The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ainun mutmainnah, 2023-12-25 18:36:47

TUGAS PBSI klp 3

TUGAS PBSI klp 3

TUGAS KELOMPOK PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA KELOMPOK 3 Nama Anggota : 1. Ainun Mutmainnah (221118190) 2. Gabriela Anas Renta ( 221118214) 3. Hesty Dewi (221118213) 4. Lidya Ta’dung (221118194) 5. Niken Sirande (221118201) 6. Elpin (221118 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA TORAJA 2023


Kerangka Buku Materi Puisi Bab/sub bab Judul Buku I Hakikat Puisi A. Pengertian Puisi B. Manfaat Puisi C. Fungsi Puisi D. Ciri-ciri Puisi II Prinsip-Prinsip Puisi A. Prinsip-Prinsip Menulis Puisi B. Tujuan Puisi C. Jenis-Jenis Puisi D. Langkah-Langkah Menulis Puisi III Karakteristik Puisi A. Karakteristik Puisi B. Unsur Puisi C. Cara Membuat Puisi D. Cara Membaca puisi IV Kelebihan dan Kekurangan Puisi A. Kelebihan Puisi B. Kekurangan Puisi V Metode dan Teknik Dalam Penulisan Puisi A. Metode Dalam Menulis Puisi B. Teknik Dalam Menulis Puisi


BAB I HAKIKAT PUISI A. Pengertian Puisi Puisi merupakan satu bentuk karya sastra yang berisi ungkapan hati, pikiran, dan perasaan penyair yang dituangkan dengan memanfaatkan segala daya bahasa, kreativitas dan imajinasi pengarang dengan rangkaian bahasa yang indah serta mengandung irama juga makna. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi adalah ragam sastra yang bahasa terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Jadi, dapat disimpulkan puisi adalah ungkapan pikiran dan perasaan penyair yang dituangkan dengan menggunakan bahasa yang indah serta mengandung makna mendalam. Puisi adalah sebuah bentuk seni sastra yang menggunakan bahasa dan kata-kata secara kreatif untuk menyampaikan perasaan, gagasan, atau pengalaman melalui ritme, suara, makna, dan citra. Ini adalah bentuk ekspresi sastra yang sering kali menggunakan struktur dan gaya yang khas, termasuk penggunaan berbagai elemen seperti rima, ritme, metafora, dan perbandingan untuk menciptakan keindahan dan kedalaman makna. Puisi dapat berkisah tentang berbagai topik, termasuk cinta, alam, kehidupan, kemanusiaan, dan banyak lainnya. Puisi juga dapat mengambil berbagai bentuk, seperti puisi naratif yang bercerita, puisi lirik yang mengungkapkan perasaan dan refleksi pribadi, atau puisi bebas yang tidak terikat oleh aturan struktural tertentu. • Defenisi Puisi Menurut Para Ahli : 1. Hudson (dalam Aminuddin, 2015: 134) mengatakan bahwa puisi merupakan salah satu bentuk sastra yang disampaikan dengan kata-kata hingga menghasilkan imajinasi dan ilusi. Unsur fisik bisa dilihat dari secara kasat mata pada puisi yang terlihat. Oleh karena itu, unsur yang terlihat bisa disebut unsur fisik puisi.


2. Herman J. Waluyo Waluyo (2002, hlm. 1), mengungkapkan bahwa puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi rima dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif). 3. Watt-Dunton Menurut Watt-Dunton (dalam Situmorang, 1980) puisi adalah ekpresi konkret yang bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama. 4. Aisyah Puisi merupakan hasil penafsiran penyair terhadap kehidupan (Aisyah, 2007, hlm. 2). 5. Suroto Suroto (1989, hlm. 40) berpendapat bahwa secara bebas dapat dikatakan bahwa puisi adalah karangan yang singkat, padat, pekat. 6. Pradopo Pradopo (1995) mengatakan bahwa puisi adalah rekaman dan interpretasi dari berbagai pengalaman manusia yang penting, digubah dalam bentuk atau wujud yang paling berkesan. 7. Herbert Spencer Puisi adalah salah satu bentuk pengungkapan gagasan yang bersifat emosional dengan mempertimbangkan keindahan dan efek estetis lainnya. 8. Dunton Puisi adalah pemikiran manusia secara konkret namun artistik dalam bahasa yang berirama atau berima seperti musik.


9. Samuel Taylor Coleridge Coleridge berpendapat bahwa puisi adalah kata-kata terindah dalam susunan yang terindah pula. • Unsur Unsur Puisi (Struktur Puisi) Pengertian puisi juga harus dipahami melalui unsur-unsur pembentuk yang menjadikan suatu karya menjadi puisi. Secara garis besar, unsur-unsur puisi terbagi menjadi dua macam, yaitu struktur fisik dan struktur batin (Kosasih, 2012, hlm. 97; Waluyo, 1987, hlm. 106) . Di bawah ini adalah penjabaran dari masing-masing unsur tersebut. 1. Unsur Fisik Unsur fisik berarti berbagai pembentuk suatu tema dalam bentuk yang tampak langsung seperti kata konkrit, diksi (pemilihan kata), gaya bahasa, imaji (pengimajinasian), dsb. Unsur-unsur fisik tersebut akan dijabarkan pada penjelasan di bawah ini. 2. Diksi (Pemilihan Kata) Kata-kata dalam puisi merupakan hasil pertimbangan dan pemilihan penulisnya, baik itu secara makna, susunan bunyi, atau hubungan antar kata dalam setiap baris dan baitnya. Biasanya puisi akan menggunakan kata konotasi (bermakna tidak sebenarnya) dan kata berlambang atau kata yang mewakili makna lain. 3. Imaji (Pengimajinasian) Imaji adalah kata atau susunan kata yang dapat menimbulkan suasana, perasaan atau bentuk imajinasi lainnya berupa imajinasi berbagai indera manusia seperti pendengaran, pengelihatan, hingga ke sentuhan. 4. Kata konkret Yang dimaksud kata konkret adalah kata yang mewakili sebuah makna wujud, fisik; benarbenar mewakili sesuatu yang wujudnya nyata dan sudah tidak abstrak atau tidak jelas.


Boleh dibilang kata konkret adalah kebalikan dari kata simbol, konotasi atau gaya bahasa lain yang tidak mewaikili objek atau subjek yang sebenarnya. 5. Majas (Bahasa Figuratif) Majas adalah susunan kata atau suatu kalimat yang dapat memancarkan banyak makna sekaligus melalui gaya bahasa yang disampaikan secara imajinatif dan kiasan dengan cara membandingkan, melebih-lebihkan, dsb. Misalnya majas hiperbola berarti gaya bahasa yang melebih-lebihkan, metafora adalah membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain namun masuk akal, hingga personifikasi yang memanusiakan sesuatu yang bukan manusia; nyiur melambai. 6. Versifikasi Versifikasi adalah semua hal yang bersinggungan dengan bunyi dalam setiap kata, baris dan bait puisi. Terdiri dari rima, ritma dan metrum. Rima adalah pengulangan bunyi yang sama dari suatu bait puisi. Sementara Ritma adalah susunan turun naiknya bunyi secara teratur dalam suatu baris. Kemudian, metrum adalah satuan irama yang ditentukan oleh jumlah dan tekanan suku kata dalam setiap baris puisi, lebih banyak huruf vokal “i” atau “u” dalam suatu baris? 7. Tipografi Tipografi adalah tata letak berbagai satuan bahasa dalam puisi. Apakah puisi itu terdiri dari satu dua bait dengan rima yang sama, lalu dua bait lagi berbeda. Kemudian satu bait itu terdiri dari berapa baris? Bagaimana keterhubungan antar bait, dsb. 8. Unsur Batin Sebaliknya dari unsur fisik, unsur batin adalah hal-hal yang tidak tampak atau tak kasat mata, namun secara tidak langsung kehadirannya dapat dirasakan. Unsur batin puisi meliputi: tema (sense), perasaan (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), dan amanat (intention) (Waluyo, 1987, hlm. 106).


