The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini menjelaskan kepada pengasuh keluarga cara mengenali beban perawatan beserta penyebabnya, mengukur beban perawatan diri sendiri dan mempraktekkan cara mengelola beban perawatan dan dan menyusun jadwal kegiatan untuk mengelola beban.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by daryanto2766, 2022-11-21 05:57:17

Buku Pegangan Keluarga Cara Mengelola Beban Perawatan

Buku ini menjelaskan kepada pengasuh keluarga cara mengenali beban perawatan beserta penyebabnya, mengukur beban perawatan diri sendiri dan mempraktekkan cara mengelola beban perawatan dan dan menyusun jadwal kegiatan untuk mengelola beban.

Keywords: Beban Perawatan,pengasuh keluarga,skizofrenia

BUKU PEGANGAN KELUARGA

BEBANCARA MENGELOLA

PERAWATAN ORANG DENGAN SKIZOFRENIA DI RUMAH

Disusun Oleh :
Daryanto, S.Kp., M.Kep
Mursidah Dewi, SKM.,M Kep
Ns. Yellyanda, S.Kep., M.Kep
Ns. Mila Triana Sari, S.Kep, M.Kep

PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
SKEMA PROGRAM PENGEMBANGAN DESA MITRA

JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAMBI

TAHUN 2022

BUKU PEGANGAN KELUARGA

CARA MENGELOLA BEBAN

PERAWATAN ORANG DENGAN SKIZOFRENIA DI RUMAH

IDENTITAS PEMILIK BUKU

Disusun dalam rangka Pelaksanaan kegiatan
Pengabdian Kepada Masyarakat Dosen
Skema Pengembangan Desa Mitra

JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAMBI

TAHUN 2022

1

i
KATA PENGANTAR

Segala Puji bagi-Nya yang telah memberikan segala rahmat
dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun buku
pegangan keluarga “Cara mengelola Beban Perawatan orang
dengan Skizofrenia di rumah”.
Buku pegangan ini ditujukan untuk memberikan pedoman
bagi keluarga tentang cara mengelola beban keluarga dalam
merawat orang dengan Skizofrenia di rumah.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada yth:

1. Bupati Kabupaten Muaro Jambi.
2. Direktur Poltekkes Kemenkes Jambi.
3. Kepala Puskesmas Penyengat Olak Kec. Jambi Luar

Kota Kab Muaro Jambi
4. Kepala Desa Penyengat Olak Kec. Jambi Luar Kota

Kab Muaro Jambi
Semoga buku pegangan ini bermanfaat bagi pembaca sekalian,
khususnya keluarga pasien dan pemerhati masalah kesehatan
Jiwa di Indonesia pada umumnya.

Tim Penyusun

2

ii
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR.............................................................. i
DAFTAR ISI………………………………………………... ii
1. Pendahuluan........................................................................ 1
2. Tujuan …………................................................................ 3
3. Manfaat …………............................................................. 3
4. Beban Keluarga..........................................…………........ 4
5. Cara meningkatkan kewaspadaan diri terhadap beban

keluarga ………………………………………………… 9
6. Cara Mengelola Beban Keluarga....................................... 11
DAFTAR PUSTAKA

3

PENDAHULUAN

Masalah dalam perawatan orang dengan skizofrenia
merupakan beban bagi keluarga. Sekitar 72,7% pengasuh
keuarga (family caregiver) pasien Skizofrenia merasakan
beban tingkat moderat-sedang (Geriani, Savithry, Shivakumar,
Kanchan (2015); banyak yang mengalami beban subyektif
yang berat (71%) dibandingkan keluarga pasien Depresi
(Koujalgi dan Patil, 2013). Pengasuh keluarga banyak
menanggung beban perawatan orang denga skizofrenia pada
tingkat sedang sampai berat.

Sebagian besar perawatan yang diberikan untuk orang dengan
gangguan jiwa di rumah diberikan oleh anggota keluarganya
yang disebut pengasuh keluarga (caregiver). Rusmimpong,
Daryanto, Damayantie (2016), melaporkan pengasuh keluarga
(caregiver) pasien Skizofrenia diantaranya 33,7% Orang tua
pasien (Ayah/ Ibu), 43,2% saudara kandung dan anaknya,
18,9% pasanganya, dan 4,2% diasuh oleh kerabat dekat lainya.
Keluarga merupakan salah sumber pendukung utama sehingga
harus menanggung semua kebutuhan perawatanya.

