yakin Kepada Allah

Sekali lagi yang paling penting dalam hidup ini adalah kita yakin kepada Allah.
Kalau sudah yakin kepada Allah itu sudah segala urusan menjadi mudah. Yakin
Allah yang memberi rezeki kita tidak akan gentar lagi dengan dollar naik, bbm
naik turun dan sebagainya. Karena tugas kita bukan mikirin bbm.

Tugas kita itu ibadah. Bbm naik bbm turun, harga naik harga turun semuanya
bisa jadi amal sholeh bagi kita. Kalau kita sudah yakin yang membolak balik hati
itu adalah Allah Muqollibal Qulub, kita tidak akan jaim di depan orang. Kita
tidak akan maksa supaya orang suka ke kita karena kita tau maksa itu tidak ada
apa-apanya.

14. Sedikit Kebaikan

Jangan sia-siakan kebaikan sekecil apapun. Sambil duduk, siapa tahu mata kita
bisa melihat ada sampah di tempat sujud. Siapa tau sampah yang kita pungut
itulah yang membuat Allah suka kepada kita karena amalan yang disukai Allah
yang kita anggap remeh, tidak merasa hebat, tidak merasa bangga dengan
amalan kita, itulah amal yang Allah sukai.

Ikhlas semuanya. Justru ketika kita bisa merasa beramal besar, beramal hebat,
saya orang penting, saya orang berjasa, tanpa saya tidak akan terjadi. Ketika
kita merasa, kita adalah orang ujub. Padahal tidak mungkin kita bisa berbuat
apapun tanpa pertolongan Allah. Semua kebaikan yang kita lakukan, hakikatnya
adalah hidayah taufik Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

15. Diterimanya Amal Sholeh

Tidak ada yang lebih penting dalam hidup ini selain apapun yang kita lakukan
diterima oleh Allah sebagai amal sholeh. Karena yang jadi bekal kalau kita
sudah mati adalah amal sholeh kita. Kita harus berusaha keras sebelum
beramal meluruskan niat agar apapun yang kita lakukan lillahi ta ala karena
setiap amal innamal a’malu binniyat.

Setiap amal itu tergantung dari niatnya. Sebelum beramal kita harus sangat
bertanya bagaimana sholat kita barusan. Niat yang menentukan Qobliyah
subuh, tahiyatul masjid dan sholat subuh sama dua rakaat. Yang membedakan
adalah niatnya.

Ketika sedang beramal berusaha keras agar tidak belok niat kita. Jangan sampai
ada kesenangan dengan pujian makhluk dibanding ingin diterima oleh Allah.
Dan jikalau sudah selesai beramal, hati-hatilah. Jangan sampai merasa ini
adalah jerih payah saya. Ini adalah perjuangan. Ini adalah kegigihan saya. Tidak
ada. Kalau sudah selesai, Cuma satu saja. Min fadli Robbi. Semua ini hanyalah
karunia Alloh.

Mari kita berusaha sekeras mungkin sekuat tenaga untuk menghilangkan rasa
berjasa, rasa sudah berbuat, rasa sudah berjuang, rasa sudah berkorban karena
yang ada adalah semuanya karunia Allah saja. Semakin kita merasa ini jerih
payah kita sendiri, maka semakin hilang pahalanya. Tapi semakin merasa
bahwa semua karunia apapun hanyalah kemurahan Allah, semoga makin utuh
ganjarannya. Jangan mengingat-ingat jasa dan kebaikan. Jangan menyebut-
nyebutnya dan jangan menuntut orang lain membalas kebaikan kita. Kita
terpilih bisa berbuat baik pun sudah nikmat yang luar biasa. Semoga Allah
selalu menyadarkan kita untuk menjaga hati sebelum, sedang dan sesudah
beramal. Aamiin Ya Robbal Alamin.

16. Husnul Khotimah

Penting sekali di dalam hidup ini kita menyadari akhir hidup kita seperti apa.
Apakah husnul khotimah? Atau su’ul khotimah?

