Nikah adalah akad yang menghalalkan pergaulan dan membatasi hak dan kewajiban serta tolong
menolong antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bukan mahram.
Q.S. An – Nisa’ Ayat 3
‘’Maka nikahilah wanita wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga,atau empat kemudian jika kamu
takut tidak akan dapat berlaku adil,maka (nikahilah) seorang saja’’.
Memilih Istri 4 Faktor:
1. Karena mengharap harta benda
2. Karena mengaharapkan kebangsawanannya / keturunan
3. Karena ingin melihat kecantikannya
4. Karena Agama dan budi pekertinya yang baik
“ kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita” ( An- Nisa’ : 34 )
Sabda Rasulullah Saw:
- Barangsiapa menikahi seorang perempuan karena kekayaannya, niscaya tidak akan bertambah
kekayaannya, bahkan kemiskinan yang akan di dapatinya dan kamu akan menjadi sombang.
- Barangsiapa menikahi seorang perempuan karena kebangsawanannya, niscaya Allah tidak
akan menambah kecuali kehinaan.
- Barangsiapa menikahi seorang perempuan karena kecantikannya, niscaya kecantikannya itu
akan membawa kerusakan bagi mereka sendiri.
- Barangsiapa menikahi perempuan karena Agamanya, niscaya Allah akan memberi karunia
kepadanya dengan harta dan kecantikannya.
Sabda Rasulullah Saw:
“sebaik - baik perempuan ialah perempuan yang apabila engkau memandangnya, ia
menyenangkanmu, dan jika engkau menyuruhnya, diturutnya perintahmu dan jika engkau
bepergian dipeliharanya hartamu dan di jaganya kehormatannya”.
Hukum nikah
1. Jaiz ( diperbolehkan ) asal hukumnya.
2. Sunat
3. Wajib
4. Makruh
5. Haram
Rukun Nikah
1. Mempelai Suami dan Istri & Mas Kawin
2. Sighat ( Aqad ) Ijab Qabul
3. Wali bagi perempuan
4. Dua orang saksi ( bagi perempuan )
Syarat Wali dan dua Saksi
1. Islam
2. Baligh
3. Berakal
4. Laki-laki
5. Adil
Kewajiban suami terhadap isteri:
1. Menjaga dan membimbing isteri (keluarga) penuh kasih sayang dan tanggung jawab
2. Memberikan nafkah kepada isteri baik nafkah lahir maupun bathin sesuai dengan
kemampuan suami
3. Memberi kebebasan kepada isteri untuk mencari ilmu, khususnya ilmu agama
4. Membantu tugas-tugas isteri baik mendidik anak maupun yang lain.
Kewajiban isteri terhadap suami:
1. Hormat, ta’at dan patuh kepada suami selama tidak bertentangan dengan hukum-hukum
syari’at islam
2. Menerima apa yang diberikan suami dengan sikap Qana’ah, ikhlas dan lapang dada
3. Mendidik anak dan mengurus rumah Tangga.
Kewajiban bersama:
1. Hormat dan saling menghargai orang tua kedua belah pihak
2. Saling menyadari kekurangannya masing-masing
3. Menyelesaikan masalah dalam keluarga dengan pikiran yang tenang, bijak dan tidak
dengan pikiran emosional dan saling mengalah
4. Saling mema’afkan apabila ada kesalahan
5. Tidak menceritakan aib pada orang lain
6. Tidak melafazkan Kata-kata Talak kepada isteri
7. Tidak memukul isteri.
Nusyuz (durhaka) ialah Tindakan isteri menentang kehendak suami dengan tidak ada alasan
yang dapat diterima menurut hukum syara’.
Zihar ialah Seorang laki-laki menyerupakan istrinya dengan ibunya sehingga isterinya itu
haram atasnya.
Denda (kafarat) Zihar:
1. Memerdekakan Hamba sahaya
2. Puasa dua bulan berturut-turut
3. Memberi makan 60 orang miskin, tiap-tiap orang seper empat sa’ fitrah (tiga per empat
liter).
Li’an ialah Perkataan suami sebagai berikut,” saya persaksikan kepada Allah bahwa saya
benar terhadap tuduhan saya kepada isteri saya bahwa dia telah berzina. Kalau ada anak yang
diyakininya bukan anaknya, hendaklah diterangkan pula bahwa anak itu bukan anaknya.
Perkataan tersebut hendaknya di ulanginya empat kali, kemudian ditambahnya lagi dengan
kalimat laknat Allah akan menimpaku sekiranya aku dusta dalam tuduhanku ini.
Akibat Li’an suami, timbul beberapa hukum :
1. Suami tidak disiksa (didera)
2. Si isteri wajib di siksa (didera) dengan siksaan zina
3. Suami isteri bercerai selama-lamanya
4. Kalau ada anak, anak itu tidak dapat diakui oleh suami.
Untuk melepaskan si isteri dari siksaan zina, isteri boleh meli’an pula
( Q.S An-Nur ayat 8-9 )
Iddah ialah masa menanti yang diwajibkan atas perempuan yang diceraikan suaminya (cerai
Atau cerai mati) gunanya supaya diketahui kandungannya berisi atau tidak.
1. Iddah bagi wanita hamil adalah harus menunggu sampai melahirkan anak
2. Iddah bagi wanita haidh adalah 3 bulan 10 hari
3. Iddah bagi wanita yang tidak haidh/wanita yang telah monoupouse (tidak haidh lagi)
adalah 3 bulan
4. Iddah bagi wanita yang meninggal mati suaminya adalah 4 bulan 10 hari.
Hak perempuan dalam masa Iddah :
1. Perempuan yang ta’at dalam Iddah raj’iyah berhak tempat tinggal (rumah), pakaian, dan
segala keperluan hidupnya, dari yang menalaknya (bekas suaminya), kecuali isteri yang
durhaka, tidak berhak menerima apa-apa.