Keberhasilan perawatan di rumah sakit jiwa tidak berlangsung
lama jika pasien tidak mendapatkan perawatan lanjutan yang
baik oleh keluarganya di rumah. Situasi ini sering memicu
terjadinya kekambuhan pada pasien.

Angka kekambuhan bervariasi antara 50–92% yang mirip
antara negara maju dan berkembang meski mendapatkan
pelayanan kesehatan jiwa yang baik (Fallon, 2007);
kekambuhan penderita disebabkan keluarga yang tidak tahu
cara menangani penderita di rumah (Stroup, 2005).

4

Pengasuh keluarga (family caregiver) memainkan peran
penting dalam memberikan dukungan dan perawatan bagi
orang-orang dengan skizofrenia (Stanley dan Balakrishnan,
2022). Pengasuh keluarga diharapkan perlu belajar dan
mampu mengelola beban perawatan yang dialami supaya
keluarga bisa terus menjadi sistem pendukung bagi pemulihan
pasien. Bila pengasuh tidak mampu mengelola beban yang
dialami, maka akan menimbulkan tekanan dan stress bagi
keluarga. Kondisi ini berisiko memperparah kondisi penyakit
atau kekambuhan orang dengan skizofrenia.
TUJUAN

a. Tujuan Umum
Untuk meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengelola
beban perawatan orang dengan skizofrenia di rumah.

b. Tujuan Khusus
Setelah mempelajari buku pegangan ini, keluarga diharapkan
dapat :
1). Menjelaskan pengertian beban keluarga
2). Mengenali penyebab masalah beban keluarga
3). Mengenali jenis beban keluarga
4). Meningkatkan kesadaran diri sendiri terhadap beban
keluarga
5). Memperagakan cara mengelola beban keluarga
6). Melaksanakan kegiatan harian cara mengelola beban
keluarga sesuai jadwal yang telah disusun.

5

MANFAAT
Ada beberapa manfaat penggunaan buku ini yaitu ;

a. Keluarga Penderita Skizofrenia
Adapun manfaat yang didapatkan dari keluarga adalah
meningkatkan pengetahuan tentang pengertian, jenis beban,
meningkatkan kesadaran diri dengan mengukur beban diri
sendiri, mengelola beban yang dialami dan menerapkanya
dalam kegiatan harian dalam mengurus anggota keluarganya.

b. Masyarakat
Meningkatkan pemahaman masyarakat desa khususnya kader
kesehatan dalam memberikan solusi cara mengelola beban
keluarga. Kader kesehatan setempat dan perangkat desa dapat
memanfaatkan buku pedoman ini dalam mengukur beban dan
memberikan pandangan serta saran pada pengasuh keluarga
dan melaporkannya bila mengalami beban berat kepada
tenaga kesehatan di puskesmas untuk mendapatkan
bimbingan lebih lanjut.

c. Puskesmas
Buku pegangan ini dapat dimanfaatkan oleh tenaga kesehatan
di puskesmas sebagai media edukasi dalam mengelola beban
perawatan bagi pengasuh keluarga dari orang dengan
skizofrenia. Buku ini juga diharapkan menjadi solusi dalam
mengatasi masalah akses dan keterjangkauan pelayanan
kesehatan jiwa pada masyarakat, khususnya cara mengelola
beban perawatan anggota keluarga yang mengalami
gangguan jiwa.

BEBAN PENGASUHAN

Pengertian Beban Pengasuhan
Beban merupakan persepsi seseorang, kelompok atau lembaga
terhadap sesuatu yang harus dipikul atau ditanggung sebagai
bagian dari tanggungjawab mereka untuk mengurusnya.

6

Beban pengasuhan merupakan sesuatu yang harus ditanggung
pengasuh keluarga (Family Caregiver) yang meliputi fisik,
emosional dan sosial dalam perawatan. Beban muncul sebagai
reaksi terhadap perubahan dan tuntutan yang dihasilkan
daalam memberikan bantuan dan dukungan kepada orang lain
yang tidak mampu merawat dirinya sendiri karena kelemahan
akibat suatu penyakit atau kecacatan.
Menurut Mohr (2012), beban keluarga meliputi beban obyektif,
subyektif dan iatogenik, yang dapat diuraikan sbb;
Beban obyektif adalah berbagai beban dan hambatan yang
dijumpai dalam kehidupan suatu keluarga yang berkaitan
dengan perawatan klien gangguan jiwa. Termasuk beban
obyektif adalah finansial yang dikeluarkan untuk merawat
klien, hambatan aktivitas anggota keluarga dikarenakan harus
merawat klien, gangguan dalam kehidupan rumah tangga,
isolasi sosial, pengucilan atau diskriminasi bagi keluarga klien
dan sebagainya.

