SEJARAH JENIS BATIK,
MOTIF & PROSES
PEMBUATAN.
Ghefira Tantiya Tsuraya, X IPA 4
1
KATA PENGANTAR
Rasa syukur atas terselesaikannya E-Book Sejarah
Jenis Batik ini senantiasa penulis sampaikan
kepada Allah SWT. Ucapan terima kasih juga
Kami sampaikan sebesar-besarnya kepada guru
Mata pelajaran Muatan Lokal atas tugas yang
diberikan. Dengan E-Book ini penulis dapat
mempelajari banyak hal baru.
Masih ada kekurangan dan kesalahan kecil yang
mungkin penulis buat dalam penyusunan E-Book
ini. Oleh karena itu penulis memohon maaf atas
kesalahan tersebut. Tak lupa penulis juga
mengharapkan kritik dan dan saran dari pembaca
untuk kebaikan penulis dalam pembuatan E-Book
selanjutnya. Akhir kata, semoga tujuan pembuatan
E-Book ini turut dapat dirasakan oleh pembaca.
Bontang, Kamis 07 Oktober 2021
Ghefira Tantiya Tsuraya
2
DAFTAR ISI
Judul....................................................................................................................1
Kata Pengantar.................................................................................................2
Daftar Isi............................................................................................................3
A. Batik Berdasarkan Sejarah...................................................................4
1. Batik Keraton................................................................................4
2. Batik Pesisir..................................................................................6
B. Batik Berdasarkan Motif......................................................................9
1. Motif Batik Klasik......................................................................10
2. Motif Batik Pekalongan...........................................................15
3. Motif Batik Monokrematik.....................................................17
4. Motif Batik Simbut....................................................................18
5. Motif Batik Jumputan...............................................................18
6. Motif Batik Formika.................................................................20
7. Motif Batik Lukis.......................................................................20
C. Batik Berdasarkan Teknik Pembuatan...........................................21
1. Batik Canting Tulis..................................................................21
2. Batik Cap.....................................................................................22
3. Batik Cap Kombinasi Tulis.....................................................23
4. Batik Celup Ikat.........................................................................24
5. Batik Printing............................................................................24
6. Batik Colet atau Lukis..............................................................25
Kesimpulan......................................................................................................26
Daftar Pustaka................................................................................................27
3
A. Batik Berdasarkan Sejarah
Berdasarkan sejarah munculnya motif batik, maka dibagi ke dalam dua jenis
batik yaitu batik keraton dan batik pesisir, berikut akan dijelaskan perbedaan
dari kedua batik tersebut.
1. Batik keraton
Pada awalnya batik hanya dibuat dan dikenakan di lingkungan
keraton, sehingga setiap motif memiliki filosofi atau makna tertentu.
Batik keraton yaitu jenis batik yang dikembangkan dan digunakan
di lingkungan keraton. Motif dan penggunaannya diatur dengan norma-norma
keraton. Setiap corak menunjukkan status pemakainya. Corak motif keraton
disebut motif larangan, karena pada awalnya motif-motif tertentu dilarang
dikenakan masyarakat umum, kecuali oleh kerabat keraton. Dalam tradisi
masyarakat keraton (jawa) membatik dianggap sebagai kegiatan pengabdian
kepada raja. Batik Keraton memiliki pola atau motif tradisional, karena tumbuh
dan berkembang di keraton-keraton Jawa. Motif, susunan ragam
hias, maupun pewarnaannya merupakan perpaduan antara seni, adat,
filosofi, dan jati diri kehidupan masyarakat keraton. Batik jenis ini sangat
lah eksklusif, karena tidak sembarang orang bisa mengenakannya.
Awal tradisi membatik berlangsung di keraton, kain putih yang digunakan
merupakan hasil tenunan sendiri. Sedangkan, bahan-bahan pewarna yang
dipakai sendiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia seperti pohon
mengkudu, tinggi, soga, dan nila. Sementara, bahan sodanya dibuat dari
soda abu dan garamnya dibuat dari tanah lumpur. Warna dasar putih
merupakan salah satu ciri khas Batik Keraton Kesultanan Yogyakarta. Ciri
khas lainnya, pola geometri Batik Keraton Kesultanan Yogyakarta besar-
besar dan sebagiannya diperkaya dengan motif parang.
4
Motif batik keraton disebut dengan motif larangan karena hanya boleh dipakai
orang-orang keraton, Batik larangan Keraton disebut juga Awisan Dalem,
adalah motif-motif batik yang penggunaannya terikat dengan aturan-aturan
tertentu di Keraton Yogyakarta dan tidak semua orang boleh memakainya.
Salah satu hal yang melatarbelakangi adanya batik larangan di Yogyakarta
adalah adanya Keyakinan akan kekuatan spiritual dan makna filsafat yang
terkandung dalam motif kain batik. Motif pada batik dipercaya mampu
menciptakan suasana yang religius serta memancarkan aura magis sesuai
dengan makna yang dikandungnya. Oleh karena itu beberapa motif, terutama
yang memiliki nilai falsafah tinggi, dinyatakan sebagai batik larangan.
1. Motif larangan Keraton Yogyakarta & Surakarta
A. SAWAT
Yaitu, motif berbentuk sayap-sayap besar
menggambarkan burung garuda sebagai
kendaraan Dewa Wisnu yang
melambangkan kekuasaan atau raja.
B. Parang
yaitu motif yang berbentuk huruf S yang
menyambung dan berulang ulang dan
memiliki alur diagonal 45°, motif ini
melambangkan menangkal kebatilan,
kekuatan, kecepatan, keperkasaan, dan
kesucian.
5
C. Cemukiran
Berbentuk motif lotus yang
melambangkan kekuasaan. Motif ini
sejajar lurus dan disusun secara
diagonal yang melambangkan
kesuburan.
2. Batik Pesisir
Batik pesisiran yaitu batik yang berkembang di luar keraton.
Pertumbuhan di pesisir Jawa bagian Timur dimulai sejak masa pra-Islam
Yaitu sekitar abad ke-15 M dan 16 M. Orientasi pengembangan seni
Batik pesisiran juga dipengaruhi oleh budaya keraton yang saat itu
menjadi pusat pemerintahan. Dalam sejarah batik pesisiran seperti
Pekalongan, Tegal, Indramayu, Cirebon, Karawang, Ciamis,
Tasikmalaya, dan Garut, secara keseluruhan pola batiknya mengambil
pola hias pada Cirebon. Pilihan warna yang mencolok dari batik
pesisiran tampaknya dipengaruhi warna keramik pada masa dinasti
Ming yang hanya diproduksi pada abad ke- 17 M sampai abad ke- 18 M.
