Konsep Keberagaman Peserta Didik
A. Pengertian Keberagaman Peserta Didik
Keberagaman pada peserta didik di sekolah merupakan hal yang pasti ada. Sebagaimana dalam
Undang Undang Dasar 1945 pasal 31, ayat 1 mengamanatkan bahwa; “Setiap warga Negara berhak
mendapatkan pendidikan” dan ayat 2; setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan
pemerintah wajib membiayainya’. Dengan demikian, peserta didik dalam kelas walaupun berbeda
keyakinan, fisik, gender, latar belakang keluarga, harapan, kemampuan, kelebihan peserta didik
memiliki hak untuk belajar.
Keberagaman pada peserta didik memiliki spektrum yang luas. Namun dalam konteks
pembelajaran di sekolah, keberagaman yang menjadi fokus salah satunya adalah kebutuhan belajar
peserta didik. Kebutuhan belajar salah satunya muncul dari kondisi yang dialami oleh peserta didik
termasuk kondisi Hambatan. Berdasarkan UU Nomor 8 Tahun 2016 Hambatan dimaknai sebagai
“setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensori dalam
jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami Hambatan dan
kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan
kesamaan hak”. Lebih lanjut kondisi Hambatan dapat diklasifikasikan kembali menjadi dua kondisi
yakni Hambatan permanen dan Hambatan temporer.
Kondisi Hambatan permanen merupakan kondisi Hambatan yang diakibatkan oleh adanya
gangguan baik aspek fisik, sensorik, mental dan/atau intelektual yang bersifat menetap pada
individu. Sedangkan Hambatan temporer merupakan kondisi Hambatan yang diakibatkan oleh
faktor eksternal seperti kondisi bencana alam, wabah, dan lain-lain yang mempengaruhi kondisi
individu tetapi tidak bersifat menetap. Di setiap sekolah, khususnya pada beberapa tahun
belakangan, terdapat peserta didik dengan Hambatan permanen maupun temporer. Peserta didik
dalam kedua kelompok tersebut memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan pendidikan
yang berkualitas. Peserta didik dalam kelompok tersebut disebut juga dengan peserta didik
berkebutuhan khusus (PDBK) sebagaimana istilah tersebut dipergunakan di Permendikbud Nomor
157 tahun 2014.
Penamaan istilah “peserta didik” kepada peserta didik di sekolah dewasa ini sudah tepat, mengingat
cara pandang ini yang lebih positif dibanding dengan istilah “murid atau siswa”. Hal ini, kata
“peserta didik” dapat mengakomodasi keberagaman peserta didik dalam melihat kebutuhannya.
Kata “kebutuhan khusus” menjadi dasar dalam melihat apa yang menjadi masalah dan kebutuhan
peserta didik dan bukan pada label yang menyertainya. Oleh karena itu, guru hendaknya
memandang setiap Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) memiliki karakteristik unik.
Karakteristik PDBK ini berkaitan dengan bagaimana cara terbaik dalam memenuhi kebutuhan
khususnya. Pandangan ini akan menuntun guru dalam menyusun akomodasi program untuk
mengatasi Hambatan dan mengoptimalkan potensi peserta didik.
Keberagaman peserta didik di kelas secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua yakni peserta
didik reguler dan PDBK. Peserta didik reguler atau lazim di luar negeri disebut juga dengan peserta
didik tipikal (terjemahan dari istilah typically developing students) merupakan peserta didik yang
secara umum memiliki capaian perkembangan yang sesuai dengan milestone perkembangan
manusia secara umum. Oleh karena itu, implementasi di kelas, guru secara perlahan dan pasti
memberikan penanaman sikap simpati dan empati kepada peserta didik reguler disebutkan istilah
aslinya bahwa dalam masyarakat itu memiliki karakteristik keragaman bentuk, keyakinan, sosial,
dan karakter peserta didik berkebutuhan khusus. Dengan demikian, ciptakan suasana kebersamaan
dalam berbagai aktivitas agar seluruh peserta didik membaur dan saling berinteraksi, sehingga akan
tampak mereka bersosialisasi dan saling tolong menolong antar sesama.
Begitupun gurunya untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan baik, harus memahami berbagai
perbedaan. Setiap individu memiliki karakteristik sendiri, baik dalam gaya belajar atau kemampuan
mengaktualisasikan berbagai kemampuan dan keterampilannya, misalnya perbedaan gender. Murid
laki-laki memiliki karakteristik yang berbeda dengan murid perempuan. Misalnya, cara berpikir
peserta didik laki-laki berbeda dengan murid perempuan. Namun, tidak menutup kemungkinan
karakteristik gender dapat dipertukarkan.
Perbedaan mereka tampak dari kekuatan fisik, perkembangan psikoseksual, minat belajar pada
bidang berlainan, ketekunan, ketelitian, kecenderungan metode pembelajaran yang lebih sesuai
untuk masing-masing jenis kelamin, dan seterusnya. Ada kemungkinan murid perempuan sangat
berminat dalam bidang olahraga, sedangkan murid laki-laki sangat menyukai pelajaran tata boga.
Seorang guru perlu mengenali keunggulan peserta didik tanpa harus melakukan stereotip gender.
Dengan demikian, guru sangat penting memberikan wawasan kepada peserta didik bahwa
masyarakat majemuk tradisional perlu mempertimbangkan adanya pluralitas horizontal (adanya
perbedaan etnik, sub-sub etnik) dan pluralitas vertical (adanya pelapisan-pelapisan sosial).
Dengan demikian, upaya-upaya pemberian layanan pendidikan terhadap PDBK hendaknya
berfokus pada potensi-potensi yang dapat dikembangkan melalui pengamatan guru secara
berkesinambungan dan sistematik dalam proses identifikasi dan asesmen. Hal ini, sejalan dengan
Permendiknas No 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru
bahwa dalam Kompetensi Pedagogik Guru salah satunya adalah memahami karakteristik peserta
didik maka diharapkan sebelum melakukan pembelajaran setiap guru dapat melakukan identifikasi
dan asesmen. Hal ini untuk dijadikan sebagai dasar dalam memenuhi kebutuhan belajar peserta
didik. Pemahaman kebutuhan belajar peserta didik juga harus dalam perspektif individual,
sebagaimana filosofi pendidikan inklusif yakni menghargai dan mengembangkan potensi individu.
Lebih lanjut, pemahaman mengenai keberagaman peserta didik ini menjadi pondasi dalam
menerapkan Kurikulum Merdeka yang menitikberatkan pada aspek perkembangan individu.
B. Indikator Kualitas Hidup Peserta Didik
Keberagaman peserta didik di sekolah inkusif adalah suatu kenyataan yang tidak untuk
dibuat sebagai “sesuatu yang aneh” akan tetapi keberagaman peserta didik tersebut harus
menjadi sebuah “tantangan” bagi guru untuk memberikan layanan pembelajaran
akomodatif bagi setiap peserta didik. Peserta didik reguler/tipikal maupun peserta didik
berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan pembelajaran
dalam upaya mencapai kualitas hidup.
