The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

DAMPAK KEBERADAAN PEDAGANG KAKI LIMA TERHADAP KAWASAN PEDESTRIAN

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by , 2022-02-27 08:10:33

DAMPAK KEBERADAAN PEDAGANG KAKI LIMA TERHADAP KAWASAN PEDESTRIAN

DAMPAK KEBERADAAN PEDAGANG KAKI LIMA TERHADAP KAWASAN PEDESTRIAN

DAMPAK KEBERADAAN PEDAGANG KAKI LIMA TERHADAP
KAWASAN PEDESTRIAN

Studi kasus :Kopelma Dasrussalam, Syiah Kuala, Kota Banda Aceh

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Studio Proses Perencanaan

Dosen Pengampu:
Dr.Ir. Elysa Wulandari, M.T.

Dosen pembimbing:
Arief Gunawan, S.T., M.Sc

Oleh:
An’gun Cahayani (2004110010017)

PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2021

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga saya dapat menyelesaikan tugas Laporan tentang keberadaan pedagang kaki lima
terhadap lalu lintas pedestrian ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan dari laporan ini adalah untuk memenuhi tugas yang Ibu

Dr.Ir. Elysa Wulandari, M.T. berikan. Selain itu, laporan ini juga bertujuan untuk menambah

wawasan tentang keberadaan pedagang kaki lima terhadap lalu lintas pedestrian bagi para
pembaca dan juga bagi penulis.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr.Ir. Elysa Wulandari, M.T. Selaku Guru/Dosen

bidang studi/mata kuliah Studio Proses Perencanaan yang telah memberikan tugas ini dan
bapak Arief Gunawan, S.T., M.Sc Selaku dosen pembimbing sehingga saya dapat menambah
pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi
sebagian pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan laporan ini.

Saya menyadari, Laporan yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, saya memohon maaf sebesar besarnya jika ada kesalahan atas laporan yang saya
buat ini.

Banda Aceh, 29 November 2021

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pedagang kaki lima atau disingkat PKL adalah istilah untuk menyebut penjaja
dagangan yang melakukan kegiatan komersial di atas daerah milik jalan yang seharusnya
diperuntukkan untuk pejalan kaki (pedestrian).

Terkadang dalam perancangan suatu kota, jalur pedestrian tersebut terlupakan untuk
dirancang agar memberikan kenyamanan bagi penggunanya. Di beberapa tempat, pedagang
kaki lima dipermasalahkan karena keberadaanya mengubah alih fungsi trotoar yang semestinya
sebagai jalur untuk pejalan kaki namun kini menjadi tempat atau wadah untuk para pedagang
kaki lima berjualan. Padahal jalur pedestrian memiliki fungsi utama yaitu menampung segala
aktivitas pejalan kaki dan elemen pendukung yang dapat memengaruhi kenyamanan
pedestrian. Selain itu ada PKL yang menggunakan kawasan pedestrian sering membuang
sampah dan air cuci secara sembarangan sehingga berdampak pada kebersihan lingkungan
sekitar area pedestrian.

Pusat Pedagang Kaki Lima di Kawasan Darussalam, Kota Banda Aceh adalah suatu
contoh dalam menanggapi permasalahan kawasan pedestrian yang berdampak pada
kenyamanan aksebilitas pejalan kaki dan lingkungan sekitar kawasan pedestrian. Pedagang
kaki lima (PKL) atau pedagang sektor informal ini pada umumnya adalah berasal dari golongan
pedagang yang hanya memiliki modal usaha kecil, sarana operasional dagangnya masih
sederhana, dan cenderung berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Maraknya para
PKL liar di seputaran Lapangan Tugu hingga halte Transkoeta Radja Universitas Syiah Kuala
membuat kawasan ini menjadi tidak tertib terutama terhadap aksebilitas pejalan kaki , dan
kondisi kebersihan kawasan pedestrian menjadi kotor dan kumuh.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang mengenai keberadaan pedagang kaki lima terhadap
kawasan pedestrian. Maka permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa saja dampak yang ditimbulkan dari keberadaan pedagang kaki lima di kawasan
pedestrian bagi kenyamanan aksebilitas pejalan kaki dan lingkungan sekitar kawasan
pedestrian?