Pada masa zaman penjajahan Belanda, batik dikelompokkan menjadi
dua kelompok besar, yakni batik Vorstenlanden dan batik pesisir. Batik
Vorstenlanden adalah batik dari daerah Solo dan Yogyakarta yang
dikenal dengan batik keraton, sedangkan batik pesisir adalah semua
batik yang pembuatannya dikerjakan di luar daerah Solo dan
Yogyakarta atau di luar Keraton.
Istilah batik “pesisir” muncul karena perkembangan batik ini berada di
daerah pesisir utara pulau Jawa seperti Cirebon, Indramayu, Lasem,
Bakaran, dan lain sebagainya. Pola yang ada pada batik pesisir lebih
bebas dan warnanya lebih beraneka ragam, hal ini dikarenakan
pengaruh budaya luar yang begitu kuat.
Tidak seperti batik keraton, batik pesisir lebih ditujukan sebagai barang
dagangan. Di samping itu budaya luar pada batik pesisir sangat
mempengaruhi bentuk ragam hias batik-Nya terutama pada saat
masuknya agama Islam pada abad 16. Ragam flora non figuratif menjadi
alternatif dalam motif batik pesisir dikarenakan adanya larangan di
kalangan ulama Islam dalam menggambar bentuk-bentuk figuratif.
Perkembangan batik pesisir mengalami kemajuan sekitar abad ke-19,
Hal ini terjadi karena adanya kemunduran produksi tekstil dari India yang
menjadi salah satu produsen kain terbesar di pulau Jawa hal ini
mengakibatkan banyak konsumen beralih ke kain batik.
6
Puncak perkembangan batik pesisir terjadi pada masa pengusaha Indo-
Belanda berperan pada usaha pembatikan. Batik tersebut dikenal
dengan Nama “Batik Belanda”. Selain pengusaha dari belanda
pengusaha Tionghoa juga ikut dalam usaha pengembangan batik
pesisir.
Ciri khas batik pesisir terlihat dari motif-motif yang menjadi simbol
Akulturasi budaya Indonesia pesisir, Tiongkok dan Belanda. Maka tidak
heran jika batik pesisir lebih menerapkan motif-motif seperti burung
Hong, naga, kereta kuda, kapal, kupu-kupu, burung merak dan pipit.
Juga motif-motif dengan ciri khas lingkungan yang sangat kuat.
Biasanya batik pesisir memiliki pilihan warna dan motif yang cenderung
tidak kaku.
Batik pesisir juga selalu digambar secara tidak naturalis. Hal ini
disebabkan oleh larangan Islam untuk menggambar sesuatu dengan
gaya naturalis. Nah, untuk penggunaannya sendiri, batik pesisir tidaklah
sulit seperti batik Jogja maupun Solo yang disesuaikan dengan pangkat
dalam Keraton. Batik pesisir bisa digunakan oleh siapa saja karena
bersifat Komersial
Batik Pesisir terbagi menjadi Delapan model yaitu :
1. Batik pesisir tradisional merah biru
2. Batik hasil pengembangan pengusaha keturunan, khususnya
Tionghoa dan Indo-Eropa
3. Batik yang dipengaruhi kuat oleh Belanda
4. Batik yang mencerminkan kekuasaan kolonial
5. Batik hasil modifikasi pengusaha Tionghoa yang ditujukan untuk
Kebutuhan kalangan Tionghoa
6. Kain panjang
7. Batik hasil pengembangan dari model batik merah biru
8. Kain adat.
Berdasarkan Motifnya Batik Pesisir terdiri dari:
➢ Batik India atau Batik Sembagi
Adalah wastra batik yang menerapkan ragam hias
wastra dari India, yaitu kain Patola dan Chintz atau
Sembagi. Jenis batik ini mulai dibuat oleh pedagang
Arab dan Cina pada awal ke-19 di kawasan Pantai
utara Pulau Jawa terutama Cirebon dan Lasem.
Kain Patola dan Chintz yang membawa unsur
budaya India mempengaruhi ragam hias batik.
Batik yang menggunakan ragam hias dari kain
Sembagi disebut batik Sembagi dan yang
menampilkan tiruan pola tenun Patola disebut batik
Jlamprang atau batik Nitik.
7
➢ Batik Belanda
Batik belanda adalah jenis batik yang tumbuh dan
berkembang antara tahun 1840-1940. Pada mulanya
batik ini hanya dibuat untuk masyarakat Belanda dan
Indo-Belanda yang pada umumnya berbentuk sarung.
Para pemakainya semula terbatas pada kalangan
sendiri kemudian menyebar ke lingkungan orang
Tionghoa dan para bangsawan Jawa.
➢ Batik Tionghoa
Batik tionghoa tercipta dari asimilasi budaya asli
Indonesia dengan budaya Cina. Salah satu jenis
batik peranakan Cina adalah Tokwi. Batik seperti
ini hanya ada dan berasal dari Indonesia, tidak
ada di negara lain. Batik jenis ini berkembang
pesat di daerah lasem, batik Lasem terletak
pada coraknya yang merupakan gabungan
pengaruh budaya Tionghoa, budaya lokal
masyarakat pesisir utara Jawa Tengah serta
budaya Keraton Solo dan Yogyakarta. Sejarah
Batik Lasem ditengarai berkaitan dengan
sejarah kedatangan Laksamana Cheng Ho di
Jawa pada tahun 1413. Dalam catatan di Babad
Lasem (1479 M) menyebutkan, anak buah kapal
Dhang Puhawang Tzeng Ho dari cina, Bi Nang
Un dan istrinya Na Li Ni memilih menetap di
kawasan Bonang dan mulai membatik. Secara
umum Batik Lasem hanya mempunyai dua motif
utama yaitu motif Tionghoa dan non Tionghoa.
Jagad, Kendoro Kendiri, Grinsing, Kricak/ Watu
Pecah, Pasiran dan lainnya.
8
➢ Batik Djawa Hokakai
Masa pendudukan Jepang yang hanya tiga tahun di Indonesia (1942- 1945), tapi memberi
pengaruh terhadap batik di Indonesia, yang disebut batik Jawa Hokokai. Batik Jawa
Hokokai berciri adanya tambahan warna kuning yang sebelumnya tidak pernah ada di
batik Nusantara, dan motif bunga sakura. Batik Jawa hokokai diciptakan para pengusaha
China untuk menyesuaikan diri dengan pemerintahan Jepang. Nama motif ini diambil dari
organisasi propaganda Jepang, Jawa Hokokai, untuk menciptakan kemakmuran di Asia.
