BAB I Selayang Pandang Suku Tengger merupakan salah satu suku di Indonesia yang hidup di sekitar lereng Gunung Bromo. Selain memiliki panorama yang indah, suku Tengger juga dikenal dengan suku yang memiliki kekayaan dan keberagaman budaya yang tetap lestari. Potensi inilah yang menarik para wisatwan untuk berkunjung ke Tengger. Meskipun memiliki keberagaman budaya dan sering dikunjungi oleh penduduk nonlokal, identitas
masyarakat Tengger masih tetap kental hingga saat ini. Secara lebih lanjut (Sutarto, 2006) mengemukakan bahwa indentitas masyarakat Tengger sangat kental di kalangan mereka, meskipun banyak wisatawan yang datang, mereka tetap memegang teguh keyakinan dan budaya mereka. Wujud pemertahanan identitas tersebut dapat dilihat pada realitas kehidupan masyarakat Tengger yang menjadikan ritual adat sebagai bagian tidak terpisahkan dari kehidupan. Dapat dikatakan bahwa semua ritual Tengger adalah bentuk ungkapan rasa syukur dan terima kasih masyarakat kepada Sang Maha Pencipta, bumi pertiwi, beserta segala isinya atas karunia kebahagiaan dan kemakmuran (Sukmawan, 2022). Salah satu ritual tersebut adalah Pujan kasanga. Pujan kasanga merupakan salah satu bentuk ritual yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat Tengger sebagai bentuk rasa syukur dan harapan agar suatu desa terhindar dari marabahaya (Sukmawan, 2022). Istilah Pujan kasanga diambil dari waktu pelaksanaan ritual yaitu pada bulan kasanga (kesembilan) pada kalender masyarakat Tengger. Apabila masyarakat Jawa menyebutnya sebagai bersih desa maka masyarakat Tengger menyebutnya sebagai Pujan kasanga. Sistem pelaksanaan Pujan kasanga sendiri dilaksanakan oleh setiap desa di wilayah Tengger. Keberlangsungan Pujan
kasanga juga mempertimbangkan luas wilayah desa. Misalnya pada Desa Ngadiwono yang melakukan ritual di desa karena ukuran desanya yang tidak cukup luas dan tidak terbagi menjadi dusun-dusun. Berbeda dengan Desa Tosari yang melaksanakan Pujan kasanga pada setiap dusun. Hal ini dikarenakan Desa Tosari memiliki wilayah yang cukup luas sehingga terbagi menjadi beberapa dusun, selain itu jarak tempuh antar dusun cukup jauh dengan medan yang menanjak. Sebagai ritual yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali, partisipasi masyarakat pada ritual Pujan kasanga tetap kekal dan bertumbuh. Pada pelaksanaan, masyarakat sekitar tidak hanya berperan sebagai peserta tradisi melainkan pelaksana, penyedia, dan penyokong tradisi. Pembagian tersebut tidak bersifat formal seperti adanya ketua, wakil, bendahara dan lain-lain, melainkan diusung secara bersama dengan cara bahu membahu. Namun, dalam proses nya terdapat peran yang berfungsi untuk mengkoordinasi segala persiapan dan pelaksanaan Pujan kasanga. Peran tersebut akan diampu oleh Pak Sanggar atau orang yang disepuhkan di desa. Peran Pak Sanggar dapat dilihat dari penyediaan tempat untuk memasak sesaji dan bertanggung jawab dalam menyiapkan keperluan untuk pelaksanaan Pujan kasanga seperti tempat, bahan, dan materi. Setiap desa akan
ditangi oleh Sanggar yang berbeda-beda. Maka dari itu, terdapat perbedaan pelaksanaan pada setiap desa. Hal ini dapat ditilik dari pelaksanaan Pujan kasanga di ketiga desa yakni Tlogosari, Ngadiwono dan Mororejo. Masyarakat Ngadiwono mengawali ritual di pintu masuk desa, sedangkan masyarakat Tosari melangsungkannya di perempatan dusun. Selain itu, perbedaan juga terletak pada pelaksanaan Pujan kasanga. Menurut penuturan dukun pandita Tosari, sebelum masuk pada prosesi Pujan kasanga masyarakat sekitar dusun akan melangsungkan ritual rakan tawang yang bertujuan untuk membukakan pintu bagi para leluhur. Prosesi ini tidak dihadirkan pada masyarakat Desa Ngadiwono. Namun, hal tersebut tidak mengurangi unsur sakralitas pada ritual. Selain itu perbedaan juga terdapat pada waktu dimulainya tradisi. Di desa Ngadiwono, Pujan kasanga dilaksanakan mulai sore hari hingga malam hari sedangkan, di Desa Tosari dan Mororejo pelaksanaan ritual dimulai setelah matahari terbenam. Perbedaan pelaksanaan ritual memang sudah tidak asing bagi masyarakat Tengger karena mereka hidup dengan menganut konsep Desakalapatra atau perbedaan kebiasaan yang ada pada setiap desa. Meskipun demikian, masyarakat Tengger selalu