Ada empat indikator kualitas hidup bagi setiap peserta didik, yakni sebagai berikut:
1. To Live, setiap peserta didik di sekolah inklusif memiliki hak untuk hidup
mengembangkan potensi dirinya, tanpa harus terhalangi atau dibatasi oleh kondisi
Hambatan yang dimilikinya. Peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah
inklusif tidak boleh dibiarkan hanya sebagai “pelengkap kuota kelas inklusif”,
tetapi keberadaan peserta didik di kelas inklusif harus menjadi tantangan bagi
guru untuk berkreatif dalam mengembangkan layanan pembelajaran akomodatif.
2. To Love, setiap peserta didik di sekolah inklusif harus merasa terlindungi,
mengikuti kegiatan pembelajaran dan aktivitas sekolah lainnya secara ramah,
nyaman dan tidak dibiarkan mendapat bully dari peserta didik lainnya. Bahkan
guru harus mengembangkan sikap saling menyayangi, mencintai sebagai sesama
warga sekolah.
3. To Play, setiap peserta didik di sekolah inklusif harus memperoleh kesempatan
yang sama untuk mengikuti aktivitas belajar secara aktif dan bermain di sekolah,
seperti dalam diskusi kelompok, kegiatan ekstrakurikuler, dan perlombaan yang
diadakan sekolah. Peserta didik berkebutuhan khusus harus memperoleh hak
yang sama untuk memperoleh kesempatan aktivitas permainan di kelas dan
lingkungan sekolah.
4. To Work, setiap peserta didik di sekolah inklusif memperoleh hak yang sama
untuk mengembangkan dirinya dalam upaya mengembangkan potensi dirinya
untuk nantinya menjadi individu yang mandiri dalam memasuki dunia kerja.
Peserta didik berkebutuhan khusus tidak boleh dihadirkan di kelas hanya sebagai
“pelengkap penderita” akan tetapi harus diberikan layanan pendidikan yang
mengakomodasi kebutuhan layanan pendidikannya.
C. Klasifikasi PDBK
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya PDBK dapat diklasifikan menjadi PDBK
temporer dan PDBK permanen. Pembagian klasifikasi ini menjadi dasar untuk
memberikan layanan pendidikan yang sesuai bagi PDBK. PDBK temporer dapat terdiri
atas banyak kondisi dan belum ada klasifikasi khusus PDBK temporer baik di Indonesia
maupun di mancanegara. Berbanding terbalik, PDBK permanen baik di Indonesia maupun
mancanegara memiliki pengelompokan jenis-jenis PDBK permanen.
Landasan hukum yang masih berlaku dalam pengelompokan dan penggunaan istilah
PDBK di Indonesia meliputi Permendiknas Nomor 70 tahun 2009 mengenai Pendidikan
Inklusif dan UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Hambatan. Di dalam dua aturan
tersebut disebutkan beberapa jenis PDBK permanen. Perlu diketahui, terdapat perbedaan
penggunaan istilah pada beberapa kelompok PDBK pada masing-masing aturan tersebut,
meskipun merujuk pada kelompok PDBK yang sama. Lebih lanjut perlu menjadi perhatian
bahwa pengelompokkan PDBK ini berfungsi untuk mempermudah dalam mengenali
karakteristik peserta didik dan menyusun strategi pembelajaran yang sesuai, tetapi
pengelompokkan ini tidak dimaksudkan untuk memberi label atau identitas baru pada
peserta didik yang teridentifikasi dalam kelompok PDBK tersebut. Dalam
perkembangannya beberapa istilah lebih disarankan digunakan (sebagai contoh Hambatan)
dibanding istilah lain (penggunaan kata tuna) karena dampak psikis dari istilah tersebut.
Meskipun dalam penerapannya istilah-istilah tersebut dipergunakan bergantian. Adapun
pengelompokan PDBK permanen adalah sebagai berikut:
1. PDBK dengan Hambatan Sensorik
PDBK sensorik adalah PDBK yang mengalami Hambatan sensorik menurut UU
Nomor Tahun 2016. PDBK sensorik terbagi atas PDBK dengan Hambatan penglihatan
dan Hambatan pendengaran.
a) Hambatan Penglihatan/Tunanetra
PDBK dengan Hambatan penglihatan menurut Gunawan (2011) adalah PDBK
yang mengalami gangguan daya penglihatan sedemikian rupa, sehingga
membutuhkan layanan, khusus dalam pendidikan maupun kehidupannya. Dilihat
dari sisi pendidikan dan rehabilitasi peserta didik Hambatan penglihatan adalah
mereka yang memiliki Hambatan penglihatan sehingga menghalangi dirinya untuk
berfungsi dalam pendidikan dan aktivitas rehabilitatif tanpa menggunakan alat
khusus, material khusus, latihan khusus, dan atau bantuan lain secara khusus.
Klasifikasi gangguan penglihatan berdasarkan tingkat ketajaman penglihatan dan
dalam perspektif pendidikan menurut Gunawan (2011) dapat dikelompokkan
menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok low vision dan Hambatan penglihatan total
(Totally Blind).
− Low vision
Kelompok ini adalah kelompok Hambatan penglihatan yang masih mampu
melihat dengan ketajaman penglihatan (acuity) 20/70. Kelompok ini mampu
melihat dari jarak 6 meter, jauh lebih dekat dibandingkan dengan penglihatan
orang normal (21 meter). Gambaran umum dari kelompok ini, mereka masih
mampu mengenal bentuk objek dari berbagai jarak, menghitung jari dari
berbagai jarak.
− Hambatan penglihatan total
Peserta didik dikatakan memiliki Hambatan penglihatan secara total mereka
yang tidak bisa memfungsikan kemampuan visualnya tidak memiliki
penglihatan ataupun mereka yang bisa merasakan adanya sinar seperti
mengetahui siang dan malam tanpa mengetahui sumber cahayanya.
Akibat dari adanya Hambatan ini peserta didik diajarkan untuk memahami
kemampuan membaca dan menulis braille dan orientasi mobilitas (OM) untuk
membantu mereka dalam menjalankan daily activities.
b) Hambatan Pendengaran/Tunarungu
Banyak istilah yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mengalami
kehilangan/gangguan pendengaran. Istilah yang justru lebih nyaman bagi individu
dengan Hambatan ini adalah tuli. Nakata dalam Rahardja (2006) yang
mengungkapkan PDBK tunarungu adalah mereka yang mempunyai kemampuan
mendengar di kedua telinganya hampir di atas 60 desibel, yaitu mereka yang tidak
mungkin atau kesulitan secara signifikan untuk memahami suara pembicaraan
normal meskipun dengan mempergunakan alat bantu dengar atau alat- alat
lainnya.
