The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by bryanturnip2002, 2023-04-01 23:58:52

MAKALAH KEL 6_EVALUASI PEMBELAJARAN

MAKALAH KEL 6_EVALUASI PEMBELAJARAN

MAKALAH EVALUASI HASIL BELAJAR ASPEK KOGNITIF DAN INSTRUMENT PENILAIANNYA DISUSUN OLEH : KELOMPOK 2 Ade Putri Prita Marpaung (1202411008) Dianson Sahatma Maraja (1203111018) Ulfah Rabiatul Azkiyah (1202411006) Winda Fitriani (1202411002) Dosen Pengampu : Drs. Arifin Siregar,M.Pd. Nurhudayah Manjani,M.Pd PRODI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2023


KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatnya sehingga kami masih diberikan kesempatan dan kesehatan untuk dapat menyelesaikan tugas Makalah ini dengan judul EVALUASI HASIL BELAJAR ASPEK KOGNITIF DAN INSTRUMENT PENILAIANNYA. Makalah ini penulis buat guna menambah wawasan dan ilmu pengetahuan para pembaca. Dalam penulisan Makalah ini, penulis tentu saja tidak dapat menyelesaikannya sendiri tanpa bantuan dari pihak lain. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1. Kedua teman-teman kelompok 6 yang sudah membantu dalam pembuatan makalah 2. Kepada Bapak dosen Drs. Arifin Siregar,M.Pd dan ibu Nurhudayah Manjani,M.Pd. Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kata sempurna karena masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis dengan segala kerendahan hati meminta maaf dan mengharapkan kritik serta saran yang membangun guna perbaikan dan penyempurnaan kedepannya. Akhir kata penulis mengucapkan selamat membaca dan semoga materi yang ada dalam makalah ini dapat bermanfaat sebagaimana mestinya bagi para pembaca. Medan,21 Maret 2023 Penulis


DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .................................................................................................................... 2 BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................... 4 A. Latar Belakang..................................................................................................................... 4 B. Rumusan Masalah................................................................................................................ 4 C. Manfaat Penulisan................................................................................................................ 4 BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................................ 5 A. Ruang Lingkup Dan Ranah Evaluasi Pembelajaran ............................................................ 5 B. Evaluasi Hasil Belajar Aspek Kognitif................................................................................ 6 C. Instrument Evaluasi Hasil Belajar Ranah Kognitif............................................................ 10 BAB III PENUTUP ...................................................................................................................... 13 A. Kesimpulan ........................................................................................................................ 13 B. Saran .................................................................................................................................. 14 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 15


BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belajar dipandang sebagai proses yang mengubah tingkah laku siswa. Peran asesmen dalam pembelajaran menjadi sangat penting.Penilaian dalam proses pembelajaran merupakan proses pengumpulan, analisis dan interpretasi informasi untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran. Guru harus merencanakan dan melaksanakan evaluasi pembelajaran yang merupakan bagian yang sangat penting dalam proses pembelajaran Evaluasi atau evaluasi dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan tes maupun non tes. Tes menurut Arikunta adalah suatu alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dengan cara yang telah ditentukan dan menurut aturan. Tes yang baik adalah tes yang valid, reliabel, dan objektif. Tes yang diberikan kepada siswa harus berkaitan dengan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memahami bidang-bidang tersebut.Evaluasi berfungsi sebagai sarana untuk mengontrol kinerja komponen proses belajar mengajar dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan yang diharapkan dari proses belajar mengajar. Informasi yang diperoleh dari hasil analisis hasil penilaian sangat penting untuk menetapkan pedoman yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar (Jihad, 2012). Asesmen kognitif merupakan asesmen yang dilakukan oleh guru untuk mengukur tingkat pencapaian dan penguasaan siswa dari segi pengetahuan Informasi kompetensi mencerminkan konsep-konsep keilmuan yang harus dikuasai siswa selama pembelajaran. Oleh karena itu, dalam artikel ini dibahas tentang pentingnya evaluasi kognitif, tataran berpikir dalam ranah kognitif, teknik dan alat evaluasi kognitif, serta contoh fungsional evaluasi kognitif dalam pembelajaran. B. Rumusan Masalah 1. Bagiamana bentuk evaluasi hasil belajar aspek kognitif? 2. Apa saja instrument yang di gunakan dalam penilaian aspek kognitif? 3. Bagaimana bentuk penilaian aspek kognitif? C. Manfaat Penulisan a. Untuk mengetahui evaluasi hasil belajar aspek kognitif b. Memahami instrument yang di gunakan dalam penilaian aspek kognitif c. Untuk mengetahui bentuk penilaian aspek kognitif


