Jurnal Gawat Darurat Volume 3 No 1 Juni 2021, Hal 11 - 20 p-ISSN 2684-9321 LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal e-ISSN 2685-2268 11 POTENSI PROGRAM TELEMEDICINE PADA KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN DI INTENSIVE CARE UNIT Aris Widiyanto1 *, Yuly Peristiowati2 , Agusta Dian Ellina2 , Krisnanda Aditya Pradana2 , Ahmad Syauqi Mubarok2 , Joko Tri Atmojo1 1 STIKES Mamba ul Ulum Surakarta, Jl Ring Road Utara, Tawangsari, Mojosongo, Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia 57127 2 IIK Strada Indonesia, Jl. Manila No.37, Tosaren, Pesantren, Kota Kediri, Jawa Timur, Indonesia 64133 *[email protected] ABSTRAK Kurangnya ketersediaan serta tingginya kebutuhan perawat dengan kualifikasi ahli intensif dan perawatan kondisi kritis menjadi kekhawatiran tersendiri di berbagai negara. Penerapan teknologi telemedicine memungkinkan ruang ICU untuk memiliki staf tambahan melalui peletakkan kamera di luar lokasi ICU untuk membantu perawatan pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi program telemedicine pada kualitas pelayanan kesehatan pada pasien di intensive care unit. Penelitian ini merupakan tinjauan sistematis dengan pencarian artikel menggunakan basis data online PubMed dan BASE. Proses pencarian Artikel dilakukan pada periode bulan Januari – Maret 2021. Variabel dependen adalah pelayanan kesehatan. Variabel independen adalah program telemedicine. 5 artikel penelitian berasal dari negara USA menjelaskan bahwa terdapat pengaruh yang positif pada implementasi program tele-ICU terhadap kinerja petugas medis sehingga berpengaruh juga kepada kualitas pelayanan kesehatan pasien. Terdapat pengaruh yang positif pada implementasi program tele-ICU dalam meningkatkan kualitas pelayanan pasien. Kata kunci: intensive care unit; perawat; telemedicine THE POTENTIAL OF TELEMEDICINE IN INTENSIVE CARE UNIT ON QUALITY OF HEALTH CARE ABSTRACT There is growing concern over the shortage of qualified intensivists and critical care nurses in several countries and the ever-increasing demand for intensive care services. Implementing telemedicine technology allows the ICU to have additional staff available, via cameras at an offsite location, to assist with patient care. The purpose of this study was to assesing the impact of telemedicec in intensive care unit (Tele-ICU) on patients outcome. This was a systematic review study used an online database of PubMed and BASE. Article was searched through a systematic process carried out from January 2021 until March 2021. The dependent variable was quality of care. The independent variables was telemedice-nurse program. 5 research articles from USA explain that there is a positive influence on the implementation of the Tele-ICU program on the performance of medical clinician. Therefore, it could also affects the quality of care on patients. There is a positive influence on the implementation of the tele-ICU program in improving the quality of patient care. Keywords: intensive care unit; nurse; telemedicine PENDAHULUAN Pasien di ruang ICU membutuhkan perawatan secara intensif dan berkelanjutan, begitu juga dengan rekam medis masing-masing pasien yang disimpan dalam bentuk data software maupun data hardware, yang mana sangat penting bagi petugas kesehatan untuk melakukan monitoring data tersebut secara akurat (De Georgia et al., 2015). Menurut Angus et al., (2000) para petugas medis di ICU perlu memiliki pengalaman dan keterampilan yang lebih dibandingkan dengan staf yang bertugas di ruang pelayanan kesehatan lainnya. Studi menunjukkan staf yang bekerja di ICU memiliki pengaruh secara langsung terhadap kualitas
