The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Mini Book Sosiologi Komunikasi "Sistem Komunikasi Desa dan Kota"

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fichandr1206, 2023-07-13 13:06:29

"Sistem Komunikasi Desa dan Kota"

Mini Book Sosiologi Komunikasi "Sistem Komunikasi Desa dan Kota"

Keywords: sistem komunikasi,komunikasi desa dan kota,komunikasi desa era digital,komunikasi kota era digital

Sistem Komunikasi Desa & Kota book by Fitriana Chandra D. Mini SOSIOLOGI KOMUNIKASI


ii SOSIOLOGI KOMUNIKASI Sistem Komunikasi Desa dan Kota Penulis Fitriana Chandra Dewi Editor Fitriana Chandra Dewi Cover Fitriana Chandra Dewi Dosen Pengampu Abu Amar Bustomi, M.Si PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UIN SUNAN AMPEL SURABAYA 2023


2 KATA PENGANTAR Alhamdulillahi Rabbil „Alaamiin, puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Mini book berjudul “Sistem Komunikasi Desa dan Kota” dengan baik dan tuntas. Adapun penyusunan Mini Book ini adalah bertujuan untuk memenuhi penugasan Ujian Akhir Semester 2 pada mata kuliah Sosiologi Komunikasi. Selain itu, Mini book ini disusun dengan tujuan agar dapat menambah wawasan serta pengetahuan bagi para pembaca maupun penulis. Tidak lupa ucapan terimakasih terhadap bantuan dari pihak yang telah berkontribusi menyumbangkan ide baik pikiran maupun materinya, sehingga penulis memiliki semangat dalam menyelesaikan tugas pembuatan Mini book ini. Kepada kedua orang tua dan terutama Bapak Abu Amar Bustomi, M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah Sosiologi Komunikasi yang telah memberikan dukungan dan juga kesempatan pada penulis, hingga Mini book ini selesai tersusun. Tentunya, sebagai penulis tidaklah luput dari kesalahan, entah dalam penulisan dan ketidaksesuaian materi yang disampaikan karena adanya keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis. Demikian Mini book ini disusun, dengan segenap hati menerima segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan Mini book ini. Akhir kata, penulis berharap semoga apa yang disampaikan dalam Mini book ini dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama dalam bidang pengetahuan Ilmu Filsafat Komunikasi. Surabaya, 3 Juli 2023 Penulis Fitriana Chandra Dewi


3 DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL .......................................................................................................... ii KATA PENGANTAR ........................................................................................................... 2 DAFTAR ISI ......................................................................................................................... 3 LATAR BELAKANG ........................................................................................................... 4 BAB 1: SISTEM KOMUNIKASI.......................................................................................... 5 A. Definisi Sistem ............................................................................................................ 5 B. Pengertian Komunikasi ................................................................................................ 5 C. Sistem Komunikasi ...................................................................................................... 6 BAB 2: KAITAN SISTEM KOMUNIKASI & RELASI KOMUNIKASI ............................ 8 A. Pengaruh Sistem Komunikasi terhadap Hubungan antarindividu ................................... 8 B. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Sitem Komunikasi dalam Membangun Hubungan Antarindividu ......................................................................... 10 BAB 3: SISTEM KOMUNIKASI DESA DAN KOTA DI ERA DIGITAL .......................... 12 A. Perbedaan Sitem Komunikasi Desa dan Kota di Era Digital .......................................... 12 B. Peluang dan Tantangan dalam Mengimplementasikan Sistem Komunikasi Desa dan Kota di Era Digital....................................................................................................... 14 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 17