Batik Jawa Hokokai dibuat dalam bentuk batik pagi-sore sebagai akibat kelangkaan bahan
batik pada Perang Dunia II dan sampai sekarang terus bertahan dalam bentuk itu.
B. Batik Berdasarkan Motif
Batik memiliki banyak ragam motif hal ini terjadi seiring dengan kemajuan jaman dan
juga ciri khas dari daerah di mana batik tersebut berkembang. Terdapat beberapa
faktor yang memengaruhi terciptanya motif batik yaitu:
7. letak geografis
misalnya di daerah pesisir akan menghasilkan batik dengan motif
yang berhubungan dengan laut, begitu pula dengan yang tinggal
di pegunungan akan terinspirasi oleh alam sekitarnya.
8. sifat dan tata penghidupan daerah
9. kepercayaan dan adat di suatu daerah
10. keadaan alam sekitar termasuk flora dan fauna.
Dalam proses pembuatan motif batik, ternyata ada yang disebut isen atau ornamen
pengisi. Ornamen ini melengkapi motif utama sebagai hiasan atau yang
mempercantik motif batik. Ornamen utama adalah ornamen yang mempunyai arti.
Contoh; meru, pohon, burung, ular dan api, sedangkan Ornamen pengisi bidang
hanya sebagai pengisi bidang, tidak mempunyai arti. Contoh: bunga, daun. Isen dapat
diterjemahkan sebagai “isian“, gambar-gambar yang berfungsi untuk mengisi ornamen
pokok dalam batik. Berikut beberapa motif batik yang berkembang di nusantara.
9
1. Motif Batik Klasik
Batik klasik adalah batik dengan motif kuno, motif ini berkembang saat jaman keraton.
Motif batik ini biasanya memiliki makna dan filosofi tertentu.
Berikut beberapa contoh motif klasik :
A. Dasar motif Lereng atau Liris
Motif ini memiliki bentuk dasar garis-garis miring sejajar.
Beberapa batik yang menggunakan motif dasar lereng atau liris yaitu udan lires, rujak
sente, lereng lires
B. Motif Ceplok
Motif ini berbentuk barisan bunga atau lingkaran yang sejajar dan sama. Batik ceplok
atau ceplokan merupakan jenis batik yang memiliki pola atau motif dengan bentuk
dasar geometri, seperti persegi, oval maupun bintang yang disusun melingkar
sehingga menyerupai sekuntum bunga dengan pola simetris. Bentuk
tersebut terinspirasi dari buah kawung atau buah aren yang dibelah empat.
Variasi dalam batik ceplok sangat kaya, bentuk utama geometris bisa diisi atau dalam
istilah batik disebut isen-isen dengan motif batik lainya seperti kawung, parang klithik,
truntum atau hiasan isen-isen lainnya seperti bunga dan gerdo atau garuda.
Motif batik ceplok ini menggambarkan suratan takdir dan keteraturan kehidupan,
bawah dalam kehidupan di dunia sudah ada aturan dan garisnya. Sehingga
diharapkan si pemakai batik ini dapat menjalani hidup secara teratur. Pada zaman
dulu, batik ceplok digunakan oleh aparat pemerintahan. Dengan menggunakan
motif batik ini di harapan para aparat pemerintahan akan bertugas dengan benar dan
jujur.
10
C. Motif Isen Cecek Sawut
Motif isen cecek sawut yaitu motif yang terdiri atas titik dan garis pendek. Cecek
berarti titik, sedangkan sawut berarti serabut atau garis-garis berjajar. Motif ini hanya
ada di Indonesia sehingga dianggap sebagai motif khusus Indonesia. Motif Isen atau
Pola Mengisi merupakan karakteristik yang sangat Indonesia, khususnya Jawa.
Motif isen terdiri dari ornamen utama dan ornamen pengisi yang berupa titik-titik,
garis-garis, gabungan titik dan garis yang berfungsi untuk ornamen-ornamen dari
motif atau pengisi bidang diantara ornamen-ornamen tersebut. Motif isen ada
bermacam-macam dan sekarang masih berkembang, seperti cecek, cecek pitu, sisik
melik, cecek sawut, cecek sawu daun, sisik gringsing, galaran, rambutan, sirapan,
cacah gori, dan sebagainya.
D. Motif Tritik (Titik-titik)
Motif ini berbentuk titik-titik yang berukuran besar. Motif ini berkembang sampai
sekarang.
11
E. Motif Kawung
Motif kawung mempunyai bentuk menyerupai buah aren yang dipotong melintang maka
nampak empat biji aren. Selain itu ada juga yang menyebutkan Batik kawung terinspirasi
dari bulatan menyerupai buah kawung yang dibelah menjadi dua dan ditata secara apik
hingga bergaya geometris. Dilansir dari beberapa sumber, motif batik kawung juga kerap
diartikan sebagai gambar bunga teratai dengan empat lembar mahkota bunga yang
mekar.
Makna batik kawung sangat dalam, yakni kemurnian, kesempurnaan, dan kesucian. Jika
dikaitkan dengan kata suwung yang berarti kosong, maka motif batik kawung dapat
ditafsirkan sebagai pengendalian diri yang sempurna atas hasrat duniawi. Ada beberapa
jenis batik kawung yaitu berdasarkan ukurannya dan berdasarkan desainnya.
F. Motif Sidomuktif
Motif yang berbentuk dasar segi empat dan
diberi isen garuda, sayap/ lar, atau motif lain.
Sidomukti merupakan salah satu motif batik
khas solo. Pada zaman dahulu, motif
Sidomukti hanya boleh dikenakan
oleh pengantin keraton yang akan
melangsungkan pernikahan. Makna yang
dimiliki batik Sidomukti adalah adanya
harapan agar kedua pengantin dapat
memperoleh kesejahteraan dan kemuliaan
dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Berikut beberapa motif sidomukti.
12
G. Motif Semen atau Gunung
Motif semen adalah motif yang berbentuk dasar gunung. Motif ini hiasannya dilengkapi
dengan motif meru, garuda, pohon, dan candi. Motif-motif ini adalah motif batik khusus
Indonesia. Semen berasal dari kata semi yang artinya tumbuh, sehingga diartikan
“kehidupan yang semi” (kehidupan yang berkembang atau makmur).
