The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

BSE Sosiologi Untuk SMA_MA Kelas X - Suhardi

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by peedol, 2020-09-01 20:06:18

BSE Sosiologi Untuk SMA_MA Kelas X - Suhardi

BSE Sosiologi Untuk SMA_MA Kelas X - Suhardi

A. Nilai-nilai yang Berlaku di Masyarakat

Nilai-nilai sosial adalah prinsip-

prinsip, patokan-patokan, anggap-

an, maupun keyakinan-keyakinan

yang berlaku di suatu masyarakat. Di Foto: suasana gotong-
dalam masyarakat, ada patokan-pa- royong membangun rumah
tokan yang perlu dipatuhi, dianggap atau membersihkan irigasi.
baik, benar, dan berharga bagi war-

ga masyarakat. Patokan-patokan itu

tidak tertulis, namun hidup dalam

alam pikiran setiap warga masya-

rakat. Setiap generasi mewarisi nilai Sumber: Haryana
sosial dari generasi sebelumnya. Ka-
pan terbentuknya setiap nilai sosial Gambar 2.2 Nilai gotong-royong masih hidup subur
di desa.

tidak dapat diketahui secara pasti. Namun, suatu prinsip atau patokan berpe-

rilaku dianggap telah menjadi nilai sosial apabila seluruh warga masyarakat

menyepakatinya. Nilai sosial yang telah diakui, disepakati dan dipatuhi bersa-

ma oleh suatu kelompok masyarakat secara sosial bersifat mengikat.

Banyak sekali nilai sosial yang berkem- Infososio
bang di suatu masyarakat. Nilai-nilai itu diper-

lukan untuk mengatur hubungan antarwarga CIRI-CIRI NILAI SOSIAL
masyarakat. Semakin berkembang suatu ma-
syarakat, nilai-nilai sosialnya pun berubah. Pe- Nilai sosial memiliki lima ciri, yaitu
rubahan nilai sering disebut juga pergeseran selalu berkenaan dengan (1) haki-
nilai. Berikut ini, akan dijelaskan nilai gotong kat hidup manusia, (2) hakikat
royong dalam masyarakat kita. Bagaimana nilai karya manusia, (3) hakikat kedu-
itu mengatur kehidupan warga masyarakat, dan dukan manusia dalam ruang dan
perubahan (pergeseran) apa yang terjadi. waktu, (4) hakikat hubungan ma-
nusia dengan alam sekitarnya, dan
Masyarakat tradisional Indonesia pada (5) hakikat hubungan manusia
dengan sesamanya.

umumnya menganut prinsip gotong royong. Sumber : C. Kluchohn

Misalnya, kegiatan bersih desa, memperbaiki

saluran irigasi pertanian, atau membangun jalan-jalan di perkampungan, bahkan

kegiatan membangun rumah di desa-desa masih dikerjakan secara bergotong

royong. Di Jawa Tengah, hal ini dikenal dengan istilah sambatan. Hanya

pekerjaan khusus seperti tukang kayu dan tukang batu yang dibayar. Orang

kota mewujudkan nilai gotong royong dalam bentuk lain. Di lingkungan kerja

mereka yang sibuk, pada umumnya selalu ada pengumpulan dana sukarela se-

cara rutin. Dana itu digunakan untuk membantu warga kelompok yang sedang

kesusahan. Kesibukan orang kota yang bekerja di sektor formal membuat nilai

gotong royong berubah bentuk. Walaupun makna dasarnya sama, namun kadar

Nilai dan Norma Sosial 43

dan bentuknya berbeda. Pergeseran nilai Infososio
gotong royong berhubungan dengan sifat

masyarakat kota yang praktis, efisien, dan RAGAM NILAI SOSIAL

cenderung individualistik. Notonagoro membagi nilai sosial

Nilai sosial ada dalam setiap kehidupan menjadi tiga, yaitu (1) nilai mate-
manusia, baik sebagai pribadi maupun dalam rial, (2) nilai vital, dan (3) nilai ro-
masyarakat. Setiap masyarakat memiliki nilai- hani.
nilai sosial yang berbeda dengan masyarakat
lain. Demikian juga, setiap individu mungkin Walter G. Evrett. merinci nilai so-
sial menjadi lima, yaitu (1) nilai
ekonomi, (2) nilai rekreasi, (3) nilai

menganut nilai-nilai sosial yang berbeda de- perserikatan, (4) nilai kejasmanian,

ngan orang lain. Seperti dijelaskan dalam con- dan (5) nilai watak.

toh di atas, masyarakat kota mempunyai sifat Edward Spranger mengklasifikasi-
individualistik, sedangkan masyarakat desa kan nilai menjadi (1) nilai teori
cenderung mengutamakan kebersamaan dan yang menentukan identitas se-
kekeluargaan. Perbedaan itu menunjukkan suatu, (2) nilai ekonomi yang beru-
bahwa kedua masyarakat menganut nilai per- pa kegunaan sesuatu, (3) nilai aga-
ma yang berhubungan dengan

gaulan yang berbeda, contohnya dalam ling- sesuatu yang bersifat ketuhanan,
kup pribadi. Risna beranggapan, bahwa se- (4) nilai seni yang berhubungan
telah lulus SMA nanti, dia lebih baik mencari dengan ekspresi keindahan, (5) ni-
pekerjaan untuk dapat menghasilkan uang lai kekuasaan yang berhubungan
sendiri, walaupun orang tuanya mampu mem- dengan politik dan pemerintahan,
dan (6) nilai solidaritas yang ber-

biayai dia kuliah, sedangkan Dewi beranggap- hubungan dengan cinta, persa-
an, bahwa meneruskan pendidikan hingga habatan, dan hidup bersama.

memperoleh gelar kesarjanaan sangat penting baginya. Perbedaan anggapan

dalam hal pendidikan dan pekerjaan antara Risna dan Dewi, menunjukkan

keduanya menganut nilai yang berbeda.

Nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat bersumber pada:

1. hukum-hukum alam; suatu masyarakat biasanya mengambil nilai tertentu
pada kejadian-kejadian alam. Misalnya, penebangan liar dianggap hal tercela
karena dapat menyebabkan banjir;

2. kebenaran umum; konsep awalnya sangat sederhana yaitu lahir dari kondisi
alamiah setiap individu dalam masyarakat. Misalnya, dipukul rasanya sakit,
maka memukul orang lain bertentangan dengan kebenaran umum;

3. anggapan terhadap kekuasaan tresedental; Individu dengan segala
keterbatasannya pada kondisi tertentu akan mencari kesempurnaan di luar
wilayahnya.

Dari sumber-sumber tersebut suatu nilai mengalami proses penerimaan
menjadi nilai sosial. Penerimaan ini terjadi dalam tiga tahap, yaitu:

1. transformasi; penyampaian informasi ke dalam tiap-tiap individu anggota
masyarakat. Penyampaian informasi dilakukan dengan dua cara yaitu ra-
sionalisasi dan doktrin;

2. diskusi; proses sosial yang memusyawarahkan tentang suatunilai. Dari proses
ini, melahirkan penilaian apakah suatu nilai sosial diterima atau kebetulan;
serta

44 Sosiologi SMA/MA Kelas X

3. kritik; kondisi sosial yang berubah-ubah memerlukan kritik untuk menafsir
nilai sosial agar sesuai dengan perkembangan zaman.

Di dalam masyarakat terdapat bermacam-macam nilai sosial, yaitu nilai
rohani, nilai material, nilai vital, dan nilai perserikatan.

1. Nilai Rohani

Nilai rohani berkaitan dengan penghargaan terhadap segala sesuatu yang
berguna bagi rohani manusia. Nilai rohani meliputi nilai keindahan (estetika),
nilai kesopanan (etika), dan nilai ketuhanan (religius). Perwujudan nilai rohani
dapat berbentuk ekspresi dan apresiasi seni, kejujuran sikap, dan ketaatan ber-
agama. Menurut Notonagoro, nilai rohani dapat dibedakan menjadi empat
yaitu nilai estetika, nilai etika, nilai keilmuan, dan nilai religius.

a. Nilai Estetika

Nilai estetika berhubungan de-

ngan ekspresi perasaan atau isi jiwa Gambar: suasana
seseorang mengenai keindahan. pertunjukan konser
Setiap orang memiliki penghayatan grupband slank, atau
yang berbeda terhadap keindahan. lainnya.
Ada orang yang penghayatan

estetikanya disalurkan lewat gambar,

sastra, arsitektur, tari-tarian, musik

dan nyanyian, ukir-ukiran, dan tata Sumber: Hai, 8-14 Januari 2007
warna. Hampir semua aspek kehidu-
pan manusia diwarnai oleh nilai este- Gambar 2.3 Jenis-jenis musik dan nyanyian tertentu
disukai banyak orang, karena dianggap indah.

tika. Setiap kali membeli tas, buku,

dan pakaian baru, salah satu pertimbangan pilihan Anda adalah keindahan

penampilannya. Bahkan, cara orang berbicara pun tidak terlepas dari unsur

nilai keindahan. Simaklah ceramah atau pidato orang-orang terkenal seperti

KH. Zainudin MZ dan A.A. Gym. Keindahan susunan bahasa membuat ceramah

mereka disukai orang, di samping isinya juga diperhatikan. Nilai-nilai keindahan

tidak dapat diukur karena bersifat relatif dan subjektif. Lain orang lain

penghayatan dan penilaiannya.

b. Nilai Etika

Nilai etika adalah segala sesuatu yang menyangkut perilaku terpuji. Dalam
kehidupan sehari-hari kita sering menyebutnya dengan istilah tatakrama atau
sopan-santun. Nilai etika disebut juga nilai watak atau nilai kepribadian. Nilai
watak tercermin pada sikap adil, kejujuran, keberanian bertindak, dan
kemampuan mengontrol diri. Misalnya, orang yang menjunjung nilai watak
tidak akan mengingkari janji yang ia sepakati. Ukuran terpuji atau tidaknya
sesuatu, bergantung penilaian masyarakat yang bersangkutan. Secara umum,

Nilai dan Norma Sosial 45

perilaku suka menolong dan rela berkorban demi orang lain dianggap terpuji.
Anda akan mendapat pujian dari orang lain, karena telah melakukan perbuatan
yang baik atau mulia. Anda akan dicela orang lain, apabila melakukan tindakan
yang tercela. Hal tersebut menunjukkan, bahwa dalam pergaulan hidup ber-
masyarakat ada nilai etika yang berperan mengendalikan perilaku kita. Dalam
berbicara, berpakaian, makan, berlalu-lintas, bertamu, dan perbuatan lainnya,
semua dikendalikan oleh nilai etika.

Perlu diperhatikan, bahwa suatu perilaku yang dianggap terpuji bagi
masyarakat tertentu, belum tentu dianggap terpuji bagi masyarakat lain. Ukuran
etika bersifat relatif dan berhubungan dengan kebudayaan yang dikembangkan
oleh masyarakat bersangkutan.

c. Nilai Keilmuan
Nilai keilmuan tercermin dalam berbagai usaha manusia mencari

pengetahuan dan kebenaran. Misalnya, seseorang yang menyukai belajar tekun
atau mengadakan penelitian, berarti dia menjunjung tinggi nilai keilmuan.
Masyarakat yang warganya menjunjung tinggi nilai ini. Pada umumnya
berkembang dan cepat maju. Walaupun kegiatan pendidikan dan proses belajar
ada di dalam setiap masyarakat, namun nyatanya tidak semua masyarakat sama
tingkat kemajuannya. Hal ini disebabkan oleh kadar penghargaan mereka
terhadap nilai keilmuan tidak sama. Pikirkanlah, mengapa bangsa Jepang,
Jerman, dan bangsa Barat mampu menguasai perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, sementara kita jauh tertinggal?

d. Nilai Religius
Nilai religius berkaitan dengan kepercayaan terhadap Tuhan. Hanya orang

atheis yang tidak percaya akan adanya kekuatan Tuhan. Setiap agama dan
kepercayaan meyakini adanya kekuatan Tuhan. Keyakinan itu berpengaruh
terhadap perilaku manusia. Sehingga, secara umum orang berpedoman pada
ajaran-ajaran yang diyakini berasal dari Tuhan. Tuhan mengajak kepada kebaikan
dan keselamatan. Apabila Anda selalu berbuat baik, suka membantu sesama,
tidak menyakiti orang lain, dan patuh menjalankan perintah agama dengan
didasari keyakinan bahwa itu semua akan dibalas dengan pahala dari Tuhan,
maka Anda telah berpedoman pada nilai-nilai religius.

2. Nilai Material

Nilai material berkaitan dengan anggapan masyarakat mengenai materi
atau kebendaan dan kekayaan. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda
terhadap kekayaan, dan ini dipengaruhi oleh nilai-nilai yang ada di masyarakatnya.
Ada orang yang mengutamakan kekayaan berlimpah sebagai ukuran keberhasilan
hidup, sementara orang lain mungkin lebih mengutamakan keberhasilan pendidi-
kan anak-anaknya. Menurut Clifford Geerzt, kelompok masyarakat Jawa yang

46 Sosiologi SMA/MA Kelas X

disebut kaum priyayi memandang

rendah nilai materi, tetapi meman-

dang tinggi nilai kedudukan sosial.

Cobalah Anda pelajari lebih lanjut

perihal nilai material yang dianut Gambar: sebuah keluarga

kaum priyayi Jawa. sedang menaiki mobil

Dalam lingkup yang lebih luas, mewah di depan rumah

nilai material disebut nilai ekonomi. mereka yang mewah pula.

Nilai ini tercermin dalam sistem eko-

nomi yang dianut oleh suatu ma-

syarakat atau individu. Dalam masya-

rakat global sekarang ini sedang Sumber: Haryana
disepakati berlakunya sistem pasar
bebas. Ini berarti praktik-praktik per- Gambar 2.4 Secara umum orang menilai keber-
hasilan hidup dengan pengumpulan materi.

saingan bebas (free fight liberalism)

dianggap baik. Negara yang tidak mendukung sistem itu akan diberi sanksi dunia.

Dalam lingkup pribadi, nilai ekonomi tercermin dalam sikap hemat pengeluaran.

3. Nilai Vital

Nilai vital berhubungan dengan penghargaan terhadap kesehatan dan
kebugaran organ-organ tubuh. Kegiatan olah raga dan mengonsumsi makan
cukup gizi mencerminkan nilai vital. Bergaya hidup sehat, tidak mengonsumsi
makanan atau obat-obatan yang merusak vitalitas fisik juga menunjukkan nilai
vital. Di samping itu, kegiatan rekreasi dan mengisi waktu luang juga dapat
menjaga vitalitas tubuh. Oleh karena itu, nilai vital mencakup pula nilai rekreasi.
Orang yang menganggap penting nilai rekreasi akan merencanakan secara
baik kegiatan rekreasi mereka. Bagi mereka, setelah tubuh digunakan bekerja
sehari-hari, harus diberikan kesempatan beristirahat dan penyegaran kembali
(rekreasi). Sekarang Anda tentu dapat mengerti, mengapa ada orang yang rela
mengeluarkan biaya besar untuk membeli sarana kebugaran. Tempat-tempat
rekreasi di luar kota selalu padat dikunjungi orang, terutama waktu hari libur.
Itu semua sebagai cerminan bahwa masyarakat menjujung tinggi nilai kebugaran
dan rekreasi.

