The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Materi ini adalah materi pertama dalam pembelajaran Sejarah Indonesia pada jenjang SMK

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by taufiknuralif8, 2021-08-01 08:48:18

Konsep Dasar Sejarah

Materi ini adalah materi pertama dalam pembelajaran Sejarah Indonesia pada jenjang SMK

MODUL SEJARAH INDONESIA
BAB 1

KONSEP DASAR DAN CARA BERFIKIR SEJARAH

Oleh : Taufik Nuralif, S.Pd

SMK MVP ARS INTERNASIONAL
BANDUNG
2020

3.1. Memahami konsep dasar sejarah ( berpikir kronologis, diakronik, sinkronik,
ruang dan waktu serta perubahan dan keberlanjutan)

4.1. Menyajikan hasil pemahaman tentang konsep dasar sejarah (berpikir
kronologis,diakro-nik, sinkronik, ruang dan waktu serta perubahan dan
keberlanjutan)

Bacalah Modul ini sebagai bahan bacaan dalam proses pembelajaran mata pelajaran
Sejarah Indonesia !

A. Pengertian Sejarah

Setiap orang pasti tahu apa itu sejarah. Sejarah menjadi hal penting yang
patut diketahui oleh semua orang. Pengertian sejarah mengacu pada kejadian
masa lampau yang kebenarannya dapat dibuktikan dengan peninggalan-
peninggalan yang ditemukan. Secara berkesinambungan, sejarah akan
berkaitan dengan masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Orang-orang di
masa depan akan melihat saat ini sebagai masa lalunya, dan mengenangnya
sebagai sejarah. Untuk memahami lebih jauh soal sejarah, simaklah ulasan di
bawah ini.

1. . Herodotus (The Father of History)
Sejarah merupakan satu kajian guna menceritakan sebuah perputaran jatuh
bangunnya seorang tokoh, masyarakat, serta peradaban.

2. Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun berpendapat bahwa pengertian sejarah merupakan sebuah
catatan mengenai peradaban dunia atau umat manusia, tentang berbagai
perubahan yang terjadi pada watak masyarakat tersebut.

3. Muhammad Yamin

Sejarah menurut Muhammad Yamin adalah kajian ilmu pengetahuan yang
disusun berdasarkan hasil dari sebuah penelitian. Di mana kejadian di masa
lampau dibuktikan secara nyata dengan adanya bukti-bukti yang konkret.

Pengertian Sejarah Secara Umum
Dari berbagai pengertian sejarah yang dikemukakan oleh para ahli di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa sejarah merupakan kejadian atau peristiwa di masa
lampau yang memiliki bukti nyata dan dibuktikan dengan berbagai macam
penelitian. Sejarah menjadi sesuatu yang bermakna, di mana pengetahuan
tentang suatu peristiwa akan lahir darinya, tentang berbagai jenis makhluk hidup
yang ada di masa lampau.

B. Konsep Manusia, Ruang dan Waktu

Ada 3 unsur sejarah yaitu manusia, ruang dan waktu. Ketiga merupakan satu kesatuan
tak terpisahkan.

1. Manusia

Manusia dan sejarah itu selalu berkaitan. Tanpa sejarah maka keberadaan
manusia di muka bumi patut dipertanyakan asal usulnya. Sementara itu
tanpa manusia maka sejarah tidak akan pernah tercipta. Maka dari itu
manusia adalah unsur utama sejarah.
Manusia punya kedudukan sebagai objek dan subjek sejarah. Sebagai
objek sejarah, manusia merupakan aktor dalam setiap kejadian sejarah.
Sebagai subjek sejarah, manusia berperan merekonstruksi sebuah kejadian
menjadi sebuah kisah atau cerita.
2. Ruang

Dalam kajian sejarah ada unsur yang tidak bisa lepas yaitu ruang. Peristiwa
hanya akan terjadi pada suatu tempat tertentu. Contohnya Peristiwa
Rengasdengklok terjadi di Karawang, Proklamasi di Jl Pegangsaan 56,
Jakarta dan lainnya. Artinya hanya akan ada satu kejadian pada satu
tempat. Peristiwa itu secara otomatis tidak terjadi di tempat lain karena
terikat oleh ruang.
3. Waktu

Sejarah merupakan kejadian-kejadian yang dialami manusia pada masa
lalu. Kejadian ini merupakan bukti bahwa kehidupan manusia tidak
dilepaskan dari unsur waktu. Meski itu tidak semua kejadian yang dialami
manusia di masa lalu dapat disebut peristiwa sejarah.
Hal ini karena peristiwa sejarah hanya terjadi satu kali dan tidak terulang
lagi. Bila peristiwa terjadi berulang-ulang maka bukan berarti peristiwanya
kembali terjadi namun pola-pola peristiwa yang memiliki kesamaan
dengan peristiwa pada masa lalu.

C. Cara Berfikir dalam Sejarah

1. Kronologis

Sejarah mengajarkan kepada kita cara berfikir kronologis, artinya
berfikir secara runtut sesuai dengan urutan waktu terjadinya peristiwa.
Konsep berfikir kronologis ini sangat diperlukan jika kita ingin
memecahkan masalah .Konsep Kronologis akan memberikan kepada
kita gambaran yang utuh tentang peristiwa atau perjalanan sejara dari
tinjauan aspek tertentu.

Kronologis tujuannya untuk menghindari anakronisme, yaitu
penempatan peristiwa yang tidak sesuai dengan waktu terjadinya
peristiwa.

