The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

pengertian unsur-unsur, struktur, dan kaidah kebahasaan pada teks drama

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by alfitrianns, 2022-05-20 06:35:39

Unsur-unsur, Struktur, dan Kaidah Kebahasaan Teks Drama

pengertian unsur-unsur, struktur, dan kaidah kebahasaan pada teks drama

Keywords: teks drama

BAHAN AJAR
NASKAH
DRAMA

BAHASA INDONESIA KELAS VIII SMP/MTS

AL-FITRIANNISHA
195030099

A. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Konpetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi

3.16 Menelaah karakteristik unsur dan 3.16.1 Menentukan karakteristik

kaidah kebahasaan yang berbentuk berdasarkan struktur pada naskah drama.

naskah atau pentas. 3.16.2 Menentukan kaidah kebahasan

pada naskah drama.

B. Tujuan Pembelajaran
1. Setelah membaca naskah drama, peserta didik mampu menentukan karakteristik
berdasarkan struktur pada naskah drama.
2. Setelah membaca naskah drama, peserta didik mampu menentukan kaidah
kebahasaan pada naskah drama.
3. Setelah mengamati karakteristik dan kaidah kebahasaan pada naskah drama,
peserta didik mampu menuliskan naskah drama.

C. Materi Pembelajaran
1. Pengertian Naskah Drama.
2. Unsur, Ciri, dan kaidah kebahasaan.

A. Menentukan unsur-unsur drama
1. Pengertian drama

Drama dapat diartikan sebagai karya sastra yang menggambarkan kehidupan
manusia dengan gerak melalui peran dan dialog yang dipentaskan. Drama juga bisa
diartikan dengan komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan
kehidupan dan watak melalui tingkah laku (peran) atau dialog yang dipentaskan.

Drama dapat dicirikan sebagi: kisah yang berupa cerita, berbentuk dialog
bertujuan untuk dipentaskan. Istilah drama sudah dikenal oleh masyarakat indonesia
sejak dulu. Hal itu terbukti dengan istilah-sitilah yang sudah biasa kita gunakan, yang
pengertiannya hampir sama dengan pengertian drama. Berikut istilah-istilah yang
merujuk pada pengertian drama tradisional masyarakat.
2. Istilah dalam drama
a. Sandiwara

Istilah sandiwara diciptakan oleh Mangkunegara VII, berasal dari kata bahasa
jawa sandhi yang berarti rahasia, dan warah yang berarti pengajaran. Oleh Ki
HajarDewantara, istilah sandiwara sebagai pengajaran yang dilakukan dengan
perlambang, secara tidak langsung.
b. Lakon

Istilah ini memiliki beberapa kemungkinan arti, yaitu cerita yang dimainkan
dalam drama, wayang,atau film,karangan berupa cerita sandiwara, serta
perbuatan, kejadian, dan peristiwa.
c. Tonil

Istilah tonil berasaldari bahasa belanda toneel, yang artinya pertunjukksn.
Istilah ini populer pada masa penjajahan belanda.
d. Sendratari

Sendratari kepanjangan dari seni drama dan tari. Sendratari berarti
pertunjukkan, serangkaian tari-tarian yang dilakukan oleh sekelompok orang
penari dan mengisahkan suatu cerita dengan tanpa menggunkan percakapan.
e. Tablo

Tablo merupakan dramayang menampilkan kisah dengan sikap dan posisi
pemain, dibantu oleh pencerita. Pemain-pemain tablo tidak berdialog.
3. Karakteristik drama
Perhatikan naskah drama 1 berikut!

