SALAHUDDIN AYYUBI”SANG PEMBEBAS YARUSALEM” AWAL KEHIDUPAN DAN MASA MUDA Salahuddin Al-Ayyubi, yang lebih dikenal dengan nama Saladin, lahir pada tahun 1137 di Tikrit, Irak, dalam sebuah keluarga Kurdi yang berkuasa. Ayahnya, Najm ad-Din Ayyub, menjabat sebagai gubernur Tikrit di bawah pemerintahan Zengid. Namun, karena konflik politik, keluarga Ayyub terpaksa pindah ke Mosul, di mana mereka mendapatkan perlindungan dari Imad ad-Din Zengi, penguasa Zengid. Salahuddin dan saudara-saudaranya dibesarkan dalam lingkungan politik dan militer yang kuat, yang membentuk dasar bagi karir mereka di masa depan. Masa kecil Salahuddin dihabiskan di Mosul, di mana dia mendapatkan pendidikan yang baik. Dia belajar tentang agama, hukum, bahasa, dan sejarah, serta mendapatkan pelatihan militer. Salahuddin dikenal sebagai seorang anak yang cerdas dan berbakat, dengan minat yang kuat dalam studi agama dan militer. Dia juga menunjukkan bakat alami dalam kepemimpinan dan strategi, yang kemudian menjadi ciri khas karirnya. Pendidikan Salahuddin berlanjut di Damaskus, di bawah bimbingan pamannya, Asad ad-Din Shirkuh, seorang komandan militer yang berpengaruh di bawah pemerintahan Nur ad-Din, penguasa Zengid di Suriah. Di sini, Salahuddin mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang lebih mendalam dalam bidang militer dan politik. Dia juga belajar tentang pentingnya persatuan dan solidaritas dalam menghadapi musuh, yang kemudian menjadi prinsip utama dalam strategi militer dan politiknya. Karir militer Salahuddin dimulai di bawah bimbingan Shirkuh. Dia ikut serta dalam beberapa kampanye militer, termasuk ekspedisi ke Mesir, di mana dia menunjukkan keberanian dan keterampilan strategis yang luar biasa. Setelah kematian Shirkuh pada tahun 1169, Salahuddin diangkat menjadi vizier Mesir, sebuah posisi yang memberinya kontrol atas militer dan administrasi Mesir. Karir politik Salahuddin juga dimulai di bawah bimbingan Shirkuh. Dia belajar bagaimana mengelola negara dan berurusan dengan masalah politik yang rumit. Setelah menjadi vizier, Salahuddin mengambil langkah-langkah untuk memperkuat pos.
NAIK KE KUASAAN Setelah kematian Shirkuh pada tahun 1169, Salahuddin menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan posisinya sebagai vizier Mesir. Mesir pada saat itu dikuasai oleh Dinasti Fatimiyah, yang merupakan sekte Syiah, sementara Salahuddin dan keluarganya adalah Sunni. Meski demikian, Salahuddin berhasil memanfaatkan situasi ini dengan bijaksana. Dia mempertahankan hubungan baik dengan kalifah Fatimiyah, sambil secara bertahap mengambil alih kontrol militer dan administratif Mesir. Salahuddin menghadapi tantangan lain dalam bentuk perlawanan dari para pejabat Fatimiyah dan penguasa Zengid di Suriah. Namun, dengan keberanian dan keterampilan diplomasi, dia berhasil mengatasi tantangan ini. Dia mengadakan serangkaian kampanye militer untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya di Mesir dan menghapus pengaruh Fatimiyah. Pada tahun 1171, dia secara resmi mengakhiri Dinasti Fatimiyah dan mengembalikan Mesir ke Sunni. Setelah mengkonsolidasikan kekuasaannya di Mesir, Salahuddin berfokus pada upaya untuk menyatukan dunia Islam di bawah kepemimpinannya. Dia melihat bahwa dunia Islam pada saat itu terpecah-pecah dan rentan terhadap serangan dari musuh-musuhnya, terutama Tentara Salib. Oleh karena itu, dia memulai serangkaian kampanye untuk mempersatukan wilayah-wilayah Islam di Timur Tengah. Salahuddin menghadapi perlawanan keras dari penguasa Zengid di Suriah dan Jazira, serta dari penguasa Seljuk di Persia. Namun, dengan keberanian dan keterampilan strategis, dia berhasil mengatasi perlawanan ini. Dia mengadakan serangkaian kampanye militer yang berhasil, yang menghasilkan penaklukan Suriah, Jazira, dan sebagian besar wilayah Seljuk. Pada akhirnya, Salahuddin berhasil mencapai tujuannya untuk menyatukan dunia Islam di bawah kepemimpinannya. Dia menjadi penguasa yang dihormati dan disegani, tidak hanya di dunia Islam, tetapi juga di dunia Kristen. Dia dikenal sebagai seorang pemimpin yang adil dan berani, yang berdedikasi untuk melindungi dan memajukan dunia Islam.