Jurnal Gawat Darurat Volume 3 No 1 Juni 2021, Hal 11 - 20 p-ISSN 2684-9321 LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal e-ISSN 2685-2268 12 pelayanan kesehatan pada pasien. Menurut WHO (2016) sistem pelayanan kesehatan mengalami kekurangan sumberdaya manusia, terutama yang memiliki keahlian lebih, dan rasio jumlah petugas kesehatan dengan pasien di ICU lebih rendah dibandingkan dengan standar seharusnya, oleh sebab itu staf yang bekerja di ICU menghadapi masalah yaitu kurangnya waktu untuk melakukan pelayanan kesehatan, dan salah satu strategi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mendelegasikan beberapa pekerjaan (yang penting, yang membutuhkan waktu banyak, dan yang perlu pemantauan) kepada teknologi. Salah satu teknologi yang telah tersedia di lapangan adalah telemedicine dimana ketika berada di ICU disebut sebagai tele-ICU (Mohammadi et al., 2019). Intensive care unit telemedicine (tele-ICU) merupakan teknologi perawatan kesehatan secara remote (jauh dari site pelayanan), yang dikembangkan untuk mengatasi peningkatan kompleksitas dari keadaan pasien dan mengisi kurangnya suplai pemberi perawatan (Udeh et al., 2018). Tele-ICU atau juga disebut telecritical care telah menginovasi sistem pelayanan kesehatan, dengan memungkinkannya pemberian perawatan pasien ICU secara remote, sejak penerapan pertamanya pada tahun 1997 (Rosenfeld et al., 2000). Paltforms telecritical care, atau yang biasa disebut sebagai electronic intensive care units (eICUs), memiliki akses yang luas kepada sumberdaya (misalnya: petugas gawat darurat, konsultan spesialis, atau perawat), menyediakan jangkauan yang luas terhadap sistem pendukung untuk alat pengambilan keputusan, dan memungkinkan untuk melakukan monitoring dan analisis data fisiologi dengan jumlah yang banyak (Celi et al., 2001). Menurut Atmojo et al., (2020) telemedicine merupakan salah alternatif pelayanan kesehatan yang memiliki manfaat untuk menghemat biaya dan meningkatkan kepuasan pasien. Tugas utama tele-ICU adalah untuk meningkatkan keamanan pasien yang sedang kritis secara remote dan real-time (terkini) melalui perawat atau klinis yang telah terlatih (Anders et al., 2012). Perawat-perawat yang bertugas di tele-ICU secara kontinu melakukan monitoring data klinis yang tersedia secara otomatis serta memili akses pada kamera di bedside (Sapirstein et al., 2009). Semua rekam medis pasien dapat diakses oleh petugas tele-ICU. Perawat tele-ICU dapat menghubungi perawat bedside melalui telepon atau electronic notes, begitu juga perawat di ICU dapat menghubungi perawat tele-ICU melalui telepon atau tombol emergency yang terletak di samping tempat tidur pasien. Para perawat tele-ICU dapat melakukan round pada pasien secara mandiri dengan penekanan pertukaran informasi yang relevan dan mendukung keadaan pasien secara medis (Anders et al., 2012). Studi terkini melaporkan bahwa intervensi program tele-ICU berhubungan dengan menurunnya angka kematian serta waktu rawat inap di rumah sakit, meningkatnya kualitas hasil pemberian pelayanan dan rendahnya kejadian komplikasi yang dapat dihindari (Lilly et al. 2011). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh program perawat telemedicine terhadap kualitas pelayanan kesehatan pada pasien di intesive care unit. METODE Desain penelitian ini adalah systematic review. Pencarian artikel menggunakan database online PubMed dan BASE. Artikel yang digunakan pada systematic review ini adalah artikel yang dipublikasikan pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2020. Proses pencarian dilakukan oleh penulis pada periode bulan Januari 2021 sampai dengan Maret 2021. Pada proses pencarian artikel peneliti menggunakan kata kunci “Telemedicine Intensive Care Unit” dan “Nurse”. Kriteria inklusi dari penelitian ini adalah: 1) artikel yang menjelaskan hubungan atau pengaruh antara program perawat telemedicine dengan kualitas pelayanan kesehatan pada pasien yang berada di ruang intensive care unit; 2) original research paper; 3) subjek
