VERIFIKASI ALBERT J. AYER:
RELEVANSI ILMU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Mohammad Faqih1
Pendidikan Agama Islam-Pascasarjana UIN KHAS Jember
ABSTRAK
Bagaimanapun, waktu selalu beranjak menuju peradaban dan zaman yang
berbeda. Berawal dari abad pertama yang dikatakan fundamental hingga pada
abad modern, dimana filsafat dan sains saling melengkapi dan mencari peluang
untuk memperkenalkan diri di hadapan manusia. Pemikiran yang bersifat abstrak
melahirkan keutuhan tersendiri dalam ber-Tuhan. Namun, terlahirnya peradaban
baru yang mendahulukan akal sebagai dasar mencapai pengetahuan, secara tidak
langsung menggeser perlahan konsep ke-Tuhan-an dalam sejarahnya. Dengan
kata lain, Tuhan memahami manusia, tetapi manusia tidak dapat berharap untuk
dapat memahami Tuhan. Pada saat yang sama, ditengah-tengah rasa keimanan
manusia mengakui bahwa Tuhan merupakan misteri, bukan realitas yang dapat
dipahami serta dikuasai oleh intelektual dan penglihatan manusia. Positivisme
Logis atau Neo-positivisme, salah satu paradigma ilmu yang beberapa abad lalu
begitu terkemuka dilingkungan Inggris khususnya, dengan konsep verifikasi
sebagai rujukan dalam mencapai kebenaran. Dalam konsep pemikirannya yang
lebih mendahulukan logika dan empirisme sebagai asumsi dasar dalam mencapai
kebenaran ilmiah, perlahan menelanjangi proposisi-proposisi metafisika. Namun,
sesuai dengan perkembangan keilmuan tersebut, terdapat banyak pula pengaruh
positif terhadap pendidikan terutama agama islam khususnya. Lantas bagaimana
relevansi prinsip verifikasi dalam paradigma positivisme logis terhadap
pendidikan agama islam? Tulisan ini bermaksud untuk menjelaskan secara
sederhana dengan merujuk beberapa karya ilmiah tentang pemikiran Alfred. J.
Ayer serta merefleksikannya dengan sumber islam.
Kata kunci: Verifikasi, Metafisika Dan Relevansi Pendidikan Agama Islam
A. PENDAHULUAN
1 Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Kyai. H. Ahmad Shiddiq (UIN KHAS) Jember, 2021-
2022.
Pada dasarnya positivisme adalah perpaduan antara paham empirisme
plus rasionalisme artinya indra itu tidak cukup untuk memperoleh pengetahuan
ilmiah namun harus dipertajam dengan alat Bantu dan diperkuat dengan
eksperimen, kemajuan sains benar-benar di mulai.2 Oleh karena itu positivisme
berkembang pesat pada masa filsafat barat.
Dalam perkembangannya, pada abad ke-20 M, sekitar tahun 1920-an
lahir suatu kelompok diskusi yang terdiri dari para sarjana ilmu pasti dan alam
yang berkedudukan di kota Wina, Austria. Mereka tergabung dalam Lingkaran
Wina (Vienna Circle) 3 dan dikenal dengan nama positivisme logis. Dalam
pembahasan kali ini, tokoh positivisme logis yang akan kita bahas adalah Alfred
Jules Ayer. Hal ini sebagai pemenuhan atas tugas mata kuliah filsafat. Dan
penulis rasa, perlu untuk mengemas pemikiran A. J. Ayer dalam karya tulis ini
karena dialah yang berperan besar dalam perkembangan positivisme logis. A.
J. Ayer-lah yang memperkenalkan positivisme logis yang berkembang di
Lingkungan Wina untuk dikenalkan di negara-negara lain yang terutama di
Inggris.
Sebagaimana dijelaskan diatas, dengan demikian pendahuluan dari
penulis, lebih jelasnya akan penulis tuangkan segala hasil literasi serta beberapa
2 Mustajab, “Tokoh Dan Pemikiran Filsafat Islam Versus Barat” (Surabaya: Pustaka Radja, 2019) hal
105.
3 Mohammad Muslih, “Filsafat Ilmu: Kajian Atas Asumsi Dasar, Paradigma, dan Kerangka Teori
Ilmu“ (Yogyakarta: LESFI 2016), hal 115. (Catatan kaki: Penamaan Positivisme Logis (Logical
Positivism) diberikan oleh Herbert Feigl dan Blumberg terhadap seperangkat gagasan filosofis yang
Diperkenalkan oleh kelompok Lingkaran Wina. Lihat John Passmore, “Logical Positivism”, dalam
Paul Edwards (ed.) The Encyclopedia of Philosophy, vol. V, (New York, London: Macmillan
Publishing Co. Inc and The Free Press, 1967), p. 52)
referensi sebagai penguatan materi dan beberapa pernyataan dari pemerolehan
berpikir tentang “Prinsip Verifikasi Alfred Jules Ayer serta Relevansi
Pendidikan Agama Islam”, dalam karya ini lebih lanjut.
