KATA PENGANTAR Puji dan syukur tim penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan e-Book dengan judul “Kearifan Lokal Minangkabau: Kabupaten Pesisir Selatan”. E-Book ini dikembangkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Dokumentasi Informasi Minangkabau. Buku ini dapat disusun berkat kerjasama anggota kelompok yang sangat baik dan bantuan dari berbagai pihak untuk kelengkapan informasi pada buku ini. Tim penulis yang beranggotakan Hagi Herata, M. Zikri Aulia Rizal, Nurul Prima Wilva, Viona Rosalina, juga mengucapkan terima kasih atas bimbingan yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Dokumentasi Informasi Minangkabau yaitu Ibu Malta Nelisa, S. Sos., M. Hum. Penulis menyadari masih ada banyak hal yang bisa dikembangkan untuk melengkapi informasi pada buku ini. Untuk itu, kritik dan saran dari pembaca juga sangat diharapkan. Akhir kata, penulis berharap buku ini dapat bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan akan kearifan lokal yang ada di Minangkabau. Padang, 21 April 2024 Tim Penulis
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR............................................... Error! Bookmark not defined. DAFTAR ISI ............................................................................................................ 3 DAFTAR GAMBAR ................................................................................................ 4 BAB 1 KEARIFAN LOKAL .................................................................................... 5 A. Pengertian Kearifan Lokal........................................................................... 5 B. Fungsi Kearifan Lokal................................................................................. 6 C. Dimensi Kearifan Lokal.............................................................................. 6 BAB 2 KEARIFAN LOKAL MINANGKABAU...................................................... 4 A. Batagak Pangulu ......................................... Error! Bookmark not defined. B. Manjapuik Marapulai.................................................................................. 6 C. Babako........................................................................................................ 8 D. Rabab Pasisia atau Babiola........................................................................ 10 E. Marandang (Rendang)……………………………………………………....12 F. Pinukuik……………………………………………………………………..13 G. Kesenian Randai Pasisia…………………………………………………….14 H. Pembuatan Kapal Bagan…………………………………………………….15 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 18 DAFTAR PENULIS ............................................................................................... 19
DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Batagak Panghulu .................................... Error! Bookmark not defined. Gambar 2. Manjapuik Marapulai............................................................................... 6 Gambar 3. Babako..................................................................................................... 8 Gambar 4. Rabab Pasisia atau Babiola..................................................................... 10 Gambar 5. Marandang (Rendang)……………………………………………………12 Gambar 6. Pinukuik………………………………………………………………….13 Gambar 7. Kesenian Randai Pasisia………………………………………………….14 Gambar 8. Pembuatan Kapal Bagan………………………………………………….15
BAB 1 KEARIFAN LOKAL Kearifan lokal atau yang disebut dengan local wisdom adalah pandangan hidup dan berbagai strategi kehidupan dalam wujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal. Aktivitas tersebut bertujuan untuk menjawab berbagai permasalahan dan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Secara etimologi, kata kearifan lokal berasal dari kata kearifan dan kata lokal. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata kearifan berarti kebijaksanaan, segala sesuatu yang dibutuhkan dalam berinteraksi atau bersosialisasi. Sedangkan, kata lokal dapat diartikan sebagai suatu tempat tumbuh atau hidup yang dapat berbeda dari tempat lainnya. Kearifan lokal dapat berupa kearifan lokal yang telah diturunkan dari generasi ke generasi ataupun kearifan yang muncul sebagai hasil dari interaksi dalam suatu komunitas (Njatrijani, 2018). A. Pengertian Kearifan Lokal Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan segala bentuk kebijaksanaan yang didasari oleh nilai-nilai kebaikan yang dipercaya, diterapkan dan dijaga keberlangsungannya secara turuntemurun (Njatrijani, 2018). Negara Indonesia mengatur pengertian kearifan lokal di dalam Undang-Undang, yaitu pada Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 yang menyatakan bahwa kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku di dalam tata kehidupan masyarakat yang bertujuan untuk melindungi sekaligus mengelola lingkungan hidup secara lestari. Menurut Sedyawati, kearifan lokal adalah kearifan dalam kebudayaan suku-suku bangsa secara tradisional. Dalam artian yang luas, kearifan tidak hanya dalam ebntuk norma-norma ataupun nilai-nilai budaya, tetapi juga setiap unsur berupa gagasan yang berdampak terhadap teknologi, kesehatan dan estetika. Dari pendapat ini dapat dilihat bahwa kearifan lokal yang dimaksud adalah setiap pola tindakan dan hasil budaya dari tindakan tersebut (Sedyawati, 2006). Dari pendapat lainnya, Rosidi menyatakan bahwa kearifan lokal adalah terjemahan dari local genius yang awalnya diperkenalkan oleh Quaritch Wales yang berarti kemampuan yang dimiliki oleh kebudayaan setempat dalam menghadapi pengaruh dari kebudayaan asing. Kemampuan ini akan berkaitan dengan waktu kedua kebudayaan tersebut saling berhubungan satu dengan yang lainnya (Rosidi, 2011).