Jurnal Gawat Darurat Volume 3 No 1 Juni 2021, Hal 11 - 20 p-ISSN 2684-9321 LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal e-ISSN 2685-2268 13 penelitiannya adalah petugas medis yang bekerja sebagai tele-ICU atau pasien yang sedang atau pernah dirawat di ICU. Kriteria eksklusi dari penelitian ini adalah: 1) artikel berbahasa selain bahasa Inggris dan Indonesia; 2) review papers; 3) data penelitian tidak lengkap atau tidak tersedia. Variabel dependen dari penelitian ini adalah kualitas pelayanan kesehatan pada pasien di ICU. Variabel independen dari penelitian ini adalah program tele-ICU. Program tele-ICU adalah penggunaan teknologi via gadget (telepon, laptop, komputer, monitor dll) untuk melakukan pertukaran informasi kesehatan, dalam hal ini adalah keadaan pasien yang sedang dirawat di ICU secara real time antara petugas medis di ICU secara remote (Kumar et al., 2013; Grundy et al., 1982). Perawat telemedicine merupakan perawat yang memiliki kemampuan untuk melakukan pelayanan kesehatan secara remote atau jarak jauh menggunakan teknologi komunikasi. Hasil pelayanan kesehatan pada pasien yang berada di ICU dideskripsikan sebagai angka kematian, berkurangnya waktu perawatan di rumah sakit. Pencarian artikel menggunakan database online (PubMed dan BASE). Proses pencarian dan penyaringan artikel menggunakan diagram Prisma (bagan 1). Artikel yang diikutkan pada penelitian ini harus memenuhi kriteria inklusi dan telah di review menggunakan critical apraisal sesuai dengan desain penelitian masing-masing artikel (https://casp-uk.net/casp-tools-checklists/) Bagan 1. Diagram Prisma
Jurnal Gawat Darurat Volume 3 No 1 Juni 2021, Hal 11 - 20 p-ISSN 2684-9321 LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal e-ISSN 2685-2268 14 HASIL Tabel 1. Ringkasan Hasil Studi Penulis (tahun) Judul Negara Desain Studi Subjek/ Populasi Hasil Kleinpell et al., (2016) Assessing the Impact of Telemedicine on Nursing Care in Intensive Care Units USA Cross Sectional 1213 perawat ICU di fasilitas kesehatan US Program perawat tele- ICU memiliki beberapa manfaat yaitu: dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, meningkatkan hasil pekerjaan dan komunikasi antara sesama staf ICU atau antara pasien dengan perawat, serta meningkatkan waktu pelayanan kesehatan. Ruesch et al., (2012) Using nursing expertise and telemedicine to increase nursing collaboration and improve patient outcomes Alaska, USA Pre-post program 90 perawat di Adult Critical Care Unit, 10 perawat teleICU, and 1,308 pasien di Providence Alaska Medical Center (Anchorage, AK) Kolaborasi antara perawat yang sedang berada di RS dan yang sedang di luar RS serta pemanfaatan teknologi program tele-nurse di ICU memiliki efek positif dalam peningkatan keadaan pasien yang sedang kritis. Khunlert kit & Carayon (2013) Contributions of tele-intensive care unit (TeleICU) technology to quality of care and patient safety USA Qualitati ve study 61 staf tele-ICU (manajer, perawat, dan petugas medis lainnya) Peningkatan jumlah petugas dapat menurunkan angka kematian dan lama waktu dirawat di RS. Program telenurse di ICU dapat meningkatkan kompilasi pengobatan berbasis bukti, mendukung manajemen medikasi, meningkatkan keamanan pasien. Software tele-ICU juga dapat mengirimkan alarm serta dapat memonitor jika terdapat pasien yang jatuh atau terjadi ekstubasi. Willmitc h et al., (2012) Clinical Outcomes after telemedicine intensive care unit implementation USA Studi Observas ional 10 pasien di ICU Terdapat penurunan angka kematian dan waktu dirawat di rumah sakit yang signifikan secara statistik. Lilly et al., (2011) Hospital mortality, length of stay, and preventable complications among critically ill patients before and after tele-ICU reengineering of critical care processes USA Prospecti ve steppedwedge clinical practice 6290 pasien di 7 ICU Penerapan tele-ICU berhubungan dengan penurunan risiko kematian, penurunan waktu dirawat di rumah sakit, rendahnya kejadian komplikasi yang dapat dicegah.
