The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Matakuliah Pendidikan Inklusi
Disusun oleh kelompok 5

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by pn.dil19, 2023-06-07 02:40:53

LAPORAN OBSERVASI SEKOLAH BERBASIS INKLUSI-SD N KRAMAT 2

Matakuliah Pendidikan Inklusi
Disusun oleh kelompok 5

Keywords: inklusi,pendidikan,sekolah,abk

LAPORAN PELAKSANAAN HASIL OBSERVASI SEKOLAH INKLUSI DI SD N KRAMAT 2 MAGELANG Disusun Oleh 1. Putri Nadila (2010305021) 2. Luvy Arifah (2010305056) 3. Maulida Khasanah (2010305011) 4. Restu Anggraeni (2010305027) 5. Syafira Ulfi Arifa (2010305060) 6. Ninda Cahyani (2010305061) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TIDAR 2023


BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Menempuh dibangku pendidikan merupakan suatu kebutuhan dan hak diwajibkan untuk seluruh warga negara Indonesia. Seperti pada pasal 31 Ayat 1 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran”. Menurut UU RI No.20 Tahun 2003 juga menyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suatu proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan untuk dirinya, masyaratat, bangsa dan negara. Di negara Indonesia ini pemerintah juga sudah menjamin terlakssananya suatu proses pembelajaran yang minimal dilaksanakan pada jenjang pendidikan sekolah dasar. Berdasakan UU RI No. 20 Tahun 2003 pasal 34 ayat 2 menyatakan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah telah menjamin terselenggarannya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Akan tetapi, pendidikan untuk penyandang cacat usia seolah di Indonesia masih rendah, menurut Depdiknas tahun 2016 hanya sekitar 9,5% anak penyandanag cacat usia sekolah yang memperoleh pendidikan. Anak yang berkebutuhan khusus berhak atas pendidikan, agar memperoleh perkembangan fisik, mental, sosial yang lebih baik. Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mempunyai karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya. Yang digolongkan dalam anak berkebutuhan khusu (ABK) antara lain: tuna netra, tuna rungu wicara, tuna daksa, tuna grahita, kesulitan belajar, slow learner, ADHD, kesulitan belajar spesifik, tuna laras, CIBI (Cerdas Istimewa Bakat Istimewa), anak-anak tersebut mempunyai hambatan dalam proses belajar dan mempunyai karakteristik yang berbeda, sehingga memperlukan pelayanan pendidikan yang khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi diri mereka. Oleh karena itu, pemerintah di Negara Republik Indonesia Khusunya telah menyelenggarakan pendidikan untuk semua orang yaitu Pendidikan Inklusif adalah suatu pendidikan yang didasarkan pada hak asasi sosial, artinya sistem pendidikan yang diterapkan adalah mengikuti minat dan kebutuhan anak, sehingga dapat memperluas kesempatan pendidikan bagi semua anak berkebutuhan khusus termasuk enak penyandang cacat. Keberadaan pendidikan yang berbasis Inklusif ini sangat diperlukan yang diharapkan semua sekolah umum dapat menerima peserta didik


ABK. Berdasrkan latar belakang yang sudah dijelaskan maka dilakukan pengamatan pada sekolah yang berbasis inklusi yaitu di SD Negeri Kramat 2 Magelang guna untuk mengetahui lebih dalam bagaimana proses pembelajaran itu berlangsung. B. Tujuan Tujuan pelaksanaan observasi kali ini adalah sebagai berikut. 1. Untuk mengetahui identitas sekolah inklusif dan identitas peserta didik/ ABK yang akan diobservasi, 2. Untuk mengetahui cara pembelajaran yang digunakan untuk anak berkebutuhan khsusus, 3. Untuk mengetahui adakah SDM yang khusus menangani anak yang berkebutuhan khusus tersebut, 4. Untuk menegtahui perbedaan sekolah yang berbasis inklusi dengan sekolah pada umumnya.


BAB II PEMBAHASAN A. Identitas sekolah SD N Kramat 2 Magelang berada di Jalan Duku I No 16b, Kramat Selatan, Kecamatan. Magelang Utara, Kota Magelang Prov. Jawa Tengah yang telah terakreditasi B merupakan sekolah berbasis inklusi, hal ini sesuai dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kota Magelang Nomor 423.7/1346/230 tentang penetapan sekolah penyelenggaraan pendidikan inklusi pada tanggal 30 April 2012. Gambar 2.1 Bukti sekolah ditunjuk sebagai sekolah Inklusif Pihak sekolah khususnya guru pendamping khusus menerapkan pendidikan di sekolah umum dengan 2 metode yaitu mengikuti pembelajaran dikelas bersama – sama dengan siswa pada umumnya dan pihak sekolah juga memberikan Ruangan khusus untuk pembelajaran bagi Anak Berkebutuhan Khusus. Guru pendamping khusus di SDN Kramat 02 bernama Ibu Risa Restu Budi Rahayu dengan basis pendidikan yaitu Pendidikan Luar Biasa, yang menempuh pendidikan tersebut di UNY. Penyandang ABK yang terdapat di sekolah tersebut yaitu Tuna Grahita jenis Diskalkulia pada Muhammad Khoerul Rizal serta penyandang ADHD (Gangguan perhatian dan hiperaktif dan disleksia) pada Ananda Naufal Alamsyah Rasyad.


