“WATU YANO”
PENGANTAR Ceritera-ceritera yang termuat dalam buku ini sudah dikenal masyarakat Pamona melalui tuturan turun-temurun dan ada pula sebagian yang tertulis untuk memperlengkapi bahasan dalam tulisan Dr. Albert C. Kruyt (Wawo nTana), tetapi singkat-singkat saja. Dari tuturan warga Pamona dan buku ini penulis berupaya mengangkatnya dan memperluas pembahasa-annya agar lebih menarik bagi pembaca. Ada ceritera yang bernuansa sejarah bahkan dianggap sebagai sejarah pada hal belum memenuhi kriteria sejarah, ada karena gejala-gejala alam serta bentukan alam dan manusia yang menginspirasi penutur menyusun ceritera dan ada pula yang bersifat mithos/legenda (dongeng) semata. Di seputaran danau Poso, terdapat sejumlah ceritera, akan tetapi pada kesempatan melalui tulisan ini tentu belum dapat merangkum semuanya disebabkan keterbatasan penulis melacaknya, termasuk keterbatasan narasumber yang masih mengenal dengan sempurna semua ceritera. Terima kasih kepada semua pihak yang berkontribusi bagi terbitnya buku ini, kiranya bermanfaat untuk semua kalangan khususnya warga sekolah yang senantiasa membutuhkan sarana bagi pengembangan pendidikan di bidang kesusasteraan lokal. Juga bagi peminat tulis-menulis dapat menjadikan materi pengembangan selanjutnya. Tidak terkecuali untuk pembaca yang membutuhkan hiburan. “S e l a m a t m e m b a c a !” Tentena, 24 September 2018. Penyusun, =Jan Pieter Rantung=
WATU YANO Setiap benda mempunyai berat jenis (BD=Berat Djenis- istilah dalam ejaan lama). Air misalnya dengan BD=1, benda yang BD-nya lebih dari 1 akan tenggelam di air, yang kurang akan mengapung dan yang sama akan melayang (kecuali benda mempunyai ruang seperti perahu, kapal). Batu jauh lebih besar BD-nya dari air. Sehubungan dengan mithos ‘Watu Yano’, perkecualian ceriteranya. Watu=batu, yano=melayang, tidak berlaku hukum fisika itu, sebab batu ini melayang-layang adanya di perairan danau (Poso). Tentu ada hal. Itulah, kalau tidak aneh, bukan mithos namanya. Watu Yano berada di dalam danau antara Dulumai dan Tolambo. Bagaimana ceriteranya sehingga penduduk di Wingke nDano (penduduk di seputaran danau) mengetahuinya ? kita ikuti ceritera singkatnya berikut, sekalian ada kutipan lagu yang sifatnya memuja dan lagu yang berceri- tera tentang keberadaannya.
MAKHLUK PENUNGGU DANAU Ada sejenis makhluk halus yang bertakhta di tempat ketinggian (di gunung). Ia menyaksikan keindahan danau da- ri kediamannya. Sekali-sekali dalam keadaan tenang, permu- kaan danau bagai cermin besar yang dinikmatinya dengan perasaan sukacita. Tat kala angin kencang berhembus, entah dari arah utara (Dongi) atau dari arah selatan (Tando ngKasa), keadaan permukaan danau menjadi bergejolak dan tak berfungsi cermin lagi. Hal itu dapat dipahaminya sebagai gejala alam yang datang dan pergi silih berganti dan suatu saat akan hilang dan tenang kembali. Si makhluk halus dapat kembali menikmati pesona indahnya danau. Akan tetapi suasana demikian menjadi terganggu, manakala keadaan yang semestinya tenang, mulai berubah. Di permukaan danau kala tenang, tercipta garis-garis dan riak- riak yang baginya sangat mengganggu jadwal pesonanya, laksana cermin pecah terbelahbelah, menciptakan mozaik yang tidak di butuhkannya. Apa gerangan yang membuat suasana tenang menjadi tidak tenang juga ?