4 LATAR BELAKANG Dalam era digital yang semakin berkembang, komunikasi telah menjadi unsur penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan dampak signifikan terhadap cara orang berkomunikasi dan berinteraksi. Namun, terdapat perbedaan yang mencolok antara sistem komunikasi desa dan kota. Di satu sisi, kotakota menjadi pusat teknologi dan komunikasi yang canggih dengan akses internet yang luas dan infrastruktur teknologi yang berkembang pesat. Sementara itu, di desa-desa, tantangan akses terhadap teknologi masih menjadi masalah yang perlu diperhatikan. Dalam konteks sosiologi komunikasi, perbandingan sistem komunikasi desa dan kota dalam era digital menjadi penting untuk dipelajari. Sosiologi komunikasi memandang komunikasi sebagai suatu proses sosial yang terjadi dalam konteks budaya dan struktur sosial masyarakat. Perbedaan dalam sistem komunikasi desa dan kota dapat memengaruhi dinamika sosial, pola komunikasi, dan interaksi sosial di kedua wilayah tersebut. Selain itu, perbandingan sistem komunikasi desa dan kota dalam era digital juga membuka peluang bagi pengembangan komunitas lokal dan pemberdayaan masyarakat. Dengan memahami tantangan dan peluang yang ada, dapat dirumuskan langkah-langkah strategis untuk memperkuat sistem komunikasi di kedua wilayah tersebut, meningkatkan partisipasi masyarakat, dan menciptakan inklusi sosial yang lebih luas. Dengan demikian, mengetahui tentang perbandingan sistem komunikasi desa dan kota dalam era digital memiliki signifikansi penting dalam memahami dinamika sosial, pola komunikasi dan dampak sosial-budaya yang terjadi di kedua wilayah tersebut, serta dalam merumuskan langkah-langkah konstruktif untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang dalam era digital.


5 BAB 1: SISTEM KOMUNIKASI A. Definisi Sistem Menurut Tatang M. Amirin (1996:23 ), definisi sistem yakni sekumpulan unsure yang melakukan kegiatan atau menyusun skema atau tata cara melakukan suatu kegiatan pemrosesan untuk mencapai sesuatu atau beberapa tujuan. Dengan demikian sistem komunikasi bisa didefinisikan sebagai berikut, “Sekelompok orang, pedoman dan media yang melakukan suatu kegiatan mengolah, menyimpan, menuangkan ide, gagasan, symbol, lambang menjadi pesan dalam membuat keputusan untuk mencapai satu kesepakatan, tujuan system (menyebarkan informasi kepada khalayak, membentukimage positif dalam humas, persuasi), dan wujud hasil kegiatan atau proses system selama jangka waktu tertentu, suatu pola hubungan yang saling melengkapi antarsistem dalam system komunikasi dan saling pengertian satu sama lain dengan mengolah pesan itu menjadi sumber informasi.” Sistem dapat dikatakan sebagai salah satu kata kunci yang dapat digunakan untuk memahami hubungan kausalitas terhadap berbagai gejala kehidupan, baik yang terkait dengan gejala-gejala alamiah maupun gejala- gejala yang terkait dengan gerak manusia dalam kehidupannya. Setiap gejala kehidupan pasti memiliki mekanisme dalam pergerakannya, tidak mungkin suatu gejala tanpa mekanisme gerakan. Hal ini memberikan penafsiran bahwa tidak ada satupun di dunia ini gejala kehidupan yang dibangun tanpa dasar mekanisme yang membentuk sebuah sistem. Sistem selalu membentuk sebuah pola keberaturan yang berada pada sebuah dinamika gerak dalam konfigurasi yang mekanis. B. Pengertian Komunikasi Komunikasi berasal dari bahasa latin cum yaitu kata depan yang berarti dengan, bersama dengan, dan unus yaitu kata bilangan yang berarti satu. Dari kedua kata- kata itu terbentuk kata benda cummunio yang dalam bahasa Inggris menjadi cummunion yang berarti kebersamaan, persatuan, persekutuan, gabungan, pergaulan, hubungan. Istilah komunikasi dalam bahasa inggris “communication”, dari bahasa latin “communicatus” yang mempunyai arti berbagi atau menjadi milik bersama, komunikasi diartikan sebagai proses sharing diantara pihak- pihak yang melakukan aktifitas komunikasi tersebut. Menurut Lexicographer, komunikasi adalah upaya yang bertujuan berbagi untuk