BAB II PEMBAHASAN A. Ruang Lingkup Dan Ranah Evaluasi Pembelajaran Sebelum melakukan penilaian kita hendaknya mengetahui apa yang harus kita nilai. Penilaian sendiri memiliki makna sebagai upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai. Dengan kata lain penilaian memiliki fungsi sebagai alat untuk mengetahui keberhasilan proses dan hasil belajar siswa. Proses adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, sedangkan hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah melalui proses pembelajaran (pengalaman belajar). Menurut Horward Kingsley membagi tiga macam hasil belajar yakni, keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, dan sikap dan cita-cita. Sedangkan Gagne membagi lima kategori hasil belajar yakni, informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan keterampilan motoris. Namun dalam sistem pendidikan nasional menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benjamin S. Bloom yang lebih dikenal dengan Taksonomi Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah yakni kognitif, afektif dan psikomotoris. a. Ranah kognitif berkenaan dengan kemampuan pikir, kemampuan memperoleh pengetahuan, yang berkaitan dengan pemerolehan pengetahuan, pengenalan, pemahaman, konseptualisai, penentuan dan penalaran dapat diartikan sebagai kemampuan intelektual. Kemampuan berfikir, termasuk di dalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi. Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Ranah kognitif berorientasi pada kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut peserta didik untuk menghubungakan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut.


b. Ranah Afektif Ranah Afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai, sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya apabila ia telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi.Menurut Popham (1995), ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang. Peserta didik yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu, sulit untuk mencapai keberhasilan belajar secara optimal. Seseorang yang berminat dalam suatu mata kuliah diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu pendidik harus mampu membangkitkan minat peserta didik untuk mencapai kompetensi yang telah ditentukan. Ikatan emosional sering diperlukan untuk membangun semangat kebersamaan, semangat persatuan, semangat nasionalisme, rasa sosial, dan sebagainya, sehingga dalam merancang program pembelajaran harus memperhatikan ranah afektif. c. Ranah psikomotorik Ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar ranah psikomotorik dikemukakan oleh simpons (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Hasil belajar ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif, afektif hal ini bisa dilihat apabila peserta didik telah menunjukan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalamranah kognitif dan ranah afektifnya. B. Evaluasi Hasil Belajar Aspek Kognitif a. Pengertian penilaian kognitif Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition yang artinya pengertian, mengerti. Kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam pusat susunan saraf pada waktu manusia sedang berpikir (Gagne dalam Jamaris, 2006). Pengertian yang luasnya dari cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Neisser, 1976). Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk


didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang tersebut yaitu: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan penilaian (evaluation) (Nurbudiyani, 2013). Hasil belajar kognitif adalah perubahan perilaku yang terjadi dalam kawasan kognisi, hasil belajar kognitif tidak merupakan kemampuan tunggal melainkan kemampuan yang menimbulkan perubahan perilaku dalam domain kognitif yang meliputi beberapa jenjang atau tingkat (Purwanto, 2010). Tujuan pengukuran ranah kognitif adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa pada ranah kognitif khususnya pada tingkat hafalan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesa dan evaluasi. Manfaat pengukuran ranah kognitif adalah untuk memperbaiki mutu atau meningkatkan prestasi siswa pada ranah kognitif khususnya pada tingkat hapalan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesa dan evaluasi (Nurbudiyani, 2013). Jadi, penilaian kognitif adalah penilaian yang dilakukan oleh guru untuk mengukur tingkat pencapaian atau penguasaan siswa dalam aspek pengetahuan yang meliputi ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. b. Tingkatan berpikir Ranah kognitif Dalam hubungannya dengan satuan pelajaran, ranah kognitif memegang peranan paling utama yang menjadi tujuan pengajaran di SD, SMP dan SMA pada umumnya adalah peningkatan kemampuan siswa dalam aspek kognitif. Aspek kognitif dibedakan atas 6 jenjang menurut taksonomi Bloom (1956) yang diurutkan secara hierarki piramida. Sistem klasifikasi Bloom itu dapat digambarkan sebagai berikut:


Gambar 1. Tingkatan berfikir ranah kognitif menurut Taksonomi Bloom, 1956 1. Pengetahuan (knowledge) Pada tahap ini siswa hendaknya mampu mengingat kembali (recall) berbagai informasi yang telah diterima sebelumnya tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya. Hal-hal itu dapat meliputi fakta, kaidah dan prinsip, serta metode yang diketahui. Pengetahuan yang disimpan dalam ingatan, digali pada saat dibutuhkan melalui bentuk ingatan mengingat (recall) atau mengenal kembali (recognition). Misalnya: siswa diminta untuk menyebutkan ciri-ciri makhluk hidup. Siswa akan mampu menyebutkan semua ciri-ciri makhluk hidup. Hasil belajar aspek pengetahuan termasuk tingkat kognitif yang paling rendah, meliputi pengetahuan faktual dan pengetahuan hafalan atau untuk diingat. Namun, tipe hasil belajar pengetahuan menjadi prasarat bagi pemahaman. 2. Tingkat Pemahaman (Comprehension) Pada tahap ini kategori pemahaman dihubungkan dengan kemampuan untuk menjelaskan pengetahuan, informasi yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri. Pada tahap ini peserta didik diharapkan menerjemahkan atau menyebutkan kembali yang telah didengar dengan kata-kata sendiri. kemampuan untuk memahami segala pengetahuan yang diajarkan seperti kemampuan mengungkapkan dengan struktur kalimat lain, membandingkan, menafsirkan, dan sebagainya. Dengan pemahaman,


siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana diantara fakta-fakta atau konsep. 3. Tingkat Penerapan (Application) Penerapan merupakan kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi yang telah dipelajari ke dalam situasi yang baru, serta memecahkan berbagai masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan juga merupakan kemampuan untuk menggunakan konsep, prinsip, prosedur atau teori tertentu pada situasi tertentu. Seseorang menguasai kemampuan ini jika ia dapat memberi contoh, menggunakan, mengklasifikasikan, memanfaatkan, menyelesai kan, dan mengidentifikasikan pada situasi baru atau keadaan konkrit. Contoh kata kerja yang digunakan pada tingkatan ini yaitu mengaplikasikan, menghitung dan menunjukkan.Untuk penerapan atau aplikasi ini siswa dituntun untuk memiliki kemampuan untuk menyeleksi atau memilih suatu abstrasi tertentu (konsep, hukum, dalil, aturan, gagasan, cara) secara tepat untuk diterapkan dalam situasi baru dan menerapkan secara benar. 4. Tingkat Analisis (analysis) Analisis merupakan kemampuan mengidentifikasi, memisahkan dan membedakan komponen-komponen atau elemen suatu fakta. Konsep pendapat asumsi hipotesis atau kesimpulan dan memeriksa setiap komponen tersebut untuk melihat ada atau tidaknya kontradiksi. Dalam tingkat ini peserta didik diharapkan menunjukkan hubungan diantara berbagai gagasan dengan cara membandingkan gagasan tersebut dengan standar prinsip atau prosedur yang telah dipelajari. Analisis merupakan usaha memilah suatu integritas menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian sehinggga jelas susunannya. Secara rinci Bloom mengemukakan tiga jenis kemampuan analisis, yaitu: (1) Menganalisis unsur, (2) Menganalisis hubungan, dan (3) Menganalisis prinsip-prinsip organisasi. 5. Sintesis (synthesis) Merupakan kemampuan seseorang dalam mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsur pengetahuan yang ada sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh. Apabila penyusunan soal tes bermaksud meminta siswa melakukan sintesis maka pertanyaan-pernyataan disusun sedemikian rupa sehingga


