PUSAT NO. 09/2015 99 ta itulah berdiri Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B Jassin yang diresmikan oleh pukulan Gong Ali Sadikin dan beberapa patah kata sambutan dari dedengkot pujangga baru, Sutan Takdir Alisyabana pada tanggal 28 Juni 1976. Dan jadilah PDS H.B Jassin, sebuah tempat yang penuh dengan sejarah sastra yang panjang, sebuah tempat yang menjadi kiblat bagi peng-amat, peneliti, kritikus, penyair, sastrawan, dan pencinta sastra. Mereka datang dari seluruh pelosok dan duduk berlama-lama di sana untuk mengamati, mempelajari dan mencari data mengenai sastra Indonesia, karena di situlah satu-satunya pusat sastra yang terlengkap yang ada di Indonesia. Tempat di mana kita bisa melihat tulisan-tulisan tangan asli dari sastrawan yang melegenda yang kita kenal selama ini. Tempat dimana juga kita bisa melihat hasil kerja keras perintisnya selama berpuluh-puluh tahun. Kini PDS H.B Jassin berada pada titik nadir. Hidup enggan mati pun tak mau. Persoalannya cukup klasik. Kurangnya pendanaan dari pemerintah. Polemik itu sebetulnya sudah begulir. Pertama atas ada-nya surat keputusan mantan Gubernur DKI Jakarta kala itu Fauzi Bowo (SK Gub) DKI Jakarta No. SK IV 215 tertanggal 16Februari 2011. Yang hanya mengelontorkan dana untuk Yayasan Pusat Dokumentasi SastraH.B Jassin, sebesar Rp 50 juta per/tahun, yang tadi dana awalnya mendapatkan 500 jutaper/tahun terhitung dari tahun 2003 untuk pengembangan. Kini dipangkas secara signiϐikan oleh pemprov Jakarta. Dana yang sangat sedikit untuk mengurus sebuah pusat dokumentasi terbesar di Indonesia dan menyimpan lebih dari 50.000 dokumen penting dan mungkin akan tetap bertambah. Dana 50 juta itu pun dimasukkan dalam pos hibah, bantuan sosial dan bantuan untuk program kemasyarakatan. Belum lagi kendala-kendala teknis yang ada di PDS H.B. Jassin, seperti tempat penyimpanan dokumen yang kabarnya kekurangan lahan seiring bertambahnya koleksi, masalah pelayanan dan masalah pendigitalan. Kini pun persoalan pendanaan itu tetap mencuat dan membahayakan masa depan PDS H.B. Jassin. Karena PDS H.B Jassin tidak lagi mendapatkan dana hibah dari pemerintah Provinsi DKI Jakarta, maka perawatan dokumen pun tidak dapat dilakukan dengan baik: Mulai dari AC yang tidak menyala, sampai tertunggaknya gaji para pekerja PDS H.B. Jassin selama berbulan-bulan. Gubernur DKI Jakarta saat ini, Ahok, pun sebenarnya sudah memberi sinyal dengan menawarkan agar PDS H.B Jassin diambil alih penggelolaannya. Namun, diskusi masalah ini cukup alot. Gubernur Basuki sebenarnya sudah memberikan jalan keluar agar PDS H.B. Jassin dijadikan UPT (unit pengelola teknis) di bawah Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DKI. Gubernur Basuki Cahya Purnama, sebenarnya sudah berupaya agar PDS HB Jassin tetap bertahan hidup dengan memberikan sebagian dana operasionalnya untuk mengaji para pegawai PDS H.B. Jassin. Ketua Dewan Pembina Pusat PDS H.B Jassin, yakni sastrawan senior Ajip Rosidi, mengatakan dibeberapa media nasional bahwa ia pasrah jika pemerintah kota mengambil alih PDS H.B. Jassin, dengan syarat bahwa jaminan pekerjaan bagi para pegawai yang sudah bertahun-tahun bekerja untuk PDS H.B Jassin harus jelas. Glosarium
100 PUSAT NO. 09/2015 Apa yang dialami PDS H.B. Jassin tersebut mengundang rasa prihatin mendalam dari para penggiat sastra, sastrawan, dan kritikus sastra di seluruh Indonesia. Namun, rasa prihatin mendalam saja tentu tidaklah cukup. Semua ϐihak harus bergerak bersama-sama mencari jalan keluar yang terbaik bagi masa depan PDS H.B. Jassin yang keberadaannya sangat penting bagi Indonesia maupun bagi para pengkaji sastra Indonesia manca negara. Lebih dari itu, cita-cita H.B. Jassin menjadikan ”Sastra Indonesia sebagai bagian dari warga sastra dunia” harus terus diupayakan. Dengan melihat khasanah dokumentasi sastra yang ada di PDS H.B. Jassin, cita-cita menjadi warga sastra dunia itu bukanlah sebuah cita-cita yang berlebihan, apalagi mustahil. Kemungkinan besar sosok seperti H.B. Jassin tidak akan kita temukan lagi di zaman sekarang. Ia telah menjadi sesuatu yang langka. Namun, Indonesia bagaimanapun sudah menghadiahi kita dengan sosok H.B. Jassin, dan H.B. Jassin sudah menghadiahi kita dengan dokumentasi-dokumentasi sastranya yang berharga. Maka, sudah selayaknya dokumentasinya yang berharga dan luar biasa itu menjadi tanggung jawab generasi kini. Sementara cita-citanya menjadikan sastra Indonesia sebagai warga sastra dunia pun menjadi tugas berbagai lembaga maupun sastrawan generasi kini untuk mewujudkannya dengan sepenuh hati. PDS H.B. Jassin belakangan ini memang sepi penghujung, sekaligus sepi dalam hal pemasukan dana. Foto penyair Chairil Anwar yang terpajang dekat pintu masuk terlihat agak miring sedikit, dan tampak berdebu. Di ruang pengelola, komputer keluaran lama tampak masih terus dipakai untuk memindai beberapa database ke kompuSalah sebuah sudut PDS H.B. Jassin ter. Beberapa bingkai yang terbuat dari kaca keramik yang bertengger di rak dekat ruang duduk pembaca, yang bergambarkan foto para penyair terkenal seperti WS Rendra muda, Jose Rizal Manua muda, Sutardji Calzoum Bahri muda, untuk menyebut beberapa nama, dengan tulisan tangan asli mereka juga sedikit berdebu. Apakah hal ini akan dibiarkan menjadi gambaran utuh tentang sebuah wajah perjalanan panjang sastra Indonesia? Tegakah kita semua membiarkan gambaran kusam itu menjadi gambaran abadi perjalanan sastra Indonesia modern? Kiranya menjadi tanggung jawab kita semua —pemerintah, pengurus PDS H.B Jassin, para sastrawan, para akademisi dan peneliti sastra, para kritikus, para guru sastra— untuk bersama-sama turun tangan menyelamatkan buah cinta yang tulus dan keras kepala dari kritikus legendaris H.B. Jassin.[]