6 mencapai kebersamaan. Jika dua orang berkomunikasi maka pemahaman yang sama terhadap pesan yang saling dipertukarkan adalah tujuan yang diinginkan oleh keduanya. Webster‟s New Collegiate Dictionary edisi tahun 1977 antara lain menjelaskan bahwa komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi diantara individu melalui system lambang- lambang, tanda- tanda, atau tingkah laku. Menurut Bernard Berelson dan Gary A. Steiner (1964:527) mendefinisikan komunikasi, sebagai berikut: “Communication : the transmission of information, ideas, emotions, skills, etc. by the uses of symbol…” (Komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya, dengan menggunakan symbol-simbol. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi.) Pada dasarnya komunikasi memiliki pengertian yang begitu luas, baik sebagai suatu ilmu yang tersendiri maupun sebagai suatu proses. Terdapat beberapa definisi mengenai komunikasi. Shimp (1993; 8) menyatakan bahwa Komunikasi adalah proses untuk menciptakan atau menimbulkan kesamaan pemikiran antara yang memberikan tanda dengan yang menerima tanda). Sehingga dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa komunikasi menekankan pada proses komunikasi yang bertujuan pada terciptanya suatu persamaan pemikiran atau pendapat pada interaksi yang terjadi. C. Sistem Komunikasi Komunikasi adalah pertukaran pesan verbal maupun non verbal antara komunikator dan komunikan untuk mengubah tingkah laku. Unsur dasar komunikasi adalah informasi, sedangkan inti berkomukasi adalah berpartisipasi. Komunikasi dikatakan efektif jika hasil si penerima atas pesan yang diterimanya persis sama dengan yang dimaksudkan oleh si pengirim, dalam proses komunikasi pesan yang hendak disampaikan oleh si pengirim memberikan arti pesan yang diterimanya tersebut. Manusia berkomunikasi dengan sesamanya karena mereka saling membutuhkan dan juga karena kebudayaan manusia bisa berkembang dengan melalui komunikasi. Dengan adanya komunikasi pengetahuan manusia bisa bertambah, dan saling pengertian di antara mereka dapat terwujud. Dalam berkomunikasi ada sebuah istilah sistem komunikasi. Sistem komunikasi sangat dibutuhkan dalam kehidupan karena untuk menyampaikan informasi diperlukan sistem


7 komunikasi yang baik. Sistem komunikasi merupakan suatu kebutuhan dalam bermasyarakat yang tidak dapat dihindari maupun digantikan keberadaannya sebagai sarana bertukar informasi yang akan diperlukan setiap saat, dan bertujuan mempengaruhi orang lain, merangsang minat, mengurangi permusuhan, menggerakan masyarakat atas mendidik perilaku.


8 BAB 2: KAITAN SISTEM KOMUNIKASI DAN RELASI KOMUNIKASI A. Pengaruh Sistem Komunikasi terhadap Hubungan Antarindividu Sistem komunikasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hubungan antarindividu. Cara kita berkomunikasi dengan orang lain dapat mempengaruhi bagaimana kita saling memahami, berinteraksi, dan menjalin hubungan yang sehat. Jika dalam berkomunikasi seseorang menggunakan sistem komunikasi yang efektif, dengan pesan yang jelas dan tepat. Maka hal tersebut dapat memperbanyak kesempatan komunikasi untuk dipahami dengan benar oleh orang lain. Hal Ini membantu dalam membangun pemahaman yang lebih baik antara individu dan mengurangi risiko terjadinya kesalahpahaman atau interpretasi yang salah. Selain itu, cara kita berkomunikasi juga memengaruhi interaksi sosial dan hubungan yang kita bangun dengan orang lain. Komunikasi yang baik, seperti komunikasi yang terbuka, jujur, dan transparan, cenderung membangun kepercayaan di antara individu. Kepercayaan adalah salah satu elemen penting dalam hubungan yang sehat, dan sistem komunikasi yang baik dapat memperkuat ikatan ini. Komunikasi yang efektif juga membantu dalam menyelesaikan konflik. Ketika individu mampu berkomunikasi dengan baik, mereka dapat mengungkapkan ketidakpuasan atau perbedaan pendapat secara konstruktif. Kemampuan untuk mendengarkan dengan empati, mengungkapkan pikiran dengan sopan, dan mencari solusi bersama melalui komunikasi yang efektif dapat membantu mengurangi konflik dan memperkuat hubungan. Jadi, secara keseluruhan, cara kita berkomunikasi dengan orang lain melalui sistem komunikasi memiliki dampak yang besar terhadap bagaimana kita memahami satu sama lain, berinteraksi, dan menjalin hubungan yang sehat. Sehingga melalui beberapa penjelasan diatas dapat ditemukan beberapa poin penting mengenai pengaruh sistem komunikasi terhadap hubungan antarindividu diantaranya sebagai berikut: 1. Pemahaman dan pengertian yang lebih baik: Sistem komunikasi yang efektif memungkinkan individu untuk saling berbagi informasi, ide, dan perasaan. Dengan berkomunikasi secara terbuka dan jujur, individu dapat memahami dengan lebih baik perspektif dan pengalaman satu sama lain. Ini menciptakan kesempatan untuk saling memahami dan meningkatkan pengertian antarindividu, yang pada gilirannya dapat memperkuat hubungan mereka.


9 2. Membangun ikatan emosional: Komunikasi yang efektif dan berdaya guna dapat membantu membangun ikatan emosional yang kuat antara individu. Melalui ekspresi emosi, saling mendengarkan, dan memberikan dukungan emosional, hubungan antarindividu dapat menjadi lebih intim dan bermakna. Komunikasi juga memungkinkan individu untuk berbagi kegembiraan, kepedihan, dan pengalaman emosional lainnya, yang dapat memperkuat ikatan sosial di antara mereka. 3. Penyelesaian konflik dan pemecahan masalah: Sistem komunikasi yang efektif membantu dalam penyelesaian konflik dan pemecahan masalah antarindividu. Melalui komunikasi yang terbuka dan konstruktif, individu dapat mengungkapkan perbedaan pendapat, mencari solusi bersama, dan mencapai kesepakatan. Komunikasi yang baik memfasilitasi dialog, negosiasi, dan kompromi, yang dapat mengurangi konflik dan memperkuat hubungan antarindividu. 4. Meningkatkan kolaborasi dan kerjasama: Komunikasi yang baik memainkan peran penting dalam membangun kolaborasi dan kerjasama antarindividu. Dengan berbagi informasi, ide, dan pandangan, individu dapat bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama. Komunikasi yang efektif memperkuat komunikasi tim, koordinasi tugas, dan saling bergantung antara individu, yang meningkatkan kemampuan mereka untuk bekerja sama dan mencapai hasil yang lebih baik 5. Membentuk identitas kelompok dan solidaritas: Sistem komunikasi memainkan peran penting dalam membentuk identitas kelompok dan solidaritas antarindividu. Melalui komunikasi, individu dapat berbagi nilai-nilai, norma-norma, dan identitas yang sama, yang memperkuat ikatan antara mereka. Komunikasi juga memungkinkan individu untuk mengartikulasikan kepentingan bersama dan memobilisasi dukungan untuk tujuan kolektif, yang membentuk solidaritas dan kohesi dalam hubungan antarindividu Secara keseluruhan, sistem komunikasi yang baik dan efektif memiliki pengaruh yang besar terhadap hubungan antarindividu. Dengan memperkuat pemahaman, ikatan emosional, penyelesaian konflik, kolaborasi, dan solidaritas, sistem komunikasi yang baik dapat menghasilkan hubungan antarindividu yang lebih baik dan bermakna. Selain itu, sistem komunikasi juga dapat mempengaruhi dinamika kekuasaan dan struktur sosial dalam hubungan antarindividu. Komunikasi yang tidak merata atau terdistorsi dapat menyebabkan kesenjangan kekuasaan, ketidaksetaraan, dan konflik. Sebaliknya, komunikasi


