TUGAS KELOMPOK PELAJARAN BAHASA INDONESIA
KELOMPOK 6 :
1. Sherly Puspita Maharani (31)
2. M. Ivan Saputra (19)
3. Untung Nasrudin (33)
Cerita Rakyat Si Pitung, Jagoan Betawi
Pada zaman penjajahan, sebelum Indonesia merdeka lahirlah si Pitung dari pasangan Pak Piun
dan Bu Pinah.
Pasangan ini terkenal sangat baik dan ramah kepada semua orang.
Mereka dikaruniai anak laki – laki yang sangat lucu dan kemuudian anak tersebut diberi nama
Pitung.
Seiring berjalannya waktu, Pitung tumbuh menjadi remaja yang tampan dan gagah.
Ia terkenal rajin dan ahli ibadah.
Sebagai pemeluk agama islam, si Pitung selalu rajin mencari ilmu yang baik.
Ia pun tekun bekerja membantu kedua orang tuanya.
Suatu hari, saat dirinya pulang dari kebun setelah membantu ayahnya.
Dia mendapati Babah Liem yaitu seorang keturunan China yang terlupakan adalah tuan tanah
di desanya, sedang memarahi dan mengalahkan rakyat jelata yang bekerja Anda.
Lelaki yang dimarahinya itu diduga dipaksa membayar pajak yang terlalu mahal, sehingga
lelaki tersebut tak memiliki uang sepeserpun untuk membayarnya.
Namun, Babah Liem tak mau tahu sehingga lelaki tua itu terus dipukulinya.
Melihat kejadian tersebut, Pitung sangat geram dan ingin membalas perbuatan tuan Babah
Liem yang terkenal sebagai tanah.
Babah Liem memiliki banyak tanah dengan cara mendekati Belanda yang dirinya mau
membayar pajak dengan tinggi.
Berniat membalas kejahatan Belanda dan Babah Liem, akhirnya Pitung berguru kepada Haji
Naipin.
Haji Naipin ini adalah tokoh Betawi yang dikenal dengan keahlian ilmu bela diri yaitu pencak
silat .
Melihat niat Pitung yang benar – benar ingin menumpas kejahatan, Haji Naipin pun menerima
Pitung sebagai muridnya.
Berbagai jurus diajarkan pada si pitung.
Setiap hari, Pitung rajin berlatih di rumah Haji Naipin seusai membantu ayahnya.
Alhasil, Pitung menguasai banyak jurus yang tak mudah dikalahkan oleh lawan.
Setelah ilmunya mumpuni, si Pitung menantang kejahatan Babah Liem untuk tidak semena –
mena kepada rakyat jelata.
Merasa tertantang Babah Liem mengajaknya berkelahi, namun Babah Liem dibantu oleh
pengawalnya kalah.
Dan akhirnya kekalahannya disampaikan kepada pihak Belanda.
Pihak Belanda pun turut geram sekali menangkap Pitung yang telah menantang kebijakan
mereka.
Berita Kemenangan Pitung melawan Babah Liem akhirnya didengar oleh banyak warga.
Pitung akhirnya ddidukung oleh banyak orang untuk melawanan.
Ia pun membentuk sebuah perguruan yang didalamnya mengajarkan agama islam dan berlatih
ilmu bela diri.
Melihat rakyat masih terus menderita akibat pajak yang diterapkan oleh Belanda yang terlalu
mencekik, akhirnya Pitung bersama pengikutnya mengabdikan diri ke rakyat jelata.
Pitung menyusun banyak rencana untuk mensejahterakan rakyat jelata yang sering dikunjungi.
Kemudian, Pitung bersama pengikutnya menjalankan rencana untuk saya para tuan tanah yang
jahat dan semena – mena.
Hasil rampokannya kemudian dibagikan kepada para rakyat jelata.
Pitung bersama pengikutbya ini tak sepeserpun menggunakan hasil rampokan tersebut untuk
dirinya sendiri.
“Anto, Sabeni, dan yang lain mulai hari ini kita akan merampok rumah para tuan tanah yang
rakus dan tamak.” Kata Pitung kepada para pengikutnya.
Serempak pengikutnya menyanggupi perintah Pitung.
Mulai malam nanti akan mulai merampok rumah para tuan tanah yang jahat.
“Hai? Siapa itu?!” teriak Babah Regeth yang mengetahui ada sekawanan perampok menyatroni
rumahnya.
Namun, kawanan si Pitung berhasil lolos dengan perhiasan perhiasan dari rumah tersebut.
Beberapa rumah tuan tanah berhasil disatroni dan mengumpulkan banyak hasil untuk dibagikan
kepada rakyat jelata.
Namun, pada kesempatan lain Pitung tertangkap basah oleh pemilik rumah yang ia satroni.