9. Tema Tema adalah gagasan pokok yang ingin dibawakan oleh penyair dalam puisinya, berfungsi sebagai landasan utama penyair dalam pengembangan puisinya. Misalnya tema yang diangkat adalah cinta, maka keseluruhan pembentuk puisinya akan dilandaskan berdasarkan sesuatu yang berhubungan dengan cinta. 10. Perasaan (Ekspresi) Puisi dapat mewakili ekspresi dan berbagai perasaan penulisnya. Ekspresi itu dapat berupa rasa syukur, kerinduan, kegelisahan, atau pernyataan kasih sayangnya terhadap seseorang, hingga kekaguman terhadap keindahan alam. 11. Nada dan Suasana Nada adalah skap tertentu yang dibuat oleh penyair terhadap pembaca: apakah puisi bersifat menasehati, menyindir, atau hanya memberikan suatu gagasan dan cerita tertentu. Sementara suasana adalah akibat yang ditimbulkan dari sikap, ekspresi dan unsur lain dari puisi terhadap pembacanya. 12. Amanat Merupakan makna berupa pesan atau gagasan keseluruhan yang dapat disimpulkan atau ingin disampaikan oleh Penulisnya. Apakah Penyair mengajak kita untuk berbuat suatu kebaikan, menanggapi suatu isyu sosial, menjadi lebih kritis terhadap suatu B. Manfaat Puisi • Meningkatkan kemampuan berbahasa. Lierasi dan berkomunikasi dalam bentuk puisi • Melatih dan memperbanyak kosa kata. Kosa kata merupakan peluru dalam menuliskan sesuatu, dengannyalah maksud dan isi puisi terkuak • Mengolah kata menjadi lebih bermakna


• Mengasah interpretasi, dengan menulis dan membaca puisi mampu menerjemahkan yang termaktub pada tiap bait-bait puisi ➢ Adapun manfaat puisi tambahan, yaitu: 1. Meningkatkan kreativitas Menulis puisi bermanfaat untuk meningkatkan kreativitas. Khususnya kreativitas dalam mengolah kata. Dalam menulis puisi dibutuhkan keterampilan dalam menyusun kata, gaya bahasa, serta rima yang tepat dan indah. Secara tidak langsung, Anda berlatih untuk merangkai kata-kata yang puitis namun tetap singkat dan sarat makna. Menulis puisi membuat sang penulis semakin terbiasa dalam menuangkan pikiran dan perasaan ke dalam karya sastra yang autentik dan imajinatif. 2. Membuat perasaan menjadi lebih baik Menulis puisi mampu membuat perasaan penulisnya menjadi lebih baik. Dalam ilmu psikologi, hal ini disebut katarsis. Mengutip dari sehatq.com, katarsis adalah pelepasan emosi dan perasaan negatif dalam diri melalui cara yang positif. Menulis puisi bisa menjadi jalan untuk meluapkan emosi-emosi negatif yang ada dalam diri. Dengan menyalurkan emosi-emosi tersebut ke dalam kata-kata, secara tidak langsung Anda berusaha mengidentifikasi dan memahami emosi yang berkecamuk dalam diri. Sehingga membuat diri mampu melihat masalah yang ada dengan lebih jernih. Hal ini dapat membantu jiwa dan mental menjadi lebih sehat. 3. Menambah keberanian dalam bersuara Menulis puisi bisa menambah keberanian dalam menyuarakan pendapat. Menulis puisi merupakan sarana untuk mengungkapkan ide, gagasan, kritik, kemarahan, hingga nasihat akan berbagai aspek kehidupan di sekitar Anda. Seperti aspek sosial, budaya, ekonomi, hingga politik. Hal ini mengasah kemampuan berpikir kritis dan empati terhadap lingkungan. Menuangkan pemikiran dan perasaan terhadap kehidupan ke dalam puisi juga memperteguh sisi kemanusiaan. Hal ini menjadi motivasi terkuat dalam diri seseorang untuk berani menyuarakan kebenaran.


4. Meningkatkan kepercayaan diri dalam berkarya Menulis puisi merupakan pekerjaan akal dan hati. Hal ini yang menjadikan setiap puisi unik dan indah. Berkarya berarti memberdayakan pikiran, perasaan, dan kemampuan menjadi sesuatu yang memiliki dampak atau makna. Menulis puisi dengan kesungguhan akal dan hati, merupakan salah satu implementasi dalam menjadi berdaya dan bermakna. 5. Kesempatan mendapatkan penghasilan Menulis puisi juga bisa menjadi pintu rezeki. Anda bisa menambah pundi-pundi uang dengan menulis puisi. Hal ini bisa diawali dengan mengirimkan puisi-puisi buatan Anda ke berbagai media cetak maupun media online. Baik surat kabar, majalah, atau tabloid. Selain itu, Anda juga dapat menjajal kesempatan dengan mengikuti berbagai lomba atau kompetisi menulis puisi. Kuncinya adalah konsisten, terus belajar, dan pantang menyerah.Adapun Manfaat tambahannya, yaitu: C. Fungsi Puisi Maksud dari fungsi puisi di sini ialah fungsinya bagi kehidupan. Akan tetapi bukan fungsi praktis yang langsung dapat dipergunakan dalam kehidupan fisik atau material meskipun puisi sebagai karya sastra dapat di jual. Misalnya, buku puisi dapat di jual, atau deklamasi puisi dapat mendatangkan uang, terutama bagi para penyair terkenal, seperti W.S.Rendra dan Sutardji Calzoum Bachri. Sesuai dengan sifat dan hakikat puisi yang merupakan ekspresi tidak langsung, kegunaan puisi ini juga tidak langsung, yaitu kegunaan yang bersifat spiritual bagi kehidupan batin dan kejiwaan manusia. Puisi kehidupan manusia lewat kehidupan batin dan kejiwaannya. Lewat kehidupan kejiwaan ini, pasti mempengaruhi aktivitas kehidupan fisik manusia. Misalnya, aktivitas perjuangan bangsa menuju kemerdekaan bangsa seperti disarankan oleh puisi berjiwa kebangsaan yang ditulis oleh para penyair Pujangga Baru. Misalnya, sajak Asmara Hadi yang ditulis tahun 1923 di bawah ini. Bangsaku Bersatulah Kalau kupikir kukenang-kenang,


Hatiku duka merasa pilu; Lautan besar rasa kurenang, Pekerjaan berat sukar terlalu Indonesia Merdeka dicita-cita, Menjadi kenangan setiap waktu; Tetapi apa hendak dikata Bangsaku belum lagi bersatu, Mereka mengaku ingin merdeka, Baris persatuan lenggang dan jarang Bagaimana dapat tampil ke muka, Kalau kekuatan kita kurang? Saudaraku, sebangsa setanah air, Dengar apalah aku berseru Indonesia merdeka supaya lahir Hilanglah sifat tengkar cemburu! Wahai saudaraku, bangsa melarat, Supaya dapat apa dicita Aturlah barisan kuat dan rapat Sepakat semanis, seia sekata


