Melati
Dan
Putera Lutong
( SITI NURINA AB MANAF, 261850)
Al-kisah, di sebuah perkampungan yang indah, terdapat sepasang suami isteri yang kaya-raya
bernama Pak Hamid dan Mak Midah. Mereka memiliki dua orang putri, si sulung bernama
Melur dan si bongsu bernama Melati. Keduanya sama-sama cantik. Tapi, sifat mereka jauh
berbeza. Melur memiliki sifat iri hati dan tamak, sedangkan Melati memiliki sifat pemaaf dan
bijaksana.
Pada satu hari Pak Hamid jatuh sakit, beliau meminta putri bongsunya, Melati untuk
mngambil alih perniagaannya. Hal itu membuat si sulung, Melur, merasa iri. "ini tak mungkin
Melati yang menjadi pengganti ayah? Dia hanyalah anak bongsu. Seharusnya, saya yang lebih
berhak menggantikan ayah untuk menguruskan perniagaan," ucapnya kepada Arjuna,
tunangannya.
Rasa iri hati membuat Melur membuatnya menggunakan cara licik untuk melukakan Melati.
Akhirnya, Melur bertemu dengan seorang nenek sihir yang dikenal sangat sakti. "Nenek,
tolong aku dapat harta warisan. Aku percaya engkau dapat membantuku. Aku akan bayar
dengan mahal," ucap Melur. "Hamba akan membantu semampu hamba," ucap si nenek sihir.
Malam menjelang tiba, si nenek sihir mula melakukan sesuatu untuk mengenakan ilmu hitam
kepada Melati. Keesokan harinya, Melati bangun dengan terkejut apabila kulitnya mula merah
dan bernanah.
"Apa yang terjadi pada aku? Kenapa kulit aku berubah?" kata Melati yang panik.
Keadaan Melati yang terkena sihir membuat Melur begitu bahagia apabila nenek sihir itu
sangat sakti.
"Ayah, mesti terkena sumpahan. Bagaimana orang yang terkena sumpahan seperti dia
mampu menguasai perniagaan keluarga" Melur mula menghasut. Tanpa berfikir panjang Pak
Hamid dan isterinya membuat keputusan untuk menjauhkan Melati dari keluarga dengan
mengasingkan Melati ke dalam hutan. Hati Melati mula sayu apabila harus berpisah dengan
keluarga. "Apa yang telah aku lakukan sehingga aku terkena sumpahan sebegini?" luahan hati
Melati.
Setelah lama menempuh perjalanan yang cukup jauh meninggalkan perkampungan, Melati
tiba di hutan tebal. Di dalam hutan, Melati mula membina sebuah pondok yang diperbuat dari
akar-akar pokok dan dedaun.
Hari berganti hari Melati tinggal di dalam hutan membuat dirinya terbiasa dengan keadaan
hutan yang sejuk mahupun suara binatang buas yang terdengar sampai ke pondoknya. Ia
mulai berkawan dengan haiwan penghuni hutan yang datang ke pondoknya. Namun, ada
seekor kera berbulu hitam yang selalu baik kepadanya. Kera ini selalu membawakan buah-
buahan yang dipetik dari pokok sekitar hutan untuk dirinya.
Selain itu, sang kera juga sering membawakan beberapa tangkai bunga untuk Melati. Kera
hitam itu bernama Lutung Kasarung. Betapa bahagianya hati Melati berkawan dengan
haiwan-haiwan di hutan. Ditambah lagi dengan kawan yang setia seperti Lutung Kasarung.
Pada satu malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap pelik. Ia pergi ke tempat yang
sepi untuk bertapa. Hal ini menunjukkan bahawa Lutung Kasarung bukanlah kera biasa.
Tanpa diketahuai apa diminta Lutung Kasarung kepada Dewa dalam tapanya. Tiba-tiba saja
tanah di dekat tempatnya bertapa berubah menjadi sebuah telaga kecil yang berair jernih. Air
telaga itu merupakan ramuan yang berbau harum.
keesokkan, Lutung Kasarung menemui Melati dengan menarik tangan Melati ke satu tempat.
Lutung Kasarung membawanya ke sebuah telaga yang berbau harum.
"Mengapa aku baru tahu ada telaga berbau harum di sekitar sini ya? Ah, sudahlah, Tapi aku
rasa ingin mandi di telaga ini. Lutung Kasarung pun hanya terlompat-lompat tanda setuju.
