JERO PRESENT P5 KURMER
MAJALAH BUSANA
2022
Pakaian
Tradisional
SMAN 5 SURAKARTA
KATA PENGANTAR
SALAM KELOMPOK JERO!
PUJI SYUKUR KEHADIRAT ALLAH SWT YANG TELAH
MELIMPAHKAN BEGITU BANYAK RAHMAT-NYA
SEHINGGA DAPAT TERSELESAINYA MAJALAH PAKAIAN
TRADISIONAL INI.
KAMI JUGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH
KEPADA SELURUH PIHAK YANG TELAH MEMBANTU DAN
MENDAMPINGI KAMI.
MUNGKIN MASIH BANYAK KEKURANGAN DAN
KESALAHAN DARI PENULISAN MAJALAH INI. MAKA DARI
ITU, KRITIK DAN SARAN YANG MEMBANGUN SANGAT
KAMI HARAPKAN UNTUK MEMBENAHI KEKURANGAN
DAN KESALAHAN SEHINGGA MENJADIKANNYA LEBIH
BAIK.
DALAM MAJALAH PAKAIAN TRADISIONAL INI, KAMI
MENCOBA MENGULAS SEMUA TENTANG PAKAIAN
TRADISIONAL DI SURAKARTA MULAI DARI MACAM
MACAMNYA, CARA PAKAI DAN ATURANNYA, DAN
SEPUTAR TANTANGAN ATAU KENDALA TERKAIT
PAKAIAN TRADISIONAL.
SEMOGA MAJALAH YANG KAMI BUAT INI DAPAT
MENAMBAH WAWASAN SERTA ILMU BAGI SIAPA YANG
MEMBACANYA, AAMIIN
i
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR.............................................................. i
DAFTAR
ISI..................................................................................... ii
REDAKSI........................................................................ iii
PENGERTIAN PAKAIAN
TRADISIONAL.............................................................. 1
MACAM-MACAM PAKAIAN TRADISIONAL
SURAKARTA................................................................. 2
HAMBATAN TERKAIT PAKAIAN
TRADISIONAL SURAKARTA SAAT
INI...................................................................................... 7
KESIMPULAN................................................................ 8
TENTANG KAMI............................................................ 9
ii
REDAKSI
PENERBIT: KELAS X-E2
PENULIS MAJALAH: KELOMPOK 4
ASAL: SMAN 5 SURAKARTA
EDITOR: DARIN NUANSA ZAIN
PENGOREKSI: IDAMAN RIYADH SAKTIAWAN
TIM IT:
1.IDAMAN RIYADH SAKTIAWAN
2.DARIN NUANSA ZAIN
TIM MENCARI BAHAN MATERI:
1.DESTIANTICA ALFI ALVANDA
2.RAHMA KHOIRUNNISA'
TIM DESAIN:
1.DARIN NUANSA ZAIN
2.DESTIANTICA ALFI ALVANDA
3.RAHMA KHOIRUNNISA'
TIM PENGHIBUR: ALDINO RAJENDRA PUTRA
iii
1
Pakaian tradisional
adalah pakaian yang
memiliki nilai
kebudayaan dan
didapat turun
temurun dari nenek
moyang.
Lalu, pakaian
tradisional Surakarta
adalah pakaian yang
memiliki nilai
kebudayaan khas
dari Surakarta.
PENGERTIAN
PAKAIAN
TRADISIONAL
2
MACAM-MACAM PAKAIAN
TRADISIONAL SURAKARTA
Jawi Jangkep
Bisa dikatakan, pakaian adat Jawa Tengah yang
resmi adalah pakaian Jawi Jangkep. Pakaian ini
didominasi oleh warna hitam pada atasannya
dan digunakan oleh pria. Pasangan dari pakaian
ini adalah Kebaya Jawa Tengah. Sehingga para
wanita yang menyertai pasangannya saat acara
resmi mengenakan pakaian Jawi Jangkep.
Di lehernya, pria Jawa Tengah mengenakan
untaian bunga melati yang dikalungkan.
Bagian depan dan belakang sebelah bawah baju
Jawi Jangkep ini sengaja dibuat tidak simetris.
Bagian depan dibuat lebih panjang
dibandingkan bagian belakang sebagai
antisipasi untuk menyimpan keris. Peletakan
keris di belakang bermakna agar manusia dapat
menolak segala rupa godaan setan dan keris
merupakan simbol perlawanan.
Baju Jawi Jangkep tersebut diselaraskan
dengan kain jarik panjang yang dikenakan
dengan cara melilitkannya di pinggang. Sebagai
penyempurna, digunakan penutup kepala
berupa blangkon. Arti penggunaan blangkon
sendiri untuk menunjukkan bahwa laki-laki
yang memakainya adalah laki-laki yang
menutupi aib.