B. PEMBAHASAN
1. Biografi Singkat A.J. Ayer
Alfred Jules Ayer (1910-1989) adalah satu-satunya anak dari pemodal
yang gagal dan bangkrut 18 bulan setelah putranya lahir. Dimanjakan secara
fisik, terisolasi secara sosial, diabaikan secara emosional, akrab sejak lahir
dengan suasana mencekik keheningan dan depresi dewasa, ia tumbuh gelisah,
akal dan mandiri.
Pada tahun 1922 ia menjadi mahasiswa penerima beasiswa termuda di
Eton. Cemerlang, bergelombang, dan kecil untuk anak seusianya, selama lima
tahun ia diserahkan kepada pengasuh yang sadis, “Bloody Bill” Marsden, yang
tidak menyukai tanda-tanda keangkuhan, kepintaran, atau asal-usul asing dalam
tuduhannya. Ayer jarang berbicara tentang sekolah Etonnya. Tidak ada yang
mendorongnya untuk membaca filsafat. Itu adalah rasa yang dia temukan
sendiri, tak lama sebelum pergi dengan beasiswa lain untuk membaca klasik di
Christ Church College, Oxfrod.4
Ayer adalah setengah Yahudi, seorang ateis militan. Ayer termasuk
dalam generasi empiris, anti-otoriter dalam pemberontakan keras melawan
4 Hilary Spurling (2000-12-24). "The Wickedest Man in Oxford"
(http://www.nytimes.com/books/00/12/24/reviews/001224.24spurlit.html). The New York
Times. Diakses tanggal 2021 Okt 12.
tradisi metafisik yang lemah, berlebihan, dan terkontaminasi. Dia bersikeras
bahwa tidak ada bisnis yang menawarkan panduan tentang pilihan moral atau
etis. Wittgenstein, yang disebut-sebut sebagai Kristus kedua atau Pythagoras,
adalah imam besar sekulernya.
Salah satu buku yang ia terbitkan ialah Language, Truth and Logic
(1936), dimana buku ini terbit ketika usianya 25 tahun. Language, Truth and
Logic memuat sebagian besar pemikiran Ayer sehingga buku ini dikaitkan
dengan munculnya salah satu aliran baru dalam filsafat periode kontemporer,
yakni positivisme logis.
2. Pemikiran A.J Ayer: Positivisme Logis
a. Prinsip Verifikasi
Positivisme merupakan paradigma ilmu pengetahuan yang paling
awal muncul dalam dunia ilmu pengetahuan. Keyakinan dasar aliran ini
berakar dari paham ontologi Realisme yang menyatakan bahwa realitas ada
(exist) dalam Kenyataan yang berjalan sesuai dengan hukum alam (Natural
Laws). 5 Pandangan yang dikembangkan oleh kelompok ini Disebut
neopositivisme, atau sering juga dinamakan positivisme Logis. Kaum
positivisme logis memusatkan diri pada bahasa dan Makna.6 Dimana suatu
pernyataan akan bermakna apabila pernyataan tersebut sesuai dengan
5 Mohammad Muslih, “Filsafat Ilmu...”, hal 88.
6 Ibid., hal 115.
realitas inderawi. Untuk menguatkan pandangan ini, maka Ayer
mengemukakan adanya prinsip verifikasi sebagai tolok ukurnya.
Pada tahun 1910, baik Moore dan Russell telah meninggalkan
realisme proposisional mereka—Moore mendukung filosofi realistis
tentang akal sehat , Russell mendukung pandangan yang dikembangkannya
bersama Ludwig Wittgenstein yang disebut atomisme logis . Peralihan ke
atomisme logis dan analisis bahasa ideal mencirikan fase kedua filsafat
analitik, sekitar tahun 1910-1930. Fase ketiga, sekitar tahun 1930-1945,
ditandai dengan munculnya positivisme logis, suatu pandangan yang
dikembangkan oleh para anggota Lingkaran Wina dan dipopulerkan oleh
filsuf Inggris A.J Ayer. Dalam kata pengantar bukunya “Language, Truth
and Logic (1936)”, Ayer mengakui bahwa pemikirannya telah dipengaruhi
oleh dua tokoh Lingkungan Wina yakni Moritz Schlick dan Rudolf
Carnapp.7
Kelompok filsuf ini juga mencoba untuk menghubungkan tradisi
empiristic dengan perkembangan baru logika.8 Oleh sebab itu positivisme
yang dikembangkan oleh Comte, diperluas kembali dengan memberikan
titik logis sebagai prinsip neopositivisme. Fungsi pokok filsafat bagi
positivisme logis ialah melakukan kajian sains tentang metodologi sains dan
melakukan klarifikasi sehingga kerancuan dalam penggunaan bahasa dapat
dihindarkan.
