The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Cerita ini mengisahkan seorang putri yang bernama Lala Intan Mas Belaeng dengan Daeng Paringgi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Arian Rudini, 2024-04-23 20:56:31

Cerita Rakyat Sumbawa-Tanjung Menangis

Cerita ini mengisahkan seorang putri yang bernama Lala Intan Mas Belaeng dengan Daeng Paringgi

Keywords: Cerita rakyat

CERITA RAKYAT SUMBAWAntb


Pernahkah kalian mendengar tentang sumbawa? Di daerah yang indah ini, terdapat sebuah legenda yang melegenda, yaitu Tanjung Menangis . " Di balik panorama alam yang memukau, sumbawa menyimpan cerita rakyat yang penuh makna dan pesan moral. Salah satu cerita yang terkenal adalah tanjung menangis.


Pada zaman dahulu di pulau sumbawa, nusa tenggara barat terdapat kerajaan yang dipimpin oleh datu atau raja. Raja tersebut diberi gelar datuk samawa. Ia memiliki seorang putri yang diberi nama Lala intan Mas Bulaeng


Lala intan Mas Bulaeng adalah seorang putri yang sangat cantik dan memiliki budi pekerti yang lemah lembut dan berhati mulia. apalagi terhadap rakyat miskin.


Saat itu putri Datu Samawa sakit keras. Penyakitnya sangat aneh yang menyerupai borok. Kulitnya dipenuhi bintik-bintik merah bernanah, bersisik seperti ular, dan mengeluarkan bau. Belum pernah Datu dan istrinya melihat penyakit semacam itu. Seluruh negeri berduka, apalagi seisi istana, terutama Datu dan permaisurinya. Siang malam mereka dirundung kesedihan.


Keesokan harinya Datu memanggil para menteri, hulubalang dan pengawalnya. Ia memutuskan untuk mengadakan sayembara untuk kesembuhan sang putri. Raja Pun memerintahkan para hulubalang menuju ke alun alun untuk mengumumkan sayembara tersebut.


"Pengumuman-pengumuman! Wahai seluruh rakyat Sumbawa, Datu Sumbawa mengadakan sayembara, barang siapa yang dapat menyembuhkan tuan putri, akan diberi hadiah. Jika ia perempuan akan dijadikan saudara dan jika ia Laki-laki akan dijadikan suami."


Pengumuman raja Samawa yang dikeluarkan dengan rasa putus asa itu, langsung tersebar ke seluruh pelosok negeri bahkan ke kerajaan lain. Tak pelak, banyak lelaki dari berbagai penjuru tana samawa berlomba untuk menyembuhkan Putri Lala Intan Bulaeng. Silih berganti para dukun dan ahli pengobatan berusaha menyembuhkan penyakit yang diderita tuan putri, namun tak ada satupun yang berhasil.


Hingga suatu hari datanglah sosok lelaki tua ke istana raja Sumbawa untuk mengobati sang putri. Lelaki tua itu bernama Daeng ParinggiPenampilannya sangat kumal dan bau. Ia mengenakan baju putih yang lusuh dengan janggut Panjang dan lebat. Tubuhnya bongkok dan berjalan menggunakan tongkat. Namun kedatangan orang tua itu tidak mendapat sambutan hangat dari pengawal kerajaan dan keluarga raja. Dia dihina dan dicemooh oleh semua orang.


Namun Datu menahannya dan meminta lelaki tua itu untuk mencoba menyembuhkan tuan putri. Lalu Datu mempersilakan lelaki tua itu masuk melihat tuan putri. Setelah melihat keadaan tuan putri lalu ia memutuskan untuk mengobati sang putri


Dengan izin tuhan, sang putri pun sembuh, penyakitnya pun hilang dan kulitnya kembali normal seperti sedia kala.


Begitulah setelah kesembuhan sang putri, si orang tua renta itu lalu menagih janji sang raja yakni menikahi sang putri. Namun, sebelum memberikan jawaban, dalam hati Datu Sumbawa pun berpikir. ''Apakah mungkin aku akan menikahkan anakku dengan orang tua renta ini? Apa kata raja-raja lain nantinya. Di mana aku akan menaruh mukaku." Lalu Datu Sumbawa pun berubah pikiran dan mengganti hadiah sayembara dengan yang lain.


Mendengar perkataan Datu yang akan mengganti hadiah sayembara, lelaki tua itu pun tersinggung dan terhina. Ia merasa ditipu oleh Datu Sumbawa. Melihat peristiwa itu, tuan putri merasa iba. Ia tidak ingin rakyat mengecap ayahnya sebagai raja yang ingkar janji. la pun berkata, ''Ayahanda, aku bersedia menikah dengannya."


Sang Datu seketika menjadi murka dan mengusir lelaki tua itu dari istana. Lalu dengan perasaan kecewa, tanpa menoleh lagi lelaki tua itu pun pergi meninggalkan istana menuju sampan yang telah ia sediakan di tepi pantai.


Lelaki tua yang ternyata seorang pemuda tampan itu tak lain adalah putra Raja Bone Sulawesi. Melalui Pantai Tanjung Munangis, putra Raja Bone itu pulang ke negerinya. Konon ia hanya berbekal selembar kain untuk menyeberang ke Pulau Sulawesi.


Tapi apa hendak dikata, sang putri terlambat, sementara pemuda idamannya sudah menolak hadiah sayembara untuk menikah dengan sang putri. Iba juga perasaan pemuda itu mendengar ratapan sang putri, namun apa yang harus kuperbuat ... Kata pemuda itu. Ayahandamu ternyata telah mengingkari janji.


Ia kemudian pergi meninggalkan putri Lala Mas Intan Bulaeng. Putri pun sangat sedih ditinggal oleh cinta pertamanya.


Bahkan ketika pengawal kerajaan menjemputnya, ia tak mau pulang ke istana. Ia bersumpah lebih baik menjadi batu daripada harus pulang, apalagi pemuda yang dicintainya telah pergi jauh akibat ulah ayahnya yang ingkar janji. Konon cerita ini berakhir bersamaan dengan' berubahnya sang putri menjadi seonggok batu, yang menyerupai seorang yang tengah menangis.


Sehingga sejak saat itu tempat itu kemudian diberi nama “Tanjung Menangis”. Untuk mengenang kisah sedih Putri Lala Intan Mas Bulaeng dan Daeng Paringgi


Setelah kalian membaca cerita tersebut. Cobalah menjawab pertanyaan di bawah ini! 1. Apa tema dari cerita tersebut 2. Bagaimana alur cerita tersebut 3. Siapakah tokoh utama dari cerita tersebut 4. Di mana dan kapan cerita tersebut terjadi 5. Apa pesan moral dari cerita tersebut


Click to View FlipBook Version