The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by BMH, 2026-05-29 06:09:39

MAJALAH MULIA EDISI JUNI 2026

MAJALAH MULIA EDISI JUNI 2026

Lebih dari 215 juta orang Indonesia terhubung ke internet. Di dalamnya, anak-anak dan remaja adalah pengguna paling intens. Rata-rata waktu layar mendekati 7–9 jam per hari. Ini bukan sekadar kebiasaan baru—ini perubahan lingkungan yang sangat mencemaskan.Para psikologi menyebut gejalanya: shortened attention span (rentang perhatian makin memendek), dopamine dependency (ketergantungan pada rangsangan instan), hingga yang populer disebut brain rot —kabut kognitif akibat konsumsi konten dangkal yang berulang. Anak cepat tahu, tapi mereka sulit memahami sesuatu. Mereka cepat terhibur, tapi sesungguhnya hatinya mudah hampa.Paparan digital memang bukan satu-satunya penyebab, tapi jelas memperparah keadaan. Anak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain di media sosial, terpapar berbagai konten berlebihan, dan jarang punya waktu benar-benar tenang. Akibatnya, otak mereka terbiasa serba cepat, bukan mendalam. Perasaan mereka mudah tersulut, tetapi jarang sempat dipahami atau diolah dengan baik.Para ahli mengingatkan, kemampuan dasar anak seperti fokus, mengatur diri, dan mengambil keputusan mulai terganggu. Padahal inilah bekal utama untuk belajar dan bergaul. Kalau kemampuan ini melemah, dampaknya bisa terasa lama dan memengaruhi banyak aspek hidup mereka.Hari Anak seharusnya menjadi cermin. Kita bangga pada generasi digital, tapi lupa menanyakan: dengan cara apa mereka tumbuh dan berfikir. Jika sejak kecil mereka kehilangan kemampuan fokus, empati, bahkan jiwanya, generasi model apa yang sedang kita wariskan di masa depan? Imam Hasan al-Basri pernah berkata, “Dunia adalah tiga hari: kemarin telah pergi, esok belum tentu tiba, dan hari ini adalah kesempatan.”Jika hari ini kita membiarkan mereka menghabiskan distraksi tanpa arah, sesungguhnya kita sedang menyiapkan generasi tanpa masa depan.*GENERASI DAN KRISIS JIWASALAMDzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA 3


Penanggung Jawab: Supendi Pengarah: Zainal Pimpinan Redaksi: CholisSidang Redaksi: Aji, Cholis, Imam N, Khoirt Hibri, Andi, Sahlah, Khadijah Desain dan Tata Letak: Musta’in Al Haq Iklan: Sukron Percetakan: Lentera Jaya MadinaAlamat Redaksi : Jakarta : Jl. Kalibata Office Park, Jl. Raya Pasar Minggu No. 21. Blok H. Kalibata, Jakarta Selatan, Telp. 021.7975770 Fax. 021.7975614. Surabaya : Jl. Raya Kejawan Putih Tambak 110 A. Email : [email protected] | Iklan : email : [email protected] SMS/WA. +62 822-3057-5647SUSUNAN REDAKSI5jendelaHilang Akhlakul Karimah Sebab Algoritma36fiqihBulan Baik Pernikahan12inspirasi alamTanah Liat: Jalan Panjang jadi Bernilai42KONSEP DIRIOtoritas vs Popularitas48SENYUMBERDAYADari MCK, Mengalir Perubahan di Cibuntu422khazanahAntara Salju dan Doa: Tradisi Cinta Masyarakat PomakDAFTAR ISIMULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


JENDELA UTAMAApril lalu, publik dikagetkan video viral: siswa SMA di Purwakarta menghina guru. Video lain menampilkan tiga remaja lelaki berdandan dan berlenggak-lenggok mengikuti musik. Konten semacam ini memicu perdebatan panjang. Sebagian menganggapnya “biasa”, sebagian lain bereaksi keras. “Jangan pernah menormalisasikan boti,” tulis seorang pengguna Instagram.Normalisasi nilai tidak lagi lewat 5HILANG AKHLAKUL KARIMAH SEBAB ALGORITMAKetika kita sibuk memberi anak akses ke dunia digital, tetapi lalai hadir dalam dunianya, jangan heran jika yang tumbuh bukan hanya jarak—melainkan hilangnya arahdebat panjang, melainkan pengulangan konten. Apa yang sering muncul di layar perlahan terasa wajar. Laporan Digital 2024 dari We Are Social mencatat orang Indonesia menghabiskan lebih dari tujuh jam per hari di internet. APJII menunjukkan penetrasi pada usia muda melampaui 90 persen. Ini bukan sekadar durasi, melainkan pembentukan cara berpikir.Adab yang Tergeser oleh KecepatanDzulhijjah1447/Juni 2026 | MULIA


Dalam kajian Ar-Risalah: Jurnal Ilmu Hadis (2026), fenomena phubbing—mengabaikan orang di depan demi gawai—disebut pelanggaran adab. Dalam tradisi Islam, adab bukan sekadar sopan santun, tetapi kesadaran menempatkan sesuatu secara tepat.Fahruddin Faiz merumuskan: adab adalah tahu mana yang harus didahulukan. Ketika gawai lebih penting daripada manusia di depan, itu bukan sekadar kebiasaan, tetapi kekeliruan cara pandang. Teknologi menawarkan kesenangan tanpa kedalaman—pleasure without meaning.Penelitian Microsoft menunjukkan penurunan rentang perhatian manusia dari 12 detik menjadi sekitar 8 detik. Kajian di Universitas Indonesia menguatkan kecenderungan ini pada generasi yang terbiasa dengan konten cepat. Saat perhatian memendek, proses panjang—mendengar, memahami, menimbang—terasa mengganggu. Nasihat orang tua mudah terpotong notifikasi.Rhenald Kasali dalam Strawberry Generation menyebut generasi ini kreatif, tetapi rapuh. Terbiasa validasi instan, mereka mudah tersinggung dan kurang tahan perbedaan. Di ruang digital, ini tampak dalam komentar cepat menghakimi, miskin empati.Dari Rumah ke AlgoritmaPerubahan ini tidak lahir di ruang hampa. Banyak orang tua bekerja dalam tekanan tinggi; waktu bersama anak menyusut. Gawai menjadi “penjaga” paling praktis. Riset Pew Research Center mencatat orang tua merasa pengasuhan di era digital jauh lebih menantang.Akibatnya, sebagian pendidikan—termasuk pembentukan adab—bergeser ke layar. Anak banyak didekte algoritma yang bekerja berdasarkan keterlibatan, bukan kebenaran. Konten yang memancing emosi—hiburan ekstrem, opini tajam, perdebatan identitas—lebih sering muncul.Temuan PPIM UIN Jakarta menunjukkan kecenderungan anak muda belajar agama secara instan dan terfragmentasi dari media sosial. Dalam situasi ini, perbedaan mudah berubah menjadi pertengkaran terbuka. Adab berdialog terkikis oleh logika viralitas.Masalahnya teknologi bukanlah alat yang netral. Algoritma dirancang mempertahankan perhatian, bukan membentuk adab dan akhlak. Tanpa fondasi adan dan akhlak, yang dilatih dari keluarga dan pendidikan, ia hanya melahirkan manusia berjiwa mesin, sebuah ancaman bagi generasi masa depan.*6JENDELA UTAMAMULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


7 Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII, 2023) menunjukkan 215,63 juta penduduk Indonesia telah terhubung ke internet—sekitar 78 persen populasi. Angka ini terus naik. Di balik statistik itu, ada fakta yang lebih menentukan: pengguna paling aktif berasal dari usia 16–24 tahun, yang sering dijuluki Generasi Z, disusul Generasi Alpha yang sejak kecil akrab dengan layar. Mereka tidak sekadar menggunakan internet. Mereka hidup di dalamnya.Layar, Dopamin, dan Jiwa yang TerkikisDOPAMIN DIGITAL DANRAPUHNYA JIWA MUDABanjir rangsangan digital pelan-pelan mengubah cara otak muda bekerja—lebih cepat, namun kian dangkal dan jiwanya lemahDurasi menjadi kunci masalah. Laporan DataReportal (2024) mencatat rata-rata penggunaan internet global mendekati 7 jam per hari. Pada remaja, angkanya kerap melampaui itu. Studi Common Sense Media (2023) menunjukkan remaja bisa menghabiskan lebih dari 8 jam sehari untuk konsumsi media digital, terutama video pendek.Penelitian yang dilakukan Adolescent Brain Cognitive Development (ABCD) di Amerika Serikat menemukan remaja dengan durasi layar tinggi lebih rentan mengalami depresi, gangguan perhatian, dan lemahnya kontrol impuls. Penggunaan media sosial lebih dari tiga jam per hari dikaitDzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA


JENDELA UTAMA8kan dengan peningkatan risiko masalah kesehatan mental.Dari pola ini, muncul istilah “brain rot”—kondisi kabut kognitif akibat paparan konten dangkal berlebihan. Gejalanya adalah: sulit fokus, cepat bosan, gelisah saat tanpa ponsel. Di Indonesia, psikolog anak Universitas Indonesia, Prof Dr Rose Mini Agoes Salim, menegaskan paparan gawai berlebih melahirkan sikap impulsive. Anak mudah terdistraksi, sulit menuntaskan tugas sederhana.Sementara psikiater anak Elly Risman mengingatkan, kebiasaan orang tua menggunakan gadget di dekat anak akan menimbulkan efek buruk pada fungsi otak anak. Lebih-lebih pengenalan gadget usia dini kepada anak justru berdampak buruk. Menurutnya, penggunaan gadget berdampak sangat buruk pada perkembangan sosial dan emosional sang anak. Dimana anak cenderung menjadi tertutup, menyendiri, perilaku kekerasan, dan ancaman siber bullying.Fokus Memendek, Jiwanya LemahDampak berikutnya lebih halus, namun lebih dalam: perubahan cara otak bekerja. Rini Hildayani dari Universitas Padjadjaran Bandung menjelaskan kebiasaan multitasking digital membuat perhatian terpecah. Anak terbiasa berpindah cepat dari satu konten ke konten lain. Akibatnya, pemahaman tidak utuh. “Tampak cepat menangkap, tetapi dangkal,” ujarnya.Fenomena shortened attention span (kemampuan seseorang untuk fokus satu tugas/informasi tanpa teralihkan jadi lebih singkat dari biasanya) semakin nyata. Tiga detik pertama menjadi penentu. Jika tidak menarik, langsung digeser. Pola ini terbawa ke kehidupan nyata—membaca buku terasa amat berat, mengikuti penjelasan agak panjang menjadi melelahkan.*MULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