7 Mohammad Muslih, “Filsafat Ilmu...”, hal 116.
8 Biyanto, “Filsafat Ilmu Dan Ilmu Keislaman” (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), hal 260.
Sebagai penganut positivisme, secara umum mereka berpendapat
bahwa sumber pengetahuan adalah pengalaman,9 Namun secara khusus dan
eksplisit pendirian Mereka sebagai berikut; (a) mereka menolak perbedaan
ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial; (b) menganggap pernyataan-
pernyataan yang tak dapat diverifikasi secara empiris, seperti Etika, estetika,
agama, metafisika, sebagai nonsense; (c) berusaha Menyatukan semua ilmu
pengetahuan di dalam satu bahasa Ilmiah yang universal (Unified Science);
(d) memandang tugas Filsafat sebagai analisis atas kata-kata atau
pernyataan-pernyataan. 10 Dengan begitu, kelompok lingkaran Wina
selanjutnya mengembangkan gagasan Comte dalam bentuk positivisme
logis, Neo-positivisme dan empirisme logis. Akibatnya, pandangan ini
disebut dengan: pandangan bahwa semua pengetahuan adalah pengetahuan
ilmiah.
Para filsuf pada ‘kelompok’ Lingkaran Wina pada Umumnya
mencurahkan perhatiannya untuk mencari garis Pemisah antara pernyataan
yang bermakna (meaningful) dan Pernyataan yang tidak bermakna
(meaningless) berdasarkan Kemungkinan untuk diverifikasi. 11 Dengan
begitu akan diketahui bahwa pernyataan-pernyataan yang tidak bisa
diverifikasi dan dianalisis secara logika adalah pernyataan yang tidak
bermakna. Seperti dalam bukunya Language, Truth and Logic, ia
9 Catatan: Oleh karena itu, mereka menganggap kaum empiris sebagai leluhurnya, Seperti: David
Hume, John S. Mill, dan Ernst Mach. Lihat Kees Bertens, Op. Cit., p. 169
10 Mohammad Muslih, “Filsafat Ilmu...”, hal 116.
11 Mohammad Muslih, “Filsafat Ilmu...”, hal 116.
mengatakan: “Sebagian besar perbincangan yang dilakukan oleh para
filsuf sejak dahulu sesungguhnya tidak dapat dipertanggungjawabkan dan
juga tidak ada gunanya”.12
Sebagai tokoh positivisme logis, A.J Ayer mengemukakan bahwa
hanya bermakna suatu ucapan yang berupa kan observation-statement
artinya pernyataan yang menyangkut realitas inderawi; dengan kata lain,
suatu ucapan yang dilakukan berdasarkan observasi, atau sekurang-
kurangnya berhubungan dengan realitas inderawi. Sebagaimana Carnapp
dalam bukunya “The Rejection of Metaphysics”, yang dikutip oleh Muslih,
mengatakan bahwa Apabila suatu pernyataan yang menunjukkan sebuah
persepsi sekarang, seperti “sekarang saya melihat sebuah lapangan merah
dengan dasar biru”, maka pernyataan ini dapat diuji secara langsung
dengan persepsi kita sekarang. pernyataan tersebut dapat diverifikasi secara
langsung dengan penglihatan. Artinya jika tidak dilihatnya, maka ia
terbantah.13
Ayer sebagai salah satu tokoh Neo-positivisme berusaha
mengembangkan hubungan makna dan fakta pada prinsip verifikasi.. Istilah
“metafisik” menunjuk kepada sesuatu yang melampaui alam inderawi,
sehingga tidak dapat diobservasi secara empiris. Contoh lain pernyataan
seperti: “substansi”, “hakikat”, “roh”, “akal budi”, merupakan
pernyataan metafisik yang tidak bermakna dan mempunyai nilai kebenaran.
12 Louis O. Katsoff, “Pengantar Filsafat” (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1996), hal 232.
13 Mohammad Muslih, “Filsafat Ilmu...”, hal 117.
Sebagaimana syarat pokok logika untuk mencapai kebenaran
yakni:14
1) Pemikiran itu harus berpangkal pada kenyataan atau titik pangkalnya
(premisnya) harus benar. Suatu pemikiran, yang meskipun jalan
pikirannya logis, tetapi tidak berpangkal pada kenyataan atau pada dalil
yang benar, tidak akan menghasilkan kesimpulan yang benar, apalagi
pasti. Kalau titik pangkal suatu pemikiran tidak pasti, maka kesimpulan
yang ditarik dari padanya juga tidak akan pasti, bahkan mungkin salah.
2) Alasan-alasan yang diajukan harus tepat dan kuat. Kerap kali terjadi
orang mengajukan pernyataan atau pendapat, tetapi yang sama sekali
tidak didukung dengan alasan-alasan. Sering juga orang merasa sudah
pasti dan yakin dalam menarik kesimpulan, padahal sebenarnya tidak
cukup alasan, atau alasan yang dikemukakannya itu tidak kena, tidak
kuat, atau tidak membuktikan apa-apa.
3) Jalan pikiran harus logis atau “sah”. Jika titik pangkal memang benar
dan tepat, tetapi jalan pikiran tidak tepat, maka kesimpulan juga tidak
akan tepat. Jika hubungan antara titik pangkal dengan jalan pikiran itu
tepat dan logis, maka kesimpulan disebut “sah” atau valid.