B. Fungsi Kearifan Lokal Kebenaran yang telah menjadi kebiasaan di suatu wilayah disebut sebagai kearifan lokal. Kearifan lokal memiliki nilai kehidupan yang tinggi dan layak digali, dikembangkan, dan dilestarikan sebagai antitesis atau perubahan sosial budaya dan modernisasi. Kearifan lokal terus menjadi pegangan hidup dari produk budaya masa lalu yang runtuh. Meskipun bernilai lokal, nilai yang terkandung di dalamnya dianggap universal. Kearifan lokal berasal dari keunggulan budaya dan geografis setempat. Kearifan lokal dianggap sangat berharga dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Sistem diciptakan untuk menghayati, mempertahankan, dan melanjutkan hidup sesuai dengan keadaan, kondisi, kemampuan, dan tata nilai masyarakat. Dengan kata lain, kearifan lokal kemudian menjadi bagian dari gaya hidup mereka yang arif. Dengan bantuan kearifan lokal ini, mereka dapat bertahan hidup dan bahkan berkembang. Adapun fungsi kearifan lokal yang disampaikan dalam Ayat (1986) adalah sebagai berikut: 1) menjadi filter dan pengendali budaya luar; 2) mengakomodasi unsur-unsur budaya luar; 3) mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli; 4) memberi arah pada perkembangan budaya. C. Dimensi Kearifan Lokal Pada buku (Sedyawati, 2006), Mitchell menyatakan bahwa ada enam dimensi yang dimiliki oleh kearifan lokal. Adapun keenam dimensi tersebut meliputi dimensi pengetahuan lokal, dimensi nilai lokal, dimensi keterampilan lokal, dimensi sumber daya lokal, dimensi mekanisme pengambilan keputusan lokal dan dimensi solidaritas kelompok lokal. 1. Dimensi Pengetahuan Lokal Setiap masyarakat memiliki pengetahuan lokal tentang menguasai alam, seperti pengetahuan masyarakat tentang perubahan iklim dan gejala alam lainnya. Hal ini membuat masyarakat memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan hidupnya. 2. Dimensi Nilai Lokal Semua masyarakat memiliki aturan atau nilai-nilai lokal tentang perbuatan atau tingkah laku yang dianut dan diterima oleh semua anggotanya, tetapi nilai-nilai ini berkembang seiring perkembangan masyarakat. Nilai-nilai yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat mungkin tidak diterima atau disetujui oleh kelompok masyarakat yang lain, karena mereka
unik. Seperti halnya orang Dayak, mereka memiliki kebiasaan membuat tato dan menindik di beberapa bagian tubuh mereka. 3. Dimensi Keterampilan Lokal Untuk memenuhi kebutuhan kekeluargaan, atau ekonomi substansi, setiap masyarakat memiliki kemampuan untuk bertahan hidup. Ini adalah cara hidup manusia bergantung pada alam, mulai dari berburu, meramu, bercocok tanam, dan industri rumah tangga. 4. Dimensi Sumber Daya Lokal Setiap masyarakat akan menggunakan sumber daya lokal sesuai kebutuhannya dan tidak akan mengeksploitasi secara besar-besaran atau komersial. Ini adalah tanggung jawab masyarakat untuk menjaga keseimbangan alam agar tidak berdampak bahaya bagi mereka. Kearifan lokal memiliki dimensi sumber daya lokal untuk dilestarikan dan diturunkan dari generasi ke generasi yang berikutnya. 5. Dimensi Mekanisme Pengambilan Keputusan Lokal Pada dasarnya, setiap masyarakat memiliki pemerintahan lokal, yang juga dikenal sebagai pemerintahan kesukuan. Kepala suku memerintah warganya untuk mengikuti aturan yang telah ditetapkan sejak lama. Jika seseorang melanggar aturan tersebut, kepala suku, sebagai pengambil keputusan, akan memberikan sangsi tertentu. 6. Dimensi Solidaritas Kelompok Lokal Manusia tidak dapat hidup sendirian, manusia membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan pekerjaannya. Seperti halnya manusia bekerja sama untuk menjaga lingkungan sekitarnya.