B. Identitas Peseta yang diobservasi Terdapat 2 Anak Berkebutuhan Khusus yang berada di SD N Kramat 2 Magelang yaitu penyandang Tuna Grahita dan ADHD berikut identitasnya: 1. Ananda Naufal Alamsyah Rasyad (ADHD) Ananda Alamsyah ini merupakan siswa kelas 2, jumlah siswa yang ada di kelas ada 17 siswa yang terdiri dari 6 perempuan dan 11 laki-laki. Alam adalah salah satu siswa yang memiliki kebutuhan khusus. Ananda Alamsyah merupakan anak dari 3 bersaudara dan Ananda merupakan anak yang paling akhir. Dari wawancara dengan guru pendampingnya bahwa orang tua Ananda terlalu sibuk dengan pekerjaanya sehingga Ananda sudah dibesarkan oleh seorang pengasuh, sehingga ketika mendapatkan PR yang mengerjakannya malah pengasuhnya, dan Ananda merupakan korban dari Game Gadget. Berdasarkan hasil pemeriksaan Psikologisnya yang telah dilakukan di RSJ Dr. Soerojo Kota Magelang, Ananda didiagnonas memiliki gangguan perhatian dan hiperaktif (ADHD) tetapi untuk IQnya masih rata-rata yaitu kisaran 98-100 CPM. Ketika dilakukan obervasi pada tanggal 16 Mei 2023 saat mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, adapun sikap dan karakteristik alam yang teramati, yaitu: 1) Tidak memperhatikan ketika guru menyampaikan materi 2) Tidak mendengarkan arahan dari guru 3) Ketika ditanya, jawaban yang diberikan tidak sinkron dengan pertanyaan yang diberikan guru 4) Saat di kelas, ia makan jajan dan bermain sendiri 5) Saat di kelas, ia juga sering tiduran dengan menaruh kepalanya di meja 6) Dia juga terkadang bergumam dan menyanyi sendiri 7) Suka main sendiri (tidak berkumpul dengan temannya) 8) Ketika guru menuliskan materi di papan tulis, ia ikut menggambar di papan tulis. Namun, ia juga menghapus materi yang ditulis oleh gurunya. 9) Tidak membawa buku ke sekolah 10) Sulit duduk tenang didalam kelas, dia membalik kursinya dan memilih bermain koin.


Ketika pendampingan dengan Guru Pendamping Khusus, adapun sikap dan karakteristik alam yang teramati, yaitu: 1) Suka bercerita 2) Saat orang lain memberikan pernyataan yang tidak sesuai dengan keinginannya, ia sering teriak 3) Kurang fokus 4) Suka gelisah dan tidak tenang 5) Impulsif 6) Gampang bosan dan capek ketika belajar 7) Pandai membedakan warna 8) Pandai menebak gambar 9) Bisa berhitung 10) Bisa menulis angka Gambar 2. 2 Hasil Pemerikasaan Psikologi Ananda Alamsyah


2. Muhammad Khoerul Rizal (Tuna Grahita) Ananda Rizal merupakan anak Kelas 3 jumlah ada 13 siswa, rizal menjadi salah satu siswa yang memiliki kebutuhan khusus. Ananda Rizal merupakan siswa kelas III SD. Ananda Rizal merupakan anak pertama dari 2 bersaudara. Ananda Rizal selalu tertinggal dalam mengerjakan tugas di kelas. Ketika guru memberikan tugas ananda rizal perlu pendampingan khusus untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Kemampuan membaca ananda baik, ananda mampu memahami isi bacaan dengan baik. Kemampuan menulis ananda cukup baik namun hasil tulisan ananda cenderung besar dan terlalu menekan pensil/pena. Kemampuan berhitung ananda Rizal terbatas pada kemampuan membilang dan belum mampu melakukan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan. Ananda Rizal sering menyendiri ketika waktu istirahat tiba. Ananda rizal jarang bermain bersama teman-teman sekelasnya, ia sering bermain bersama kakak kelas perempuan. Berdasarkan hasil wawancara dengan orang tua, ananda rizal juga sulit bersosialisasi dengan teman-teman di sekitar rumahnya. Ketika berada di rumah ananda rizal menghabiskan waktunya dengan bermain Hp dan menonton TV. Menurut orang tuanya ketika bermain bersama teman-teman di rumah, ananda sering dibully bersama teman-temannya. Berdasarkan hasil asessmen yang telah dilakukan di RSJ Dr.Soerojo Kota Magelang, Ananda Rizal didiagnosis Tunagrahita dengan skor IQ dibawah 80. Ketika dilakukan obervasi pada tanggal 16 Mei 2023 saat pembelajaran olahraga, adapun sikap dan karakteristik rizal yang teramati, yaitu : 1) Senang mendapatkan perhatian khusus 2) Cenderung tidak mendengar arahan guru 3) Tidak memperhatikan ketika guru menyampaikan materi 4) Agak lambat dalam mengikuti gerakan yang dicontohkan oleh guru 5) Kesusahan dalam gerakan (khususnya kaki) 6) Suka main sendiri (tidak berkumpul dengan temannya) 7) Sangat tertarik dengan hal-hal baru 8) Tidak suka duduk 9) Ketika dikasih penjelasan cenderung diam 10) Lambat dalam merespon 11) Semangat dalam mengikuti kegiatan yang dirasa menarik perhatian dirinya serta sangat berusaha agar bisa seperti teman lainnya