Proposisi mengenai kejadian masa lalu dapat digolongkan sebagai
proposisi yang dapat diverifikasi secara lunak. Ayer kemudian
memperkenalkan adanya proposisi empiris dan analitis. Kedua konsep
14 Darwis A. Soelaiman, “Filsafat Ilmu Pengetahuan: Perspektif Barat Dan Islam” (Aceh: Bandar
Publishing, 2019) hal 90-92.
tersebut perlu dipahami, karena dalam kenyataannya terdapat proposisi atau
ungkapan yang tidak berdasar pada data empiris, seperti proposisi
“Santoso, Prinsip Verifikasi Matematika dan logika”. Sebagai contoh
adalah proposisi yang menyatakan bahwa bujur-sangkar memiliki empat
sisi yang sama, atau 2 + 2 = 4. Proposisi semacam ini dapat dibuktikan
kebenarannya tanpa harus melalui proses verifikasi empiris. Proposisi inilah
yang disebut sebagai proposisi analitis, yaitu proposisi yang tidak memiliki
referensi faktual, tetapi benar dan bermakna secara definisi dan
memverifikasi diri sendiri (Charlesworth, 1959:131). Proposisi seperti ini
bersifat tautologis. Penentuan kebenaran di dalamnya sangat tergantung
pada makna simbol bahasa yang digunakannya. Sebaliknya proposisi
empiris adalah proposisi yang dapat dibuktikan ke bermakanannya karena
merupakan pernyataan yang mengandung realitas inderawi atau dapat
diverifikasi melalui pengamatan empiris. 15 Prinsip verifikasi ini
menyatakan bahwa suatu proposisi adalah bermakna jika ia dapat diuji
dengan pengalaman dan dapat diverifikasi dengan pengamatan (observasi).
Kebenaran logika. Sesuatu dianggap benar apabila secara logik atau
matematis konsisten dan koheren dengan apa yang telah diakui sebagai
benar atau sesuai dengan apa yang benar menurut kepercayaan metafisik.
Aksioma metafisik yang menyatakan bahwa 1+1= 2 maka secara logika
dapat dianggap benar. Namun demikian, di dalam kebenaran ini juga tidak
15 Iman Santoso, “Prinsip Verifikasi: Pokok Pikiran Alfred Jules Ayer Dalam Khasanah Filsafat
Bahasa”, Allemania, Vol. 4. No. 1 (Juni 2014) hal 75-76.
terlepas dari konsensus orang-orang yang terlibat di dalamnya. Misalnya,
1+1 ≠ 3, karena secara konsensus telah diterima demikian.16
Verifikasi sangat erat hubungannya dengan empirisme. Kemudian
Ayer mengenalkan sebuah siklus empirisme, yaitu bagaimana teori-teori
dalam sebuah ilmu berkembang. Siklus empirisme tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut:17
Penjelasannya: menurut Ayer segala teori berkembang melalui
fakta, fakta akan diolah oleh rasio, rasio dikumpulkan (diinduksi), kemudian
menjadi sebuah teori, teori di deduksi untuk membaca fakta. Misalnya
dalam menemukan teori gravitasi: berawal dari fakta, kemudian di pahami
oleh Newton (rasio), lalu di induksi yaitu di pahami bahwa semua benda
yang di lempar dari atas ke bawah pasti jatuh, setelah diinduksi muncullah
teori gravitasi, teori gravitasi tersebut dideduksi yaitu di percaya
kebenarannya dengan melihat fakta.
Sebagian banyak para filosof membahas persoalan metafisika,
demikian juga munculnya idealisme di Inggris pada abad modern. Menurut
16 Suaedi, “Pengantar Filsafat Ilmu” (Bogor: PT Penerbit IPB Press, 2016). Hal 44.
17 ‘Amilatu Sholihah, “Paradigma Prinsip Verifikasi A. J. Ayer dan Relevansinya dalam Kajian”,
Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam, Vol. 12 No. 1 (Januari-Juni) 2021, hal 9-10.
Ayer, itu semua merupakan hal yang tidak bermakna sama sekali karena
hal-hal tersebut (terutama berkaitan dengan metafisika) tidak bisa
dibuktikan secara empiris. Pandangan empiristic telah mempengaruhi Ayer,
hal ini terlihat pada pengajuan prinsip verifikasi yang dikemukakan
olehnya. Jadi common sense adalah acuan utama dalam positivisme logis
Alfred Jules Ayer.
Baginya suatu pernyataan tidak hanya bisa dibuktikan secara
langsung, akan tetapi ada cara pula secara tidak langsung untuk
memverifikasi pernyataan, yakni dengan fakta sejarah, yang tidak bisa kita
verifikasi secara langsung, akan tetapi kita bisa mengetahui fakta sejarah
melalui orang yang bersaksi dan jujur atas apa yang disaksikannya. Jadi
peran orang lain sangat berpengaruh dalam penentuan pernyataan atas suatu
kejadian yang kita tidak tahu. Jelas disini kita sadar bahwa kita tidak hidup
pada zaman itu. Maka kita membutuhkan kesaksian banyak orang mengenai
sejarah itu.