BAB 2 KEARIFAN LOKAL MINANGKABAU Negara Indonesia merupakan negara dengan budaya yang beraneka ragam. Terdapat budaya yang sudah turun menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Banyaknya suku membuat Indonesia memiliki budaya yang berbeda di setiap sukunya. Etnis Minangkabau juga memiliki budaya yang beragam di setiap daerah dengan penduduk minang. Salah satu diantaranya adalah Nagari Singgalang, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Beberapa kearifan lokal yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah sebagai berikut. A. Kearifan Lokal Pengangkatan Datuk/Batagak Penghulu Gambar 1: Batagak Penghulu Pengangkatan seorang pemimpin kaum dilakukan secara musyawarah mufakat melalui aturan-aturan yang harus dipenuhi oleh suku yang akan mengangkat datuk di dalam sukunya. Tradisi pengangkatan datuk menyangkut keberadaan seorang pemimpin di minang yang sangat dibutuhkan di tengah-tengah masyarakat karena pemimpin berfungsi untuk membimbing, mengarahkan, dan mengatur anak kamanakan dalam menata kehidupan. Pengangkatan datuk bisa berlangsung lama dapat menghabiskan waktu tiga hingga tujuh hari. Acara pengangkatan datuk ini dalam prosesinya biasanya calon datuk/penghulu harus menyembelih sapi atau kerbau untuk dihidangkan kepada para tamu. Syarat-syarat menjadi seorang datuk/penghulu diantaranya yaitu memiliki sifat yang empat yang dimiliki oleh Rasulullah yaitu tabligh (menyampaikan), fathanah (cerdas), shiddiq (jujur), dan amanah (dapat dipercaya) dan berpedoman kepada al-qur’an dan hadist yang mana calon datuak/penghulu haruslah laki-laki, berasal dari keluarga baik, baligh (dewasa), berakal, berilmu dan memiliki sifat yang seharusnya dimiliki oleh pemimpin. Proses pengangkatan datuk ini dimulai denggan bermusyawarah bersama keluarga, lalu ada istilahnya musyawarah sapayuang (musyawarah dengan kemenakan) lalu terakhir musyawarah suku. Setelah musyawarah maka proses selanjutnya yaitu pemasangan saluak
kepada datuak yang akan diangkat. Kemudian proses pengambilan sumpah terhadap datuak tersebut. Setelah proses yang ada di rumah gadang selesai maka selanjutnya yaitu bararak, berupa keliling memberitahu masyarakat bahwa sudah ada orang yang suda diangkat menjadi pemimpin yang dijadikan datuk. Kemudian proses selanjutnya proses menjamu (makan) para tamu dan juga kerabat dengan meyembelih seekor sapi/kerbau untuk para undangan. Proses terakhir yaitu pengesaan sebagai anggota Kerapatan Adat Nagari (KAN). 1. Rangkaian Acara batagak penghulu yaitu sebagai berikut: 1) Musyawarah Mufakat: Prosesi ini dilakukan untuk memilih calon penghulu yang akan diangkat. Dalam musyawarah ini, calon penghulu didampingi oleh keluarga besar, anak kemanakan penghulu, dan persukuan di bawah suku. 2) Prosesi Pemasangan Saluak: Calon penghulu diangkat oleh seorang datuk, dan saluak yang diangkat disebut saluak pangulu. Saluak pangulu ini digunakan untuk menjamu para tamu dan menjadi simbol keberadaan penghulu. 3) Pembai'atan: Calon penghulu harus mengambil sumpah atau pembai'atan untuk menjamin keberadaannya sebagai penghulu. 4) Penasehatan Pangulu: Setelah pemasangan saluak, calon penghulu diberi nama dan gelar pangulu sebagai penghulu. 5) Barak: Prosesi ini dilakukan untuk memberitahukan masyarakat bahwa seorang datuk telah diresmikan menjadi penghulu suatu kaum. 6) Prosesi Panjamuan: Setelah barak, dilakukan prosesi panjamuan untuk memberikan jamuan kepada setiap yang hadir dalam upacara Batagak Pangulu. 7) Prosesi Naik ke Balairung Sari: Prosesi ini dilakukan untuk mengangkat seorang penghulu sebagai anggota Kerapatan Adat Nagari (KAN). 2. Makna Kearifan Lokal Batagak Penghulu Makna kearifan pengangkatan datuk/batagak penghulu bagi masyarkat yaitu terjalinnya silaturahmi yang baik dengan tetap mempertahankan dan melestarikan tradisi adat dengan adanya kerja yang dilakukan pada saat acara secara bergotong royong, memperkenalkan budaya masyarkat tersebut kepada wilayah lain yang masih tetap terjaga keunikan dan kelestariannya, menjadikan masyarakat yang aman, damai, dan tentram karena seringnya bekerja sama dan terdapatnya pemimpin yang mengarahkan, membimbing kearah yang lebih baik, menjadikan masyarakat bertanggung jawab akan apa yang telah dipustuskan karena sudah memilih orang untuk dijadikan penghulu/datuk. Prosesi ini mengandung nilai-nilai pendidikan seperti nilai musyawarah, kepemimpinan, kerjasama, sopan santun, tatakrama serta tuturan berbahasa.