12) Cenderung tenang, tidak agresif ataupun membuat kegaduhan 13) Suka menyanyi dan ngomong sendiri 14) Sering senyum 15) Pandai berhitung Gambar 2. 3 Hasil Pemerikasaan Psikologi Ananda Rizal C. Cara Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Cara pembelajarannya Ananda Alamsyah yaitu dengan dilakukannya pendampingan oleh guru pendamping khusus ketika pembelajaran berlangsung, secara perlahan guru tersebut menuntun siswa ABK tersebut untuk memahami dan mengerjakan tugas-tugas, Namun ketika pembelajaran tematik, maka guru tersebut mengajak ABK untuk menuju ke Ruangan Khusus, agar belajar sesuai dengan kemampuannya. Di dalam ruangan khusus tersebut, terdapat media pembelajaran yang membantu ABK dalam memahami angka, huruf, serta permainan yang melatih daya ingat, ketelitian, serta kesabaran, agar emosi dari ABK tersebut dapat di minimalisir. Sedangkan untuk cara pembelajaran Ananda Rizal pembelajaran dilakukan sama seperti teman lainnya tetapi untuk indikator pencapaiannya dan penilainnya diturunkan, karena Ananda Rizal sudah dapat mengikuti pembelajaran dengan temannya sama seperti teman yang lain. Kurikulum yang diberikan juga disamakan.


D. SDM yang Menangani Kurikulum Banyak guru dan sekolah masih kebingungan dengan penyelenggaran pendidikan inklusif yang dapat mengakomodir kebutuhan peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus mengingat ada standar kurikulum pendidikan nasional yang harus dipenuhi dan juga terutama dikaitkan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang harus dicapai oleh setiap siswa. Undang-undang No 20 Tahun 2003, pasal 12 ayat 1, menyatakan ’Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya. Pengejawantahan undang-undang tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakankebijakan yang mengatur dan memberikan keleluasaan kepada sekolah sekolah reguler penyelenggara pendidikan inklusif supaya menyediakan kondisi kelas yang hangat, ramah, menerima keanekaragaman dan menghargai perbedaan,melakukan pengelolaan kelas yang heterogen dengan menerapkan kurikulum dan pembelajaran yang bersifat individual, menerapkan pembelajaran yang interaktif dan memberikan keleluasaan bagi para guru pada sekolah penyelenggara pendidikan inklusif untuk melakukan kolaborasi dengan profesi atau sumberdaya lain, termasuk dengan pihak orangtua dalam membuat perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. Adaptasi Kurikulum Kebijakan-kebijakan tersebut dalam prakteknya menuntut beberapa penyesuaian. Salah satunya adalah dalam hal adaptasi pembelajaran. Adaptasi pembelajaran dimaksud dalam tulisan ini adalah perubahan-perubahan berbagai komponen pendidikan seperti konsep isi kurikulum, metode pembelajaran, cara penilaian sampai pada pelaporan hasil belajar siswa melalui perubahan materi dan program pembelajaran. (Rusyani, 2013) Adaptasi pembelajaran tidak terbatas pada penyesuaian pembelajaran atau materi pembelajaran, tetapi juga meliputi berbagai komponen pendidikan dilakukan penyesuaian agar setiap peserta didik dapat mengembangkan kemampuannya secara optimal sesuai dengan bakat dan minatnya. Penyesuaian kurikulum di SDN Kramat 2 yang diberikan bagi peserta didik dengan kebutuhan khusus yaitu Kurikulum modifikasi. Ada 4 hal yang mungkin dilakukan, yaitu: a. Menambah materi (addisi) b. Mengganti beberapa materi (duplikasi) c. Menyederhanakan materi (simplifikasi) d. Menghilangkan beberapa bagian sulit atau keseluruhan dari kurikulum umum (omisi)


Kurikulum khusus tersebut tentunya untuk anak ABK, karena kemampuan akademisnya tentu berbeda dengan siswa normal pada umumnya, kurikulum khusus tersebut serta RPP nya tercantum dalam Program Pembelajaran Individual (PPI), yang mana kurikulum serta standar kompetensi dan standar akademis siswa ABK disesuaikan dengan kemampuannya masing-masing. Sehingga pada Ananda Rizal yang merupakan penyandang Tuna Grahita serta Ananda Alam yang merupakan penyandang ADHD mempunyai standar kelulusan yang berbeda pula. Dalam adaptasi kurikulum menggunakan penyesuaian, dengan meilhat tingkat kemampuan siswa ABK tersebut, dan terdapat Modifikasi penambahan dan penurunan indikator contohnya penambahan media pembelajaran yang berbeda dengan siswa normal, sedangkan penurunan indikatornya yaitu terdapat penurunan standar kelulusan, sehingga KKM dari siswa ABK dengan siswa normal itu berbeda. Siswa ABK disekolah tersebut dalam sistem kenaikan kelas menggunakan kurikulum yang dimodifikasi/PPI: Sistem Kenaikan Kelas Berdasarkan Usia Kronologis Assesmen Assessment merupakan proses pengumpulan informasi tentang peserta didik berkebutuha khusus (ABK) yang perlu dilakukan sebleum menentukan program pembelajaran yang sesuai. Assessment ini dimaksudkan untuk memahami keunggulan dan hambatan belajar siswa, sehingga diharapkan program yang disusun benar-benar sesuai dengan kebutuhan belajarnya. Adapun fungsi assessment adalah: - Untuk mendapatkan profil siswa - Untuk mengetahui kebutuhan peserta didik - Menentukan jenis layanan yang dibutuhkan - Sebagai acuan dalam pembuatan program yang sesuai - Menentukan strategi pembelajaran yang cocok - Mengevaluasi dan memantau perkembangan siswa - Merujuk peserta didik ke tenaga profesional jika dibutuhkan. Tahap assessment ini sangat penting karena jika assessmentnya tidak benar maka bisa dipastikan program yang dibuatpun tidak akan sesuai dengan kebutuhan siswa. Pada pengamatan yang telah dilakukan. Untuk cara Penilainnya yaitu menggunakan assessment formatif dan assessment sumatif: 1. Assesmen Formatif Penilaian assesmen dengan assesmen diagnostik yang merupakan penilaian penilaian yang dilakukan secara khusus untuk mengidentifikasi keterampilan, kekuatan, dan


kelemahan siswa, sehingga pembelajaran dapat disesuaikan berdasarkan keterampilan dan kondisi siswa. Penilaian diagnostik adalah upaya untuk mengumpulkan informasi tentang kondisi siswa dari aspek kognitif dan non-kognitif yang relevan untuk mempersiapkan siswa untuk mata pelajaran berikutnya. a. Tes Tertulis Tes tertulis merupakan tes dalam bentuk bahan tulisan (baik soal maupun jawabannya). Dalam menjawab soal siswa ABK tidak selalu harus merespons dalam bentuk menulis kalimat jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk mewarnai, memberi tanda, menggambar, menulis huruf, dan sebagainya pada saat pembelajaran berlangsung 2. Asssesmen Sumatif Assesmen sumatif dilaksanakan di tengah maupun di akhir semester (yang disebut UTS dan UAS), dalam pelaksanaannya, pada anak ABK soal ujian tersebut disesuaikan oleh guru pendamping serta wali kelas juga ikut serta membantu penyesuaian soal tersebut. Penilaian Hasil Belajar Penilaian Hasil Belajar Terkait dengan mata pelajaran, evaluasi merupakan proses menentukan tingkat pencapaian suatu pelajaran setelah pembelajaran selesai dalam suatu periode tertentu. Menurut Permendikbud No 66 Tahun 2013, Penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Dalam melakukan pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapai hasil belajar peserta didik penilaian pembelajaran yang dilakukan juga perlu diadaptasi sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa. Adaptasi penilaian adalah proses pengumpulan informasi yang dilakukan secara fleksibel untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik berkebutuhan khusus. Penilaian terhadap siswa berkebutuhan khusus, dilakukan melalui pengamatan yang dilaksanakan secara terus menerus dan harus bersifat fleksibel. Semua proses pengalaman belajar dan hasil belajar siswa diamati, sehingga guru memperoleh gambaran yang utuh mengenai kondisi hasil belajar siswa dari awal sampai akhir. Sistem penilaian yang diharapkan dalam setting pendidikan inklusif adalah sistem penilaian


yang fleksibel. Penilaian fleksibel adalah penilaian yang disesuaikan dengan kompetensi semua siswa, dan mengacu kepada kemampuan dan kebutuhan siswa Cara guru mengukur kemmapuan siswa ABK adalah dengan cara melihat perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik penyandang ABK, melalui observasi ketika pembelajaran berlangsung, misalnya jika diberikan media pembelajaran siswa tersebut mampu untuk menyelesaikan permasalahan maka pemahaman konsep dari ABK tersebut dianggap lulus, dan bisa melanjutkan tahap materi yang lainnya, Guru pendamping khusus juga biasanya memberikan tantangan- tantangan kepada siswa ABK untuk menjelaskan huruf, menulis angka, menyebutkan warna, serta membaca, menulis serta menghitung. Cara Penanganan siswa ABK Ketika Hiperaktif Cara penanganan siswa ABK jika tidak terkontrol terutama Anak ADHD sangat mudah terdistraksi dengan sesuatu dan ketika sedang marah serta emosi tidak terkontrol maka Guru Pendamping Khusus menjauhkan siswa tersebut dari segala sesuatu yang mengganggu saat sedang belajar. GPK melihat kebiasaan dan kondisi yang membuat anak tenang. Seperti mengajaknya bermain game, mengajak jalan-jalan keliling sekolah serta memberikan hadiah berupa makanan kesukaannya, contohnya memberikan minuman susu. Sarana dan Prasarana yang di sediakan oleh sekolah untuk anak berkebutuhan khusus yaitu ruangan inklusif. Terutama anak ADHD pada pembelajaran Tematik maka di alihkan ke ruang inklusif tersebut untuk menerima pembelajaran dengan pendampingan khusus. Untuk Media pembelajaran terutama anak ADHD di bantu dengan menggunakan alat berhitung yang mencolok dengan warna supaya menambah ketertarikan anak untuk belajar dan handphone yang berisi game sebagai pengalihan saat anak tersebut bosen dalam pembelajaran. Model pembelajaran yang digunakan guru untuk menyesuaikan kemampuan awal dan karakteristik peserta didik serta sesuai dengan tujuan pembelajaran Untuk anak ADHD dengan pendampingan kelas dan anak tuna grahita pullout melakukan pembelajaran di ruangan khusus tetapi anak tuna grahita sekarang sudah melakukan pembelajaran sama dengan temannya dengan kurikulum yamg sama tetapi untuk aspek penilaian di turunkan.


Laporan Hasil Belajar Dalam laporan hasil belajar pada SDN Kramat untuk pendidikan inklusi pada anak ABK Menggunakan program pembelajaran individual (PPI) yang meliputi raport angka yang dilengkapi dengan diskripsi (narasi) dimana nilai kuantitatif didasarkan pada kemampuan masing-masing ABK Untuk anak ADHD dan Tuna Grahita disekolah tersebut, guru pendampimng khusus sudah membuatkan Program Pembelajaran Individual yang digunakan sebagai acuan proses pembelajaran yang berisikan aspek yang diukur, tujuan pembelajarannya, tujuan jangka pendek, Indikator keberhasilan, akomodasi pembelajaran, dan evaluasinya, sehingga berbeda dengan siswa lainnya. Gambar 2.4 Program Pendidikan Individual


Gambar 2.5 Program Pendidikan Individual Ananda Alamsyah Kendala Yang di Temukan Kendala yang ditemukan dalam menangani ABK yaitu pada guru pendamping khusus, harus bekeerja lebih keras lagi untuk menghadapi siswa ABK tersebut, dan jumlah GPK yang hanya berjumlah 1 sehingga guru tersebut sulit untuk fokus dan membagi waktunya, sehingga waktu pembelajaran dengan GPK menjadi tidak optimal. Karena adanya pembagian waktu Kedua, kendala dari siswa. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan dengan guru kelas, diketahui bahwa anak berkebutuhan khusus: Attention Defisit Hyperactivy Disorder (ADHD) sering menampilkan perilaku yang kurang baik dalam kelas, sehingga guru kelas sulit menangani atau mengatasi perilaku tersebut. Beberapa perilaku yang kurang baik yang sering ditampilkan oleh anak berkebutuhan khusus: Attention Defisit Hyperactivy Disorder (ADHD) di dalam kelas, yaitu: Tidak fokus. Anak berkebutuhan khusus: ADHD dengan gangguan hiperaktif tidak bisa konsentrasi (fokus) dalam mengikuti pembelajaran di kelas lebih dari 10 menit. Anak tersebut tidak bisa memperhatikan pembelajaran yang disajikan di depan kelas dari awal sampai akhir, dalam kelas ia banyak melamun, binggung, jalan-jalan, serta menunjukkan sikap yang gelisah. Sulit untuk


dikendalikan, anak berkebutuhan khusus: ADHD dengan gangguan hiperaktif memang sulit dikendalikan, karena ia selalu bergerak, tidak dapat duduk dengan tenang, sering meninggalkan bangku tanpa alasan yang jelas, berlari, memanjat, serta sulit diatur. Implusif, anak berkebutuhan khusus: ADHD melakukan sesuatu secara tiba-tiba tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Ia selalu ingin memegang apapun yang ada didepannya, seringkali memberikan jawaban sebelum pertanyaan yang ditanyakan selesai, sering memotong pembicaraan orang lain, serta tidak bisa menunggu giliran. Menentang, anak berkebutuhan khusus: ADHD umumnya memiliki sikap penentang atau pembangkang. Ia tidak mau dinasehati, dibimbing seta menunjukkan sikap cuek dalam penolakan yang diberikan. Destruktif, anak berkebutuhan khusus: ADHD sering merusak barang teman. Ia merusak mainan yang dimainkan teman, pena teman, serta lebih cenderung kepada menghancurkan barang atau benda. Tidak kenal lelah, anak berkebutuhan khusus: ADHD tidak menunjukkan sikap lelah, hal inilah yang sering kali membuat guru kewalahan dalam menangani perilakunya. Misalnya: suka berjalan-jalan di dalam kelas saat aktivitas pembelajaran berlangsung, walaupun telah diminta oleh guru untuk duduk dengan tenang di kursinya. Tidak sabar, anak berkebutuhan khusus: ADHD ketika bermain tidak bisa menunggu giliran. Usil, anak berkebutuhan khusus: ADHD ketika bermain langsung merebut mainan teman, serta membuat kegaduhan. Sedangkan untuk kendala dalam tuna grahita tipe Diskalkulia pads Ananda rizal hanya terdapat dalam diri siswanya yang lamban belajar, cenderung diam, dan gerakan motoriknya kurang. Guru harus ekstra sabar dalam menjelaskan, dan sebaiknya dijelaskan ddengan pelan – pelan dan berkali – kali hingga anada rizal faham mengenai konsep yang diajarkan. Konsep Pendidikan Inklusif Pendidikan Inklusif adalah suatu sistem pendidikan yang diciptakan untuk mewujudkan konsep pendidikan untuk semua dengan cara menggabungkan anak-anak berkebutuhan khusus dalam lingkungan belajar bersama anak-anak normal. Dalam Permendiknas No. 70 tahun 2009 pendidikan inklusif didefinisikan sebagai suatu sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik lainnya Jadi, melihat definisi tersebut di atas, pendidikan inklusif bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi seluruh peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus atau yang berbakat seluasluasnyauntuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang berkualitas dan bermakna sekaligus juga mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif. Konsep penyelenggaraan pendidikan inklusif ini


tidak hanya bermanfaat bagi peserta didik berkebutuhan khusus, namun juga memberikan kontribusi positif bagi pengembangan karakter peserta didik yang tidak memiliki kebutuhan khusus (reguler). Mereka bisa belajar berempati dan bertoleransi sekaligus menghargai adanya perbedaan yang ada di dunia ini. Ada beberapa hal penting yang perlu diingat dalam penerapan pendidikan inklusif di sekolah, yaitu: • Pada dasarnya setiap anak berbeda (memiliki perbedaan kemampuan, minat, bakat, latar belakang etnik, dsb) • Pada dasarnya setiap anak memiliki kemampuan untuk belajar • Sistem penyelenggaraan pendidikan di sekolah perlu diubah agar dapat mengakomodir kebutuhan semua anak (termasuk di dalamnya anak berkebutuhan khusus). Anak-anak Berkebutuhan Khusus kondisinya beragam, baik kondisi fisik, emosi, mental, dan sosial, maupun prilakunya. Keberagaman kondisi Anak Berkebutuhan Khusus ini membawa konsekuensi, baik kepada kurikulum, silabus, pembelajaran, penilaian maupun pada implementasinya. Kondisi keberagaman peserta didik ini, kadang menjadi hambatan bagi guru dalam merancang pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual di tengahtengah layanan secara klasikal, bahkan dalam hal-hal tertentu keberagaman peserta didik tidak mungkin dapat dilakukan melalui proses pembelajaran dan penilaian secara klasikal dalam jumlah besar. Konsep penyelenggaraan inklusif memberikan kesempatan bagi ABK untuk mendapatkan kesempatan yang sama mengenyam pendidikan bersama dengan peserta didik lainnya yang tidak memiliki kebutuhan khusus. Namun, kita juga perlu mengingat kembali hakekat. Pendidikan yang sebenarnya. Bahwa pendidikan dan proses belajar yang dilakukan oleh peserta didik harus memiliki makna baginya dan idealnya dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhannya. Siswa/siswi ABK pastinya ia membutuhkan intervensi, bantuan, dan dukungan lebih lanjut agar proses pembelajaran yang akan dijalani setiap harinya dapat bermakna dan tidak dipaksakan. Karena sama belum tentu adil dan adil tidak berarti sama. Jadi kesempatan belajar di kelas reguler bagi ABK saja tidak cukup. Perlu diperhatikan lebih lanjut apakah ABK tersebut membutuhkan hal lain (yang mungkin tidak dibutuhkan oleh siswa reguler) sehingga pembelajaran yang dilakukannya bisa sesuai dengan profil kemampuannya, bermakna dan merespon pembelajaran yang dibutuhkan olehnya.


Gambar 2.6. Gambaran adil yang sesungguhnya Pada gambar yang sebelah kiri terlihat bahwa setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk menonton pertandingan softball (diandaikan pertandingan tersebut adalah pendidikan yang ingin dijalani). Masing-masing anak mendapatkan akses dan bantuan yang sama (masing-masing dapat 1 kotak). Terlihat bahwa anak yang tinggi (diibaratkan sebagai anak yang cerdas) akan dengan mudahnya bisa mengakses pertandingan (pendidikan, ilmu). Ia dengan mudah melampaui pagar. Jika pagar yang ada dalam gambar diibaratkan sebagai KKM, maka dengan mudahnya mereka melampaui target kriteria ketuntasan minimal. Mari kita lihat anak yang paling pendek (diibaratkan sebagai ABK). Anak yang pendek tersebut memiliki akses yang sama. Namun karena tidak diberikan fasilitas yang sesuai dengan kebutuhannya, maka anak tersebut hanya memiliki kesempatan yang sama saja. Tapi pembelajaran yang dijalaninya tidak bermakna dan memberikan manfaat sama sekali baginya. Untuk gambar ilustrasi sebelah kanan, semua anak juga mendapatkan kesempatan yang sama untuk menonton pertandingan (diibaratkan sebagai pendidikan). Karena kondisi mereka yang berbeda, mereka diberikan bantuan (kotak) dengan jumlah yang berbeda agar mereka bisa sama-sama menonton pertandingan tersebut. Bantuan yang berbeda yang diberikan pada kesempatan belajar yang sama, ternyata bisa membantu anak yang pendek (dibaratkan ABK) menonton pertandingan dengan nyaman (diibaratkan sebagai pendidikan yang bermakna). Prinsip dalam Pelaksanaan Pendidikan Inklusif Dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, ada beberapa prinsip umum yang harus dipahami oleh setiap penyelenggara pendidikan (kepala sekolah, guru, staf administrasi, dll). Adapun prinsip terbut adalah sebagai berikut:


▪ Pendidikan yang Ramah. Pendidikan inklusif harus menciptakan dan menjaga komunitas kelas yang ramah dan terbuka dalam menerima keanekaragaman dan menghargai perbedaan yang ada. Sekolah yang “ramah” juga berati memberikan hak kepada anak untuk belajar dan mengembangkan potensinya seoptimal mungkin di dalam lingkungan yang aman dan terbuka. Selain itu, “ramah” juga berarti guru menunjukkan sikap positif dan mendukung pada peserta didik tanpa terkecuali dan tidak mengganggap ABK sebagai beban. ▪ Pengembangan seoptimal mungkin. Pada dasarnya, setiap anak memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda-beda. Oleh karena itu pendidikan harus diusahakan untuk menyesuaikan dengan kondisi anak. ▪ Kerja sama. Penyelenggaraan pendidikan inklusif harus melibatkan seluruh komponen pendidikan terkait. ▪ Perubahan Sistem. Sekolah harus berani fleksibel dalam implementasi penyelenggaraan pendidikan. Perlu diperhatikan setting kelas yang cocok, kemungkinan perlunya modifikasi program belajar, dan sistem penilaian yang sesuai bagi masing-masing ABK. Menelaah semua penjelasan di atas, maka dalam pelaksanaannya, sekolah penyelenggara pendidikan inklusif adalah sekolah yang menggabungkan layanan pendidikan khusus dan reguler dalam satu sistem persekoahan untuk mengakomodasi kebutuhan khusus dari setiap peserta didik Alasan Pendidikan Inklusif Perlu Dilakukan Ada beberapa alasan mengapa kita perlu menjalankan sistem pendidikan inklusif. Beberapa diantarannya adalah: • Tidak semua ABK cocok atau harus belajar di sekolah khusus (Sekolah Luar Biasa). Bagi ABK dengan gangguan tidak terlalu berat atau memiliki potensi akademik (IQ) yang (cukup) baik/rata-rata ke atas, situasi dan tuntutan belajar di sekolah khusus tidak dapat menjawab kebutuhan ABK tersebut. • ABK perlu kelas reguler untuk belajar menggeneralisasikan ketrampilan yang telah dipelajari dan dikuasainya dalam setting yang lebih nyata. • ABK perlu belajar di kelas reguler secara langsung untuk dapat mempelajari suatu ketrampilan tertentu. • Dilihat dari jumlah sekolah yang ada, jumlah sekolah khusus (SLB) relatif jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan sekolah reguler.


• Dilihat dari tenaga kerja, guru kelas reguler/bidang studi lebih menguasai ilmu yang ingin disampaikan. Sedangkan guru Pendidikan Luar Biasa (PLB) atau guru pendamping khusus lebih mendalami tata laksana penerapan disiplin atau perlakuan yang harus dijalani. Jadi jelas butuh kolaborasi antara guru reguler dengan guru dengan latar belakan pendidikan luar biasa. E. Perbedaan dengan Sekolah pada Umumnya Sekolah Umum: 1. cara pandang peserta didik semua di anggap sama 2. Penerimaan siswa dilakukan dengan cara memilih yang baik baik (identifikasi/assessmen untuk keperluan seleksi) 3. Kurikulum menggunakan K13 dan Merdeka Belajar 4. Pembelajaran dilakukan dengan tidak mempertimbangkan perbedaan individual 5. Penilaian dengan menggunakan standar yang sama mengikuti ketuntasan kurikulum yang di tentukan oleh pemerintah 6. Kenaikan kelas mengacu pada standar akademik (kompetensi) 7. Rapot semua sama 8. Kelulusan berdasarkan uts dan uas 9. Struktur organisasi: konvensional Sekolah Inklusif: 1. Cara pandang setiap anak memiliki pribadi yang unik 2. penerimaan siswa terbuka untuk semua anak, ada identifikasi dan assessmen untuk keperluan pembelajaran 3. kurikulum yang digunakan adalah K13 yang di modifikasi 4. penilaian yang digunakan adalah tetap mengikuti standar tetapi ada yang di modifikasi 5. Kenaikan kelas dimungkinkan berdasarkan usia dan kekampuam setiap anak 6. Rapot dimungkinkan adanya rapot khusus (indikator menyesuaikan) 7. Kelulusan di mungkinkan tidak ikut UTS dan UAS 8. Struktur organisasi ada koordinator program