Reaksi Ayer justru lebih radikal dibandingkan dengan para tokoh
lainnya. Ungkapan bahasa seperti, “Tuhan adalah pencipta segala sesuatu
termasuk alam semesta”, “setiap manusia harus berbuat baik terhadap
sesamanya” dan ungkapan-ungkapan metafisis lainnya, pada hakikatnya
sama sekali tidak mengungkapkan realitas empiris, sehingga menjadi tidak
bermakna (tidak dapat diuji secara analisis logis dan tidak dapat pula
dilakukan observasi untuk membuktikan validitas pernyataan tersebut). “A
statement wich is not Relevant to any experience......has no factual
content”.18
Sebagaimana paradigma Neo-positivisme atau yang dikenal dengan
sebutan positivisme logis dalam kesimpulannya bahwa, A. J. Ayer salah
satu tokoh yang berpengaruh di Inggris dalam pemikiran positif dan logis
sepaham dengan Moritz Schlick dan Rudolf Carnapp. Bahwasanya sesuatu
dianggap benar jika antara bahasa dan makna terbukti secara empiris.
b. Tentang Metafisika
Sebagaimana dijelaskan, bahwa dalam pandangan Positivisme logis,
metafisika, demikian pula dengan etika, adalah tidak bermakna karena ia
menyajikan proposisi (statement) yang disebut sebagai “pseudo-
statement”. Yakni yang berhubungan dengan metafisika, theologi, etika,
dan estetika, kaum positivisme logis termasuk A.J Ayer menganggap itu
semua tidak bermakna. Karena pandangannya yang bersifat empiristic serta
mengacu pada common sense (akal sehat), menjadikannya anti terhadap
sesuatu yang bersifat non-sense. Segala sesuatu yang ada di luar
pengalaman dianggap tidak relevan.19
Suatu pernyataan (statement) disebut sebuah “pseudo-statements”
apabila ia melanggar aturan-aturan sintaksis logika dari pembuktian
18 Husna Amin, “Ayer Dan Kritik Logical-Positivism: Studi Metafisika Ketuhanan”, Substantia,
Volume 17 Nomor 1, (April 2015) hal 128-129.
19 Biyanto, “Filsafat Ilmu Dan Ilmu Keislaman...”, hal 259.
empiris.20 Berkaitan dengan agama, tidak semua ajarannya dapat dibuktikan
secara empiris, seperti ajaran tentang Tuhan. Untuk menunjukkan Tuhan
pasti ada, tidak perlu pembuktian secara empiris, karena memang tidak
termasuk dunia empiris.
Dalam arti lain suatu hal yang bersifat abstrak seperti etika, estetika,
agama, metafisika dan semacamnya ditolak atas kriteria empiris serta telah
melanggar aturan logika. Oleh karena itu, menurut Ayer pernyataan yang
bersifat abstrak tersebut tidak bermakna, dan itu semua hanya omong
kosong belaka. Membedakan bahasa atas pernyataan-pernyataan yang
bermakna dan tidak bermakna (common sense). Common sense adalah suatu
pernyataan dimana bahasa yang mengandung makna bisa diverifikasi atau
dianalisis secara logika dan dapat dibuktikan secara empirik.
Menurut pandangan Ayer konsekuensi utama yang ditimbulkan oleh
prinsip verifikasi – baik variabel dalam arti yang ketat maupun yang lunak
– dan proposisi analitik yang mengungkapkan batasan-batasan bahasa
merupakan penghapusan terhadap metafisika. Proposisi metafisika yang
berusaha mengungkapkan “substansi, eksistensi, keabadian jiwa” dan hal-
hal abstrak lainnya, tidak bermakna sama sekali. Proposisi seperti itu tidak
dapat dianalisa bukan hanya karena tidak dapat diverifikasi secara empirik,
tetapi juga disebabkan bentuk-bentuk peristiwa yang seperti itu tidak
relevan untuk dinyatakan benar atau salahnya.21
20 Mohammad Muslih, “Filsafat Ilmu...”, hal 119-120.
21 Husna Amin, “Ayer Dan Kritik Logical...”, hal 129.
Maksud dari pernyataan Ayer, menerangkan bahwa pertama-tama
suatu kalimat harus dipahami dengan baik bahwa prinsip verifikasi yang
diaplikasikan dalam suatu kalimat bermaksud menentukan makna suatu
ucapan, bukan kebenarannya karena suatu ucapan yang bermakna bisa
benar atau salah.
Sepertinya penolakan kaum positivisme logis terhadap problem
metafisis tidak ingin memperdebatkan masalah kebenaran, tetapi mereka
lebih menekankan makna suatu ungkapan. Ungkapan- ungkapan tentang
Tuhan tidak dimaksudkan untuk membuktikan ada atau tidaknya Tuhan,
melainkan mereka menganalisa apakah pernyataan tentang Tuhan itu
mengandung makna atau tidak. Berdasarkan hal tersebut, Ayer mengatakan
bahwa tugas filsafat yang paling utama dan mendasar adalah menyingkap
dan menghapuskan kekacauan metafisika yang dianggap sebagai parasit
dalam pemikiran ilmiah dan juga dalam pemikiran sehari-hari.
Beberapa kelompok Lingkaran Wina menolak atas dasar bahwa
pernyataan yang bersifat metafisika tidak dapat menghindarkan diri konsep
non-verifikasi. Pernyataan-pernyataan metafisika menggunakan bahasa
ekspresi, sehingga tidak dapat diverifikasi dan tidak dapat diuji dengan
pengalaman.