Impian Masa Depan
Pemain: Toni, Linda, Norman, Ami
Epilog
Suatu ketika, 4 orang sahabat sedang berkumpul untuk membicarakan mengenai rencana
mereka di masa depan. Mereka pun terlibat dalam pembicaraan yang cukup serius.
Dialog
Toni : Nanti kalau kalian misalnya dihadapkan 2 pilihan, kerja di perusahaan besar tapi
gajinya kecil, atau kerja di perusahaan kecil tapi gajinya besar. Kalian lebih pilih yang mana?
Linda : Yaa kalau aku pilih yang di perusahaan kecil tapi gajinya besar.
Norman : Aku tak setuju! Lebih baik di perusahaan besar, ya walaupun gajinya kecil. Kalau
kita bekerja di perusahaan besar, masa depan kita lebih terjamin pastinya.
Toni : Kalau kamu bagaimana, Am?
Ami : Kalau aku sih yang penting potensi ke depannya baik. Tak apa-apa sementara gaji
kecil, tapi asalkan nanti ke depannya bisa cukup menjanjikan bagiku.
Toni : Itu artinya kamu memilih bekerja di perusahaan besar daripada perusahaan kecil kan?
(sambil menunjuk Ami).
Ami : Iya benar!
Norman : Kalau kamu sendiri Ton?
Toni : Ya kalau aku kurang lebih sama lah dengan pilihan Ami. Kita kan lihat keberlanjutan
nantinya di masa depan. Kalau gaji kita besar, tapi tidak ada keberlanjutan jenjang karirnya,
buat apa juga? (menengadahkan tangan sambil menggelengkan kepala).

Norman : Iya benar juga sih kata kamu. Paling penting itu jenjang karir masa depan nanti.
Linda : Iya sepertinya sih pilihan yang paling tepat ya memikirkan efek jangka panjangnya.
Buat apa gaji besar tapi hanya sementara. Lagi pula, perusahaan kecil juga lebih rawan
bangkrut kan?
Ami : Oke, sekarang kan kita sudah tahu apa efek memilih pekerjaan ke depannya. Jadi nanti
waktu kita melamar kerja setelah lulus, kita harus pertimbangkan dulu untung ruginya buat
masa depan kita.
Norman dan Toni: Siippp

Dari teks diatas, menggambarkan kehidupan dan tingkah laku manusia melalui
naskah yang berisi dialog,danlain sebagainya. Naskah tersebut dapat pula dipentaskan.
Ciri utama darama, adalah sebagai berikut:

a) Berupa cerita.
b) Berbentuk dialog.
c) Bertujuan untuk dipentaskan.

4. Unsur-unsur Drama
Ada beberapa unsur dalam naskah drama, diantaranya:
a. Tema

Tema merupakan gagasan pokok yang ada di dalam drama. Tema yang
sering dipakai dalam drama adalah persahabtan, kehidupan, dan kesedihan.

b. Alur

Alur adalah rangkaian peristiwa dan konfik yang menggerakkan jalan
cerita. Alur drama mencakup bagian-bagian 1) pengenalan cerita; 2) konfik awal;
3) perkembangan konfik; dan 4) penyelesaian.

c. Penokohan

Penokohan merupakan cara pengarang di dalam menggambarkan karakter
tokoh. Dalam pementasan drama, drama mempunyai posisi yang penting.
Tokohlah yang mengaktualisasikan naskah drama di atas pentas. Tokoh yang
didukung oleh latar peristiwa dan aspek-aspek lainnya akan menampilkan cerita

dan pesan-pesan yang ingin disampaikan. Berdasarkan perannya, tokoh terbagi
atas tokoh utama dan tokoh pembantu.

1) Tokoh utama adalah tokoh yang menjadi sentral cerita dalam pementasan
drama.

2) Tokoh pembantu adalah tokoh yang dilibatkan atau dimunculkan untuk
mendukung jalan cerita dan memiliki kaitan dengan tokoh utama.

Dari segi perwatakannya, tokoh dan perannya dalam pementasan drama terdiri
empat macam, yaitu tokoh berkembang, tokoh pembantu, tokoh statis, dan tokoh
serba bisa.

d. Dialog
Dalam sebuah dialog itu sendiri, ada tiga elemen yang tidak boleh

dilupakan. Ketiga elemen tersebut adalah tokoh, wawancang, dan kramagung.
1) Tokoh adalah pelaku yang mempunyai peran yang lebih dibandingkan pelaku-

pelaku lain, sifatnya bisa protagonis atau antagonis.
2) Wawancang adalah dialog atau percakapan yang harus diucapkan oleh tokoh

cerita.
3) Kramagung adalah petunjuk perilaku, tindakan, atau perbuatan yang harus

dilakukan oleh tokoh. Dalam naskah drama, kramagung dituliskan dalam
tanda kurung (biasanya dicetak miring).
e. Latar