Batagak penghulu juga menjadi alat pengesahan pranata dan lembaga adat Minangkabau, pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat selalu dipatuhi anggota kaum, serta sebagai alat pendidikan anak dan suatu kebanggaan di masyarakat. 3. Bentuk atau tipe kearifan lokal batagak penghulu Bentuk atau tipe serta konsep dari kearifan lokal pengakatan datuk/batagak penghulu ini yaitu bentuk tradisi dengan menjadikan seseorang yang layak dijadikan pemimpin yang bisa mengarahkan, membimbing, mendidik para kemenakan untuk menjadi lebih baik. Proses pengangkatan yang cukup memakan waktu serta terdapat beberapa prosesi yang harus dilakukan. Tipe hubungan tradisi batagak penghulu termasuk dalam kategori tipe hubungan sesama manusia, yaitu hasil interaksi yang terus menerus. Beragam bentuk dan tipe dari tradisi ini namun disini prosesinya di akhiri dengan pengesahan datuk/penghulu tersebut di kantor kerapatan adat nagari. B. Manjapuik Marapulai Gambar 2. Manjapuik Marapulai Manjapuik Marapulai adalah proses menjemput pengantin pria yang akan tinggal bersama istri di rumah keluarga istri. Menjemput marapulai dilakukan oleh keluarga pengantin wanita sehari sebelum dilaksanakannya pesta pernikahan sesuai kesepakatan kedua pihak keluarga. Tradisi ini merupakan salah satu proses dan acara yang dilakukan setelah akad nikah selesai. Setelah akad dan resmi menjadi suami istri, pengantin laki-laki pulang ke rumahnya dan pengantin wanita juga pulang ke rumahnya. Kedua mempelai baru tinggal serumah apabila sudah dilaksanakannya tradisi ini. 1. Rangkaian Acara Manjapuik Marapulai 1) Baarak atau berjalan bersama kerumah marapulai
Baarak adalah acara dimana anak daro dan keluarga yang ikut menjemput dalam acara Manjapuik Marapulai berjalan atau baarak bersama-sama menuju rumah pihak keluarga marapulai, anak daro telah mengenakan baju suntiang. 2) Penyerahan jamba gadang Makanan adat yang dibawa oleh pihak keluarga anak daro barang bawaan diserahkan ke keluarga marapulai. 3) Pepatah petitih Setelah menyerahkan bawaan maka dilakukan acara petatah petitih yang dilakukan oleh para niniak mamak (datuak dari suku) anak daro dan marapulai. 4) Acara makan basamo Sebelum petatah petitih tujuan kedatangan disampaikan rombongan anak daro dipersilahkan makan dan pihak keluarga marapulai mempersilahkan para tamu mencicipi jamuan yang telah disediakan. Para tamu duduk lalu ditatiang oleh tuan rumah dan sebelumnya telah disusun dengan piring, gelas, kobokan, lauk pauk, nasi, dan parabuang. 5) Baarak Setelah mendapat kata mufakat dari petatah petitih untuk Manjapuik Marapulai dan memberi gelar untuk marapulai dan telah memakan apa yang telah disediakan, maka petatah petitih kembali yang berisi tentang rombongan mohon diri atau pamit untuk membawa marapulai kerumah anak daro. 6) Basandiang Setelah acara baarak sekeliling kampung maka anak daro dan marapulai basandiang dikediaman anak daro dan melayani tamutamu undangan yang datang. 2. Makna Kearifan Lokal Manjapuik Marapulai Tradisi manjapuik marapulai adalah sebuah tradisi di Minangkabau yang berarti menjemput mempelai pria, pelaksanaannya dilakukan setelah akad nikah atau sehari sebelum pelaksanaan walimah. Acara Manjapuik Marapulai adalah tradisi adat Minangkabau yang kaya akan nilai-nilai budaya. Beberapa nilai yang terkandung dalam acara tersebut antara lain: 1) Kesatuan Keluarga: Acara ini memperkuat ikatan keluarga dan persatuan antaranggota keluarga yang berkumpul. 2) Kehormatan: Menghormati leluhur dan tradisi turun-temurun merupakan nilai penting dalam acara Manjapuik Marapulai. 3) Keramahan: Tamu yang datang disambut dengan keramahan dan kehangatan, mencerminkan nilai-nilai keramahan dan gotong royong dalam budaya Minangkabau. 4) Kearifan Lokal: Acara ini merupakan sarana untuk mempertahankan dan meneruskan kearifan lokal serta nilai-nilai tradisional masyarakat Minangkabau.