Pikiran Rakyat, no. 19, Nop. 1932 (Nasution, 1965: 23) Seperti yang dikemukakan Horace (Wellek dan Warren, 1968: 30) fungsi sastra adalah dulce dan utile: puisi itu manis (sweet) dan berguna (useful). Puisi itu menyenangkan (dulce) karena pengekspresiannya yang indah (estetik) dan berguna (utile) karena isinya, apa yang diekspresikan itu berupa pikiran, ajaran ataupun gagasan yang bagus untuk kehidupan manusia. Dalam karya sastra, termasuk puisi, sifat indah dan berguna itu tidak terpisahkan, tidak hanya indah saja atau berguna saja. Dikemukakan oleh Hutagalung (1989: 2) di samping karya sastra itu merangsang kepekaan kita terhadap keindahan, juga selalu merangsang hati kita terhadap kemanusiaan, kehidupan bahkan terhadap alam sekeliling. Kesusastraan merangsang kita untuk lebih memahami dan menghayati kehidupan. Seperti halnya Soedjarwo (1993: 20) mengemukakan bahwa di Tengah gemuruhnya teknologi, puisi itu berupaya mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang terkikis habis oleh teknologi. Puisi itu kembali manusia akan kedudukannya sebagai subjek dalam kehidupan ini. Dikatakan Soedjarwo lebih lanjut bahwa puisi itu berusaha mengembalikan stabilitas, mengembalikan keselarasan, dan keutuhan dalam diri manusia. Jadi, puisi itu dengan keindahannya dan keluhuran isi atau muatannya berusaha mengembalika manusia pada keutuhannya, yaitu kehidupan lahir dan kehidupan batin ati kejiwaannya. Bagaimana wujud usaha pengembalian kepada keutuhan manusia oleh puisi itu, marilah kita tinjau kegunaan dan manfaat puisi itu sebagai contoh-contoh dan uraian sebagai berikut. Jenis-jenis kegunaan puisi itu banyak sekali sesuai dengan kandungan isinya. Akan tetapi, dalam uraian ini kita ambil yang penting-penting saja antara lain, manfaat yang berkaitan dengan (1) ketuhanan atau keagamaan, (2) kualitas diri, (3) tanah air, (4) sesama manusia, (5) manfaat puisi terhadap seni dan kebudayaan.


1. Manfaat Puisi terhadap Rasa Ketuhanan Puisi dapat mendekatkan diri manusia kepada Tuhan, Sang Pencipta, Yang Maha Rahman. Ada beberapa sajak religius yang terkenal, misalnya Padamu Jua karya Amir Hamzah, Doa sajak Chairil Anwar. Berikut ini kami kutipkan sajak Ahmadun Yosi Herfanda. Aku Cukup dengan Engkau Saja Aku cukup dengan engkau saja dalam nikmat zikir dan sujud jiwa aku cukup bersamamu saja aku cukup dengan engkau saja walau orang-orang itu mencari kesenangan di diskotek-diskotek panti-panti pijat, hotel dan pelacuran aku cukup di rumahmu saja dalam nikmat zikir dan sujud jiwa bukan lantaran takut aids dan rajasinga jika kujauhi pelacuran dan sauna tapi memang cukup bagiku bahagia dalam cintamu saja aku cukup dengan engkau saja walau kursi dan mobil dinas menjauhiku


walau dasi dan gaji besar berpaling dariku walau ormas dan orpol mencibir padaku tapi memang cukup didekatmu saja, bahagia dalam nikmat zikir dan sujud jiwa (Herfanda, 1996: 77) Sajak Ahmadun Y. Herfanda itu membawa pembaca dekap kepada Tuhan. Perhatikan, semua ditulis dengan huruf kecil. Engkau Tuhan pun ditulis dengan huruf kecil. Untuk dekat kepada Tuhan itu, si aku menjauhi perbuatan maksiat yang dilarang Tuhan. Cukup bagi si aku nikmat berzikir dan dalam jiwa bersujud kepada Tuhan di rumah Tuhan (masjid dan tempat peribadatan di mana pun) karena si aku cukup berbahagia dalam cinta Tuhan saja. 2. Manfaat Puisi terhadap Kualitas Diri Puisi dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas diri dengan cara mengevaluasi tingkah laku, mengintrospeksi diri secara jujur. Hal ini tampak dalam sajak Chairil anwar Selamat Tinggal yang telah dikutip di depan. Dengan berkaca, melihat diri sendiri, merenungi keadaan diri sendiri, si aku melihat cacat-cacat dan kekurangan dirinya. Dalam sajak M. Taslim Ali berikut tampak siapa atau apa hakikat manusia sesungguhnya. Dalam sajak Aku dan Debu (Taslim Ali, dalam Jassin, 1959: 276) si aku merenungi bahwa dirinya, diri manusia pada hakikatnya adalah debu atau tanah yang pada akhirnya akan kembali ke debu, ke tanah. Juga, semua di dunia ini akan ke tanah. Introspeksi atau renungan itu untuk menyadari siapakah manusia sesungguhnya, yang tidak lain adalah debu. Oleh sebab itu, manusia jangan sombong dan congkak.


3. Manfaat Puisi terhadap Rasa Cinta pada Tanah Air Sajak juga dapat membangkitkan rasa cinta pada tanah air, membangkitkan semangat berjuang untuk merebut kemerdekaan. Hal ini dapat kita lihat pada Sajak Asmara Hadi Bangsaku Bersatulah yang telah kita bicarakan di atas. Dalam sajak Tanah Bahagia karya Sanusi Pane, si aku ingin menuju ke tanah bahagia yaitu tanah Indonesia yang merdeka. Pada waktu itu Indonesia masih dijajah Belanda (1932). Oleh karena itu, si aku selalu bersedih hati, sengsara setiap hari. Si aku merindukan tanah bahagia yang bersinar emas permata. Secara tidak langsung si aku mengiaskan bangsa Indonesia yang menginginkan kemerdekaan. 4. Manfaat Puisi terhadap Hubungan Sesama Manusia Puisi juga dapat membangkitkan rasa cinta kepada sesama, kepada orang-orang sebangsa yang menderita. Puisi mengajak mengentas kemiskinan, membantu yang lemah. Dalam sajak Buat Saudara Kandung, Hartoyo Andangdjaya menyebut kaum sebangsa sebagai saudara kandung. Mereka adalah rakyat kecil yang hidup menderita, yang harus dientas dari penderitaan dan kemiskinan. Meskipun sudah lama merdeka, tetapi mereka masih hidup dalam penderitaan. 5. Manfaat Puisi terhadap Kebudayaan Puisi juga dapat merangsang tumbuhnya rasa cinta terhadap kebudayaan sendiri. Sering kali kita lupa bahwa kita telah mempunyai kebudayaan yang tinggi. Kita lupa memeliharanya, padahal bangsa asing sering ingin mempelajarinya, seperti mempelajari seni pedalangan, gamelan, seni tari. Mereka juga ingin memiliki benda-benda hasil kebudayaan kita, seperti patung, lukisan, keris, dan alat-alat gamelan atau kesenian yang lainnya. Sajak Ajib Rosidi berikut ini mengajak kita untuk memelihara kebudayaan dan kesenian kita. D. Ciri-CiriPuisi Melihat usianya yang sudah ada sejak lama, secara umum puisi terbagi menjadi puisi lama dan puisi baru yang masing-masing memiliki karakteristiknya sendiri. ➢ Ciri-ciri puisi lama


1. Nama pengarang tidak diketahui, biasanya berupa puisi rakyat. 2. Terikat oleh aturan, jumlah baris tiap bait, dan jumlah suku kata pada tiap baris. 3. Penyebaran secara lisan atau dari mulut ke mulut, juga disebut sebagai folklor. 4. Majas (gaya bahasa) yang digunakan bersifat tetap. 5. Istanasentris atau berorientasi pada kehidupan kerajaan. ➢ Ciri-ciri puisi baru 1. Nama penulis puisi tercantum 2. Tidak terikat dengan rima, irama dan baris. 3. Gaya bahasa dalam puisi baru dinamis. Sehingga akan berubah-ubah. 4. Puisi baru cenderung memiliki sifat simetris. Puisi ini akan memiliki bentuk yang rapi. 5. Puisi baru lebih menggunakan pola pantun atau sajak syair. 6. Puisi baru umumnya berbentuk empat seuntai. 7. Memiliki satuan sintaksis atau gatra. 8. Gatra yang ada di puisi terdiri dari 4 sampai 5 suku kata 9. Puisi baru umumnya mengisahkan mengenai peristiwa kehidupan.