Melati kemudian masuk ke dalam telaga itu dan berendam. Ia menggosok-gosok tubuhnya
dengan air telaga itu.
Kulit Melati yang merah dan bernanah tiba-tiba menghilang. Kecantikannya telah kembali.
Betapa bahagianya Elsa ketika ia melihat dirinya di air. "Lutung, lihatlah! Kulit tubuhku. Aku
sudah bebas dari sumpahan, Ini semua berkat kamu yang telah menemukan telaga ini. Terima
kasih Dewa Agung. Terima kasih Lutung," balas Melati yang gembira.
Melati menari bahagia seakan tidak percaya tubuhnya mulus seperti sedia kala dan wajahnya
kembali terlihat cantik. Berkali-kali ia melihat dirinya di air telaga untuk meyakinkan diri.
Suatu hari, Melur datang ke hutan untuk memastikan bahwa adiknya masih tinggal di hutan
dengan kulit yang buruk. Melur pergi bersama tunangannya bernama Arjuna dan para
pengawal.
Saat tiba di hutan dan bertemu dengan Melati alangkah terkejut melihat adiknya telah kembali
cantik seperti sedia kala. "Ah, apa yang terjadi? kenapa tubuhmu sudah kembali seperti
sediakala? tanya Melur yang tidak percaya.
"Ini semua berkat si Lutung, Kak. Dia menunjukkan kepadaku tempat telaga yang ajaib dan
mujarab untukku. Maksudnya saya boleh balik ke kampung untuk berjumpa dengan ibu ayah"
jawab Melati bahagia.
"Tidak. Jika kau ingin kembali, kita harus berlawan panjang rambut. Siapa yang memiliki
rambut paling panjang, dialah yang akan kembali ke istana," lawan Melur.
Kemudian, Melur dan Melati mula melepas ikatan sanggul mereka. Keduanya memiliki
rambut yang sangat panjang dan indah. Ternyata rambut Melati lebih panjang dibandingkan
rambut Melur. Melur pun mengaku kalah. Tapi, ia tetap tidak puas hati. Akhirnya Melur
memberi satu syarat lagi kepada Melati. "Baiklah, untuk pertandingan ini aku mengaku kalah.
Tapi kita harus bertanding lagi. Siapa yang memiliki tunang paling kacak, dialah yang
menang," tantang Melur.
Arjuna tunangan Melur, memang kacak. Melati mula bingung untuk menjawab tantangan
Melur. Manakan tunangan, kekasih saja ia tidak ada. Melati membisu seribu kata. Ketika itu,
sang kera Lutung Kasarunglah yang berada di sampingnya. Lutung Kasarung terus melompat-
lompat. Akhirnya, tanpa berpikir panjang Melati berkata," Ini adalah kekasihku."
Mendengar jawaban sang adik, Melur tertawa geli. "lawak apa yang kau buat? Kera hodoh itu
adalah kekasihmu? Mana mungkin seekor kera seperti dia dapat mengalahkan tunanganku
yang kacak ini," ucap Melur .
Setelah mendengar ejekan Melur, tiba-tiba muncul gumpalan asap putih di sekeliling tubuh si
kera. Tidak disangka si kera berubah menjadi seorang pemuda yang sangat kacak berpakaian
indah dan kemas seperti putera raja. Ketampanannya melebihi Arjuna, tunangan Melur.
Melur terkejut dan mati akal harus berbuat apa lagi. Berkali-kali Melur memberi syarat
kepada Melati, berkali-kali pula ia kalah. Akhirnya, ia sedar segala kesalahannya. Ia pun
meminta maaf kepada Melati atas semua kesalahan yang telah dilakukannya.
"Maafkan aku Melati. Aku banyak buat salah padamu. Aku jugalah yang telah membuatmu
seolah-olah terkena sumpahan. Tolong maafkan aku. Jangan hukum aku," ucap Melur yang
menyesali perbuatannya.
Melati yang baik hati memaafkan kesalahan kakaknya. Kemudian, mereka saling berpelukan.
Setelah itu, mereka semua kembali ke kampung berikut sang Lutung Kasarung yang telah
berubah menjadi seorang putera yang kacak. Setibanya di kampung, Melati mengambil alih
perniagaan keluarga dan berkahwin dengan pemuda kacak yang awalnya jelmaan kera dan
telah menemaninya selama tinggal di hutan. Keadaan kembali damai dan tenteram. Melati dan
suaminya hidup bahagia selama-lamanya.