Akibat dari adanya kerusakan itu akan mengakibatkan gangguan pada fungsi
pendengaran. PDBK mengalami kesulitan untuk memperoleh dan mengolah
informasi yang bersifat auditif, sehingga dapat menimbulkan Hambatan dalam
melakukan interaksi dan komunikasi secara verbal.
Pengelompokkan (klasifikasi) bagi PDBK yang mengalami Hambatan
pendengaran yang saat ini digunakan pada umumnya menurut Kirk (dalam
Depdikbud, 1995:29) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
● 0 dB Menunjukkan pendengaran yang optimal.
● 0 – 26 dB Menunjukkan seseorang masih mempunyai pendengaran yang
normal.
● 27 – 40 dB Mempunyai kesulitan mendengar bunyi-bunyi yang jauh,
membutuhkan tempat duduk yang strategis letaknya dan memerlukan terapi
bicara (tergolong tunarungu ringan).
● 41 – 55 dB Mengerti bahasa percakapan, tidak dapat mengikuti diskusi kelas,
membutuhkan alat bantu dengar dan terapi bicara (tunarungu sedang).
● 56 – 70 dB Hanya bisa mendengar suara dari jarak yang dekat, masih
mempunyai sisa pendengaran untuk belajar bahasa dan bicara dengan
menggunakan alat bantu mendengar serta dengan cara yang khusus
(tunarungu agak berat).
● 71- 90 dB Hanya bisa mendengar bunyi yang sangat dekat, kadang – kadang
dianggap tuli, membutuhkan pendidikan luar biasa yang intensif,
membutuhkan alat bantu dengar dan latihan bicara secara khusus (tunarungu
berat).
● 91 dB ke atas mungkin sadar akan adanya bunyi atau suara dan getaran,
banyak bergantung pada penglihatan daripada pendengaran untuk proses
menerima informasi dan yang bersangkutan dianggap tuli (tunarungu berat
sekali)
Lebih lanjut, menurut Moores dalam Alimin (2007) menjelaskan bahwa PDBK
mengalami disability dalam berkomunikasi akibat dari kehilangan fungsi
pendengaran (impairment). Istilah hearing impairment diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia menjadi istilah tunarungu, yang di dalamnya terkandung dua
kategori yaitu yang disebut dengan deaf dan hard of hearing.
Moores (1982:6) menjelaskan “tuli” adalah mereka yang memiliki
ketidakmampuan mendengar dalam tingkat 70 dB ISO atau lebih, sehingga tidak
mengerti pembicaraan orang lain mengakibatkan kesulitan dalam memproses
informasi bahasa melalui pendengarannya sehingga ia tidak dapat memahami
pembicaraan orang lain dengan memakai maupun tidak memakai alat bantu dengar
(hearing aid). Adapun orang yang “kurang dengar” adalah mereka yang memiliki
ketidakmampuan dengar dalam tingkat 35 sampai 69 dB.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa gangguan pendengaran (tuli
atau kurang dengar) tunarungu adalah mereka yang tidak mendengar atau kurang
mendengar sebagai akibat pendengarannya yang terganggu fungsi indera
pendengarannya baik menggunakan alat bantu dengar maupun tidak. Namun
demikian, mereka masih tetap memerlukan layanan pendidikan khusus karena
gangguan pendengaran berdampak pada aspek-aspek di bawah ini.
1) Aspek Motorik
PDBK tunarungu yang tidak memiliki Hambatan lain dapat mencapai tugas-
tugas perkembangan motorik (early major motor milestones), seperti duduk,
merangkak, berdiri dengan tanpa bantuan, dan berjalan sama seperti yang
terjadi pada PDBK yang mendengar (Preisler dalam Alimin, 2007). Namun
demikian, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa PDBK dengan
Hambatan pendengaran memiliki kesulitan dalam hal keseimbangan dan
koordinasi gerak umum, dalam menyelesaikan tugas-tugas yang memerlukan
kecepatan serta gerakan-gerakan yang kompleks (Ittyerah, Sharma, dalam
Alimin, 2007).
2) Aspek bicara dan bahasa
Keterampilan berbicara dan bahasa merupakan bidang perkembangan yang
paling banyak dipengaruhi oleh Hambatan pendengaran. Khususnya PDBK
dengan Hambatan pendengaran dibawa sejak lahir. Menurut Rahardja (2006)
bagi PDBK dengan Hambatan pendengaran congenital atau berat, suara yang
keras tidak dapat didengarnya meskipun dengan menggunakan alat bantu
dengar.
Individu tersebut tidak dapat menerima informasi melalui suara, tetapi mereka
sebaiknya belajar bahasa bibir. Suara yang dikeluarkan oleh PDBK dengan
Hambatan pendengaran biasanya sering sulit untuk dimengerti karena mereka
mengalami kesulitan dalam membeda-bedakan artikulasi, kualitas suara, dan
tekanan suara.
2. PDBK dengan Hambatan Intelektual
Hambatan intelektual merupakan kondisi kemampuan intelektual individu yang berada
di bawah rata-rata berdasarkan hasil tes IQ. Adapun perkembangan terbaru
berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder-Fifth Edition Text
Revised 2022 (DSM-V TR) Hambatan intelektual juga ditandai dengan kesulitan
individu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Termasuk dalam kelompok ini
adalah tunagrahita dan lambat belajar/slow learner.
a) Hambatan Intelektual/Tunagrahita
Menurut Gunawan (2011) PDBK mengalami Hambatan intelektual adalah PDBK
yang secara nyata mengalami Hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental-
intelektual dibawah rata-rata, sehingga mengalami kesulitan dalam menyelesaikan
tugas-tugasnya. Mereka memerlukan layanan pendidikan khusus. PDBK mengalami
Hambatan intelektual ialah PDBK yang mempunyai kemampuan intelektual di
bawah rata-rata. Berbagai istilah yang dikemukakan mengenai PDBK mengalami
Hambatan intelektual, selalu menunjuk pada fungsi kecerdasan secara umum berada
di bawah usia kronologisnya secara meyakinkan sehingga membutuhkan layanan
pendidikan khusus.
Potensi dan kemampuan setiap PDBK PDBK mengalami Hambatan intelektual
berbeda-beda, maka untuk kepentingan pendidikan diperlukan pengelompokkan
PDBK mengalami Hambatan intelektual. Pengelompokkan itu berdasarkan berat
ringannya ketunaan, atas dasar itu PDBK tunagrahita dapat dikelompokkan.
1) Hambatan Intelektual Ringan
PDBK mengalami Hambatan intelektual ringan umumnya memiliki kondisi fisik
yang tidak berbeda. Mereka mempunyai IQ antara kisaran 50 s/d 70 dan juga
termasuk kelompok
mampu didik, mereka masih bisa dididik (diajarkan) membaca, menulis dan
berhitung, PDBK PDBK mengalami Hambatan intelektual ringan biasanya bisa
menyelesaikan pendidikan setingkat kelas IV SD Umum.
2) Hambatan Intelektual Sedang
PDBK PDBK mengalami Hambatan intelektual sedang termasuk kelompok
latih. Kondisi fisiknya sudah dapat terlihat, tetapi ada sebagian PDBK
mengalami Hambatan intelektual yang mempunyai fisik normal. Kelompok ini
mempunyai IQ antara 30 s/d 50. Mereka biasanya menyelesaikan pendidikan
setingkat kelas 2 SD Umum.
3) Hambatan Intelektual Berat
Kelompok ini termasuk yang sangat rendah intelegensinya tidak mampu
menerima pendidikan secara akademis. PDBK PDBK mengalami Hambatan
intelektual berat termasuk kelompok mampu rawat, IQ mereka rata-rata 30 ke
bawah. Dalam kegiatan sehari-hari mereka membutuhkan bantuan orang lain.
Hambatan intelektual mengacu pada intelektual umum yang secara signifikan
berada di bawah rata-rata. PDBK mengalami Hambatan intelektual mengalami
Hambatan dalam tingkah laku dan penyesuaian diri. Semua gangguan tersebut
berlangsung atau terjadi pada masa perkembangannya. Lebih lanjut, Gunawan
(2011) mengemukakan bahwa seseorang dikatakan PDBK mengalami Hambatan
intelektual apabila memiliki tiga indikator, yaitu:
− keterHambatan fungsi kecerdasan secara umum atau di bawah rata-rata;
− ketidakmampuan dalam prilaku sosial/adaptif; dan
− Hambatan perilaku sosial/adaptif terjadi pada usia perkembangan yaitu sampai
dengan usia 18 tahun.
Klasifikasi PDBK mengalami Hambatan intelektual secara sosial-psikologis
terbagi dua kriteria, yaitu: psikometrik dan perilaku adaptif. Ada empat taraf
PDBK mengalami Hambatan intelektual berdasarkan psikometrik (skor IQ-nya).
Tabel. 1 Tingkat Kecerdasan (IQ PDBK mengalami Hambatan intelektual)
Klasifikasi IQ Mental Age
(Tahun)
Ringan (mild mental Stanford Binet Skala Weschler
retardation) (SB) (WISC)
68-52 69-55 8,3-10,9
Sedang (moderate mental 51-36 54-40 5,7-8,2
retardation)
Berat (severe mental 35-20 39-25 3,2-5,6
retardation)
Parah (profound mental ≥ 19 ≥ 24 ≥ 3,1
retardation)
Sumber: http://repository.upi.edu/operator/
Penggolongan PDBK mengalami Hambatan intelektual menurut kriteria perilaku
adaptif tidak berdasarkan taraf intelegensi, tetapi berdasarkan kematangan sosial. Hal
ini juga mempunyai empat taraf, yaitu ringan, sedang, berat, dan sangat berat. Secara
umum dampak dari gangguan intelektual dapat dilihat pada ciri-ciri sebagai berikut.
− Lamban dalam mempelajari hal-hal baru, mempunyai kesulitan dalam
mempelajari konsep yang abstrak, dan selalu cepat lupa apa yang dipelajari apabila
tanpa latihan terus menerus.
− Kesulitan dalam menggeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru.
− Kemampuan bicaranya sangat kurang bagi PDBK mengalami Hambatan
intelektual berat.
− Cacat fisik dan perkembangan gerak. PDBK mengalami Hambatan intelektual
berat mempunyai keterbatasan dalam gerak fisik, ada yang tidak dapat berjalan,
tidak dapat berdiri atau bangun tanpa bantuan. Mereka lambat dalam mengerjakan
tugas-tugas yang sangat sederhana, sulit menjangkau sesuatu, dan mendongakkan
kepala.
− Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri. Sebagian dari PDBK mengalami
Hambatan intelektual berat sangat sulit untuk mengurus diri sendiri, seperti;
berpakaian, makan, mengurus kebersihan diri. Mereka selalu memerlukan latihan
khusus untuk mempelajari kemampuan dasar.
− Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim. PDBK mengalami Hambatan
intelektualringan dapat bermain bersama dengan peserta didik regular/tipikal,
tetapi PDBK yang mempunyai PDBK mengalami Hambatan intelektual berat tidak
melakukan hal tersebut. Hal itu mungkin disebabkan kesulitan bagi PDBK
mengalami Hambatan intelektual dalam memberikan perhatian terhadap lawan
main.
− Tingkah laku kurang wajar yang terus menerus. Banyak PDBK mengalami
Hambatan intelektual berat bertingkah laku tanpa tujuan yang jelas.
b) Lamban Belajar/Slow Learner
Lamban belajar atau disebut juga dengan slow learner adalah suatu kondisi Hambatan
intelektual yang ditunjukkan dengan hasil tes IQ berkisar antara 80-90. Kondisi ini
berdampak pada proses pemerolehan informasi dan pengolahan informasi saat belajar
yang secara umum lebih lambat dibandingkan peserta didik dengan IQ rata-rata (>90).
Adapun kondisi lamban belajar memiliki karakteristik sebagai berikut:
− Pencapaian akademik di bawah rekan-rekan seumurannya.
− Rentang konsentrasi yang pendek
− Kemampuan berimajinasi dan berpikir kreatif yang terbatas
− Lambat dalam memberikan respon
− Kemampuan mengingat yang terbatas
− Kemampuan untuk berpikir abstrak, melakukan evaluasi dan menentukan
konsekuensi terbatas
− Kemampuan pengelolaan diri, dan adaptasi lingkungan terbatas
3. Kemampuan untuk menyampaikan gagasan, menyampaikan kondisi yang abstrak mengalami
kesulitan (Parveen, Reba & Khan, 2014)
3. PDBK dengan Hambatan Fisik (Tunadaksa)
Ada berbagai macam definisi tentang PDBK yang mengalami gangguan gerak, tergantung
dari siapa dan sudut mana melihatnya. Nakata (2003) dalam Djadja R, (2006)
mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan gangguan gerak adalah:
a. Mereka yang tingkat kecacatan fisiknya mengakibatkan mereka mengalami kesulitan
yang berat atau ketidakmungkinan melakukan gerak dasar dalam kehidupan sehari-hari
seperti berjalan dan menulis meskipun dengan menggunakan alat-alat bantu pendukung.
b. Mereka yang tingkat kecacatan fisiknya tidak lebih dari nomor 1 di atas yang selalu
memerlukan observasi dan bimbingan medis.
PDBK gangguan gerak, dilihat dari persentase PDBK yang lain, termasuk kelompok yang
jumlahnya relatif kecil yaitu diperkirakan 0,06% dari populasi PDBK usia sekolah.
Sedangkan jenis kelainannya bermacam-macam dan bervariasi, sehingga permasalahan
yang dihadapi sangat kompleks.
Pada dasarnya PDBK gangguan gerak dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu (1)
Kelainan pada sistem serebral (cerebral system) dan (2) kelainan pada sistem otot dan
rangka (musculus skeletal system). Adapun yang termasuk kelompok pertama, seperti
cerebral palsy yang meliputi jenis spastic, athetosis, rigid, hipotonia, tremor, ataxia, dan
campuran.