KONFLIK DENGAN TENTARA SALIB Konflik antara Salahuddin dan Tentara Salib dimulai tak lama setelah Salahuddin mengkonsolidasikan kekuasaannya di Mesir dan Suriah. Tentara Salib, yang telah mendirikan sejumlah negara di Timur Tengah setelah Perang Salib Pertama, menjadi ancaman serius bagi dunia Islam. Salahuddin, yang telah berkomitmen untuk menyatukan dunia Islam dan mengusir Tentara Salib, memandang mereka sebagai musuh utamanya. Pertempuran pertama antara Salahuddin dan Tentara Salib terjadi pada tahun 1177, di Pertempuran Montgisard. Meskipun Salahuddin mengalami kekalahan dalam pertempuran ini, dia tidak menyerah. Dia terus mempersiapkan diri untuk konflik yang akan datang, memperkuat pasukannya dan membangun aliansi dengan penguasa Muslim lainnya. Pertempuran Hattin, yang terjadi pada tahun 1187, adalah titik balik dalam konflik antara Salahuddin dan Tentara Salib. Dalam pertempuran ini, Salahuddin berhasil mengalahkan Tentara Salib dan merebut kembali Yerusalem, yang telah dikuasai oleh Tentara Salib selama hampir satu abad. Kemenangan ini merupakan pukulan besar bagi Tentara Salib dan menjadi simbol keberhasilan Salahuddin dalam perjuangannya melawan mereka. Pertempuran Hattin juga menandai awal dari akhir kekuasaan Tentara Salib di Timur Tengah. Setelah kekalahan mereka di Hattin, Tentara Salib kehilangan sebagian besar wilayah mereka dan tidak pernah sepenuhnya pulih. Meskipun mereka mencoba untuk merebut kembali Yerusalem dalam Perang Salib Ketiga, mereka tidak berhasil, dan Yerusalem tetap berada di bawah kekuasaan Muslim sampai abad ke-20. Konflik antara Salahuddin dan Tentara Salib, meskipun brutal dan merusak, memiliki dampak yang signifikan pada sejarah Timur Tengah dan dunia. Ini menandai akhir dari ekspansi Tentara Salib dan memperkuat posisi Islam sebagai kekuatan dominan di wilayah tersebut. Selain itu, konflik ini juga meninggalkan warisan yang abadi dalam bentuk legenda dan cerita tentang Salahuddin, yang dikenal sebagai seorang pemimpin yang berani dan adil, yang berjuang untuk melindungi dan memajukan dunia Islam.
PEMBEBASAN YARUSALEM Pada tahun 1187, Salahuddin berhasil merebut kembali Yerusalem dari tangan tentara Salib setelah pengepungan selama beberapa hari. Penaklukan ini merupakan titik balik penting dalam sejarah, mengakhiri hampir satu abad pemerintahan Kristen di kota tersebut. Namun, apa yang paling menonjol dari penaklukan ini bukanlah kemenangan militer itu sendiri, melainkan bagaimana Salahuddin memperlakukan penduduk kota setelah penaklukan. Berbeda dengan penaklukan oleh tentara Salib sekitar satu abad sebelumnya yang ditandai dengan pembantaian massal, Salahuddin memilih jalan belas kasihan dan toleransi. Dia membiarkan penduduk Kristen dan Yahudi tetap tinggal di kota dan menjalankan agama mereka dengan bebas. Bahkan, Salahuddin juga membebaskan banyak tawanan perang tanpa meminta tebusan. Sikapnya ini menunjukkan nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi yang mendalam dalam dirinya. Reaksi dunia Islam terhadap penaklukan ini sangat positif. Salahuddin dianggap sebagai pahlawan yang telah membebaskan kota suci dari tangan penjajah. Dia dihormati dan dihargai tidak hanya karena keberhasilan militernya, tetapi juga karena sikap belas kasih dan toleransinya. Dia menjadi simbol kebanggaan dan kekuatan bagi umat Islam di seluruh dunia. Sementara itu, penaklukan Yerusalem oleh Salahuddin memicu reaksi yang beragam dari dunia Kristen. Meskipun ada rasa kekecewaan dan kehilangan, banyak yang mengakui dan menghargai sikap belas kasihan dan toleransi Salahuddin. Penaklukan ini bahkan memicu perubahan dalam pandangan Barat terhadap dunia Islam, dan membuka jalan untuk dialog dan pemahaman yang lebih baik antara kedua agama. TAHUN TAHUN AKHIR DAN KONFIK BERKELANJUTAN Setelah penaklukan Yerusalem, Salahuddin tidak berhenti berjuang. Dia terus berkonflik dengan Tentara Salib dalam apa yang dikenal sebagai Perang Salib Ketiga. Salahuddin berhasil mempertahankan kendali atas sebagian besar wilayah yang telah dia taklukkan, meskipun dia harus berhadapan dengan beberapa serangan besar, termasuk dari Raja Richard I dari Inggris, yang dikenal sebagai Richard the Lionheart. Konflik ini berlangsung selama beberapa tahun dan menguras banyak sumber daya dan energi Salahuddin. Meskipun demikian, dia tetap berkomitmen untuk melindungi tanah-tanah Islam dan