melangsungkan Pujan kasanga secara serentak di hari yang sama. Secara univeral ritual Pujan kasanga akan dimulai dengan tahapan pra acara atau persiapan, Pujan mubeng atau pembukaan, mubeng desa, beboreh dan dedhahar sareng. Namun tahapan-tahapan tersebut dapat berbeda pada setiap desa. Adapun hal-hal yang harus dipersiapkan adalah sesaji yang terdiri dari kue pasung, pipis, tetelan, pisang ayu, beras kuning, ayam pancawarna, sego liwet, puncuk bakal, pras among, pras goreh, pras pertula, pras tebusan, juaddah kirik, hasil alam dan tumbak songo. Dari beberapa sesaji tersebut terdapat salah satu sesaji yang khas dalam ritual Pujan kasanga yaitu juaddah kirik. Juaddah kirik merupakan makanan khas Tengger yang dibentuk menyerupai anjing dan berwarna hitam. Biasanya juaddah kirik ini dibuat dengan menggunakan bahan dasar jagung putih. Juaddah kirik ini merepresentasikan perbuatan buruk atau hal-hal yang jahat. Pada prosesi selanjutnya, juaddah kirik ini akan dikubur di tempat yang dianggap sakral guna menjauhkan bala-bala atau unsur-unsur keburukan dari desa. Juaddah kirik kemudian didampingi oleh tumbak songo yang ditancapkan pada sekeliling tempat mengubur. Pada konteks ini tumbak songo dimaknai sebagai simbol senjata Dewata Nawa Sanga yang akan
menjaga hal-hal buruk agar tetap pada tempatnya. Keunikan ritual Pujan kasanga juga terlihat dari adanya peralatan yang digunakan untuk bersih-bersih seperti cangkul dan sapu lidi. Alat-alat tersebut akan menjadi properti masyarakat dalam memeragakan kegiatan bersih-bersih sepanjang mubeng desa. Jadi, pada masyarakat Tengger ritual bersih desa dimaknai secara harfiah sebagai kegiatan membersihkan desa yang diwujudkan dengan adanya pertunjukkan membersihkan desa. Selain itu, peralatan bersih-bersih juga terdapat kentongan dan obor. Sistem pelaksanaan Pujan kasanga dimulai dengan masyarakat desa yang berkumpul di pintu masuk desa, perempatan jalan atau tempat yang sudah disepakati oleh masing-masing desa. Selanjutnya dukun pandita akan membacakan mantra untuk persiapan Pujan mubeng dan penguburan juaddah kirik. Pada Pujan kasanga Desa Ngadiwono, masyarakat akan melakukan mubeng desa satu kali sebelum prosesi penguburan juaddah kirik. Berbeda dengan masyarakat Desa Tosari yang melakukan mubeng desa setelah prosesi penguburan juaddah kirik. Pada tahapan ini pula, dukun pandita membacakan mantra pada air yang akan digunakan untuk beboreh. Boreh berisikan tiga macam bunga yaitu kenanga, kantil dan melati. Ketiga bunga tersebut
disebut dengan sekar boreh (Sukmawan, 2022). Air bunga yang telah dimantrai tersebut kemudian dipercikkan oleh dukun pandita kepada masyarakat pada saat mengitari desa atau mubeng desa. Tahapan terakhir pada ritual Pujan kasanga adalah dhedhar sesareng yang diselenggarakan di kediaman dukun pandita. Makanan yang disediakan juga beragam karena merupakan makanan yang semula dibawa oleh masyarakat sekitar desa untuk kemudian dikumpulkan menjadi satu (Sukmawan, 2022). Konsep dedhahar sesarengan ini adalah prasmanan atau masyarakat dapat mengambil olahan makanan sesuai selera. Adapun olahan makanan tersebut bersifat beragam karena tidak ada ketentuan khusus dalam hal ini dan masyarakat sekitar dibebaskan membawa makanan jenis apapun.
BAB II Fiksi Naratif Tradisi Pujan kasanga Pada proses pelaksanaanya Pujan kasanga merupakan tradisi yang mengandung unsur-unsur sastra yakni sastra lisan dan sastra pertunjukkan. Unsur sastra lisan pada Pujan kasanga terletak pada mantra yang dibacakan oleh dukun pandita, selain itu pada prosesi penanaman
juaddah kirik juga terdapat unsur-unsur sastra berupa mitos yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Juadah merupakan sajian tradisional masyarakat Tengger yang terbuat dari tepung jagung. Dalam tradisi Pujan kasanga kue juaddah digunakan sebagai representasi roh jahat dan penjaga desa. Juaddah yang semula berbentuk sederhana, kemudian dimodifikasi menjadi bentuk kirik atau anjing. Dalam tradisi Pujan kasanga Juadah Kirik pada tradisi Pujan Kasanga disimbolkan sebagai anjing hitam. Warna hitam dapat dimaknai sebagai keburukan dan kejahatan. Pemilihan hewan anjing didasarkan pada sifat dasar yang dimiliki hewan tersebut. Secara sekilas, istilah anjing seringkali dikaitkan dengan hewan yang jahat, namun jika damati secara lebih teliti anjing mempunyai jiwa empati dan kebaikan yang tinggi kepada manusia. Oleh karena itu, pemilihan hewan anjing sebagai representasi roh jahat dilatarbelakangi oleh keseimbangan perilaku yang dimiliki oleh anjing. Selain itu, pemilihan bentuk anjing juga dilatar belakangi oleh konsep rwa bhineda yang dianut oleh masyarakat Tengger. Konsep rwa bhineda merupakan Konsep Rwa Bhineda merupakan konsep dualistis yang menyebabkan dunia menjadi harmoni (Ardana, 2012). Rwa bhineda merupakan konsep dalam memahami kebenaran yang multitafsir (Ardana, 2012). Dalam konteks masyarakat
majemuk, fenomena memahami kebenaran yang tumbuh akan menjadi kelemahan apabila tidak didasari dengan konsep rwa bhineda. Pada tradisi Pujan kasanga sesaji juaddah kirik diartikan sebagai penjaga desa sekaligus roh jahat yang akan mengganggu desa. Prosesi mendhem atau penanaman juaddah dimaksudkan untuk menjaga roh jahat agar tidak mengganggu desa. Penjaga ruh jahat tersebut direpresentasikan pada sembilan senjata yang mengelilingi juaddah kirik. Kesembilan senjata tersebut sering dikenal dengan sebutan senjata Nawasanga. Berdasarkan kondisi tersebut, Pujan kasanga mengandung aspek fiktif yang dapat dinarasikan karena terdapat salah satu unsur intrinsik cerita yakni tokoh. Tradisi Pujan kasanga dapat digambarkan sebagai perjalanan kisah penjaga desa bernama Kirik yang berusaha melawan roh jahat karena telah menganggu desa dengan menggagalkan hasil panen warga. Namun, karena ketidakseimbangan kekuatan yang dimiliki sang penjaga akhirnya kalah dan tumbang. Tubuhnya yang pingsan kemudian dijadikan tempat tinggal dan dikuasi oleh roh jahat. Dukun pandita yang mengetahui hal tersebut segera memerintahkan masyarakat untuk mengubur tubuh Kirik. Sebagai langkah preventif, dukun
pandita dan masyarakat melakukan ritual menyucikan desa dan memanggil sembilan penguasa untuk menjaga roh halus agar tetap di dalam tanah. Cerita fiktif tersebut dapat disajikan dengan menarik kepada generasigenerasi mudah di desa sekitar. Berdasarkan pengamatan, mayoritas generasi muda cenderung tidak memiliki ketertarikan untuk memahami esensi dari pelaksanaan tradisi. Maka dari itu pengalihwahanaan tradisi ke dalam cerita-cerita fiksi akan lebih mudah dipahami oleh generasi muda. Pendapat ini didukung oleh Brown (2018:63) yang menyatakan bahwa teks naratif fiksi dapat mengatasi kompleksitas dan nuansa yang sulit diungkapkan melalui bentuk tulisan lainnya. Namun dalam proses pengalihwahanaan tersebut tetap memperhatikan aspek-aspek nilai luhur dan sejarah yang terkandung dalam tradisi. Untuk menciptakan teks narasi yang kompleks, hal-hal yang perlu diperhatikan secara detail (Sukmawan, 2016:38) diantaranya yakni (1) penggarapan tema yang harus terkandung dalam struktur teks, seperti narasi dan dialog; (2) pelukisan tokoh yang ringkas dan tepat; (3) penggunaan latar yang ringkas sehingga esensial dan nyata; (4) penciptaan suasana dramatik untuk dapat menyebabkan perubahan dalam hubungan antar tokoh; (4) penciptaan konflik yang hidup sehingga
tujuan dari tokoh protagonis jelas; (5) menentukan motivasi tokoh utama; dan (6) penentuan rintangan untuk tokoh utama. Selain itu, dalam aktivitas pengalihwahanaan juga memerlukan peran sejarah dari tempat yang dijadikan objek alihwahana. Misalnya pada Desa Ngadiwono yang memiliki diagram panen tidak selalu pada posisi optimal, masyarakat Ngadiwono juga mengalami saat kondisi panen tidak memuaskan. Maka dari itu, tradisi Pujan kasanga diharapkan dapat mengembalikan keseimbangan alam yang telah tercipta. Selain beroreintasi pada konteks sejarah, aspek budaya juga menduduki peran penting dalam kegiatan alihwahana tradisi ke dalam teks narasi. Dalam teks cerita digambarkan adanya aktivitas bahu-membahu dalam menyelesaikan masalah dan upaya mufakat. Kedua kebiasaan ini telah menjadi ciri khas masyarakat Tengger dan tetap lestari hingga saat ini. Maka dari itu, dapat disimpulkan amanat dalam cerita Pujan kasanga adalah dalam setiap kehidupan pasti terdapat sisi negatif dan positif. Untuk mencapai harmonisasi kehidupan, kedua sisi tersebut harus seimbang. Suatu hal buruk yang tidak diimbangi dengan kebaikan maka hal buruk akan semakin menguasai jiwa dan tubuh manusia.
BAB III Sesaji Pujan kasanga sebagai Dimensi Kehidupan Masyarakat Tengger Masyarakat Tengger merupakan masyarakat multikultural (Sukmawan, 2021). Masyarakat majemuk sendiri didefinisikan sebagai kumpulan individu atau kelompok-kelompok yang beragam dan berbaur namun tidak menjadi satu (Suparlan, 2002). Tidak menjadi satu dapat diartikan sebagai sikap setiap kelompok dalam mempertahankan kebudayaan, adat istiadat dan agama masing-masing dalam satu wilayah yang sama. Sikap
mempertahankan tersebut akan menimbulkan tumbuhnya lebih dari satu budaya dalam satu lingkup wilayah atau dapat disebut dengan pluralisme budaya. Kemajemukan budaya atau pluralisme budaya adalah konsep yang mengacu pada keberagaman budaya, agama, bahasa, tradisi, dan kepercayaan di dalam suatu masyarakat. Pengakuan kemajemukan pada sebuah masyarakat dapat dijadikan salah satu indikator bahwa multikulturalisme telah hidup dalam masyarakat tersebut (Baidhawy, 2005). Kemajemukan masyarakat Tengger dapat terlihat dari adanya diferensiasi agama, tata cara hidup dan kebiasaan. Sebagai salah satu ritual warisan dari leluhur, Pujan kasanga tidak hanya dipandang sebagai hal wajib yang harus dilakukan. Secara tidak langsung Pujan kasanga telah memberikan pengaruh terhadap tingkah laku masyarakat. Pujan kasanga telah menjelma sebagai alat kontrol sosial memiliki kedudukan penting dalam masyarakat majemuk. Ajaran-ajaran yang terkandung dalam Pujan kasanga direpresentasikan ke dalam kompleksitas sesaji seperti ayam pancawarna, pasung, pipis, cok bakal dan lain-lain. Ajaran-ajaran tersebut diturunkan oleh nenek moyang secara titiluri. Lebih lanjut (Hasanah & Sukmawan, 2020) menjelaskan titiluri merupakan sebuah
bentuk pewarisan berdasarkan nenek moyang secara turun temurun. Maka dari itu, dalam sesaji-sesaji tersebut tidak jarang ditemukan ideologi dan maknamakna yang unik. Masyarakat Tengger menjadikan ajaran-ajaran leluhur ke dalam kehidupan sehari-hari. a. Ideologi Papat Limo Pancer dalam sesaji Ayam Pancawarna Tengger merupakan suku yang memiliki kekayaan tradisi. Dalam satu tahun, terdapat 12 ritual yang harus dilaksanakan. Jumlah tersebut belum termasuk ritual-ritual rutin lainnya. Keberagaman ritual tersebut menyimpan masingmasing keuinikan di dalamnya. Mulai dari aspek pelaksanaan, sesaji, dan praktik ritual. Salah satu keunikan tersebut terdapat pada tradisi Pujan kasanga. Selain pada aspek pertunjukkan, keunikan ritual juga direpresentasikan ke dalam bentuk sesaji yang digunakan. Pada ritual Pujan kasanga penggunaan hewan untuk sesaji merupakan aspek unik dalam ritual. Penggunaan ini didasarkan pada kepercayaan bahwa hewan memiliki perasaan, dan memiliki arti penting bagi kehidupan manusia (Webster, 2005). Pada fokus sebelumnya, terdapat istilah kirik atau anjing dalam Bahasa Jawa. Kirik dimaknai sebagai simbol
kebaikan dan keburukan yang selalu hadir dalam kehidupan. Selain anjing, terdapat pula sesaji berupa ayam pancawarna yang menjadi daya tarik Pujan kasanga. Ayam dipilih sebagai objek sesaji karena dalam bahasa lokal, kata "ayam" memiliki arti "ayem" yang berarti damai. Pada dasarnya ayam adalah hewan yang memiliki makna netral, namun makna tersebut akan berubah jika ayam digunakan sebagai media dalam suatu upacara. Yang semula memiliki makna netral menjadi simbol yang sarat dengan makna dan pesan spiritual. Dalam upacara, penggunaan lambang ayam didasarkan pada dua tujuan, (1) bermanfaat bagi ayam tersebut sehingga dapat meningkatkan kehidupannya di masa depan dan (2) bermanfaat bagi kesejahteraan umat manusia agar kualitas hidup di dunia tidak mengikuti sifat-sifat kebinatangan, sehingga kualitas hidup lebih sempurna (Warta, 2018). Ayam dipercaya memiliki kemampuan untuk membawa kedamaian bagi alam sedangkan, kata panca memiliki arti lima. Berdasarkan asal katanya, ayam pancawarna dapat diartikan sebagai ayam yang memiliki lima warna pada bulunya. Warna-warna tersebut
adalah warna putih, hitam, merah, kuning dan hijau. Pemilihan kelima warna tersebut mengandung makna dimensi kehidupan masyarakat Tengger yang majemuk. Kelima warna dalam ayam pancawarna dapat dimaknai sebagai perbedaan pemikiran, ide, karakteristik, kepercayaan, pemikiran, gagasan yang dibawa oleh masing-masing penduduk Tengger. Warna dapat digunakan sebagai sarana dalam berkomunikasi dan dapat dijadikan sebagai simbol atau perlambangan tradisi atau pola tertentu yang bersifat dinamis. Budaya Jawa identik dengan warna putih, merah, kuning, hitam, dan hijau. Setiap warna tersebut memiliki makna berbeda. Dalam pandangan masyarakat Jawa warna putih dilambangakan sebagai kebersihan dan kesucian.Warna merah diyakini sebagai perlambangan warna darah yang dikonotasikan sebagai kemakmuran. Warna kuning pada masyarakat Jawa bermakna ketuhanan, kemuliaan, dan keluhuran. Warna hitam dimaknai sebagai warna kebijaksanaan karena dianggap mampu memimpin. Warna hijau dimaknai sebagai simbol alam, kesuburan, dan harapan hidup. Hal ini dimaksudkan bahwa
manusia selalu hidup berdampingan dengan alam dan semua yang dibutuhkan manusia bersumber dari alam. Kelima warna tersebut juga dapat dimaknai sebagai arah mata angin. Warna putih melambangkan arah Timur, warna merah melambangkan arah Selatan, warna kuning melambangkan arah Barat, warna hitam melambangkan arah Utara dan warna hijau atau waran gelap lainnya menjadi lambang arah Tengah. Perbedaan arah tersebut dimaknai sebagai latar belakang yang dibawa oleh penduduk Tengger. Asumsi tersebut sejalan dengan falsafah masyarakat Jawa yang mengenal konsep sedulur papat limo pancer. Masyarakat Jawa meyakini bahwa ketika manusia dilahirkan terdapat pendamping yang disebut dengan sedulur papat yaitu kakang kawah (yang paling tua), getih (darah), tali pusar yang, dan adi ari-ari (paling muda) (Isnaini, 2021). Falsafah Jawa tersebut berkaitan dengan kehidupan manusia yang selalu ditemani oleh kadang papat limo pancer (kawah, getih, puser dan adi ari-ari). Pancer dapat diartikan sebagai pusat yang dalam konteks ini adalah ego atau manusia itu sendiri. Masyarakat Jawa
percaya bahwa kadang papat ini sejalan dengan arah kiblat manusia. Secara lebih lanjut (Endraswara, 2018) mengemukakan bahwa kawah dibaratkan sebagai warna putih, berada di sebelah Timur atau wetan. Kawah inilah yang mengawali kelahiran manusia dan pembuka jalan. Getih atau darah dilambangkan sebagai warna merah, berada di sebelah Setalan. Puser atau tali pusar diibaratkan sebagai warna hitam, di sebelah Barat dan adhi ari-ari berwarna kuning, berada di arah Utara. Kadang papat limo pancer ini juga dapat dimaknai sebagai representasi kisah kelahiran empat tokoh wayang kulit yaitu Dasamuka, Kumbakarna, Sarpakenaka dan Wibisana. Tokohtokoh tersebut merupakan pelambangan dari empat jenis nafsu yang menyertai hidup manusia, diantaranya adalah amarah, aluamah, sufiah dan mutmainah (Endraswara, 2018). Empat jenis nafsu tersebut dibawa oleh manusia berdasarkan hingsun masing-masing. Hingsun sejatinya adalah manusia yang merupakan karya dari Gusti Yang Maha Agung (Jawabija, 2018). Secara singkat hingsun dapat dimaknai sebagai penuntun yang selalu memberi titah atau pesan dalam diri
manusia yang bersifat tidak memaksa. Segala keputusan untuk mengikuti atau tidak mengikuti tuntunan hingsun ada pada manusia itu sendiri. Dalam terminologi Jawa menyatakan Gusti kang murba, manungsa kang wasesa (Jawabija, 2018). Manusialah yang memutuskan tindakan dan langkahnya. Dengan rancangan tersebut, maka kehidupan di Bumi menjadi sangat dinamis dan penuh warna. Sejalan dengan hal tersebut Keith Daivis dan John W. Newstrom dalam (Rosmayudi, 2022) menyebutkan bahwa setiap individu di dunia tidak ada yang sama dan memiliki keunikan masing-masing. Oleh karena itu pada setiap kelompok masyarakat akan terdapat perbedaan gagasan, karakteristik,dan pola pikir. Keberagaman tersebut disatukan di titik pusat untuk mencapai harmonisasi kehidupan. Pemersatuan tersebut tercermin dalam prosesi penguburan sesaji yang dilakukan di pertigaan desa. Pemilihan pertigaan desa sebagai tempat penguburan sesaji dilatarbelakangi oleh perspektif masyarakat yang menganggap bahwa pertigaan desa merupakan tempat bertemunya segala perbedaan yang telah dibawa oleh masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan
menguburkan ayam pancawarna kental dengan nilai sosial khususnya nilai pemersatuan atas segala perbedaan masyarakat Tengger. Pemersatuan masyarakat Tengger tidak terlepas dari moral yang tumbuh dalam diri setiap masyarakat yaitu sikap toleransi yang tinggi dan kasih sayang yang terjalin antar masyarakat b. Tamping sebagai wadah harmoni kehidupan Sesaji merupakan aktualisasi dari pikiran, keinginan, dan perasaan manusia untuk lebih mendekatkan jiwanya kepada sang pencipta (Adam, U.J., et al, 2019). Jadi, dapat disimpulkan bahwa sesaji adalah kegiatan menyajikan makanan, minuman, atau benda-benda sebagai media komunikasi dengan makhluk halus dalam rangka membangun suasana yang sakral. Pada masyarakat Jawa, sesaji umumnya berwujud makanan dan minuman yang dibacakan doa atau mantera. Karena sifatnya yang sakral, cara pengadaan, pembuatan, dan penyajian sesaji tidak dilakukan secara sembarang. Ketentuan dari cara pembuatan hingga cara penyajian sesaji dilakukan sesuai dengan apa yang diwariskan leluhur masing-masing. Eksistensinya sebagai unsur penting dalam ritual menjadikan sesaji
kerap dihadirkan di tempat-tempat sakral, dapur, kamar mandi, pertigaan dan perempatan jalan dengan tujuan menolak bala atau nasib buruk. Dalam konteks Pujan kasanga, sesaji-sesaji yang dihadirkan memiliki kompleksitas tersendiri. Selain juaddah kirik dan ayam pancawarna terdapat sesaji lainnya seperti kue pasung, pepes, tetelan, boreh, apem, pisang, bra-kulup, nasi, dan lauk pauk. Keseluruhan sesaji tersebut terintegrasi pada sebuah wadah yang disebut dengan tamping. Tamping merupakan wadah berupa daun pisang dan dibawa saat prosesi pujan mubeng (berkeliling desa) untuk diletakkan di danyang serta setiap pertigaan dan perempatan jalan desa yang dilewati. Eksistensi tamping dalam tradisi Pujan Kasanga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan danyang (leluhur) agar tidak mengganggu ketentraman hidup manusia. Masyarakat Tengger percaya, jika tamping tidak dihadirkan dalam prosesi Pujan Kasanga, maka akan mengundang bala atau kesialan berupa bencana alam. Tamping-tamping yang dibuat akan ditaruh di danyang-danyang atau tempat sakral, serta perempatan dan pertigaan jalan yang dilalui Ketika Pujan Mubeng.
