The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku Saku Bersama Cegah Resistensi Antimikroba

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by miranda.darsono, 2023-11-21 23:12:59

Buku Saku Bersama Cegah Resistensi Antimikroba

Buku Saku Bersama Cegah Resistensi Antimikroba

2 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR 3 4 BAB I PENDAHULUAN BAB II MENGENAL RESISTENSI ANTIMIKROBA 6 BAB III UPAYA PENGENDALIAN RESISTENSI ANTIMIKROBA 16 BAB IV PENUTUP 23


3 Kata Pengantar Resistensi antimikroba memunculkan ancaman serius bagi Indonesia dan seluruh dunia. WHO (World Health Organization) memprediksi pada tahun 2050 jika resistensi antimikroba tidak dapat dikendalikan maka total kematian akan mencapai sepuluh juta jiwa per tahun. Di sisi lain jumlah penemuan terhadap antimikroba baru sangat kecil dibanding dengan kejadian mikroba yang resisten terhadap antimikroba. Strategi one health approach merupakan langkah terbaik yang harus dijalankan semua kementerian lembaga termasuk organisasi profesi dalam mencegah dampak buruk resistensi antimikroba. Buku saku ini disusun sebagai bentuk informasi yang dapat digunakan semua pihak dalam melakukan edukasi lebih luas khususnya ke masyarakat untuk mengenal lebih jauh apa itu resistensi antimikroba dan cara-cara dalam penanggulangannya. Penny K Lukito


4 BAB I PENDAHULUAN Penemuan antimikroba telah menjadi capaian yang besar pada abad ke-20 di mana antimikroba sebagai pengobatan untuk infeksi bakteri telah menjadi standar yang tidak diragukan. Keberhasilan antimikroba dalam pengobatan penyakit menular selama tujuh dekade terakhir mengakibatkan distribusi dan konsumsi antimikroba sangat luas. Hal ini juga mengakibatkan potensi penggunaan yang tidak tepat, antara lain: Penggunaan secara bebas tanpa resep dokter, konsumsi antimikroba yang tidak tuntas, peresepan yang tidak rasional, penggunaan yang tidak memenuhi syarat, pembuangan sembarangan, dan penggunaan pada hewan yang berlebihan. Ancaman populasi mikroba yang kebal atau dikenal resistensi antimikroba menjadi sangat nyata karena jumlah penemuan terhadap antimikroba baru juga sangat kecil. Resistensi antimikroba memunculkan ancaman serius bagi Indonesia dan seluruh dunia sehingga perlu upaya semua pihak mulai dari pemerintah, sektor swasta dan masyarakat dalam mencegah terjadinya resistensi antimikroba.


5


6 BAB II MENGENAL RESISTENSI ANTIMIKROBA 2.1 Pengertian Antimikroba Antimikroba adalah zat yang memiliki kekuatan untuk menghambat pertumbuhan atau mematikan dari mikroba seperti bakteri, jamur, parasit, dan virus sehingga dapat menjadi pilihan dalam pengobatan infeksi dari mikroba-mikroba tertentu. 2.2 Jenis dan kelompok Antimikroba Antimikroba dapat dipetakan kembali menjadi antibiotik untuk infeksi bakteri, antijamur untuk infeksi jamur, dan sebagainya dimana setiap jenis antimikroba juga akan digolongkan menjadi beberapa golongan sesuai dengan struktur kimia dan mekanisme/cara kerja dari masing-masingnya.


7 Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan sudah mencanangkan Kegiatan Penatagunaan Antimikroba (PGA) dengan tujuan pengoptimalan penggunaan antibiotik di rumah sakit secara bijak baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Pelaksanaan PGA juga mempertimbangkan penanganan resistensi antimikroba secara global oleh lembaga kesehatan dunia dengan konsep yang sama yang disebut Antimicrobial Stewardship (AMS). Salah satu strategi utama dalam pelaksanaannya adalah dengan mengintervensi penggunaan antibiotik di rumah sakit berdasarkan kewenangan tertentu. Dalam pelaksanaan strategi ini, antimikroba digolongkan dalam kelompok AWaRe yaitu Access, Watch and Reserve.