4. Nilai Perserikatan

Nilai perserikatan tercermin dalam bentuk kesukaan manusia mendirikan
berbagai organisasi atau kelompok. Di sekolah atau di rumah, Anda membentuk
kelompok bermain yang terdiri dari teman sebaya. Apabila Anda menyukai
bulu tangkis, tentu Anda dengan senang hati bergabung dalam salah satu klub
bulu tangkis dan menjadwalkan latihan bersama pada hari-hari tertentu. Dalam
berbagai bidang kehidupan, orang senantiasa membentuk perserikatan atau
organisasi-organisasi. Di bidang perdagangan ada organisasi dagang, di bidang

Nilai dan Norma Sosial 47

tani dan nelayan ada kelompok tani dan

nelayan, di bidang politik ada partai

Gambar: papan nama osis politik, bahkan ibu-ibu rumah tangga
di sma membentuk kelompok-kelompok arisan.
Ini semua menunjukkan, bahwa setiap

orang menjunjung nilai perserikatan,

karena manusia adalah makhluk sosial

(bermasyarakat). Walaupun demikian,

kadar penghargaan nilai ini dapat diukur

Sumber: Haryana dari cara-cara mereka berserikat, apakah
benar-benar mencerminkan nilai dan arti
Gambar 2.5 OSIS sarana siswa untuk belajar beror- penting dari perserikatan itu atau tidak.
ganisasi. Amatilah Organisasi Siswa Intra Sekolah

(OSIS) di sekolah Anda. Apakah keberadaan OSIS itu asal berdiri secara formal

atau benar-benar menjadi sarana bagi siswa untuk belajar berorganisasi?

Jenis-jenis nilai sosial yang dijelaskan di atas, bukanlah satu-satunya
penggolongan nilai. Anda dapat memperoleh banyak informasi mengenai
berbagai macam nilai sosial dengan mempelajari sumber lain. Akan tetapi,
penggolongan di atas setidaknya cukup mewakili.

Aktivitas Siswa

Pilih dan kerjakan salah satu tugas di bawah ini, kemudian serahkan kepada
guru untuk dinilai!

1. Anda tentu memiliki kesan tertentu terhadap setiap negara yang ada
di dunia. Tentukan salah satu negara yang Anda anggap paling ber-
prestasi dalam bidang tertentu! Kemudian carilah informasi sebanyak
mungkin mengenai negara itu dan identifikasikan nilai-nilai sosial yang
mendukung keberhasilan negara tersebut! Tulis hasil kajian Anda
menjadi makalah dan presentasikan dalam diskusi kelas!

2. Bacalah literatur yang mendeskripsikan kehidupan suku-suku bangsa
di Indonesia. Buatlah rangkuman yang berisi nilai-nilai sosial yang
menjadi ciri khas setiap suku bangsa!

3. Perankanlah diri Anda sebagai pengamat yang objektif dalam mengin-
dentifikasi nilai-nilai sosial yang ada di daerah tempat tinggal Anda!
Deskripsikan semua nilai sosial yang menjadi patokan hidup di masya-
rakat Anda! Sampaikan kepada teman yang berasal dari daerah lain,
dan mintalah pendapatnya!

48 Sosiologi SMA/MA Kelas X

Pelatihan

Kerjakan di buku tugas Anda!
Jawablah dengan tepat!
1. Apakah yang disebut nilai sosial?
2. Sebutkan macam-macam nilai sosial!
3. Mengapa nilai sosial bersifat relatif?
4. Nilai sosial apa yang paling menonjol dalam masyarakat Anda?

Mengapa?
5. Nilai sosial apa yang paling kurang menguntungkan dalam masyarakat

Anda? Mengapa?

Tes Skala Sikap

Kerjakan di buku tugas Anda!

Nyatakan tanggapan Anda terhadap pernyataan atau kasus di bawah ini,
dengan cara memberi tanda cek (9) pada kolom S (Setuju), TS (Tidak
Setuju) atau R (Ragu-ragu)!

No Pernyataan T TS R

1 Apabila suatu masyarakat lambat perkembang-
annya, kita dapat memastikan ada nilai-nilai
sosial tertentu yang menghambat perkem-
bangan. Nilai-nilai itu harus dihapuskan dan
diganti dengan nilai-nilai yang baru.

2 Nilai sosial bersifat tetap dan diturunkan dari
generasi ke generasi.

3 Pergaulan dengan masyarakat lain memungkin-
kan nilai sosial mengalami perubahan.

4 Semakin maju suatu masyarakat berarti nilai
sosialnya semakin baik dan berkembang.

5 Masyarakat kota telah banyak mengalami per-
geseran nilai, sehingga nilai-nilai sosial hampir
punah.

Nilai dan Norma Sosial 49

B. Norma-norma yang Berlaku dalam Masyarakat

Apabila nilai-nilai sosial bersifat ab-

strak, sebaliknya norma-norma sosial

bersifat konkret. Tepatnya, norma

merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai

sosial. Di dalam masyarakat yang ber-

budaya, terdapat norma-norma dan

kaidah-kaidah baik yang tertulis mau-

pun tidak. Norma-norma ini mengatur

kehidupan manusia dalam masyarakat-

nya. Terbentuknya didasari oleh kebu-

tuhan demi terciptanya hubungan yang

Sumber: Haryana harmonis, selaras, dan serasi di antara
warga masyarakat. Himpunan semua
Gambar 2.6 Peraturan lalu lintas merupakan salah norma berkisar pada kebutuhan pokok
satu bentuk norma yang ada di masyarakat

manusia. Misalnya, apabila masyarakat

menganggap bahwa anak muda harus menghormati orang tua, maka dicipta-

kanlah norma yang mengatur bagaimana cara menghormati orang tua. Nor-

ma itu dapat berupa tata cara berbicara kepada orang tua atau tata cara ber-

sikap terhadap orang tua. Adakalanya aturan itu tertulis, dan sering pula tidak

tertulis. Setiap masyarakat membutuhkan norma-norma yang mengatur pe-

rilaku dan hubungan antarwarganya.

Di dalam masyarakat terdapat berbagai macam norma sosial, yaitu tata
cara (usage), kebiasaan atau kelaziman (folkways), norma kesusilaan atau tata
kelakuan (mores), norma adat istiadat (custom), norma hukum (laws), norma
agama, dan norma mode (fashion).

1. Norma Tata Cara (Usage)

Norma tata cara mengatur anggota masyarakat dalam hal cara berbuat
sesuatu. Perbuatan sehari-hari warga masyarakat senantiasa harus sesuai tata
cara yang berlaku. Misalnya, cara makan yang baik, cara berbicara, cara
berdandan seorang wanita, dan lain-lain. Tata cara berkaitan dengan perilaku
pribadi. Pelanggaran terhadap norma ini mengakibatkan sanksi berupa penilaian
tidak pantas atau dianggap tidak sopan dari warga masyarakat lainnya. Jadi,
sanksinya tidak terlalu berat. Walaupun tidak berat, apabila pelanggaran
dilakukan terus-menerus sehingga segala tingkah laku orang itu tidak mengikuti
tata cara yang seharusnya, masyarakat mungkin akan mengucilkannya karena
dianggap orang yang berperilaku buruk. Coba Anda cari perilaku orang-orang
di sekitar Anda yang tergolong berperilaku buruk menurut pendapat umum.
Cermati apa saja keanehan yang dilakukannya dan bagaimana seharusnya ia
berperilaku yang umum.

50 Sosiologi SMA/MA Kelas X

2. Norma Kebiasaan atau Kelaziman (Folkways)

Norma kebiasan atau kelaziman

mengatur anggota masyarakat dalam

melakukan perbuatan yang berupa ke-

biasaan yang telah lazim dalam masya-

rakat itu. Kelaziman berkaitan dengan

aturan berperilaku seseorang dalam

hubungannya dengan orang lain. Se-

bagai contoh, apabila dua orang yang

sudah saling kenal berjumpa, mereka

seharusnya saling menyapa. Apabila

kedatangan tamu, pada umumnya

dipersilakan masuk dan disuguhi mi- Sumber: Haryana
num atau makanan kecil setelah diper-
silakan duduk. Apabila kebiasaan se- Gambar 2.7 Suatu contoh kelaziman dalam hu-
bungan antarindividu yang saling kenal.

perti itu dilanggar (tidak dilakukan), maka sang pelanggar akan menjadi bahan

gunjingan di masyarakat. Gunjingan merupakan bentuk sanksi terhadap pe-

langgaran norma ini.

3. Norma Kesusilaan atau Tata Kelakuan (Mores)

Norma kesusilaan mengatur anggota masyarakat agar selalu berperilaku
terpuji, tidak melanggar kesusilaan. Misalnya, seorang suami atau istri dilarang
berbuat serong. Pelanggaran terhadap norma ini akan mendapat sanksi berupa
ejekan atau pergunjingan, diisolasi, bahkan dianggap sebagai orang yang jahat
(berperilaku buruk).

4. Norma Adat Istiadat (Custom)

Norma adat mengatur anggota

masyarakat agar selalu mematuhi

ke-tentuan adat istiadat. Adat istiadat

merupakan ide atau gagasan yang

telah diterima oleh semua warga

masyarakat dan harus dipraktikkan

dalam keseharian mereka. Misalnya,

adat pembagian harta waris orang

yang telah meninggal. Pelanggaran

terhadap norma semacam ini men-

dapat sanksi berupa hukum adat. Di Sumber: Tempo, 20 Agustus 2006
berbagai masyarakat di negara kita,
dikenal hukum adat. Inilah bentuk Gambar 2.8 Setiap masyarakat mempunyai adat-
istiadat yang berbeda.

norma yang dibuat oleh masyarakat adat.

Nilai dan Norma Sosial 51

5. Norma Hukum (Laws)

Norma hukum mengatur anggota masyarakat agar tidak melanggar hu-
kum. Hukum adalah peraturan yang dibuat secara resmi oleh lembaga pem-
buat undang-undang (legislatif). Pada umumnya, hukum bersifat tertulis dan
disahkan lewat lembaran negara. Namun, ada pula hukum yang tidak tertulis
(konvensi). Pada zaman sekarang semua aturan hukum telah dikodifikasi (ditu-
lis) dalam berbagai kitab undang-undang. Norma hukum memiliki istilah yang
beragam bergantung tingkatannya. Istilah undang-undang digunakan untuk
produk hukum lembaga legislatif. Produk hukum lembaga kepresidenan dise-
but Keputusan Presiden. Produk hukum menteri disebut Keputusan Menteri.
Produk hukum gubernur disebut Keputusan Gubernur, dan seterusnya. Ikatan
sanksinya, sesuai ruang lingkup kewenangan lembaga pembuatnya. Setiap nor-
ma hukum mengandung sanksi yang pasti, baik sanksi fisik maupun nonfisik.

6. Norma Agama

Norma agama bersumber dari ayat-ayat dalam kitab suci setiap agama. Al-
Qur’an adalah sumber norma hukum tertinggi bagi kehidupan beragama kaum
muslimin. Di samping itu, hadis Nabi Muhammad juga menjadi norma kehidupan
seorang muslim. Agama Kristen dan Katolik memiliki norma hukum yang
bersumber dari Injil. Begitu pula agama Hindu, Buddha, dan lain-lainnya meng-
ambil ajaran kitab masing-masing sebagai sumber norma kehidupan beragama
mereka. Norma agama mengatur warga masyarakat dalam menjalankan ajaran
agama. Di luar urusan keagamaan, norma ini tidak berlaku. Pelanggaran atas
norma agama dianggap sebagai perbuatan dosa yang akan mendapat gan-
jarannya dari Tuhan. Ada pula norma agama yang sanksinya berupa hukuman
fisik atau denda, misalnya norma agama Islam yang mengatur hubungan
antarmanusia. Contoh penerapannya ada di Daerah Istimewa Aceh, sebagai
satu-satunya provinsi yang menerapkan hukum Islam.

7. Norma Mode (Fashion)

Dalam masyarakat modern, banyak hal yang berubah berdasarkan selera
umum, misalnya model pakaian, model rambut, bentuk bangunan rumah, model
kendaraan, dan lain-lain. Pada awalnya, perubahan itu mungkin dimulai oleh
sekelompok orang atau seorang tokoh terkenal (selebriti atau tokoh idaman
lainnya). Kemudian mode yang digunakan tokoh tersebut ditiru banyak orang
dan akhirnya menjadi kecenderungan umum. Perubahan mode dapat pula
direkayasa oleh suatu institusi, misalnya sebuah pabrik pakaian mempromosikan
model baru pakaian sehari-hari. Apabila suatu mode telah menjadi populer dan
dianggap sesuatu yang umum di masyarakat, maka setiap orang seolah terpikat
untuk mengikutinya. Berlakulah norma tidak tertulis yang mengikat warga

52 Sosiologi SMA/MA Kelas X

masyarakat agar mengikuti mode

yang sedang berlaku. Norma ini

disebut norma mode, dan mengatur Foto:
manusia dalam hubungannya de- Peragaan busana.
ngan perubahan. Pelanggaran

norma mode mengakibatkan pelaku-

nya dicap sebagai orang yang aneh,

tidak sesuai dengan keadaan yang

sedang berlangsung. Norma mode

sangat terasa pengaruhnya di ma-

syarakat kota, namun bukan berarti Sumber: Seputar Indonesia, 9 Juni 2006

di masyarakat desa tidak ada. Norma Gambar 2.9 Peragaan busana sering menjadi awal
mode di desa tentu berkaitan dengan perubahan mode pakaian di masyarakat.

kehidupan di desa, misalnya di suatu daerah pertanian, belum populer

merontokkan padi dengan alat perontok (thrasher), maka orang yang pertama

kali melakukannya dianggap aneh (tidak lazim).

Aktivitas Siswa

Pilih dan kerjakan salah satu tugas di bawah ini, kemudian serahkan kepada
guru untuk dinilai!

1. Carilah informasi dari berbagai sumber mengenai penanganan kasus
korupsi di tanah air! Catatlah setiap kasus yang muncul di media massa!
Bagaimana penerapan norma hukum untuk mengurus kasus korupsi
di Indonesia hingga saat ini? Rumuskan kesimpulan Anda atas
pertanyaan tersebut dalam bentuk makalah untuk bahan diskusi kelas!