Jurnal Gawat Darurat Volume 3 No 1 Juni 2021, Hal 11 - 20 p-ISSN 2684-9321 LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal e-ISSN 2685-2268 15 Karakteristik Subjek Penelitian Terdapat total 144 artikel hasil pencarian dari database online PubMed dan 76 artikel dari BASE menggunakan kata kunci “telemedicine”, “ICU”, dan “nurse”. Terdapat total 5 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan diolah pada sintesis kualitatif. Karakteristik masingmasing artikel yang diikutkan pada sintesis kualitatif dijelaskan pada tabel 1. Artikel yang membahas tentang program telemedicine banyak ditemukan di beberapa database online, khususnya di PubMed dan BASE, namun artikel hasil studi yang secara spesifik membahas tentang pengaruh program perawat telemedicine terhadap hasil pelayanan kesehatan serta kinerja perawat di unit perawatan intensif masih terbatas. Review ini merangkum hasil penelitian terhadap beberapa subjek. Subjek terdiri dari 1223 perawat teleICU, 90 perawat di Adult Critical Care Unit, 7608 pasien di ICU, dan 61 staff tele-ICU. Metode penelitian pada studi-studi di review ini adalah cross sectional, pre-post, clinical trial, dan studi observasional. Semua artikel berasal dari United States of America (USA). Pengaruh Program Tele-ICU terhadap Kualitas Pelayanan Pasien Secara tegas, artikel oleh Willmitch et al., (2012) dan Lilly et al., (2011) menjelaskan bahwa terdapat penurunan angka kematian dan pengurangan waktu rawat inap pada pasien di ruang perawatan intensif karena pemberlakuan program telemedicine. Lilly et al., (2011) juga menambahkan bahwa hasil studi tersebut memiliki hubungan dengan tingginya ketaatan dalam memberikan pelayanan terbaik terhadap pasien yang sedang kritis sehingga mencegah terjadinya komplikasi. Khunlertkit & Carayon (2013) menjelaskan dalam hasil studi kualitatifnya bahwa penambahan petugas kesehatan (khususnya perawat tele-ICU yang tidak bertugas di site, namun ikut memonitor keadaan pasien secara remote) dapat meningkatkan manajemen medikasi berbasis bukti dan meningkatkan keamanan pasien melalui teknologi tele-ICU sehingga hal tersebut dapat meminimalisir terjadinya keterlambatan penanganan yang berimplikasi terhadap penurunan komplikasi dan angka kematian pasien di ICU. Teori ini juga didukung oleh Ruesch et al., (2012) dalam penelitiannya yang berjudul “Using nursing expertise and telemedicine to increase nursing collaboration and improve patient outcomes”. Kesimpulan studinya menjelaskan bahwa hasil kolaborasi antara perawat bedside (perawat yang bertugas di ruang ICU) dengan perawat tele-ICU (perawat yang bertugas di luar ruang ICU) memiliki dampak yang positif pada peningkatan keadaan pasien yang sedang di rawat di ICU. Pengaruh Program Tele-ICU terhadap Kinerja Petugas Medis di ICU Sebelumnya telah dijelaskan bagaimana pengaruh program tele-ICU berdampak positif terhadap kualitas pelayanan pasien yang dapat meningkatkan keadaan pasien. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah karena terjadinya kolaborasi yang baik antara perawat tele-ICU dengan perawat bedside, hal ini didukung oleh hasil penelitian kuantitatif dengan metode cross-sectional oleh Kleinpell et al., (2016) yang menjelaskan bahwa penerapan program tele-ICU, khususnya perawat telemedicine di ICU memiliki beberapa manfaat yang dapat meningkatkan kinerja perawat dalam memberikan pelayanan pada pasien, diantaranya adalah: a) terselesaikannya pekerjaan secara lebih cepat; b) meningkatkan kualitas hasil pekerjaan karena berkurangnya beban pekerjaan serta dapat meningkatkan komunikasi antara sesama staf ICU atau antara pasien dengan perawat; c) menambah waktu pelayanan kesehatan, sehingga kebutuhan pasien lebih terpenuhi serta menghindari terjadinya keterlambatan penanganan apabila terjadi kegawatdaruratan pada pasien.