Tamping dapat dimaknai sebagai wadah dari harmonisasi kehidupan masyarakat Tengger yang direpresentasikan ke dalam bentuk sesaji. Hal tersebut dapat terlihat dalam sesaji juaddah yang menjadi komponen utama dalam tamping. Simbol juaddah dapat diartikan sesuai dengan warna juaddah. Pada bentuk konkretnya, juaddah terbagi ke menjadi empat warna yakni putih, merah, biru, dan hitam. Masing-masing warna tersebut memiliki makna yang berbeda. Juaddah putih berarti darah putih pria yang menjadi cikal bakal atau bibit kehidupan manusia. Juaddah merah dapat dimaknai sebagai cairan darah yang dikeluarkan wanita saat melahirkan keturunan. Makna Kama Bang atau warna merah menurut agama Hindu adalah lambang unsur penciptaan yaitu ovum sebagai aspek kebendaan dalam makhluk hidup. Kemunculan warna merah tersebut dilandasi karena adanya warna putih yang bermakna sebagai cikal bakal jiwa makhluk hidup yang berasal dari laki-laki. Gabungan kedua warna tersebut akan menghasilkan juaddah biru yang dimaknai sebagai anak yang baru lahir. Berdasarkan filosofi ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa juaddah menggambarkan proses penciptaan makhluk hidup untuk dapat hadir ke bumi.
Dalam sesaji juaddah tersebut terdapat makna gender yang diungkapkan secara langsung. Gender tidak hanya mengacu pada pebedaan biologis manusia melainkan juga mengacu pada peran, perilaku dan karakteristik sosial yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Menurut Karja (2021), filosofi warna merah menurut agama Hindu berarti kemuliaan, kemarahan, keberanian dan cinta. Jika ditilik dari persepktif gender, filosofi warna merah cenderung mengarah pada karaktersitik yang dimiliki oleh seorang ibu. Pada masyarakat Tengger, peran ibu tidak hanya sebagai perempuan yang emosional dan penuh cinta namun juga berani dan bertanggung jawab. Hal ini dapat tercermin dari kehidupan para perempuan Tengger yang turut serta menjadi kontributor yang penting dalam keberlangsungan tradisi tanpa melupakan tanggungjawabnya sebagai ibu. Keberanian perempuan Tengger juga terlihat dari proses melahirkan seorang anak yang membutuhkan taruhan nyawa. Selain menggambarkan karakteristik seorang ibu, juaddah juga menggambarkan adanya kehadiran laki-laki dalam kehidupan. Hal ini dapat terlihat dari adanya juaddah berwarna putih yang digunakan untuk sesaji. Warna putih dalam juadah mewakili gender laki-laki yang mencerminkan ketulusan dan kesucian tugas sebagai seorang ayah dan kepala keluarga. Selain kesucian peran darah putih,
perilaku seorang ayah di Tengger yang dilakukan tanpa pamrih turut merepresentasikan juadah putih. Para lelaki berperan dalam mendampingi dan membantu kegiatan wanita secara domestik maupun non-domestik. Karena wanita memiliki kelebihan berupa peka terhadap kenikmatan olahan, maka para lelaki membantu menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. Disamping sesaji juaddah, komponen utama yang menggambarkan keselelarasan kehidupan adalah sesaji pasung dan pepes. Pasung berasal dari bahan tepung jagung dan campuran tepung ketan, sedangkan pepes berasal dari tepung jagung dan campuran tepung beras. Pasung dengan bentuk kerucut digunakan sebagai simbol kelamin pria. Sedangkan pepes yang berbentuk persegi digunakan sebagai simbol kelamin wanita. Jika juadah memiliki makna penciptaan manusia di dunia, pasung dan pepes menjadi pelengkap dan pemantik penciptaan yaitu kejantanan dan kesuburan kelamin pria serta kesuburan wanita dalam proses menghasilkan keturunan. Kue pasung dan pepes menjadi simbol dari lingga dan yoni (Sukmawan, 2022). Sebutan lingga yoni merujuk pada benda budaya yang memiliki dua