BAB II PRINSIP-PRINSIP PUISI A. Prinsip Menulis Puisi 1. Kreativitas: Puisi haruslah unik dan orisinal, menggambarkan pemikiran dan perasaan penulis dengan cara yang unik dan kreatif. 2. Konsistensi: Puisi harus memiliki konsistensi dalam tema, nada, dan gaya bahasa. Puisi juga harus mengikuti struktur yang jelas dan terorganisir. 3. Empati: Puisi harus mampu membuat pembaca merasakan perasaan dan emosi penulis. Penulis harus dapat mengungkapkan perasaannya dengan cara yang dapat dirasakan oleh pembaca. 4. Imaginasi: Puisi harus mampu membawa pembaca ke dunia imajinasi penulis. Penulis harus mampu menggambarkan gambaran yang jelas dan memukau dalam pikiran pembaca. 5. Keaslian: Puisi haruslah asli dan tidak menjiplak karya orang lain. Penulis harus mampu mengekspresikan perasaan dan pikirannya sendiri dengan bahasa yang unik dan orisinal. 6. Keterbukaan: Puisi harus mampu mengekspresikan perasaan penulis secara terbuka dan jujur. Penulis harus mampu mengungkapkan perasaannya tanpa takut dihakimi atau ditolak oleh pembaca. 7. Refleksi: Puisi haruslah merefleksikan kehidupan dan pengalaman penulis. Puisi juga harus mampu memberikan sudut pandang baru tentang kehidupan dan dunia sekitar. B. Tujuan puisi Tujuan puisi dapat bervariasi tergantung pada niat dan maksud penulisnya. Beberapa tujuan umum dari puisi antara lain: 1. Mengungkapkan perasaan: Puisi dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan perasaan dan emosi penulis, seperti cinta, kesedihan, kegembiraan, atau ketakutan. 2. Mengekspresikan pemikiran: Puisi juga dapat digunakan untuk mengekspresikan pemikiran atau ide-ide penulis tentang suatu topik tertentu.


3. Memotivasi atau menginspirasi pembaca: Puisi dapat memiliki tujuan untuk memotivasi atau menginspirasi pembaca dengan pesan-pesan positif dan inspiratif. 4. Menciptakan gambaran yang indah: Puisi dapat menciptakan gambaran yang indah dan menarik dalam pikiran pembaca dengan penggunaan bahasa yang kreatif dan imajinatif. 5. Menghibur: Puisi juga dapat digunakan sebagai sarana hiburan, seperti puisi-puisi humor atau puisi-puisi yang mengandung unsur kecerdasan. 6. Merefleksikan kehidupan dan pengalaman: Puisi dapat merefleksikan kehidupan dan pengalaman penulis, serta memberikan sudut pandang baru tentang kehidupan dan dunia sekitar. 7. Menyampaikan pesan moral atau sosial: Puisi juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan moral atau sosial kepada pembaca, seperti pesan tentang pentingnya persahabatan, keadilan, atau perdamaian. C. Jenis-jenis puisi ➢ Puisi lama, Puisi lama Indonesia terdiri dari mantra, pantun, karmina, seloka, gurindam, syair, dan talibun. Hadirnya jenis-jenis puisi banyak dipengaruhi dengan tradisi keagamaan dan kebudayaan tertentu. 1. Mantra, Mantra adalah ujaran lisan dengan rima yang ketat. Penyusunan bunyi-bunyian tersebut tidak selalu mengedepankan arti. Mantra dimitoskan memiliki kekuatan gaib, oleh karena itu, jenis puisi ini dijadikan sebagai bacaan untuk mengobati orang sakit. Berikut contoh mantra yang dikutip dari salah satu bait puisi karya Sapardi Djoko Damono: Gelang-gelang si gali-gali Malukut kepada padi Air susu kerus asalmu jadi Aku sapa tidak berbunyi


2. Pantun Pantun merupakan jenis puisi yang memiliki bentuk dan pola yang tetap. Bentuknya empat baris untuk tiap baitnya. Masing-masing baris berpolakan a-b-a-b. Tiap baris tersebut, terdiri dari 8-12 suku kata. Dalam pantun, dua baris berikutnya disebut isi. Pantun berdasarkan isinya dibagi menjadi pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, dan jenaka. Contoh pantun: Berakit-rakit ke hulu Berenang-renang ke tepian Bersakit-sakit dahulu Bersenang-senang kemudian 3. Karmina Karmina merupakan sejenis pantun tetapi isinya lebih pendek. Bentuknya yang pendek membuat karmina juga disebut sebagai pantun kilat. Jenis puisi ini juga memiliki pola yang tetap yang terdiri dari dua baris. Baris pertama dalam karmina disebut sampiran dan baris kedua disebut isi. Contoh karmina: Buah matoa sulit didapat Sudah tua belum juga tobat 4. Seloka


Seloka merupakan puisi dengan pola a-a-a-a yang memiliki sampiran dan sisi. Namun selebihnya, seloka mirip dengan pantun. Contoh seloka: Candu dibungkus kain palas Makan dia mata bilas Mandi segan kerja malas Harta orang hendak digalas 5. Gurindam Gurindam merupakan jenis puisi yang masing-masing baitnya terdiri dari dua baris dengan pola a-a-a-a. Isi gurindam adalah nasihat atau petuah. Berikut salah satu contoh gurindam: Pikir dahulu sebelum berkata Supaya terelak silang sengketa Apabila anak tak dilatih Jikalau besar bapaknya letih Kurang pikir kurang siasat Tentu dirimu kelak tersesat Pekerjaan marah jangan dibela Nanti hilang akal di kepala


Tanda orang yang amat celaka Aib dirinya tiada disangka 6. Syair Syair merupakan jenis puisi dengan ciri tiap bait berisi empat baris berpola a-a-a-a. Isi syair adalah nasihat atau cerita yang berisi hikmah. Contoh syair: Ilmu didapat tiada cepat Mesti sabar hatinya kuat Moga Tuhan berikan rahmat Maka jaga hati serta niat Belajar haruslah semangat Rajin tekun serta giat Agar ilmu mudah didapat Masa depan semakin dekat 7. Talibun Terakhir adalah talibun yang merupakan pantun genap, tiap baitnya terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris. Beberapa talibun ditulis juga dalam 16-20 baris dalam tiap baitnya. Pola puisi ini adalah a-a-a-a.


Contoh talibun: Pergi merantau jauh ke negeri seberang Janganlah lalai membawa perbekalan berupa makanan Jika tersesat di perjalanan ingatlah peta yang kau bawa Serta jangan malu mendatangi orang untuk bertanya Jika engkau berbuat baik kepada semua orang Niscaya kebaikan pula yang akan engkau dapatkan Sudahlah engkau 'kan dapat pahala Di dunia pun engkau akan hidup bahagia ➢ Puisi baru, Berbeda dengan puisi lama, puisi baru tidak mengenal pola dalam penyusunan puisinya. Oleh sebab itu, pembagian puisi baru hanya terlihat seperti pembagian puisi berdasarkan temanya, kecuali pada jenis balada. Puisi baru Indonesia meliputi romansa, elegi, dan satire. Berikut penjelasannya. 1. Balada Balada merupakan jenis puisi yang berbentuk kisahan atau cerita. Bentuknya yang bercerita membuat jenis puisi ini memiliki alur, tokoh, dan latar cerita. 2. Himne Himne merupakan jenis puisi yang berisi puja-puji kepada Tuhan, tanah air, atau pahlawan. 3. Ode Ode merupakan puisi jenis puisi yang berisi sanjungan kepada orang yang berjasa, baik berjasa kepada dirinya maupun kepada tanah air.