Pakaian Jawi Jangkep yang berwarna hitam
digunakan untuk acara-acara resmi. Sementara
pakaian Jawi Jangkep Padintenan memiliki
warna selain hitam dan biasanya digunakan
dalam kegiatan sehari-hari.
Sebagai informasi tambahan, pakaian Jawi
Jangkep juga dikenal dengan Piwulang
Sinandhi. Kancing yang terpasang di dalam
beskap memberikan isyarat agar pria Jawa
Tengah selalu bertindak cermat dan penuh
perhitungan dalam melakukan segala sesuatu.
3
Kanigaran
Dulunya, Kanigaran merupakan pakaian yang sering
digunakan oleh para raja. Dari penampilannya saja sudah
menampakkan keagungan dan kekuasaan. Namun saat ini
sering digunakan untuk acara pernikahan.
Untuk pria, atasan pakaian adat Jawa Tengah satu ini
berupa beskap berkerah yang terbuat dari beludru halus
dan dihiasi sulaman-sulaman emas di bagian depan dan
kedua ujung lengan. Agar tampak mewah dan elegan
ditambahkan kesan mengkilap. Sementara untuk wanita,
juga mengenakan warna yang senada dengan prianya
namun tanpa kerah.
Bagian bawah kanigaran adalah Dodoran atau Kampuh
yang berbeda dengan kain jarik biasa. Dibandingkan
dengan jarik biasa, dodotan relatif lebih berwarna.
Pemakaian Dodot tidak cukup hanya dililitkan di pinggang,
namun juga disampirkan di tangan.
Surjan
Pakaian ini dulunya diperuntukkan khusus untuk anggota
kerajaan yang berasal dari bangsawan ataupun abdi dalem
(aparatur sipil). Sehingga tidak sembarang orang dapat
memakai pakaian Surjan. Umumnya pakaian Surjan
digunakan saat acara resmi berlangsung.
Baju Surjan tampak mirip dengan beskap disertai motif
lurik-lurik coklat dan hitam yang di bagian depannya
terdapat saku. Bawahannya merupakan kain panjang
bermotif batik yang dililitkan di pinggang dan panjangnya
hingga mata kaki.
Sebagai penutup kepala, para pria dapat menggunakan
blangkon yang terbuat dari kain batik. Kain tersebut
dililitkan di kepala lalu diikat. Untuk saat ini, dapat
ditemukan blangkon instan yang sudah jadi sehingga
memudahkan para pria untuk mengenakannya.
Dalam tradisi Jawa, disebutkan bahwa laki-laki memiliki
rambut panjang adalah aib sehingga harus ditutup dengan
blangkon. Di bagian belakang blangkon dapat anda temui
tonjolan yang disebut mondolan.
Ditemukan dua ikatan di bagian belakang yang
melambangkan dua kalimat syahadat yang diikat dengan
kuat. Artinya, hendaknya seseorang yang memakai
blangkon memegang teguh pada ikatan yang kokoh, yakni
ajaran Islam.
4
Basahan
Basahan juga sering dipakai oleh para pengantin saat
pernikahan mereka. Setelan pakaian ini merupakan
warisan dari Kerajaan Mataram yang menjadi
kerajaan besar di Jawa.
Penampilan Basahan sangat mencolok karena tidak
memakai atasan untuk menutup tubuh bagian atas.
Riasan yang digunakan ketika memakai Basahan
dinamakan Paes Ageng Kanigaran.
Para pria tidak menggunakan baju alias bertelanjang
dada.
Di bagian dada terdapat semacam kalung yang
melambangkan kemewahan. Untuk bawahan, para
pria menggunakan kain dodot yang menutupi pusar.
Sebagai penutup kepala, pengantin pria
mengenakan kuluk yang memiliki beberapa macam
warna. Tidak lupa para pria membawa senjata berupa
keris untuk menunjukkan kekuatan.
Sementara itu, para wanita membiarkan bahu dan
dada bagian atas terbuka. Agar tetap sopan, para
wanita menggunakan kemben untuk menutupi
tubuh bagian atas lainnya. Sementara bawahannya,
para wanita juga menggunakan Dodot.
Rambut ditata membentuk konde dan dihiasi dengan
bunga-bunga di atasnya. Di lehernya juga menjuntai
kalung yang indah.
Baik pria maupun wanita, di kedua pangkal
lengannya terdapat hiasan.
Secara keseluruhan, filosofi yang terkandung dalam
pakaian ini sangat dalam. Dengan menggunakan
pakaian ini, pengantin dianggap telah berserah diri
kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Makna tersebut
disimbolkan melalui busana dan tata rias yang
digunakan.