mempertahankan Yerusalem. Dia dikenal karena keberaniannya dan ketekunannya dalam menghadapi tantangan, serta kemampuannya untuk memimpin dan memotivasi pasukannya. Namun, tekanan konstan dari perang dan tanggung jawab sebagai pemimpin akhirnya mempengaruhi kesehatan Salahuddin. Dia jatuh sakit pada tahun 1193 dan meninggal pada bulan Maret tahun yang sama. Kematian Salahuddin merupakan kehilangan besar bagi dunia Islam. Dia diingat sebagai seorang pemimpin yang berani dan bijaksana, yang berjuang untuk melindungi tanah-tanah Islam dan mempromosikan toleransi dan perdamaian. Meskipun Salahuddin telah tiada, konflik dengan Tentara Salib berlanjut. Namun, warisan Salahuddin tetap hidup. Dia dihormati dan diingat tidak hanya sebagai seorang pejuang yang berani, tetapi juga sebagai seorang pemimpin yang bijaksana dan belas kasih. Dia menjadi simbol kebanggaan dan kekuatan bagi umat Islam di seluruh dunia. Tahun-tahun akhir kehidupan Salahuddin dan konflik berkelanjutan yang dia hadapi menunjukkan betapa kompleks dan sulitnya situasi di Timur Tengah selama era tersebut. Namun, melalui semua tantangan dan konflik, Salahuddin tetap menjadi simbol toleransi, belas kasihan, dan keberanian. Dia adalah contoh nyata dari seorang pemimpin yang berjuang untuk apa yang dia percayai, sambil tetap memegang teguh nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian. WARISAN DAN PENGARUH Salahuddin meninggalkan warisan yang kuat dan berpengaruh dalam sejarah dunia. Dia diingat sebagai seorang pemimpin yang berani dan bijaksana, yang berhasil mempersatukan dunia Islam dan merebut kembali Yerusalem dari Tentara Salib. Namun, warisan Salahuddin tidak hanya terbatas pada prestasi militernya. Dia juga dihargai karena sikap belas kasih dan toleransinya, serta pemahamannya tentang jihad yang menekankan pada perjuangan melawan ketidakadilan dan penindasan. Pemahaman Salahuddin tentang jihad masih relevan dalam konteks modern. Dia melihat jihad bukan hanya sebagai perang fisik, tetapi juga sebagai perjuangan spiritual dan moral untuk memperbaiki diri dan masyarakat. Dia menunjukkan bahwa jihad bukanlah tentang kekerasan dan kebencian, tetapi tentang keadilan, belas kasihan, dan perdamaian. Ini adalah pesan yang sangat penting, terutama dalam era saat ini di mana seringkali terjadi kesalahpahaman tentang konsep jihad dalam Islam.
Selain itu, sikap toleransi Salahuddin juga sangat relevan. Dia menunjukkan bahwa bisa ada perdamaian dan saling pengertian antara agama dan budaya yang berbeda. Dia memperlakukan penduduk non-Muslim di Yerusalem dengan belas kasihan dan membiarkan mereka menjalankan agama mereka dengan bebas. Ini adalah contoh yang baik tentang bagaimana toleransi dan saling pengertian dapat membantu membangun masyarakat yang damai dan harmonis. Warisan Salahuddin juga terus berpengaruh dalam politik dan budaya Timur Tengah. Dia sering digunakan sebagai simbol kebanggaan dan kekuatan oleh berbagai kelompok dan negara. Dia juga menjadi inspirasi bagi banyak penulis dan seniman, dan ceritanya telah diceritakan kembali dalam berbagai bentuk, dari puisi dan novel hingga film dan serial televisi. Secara keseluruhan, Salahuddin adalah sosok yang sangat penting dalam sejarah dunia. Dia meninggalkan warisan yang kuat dan berpengaruh, dan nilai-nilai yang dia pegang teguh masih relevan dan penting hingga hari ini. Dia adalah contoh nyata tentang bagaimana seorang pemimpin bisa berjuang untuk apa yang dia percayai, sambil tetap memegang teguh nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian.