The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Rayhana Santyaswari S, 2024-05-24 00:53:23

LKM Pertolongan

pertolongan

Lara Oleh : Adella Zahra “Anak cewe jam segini masih aja tidur.” Terdengar omelan seorang wanita berkepala lima dibarengi dengan siraman kepada sang anak perempuan yang masih tertidur. “Iya ini bangun,” ucap sang anak. Lara adalah nama panggilanku. Aku adalah anak perempuan yang disiram itu dan yang menyiramku adalah orang yang melahirkan aku ke dunia yang kejam ini. Mungkin bagi kalian itu terlihat jahat, tetapi tidak bagiku, karena hal itu sudah menjadi kebiasaan yang aku dapatkan setiap hari. “Lara cepat, mau sekolah ngga sih!? Lelet banget jadi orang tuh!” Terdengar suara teriakan yang sangat aku kenali “Iya ini udah siap,” ujar aku sambil terburu-buruterburu-buru. Namun saat aku keluar rumah, sayang seribu sayang mobil yang dia gunakan sudah tidak ada dan lagi-lagi aku harus menggunakan angkutan umum, padahal jarak rumahku ke sekolah memakan waktu sampai 30 menit, belum lagi kalau terjebak macet. Sedangkan sekarang sudah pukul 07.25. Selama diperjalanan rasanya aku ingin menangis kala mengingat semua perlakuan mereka yang begitu jahat kepadaku. Mereka bahkan tidak pantas dianggap keluarga. Akhirnya aku tiba di sekolah pada pukul 07.35 dan peraturan disekolah aku kalau ada yang telat maka baru bisa masuk kelas pada saat jam pelajaran ke 2, yaitu 15 menit lagi. Jam istirahat pertama sudah bunyi, aku dan temenku memutuskan untuk istirahat di taman sekolah yang cukup sepi saat istirahat pertama. “Sekarang apa lagi yang bikin lu telat?” ucap Lala memecah keheningan diantara kita “Ya kaya biasa,” jawab aku sambil terkekeh kecil diakhirannya, terdengar helaan nafas berat dari Lala sahabat aku 4 tahun belakangan ini. “Lu ga capek apa hidup sama mereka? Tinggal sama gue dan bunda gue aja yuk! Bunda pasti ga akan keberatan sama hadirnya elu,” tanya dia yang sepertinya sudah muak sama segala tingkah laku keluargaku. Aku enggan untuk menjawab itu karena dia sudah terlalu sering berkata seperti itu dan aku yakin dia udah tau jawaban atas pertanyaan yang dia berikan itu. Keheningan kembali melanda hingga jam istirahat selesai dan kita kembali melanjutkan pelajaran hari itu. Hari terus berjalan, mereka terus menciptakan luka, baik secara fisik maupun mental. Aku ingin bercerita kepada Lala tentang semua yang aku alami belakangan ini, tapi aku merasa terlalu sering merepotkannya. Setiap bangun tidur hingga tidur lagi mereka terus menghina ku, aku sudah mulai muak dengan semua ini. Aku ingin menyerah saja, namun aku ingat bahwa aku masih memiliki Lala dan bunda yang sangat sayang dan peduli denganku. Hingga suatu hari aku bertengkar hebat dengan Mamah, karena aku sudah capek menyimpan segala keluh kesahku. “Aku mau adil, aku mau Mamah perlakuin aku kaya Mamah memperlakukan ke anak Mamah yang lain,” sautku berusaha menahan emosi “Kamu itu ga pantes dibaikin, karena nanti bakal ngelunjak, dikasarin aja kamu ngelunjak apalagi dibaikin? Jangan mimpi!” sautnya yang membuat hatiku sangat sakit. “Aku harus apa biar Mamah sayang sama aku?” tanyaku.