JENDELA UTAMA9Ditengah arus deras media sosial yang membentuk gaya hidup generasi muda, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) menegaskan komitmennya menjaga akhlak dan adab anak-anak, terutama Generasi Z, melalui pembinaan berbasis Al-Qur’an dan pesantren.Program ini merupakan usaha melawan ketergantungan gadget di kota-kota besar yang kian mengkhawatirkan. Di saat anakanak tumbuh dengan paparan jutaan konten –dari hiburan hingga tren— yang mengaburkan batas nilai, nun jauh di wilayah pedalaman, anak-anak justru menghadapi keterbatasan akses, justru terus memperdalam Al-Quran, dan belajar adab dan akhlak agar menjadi insan mulia. Program Rumah Qur’an dan pondok pesantren binaan BMH lahir atas dorongan perubahan dan tekanan zaman. “Dengan keberadaan Rumah Qur’an di Bontang dan wilayah kepulauan dapat melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an yang berkualitas. Guru BENTENG NILAI DI TENGAH ARUS MEDIA SOSIALDi tengah derasnya arus digital, upaya pembinaan Qur’ani menjadi kunci menjaga generasi muda tetap beradab dan berkarakter kuat.dapat semakin terbantu sisi kesejahteraannya sehingga anak-anak bisa maksimal dalam pembelajaran,” ujar Koordinator BMH Gerai Bontang, Agus Suwandi.Adalah para santri Pondok Pesantren Tahfidz Al-Hijrah yang berlokasi di Dusun Kampung Baru, Desa Uraso, Luwu Utara yang menjalani hari-hari dengan fasilitas terbatas. Masjid dari kayu sederhana berukuran 5×5 meter menjadi pusat ibadah sekaligus tempat menghafal Al-Qur’an, meski harus menghadapi hujan dan angin.“Masjid Al-Alaq memiliki peran ganda, sebagai tempat ibadah dan pusat pembelajaran. Kami berharap kehadiran masjid ini dapat memacu semangat santri dalam menuntut ilmu dan menjaga hafalan mereka,” kata Ketua Yayasan Al Hijrah, Ustadz Abdul Wahab.Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, menegaskan bahwa dukungan para donatur terhadap santri bukan sekadar bantuan materi, melainkan bentuk investasi masa depan. “Melalui perhatian dan dukungan kita, kita dapat membantu Dzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA


10membentuk generasi santri yang berkualitas, berdaya saing, dan memiliki komitmen untuk berkontribusi pada kemajuan negara dan umat manusia,” ujarnya.Bentuk lain komitmen BMH mendidik generasi adalah menyelenggarakan Program Tebar AlQur’an untuk Muslim pedalaman. Program ini lahir mengingat masih banyak santri yang belajar dengan mushaf rusak atau tidak lengkap. Selin itu juga adalah Rumah Qur’an, sebagai ujung tombak pembinaan difungsikan untuk memberantas buta huruf AlQur’an, membiasakan interaksi dengan nilai Qur’ani, untuk melahirkan anak-anak berakhlak karimah dini.Sebagai catatan, hingga periode 2024–2026, BMH mencatat jangkauan luas: lebih dari 25 Rumah Qur’an unggulan dan sekitar 50 titik di 27 kabupaten/kota yang melayani lebih dari 10.000 pembelajar. Sampai saat ini terdapat sekitar 287 pesantren binaan di seluruh Indonesia dengan total sekitar 31.000 santri di 34 provinsi. Selain itu, lebih dari 262 titik infrastruktur pendukung telah dibangun, serta sekitar 5.213 dai unggul yang diterjunkan untuk pembinaan umat.Upaya ini menunjukkan bahwa di tengah gegap gempita dunia digital, masih ada ikhtiar sistematis untuk menjaga generasi muda tetap berpijak pada akhlakul karimah—baik di kota maupun hingga ke pelosok negeri.*JENDELA UTAMAMULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


FIGURA11Tatapan berbinar dan senyum merekah, saat anak-anak RQ Apung menyambut Al-Qur’an dan mukena baru.Foto: Amil LAZNAS BMHDzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA


Dalam pandangan umum, tanah liat kerap dipandang remeh. Ia identik dengan sesuatu yang kotor, lengket, dan berada di bawah pijakan kaki. Tidak banyak orang melihatnya sebagai sesuatu yang berharga. Penilaian manusia sering berhenti pada apa yang tampak di permukaan, padahal di balik kesederhanaannya tersimpan potensi besar yang menunggu untuk diolah.Sebagaimana tanah liat, yang tidak serta-merta menjadi benda bernilai. Ia harus melalui tahapan panjang: diambil, dibersihkan, dibentuk, dikeringkan, lalu dibakar dalam suhu tinggi. Proses ini tidak ringan. Ada TANAH LIAT: JALAN PANJANG JADI BERNILAIINSPIRASI12Oleh: Khairul HibriNilai sejati lahir dari kesediaan menjalani proses, bukan dari keinginan serba instan.MULIA | Dzulhijjah1447/Juni 2026


tekanan, ada panas, ada perubahan bentuk yang tidak selalu nyaman. Namun justru dari rangkaian itulah lahir keindahan—vas, kendi, gerabah, hingga karya seni bernilai tinggi. Jadi sebuah nilai itu tidak muncul tiba-tiba, melainkan lahir dari kesediaan untuk diproses. Di sinilah pelajaran penting bagi manusia. Kehidupan tidak pernah lepas dari hukum proses. Siapa pun yang menginginkan hasil besar harus bersedia menempuh jalan panjang. Prinsip ini sejalan dengan ketetapan Ilahi bahwa perubahan tidak akan terjadi tanpa upaya dari diri manusia itu sendiri. Bahkan penciptaan alam semesta pun berlangsung melalui tahapan, meski Allah Mahakuasa untuk menciptakan dalam sekejap. Di balik itu terdapat hikmah: kehidupan berjalan dengan keteraturan, bukan kebetulan.Proses sejatinya bukan sekadar jeda menuju hasil, tetapi bagian inti dari pembentukan diri. Dalam proses, seseorang belajar sabar, menerima koreksi, dan mengasah ketahanan. Ia dilatih untuk tidak mudah menyerah serta mampu menunda kenyamanan demi tujuan yang lebih besar. Tanpa proses, keberhasilan hanya tampak di permukaan, rapuh, dan mudah runtuh saat diuji.Sayangnya, arus zaman menghadirkan godaan besar berupa budaya instan. Kemajuan teknologi memudahkan banyak hal, tetapi juga menumbuhkan keinginan serba cepat. Mustahil seseorang ingin sukses tanpa perjuangan. Ada yang 13ingin dikenal tanpa karya. Ini sama halnya ingin hasil tanpa fondasi. Ukuran keberhasilan pun sering direduksi menjadi seberapa cepat seseorang meraih popularitas. Padahal, sesuatu yang instan kerap tidak bertahan lama. Tidak sedikit fenomena viral sesaat yang kemudian tenggelam menjadi bukti nyata. Popularitas tanpa kapasitas mudah pudar, bahkan bisa runtuh oleh kritik atau perubahan keadaan. Berbeda dengan mereka yang tumbuh melalui proses panjang, akarnya kuat dan tidak mudah goyah.Tanah liat mengajarkan satu hal sederhana namun mendasar: keindahan dan nilai lahir dari kesabaran menjalani proses. Pilihan ada pada setiap diri—mengejar hasil cepat yang rapuh, atau menapaki jalan panjang yang mengokohkan.*Proses sejatinya bukan sekadar jeda menuju hasil, tetapi bagian inti dari pembentukan diri. Dalam proses, seseorang belajar sabar, menerima koreksi, dan mengasah ketahanan. Dzulhijjah1447/Juni 2026 | MULIA


PROGRAM14AL-QUR’AN MENJANGKAUPELOSOK MALUKUMelaui Program Tebar Sejuta Qur’an BMH dan Komunitas Kurir Quran SBB hadir menjangkau wilayah 3T Maluku mendukung pendidikan Al-Qur’an masyarakat pelosok.tempat yang masih menggunakan mushaf Al-Qur’an dalam kondisi rusak karena keterbatasan pengadaan.Melihat kondisi tersebut, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (LAZNAS BMH) Maluku bersama Komunitas Kurir Quran Seram Bagian Barat (SBB) menyalurkan bantuan melalui program “Tebar Sejuta Qur’an”. Bantuan diberikan langsung kepada masyarakat dan santri TPQ di Dusun Wael Desa Eti serta Dusun Taman Sejarah (Aluni) Desa Waesala.Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 80 mushaf Al-Qur’an, 40 buku Iqro, enam buku doa, tiga buku tuntunan ibadah, dan papan tulis disalurkan untuk menunjang aktivitas belajar mengaji masyarakat setempat. Bantuan itu diterima langsung oleh jamaah masjid, guru TPQ, serSuasana pagi di Negeri Waesala, Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku, tampak berbeda pada Jumat (08/05). Anak-anak mulai berdatangan ke masjid dan TPQ dengan wajah antusias. Sebagian duduk bersila sambil memegang mushaf Al-Qur’an lama yang sudah lusuh, robek, bahkan ada yang halamannya tidak lengkap lagi.Di wilayah yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan itu, akses terhadap fasilitas pendidikan dan sarana ibadah masih menjadi tantangan. Kondisi geografis Huamual Belakang yang cukup sulit dijangkau membuat distribusi bantuan pendidikan tidak selalu merata. Tidak sedikit masjid dan TPA seMULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


15ta anak-anak santri yang selama ini belajar dengan sarana terbatas.Koordinator Komunitas Kurir Quran SBB, Dewiyanti Tomia, mengatakan kehadiran mushaf baru membawa kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat di pelosok Seram Barat. Menurutnya, bantuan tersebut menjadi jawaban atas kebutuhan warga yang selama ini berharap adanya tambahan mushaf layak pakai untuk kegiatan mengaji sehari-hari.“Kehadiran mushaf baru ini adalah jawaban atas kerinduan anak-anak dan warga di sini untuk mengaji dengan lebih nyaman. Kami sangat berterima kasih kepada para donatur BMH yang telah melihat hingga ke pelosok Seram ini,” ujarnya.Ia menuturkan, masyarakat di wilayah tersebut memiliki semangat belajar Al-Qur’an yang tinggi meski berada dalam keterbatasan. Anak-anak tetap rutin datang ke TPQ dan masjid untuk belajar membaca Al-Qur’an setiap sore. Karena itu, dukungan sarana belajar dinilai sangat membantu menjaga semangat mereka.Sementara itu, Kepala Perwakilan BMH Maluku, Supriyanto, menjelaskan bahwa program Tebar Sejuta Qur’an merupakan bagian dari ikhtiar memperkuat pendidikan Islam di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Menurutnya, bantuan yang diberikan bukan sekadar penyaluran barang, tetapi juga upaya menghadirkan akses pendidikan Al-Qur’an yang lebih layak bagi masyarakat pelosok.“Program ini menyasar kawasan yang sulit dijangkau bantuan logistik umum, mendukung aktivitas belajar mengajar di TPQ dan madrasah desa, serta menjaga amanah donatur dalam menyalurkan dana zakat, infak, dan sedekah dalam bentuk aset jariyah,” katanya.Supriyanto menambahkan, BMH akan terus memperluas jangkauan program serupa ke wilayah-wilayah terpencil lainnya di Maluku. Ia berharap bantuan mushaf dan sarana pendidikan Islam dapat menjadi penyemangat bagi generasi muda untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an.Melalui program tersebut, lantunan ayat suci kembali terdengar lebih nyaring di pelosok Seram Barat. Di tengah keterbatasan akses dan fasilitas, masyarakat tetap menjaga tradisi belajar Al-Qur’an sebagai bagian penting dalam kehidupan mereka sehari-hari.*/ZulkarnainDzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA


IJMA’Kita sering mendengar istilah ijma’. Ijma’ adalah kesepakatan para ulama mujtahid tentang suatu hukum setelah wafatnya Nabi Muhammad . Ijma’ merupakan pendapat mayoritas ulama (jumhur) yang menjadi pegangan hukum yang sah ketika belum ada rujukan langsung dari Al-Qur’an atau Hadis.Dasarnya terdapat dalam AlQur’an yang artinya: “Barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia dalam kesesatan yang dipilihnya.” (QS. An-Nisā’: 115).Kedudukan Ijma’Contohnya: ulama fikih mengharamnya menikahi mahram (ibu, anak, saudara kandung). Tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Dalil: “Diharamkan atas kalian (menikahi) ibu-ibu kalian…” (QS. AnNisā’: 23)Termasuk bagian warisan untuk ENSIKLOPEDIAnenek tidak dijelaskan eksplisit dalam Al-Qur’an. Praktiknya ditetapkan melalui Sunnah dan kemudian ijma’ sahabat.Imam Al-Syafi’i dalam Al-Risala menyatakan ijma’ adalah hujjahyang wajib diikuti. Ibn Hazm dalam Al-Ihkam fi Usul al-Ahkam menegaskan penyelisih ijma’ berarti meninggalkan kebenaran. Penting dipahami bahwa ijma’bukan sesuatu yang mudah terjadi. Syaratnya sangat ketat: harus melibatkan para mujtahid, kesepakatannya menyeluruh, dan tidak ada penolakan yang mu’tabar.Jika suatu masalah masih diperselisihkan oleh ulama, maka itu bukan ijma’, dan perbedaan tersebut tetap ditoleransi selama berada dalam koridor dalil.*Dalam ilmu Ushul Fiqh ijma’ menempati posisi ketiga setelah AlQur’an dan Sunnah, kemudian diikuti oleh qiyas. Artinya, jika suatu hukum sudah ditetapkan melalui ijma’, maka ia memiliki kekuatan mengikat dan tidak boleh diselisihi.*Ijma’ menempati posisi ketiga setelah Al-Qur’an dan Sunnah, kemudian diikuti oleh qiyas16 MULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


Konflik geopolitik antara Iran dan AS memberikan efek domino seluruh dunia. Perang menjalar krisis mengguncang ekonomi, meretakkan tatanan sosial, hinga masuk ke dapur keluarga kita. Harga kebutuhan pokok meroket, biaya pendidikan melambung, rasa aman serta ketenangan batin kian rapuh.Ibu, sebagai manajer keluarga dalam rumah—basis peradaban terkecil—dituntut memiliki daya tahan lebih kokoh untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk dari krisis ini. Ia memikul tanggung jawab membangun ketahanan ruhiyah, mental, dan ekonomi keluarga dalam situasi apa pun. Tugas ini bukan perkara ringan, namun tetap dapat diupayakan PENJAGA KETAHANAN KELUARGAMUSLIMAH18Oleh: Sarah ZakiyahKeteguhan, ikhtiar dan tawakkal menjadikan ibu pilar utama yang menjaga ketahanan keluarga di tengah krisismelalui ikhtiar dan tawakkal yang terbalut iman.Keteladanan tentang menghadirkan rasa aman, ikhtiar, dan tawakkal dapat ditadabburi dari perjuangan Hajar di lembah tandus tanpa sumber kehidupan. Dalam kesendirian tanpa pertolongan manusia, ia terus berusaha. Kelelahan fisik akibat berlari berulang kali antara bukit Shafa dan Marwa hanya berujung pada deraian air mata. Mustahil baginya menggali tanah kering dengan tangannya, sementara harapan akan air hanya tampak sebagai fatamorgana. Namun Allah menghargai doa dan usahanya—memberikan apa yang ia cari bukan melalui jalan yang ia tempuh, melainkan melalui cara lain yang telah disiapkan-Nya. Perjuangan Hajar menjadi simbol resiliensi seorang ibu dalam MULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


PENJAGA KETAHANAN KELUARGAmenghadapi situasi paling genting.Sebagai Muslimah, Allah telah menitipkan dua pusaka agung sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi krisis multidimensi dunia. Al-Qur’an mengajarkan pentingnya membangun benteng pertahanan diri dalam keluarga, di antaranya: (1) Qana’ah (merasa cukup), yakni sikap menerima dalam keterbatasan yang perlu ditanamkan ibu kepada anak-anak agar mereka terbiasa bersyukur, mencintai kesederhanaan, dan tidak konsumtif. (2) Sabar (keteguhan hati) dan Tawakal (berserah diri kepada Allah), yaitu kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan, sementara Allah memiliki cara lain dalam menilai dan membalas usaha hamba-Nya. (3) Empati dan kepedulian, menjadikan masa sulit sebagai momentum menumbuhkan solidaritas dan semangat berbagi, sekaligus memperkuat kerja sama antar anggota keluarga.Ketenangan yang berakar dari keimanan dan keyakinan kuat kepada Allah menjadikan ibu tetap teguh dan tidak mudah panik dalam menghadapi perubahan. Jika ibu memiliki jiwa yang kokoh, keluarga akan merasakan ketenangan yang sama, serta lebih siap menghadapi dinamika kehidupan.Selain kisah Hajar ‘alaihassalaam, keteladanan juga dapat diambil dari Khadijah, istri Rasulullah Muhammad , ketika menghadapi pemboikotan ekonomi dan sosial terhadap Bani Hasyim dan Bani Muthalib selama tiga tahun 19di Syi’ib Thalib oleh kuffar (orangorang kafir) Quraisy. Bagaimana Bunda Khadijah tetap setia mendampingi Rasulullah dalam kondisi serba sulit, meskipun ia seorang saudagar kaya raya. Seluruh harta yang dimilikinya ia habiskan demi bertahan bersama Rasulullah dan para sahabat. Pengorbanan itu bahkan berdampak pada kesehatannya hingga wafat tidak lama setelah masa pemboikotan berakhir.Tidak semua kondisi berjalan sesuai kehendak manusia, namun tidak ada keadaan yang abadi tanpa perubahan. Keyakinan ini ditegaskan dalam firman Allah Swt dalam QS. Al-Insyirah: “Fa inna ma‘al ‘usri yusrā, inna ma‘al ‘usri yusrā” (Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan). Wallāhu a‘lam(dan Allah Maha Mengetahui).*Dzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA


PERKUAT PENDIDIKAN, BUNDA AISAH WAKAFKAN SAWAH 1 HEKTARE Upaya memperkuat kebermanfaatan zakat dan wakaf terus dilakukan. Salah satunya melalui penyerahan lahan sawah seluas 1 hektare oleh Bunda Aisah kepada BMH di Pandeglang, Banten, pada 15 April 2026.Penyerahan dilakukan secara resmi di hadapan notaris sebagai bentuk komitmen agar lahan tersebut dikelola secara produktif untuk mendukung program pendidikan dan dakwah.“Hari ini saya menyerahkan 1 hektare sawah untuk dikelola oleh BMH guna mendukung kegiatan pendidikan dan dakwah umat,” ujar Bunda Aisah, pengawas brand Vanilla Hijab.Langkah ini dinilai sebagai bentuk pengelolaan zakat yang berorientasi jangka panjang. Tidak sekadar penyaluran bantuan, tetapi membangun sumber daya yang terus menghasilkan manfaat. “Dengan pengelolaan produktif, manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” kata Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, AKSI20Langkah Bunda Aisah memperkuat keberlanjutan pendidikan dan dakwah melalui aset produktifmenilai kontribusi tersebut berdampak strategis.Dari lahan tersebut, hasil yang diperoleh diharapkan mampu menopang berbagai program, mulai dari pendidikan hingga penguatan dakwah. Dengan model ini, zakat dan wakaf tidak berhenti sebagai bantuan sesaat, tetapi berkembang menjadi instrumen keberlanjutan yang menjangkau lebih banyak penerima manfaat.*MULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


BEASISWA BMH BANTU FARRAS BANGKIT DAN HAFAL 5 JUZProgram Beasiswa Senyum Anak Indonesia dari BMH menghadirkan dampak nyata bagi Muhammad Farras (15), siswa Pesantren Marhamah, Cipinang, Jakarta Timur. Di tengah keterbatasan sejak kehilangan ibunda di usia satu tahun, Farras tetap melanjutkan pendidikan dengan semangat tinggi.Remaja yang tinggal di Jatijajar, Tapos, Depok itu kini duduk di kelas 9 dan telah menghafal 5 juz Al-Qur’an. Capaian tersebut tidak lepas dari dukungan beasiswa yang telah ia terima selama tiga tahun terakhir.“Bantuan yang dihimpun melalui BMH tidak hanya memenuhi kebutuhan pendidikan, tetapi juga menjaga harapan agar tetap tumbuh,” kata Johani Farhan Al-Aidi, amil BMH bagian pendayagunaan.Kakak Farras, Surika Ulfah, menyampaikan rasa syukur atas bantuan tersebut. “Terima kasih kepada BMH dan para donatur yang telah membantu adik saya. Semoga menjadi keberkahan untuk kita semua,” ujarnya.Johani menambahkan, program ini berjalan berkat keper21Dukungan donatur menjaga harapan anak yatim tetap tumbuhcayaan donatur, termasuk keluarga Muhammad Irfaz dan Sri Yudiah Lusianawati. Menurutnya, zakat, infak, dan sedekah memiliki peran penting dalam membuka akses pendidikan bagi anak-anak yang membutuhkan.Kisah Farras menjadi gambaran bagaimana bantuan yang terkelola mampu memberi dampak berkelanjutan, tidak hanya pada pendidikan, tetapi juga masa depan penerima manfaat.*Dzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA


Tahun baru identik dengan awal yang segar, dan terkadang waktu pernikahan. Di sebuah desa kecil di barat daya Bulgaria, musim dingin justru menjadi saksi tradisi pernikahan yang unik penuh makna.Tepat di Desa Ribnovo, pernikahan berlangsung selama dua hari melibatkan hampir seluruh warga desa. Masyarakat berkumpul, menari, berbagi makanan, dan bersama-sama mempersiapkan kebutuhan pengantin. Hari pertama diisi dengan pesta meriah dari keluarga mempelai perempuan. Musik tradisional mengalun, tamu berdatangan, dan tradisi memberi uang pengantin.Menjelang malam, tangan pengantin dihiasi henna—penanda ia segera memasuki fase baru kehidupan. Hari kedua adalah punANTARA SALJU DAN DOA: TRADISI CINTA MASYARAKAT POMAKKHAZANAH22Tradisi pernikahan Pomak bukan sekadar seremoni, melainkan cermin keteguhan menjaga iman, budaya, dan sejarah di tengah perubahan zamancaknya. Pengantin menjadi “gelina”. Wajahnya dilapisi krim putih tebal, dihias payet dan manik-manik, ditutup kerudung merah. Setelah selesai, sang pengantin digandeng keluar oleh mempelai pria dan diperlihatkan kepada warga—sebuah momen puncak yang mengikat tradisi dan kebersamaan.Pernikahan “Gelen”: Makna dan Perbedaannya“Gelen” adalah istilah tradisi pernikahan masyarakat Pomak MULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


—terutama pada prosesi rias pengantin perempuan— yang tidak ditemukan di banyak budaya lain.Ciri paling mencolok adalah riasan wajah pengantin perempuan yang dilapisi krim putih tebal hingga menyerupai topeng. Di atasnya ditempelkan ornamen warna-warni seperti payet, manikmanik, dan bunga. Setiap riasan memiliki pola berbeda, menandakan bahwa setiap pengantin adalah individu yang unik. Selama proses ini, pengantin tidak membuka mata hingga acara selesai, menandakan kesiapan memasuki fase hidup baru.Acara ini juga bersifat eksklusif. Hanya kaum hawa saja yang boleh terlibat dalam proses rias tersebut. Dibandingkan pernikahan pada umumnya di Indonesia, terdapat beberapa perbedaan mencolok. Di Indonesia, rias pengantin cenderung menonjolkan kecantikan wajah secara natural atau simbolik sesuai adat daerah—misalnya paes Jawa atau suntiang Minangkabau—namun wajah tetap terlihat jelas. Sementara dalam tradisi Gelen, wajah pengantin justru “disembunyikan” di balik riasan tebal, menjadikannya lebih sebagai simbol daripada ekspresi personal.23Jika di Indonesia gotong royong pernikahan terbatas pada keluarga besar dan tetangga dekat, di Ribnovo, melibatkan hampir seluruh desa, menjadikan pernikahan sebagai peristiwa sosial kolektif.Jejak Sejarah yang PanjangPomak adalah sebutan bagi komunitas Muslim Slavia yang tinggal di wilayah Balkan, terutama di Bulgaria, serta sebagian di Yunani dan Turki. Secara etnis, mereka merupakan keturunan bangsa Slavia.—khususnya Bulgaria—yang memeluk Islam pada masa Khilafah Utsmaniyah, abad ke-14 hingga ke-19.Mereka berbicara dalam dialek Bulgaria, namun bahasa mereka diperkaya dengan pengaruh Turki dan Arab. Masyarakat Pomak adalah penganut Sunni.Pada masa kekuasaan komunis di Bulgaria –terutama pada dekade 1970-an dan 1980-an— masyarakat Pomak sempat mengalami kebijakan asimilasi paksa. Nama-nama Islam diganti dengan nama Slavia, dan praktik keagamaan dibatasi. Identitas mereka sebagai Muslim sempat ditekan.Kini, di Tengah tantangan modernisasi, banyak generasi muda meninggalkan desa menuju kota, membawa perubahan dalam pola hidup dan relasi sosial. Tradisi seperti perjodohan mulai berkurang, digantikan pilihan individu lebih bebas. Meski demikian, masyarakat Pomak tetap menjadi contoh bagaimana sebuah komunitas menjaga identitas di tengah tekanan zaman.*Dzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA


Penyampaian prinsip ajaran Islam yang disertai tindakan nyata merupakan metode pendidikan yang integral. Karena itu, setiap pendidik dituntut menjadi teladan bagi peserta didiknya; perbuatannya harus mendahului ucapannya. Ajakan melalui tindakan lebih menyentuh jiwa, mudah dipahami, dan ditiru secara alami. Ucapan yang menyatu dengan amal akan membekas kuat dalam diri objek dakwah. Inilah metode Rasulullah yang paling menonjol hingga berhasil melahirkan generasi terbaik sepanjang sejarah.KETELADANAN: RUH PENDIDIKAN YANG MENGGERAKKANPERADABANOleh: Dr. Nashirul Haq, LC, MA Keteladanan adalah metode paling efektif dalam pendidikan Islam, karena tindakan nyata lebih kuat daripada sekadar kata-kata.Rasulullah menjadi teladan dalam seluruh aspek kehidupan: pribadi, keluarga, masyarakat, hingga negara. Beliau adalah contoh bagi pemimpin, pendidik, pendakwah, orang tua, dan seluruh umat manusia. Kehadiran figur teladan bukan sekadar untuk dikagumi, tetapi sebagai sarana pendidikan paling menentukan. Anak meniru orang tua, murid meniru guru, dan umat meniru pemimpinnya. Dari sini, nilai tidak sekadar diajarkan, tetapi diwariskan melalui praktik hidup sehari-hari.Realitasnya, banyak yang pandai berbicara namun sedikit yang mampu mengamalkan. Ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan mem24 MULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


buat dakwah kehilangan pengaruh. Allah mengingatkan dalam Al-Quran yang terjemahannya: “Mengapa kamu menyuruh orang lain berbuat kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri...”(QS. Al-Baqarah: 44), serta perumpamaan buruk bagi mereka yang tidak mengamalkan ilmunya dalam QS. Al-Jumu’ah: 5.Keberhasilan pendidikan dengan keteladanan:Kemuliaan akhlak. Pendidik harus menjaga ucapan dan tindakan, karena selalu menjadi perhatian peserta didik. Setiap sikap harus selaras dengan syariat. Keberhasilan dakwah sangat ditentukan oleh akhlak pendidik. Masyarakat lebih tersentuh oleh perilaku nyata dibanding nasihat lisan. Pepatah Arab menyebutkan, “Lisan al-hal afshahu min lisan al-maqal”—bahasa perbuatan lebih fasih daripada ucapan. Di tengah kerusakan moral, kebutuhan terbesar bukan sekadar ceramah, tetapi qudwah hasanahyang konsisten dan nyata dalam keseharian.Keselarasan antara perkataan dan perbuatan Ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan merusak kepercayaan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. As-Shaff: 2–3). Berbicara indah itu mudah, tetapi mewujudkannya dalam amal nyata adalah ujian sesungguhnya. Tanpa keselarasan, dakwah kehilangan daya dan hanya menjadi retorika yang kosong makna.Memberi kemudahan, menghindarkan kesulitanRasulullah memberi keringanan agar umat tidak terbebani. Dalam peristiwa Fathu Makkah, beliau membatalkan puasa di perjalanan agar tidak memberatkan sahabat, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Muslim. Sikap ini menunjukkan pemahaman terhadap kondisi umat. Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah selalu memilih yang lebih mudah selama bukan dosa (Shahih alBukhari). Prinsip ini menunjukkan bahwa pendidikan harus realistis, bertahap, dan penuh hikmah.Keteladanan menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan. Tanpa contoh nyata, ajaran kehilangan ruhnya; dengan teladan, nilainilai hidup, tumbuh, dan mengakar dalam jiwa, lalu melahirkan generasi yang bukan hanya paham, tetapi juga mengamalkan.* Dr Nashirul Haq, LC, MADzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA 25


Angin laut berhembus lirih. Gema adzan memantul di antara gugusan pulau kecil dengan pemandangan perahu nelayan yang berayun di tepian.Inilah Maladewa, negeri kepulauan di jantung Samudra Hindia, barat daya India dan Sri Lanka, dengan luas daratan sekitar 298 kilometer persegi.Hidup dalam Dua DuniaPepatah mengatakan, kekurangan adalah kelebihan. Itulah yang terjadi di negara kecil dengan jumlah penduduk sekitar setengah juta jiwa ini.Meski terbatas, daya tariknya melampaui batas. Pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi, menghadirkan wisatawan dari berbagai penjuru dunia.Setiap tahun, lebih dari dua juta wisatawan datang —sebuah angka yang melampaui jumlah penduduknya sendiri.Pada 2025, tercatat sekitar 2,24 juta turis memasuki negeri ini. Gelombang manusia dari penjuru dunia itu menjadi denyut utama ekonomi, sekaligus ujian bagi kemampuan Maladewa menjaga identitasnya.Di balik kecantikan resort yang menjadi magnet dunia, Maladewa merupakan satu-satunya negara yang menetapkan seluruh warganya wajib beragama Islam.Dalam konstitusi 2008, Islam bukan hanya agama resmi, tetapi fondasi kehidupan berbangsa. Bahkan semua aktivitas masyarakat berhenti saat shalat Jumat.“Islam adalah identitas kami, bukan sekadar keyakinan pribadi,” ujar seorang pejabat urusan agama setempat.Di pulau-pulau penduduk, norma Islam dijaga ketat—termasuk larangan alkohol, aturan berpakaian, dan kehidupan sosial.Sebaliknya, pemandangan ini tidak berlaku bagi turis asing. MALADEWA: SURGA BEBAS DI NEGERI BERBATASDUNIA ISLAM26Negeri kecil bernama Maladewa, tempat keindahan dunia bersanding dengan tegaknya syariatMULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