Jurnal Gawat Darurat Volume 3 No 1 Juni 2021, Hal 11 - 20 p-ISSN 2684-9321 LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal e-ISSN 2685-2268 16 PEMBAHASAN Pengaruh pemberlakuan program tele-ICU dapat meningkatkan kinerja petugas kesehatan khususnya antara perawat tele-ICU dan perawat bed-side. Hal ini berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan pada pasien. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang hampir serupa yaitu penelitian oleh Young et al., (2011) yang berjudul “Impact of telemedicine intensive care unit coverage on patient outcomes: a systematic review and metaanalysis“, dalam penelitian tersebut Young et al. menjelaskan bahwa penerapan program teleICU berhubungan dengan rendahnya angka kematian pasien yang sedang dirawat di ICU, namun tidak berpengaruh pada pasien yang tidak dirawat di ICU, begitu juga dengan penurunan waktu rawat inap pasien di ICU, namun tidak pada pasien yang bukan pasien ICU. Hasil pada penelitian oleh Udeh et al., (2018) juga memiliki kesimpulan yang senada, bahwa program tele-ICU dapat meningkatkan hasil yang positif pada keadaan pasien berupa penurunan risiko terjadinya kematian dan pengurangan waktu rawat inap. Terdapat juga potensi manfaat pada program tele-ICU berupa peningkatan kualitas perawatan pada pasien kardiovaskular yang sedang kritis, penurunan kejadian transfer antar rumah sakit, dan peningkatan kepuasan staf petugas rumah sakit. Selain dapat meningkatkan efisiensi biaya rumah sakit (Atmojo et al., 2020), tele-ICU telah menjadi bagian penting dalam pemberian layanan kesehatan pasien selama pandemi COVID-19. Salah satu manfaat bagi tenaga kesehatan dapat mengurangi dampak negatif pada psikologis akibat takut tertular, karena tidak kontak langsung dengan pasien dan tentunya mengurangi risiko penularan COVID-19 (Handayani et al., 2020). Tele-ICU memungkinkan pemberian layanan keperawatan secara jarak jauh, sehingga perawat dapat menjangkau pasien di rumah mereka sendiri tanpa pasien perlu pergi ke rumah sakit, hal ini tentunya untuk menjaga keamanan pasien serta mendukung program karantina mandiri (Colbert et al., 2020). Penerapan program tele-ICU tidak sepenuhnya memiliki pengaruh yang sama. Penerapan program tele-ICU dilaporkan memiliki dampak yang beragam. Seperti hasil studi oleh Pannu et al., (2017) yang menyatakan bahwa pada sistem pelayanan kesehatan di daerah, penerapan program tele-ICU berhubungan dengan peningkatan kejadian transfer pasien antara ICU yang memiliki sumber daya kurang memadai dengan ICU rumah sakit pusat yang memiliki sumber daya lebih memadai, hal tersebut berbeda dengan kesimpulan penelitian yang dikemukakan oleh Fortis et al., (2018) yang menjelaskan bahwa program tele-ICU berhubungan dengan penurunan kejadian transfer antar ICU rumah sakit satu dengan lainnya. Terdapat beberapa variabel yang mempengaruhi keanekaragaman hasil pada tujuan peningkatan kualitas keadaan pasien (penurunan angka kematian maupun pengurangan waktu rawat inap pasien). Faktor-faktor yang memengaruhinya adalah penggunaan software teknologi, proses penerapan, pelatihan, kemampuan masyarakat untuk menerima program dan regulasi hukum (Dayton & Henriksen, 2007; Kahn et al., 2011; Thomas et al., 2009). Menurut Khunlertkit & Carayon (2013) teknologi tele-ICU berupa software yang terpasang pada monitor bed-side pasien dapat memberikan sinyal jika