4. Epigram Epigram merupakan puisi yang berisi tuntunan, ajaran hidup, atau nasihat. 5. Romansa Romance atau romansa merupakan puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih, baik berbentuk perasaan rindu, cemburu, bahagia, dan sedih. Salah satu contoh puisi romansa adalah sebagai berikut yang dikutip dari puisi Sapardi Djoko Damono: 'Aku Ingin' Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada 6. Elegi Elegi merupakan puisi yang berisi perasaan sedih, tangis, duka, dan lara. Berbeda dengan romansa, puisi jenis ini melingkupi perasaan yang lebih luas, misalnya peperangan, bencana kemanusiaan, kemalangan nasib, dan lain-lain. 7. Satire


Satire merupakan puisi yang berisi sindiran atau kritikan. Sindiran atau kritikan tersebut dapat ditujukan sebagai suatu kritik sosial terhadap masyarakat ataupun terhadap pemerintahan. D. Langkah-langkah menulis puisi 1. Menentukan tema Untuk mendapatkan tema, kamu bisa memancingnya dengan menggunakan pertanyaan, keadaan di sekitar, perasaan, maupun berbagai hal yang kamu amati. 2. Menentukan kata kunci Kata kunci ini di ambil dari tema yang anda tentukan. Misalnya kata banjir, dapat dikembangkan menjadi menerjang, menghanyutkan, hancur, musnah, keluarga hilang, dan sebagainya. 3. Diksi Diksi atau pemilihan kata adalah cara menggunakan kata-kata dengan unik. Tentukan sendiri diksi yang ingin digunakan, hal ini menjadi cara untuk menunjukkan keunikan dari puisimu. 4. Gunakan gaya bahasa Penggunaan gaya bahasa atau majas juga perlu diperhatikan untuk menghasilkan kata-kata yang puitis. Gaya bahasa yang biasa digunakan adalah majas perbandingan dan pertentangan. 5. Kembangkan puisi seindah mungkin Langkah selanjutnya adalah mengembangkan semua langkah di atas menjadi puisi yang indah. Susun kata, larik, menjadi bait. Kembangkan menjadi puisi yang utuh danbermakna.


6. Bait Ada banyak pilihan dari bait yang bisa kamu gunakan, seperti: Membuat puisi dengan masing-masing dua baris di setiap bait atau disebut distikon. Terdiri atas tiga baris per unit atau terzina. Empat baris per baik atau kuatren. Lima baris per bait atau kuintit. Terdiri atas empat baris di masing-masing dua bait yang pertama dan tiga baris di masingmasing dua baik terakhir atau disebut sonata.


BAB III KARAKTERISTIK PUISI A. Karakteristik Puisi Secara umum, puisi bisa diartikan sebagai suatu karya sastra yang berasal dari ungkapan atau curahan hati penyair. Karya sastra ini memiliki karakteristik tersendiri. Adapun beberapa karakteristik puisi itu seperti menggunakan bahasa yang singkat dan padat serta dituangkan dalam bentuk bait-bait, bersifat konotatif dan imajinatif, serta ambiguitas atau memberikan banyak penafsiran.Berdasarkan karakteristiknya, puisi dibagi menjadi puisi lama dan puisi baru. Puisi lama terdiri dari syair, pantun, dan gurindam. Puisi lama memiliki peraturan yang mengikat, berbeda dengan puisi baru. Karakteristik Puisi Lama Puisi lama terikat dengan berbagai aturan. Aturan-aturan tersebut bisa kita bagi menjadi aturan yang berkaitan dengan bait, larik, isi, dan rima. Berdasarkan baitnya, puisi lama terdiri dari 4 larik atau baris untuk pantun dan syair, serta dua larik untuk gurindam. Di tiap lariknya, pantun dan gurindam terdiri dari 8 hingga 12 suku kata. Sementara itu, syair bisa memiliki 8 sampai 14 suku kata. Jika kita lihat dari isinya, pantun dibagi menjadi isi dan sampiran: dua larik pertama adalah sampiran, sementara dua larik sisanya adalah isi. Berbeda dengan pantun, semua baris syair adalah isi dan semua barus pada gurindam merupakan nasihat. Puisi lama memiliki aturan pula terkait dengan rima. Syair dan gurindam memiliki rima yang seragam atau a-a-a-a, sementara pantun memiliki rima a-b-a-b. Pantun terdiri dari 3 jenis, yaitu pantun berkait, pantun talibun, dan pantun kilat. Pantun berkait adalah pantun yang tiap baitnya saling bersambung. Sementara itu, pantun talibun adalah pantun yang terdiri dari enam, delapan, atau sepuluh baris. Terakhir, pantun kilat adalah pantun yang hanya terdiri dari dua baris saja: baris pertama sebagai sampiran, dan baris kedua sebagai isi. Puisi lama selanjutnya adalah gurindam. Salah satu karakteristik puisi lama ini adalah isinya yang mengajarkan nilai pendidikan, petuah hidup, maupun agama. Karakteristik Puisi Baru Puisi baru memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan puisi lama. Beberapa karakteristik puisi baru adalah karyanya yang padat makna. Selain itu, puisi baru banyak menggunakan kata konotasi dan kata-kata indah. Puisi baru biasa ditulis dalam bentuk monolog dan bukan paragraf. Berdasarkan isinya, puisi baru bisa dibagi menjadi


beberapa jenis. Puisi naratif merupakan ungkapan cerita atau penjelasan penyair. Puisi naratif dibagi menjadi balada dan romansa. Puisi Sapardi di atas merupakan salah satu contoh puisi romansa. Jenis puisi baru selanjutnya adalah puisi lirik. Puisi lirik meluapkan perasaan batin si penulis. Puisi lirik terdiri dari elegi, serenada, dan ode. Elegi adalah jenis puisi lirik yang menggambarkan perasaan duka, sementara serenada berisi percintaan. Terakhir, ode merupakan pujian dan pujaan terhadap seseorang, suatu hal, atau keadaan tertentu. Puisi baru juga memiliki jenis puisi deskriptif. Karakteristik puisi deskriptif adalah isinya yang berupa interpretasi penyair atas keadaan, peristiwa, atau hal tertentu yang menurutnya penting. Puisi deskriptif dibagi menjadi satire, kritik sosial, dan impresionistik. Puisi satire menggambarkan perasaan tidak puas penyair terhadap suatu keadaan dan kemudian dituang menjadi sebuah sindiran. Sementara itu, kritik sosial mendeskripsikan hal yang salah dari suatu situasi atau figur tertentu. Terakhir, impresionistik adalah puisi yang berisi kesan penyair terhadap suatu hal. Contoh Puisi "Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada” Apakah ada yang familiar dengan puisi di atas? Puisi tersebut ditulis oleh Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Aku Ingin” pada tahun 1989. Selain Sapardi, masih ada banyak lagi sastrawan lain yang terkenal dengan puisinya, katakan saja Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bachri. B. Unsur Puisi Pada dasarnya, unsur atau struktur puisi ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu struktur batin puisi dan struktur fisik puisi. 1. Unsur Batin Puisi Struktur batin puisi bisa dikatakan sebagai unsur pembentuk puisi. Strukur batin puisi masih dibagi menjadi 4 struktur, yaitu: • Rasa Struktur rasa ini dapat diartikan sebagai sentuhan rasa yang berasal dari penulis puisi. Biasanya, penulis puisi atau penyair akan menulis sebuah puisi karena


latar belakang serta keresahan dari penulis itu sendiri. Akan tetapi, ada juga penulis puisi yang menulis puisi berdasarkan permasalahan yang sedang terjadi. • Tema Tema pada puisi ini biasanya akan menentukan hasil dari puisi itu sendiri. Oleh sebab itu, terkadang ada beberapa penulis puisi yang lebih menyukai untuk menentukan tema dalam membuat puisi. • Amanat Amanat merupakan sebuah pesan yang berisi tentang kehidupan yang diberikan oleh penulis kepada pembaca. Amanat ini ada yang dapat dijelaskan secara langsung dan ada juga yang dijelaskan dengan menggunakan makna-makna tersirat. • Nada Nada pada puisi dapat diartikan sebagai bunyi dari puisi yang dibuat oleh penulis atau penyair. Nada yang digunakan bisa nada tinggi, nada rendah, dan lain-lain. 2. Unsur Fisik Puisi Struktur fisik puisi merupakan unsur fisik puisi, sehingga biasanya di dalam puisi akan terdapat unsur fisik puisi. Berbeda dengan struktur batin puisi, struktur fisik puisi ini terdiri dari 6 struktur, yaitu: • Gaya Bahasa Puisi yang sering kita baca ini biasanya akan ada berbagai macam gaya bahasa dalam satu buah puisi. Dengan adanya gaya bahasa, maka akan memunculkan makna konotasi, sehingga membuat pembaca puisi tersentuh perasaanya. • Diksi Bahasa pada puisi sangatlah pada, sehingga setiap rangkaian katanya bisa memiliki makna tersendiri. Susunan kata pada puisi itu sering dikenal dengan istilah diksi. Pemilihan diksi harus memerhatikan kata-kata lainnya agar menghasilkan estetika bagi puisi itu sendiri. • Tipografi


Puisi terdiri dari beberapa baris dalam satu barisnya, kemudian pada bagian akhirnya terkadang diberi tanda baca yang berbeda-beda. Tanda baca ini akan menentukan suasana yang ada di dalam puisi. • Rima Rima pada puisi ini biasanya terletak pada bagian akhir baris puisi. Dengan adanya rima, bunyi puisi akan menjadi lebih indah. • Kata Konkret Kata konkret merupakan kata-kata pada puisi yang bisa mengarahkan ke imajinasi pembaca. Oleh karena itu, setelah membaca puisi, bisa menghadirkan imaji bagi seseorang. • Imaji Ketika membaca puisi akan lebih tersentuh apabila menghubungkannya dengan indera manusia. Imaji merupakan imajinasi yang melibatkan setiap indera manusia, biasanya imaji suara, imaji penglihatan, dan sebagainya. C. Cara Membuat Puisi Cara untuk membuat puisi anataralain, yaitu : 1. Tentukan Tema atau Judul Dalam menentukan tema, pilih tema yang menurutmu menarik dan sesuai kata hatimu. Puisi bisa menggunakan tema yang berhubungan dengan alam, persahabatan, sosial, pendidikan atau ungkapan hati. 2. Menentukan Kata Kunci Jika kamu sudah menentukan tema dan judul, langkah selanjutnya adalah menentukan kata kunci akan dikembangkan menjadi kalimat. Misalnya satu kata kunci yang digunakan untuk satu larik, atau satu kata kunci untuk membuat satu bait. 3. Menggunakan Gaya Bahasa Gaya bahasa akan memperindah puisi itu sendiri. Kamu bisa menggunakan berbagai macam majas agar pembaca, atau pendengar tidak bosan membacanya. Namun, harus digaris-bawahi jika penempatan diksi, atau gaya bahasa yang tidak


tepat akan mengurangi bahkan menghilangkan makna dari isi yang terkandung di dalamnya. 4. Kembangkan Puisi Semenarik Mungkin Selanjutnya adalah mengembangkan kata kunci menjadi kalimat-kalimat indah yang mewakili perasaanmu. Pilih kata yang padat dan sarat makna di dalamnya. ➢ Tiga hal yang berkaitan dengan kata dan larik dalam puisi, yaitu: • Kata adalah satuan rangkaian bunyi yang ritmis, indah dan merdu. • Makna kata yang mengandung banyak tafsir. • Mengandung imajinasi mendalam tentang hal yang dibicarakan. D. Cara Membaca Puisi 1.Intonasi Intonasi merupakan naik turunnya lagu kalimat. Perbedaan intonasi menyebabkan perbedaan maksud suatu kalimat. Contohnya bila puisinya tentang perjuangan, intonasinya menjadi tinggi agar pendengar turut merasakan emosi pembaca. Kadang, intonasi juga dapat datar ataupun rendah, tergantung tema puisi yang dibawakan. 2.Ekspresi Ekspresi diartikan sebagai pandangan air muka yang memperlihatkan perasaan seseorang. Ekspresi juga merupakan kunci pembawaan puisi yang baik. Ketika membacakan puisi, kamu harus dapat mengungkapkan maksud gagasan atau perasaan suatu melalui air muka secara tepat. Ekspresi dapat diasah dengan berlatih di depan cermin. 3. Lafal Lafal merupakan ucapan seseorang pada huruf ataupun kata. Terkadang, puisi dibuat dengan bahasa dan kata yang tidak terlalu umum didengar. Maka itu, pelafalan huruf dan


kata yang diucapkan harus jelas agar pendengar tidak salah mengartikannya. Melatihnya adalah dengan senam lidah guna lancar dalam mengucapkan huruf konsonan dengan artikulasi yang jelas. 4. Penekanan Penekanan berarti kuat lemahnya cara pengucapan kata atau kalimat. Penekanan berfungsi untuk menegaskan bagian kata yang satu dengan yang lainnya. Biasanya penekanan ini terkait juga dengan ekspresi dan intonasi. Jika ada kata atau bagian yang ingin ditegaskan, kamu dapat menekankan kata tersebut agar maknanya lebih dalam.


BAB IV KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PUISI A. Latar Belakang Masalah Belajar adalah bagian penting dan wajar dalam kehidupan sehari-hari dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Namun masih ada beberapa orang yang salah mengartikan belajar sebagai suatu kegiatan yang biasa. Tentu saja pemahaman ini adalah pemahaman yang salah. Belajar bukan hanya sekedar kegiatan menyuruh seorang anak untuk belajar. Seperti yang telah diketahui bersama bahwa tujuan belajar adalah agar dapat membentuk pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Tentu banyak pertanyaan akan muncul jika tujuan utama belajar adalah untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Tentu banyak pertanyaan yang akan muncul jika kita tidak memahami arti dari belajar mendalam (deep learning) yang pada dasarnya belajar memiliki makna tertentu. Belajar adalah proses kegiatan mental yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai perubahan tingkah laku menjadi lebih baik dan berkesinambungan dalam jangka waktu yang cukup lama melalui pelatihan atau pengalaman yang melibatkan aspek fisik maupun psikis. Belajar menghasilkan perubahan dalam diri setiap individu, dan perubahan tersebut memiliki nilai positif bagi setiap individu tersebut. Namun, tidak semua perubahan dapat dianggap sebagai belajar, seperti contohnya seorang anak yang terjatuh dari pohon yang mengakibatkan lengannya patah. Hal ini tidak dapat dianggap sebagai proses belajar sekalipun terjadi perubahan, karena perubahan tersebut bukanlah perilaku aktif dan mengarah pada perubahan ke arah yang lebih baik. Di sekolah, proses menyampaikan materi belajar kepada siswa di dalam kelas disebut proses pembelajaran. Pada proses pembelajaran terdapat beberapa mata pelajaran yang disampaikan guru kepada peserta didiknya salah satunya yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia yang menjadi mata pelajaran wajib sekaligus bahasa dari Negara Indonesia ini. Manusia memanfaatkan bahasa sebgai bentuk komunikasi lisan dan tulisan untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan keinginannya. Pada mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup beberapa aspek salah


satunya adalah aspek membaca. Membaca adalah proses berpikir. Untuk memahami teks bacan, pembaca harus terlebih dahulu memahami kata dan kalimat yang ditemuinya melalui proses eksplorasi dan asosiasi. Terdapat beberapa tujuan membaca bagi siswa di sekolah diantaranya untuk memperoleh kesenangan, 2 menyempurnakan membaca nyaring, memperbarui pengetahuan tentang suatu topik, menghubungkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahui, dan untuk mengumpulkan informasi untuk laporan lisan atau tertulis.1 Tujuan pembelajaran puisi adalah untuk membentuk karakter anak melalui penyadaran terhadap nilainilai kehidupan yang terkandung dalam puisi, serta mengajarkan tentang bagaimana mengekspresikan diri melalui kata-kata yang dapat diungkapkan lewat puisi. Pembelajaran materi puisi merupakan salah satu aspek membaca dalam materi pembelajaran Bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah dasar. Puisi merupakan karya sastra yang diciptakan oleh seseorang sebagai ungkapan tentang apa yang sedang dirasakan atau dialami penulis, sehingga ketika seseorang membaca puisi tersebut mereka akan ikut merasakan apa yang sedang penulis rasakan. Dalam materi puisi, selain diajarkan terampil menulis puisi siswa juga diajarkan untuk terampil membaca puisi. Membaca puisi bukan sekedar membaca seperti biasa, tetapi membaca puisi merupakan menyampaikan isi atau makna isi bacaan. Selain itu, pembaca puisi juga mampu mempraktikkan atau mendemonstrasikan isi puisi yang telah dibaca sehingga orang lain mampu memahami isi puisi yang telah dibaca tanpa harus membacanya. Membaca puisi memerlukan teknik tertentu agar tidak salah dalam nada dan intonasinya. Semakin baik keterampilan seseorang dalam membacakan puisi, maka penyampaian isi puisi akan dimengerti oleh pendengar. Siswa yang mampu dan terampil membaca puisi tentunya harus belajar memahami bagaimana langkah-langkah membaca puisi dengan benar. Pada saat pembelajaran materi puisi berlangsung, seorang guru dapat membimbing siswanya dengan mencontohkan langkah-langkah atau teknik agar terampil dalam membaca puisi yang baik dan benar dengan memperhatikan beberapa hal diantaranya yaitu memahami isi puisi, intonasi yang jelas ketika membaca puisi, menggunakan mimic yang tepat sesuai isi puisi, menggunakan bahasa tubuh yang tepat, pemenggalan atau jeda harus tepat, memperhatikan rima dan irama yang berarti tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat ketika membacakan puisi. Namun, pada kenyataannya dalam pembelajaran materi puisi di