2. Saat ini mode pakaian jilbab menjadi kecenderungan umum. Diskusikan-
lah hal tersebut dalam hubungan dengan norma agama dan norma
mode! Susun hasil diskusi Anda dalam bentuk artikel dan tampilkan di
majalah dinding sekolah, setelah mendapat persetujuan guru!

3. Amatilah daerah tempat tinggal Anda! Catatlah norma-norma yang
paling dipatuhi warga masyarakat dan yang kurang dipatuhi! Berikan
alasan untuk masing-masing temuan Anda! Buatlah laporan hasil
pengamatan Anda!

Nilai dan Norma Sosial 53

Pelatihan

Kerjakan di buku tugas Anda!
Jawablah dengan tepat!
1. Apakah yang dimaksud dengan norma sosial?
2. Sebutkan jenis-jenis norma yang Anda ketahui!
3. Mengapa kasus korupsi di Indonesia tidak kunjung selesai penanga-

nannnya? Jawablah dari sudut pandang norma hukum!
4. Sebutkan lima norma yang paling dipatuhi oleh orang-orang di daerah

Anda!
5. Apakah menurut Anda tata tertib di sekolah Anda dipatuhi para siswa?

Deskripsikan tingkat kepatuhannya!

Tes Skala Sikap

Kerjakan di buku tugas Anda!

Nyatakan tanggapan Anda terhadap pernyataan atau kasus di bawah ini,
dengan cara memberi tanda cek (9) pada kolom S (Setuju), TS (Tidak
Setuju) atau R (Ragu-ragu)!

No Pernyataan T TS R

1 Semakin banyak norma yang mengatur kehi-
dupan masyarakat maka semakin terkekang
kemerdekaan kita.

2 Norma diperlukan untuk mengatur keteraturan
hidup bersama.

3 Norma lahir dari kesepakatan warga masya-
rakat. Oleh karena itu, pelaksanaannya dapat
dinegoisasikan.

4 Penegakan norma hukum di Indonesia masih
lemah. Ini terbukti banyak kasus pelanggaran
peraturan di berbagai sektor kehidupan.

5 Orang yang paling bertanggung jawab terhadap
tegaknya norma adalah pemimpin masyarakat.
Warga masyarakat tinggal mengikuti saja.

54 Sosiologi SMA/MA Kelas X

C. Nilai dan Norma Sosial sebagai Bagian dari Kebudayaan

Menurut Koentjaraningrat, nilai sosial Infososio
terdiri atas konsepsi-konsepsi yang hidup
dalam alam pikiran sebagian warga masya- CIPTA RASA KARSA
rakat. Konsepsi-konsepsi itu mengenai hal-hal
yang mereka anggap bernilai dalam hidup dan Kebudayaan tersusun dari tiga hal,
memiliki kaitan erat dengan kebudayaan di yaitu cipta, rasa, dan karsa. De-
masyarakat. Oleh karena itu, nilai sosial ber- ngan daya cipta, manusia mam-
fungsi sebagai pedoman tertinggi bagi perilaku pu menggerakkan pikiran sehing-
manusia. Semua aturan lain yang bersifat lebih ga menghasilkan konsep-konsep,
konkret berpedoman pada nilai sosial. Aturan- pemikiran-pemikiran, filsafat, dan
aturan konkret itu berupa norma sosial dalam ilmu pengetahuan yang bersifat
segala bentuknya. abstrak. Dengan perasaannya,
manusia mampu membedakan an-
Sistem nilai yang dianut oleh suatu masya- tara sesuatu yang kasar dan halus,
rakat merupakan inti suatu kebudayaan masya- buruk dan indah, sifat sewenang-
rakat itu. Dengan demikian, untuk memahami wenang dan adil, rasa kecewa dan
nilai dan norma yang berlaku di masyarakat puas, dan lain-lain. Lahirlah kai-
tidak bisa dilepaskan dari pemahaman ke- dah-kaidah dan nilai-nilai sosial
budayaan masyarakat tersebut. yang mengatur kehidupan ber-
masyarakat, sedangkan kemam-
1. Kebudayaan dan Unsur-unsurnya puan manusia untuk berkarya
menghasilkan benda material
dalam berbagai bentuk dan ke-
gunaan, seperti rumah, pakaian,
dan berbagai peralatan.

Secara sempit kebudayaan diartikan se- Sumber: Selo Soemardjan
bagai aktivitas di bidang seni, sastra, dan dan Soelaiman Soemardi

musik. Dalam pengertian luas, kebudayaan

meliputi semua bidang kehidupan manusia. Oleh karena itu, aktivitas seni meru-

pakan salah satu unsur kebudayaan. Kebudayaan terbentuk dan berkembang

sejak terbentuknya masyarakat. Kebudayaan merupakan hasil upaya manusia

secara terus-menerus untuk menciptakan sarana dan prasarana yang diperlu-

kan dalam kehidupan. Kehidupan sehari-hari selalu memberikan tantangan-

tantangan kepada manusia untuk menciptakan hal-hal baru. Semua hasil ciptaan

manusia, baik yang bersifat benda-benda fisik maupun yang nonfisik menjadi

bagian dari kebudayaan.

Unsur-unsur kebudayaan di dalam masyarakat meliputi pengetahuan,
keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan segala kemampuan serta
kebiasaan anggota masyarakat. Itu berarti bahwa kebudayaan mencakup semua
hal yang dipelajari dan dialami bersama oleh warga masyarakat. Koentjaraningrat
merinci tujuh unsur kebudayaan, yaitu:

a. sistem religi dan upacara keagamaan,

b. sistem dan organisasi kemasyarakatan,

c. sistem pengetahuan,

d. bahasa,

Nilai dan Norma Sosial 55

e. kesenian,

f. sistem mata pencaharian hidup, dan

g. sistem teknologi dan peralatan.

Tujuh unsur kebudayaan ini disebut juga sebagai culture universal, yaitu unsur-
unsur yang bersifat menyeluruh dan dapat dijumpai pada setiap kebudayaan
manapun di dunia ini.

Unsur-unsur tersebut juga itu berhubungan dengan nilai dan norma di
masyarakat tempat kebudayaan hidup. Sistem religi dan upacara keagamaan,
sistem pengetahuan, dan kesenian berhubungan dengan nilai-nilai rohani. Sistem
mata pencaharian hidup dan sistem teknologi dan peralatan berhubungan
dengan nilai material, sedangkan sistem organisasi kemasyarakatan ber-
hubungan dengan nilai perserikatan.

Sistem organisasi kemasyarakatan terdiri atas nilai kekuasaan dan nilai
solidaritas (perserikatan). Nilai kekuasaan berhubungan dengan upaya untuk
memperoleh dan mempertahankan kekuasaan politik, dan nilai solidaritas ber-
hubungan dengan hidup bersama berdasarkan cinta, persahabatan, dan ke-
bersamaan.

Dalam hal tingkah laku di masyarakat, pada awalnya manusia primitif tidak
mengenal norma yang rumit seperti dalam masyarakat kita sekarang. Akan
tetapi, dengan semakin berkembangnya masyarakat, dibuatlah norma-norma.
Norma-norma itu mengatur hubungan antarmanusia berdasarkan nilai-nilai sosial
yang dijunjung bersama. Karena nilai dan norma dibuat oleh manusia, maka
nilai dan norma merupakan bagian dari kebudayaan.

Ketujuh unsur kebudayaan saling terintegrasi. Dengan kata lain, semua
unsur saling berkaitan, saling mendukung, dan saling melengkapi. Hubungan
antar-unsur kebudayaan sangat harmonis dan saling menyesuaikan. Apabila
terjadi perubahan terhadap salah satu atau beberapa unsur, maka unsur-unsur
lain akan terpengaruh atau menyesuaikan. Demikian pula, apabila terjadi peru-
bahan dalam satu nilai atau norma sosial, maka akan memengaruhi yang lainnya.
Perkembangan masyarakat sejalan dengan perkembangan kebudayaannya.
Perkembangan kebudayaan sejalan pula dengan perkembangan nilai dan norma
sosialnya.

Contoh integrasi unsur-unsur kebudayaan ialah ketika pada bulan April
2006 di Indonesia untuk pertama kalinya diterbitkan majalah Playboy. Walau-
pun disesuaikan dengan kebudayaan Indonesia namun tetap mengangkat tema
utama yang berkisar pada penyebaran pornografi. Hasilnya, penerbitan itu
mendapat reaksi keras dari berbagai kelompok masyarakat. Warga masyarakat
melakukan protes keras karena mereka menjunjung nilai-nilai ketimuran dan
meng-anggap pornografi sebagai ancaman terhadap moral bangsa. Bukan saja
majalah yang sudah beredar dirampas dan dibakar, tetapi juga orang-orang
yang berada di balik terbitnya majalah itu diadukan ke polisi dalam kasus penye-

56 Sosiologi SMA/MA Kelas X

baran pornografi. Hal itu merupa-

kan pencerminan budaya Indonesia

yang secara umum menganggap Foto: Demonstrasi anti

tabu dan tidak sopan, apabila aurat majalah playboy, dan

seseorang dipertontonkan di depan demonstrasi anti

umum baik secara langsung maupun pornografi/pornoaksi.

tidak langsung (melalui media apa

saja). Nilai-nilai moral dalam kebu-

dayaan Indonesia mengatur soal itu.

Namun, ada sekelompok orang de- Sumber: Haryana

ngan alasan kebebasan pers menco- Gambar 2.10 Suatu kasus pemaksaan nilai-nilai asing
ba memaksakan nilai budaya asing ke dalam nilai kehidupan Indonesia.

kepada masyarakat Indonesia, maka terjadilah perlawanan. Hal ini disebab-

kan, nilai liberal negara asing bertentangan dengan nilai-nilai moral kebudayaan

Indonesia yang menjunjung tinggi sopan santun.

2. Perubahan Kebudayaan dan Pergeseran Nilai Sosial Masyarakat

Kebudayaan bukanlah sesuatu yang statis, melainkan selalu berubah sejak
pertama kali terbentuk. Perkembangan kebudayaan diawali dengan timbulnya
bahasa sebagai sarana komunikasi antarmanusia. Bahasa juga berfungsi untuk
menyimpan gagasan-gagasan baru. Jika gagasan itu bermanfaat, maka disimpan
dalam bentuk konsep-konsep yang dilambangkan dengan kata-kata. Selanjutnya,
gagasan itu diwariskan dari generasi ke generasi lewat proses pembelajaran.
Sejalan dengan kemajuan akal, bahasa, dan peralatan yang dikembangkan,
maka semakin kompleks pula kehidupan manusia. Kompleksitas itu pada
akhirnya melahirkan unsur-unsur lain sebagai satu kesatuan dalam kebudayaan.

Perkembangan kebudayaan suatu masyarakat merupakan serangkaian
proses. Proses tersebut meliputi eksperimen, penemuan, pengesahan, pelem-
bagaan, pembudayaan, dan disambung dengan proses eksperimen berikutnya.
Setiap kali manusia membutuhkan sesuatu dan berusaha untuk memenuhinya,
eksperimen segera dilakukan. Begitulah, proses perubahan itu tidak pernah
berhenti. Unsur-unsur kebudayaan saling berhubungan sehingga perubahan
salah satu unsur akan memengaruhi unsur yang lain. Kebudayaan dapat berubah
ke arah semakin baik atau justru semakin buruk.

Nilai sosial merupakan bagian penting dalam kebudayaan. Perilaku warga
masyarakat dianggap sah atau dibenarkan secara moral, apabila tidak ber-
tentangan dengan nilai sosial yang berlaku. Karena nilai sosial menjadi bagian
dari kebudayaan, maka perubahan kebudayaan berpengaruh terhadap peru-
bahan nilai dan norma sosial. Selanjutnya, pergeseran nilai sosial berpengaruh
terhadap norma-norma sosial. Norma sosial yang paling terpengaruh adalah
kebiasaan (folkways) dan tata kelakuan (mores). Secara umum, pergeseran nilai
berhubungan dengan modernisasi yang dialami masyarakat.

Nilai dan Norma Sosial 57

Foto: desa yang damai Foto: kota yang sibuk.

Sumber: Haryana

Gambar 2.11 Nilai tradisi telah berganti nilai modernitas.

Modernisasi telah mengubah desa menjadi kota. Masyarakat desa yang
semula hidup sederhana berubah menjadi masyarakat kota. Nilai-nilai tradisional
desa bergeser menjadi nilai-nilai hidup modern orang kota. Masyarakat desa
menganut nilai-nilai kerukunan, solidaritas, kekeluargaan, dan tidak menganggap
materi sebagai tujuan utama. Setelah modernisasi melanda dan berubah menjadi
masyarakat kota, maka nilai-nilai tersebut mulai bergeser. Nilai-nilai hidup
modern yang praktis, efisien, materialistis, dan penuh persaingan menggantikan
nilai-nilai lama. Paling tidak, terjadi penurunan kadar nilai.

Semakin rumit struktur suatu ma-

syarakat, nilai-nilai sosialnya juga sema-

kin kompleks dan terjadi kontroversi

nilai. Kontroversi nilai adalah keadaan

saling bertentangan antarnilai yang

dianut masyarakat. Sebagai contoh,

dalam masyarakat modern sekarang ini,

nilai efisiensi (kehematan) dijadikan

patokan dalam mengelola suatu organi-

sasi (terutama perusahaan). Namun di

Sumber: Indonesian Heritage, Manusia dan Lingkungan sisi lain, kebudayaan modern ternyata
amat memboroskan sumber daya alam.
Gambar 2.12 Sampai kapankah masyarakat tra- Hak-hak asasi manusia juga gencar
disional mampu mempertahankan nilai sosial asli didengung-dengungkan. Di sisi lain,
mereka?

kebebasan pers, liberalisme, dan perdagangan bebas telah menghancurkan hak-

hak masyarakat terbelakang untuk bertahan.

Dibangunnya sarana perhubungan dan komunikasi membuat keterisola-
sian masyarakat tradisional terkuak. Masyarakat mulai berhubungan dengan
masyarakat lain sehingga masuklah pengaruh baru dari luar. Sifat masyarakat
tradisional yang cenderung konservatif, stabil, dan menolak perubahan berge-
ser menjadi proaktif terhadap perubahan. Semakin terbukanya akses informasi
dari luar, pengaruh perubahan semakin besar. Media massa yang setiap detik
menyebarkan pengaruh dari luar semakin mempercepat bergesernya nilai-nilai
sosial.