meminta siswa untuk menggabungkan atau menyusun kembali hal-hal yang spesifik agar dapat mengembangkan suatu struktur baru. Sehingga terjelma pola yang berkaitan secara logis, atau mengambil kesimpulan dari peristiwa-peristiwa yang ada hubungannya satu dengan yang lainnya. 6. Tingkat Evaluasi (Evaluation) Evaluasi merupakan level tertinggi yang mengharapkan peserta didik mampu membuat penilaian dan keputusan tentang nilai suatu gagasan, metode produk atau benda dengan menggunakan kriteria tertentu. Evaluasi ialah kemampuan untuk mengambil keputusan, menyatakan pendapat atau memberi penilaian berdasarkan kriteria-kriteria tertentu baik kualitatif maupun kuantitatif. C. Instrument Evaluasi Hasil Belajar Ranah Kognitif Cakupan yang diukur dalam ranah penilaian Kognitif adalah: a) Ingatan (C1) yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat. Ditandai dengan kemampuan menyebutkan simbol, istilah, definisi, fakta, aturan, urutan, metode. b) Pemahaman (C2) yaitu kemampuan seseorang untuk memahami tentang sesuatu hal. Ditandai dengan kemampuan menerjemahkan, menafsirkan, memperkirakan, menentukan, menginterprestasikan. c) Penerapan (C3), yaitu kemampuan berpikir untuk menjaring & menerapkan dengan tepat tentang teori, prinsip, simbol pada situasi baru/nyata. Ditandai dengan kemampuan menghubungkan, memilih, mengorganisasikan, memindahkan, menyusun, menggunakan, menerapkan, mengklasifikasikan, mengubah struktur. d) Analisis (C4), Kemampuan berfikir secara logis dalam meninjau suatu fakta/ objek menjadi lebih rinci. Ditandai dengan kemampuan membandingkan, menganalisis, menemukan, mengalokasikan, membedakan, mengkategorikan. e) Sintesis (C5), Kemampuan berpikir untuk memadukan konsep-konsep secara logis sehingga menjadi suatu pola yang baru. Ditandai dengan kemampuan mensintesiskan, menyimpulkan, menghasilkan, mengembangkan, menghubungkan, mengkhususkan. f) Evaluasi (C6), Kemampuan berpikir untuk dapat memberikan pertimbangan terhadap sustu situasi, sistem nilai, metoda, persoalan dan pemecahannya dengan menggunakan tolak ukur tertentu sebagai patokan. Ditandai dengan kemampuan menilai, menafsirkan, mempertimbangkan dan menentukan.


Pada umumnya, Hasil belajar ranah kognitif dapat diukur menggunakan tes tertulis dan/atau tes lisan. Tes lisan umumnya, hanya digunakan sesekali saja dan dilakukan pada mata kuliah yang terbatas, seperti bahasa, agama dan kesenian. Proses konstruksi tes lisan lebih sederhana dari pada tes tertulis, dan tingkat kehandalan tes lisan umumnya kurang valid. Secara empiris uji validitas tes lisan sukar untuk dilakukan. Dalam rangka menguji kehandalan tes lisan, paling mungkin hanya dapat dilakukan uji reliabilitas kasar menggunakan teknik reliabilitas tesretes. Proses tahapan mengkonstruksi tes tertulis secara garis besar yaitu: mengkaji kurikulum, mengembangkan indikator dan kisi-kisi, menulis item soal, uji validasi konsep, revisi/perbaikan, uji validasi empiris, seleksi soal, dan penyajian tes. Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Tes tertulis terbagi dua, yaitu tes uraian dan tes objektif. a. Tes Uraian/esai, Tes uraian dalah butir soal berbentuk pertanyaan atau tugas yang jawaban atau pengerjaan tugas harus dilakukan dengan cara mengemukakan pikiran peserta tes secara naratif. Bentuk tes uraian dapat diklasifikasikan ke dalam dua tipe yaitu tes uraian bebas (extended response) dan tes uraian terbatas (restricted response). Perbedaan dua tipe tes uraian ini adalah atas dasar besarnya kebebasan yang diberikan kepada peserta didik untuk menulis dan menyatakan jawaban. Tes uraian bebas memberikan kebebasan yang lebih besar dari pada uraian terbatas. b. Tes Objektif, Tes objektif adalah tes atau butir soal yang menuntut jawaban secara lebih pasti. Bentuk tes objektif dapat mencakup banyak materi pelajaran, penskorannya objektif, dan mudah dikoreksi. Seperti, jawaban singkat atau isian singkat, menjodohkan benar salah, pilihan ganda.