Latar adalah keterangan mengenai ruang dan waktu. Penjelasan latar
dalam drama dinyatakan dalam petunjuk pementasan. Bagian itu disebut dengan
kramagung. Latar juga dapat dinyatakan melalui percakapan para tokohnya.
Dalam pementasannya, latar dapat dinyatakan dalam tata panggung ataupun tata
cahaya.

f. Bahasa

Bahasa merupakan media komunikasi antartokoh. Bahasa juga bisa
menggambarkan watak tokoh, latar, ataupun peristiwa yang sedang terjadi.
Apabila disajikan dalam bentuk pementasan, drama memiliki unsur lainnya, yakni
sarana pementasan, seperti panggung, kostum, pencahayaan, dan tata suara.

g. Amanat

Amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan dalam drama. Amanat
bisa diungkapkan secara langsung atau tidak langsung. Bahkan penonton bisa
menangkap pesan atau nilai moral saat menyaksikan drama.

B. Menentukan struktur dan kaidah kebahasaan pada naskah drama
1. Struktur drama

Sebagaimana jenis teks lainnya, drama terdiri atas bagian-bagian yang
tersusun secara sistematis. Susunan bagian-bagian drama tersebut sebenarnya
merupakan salah satu unsur drama pula, yakni yang biasa disebut dengan alur.

a. Prolog adalah kata-kata pembuka, pengantar, ataupun latar belakang cerita, yang
biasanya disampaikan oleh dalang atau tokoh tertentu.

b. Dialog merupakan media kiasan yang melibatkan tokoh-tokoh drama yang
diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak manusia.

Di dalam dialog terdapat urutan peristiwa yang dimulai dengan, orientasi,
komplikasi, dan resolusi.

1) Orientasi suatu cerita menentukan aksi dalam waktu dan tempat;
memperkenalkan para tokoh, menyatakan situasi sesuatu cerita, mengajukan
konflik yang akan dikembangkan dalam bagian utama cerita tersebut, dan ada
kalanya membayangkan resolusi yang akan dibuat dalam cerita itu.

2) Komplikasi atau bagian tengah cerita, mengembangkan konflik. Pelaku utama
menemukan rintangan-rintangan antara dia dan tujuannya , dia mengalami
aneka kesalahpahaman dalam perjuangan untuk menanggulangi rintangan-
rintangan ini.

3) Resolusi hendaklah muncul secara logis dan berkaitan dengan peristiwa
didalam komplikasi. Titik batas yang memisahkan komplikasi dan resolusi,
biasanya disebut klimaks (turning point). Pada klimaks itulah terjadi
perubahan penting mengenai nasib sang tokoh. Kepuasan para penonton
terhadap suatu cerita tergantung pada sesuai-tidaknya perubahan itu dengan
yang mereka harapkan.

c. Epilog adalah kata-kata penutup yang berisi kesimpulan ataupun amanat tentang
isi keseluruhan dialog. Bagian ini pun biasanya disampaikan oleh dalang atau
tokoh tertentu.

prolog dialog epilog

orientasi komplikasi resolusi

Perhatikan Contoh Naskah Drama 2 Berikut!

ROROJONGRANG

Pada zaman dahulu kala di Prambanan Jawa Tengah,berdiri dua buah kerajaan Hindu yaitu
Kerajaan Pengging dan Kraton Boko. Kerajaan Pengging dipimpin oleh raja yang bijaksana
yaitu Prabu Damar Moyo. Dan mempunyai seorang anak putra yang bernama
Raden Bandung Bondowoso. KratonBoko berada pada wilayah kekuasaan kerajaan Pengging
yangdi perintah oleh raja yang tidak berwujud manusia yaitu raja Prabu Boko yang memiliki
seorang putri yang cantik jelita bernama putri Roro Jonggrang. Prabu Boko juga memiliki
Patih raksasa yaitu Patih Gupolo. Prabu Boko ingin menguasai Kerajaan Pengging,maka ia
dan Patih Gupolo mengumpulkan kekuatan dan mengumpulkan bekal. Setelah persiapan
dirasa cukup maka berangkatlah Prabu Boko dan prajurit. Sesampainya di kerajaan Pengging
..