Alkohol dilarang bagi warga lokal, namun di pulau-pulau resort yang terpisah, wisatawan tetap diperbolehkan mengkonsumsinya dalam area terbatas.“Di sini ada dua dunia,” tutur seorang pemandu wisata. “Kami hidup dengan aturan Islam, sementara tamu kami diberi ruang berbeda. Itu cara kami menjaga keseimbangan.”Jejak Islam di Kepulauan SamudraMaladewa resmi menjadi negara Muslim pada tahun 1153 M. Sebelumnya, masyarakat Maladewa berada di bawah pengaruh Buddha, dengan berbagai praktik spiritual yang mengakar dalam budaya lokal.Perubahan datang ketika seorang ulama dari Maghribi, Abu al-Barakat Yusuf al-Barbari, tiba di kepulauan ini dan menghadapi praktik-praktik mistis yang selama ini ditakuti masyarakat.Keteguhan dakwahnya menggugah hati Raja Kalaminja hingga ia memeluk Islam dan mengubah gelarnya menjadi Sultan Muhammad ibn Abdullah.“Sang raja kemudian memeluk Islam dan menjadikannya agama resmi negara,” tutur seorang sejarawan lokal.Sejak saat itu, Islam tidak hanya menjadi keyakinan, tetapi membentuk arah sejarah Maladewa—dari sistem pemerintahan hingga kehidupan sehari-hari masyarakatnya.Surga Tropis yang RentanKeindahan Maladewa kerap membuat orang lupa bahwa negeri ini juga rapuh. Dengan ketinggian rata-rata sekitar satu meter di atas permukaan laut, ia salah satu negara paling rentan terhadap perubahan iklim.Dari sekitar 1.200 pulau, hanya sekitar 200 yang dihuni. Sisanya menjadi resort, pulau pribadi, atau tetap alami. Laut biru yang menawan itu sekaligus menjadi ancaman nyata.“Jika permukaan laut terus naik, sebagian pulau kami bisa hilang,” ungkap seorang peneliti lingkungan.Wajar ada yang memprediksi negara ini tenggelam pada tahun 2100 jika pemanasan global tidak diredam.Di sisi lain, ketergantungan besar pada pariwisata membuat ekonomi negara ini rentan. Jika terjadi pandemi atau krisis global, ekonomi bisa lumpuh karena sebagian besar kebutuhan pokok harus diimpor.*27Anak-anak pelajar sekolah bersama seorang guru di sebuah sekolah di MaladewaDzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA


Pegadaian Syariah Cirebon memaknai perpindahan kantor tidak hanya sebagai langkah bisnis, tetapi juga ajang berbagi. Pada Rabu, 15 April 2026, mereka menggelar syukuran di kantor baru di Cirebon Bisnis Centre dengan menyalurkan santunan kepada anak yatim dan dhuafa bersama BMH.Kegiatan ini melibatkan santri yatim dan penghafal Al-Qur’an binaan BMH sebagai penerima manfaat. Kehadiran BMH dinilai penting karena berperan menjembatani lembaga dengan masyarakat yang membutuhkan sehingga bantuan tepat sasaran.Acara berlangsung hangat dan sederhana. Setelah pembukaan dan sambutan, tausiyah disampaikan Ustadz Fahrurozi yang menekankan pentingnya menjaga rasa syukur, mempererat silaturahmi, serta menjadikan usaha sebagai jalan keberkahan yang berdampak bagi sesama.Kegiatan ditutup dengan penyaluran santunan kepada para santri. Perpindahan kantor ini tidak sekadar perubahan fisik, tetapi SYUKURAN KANTOR BARU, PEGADAIAN SYARIAH CIREBON SANTUNI YATIMSINERGI28Peresmian kantor baru menjadi momentum memperkuat layanan sekaligus kepedulian sosialjuga menjadi awal langkah yang diiringi kepedulian sosial.Pimpinan Pegadaian Syariah Cirebon, Hj. Nuraini, berharap kantor baru ini meningkatkan pelayanan dan kepercayaan masyarakat. “Semoga Pegadaian Syariah Cirebon semakin berkembang dan membawa keberkahan,” ujarnya.Koordinator ULZ BMH Cirebon, Asep Juhana, menilai kegiatan ini sebagai bentuk sinergi kebaikan. “Ini langkah positif, tidak hanya fokus pada layanan tetapi juga menghadirkan kepedulian sosial,” katanya.*MULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


BMH bersama komunitas Beyond The Miles Kitabisa menggelar lari amal pada Rabu, 15 April 2026, dengan titik kumpul di Kantor BMH Jawa Timur. Kegiatan ini memadukan olahraga dengan aksi sosial melalui penggalangan donasi untuk santri penghafal Al-Qur’an.Sejak pagi, peserta mengikuti lari dengan semangat kebersamaan. Tidak sekadar mengejar jarak, mereka juga membawa tujuan berbagi. Di sela kegiatan, peserta diajak berdonasi untuk mendukung kebutuhan para santri binaan BMH.Konsep ini menghadirkan suasana berbeda. Lari pagi yang identik dengan aktivitas kebugaran dikemas menjadi sarana kepedulian sosial. Para peserta tidak hanya menjaga kesehatan, tetapi juga berkontribusi membantu sesama.Salah satu peserta, Heri Julianto, mengaku senang dapat terlibat. “Senang bisa ikut. Selain sehat, kami juga bisa ikut membantu santri penghafal Al-Qur’an,” ujarnya.Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Jawa Timur, Imam Muslim, menyebut kegiatan ini sebagai pendekatan baru LARI AMAL, SEHAT SAMBIL BERBAGI29Lari pagi jadi cara sederhana menjaga kebugaran sekaligus membantu santri penghafal Al-Qur’andalam mengajak masyarakat. Menurutnya, gaya hidup sehat dapat berjalan seiring dengan semangat berbagi.“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk tetap sehat sekaligus peduli,” katanya.Sepanjang kegiatan, interaksi antar peserta terjalin hangat. Mereka tidak hanya berlari, tetapi juga terhubung dalam satu tujuan sosial. Kegiatan ini menegaskan bahwa berbagi bisa dimulai dari hal sederhana, bahkan dari langkah kaki di pagi hari.*Dzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA


KELAMBUUstadz Endang AbdurrahmanPengasuh PP Hidayatullah Bandung-Jabar30Desita | MalangWa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Ibu Desita.Apa yang dialami oleh sahabat Anda, Mega, adalah sebuah potret nyata bahwa pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan dalam status hukum, melainkan sebuah amanah besar saling menjaga dan menebar kasih sayang (Mawaddah Warahmah).Berikut jawaban saya disusun berdasarkan prinsip tazkiyatun nafs;Lisan yang Tajam adalah Kezaliman NyataDalam Islam, seorang suami diposisikan sebagai qawwam(pemimpin/pelindung). Kepemimpinan ini bukan berarti penguasaan, melainkan kewajiban untuk mu’asyarah bil ma’ruf (bergaul dengan cara yang patut). Allah berfirman:“Dan bergaullah dengan mereka secara patut...” (QS. An-Nisa: 19). Rasulullah juga bersabda yang artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi). Menyakiti istri dengan lisan hingga menyebabkan penyakit jantung adalah bentuk kezaliman yang melanggar hak-hak hamba Allah. Suami tidak hanya bertanggung jawab atas nafkah materi, tetapi juga atas keamanan batin pasangannya.Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakaatuh Saya Desita, 30 tahun. Saya ingin menyampaikan kisah sahabat saya, sebut saja Mega, yang menghadapi dilema antara kewajiban istri dan upaya menyelamatkan diri.Mega menikah dengan Harbi, pria keras, egois, dan kerap berkata kasar. Bertahun-tahun ia mengalami tekanan batin hingga berujung penyakit jantung kronis yang disebut dokter berkaitan dengan kondisi psikis.Di tengah sakitnya, Mega juga menghadapi perselingkuhan suaminya. Ia merasa luka hati akibat ucapan dan pengkhianatan lebih berat dari luka fisik. Akhirnya ia memilih meninggalkan suaminya demi ketenangan.1. Bagaimana pandangan Islam terhadap suami yang menyakiti istri hingga berdampak fisik? 2. Apakah istri boleh pergi demi keselamatan mental dan fisik? 3. Bagaimana hukum meninggalkan suami tanpa proses resmi? Warahmatullahi wabarakatuhSAAT LUKA BATIN MENJADI SAKIT FISIK: BERTAHAN ATAU PERGI?MULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


31Menjunjung Tinggi Keselamatan JiwaIslam mengenal prinsip “Ad-dhararu yuzal” (kemudharatan harus dihilangkan). Jika keberadaan Mega secara medis dan psikologis mengancam nyawanya, maka menjauhkan diri secara fisik untuk sementara waktu demi keselamatan nyawa adalah hal yang bisa dimaklumi secara syar’i sebagai bentuk darurat.Meninggalkan hubungan yang merusak jiwa bukanlah sebuah keegoisan, melainkan ikhtiar penyelamatan diri. Tidak ada satu pun dalil yang mewajibkan seorang hamba untuk membiarkan dirinya dihancurkan perlahan-lahan oleh kezaliman orang lain hingga menemui ajal dalam penderitaan.Dilema Meninggalkan Suami Tanpa Proses Hukum (Khulu’)Terkait tindakan Mega yang pergi tanpa proses hukum resmi, kita perlu melihatnya secara bijak dari dua sisi:Pertama, Secara Kemanusiaan: Langkah Mega “pergi” adalah reaksi alami untuk bertahan hidup. Secara hukum Islam dan negara, selama belum ada ikrar talak (putusan pengadilan), ia masih berstatus sebagai istri sah. Kondisi ini berisiko membuat statusnya “tergantung” (al-mu’allaqah)—tidak hidup sebagai istri, namun tidak merdeka sebagai wanita lajang.Kedua, Pentingnya Legalitas: Agar tindakan Mega tidak menjadi fitnah di masa depan, disarankan bagi Mega segera memproses khulu’ (cerai gugat) di Pengadilan Agama. Dasarnya firman Allah dalam Alquran Surat Al-Baqarah: 229. Dengan legalitas ini, penderitaan Mega (bukti medis dan perselingkuhan suami) akan tercatat secara resmi. Ini adalah cara elegan untuk membuktikan bahwa ia pergi karena mempertahankan martabat dan nyawanya. Semoga Mega mendapatkan kesembuhan lahir batin dan perlindungan Allah . Aamiin. Wallahu a’lam.*Dzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA


SOSOK32Pagi masih basah oleh embun ketika Ustadz Ahmad Zainuddin membuka pintu ruang belajar di Ciomas, Bogor, Jawa Barat. Di tempat ini ia menetap sejak 2015, mengurus pekerjaan yang nyaris tak terlihat: mencetak dai.“Dakwah itu bukan soal cepat sampai, tapi soal siapa yang sanggup bertahan,” kata Ahmad.Ahmad lahir di Bandung, 20 April 1986. Saat mondok di Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, ia mengenal disiplin, ritme hidup teratur, dan hari-hari yang diisi belajar.“Di pesantren, pilihan hidup itu sedikit,” ujarnya. “Kalau tidak belajar, ya tertinggal.”Selepas lulus pada 2006, Ahmad memperdalam bahasa Arab selama setahun di Ma’Had AlKetekunan kecil yang konsisten berbuah pada gerakan dakwah yang meluas tanpa banyak suaraJALAN SUNYI SEORANGPENDIDIK DAIUstadzah A ZainuddinMULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