BAB III KESIMPULAN 3.1 Kesimpulan Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Inklusif adalah suatu pendidikan yang didasarkan pada hak asasi sosial, artinya sistem pendidikan yang diterapkan adalah mengikuti minat dan kebutuhan anak, sehingga dapat memperluas kesempatan pendidikan bagi semua anak berkebutuhan khusus termasuk enak penyandang cacat. Anak yang berkebutuhan khusus berhak atas pendidikan, agar memperoleh perkembangan fisik, mental, sosial yang lebih baik. Salah satu sekolah inklusi yang ada di Magelang yakni di SD N Kramat 2 Magelang. Terdapat 2 Anak Berkebutuhan Khusus yang berada di SD N Kramat 2 Magelang yaitu penyandang Tuna Grahita dan ADHD. Proses pembelajaran siswa inklusi menggunakan kurikulum khusus untuk anak ABK, serta RPP nya tercantum dalam Program Pembelajaran Individual (PPI), yang mana kurikulum serta standar kompetensi dan standar akademis siswa ABK disesuaikan dengan kemampuannya masing-masing. Adaptasi kurikulum dilakukan dengan melihat tingkat kemampuan siswa ABK dan terdapat modifikasi penambahan dan penurunan indikator contohnya penambahan media pembelajaran yang berbeda dengan siswa normal, sedangkan penurunan indikatornya yaitu terdapat penurunan standar kelulusan, sehingga KKM dari siswa ABK dengan siswa normal itu berbeda. Konsep pendidikan inklusif dapat menjadi jembatan untuk mewujudkan pendidikan untuk semua (education for all), tanpa ada seorangpun yang tertinggal dari layanan sistem pendidikan. Perbedaan kemampuan dan kondisi siswa hendaknya tidak dilihat sebagai beban namun sebuah tantangan yang memberikan keuntungan baik bagi guru, peserta didik dengan kebutuhan khusus dan tanpa kebutuhan khusus. Paradigma pengajaran di sekolah yang dilakukan perlu di dasari dengan paradigma untuk memahami dan merespon kebutuhan peserta didiknya. Dalam menjalankannya, penting untuk diingat prinsip-prinsip dasar pelaksanaan pendidikan inklusif yang ramah, fleksibel, terbuka, mengakomodasi kebutuhan, dan kebersediaan melakukan perubahan sistem. 3.2 Saran Adapun saran yang dimunculkan dari hasil observasi di SDN Kramat 02, antara lain : • Pada sekolah inklusi jika siswa ABK dengan jumlah yang banyak, sekolah sebaiknya menyediakan tenaga ahli (guru pendamping) tambahan yang sesuai dengan bidangnya,


agar terjadi kemerataan dalam pembelajaran, jika hanya 1 guru saja, maka sebenarnya kurang optimal karena fokus guru akan terbagi -bagi, sehingga penanganan guru kepada mereka juga tidak optimal • Pihak Instansi/ Sekolah hendaknya menyediakan Sarana dan Prasana untuk ABK pada sekolah inklusi diperbanyak kembali, karena hasil dari penelitian yang kami lakukan, sekolah hanya menyediakan ruangan dan sedikit media pembelajaran, justru guru pendamping tersebut yang membawa media pembelajarannya dari rumah. Hendaknya peran sekolah disini, dapat lebih bijaksana dalam memebrikan sarana dan prasana agar semua siswa mendapatkan keadilan dalam sarana dan prasana, namun keadilan disini bukan berarti semua siswa sama, namun siswa ABK itu membutuhkan sarana dan prasana yang lebih bervariatif, tentunya sedikit berbeda dengan siswa normalnya.


DAFTAR PUSTAKA Bejo. (2013). LAPORAN OSERVASI DAN ASSESMEN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS PADA PENDIDIKAN INKLUSI SD TUMBUH 1 YOGYAKARTA. Ulfah, N., Pertiwi, H. I., Hanifah, I. M. S., Purnama, A., & Arifiani, A. (2017). LAPORAN HASIL OBSERVASI SEKOLAH INKLUSI DI SD NEGERI KALIAGUNG (Issue 1600005098). Rusyani, E. (2013). Adaptasi pembelajaran Dalam Setting Kelas Inklusif (makalah untuk Bimbingan Teknis guru PK-PLK) Murniarti, Anastasya. (2019). PENDIDIKAN INKLUSIF DI TINGKAT SEKOLAH DASAR: KONSEP, IMPLEMENTASI, DAN STRATEGI. Jurnal Dinamika Pendidikan


LAMPIRAN Foto dengan Kepala Sekolah Foto dengan Guru Pendamping Khusus Foto dengan Siswa SD Foto dengan Anak ABK Proses Pembelajaran di Kelas Anak ABK Penyandang ADHD Proses Pendampingan Khusus Anak ABK Penyandang ADHD


Pengamatan pembelajaran Anak ABK Penyangdang Tuna Grahita


Click to View FlipBook Version