sekolah dasar banyak siswa yang masih belum terampil membaca puisi dengan ketentuanketentuan yang ada. B. Poin penting yang dapat di pertimbangkan dalam mempelajari puisi 1.Definisi Puisi Puisi adalah bentuk sastra yang menggunakan bahasa yang kreatif dan imajinatif untuk menyampaikan pesan, emosi, dan pengalaman. Puisi sering kali menggunakan ritme, rima, dan bahasa figuratif untuk menciptakan efek estetika yang khas. 2.Struktur Puisi Puisi memiliki berbagai struktur yang berbeda, seperti bait, baris, dan stanza. Beberapa jenis puisi yang umum meliputi soneta, pantun, syair, dan haiku. Setiap jenis puisi memiliki aturan dan pola yang berbeda dalam penggunaan ritme, rima, dan panjang baris. 3.Bahasa Puisi Puisi menggunakan bahasa yang kaya dan imajinatif. Penulis puisi sering kali menggunakan metafora, simbol, dan bahasa figuratif lainnya untuk menciptakan gambaran yang kuat dan menggugah imajinasi pembaca. 4.Makna dan Tafsiran Puisi sering kali memiliki makna yang tersembunyi atau ambigu. Pembaca harus menginterpretasikan puisi dengan memperhatikan konteks, gaya bahasa, dan penggunaan simbol. Tafsiran puisi dapat bervariasi antara pembaca yang berbeda. 5.Fungsi Puisi


Puisi memiliki berbagai fungsi, seperti menyampaikan emosi, menggambarkan keindahan alam, mengkritik sosial, atau mengungkapkan pemikiran filosofis. Puisi juga dapat digunakan sebagai sarana untuk menghormati atau mengenang seseorang. 6.Tokoh Puisi Terkenal Ada banyak penyair terkenal dalam bahasa Indonesia, seperti Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Taufiq Ismail, dan Sutardji Calzoum Bachri. Karya-karya mereka telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam perkembangan puisi Indonesia. C. Kelebihan Puisi 1. Ekspresi Emosi Puisi adalah bentuk seni yang kuat untuk mengekspresikan emosi dan perasaan. Dalam puisi, penulis dapat menggunakan bahasa yang kaya dan imajinatif untuk menyampaikan pengalaman pribadi dengan cara yang lebih mendalam dan intens. 2. Kekuatan Imajinasi Puisi memungkinkan penggunaan imajinasi yang bebas dan kreatif. Penulis puisi dapat menggunakan metafora, simbol, dan bahasa figuratif lainnya untuk menciptakan gambaran yang kuat dan menggugah imajinasi pembaca. 3. Kompresi Bahasa Puisi sering kali menggunakan kata-kata yang dipilih dengan cermat dan dikemas dengan padat. Hal ini memungkinkan penulis untuk menyampaikan pesan yang kompleks dan mendalam dalam jumlah kata yang terbatas. 4. Keindahan Bahasa Puisi sering kali menekankan pada keindahan bahasa. Penulis puisi menggunakan ritme, rima, dan suara yang harmonis untuk menciptakan efek estetika yang menarik dan memikat.


5. Menyampaikan pesamdengan kuat Puisi dapat menyampaiakn pesan dengan cara yang sangat kuat dan efektif. Dalam puisi, penulis dapat menggunakan bahasa yang kreatif dan imajinatif untuk menyampaikan pesan yang mendalam dan bermakna. 6. Meningkatkan Keterampilan Bahasa Puisi dapat membantu meningkatkan keterampilan bahasa seseorang. Dalam puisi, penulis harus memilih kata-kata dengan cermat dan memperhatikan ritme dan suara, yang dapat membantu meningkatkan keterampilan bahasa secara keseluruhan. 7. Meningkatkan Kreativitas Puisi memungkinkan penggunaan imajinasi dan kreativitas yang bebas. Hal ini dapat membantu meningkatkan kreativitas seseorang dan membuka pikiran untuk ide-ide baru dan inovatif. 8. Menyampaikan Pengalaman Pribadi Puisi dapat digunakan untuk menyampaikan pengalaman pribadi dengan cara yang sangat mendalam dan emosional. Hal ini dapat membantu penulis dan pembaca untuk memahami pengalaman hidup yang mungkin sulit untuk diungkapkan dengan cara lain. • Puisi dapat menyampaikan pesan dengan kuat dan efektif. • Puisi dapat meningkatkan keterampilan bahasa dan kreativitas. • Puisi dapat menyampaikan pengalaman pribadi dengan cara yang mendalam dan emosional. D. Kekurangan Puisi


1. Tidak Semua Orang Menyukai Puisi, Puisi memiliki gaya dan struktur yang khas, yang mungkin tidak disukai oleh semua orang. Beberapa orang mungkin merasa sulit untuk memahami atau menghargai puisi karena gaya bahasanya yang kreatif dan tidak langsung. 2. Tafsiran Subjektif. Puisi sering kali memiliki makna yang tersembunyi atau ambigu, yang dapat menghasilkan berbagai tafsiran yang berbeda. Hal ini dapat menyebabkan kebingungan atau ketidakjelasan dalam pemahaman puisi. 3. Keterbatasan Informasi. Puisi sering kali tidak memberikan informasi yang lengkap atau rinci tentang topik yang dibahas. Hal ini dapat membuat sulit bagi pembaca untuk memahami konteks atau latar belakang dari puisi tersebut. 4. Keterbatasan Komunikasi. Puisi sering kali menggunakan bahasa yang kreatif dan tidak langsung, yang dapat membuat sulit bagi penulis untuk menyampaikan pesan secara jelas dan langsung. Hal ini dapat mengakibatkan kehilangan komunikasi antara penulis dan pembaca. 5. Sulit Dipahami. Puisi sering kali menggunakan bahasa yang kreatif dan tidak langsung, yang dapat membuat sulit bagi pembaca untuk memahami makna yang sebenarnya. Hal ini dapat menyebabkan kebingungan atau ketidakjelasan dalam pemahaman puisi. 6. Tidak Menyediakan Informasi yang Lengkap. Puisi sering kali tidak menyediakan informasi yang lengkap atau rinci tentang topik yang dibahas. Hal ini dapat membuat sulit bagi pembaca untuk memahami konteks atau latar belakang dari puisi tersebut. 7. Tidak Sesuai untuk Semua Topik. Puisi mungkin tidak sesuai untuk semua topik atau subjek. Beberapa topik mungkin terlalu kompleks atau terlalu teknis untuk diungkapkan dalam bentuk puisi. 8. Tidak Cocok untuk Semua Pembaca. Puisi mungkin tidak cocok untuk semua pembaca. Beberapa orang mungkin tidak tertarik pada gaya bahasa yang kreatif dan tidak langsung yang sering digunakan dalam puisi. Meskipun puisi memiliki kelebihan dan kekurangan, penting untuk diingat bahwa apresiasi terhadap puisi sangat subjektif. Beberapa orang mungkin menemukan puisi


sangat memikat dan bermakna, sementara yang lain mungkin tidak tertarik atau kesulitan memahaminya. Dalam mempelajari puisi, penting untuk menghargai kelebihankelebihannya, seperti kemampuan untuk menyampaikan pesan dengan kuat dan meningkatkan keterampilan bahasa. Namun, juga perlu diakui bahwa puisi memiliki kekurangan, seperti kesulitan dalam pemahaman dan ketidaklengkapannya dalam menyediakan informasi. Dengan memahami kelebihan dan kekurangan puisi, kita dapat mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang kekuatan dan batasan puisi sebagai bentuk sastra. Hal ini juga dapat membantu kita dalam mengapresiasi puisi dengan cara yang lebih holistik dan kritis.