“Mati, karena dengan itu bakal bikin keluarga ini menjadi damai tanpa benalu kaya kamu,” ucapnya kala itu yang bikin aku merasa jadi manusia paling tidak diinginkan. Aku tak bisa menahan emosi ku lagi, lantas aku memilih pergi ke kamar mandi untuk kembali melukai diriku dibawah guyuran air. Hari itu aku memutuskan untuk mengajak Lala bertemu, dan sekarang kami sedang di taman yang cukup sepi di tengah siang hari. “La elu tau ga sih artinya sayang tapi benci dalam waktu yang bersamaan?” tanyaku. “Gue sayang mereka La, sayang banget malah. Tapi gue juga benci mereka La, mereka jahat sama gue. Mereka mau gue mati La, gue mau pergi dari mereka biar mereka bisa seneng,” lanjutku mencurahkan segala rasa yang aku pendam “Lu tau caranya?” tanya Lala dengan santai. “Mati La, caranya cuma gue harus mati.” “Dengerin gue dulu bisa? Caranya itu elu harus jadi orang sukses. Kalau lu sukses, lu bisa kasih apa yang mereka mau trus lu bisa pergi dari tempat itu dan hidup bahagia dengan orang-orang yang sayang sama elu,” jawabnya dengan nada yang selalu terdengar begitu menenangkan. Setelah itu kita kembali diselimuti keheningan. Karena tak ingin terlalu lama berdiam diri dengan pikiran, akhirnya kita memutuskan untuk pergi bermain ke Time Zone, melakukan photobooth, dan makan ke tempat makan bakso favorit kita. Di perjalanan pulang setelah makan bakso, kita pun mampir sebentar ke pantai untuk melihat matahari terbenam yang kebetulan saat itu terlihat sangat indah. Saat sedang tenggelam dengan pikiran masing-masing, terlintas sebuah pertanyaan di benakku, “La tiba-tiba gue kepikiran, kalau gue pergi ninggalin mereka, kirakira mereka akan kehilangan dan menyesal ngga ya La? Atau malah bahagia ya?” “Apasi ucapannya, ga suka banget gue. Dah yuk pulang aja!” ajak Lala yang langsung berdiri meninggalkan aku dan berjalan ke arah motor untuk segera pulang. Sekarang matahari sudah sepenuhnya tenggelam dan tergantikan dengan langit gelap tanpa bintang dan bulan. Aku dan Lala sudah sampai di depan pagar rumah Lala setelah hari panjang yang kita lalui hari itu. “Kalau kangen gue jangan nangis ya, tinggal dateng ke rumah gue aja. Jangan lupa bahagia selalu ya Lala” ujarku saat sudah ingin pergi. “Iya, lu juga bahagia selalu yaaa. Lara mau pelukkkk!” ucap lala sambil buka tangan. “Sini-sini, setelah ini gue bakal bahagia kok La,” ucapku lalu kembali turun dari motornya untuk memeluk orang terbaik dalam hidupku. “Hari ini gue bahagia banget La, gue mau bilang gue sayang banget sama lu dan makasih banyak buat selama ini ya La, kalau ngga ada elu ga ada gue bisa bertahan atau ngga. Dah ya gue lepas peluknya gue mau pulang nih.” Aku langsung melepaskan pelukannya, Lala tidak membalas apa-apa. “Bagus banget, masih inget pulang? Pergi ngga bilang, pulang udah malem. Mau jadi apa?” sambut mamah saat aku baru sampai depan pintu rumah. “Maaf,” ujar aku sambil menunduk kepala. “Maaf, maaf, ngga ada gunanya, dasar anak ngga berguna,” ujarnya sambil langsung jambak rambutku. Malam itu sangat panjang, karena hukuman yang diberikan. Mulai dari dibenturkan kepala ketembok, disabet dengan cambuk, serta makian kasar tiada henti yang memekikan di telinga.


“Kamu ini ngga malu sama tetangga? Kerjaannya ribut terus sama anak sendiri. Ngga kasihan sama anaknya?” ucap Papah. Lucu sekali aku mendengar dia membela ku, biasanya juga dia yang sering menghancurkan aku. “Kamu bela dia? Anak itu emang pantesnya mati saja. Bikin kelurga kita berantakan dan ribut setiap harinya, nyesel aku ngelahirinnya, ngga ada yang bisa dibanggakan dari dirinya,” ucap Mamah. aku terlalu lelah menghadapi semua ini, hingga aku memutuskan untuk menghampiri mereka. “Kalian bisa ngga sih jadi kaya keluarga yang lain!? Aku capek.” Ujar ku dengan nada tinggi dan sedikit melirih di akhirnya. “Bisa kalau kamu udah mati nanti!” balas mamah dengan nada tinggi juga, itu membuat adek dan kakak ku keluar menghampiri kita bertiga. “Oke kalau itu yang mamah mau,” setelah berkata seperti itu, aku memutuskan untuk ke dapur dan mengambil pisau, lalu kembali kehadapan mereka Di depan mereka aku menyayat nadi ku sendiri, di depan pembuat luka dalam takdir ku kali ini. “Puas kalian lihat adek gue nyerah!?” sayup-sayup terdengar suara abang yang sepertinya di telpon oleh adek atau kakakku untuk datang. “Puas. Memang sudah seharusnya dia mati,” ujar mamah tanpa ada rasa bersalah. “Lara tolong bertahan ya, kita ke rumah sakit sekarang. Abis ini kamu tinggal sama abang, maaf abang selama ini cuek sama kamu,” ujar abang. “Abang ga usah minta maaf ya, meski abang ngga bikin aku bahagia, tapi abang juga ngga bikin aku sakit, jadi abang ngga salah. Abang maaf ya aku ga sekuat abang dalam melawan mereka,” ujar ku yang saat itu masih memiliki sedikit kesadaran. Aku masih mampu melihat raut wajah mereka, di mana hanya abang saja yang menangis. Sedangkan mamah terlihat puas dengan keputusan yang ku ambil, sedangakan ayah, adek, dan kakakku hanya diam. “Lala, Bunda maaf ya aku menyerah.” Setelahnya gelap mulai menghampiri, waktu ku di dunia telah usai. Semesta terima kasih untuk rasa sakit dan sedikit bumbu kebahagiaannya. Mari bertemu kembali di kehidupan berikutnya dengan rasa yang lebih baik. Refleksi Isi Bacaan 1. Siapa sajakah tokoh yang ada dalam cerita? 2. Bagaimana watak masing-masing tokoh yang ada? 3. Karakter siapa yang dapat kamu teladani dari cerita tersebut? 4. Kira-kira bagaimana perasaan Lara yang selalu tidak disukai oleh ibunya? Coba jelaskan 5. Bagaimana pendapatmu mengenai keputusan yang diambil Lara? Refleksi Diri 1. Apakah yang akan kamu lakukan, jika berada pada posisi Lara yang yang tidak disukai orang terdekatnya? 2. Apakah yang akan kamu lakukan, jika berada pada posisi Lala melihat keadaan temanmu yang tidak disukai orang terdekatnya? 3. Pernahkah kamu menjumpai Lara dalam kehidupan nyata? Coba jelaskan 4. Bagaimana perasaan kamu ketika tidak disukai orang terdekat kita atau bahkan orang yang kita sayang? 5. Pelajaran apa yang kamu peroleh setelah membaca cerita tersebut?


Justice King Justice King tumbuh seperti anak pada umumnya. Namun, orang di sekitarnya memperlakukan dia seperti orang asing. Hal itu terjadi saat Justice berusia 10 tahun tepat saat ibunya pergi demi pria lain. Ketika hal itu terjadi, banyak pertanyaan yang tidak bisa Justice tanyakan. Banyak juga pertanyaan yang tidak terjawab. Ini membuat Justice sedih hingga terlarut. Dia terus menangis. Ketika usianya menginjak 14 tahun, dia mulai melukai diri sendiri. Justice berharap, menyakiti fisik akan membuat sakit psikisnya sedikit terobati. Dia juga sempat berpikir untuk bunuh diri. Suatu hari, ayah Justice menemuinya, menghapus air matanya, dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Hal itulah yang menguatkan Justice untuk bangkit. Justice kini terus mengampanyekan tentang kesadaran bunuh diri agar tidak ada anak lain yang melakukan hal bodoh seperti yang pernah dilakukannya Refleksi Isi Bacaan 1. Siapa sajakah tokoh dalam kisah tersebut? 2. Apa yang dirasakan oleh Justice ketika ditinggal ibunya pergi? 3. Apa yang dilakukan Justice ketika usianya 14 tahun? 4. Bagaimana pendapatmu mengenai sikap Justice tersebut? 5. Apa yang dilakukan oleh ayah Justice? 6. Apa yang akhirnya Justice lakukan setelah dikuatkan oleh ayahnya? Refleksi Diri 1. Apa yang akan kamu lakukan jika berada dalam posisi Justice? 2. Apa yang akan kamu lakukan jika berada dalam posisi ayah Justice yang melihat orang terdekatnya sedih berlarut dan bahkan sampai melukai diri? 3. Jika kamu sempat berpikir untuk melukai diri sendiri atau bahkan berpikir untuk bunuh diri, apa yang akan kamu lakukan? 4. Pelajaran apa yang anda peroleh dengan membaca cerita diatas?


Click to View FlipBook Version