unsur, yakni benda kerucut yang ditegakkan menancap pada benda berbentuk persegi panjang. Yoni merupakan tinggalan arkeologis masa klasik dengan latar belakang Agama Hindu. Yoni digambarkan dalam wujud khas yang umumnya berupa batu yang dipahat menyerupai meja dengan lubang ditengah pada sisi atas serta memiliki cerat. Yoni melambangkan feminisme, sedangkan Lingga yang melambangkan maskulin. Menurut Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah (2009), jika lingga merupakan manifestasi dari Dewa Siwa, maka Yoni merupakan manifestasi dari sakti Dewa Siwa atau yang dikenal dengan Dewi Parwati. Visualisasi tersebut sesuai dengan pasung yang berbentuk kerucut dan pepes yang berbentuk persegi panjang. Hubungan keduanya juga didukung dengan tata letak sesaji yang selelu menghadirkan pasung bersandingkan dengan pepes. Berdasarkan kondisi ini dapat disimpulkan bahwa kedua kue ini memiliki peran yang tidak dapat dipisahkan. Dalam latar Pujan kasanga perempuan menduduki peran yang sangat penting dalam keberlangsungan suatu ritual. Selama ini, perempuan berperan sebagai penentu keberhasilan dan terlaksananya
ritual demi ritual (Febriani, 2018). Namun, suatu ritual juga tidak hanya terdiri dari sesaji melainkan juga piranti-piranti lainnya. Tugas mempersiapkan piranti seperti cangkul, sapu lidi, obor, sound system dan alat-alat lainnya diemban oleh laki-laki. Dengan adanya kegiatan bahumembahu antara perempuan dan laki-laki maka, akan menciptakan keseimbangan dalam kehidupan baik dalam berumah tangga, sosiokultural dan rutinitas ritual keagamaan. Selain mewadahi hubungan antar manusia, tamping juga mewadahi hubungan manusia dengan alam yang digambarkan melalui sesaji bra-kulup. Bra terdiri dari ucet atau biji buncis, sedangkan kulup yaitu sayur kubis yang direbus. Bra dan kulup mewakili eksistensi tumbuhan yang merupakan salah satu unsur biotik yang paling penting dalam ekosistem. Tumbuhan yang merupakan salah satu komponen pembentuk ekosistem saling berinteraksi dengan komponen biotik maupun abiotik lainnya membentuk hubungan yang harmonis berupa keteraturan ekosistem (Butarbutar dan Soemarno, 2013). Manusia sebagai makhluk hidup yang memiliki akal sehat dan kemampuan melakukan tindakan
memegang tanggung jawab menjaga keteraturan ekosistem untuk keberlangsungan hidup semua jenis makhluk hidup. Hal selaras mengakar pada pemikiran masyarakat Tengger yang mayoritas berprofesi sebagai petani. Tindakan merawat, melestarikan, dan memanfaatkan hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup merupakan perwujudan dari ketergantungan masyarakat terhadap alam, terutama tumbuhan. Unsur pada tamping selanjutnya yang menyiratkan hubungan ekologis masyarakat Tengger dengan alam adalah pisang. Buah berkulit kuning ini menjadi salah satu komponen yang wajib disertakan bukan hanya pada tamping, namun juga pada jenis sesaji lainnya. Pisang melambangkan tata surya yang berfungsi menyokong segala jenis kehidupan di dalamnya, salah satunya kehidupan manusia. Pisang dikatakan sebagai simbol alam pada satu sisi, di sisi lainnya, manusia dikatakan sebagai simbol kehidupan, sejajar dengan keberadaan manusia dengan pangan atau keberadaan binatang dengan makanan (Sukmawan, 2018). Integrasi sesaji-sesaji pada tamping mengisyaratkan bahwa isu multikulturalisme
dapat menjadi kekayaan yang unik apabila dapat disikapi dengan bijak. Komponen-komponen sesaji dalam tamping dapat dimaknai sebagai hubungan masyarakat Tengger dengan sesama dan hubungan dengan alam. Kerukunan yang terjalin antar masyarakat Tengger ditopang oleh keberagaman tradisi yang tetap lestari hingga saat ini. Hal ini sesuai dengan esensi dari tradisi yang menjadi penguat hubungan antar sesama warga Tengger (Sukmawan H. , 2021). Tradisi-tradisi tersebut digunakan sebagai ajang untuk mempererat persaudaraan dan kerununan dalam keberagaman. Salah satu tradisi yang mengandung nilai multikulturalisme adalah tradisi Pujan kasanga.