Contoh kronologis :

Pembabakan Sejarah Indonesia
1) Masa Pra AKsara
2) Masa Kerajaan Hindu Budha
3) Masa Kerajaan Islam
4) Masa Kolonialisme Barat
5) Masa Pergerakan Nasional
6) Masa Pendudukan Jepang
7) Masa Revolusi
8) Masa Orde Lama
9) Masa Orde Baru
10)Masa Reformasi

2. Diankronik

Diakronik dalam Bahasa Yunani berarti melintas, melampaui atau
melalui. Jadi artinya diakronik adalah sesuatu yang melintas,
melampaui dan melalui dalam batasan waktu. Cara berfikir diakronik
mengajarkan pada kita untuk lebih teliti dalam mengamati gejala atau
fenomena tertentu, peristiwa atau kejadian pada waktu tertentu.

Masih berhubungan dengan pembatasan waktu, sejarah mengenal
istilah periodisasi yankni pengklasifikasian peristiwa – peristiwa sejarah
dalam tahap- tahap dan pembabakan tertentu.

Contoh Diakronik :

 Zaman pra aksara :

1. Masa Berburu dan meramu

2. Masa Bercocok tanam

3. Masa Bercocok tanam tingkat lanjut

4. Masa Perundagian

Periodisasi banyak digunakan untuk mengetahui gambaran tentang

keadaan masyarakat, system politik, ekonomi, agama dan

kepercayaan

 Dinasti yang pernah memerintah di Jawa dari kebudyaan Hindu-

Budha

a. Dinasti Sanjaya 732- 850 M

b. Dinasti SYailedra 750- 900 M

c. Dinasti Isyana 900- 1200 M

d. Dinasti Girinda 1222- 1478 M

e. Dinasti Demak 1521- 1568 M

f. Dinasti Pajang 1568- 1600 M

g. Dinasti Mataram 1600- 1775 M

2. Sinkronik

Sinkronik sendiri aslinya berasal dari Bahasa Yunani, yaitu “syn” yang
artinya Dengan dan “khronos” yang artinya waktu/masa. Secara
umum berpikir sinkronik disebut juga berpikir kronologis, yaitu
mempelajari peristiwa sejarah dengan segala aspeknya pada masa
atau waktu tertentu dengan lebih mendalam.

Adapun dalam konsep berpikir sinkronik ini ada beberapa ciri-ciri
yang membedakan dengan konsep berpikir lainnya, diantaranya :

 Mengkaji peristiwa sejarah yang terjadi pada masa tertentu

 Menitikberatkan kajian peristiwa pada pola-pola, gejala, dan
karakter

 Bersifat horizontal
 Tidak ada konsep perbandingan
 Cakupan kajian lebih sempit dan kajiannya sangat sistematis

Menerapkan konsep berpikir sinkronik dalam mempelajari sejarah
maka perlu dengan pendekatan 5 W + 1 H. Artinya, kita perlu
memahami suatu peristiwa sejarah berdasarkan pertanyaan-
pertanyaan tersebut, yang antara lain terdiri dari:

What?

Apa yang sebenarnya terjadi dalam suatu peristiwa? Misalnya
Perang Jawa (de Java Oorlog) merupakan perlawanan rakyat Jawa
Tengah dan Yogyakarta, terdiri atas kalangan priayi, santri, dan
rakyat biasa terhadap kekuasaan Belanda di tanah Jawa.

Who?

Siapa pelaku dalam peristiwa sejarah itu? Dalam peristiwa itu
terdapat tokoh utama yang saling bertentangan yaitu Pangeran
Diponegoro, Kyai Maja, Pangeran Mangkubumi melawan Jenderal
de Kock di dukung Residen Smissaert.

When?

Kapan peristiwa sejarah itu terjadi? Perang Diponegoro terjadi tahun
1825-1830, saat pemerintah kolonial Belanda mulai memperluas
pengaruh politiknya di kerajaan-kerajaan Nusantara termasuk
kesultanan Yogyakarta.

Why?

Mengapa peristiwa sejarah itu terjadi? Perang Diponegoro berawal
dari gejolak dari campur tangan pemerintah colonial Belanda
dalam lingkungan keluarga kerajaan Kraton Yogyakarta.
Lingkungan kraton yang sudah jauh dari nilai islam diperparah
dengan sikap sewenang-wenang Belanda yang membuat jalan
dengan melintasi makam leluhur di Tegalrejo.

Where?

Dimana peristiwa sejarah itu terjadi? Perang Diponegoro meliputi
hampir semua wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.

How?

Bagaimana peristiwa sejarah itu terjadi? Selama 2 tahun pertama
inisiatif penyerangan berasal dari pasukan Dipenogoro. Namun,
sejak tahun 1827 inisiatif penyerangan diambil alih oleh pasukan
colonial dengan strategi Benteng Stelsel pasukan colonial mampu
mendesak pasukan Diponegoro di sejumlah lini pertempuran
bahkan ada sejumlah panglima pengikut Diponegoro yang dapat
ditangkap.

Tekanan pada Pangeran Diponegoro membuatnya bersedia
berunding di Magelang pada 1830. Perang Diponegoro yang
menguras keuangan Belanda itupun berakhir, setelah perang usai
campur tangan colonial Belanda di kraton dan kadipaten makin
kuat.


Click to View FlipBook Version