Sedangkan yang termasuk pada kelompok kedua, seperti poliomyelitis, muscle dystrophy
dan spina bifida. Sedangkan PDBK yang mengalami kelumpuhan yang dikarenakan
kerusakan pada otot motorik yang sering diderita oleh PDBK pasca polio dan muscle
dystrophy lain mengakibatkan gangguan motorik terutama gerakan lokomosi, gerakan
ditempat, dan mobilisasi. Ada sebagian PDBK dengan gangguan gerak yang berat, ringan,
dan sedang. Untuk berpindah tempat perlu alat ambulasi, juga perlu alat bantu dalam
memenuhi kebutuhannya, yaitu memenuhi kebutuhan gerak.
4. PDBK dengan Hambatan Mental
PDBK dengan Hambatan mental adalah PDBK yang mengalami gangguan fungsi pikir,
emosi dan perilaku yang kebanyakan merupakan implikasi dari gangguan di sistem saraf.
Secara umum terbagi atas (a) Hambatan psikososial yang meliputi skizofrenia, bipolar,
depresi, gangguan kecemasan dan gangguan kepribadian termasuk didalamnya adalah
Hambatan perilaku dan emosi (b) Hambatan perkembangan yang meliputi autis dan ADHD.
a. PDBK dengan Hambatan Perilaku dan Emosi/Hambatan Perilaku dan Emosi
Kelompok ini sebelumnya juga disebut dengan tunalaras, dan beberapa referensi
menyebutkan Hambatan ini juga bagian dari Hambatan psikososial. Menurut Gunawan
(2011) PDBK dengan gangguan perilaku adalah PDBK yang berperilaku menyimpang
baik pada taraf sedang, berat dan sangat berat, terjadi pada usia PDBK dan remaja,
sebagai akibat terganggunya perkembangan emosi dan sosial atau keduanya, sehingga
merugikan dirinya sendiri maupun lingkungan, maka dalam mengembangkan potensinya
memerlukan pelayanan dan pendidikan secara khusus.
Di dalam dunia Pendidikan Khusus dikenal dengan nama PDBK Hambatan perilaku
dan emosi (behavioral disorder). Kelainan tingkah laku ditetapkan bila mengandung
unsur:
− Tingkah laku PDBK menyimpang dari standar yang diterima umum.
− Derajat penyimpangan tingkah laku dari standar umum sudah ekstrim.
− Lamanya waktu pola tingkah laku itu dilakukan.
Secara umum PDBK Hambatan perilaku dan emosi (PDBK yang mengalami gangguan
emosi dan perilaku) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
− Cenderung membangkang.
− Mudah terangsang emosinya/emosional/mudah marah.
− Sering melakukan tindakan agresif, merusak, mengganggu.
− Sering bertindak melanggar norma sosial/norma susila/hukum.
− Cenderung prestasi belajar dan motivasi rendah sering bolos jarang masuk
sekolah.
b. PDBK Autis
Autis dalam perkembangannya sebelum tahun 2013 merupakan bagian dari gangguan
perkembangan pervasif bersama gangguan asperger dan PDD-NOS berdasarkan DSM-
4 Revisi. Lebih lanjut sejalan dengan dirilisnya DSM-5 TR pada tahun 2022, gangguan
perkembangan pervasif berubah menjadi spektrum autis, sehingga istilah autis,
gangguan asperger, dan PDD-NOS tidak lagi digunakan melainkan menggunakan
istilah spektrum autis/autis
Karakteristik peserta didik dengan spektrum autis berdasarkan DSM-5 (2022) secara
umum terbagi atas dua Hambatan yakni: komunikasi sosial, dan perilaku, dengan
penjelasan mendetail sebagai berikut :
1) Kurangnya komunikasi dan interaksi sosial yang bersifat menetap pada berbagai
konteks.
a) Kekurangan dalam kemampuan komunikasi sosial dan emosi. Contohnya
pendekatan sosial yang tidak normal dan kegagalan untuk melakukan komunikasi
dua arah, kegagalan untuk berinisiatif atau merespon pada interaksi sosial.
b) Terganggunya perilaku komunikasi non-verbal yang digunakan untuk interaksi
sosial. Integrasi komunikasi verbal dan non-verbal yang sangat parah, hilangnya
kontak mata, bahasa tubuh dan ekspresi wajah.
c) Kekurangan dalam mengembangkan, mempertahankan hubungan. Contohnya
kesulitan menyesuaikan perilaku pada berbagai konteks sosial, kesulitan dalam
bermain imajinatif atau berteman, tidak adanya ketertarikan terhadap teman sebaya.
2) Perilaku, pola perilaku, ketertarikan, dan aktivitas yang terbatas serta repetitif yang
termanifestasi minimal dua dari perilaku berikut:
a) Pergerakan motor, berbicara, dan penggunaan objek – objek yang repetitif dan
stereotip. Misalnya: perilaku stereotip yang sederhana, membariskan mainan-
mainan atau membalikkan objek.
b) Perhatian yang berlebihan pada kesamaan, rutinitas yang kaku atau pola perilaku
verbal atau non-verbal yang diritualkan, contohnya stress ekstrim pada suatu
perubahan yang kecil, kesulitan pada saat adanya proses perubahan serta pola pikir
yang kaku.
c) Kelekatan dan pembatasan diri yang tinggi pada suatu ketertarikan yang abnormal.
Contoh: kelekatan yang kuat atau preokupasi pada objek-objek yang tidak biasa,
pembatasan yang berlebihan atau perseverative interest.
d) Hiperaktivitas/hipoaktivitas pada input sensori atau ketertarikan yang tidak biasa
pada aspek sensori pada lingkungan. Contoh: sikap tidak peduli pada rasa sakit atau
temperatur udara, respon yang berlawanan pada suara atau tekstur tertentu,
penciuman yang berlebihan atau sentuhan dari objek, serta kekaguman visual pada
cahaya atau gerakan.
Sebelum tahun 2013, berdasarkan DSM-IV TR, klasifikasi autis terdiri atas: gangguan
autis, gangguan asperger, dan PDD- NOS. Perkembangan terbaru pada DSM-V TR autis
merupakan kondisi spektrum dimana, setiap individunya memiliki perbedaan tingkat
Hambatan di masing-masing aspek perkembangannya.
c. PDBK ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)/Gangguan Pemusatan
Perhatian dan Hiperaktivitas
ADHD berdasarkan DSM V TR (2022) ditandai dengan dua Hambatan umum yakni:
1. Kurang perhatian dengan ciri spesifik sebagai berikut:
− Sering gagal untuk memberikan perhatian yang cermat terhadap detail atau
membuat kesalahan ceroboh dalam tugas sekolah atau di aktivitas lain
− Sering mengalami kesulitan memusatkan perhatian pada tugas atau aktivitas
bermain.