Orang yang husnul khotimah, yang berakhir baik, bukan orang yang tidak punya
salah dan kekurangan tapi orang yang berusaha keras untuk menyadari
kekurangan dirinya, kesalahan dirinya dan sekuat tenaga memperbaiki diri.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berjanji juga. Innallaha yuhibbul tawwabina wa
yuhibbul mutatohhirin. “Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang
bertaubat dan mensucikan diri”.

“Kita Jumpa di Puncak”

Sarah Fahmy & Atok Chan
___________________________________________________________________________

Assalamualaikum.

Apa khabar? Semoga semua sehat.
Tulisan ini diteruskan dengan tajuknya
yang dipinjam dari sebuah buku yang
pernah mengungguli pasaran.

Masa tak akan pernah menunggu kita sekalipun jam di dinding itu telah mati.
Yang mati cuma jam nya, alat bagi mengukur masa. Masa menurut kehendak Ilahi.
Selagi Allah kata jalan, maka berjalanlah masa tanpa henti.

Maka, tertipulah orang yang terasa dia punya masa lapang. Hakikatnya, tak ada
siapapun yang ada masa lapang. Kita tak ada masa lapang kerana hayat kita
terbatas dan pendek. Kalau sampai masa yang telah ditakdirkan, kita akan mati.

Bila telah mati, peluang untuk buat kebaikan terputus sama sekali. Sebab itulah,
sebenarnya kita memang tak ada masa lapang. Sebab tak ada seorang pun yang
tahu bila dia akan meninggalkan dunia fana ini. Sebab itulah kita harus
bersedia dan memanfaatkan masa yang masih tersisa dalam hidup kita.

Sama tertipu adalah orang-orang yang lebih mengutamakan kehidupan dunia.
Orang-orang yang terlalu sibuk sampai tak ada masa untuk mengabdikan diri,
membuat ibadah ke jalan kebaikan. Kalau ada banyak masa untuk baca W/A,
macam mana pulak boleh tak ada masa untuk baca Qur'an? Begitulah
perumpamaannya.

Jadinya sahabat, aku tak sanggup lagi menantimu. Aku jalan dulu ya. Aku telah
memutuskan untuk terus berlari sekuat tenaga semampuku. Andai sebaliknya, aku
akan berjalan mengikut keadaan. Karena kita manusia biasa. Kadang-kadang kita
capek dan perlukan istirahat untuk mengembalikan tenaga dan meneruskan
perjalanan. Langkahnya mengikut keadaan tetapi arahnya pasti. Arah yang kita
semua telah tahu. Karena semua orang suka atau tidak mesti sampai di sana.

“Kita Jumpa di Puncak”

Sarah Fahmy & Atok Chan

Dan perjalanannya pasti beronak duri penuh liku. Sebab hidup ini memang telah
ditakdirkan untuk menghadapi rintangan yang sangat rumit, menyusahkan, penuh
penderitaan. Ibaratnya untuk sampai di puncak gunung yang tinggi.

Lantas, kalau kau enggak mahu ikut aku, itu bukan urusanku. Masa akan terus
berlalu meninggalkan kita. Pandai-pandailah kau menempuh perjalanan hidup ini
agar tidak menyesal nantinya. Mengapa bisa rugi? Karena masa yang telah berlalu
tak akan pernah kembali lagi buat selamanya.

Selamat tinggal sahabat. Aku teruskan
perjalanan walau tanpa kau bersamaku.
Keputusan ini kubuat karena aku sudah
tidak ada masa lagi buat menunggumu.
Jam di dindingku itu memang sudah
mati dari dulu lagi. Sengaja ku biarkan.
Biarlah dia tetap mati. Karena aku
masih ingin hidup selagi masih diberi
Ilahi. Aku pasrah akan apa yang
bakal kuhadapi dalam usia yg masih
ada ini. Semoga kita berjumpa di sana,
di puncak abadi!


Click to View FlipBook Version