8


9 2.3 Resistensi Antimikroba Resistensi antimikroba adalah berkurangnya kemampuan antimikroba untuk membunuh atau menghambat perkembangan mikroba yang menyebabkan penyakit dikarenakan mikroba tersebut sudah kebal terhadap antimikroba tertentu. Hal ini menyebabkan penggunaan antimikroba tertentu tersebut sudah tidak optimal dalam menangani infeksi pada pasien. Dengan adanya kejadian resistensi antimikroba dapat memperburuk kesehatan masyarakat hingga meningkatkan biaya pengobatan nasional dan global. Sumber: https://www.globalhealthig.com/amr-education/ Gambar di atas menjadi penggambaran yang nyata terjadinya resistensi antimikroba. Cawan petri yang berisi media dan mikroba pada sisi kiri masih bisa dihambat perkembangbiakannya (warna transparan) oleh antimikroba dibandingkan cawan sisi kanan


10 yang relatif tidak memiliki daya hambat terhadap perkembangbiakan antimikroba Salah satu faktor yang memunculkan kejadian ini adalah penggunaan antibiotik yang berlebihan (overuse) seperti peresepan lebih dari 1 (satu) antibiotik untuk gejala ringan dan penggunaan antibiotik yang tidak tepat (misuse) seperti pembelian dan penggunaan antibiotik secara mandiri/swamedikasi. Kejadian ini diperburuk dengan terbatasnya penelitian terhadap antibiotik baru baik dari peneliti mandiri maupun dari industri farmasi. Langkah awal perlu diambil untuk mencegah kejadian resistensi antimikroba dengan sinergitas antara pemerintah, tenaga kesehatan dan masyarakat. 2.4 Penyebab Resistensi Antimikroba Mikroba dapat bermutasi dan resisten terhadap antimikroba, baik secara alamiah atau karena penggunaan antimikroba yang berlebihan (overuse) atau tidak sesuai ketentuan dan pemanfaatannya yang salah (misuse).


11 Dari sudut pandang mikrobiologi, resistensi antimikroba terjadi melalui 5 (lima) mekanisme, yaitu:


12 Dari sudut pandang tenaga kesehatan, kejadian resistensi antimikroba dipicu oleh penggunaan antimikroba secara tidak bijak yang terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan seperti Apotek, Rumah Sakit, Klinik atau Puskesmas.


13 2.5 Dampak Resistensi Antimikroba Penyakit karena mikroba yang resisten akan memicu penggunaan antimikroba dengan dosis yang lebih tinggi, atau membutuhkan antimikroba baru, sehingga sangat mempengaruhi biaya yang dikeluarkan dan berdampak pada kualitas kesehatan manusia. Jika tubuh kebal terhadap antimikroba, tindakan medis lain seperti transplantasi organ, kemoterapi, pengobatan diabetes dan operasi besar menjadi sangat berisiko, sehingga dikhawatirkan dapat menjadi penyebab utama kematian di dunia atau dapat digunakan menjadi senjata biologis. Penyakit akan menjadi lebih sulit untuk diobati dan meningkatkan risiko kematian, terutama pada anak-anak, populasi lansia, dan masyarakat yang mengalami penurunan fungsi imun (imunosupresi). Ancaman ini akan benar-benar terjadi jika tidak ada upaya untuk mengendalikan resistensi antimikroba.


14 2.6 Lingkar Masalah Resistensi Antimikroba Antibiotik adalah salah satu jenis antimikroba yang banyak digunakan pada pengobatan infeksi khususnya dalam membunuh bakteri. Ini artinya hanya penyakit yang telah terbukti disebabkan oleh bakteri saja yang dapat ditangani dengan antibiotik. Sedangkan penyakit yang diakibatkan oleh virus atau lainnya tidak dapat diatasi dengan antibiotik.