58 Sosiologi SMA/MA Kelas X

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran nilai karena
pengaruh perubahan kebudayaan adalah sebagai berikut.
a. Penemuan; merupakan terungkapnya manfaat suatu hal yang sebenarnya

sudah ada untuk kehidupan manusia. Misalnya, api sudah ada sejak lama,
namun baru ditemukan kegunaannya setelah manusia memahami manfaat
api.
b. Invensi; merupakan kombinasi baru atau cara penggunaan baru dari
pengetahuan yang sudah ada. Misalnya, pada tahun 1895 George Seldon
menciptakan mobil. Padahal mobil merupakan kombinasi berbagai hasil
penemuan sebelumnya (kereta, roda, mesin, dan lain-lain).
c. Difusi; merupakan penyebaran unsur-unsur budaya dari satu kelompok ke
kelompok lainnya baik dalam suatu masyarakat maupun antarmasyarakat.
Difusi berlangsung secara dua arah, saling memberi dan saling menerima,
tetapi pada kenyataannya masyarakat yang terbelakang yang lebih banyak
menyerap pengaruh budaya masyarakat maju, sehingga nilai-nilai tradisional
mereka berubah karena meniru nilai-nilai masyarakat maju.

Aktivitas Siswa

Pilih dan kerjakan salah satu tugas di bawah ini, kemudian serahkan kepada
guru untuk dinilai!
1. Anda tentu tidak asing lagi dengan internet. Carilah informasi dari

berbagai sumber yang dapat mendeskripsikan pengaruh internet
terhadap perubahan nilai-nilai sosial! Susun hasil kajian Anda dalam
sebuah artikel dan tampilkan di majalah dinding sekolah, dengan
persetujuan guru!
2. Bacalah beberapa karya sastra Indonesia yang ditulis pada tahun 1940-
an! Identifikasilah nilai-nilai sosial yang berlaku saat itu sesuai peng-
gambaran dalam karya sastra itu! Lalu bandingkan dengan nilai-nilai
yang ada sekarang! Tulis hasil kajian itu dalam bentuk makalah untuk
dipresentasikan dalam diskusi kelas!
3. Lakukan wawancara dengan beberapa orang tua (generasi kakek dan
nenek Anda). Tanyakan kepada mereka, hal-hal apa saja yang telah
berubah pada masa kini dibandingkan dengan zaman masa kakek-
nenek Anda. Tulis hasil wawancara Anda dalam bentuk laporan!

Nilai dan Norma Sosial 59

Pelatihan

Kerjakan di buku tugas Anda!

Jawablah dengan tepat!
1. Apakah kebudayaan itu?
2. Jelaskan ciri-ciri (hakikat) kebudayaan!
3. Mengapa perubahan kebudayaan berakibat pada pergeseran nilai-nilai

sosial?
4. Sebutkan faktor-faktor yang menyebabkan pergeseran nilai-nilai sosial!
5. Jelaskan pengaruh media massa terhadap pergeseran nilai sosial!

Tes Skala Sikap

Kerjakan pada buku tugas Anda!

Nyatakan tanggapan Anda terhadap pernyataan atau kasus di bawah ini,
dengan cara memberi tanda cek (9) pada kolom S (Setuju), TS (Tidak
Setuju) atau R (Ragu-ragu)!

No Pernyataan T TS R

1 Sejak manusia dilahirkan telah memiliki kebu-
dayaan. Sehingga, dengan sendirinya manusia
menyerap nilai-nilai sosial kebudayan itu.

2 Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
sangat berdampak positif terhadap perkem-
bangan kebudayaan dan perubahan nilai sosial.

3 Sedapat mungkin nilai sosial harus diper-
tahankan agar tidak terjadi erosi kebudayaan.

4 Pemerintah hendaknya membatasi dan meng-
awasi penggunaan internet. Karena, kebebasan
pemakaian internet saat ini telah memberi
kesempatan kepada pelajar untuk mengakses
situs-situs pornografi.

5 Perubahan nilai di masyarakat tidak perlu di-
cemaskan. Sebab, perubahan itu membawa
dampak positif bagi perkembangan kebudayaan.

60 Sosiologi SMA/MA Kelas X

Rangkuman

1. Nilai sosial adalah prinsip-prinsip, patokan-patokan, anggapan, maupun
keyakinan yang berlaku di masyarakat.

2. Nilai sosial di dalam masyarakat meliputi:
a. nilai rohani,
b. nilai material,
c. nilai vital, dan
d. nilai perserikatan.

3. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pergeseran nilai adalah:
a. penemuan,
b. invensi, dan
c. divusi.

4. Norma sosial adalah kaidah-kaidah, baik yang tertulis atau tidak, yang
berfungsi untuk mengatur kehidupan manusia dalam hidup masyarakat.

5. Norma sosial di dalam masyarakat terdiri atas:
a. norma tata cara (usage),
b. norma kelaziman (folkways),
c. norma kesusilaan (mores),
d. norma adat-istiadat (custom),
e. norma hukum (law),
f. norma agama, serta
g. norma mode (fashion).

Pengayaan

Ilmu sosiologi sangat erat kaitannya dengan antropologi yang mem-
pelajari aspek kebudayaan sebagai hasil hubungan antarmanusia dalam
masyarakatnya.

Cabang-cabang ilmu antropologi antara lain sebagai berikut.
1. Antropologi fisik; mempelajari ciri-ciri fisik manusia, misalnya pengaruh

evolusi ukuran otak manusia terhadap perkembangan kebudayaan.
Cabang antropologi fisik yang disebut palaeoantropologi mengkaji fosil-
fosil zaman prasejarah dan sisa-sisa kebudayaan purba untuk menelusuri
evolusi manusia.
2. Arkeologi; mempelajari benda-benda peninggalan manusia purba,
misalnya karya seni, bangunan, pakaian, gerabah, dan peralatan.

Nilai dan Norma Sosial 61

3. Antropologi linguistik; menganalisis berbagai cara penggunaan bahasa
dalam berbagai masyarakat, di mana dengan mengkaji bahasanya, maka
pemahaman terhadap strukutur kebudayan dapat diperoleh.

4. Antropologi budaya; mempelajari kebudayaan manusia yang meliputi
karya seni, bangunan, peralatan, dan produk kebudayaan lainnya, juga
produk budaya yang bersifat nonmateri, seperti musik, kepercayaan,
simbol, dan nilai.

5. Antropologi sosial; mempelajari hubungan kemasyarakatan dalam suatu
kelompok. Obyek yang dikaji meliputi perkawinan, kehidupan keluarga,
kekuasaan, dan konflik. Dengan kajian itu, maka susunan masyarakat
dapat dipahami.

6. Antropologi terapan; penerapan hasil penelitian antropologi untuk
memecahkan masalah sehari-hari.

Sumber : Worldbook Millenium 2000

Tokoh

KOENTJARANINGRAT (1923-1999)
BAPAK ANTROPOLOGI INDONESIA

Sumber: www.tokohindonesia.com Profesor Doktor Kanjeng Pangeran Haryo Haji
Koentjaraningrat adalah seorang antropolog yang
berniat mengembangkan antropologi, dan memberi-
kan sumbangan terhadap upaya mewujudkan
masyarakat Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika.
Seorang perintis studi antropologi di Indonesia se-
jak berdirinya Jurusan Antropologi Universitas In-
donesia tahun 1957. Sebagai perintis serta aspek
kebudayaan yang menjadi sasaran penelitian
antropologi, Koentjaraningrat menyusun berbagai
buku yang membahas dasar antropologi, konsep
dan metode penelitian, serta sejarah perkembangan.

Karya-karya Beliau mencapai 200 judul (buku dan makalah), baik dalam
bahasa Indonesia, Inggris, dan Belanda, serta diterjemahkan ke dalam bahasa
Perancis dan Jepang. Bukunya yang paling penting adalah Pengantar
Antropologi (1959), Beberapa Pokok Antropologi Sosial (1967), Manusia
dan Kebudayaan di Indonesia (1970), Kebudayaan, Mentaliteit dan
Pembangunan (1974), Metode Penelitian Masyarakat (1973), Masyarakat
Terasing di Indonesia (1993). Selama hidup, Beliau pernah mendapat dua

62 Sosiologi SMA/MA Kelas X

kali penghargaan Satyalencana Dwidja Sistha dari Menhankam RI (1968
dan 1981), gelar doktor kehormatan honoris causa dari Universitas Utrecht,
Belanda (1976).

Koentjaraningrat pernah mengadakan penelitian antropologi Jakarta,
Jawa Barat, Jawa Tengah, Minangkabau, Tanah Batak, dan Irian Jaya,
Teluk Ijsselmeer (Belanda), Yugoslavia, Belgia, Thailand, Malaysia, Filipina,
dan Jepang. Beliau juga menginginkan partisipasi antropologi yang lebih
nyata dalam kehidupan dan pembangunan.

Sumber: www.tokohindonesia.com

Uji Kompetensi

Kerjakan di buku tugas Anda!

A. Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat!

1. Nilai sosial adalah ....
a. kaidah-kaidah perilaku dalam masyarakat
b. patokan, prisip, keyakinan, anggapan
c. pedoman hidup
d. aturan berperilaku
e. konkretisasi norma

2. Nilai rohani dapat berupa ….
a. penghargaan terhadap harta kekayaan
b. anggapan bahwa kesehatan badan adalah penting
c. nilai yang berhubungan dengan keindahan
d. prinsip bahwa harta benda sangat penting
e. sikap mementingkan ajaran agama

3. Sebuah masyarakat memandang kesuksesan hidup berdasarkan

kekayaan yang diperoleh. Masyarakat seperti itu menjunjung tinggi

nilai ….

a. sosial d. material

b. kerja keras e. spiritual

c. produktivitas

4. Orang kota yang sibuk bekerja di kantor sering menjadwalkan secara

khusus untuk mengikuti klub olah raga. Orang tersebut menjunjung

nilai ….

a. material d. vital

b. sportivitas e. perserikatan

c. ekonomis

Nilai dan Norma Sosial 63

5. Seseorang beranggapan bahwa tujuan hidupnya akan berhasil dicapai
bila dia bergabung dengan orang lain dalam sebuah organisasi. Orang
tersebut menjunjung tinggi nilai ….
a. kekeluargaan
b. pergaulan
c. keagamaan
d. demokrasi
e. perserikatan

6. Nilai estetika tercermin dalam hal-hal di bawah ini, kecuali ….
a. karya sastra
b. karya seni
c. lukisan
d. gedung mewah
e. arsitektur

7. Orang Indonesia dianggap sebagai orang yang ramah-tamah, halus
tutur katanya, dan tidak suka menyinggung orang lain. Kalau ini benar,
maka bangsa Indonesia tergolong mengutamakan nilai ….
a. kekeluargaan
b. gotong-royong
c. Pancasila
d. etika
e. estetika

8. Jika tetangga Anda sakit, kemudian Anda menyarankannya untuk
berobat ke dukun, maka Anda termasuk orang yang bertentangan
dengan nilai ….
a. etika
b. estetika
c. keilmuan
d. kedokteran
e. rohani

9. Nilai sosial berfungsi sebagai ….
a. pedoman bertingkah laku
b. sanksi pelanggaran norma
c. pandangan hidup masyarakat
d. pengatur pergaulan
e. tata tertib bermasyarakat

10. Sila pertama Pancasila mencerminkan bahwa bangsa Indonesia men-
junjung tinggi nilai ….
a. keagamaan
b. ketuhanan
c. demokrasi
d. persatuan
e. gotong-royong

64 Sosiologi SMA/MA Kelas X

11. Norma sosial adalah ….
a. pedoman hidup di masyarakat
b. bentuk nyata dari nilai sosial
c. pola perilaku manusia
d. bagian dari nilai sosial
e. inti dari kebudayaan

12. Orang Cina makan mi dengan sumpit, dan kita makan nasi dengan
sendok. Dua hal di atas menunjukkan perbedaan norma ….
a. tata cara
b. kelakuan
c. tradisi
d. kebiasaan
e. kebudayaan

13. Masyarakat menciptakan berbagai norma dengan tujuan untuk ….
a. melestarikan kebudayaan
b. menjaga nilai-nilai sosial
c. memberi sanksi kepada pelanggar
d. menjaga keteraturan sosial
e. menjamin kelangsungan masyarakat

14. Pelanggaran atas norma sosial dapat berupa hal-hal di bawah ini,
kecuali ….
a. denda uang
b. hukuman fisik
c. dikucilkan
d. sindiran
e. sanksi

15. Sebelum seorang pria menikahi seorang wanita, terlebih dahulu diada-
kan acara peminangan (pelamaran). Bila tidak, maka dia melanggar
norma ….
a. kelaziman
b. adat
c. tradisi
d. tata krama
e. agama

16. Sumber norma agama adalah ….
a. Tuhan
b. kitab suci
c. kepercayaan
d. keyakinan
e. kebudayaan

Nilai dan Norma Sosial 65

17. Inul Daratista memperoleh popularitas walau banyak dikecam sebagai
artis porno. Kasus itu menunjukkan ….
a. masyarakat tidak memiliki norma yang pasti mengenai tata susila
b. masyarakat menghargai kebebasan artis untuk berekspresi seni
c. setiap kelompok masyarakat menganut norma susila yang berbeda
d. di dalam dunia hiburan, norma susila tidak berlaku sama sekali
e. telah terjadi pergeseran nilai-nilai kesusilaan di masyarakat

18. Norma sosial yang sanksinya paling tegas dan pasti adalah ….
a. mores
b. folkways
c. laws
d. adat
e. agama

19. Nilai dan norma sosial menjadi bagian dari ….
a. pergaulan hidup
b. masyarakat
c. keteraturan bermasyarakat
d. kebudayaan
e. ciri khas masyarakat

20. Dalam masyarakat modern, nilai dan norma sosial saling ….

a. mendukung d. kontroversi

b. menghambat e. menggeser

c. berhubungan

B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan ini dengan singkat dan jelas!

1. Mengapa masyarakat membutuhkan nilai dan norma sosial?
2. Apakah yang disebut nilai sosial?
3. Apakah yang disebut norma sosial?
4. Apakah perbedaan nilai dengan norma?
5. Jelaskan hubungan antara nilai dan norma dengan kebudayaan!
6. Apakah yang dimaksud dengan pergeseran nilai di masyarakat?
7. Berikan contoh pergeseran nilai sosial yang terjadi di daerah Anda!
8. Berikan tiga contoh nilai sosial yang paling menonjol di daerah Anda!
9. Sebutkan satu nilai sosial di daerah Anda yang menurut Anda tidak

layak dipertahankan. Berikan alasannya!
10. Agar bangsa kita cepat maju mengejar bangsa lain, nilai dan norma

sosial apa saja yang perlu dikembangkan?