Beban subyektif adalah beban berupa distres emosional yang
dialami anggota keluarga yang berkaitan dengan tugas
merawat klien gangguan jiwa, merupakan komponen
emosional dari setiap aspek beban obyektif. Termasuk beban
subyektif adalah perasaan sedih, ketakutan, rasa bersalah, rasa
marah dan emosi negatif lainnya dari anggota keluarga dalam
merespons klien dengan perilaku menarik diri.

Beban iatrogenic yaitu beban yang disebabkan oleh sistem
kesehatan mental yang disfungsional dan sikap serta perilaku
beberapa profesional kesehatan mental yang tidak sejalan
dengan teori tentang keluarga.

7

KLASIFIKASI BEBAN

WHO (2020), beban keluarga diklasifikasikan menjadi dua
jenis yaitu undefined burden dan hidden burden.

Beban tidak menentu (Undefined burden) adalah beban yang
tiada terkira, beban keluarga yang berhubungan dengan sosial
dan ekonomi keluarga, masyarakat dan negara. Contohnya
kehilangan produktifitas, biaya secara finansial dan
pengangguran.

Beban terselubung (Hidden burden) berhubungan dengan
stigma, hak seseorang dan kebebasan. Contohnya dijauhi
teman, diperlakukan tidak adil dan adanya stigma dari
masyarakat.

Disamping pembagian beban tersebut, Ae-Ngibise, Doku,
Asante, Owusu-Agyei, (2015) menjelaskan bahwa beban
keluarga pasien gangguana jiwa serius meliputi keuangan,
pengasingan sosial, emosi, depresi dan kekurangan waktu
untuk melakukan tanggung jawab sosial lainnya. Koujalgi dan
Patil (2015), melaporkan bahwa beban obyektif yang dialami
keluarga pasien skizofrenia meliputi; keuangan, kegiatan
rutinitas, waktu santai, interaksi, kesehatan jiwa anggota
keluarga lainya serta beban global. Geriani, Savithry,
Shivakumar dan Kanchan (2015), keluarga pasien skizofrenia
mengalami gangguan aktivitas rutin keluarga, gangguan
interaksi keluarga, beban keuangan, dan efek kesehatan fisik
anggota keluarga lainnya sebagai manifestasi lain dari beban
yang dialami oleh pengasuh.

8

PENYEBAB :
Ada beberapa faktor penyebab yang menjadi beban keluarga.
Rafiyah dan Sutharangsee, (2011), faktor faktor yang menjadi
beban keluarga yaitu :

a. Factor Pemberi Asuhan (Caregiver),
b. Factor Pasien dan
c. Factor Lingkungan.

FAKTOR PENGASUH KELUARGA (FAMILY
CAREGIVER)
Faktor yang turut mempengaruhi beban yang dirasakan oleh
pengasuh keluarga diantaranya sbb;
1. Usia. Pengasuh berusia muda merasakan beban yang tinggi

dalam merawat orang dengan skizofrenia.
2. Jenis Kelamin. Pengasuh yang berjenis kelamin wanita

merasakan beban yang lebih tinggi dibandingkan pria.
3. Tingkat Pendidikan
4. Penghasilan
5. Waktu yang dihabiskan setiap hari untuk mengurus orang

dengan skizofrenia.
6. Pengetahuan tentang penyakit.
7. Etnis, Ras dan Budaya
8. Persepsi subyektif
9. Kemampuan cara menyelesaikan masalah (Coping)

9

10. Status hubungan antara pengasuh dengan pasien.

FAKTOR PASIEN
Usia
Juvang, Lambert dan Lambert (2007) di Cina, Ada korelasi
antara usia pasien dan beban stress subyektif dan tuntutan
beban subyektif. Pasien skizofrenia yang lebih muda tidak
mampu merawat diri sendiri dan mungkin mereka berada
dalam stadium awal penyakit. Caquezo-urizar & Gutierrez-
Maldonado, (2006), bahwa pemberi asuhan yang memiliki
pasien skizofrenia mengalami tingkat beban yang tinggi,
khususnya bila mengasuh pasien yang lebih muda.
Gejala Klinis

Gejala-gejala klinis memiliki pengaruh pada beban pemberi
asuhan. Gejala-gejala klinis adalah predictor beban pemberi
asuhan (Perlick, dkk, 2006; Roick, dkk, 2006). Gejala positif
dapat memprediksi lebih membebani pemberi asuhan
daripada gejala negative (Grandon, Jenaro & lemos, 2008;
Tang, Leung & Lam, 2008). Faktor yang mempengaruhi beban
pemberi asuhan adalah beratnya gejala pasien (Shu-Ying,
Chiao-Li; Ying-Ching, For-Wey & Chu-Jen, 2008).). Gejala
positif dan jumlah masuk rumah sakit (seringnya dirawat di
rumah sakit jiwa) berhubungan signifikan dengan beban
keluarga pasien skizopfrenia (Rusmimpong, Daryanto dan
Damayantie, 2016

10

3. Ketidakmampuan dalam kehidupan sehari-hari

Fujino dan Okamura (2009) bahwa ketidakmampuan pasien
dalam kegiatan sehari-hari atau fungsi komunitas berhubungan
dengan beban pengasuh atau pemberi asuhan. Kelemahan
fungsi sosial pasien berhubungan dengan beratnya penyakit,
seperti gangguan perilaku pasien dan sakit yang lama
berakibat ketergantungan pasien pada pemberi asuhan untuk
menjalankan aktivitas sehari-harinya.

FAKTOR LINGKUNGAN

1. Pelayanan Kesehatan Jiwa dan Pemanfaatanya

Roick, dkk (2007), pemberi asuhan di Inggris melaporkan
lebih terbebani daripada orang Jerman. Penyebab utama
adanya perbedaan beban adalah perbedaan pemberian
pelayanan kesehatan jiwa. Hal ini dikaitkan dengan
ketersediaan fasilitas yang diberikan.

2. Dukungan sosial

Chii, dkk (2009), bahwa persepsi dukungan social dan fungsi
keluarga memiliki korelasi negative dengan beban pemberi
asuhan. Keluarga yang berfungsi lebih baik dapat berdampak
pada adaptasi lebih baik dihubungkan dengan coping efektif.
Penggunaan dukungan formal yang diterima memiliki korelasi
positif dengan beban. Beban pemberi asuhan meningkat bila
dukungan informal tidak memenuhi kebutuhan pemberi
asuhan. Pendukung dapat mengurangi beban jika mereka
memenuhi kebutuhan pemberi asuhan yang tidak terpenuhi.
Magliano, dkk (2000) bahwa pengurangan beban keluarga dari

11

waktu ke waktu ditemukan diantara kerabat (Relatives) yang
menerima lebih banyak dukungan praktis dari jejaring social.

PENGASUH KELUARGA (FAMILY CAREGIVER)
Definisi Pengasuh keluarga

Pengasuh keluarga merupakan seseorang yang bertanggung
jawab merawat seseorang yang memiliki masalah kesehatan
jiwa yang buruk, cacat fisik atau yang kesehatannya terganggu
oleh penyakit atau usia tua. Pengasuh keluarga berasal dari
keluarga dekat dan ada hubungan darah atau iktan perkawinan,
meliputi orang tua, anak, saudara kandung, pasangan, atau
kerabat lainya.

Tugas Pengasuh Keluarga :
a. Merawat orang yang memiliki penyakit kronis atau

penyakit.
b. Mengelola obat-obatan atau membicarakanya dengan

dokter dan perawat atas nama seseorang yang sakit..
c. Membantu memandikan atau mendandani orang yang

lemah atau cacat.
d. Menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, makan, atau

tagihan untuk orang yang tidak dapat melakukan hal-hal ini
sendirian.

12

STRATEGI MENGELOLA BEBAN

a. Strategi Pengasuh Keluarga

Strategi yang bisa dijalankan bagi Pengasuh keluarga
(Family Caregiver) dalam mengurus anggota keluarganya
yang sakit sbb;

1). Turut berpartisipasi selama pasien menjalani perawatan
di rumah sakit jiwa.

Keluarga diharapkan mengunjungi keluarga yang sakit
setiap hari selama awal 2 minggu perawatan, 3 kali
seminggu dalam 2 minggu berikutnya, dan minimal
sebulan sekali pada bulan berikutnya. Hal ini bertujuan
agar keluarga turut serta belajar cara merawatnya dan
menyaksikan perkembangan pasien sejak awal
perawatan di RS Jiwa.

2). Mempelajari cara perawatan orang dengan skizofrenia
bersama perawata selama menjalani perawatan di
rumah sakit jiwa dan menerapkanya di rumah.

3). Mengawasi dan membantu dia untuk minum obatnya
secara teratur selama di rumah.

4). Mengenali gejala-gejala awal kambuh ( Silakan Baca
buku pegangan keluarga cara pencegahan dan
mengelola kekambuhan orang dengan Skizofrenia).

5). Mempelajari cara mengatasi tekanan atau stress (Silakan
baca buku pegangan keluarga cara mengatasi Stress
dalam merawat orang dengan skizofrenia)

13

6). Memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan tingkat
pertama untuk mendapatkan pengawasan dan
pengiobatan (Puskesmas terdekat)

7). Memanfaatkan dukungan sosial yang ada di masyarakat,
seperti bantuan kader kesehatan, perangkat desa,
pemuka masyarakat/ agama, kelompok swabantu,
tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate social
responsibility) dalam bentuk bantuan adaptasi sosial
dan pekerjaan, dll.

8). Berbagi tanggung jawab pengasuhan di antara kerabat
dekat (Ae-Ngibise, Doku, Asante, Owusu-Agyei,
2015). Sumber daya keluarga yang ada saling
membantu serta berbagi tanggungjawab dalam
mengurus perawatan di rumah. Sebaiknya diatur siapa
saja yang bisa mengurus setiap hari. Alangkah baiknya
dibuatkan jadwalnya sehingga masing masing anggota
keluarga bisa mengatur waktu yang sesuai dengan
kesibukannya, dengan tetap mengutamakan perhatian
pada yang sakit. Keluarga bisa mengatur jadwal
pengasuhan setiap hari secara bergantian atau menurut
waktunya, pagi, siang sampai sore dan malam
tergantung kesiapan waktu masing-masing anggota
keluarga.

b. Pelayanan Kesehatan Jiwa di Mayarakat
Beberapa tanggungjawab puskesmas terhadap pelayanan
kesehatan pada orang gangguan jiwa di wilayah kerjanya,
diantaranya ;

14

1). Memberikan pelayanan kesehatan jiwa lanjutan pada
pasien Skizofrenia pasca perawatan dari RS Jiwa di
wilayah kerjanya.

2). Memberikan edukasi pada keluarga tentang cara
perawatan orang dengan Skizofrenia di rumah.

3). Memantau pengobatan dan perkembangan pasien di
wilayah kerjanya.

4). Memberikan pelayanan rujukan pasien gangguan jiwa
yang mengalami kekambuhan yang tidak bisa diatasi di
Puskesmas.

c. Dukungan Sosial

Dukungan sosial diberikan oleh seluruh elemen yang ada di
masyarakat termasuk pemerintah desa, khususnya kader
kesehatan sehingga orang dengan gangguan jiwa dapat
beradaptasi dengan lingkunganya sehingga dapat
menjalankan aktivitas secara normal. Bentuk dukungan
yang diberikan diantaranya;

1). Menciptakan iklim penerimaan pasien sebagai bagian
dari warga masyarakat.

2). Menyedikan sarana untuk penyesuaian diri di tengah
masyarakat

3). Membantu pasien dan keluarga dalam menyesuaikan
diri di tengah masyarakat,

4). Mendapatkan dukungan dan penerimaan dari tokoh
masyarakat, pemuka agama, pemuda, kader kesehatan
dan pekerja sosial

15

5). Mendapatkan bantuan sosial dan modal kerja untuk
proses adaptasi sosial dan pekerjaan dari perusahaan
lokal dan nasional (corporate social responsibility)
sehingga mampu beradaptasi untuk hidup normal di
tengah masyarakat.

PEDOMAN PENGASUH TERHADAP ORANG
DENGAN SKIZOFRENIA

1. Menganjurkanya untuk melakukan pemeriksaan kesehatan
diri secara teratur ke dokter.

2. Mengingatkan minum obat dan mengutarakan hal yang
menjadi perhatianya

3. Membantunya menghindari alkohol dan obat terlarang.
4. Membantunya mengatasi stress

5. Berusahan membatasi diri untuk memaksakan diri

7. Membantu mempertahankan keterampilan sosial, seperti
memulai pergaulan baru, berbelanja, ke bioskop atau ke
swalayan, dll.

8. Mengenali apa yang harus dilakukan, jika diperlukan.

(Anderson J, October 22, 2021).

MENINGKATKAN KEWASPADAAN DIRI
TERHADAP BEBAN

Pengasuh keluarga perlu meningkatkan kewaspadaan diri
sendiri terhadap beban yang dirasakan keluarga. Oleh karena
itu, anda disarankan untuk mengisi daftar pertanyaan pada

16

Zarit Burden Interbew Schedule. Hal ini bertujuan untuk
mengetahui seberapa berat beban yang anda rasakan. Jika anda
merasakan beban berat sampai sangat berat, maka anda perlu
bekerja bersama seluruh anggota keluarga untuk mengurus
perawatan di rumah. Untuk itu anda diminta untuk menjawab
sebanyak 22 butir pernyataan dan memberi tanda conteng (√)
pada kolom jawaban yang sesuai. Kemudian silakan anda
menghitung nilainya dengan menjumlahkan nilai jawaban
anda seluruhnya. Misalnya untuk pertanyaan nomor 1 anda
memilih jawaban jarang maka jawaban anda diberi nilai 2,
pertanyaan nomor 2 anda menjawabnya dengan sering maka
diberi nilai 3, dan pertanyaan nomor 3 anda menjawabnya
hampir selalu maka diberi nilai 4. Cara yang sama untuk
menjawab pertanyaan 4 sd 22. Kemudian seluruh nilainya
anda jumlahkan. Anda bisa menentukan kondisi beban yang
anda alamai dengan cara mencocokan jumlah nilainya seperti
pada kategori dibawah ini.
Keterangan :
Beban Ringan = Skor 0-22
Beban Sedang = Skor 23-44
Beban Berat = Skor 45-66
Beban Sangat Berat = Skor 67-88

Jika nilai anda masuk kategori beban ringan dan sedang, maka
anda masih bisa mengurus perawatan orang dengan gangguan

17

jiwa dengan baik, dan belum membutuhkan orang lain. Jika
nilai anda masuk kategori beban berat sampai sangat berat,
maka anda sebaiknya jangan mengurus dia sendiri, tetapi
sebaiknya anda mengkomunikasikan pada anggota keluarga
yang lain, bahwa anda membutuhkan bantuan dalam mengurus
anggota keluarga yang sakit.

AKTIVITAS HARIAN SEBAGAI CARA MENGELOLA
BEBAN KELUARGA
Pengasuh keluarga perlu merencanakan kegiatan harian di
sela-sela kesibukan merawat anggota keluarganya. Kegiatan
harian ini perlu dijadwalkan sebagai bagian cara mengelola
beban perawatan. Jenis kegiatan yang akan dilakukan
menyesuaikan dengan pola kegiatan dari keluarga masing
masing. Anda dapat menyusun jadwal kegiatan harian untuk
mengelola beban keluarga dalam perawatan seperti contoh dan
menyesuaikanya dengan kemampuan dan kesibukan anda.

18

Zarit Burden Interview Schedule

Petunjuk menjawab :

Apakah anda merasakan beban dalam seminggu terakhir ?
1. Tidak Pernah, jika anda tidak mengalaminya sama sekali
2. Jarang, jika anda mengalaminya dalam 1-2 hari dalam seminggu
3. Sering, jika anda mengalaminya dalam 3-4 hari dalam seminggu
4. Hampir selalu, jika anda ngalaminya hampir setiap hari dalam

seminggu

N PERTANYAAN Respons
Jawaban
O 1234

1. Apakah anda merasa keluarga anda meminta bantuan lebih
dari yang dibutuhkanya ?

2. Apakah anda merasa bahwa oleh karena waktu yang
dihabiskan bersama keluarga sehingga anda tidak memiliki
cukup waktu untuk diri anda sendiri ?