Pengawal Damar Moyo: Siapa kalian? dan mengapa kalian datang kesini?

Patih Gupolo: Kami dari kerajaan Kraton Boko,kami ingin merebut kekuasaan kerajaan ini

Pengawal Damar Moyo: Ooohh TIDAK BISA! sbelum kalian menghadap raja,hadapilah
kami dahulu

Prabu Damar Moyo: Apa salah kami sehingga kalian ingin merebut kekuasaan dari kerajaan
ini

Patih Gupolo: sudahlah raja kita serang saja mereka!

Terjadilah pemberontakan antara kedua kerajaan. Banyak korban berjatuhan dikedua belah
pihak dan rakyat pengging menjadi menderita. mengetahui rakyatnya menderita maka dia
mengutus anaknya Bandung Bondowoso untuk balas dendam kepada Prabu Boko.

Prabu Damar Moyo: Wahai anakku.. balaskanlah dendam ayah pada kerajaan Boko,karena
mereka rakyat kita menjadi miskin dan kelaparan

Bandung Bondowoso; Baiklah ayah akan aku lakukan

Maka berangkatlah Bandung Bondowoso menuju kerajaan kraton Boko, ketika di perjalanan
ia bertemu dengan Patih Gupolo dan Prabu Boko

Patih Gupolo: Siapa kau? sepertinya kau bukan rakyat dari kerajaan ini

Bandung Bondowoso: Memang bukan! aku adalah Raden Bandung Bondowoso putra Prabu
Damar Moyo dari kerajaan Pengging. Tujuan ku datang kesini ingin membalaskan dendam
ayahku terhadap rajamu

Prabu Boko: ada apa ini? dan siapa kau?

Bandung Bondowoso: aku adalah Bandung Bondowoso aku ingin membalaskan dendam
ayahku padamu karena kau telah membuat rakyat ku menjadi menderita

Dan terjadilah perang yang sangat sengit anatara Bandung Bondowoso melawan Prabu Boko.
Karena kesaktian Bandung Bondowoso prabu Boko dapat dibinasakan. Melihat rajanya tewas
maka patih Gupolo melarikan diri dan Raden Bandung Bondowoso mengejar patih ke
kerajaan kraton Boko. Sesampainya di kerajaan Boko..

Patih Gupolo: putrii..putrii (sambil tergesa2)

Roro Jonggrang: ada apa patih? apa yang telah terjadi?

Patih Gupolo: Ayah putri telah tewas dibunuh oleh Bandung Bondowoso

Setelah Patih Gupolo melaporkan pada Putri Roro Jonggrang maka menangislah putri,sedih
hatinya karena ayahnya tewas,dan Patih Gupolo pun pergi meninggalkan Kerajaan Kraton
Boko. Sesampainya Bandung Bondowoso di Kraton Boko terkejutlah ia melihat Putri yang
cantik jelita

Bandung Bondowoso: Wahai putri yang cantiksiapa namamu?

Roro Jonggrang: aku adalah putri Roro Jonggrang

Pengawal Roro: siapa kau?
Bandung bondowoso: Aku adlah Raden Bandung Bondowoso putra dari kerajaan Pengging

Pengawal Roro: Putri bukan kah dia orang telah membunuh ayahmu (sambil berbisik pada
putri)
Roro Jonggrang: Benarkah?

Bandung bondowoso: Maukah kau menikah denganku?

Roro Jonggrang: tidak semudah itu kau ingin menikahiku. aku punya satu
permintaan,buatkanlah aku 10 candi dalam waktu 1 malam. apakah kau sanggup?
Bandung Bondowoso: Baiklah apapun akan aku lakukan untukmu

Bandung menyanggupi permintaan putri tersebut. Maka segerlah Raden Bandung
Bondowoso memerintahkan para jin utnuk membuat kan 10 candi. Ketika mengetahui bahwa
candi yang dibuat Bandung akan selesai,maka putri pun memgumpulkan para gadis

Roro Jonggrang: Wahai para gadis! buatlah keadaan agar seolaholah waktu telah pagi

Gadis 1: Dengan cara apa apa putri?