10 yang demokratis, inklusif, dan adil dapat memperkuat partisipasi, keterlibatan, dan keadilan dalam hubungan antarindividu. Penting untuk diingat bahwa sistem komunikasi tidak hanya terbatas pada komunikasi verbal, tetapi juga mencakup bahasa tubuh, ekspresi wajah, penggunaan teknologi komunikasi, dan konteks komunikasi yang berbeda. Semua elemen ini berkontribusi pada pengaruh sistem komunikasi terhadap hubungan antarindividu. B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Sistem Komunikasi dalam Membangun Hubungan Antarindividu Komunikasi dapat dikatakan efektif jika: (1) pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh komunikan. (2) Komunikan bersikap atau berperilaku seperti apa yang di kehendaki oleh komunikator. (3) ada kesesuaian antar komponen Teori tentang efektivitas pesan yang berasumsi bahwa komunikasi diharapkan efektif maka pesan-pesannya perlu dikemas sedemikian rupa sehingga sesuai atau merupakan kebutuhan komunikan. Menurut Kelman, komunikasi yang efektif akan terjadi jika komunikan mengalami internalisasi (internalization), identifikasi diri (Self Identification) dan ketundukan (complience). Komunikan menalami proses internalisasi, jika komunikan menerima pesan yang sesuai dengan sistem nilai yang dianut. Komunikan merasa memperoleh sesuatu yang bermanfaat, pesan disampaikan memiliki rasionalitas yang dapat diterima. Internalisasi bisa terjadi jika komunikatornya memiliki ethos atau credibelity (ahli dan dapat dipercaya). Identifikasi terjadi pada diri komunikan, jika komunikan merasa puas dengan meniru atau mengambil pikiran atau perilaku dari orang atau kelompok lain. Identifikasi akan terjadi pada diri komunikan jika komunikatornya memiliki daya tarik (attactiveness). Ketaatan pada diri komunikan terjadi, jika komunikan yakin akan mengalami kepuasan, mengalami reaksi yang memyenangkan, memperoleh reward (balasan positif) dan terhindar dari punishmen (keadaan, kondisi yang tidak enak) dari komunikator, jika menerima atau menggunakan isi pesannya. Adapun faktor faktor yang dapat mempengaruhi efektivitas dalam komunikasi, baik faktor yang terjadi pada pengirim maupun pada penerima pesan, yaitu sebagai berikut: 1. Kemampuan berkomunikasi penyampai pesan seperti kemampuan bertutur dan berbahasa dan kemampuan menulis. Sedangkan faktor dari penerima pesan diantaranya kemampuan


11 untuk menerima dan menangkap pesan seperti mendengar, melihat, dan menginterpretasikan pesan. 2. Sikap dan pandangan penyampai pesan kepada penerima pesan dan sebaliknya. Misalnya, rasa benci, pandangan negatif, prasangka, merendahkan satu diantara kedua belah pihak, sehingga akan menimbulkan kurangnya respon terhadap isi psan yang disampaikan. 3. Tingkat pengetahuan baik penerima maupun penyampai pesan. Sumber pesan yang kurang memahami informasi yang ingin dicapai akan mempengaruhi gaya dan sikap dalam proses penyampai pesan. Sebaliknya, penerima pesan yang kurang mempunyai pengetahuan dan pengalaman terhadap informasi yang disampaikan tidak akan mempu mencerna informasi dengan baik. 4. Latar belakang sosial budaya dan ekonomi penyampai pesan serta penerima pesan. Ketanggapan penerima pesan dalam merespon informasi tergantung dari siapa dan oleh siapa pesan itu disampaikan. Efektivitas sistem komunikasi tidak hanya bergantung pada satu faktor tunggal, tetapi melibatkan interaksi yang kompleks antara berbagai faktor yang saling terkait. Dengan memahami dan mengoptimalkan faktor-faktor tersebut, kita dapat meningkatkan kualitas komunikasi dalam hubungan antarindividu. Komunikasi yang efektif dapat memperkuat hubungan, meningkatkan kolaborasi, memecahkan masalah, dan memfasilitasi pertukaran informasi yang penting bagi keberhasilan dan perkembangan individu maupun kelompok. Pentingnya untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan, teknologi dan kebutuhan komunikasi yang terus berkembang serta selalu berusaha untuk meningnkatkan ketermpilan dalam berkomunikasi. Dengan demikian kita dapat berkontribusi dalam menciptakan sistem komunikasi yang efektif dan saling mendukung.