33Imarat, Bandung. Pada 2010, ia melanjutkan pendidikan ke Jurusan Syariah LIPIA Jakarta dan menyelesaikannya dalam lima tahun: satu tahun takmili dan empat tahun program inti.Masa kuliah dilaluinya dengan perjuangan. Ia mengajar di Pondok Pesantren Hidayatullah Al-Qolam, Cipinang Cempedak, sementara kampusnya di Jakarta Selatan. Setiap hari ia mondar-mandir, kerap dengan sepeda. “Saya ingin belajar dan mengajar berjalan bersamaan,” katanya. “Ilmu itu harus dipakai.”Di sela jadwal itu, Ahmad mengisi waktu dengan murajaah, menghafal, dan membaca kitab. Pada 2015, ia tercatat sebagai salah satu peraih nilai tertinggi di LIPIA.“Saya niatkan itu bukan untuk nama, tapi untuk ridha Allah,” ujarnya.Merintis Sekolah DaiSelepas lulus, Ustadz Ahmad menerima amanah: ditugaskan ke Ciomas untuk merintis Sekolah Dai Hidayatullah.Di awal, fasilitas terbatas. Bangunan dan ruang belajar seadanya, sistem pendidikan belum sepenuhnya terbentuk.Dari kehidupan kota, ia berpindah ke hamparan sawah yang sunyi. Sebuah adaptasi yang tidak mudah.Usai Maghrib, wilayah itu segera lengang. Cerita begal kerap beredar dari mulut ke mulut warga.“Awal datang ke sini rasanya memang berat,” kata Ahmad.“Berat” bukan hanya karena medan. Ada tantangan sosial, termasuk perbedaan praktik beragama yang memunculkan kecurigaan sebagian warga.Dampaknya di lingkungan Sekolah Dai muncul label dan tudingan kurang nyaman, meski tidak selalu diucapkan terbuka.Tapi Ahmad memilih tidak bereaksi. Ia memahami dakwah di wilayah seperti Ciomas tak bisa dilakukan dengan pendekatan keras.“Kalau datang membawa ilmu tanpa memahami masyarakat, yang muncul justru benturan,” ujarnya.Ia menahan diri, membaca situasi, memberi waktu bagi proses saling mengenal.Pendekatan sosial ditempuh: kajian terbuka, komunikasi dengan tokoh masyarakat, pembaDzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA


SOSOKgian hewan qurban saat Idul Adha, serta beras dan bahan makanan saat Idul Fitri. Tidak diumumkan besar-besaran, tapi dijalankan konsisten.Perlahan, kebekuan mencair. Sekolah Dai tak lagi dipandang sebagai lembaga asing. “Hal-hal sederhana itu yang membuat kami akhirnya bisa diterima,” kata Ahmad.Masyarakat mulai melihat Sekolah Dai sebagai bagian dari lingkungan. Beberapa warga menitipkan anaknya untuk belajar. Tidak semuanya bertahan karena sistem yang ketat, namun kepercayaan mulai tumbuh.Sejak berdiri pada 2015, Sekolah Dai Hidayatullah telah meluluskan sekitar 250 dai hingga angkatan ke-10. Kini angkatan ke-11 berjalan.Para alumni disebar ke berbagai daerah, termasuk wilayah pedalaman dan komunitas adat terpencil.“Ada alumni yang ditugaskan ke komunitas Suku Wana di pedalaman Sulawesi Tengah, ada yang ke Suku Togutil di Halmahera. Itu prestasi dakwah yang tidak bisa diukur dengan materi,” ujar Ahmad.Seni DakwahRutinitas Ustadz Ahmad padat. Sehari-hari ia mengajar fiqih ibadah dan fiqih empat mazhab, mengawasi proses belajar, serta membina santri di luar jam formal.Di luar sekolah, ia mengisi kajian tafsir di rumah jamaah dan masjid sekitar Bogor. Meski harus menjalani terapi kesehatan rutin, keterlibatannya tidak berkurang.Bagi Ahmad, mencetak dai bukan pekerjaan administratif. Ini seni membaca manusia, memahami konteks, dan menanam kesabaran. Keluasan ilmu penting agar dai tidak mudah menyalahkan perbedaan.“Kalau ilmunya luas, pengingkarannya sedikit. Kalau ilmunya sempit, pengingkarannya banyak,” katanya.Ia menyadari hasil pengkaderan tidak selalu terlihat cepat. Prosesnya sering sunyi, tanpa tepuk tangan.“Saya mungkin tidak melihat hasil akhirnya. Tapi kalau satu dai bisa berangkat ke pelosok dan membawa cahaya, itu sudah cukup.”Di kawasan sunyi Ciomas, Ustadz Ahmad Zainuddin memilih bertahan. Ia melewatkan banyak peluang duniawi. Yang ia kejar adalah pahala jariyah—ilmu yang terus mengalir melalui para dai yang dididiknya.Ahmad merawat proses pengkaderan: pelan, konsisten, dan nyaris tak terdengar dari dunia luar.* srj34 MULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


QUOTEDzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA 35


FIQIHUstadz Abdul Kholiq, Lc, MHIAnggota Dewan Syariah LAZNAS BMH36Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Pak Azmi rahimakumullah, menikah adalah ibadah penting yang umumnya hanya sekali seumur hidup. Keinginan melaksanakannya dengan sebaik mungkin adalah tepat. Selain syarat dan rukun, ada adab untuk meraih keutamaan, termasuk meneladani Rasulullah dalam memilih waktu akad. Namun, sering muncul kepercayaan lokal yang memengaruhi pilihan tersebut.Pada dasarnya, semua waktu bagi seorang muslim adalah baik. Sebagian waktu menjadi lebih utama karena faktor tertentu, seperti Ramadhan dengan turunnya al-Qur’an. Prinsipnya, menikah sebaiknya disegerakan, bahkan bisa wajib jika penundaan berisiko pada kemaksiatan. Nabi bersabda kepada Ali r.a:“Ada tiga hal yang jangan ditunda: shalat ketika tiba waktunya, jenazah saat telah hadir, dan wanita yang mendapat jodoh sekufu.” (HR. Ahmad, al-Hakim, al-Tirmidzi)Jika penundaan demi memilih waktu utama tidak menimbulkan risiko maksiat, hal itu boleh dan bisa lebih baik. Apalagi bila justru mempercepat dari rencana awal, maka terkumpul dua keutamaan: menyegerakan dan memilih waktu utama.Riwayat sahih menunjukkan Rasulullah menikahi Bunda ‘Aisyah r.a di bulan Syawwal. ‘Aisyah Assalamu’alaikumWarahmatullahi wabarakaatuhAssalamualaikumwarahmatullah. Ustad, kami berencana menikah di bulan Muharram tapi ada pihak keluarga (kami dari Jawa), menasehati ada bulan Suro yang katanya kurang baik, bagaimana menjelaskannya hal ini? Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuhAD | SurabayaBULAN BAIK PERNIKAHANAzmi | SurakartaMULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


37berkata yanga artinya, “Rasulullah menikahiku pada bulan Syawwal dan memulai hidup bersama juga pada bulan Syawwal.” (HR. Muslim). Riwayat tentang pernikahan Bunda Fatimah r.a pada bulan Shafar tidak memiliki sanad kuat, sehingga tidak menjadi dasar hukum sunnah.Menurut ulama Syafi’iyyah dan Malikiyyah memandang menikah di bulan Syawwal sebagai bagian dari sunnah. Namun, al-Nawawi menjelaskan bahwa maksud utama hadis tersebut adalah menolak keyakinan jahiliyah yang bersifat pesimis (tathayyur) terhadap bulan Syawwal. Nama Syawwal dikaitkan dengan “isyalah” yang dimaknai berkurang atau terangkat, sehingga dahulu dianggap membawa kesialan. Rasulullah justru menikah pada bulan itu untuk menghapus keyakinan tersebut.Dengan memahami substansinya, memilih bulan Muharram di Jawa justru tepat. Muharram adalah salah satu dari empat bulan suci yang memiliki keutamaan. Adapun anggapan “bulan Suro” sebagai waktu buruk, terkait mitos-mitos tertentu; seperti pernikahan Nyi Roro Kidul segala, tidak memiliki dasar dalam syariat dan termasuk keyakinan yang harus ditinggalkan.Di sebagian masyarakat lain, ada pula anggapan Muharram sebagai bulan berkabung karena wafatnya Husain bin Ali. Logika ini tidak tepat, karena wafatnya Rasulullah di Rabiul Awwal pun tidak menjadikan bulan itu dilarang untuk menikah.Karena itu, menikah di bulan Muharram berarti memulai ibadah di bulan mulia sekaligus menolak mitos yang bertentangan dengan akidah. Semoga penjelasan ini menguatkan Anda dan keluarga untuk melangsungkan akad tanpa ragu. Wallahu a’lam.*Dzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA


Selepas Perang Hunain, sebuah kabar tak sedap sempat beredar di tengah kaum Muslimin. Saat itu, Rasulullah membagikan harta rampasan perang (ghanimah) kepada beberapa tokoh Quraisy dan orangorang yang baru masuk Islam. Kebijakan ini, memunculkan kegelisahan di kalangan sebagian kaum Anshar.Muncul anggapan bahwa Rasulullah lebih memihak kepada kaum Quraisy atau Muhajirin, sementara Anshar—yang lebih dahulu berjuang—justru mendapatkan bagian lebih sedikit. Kabar tersebut sampai kepada Rasulullah . Beliau tidak membiarkannya berkembang menjadi prasangka yang lebih luas. Beliau langsung mengumpulkan kaum Anshar dan menjelaskan latar belakang kebijakan yang diambil.Dengan bahasa yang lembut, beliau menerangkan orang-orang TABAYYUN: KUNCI MEREDAM PRASANGKAADAB38yang diberi bagian lebih banyak adalah mereka yang imannya masih perlu dikuatkan. Pemberian itu diharapkan dapat meneguhkan hati mereka dalam Islam. Adapun kaum Anshar, justru karena keimanan dan pengorbanan mereka telah kokoh, tidak memerlukan penguatan yang sama. “Tidakkah kalian rela jika orang-orang pulang membawa kambing dan unta, sedangkan kalian pulang membawa Rasulullah?” Mendengar itu, kaum Anshar pun tersentuh. Air mata mereka mengalir. Mereka menyadari kekeliruan dalam memahami keadaan, lalu menerima penjelasan itu dengan lapang dada.Informasi UtuhDalam kehidupan sosial, perbedaan pandangan adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Setiap orang memiliki cara berpikir dan sudut pandang yang berbeda. Karena itu, potensi salah paham Kesalahpahaman tak bisa dihindari, tetapi dapat diselesaikan dengan ilmu, sikap bijak, dan hati yang lapangOleh: Khairul HibriMULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