66 Sosiologi SMA/MA Kelas X

BAB III

INTERAKSI SOSIAL

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari isi bab ini, diharapkan Anda dapat:
1. mendeskripsikan proses interaksi sosial sebagai dasar pengembangan pola

keteraturan dan dinamika kehidupan,
2. memberikan contoh bentuk-bentuk interaksi sosial asosiatif maupun disosiatif.

Kata Kunci : Interaksi sosial, Faktor-faktor interaksi sosial, Interaksi asosiatif, Interaksi
disosiatif, Prasangka, Stereotip.

Bayangkanlah, apabila orang- Sumber: Haryana
orang di sekitar Anda tidak saling
menyapa, tidak saling bertegur sapa, Gambar 3.1 Bermain adalah salah satu cara anak-
dan bahkan tidak saling mengacuh- anak untuk berinteraksi dengan sesamanya.
kan! Bagaimana apabila guru di kelas
Anda tidak mempedulikan para
siswa? Apa yang terjadi apabila di
rumah; ayah, ibu, dan saudara Anda
sibuk dengan urusan masing-masing
tanpa berkomunikasi dengan yang
lain? Tentu semua menjadi kacau, dan
kehidupan di masyarakat menjadi
membosankan.

Syukurlah itu semua tidak terjadi, karena setiap warga masyarakat senantiasa
berinteraksi dengan yang lain. Dan ternyata interaksi di masyarakat tidak selalu
mengarah ke tujuan positif. Walaupun demikian, interaksi yang bersifat negatif
juga memiliki fungsi tertentu dalam jalinan dinamika masyarakat.Oleh karena
itu, dalam bab ini Anda akan belajar berbagai hal yang berkaitan dengan inter-
aksi sosial.

Peta Konsep

Syarat: Berhubungan Berhubungan Faktor:
Kontak dan Sugesti, Imitasi,
Komunikasi dengan dengan Identifikasi, Simpati,
Motivasi, dan Empati

INTERAKSI KEBUDAYAAN

ASOSIATIF Meliputi DISOSIATIF
Meliputi
Akulturasi Bargaining Meliputi
Asimilasi Kooptasi
Kerjasama Koalisi Persaingan
Dekulturasi Join venture
Dominasi Meliputi Kontraversi

Paternalisme Permusuhan
Diskriminasi
Akomodasi Meliputi Koersi
Kompromi
Integrasi Arbitrase
Pluralisme Toleransi
Mediasi
Konversi
Konsiliasi
Ajudikasi
Stalemate
Segregasi
Gencatan senjata
Displasemen

68 Sosiologi SMA/MA Kelas X

A. Pengertian, Syarat, Faktor yang Mendasari, dan Tingkat Hubungan
Interaksi Sosial

1. Pengertian Interaksi Sosial

Manusia tidak bisa menghindar

dari keharusan berinteraksi dengan

orang lain. Manusia adalah makhluk

sosial yang keberadaan dirinya Foto: suasana kesibukan di
sangat ditentukan oleh orang lain. sebuah pasar yang
Seorang manusia tidak bisa lepas menggambarkan adanya
dari kelompok atau masyarakatnya. interaksi antarmanusia.
Dia membutuhkan berbagai hal yang

hanya dapat dipenuhi apabila ber-

interaksi dengan orang lain. Seorang

murid tidak mungkin dapat belajar Sumber: Haryana

dengan baik apabila tidak dibimbing Gambar 3.2 Proses interaksi sosial.

guru. Seorang pedagang tidak

mungkin dapat menjalankan usaha dagangnya apabila tidak bekerja sama dengan

bagian distribusi dan konsumen. Kenyataan seperti inilah yang mau tidak mau

membuat manusia melakukan interaksi dengan orang lain.

Interaksi sosial berasal dari istilah dalam bahasa Inggris social interaction
yang berarti saling bertindak. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang
dinamis, bersifat timbal balik antarindividu, antarkelompok, dan antara individu
dengan kelompok. Apabila dua orang bertemu dan terjadi keadaan saling me-
mengaruhi di antara mereka, maka telah terjadi interaksi sosial. Keadaan saling
memengaruhi dapat berupa persahabatan, permusuhan, percakapan, isyarat,
atau bahkan sekadar bau keringat.

2. Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Interaksi sosial hanya mungkin terjadi bila dua syarat terpenuhi, yaitu adanya
kontak sosial dan adanya komunikasi.

a. Kontak Sosial (Social Contact)
Kontak berasal dari kata con atau cum yang berarti bersama-sama dan

tango yang berarti menyentuh. Jadi, kontak berarti bersentuhan badan.
Perkembangan selanjutnya, kata kontak berarti hubungan dengan menggunakan
pembicaraan, telepon, telegram, surat, siaran radio, siaran TV, internet, dan
lain-lain.

Interaksi Sosial 69

Sumber: Haryana Kontak sosial dapat bersifat primer
maupun sekunder. Kontak sosial primer
Gambar 3.3 Sebuah kontak sosial. bersifat langsung tanpa perantara. Ben-
tuk kontak sosial primer adalah meng-
ucapkan salam, berjabat tangan, atau
tersenyum kepada orang lain. Kontak
sosial sekunder terjadi dengan meng-
gunakan perantara antara lain berupa
sandi, surat, simbol, telepon, radio, TV,
atau internet. Dalam kontak sosial,
belum terjadi adanya pertukaran pesan,
karena hanya sekadar adanya hubungan.
Jadi, penyampaian informasi hanya
searah.

Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu sebagai berikut.

1) Kontak Antarindividu
Hal ini terjadi apabila dua individu bertemu, dan terjadi interaksi yang dimulai
dari berjabat tangan, saling berbicara, ataupun saling bertikai.

2) Kontak Antarkelompok
Hal ini terjadi antara kelompok satu dengan kelompok lain sebagai satu
kesatuan bukan merupakan pribadi anggota kelompok yang bersangkutan.
Misalnya, perkawinan yang melibatkan dua kelompok keluarga.

3) Kontak antara Individu dengan Kelompok
bentuk interaksi yang terjadi antara individu dengan sekelompok orang.
Misalnya, seorang guru yang mengajar di depan kelas.

b. Komunikasi

Komunikasi adalah proses memberikan tafsiran pada perilaku orang lain.
Perilaku orang dapat berupa pembicaraan, gerakan badan, ekspresi wajah, si-
kap, dan perasaan-perasaannya. Tafsiran terhadap perilaku seseorang menimbul-
kan reaksi terhadap orang tersebut, misalnya ketika Anda mengacungkan ibu
jari tangan kepada teman yang baru saja memasukkan bola dalam pertan-
dingan basket antarkelas. Kemudian, teman Anda membalas dengan senyuman
kepada Anda. Lambaian tangan Anda merupakan aksi yang kemudian ditafsirkan
oleh teman Anda sebagai isyarat pujian. Setelah itu, teman Anda bereaksi dengan
senyuman sebagai tanda terima kasih atau rasa senang. Oleh karena itu,
komunikasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses saling memberikan tafsiran
terhadap tindakan atau perilaku orang lain.

70 Sosiologi SMA/MA Kelas X

Suatu kontak yang tidak disertai adanya komunikasi bukanlah interaksi
sosial. Misalnya, Anda bertemu dengan orang Papua. Dia berbicara meng-
gunakan bahasa daerahnya, tentu Anda tidak paham (kecuali kalau Anda pernah
belajar bahasa itu), sehingga Anda tidak memahami maksudnya. Oleh karena
itu, kejadian tersebut tidak dapat dikatakan sebagai interaksi sosial, sebab tidak
terjadi komunikasi antara Anda dengan lawan bicara Anda.

Berdasarkan penjelasan di atas, interaksi sosial memiliki ciri-ciri antara lain:
1) interaksi sosial melibatkan lebih dari satu orang,
2) terjadinya komunikasi di antara orang-orang yang terlibat,
3) mempunyai maksud dan tujuan jelas, walaupun mungkin tujuan itu tidak

sejalan antara kedua belah pihak, serta
4) dipengaruhi oleh faktor waktu yang akan menentukan aksi atau reaksi yang

berlangsung.

3. Faktor-faktor yang Mendasari Terjadinya Interaksi Sosial

Enam faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial adalah sugesti, imitasi,
identifikasi, simpati, motivasi, dan empati. Berikut ini diuraikan satu per satu.

a. Sugesti
Sugesti adalah rangsangan atau pengaruh atau stimulus. Rangsangan

diberikan seseorang kepada orang lain. Penerima sugesti akan menuruti
kehendak pemberi sugesti tanpa berpikir kritis dan rasional.

Sugesti bersifat sangat individual. Suatu informasi atau nasihat bisa menjadi
suatu sugesti, apabila keyakinan lebih dominan dalam proses penerimaannya.
Suatu informasi atau nasihat tidak akan berubah menjadi sugesti, apabila ada
proses berpikir pada orang yang bersangkutan.

Sugesti dapat terjadi antara:
1) Seseorang terhadap orang lain. Contoh, nasihat yang diberikan seorang

ayah kepada anaknya agar belajar lebih giat.
2) Seseorang terhadap sekelompok orang. Contoh, wali kelas memberikan

nasihat kepada semua siswa satu kelas.
3) Sekelompok orang terhadap kelompok lainnya. Contoh, sekelompok

penjual yang mengiklankan produknya kepada masyarakat, serta.
4) Sekelompok orang terhadap individu. Contoh, seorang pemain bulutangkis

tunggal mendapat tepuk tangan dan dukungan dari penonton.
Wujud sugesti dapat berupa sikap, tindakan, dan perkataan. Suatu gambar
poster atau kalimat iklan di spanduk juga dapat memberikan sugesti kepada
orang. Bahkan, benda-benda tertentu yang merupakan simbol suatu makna
tertentu dapat memberikan sugesti kepada seseorang. Orang yang percaya
kepada seseorang yang ia anggap memiliki ‘kelebihan’ pada umumnya mudah

Interaksi Sosial 71

Foto: seorang pelatih tim tersugesti dengan apapun yang di-
sepak bola sedang perintahkan orang tersebut, misalnya
memberikan sugesti kepada seseorang percaya bahwa jimat yang
tim binaannya agar lebih diberikan dukun mengandung kekuatan.
bersemangat. Sebenarnya, kekuatan itu berasal dari
rasa optimis yang dibangkitkan oleh
Sumber: Tempo, 3-9 Oktober 2005 keyakinan akibat sugesti. Orang yang
memiliki optimisme kuat dan berani,
Gambar 3.4 Pelatih yang dipercayai mempunyai pada umumnya banyak memperoleh
kemampuan lebih dapat memberikan sugesti yang keberhasilan atas apa yang ia lakukan.
memengaruhi semangat tanding timnya. Di sinilah sebenarnya kunci rahasia jimat
yang dapat membuat orang menjadi
anggap paling manjur. pemberani. Sugesti semacam ini sama
dengan keyakinan yang memengaruhi
kita sewaktu memilih dokter yang kita

Sugesti dapat terjadi karena beberapa alasan berikut ini.

1) Hambatan Berpikir.
Seseorang yang sedang mengalami kelelahan pikiran atau sedang me-
nanggung beban emosional tertentu akan mudah sekali tersugesti (di-
pengaruhi).

2) Terpecahnya Pikiran Seseorang.
Seseorang yang kurang konsentrasi akan mudah mengalami sugesti.

3) Otoritas.
Seseorang yang mempunyai kekuasaan akan mudah memberikan sugesti
(pengaruh) kepada orang lain. Misalnya, seorang pemimpin yang kharis-
matik, anjurannya pasti dipatuhi rakyatnya.

4) Mayoritas.
Orang cenderung akan mengikuti apa yang dilakukan oleh orang banyak
(arus umum).

5) Percaya terhadap Sugesti dari Orang Lain
Seseorang akan melakukan apapun yang dikatakan atau dianjurkan
kepadanya dari orang lain yang dianggap baik dan benar. Misalnya, seorang
pasien datang ke dokter untuk periksa. Apabila dalam diri pasien telah
tertanam rasa percaya kepada dokter tersebut, maka dia akan menuruti
segala anjurannya.

b. Imitasi

Imitasi adalah tindakan meniru sikap, penampilan, pembicaraan, maupun
gaya hidup orang lain. Proses imitasi pertama kali terjadi dalam pergaulan
keluarga. Misalnya, seorang anak meniru kebiasaan orang tuanya dalam hal

72 Sosiologi SMA/MA Kelas X

cara berbicara dan berpakaian. Bermula dari lingkungan keluarga, proses imitasi
berkembang semakin luas dalam masyarakat. Berbagai media massa yang
menyajikan beragam informasi juga berpengaruh mempercepat proses imitasi
dalam masyarakat.

Syarat terjadinya proses imitasi ialah sebagai berikut.
1) Sesuatu yang ditiru harus mendapatkan perhatian orang lain. Misalnya,

model potongan rambut seorang artis yang menarik perhatian banyak orang,
maka akan ditiru oleh banyak orang pula.
2) Harus ada sikap menjunjung tinggi atau mengagumi hal-hal yang ditiru.
Misalnya, sekelompok orang yang mengagumi RATU. Karena kekaguman
tersebut mereka akan meniru segala atribut yang dipakai RATU.
3) Taraf pengertian yang cukup mengenai hal-hal yang ditiru. Misalnya,
sekelompok anak muda akan meniru lagu-lagu tertentu yang popular apabila
dia memahami lagu-lagu tersebut.
Model yang ditiru dapat bersifat positif maupun negatif. Oleh karena itu,
proses imitasi dapat mengarah ke hal-hal positif atau negatif. Apabila imitasi
mengarah ke hal-hal yang baik, maka dampaknya pun positif. Kondisi
masyarakat akan semakin stabil dan harmonis sehingga tercipta keselarasan
dan keteraturan sosial. Namun, apabila proses imitasi mengarah ke hal-hal
yang negatif, maka dampaknya akan buruk. Imitasi negatif dapat menyebabkan
berbagai penyimpangan sehingga melemahkan sendi-sendi kehidupan sosial.
Oleh karena itu, agar proses imitasi tidak mengarah negatif diperlukan kondisi
sosial yang baik. Kondisi yang baik berupa berkembangnya sistem, norma, dan
nilai yang mampu menunjang sendi-sendi kehidupan masyarakat.

c. Identifikasi
Identifikasi adalah proses untuk menjadi sama (identik) dengan orang lain.

Proses identifikasi erat kaitannya dengan imitasi. Apabila proses meniru (imitasi)
sudah sangat mendalam, maka terjadilah identifikasi. Imitasi biasanya berlaku
sesaat atau sementara, sedangkan identifikasi bersifat permanen. Oleh karena
itu, identifikasi dapat menjadi bagian dari kepribadian seseorang.