Dalam domain metafisika, termasuk semua filsafat nilai dan teori
normatif, analisis logis menghasilkan hasil negatif bahwa pernyataan-
pernyataan (statements) yang dinyatakan adalah tanpa makna. Atau dengan
kata lain, serangkaian kata-kata adalah tanpa makna jika ia bukan
merupakan sebuah pernyataan di dalam bahasa yang spesifik.22
Kasus yang diangkat Zakî untuk menjelaskan al-Lâ Ma‘qûl ini
adalah tasawuf, nujum dan sihir. Seorang sufi, misalnya, menyatakan bahwa
kebenaran didapat dari intuisi. Dan intuisi mereka terjaga (ma‘sûm) dari
kesalahan. Pendapat seperti ini diingkari oleh Zakî. Dengan mengutip dari
Bertrand Russell—dalam karyanya Mysticism and Logic—Zaki
menyatakan bahwa pernyataan seperti itu tidak boleh diterima atau ditolak
sebelum dianalisa secara logis.23
Dalam hal ini, kesimpulan yang dapat diambil dari beberapa
pemaparan tentang metafisika, sebagaimana dijelaskan diatas bahwa prinsip
verifikasi A.J. Ayer tidak mengakui kebenaran bahasa dan makna dalam
proposisi metafisika yang terlalu abstrak untuk dijangkau oleh indera.
Namun beberapa pernyataan juga sempat ditemukan bahwa proposisi yang
berkaitan dengan metafisika, nilai dan semacamnya tidak memiliki
statement benar dan salah. Maka oleh karena itu kelompok positivisme logis
terutama Ayer, tidak menerimanya sebagai pengetahuan ilmiah karena tidak
dapat diverifikasi secara empiris oleh indera manusia.
c. Relevansi Terhadap Pendidikan Agama Islam
22 Mohammad Muslih, “Filsafat Ilmu...”, hal 119.
23 Ghozi, “Perspektif Zakî Najib Mahmud: Tentang Ilmu &Agama Dalam Logika”, Teosofi: Jurnal
Tasawuf dan Pemikiran Islam, Vol. 1 No. 1 (Juni 2011). Hal 62-63.
Dalam perspektif agama Islam, ilmu pengetahuan bersumber pada
Allah SWT melalui wahyu-Nya yakni kitab suci Al-Qur’an. Sebagai sumber
pengetahuan yang utama, Al-Qur’an telah memberikan informasi dan
petunjuk mengenai cara manusia memperoleh ilmu pengetahuan. Beberapa
ayat Al-Qur’an mengisyaratkan agar Al-Qur’an dijadikan sebagai sumber
ilmu dengan memakai kata-kata antara lain: ya’qilun (memikirkan) dan
yudabbirun (memperhatikan).
Adapun petunjuk-petunjuk Al-Qur’an tentang cara-cara
memperoleh pengetahuan atau kebenaran pada dasarnya ada 3 macam, yaitu
melalui panca indera, melalui akal, dan melalui wahyu. Dalam Al-Qur’an
ada beberapa ayat yang menyuruh manusia menggunakan indranya dalam
mencari ilmu pengetahuan, yaitu dengan penggunaan kata-kata seperti: qala
(menimbang), qadara (ukuran/ketentuan), dan lain-lain. Kata-kata itu
mengisyaratkan bahwa pengetahuan itu dapat diperoleh melalui observasi
terhadap segala sesuatu yang merupakan dasar dari pemikiran, perhitungan,
dan pengukuran. Terlepas dari kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh
indera manusia, adalah diakui bahwa indera memiliki kemampuan yang
kuat dalam memperoleh pengetahuan. Dengan indera dapat dilakukan
observasi dan eksperimen. Di dalam Al-Qur’an terdapat metodologi
pengetahuan yang memperkuat adanya pengetahuan indera itu, namun Al-
Qur’an juga menerangkan keterbatasan indera manusia sebagai alat untuk
memperoleh pengetahuan yang benar. Al-Qur’an mengecam orang-orang
yang hanya mengandalkan inderanya untuk memperoleh kebenaran,
misalnya yang dikisahkan oleh Al-Qur’an tentang kaum Nabi Musa yang
ingin melihat Tuhan secara langsung. Al-Qur’an juga menyebutkan adanya
realitas yang tidak bisa diamati dengan indera, yang menunjukkan bahwa
indera itu terbatas jangkauannya dalam mencapai kebenaran.24
Dalam beberapa ayat dijelaskan:
“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki.
Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi
kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil
pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (Q. S.
Al-Baqarah: 269)
Ayat diatas menjelaskan bahwa keberadaan akal adalah sebagai
sarana berpikir seseorang mendapatkan pengetahuan. Adapun konsep
berpikir ilmiah sebagian menekankan bahwa berpikir ilmiah adalah berpikir
yang logis dan empiris. Logis: masuk akal, empiris: dibahas secara
mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.25
Ayat ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya membaca, menulis,
berpikir serta memverifikasi dari segala tanda-tanda sebagai ajaran untuk
manusia agar mendapatkan serta memiliki ilmu pengetahuan.