BAB V METODE DAN TEKNIK PENULISAN PUISI A. Metode Penulisan Puisi Bagaimana cara atau metode yang bisa anda lakukan dalam menulis puisi? Pastinya bagi seorang penulis puisi, metode tersebut bermacam-macam. Namun, anda perlu ketahui bahwa ada beberapa metode menulis puisi yang cocok untuk calon sastrawan atau pemula. Dengan penggunaan metode ini, penulisan puisi anda jadi lebih bagus dan keren. Lalu, apa saja metode menulis puisi bagi penulis pemula? 1. Peta pasang kata Metode ini berpusat pada keberanian dalam memasangkan kata secara bebas, tetapi imajinatif. Hal inilah yang membuat anda mendapat ragam kata baru dalam karya puisi anda. Selain itu, anda berpotensi untuk mengembangkan kata-kata tersebut menjadi larik yang menarik. Kemudian, timbul suatu bait sehingga anda sempurnakan sebagai puisi yang utuh. Caranya adalah anda membayangkan sentral atau kata yang menginspirasi pikiran. Anda bisa menjadi rujukan atau menyeleksi dari beragam pengalaman dan empati anda untuk memilih sentral kata tersebut. Setelah itu, kata yang dipilih akan menggerakkan ingatan anda pada hal lain secara tidak sadar. Hal inilah yang bisa anda eksplorasi secara mengagumkan. Selanjutnya, anda bisa mengaitkan kata dengan kata lain. Perhatikan bahwa mengaitkan kata itu butuh keberanian agar tidak terjebak pada kegugupan antara salah atau benar. Sebenarnya, dalam menulis puisi anda tidak mengenal salah atau benar. Penyair memiliki kebebasan untuk menyimpang dari kaidah yang dikenal dengan licensia poetica. Contohnya, harum dusta, dada serut, dan sebagainya. Selanjutnya, anda dapat memasangkan kata keberbagai kata secara bebas. Lalu, anda bisa mengkreasikan hingga jadi larik yang menarik. Tidak perlu khawatir, anda bebas


mengembangkannya tanpa terikat kaidah kebahasaan. Kemudian, anda bisa mengelompokkan larik-larik yang telah dibuat kedalam tema kecil (pokok permasalahan) yang biasa disebut subject matter. Anda membutuhkan kemampuan analisis terhadap isi dan makna larik. Kemudian, merangkai gagasan larik kedalam keutuhan baik yang memukau. Terakhir, anda bisa mengategorikan larik kedalam kelompok larik yang membangun baik. Anda membutuhkan ketelitian tingkat tinggi terkait lurik yang memiliki nuansa yang sama, berdekatan dan berurutan. 1. Metode ukaba Kebanyakan orang tidak bisa menulis puisi karena sulit mencari kata-kata yang puitis dan meras tidak berbakat. Maka dari itu, salah satu metode menulis puisi kedua adalah metode ukaba. Cara menggunakan metode ini iyalah mengulang kata atau mengulang baris dalam baris atau bait. Metode ini senada dengan gaya bahasa repetisi. Gaya tersebut adalah gaya bahasa yang menggunakan perulangan, kata, frasa, atau klausa dalam sebuah kalimat. Metode ukaba dibagi dua, yakni anafora dan kata fora. Anafora adalah teknik ulang kata atau baris yang terdapat diawal baris atau bait. Sementara itu, katafora adalah teknik ulang kata atau barisyang terdapat diakhir baris atau bait. Anda bisa menerapkan metode ini setelah menentukan tema puisi dan kata kunci yang ingin diambil. Setelah itu, anda bisa mengulang kata kunci tersebut diawal atau diakhir baris dalam bait. 2. Metode concept sentence Metode concept sentence adalah salah satu metode pembelajaran yang dilakukan dengan penyajian beberapa kata kunci sesuai materi yang disajikan. Lalu, kata kunci itu disusun kebeberapa kalimat dalam kelompok dan didiskusikan kembali. Dalam hal ini, metode ini dapat digunakan untuk menulis puisi katena bisa mengembangkan kata kunci menjadi biat-bait puisi yang menarik. Dalam hal ini, anda dapat menyajikan beberapa kata kunci yangdiperlukan. Apabila masih kesulitan, anda dapat memanfaatkan barang-barang disekitar anda.


Kelebihan dari metode ini adalah meningkatkan semangt belajar, membantu terciptanya suasana belajar yang kondusif, mendorong dan mengembangkan proses berpikir kreatif, dan lebih memahami kata kunci dari hal-hal yang telah di pelajari. 3. Metode field trip Metode ini adalah metode pencarian ide puisi atau menulis puisi dengan memanfaatkan lingkungan sebagai tempat sekaligus sumber inspirasi bagi calon sastrawan (pemula). Untuk tempatnya, anda tidak perlu mencarilokasi yang jauh. Metode ini memang sering digunakan diberbagai kelas. Namun, anda bisa terapkan dalam kehidupan sastra anda. Caranya anda dapat pergi ke beberapa tempat yang strategis, seperti taman bermain, lapangan, jalan raya, atau fasilitas umum. Selanjutnya, ada bisa menulis puisi secara bebas sesuai apa yang dilihat oleh anda. Lalu, perbaikan beberapa kata kunci dalam bait atau baris yang tidak sesuai dengan topik yang anda ambil. Setelah itu, cari kembali objek dari tempat-tempat lain untuk dimasukkan kata kuncinya kedalam bait atau larik anda. 4. Metode picture and picture Metode picture and picture adalah metode yang menggunakan gambar sebagai sumber inspirasi dalam menulis puisi. Metode ini hampir sama dengan metode field trip, tetapi anda tidak perlu keluar rumah atau lingkungan sekitar. Anda hanya perlu mencari beberapa gambar, baik di sekitar anda maupun internet. Untuk gambarnya anda bisa mencari foto wisata, kenangn masa kecil, atau gambar bersejarah. Dalam hal ini, penulisan puisi dapat di tuangkan berdasarkan sugesti dari imajinasi anda dari gambar yang dipilih. Itulah beberapa metode dalam menulis puisi untuk calon sastrawan (pemula). Beberapa teknik dapat dipicu dengan beragam sumber ide, seperti audiofisual, obsertvasi, wawancara, atau imajinatif dari berbagai pengalaman anda. Sebelum menggunakan metode diatas, pastikan anda mengetahui pengetahuan tentang puisi, seperti unsur dan kaidah penulisannya.


DAFTAR PUSTAKA https://repositori.kemdikbud.go.id/20192/ https://www.bola.com/ragam/read/5174803/cara-membuat-puisi-yang-baik-danmenarik?page=3 https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-puisi/ https://media.neliti.com/media/publications/256079-diksi-dan-gaya-bahasa-puisipuisi-kontem-d463d30f.pdf https://pustaka.ut.ac.id/lib/wp-content/uploads/pdfmk/PBIN4213-M1.pdf https://penerbitdeepublish.com/teknik-menulis-puisi-b1/amp/ https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/01/24/metode-menulis-puisisastrawan-pemula


Click to View FlipBook Version