3. Apakah anda merasa tegang karena mengasuh keluarga anda
dan berusaha memenuhi tanggungjawabnya untuk keluarga
anda ?

4. Apakah anda merasa malu atas perilaku keluarga anda?
5. Apakah anda merasa marah bila berada disekitar keluarga

anda?
6. Apakah anda merasa keluarga anda akhir-akhir ini

mempengaruhi hubungan anda dengan anggota keluarga
lainya atau teman-teman secara negative ?
7. Apakah anda khawatir terhadap masa depan yang anda
tanggung untuk keluarga anda?
8. Apakah anda merasa keluarga anda tergantung pada anda?
9. Apakah anda merasa tegang (strained) bila berada disekitar
keluarga anda?
10. Apakah anda merasa kesehatan anda terganggu karena
keterlibatan anda dengan keluarga?
11. Apakah anda merasa bahwa anda tidak memiliki banyak
privacy (kerahasiaan pribadi) seperti yang anda inginkan
karena keluarga anda ?
12. Apakah anda merasa bahwa kehidupan social telah terganggu
karena memberikan pengasuhan keluarga anda ?
13. Apakah anda merasa tidak nyaman memiliki teman-teman
yang memberi perhatian berlebihan karena keluarga anda?
14. Apakah anda merasa bahwa keluarga anda nampaknya
berharap pada anda untuk mengasuhnya, seolah-olah hanya
anda yang dia harapkan untuk bergantung ?

19

15. Apakah anda merasa bahwa anda tidak memiliki cukup uang
untuk mengasuh keluarga anda?

16. Apakah anda merasa bahwa anda akan mampu mengasuhnya
lebih lama ?

17. Apakah anda merasa bahwa anda kehilangan control terhadap
kehidupan anda sejak keluarga anda sakit?

18. Apakah anda berkeinginan dapat mennyerahkan asuhan
keluarga anda terhadap orang lain?

19. Apakah anda merasa tidak pasti tentang apa yang dilakukan
terhadap keluarga anda?

20. Apakah anda merasa bahwa seharusnya anda melakukan
lebih banyak lagi untuk keluarga anda?

21. Apakah anda merasa dapat melakukan pekerjaan lebih baik
lagi dalam mengasuh keluarga anda?

22. Secara keseluruhan, betapa terbebani yang anda rasakan
dalam mengasuh keluarga anda?

Zarit Burden Interview–Boon Kheng Seng et al. 2010.

Jika hasil perhitungan nilai yang anda peroleh diatas 45, maka
anda disarankan untuk berdiskusi dengan anggota keluarga
yang lain untuk pengaturan pengasuhan. Anda membutuhkan
bantuan dari anggota keluarga yang lain. Anda disarankan
membuat dan menerapkan jadwal kegiatan pengasuhan
bersama anggota keluarga yang lain.

20

Contoh
PENJADWALAN PENGASUHAN KELUARGA

Nama yang sakit :

Bulan :

NO TANGGAL NAMA KELUARGA YANG KET

MENGURUS PERAWATAN √

1 01 Nov 2022 Kak Arrahman √

2 02 Nov 2022 Kak Bagus Adab X

3 03 Nov 2022 Adik Telaten √

4 04 Nov 2022 Adik Mukhlis/ Kab Bagus Adab √

5 05 Nov 2022 Kak Arrahman X

6 06 Nov 2022 Kak Bagus Adab √

7 07 Nov 2022 Adik Telaten √

8 08 Nov 2022 Adik Mukhlis √
9 09 Nov 2022 Kak Arrahman √

10 10 Nov 2022 Kak Bagus Adab/ Adik Mukhlis
11 11 Nov 2022 Adik Telaten

12 12 Nov 2022 Adik Mukhlis
13 13 Nov 2022 Kak Arrahman
14 14 Nov 2022 Kak Bagus Adab

15 15 Nov 2022 Adik Telaten

16 16 Nov 2022 Adik Mukhlis
.. …………..

31 31 Des2022 Adik Telaten

Keterangan :

Anda dapat membuat jadwal dan menuliskan kegiatan seperti
contoh. Selanjutnya anda memberi tanda conteng (√), jika
anda melakukannya, dan memberi tanda silang (x) jika anda
tidak sempat melakukanya. Jika anda berhalangan untuk
mengurus agar ditulis siapa penggantinya, sehingga anda bisa
menggantikanya diwaktu yang lain.

21

PENJADWALAN PENGASUHAN KELUARGA

BULAN :

NO TANGGAL NAMA KELUARGA YANG KET
MENGURUS PERAWATAN

1

2

3

4

5

6

7

8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
Keterangan :
√ = dilakukan
X = tidak dilakukan

22

DAFTAR PUSTAKA

Adeosun, I.I. 2013. Correlates of caregiver burden
among family members of patients with schizophrenia in
Lagos, Nigeria. Hindawi Publishing Corporation
Schizophrenia research and treatment. Volume 2013.