39dalam bentuk potongan-potongan. Tidak sedikit orang bereaksi dan mudah memberikan penilaian hanya dari cuplikan singkat, tanpa memahami konteks sebenarnya.Dengan Kesimpulan terburu-buru, seseorang mudah salahpaham –bahkan tidak sedikit— menjadi perusak persaudaraan dan kepercayaan. Agama Islam mengajarkan kita adab menahan diri dari penilaian yang tergesa-gesa, mengedepankan klarifikasi, serta membuka ruang dialog. Lebih dari itu, diperlukan kerendahan hati untuk mengakui kesalahan ketika kebenaran telah tampak.Peristiwa Hunain mengajarkan bahwa kesalahpahaman bukanlah akhir dari segalanya. Dengan sikap yang tepat, ia justru dapat menjadi jalan untuk memperkuat keimanan dan mempererat persaudaraan.*selalu ada.Yang menjadi persoalan bukan sekadar adanya perbedaan, tetapi bagaimana cara meresponsnya. Kesalahpahaman yang dibiarkan dapat berkembang menjadi masalah lebih besar. Ia bermula dari hal kecil, lalu membesar seperti bola salju.Dari sikap Rasulullah , kita belajar bahwa komunikasi yang bijak adalah kunci utama. Beliau tidak merespons dengan emosi atau pembelaan, tetapi memilih dialog yang tenang dan penjelasan yang menyentuh hati. Selain itu, pentingnya tabayyun (klarifikasi). Sebelum menyimpulkan –apalagi menyebarkan suatu kabar— setiap Muslim dituntut mencari informasi utuh. Banyak kerusakan dalam masyarakat terjadi bukan karena kebohongan yang disengaja, tetapi karena tergesa-gesa mempercayai informasi yang belum lengkap.Sikap berikutnya adalah kesiapan untuk menerima kebenaran. Sebab ini membutuhkan kelapangan hati. Tidak semua penjelasan akan sesuai dengan keinginan atau pendapat pribadi. Namun, jika penjelasan tersebut benar dan dapat dipertanggungjawabkan, maka menerimanya adalah bagian dari kejujuran.Di era media sosial saat ini banyak informasi tersebar tidak utuh Dzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA


Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang merepresentasikan puncak perjalanan spiritual seorang Muslim. Di Sebagian Masyarakat Indonesia, fenomena kepulangan jemaah haji (hujaj) dirayakan sebagai seremoni sosial atau perubahan status gelar. Di tengah realitas kemiskinan yang masih menjerat sebagian besar umat, krisis ekonomi global, serta rendahnya akses pendidikan bagi rakyat kecil, peran sosial para hujaj menjadi sangat krusial. Salah satu indikator utama disebut haji mabrur tidak hanya terletak pada sempurnanya rukun Perjalanan Hati Menuju Kepedulian SejatiIDEALITAOleh: Supendi(Direktur Utama Laznas BMH)40Keberkahan haji akan terus mengalir selama kaki melangkah untuk melayani dan harta dialirkan untuk menghidupkan harapan rakyat kecildan wajib haji secara teknis, tetapi pada dampak sosial yang dihasilkan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah pernah memberikan kriteria mengenai haji yang diterima: “Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?’ Beliau menjawab, ‘Memberikan makanan (ith’amut tha’am) dan menyebarkan kedamaian melalui tutur kata (thiybul kalam).’” (HR. Ahmad).Hadis ini secara eksplisit mengaitkan kualitas spiritual haji dengan sensitivitas sosial, khususnya dalam urusan pemenuhan kebutuhan dasar umat (pangan). MULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


Artinya, seorang haji mabrur adalah yang tidak menutup mata terhadap kelaparan dan kemiskinan di sekelilingnya.Memecah Rantai KemiskinanSelama di tanah suci, jemaah haji dididik melalui prosesi ihramuntuk melepaskan segala atribut keduniawian, pangkat, dan kelas sosial. Kesadaran bahwa “semua manusia sama” harus diimplementasikan melalui keberpihakan pada kaum dhuafa. Allah bahkan berfirman dalam Al-Qur’an, yang artinya: “...Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28).Di tengah krisis pendidikan yang membuat anak-anak dari keluarga tidak mampu putus sekolah, sedekah jariyah –sebagai investasi— baik dalam bentuk beasiswa (apalagi beasiswa dai dan calon ulama) juga pemberdayaan ekonomi berkelanjutan manfaatnya akan terus mengalir melampaui usia.Solusi Krisis UmatUmat Islam saat ini menghadapi tantangan besar berupa ketimpangan ekonomi yang tajam. Jika ribuan hujaj setiap tahun menyinergikan zakat, infak, dan wakaf (Ziswaf) mereka secara kolektif, maka ketergantungan umat terhadap sistem ekonomi yang eksploitatif dapat dipatahkan. Inilah “Tauhid Sosial”—keyakinan kepada Allah yang dibuktikan dengan membela hamba-hamba-Nya yang kesulitan. Allah mengingatkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 177 bahwa kebajikan sejati bukanlah sekadar formalitas ritual menghadap kiblat, melainkan kesediaan mendonasikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, dan orang miskin.Kepulangan dari tanah suci adalah titik awal dari “Haji yang Sesungguhnya”. Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, beliau mengingatkan bahwa tanda keberhasilan sebuah ibadah adalah berubahnya hati menjadi lebih zuhud terhadap dunia dan lebih gemar beramal untuk akhirat. Beliau menyatakan bahwa harta yang disedekahkan untuk menolong mereka yang kesulitan lebih dicintai Allah daripada haji sunnah yang berulang-ulang tanpa dampak sosial.Semoga Allah memudahkan Kesehatan dan kelancaran para jamaah haji Indonesia. Dan semoga kepulangan para hujjaj dalam ibadah membawa keberkahan umat dunia dan akherat. Amin.*Dzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA 41


Kita hidup di zaman ketika hampir setiap orang merasa memiliki otoritas untuk berbicara tentang apa saja. Cukup dengan ponsel di tangan dan akun media sosial, seseorang dapat menyampaikan opini tentang beragam hal—termasuk agama—tanpa landasan ilmu yang memadai. Banyaknya pengikut, tingginya jumlah tayangan, serta seberapa sering sebuah pendapat muncul di linimasa, dianggap sebagai indikator kebenaran. Seolah kebenaran ditentukan oleh popularitas. Seseorang bisa dikenal luas, tetapi belum tentu memiliki kedalaman ilmu. Sebaliknya, banyak orang berilmu justru tidak menonjol di ruang publik.Dampak dari pergeseran ini tidak bisa dianggap ringan. Konten kreator mendadak jadi ulama dan pakar. Di sinilah kebenaran menOTORITAS VSPOPULARITASKONSEP DIRI42Ketika semua orang merasa berhak bersuara, di situlah pentingnya kembali mengenali batas ilmu dan otoritas.Oleh: Khairul HibriMULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


OTORITAS VSPOPULARITASjadi kabur. Dunia maya pun dipenuhi perdebatan yang tidak produktif. Setiap orang seolah berlomba untuk didengar, bukan untuk mencari kebenaran.Kondisi tersebut mengingatkan kita pada nasihat Ali bin Abi Thalib, “Seandainya orang yang tidak tahu itu diam, niscaya banyak perselisihan dapat dihindari.” Banyak keributan hari ini bukan terjadi karena perbedaan mendasar, tetapi karena orang yang tidak memiliki kapasitas turut berbicara tanpa kendali.Islam sejak awal telah menempatkan otoritas ilmu (kredibilitas) pada posisi yang sangat penting. Nabi Muhammad memberikan peringatan: “Barang siapa berbicara tentang Kitab Allah dengan pendapatnya sendiri, lalu ia benar sekalipun, maka ia tetap telah keliru.” (HR. Abu Daud)Prinsip kehati-hatian ini menuntun umat agar tidak sembarangan dalam menyampaikan pendapat, terlebih dalam urusan agama. Al-Qur’an menegaskan agar setiap persoalan dikembalikan kepada ahlinya dan mengajak kita bertanya pada orang yang berilmu (QS. An-Nahl: 43; QS. Al-Anbiya’: 7).Di sinilah letak pentingnya mengenali kapasitas diri. Apalagi dalam urusan agama, rujukan utama adalah para ulama yang memiliki keilmuan mendalam dan integritas yang terjaga, bukan sekadar populer atau viral.Teladan tentang sikap ilmiah ini dapat kita lihat dari Imam Malik. Meski ulama besar di Madinah dan dikenal kedalaman ilmunya, 43beberapa kali beliau menjawab “tidak tahu” ketika ditanya berbagai persoalan.Sikap ini menunjukkan bahwa ukuran keilmuan bukanlah kemampuan menjawab semua pertanyaan, melainkan kesadaran akan batas ilmu. Mengakui ketidaktahuan bukanlah kelemahan, tetapi bentuk kejujuran ilmiah sekaligus tanda ketakwaan. Di tengah budaya serba instan—di mana jawaban bisa dicari melalui mesin pencari atau aplikasi—sikap seperti ini justru semakin penting dijaga.Dari Abdullah bin Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah bersabda yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari manusia, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu; maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari)Hadis ini menjadi pengingat bahwa hilangnya otoritas ilmu bukan hanya persoalan individu, tetapi dapat berdampak luas pada masyarakat. Ketika yang berbicara bukan ahlinya, maka kesesatan tidak hanya terjadi pada diri sendiri, tetapi juga menyeret orang lain. Di tengah riuhnya dunia digital, kita perlu kembali menata sikap. Menahan diri dari berbicara tanpa ilmu serta berani mengatakan “tidak tahu” adalah langkah sederhana menjaga kebenaran tetap berada pada tempatnya.*Dzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA


PERWAKILANBMH memberikan beasiswa kepada Ghatfan Hamdi Rangkuti, mahasiswa semester 2 FMIPA IPB Bogor. Bantuan ini membuatnya fokus belajar dan menata masa depan. “Alhamdulillah, terima kasih kepada BMH dan para donatur,” ujarnya. Program ini memperkuat peran zakat dalam mendukung pendidikan berkualitas generasi muda.*CILEUNGSIIIDI Cabang Bandung bersama BMH menggelar edukasi gizi dan bantuan nutrisi bagi 120 peserta di Pesantren At-Taqwa, Kamis (16/4/2026). Kegiatan ini bertujuan mencegah stunting dan meningkatkan kesehatan santri. “Edukasi ini penting untuk mencegah stunting,” ujar Rita Kartika. Ketua IIDI Lia Dachliana menekankan pentingnya kesehatan santri.*BANDUNGBMH meresmikan sumur bor ke-261 di Ponpes Miftahul Ulum Al-Manaf, Dampit, 14 April 2026. Program ini memberi akses air bersih bagi 754 santri dan warga setelah sebelumnya kekurangan air. “Alhamdulillah, kebutuhan air kini terpenuhi,” kata Gus Hamdan. Bantuan ini meningkatkan kualitas hidup dan mendukung akses sanitasi layak.*44BUKTI NYATAKEBAIKANLAZNAS BMHMALANGMULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


BMH menyalurkan 1,2 ton beras kepada 418 santri di Tarakan dan Bulungan, 16 April 2026. Bantuan ini membuat santri lebih tenang belajar dan beribadah. “Kami sangat terbantu,” ujar Ustadz Khamis. Ustadz Hilman Faruq menyebut bantuan ini membawa kebahagiaan dan diharapkan menjadi amal jariyah bagi donatur.*BMH Nusa Tenggara Timur menyalurkan Sedekah Beras ke Ponpes Hidayatullah Kupang, 14 April 2026. Bantuan ini menjaga ketahanan pangan santri saat stok menipis agar tetap fokus belajar dan beribadah. “Kami ingin santri belajar dengan tenang,” ujar Hairudin. Pengasuh Arina Yusuf menyampaikan syukur atas dukungan tersebut.*BMH membangun sumur bor di Masjid At-Taubah di Desa Sesulu, Penajam, Paser Utara, Kaltim, 5 April 2026, guna mengatasi keterbatasan air bersih bagi sekitar 200 warga. Air kini digunakan untuk ibadah dan kebutuhan harian. “Alhamdulillah, air kini lebih mudah diakses,” ujar Achmad Rifai. Pengurus masjid Arjun menyampaikan syukur atas bantuan tersebut.*TARAKANKUPANGPENAJAM45BUKTI NYATAKEBAIKANLAZNAS BMHDzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA


Tak pernah terlintas dalam benak kami, memiliki anak penghafal AlQur’an. Saya dan suami hanyalah orang awam dalam urusan agama yang tinggal di sebuah kampung di pelosok Sumatra.Kami dikaruniai tiga anak: sulung laki-laki, anak kedua perempuan, dan si bungsu laki-laki. Lingkungan tempat kami tinggal dipenuhi pergaulan bebas, judi, pencurian, hingga narkoba. Ini bukan lagi cerita asing, melainkan keseharian yang dianggap biasa.Di kampung kami, pernikahan usia dini kerap terjadi. Banyak anak putus sekolah demi menikah, dengan alasan menghindari halhal yang tidak diinginkan. Alasan itu terdengar masuk akal, tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Rumah tangga tanpa kesiapan, tanpa pekerjaan tetap, sering berujung pada masalah baru. Tak sedikit yang akhAL-QUR’AN MENGALIRKAN HIDAYAH DI KELUARGACERMIN46Ketika satu anak mendekat pada Al-Qur’an, Allah bukakan pintu hidayah untuk seluruh keluarga.irnya terjerumus pada kebiasaan buruk, seperti berjudi.Begitulah yang menimpa anak sulung kami. Ia terjerat dalam dunia judi. Entah sudah berapa kali kami menasihatinya, namun semua terasa sia-sia. Nasihat kami seakan hanya lewat di telinganya, tanpa bekas.Kegelisahan itu mendorong kami untuk menyelamatkan setidaknya satu harapan yang tersisa. Kami sepakat menyekolahkan si bungsu jauh dari lingkungan kampung, agar ia tumbuh dalam suasana yang lebih baik.Seolah Allah membuka jalan, seorang saudara datang menawarkan agar si bungsu mondok di sebuah pondok tahfidz di kota. Kebetulan, anaknya juga akan mondok di sana. Tanpa ragu, kami menerima tawaran itu. Alhamdulillah, si bungsu pun setuju. Ia bahkan senang karena akan bersama sepupunya yang sudah akrab.Sejak itu, kehidupan kami perOleh: Khairul HibriMULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


lahan berubah.Dari waktu ke waktu, kami melihat perkembangan yang tak pernah kami bayangkan. Sikapnya semakin santun. Ucapannya terjaga. Dan tentu saja, hafalannya terus bertambah. Saat pulang liburan, ia lebih memilih tinggal di rumah. Ia menjauh dari keramaian hiburan kampung yang dulu biasa ia datangi.Enam tahun berlalu. Dengan izin Allah, ia menuntaskan hafalan 30 juz. Namun, ia merasa ini belumlah cukup. Ia meminta izin untuk melanjutkan di pesantren lain di Jawa Tengah, demi menguatkan hafalannya. Kami mengiyakan, dengan harapan Allah terus menjaganya.Di balik semua itu, ada satu momen yang tak pernah kami lupakan.Suatu hari, si bungsu bertanya, “Ibu, apakah kakak masih berjudi?”Saya terdiam sejenak, lalu menjawab, “Masih.”Ia menunduk, lalu berkata pelan, “Tolong sampaikan pada kakak, dari adiknya… agar mulai meninggalkan itu. Kalau belum bisa berhenti sepenuhnya, kurangi pelan-pelan.”47Permintaan itu sederhana, tapi terasa berat di hati saya. Namun, saya tetap menyampaikannya kepada si sulung, dengan lembut, sebagaimana pesan itu dititipkan.Ia hanya diam. Tidak membantah. Tidak pula menjawab.Namun, kali ini diamnya berbeda.Sejak saat itu, saya melihat perubahan kecil. Ia mulai jarang keluar. Perlahan, kebiasaannya memudar. Hingga akhirnya, ia benar-benar meninggalkan perbuatan yang dilarang Allah itu.Saya sadar, bukan kata-kata saya yang mengubahnya. Bukan pula kekuatan kami sebagai orang tua. Semua itu adalah kuasa Allah yang membolak-balikkan hati manusia.Kini, harapan kami sederhana. Semoga si sulung tetap istiqamah di jalan yang benar. Dan si bungsu dimudahkan menjadi penghafal Al-Qur’an yang kokoh hafalannya. Lebih dari itu, kami berharap keberkahan Al-Qur’an terus menaungi keluarga kami—di dunia hingga akhirat. Aamiin. (Khairul Hibri) Sebagaimana yang dikisahkan ibu Salamah (bukan nama asli) kepada Mulia.Dzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA


Kabut turun tipis, menyentuh halaman Pesantren Masyarakat Cibuntu yang mulai hidup oleh langkah para santri. Di sela rutinitas mengaji dan belajar, satu kebutuhan sederhana lama terasa mengganjal kini terpenuhi: sanitasi yang layak.DARI MCK, MENGALIR PERUBAHAN DI CIBUNTUSENYUM BERDAYASelama ini, keterbatasan fasilitas MCK bukan sekadar soal kenyamanan. Ia menyentuh banyak sisi kehidupan—dari kebersihan diri hingga kekhusyukan ibadah. Air yang tak selalu mudah diakses, ruang yang terbatas, hingga antrean panjang, menjadi bagian dari keseharian. Dalam kondisi 48Program Tebar Al-Qur’an Nusantara BMH Maluku memperkuat literasi, ibadah, dan pembinaan umat dari masjid.MULIA | Dzulhijjah 1447/Juni 2026


seperti itu, menjaga kesehatan dan kebersihan menjadi tantangan tersendiri.Perubahan mulai terasa ketika Baitul Maal Hidayatullah (BMH) hadir membawa bantuan pembangunan fasilitas MCK pada 13 April 2026. Kini, aktivitas harian santri berjalan lebih lancar. Fasilitas MCK yang memadai memberi ruang bagi santri untuk hidup lebih tertata—dan dari sana, proses belajar serta ibadah menemukan ritmenya kembali.“Dengan MCK yang memadai, aktivitas harian santri menjadi lebih lancar, kebersihan lebih terjaga, dan lingkungan pesantren menjadi lebih nyaman untuk proses belajar dan ibadah,” ujar Kepala Perwakilan Jawa Barat, Marsono dalam sebuah penyerahan dilakukan secara simbolis. Alhamdulillah, dengan diamanahkan ke BMH, dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) berdampak secara nyata dan tidak berhenti sebagai bantuan sesaat. Lebih jauh, kontribusi para donatur menemukan maknanya. Setiap rupiah yang dititipkan bukan sekadar angka, melainkan bagian dari perubahan. Dari tangan mereka, hadir fasilitas yang menopang kesehatan, mendukung pendidikan, dan memperkuat kehidupan sosial-keagamaan. Babak Baru KolaborasiHubungan antara BMH dan Pesantren Masyarakat Cibuntu bukanlah cerita yang baru dimulai. Sejak 2025, keduanya telah menjalin kemitraan dalam berbagai program sosial dan pendidikan. Pembangunan MCK menjadi salah satu mata rantai dari kerja sama yang terus berkembang.Komitmen itu ditegaskan kembali melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara BMH Cirebon dan pihak pesantren. Bertempat di Desa Wisata Cibuntu, kesepakatan ini menjadi langkah strategis untuk memperluas dampak program berbasis pesantren. “Ini bukan sekadar kerja sama formal, melainkan gerakan bersama agar manfaatnya dirasakan lebih luas,” ujar Ketua Yayasan Pesantren, Ustaz Sidik, merasakan kerja sama ini lebih dari sekadar formalitas.Dari pihak BMH, sinergi ini dipandang sebagai cara memperkuat efektivitas program sekaligus menjaga transparansi dan akuntabilitas. Kolaborasi dengan pesantren dinilai sebagai strategi penting untuk menjangkau masyarakat di tingkat akar rumput—tempat di mana kebutuhan nyata sering kali paling terasa.Kegiatan itu ditutup dengan penanaman pohon—sebuah simbol yang sederhana namun sarat makna. Bahwa kerja sama ini bukan untuk sesaat, melainkan untuk tumbuh, berakar, dan memberi manfaat dalam jangka panjang.Semoga dengan hadirnya fasilitas ini —melalui air yang mengalir lebih bersih, lingkungan yang lebih sehat— dan tentu saja, langkah santri kini terasa lebih ringan. Dari sebuah MCK, cerita tentang kebaikan terus mengalir, menjangkau lebih banyak kehidupan.*Dzulhijjah 1447/Juni 2026 | MULIA 49


Click to View FlipBook Version