terjadi masalah pada keadaan vital pasien maupun apabila terjadi ekstubasi atau pasien jatuh, hal ini tentu memberikan bukti bahwa dibutuhkan infrastruktur kesehatan berupa peralatan teknologi mutakhir untuk dapat mengimplementasikan program tele-ICU. Studi tersebut dikuatkan dengan pendapat oleh Lilly et al., (2011) dan Kahn et al., (2011) yang menjelaskan bahwa petugas Tele-ICU menggunakan audio, video, dan akses elektronik lainnya untuk mengakses kondisi pasien dan memberikan perawatan berupa monitoring pasien secara remote. Hal itu bertujuan untuk
Jurnal Gawat Darurat Volume 3 No 1 Juni 2021, Hal 11 - 20 p-ISSN 2684-9321 LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal e-ISSN 2685-2268 17 membantu melakukan perencanaan perawatan sehingga dapat memberikan pelayanan yang optimal. SIMPULAN Terdapat potensi pengaruh yang positif pada implementasi program tele-ICU dalam meningkatkan kualitas pelayanan pasien. Keterbatasan studi ini adalah peneliti hanya menganalisis dan membahas artikel hasil studi yang menjelaskan pengaruh program tele-ICU terhadap kualitas pelayanan kesehatan secara umum sehingga dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengkaji pengaruh program terhadap kualitas pelayanan kesehatan dengan outcome keadaan pasien secara spesifik serta kemungkinan adanya variabel yang berhubungan. DAFTAR PUSTAKA Anders, S. H., Woods, D. D., Schweikhart, S., Ebright, P., & Patterson, E. (2012). The effects of health information technology change over time: a study of Tele-ICU functions. Applied Clinical Informatics, 3(2), 239–247. https://doi.org/10.4338/ACI-2011-12-RA0073. Angus, D. C., Kelley, M. A., Schmitz, R. J., White, A., & Popovich, J. J. (2000). Caring for the critically ill patient. Current and projected workforce requirements for care of the critically ill and patients with pulmonary disease: can we meet the requirements of an aging population? JAMA, 284(21), 2762–2770. https:- //doi.org/10.1001/jama.284.21.2762. Atmojo, J., Sudaryanto, W., Widiyanto, A., Ernawati, E., & Arradini, D. (2020). Telemedicine, Cost Effectiveness, and Patients Satisfaction: A Systematic Review. Journal of Health Policy and Management, 5, 103–107. https://doi.org- /10.26911/thejhpm.2020.05.02.02. Celi, L. A., Hassan, E., Marquardt, C., Breslow, M., & Rosenfeld, B. (2001). The eICU: it’s not just telemedicine. Critical Care Medicine, 29(8 Suppl), N183–N189. https://- doi.org/10.1097/00003246-200108001-00007. Colbert, G. B., Venegas-Vera, A. V., Lerma, E. V., (2020). Utility of telemedicine in the COVID-19 era. Rev Cardiovasc Med. 21(4): 583-587. doi: 10.31083/j.rcm.2020.04.188. PMID: 33388003. Dayton, E., & Henriksen, K. (2007). Communication failure: basic components, contributing factors, and the call for structure. Joint Commission Journal on Quality and Patient Safety, 33(1), 34–47. https://doi.org/10.1016/s1553-7250(07)33005-5. De Georgia, M. A., Kaffashi, F., Jacono, F. J., & Loparo, K. A. (2015). Information technology in critical care: review of monitoring and data acquisition systems for patient care and research. TheScientificWorldJournal, 2015, 727694. https://doi.- org/10.1155/2015/727694. Grundy, B. L., Jones, P. K., & Lovitt, A. (1982). Telemedicine in critical care: problems in design, implementation, and assessment. Critical Care Medicine, 10(7), 471–475. https://doi.org/10.1097/00003246-198207000-00014.