5) Solidaritas: Acara ini juga menjadi wadah untuk menunjukkan solidaritas dan dukungan antaranggota komunitas. 6) Rasa Syukur: Melalui Manjapuik Marapulai, masyarakat mengungkapkan rasa syukur atas berkah dan rezeki yang diberikan oleh Tuhan. 7) Kebersamaan: Nilai kebersamaan tercermin dalam proses persiapan, pelaksanaan, dan perayaan acara Manjapuik Marapulai yang melibatkan partisipasi semua anggota keluarga. 3. Bentuk dan Tipe Kearifan Lokal Manjapuik Marapulai adalah sebuah konsep dalam budaya Minangkabau yang mendorong sikap saling membantu antarwarga di desa. Manjapuik Marapulai termasuk dalam kategori kearifan local bentuk tradisi dan intangible, yaitu petuah turun temurun yang mengandung nilai-nilai tradisional. Tipe hubungan tradisi babako termasuk dalam kategori tipe hubungan sesama manusia, yaitu hasil interaksi yang terus menerus. Kearifan lokal ini mengandalkan solidaritas dan gotong royong dalam menyelesaikan masalah dan membangun komunitas. Bentuknya dapat berupa berbagai aktivitas seperti gotong royong membersihkan lingkungan, membantu sesama dalam proses panen atau pernikahan, dan menjaga kebersamaan di antara warga desa. C. Babako Gambar 3: Babako Bako merupakan keluarga dari piak ayah baik itu mempelai pria dan juga wanita. Namun tradisi babako tidak hanya pada saat perkawinan saja ketika acara sunat rasul pun terdapat tradisi babako akan tetapi lebih identic dipernikahan. Setelah ditetapkan waktu diadakannya pesta pernikahan maka bako akan mempersiapkan segala hal untuk anak pisangnya (pria/wanita). Perayaan penjemputan bako ini meruapakan bagian/rangkaian dari pesta pernikahan yang dilangsungkan. Setelah dijemputnya si anak pisang yang akan menikah tersebut maka dirumah bako lah pakaian anak daro/marapulai akan dipasangkan baik itu mempelai pria maupun
mempelai wanita. Setelah mempelai dipasangkan pakaian maka anak pisang pun diantar kembali ke rumah orang tuanya dan proses ini merupakanm bentuk mempersilahkan dari induak bako kepada anak pisang untuk menikah dengan pasangannya. Babako merupakan acara adat pernikahan yang dilaksanakan oleh kerabat ayah atau keluarga dari pihak ayah baik dari keluarga mempelai pria maupun wanita yang memiliki bako yang berbeda-beda. Babako juga mencerminkan kehidupan bergotong royong yang mana pihak keluarga ayah memberikan dan membawakan berupa barang hantaran berupa seperangkat kebutuhan mempelai. Acara babko dilaksanakn dengan tujuan untuk mempererat dan mengakrabkan antara pihak induak bako dengan anak pisang. Babko diadakan sebagai tanggung jawab dari keluarga ayah kepada anaknya yang akan menikah. Secara umum tradisi babko adalah tradisi yang mencerminkan kehidupan bergotong royong pada masyarakat minagkabau yang mana keluarga bako akan mengundang tetanggatetangga dekat rumah serta kerabat jauh untuk ikut membantu masak-masak pada acara hari babko tersebut dan mempersiapkan barang hantaran yang akan dibawa nantinya. Sebelum tradisi babako dimulai maka pihak keluarga induak bako membuat musyawarah kecil dengan seluruh kerabat ayah dan juga niniak mamak untuk membicarakan bahwa akan mengadakan tradisi babako. Hakikat dari acara ini yaitu pihak keluarga dari ayah ingin memperlihatkan kasih sayangnya kepada anak pisangnya dan merasa harus membantu memikul beban sesuai kemampuan mereka. Pada saar hari ditetapkannya tradisi babko maka anak pisang akan dipakaikan pakaian adat kemudian diarak dan diiringi oleh masyarakat yang diundang untuk diantarkan kerumah orang tuanya. Perlengkapan yang biasa dibawa yaitu sirih lengkap, nasi kuning singgang ayam dan hantaran berupa barang yang dibutuhkan oleh mempelai. Ketika sampainya dirumah orang tua maka akan disambut oleh tarian dan juga silat yang sudah sampainya dirumah orang tua maka akan disambut oleh tarian dan juga silat yang sudah dipersiapkan sebelumnya sebagai bentuk penghormatan. Setelah tari dan silat tersebut selesai maka mempelai akan dieri siraman beras kunyit sebagai tradisi dan pihak bako dipersilahkan untuk masuk. Pihak bako memasuki rumah orang tua mempelai dan memberikan seserahan yang sudah dipersiapkan lalu dihidangkan makanan yang sudah dipersiapkan. Makna kearifan lokal babako bagi masyarakat yait sebagai adat turun-temurun yang selalu diadakan oleh masyarakat minang, untuk menunjukkan bagaimana status adat dan orang yang mengadakan acara di masyarakat untuk memperkenalkan kepada keluarga dari pihak ayah bahwa anak dari saudara laki-lakinya sudah menikah, dengan diadakannya tradisi babko ini masyarakat berharap hubungan antara masyarakat semakin akur dan terjaga tali silaturahmi dengan gotong royong saling membantu pada saat acara dilaksanakan. Makna lain kearifan lokal babako ini bagi masyarakat yaitu adat dan tradisi yang tetap terjaga kelestarian adat mereka, sebagai pengukuhan norma-norma beserta nilai-nilai budaya yang telah berlaku secara turuntemurun, menegakkan adat istiadat dalam perkawinan dan juga sunat rasul supaya tidak hilang ditelan zaman.