12 BAB 3: SISTEM KOMUNIKASI DESA DAN KOTA A. Perbedaan Sistem Komunikasi Desa dan Kota di Era Digital Pada era digital, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah mengubah lanskap komunikasi di berbagai wilayah, baik desa maupun kota. Perbedaan antara sistem komunikasi desa dan kota di era digital dapat dilihat dari beberapa aspek, termasuk infrastruktur komunikasi, teknologi yang digunakan, karakteristik pengguna, dan pemanfaatan sistem komunikasi untuk kebutuhan masyarakat. a. Infrastruktur komunikasi 1. Ketersediaan infrastruktur di desa dan kota: Di desa, ketersediaan infrastruktur komunikasi seringkali masih terbatas. Infrastruktur telekomunikasi seperti jaringan seluler, telepon kabel, dan akses internet mungkin tidak mencakup semua wilayah desa. Hal ini dapat disebabkan oleh keterbatasan investasi dan perencanaan yang kurang memadai. Studi yang dilakukan oleh Widyastuti, dkk. (2020) tentang penerapan TIK di desa-desa di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar desa masih menghadapi tantangan dalam hal jaringan telekomunikasi dan akses internet yang stabil. 2. Aksesibilitas dan kecepatan internet: Kecepatan dan aksesibilitas internet di desa umumnya lebih rendah dibandingkan dengan kota. Keterbatasan infrastruktur dan jarak geografis menjadi faktor utama yang mempengaruhi kualitas dan kecepatan akses internet di desa. Studi yang dilakukan oleh Kumar dan Singh (2018) di India menunjukkan bahwa tingkat aksesibilitas dan kecepatan internet di desa masih jauh lebih rendah daripada di kota. Hal ini dapat menghambat akses masyarakat desa terhadap informasi dan layanan digital yang lebih maju. b. Teknologi yang digunakan 1. Perbedaan teknologi yang digunakan di desa dan kota: Desa umumnya menggunakan teknologi komunikasi yang lebih sederhana, seperti telepon seluler dan layanan pesan singkat atau yang lebih dikenal dengan short message service (SMS). Ketersediaan infrastruktur yang terbatas di desa seringkali membuat teknologi yang lebih canggih seperti akses internet berkecepatan tinggi tidak dapat diakses secara luas. Di kota, teknologi yang digunakan lebih canggih, termasuk jaringan data berkecepatan tinggi,


13 komunikasi digital berbasis internet, dan platform media sosial. Mawarni dan Aisyah (2019) dalam penelitiannya di Indonesia menunjukkan bahwa di desa, telepon seluler masih menjadi alat komunikasi utama, sedangkan di kota, penggunaan smartphone dan akses internet lebih dominan. 2. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di desa dan kota: Pemanfaatan di desa masih relatif rendah dibandingkan dengan kota. Keterbatasan infrastruktur, tingkat literasi digital yang rendah, dan akses terbatas terhadap perangkat teknologi menjadi faktor yang mempengaruhi penggunaan TIK di desa. Ramli, dkk. (2020) dalam penelitiannya di Malaysia menunjukkan bahwa di desa, penggunaan TIK lebih terbatas pada akses informasi dasar dan komunikasi interpersonal, sedangkan di kota, TIK digunakan secara lebih luas dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari c. Karakteristik pengguna 1. Profil pengguna di desa dan kota: Pengguna di desa umumnya memiliki tingkat literasi digital yang lebih rendah dan akses terbatas terhadap teknologi. Mereka mungkin kurang terbiasa dengan penggunaan perangkat elektronik dan aplikasi digital. Di kota, pengguna umumnya memiliki tingkat literasi digital yang lebih tinggi dan lebih terampil dalam memanfaatkan teknologi. 2. Tingkat literasi digital di desa dan kota: Tingkat literasi digital di desa umumnya lebih rendah dibandingkan dengan di kota. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan infrastruktur teknologi, akses internet yang terbatas, faktor pendidikan dan kurangnya kesadaran serta pelatihan mengenai teknologi digital. Di kota, aksesibilitas teknologi lebih baik dengan adanya infrastruktur yang lebih baik, pusat pelatihan komputer, dan lebih banyaknya penduduk yang terpapar dengan teknologi sehari-hari. Mereka cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik tentang penggunaan internet, media sosial, dan alat-alat digital lainnya. Meskipun demikian, upaya telah dilakukan untuk meningkatkan literasi digital di desa dengan pendirian pusat teknologi desa dan pelatihan keterampilan teknologi di tingkat desa.