Proses identifikasi tidak hanya terjadi melalui peniruan perilaku, tetapi juga
melibatkan proses kejiwaan yang sangat dalam. Misalnya, Anda sangat
mengagumi seorang bintang sepak bola. Kekaguman tersebut membuat Anda
mengidentifikasikan diri dengan bintang itu. Potongan rambut dan kaos yang
Anda pakai menyerupai sang idola. Identifikasi juga dapat disebabkan oleh
kedekatan dan intensifnya komunikasi, misalnya seorang anak perempuan yang
sangat dekat dengan ibunya. Pada umumnya, tingkah laku anak tersebut identik
dengan ibunya.

Interaksi Sosial 73

Sumber: Jawa Pos, 1 Juni 2006 d. Simpati

Gambar 3.5 Salah satu wujud simpati terhadap Simpati adalah proses kejiwaan
penderitaan orang lain. seseorang yang merasa tertarik kepada
orang lain atau sekelompok orang.
Ketertarikan itu disebabkan oleh sikap,
penampilan, wibawa, atau tindakan.
Misalnya, teman sekelas Anda menjadi
juara karya ilmiah remaja tingkat na-
sional, kemudian Anda mengucapkan
selamat dan menyatakan ikut bangga
atas prestasi yang ia peroleh.

e. Motivasi

Istilah yang sama artinya dengan motivasi adalah dorongan, rangsangan,
pengaruh, atau stimulan. Motivasi dapat diberikan oleh seorang individu kepada
individu lain, seorang individu kepada kelompok atau kelompok kepada
kelompok lain. Pihak yang diberi motivasi akan mengikuti kemauan orang yang
memberi motivasi. Namun, dia tetap bersikap kritis, rasional, dan bertanggung
jawab. Berbeda dengan sugesti, perilaku orang yang menerima sugesti menjadi
kurang rasional.

Motivasi yang diberikan dapat berupa sikap, perilaku, saran, atau per-
tanyaan. Misalnya, Anda dipuji guru karena memenangkan lomba. Pujian itu
memotivasi Anda untuk lebih giat belajar. Pada umumnya, motivasi diberikan
oleh orang yang berkedudukan lebih tinggi dan berwibawa. Orang-orang seperti
ini dianggap teladan bagi masyarakat. Namun, seorang sahabat juga dapat
memotivasi kita walaupun kedudukannya sama dengan kita.

f. Empati Empati adalah proses larutnya keji-
waan seseorang ke dalam kedukaan atau
Sumber: Tempo, 4-10 April 2005 kesukaan orang lain. Misalnya, Anda
mendengar berita menyedihkan menge-
Gambar 3.6 Rasa empati mendorong orang untuk nai nasib pengungsi akibat kerusuhan
membantu orang lain tanpa pamrih. sosial di Ambon. Anda seolah-olah ikut
merasakan penderitaan mereka. Anda
tidak hanya merasa kasihan, tetapi juga
merasa ikut sedih dan menderita.

Berbeda dengan simpati yang men-
syaratkan keterlibatan seorang individu

74 Sosiologi SMA/MA Kelas X

langsung dalam proses interaksi. Dalam empati tidak ada proses langsung,
akan tetapi kesadaran pikiran dan perasaan terbangun dalam kecenderungan
yang relatif sama.

4. Tingkat Hubungan dalam Interaksi Sosial

Interaksi sosial yang terjadi di masyarakat memiliki tingkat hubungan
berbeda-beda. Tingkat hubungan itu ditunjukkan dengan intensitas hubungan
yang berlangsung di antara pihak-pihak yang berinteraksi. Ada dua tingkat
hubungan dalam interaksi sosial, yaitu tingkat dangkal dan tingkat dalam.

a. Tingkat Hubungan Dang-
kal

Tingkat hubungan dangkal
hanya berlangsung sesaat,
tidak berkesinambungan, dan
tidak menimbulkan jalinan.
Contohnya, hubungan antara
penjual dan pembeli di pasar.

b. Tingkat Hubungan Dalam

Interaksi sosial jenis ini ber-

langsung terus-menerus tanpa Sumber: Haryana
batas, berkesinambungan, dan
ada jalinan. Misalnya, interaksi Gambar 3.7 Rasa cinta dan kasih dapat diwujudkan
melalui interaksi yang intensif.

antara seorang anak dengan

orang tuanya, atau antara dua remaja yang saling jatuh cinta.

Aktivitas Siswa

Kerjakan tugas di bawah ini, kemudian serahkan kepada guru untuk dinilai!

Amatilah orang-orang di sekeliling tempat tinggal Anda! Carilah contoh
interaksi sosial yang didasari oleh sugesti, imitasi, identifikasi, simpati,
motivasi, dan empati! Berikan masing-masing satu contoh! Uraikan hasil
pengamatan Anda dalam bentuk tulisan.

Interaksi Sosial 75

Pelatihan

Kerjakan di buku tugas Anda!
Jawablah dengan tepat!
1. Apakah yang disebut dengan interaksi sosial?
2. Mengapa manusia perlu berinteraksi?
3. Faktor apa saja yang mendasari terjadinya interaksi sosial?
4. Apakah perbedaan kontak dengan komunikasi?
5. Sebutkan dua syarat terjadinya interaksi sosial!

Tes Skala Sikap

Kerjakan pada buku tugas Anda!

Nyatakan tanggapan Anda terhadap pernyataan atau kasus di bawah ini,
dengan cara memberi tanda cek (9) pada kolom S (Setuju), TS (Tidak
Setuju) atau R (Ragu-ragu)!

No Pernyataan T TS R

1 Interaksi sosial hanya terjadi apabila seseorang
bertemu dengan orang lain.

2 Salah satu syarat terjadinya interaksi sosial
adalah adanya komunikasi.

3 Tokoh-tokoh idola dapat memengaruhi orang
untuk berinteraksi.

4 Seorang siswa mau mengikuti perintah guru
karena faktor motivasi.

5 Interaksi seorang anak dengan orang tunya lebih
mendalam dibandingkan dengan gurunya. Oleh
karena itu, keberhasilan belajar siswa lebih
dipengaruhi oleh orang tuanya.

B. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial

Interaksi sosial yang dilakukan manusia mengarah ke dua kutub yang
berlawanan. Adakalanya mengarah pada suatu kerja sama, namun pada saat
lain dapat mengarah ke bentuk perlawanan. Interaksi sosial yang mengarah ke

76 Sosiologi SMA/MA Kelas X

bentuk kerja sama disebut interaksi asosiatif, sedangkan interaksi sosial yang
mengarah ke bentuk perlawanan disebut interaksi disosiatif. Kedua kutub itu
memiliki variasi bentuk yang bermacam-macam.

1. Interaksi Asosiatif

Interaksi sosial asosiatif dapat berupa kerja sama, akomodasi, asimilasi,
akulturasi, dekulturasi, dominasi, paternalisme, diskriminasi, integrasi, dan
pluralisme.

a. Kerja Sama

Kerja sama merupakan interaksi Foto: Tari kecak Bali
yang paling penting. Pada dasarnya,
setiap manusia melakukan interaksi Sumber: Insight Guides Ind
untuk memenuhi kebutuhan hidup-
nya. Berbagai situasi mendorong Gambar 3.8 Sebuah tarian sakral yang hanya dapat
orang untuk bekerja sama. Misalnya, dilakukan secara bersama-sama.
tantangan alam yang ganas, pekerja-
an yang membutuhkan tenaga
massal, upacara keagamaan yang
sakral, atau ada musuh datang dan
mengancam kehidupan bersama.
Dengan demikian, kerja sama dapat
diartikan sebagai bergabungnya
individu-individu, kelompok-kelom-
pok, atau individu dengan kelompok
untuk mencapai tujuan bersama.

Di dalam masyarakat, kerja sama dibedakan menjadi lima jenis, yaitu sebagai
berikut.

1) Bargaining; pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang-barang
dan jasa-jasa antara dua organisasi atau lebih. Dalam arti yang lebih luas,
bargaining adalah nilai tawar. Bargaining dilakukan agar proses kerjasama
dapat memberi keuntungan secara adil bagi kedua belah pihak, misalnya
proses jual beli di pasar.

2) Kooptasi, proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau
pelaksanaan politik dalam suatu organisasi, sebagai salah satu cara untuk
menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang
bersangkutan.

3) Koalisi, gabungan dua kelompok atau lebih yang berusaha mencapai tujuan
sama. Misalnya, dua atau lebih partai politik berkoalisi untuk untuk
mengajukan seorang calon presiden.

4) Joint venture, bentuk kerjasama yang dilakukan oleh dua organisasi
(perusahaan) dalam melaksanakan suatu pekerjaan (proyek). Misalnya,

Interaksi Sosial 77

Pertamina mengadakan join venture dengan salah satu perusahaan minyak
internasional untuk mengeksplorasi ladang minyak di Blok Cepu, Jawa
Tengah.

5) Kerukunan yang mencakup gotong-royong dan tolong-menolong.

b. Akomodasi

Akomodasi adalah cara menyelesaikan pertentangan antara dua pihak tanpa
menghancurkan salah satu pihak. Dengan demikian, kepribadian masing-masing
tetap terpelihara. Tujuan akomodasi dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi
yang dihadapinya, yaitu:

1) untuk mengurangi pertentangan antara orang perorangan atau kelompok-
kelompok manusia sebagai akibat perbedaan paham. Akomodasi di sini
bertujuan untuk menghasilkan suatu perpaduan yang selaras antara kedua
pendapat agar menghasilkan suatu pola yang baru,

2) untuk mencegah pecahnya pertentangan secara temporer,

3) untuk mewujudkan kerjasama antarkelompok yang terpisah secara psikologis
dan kultural, seperti dijumpai pada masyarakat yang mengenal sistem kasta,
serta

4) untuk mengadakan peleburan kelompok-kelompok yang terpisah secara
sosial.

Oleh karena itu, akomodasi merupakan suatu keseimbangan (equilibrium)
dalam proses sosial.

Akomodasi sebagai suatu proses mempunyai beberapa bentuk, yaitu sebagai
berikut.

1) Koersi (Coercion)

Koersi adalah suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dipaksakan.
Pemaksaan terjadi bila satu pihak menduduki posisi kuat sedangkan pihak
lain dalam posisi lemah. Misalnya, antara majikan dan buruh atau antara
atasan dengan bawahan. Dalam sejarah, kita mengenal kerja sama antara
rakyat Indonesia dengan Belanda dalam bentuk tanam paksa atau kultur
stelsel. Dalam peristiwa semacam ini, orang bekerjasama tidak didasari
oleh keinginan sendiri, tetapi karena takut ancaman pihak yang kuat.

2) Kompromi (Compromise)

Kompromi adalah akomodasi yang terjadi karena masing-masing pihak
mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap
perselisihan yang ada. Kompromi sering terjadi dalam dunia politik dan
perdagangan. Apabila dua partai politik yang memiliki kekuatan sama
berebut suatu kedudukan, pada umumnya diselesaikan dengan cara
kompromi.

3) Arbitrase (Arbitration)

Arbitrase adalah cara mengatasi konflik dengan meminta bantuan pihak
ketiga sebagai penengah. Penentuan pihak ketiga harus disepakati oleh
dua pihak yang berkonflik. Keputusan pihak ketiga bersifat mengikat. Kerja

78 Sosiologi SMA/MA Kelas X

sama seperti ini pernah terjadi ketika Indonesia dan Malaysia mem-
perebutkan Kepulauan Spratley. Kedua negara merasa memiliki hak atas
kedaulatan pada kepulauan itu sehingga setiap diadakan pembicaraan selalu
mengalami jalan buntu. Akhirnya, kedua pihak membawanya ke Lembaga
Arbitrase Internasional di Belanda. Keputusan lembaga ini menetapkan
kepulauan itu sebagai wilayah Malaysia. Karena keputusan lembaga itu
bersifat mengikat, maka Indonesia tidak bisa berbuat banyak kecuali
menerimanya walaupun dengan berat hati. Contoh kejadian sehari-hari
mengenai kerja sama seperti ini dapat kita lihat saat dua orang adik kakak
berebut mainan. Untuk mendamaikannya, ibu kedua anak itu turun tangan.
Sang ibu memutuskan memberikan mainan kepada salah satu anak sambil
membujuk anak yang satunya agar tidak menuntut.
4) Toleransi
Toleransi adalah sikap saling menghormati dan menghargai pendirian
masing-masing. Kerja sama dalam bentuk seperti ini, sangat penting bagi
negara kita yang terdiri atas berbagai macam agama. Dalam kehidupan
sehari-hari, kita harus selalu dapat bertoleransi dengan teman-teman kita
yang berbeda agama.

Foto: suasana kesibukan beberapa rumah ibadah.

Sumber: Garuda dan Solopos

Gambar 3.9 Kehidupan bergama di Indonesia didasari toleransi antarumat beragama.

5) Mediasi (Mediation)

Mediasi adalah cara mengatasi Foto: Perundingan
konflik dengan minta bantuan pemerintah RI dengan
pihak ketiga sebagai penasihat. GAM. Sumber:
Berbeda dengan arbitrase, ke-
putusan pihak ketiga tidak Sumber: Tempo, 31 Juli 05
mengikat. Seorang mediator
biasanya hanya bisa memberi- Gambar 3.10 Kesepakatan Helsinki merupakan hasil
kan saran terbaik bagi dua pihak mediasi pertikaian antara RI dengan GAM.
yang saling bersengketa. Misal-
nya, apabila Anda terlibat per-
tentangan pendapat dengan

Interaksi Sosial 79

teman sekelas. Baik Anda maupun teman Anda tidak mau mengalah.
Datanglah seorang teman lain yang menengahi dan menyarankan agar
pertentangan itu jangan diteruskan. Penengah konflik itulah yang disebut
mediator.

6) Konversi (Convertion)

Konversi adalah penyelesaian konflik dengan mengalahnya salah satu pihak
dan menerima pendirian pihak lain. Dalam interaksi antarpribadi, hal ini
sering terjadi. Misalnya, seorang kakak berebut mainan dengan adiknya.
Pada umumnya, sang kakak mengalah terhadap adiknya sehingga konflik
segera selesai. Dalam urusan yang lebih luas di masyarakat, hal semacam
ini sulit terjadi karena akan menimbulkan konsekuensi merugikan bagi pihak
yang mengalah. Namun, bukan berarti tidak ada. Dalam sengketa keluarga
yang disidangkan di pengadilan, konversi ditempuh agar konflik tidak
semakin sengit.

7) Konsiliasi (Consiliation)

Konsiliasi adalah penyelesaian konflik dengan jalan mempertemukan pi-
hak-pihak yang bertentangan lewat perundingan untuk memperoleh kese-
pakatan. Berbagai konflik sosial yang terjadi di Tanah Air kita melibatkan
kelompok-kelompok di masyarakat. Misalnya, kerusuhan di Ambon, Aceh,
Poso, dan Papua diselesaikan dengan mempertemukan kedua kelompok
yang bertikai dalam suatu meja perundingan. Kebanyakan cara ini berha-
sil.