Ornamen motif semen terdiri dari 3 bagian. Pertama adalah ornamen yang berhubungan
dengan daratan, seperti tumbuh tumbuhan atau binatang berkaki empat. Kedua adalah
ornament yang berhubungan dengan udara, seperti garuda, burung dan mega mendung.
Sedangkan yang ketiga adalah ornamen yang berhubungan dengan laut atau air, seperti
ular, ikan dan katak. Ada hubungannya dengan paham Triloka atau Tribawana.
Paham tersebut adalah ajaran tentang adanya tiga dunia; dunia tengah tempat manusia
hidup, dunia atas tempat para dewa dan para suci, serta dunia bawah tempat orang yang
jalan hidupnya tidak benar/dipenuhi angkara murka.
Ragam motif Semen
1. Semen Gurdo, digunakan untuk pesta. Makna yang terkandung yakni agar
si pemakai mendapatkan berkah dan terlihat berwibawa.
2. Semen Romo, Motif Semen Rama (dibaca Semen Romo) sendiri seringkali
dihubungkan dengan cerita Ramayana yang sarat dengan ajaran Hastha
Brata atau ajaran keutamaan melalui delapan jalan. Ajaran ini adalah
wejangan keutamaan dari Ramawijaya kepada Wibisana ketika
dinobatkan menjadi raja Alengka. Jadi “Semen Romo” mengandung
ajaran sifat-sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang raja atau
pemimpin rakyat. Nasihat tersebut termaktub di dalam asta brata
(delapan keutamaan bagi seorang pemimpin)
3. Semen Mentul, digunakan untuk pakaian sehari-hari. Orang
yang menggunakan motif ini umumnya tidak memiliki keinginan
yang pasti.
4. Semen Rante, rante berarti rantai yang melambangkan ikatan. Jadi motif
ini memiliki arti ikatan cinta yang terus tumbuh bersemi antara kedua
mempelai.
5. Semen Kuncoro, digunakan kegiatan sehari-hari di kraton. Mengandung
makna bahwa sang pemakai akan memancarkan kebahagiaan.
13
6. Semen Kakrasana, motif berasal dari Surakarta. Dibuat ketika Paku
Buwono IX, setelah abad ke 19, menggambarkan keteguhan hati, berjiwa
kumawulo (merakyat). Bisa digunakan oleh masyarakat umum.
7. Semen Naga Raja, dibuat ketika Paku Buwono IV, akhir abad ke 18,
sebagai lambang ketentraman dalam menjalankan pemerintahan,
memberikan perlindungan kepada rakyat atas dasar cinta kasih..
Digunakan oleh abdi dalem keraton setingkat bupati ke atas.
8 Semen Kingkin, bermakna menunjukkan suasana prihatin
dalam kehidupan, dan permohonan supaya diberi jalan yang
terang. Khusus untuk orang yang sudah berkeluarga, bukan lajang.
9. Semen Kipas, berarti memberikan kesegaran. Motif ini termasuk motif
yang muda (batik gagrak anyar). Dipakai untuk siapa saja dalam suasana
apa saja.
10. Semen Kukila, bermakna agar manusia dalam bertutur kata hendaknya
tidak membuat sakit hati orang lain, seharusnya dapat menyenangkan
orang lain. Dipakai untuk siapa saja dalam suasana apa saja.
11. Semen Sida-Raja, bermakna harapan terlaksananya cita cita yang
tinggi. Biasanya digunakan oleh Bupati keatas, atau masyarakat pada
saat upacara resmi.
12. Semen Remeng, bermakna mengingatkan bahwa dalam kehidupan ini
selalu ada dua hal yang berpasangan, misalnya ada masa senang dan
masa susah, baik dan buruk, dan sebagainya. Bisa digunakan oleh
masyarakat umum.
13. Semen Candra, dibuat ketika Paku Buwono IX, pertengahan abad ke 19,
berisi petunjuk bahwa seorang yang mempunyai kedudukan tinggi harus
memberikan pengayoman kepada yang berada dibawahnya,
menunjukkan sikap kumawulo (merakyat) dan tidak kumawasa (sok
berkuasa). Bisa digunakan oleh masyarakat umum.
14. Semen Gendhong, dibuat ketika Paku Buwono IX, akhir abad ke 19,
berarti menjunjung tinggi derajat keluarganya. Bisa digunakan oleh
masyarakat umum. Pola motif ini terdiri dari sembilan motif utama. Posisi
pohon hayat di samping kanan-kiri atas sepanjang motif-motif garuda. Di
samping kanan-kiri bawah terdapat motif binatang berkaki empat, di
bawah pohon hayat terdapat motif garuda, dan di bawahnya terdapat
empat pasang motif ayam. Di atas pohon hayat terdapat motif meru,
kemudian di samping kanan-kiri atas terdapat motif baito, di atas
meru juga terdapat motif sepasang burung dan sepasang motif
ikan. Secara keseluruhan motif pohon hayat di atasnya motif
meru dikelilingi oleh motif binatang darat, air, dan udara seolah menjaga
keberadaan pohon hayat.
14
2. Motif Batik Pekalongan
Batik pekalongan tergolong dalam batik pesisiran meskipun ada juga batik keraton namun
sampai saat ini batik pekalongan lebih terkenal dengan batik pesisirnya. Pola hias batik
pekalongan hampir sama dengan batik cirebon yaitu mendapat pengaruh dari bentuk
ragam hias taman Sunyaragi dan Keraton Pakungwati. Bentuk taman
Sunyaragi digambarkan tanah wadas meniru keadaan di negara Cina. Demikian pula
bentuk mega mendung dan kontur ombak-ombak laut.
Batik pekalongan kuno beragam hias Sigobarong dan banyak nama nama batik Cirebon
lainnya yang mendapat pengaruh kuat dari peninggalan ragam hias bermotif seni Cina.
Dalam pilihan warna, telah mendapat pengaruh warna dari keramik biru dan putih.
Meskipun ada warna-warna yang mencolok di luar biru dan putih, tetapi sejarah warna
batik Cirebon dimulai dengan dua warna biru dan putih. ragam hias yang digunakan batik
pekalongan kebanyakan diambil dari bangunan Taman Sunyaragi dan Keraton. Batik
Pekalongan lebih banyak dipengaruhi oleh pola ragam hias dari keramik Cina
yang menghiasi bangunan keraton Kasepuhan dan Makam Raja-Raja Cirebon di gunung
jati.
Teknik pewarnaannya sudah menggunakan teknik colet untuk mendapatkan hasil warna
yang diinginkan Pada awalnya pekalongan merupakan daerah kekuasaan cirebon
kemudian beralih menjadi daerah kekuasan mataram, hal ini menyebabkan masyarakat
Pekalongan merasa diperlakukan sebagai daerah jajahan.