Ae-Ngibise K.A., Doku V.C.K, Asante K.P, Owusu-
Agyei S, (2015). The experience of caregivers of people living
with serious mental disorders: a study from rural Ghana. Glob
Health Action 2015, 8: 26957 -
http://dx.doi.org/10.3402/gha.v8.26957

Brady, Noreen dan McCain (2004). Living with
Skizophrenia: A Family Perspective. http://www.medscape.
com. Diperoleh tanggal 17 Juni 2007

Caqueo-Urízar A and Gutiérrez-Maldonado J. (2015).
Burden of Care in Families of Patients with Schizophrenia.
Quality of Life Research volume 15, pages719–724
(2006https://link. springer.com/article/10.1007/s11136-005-
4629-2

Fujino, N., & Okamura, H. (2009). Factors affecting
the sense of burden felt by family members caring for patients
with mental illness. Archives of Psychiatric Nursing, 23(2),
128–137. https://doi.org/10.1016/j.apnu.2008.05.006

Geriani, Savithry, Shivakumar dan Kanchan (2015).
Burden of Care on Caregivers of Schizophrenia Patients: A
Correlation to Personality and Coping. Journal of Clinical
and Diagnostic Research. 2015 Mar, Vol-9(3): VC01-VC04

23

Grandon, P., Jenaro, C., & Lemos, S. (2008). Primary
caregivers of schizophrenia outpatients: burden and predictor
variables. Psychiatry Research, 158, 335-343

Juvang, L., Lambert C. E., & Lambert, V. A. (2007).
Predictors of family caregiver‟s burden and quality of life
when providing care for a family member with schizophrenia
in the people‟s republic of China. Nursing and Health
Sciences, 192198.

Koujalgi S.R., Patil S.R. (2013). Family Burden in
Patient with Schizophrenia and
Depressive Disorder: A Comparative Study. Indian Journal of
Psychological Medicine | Jul - Sep 2013 | Vol 35 | Issue 3.

Lasebikan, V.O. 2012. Validation of Yoruba version of
Family burden interview schedule (Y-FBIS) on caregivers of
schizophrenia patients. ISRN Psychiatry. Volume 2012.

Magliano, et al. (2000). Family burden and coping
strategies in schizophrenia: 1-year follow-up data from the
BIOMED I study. Social Psychiatry and Psychiatric
Epidemiology. volume 35, pages109–115 (2000)

Mohr W.K (2012). Psychiatric Mental Health Nursing
Evidence-Based Concepts, Skills, and Practices. 8th edition.
New Jersey. Wolters Kluwer. Lippincott Williams & Wilkins

Perlick, et al. (2006). Components and correlates of
family burden in schizophrenia. PSYCHIATRIC SERVICES
♦ ps.psychiatryonline.org ♦ August 2006 Vol. 57 No. 8

Rafiyah, I and Sutharangsee, W. 2011. Review: Burden
on Family Caregivers caring for Patients with Schizophrenia
and Its Related Factors. Nurse Media. Journal of Nursing 1, 1.

24

Januari 2011. Pages: 29-41.
Rusmimpong R., Daryanto D., Damayantie N. (2016).

Family Burden of Schizophrenia Patient who Check at
Psychiatric Polyclinic of Psychiatric Hospital of Jambi
Province. Jurnal Ners dan Kebidanan. Stikes Patria Husada
Blitar. Vol 3 No.1, April 2016.

Shu-Ying, Chiao-Li; Ying-Ching, For-Wey & Chu-
Jen, 2008). Exploring the burden of the primary family
caregiver of Schizophrenia Patients in Taiwan. Psychiatry and
Clinical Neurocience, 62 :508-514

Seng, B.K, et al. 2010. Validity and reliability of Zarit
Burden Interview in assessing caregiving burden. Annals
Academy of Medicine. Vol 39. No. 10. Oktober 2010.

Stroup TS., J P Morrissey J.P., Ellis A.R, Blank M.
(2001). Correlates of family burden under medicaid managed
mental health care. Adm Policy Ment Health. 2001 Nov;29(2):
117-28.

WHO (2020). WHO methods and data sources for
global burden of disease estimates 2000-2019

25


Click to View FlipBook Version