2. Perempuan yang dalam Iddah ba’in, kalau ia mengandung, ia berhak juga atas kediaman,
nafkah dan pakaian. (Q.S – At-Talaq ayat 6)
3. Perempuan yang dalam Iddah ba’in yang tidak hamil, baik ba’in dengan talaq tebus
maupun dengan talaq tiga, hanya berhak mendapatkan tempat tinggal, tidak yang lainnya.
(Q.S- At-Talaq ayat 6)
4. Perempuan yang dalam Iddah wafat, mereka tidak mempunyai hak sama sekali meskipun
dia mengandung, karena dia dan anak yang berada dalam kandungannya telah mendapat
hak pusaka dari suaminya yang meninggal dunia itu.
Rujuk ialah mengembalikan isteri yang telah di talaq pada pernikahan yang asal sebelum
diceraikan.
Perceraian ada 3 cara:
1. Talaq 3, dinamakan “ ba’in kubra”, Laki-laki tidak boleh rujuk lagi dan tidak sah
menikah lagi dengan bekas isterinya itu, kecuali apabila perempuan itu sudah menikah
dengan orang lain serta sudah digauli dan diceraikan serta sudah habis masa iddahnya.
Barulah suami yang pertama boleh menikahinya kembali.
2. Talaq tebus, dinamakan pula “ ba’in sugra”, dalam talaq ini suami tidak sah rujuk lagi
tetapi boleh menikah kembali, baik dalam masa iddah maupun sesudah habis masa
iddahnya.
3. Talaq satu atau talaq dua, dinamakan “ talaq raj’i”, artinya si suami boleh rujuk (kembali)
kepada isterinya selama si isteri masih dalam masa iddah.
Lafaz rujuk ada 2:
1. Terang-terangan, misalnya dikatakan, “saya kembali kepada isteri saya” atau “ saya rujuk
kepadamu”
2. Melalui sindiran, misalnya “saya pegang engkau” atau “ saya kawin engkau.
Hadhanah (hak mendidik dan merawat) ialah menjaga, memimpin dan mengatur segala hal
anak-anak yang belum dapat menjaga dan mengatur dirinya sendiri.
Apabila jika suami dan isteri telah bercerai maka anak di didik oleh isterinya sampai anaknya
dewasa, sementara nafkah wajib di tanggung oleh suami. Dan jika anak telah dewasa maka
anak bisa memilih bapak atau ibunya.
Harta seharkat ialah harta yang terjadi sesudah pernikahan.
SYAIR ARAB:
1. Wahai para Suami, apabila kamu ingin wanita (Isteri) yang shalehah, maka mulailah
dari dirimu sendiri.
2. Wahai para Suami, apabila kamu ingin dihargai oleh wanita (Isteri)mu, maka
hormatilah dia.
3. Wahai para Isteri, apabila kamu ingin seperti keluarga/rumah tangga Rasulullah,
maka contohlah Khatijah.
4. Wahai para Isteri, apabila kamu ingin betah/hidup selama-lamanya dengan Suami
kamu, maka jagalah dia dengan sebaik-baiknya.
Penjelasan
1. Wahai para Suami, apabila kamu ingin wanita (Isteri) yang shalehah, maka
mulailah dari dirimu sendiri.
Ketika seorang Suami atau seorang laki-laki ingin isteri atau menikahi wanita yang
shalehah, maka harus dimulai dari diri sendiri, misalnya dalam masalah agama,
seorang laki-laki atau suami harus memperbaiki dulu shalat, puasa dan lain
sebagainya, jangan kita berharap atau bermimpi dapat isteri yang baik sementara
kita tidak memulai dari kita. Begitu juga dalam masalah tata cara bertutur kata
dan sopan santun dalam kita bergaul didalam masyarakat sehari-hari.
2. Wahai para suami, apabila kamu ingin dihargai oleh wanita (isterimu), maka
hormatilah dia (isteri)
Ketika seorang Suami ingin di hargai oleh seorang Isteri, maka Suami harus
menghormati segala apapun pelayanan yang diberikan Isteri kepada Suami baik
itu pekerjaan yang dilakukannya ataupun yang lain di dalam rumah tangga.
Jangan Seorang Suami berlaku semena-mena di dalam rumah tangga dan tidak
sedikitpun menghormati kepada Isteri.
3. Wahai para Isteri, apabila kamu ingin seperti keluarga Rasulullah Saw, maka
contohlah Khatijah
Ketika seorang Isteri yang ingin hidup berumah tangga seperti keluarga Rasulullah
yang hidup sederhana , tidak bermewahan tapi berkecukupan serta hidup tenteram
dan tidak ada konflik didalam mengarungi sebuah bahtera, maka kita harus
melihat kepada Khatijah, bagaimana menata, membentuk dan membina sebuah
keluarga atau rumah tangga. Pernah suatu hari Khatijah menangis dengan sejadi-
jadinya, maka rasulullah menanyakannya kenapa bersedih wahai Khatijah,
kemudian Khatijah menjawab: dulu kita banyak harta dan sekarang sudah habis
semua. Maka rasulullah menanyakan lagi: kenapa wahai Khatijah bersedih apa
karena harta kita telah habis, maka Khatijah Menjawab: tidak wahai
rasulullah,saya bersedih karena tidak ada lagi harta untuk diberikan/di
shadakahkan kepada agama Allah dan saya takut nanti perjuanganmu terhadap
agama Allah akan terhenti serta tidak berhasil.
4. Wahai para Isteri, apabila kamu ingin betah/hidup selama-lamanya dengan suami
kamu, maka jagalah dia dengan sebaik-baiknya.