Jurnal Gawat Darurat Volume 3 No 1 Juni 2021, Hal 11 - 20 p-ISSN 2684-9321 LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal e-ISSN 2685-2268 18 Handayani, R., Kuntari, S., Darmayanti, A., Widiyanto, A., Atmojo, J. (2020). Factors Causing Stress in Health and Community When the Covid-19 Pandemic. Jurnal Keperawatan Jiwa, 8(3) 353-360. https://doi.org/10.26714/jkj.8.3.2020.353-360. Kahn, J. M., Hill, N. S., Lilly, C. M., Angus, D. C., Jacobi, J., Rubenfeld, G. D., Rothschild, J. M., Sales, A. E., Scales, D. C., & Mathers, J. A. L. (2011). The research agenda in ICU telemedicine: a statement from the Critical Care Societies Collaborative. Chest, 140(1), 230–238. https://doi.org/10.1378/chest.11-0610. Khunlertkit, A., & Carayon, P. (2013). Contributions of tele-intensive care unit (Tele-ICU) technology to quality of care and patient safety. Journal of Critical Care, 28(3), 315.e1– e315.e12. https://doi.org/10.1016/j.jcrc.2012.10.005. Kleinpell, R., Barden, C., Rincon, T., McCarthy, M., & Zapatochny Rufo, R. J. (2016). Assessing the Impact of Telemedicine on Nursing Care in Intensive Care Units. American Journal of Critical Care : An Official Publication, American Association of Critical-Care Nurses, 25(1), e14–e20. https://doi.org/10.4037/ajcc2016808. Kumar, S., Merchant, S., & Reynolds, R. (2013). Tele-ICU: efficacy and cost-effectiveness of remotely managing critical care. Perspectives in Health Information Management, 10- (Spring), 1f. Lilly, C. M., Cody, S., Zhao, H., Landry, K., Baker, S. P., McIlwaine, J., Chandler, M. W., & Irwin, R. S. (2011). Hospital mortality, length of stay, and preventable complications among critically ill patients before and after tele-ICU reengineering of critical care processes. JAMA, 305(21), 2175–2183. https://doi.org/10.1001/jama.2011.697. Mohammadi, M., Bahaadinbeigy, K., Ahmadinejad, M., Chaboki, B., Tabesh, H., & Etminani, K. (2019). Clinical Dashboard in the Intensive Care Unit: Need-Assessment and Survey about Attitudes and Acceptance of Tele-ICU from the Viewpoint of Nurses and Clinicians in the Intensive Care Unit. Tanaffos, 18(2), 142–151. Rosenfeld, B. A., Dorman, T., Breslow, M. J., Pronovost, P., Jenckes, M., Zhang, N., Anderson, G., & Rubin, H. (2000). Intensive care unit telemedicine: alternate paradigm for providing continuous intensivist care. Critical Care Medicine, 28(12), 3925–3931. https://doi.org/10.1097/00003246-200012000-00034. Ruesch, C., Mossakowski, J., Forrest, J., Hayes, M., Jahrsdoerfer, M., Comeau, E., & Singleton, M. (2012). Using nursing expertise and telemedicine to increase nursing collaboration and improve patient outcomes. Telemedicine Journal and E-Health : The Official Journal of the American Telemedicine Association, 18(8), 591–595. https:- //doi.org/10.1089/tmj.2011.0274. Sapirstein, A., Lone, N., Latif, A., Fackler, J., & Pronovost, P. J. (2009). Tele ICU: paradox or panacea? Best Practice & Research. Clinical Anaesthesiology, 23(1), 115–126. https://doi.org/10.1016/j.bpa.2009.02.001. Thomas, E. J., Lucke, J. F., Wueste, L., Weavind, L., & Patel, B. (2009). Association of telemedicine for remote monitoring of intensive care patients with mortality, complications, and length of stay. JAMA, 302(24), 2671–2678. https:-
Jurnal Gawat Darurat Volume 3 No 1 Juni 2021, Hal 11 - 20 p-ISSN 2684-9321 LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal e-ISSN 2685-2268 19 //doi.org/10.1001/jama.2009.1902. Udeh, C., Udeh, B., Rahman, N., Canfield, C., Campbell, J., & Hata, J. S. (2018). Telemedicine/Virtual ICU: Where Are We and Where Are We Going? Methodist DeBakey Cardiovascular Journal, 14(2), 126–133. https://doi.org/10.14797/mdcj-14-2- 126. Willmitch, B., Golembeski, S., Kim, S. S., Nelson, L. D., & Gidel, L. (2012). Clinical outcomes after telemedicine intensive care unit implementation. Critical Care Medicine, 40(2), 450–454. https://doi.org/10.1097/CCM.0b013e318232d694. Young, L. B., Chan, P. S., Lu, X., Nallamothu, B. K., Sasson, C., & Cram, P. M. (2011). Impact of telemedicine intensive care unit coverage on patient outcomes: a systematic review and meta-analysis. Archives of Internal Medicine, 171(6), 498–506. https://- doi.org/10.1001/archinternmed.2011.61. World Health Organization (2016). World health statistics 2016: monitoring health for the SDGs sustainable development goals. ISBN: 9789241565264.
Jurnal Gawat Darurat Volume 3 No 1 Juni 2021, Hal 11 - 20 p-ISSN 2684-9321 LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal e-ISSN 2685-2268 20