− Seringkali tampak tidak mendengarkan ketika diajak bicara secara langsung.
− Seringkali tidak mengikuti instruksi dan gagal menyelesaikan tugas sekolah
− Sering mengalami kesulitan mengatur tugas dan aktivitas.
− Sering menghindari, tidak menyukai, atau enggan melakukan tugas yang
membutuhkan usaha mental dalam jangka waktu yang lama (seperti tugas sekolah
atau pekerjaan rumah).
− Sering kehilangan barang-barang yang diperlukan untuk tugas dan aktivitas
(misalnya peralatan sekolah, pensil, buku, peralatan, dompet, kunci, dokumen,
kacamata, telepon genggam).
− Sering mudah terganggu
− Sering pelupa dalam aktivitas sehari-hari.
2. Hiperaktif dan Impulsif dengan ciri-ciri sebagai berikut:
− Sering gelisah dengan atau mengetuk tangan atau kaki, atau menggeliat di kursi.
− Sering meninggalkan tempat duduk dalam situasi di mana diharapkan untuk tetap
duduk.
− Sering berlari atau memanjat dalam situasi yang tidak sesuai.
− Seringkali tidak dapat bermain atau mengambil bagian dalam kegiatan waktu
luang dengan tenang.
− Sering "di perjalanan" bertindak seolah-olah "digerakkan oleh motor".
− Sering berbicara berlebihan.
− Sering melontarkan jawaban sebelum pertanyaan selesai.
− Sering mengalami kesulitan menunggu giliran.
− Sering menyela atau mengganggu orang lain (misalnya, menyela pembicaraan
atau permainan)
Lebih lanjut berdasarkan jenis gejalanya, ADHD dikelompokkan menjadi 3 yakni:
• Gabungan : jika terdapat cukup gejala dari kedua Hambatan yaitu kurang perhatian dan
hiperaktivitas-impulsif.
• Hambatan Perhatian: jika gejala kurang perhatian cukup, tetapi tidak hiperaktivitas-
impulsif.
• Hambaran Hiperaktif-Impulsif : jika gejala hiperaktif-impulsif cukup, tetapi tidak kurang
perhatian
5. PDBK Cerdas Istimewa Berbakat Istimewa
PDBK yang memiliki potensi kecerdasan istimewa (gifted) dan PDBK yang memiliki bakat
istimewa (talented) adalah PDBK yang memiliki potensi kecerdasan (intelegensi),
kreativitas, dan tanggung jawab terhadap tugas (task commitment) di atas kemampuan PDBK
seusianya (peserta didik regular/tipikal), sehingga untuk mengoptimalkan potensinya,
diperlukan pelayanan pendidikan khusus. PDBK cerdas dan berbakat istimewa disebut
sebagai gifted & talented children (Gunawan, 2011).
PDBK berbakat istimewa secara alami memiliki karakteristik yang khas yang
membedakannya dengan peserta didik regular/tipikal. Karakteristik ini mencakup beberapa
domain penting, termasuk di dalamnya: domain intelektual-kognitif, domain persepsi- emosi,
domain motivasi dan nilai- nilai hidup, domain aktifitas, serta domain relasi sosial.
Berikut beberapa karakteristik yang paling sering diidentifikasi terdapat pada PDBK
berbakat istimewa pada masing-masing domain di atas. Namun demikian perlu dicatat bahwa
tidak semua PDBK-PDBK berbakat istimewa (gifted) selalu menunjukkan atau memiliki
karakteristik intelektual-kognitif seperti dibawah ini (Gunawan, 2011):
− Menunjukkan atau memiliki ide-ide yang orisinil, gagasan-gagasan yang tidak
lazim, pikiran-pikiran kreatif.
− Mampu menghubungkan ide-ide yang nampak tidak berkaitan menjadi suatu
konsep yang utuh.
− Menunjukkan kemampuan bernalar yang sangat tinggi.
− Mampu menggeneralisasikan suatu masalah yang rumit menjadi suatu hal yang
sederhana dan mudah dipahami.
− Memiliki kecepatan yang sangat tinggi dalam memecahkan masalah.
− Menunjukkan daya imajinasi yang luar biasa.
− Memiliki perbendaharaan kosakata yang sangat kaya dan
mampu mengartikulasikannya dengan baik.
− Biasanya fasih dalam berkomunikasi lisan, senang bermain atau merangkai kata-
kata.
− Sangat cepat dalam memahami pembicaraan atau pelajaran yang diberikan.
− Memiliki daya ingat jangka panjang (long term memory) yang kuat.
− Mampu menangkap ide-ide abstrak dalam konsep matematika dan/atau sains.
− Memiliki kemampuan membaca yang sangat cepat.
− Banyak gagasan dan mampu menginspirasi orang lain.
− Memikirkan sesuatu secara kompleks, abstrak, dan dalam.
− Mampu memikirkan tentang beragam gagasan atau persoalan dalam waktu yang
bersamaan dan cepat mengaitkan satu dengan yang lainnya.
6. PDBK dengan Kesulitan Belajar Spesifik (Disleksia, Diskalkulia, Disgrafia)
PDBK yang mengalami learning disabilities (LD) atau Specific Learning Diificulties (SLD)
secara umum dapat diartikan suatu kesulitan belajar pada PDBK yang ditandai oleh
ketidakmampuan dalam mengikuti pelajaran sebagaimana mestinya dan berdampak pada
hasil akademiknya. Kesulitan belajar merupakan Hambatan atau gangguan belajar pada
PDBK atau remaja yang ditandai adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelegensi
dan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai oleh peserta didik seusianya. PDBK LD
atau SLD adalah masalah belajar primer yang disebabkan karena adanya deficit atau
kekurangan fungsi dalam satu atau lebih area inteligensi. Penyebabnya gangguan neurologis
dan genetik. Istilah LD atau SLD hanya dikenakan PDBK yang mempunyai inteligensia
normal hingga tinggi. Gangguan ini merupakan gangguan yang kasat mata, berupa kesalahan
dalam hal membaca (disleksia), menulis (disgrafia), dan berhitung (diskalkulia). Kesalahan
yang terjadi akan selalu dalam kesalahan sama secara terus menerus, dan dibawa seumur
hidup (long live disabilities). Adapun karakteristiknya dapat diidentifikasi dari hal-hal
berikut ini.
a. PDBK yang mengalami kesulitan membaca (disleksia)
− Perkembangan kemampuan membaca terlambat,
− Kemampuan memahami isi bacaan rendah,
− Kalau membaca sering banyak kesalahan
b. PDBK yang mengalami kesulitan belajar menulis (disgrafia)
− Kalau menyalin tulisan sering terlambat selesai,
− Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5, 6
dengan 9, dan sebagainya,
− Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca,
− Tulisannya banyak salah/terbalik/huruf hilang,
− Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.
c. PDBK yang mengalami kesulitan belajar berhitung (diskalkulia)
− Sering salah menulis angka 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya
− Rancu atau bingung dengan simbol-simbol matematis. Misalnya tanda +, -, x, :,
dan sebagainya.