14 B. Peluang dan Tantangan dalam Mengimplementasikan Sistem Komunikasi Desa dan Kota di Era Digital Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memberikan pengaruh besar terhadap pembangunan pedesaan. Desa-desa yang selama ini termarjinalkan dalam peta TIK kini perlahan-lahan mulai dikenal secara global. Digitalisasi TIK yang didukung perkembangan infrastruktur jaringan komunikasi seluler membuka akses terhadap konektivitas antardesa maupun dengan masyarakat lain. Kondisi ini seperti menjawab ramalan Marshall McLuhan saat memperkenalkan gagasan desa global (global village) setengah abad lalu. Global village menjelaskan bahwa tidak ada lagi batas waktu dan tempat. Informasi dapat berpindah dari satu tempat ke belahan dunia lain dalam waktu yang sangat singkat. Konsep desa global dalam konteks sebenarnya telah terjadi dalam komunitas pedesaan Indonesia saat ini. Ketertinggalan desa dari perkembangan TIK selama ini disebabkan kebijakan dan program-program pemerintah pusat yang sering menempatkan desasebagai objek bukan sebagai subjek, program-program pemanfaatan TIK hanya sampai pada tingkat kabupaten atau kecamatan. Oleh arena itu, dengan munculnya gerakan dari desa yang dapat menyelenggarakan pemerintahan secara baik dan mandiri, yang didukung dengan pemanfaatan TIK, menjadi pelajaran bahwa inisiatif tersebut dapat dilakukan dari bawah (Praditya, 2014: 130). Kesenjangan digital juga pernah terjadi di Amerika, bahkan satu dekade lalu upaya pemerintah dan swasta belum mampu sepenuhnya menutup kesenjangan internet di pedesaan (LaRose et al, 2007: 372). Kesenjangan digital juga dapat disebabkan keadaan masyarakat pedesaan yang lebih mengandalkan kedekatan geografis dan kedekatan kekerabatan, sehingga lebih menitik beratkan pada kemampuan komunikasi oral daripada komunikasi melalui teknologi. Karenanya, keberadaan sarana TIK ini menjadi suatu hal yang tidak biasa bagi masyarakat pedesaan. Salah satu masalah kesenjangan digital tersebut terkait dengan kurangnya skill dari sumber daya manusia. Keberadaan infrastruktur TIK yang baik dan memadai secara sarana maupun aksestidak secara langsung dapat membawa masyarakat menuju masyarakat informasi, jika mereka tidak dapat memanfaatkannya (Andiyansari, 2014: 126). Selain karena kesenjangan digital yang terjadi, ketimpangan pembangunan antara wilayah perkotaan dan pedesaan juga terkendala dengan adanya aturan-aturan adat yang mengikat suatu desa serta budaya-budaya tradisional yang menolak diterimanya paham-paham atau teknologi-teknologi baru hasil dari globalisasi. Untuk menghindari ketimbangan


15 pembangunan tersebut, tentunya harus dilakukan perubahan paradigma pembangunan pedesaan yangmenggabungkan antara kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dengan kearifan lokal dimana keduanya akan saling menguatkan satu sama lain (Nasution, 2016: 42). Tinjauan sistematis Salemink etal. (2015:1) terhadap 157 makalah tentang perkembangan digital dan pembangunan pedesaan di negara-negara maju dalam aspek konektivitas, juga menyimpulkan adanya perbedaan kualitas infrastruktur data antara daerah perkotaan dan pedesaan. Kebijakan untuk mempromosikan perbaikan infrastruktur data cenderung lebih lambat dibanding perkembangan pasar. Selain itu, difusi teknologi terhambat oleh rendahnya rata-rata pendidikan dan keterampilan masyarakat pedesaan. Saat ini kesenjangan digital antara kawasan perkotaan dan perdesaan mulai menipis dengan semakin luasnya jaringan BTS (Base Transceiver Station) operator seluler yang merambah ke pelosok desa dan kawasan terpencil lainnya. Bahkan saat ini sudah jarang ditemukan kawasan blank spot, kecuali memang wilayah tersebut tidak berpenghuni. Potensi jaringan tersebut bisa menjadi modal dasar dalam memperkuat infrastruktur TIK di pedesaan. Apalagi Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa (UU Desa) menegaskan bahwa sistem informasi pembangunan desa dan pembangunan kawasan akan menjadi salah satu prioritas dalam pembangunan pedesaan. Sehingga wajar saja bila Malecki (2003: 211) menegaskan bahwa pembangunan TIK di pedesaan akan membuka pintu pertukaran informasi tidak terbatas dalam skala yang belum pernah dibayangkan. Perkembangan TIK di pedesaan khususnya yang berbasis internet diharapkan dapat mendorong peningkatan perekonomian masyarakat. Sebab internet akan membuka akses desa dengan khalayak luas tanpa sekat ruang dan waktu. Sekat-sekat geografis yang selama ini menghambat pertumbuhan desa, ditambah kondisi sosial politik yang kerap memarjinalkan kawasan pedesaan, perlahan-lahan akan terbuka. Riset Nugroho (2014:167) juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara variabel pola penggunaan internet dengan tingkat ekonomi yang bersifat dua arah, sehingga menjadi bukti empirik yang menguatkan kebenaran asumsi-asumsi ahli TIK menyangkut hubungan TIK dan peningkatan ekonomi masyarakat. Dalam era digital yang terus berkembang, implementasi sistem komunikasi desa dan kota memberikan berbagai peluang yang signifikan. Adanya kemajuan teknologi digital memberikan peluang untuk meningkatkan aksesibilitas komunikasi di berbagai wilayah. Dengan infrastruktur telekomunikasi yang lebih baik, seperti akses internet yang lebih cepat dan murah, penduduk