8) Ajudikasi (Adjudication)

Foto: suasana sidang Ajudikasi adalah penyelesaian konflik
pengadilan. melalui pengadilan. Pengadilan adalah
lembaga hukum yang berfungsi men-
Sumber: Tempo, 7-13 November 2005 jalankan pengadilan terhadap berbagai
perkara pidana maupun perdata. Salah
Gambar 3.11 Kedua pihak yang bertikai bertemu di satunya adalah konflik yang terjadi di ma-
sidang pengadilan. syarakat. Pada umumnya, cara seperti ini
ini ditempuh sebagai alternatif terakhir
dalam penyelesaian konflik. Sedapat
mungkin mereka yang terlibat akan ber-
usaha menanganinya dengan jalan ke-
keluargaan, atau meminta tolong pihak
ketiga sebagai mediator. Apabila cara-
cara seperti itu gagal, terpaksa perkara
dilimpahkan ke pengadilan.

80 Sosiologi SMA/MA Kelas X

9) Stalemate

Stalemate berarti jalan buntu.

Maksudnya, pihak-pihak yang Foto: Tragedi Poso.
bersengketa memiliki kekuatan

yang seimbang, sehingga ber-

henti pada posisi tertentu. Hal

seperti ini terjadi, karena kedua

belah pihak tidak mempunyai

harapan untuk maju maupun

mundur. Dalam keadaan seperti Sumber: Tempo 19-25 Desember 2005
itu sengketa berhenti, namun
sebenarnya bukan akhir dari Gambar 3.15 Kerusuhan yang berulang merupakan
konflik. Konflik masih tetap ada konflik yang terpendam. Setiap kali muncul ke
permukaan apabila ada pemicunya.

dan bersifat laten. Pihak-pihak yang bersengketa secara diam-diam masih

memendam persoalan. Sengketa akan segera muncul ke permukaan lagi

apabila kondisi ‘keseimbangan kekuatan’ tiba-tiba berubah.

10) Segregasi (Segregation)

Segregasi adalah upaya saling memisahkan diri atau saling menghindar di
antara pihak-pihak yang bertentangan dalam rangka mengurangi ketegang-
an. Di masyarakat kita, akhir-akhir ini sering terjadi luapan ketidakpuasan
dalam bentuk demonstrasi di jalanan. Pihak yang setuju maupun yang tidak
setuju terhadap suatu persoalan sering mengerahkan massa demonstran.
Apabila dua kelompok massa yang saling bermusuhan bertemu, maka akan
terjadi bentrok fisik. Untuk menghindari bentrok fisik, pada umumnya aparat
keamanan memisahkan jalur kedua kelompok massa agar tidak bertemu.
Pemisahan atau segregasi dapat pula dilakukan oleh para koordinator
lapangan yang memimpin demonstrasi.

11) Gencatan Senjata (Cease Fire)

Gencatan senjata adalah penangguhan permusuhan atau peperangan dalam
jangka waktu tertentu. Masa penangguhan digunakan untuk mencari upaya
penyelesaian konflik di antara pihak-pihak yang bertikai. Misalnya, dalam
konflik Aceh. Pemimpin TNI dan GAM sering mengambil sikap gencatan
senjata (menghentikan serangan) untuk memberi kesempatan wakil-wakil
mereka berunding mencari penyelesaian.

12) Displasemen (Displacement)

Displasemen adalah usaha mengakhiri konflik dengan mengalihkan pada
objek lain. Ketika di Jakarta marak terjadi perkelahian antarpelajar,
pemerintah DKI membuat gelanggang tinju antarpelajar. Dengan mem-
berikan sarana penyaluran energi fisik ke dalam bentuk olah raga tinju,
diharapkan pelajar yang gemar bertarung dapat mengalihkan sasarannya
pada hal-hal positif. Selain tinju, berbagai bentuk olah raga dan seni lainnya
dapat mengalihkan konflik antarpelajar.

Interaksi Sosial 81

c. Asimilasi

Foto:Pemukiman penduduk Asimilasi adalah interaksi sosial
kota yang merupakan dalam jangka waktu lama antara dua
asimilasi berbagai suku masyarakat yang mempunyai kebudaya-
bangsa. an berbeda. Jangka waktu lama membu-
at kedua masyarakat saling menyesuaikan
Sumber: Insight Guides diri. Lambat-laun kebudayaan asli mereka
membaur, sehingga terbentuk kebudaya-
Gambar 3.13 Orang-orang dari berbagai suku bangsa an baru. Kebudayaan baru itu, merupa-
membaur. Terjadilah asimilasi kebudayaan. kan penyatuan dua atau lebih kebudaya-
an yang saling berasimilasi. Masyarakat
yang berasimilasi pun tidak membeda-
bedakan antara kebudayaan yang lama
dan yang baru.

Proses asimilasi terjadi dengan mengurangi perbedaan antara individu-
individu dan kelompok-kelompok pada kedua belah pihak. Setiap individu
berusaha menyelaraskan diri dengan kepentingan dan tujuan kelompok. Asimilasi
membuat batas-batas antarkelompok menjadi hilang.

Faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya proses asimilasi, yaitu:

1) toleransi, keterbukaan, saling menghargai, dan saling menerima unsur-
unsur kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan sendiri;

2) kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi sehingga dapat mengurangi
kecemburuan sosial;

3) sikap menghargai orang asing dengan segala kebudayaan yang dimilikinya;
4) sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat;
5) perkawinan campuran antara beberapa kelompok (amalgamasi);
6) persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan;
7) masuknya unsur-unsur atau musuh berbahaya dari luar yang harus dihadapi

bersama.

Adapun faktor-faktor yang menghambat terjadinya proses asimilasi adalah:

1) kehidupan masyarakat yang terisolir dari masyarakat umum,
2) kurangnya pengetahuan terhadap kebudayaan lain,
3) kecurigaan dan kecemburuan sosial terhadap kelompok lain,
4) perasaan primordial atau merasa kebudayaan sendiri lebih baik daripada

kebudayaan kelompok lain,
5) adanya perbedaan yang mencolok dalam hal ras, teknologi, dan ekonomi,
6) adanya etnosentrisme atau menilai kelompok lain berdasarkan ukuran

kelompok sendiri, sehingga kelompok lain selalu tampak lebih buruk,
7) golongan minoritas yang mengalami gangguan dari golongan yang berkuasa,
8) adanya perbedaan kepentingan dan pertentangan-pertentangan pribadi

yang dapat menyebabkan terhambatnya proses asimilasi.

82 Sosiologi SMA/MA Kelas X

d. Akulturasi

Akulturasi hampir sama dengan

asimilasi. Perbedaannya, peleburan

kebudayaan dua masyarakat di Foto: Masjid Menara
dalam akulturasi tidak menimbulkan Kudus.
hilangnya kepribadian asli kedua

masyarakat itu. Unsur-unsur tertentu

saja yang melebur. Unsur itu menjadi

bagian kebudayaan yang menyerap-

nya, tanpa mengubah ciri-ciri masya-

rakat yang bersangkutan. Sumber: Garuda

Akulturasi terjadi apabila suatu Gambar 3.14 Interaksi dua kebudayaan meng-
masyarakat berhadapan dengan hasilkan akulturasi kebudayaan Islam dengan Hindu.

pengaruh unsur-unsur kebudayaan asing. Unsur-unsur kebudayaan asing itu

lambat-laun melebur ke dalam kebudayaan asli. Misalnya, ketika di Jawa

kedatangan pengaruh kebudayaan Hindu dan kemudian Islam. Ketika Hindu

masuk, terjadilah akulturasi budaya Hindu di Jawa sehingga timbul kebudayaan

Hindu Jawa. Demikian pula, ketika Islam masuk terjadilah akulturasi budaya

Islam sehingga timbul kebudayaan Islam Jawa. Secara fisik, hasil akulturasi itu

dapat dilihat dari bentuk bangunan. Berbagai candi Hindu dan bangunan-

bangunan masjid ala Timur Tengah, bahkan antara Hindu dan Islam pun

mengalami akulturasi, contohnya menara masjid Kudus (Jawa Tengah) berbentuk

meru dan beratap tumpang.

e. Dekulturasi

Dekulturasi adalah hilangnya kebudayaan suatu kelompok akibat interaksi

antarkelompok sosial. Kelompok pendatang dari desa kemudian menetap di

kota, pada umumnya mengalami dekulturasi. Pada umumnya kaum pendatang

menganggap suasana kehidupan kota lebih baik daripada di desa. Semakin

lama mereka tinggal di kota, semakin larut dalam cara-cara hidup di kota.

Apalagi setelah mereka menetap,

kebudayaan yang mereka bawa dari

desa lama-kelamaan ditinggalkan

dan mereka hidup mengikuti cara-

cara di tempat tinggalnya yang baru. Foto: Deretan toko-toko

f. Dominasi milik keturunan Cina.

Dominasi adalah interaksi sosial Sumber: Haryana
dalam bentuk suatu kelompok
menguasai kelompok lain. Misalnya, Gambar 3.15 Kepemilikan toko-toko di kota pada
kelompok orang kulit putih yang umumnya didominasi oleh warga keturunan Cina.
menguasai orang kulit hitam di
Afrika Selatan pada masa politik

Interaksi Sosial 83

apartheid. Di Indonesia, pada zaman penjajahan Belanda pun terjadi dominasi
orang kulit putih (khususnya Belanda) terhadap bangsa pribumi. Jumlah mereka
jauh lebih kecil, namun bangsa pribumi justru menjadi warga negara kelas tiga,
satu tingkat di bawah golongan Cina. Hingga sekarang perekonomian Indonesia
masih didominasi oleh warga keturunan Cina.

Dalam lingkungan Anda, dominasi dapat pula terjadi. Amatilah golongan-
golongan masyarakat yang ada di daerah Anda. Golongan orang kaya pada umum-
nya mendominasi kehidupan masyarakat umum, walaupun jumlah mereka
sedikit.

g. Paternalisme

Paternalisme adalah penguasaan

kelompok pendatang terhadap kelom-

pok pribumi. Pada masa penjajahan di

Indonesia, baik Belanda maupun Jepang

menguasai penduduk setempat sebagai

bangsa yang terjajah. Pada saat ini pa-

ternalisme masih terjadi. Misalnya, di

Ambon dan Kalimantan. Di Ambon,

kaum pendatang dari Sulawesi mengua-

sai perekonomian di sana.Demikian

Sumber: Tempo, 7-13 November 2005 juga, suku Dayak di Kalimantan sebagai
penduduk asli merasa dikuasai oleh pen-
Gambar 3.16 Paternalisme sering berakhir dengan datang dari Madura. Keduanya beraki-
konflik rasial.

bat pecahnya konflik antara penduduk asli yang tidak puas dengan kaum pen-

datang.

h. Diskriminasi

Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan terhadap orang-orang atau
golongan tertentu. Dalam sejarah bangsa-bangsa di dunia, interaksi antara ras
kulit putih dan kulit hitam diberbagai negara sering diwarnai diskriminasi terhadap
kulit hitam. Berbagai usaha untuk meminimalisasi perlakuan diskriminasi telah
ditempuh. Namun, kenyataannya diskriminasi masih selalu ada. Secara sengaja
atau tidak, kadang-kadang peraturan yang dibuat menimbulkan diskriminasi.
Misalnya, ketika Anda mendaftar ke SMA dan dihadapkan pada persaingan
peringkat jumlah nilai. Maksud ketentuan itu sangat bagus, yaitu memacu siswa
supaya belajar tekun sehingga mencapai nilai baik untuk dapat diterima di sekolah
favorit. Namun di sisi lain, dengan tidak mampunya siswa memasuki sekolah
yang diinginkan, berarti telah terjadi diskriminasi. Di perguruan tinggi, peraturan
yang sering dikeluhkan bersifat diskriminatif adalah mengenai biaya. Pada
umumnya, perguruan tinggi favorit mematok biaya mahal, dengan alasan
pendidikan yang bermutu memang membutuhkan biaya mahal. Akibatnya, orang
miskin mengalami diskriminasi karena tidak bisa memasuki perguruan tinggi
bermutu.

84 Sosiologi SMA/MA Kelas X

i. Integrasi dan Pluralisme
Integrasi dan pluralisme adalah dua pola interaksi sosial antarkelompok

masyarakat yang memiliki banyak persamaan. Integrasi sosial mengakui per-
bedaan ras di antara kelompok-kelompok masyarakat yang berasal dari ras
(suku bangsa) berbeda dan dapat hidup bersama secara rukun dan damai.
Walaupun mereka menyadari perbedaan itu, namun dalam hak dan kewajiban
sebagai anggota masyarakat tidak ada perbedaan. Mereka memiliki hak dan
kesempatan yang sama dalam hal memperoleh pendidikan, pekerjaan, dan
kedudukan sosial. Pluralisme adalah hubungan antarkelompok sosial yang
mengakui persamaan hak politik dan hak perdata semua warga masyarakat.
Hubungan seperti ini lebih menghargai kemajemukan kelompok daripada pola
integrasi.

Foto:Peta suku-suku bangsa
di Indonesia

Sumber: Atlas. Indonesia Dunia dan Budayanya, Depdikbud

Gambar 3.17 Indonesia adalah masyarakat plural (majemuk) dan terintegrasi dari berbagai suku bangsa.

2. Interaksi Disosiatif

Interaksi sosial disasosiatif selalu mengarah pada proses oposisi. Oposisi
terjadi apabila ada kelompok atau organisasi dalam suatu sistem mempunyai
kekuasaan dominan yang memengaruhi kelompok lain untuk mengikutinya.
Oposisi menjadi bentuk perlawanan dari kelompok minoritas terhadap kelompok
mayoritas. Misalnya, dalam sistem demokrasi partai politik A mendukung

Interaksi Sosial 85

pemerintah, sedangkan partai B beroposisi terhadap pemerintah. Wujud oposisi
atau proses disosiatif dibedakan menjadi tiga bentuk, yaitu persaingan,
kontraversi, dan konflik.

a. Persaingan (Competition)

Persaingan melibatkan individu atau

kelompok dalam rangka mencapai

keuntungan di berbagai bidang kehidup-

an. Persaingan berlangsung tanpa

ancaman atau kekerasan. Persaingan

yang wajar dengan mematuhi aturan

main tertentu disebut persaingan sehat.

Misalnya, dua orang siswa yang saling

bersaing merebutkan posisi ranking per-

tama di kelas. Keduanya berlomba de-

Sumber: Tempo, 28 November - 4 Desember 2005 ngan rajin belajar tanpa berusaha men-
jatuhkan teman. Namun, sering juga
Gambar 3.18 Sepak bola adalah suatu persaingan terjadi persaingan tidak sehat terutama
prestasi antarnegara, antartim, antarpemain, bahkan dalam bidang ekonomi dan politik.
antarpendukung.

Persaingan ekonomi timbul karena terbatasnya persediaan, terbatasnya

kesempatan mengelola sumber daya ekonomi, perebutan daerah pemasaran,

dan lain-lain. Persaingan tidak sehat dalam politik berbentuk menjelek-jelekkan

lawan politik atau memfitnah.

Persaingan juga dapat terjadi akibat perbedaan ras atau warna kulit, bentuk
tubuh, dan jenis rambut. Indikasi adanya persaingan dalam bidang ini tercermin
dalam sikap-sikap eksklusif dari mereka yang merasa dirinya lebih unggul,
misalnya orang kulit putih biasanya menyombongkan diri sebagai ras yang
unggul, padahal tidak ada alasan ilmiah yang mendukung hal tersebut.

Selain itu, persaingan juga dapat terjadi antarindividu yang saling
membanggakan kelebihan dan kedudukan masing-masing dalam masyarakat.
Persaingan yang terjadi di antara individu maupun kelompok disebabkan oleh
beberapa hal, antara lain perbedaan pendapat, perselisihan paham, persamaan
kepentingan pada suatu hal yang sama, perbedaan sistem nilai dan norma
yang dianut, dan perbedaan kepentingan politik.

Persaingan dapat menimbulkan berbagai akibat, baik positif maupun negatif.
Akibat positifnya adalah timbulnya solidaritas kelompok sehingga rasa
kesetiakawanan menjadi lebih tinggi, sedang akibat negatifnya adalah terjadinya
kerusakan harta benda dan bahkan jiwa manusia. Persaingan juga mengakibat-
kan terjadinya negoisasi antara kedua belah pihak. apabila negoisasi meng-
hasilkan status quo, maka pihak yang dominan merasa menang, sementara
pihak yang lain merasa dirugikan.

86 Sosiologi SMA/MA Kelas X

b. Kontravensi

Kontravensi berada di antara per- Sumber: Tempo, 27 Agustus 2006
saingan dan pertentangan. Wujud
kontravensi dapat berupa sikap tidak Gambar 3.19 Penolakan hasil pemilu biasanya
senang, baik secara tersembunyi mau- dilakukan oleh kelompok yang dirugikan dalam
pun terang-terangan. Kontravensi da- pemilihan tersebut. Hal seperti ini merupakan bentuk
pat terjadi di antara individu maupun kontravensi.
kelompok dan terhadap unsur-unsur
kebudayaan kelompok tertentu. Sikap
tidak senang dapat berubah menjadi
kebencian, tetapi tidak menjurus ke
pertentangan atau konflik.

Bentuk-bentuk kontraversi yang
terjadi di masyarakat ialah sebagai
berikut.

1) Kontravensi umum meliputi perbuatan-perbuatan seperti penolakan, keeng-
ganan, perlawanan, perbuatan menghalang-halangi, protes, mengganggu
pihak lain, dan perbuatan kekerasan.

2) Kontravensi sederhana meliputi memaki, mencela, menyangkal pernyataan
orang lain, dan memfitnah.

3) Kontravensi intensif meliputi penghasutan, dan menyebarkan desas-desus
sehingga mengecewakan pihak lain.

4) Kontravensi rahasia meliputi pengkhianatan, pengingkaran janji, dan
menyebarluaskan rahasia pihak lain.

5) Kontravensi taktis berupa intimidasi, ancaman, provokasi, mengejutkan
lawan, atau taktik yang dijalankan partai-partai politik untuk memenangkan
pemilu.

Terjadinya kontravensi sering melibatkan antargenerasi, antargender, dan
antarkelompok. Kontravensi antargenerasi terjadi apabila terdapat perbedaan
pendapat mengenai suatu hal antara generasi muda dengan generasi tua.
Misalnya, dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia pernah terjadi
kontravensi antara golongan tua dan golongan muda mengenai proklamasi.
Suatu persoalan juga sering ditanggapi secara berbeda oleh golongan orang
yang berjenis kelamin berbeda. Misalnya, perbedaan pendapat mengenai cuti
hamil selama tiga bulan bagi wanita pegawai. Golongan pria kadang-kadang
merasa iri sehingga menentangnya, sementara itu kaum wanita sangat
membutuhkannya. Dua kelompok masyarakat yang memiliki pandangan berbeda
mengenai suatu hal juga dapat mengakibatkan timbulnya kontravensi. Misalnya,
golongan mayoritas dan golongan minoritas yang tidak sependapat dalam
masalah tertentu.

Interaksi Sosial 87

c. Permusuhan atau Konflik

Konflik atau permusuhan adalah

keadaan saling mengancam, menghan-

curkan, menetralisir, melukai, dan

bahkan saling melenyapkan di antara

pihak-pihak yang terlibat. Konflik dapat

melibatkan perorangan maupun kelom-

pok. Permusuhan terjadi apabila suatu

pihak menghalangi pihak lain melaku-

kan kegiatan tertentu. Pada awalnya

terjadi persaingan serius di antara pihak-

pihak yang saling bermusuhan, ke-

Sumber: Solopos, 26 September 2006 mudian persaingan itu berubah menjadi

Gambar 3.20 Konflik antara aparat dengan bentrokan yang berkepanjangan. Sikap
pedagang kaki lima. Siapa yang benar, siapa yang
salah? permusuhan menimbulkan usaha-usaha

untuk memperdaya pihak lain dengan

berbagai cara, misalnya dalam peperangan masing-masing pihak berusaha keras

untuk mengalahkan pihak lain dengan cara merusak dan membunuh. Sikap

dan tindakan bermusuhan tidak hanya dalam bentuk perang antarnegara, tetapi

dapat juga terjadi di sekolah, di rumah, maupun dalam lingkungan rumah tangga.

Mereka bermusuhan karena ada sesuatu yang harus diperebutkan. Cara-cara

yang mereka tempuh biasanya melanggar norma-norma dan nilai-nilai yang

ada dalam masyarakat, sehingga cenderung merugikan. Misalnya, Anda ingin

menonton siaran berita di televisi sementara adik Anda ingin menonton film

serial anak-anak, maka terjadilah konflik perebutan pilihan acara televisi.

Walaupun konflik merupakan proses disosiatif yang tajam, akan tetapi
konflik sebagai salah satu bentuk proses sosial mempunyai fungsi positif. Konflik
dalam bentuk yang lunak dan terkendali biasa digunakan pada forum ilmiah
yang membutuhkan perdebatan, seperti diskusi, rapat, dan lain-lain

Sebuah konflik di dalam sebuah forum, diharapkan dapat mengungkap
persoalan-persoalan atau memberikan solusi atas masalah yang dihadapi untuk
kepentingan bersama.

3. Pengaruh Prasangka dan Stereotip dalam Interaksi Sosial

Dalam interaksi antarkelompok sering dipengaruhi oleh sikap-sikap khas,
misalnya prasangka. Prasangka adalah sikap bermusuhan yang ditujukan
terhadap kelompok tertentu. Sikap semacam itu muncul karena ada dugaan
bahwa kelompok tersebut memiliki ciri-ciri yang tidak menyenangkan. Sikap
berprasangka tidak didasarkan pada pengetahuan, pengalaman, atau bukti-
bukti yang cukup. Misalnya, anggapan bahwa wanita lebih lemah, emosional,
dan kurang rasional adalah suatu prasangka.

88 Sosiologi SMA/MA Kelas X

Salah satu bentuk prasangka adalah stereotip. Stereotip adalah pandangan
(image) salah mengenai ciri-ciri khusus kelompok luar yang telah diterima secara
luas oleh masyarakat. Stereotip bisa bersifat positif, tetapi juga bisa bersifat
negatif. Misalnya, kita pada umumnya memiliki stereotip mengenai seorang
pemuka agama adalah orang yang berilmu, berwibawa, bersikap baik,
melindungi, dan menjadi teladan dalam mengamalkan agama. Kita juga memiliki
stereotip mengenai seorang politikus sebagai orang yang tidak berprinsip, licik,
suka berjanji tetapi tidak menepati, dan oportunistis.

Setereotip positif maupun negatif cenderung menyesatkan, karena membuat
kita tidak objektif dalam memandang kelompok lain. Begitu juga, kita selalu
memandang penuh prasangka kepada seorang politikus berdasarkan stereotip
seperti di atas, padahal setiap individu memiliki ciri dan sifat yang berbeda dan
tidak bisa disamaratakan begitu saja berdasarkan stereotip.

Bentuk lain dari prasangka adalah antipati dan antagonisme. Antipati dan
antagonisme berbeda dengan prasangka. Antipati dan antagonisme dapat
diberantas atau dikurangi dengan pendidikan, sedangkan prasangka tidak dapat.

Aktivitas Siswa

Pilih dan kerjakan salah satu tugas di bawah ini, kemudian serahkan kepada
guru untuk dinilai!

1. Amatilah interaksi yang terjadi di antara teman-teman Anda di kelas!
Kemudian catatlah semua bentuk interaksi yang terjadi! Deskripsikan
hasil pengamatan Anda dalam bentuk makalah dan presentasikan dalam
forum diskusi kelas!

2. Pada kegiatan ekstrakurikuler penjaskes sore hari di sekolah, adakanlah
pertandingan bola voli atau lainnya. Bentuklah dua tim yang masing-
masing anggotanya terdiri atas teman-teman sekelas Anda! Selama
pertandingan, amatilah perilaku teman-teman Anda! Catatlah hal-hal
berikut ini!
a. Apakah teman-teman Anda terpecah menjadi kelompok-kelompok
pendukung salah satu tim?
b. Bagaimana interaksi antarkelompok pendukung itu?
c. Bagaimana interaksi antar pemain dengan penonton?
d. Bagaimana sikap kelompok anak perempuan terhadap anak laki-
laki yang sedang bermain voli?
e. Bagaimana sikap kelompok anak laki-laki terhadap anak
perempuan yang sedang bermain voli?
f. Apakah ada perbedaan perilaku masing-masing? Kalau ada
mengapa demikian?
Diskusikan hasil pengamatan Anda dengan teman-teman sekelas,
jangan lupa meminta masukan dari guru!

Interaksi Sosial 89

Pelatihan

Kerjakan di buku tugas Anda!
Jawablah dengan tepat!
1. Sebut dan jelaskan macam-macam interaksi asosiatif!
2. Sebut dan jelaskan macam-macam interaksi disosiatif!
3. Apakah yang dimaksud dengan prasangka?
4. Jelaskan stereotip Anda mengenai seorang guru!
5. Apakah perbedaan asimilasi dengan akulturasi jika ditinjau dari sudut

interaksi sosial?

Tes Skala Sikap

Kerjakan di buku tugas Anda!

Nyatakan tanggapan Anda terhadap pernyataan atau kasus di bawah
ini, dengan cara memberi tanda cek (9) pada kolom S (Setuju), TS (Tidak
Setuju) atau R (Ragu-ragu)!

No Pernyataan T TS R

1 Kehidupan manusia tidak akan bisa terlepas dari
adanya kerja sama dan permusuhan di antara
kelompok-kelompok yang ada dalam masya-
rakat.

2 Golongan mayoritas dapat memaksakan ke-
inginannya kepada kelompok minoritas karena
posisinya kuat. Dengan posisi seperti itu,
kelompok minoritas tidak akan berani melawan
sehingga equilibrium tercapai.

3 Konflik adalah kejadian biasa dalam interaksi
antarkelompok sosial. Oleh karena itu, kita tidak
perlu cemas jika terjadi konflik antarpelajar.

90 Sosiologi SMA/MA Kelas X

No Pernyataan T TS R

4 Hendaknya kita menyingkirkan prasangka buruk
terhadap orang lain, sebab prasangka buruk belum
tentu sesuai dengan keadaan sesungguhnya.
Apalagi prasangka itu menjadikan kita membenci
kelompok masyarakat lain.

5 Interaksi antara Anda sebagai siswa dengan
guru-guru dapat berbentuk kerja sama maupun
permusuhan. Kerja sama terjadi pada saat guru
sedang menyampaikan pelajaran, sedangkan
permusuhan terjadi pada saat guru memarahi
Anda karena melanggar tata tertib sekolah.

Rangkuman

1. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis dan bersifat
timbal balik.

2. Interaksi di bagi dalam 3 bentuk, yaitu:
a. interaksi antarindividu,
b. interaksi antara individu dengan kelompok, dan
c. interaksi antarkelompok

3. Faktor-faktor yang mendasari terjadinya suatu interaksi sosial dibedakan
menjadi enam jenis, yaitu:
a. sugesti,
b. imitasi,
c. identifikasi,
d. simpati,
e. motivasi, dan
f. empati.

4. Interaksi sosial dibagi menjadi 2 tahap, yaitu tahap kontak dan tahap
komunikasi.

5. Interaksi sosial dibagi menjadi dua, yaitu:
a. interaksi assosiatif,
b. interaksi disosiatif.

Interaksi Sosial 91

6. Prasangka adalah sikap permusuhan yang ditujukan terhadap kelompok
tertentu.

7. Stereotip adalah pandangan yang salah mengenai ciri-ciri khusus
kelompok luar yang telah diterima secara luas oleh masyarakat.

Pengayaan

PERILAKU KOLEKTIF
Perilaku kolektif adalah istilah dalam sosiologi yang mengandung
pengertian cara orang bertindak dalam kerumunan dan kelompok-kelompok
besar yang tidak terorganisasi lainnya. Jenis perilaku kolektif antara lain
iseng, panik, dan rusuh. Perilaku seperti ini sering muncul dalam situasi
yang membangkitkan emosi banyak orang. Situasi demikian itu terjadi dalam
kegiatan olah raga, demonstrasi yang memprotes sesuatu, dan bencana
alam.
Perilaku-perilaku kolektif biasanya terjadi karena menurutkan kata hati,
tidak terencana, dan berlangsung singkat. Bagaimanapun juga, perilaku
kolektif cocok digunakan dalam kerangka pengerahan massa. Misalnya,
partai politik atau gerakan sosial yang memanfaatkan demonstrasi massal
sebagai sarana untuk melakukan perubahan sosial.
Para ilmuwan yang berjasa merumuskan konsep mengenai perilaku
kolektif adalah Gustav Le Bon, seorang ahli fisika dan ilmu sosial
berkebangsaan Perancis yang pertama kali melakukan studi psikologis
terhadap kerumunan pada tahun 1890-an. Tokoh lainnya bernama Robert
R. Park dan Ernest W. Burgess yang memperkenalkan istilah perilaku
kolektif dalam bukunya Introducing to the Science of Sociology (1921).

92 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Click to View FlipBook Version