Busana Basahan mengandung harapan agar
mempelai dapat menjalani rumah tangga yang
harmonis, sejahtera, bahagia, dan dapat berjalan
selaras dengan alam.
5
Kebaya Jawa Tengah
Kebaya Jawa Tengah tentunya memiliki keunikan tersendiri.
Dengan tampilan yang tampak klasik namun berkelas, kebaya
Jawa Tengah sedikit menyimpan kesan misterius.
Kebaya Jawa Tengah seringkali digunakan oleh mempelai
wanita dalam acara pernikahan.
Agar tampak mewah dan muncul aura ratu, bahan yang dipilih
merupakan bahan beludru atau kain sutera. Sedangkan untuk
kegiatan sehari-hari, kain yang digunakan adalah kain katun
atau bahkan nilon tipis agak transparan yang dihiasi dengan
sulaman atau bordiran.
Namun demikian, kebaya ini juga sering digunakan acara
wisuda, acara adat, menyambut kedatangan tamu, dan
peringatan hari besar.
.
Pada umumnya kebaya ini berwarna hitam. Untuk memastikan
bagian dada tertutup dengan aman, wanita Jawa Tengah
menggunakan kemben sebagai dalaman. Keelokan kebaya
diselaraskan dengan bentuk tubuh wanita yang sedap di mata
sehingga perlu stagen untuk mengencangkan bagian perut dan
pinggang. Agar stagen tidak terlihat dari luar, diperlukan tapih
tanjung.
Di bagian bawah, para wanita Jawa Tengah mengenakan kain
panjang yang disebut jarik. Kain jarik ini bermotif batik.
Agar semakin terlihat anggun namun tegas, rambut wanita ditata
berbentuk konde dengan hiasan bunga melati di atasnya. Agar
semua kecantikan tersebut semakin sempurna, perlu sekali
menambahkan perhiasan seperti subang, kalung, cincin, gelang,
dan terkadang membawa aksesoris satu lagi, yaitu kipas.
Penjelasan di atas merupakan kebaya tradisional sesuai dengan
kebaya pada masa awal. Untuk jaman sekarang, tidak sedikit
kebaya yang didesain dengan warna yang beragam dan lebih
trendi karena tingginya minat masyarakat. Terlebih saat ini sudah
mulai banyak kebaya yang diperuntukkan untuk wanita berhijab,
tentu memerlukan penyesuaian agar dapat menutup aurat
dengan sempurna.
Budaya memiliki filosofi tersendiri mengenai pemakaian kebaya.
Kesabaran dan lemah lembut merupakan makna yang tersimpan
dalam kebaya. Jika diperhatikan seksama, potongan kebaya selalu
mengikuti bentuk tubuh. Artinya, perempuan Jawa diharuskan
bisa menyesuaikan diri dan menjaga diri sendiri di manapun
mereka berada
6
Keris
Sama seperti Jawa Timur dan Yogyakarta, salah
satu senjata tradisional Jawa Tengah adalah keris.
Gagang keris dibuat menghadap ke kanan sebagai
perlambang kecenderungan terhadap kebenaran.
Kemudian ujung gagangnya seakan menunduk ke
bawah untuk menandakan kerendahan hati
manusia yang membawanya. Meskipun membawa
senjata, pria yang menggunakan keris harus
memiliki kerendahan hati.
Kuluk
Sama fungsinya seperti blankon, yaitu
sebagai penutup kepala pada pria. Hanya
saja, bentuk dari kuluk lebih tinggi dan
strukturnya lebih kaku. Penggunaan Kuluk
diselaraskan dengan pemakaian pakaian
Basahan atau Kanigaran dan dulunya dipakai
oleh para raja atau Sultan. Saat ini, penutup
kepala ini digunakan saat acara pernikahan
oleh mempelai pria.
Beskap
Pada awalnya, beskap dan pakaian Jawi Jangkep
merupakan satu kesatuan. Dengan kata lain,
beskap merupakan bagian dari pakaian Jawi
Jangkep. Namun seiring berjalannya waktu,
beskap seringkali dipakai oleh pria secara terpisah.
Warna kain yang sering digunakan untuk
membuat beskap adalah polos atau hitam. Dengan
desain sederhana dan kerah lurus tanpa lipatan,
model beskap dibuat tidak simetris sebagai
berjaga-jaga untuk menyimpan keris.