D. Kebutuhan Pembelajaran PDBK
1. Kebutuhan Pembelajaran PDBK dengan Hambatan Sensorik
a. PDBK dengan Hambatan Penglihatan/Tunanetra
Layanan khusus dalam pendidikan bagi PDBK dengan gangguan penglihatan
yaitu dalam membaca menulis dan berhitung diperlukan huruf Braille bagi yang
Hambatan penglihatan total. Bagi yang masih memiliki sisa penglihatan
diperlukan kaca pembesar atau huruf cetak yang besar, media yang dapat diraba
dan didengar atau diperbesar. Di samping itu, diperlukan latihan Orientasi dan
Mobilitas (OM) yang penerapannya bukan hanya di sekolah, melainkan dapat
diterapkan di lingkungan tempat tinggalnya.
PDBK dikatakan Hambatan penglihatan total atau buta total (totally blind) jika
mengalami Hambatan visual yang sangat berat sampai tidak dapat melihat sama
sekali. Penyandang buta total mempergunakan kemampuan perabaan dan
pendengaran sebagai saluran utama dalam belajar. PDBK seperti ini biasanya
mempergunakan huruf Braille sebagai media membaca dan memerlukan latihan
orientasi dan mobilitas.
Hambatan penglihatan akan berdampak dalam kemampuan kognitif, kemampuan
akademis, sosial emosional, perilaku, perkembangan bahasa, perkembangan
motorik, orientasi dan mobilitas.
b. PDBK dengan Hambatan Pendengaran/Tunarungu
Seperti sudah dikemukan sebelumnya, peserta didik yang mengalami Hambatan
pendengaran perlu Alat Bantu Dengar (ABD), tetapi walaupun telah diberikan
pertolongan dengan ABD, mereka masih tetap memerlukan layanan pendidikan
khusus karena gangguan pendengaran berdampak pada aspek-aspek di bawah ini.
Aspek Motorik
PDBK tunarungu yang tidak memiliki Hambatan lain dapat mencapai tugas-
tugas perkembangan motorik (early major motor milestones), seperti duduk,
merangkak, berdiri dengan tanpa bantuan, dan berjalan sama seperti yang terjadi
pada PDBK yang mendengar (Preisler, 1995, dalam Alimin, 2007). Namun
demikian, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa PDBK yang mengalami
Hambatan pendengaran memiliki kesulitan dalam hal kesimbangan dan
koordinasi gerak umum, dalam menyelesaikan tugas-tugas yang memerlukan
kecepatan serta gerakan-gerakan yang kompleks.
Aspek bicara dan bahasa
Keterampilan berbicara dan bahasa merupakan bidang perkembangan yang
paling banyak dipengaruhi oleh peserta didik Hambatan pendengaran.
Khususnya PDBK-PDBK yang mengalami Hambatan pendengaran dibawa sejak
lahir. Menurut Rahardja (2006) bagi individu yang congenital atau berat, suara
yang keras tidak dapat didengarnya meskipun dengan menggunakan alat bantu
dengar.
Individu ini tidak dapat menerima informasi melalui suara, tetapi mereka
sebaiknya belajar bahasa bibir. Suara yang dikeluarkan oleh individu dengan
Hambatan pendengaran biasanya sering sulit untuk dimengerti, karena mereka
mengalami kesulitan dalam membeda-bedakan artikulasi, kualitas suara, dan
tekanan suara.
Kebutuhan pembelajaran peserta didik Hambatan pendengaran menurut
Gunawan (2011) secara umum tidak berbeda dengan PDBK pada umumnya.
Akan tetapi, mereka memerlukan perhatian dalam kegiatan pembelajaran antara
lain:
1) Tidak mengajak PDBK untuk berbicara dengan cara membelakanginya.
2) PDBK hendaknya didudukkan paling depan, sehingga memiliki peluang
untuk mudah membaca bibir guru.
3) Perhatikan postur PDBK yang sering memiringkan kepala untuk
mendengarkan.
4) Dorong PDBK untuk selalu memperhatikan wajah guru, bicaralah dengan
PDBK dengan posisi berhadapan dan bila memungkinkan kepala guru
sejajar dengan kepala PDBK.
5) Guru bicara dengan volume biasa tetapi dengan gerakan bibirnya yang harus
jelas.
2. Kebutuhan Pembelajaran PDBK dengan Hambatan Intelektual
a. Kebutuhan Pembelajaran PDBK dengan Hambatan Intelektual/Tunagrahita
Pendidikan bagi peserta didik PDBK mengalami Hambatan intelektual seharusnya ditujukan
untuk mengembangkan potensi yang dimiliki PDBK secara optimal, agar mereka dapat hidup
mandiri dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana mereka berada. Secara umum
kebutuhan pembelajaran PDBK Hambatan intelektual adalah sebagai berikut.
1) Perbedaan PDBK mengalami Hambatan intelektual dengan peserta didik
regular/tipikal dalam proses belajar adalah terletak pada Hambatan dan masalah
atau karakteristik belajarnya.
2) Perbedaan karakteristik belajar mengalami Hambatan intelektual dengan peserta
didik sebayanya,PDBK mengalami Hambatan intelektual mengalami masalah
dalam hal yaitu:
− Tingkat kemahirannya dalam memecahkan masalah
− Melakukan generalisasi dan mentransfer sesuatu yang baru
− Minat dan perhatian terhadap penyelesaian tugas.
b. Kebutuhan Pembelajaran PDBK Lamban Belajar/Slow Learner
Secara umum peserta didik lamban belajar dapat mengikuti pembelajaran di kelas,
adapun beberapa penyesuaian dan kebutuhan belajar masih perlu untuk dilpenuhi
sehingga peserta didik lamban belajar dapat belajar secara optimal. Beberapa kebutuhan
dan penyesuaian belajar yang dapat dipenuhi adalah sebagai berikut:
− Membangun kepercayaan diri peserta didik untuk belajar.
− Memahami kelemahan utama dalam belajar yang dialami oleh peserta didik
seperti kemampuan konsentrasi, kemampuan mengungkapkan informasi dll.
− Memberikan waktu tambahan belajar untuk peserta didik.
− Menyediakan sumber belajar tambahan untuk peserta didik seperti lembar kerja
khusus, infografis, materi yang tersedia secara daring dll.
− Melakukan pengulangan terhadap materi yang diajarkan.
− Membangun hubungan yang baik dengan peserta didik.
− Memvariasikan metode pengajaran (Parveen, Reba & Khan, 2014)
3. Kebutuhan Pembelajaran PDBK dengan Hambatan Fisik (Tunadaksa)
Berkaitan dengan pembelajaran, tujuannya adalah untuk membantu menyiapkan peserta
didik agar mampu mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai pribadi
maupun anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan
sosial, budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuannya dalam dunia
kerja atau mengikuti pendidikan lanjutan (uu no.2 tahun 1989 tentang uspn dan pp no.72
tentang plb).