Pada periode ini juga mulai diberlakukan aturan pemakaian batik di mana masyarakat
biasa dilarang memakai maupun memproduksi batik bermotif larangan (Awisaning Ratu/
Larangan Dalem). Namun perajin di desa-desa masih membuat batik tradisi lama berpola
kawung gringsing atau tumpal. Namun pembuatan batik ini tidak
mempengaruhi pengembangan batik asli, seperti jlamprang atau batik campuran
gaya Cina.
Diskriminasi pemakaian busana ini melahirkan kebencian kaum pedagang muslim dan
Tionghoa kepada kaum priyayi penguasa. Sikap perlawanan masyarakat Pekalongan
terhadap kekuasaan Mataram ini mempengaruhi munculnya corak-corak batik Pekalongan.
Motif baru tersebut adalah merak ngigel. motif merak ngigel digambarkan dengan simbol
burung merak yang sedang menari sehingga memberikan makna sifat-sifat masyarakat
Pekalongan yang tidak mau ditindas dan mandiri.
15
Ciri motif batik pekalongan
1. Pada beberapa motif batik Pekalongan yang klasik (tua) tergolong motif
semen. Motif ini hampir sama dengan motif-motif klasik semen dari daerah
Jawa Tengah, seperti Solo dan Yogyakarta yang terdapat ornamen bentuk
tumbuhan dan garuda atau sawat. Perbedaannya pada kain klasik ini
hampir tidak ada cecek. Semua pengisian motif berupa garis-garis.
2. Warna soga kain dengan motif dari tumbuhan. Pada kain batik klasik
Pekalongan ini motifnya terdapat persamaan dengan kain batik klasik daerah
Solo dan Yogyakarta.
3. Motif asli Pekalongan adalah motif jlamprang yaitu suatu motif semacam nitik
yang tergolong geometris. Mungkin motif ini adalah corak yang
dikembangkan oleh pembatik keturunan arab karena pada umumnya orang
arab yang beragama Islam tidak mau menggunakan ornamen bentuk benda
hidup, misalnya binatang atau burung. Mereka lebih suka ragam hias yang
berbentuk geometris. Namun Dr. Kusnin Asa berpendapat bahwa
motif jlamprang merupakan pengaruh kebudayaan Hindu Siwa.
4. Beberapa corak kain yang diproduksi di Pekalongan mempunyai corak atau
gaya Cina seperti adanya ornamen Liong berupa naga besar berkaki dan
burung Phoenix, yaitu sejenis burung yang pada bulu kepala, sayap, dan
ekor berjumbai serta bergelombang
5. Kain batik yang dikembangkan atau diproduksi oleh pengusaha batik
keturunan Cina , gambar-gambarnya pada motif berupa bentuk-bentuk riil
(nyata) dan banyak menggunakan cecek-cecek (titik-titik) serta cecek sawut
(titik dan garis). Isen-isen pada ornamen penuh dengan cecek.
6. Sifat umum dari penduduk daerah pantai menyukai warna-warna yang
cerah, seperti warna merah, kuning, hijau, biru, violet, dan oranye.
7. Motif batik pekalongan selalu berubah, banyak motif baru yang diciptakan,
terutama oleh pengerajin batik cap
8. saat ini batik Pekalongan mempunyai corak khusus, yaitu bermotif bentuk
tumbuhan realistis dan jlamprang dengan warna-warna yang cerah.
9. Dilihat dari segi pewarnaan Pekalongan mempunyai keunggulan dari
daerah lain.
16
3. Motif Batik Monokrematik
Batik monokrom merupakan salah satu batik modern atau sering
disebut batik kreasi baru. Batik modern adalah batik yang diproses
dengan teknik baru dan tidak menggunakan warna yang biasa di gunakan
untuk pewarna batik tradisional seperti warna merah, sogan, biru dan
hitam. Batik modern menggunakan warna eksperimen (warna
percobaan). Ragam hias yang digunakan juga tidak mengandung makna
tertentu. Batik monochrome merupakan penerapan teknik batik dan
pewarnaan dengan satu jenis warna pada kain.
Monokromatik berasal dari kata mono dan chrom. Mono artinya satu atau
tunggal, chrom artinya warna. Jadi monokromatik berarti memiliki warna
tunggal atau satu warna. Batik monokromatik hanya mempunyai satu jenis
warna.
Contoh batik monokromatik adalah batik kelengan dan batik putihan. Batik
monokromatik menggunakan dua atau lebih warna yang sejenis. Misalnya
biru dan biru tua, hijau muda dan hijau tua, merah muda dan merah tua.
Proses pembuatan batik monokrom sama dengan pembuatan batik kelengan,
hanya untuk warna yang dipakai bukan warna wedelan, tetapi warna-warna
lain yang mencolok seperti: merah, hijau, violet, dan sebagainya. Berangkat
dari proses pembuatan batik kelengan yang dikembangkan pada proses dan
jenis zat warna dari wedelan menjadi zat warna sintetis. Zat warna reaktif
yang diinginkan ialah jenis zat warna remasol atau procion dan zat warna
naptol. Teknik batik ini dalam dunia pembatikan di masukan pada proses
pembatikan lain yang disebut batik monokrom. Batik monokrom jarang
dijumpai di pasaran. Batik sekarang lebih cenderung ke arah kombinasi
warna. Monokrom dipandang salah satu proses pembatikan yang lebih
banyak mengolah motif daripada warna.
Ada 2 jenis batik monokromatik yaitu :
1. Batik dengan warna putih pada bagian motif dan warna pada bagian luar
motif.
17
2. Batik tua dan muda yang sejenis, yaitu batik dengan warna muda pada
bagian motif dan warna tua pada bagian luar motif.
4. Motif Batik Simbut
Batik simbut adalah batik kuno yang ditemukan di daerah Banten. Motif Simbut
berasal dari suku Badui pedalaman di Sunda yang kental dengan peradaban lama.
Menurut sejarah pembuatan batik simbut ini tidak menggunakan lilin malam.
Sebagai perintangnya digunakan bubur ketan. Kemungkinan saat batik simbut
ditemukan belum dikenal lilin malam.
Teknik ini mempunyai kelemahan karena perintang tidak bisa menembus kain mori.