Gadis 2: Apa yang harus kami lakukan?
Roro Jonggrang; Kalian harus menumbuk lesung padi dan membuat cahaya untuk menerangi
candi.

Gadis 3&4: Baiklah putri perintah akan kami lakukan.

Ketika para gadis menumbuk padi serta di Timur kelihatan terang dan ayam pun berkokok
bergantian. Maka para jin berhenti membuat candi

Jin 1: Tuan maaf kami belum menyelesaikan 1 candi lagi karena hari sudah pagi

Semua Jin: Maafkan kami tuan kami harus pergi (meninggalkan Bandung)

Bandung Bondowoso: Mengapa para jin pergi padahal firasatku pagi belum tiba

Tidak lama Roro Jonggrang menemui Bandung Bondowoso

Roro Jonggrang: Bagaimana? apakah kau sudah menyelesaikan 10 candi itu

Roro pun menghitung candi dan ternyata jumlahnya hanya 9 candi,tinggal 1 candi yang
belum jadi

Roro Jonggrang: Aku sudah berkata bahwa aku menginginkan 10 candi. tapi mengapa hanya
9 candi tang baru selesai?? aku tak mau menikah dengan mu

Lalu para Gadis datang menemui putri dan Bandung Bondowoso

Bandung Bondowoso: Kau kan yang telah menyuruh para gadis menumbuk padi dan
membuat cahaya agar keadaan menjadi pagi

Roro Jonggrang: Siapa para gadis itu? aku tak menyuruhnya!!

Gadis 3: kau mengenal kami putri !

Gadis 4: Dan kau juga yang menyuruh kami!

Semua Gadis: Kau telah berbohong putri!

Bandung Bondowoso: Semuanya sudah jelas,, kau memang cantik tapi hatimu tak secantik
rupamu. padahal aku mencintaimu dengan setulus hatiku. terkutuklah kau putri menjadi candi
yang ke 10

Dan sampai sekarang arca patung Roro Jonggrang masih ada di candi Prambanan dan Raden
Bandung Bondowoso mengutuk para gadis di sekitar Prambanan menjadi perawan kasep
(tua) karena telah membantu Roro Jonggrang, dan menurut kepercayaan orang dahulu bahwa
berpacaran di Candi Prambanan akan putus cinta

2. Kaidah Kebahasaan Drama

Drama karya fiksi yang dinyatakan dalam bentuk dialog. Kalimat-kalimat
yang tersaji di dalamnya hamoir semuanya berupa dialog atau tuturan langsung para
tokohnya. Drama pun menggunakan kata ganti orang ketiga pada bagian prolog atau
epilognya. Sebagaimana halnya percakapan sehari-hari, dialog dalam teks drama
sering kali menggunakan kosa kata percakapan, seperti oh, ya, atuh, sih, dong. Di
dalmnya banyak ditemukan kata-kata yang tidak baku dan kalimat-kalimat seru,
suruhan, serta pertanyaan. Selain itu, teks drama memiliki ciri-ciri kebahasaan sebagi
berikut :

a. Banyak menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu (konjungsi kronologi).
Contoh : sebelum, sekarang, setlah tu, mula-mula, kemudian.

b. Banyak menggunakan kata kerja yang menggambarkan suatu peristiwa yang
terjadi. Contoh : menyuruh, menobatkan, menyingkirkan, menghadap,
beristirahat.

c. Banyak menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau
dirasakan oleh tokoh. Contoh : merasakan, menginginkan, mengharapkan,
mendambakan, mengalami.

d. Menggunakan kata-kata sifat (descriptive language) untuk menggambarkan tokoh,
tempat, atau suasana. Kata-kata yang dimaksud, misalnya, rapi, bersih, baik,
gagah, kuat.


Click to View FlipBook Version