KELOMPOK 2 CAROLINE | DELICIA | CLIFF | JEVON | JESICA
E D I S I D E S E M B E R 2 0 2 2 Sejarah kerajaan Sriwijaya Pada tahun 1892, sebuah prasasti ditemukan di Kampung Kota Kapur, Desa Penagan, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka. Prasasti yang ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno itu mengandung beberapa kata yang dibaca sebagai "Sriwijaya". Temuan Prasasti Kota Kapur itu telah menjelaskan bahwa kerajaan Sriwijaya mulai berkembang pada abad ke-7 karena pada masa itu, kepulauan Nusantara ramai dikunjungi oleh para musafir asal Cina dan India. Berdirinya kerajaan Sriwijaya Nama Sriwijaya berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu ‘Sri‘ yang berarti cahaya dan ‘Wijaya‘ yang berarti kemenangan. Arti Sriwijaya dapat diartaikan sebagai kemenangan yang gemilang. Berdasarkan isi dari prasasati Kota Kapur, Kerajaan Sriwijaya diperkirakan berdiri pada abad ke 7 M yang didirikan oleh Dapuntahyang Sri Jayanasa. Kisah pendirian Kerajaan Sriwijaya termasuk sebagai yang sulit dipecahkan dikarenakan sumber yang tersedia tidak menjelaskan struktur genealogis yang rapi anta raja – raja Sriwijaya. KELOMPOK 2 CAROLINE | DELICIA | CLIFF | JEVON | JESICA
Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan yang bercorak kebudayaan India tertua ke-3 Kerajaan sriwijaya mulai berkembang pada abad ke7 Dibuktikan dengan penemuan prasasti kota dapur Pusat pemerintahan kerajaan sriwijaya berubah2: Awalnya pusat pemerintahan di Minanga, Tamwan. Lalu pindah ke Jambi dan berakhir di Palembang Menurut Prasasti Kedukan Bukit, Kesejahteraan Sriwijaya disebabkan karena Sri Jayanasa beserta 20.000 pasukan yang Beliau pimpin berhasil menaklukan daerah-daerah strategis untuk perdagangan
Letak pasti kerajaan ini masih banyak diperdebatkan. Namun, pendapat yang cukup populer adalah yang dikemukakan oleh G. Coedes pada tahun 1918 bahwa pusat Sriwijaya ada di Palembang4. Sampai dengan saat ini, Palembang masih dianggap sebagai pusat Sriwijaya. Beberapa ahli berkesimpulan bahwa Sriwijaya yang bercorak maritim memiliki kebiasaan untuk berpindahpindah pusat kekuasaan. Kerajaan ini terletak di tepian Sungai Musi, di daerah Palembang, Sumatera Selatan5. Kerajaan ini memiliki lokasi yang sangat strategis karena berada di jalur perdagangan utama antara India dan China. Selain itu, kerajaan ini juga memiliki akses ke laut lepas melalui Selat Sunda dan Selat Malaka. Dengan demikian, kerajaan ini dapat mengontrol perdagangan di kawasan Nusantara barat.
Dapunta Hyang Sri Jayanasa Dapunta Hyang memimpin pada abad ke-7 M dan disebut sebagai pendiri dan raja pertama Kerajaan Sriwijaya. Samaragrawira Samaragrawira adalah putra Dapunta Hyang yang memerintah Sriwijaya pada abad ke-8 M. Dia memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke Jawa. Dharanindra Dharanindra merupakan putra Samaragrawira yang membangun candi-candi Buddha di Jawa. Masa pemerintahannya terjadi pada abad ke-8 M. Samaratungga Samaratungga merupakan putra Dharanindra yang memerintah pada masa keemasan kerajaan ini tepatnya abad ke-9 M. Balaputradewa Balaputradewa merupakan putra Samaratungga yang memimpin pasukan ketika menghadapi serangan dari Kerajaan Mataram Hindu di Jawa. Masa pemerintahannya pada abad ke-9 M. Sriwijaya Maharaja Sriwijaya Maharaja memimpin pada abad ke-10 M dan termasuk raja yang berhasil memulihkan kekuasaan Sriwijaya setelah diserang oleh Mataram Hindu.
Puncak kejayaan Kerajaan Sriwijaya dimulai pada abad ke-8 hingga ke-9 di bawah kepemimpinan Raja Balaputradewa (850 M). Pada masa tersebut, Sriwijaya memiliki wilayah kekuasaan hingga Malaysia, Singapura, dan Thailand Selatan. Kerajaan ini membangun armada laut yang kuat dan membuat para kapal pedagang yang singgah di kerajaan ini merasa aman dari gangguan perompak. Kerajaan Sriwijaya mampu menaklukan jalur perdagangan strategis Selat Malaka meliputi daerah Bandar Melayu di Jambi, Kota Kapur di Pulau Bangka, Tarumanagara dan pelabuhan Sunda di Jawa Barat, Kalingga di Jawa Tengah, serta Kedah dan Chaiya di Semenanjung Melayu. Bukti-bukti kuat Sriwijaya sebagai kerajaan bahari dengan ditemukannya runtuhan perahu yang berasal dari sekitar abad ke6-7 Masehi, yaitu di Kolam Pinisi, Samirejo, Tulung Selapan, Karang Agung, dan Kota Kapur.
