The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

DERAI DERAI CEMARA Karya Chairil Anwar cemara menderai sampai jauh terasa hari akan jadi malam ada beberapa dahan di tingkap merapuh dipukul angin yang terpendam aku sekarang orangnya bisa tahan sudah berapa wa

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by nisa28715, 2021-08-23 11:24:23

DERAI DERAI CEMARA Karya Chairil Anwar cemara menderai sampai jauh terasa hari akan jadi malam ada beberapa dahan di tingkap merapuh dipukul angin yang terpendam aku sekarang orangnya bisa tahan sudah berapa wa

DERAI DERAI CEMARA Karya Chairil Anwar cemara menderai sampai jauh terasa hari akan jadi malam ada beberapa dahan di tingkap merapuh dipukul angin yang terpendam aku sekarang orangnya bisa tahan sudah berapa wa

DERAI DERAI CEMARA
Karya Chairil Anwar

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi

tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan

sebelum pada akhirnya kita menyerah
1949

Chairil Anwar
Lahir 26 Juli 1922
Medan, Hindia Belanda
Meninggal 28 April 1949 (umur 26)
Jakarta, Indonesia
Pekerjaan Penyair
Bahasa Indonesia
Periode 1943–1949

Chairil Anwar (26 Juli 1922 – 28 April 1949) adalah
seorang penyair Indonesia dan anggota penulis
"Generasi 1945". ia diperkirakan telah menulis 96
karya, termasuk 70 puisi individu.

Anwar lahir dan besar di Medan, Sumatera Utara,
sebelum pindah ke Batavia bersama ibunya pada
tahun 1940, di mana ia mulai memasuki lingkaran
sastra lokal. Setelah menerbitkan puisi pertamanya

pada tahun 1942, Anwar terus menulis. Namun,
puisi-puisinya terkadang disensor oleh Jepang,
yang kemudian menduduki Indonesia. Hidup
memberontak, Anwar banyak menulis, sering kali
tentang kematian. Dia meninggal di Jakarta

karena penyakit yang tidak diketahui.
Karyanya membahas berbagai tema, termasuk
kematian, individualisme, dan eksistensialisme, dan
seringkali multi-interpretasi. Mengambil pengaruh
dari penyair asing, Anwar menggunakan bahasa

sehari-hari dan sintaksis baru untuk menulis
puisinya, yang telah dicatat membantu

perkembangan bahasa Indonesia. Puisi-puisinya
sering dibuat tidak beraturan, tetapi dengan pola-

pola individual.


Click to View FlipBook Version