Connor (1975) mengemukakan sekurang-kurangnya tujuh aspek yang perlu dikembangkan
pada diri masing-masing PDBK tunadaksa melalui pendidikan, yaitu:
− Pengembangan intelektual dan akademik
− Membantu perkembangan fisik
− Meningkatkan perkembangan emosi dan penerimaan diri PDBK
− Mematangkan aspek sosial
− Mematangkan moral dan spiritualMeningkatkan ekspresi diri
− Mempersiapkan masa depan PDBK
Pengembangan diri pada PDBK tunadaksa perlu memperhatikan:
− Program pembelajaran yang diindividualisasikan
− Prinsip pembelajaran: prinsip multisensori dan Individualisasi
− Penataan lingkungan belajar: bangunan gedung memprioritaskan tiga
kemudahan: mudah keluar masuk, mudah bergerak dalam ruangan, dan mudah
mengadakan penyesuaian.
− Personil: guru plb, guru reguler, dokter ahli PDBK, dokter ahli rehabilitasi
medis, dokter ahli ortopedi, dokter ahli syaraf, psikolog, guru bimbingan dan
penyuluhan, social worker, fisioterapist, occupational therapist, speechterapist,
orthotic dan prosthetic.
4. Kebutuhan Pembelajaran PDBK dengan Hambatan Mental
a. Kebutuhan Pembelajaran PDBK dengan Hambatan Perilaku dan Emosi
Kebutuhan pembelajaran bagi PDBK Hambatan perilaku dan emosi yang harus
diperhatikan oleh guru antara lain adalah:
− Mengetahui strategi pencegahan dan intervensi bagi individu yang beresiko
mengalami gangguan emosi dan perilaku.
− Menggunakan variasi teknik yang tidak kaku dan keras untuk mengontrol
tingkah laku target dan menjaga atensi dalam pembelajaran.
− Menjaga rutinitas pembelajaran dengan konsisten, dan terampil dalam
problem solving dan mengatasi konflik.
− MerencPDBKan dan mengimplementasikan reinforcement secara individual
dan modifikasi lingkungan dengan level yang sesuai dengan tingkat perilaku.
− Mengintegrasikan proses belajar mengajar (akademik), pendidikan afektif,
dan manajemen perilaku baik secara individual maupun kelompok.
− Melakukan asesmen atas tingkah laku sosial yang sesuai dan problematik
pada peserta didik secara individual.
− Perlu adanya penataan lingkungan yang kondusif (menyenangkan) bagi
setiap PDBK.
− Kurikulum hendaknya disesuaikan dengan Hambatan dan masalah yang
dihadapi oleh setiap PDBK.
− Adanya kegiatan yang bersifat kompensatoris sesuai dengan bakat dan minat
PDBK.
− Perlu adanya pengembangan akhlak atau mental melalui kegiatan sehari-hari,
dan contoh dari lingkungan.
b. Kebutuhan Pembelajaran PDBK Autis
Kebutuhan pembelajaran bagi PDBK autis adalah sebagai berikut:
− Penggunaan media visual.
− Perlunya jadwal kegiatan yang tersturktur.
− Diperlukan adanya pengembangan strategi untuk belajar dalam seting
kelompok.
− Perlu menggunakan beberapa teknik di dalam menghilangkan perilaku-
perilaku negatif yang muncul dan mengganggu kelangsungan proses belajar
secara keseluruhan (stereotip).
− Guru perlu mengembangkan ekspresi dirinya secara verbal dengan berbagai
bantuan.
− Guru terampil mengubah lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan
bagi PDBK, sehingga tingkah laku PDBK dapat dikendalikan pada hal yang
diharapkan.
c. Kebutuhan Pembelajaran PDBK ADHD/GPPH
Kebutuhan pembelajaran bagi PDBK ADHD/GPPH adalah sebagai berikut:
− Membuat aturan di kelas yang jelas dan konsisten.
− Mengurangi distraksi di kelas seperti suara bising, hiasan yang belebihan dll.
− Menyediakan feedback secara berkala ketika PDBK menunjukkan perilaku
hiperaktif.
− Membagi tugas kompleks menjadi tugas sederhana yang tidak memerlukan
waktu panjang.
− Berikan pujian setiap kali PDBK dapat menyelesaikan tugasnya.
− Perlu perhatian ekstra ketika terjadi perubahan jadwal/rutinitas
5. Kebutuhan Pembelajaran PDBK Cerdas Istimewa Berbakat Istimewa
Kebutuhan pembelajaran bagi PDBK cerdas istimewa dan bakat istimewa adalah sebagai
berikut.
Program pengayaan horisontal, meliputi:
− Mengembangkan kemampuan eksplorasi.
− Mengembangkan pengayaan dalam arti memperdalam dan memperluas hal-hal yang
ada di luar kurikulum biasa.
− eksekutif intensif dalam arti memberikan kesempatan untuk mengikuti program
intensif bidang tertentu yang diminati secara tuntas dan mendalam dalam waktu
tertentu.
Program pengayaan vertikal, yaitu:
− Acceleration, percepatan/maju berkelanjutan dalam mengikuti program yang sesuai
dengan kemampuannya, dan jangan dibatasi oleh jumlah waktu, atau tingkatan kelas.
− Independent study, memberikan seluas-luasnya kepada PDBK untuk belajar dan
menjelajahi sendiri bidang yang diminati.
− Mentorship, memadukan antara yang diminati PDBK gifted dan tallented dengan para
ahli yang ada di masyarakat.
6. Kebutuhan Pembelajaran PDBK dengan Kesulitan Belajar Spesifik
Peserta didik yang mengalami Hambatan belajar spesifik (disleksia, diskalkulia, disgrafia)
perlu adanya intervensi yang melibatkan seluruh indera dalam proses belajar mengajarnya.
Salah satu teknik yang dapat diterapkan adalah teknik multi sensori. Berikut hal-hal yang
harus dilakukan guru dalam menangani di dalam kelas;
− Perkenalkan belajar alfabet secara sekuensial (berurutan) secara bertahap dan berurut.
− Alfabet diperkenalkan menggunakan huruf-huruf dari kayu atau plastik, sehingga
PDBK dapat melihat huruf, mengambilnya, merasakannya dengan mata terbuka atau
tertutup dan mengucapkan bunyinya.
− Peserta didik perlu tahu bahwa huruf /i/ muncul sebelum /k/, Alfabet dapat dibagi ke
dalam beberapa kelompok, yang membuat mudah PDBK mengingat di kelompok
mana huruf tersebut berada.
− Menyortir dan mencocokkan huruf kapital, huruf kecil, bentuk cetak, dan tulisan
tangan dari huruf; melatih keterampilan sequencing dengan huruf dan bentuk- bentuk
terpotong; dan melatih menempatkan tiap huruf dalam alfabet dalam hubungannya
dengan huruf lain.