Salah satu alasan utama keruntuhan Kerajaan Sriwijaya adalah karena tidak ada pengganti raja yang baik setelah Balaputradewa wafat pada 835 M. Kerajaan ini tidak bisa menemukan pemimpin yang mampu memerintah dengan baik dan bijaksana. Hal ini membuat rakyat Sriwijaya kehilangan kepercayaan pada pemerintahannya. Selain itu, serangan dari kerajaan lain dan pemberontakan juga membuat situasi semakin memburuk dan menyebabkan kerajaan ini runtuh. Penyebab keruntuhan Kerajaan Sriwijaya berikutnya adalah karena melemahnya kekuatan militer yang disebabkan oleh konflik internal dalam kerajaan. Kekuatan militer yang semakin lemah ini mengakibatkan wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Sriwijaya mulai merdeka satu per satu. Selain itu, kelemahan militer juga membuat kerajaan-kerajaan lain menjadi lebih berani menyerang Sriwijaya. Melihat lemahnya militer Kerajaan Sriwijaya, banyak kerajaan lain yang mulai menyerang. Salah satunya adalah Raja Teguh Darmawangsa yang menyerang wilayah selatan Kerajaan Sriwijaya pada 990 M. Selain itu, Kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Adityawarman juga menyerang Sriwijaya pada 1477. Serangan itu mengakibatkan Sriwijaya tunduk pada kekuasaan Majapahit. Serangkaian serangan ini memperburuk keadaan Kerajaan Sriwijaya yang saat itu sedang menghadapi kemunduran.
Prasasti Kedukan Bukit Prasasti Talang Tuo Prasasti Telaga Batu Prasasti Kota Kapur Prasasti Karang Berahi Candi Biaro Bahal IIII Candi Muara Takus
1.Wanu Sriwijaya, Rekonstruksi Kota Sriwijaya: Pernah ditemukan Pecahan keramik dan tembikar, tiangtiang kayu, sisa industri dan sisa barang-barang keperluan sehari-hari di situs Wanu Sriwijaya 2.Situs Karanganyar: Di sebelah selatan Bukit Siguntang, di wilayah Kelurahan Karanganyar dan Kelurahan 36 Ilir, terdapat sebuah dataran rendah yang berupa rawa, ditemukan sisa-sisa bangunan air, yaitu kanal-kanal, kolam buatan, dan parit-parit kuno. 3.Situs Tingkap: Situs Candi Tingkap merupakan suatu wilayah kebun karet ditemukannya sebuah arca Buddha dan runtuhan bangunan bata. Yang terletak di Desa Tingkap, Sumatera Selatan.
Kerajaan Sriwijaya kehidupan ekonominya berkembang pesat berkat letaknya yang sangat strategis. Lokasinya yang berada di tepi Sungai Musi dan tidak jauh dari Selat Malaka membuat Sriwijaya berada di daerah lintasan pelayaran dan perdagangan internasional. Pada masa itu, aktivitas perdagangan antara India dan China melalui Selat Malaka sangat ramai, yang membawa keuntungan bagi Kerajaan Sriwijaya. Pasalnya, para pedagang asing dari dua negeri tersebut senantiasa singgah di pelabuhan Sriwijaya untuk menambah bekal air minum dan perbekalan makanan. Tidak jarang pula, kapal-kapal yang singgah tersebut melakukan aktivitas perdagangan. Para pedagang asing yang singgah dapat menukarkan aneka porselen, tembikar, kain katun dan sutra, dengan barang dagangan penduduk Sriwijaya yang mayoritas hidup di sektor perdagangan pula. Barang dagangan Sriwijaya yang termasuk komoditas berharga meliputi emas, perak, gading gajah, penyu, kemenyan, kapulaga, kapur barus, pinang, kayu gaharu, cendana, lada, dan damar.
Kehidupan budaya Kerajaan Sriwijaya berkaitan dengan lokasi kerajaannya yang terletak di tepi laut dan disebut sebagai kerajaan maritim. Di samping itu, Kerajaan Sriwijaya juga meninggalkan banyak prasasti yang telah menggunakan bahasa Melayu Kuno. Hal ini menunjukkan bahwa Kerajaan Sriwijaya telah melestarikan budaya lokal. Adapun beberapa bentuk peninggalan budaya Kerajaan Sriwijaya adalah kompleks Candi Muara Takus, bangunan suci di Jambi, arca Buddha di Bukit Siguntang, bangunan suci di Gunung Tua, Arca Awalokiteswara, hingga prasasti.
Kelompok 2