Selain itu warna masih bisa merembes ke kain yang dilapisi perintang. Pada
percobaan perintangan sederhana dengan menggunakan bahan bubur kanji kental
atau pasta semen. Seiring dengan berjalannya waktu, para penduduk badui yang
menerima modernitas mengembangkan batik ini di daerah pesisir Banten. Sehngga
batik motif Simbut dikenal juga dengan batik Banten.
5. Motif Batik Jumputan
Sejarah batik ini berasal dari Tiongkok. Karena zaman dahulu perdagangan melalui
lautan sudah lumayan maju. Banyak pedagang dari satu wilayah menjelajah lautan
untuk menyinggahi wilayah lain dan mengadopsi budayanya, termasuk batik.
Salah satu kelompok saudagar yang dianggap berjasa membawa teknik Batik
Jumputan ke Nusantara ialah para pedagang dari India. Perkenalan Batik
Jumputan ini menggunakan misi perdagangan. Di Indonesia, teknik tersebut
disambut gembira. Salah satu penyebabnya, hasil batiknya beragam dengan
rangkaian warna-warna yang bagus. Karena disebarkan oleh saudagar India, maka
batik ini diterima dengan baik di banyak daerah. Di antaranya Sumatra, khususnya
Palembang, di Kalimantan Selatan, Jawa dan Bali.
18
Di Jawa, daerah yang mengembangkan Batik Jumputan ialah
Solo, Yogyakarta dan Pekalongan. Meski akarnya sama, dari Tiongkok,
namun dalam perkembangannya dipengaruhi kondisi daerahnya masing-
masing. Dan itu sangat berpengaruh pada motifnya.
Pada zaman dahulu, batik ini diwarnai menggunakan pewarna alam. Namun
seiring berkembangnya zaman para pembatik lebih suka menggunakan
pewarna sintetis. Karena pewarna sintetis memiliki jumlah warna yang tak
terbatas. Selain itu jika menggunakan pewarna alam prosesnya sangat rumit
dan lama. Namun sebenarnya antara pewarna alam dan sintetis sama-sama
memiliki kelebihan dan kekurangan.
Batik jumputan termasuk dalam golongan jenis batik baru atau modern. Dari
bahasanya, Batik Jumputan memang banyak dikenal di Jawa, meski ada juga
daerah di luar Jawa yang mampu memproduksinya. Jumputan dari Bahasa
Jawa artinya mengambil atau memungut dengan menggunakan semua ujung
jari tangan.
Pembaruan pada batik modern tidak hanya pada urutan pengerjaan, tetapi
juga pemakaian warna dan ragam hiasnya. teknik jumputan
tidak menggunakan lilin malam sebagai bahan perintang. Pada
pembuatan batik jumputan teknik yang digunakan ada 2 macam yaitu
dengan mencelupkan kain pada pewarna dan dengan cara menguaskan
kain pewarna pada kain.
1. Pewarnaan dengan teknik celupan
menjumput kain/ mengambil kain lalu diisi biji-bijian sesuai motif yang
akan diciptakan. Kemudian kain diikat lalu dicelupkan ke dalam bahan
pewarna. Sangat sederhana memang pembuatannya, namun hasilnya
tak kalah dengan jenis batik yang lain.
2. Pewarnaan dengan teknik kuasan
Teknik ini menggunakan tali-tali sebagai penolak warna. Bagian-bagian
kain dijumput dan diikat dengan kuat menggunakan karet gelang atau tali
rafia. Setelah itu kain diwarnai dengan cara di kuas kan. Jadi teknik ini
tidak menggunakan celupan. Hal ini dilakukan untuk menghindari zat
warna terlalu banyak dan merembes ke bagian ikatan. Setelah di kuas
warna, tali-tali dibuka dan kain dijemur. Motif yang dihasilkan adalah
pada bagian kain yang dijumput tidak terkena warna sehingga
menyisakan warna kain. Batas antara warna dengan bagian kain yang
dijumput berbentuk gelombang abstrak.
19
6. Motif Batik Formika
Batik formika merupakan contoh batik modern yang pembuatannya dengan cara
menempelkan warna pada kain. Motif yang dihasilkan adalah motif abstrak. Teknik ini
digunakan dalam tekstil di daerah Pekalongan pada tahun 1973.
Alat dan bahan yang diperlukan antara lain sebagai berikut :
1. Bak yang memiliki permukaan luas
2. Cat minyak (cat kayu) dengan berbagai warna
3. Terpentin (minyak pengencer cat)
4. Air bersih
5. Kain mori
Berikut Proses pembuatan batik formika
Siapkan selembar kain mori putih sesuai ukuran yang dibutuhkan Isi bak dengan air
sampai penuh (2 cm di bawah mulut bak) Encerkan cat minyak dengan terpentin. Pilih cat
yang memiliki warna cerah dengan kualitas yang baik.
Ciprat-cipratkan cat secara acak ke permukaan air dalam bak. Untuk membantu
penyebaran warna digunakan kipas angin. Bentangkan dan tempelkan permukaan kain
yang akan diberi warna ke atas permukaan cat dalam bak.
7. Motif Batik Lukis
Batik Lukis termasuk batik kreasi baru. Batik lukis tidak menggunakan motif tradisional, dan
motif kreasi sendiri. motif yang digunakan biasanya motif sederhana. Batik lukis disebut
juga dengan batik painting, proses pembuatannya langsung di atas kain yang menghasilkan
tampilan yang lebih cerah dan warna yang beraneka ragam. Pembuatan batik ini biasanya
dilakukan langsung di atas kain tanpa menggunakan sketsa atau coretan terlebih dahulu.
Pada pembuatan batik ini sering kali pencantingan dan pewarnaan dilakukan beriringan
untuk mendapatkan hasil lukisan yang di inginkan. Untuk mendapatkan warna atau efek
yang diinginkan pengrajin tidak hanya menggunakan kuas tetapi juga menggunakan kapas,
spons ataupun potongan kain. Hal yang terpenting dalam pembuatan batik lukis ini adalah
perpaduan dari pengerjaan pembatikan dan pewarnaan yang tergantung dari cita rasa
pembuatnya.
20
Teknik Batik Lukis Berikut adalah cara atau langkah pembuatan Batik Lukis :
Siapkan selembar kain mori. Buatlah gambar pola pada kain tersebut sesuai kreasimu
sendiri, Tebali pola dengan cairan lilin malam yang telah dipanaskan.
Gunakan ukuran canting yang sesuai pola. Kalian bisa menggunakan canting biasa
(tradisional) boleh pula menggunakan kuas untuk mendapatkan karakter yang pas. Berilah
warna dengan menggunakan teknik celup atau coletan setelah lilin pada kain mori
mengering. Setelah pewarnaan selesai keringkan dengan cara diangin-anginkan.