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda)
seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada malaikat dan
Berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu, jika
Kamu memang orang yang benar!” Mereka menjawab: “Maha-suci
Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain apa yang telah Engkau
ajarkan kepada Kami; Engkaulah yang maha mengetahui lagi maha
bijaksana” (QS Al-Baqarah:31-32)
24 Darwis A. Soelaiman, “Filsafat Ilmu Pengetahuan...”, hal 136-137.
25 Suaedi, “Pengantar Filsafat...”, hal 48.
Dan ayat (berpikir):
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang
yang berakal.” (Q.S. Al Imran: 3)
Dan ayat (verifikasi):
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang memperhatikan
tanda-tanda.” (Q.S. Al Hijr: 75)
Dalam pengertian ayat diatas, prinsip verifikasi yang digunakan
sebagai mengetahui kebenaran secara empiris terhadap berbagai benda
(alam) yang Allah cipta merupakan sebuah proses pengembalian diri dan
perenungan kembali atas kebesaran Tuhan atas segala ciptaan-Nya. Dalam
konsep paradigma positivisme logis A. J. Ayer, kebermaknaan statement
ketika antara bahasa dan makna bisa di dapat melalui verifikasi. Dengan
begitu manusia dapat lebih mematangkan keimanannya kepada Allah. Dan
secara tidak langsung, manusia mendapatkan konsep verifikasi yang
ditawarkan A.J. Ayer sebagai metode menegaskan konsep keimanan serta
memberikan peluang bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan.
Beberapa alasan kemunculan sistem berpikir rasional dalam Islam,
seperti juga ditulis Louis Gardet dan Anawati, pertama, didorong oleh
munculnya mazhab-mazhab bahasa (nahw) lantaran adanya keperluan
untuk dapat memahami ajaran Al-Qur’an secara baik dan benar.26 Terkait
26 A. Khudori Soleh, “Filsafat Islam: Dari Klasik Hingga Kontemporer”, Cet. 1 (Jogjakarta: AR-RUZZ
MEDIA, 2016) Hal 26.
dengan penggunaan bahasa dan makna, rasio sebagai pendalaman realitas
dalam arti bahasa dalam mendapatkan kebenaran yang bermakna.
Para positivisme logis mengungkapkan apa yang mereka sebut
“verifikasi teori makna”. Menurut teori ini, sebuah statement akan
bermakna hanya jika benar menurut arti term-termnya seperti statement
dalam logika dan matematika, atau dapat diverifikasi secara empirik seperti
statement dalam pengetahuan ilmiah.27
Dalam arti sempit bahwa kaidah dan logika dalam bahasa (nahw)
inilah yang telah mendorong munculnya pemikiran rasional dalam bidang
perundangan maupun teologi pada fase-fase berikutnya, sebelum datangnya
filsafat Yunani.28 Namun prinsip positivisme logis menolak sesuatu yang
abstrak karena, bahwa kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang dapat
diverifikasi secara empiris.
Teori pendidikan yang sejati harus memiliki struktur logika yang
sama sebagai teori ilmiah. Teori ini meliputi; 1) premis-premis, 2) hipotesis
yang secara logis dideduksi dari premis-premis tersebut, dan 3) “kamus”
statement-statement yang mendefinisikan term-term kunci dalam premis-
premis.29
27 Sembodo Ardi Widodo, “Pendidikan Dalam Perspektif Aliran-Aliran Filsafat” (Yogyakarta: Idea
Press, 2015). Hal 35.
28 A. Khudori Soleh, “Filsafat Islam...”, hal 27.
29 Sembodo Ardi Widodo, “Pendidikan...”, hal 37.
Dalam ayat lain dijelaskan bahwasanya manusia adalah makhluk
yang dicipta tanpa kesempurnaan. Melalui perintah-Nya dalam Q.S. Al-
Alaq, sangat jelas bahwa manusia dalam hal ilmu pengetahuan begitu
terbatas, terutama statement tentang metafisika yang tidak dapat secara
langsung diterima dalam prinsip logika.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”.
(Q.S. Al-Alaq: 1)
Sebagaimana makna filosofis, arti “bacalah” bukan hanya
bermakna pada kontekstual bahasa, melainkan makna termasuk meraba,
melihat, mengobservasi segala hal yang berkaitan dengan ke-Maha-an
Tuhan. Maka prinsip bahasa, kebenaran dan logika, A. J. Ayer telah
membuka kembali peradaban pemikiran umat muslim khususnya dalam
menelaah kembali alam. Walau logika terpusat pada qiyas dan masih sangat
sederhana, tetapi maknanya cukup besar dalam perkembangan pemikiran30,
terutama dalam mencapai kebenaran ilmiah.
Maka dapat dikatakan bahwa relevansi konsep positivisme logis A.J.
Ayer terhadap pendidikan agama islam sangatlah banyak, terutama terkait
dengan bahasa dan makna hingga menghasilkan sebuah pengetahuan.
Dalam hal ini, dengan menelan kembali prinsip verifikasi dengan pola pikir
yang positif dapat menambah wawasan keimanan terutama bagi kaum
beragama khususnya muslim. Sehingga konteks keilmuannya dapat
30 A. Khudori Soleh, “Filsafat Islam...”, hal 28.
berkembang sesuai dengan peradaban baru “sains” dan menjadikannya
sebagai penyeimbang dalam ranah keilmuan modern.
C. PENUTUP
1. Kesimpulan
Kesuksesan ilmu-ilmu alam dengan berbagai eksperimennya terbukti
membawa perubahan besar pada dunia material. Aspek yang dapat diambil
adalah adanya usaha untuk menjernihkan bahasa ketuhanan dari kerancuan
bahasa. Namun, kekurangannya yang perlu dicermati adalah aspek rasa, emosi
dan hati nurani tidak tertampung dalam kriteria sebagai positivisme logis
tersebut
Positivisme logis tidak berpretensi membahas hakikat ketuhanan,
melainkan mengalihkan pembahasan pada pertanyaan atau pernyataan tentang
Tuhan. Namun tidak dapat dipungkiri sumbangsihnya dalam era perkembangan
ilmu dewasa ini sangatlah berdampak besar. Terutama suatu hal yang
diperlukan oleh manusia dalam suasana seperti sekarang ini yakni dasar pijak
yang konkret, logis dan akurat. Dengan tidak melupakan nilai-nilai metafisika
yang terkandung dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
Sebagaimana pemaparan pembahasan diatas, beberapa kesimpulan yang
dapat penulis sampaikan yakni; pertama, sebenarnya yang menjadi fokus
pembahasan positivisme logis ialah mengenai kebermaknaan suatu pernyataan
(kalimat), bukan kebenarannya (realitas). Kedua, adalah Alfred Jules Ayer
seorang yang memperkenalkan positivisme di luar Lingkungan Wina dengan
teorinya tentang prinsip verifikasi sebagai tolok ukur sebuah pernyataan agar
suatu pernyataan bisa dikatakan bermakna. Syarat agar pernyataan bisa dibilang
bermakna ialah observation-statement dimana penerapan prinsip verifikasi
berperan sekaligus menentukan kebermaknaan suatu pernyataan. Ketiga,
proposisi metafisika tidak bermakna karena tidak mengandung prinsip
verifikasi sebagaimana paradigma Neo-positivisme A.J. Ayer. Keempat,
relevansi verifikasi dengan ilmu pendidikan agama islam khususnya dewasa ini,
memberikan peluang besar dalam mengembangkan keilmuan yang konkret,
logis dan akurat.
2. Saran
Penulisan karya ilmiah ini masih terbatas pada kata sempurna. Oleh
karena itu, penulis mohon arahan serta masukan untuk dari seluruh pembaca
untuk memperluas pengetahuan penulis serta menambah referensi yang belum
tergenggam oleh penulis.
DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Biyanto. 2015. “Filsafat Ilmu Dan Ilmu Keislaman”. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Darwis, A. Soelaiman. 2019. “Filsafat Ilmu Pengetahuan: Perspektif Barat Dan
Islam”. Aceh: Bandar Publishing.
Muslih, Mohammad. 2016. “Filsafat Ilmu: Kajian Atas Asumsi Dasar, Paradigma,
dan Kerangka Teori Ilmu“. Yogyakarta: LESFI.
Mustajab. 2019. “Tokoh Dan Pemikiran Filsafat Islam Versus Barat”. Surabaya:
Pustaka Radja.
O. Katsoff, Louis. 1996. “Pengantar Filsafat”. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Soleh, A. Khudori. 2016. “Filsafat Islam: Dari Klasik Hingga Kontemporer”. Cet.
1. Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA.
Suaedi. 2016. “Pengantar Filsafat Ilmu”. Bogor: PT Penerbit IPB Press.
Widodo, Sembodo Ardi. 2015. “Pendidikan Dalam Perspektif Aliran-Aliran
Filsafat”. Yogyakarta: Idea Press.
Jurnal:
Amin, Husna. “Ayer Dan Kritik Logical-Positivism: Studi Metafisika Ketuhanan”,
Substantia, Volume 17 Nomor 1 (April 2015).
Ghozi. “Perspektif Zakî Najib Mahmud: Tentang Ilmu &Agama Dalam Logika”,
Teosofi: Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam, Vol. 1 No. 1 (Juni 2011).
Santoso, Iman, “Prinsip Verifikasi: Pokok Pikiran Alfred Jules Ayer Dalam
Khasanah Filsafat Bahasa”, Allemania, Vol. 4. No. 1 (Juni 2014).
Sholihah, ‘Amilatu. “Paradigma Prinsip Verifikasi A. J. Ayer dan Relevansinya
dalam Kajian”, Aqlania: Jurnal Filsafat dan Teologi Islam, Vol. 12 No. 1
(Januari-Juni) 2021.
Web:
Hilary Spurling (2000-12-24). “The Wickedest Man in Oxford”
(http://www.nytimes.com/books/00/12/24/reviews/001224.24spurlit.html).
The New York Times. Diakses tanggal 2021 Okt 12.