Akhirnya, pemilik rumah mengabarkan pelaku perampokan ini kepada pejabat Belanda.
Pejabat Belanda, Schout Heyne kemudian sangat marah membuat pelaku perampokan yang
selama ini meresahkan keluarga penjajah adalah si Pitung.
Tanpa pikir panjang, Schout Heyne memerintahkan prajuritnya untuk menangkap si Pitung.
Namun, berkat kesaktian Pitung mereka tak dapat menangkapnya.
Schout Heyen sangat marah dan mulai mencari cara halus untuk memancing agar Pitung
menyerahkan diri.
Pejabat Belanda kemudian berencana menculik ayah dan guru si Pitung yaitu pak Piyun dan
Haji Naipan.
Tantara Belandapun berhasil menangkap keduanya dan mengancam akan memenggal kepala
mereka jika Pitung tidak juga menyerahkan diri.
“Hai, Haji Naipan kami akan mati karena kamu telah mendidik Pitung ilmu – ilmu untuk
melawan kebijakan kami.” Kata Schout Heyen yang marah sekali saat itu.
Haji Naipan hanya terdiam.
“Kamu juga, Piun! Kamu akan mati sia-sia sekarang ini.
Kamu akan aku penggal jika anakmu tak kunjung menyerahkan diri.” Ucap pejabat Belanda
yang satu ini.
Kabar ditangkapnya Haji Naipan dan ayah si Pitung akhirnya didengar oleh Pitung dan
pengikutnya.
Namun, Pitung tak serta merta menyerahkan diri kepada Belanda.
Ia memilih mengirimkan surat pada Pejabat belanda tersebut. Ia meminta agar guru dan
ditampilkan. Setelah ia akan menyerahkan diri.
Belanda pun tak kalah taktik.
Ia melepaskan ayah Pitung namun tidak melepaskan Haji Naipan gurunya.
Belanda baru akan melepaskan Haji Naipan setelah Pitung menyerahkan diri.
Akhirnya, Pitung kembali mengajukan syarat.
“Aku akan menyerahkan diri tapi tidak untuk di penggal.
Aku akan menebus kesalahanku dengan mengembalikan harta yang telah saya dapatkan” Kata
Pitung pada surat berikutnya.
Belandapun mengiyakan syarat tersebut.
Selang beberapa hari setelah surat persetujuan dari Belanda, pitung menyerahkan diri.
Namun, Pejabat Belanda mengingkari persetujuan sebelumnya.
Belanda justru menembakan banyak sekali peluru ke tubuh si Pitung.
Tubuh si Pitungpun bersimbah darah dan nyawanya tak terselamatkan.
Pada saat itu pemaksaan memanglah Jahat, ingkar janjinya dan selalu bengis terhadap warga
jajahannya.
Akhirnya, Haji Naipin dan Ayah Piun membawa jenazah Pitung ke rumah dan
menguburkannya.
Hingga saat ini, kuburan Pitung masih terawat dengan baik.
Tak hanya kuburannya, rumah Pitung dengan arsitektur adat Betawi pun dirawat.
Sebagai bentuk menghargai Pitung yang telah berusaha melawan Belanda dan berkorban demi
rakyat jelata.
Kesimpulan
Pesan moral dari Cerita Rakyat si Pitung adalah berbuat baik demi keadilan walaupun harga
kematian. janganlah memiliki hati yang jahat seperti Babah Liem dan Scouth Heyen yang
sudah tega merampas hak sesamanya. Selain itu, jangalah kita menyalahi janji yang sudah
dibuat seperti perjanjian Pitung dengan Scouth yang tidak akan membunuhnya.Karena, cara
mendapatkan sesuatu yang baik untuk kemenangan itu. Meskipun pihak Belanda berhasil
membunuh Pitung. Namun akan ada berbagai Pitung yang lain terus bermunculan melawan
ancaman hingga Indonesia merdeka. Nama cerita rakyat si Pitung masih abadi menjadi dan
akan diingat terus oleh masyarakat Indonesia.
Unsur Intrinsik :
1. Tema : Pahlawan
2. Alur atau Plot : maju
3. Tokoh dan Penokohan : pak piun : baik,penyabar
: Bu pinah : baik,penyabar
4.Latar : : Pitung : baik, pemberani,suka menolong
: Haji Naipin : baik hati
5. Sudut pandang : Schout Heyne : kejam,jahat, mudah marah
6. Konflik : Centeng-Centeng : jahat,kejam
7. Amanat
- Tempat : balai balai bambu, warung kopi,
penjara,mushola,pasar
- Waktu : sore hari
- Suasana : tegang,sedih, menakutkan
: orang ke-tiga serba tau
: perampasan harta benda oleh penguasa
: 1. Kita harus saling menghargai
: 2. Jangan berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat kecil