Bentuk atau tipe dari kearifan lokal ini yaitu dengan dibawakannya seserahan berupa hantaran dan perlengkapan untuk mempelai sebagai bantuan dari bukti kasih sayang keluarga dari pihak ayah. Babako termasuk dalam kategori kearifan local bentuk tradisi dan intangible, yaitu petuah turun temurun yang mengandung nilai-nilai tradisional. Tipe hubungan tradisi babako termasuk dalam kategori tipe hubungan sesama manusia, yaitu hasil interaksi yang terus menerus. Pada waktu acara babako akan melibatkan masyarakat untuk melakukan gotong royong saling membantu diacara tersebut. Konsep dari kearifan lokal babako ini yaitu mengarak marapulai/anak daro oleh keluarga dari pihak ayah dan juga tetangga dekat dan jauh yang sudah di undang hingga tiba dirumah orang tuanya dengan disambut oleh tarian dan juga silat dengan masyarakat yang menyaksikan acara tersebut. D. Rabab Pasisia atau Babiola Gambar 4: Rabab Pasisia atau Babiola Rabab Pasisia atau dikenal juga dengan nama Babiola merupakan kearifan lokal yang berasal dari pesisir selatan Sumatera Barat, Indonesia. Kesenian ini mempunyai ciri fisik dan ciri khas yang membedakannya dengan kesenian lainnya, serta mempunyai makna simbolis penting dalam kepercayaan dan budaya masyarakat setempat. Rabab Pasisia merupakan hasil perpaduan alat musik biola Portugis dan budaya Pasisia.Keterbukaan masyarakat Pesisir Selatan terhadap pengaruh budaya luar membuat kesenian ini berkembang dan menjadi bagian penting dari budaya masyarakat setempat . Penggunaan alat musik gesek yang mirip dengan biola, dan variasi ritme yang dapat dipadukan dengan alat musik lain seperti kendang, chaar, dan saluang. Hal ini membuat Rabab Pasisia semakin populer dan menarik khalayak, termasuk para pendatang Minangkabau. Namun pelestarian kesenian ini juga menghadapi tantangan seperti kurangnya sosialisasi dan lahirnya kembali perkembangan kesenian Rabab yang seolah-olah menyebabkan ada dan tidaknya
kesenian ini. Oleh karena itu pelestarian dan pembaruan kesenian ini secara berkelanjutan sangat penting untuk melestarikan budaya masyarakat setempat. Rabab Pasisia atau dikenal juga dengan nama Babiola merupakan kearifan lokal yang lebih dari sekedar kesenian tradisional. Berikut beberapa makna yang terkait dengan kearifan lokal tersebut: Kaitan Budaya: Rabab Pasisia mempunyai ikatan yang kuat dengan budaya Minangkabau, terutama dalam hal kepercayaan dan tradisi.Kesenian ini telah menjadi bagian integral dari budaya masyarakat setempat dan mempunyai arti penting dalam kehidupan masyarakat. Simbolisme: Rabab Pasisia mempunyai simbolisme yang berhubungan dengan keimanan dan kebudayaan masyarakatnya. Alat musik gesek ini digunakan dalam upacara adat dan mempunyai makna simbolis dalam kepercayaan masyarakat setempat. Misalnya dalam tradisi "Parampisan", rabab digunakan untuk memisahkan anak kembar yang lahir di Area . Kaitannya dengan Sejarah: Rabab Pasisia mempunyai kaitan yang kuat dengan sejarah Minangkabau, khususnya masuknya Islam ke Sumatera Barat. Alat musik ini dibawa oleh para saudagar asal Aceh yang datang ke Minangkabau untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam. Mereka menyebarkan Islam melalui khotbah yang diiringi musik Rabab . Hubungan Masyarakat: Rabab Pasisia mempunyai hubungan yang kuat dengan masyarakat setempat. Kesenian ini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan masyarakat dan mempunyai arti penting dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat setempat sangat peduli terhadap kesenian ini dan berupaya untuk melestarikannya . Secara keseluruhan, Rabab Pasisia atau Babiola lebih dari sekedar kesenian tradisional. Kesenian ini erat kaitannya dengan budaya, simbolisme, sejarah dan masyarakat serta mempunyai arti penting dalam kehidupan masyarakat setempat. Rabab Pasisia atau dikenal juga dengan nama Babiola merupakan kearifan lokal berupa seni tradisional yang tumbuh dan berkembang dalam budaya masyarakat Minangkabau. Kesenian ini tersebar di beberapa daerah, dan setiap daerah atau kota mempunyai jenis dan spesifikasi tertentu. Rabab Pasisia memiliki tipe dan bentuk serta keunikan spesifikasi fisik dan ciri khas yang membedakannya dengan Rabab lainnya, terutama bentuk alat musiknya yang menyerupai biola. Rabab termasuk dalam kategori kearifan lokal bentuk tradisi kesenian yang turun temurun yang mengandung cerita (pantun-pantun dan kaba) yang didendangkan. Secara historis, hal ini disebabkan oleh pengaruh kebudayaan Portugis yang masuk ke Indonesia melalui pantai barat Sumatera pada tahun abad ke-16. Kesenian ini mengandung konsep-konsep yang berkaitan dengan kepercayaan dan kebudayaan masyarakat. Alat musik gesek ini digunakan dalam upacara adat dan mempunyai makna simbolis dalam kepercayaan masyarakat setempat. Misalnya dalam tradisi "Parampisan", rabab digunakan untuk memisahkan anak kembar yang lahir di Area.