Keroklah lilin pada kain mori dengan pisau tumpul agar mori tidak rusak. pada proses ini
tentu hasilnya belum benar-benar bersih lilinnya, maka lakukan dengan cara di setrika agar
benar-benar bersih.
C. Batik Berdasarkan Teknik Pembuatan
Berdasarkan teknik atau cara pembuatannya terdapat 5 jenis cara atau teknik pembuatan
batik yaitu batik tulis, batik cap, batik cap kombinasi tulis, celup ikat dan batik printing. Dari
masing-masing teknik tersebut mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda dan
menghasilkan batik yang berbeda pula. Berikut akan dibahas masing-masing teknik
pembuatan batik.
1. Batik Canting Tulis
Teknik pembuatan batik yang paling tua adalah batik tulis di mana proses
pembuatan batik masih menggunakan alat canting tradisional yang diisi dengan lilin
panas sebelum kemudian digoreskan di atas kain membentuk ragam pola batik
yang indah. Setelah semua pola yang diinginkan telah tertutupi lilin, barulah kain
kemudian diwarnai dan lilin di-”lorot” atau dilepaskan dari kain dan terbentuklah
gambar motif batik yang indah. Batik tulis merupakan jenis batik spesial dan mahal
dibanding batik yang lain, karena di dalam pembuatan batik ini sangat diperlukan
keahlian serta pengalaman, ketelitian, kesabaran, dan juga waktu yang lama untuk
menyelesaikan sebuah batik tulis.
Proses pembuatan batik tulis yang masih sangat tradisional ini membuat pengerjaan
batik tulis dapat memakan waktu yang sangat lama. Untuk sebuah batik tulis paling
cepat dapat diselesaikan selama dua minggu oleh seorang pembatik, itu pun
dikarenakan cuaca yang cerah dan desain motif yang biasa dan juga tidak terlalu
rumit. Namun, dibalik proses panjang inilah batik tulis memiliki nilai seni yang sangat
tinggi. Jadi, jangan heran jika batik tulis kerap dijual dengan harga yang cukup
mahal dan fantastis.
21
Teknik membatik yang satu ini butuh jiwa seniman dan ketelitian tinggi untuk
membuatnya. Karena cara pembuatannya yang sangat sulit, perlu sangat teliti, dan
dikerjakan secara manual, karena itulah harga batik canting sangat mahal.
Berikut Cara membatik dengan Teknik tulis:
Pola Digambar pada permukaan kain Setelah itu kain dicelupkan ke dalam larutan
pewarna. Nah bagian yang tertutupi lilin/malam inilah yang akan membentuk pola.
Membatik dengan teknik ini memiliki
Kelebihan dan kekurangan yaitu:
A. Kelebihan Teknik Batik Tulis adalah:
• Motifnya dapat timbul di kedua sisi kain.
• Hasil batik lebih natural dan rapi.
• Teknik Tulis ini dilakukan secara manual dengan menggunakan tangan.
• Unik dan bernilai seni tinggi.
B. Kekurangan Teknik Batik Tulis adalah
• Proses pembuatannya lama
• Harganya relatif lebih mahal
2. Batik Cap
Pada awal abad ke-20, mulai dikenal teknik pembuatan batik lainnya,yakni dengan
menggunakan cap. Batik yang dibuat dengan teknik ini dikenal juga dengan nama batik
cap. Masih sama-sama menggunakan lilin “malam”, perbedaan teknik batik cap dan
tulis adalah pengaplikasian lilin yang tidak menggunakan canting, melainkan cap yang
terbuat dari tembaga dengan ukuran sekitar 20×20 cm. Secara sederhana, proses
pembuatan batik ini seperti menggunakan stempel.
Dengan teknik pembuatan batik ini, proses pengerjaan batik menjadi jauh lebih cepat.
Teknik batik cap merupakan teknik membatik yang dilakukan dengan menggunakan
alat canting cap. Canting cap tersebut akan dicelupkan pada cairan malam kemudian
dicapkan di atas kain mori, Cap akan meninggalkan motif yang dikenal dengan klise .
Berikut cara membatik dengan Teknik Cap:
Kain diletakkan di media seperti meja/alas yang teah disediakan. Cap motif kemudian
ditekankan pada permukaan kain tersebut. Ukuran plat biasanya kecil sehingga pola
pada plat biasanya berulang dan proses pengecapan dilakukan dengan menyambung
gambar gambar pola sehingga media penuh dengan gambar yang diinginkan.
22
Cara pembuatan batik ini juga memiliki Kelebihan dan kekurangan seperti berikut ini:
1. Kelebihan Teknik Batik Cap adalah
➢ Bentuk rapi karena dengan bantuan alat
➢ Proses pembuatan yang cepat
➢ Dapat di produksi dalam jumlah banyak
➢ Harga batik Terjangkau
2. Kekurangan Teknik Batik Cap adalah
➢ Umumnya hanya satu sisi motifnya yang timbul
➢ Motif banyak yang sama
3. Batik Cap kombinasi Tulis
Pada batik kombinasi metode pembuatannya tentu mengadopsi dari kedua teknik tulis dan
cap. Teknik cap digunakan sebagai motif utama sedangkan teknik tulis untuk melengkapi
runga jeda antar motif cap satu dengan yang lain. Motif untuk mengisi bagian yang kosong
tersebut (isen-isen) dapat berupa titik-titik (cecek), bunga atau motif lainnya. Selanjutnya
teknik pewarnaan serta peluruhan malam sama seperti pada teknik pembuatan batik
lainnya.
Kelebihan dan kekurangan yaitu:
A. Kelebihan Teknik Batik cap kombinasi Tulis adalah:
➢ Hasil batik natural dan rapi.
➢ Dapat di produksi dalam jumlah banyak
➢ Motif lebih detail
➢ Unik dan bernilai seni tinggi.
23
B. Kekurangan Teknik Batik cap kombinasi Tulis adalah:
➢ Umumnya hanya satu sisi motifnya yang timbul
➢ Motif banyak yang sama
➢ Waktu yang digunakan lebih lama daripada batik cap
4. Batik Celup Ikat
Jika teknik canting tulis merupakan sebuah teknik membatik yang sangat sulit, maka teknik
ikat celup merupakan teknik membatik yang sangat mudah. Teknik ikat merupakan salah
satu Teknik batik yang cukup unik karena proses pembuatannya yang berbeda, Teknik ini
tidak menggunakan canting ataupun cap tapi menggunakan karet/tali rafia dan kelereng.