BAB IV Pujan kasanga sebagai piranti pemersatuan Pujan kasanga merupakan salah satu ritual besar yang digelar masyarakat Tengger dan dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat Tengger tanpa memandang perbedaan keyakinan atau kepercayaan (Illiyyin et al., 2019). Kerukunan ini nampak pada proses pelaksanaan ritual Pujan kasanga yang melibatkan tiga kepercayaan (Islam, Kristen dan Hindu) di dalamnya. Pada prosesi
Pujan kasanga di Desa Mororejo, pembacaan doa atau mantra diucapkan oleh dua pemangku agama yaitu agama Islam dan Hindu. Mulanya dukun pandita akan membacakan mantra kemudian disusul dengan pembacaan doa oleh pemangku agama Islam. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Tengger mempunyai sikap toleransi yang sangat tinggi. Sikap toleransi menjadi pondasi yang penting pada masyarakat multikultural karena dengan adanya hal ini akan meminimalisir adanya diskriminasi oleh suatu golongan. Toleransi merupakan sikap positif yang memperlihatkan rasa hormat terhadap perbedaan, serta berupaya untuk menghindari konflik dan membangun kerjasama yang saling menguntungkan (Said, 2003). Bentuk toleransi yang tumbuh pada masyarakat Tengger tidak hanya sebatas menghormati masyarakat lain ketika beribadah, namun juga merelakan sebagian haknya untuk masyarakat lain. Dalam hal ini hak yang diberikan adalah waktu. Hal ini nampak pada pelaksanaan Pujan kasanga di Desa Mororejo yang dimulai saat waktu solat umat muslim selesai (ba’da isya). Hal ini juga nampak pada pelaksanaan Pujan kasanga di Desa Tosari yang turut serta mengundang masyarakat muslim maupun kristen. Masyarakat sekitar juga saling bahu membahu dalam membantu keberlangsungan
ritual kepercayaan yang bahkan tidak mereka peluk. Berdasarkan kondisi ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan menghargai perbedaan dan mencari kebenaran masyarakat multikultural berada pada tataran yang lebih tinggi dibandingkan pada masyarakat yang monokultural. Tidak terdapat istilah benar dan salah pada masyarakat multikultural. Keseluruhan berjalan sesuai keyakinan masing-masing namun tetap menghargai keyakinan-keyakinan lain yang telah ada.
DAFTAR PUSTAKA Adam, U. K. (2019). Sesajen sebagai Nilai Hidup Bermasyarakat di Kampung Cipicung Girang Kota Bandung. IJSED: Indonesian Journal of Sociology, Education, and Development. Ardana. (2012). Sekala Niskala: Realitas Kehidupan dalam Dimensi Rwa Bhineda. Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni, 8(1), 140. Baidhawy. (2005). Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural. Jakarta: Erlangga. Brown, A. (2018). Exploring Depth: Narrative Complexity in Comtemporary Fiction. London, UK: XYZ Press. Butarbutar, R. R. (2013). Pengaruh Aktivitas Wisatawan Terhadap Keanekaragaman Tumbuhan di Sulawesi. Journal of Indonesian tourism and Development studies. Endraswara. (2018). Mistik Kejawen. Yogyakarta: PT Buku Seru. Febriani, d. (2018). Perempuan-perempuan Pemeluk Erat Adat: Studi Etnografi Perempuan Tengger. Linguista, 2(1), 1-10.
Hasanah, & Sukmawan. (2020). Titiluri Tengger: Aktualisasi Tradisi, Refleksi Jati Diri dan Strategi Konservasi. LINGUA: Journal of Language, Literature, and Teaching, 17(2), 157-168. Illiyyin et al. (2019). Studi Etnobotani pada Upacara "Pujan Kasanga" di Desa Tosari Pasuruan. EJournal Ilmiah BIOSAINTROPIS (BIOSCIENCETROPIC), 4, 1-7. Isnaini. (2021). Air dan Makna Sedulur Papat Limo Pancer. Istiwianah. (2017). Tari Bantengan dalam Upacara Tolak Balak di Kabupaten Mojokerto. Seminar Nasional Seni dan Desain: "Membangun Tradisi Inovasi Melalui Riset Berbasis Praktik Seni dan Desain" (p. 153). Surabaya: FBS Unesa. Jawabija. (2018, November 14). word.press.com. Retrieved May 26, 2023, fromjawabija.wordpress.com:https://jawabija.wo rdpress.com/2018/11/14/kasunyatan-diri/ Karja, I. W. (2021, November). Makna warna. In Prosiding Seminar Bali-Dwipantara Waskita (Vol. 1, No. 1).
Rosmayudi, d. (2022). Perilaku Organisasi. Bandung: CV. Widina Media Utama. Said, A. A. (2003). Membangun Masyarakat Madani: Konsep, Strategi dan Impelemntasinya. Jakarta: Paramadina. Sukmawan, H. (2021). Berbingkai Kemajemukan Budaya, Bersukma Desakalapatra: Selidik Etnografi atas Tradisi Tengger. DIGLOSIA, 4(01), 79-90. Sukmawan, Sony. (2016). Menyemai Benih Cinta Sastra. Malang: Universitas Brawijaya Press. Sukmawan, d. (2022). Mendaras Puja, Mengemas Tamasya: Potensi Gastro-Sastra Wisata. Malang: UB Press. Sukmawan et al. (2018). Green Folklore. Malang: UB Press. Sukmawan, Sony. (2016). Menyemai Benih Cinta Sastra. Malang: Universitas Brawijaya Press. Suparlan. (2002). Multikulturalisme. Jurnal Ketahanan Nasional, 6(1). Sutarto. (2006). Sekilas tentang Masyarakat Tengger. Makalah Disampaikan Dalam Pembekalan Jelajah, https://doi.org/10.1016/S1367-9120(03)00101-9.
Warta, I. N. (2018). Makna Ayam Dalam Upacara Agama Dan Keagamaan Masyarakat Hindu Di Bali. Widya Aksara: Jurnal Agama Hindu, 23(1). Webster, J. 2005. Animal Welfare Limping Towards Eden. 2nd Edition. Blackwell Publishing. University of Bristol UK.