Rabab Pasisia mempunyai ikatan yang erat dengan sejarah Minangkabau, khususnya masuknya Islam ke Sumatera Barat. Alat musik ini dibawa oleh para saudagar asal Aceh yang datang ke Minangkabau untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam. Secara keseluruhan Rabab Pasisia atau Babiola mempunyai bentuk atau jenis kesenian tradisional yang unik dan mempunyai keterkaitan yang kuat dengan kepercayaan masyarakat dan konsep-konsep yang berkaitan dengan budaya serta dengan sejarah Minangkabau. E. Marandang (Rendang) Gambar 5: Rendang Marandang diartikan sebagai kegiatan memasak rendang. Rendang merupakan makanan khas Minangkabau yang berbahan dasar daging sapi atau kerbau dan berwarna gelap. Rendang dihasilkan dari proses memasak suhu rendah dalam waktu lama (sekitar empat jam) menggunakan aneka rempah- rempah dan santan. Cara pengadukan dalam proses membuat rendang tidak boleh sembarangan. Caranya dengan aduk ke kiri, aduk ke tepi, dan dorong ke tengah agar rendang matang secara merata. Selama proses memasak, randang harus selalu diaduk. Tidak boleh ditinggalkan atau didiamkan walau beberapa saat.Dalam suhu ruangan, rendang dapat bertahan hingga bermingguminggu. Kegiatan marandang dilakukan untuk menjalin silaturahmi dengan tetangga sekitar tempat tinggal agar puasa yang dijalani menjadi berkah. Bagi masyarakat Minangkabau memasak Randang di hari-hari tertentu sudah menjadi tradisi turun-temurun dari nenek moyang. Rendang memiliki posisi terhormat dalam budaya masyarakat Minangkabau. Rendang memiliki filosofi tersendiri bagi masyarakat Minangkabau, yaitu musyawarah dan mufakat yang berangkat dari empat bahan pokok yang melambangkan keutuhan masyarakat Minangkabau antara lain:
1. Daging sapi/kerbau merupakan lambang ninik mamak para pemimpin adat. 2. Santan merupakan lambang cadiak pandai kaum (intelektual) yang membantu pemimpin adat dalam memecahkan masalah di Masyarakat. 3. Lado/Cabai merupakan lambang alim ulama yang cerdas dan tegas untuk menjalankan Syari’at agama. 4. Bumbu atau rempah merupakan lambang masyarakat Minangkabau termasuk Bundo kanduang. Dalam tradisi Minangkabau, rendang adalah hidangan yang wajib disajikan dalam setiap perayaan adat, seperti berbagai upacara adat Minangkabau, kenduri, atau menyambut tamu kehormatan. Randang termasuk dalam kategori kearifan local bentuk tradisi turun temurun yang mengandung nilai-nilai tradisional dari nenek moyang dan tipe hubungan tradisi ini termasuk tipe hubungan makanan dan sesama manusia. F. Pinukuik Gambar 6: Pinukuik Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan yang memiliki banyak kearifan lokalterutama dibidang makanan salah satunya yaitu pinukuik yang tidak anya sebagai pelepas penasaran bagi wisatawan namun juga dijadikan sebagai buah tangan. Didaerah ini terdapat makan yang dikenal dengan istilah pinukuik. Pinukuik sekilas mirip dengan pancake, namun terdapat perbedaan dari cara penyajian dan jua bahan bakunya. Pinukuik ini berbahan utama kelapa dengan campuran tepung beras, tapai, gula, dan vanili. Kue ini dimasak tidak denan menggunakan api secara langsung melainkan menggunakan serabut kelapa yang telah menjadi bara api. Cara membuat Pinukuik khas Pesisir Selatan yang gurih dan enak melibatkan beberapa langkah berikut: 1) Persiapan Bahan: Siapkan bahan-bahan seperti tepung beras, bahan pangambang kue, karambia muda yang telah dikukus, gula, sedikit garam, dan minyak goreng 2) Membuat Adonan: Masukkan tepung beras ke dalam tempat yang telah disediakan, tambahkan dua sendok pangambang kue dan sedikit air, aduk hingga adonan mengental. Diamkan selama tiga jam, kemudian tutup dengan kain basah.
Setelah adonan mengambang, tambahkan karambia muda yang telah dikukus, gula, dan garam, aduk hingga rata 3) Membuat Pinukuik: Panaskan cetakan yang telah dioleskan minyak. Tuangkan adonan ke dalam cetakan dan tunggu selama 7-10 menit. Setelah Pinukuik matang, angkat dan hidangkan 4) Pengolahan: Pinukuik dapat disajikan dengan cara yang sederhana, seperti hanya diberikan gula atau ditambahkan susu di atasnya. Namun, cara tradisional membuat Pinukuik yang paling gurih dan enak adalah dengan menggunakan kayu dan sabuik untuk memasaknya, sehingga memberikan rasa gurih dan harum yang khas Makanan ini dijual oleh masyarakat setempat yang merupakan salah satu kuliner khas dari ranah minang yang keberadaannya mulai langka dan dapat ditemui proses pembuatannya secara langsung di Batang Kapas ini. Selain Menjadi cemilan, pinukuik ini lebih nikmat dimakan pada pagi hari yang disantap bersama segelas the atau kopi. G. Kesenian randai pasisia Gambar 7: Randai Randai adalah salah satu permainan tradisional di Minangkabau yang dimainkan secara berkelompok dengan membentuk lingkaran, kemudian melangkahkan kaki secara perlahan, sambil menyampaikan cerita dalam bentuk nyanyian secara