Si makhluk halus turun ke danau bermaksud meneliti penyebabnya. Untuk tidak diketahui keberadaannya, ia masuk ke danau menjelma jadi batu melayang-layang dari arah DulumaiTolambo sampai ke seberang danau di perairan Pada Marari. Dia menemukan, ternyata makhluk manusia yang digelarnya makhluk serakah menjadi biang keroknya. Saat permukaan danau tenang, ia menyaksikan perahu- perahu berseliweran dari permukaan danau dalam berbagai aktifitasnya. Ada yang pergi mancing, berlayar dari satu tempat ke tempat lain, ada yang menuju lahan perladangan dan ada lagi yang cuma iseng ke sana ke mari. Dan memang makhluk manusia itu beraktifitas di danau ketika permukaan danau tenang. Bila ombak dan gelombang datang, mana bisa. Tak usah, ya ! “O,o,oo; astaga !” Begitu gerutu sang makhluk lain itu. Dia berpikir strategi yang hendak dilakukan agar keadaan semula tetap terjamin. Hasil dari perenungannya, ia memutuskan tidak kembali dulu ke istananya di gunung, tetapi tinggal menjaga danau untuk melakukan kontrol arah timur dan barat, melayang kian kemari,
sampai pada saat gangguan makhluk manusia sudah berhenti, ia akan kembali lagi ke takhtanya, menikmati rona keindahan pesona danau. Upaya yang dilakukan menghentikan ulah manusia di antaranya; mendatangkan angin terjun dari arah barat (angin Barati) untuk menimbulkan topan badai seketika. Di waktu malam ia berjalan timbul di permukaan dengan memperlihatkan keajaiban oleh adanya lampu macam terangnya lampu gas. Tujuannya agar manusia menjadi takut, jerah dan tak melakukan aktifitas di permukaan danau. Kecuali mancing, mandi, cuci di tepi pantai tidak dipersoalkanya, silakan saja. Tetapi apa; manusia yang dinilainya serakah, makin serakah/loba terus. “Aah, rupanya manusia ini tak dapat dibendung ketamakannya, aku lelah, capek jadinya. Makin hari makin tambah ‘kerusakan alam’ yang dibuatnya, termasuk cerminku ini,” kesah si makhluk lain ini. Walau pun demikian danau tetap dijaganya dengan sekali-sekali menimbulkan bencana dan ia berhenti diam di perairan Dulumai dengan status sebagai ‘penunggu danau’, tak berkehendak
meninggalkan danau selamanya. Penunggu danau ini kemudian oleh penduduk di seputaran danau memberi gelar ‘Watu Yano’ (Batu Melayang). Mithos Watu Yano, kecil atau besar, berpengaruh bagi kehidupan penduduk di sekitarnya. Ada yang berperasaan bahwa memang Watu Yano ada dengan keajaibannya yang tak dapat diselami dengan akal manusia. Kelompok ini ka- dang terjebak pada kepercayaan dinamistik (percaya adanya kekuatan gaib suatu benda). Ada yang beranggapan suatu fenomena yang menyimpang dari hukum alam dan patut di selidiki. Lainnya berpikir nonsensical / hanya dibuat-buat.
Serpihan Sebagai selingan penulis memuat dua hasil karya musik komponis lokal terkenal berkaitan dengan pujaan dan kenangan akan kisah Watu Yano, bukan mengkultuskan, tetapi sebagai gambaran antusiasme masyarakat akan adanya mithos Watu Yano. WATU YANO (Ciptaan : Daniel Tada) Do = C, 4 ketuk Watu Yano, se’e ri posuo ndano Tebambarimo ungka piamo Sondo tau lawa maajo. Oo Watu, siko napowani ntau Da nutujumo kabarakamu Naka lawa kateto’omu. Refrein O Watu Yano ja sikomo Da mantuju matia ndano Sikomo Watu Yano. Watu Yano keteto’o ndano Poso Njai riamo lawi madago Daku pangampalindo mawo.
WATU YANO II (Ciptaan : Justinus Hokey) Do = Bes, 4 ketuk Ntongo owi ri lalambatu Re’e samba’a ngali tau Sala sakodo ja mompau Nasuru danda sayu. Kajingki ndayanya meloso Tudu ri wingke ndano Poso Metiro yau sambinoro Ganggara mosompo. Ponangunya napatotoka Tolambo Ri tando mbatu nasangke tumpu ndano Sambira witinya manta’amo ri rano Mewalimo Watu Yano. Suo ngkayaka tando mpati Sarunto’o pantiro rano Rambanganya ri Dulumai Tando ntangkadao.
R E F L E K S I Beberapa peristiwa yang sering dijadikan alasan bagi kelompok yang cenderung dinamistis, yang tercatat dan yang masih diingat, dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. Tahun 1897, nakhoda R. Tennema (bukan Fennema) ber- sama rombongan tenggelam di tengah danau dan para pencari hanya menemukan topi sang nakhoda, lantas diambil dan dijadikan simbol pemakamannya di lokasi pertigaan Tentena-Sawidago-Tendea Dongi. 2. Tahun 1906, nakhoda Sersan Stegeman tenggelam dengan perahu layar terbalik di lokasi yang sama dengan no 1. Keduanya warga Belanda. 3. Tahun 1980, rombongan penumpang perahu motor, di da- lamnya terdapat satu keluarga (kel. Tampoma) tenggelam, juga di lokasi yang berdekatan. 4. Berdekatan waktu dengan no 3, rombongan warga Bali ke- Toinasa juga tenggelam dengan perahu motor.
5. Tahun 1992, seorang anggota TNI asal Toraja jatuh dari perahu motor tumpangannya di Tobi Maombo. Jenazahnya diketemukan mengapung 2 hari kemudian. 6. Tahun 1993, rombongan siswa SMA Kristen Tentena kem- bali dari Kandela (kunjungan studi) dengan perahu motor, begitu muncul di tikungan tanjung Dulumai ombak besar menerpa sulit dikendalikan oleh kapten, lantas seseorang berucap agar singgah saja di kampung Dulumai, bermalam. Perintah minggir itu kemudian disampaikan dalam keya- kinanya akan ulah sang ‘penunggu danau’. Dan masih beberapa insiden yang tidak sempat ditulis, yang kesemuanya dihubungkan dengan keberadaan Watu Yano, penunggu danau, sang tokoh ‘takhyul’.