15 Infeksi yang diakibatkan oleh virus biasanya dapat sembuh dengan sendirinya atau diobati dengan antivirus sehingga penggunaan antibiotik perlu sangat selektif atau bahwa perlu dibuktikan dengan pengujian terhadap jenis bakteri yang mengakibatkan infeksi agar antibiotik yang diberikan tepat sasaran. Untuk hindari terjadinya resistensi antimikroba khususnya antibiotik maka untuk setiap infeksi pastikan: `


16 BAB III UPAYA PENGENDALIAN RESISTENSI ANTIMIKROBA Pengendalian resistensi antimikroba ini adalah merupakan tanggungjawab kita bersama. Telah banyak program penanggulangan resistensi Antimikroba yang dilaksanakan Kementerian/Lembaga dan lintas sektor. Badan POM sebagai otoritas pengawas Obat dan Makanan yang merupakan salah satu bagian dari gugus tugas pengendalian resistensi antimikroba nasional berkomitmen menjadi bagian program edukasi dalam pencegahan resistensi antimikroba sesuai tugas dan tanggung jawabnya dengan program bertema ABC+4T.


17


18


19 Kita dapat berpartisipasi dalam pengendalian resistensi antimikroba yaitu dengan 4 T : T1 : Tidak membeli antimikroba tanpa resep dokter atau sembarangan untuk tujuan swamedikasi dan Tidak menyerahkan atau menjual antimikroba secara bebas (tanpa resep dokter). ● Membeli sembarangan (tanpa resep dokter dan pembelian obat secara daring) berpotensi mendapatkan antimikroba tidak bermutu atau bahkan palsu. ● Penggunaan antimikroba yang tidak tepat dan tidak sesuai akan mengakibatkan mikroba menjadi resisten/kebal. ● Bakteri resistensi dapat menyebar melalui rantai makanan atau lingkungan sehingga berdampak luas.


20 T2 : Teruskan pengobatan dengan antimikroba yang diresepkan walaupun kondisi sudah membaik dengan tetap minum antibiotik yang diresepkan sampai habis. ● Sistem kekebalan tubuh akan bereaksi saat terdapat mikroba yang menyebabkan penyakit. ● Jika sistem kekebalan tidak berjalan dengan optimal maka gejala penyakit akan muncul. ● Diperlukan antimikroba untuk melawan mikroba yang menyebabkan penyakit. ● Pengobatan dengan antimikroba secara tuntas akan meminimalisir resistensi mikroba terhadap antimikroba yang digunakan.


21 T3 : Tidak membuang antimikroba rusak/sisa sembarangan sehingga dimanfaatkan oleh oknum atau dapat mencemari/mempengaruhi mikroba di lingkungan sekitar. ● Membuang antimikroba sembarangan akan mengganggu ekosistem lingkungan. ● Membuang mikroba sembarangan berpotensi disalahgunakan untuk obat palsu. ● Antimikroba palsu yang tidak aman dan tidak bermutu selain tidak dapat mengobati penyakit akan menimbulkan mikroba menjadi resisten karena kadar/mutu sudah tidak sesuai persyaratan.


22 T4 : Tegur dan Laporkan jika mengetahui ada sarana yang menjual antimikroba sembarangan/tanpa resep. ● Penanggulangan resistensi antimikroba menjadi tanggungjawab bersama. ● Masyarakat dapat berpartisipasi dengan menggunakan antimikroba secara bijak ● Masyarakat dapat melaporkan jika terdapat penjualan antimikroba tidak sesuai ketentuan atau diduga illegal ke Badan POM, Kementerian Kesehatan atau tenaga kesehatan terkait. Bahan Edukasi Pencegahan Resistensi Antimikroba dari Badan POM dapat diakses pada bit.ly/EdukasiAMRBPOM


23 BAB IV PENUTUP Resistensi antimikroba (antimicrobial resistance, AMR) adalah berkurangnya kemampuan antimikroba untuk membunuh atau menghambat berkembangnya mikroba yang terdiri dari bakteri, virus, jamur dan parasit. Mikroba dapat bermutasi dan resisten terhadap antimikroba baik secara alamiah atau karena penggunaan antimikroba yang berlebihan (overuse) atau tidak sesuai ketentuan dan pemanfaatannya yang salah (misuse) oleh masyarakat, para profesional kesehatan, industri pertanian, peternakan dan perikanan. Resistensi antimikroba sangat merugikan dan dapat meningkatkan biaya pelayanan kesehatan. Penyakit karena mikroba yang resisten akan memicu penggunaan antimikroba dengan dosis yang lebih tinggi, penyakit akan menjadi lebih sulit untuk diobati dan meningkatkan risiko kematian terutama pada anak-anak, populasi lansia dan masyarakat yang mengalami penurunan fungsi imun (imunosupresi). Peningkatan biaya pelayanan kesehatan yang disebabkan oleh kegagalan dalam mengatasi penyakit infeksi, terjadinya komplikasi yang memerlukan perawatan yang lebih sulit dan kompleks, memanjangnya lama rawat pasien di rumah sakit dan bertambahnya beban keluarga pasien.


24 Keadaan ini akan sangat membahayakan karena jika tidak dapat dicegah dan dikendalikan, resistensi antimikroba merupakan ancaman bagi kesehatan semua makhluk di dunia, karena dapat menyebabkan terjadinya keadaan yang disebut sebagai masa pasca antibiotik (post-antibiotic era), yaitu masa ketika sebagian besar makhluk di dunia akan kehilangan nyawanya karena penyakit infeksi yang tidak dapat disembuhkan oleh antimikroba jenis apapun yang ada pada saat itu. Pengendalian resistensi antimikroba menjadi perhatian setiap pihak di Indonesia dan di seluruh Indonesia. Baik pemerintah, tenaga kesehatan dan masyarakat, saling bahu membahu untuk dapat melawan resistensi antimikroba, menuju generasi yang sehat dan bangsa yang hebat.


25 Badan POM sebagai salah satu pihak pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam pengendalian resistensi antimikroba, antara lain dengan merumuskan berbagai kebijakan, melakukan pengawasan peredaran antimikroba dan meningkatkan kesadaran masyarakat melalui kegiatan edukasi kepada masyarakat. Peran masyarakat menjadi salah satu kunci agar menggunakan antimikroba secara bijak dan dari sumber yang benar, antara lain: tidak membeli antimikroba tanpa resep dokter, antimikroba yang telah diresepkan oleh dokter diminum sampai habis, dan tidak membuang antimikroba yang rusak atau kedaluwarsa secara sembarangan. Dengan adanya buku saku ini diharapkan dapat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat terkait resistensi antimikroba beserta bahayanya serta agar masyarakat bijak dalam menggunakan antimikroba. “Bersama kita kendalikan resistensi antimikroba menuju generasi sehat dan bangsa yang berkualitas.”


26 DAFTAR PUSTAKA 1. Antimicrobial Stewardship Programmes in Health-care Facilities in Low-and-middleincome Countries. A WHO Practical Toolkit. World Health Organization. 2019. 2. Peraturan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba Tahun 2020-2024. 18 Oktober 2021. 3. Panduan Penatagunaan Antimikroba di Rumah Sakit. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2020. 4. Badan POM. Serba Serbi Obat di Era New Normal. 2020 (yang bisa akses di https://perpustakaan.pom.go.id/index.php?p= show_detail&type=ebook&id=28846) 5. Studi Resistensi Antimikroba dalam Rantai Pangan Ayam Potong (WAP, YLKI, CIVAS), 2021.


Click to View FlipBook Version