berganti-gantian. Randai menggabungkan seni lagu, musik, tari, drama dan silat menjadi satu. Cerita randai biasanya diambil dari kenyataan hidup yang ada di tengah masyarakat. Fungsi Randai sendiri adalah sebagai seni pertunjukan hiburan yang di dalamnya juga disampaikan pesan dan nasihat Pertunjukan randai tidak hanya sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat identitas budaya dan mengajarkan nilai-nilai tradisional serta merupakan media pendidikan dan pengajaran tentang etika, falsafah, nilai, dan adat bagi masyarakat dan generasi muda. Bagi masyarakat setempat, randai bukan hanya seni pertunjukan, tapi juga sebuah cerminan dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Melalui randai, mereka mempertahankan dan memperkaya warisan budaya mereka serta memperkuat rasa solidaritas dan kebersamaan dalam komunitas
Randai dalam sejarah Minangkabau memiliki sejarah yang lumayan panjang. Konon kabarnya ia sempat dimainkan oleh masyarakat Pariangan, Tanah Datar ketika masyarakat tersebut berhasil menangkap rusa yang keluar dari laut. Pada Awalnya randai merupakan permainan komunal yang dimainkan oleh pemuda di halaman surau pada malam hari menjelang tidur. Pemuda yang memainkan kesenian ini sebelumnya diajari oleh Pemuda Nagarai (Pemuda Desa). Namun sekarang ini randai dijadikan seni pertunjukan diberbagai kegiatan seperti pernikahan, pesta rakyat, pengakatan penghulu sampai perayaan hari raya Idulfitri, pertunjukan ini bertujuan untuk menghibur masyarakat. Zaman dulu randai adalah media untuk menyampaikan kaba atau cerita rakyat melalui gurindam atau syair yang didendangkan dan galombang (tari) yang bersumber dari gerakan-gerakan silat Minangkabau. Namun dalam perkembangannya, Randai mengadopsi gaya penokohan dan dialog dalam sandiwara-sandiwara, H. Pembuatan Kapal Bagan Gambar 8: Kapal Bagan Kapal Bagan merupakan salah satu jenis kapal tradisional yang digunakan oleh masyarakat Pesisir Selatan Sumatera Barat untuk melaut dan menangkap ikan. Kearifan lokal dalam pembuatan Kapal Bagan terkait dengan bahan-bahan yang digunakan, teknik pembuatan, dan desain kapal. 1. Kapal Bagan merupakan salah satu jenis kapal tradisional yang digunakan oleh masyarakat Pesisir Selatan Sumatera Barat untuk melaut dan menangkap ikan. Kearifan lokal dalam pembuatan Kapal Bagan terkait dengan bahan-bahan yang digunakan, teknik pembuatan, dan desain kapal. Semua bahan tersebut dipilih dengan hati-hati dan dipersiapkan dengan baik agar menghasilkan kapal yang kuat dan tahan lama. 2. kearifan lokal dalam pembuatan Kapal Bagan terkait dengan teknik pembuatan. Kapal Bagan dibuat dengan tangan oleh pengrajin kapal yang berpengalaman. Proses pembuatan dimulai dengan memilih dan memotong kayu yang tepat, kemudian mengukir dan memasang tiang dan balok kayu untuk membentuk
rangka kapal. Setelah itu, kapal dilapisi dengan bambu dan diberi lapisan cat yang tahan air 3. kearifan lokal dalam pembuatan Kapal Bagan juga terkait dengan desain kapal. Kapal Bagan didesain agar sesuai dengan kebutuhan nelayan dan kondisi perairan di daerah tersebut. Kapal ini memiliki bentuk yang khas, dengan ukuran yang besar dan lebar, serta berbentuk melengkung di bagian depan dan belakang. Kapal ini juga dilengkapi dengan bagan atau jaring besar yang digunakan untuk menangkap ikan. kearifan lokal dalam pembuatan Kapal Bagan masyarakat Pesisir Selatan terkait dengan bahan-bahan yang digunakan, teknik pembuatan, dan desain kapal. Tradisi ini menjadi warisan budaya yang sangat berharga, karena Kapal Bagan tidak hanya sebagai sarana penangkapan ikan, tetapi juga memiliki nilai simbolis dan identitas yang kuat bagi masyarakat setempat.
DAFTAR PUSTAKA Ayat, R. (1986). Kepribadian Budaya Bangsa (Local Genius). Pustaka Jaya. Njatrijani, R. (2018). Kearifan Lokal dalam Perspektif Budaya Kota Semarang. Gema Keadilan, 5(1), 16–31. Rosidi, A. (2011). Kearifan Lokal dalam Perspektif Budaya Sunda. Kiblat Buku Utama. Sedyawati, E. (2006). Budaya Indonesia, Kajian Arkeologi, dan Sejarah. Raja Grafindo Persada. Wardhana, W. S. (2022). Makna Simbolik Upacara Adat Batagak Panghulu di Kabupaten Pesisir Selatan. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim. Hajizar. 1995. Seni Pertunjukan Rabab Minang Kabau. Laporan Penelitian MSPI, Surakarta. Basrowi, Muhammad (2008). Mengenal Kesenian Nasional 10: Randai. Semarang: ALPRIN. Dahrizal, Musra (2015). Cerita Randai Pilihan. Padang: LPTIK Universitas Andalas. Handayani, Ririn, Dang Sri Chaeram, and Herda Gusvita. “Analisis Kelayakan Usaha dan Nilai Tambah Beras IR 42 Pada Usaha Pinukuik Enggi di Kecamatan BatangKapas Kabupaten Pesisir Selatan.” Jurnal Research Ilmu Pertanian (2022): Vol.2 (1).
DAFTAR PENULIS No Nama Mahasiswa Nim 1. Hagi Herata 21214075 2. M. Zikri Aulia Rizal 23234073 3. Nurul Prima Wilva 23234078 4. Viona Rosalina 23234021