16 desa dan kota dapat dengan mudah terhubung dan berkomunikasi satu sama lain. Selain itu, implementasi sistem komunikasi di era digital juga membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi layanan publik. Dengan adanya platform komunikasi terintegrasi, seperti aplikasi mobile atau portal online, warga desa dan kota dapat dengan mudah mengakses informasi dan melakukan transaksi dengan pemerintah, meningkatkan aksesibilitas dan responsivitas layanan publik.


17 DAFTAR PUSTAKA Aditia, R. (2021). Sistem Komunikasi Indonesia: Suatu Proses Sosial, Budaya, dan Politik. Connected: Jurnal Ilmu Komunikasi, 2(1), 1–10. Mutiah, M. (2017). Membangun Sistem Komunikasi Indonesia Yang Kolektif Lewat Media Tradisional. The Journal of Society & Media, 1(2), 75. https://doi.org/10.26740/jsm.v1n2.p75- 85 Ade Masturi. (2010). Membangun relasi sosial melalui komunikasi empatik (perspektif psikologi komunikasi). Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 4(1), 14–31. http://ejournal.iainpurwokerto.ac.id/index.php/komunika/article/download/135/109 Komunikasi, S., Dilakukan, Y., Manajemen, O., & Konsumen, T. (n.d.). Sistem Komunikasi…. (Hendra Saputra). Latief, Mochamad & A, R.A & Ersyad, Firdaus. (2018). FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EFEKTIVITAS PENERIMAAN PESAN MAHASISWA DALAM KEGIATANBELAJAR MENGAJAR DI FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI USM. Jurnal Dinamika Sosial Budaya. 20. 171. 10.26623/jdsb.v20i2.1265. Andiyansari, P. (2014). Studi Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan Melalui Teknologi Informasi Dan Komunikasi. Jurnal Penelitian Pers Dan Komunikasi Pembangunan, 18(2), 117–130. https://doi.org/10.46426/jp2kp.v18i2.14 Hartoyo, N. M., & Merdekawati, I. (2016). Citalinuabdi: Upaya Membangun Sistem Informasi Desa Yang Bermakna. Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, 1(1), 48. https://doi.org/10.25008/jkiski.v1i1.35 Armawan, I., Pedesaan, K. M., Pedesaan, M., Pedesaan, M., Komunikasi, S., Komunikasi, S., & Desa, M. (2022). Sistem Komunikasi Masyarakat Desa. 3(2), 1–9. https://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_Komunikasi_Masyarakat_Desa Desa, R., Pendekat, S., & Suparlan, P. (n.d.). MASYARAKAT KOTA DAN MASYA . 26–29. Rumata, V. M. (2017). Komunikasi Keluarga Kota dan Desa di Era Teknologi Komunikasi (The Urban and Rural Family Communication in The Communication Technology Era). Jurnal Pekommas, 2(1), 45.


Click to View FlipBook Version