Selama ini, dikenal empat macam jenis beskap di
Jawa Tengah. Pertama, Beskap Gaya Jogja
berkiblat pada pakem Keraton Yogyakarta. Kedua,
Beskap Landung dengan bagian depan lebih
panjang. Ketiga, Beskap Gaya Kulon yang sering
digunakan di daerah Purwokerto, Tegal,
Banyumas, dan daerah-daerah lain yang dekat
dengan Jawa Barat. Keempat, Beskap Gaya Solo
yang mengacu pada pakem Keraton Surakarta.
7
HAMBATAN
TERKAIT
PAKAIAN
TRADISIONAL
SURAKARTA
SAAT INI
Kurangnya minat para generasi Pakaian tradisional mulai
muda
punah
Saat ini para generasi muda (remaja)
tidak memiliki minat untuk memakai Kurangnya minat generasi muda
pakaian tradisional, banyak dari mereka pada pakaian tradisional dapat
berpendapat bahwa pakaian tradisional membuat pakaian tradisional itu
itu kuno dan tidak sesuai dengan tren sendiri mulai punah dan lama
zaman sekarang. Karena alas an itu juga kelamaan hilang. Sebab, jika
banyak pasangan pengantin yang lebih generasi muda tidak memiliki
memilih memakai gaun yang memiliki minat pada pakaian tradisional
unsur budaya barat dan terkesan modern maka tidak ada yang akan
daripada memakai pakaian tradisional. meneruskan ilmu atau
pengetahuan tentang hal tersebut
Unsur kebudayaan dalam pada generasi di bawah mereka.
pakaian tradisional mulai luntur
Sekarang pakaian tradisional sudah mulai
luntur nilai kebudayaannya, ataupun bisa
dikatakan pakaian tradisional telah hilang
‘tradisionalnya’. Banyaknya modifikasi
dalam pakaian tradisional pada masa ini
menjadi alasan lunturnya nilai
kebudayaan tersebut. Contohnya seperti
kebaya yang dimodifikasi sampai
dipadupadankan dengan bahan pakaian
yang berkesan modern dan trendy.
8
Setelah membaca rincian-
rincian sebelumnya tentang
pakaian tradisional Surakarta.
Dapat kita simpulkan bahwa,
pakaian tradisional adalah
pakaian yang memiliki nilai
kebudayaan dan didapat turun
temurun dari nenek moyang.
Pakaian tradisional di
Surakarta ada banyak
macamnya, beberapa yaitu
Jawi jangkep, kanigaran,
surjan, basahan, keris, kuluk,
dan beskap.
Pada zaman sekarang, pakaian
tradisional semakin jarang
digunakan. Jikapun ada yang
mengenakan, kebanyakan
sudah dimodifikasi.
Oleh karena itu, kita harus
melestarikan budaya
Surakarta terutama pakaian
tradisionalnya. caranya yaitu,
dengan memakai dan
mempelajari tentang pakaian
tradisional khas Surakarta
KESIMPULAN
9
TENTANG KAMI
EXRO
Atau lebih jelasnya X-E.2 yang merupakan kelas kami,
adalah kelas yang penuh dengan siswa siswi yang
kreatif, cerdas, kritis, ceria, juga memiliki ambisi untuk
menjadi yang terbaik.
JERO
Sedangkan, kelompok kami bernama kelompok JERO.
Kami adalah beberapa siswa siswi yang memiliki sifat
di atas, kami kreatif, cerdas, kritis, ceria, juga ambisius.
Kami bertanggung jawab dalam Proyek Penguatan
Profil Pelajar Pancasila tema Kearifan Lokal tentang
Pakaian Tradisional dan Kelengkapannya.
Filosofi JERO
Nama JERO yang kami pakai berasal dari kata
Jawi Jangkep yang merupakan salah satu
pakaian tradisional Surakarta. Lalu, kami juga
terinspirasi pada nama kelas kami (EXRO).
Maka, lahirlah JERO (Jawi Jangkep E2(loro))
sebagai salah satu kelompok P5 di kelas X-E2
Siapa saja?
JERO memiliki 5 anggota di dalamnya, siapa sajakah?
Anggota kelompok JERO yaitu, Aldino(03), Darin(11),
Destiantica(12), Idaman(16), dan Rahma(28).
SMALISKA
Terlepas dari kelas maupun kelompok, kami
semua adalah siswa-siswi SMA NEGERI 5
SURAKARTA yang kreatif, bernalar kritis, dan
tentunya memiliki profil sebagai pelajar
pancasila.
YEL-YEL JERO
Luar biasa oh oh oh
Kelompok JERO
Susah dan senang bersama, kami
lewati
oh kelompok JERO
Inilah kita,
kompak dan bekerjasama
demi P5!!!
JERO? Jawi Jangkep E2 (loro)
X-E.2