Pembuatan motif pada kain batik dengan teknik ikat celup dilakukan dengan mengikat
sebagian kain kemudian dicelupkan ke dalam cairan pewarna. Setelahnya ikatan dibuka,
kemudian kain yang terikat bisa menghasilkan corak tertentu sesuai lipatan ikatannya
karena kain yang terikat tidak akan terkena cairan pewarna.
Teknik membatik ikat celup ini juga dikenal dengan istilah menjumput. Hasilnya disebut
sebagai batik teknik jumputan. Siapa pun bisa belajar teknik membatik yang satu ini karena
bahan, alat dan caranya sangat mudah di coba.
Dalam teknik ini juga memiliki Kelebihan dan kekurangan yaitu:
1. Kelebihan Teknik Batik Celup adalah
➢ Bentuk Unik/abstrak dan natural
➢ Proses pembuatan yang cepat
2. Kekurangan Teknik Batik Celup adalah Motif tidak bisa disesuaikan
5. Batik Printing
Teknik pembuatan batik yang lebih modern adalah batik printing, terdapat dua proses
pembuatan batik printing yaitu secara manual dan digital atau dilakukan oleh mesin. Kain
batik yang dihasilkan dengan teknik printing ini bisa memiliki motif lebih detail dan juga rapi
namun dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan batik-batik yang dibuat dengan
teknik serta metode pembuatan yang lebih tradisional. Meski telah berkembang menjadi
jauh lebih modern, teknik serta metode pembuatan batik tradisional di Indonesia masih
terus dipertahankan karena keeratannya pada adat dan budaya yang ada di Indonesia.
Dalam pembuatan batik ini menggunakan alat sablon manual dan ada yang menggunakan
mesin printing. Proses pewarnaannya sendiri hanya diwarnai pada satu bagian sisi kain
batik saja. Sehingga proses produksinya akan sangat efisien. Proses membatik dengan
printing juga sangat cepat karena itu batik printing biasanya digunakan oleh perusahaan,
harga batik printing juga jauh lebih murah dibandingkan batik tulis yang memang butuh
24
ketelitian dan kreativitas seni tinggi untuk membuatnya. Waktu pembuatan batik dengan
metode printing juga sangat cepat. mesin printing menjadi sebuah alat membatik modern.
Berikut Kelebihan dan kekurangan membatik dengan Teknik Printing
1. Kelebihan Teknik Batik Printing adalah:
➢ Harganya murah
➢ Cocok digunakan pakaian sehari hari
➢ Bisa digunakan oleh siapa saja
2. Kekurangan Teknik Batik Printing adalah
➢ Motif sangat umum digunakan
➢ Kualitas batiknya biasa dan tidak istimewa
➢ Sedikit menghilangkan nilai seni dan tradisional
6. Teknik Colet atau Lukis
Teknik pembuatan batik dengan teknik colet merupakan teknik membatik yang sangat
akrab disapa sebagai teknik lukis. Melalui teknik colet, pembatik harus mengoleskan
pewarna kain dengan menggunakan kuas kemudian dilukiskan motif di atas kain mori.
Teknik yang satu ini butuh jiwa seni yang tinggi dalam pembuatannya karena orang yang
membuat harus jeli. tahapannya harus tepat dilakukan agar warnanya dapat menyatu dan
tidak ada kesan senjang. Dalam pembuatan batik colet, semakin bagus motif batik colet
maka harganya juga akan semakin tinggi. Hanya saja memang membuat batik colet yang
sangat bagus motifnya bukan hal yang mudah.
Berikut Kelebihan dan kekurangan membatik
dengan Teknik lukis
1. Kelebihan Teknik Batik Lukis adalah
A. Bentuk dan motif lebih beragam.
B. Bisa dibuat sesuai keinginan pembuatnya.
C. Lebih Unik dan bernilai seni tinggi.
2. Kekurangan Teknik Batik Lukis adalah
A. Proses pembuatannya lama
B. Harganya juga tergolong mahal
25
Kesimpulan
1. Berdasarkan sejarah batik terdiri dari batik
keraton dan pesisir
2. Berdasarkan motif batik terdiri dari, motif
kelasik, terdiri dari motif ceplok, motif isen,
motif tritik, motif kawung, motif sidomukti,
motif sidornulya, motif semen/gunung. Batik
pekalongan, batik monokromatik, batik simbut,
batik jumputan, batik formika, batik lukis.
3. Berdasarkan proses pembuatan, terdiri dari
canting tulis, batik cap, cap kombinasi tulis,
celup ikat, batik printing, dan teknik colet/ lukis.
26
Daftar Pustaka
https://www.google.com/search?q=gambar+teknik
+batik+colet&tbm=isch&ved=2ahUKEwj32O6E4L3z
AhWZ2nMBHY2nDEoQ2-
cCegQIABAA&oq=gambar+teknik+batik+colet&gs_
lcp=CgNpbWcQAzIFCAAQgAQ6BggAEAgQHlD4gU
1Y7ZhNYNyfTWgAcAB4AIABuQmIAacjkgEHNS0xL
jIuMpgBAKABAaoBC2d3cy13aXotaW1nwAEB&scli
ent=img&ei=c8NhYbfTKJm1z7sPjc-
y0AQ&bih=754&biw=1536&rlz=1C1CHBD_enID974I
D974
https://www.google.com/search?q=batik+formika&
tbm=isch&ved=2ahUKEwjLy8jh5L3zAhWYCbcAHW
fJAlMQ2-
cCegQIABAA&oq&gs_lcp=CgNpbWcQARgHMgoIIx
DvAxDqAhAnMgoIIxDvAxDqAhAnMgoIIxDvAxDqA
hAnMgoIIxDvAxDqAhAnMgoIIxDvAxDqAhAnMgoII
xDvAxDqAhAnMgoIIxDvAxDqAhAnMgoIIxDvAxDq
AhAnMgoIIxDvAxDqAhAnMgoIIxDvAxDqAhAnOgcI
IxDvAxAnUL3DAVjSzAFg2uYBaAFwAHgDgAGHAY
gB_w-
SAQQyMS4zmAEAoAEBqgELZ3dzLXdpei1pbWew
AQrAAQE&sclient=img&ei=Z8hhYYv8MZiT3LUP55
KLmAU&bih=754&biw=1536&rlz=1C1CHBD_enID97
4ID974
https://images.app.goo.gl/P18vBoHkdYU83Uu09
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Batik
https://m.dekoruma.com/artikel/120415/filosofi-motif-
batik-kawung
27