MAKALAH
Asal Mula Batik
Disusun Guna Untuk Memenuhi Tugas Mata Pelajaran Muatan Lokal
Membatik
Nama Guru : Anita Sari, S.Ag.
Disusun oleh :
Admiral Shyaifa Akbar
KELAS X IPA 1
SMA NEGERI 1 BONTANG
KALIMANTAN TIMUR
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberi
rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
ini guna memenuhi tugas kelompok untuk mata kuliah Bimbingan Konseling, dengan
judul “ASAL MULA BATIK “.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena
itu, kami mengharapkan segala bentuk saran serta masukkan bahkan kritik yang
membangun dari berbagai pihak. Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi perkembangan dunia pendidikan.
Bontang, Juli 2021
Admiral Shyaifa Akbar
1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................. 1
DAFTAR ISI............................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 3
A.Latar Belakang…................................................................... 3
B. Rumusan Masalah ................................................................ 4
C.Tujuan Penulisan ................................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. 5
A. Pengertian Batik ................................................................... 5
B. Sejarah Teknik Batik ............................................................ 6
C. Sejarah Batik Indonesia ........................................................ 7
BAB III PENUTUP ..................................................................................... 9
A. Kesimpulan........................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 11
2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Batik merupakan salah satu kekayaan warisan budaya masa lampau, yang telah
membuat Negara Indonesia memiliki ciri yang khas di mancanegara. Perkembangan
batik yang telah melewati perjalanan berabad- abad lalu, telah melahirkan berbagai
jenis dan corak batik yang khas di setiap daerahnya. Batik Indonesia telah sangat
terkenal dunia. Untuk itu sebagai warga Negara Indonesia kita harus bangga dan ikut
mempertahankan warisan budaya agar tidak punah dengan zaman bergantinya.
Dengan adanya warisan budaya ini diharapkan dapat menambah pengetahuan teman-
teman tentang warisan budaya batik Indonesia.
Batik merupakan salah satu budaya asli Indonesia. Kerajinan batik sudah dikenal
sejak lama di Indonesia, khususnya di tanah Jawa. Batik Indonesia, sebagai
keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh
UNESCO yang telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan
dan Non bendawi (Karya Warisan Manusia Lisan dan Tak benda Kemanusiaan) sejak
2 Oktober 2009. Oleh karena itu, sudah sewajarnya saat ini orang Indonesia mulai
memperhatikan batik, mulai saat ini model pakaian dengan batik corak sudah
bermacam- macam dan modern, sehingga dapat digunakan dalam berbagai peluang.
Batik Indonesia memiliki beragam corak yang berbeda setiap daerah dan menjadi ciri
khas daerah tersebut.
3
B. Rumusan Masalah
1. Apakah Pengertian Batik?
2. Bagaimana Sejarah Teknik Batik?
3. Bagaimana Sejarah Batik Indonesia ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui Pengertian dari Batik
2. Untuk Mengetahui Sejarah Teknik Batik
3. Untuk Mengetahui Sejarah Batik Indonesia
4
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN BATIK
Secara etimologi, kata batik berasal dari bahasa Jawa, "ambhatik" dari kata
"amba" berarti lebar, luas, kain; dan "titik" berarti titik atau "matik" (kata kerja dalam
bahasa Jawa berarti membuat titik) dan kemudian berkembang menjadi istilah batik,
yang berarti menghubungkan titik-titik menjadi gambar tertentu pada kain yang luas
atau lebar. Batik juga mempunyai pengertian segala sesuatu yang berhubungan
dengan membuat titik-titik tertentu pada kain mori. Dalam bahasa Jawa, batik ditulis
dengan "bathik", mengacu pada huruf Jawa "tha" yang menunjukkan bahwa batik
adalah rangkaian dari titik-titik yang membentuk gambaran tertentu. Batik sangat identik
dengan suatu teknik (proses) dari mulai penggambaran motif hingga pelodoran. Salah
satu ciri khas batik adalah cara penggambaran motif pada kain yang menggunakan
proses pemalaman, yaitu menggoreskan malam (lilin) yang ditempatkan pada wadah
yang bernama canting dan cap. Menurut KRT.DR.HC. Kalinggo Hanggopuro (2002, 1-
2) dalam buku Bathik sebagai Busana Tatanan dan Tuntunan menuliskan bahwa, para
penulis terdahulu menggunakan istilah batik yang sebenarnya tidak ditulis dengan kata
"Batik" akan tetapi seharusnya "Bathik". Hal ini mengacu pada huruf Jawa "tha" bukan
"ta" dan pemakaian bathik sebagai rangkaian dari titik adalah kurang tepat atau
dikatakan salah.
Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan kain. Selain itu batik bisa
mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan
menggunakan malam, teknik ini adalah salah satu bentuk seni kuno yang berguna
untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literature Internasional, teknik
ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang
dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki
kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta
pengembangan motif dan budaya yang terkait. Batik juga termasuk jenis kerajinan
yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia
(khususnya Jawa) sejak lama.
5
B. SEJARAH TEKNIK BATIK
Seni pewarnaan kain dengan teknik perintang pewarnaan menggunakan malam
adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini
telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan di temukannya kain pembungkus mumi
yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga
diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang
semasa Periode Nara(645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku
Yorubadi Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolofdi Senegal. Di Indonesia, batik
dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat popular akhir
abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai
awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia sekitar tahun 1920-an.
Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri
tidaklah tercatat G.P. Rouffaer berpendapat bahwa teknik batik ini kemungkinan
diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atauke-7. Di sisi lain,J.L.A.
Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (sejarawan Indonesia) percaya bahwa
tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu
dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi
diketahui memiliki tradisi kuno membuat batik.
G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad
ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa
dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting
ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.Detail ukiran kain yang menyerupai pola batik
dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur
abad ke-13. Detail pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang
rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini
menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan
Canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.
Legenda dalam literature Melayu abad ke-17,Sulalatus Salatin menceritakan
Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke
6
India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada
setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu dia membuat sendiri
kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya
mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa. Oleh
beberapa penafsir, who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.
Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History
of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi
Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang
saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya
saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-
19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition
Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.
Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik
otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak,
sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan
canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke
wilayah Persekutuan Malaysia juga membawa Batik bersama mereka. Sekarang batik
sudah berkembang di beberapa tempat di luar Jawa, bahkan sudah ke mancanegara.
Di Indonesia batik sudah pula dikembangkan di Aceh dengan batik Aceh, Batik Cual di
Riau, Batik Papua, batik Sasirangan Kalimantan, Batik Minahasa, dan lain-lain.
C. SEJARAH BATIK INDONESIA
Kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman Majapahit dan terus
berkembang hingga kerajaan berikutnya. Meluasnya kesenian batik menjadi milik
rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad 18 atau awal
abad
19. Batik yang dihasilkan ialah batik tulis sampai awal abad 20 dan batik cap dikenal
baru setelah usai Perang Dunia I atau sekitar 1920. Kini batik sudah menjadi bagian
pakaian tradisional Indonesia. Batik juga termasuk jenis kerajinan yang memiliki nilai
seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak
lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan
mereka
7
dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik
adalah pekerjaan eksklusif bagi kaum perempuan. Semenjak Industri aliansi dan
globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal
sebagai “Batik Cap dan Batik Cetak”, yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam
bidang ini. Pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis
maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, di
mana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan
menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Tradisi membatik pada mulanya
merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenal
berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status
seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tradisional hanya dipakai oleh
keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Sejarah batik yang tepat tidak dapat dipastikan tetapi artefak batik berusia lebih
2000 tahun pernah ditemui. Dari mana pun asalnya, hasil seni ini telah menjadi warisan
peradaban dunia. Jenis corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak
dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat
beragam. Khas budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong
lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisional dengan ciri kekhususannya sendiri.
Pemakaian batik dalam busana tradisi mempunyai sejarah yang lama berlangsung dari
zaman awal tamadun Melayu. Dipakai oleh semua golongan, dari raja ke bangsawan
sampai rakyat jelata, batik dijadikan sebagai seni asli yang praktikal dan popular. Dalam
tradisi penulisan kain cindai misalnya disebut dalam banyak hikayat- hikayat silam.
Batik menjadi hadiah perpisahan dan perlambangan cinta dalam hikayat Malim Demam
dan dijadikan tanda penganugerahan derajat dalam Hikayat Hang Tua.
8
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan kain. Selain itu batik bisa
mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan
menggunakan malam, teknik ini adalah salah satu bentuk seni kuno yang berguna
untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain.
Seni pewarnaan kain dengan teknik perintang pewarnaan menggunakan malam
adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini
telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus
mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga
diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang(618-907) serta di India dan Jepang
semasa Periode Nara(645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku
Yorubadi Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolofdi Senegal.
Kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman Majapahit dan terus
berkembang hingga kerajaan berikutnya. Meluasnya kesenian batik menjadi milik
rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad 18 atau awal abad
19. Batik yang dihasilkan ialah batik tulis sampai awal abad 20 dan batik cap dikenal
baru setelah usai Perang Dunia I atau sekitar 1920. Kini batik sudah menjadi bagian
pakaian tradisional Indonesia. Batik juga termasuk jenis kerajinan yang memiliki nilai
seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak
lama.
Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan
majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik
banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan
Solo dan Yogyakarta. Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk
pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman
dahulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk
pakaian
9
Raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja
yang tinggal di luar kraton, maka kesenian batik ini di bawah oleh mereka keluar
kraton dan dikerjakan di tempatnya masing-masing. Dalam perkembangannya lambat
laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi
pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang.
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan merupakan salah satu
kekayaan warisan budaya bangsa Indonesia. Batik adalah proses gantung warna
dengan memakai lilin malam yang berulang-ulang di atas kain. Batik merupakan
salah satu kebudayaan Indonesia yang harus kita lestarikan, oleh karena itu kita
sebagai generasi bangsa hendaknya turut andil dalam upaya pelestarian kebudayaan
batik.
10
DAFTAR PUSTAKA
Hindayani, Fisika, 2009.Mengenal dan Membuat Batik. Jakarta
Selatan : Buana Cipta Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/Batik (diakses tanggal 21 Januari 2019)
https://www.dosenpendidikan.com/pengertian-sejarah-dan-jenis-
batik-indonesia/ (diakses tanggal 21 Januari 2019)
11