CONTOH KISI – KISI INSTR KOGN Standar Kompetensi : 1. Melakukan pengerjaan hitung bilangan sampai tiga angka. Kompetensi Dasar : 1.2 Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan tiga angka.Kelas/Semester : III/2 (Genap) BAB : I (Bilangan) Materi : Melakukan Penjumlahan dan Pengurangan Tiga Angka INDIKATOR INDIKATOR SOAL BENTUK SOAL CONTOH SOAL 1. Menentukan nilai tempat sampai dengan ribuan Menentukan nilai tempat pada ratusan Isian 478 = angka 4 menempati tempat ... n angka 7 menempati tempat ... n angka 8 menempati tempat ... n 2. Menuliskan bilangan Menentukan bilangan dalam bentuk panjang ratusan yang telah tersusun nilai Isian ... = 9 ratusan + 8 puluhan + 8 s tempatnya 3. Membandingkan dua bilangan tiga angka Membandingkan bilangan ratusan Isian Berilah tanda <, > atau = 123 … 123 4. Melakukan pengerjaan Mencari suku angka 701 hitung penjumlahan yang belum diketahui Isian . . . + dengan cara bersusun 989 5. Memecahkan masalah sehari-hari yang melibatkan penjumlahan Menyelesaikan soal cerita yang mengandung penjumlahan Isian Roni mempunyai 2 kandang ay hari pertama 2 kandang ayam t menghasilkan 520 butir telur. Pa kedua menghasilkan 259 butir Berapa jumlah telur yang dikum Roni dari 2 kandang selama 2 h


RUMEN PENILAIAN RANAH NITIF L TAKSONOMI BLOOM TINGKAT KESUKARAN JAWABAN nilainya .... nilainya .... nilainya .... C1 Mudah 478 angka 4 menempati tempat ratusan nilainya 400 angka 7 menempati tempat puluhan nilainya 70 angka 8 menempati tempat satuan nilainya 8 satuan C1 Sedang 988 = 9 ratusan + 8 puluhan + 8 satuan C2 Mudah 123 = 123 701 C2 Sedang 288 + 989 yam. Pada tersebut ada hari telur. mpulkan hari? C3 Sulit Diketahui: Hari pertama menghasilkan 520 telur Hari kedua menghasilkan 259 telur Ditanyakan: berapa jumlah telur selama 2 hari? Jawaban: 520 259 +


BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Sebelum melakukan penilaian kita hendaknya mengetahui apa yang harus kita nilai. Penilaian sendiri memiliki makna sebagai upaya atau tindakan untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai. A.Ranah kognitif berkenaan dengan kemampuan pikir, kemampuan memperoleh pengetahuan, yang berkaitan dengan pemerolehan pengetahuan, pengenalan, pemahaman, konseptualisai, penentuan dan penalaran dapat diartikan sebagai kemampuan intelektual. Seseorang yang berminat dalam suatu mata kuliah diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu pendidik harus mampu membangkitkan minat peserta didik untuk mencapai kompetensi yang telah ditentukan. Istilah «Cognitive» berasal dari kata cognition yang artinya pengertian, mengerti. Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Hasil belajar kognitif adalah perubahan perilaku yang terjadi dalam kawasan kognisi, hasil belajar kognitif tidak merupakan kemampuan tunggal melainkan kemampuan yang menimbulkan perubahan perilaku dalam domain kognitif yang meliputi beberapa jenjang atau tingkat . Tes lisan umumnya, hanya digunakan sesekali saja dan dilakukan pada mata kuliah yang terbatas, seperti bahasa, agama dan kesenian. Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Tes tertulis terbagi dua, yaitu tes uraian dan tes objektif. Tes Uraian/esai, Tes uraian dalah butir soal berbentuk pertanyaan atau tugas yang jawaban atau pengerjaan tugas harus dilakukan dengan cara mengemukakan pikiran peserta tes secara naratif. Bentuk tes uraian dapat diklasifikasikan ke dalam dua tipe yaitu tes uraian bebas dan tes uraian terbatas . Perbedaan dua tipe tes uraian ini adalah atas dasar besarnya kebebasan yang diberikan kepada peserta didik untuk menulis dan menyatakan jawaban. Tes uraian bebas memberikan kebebasan


yang lebih besar dari pada uraian terbatas. Tes Objektif, Tes objektif adalah tes atau butir soal yang menuntut jawaban secara lebih pasti. B. Saran Dalam penyusunan makalah ini, pada kenyataannya masih banyak kekurangan yang perlu penulis perbaiki. Hal ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan penulis. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat diharapkan guna untuk meningkatkan pengetahuan untuk perbaikan tugas selanjutnya.


DAFTAR PUSTAKA Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Megajar, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011, Hal. 22 Nurbudiyani, I. (2013). Pelaksanaan Pengukuran Ranah Kognitif, Afektif, dan Psikomotor Pada Mata Pelajaran IPS Kelas III SD Muhammadiyah Palangkaraya. Pedagogik Jurnal Pendidikan. 8 (2). Purwanto. (2011). Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Click to View FlipBook Version