1.3 Tujuan dan Sasaran
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan dan sasaran pembuatan Laporan ini adalah
sebagai berikut:

1.3.1 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penulisan Laporan Studio Proses
Perencanaan ini dapat dirinci sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi apa saja dampak yang ditimbulkan dari keberadaan pedagang kaki
lima di kawasan pedestrian bagi kenyamanan aksebilitas pejalan kaki dan
lingkungan sekitar kawasan pedestrian

1.3.2 Sasaran
Adapun sasaran dari penulisan Laporan Studio Proses Perencanaan ini adalah sebagai
berikut:

1. Mengetahui apa saja dampak yang ditimbulkan dari keberadaan pedagang kaki lima
di kawasan pedestrian bagi kenyamanan aksebilitas pejalan kaki dan lingkungan
sekitar kawasan pedestrian

1.4 Ruang Lingkup
1.4.1 Ruang Lingkup Spasial
Tempat dan lokasi studi yang akan diidentifikasi dan diulas berada di Jalan Teuku Nyak
Arief seputaran Lapangan Tugu hingga Halte Transkoeta Radja Universitas Syiah Kuala,
Kopelma Darussalam, Syiah Kula Kota Banda. Adapun batas dari kawasan Kopelma
Darussalam adalah sebagai berikut:

a. Bagian Utara : Gampong Rukoh
b. Bagian Selatan : Gampong Limpok
c. Bagian Timur : Beurabong
d. Bagian Barat : Krueng (Sungai) Aceh

Gambar 1.1 Ruang Lingkup Spasial

1.3.1 Ruang Lingkup Substansi
Ruang lingkup substansi mencakup kondisi area pedestrian yang dipenuhi oleh keberadaan
para Pedagang Kaki Lima di Jalan Teuku Nyak Arief seputaran Lapangan Tugu hingga
Halte Transkoeta Radja Universitas Syiah Kuala, Kopelma Darussalam, Syiah Kula Kota
Banda Aceh.

BAB II

KAJIAN TEORI DAN KEBIJAKAN

2.1 Kajian Teori
2.1.1 Pedagang Kaki Lima

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 125 Tahun 2012, definisi Pedagang
Kaki Lima yang disingkat PKL adalah pelaku usaha yang melakukan usaha per-dagangan
dengan menggunakan sarana usaha bergerak maupun tidak bergerak, menggunakan prasarana
kota, fasilitas sosial, fasilitas umum, lahan dan bangunan milik pemerintah dan/atau swasta
yang bersifat sementara/tidak menetap.

Pada masa penjajahan kolonial, peraturan pemerintah menetapkan bahwa setiap jalan
raya yang dibangun hendaknya menyediakan sarana untuk para pedestrian atau pejalan kaki
(sekarang ini disebut dengan trotoar). Lebar ruas untuk sarana bagi para pejalan kaki atau
trotoar ini adalah lima kaki. Pemerintah pada waktu itu juga menghimbau agar sebelah luar
dari trotoar diberi ruang yang agak lebar atau agak jauh dari pemukiman penduduk. Ruang ini
untuk dijadikan taman sebagai penghijauan dan resapan air.

Dengan adanya ruang atau tempat yang agak lebar itu kemudian para pedagang mulai
banyak menempatkan gerobaknya untuk sekedar beristirahat sambil menunggu adanya para
pembeli yang membeli dagangannya. Seiring berjalannya waktu banyak pedagang yang
memanfaatkan lokasi tersebut sebagai tempat untuk berjualan, sehingga mengundang para
pejalan kaki yang kebetulan lewat untuk membeli makanan, minuman sekaligus beristirahat.
Berawal dari situ maka Pemerintah Kolonial Belanda menyebut mereka sebagai Pedagang
Lima Kaki (buah pikiran dari pedagang yang berjualan di area pinggir perlintasan pejalan kaki
atau trotoar yang mempunyai lebar Lima Kaki).

2.1.2 Jalur Pejalan Kaki

Pejalan kaki adalah orang yang bergerak dalam satu ruang, yaitu dengan berjalan kaki.
(Shirvani, 1985) bahwa penggunanya memerlukan jalur khusus yang disebut juga sebagai
pedestrian, yang merupakan salah satu dari elemen-elemen perancangan kawasan yang dapat
menentukan keberhasilan dari proses perancangan di suatu kawasan kota. Pedestrian termasuk

dalam elemen path yang diartikan sebagai pergerakan atau sirkulasi perpindahan manusia/
pengguna dari satu tempat menuju tempat yang ditujunya dengan berjalan kaki selain itu
pedestrian juga termasuk dalam salah satu element yang dapat dijadikan pembatas dari satu
wilayah/distrik/blok. (Lynch, 1960).

Keberadaan jalur pedestrian tidak hanya sekedar sebagai pemberi kesan pada sebuah
kota, dimana jika jalan-jalan dan jalur pedestriannya mengesankan maka kota tersebut juga
akan mengesankan, namun juga harus diingat fungsi utamanya yait sebagai wadah bagi pejalan
kaki untuk dapat bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan aman dan
nyaman, tanpa rasa takut baik terhadap sesama pengguna jalur tersebut maupun kendaraan.
(Jacobs, 1961)

Jalur pedestrian dalam konteks perkotaan biasanya dimaksudkan sebagai ruang khusus
untuk pejalan kaki yang berfungsi sebagai sarana pencapaian yang dapat melindungi pejalan
kaki dari bahaya yang datang dari sebuah kendaraan. Di Indonesia sendiri lebih dikenal dengan
trotoar, yang berarti jalur jalan kecil selebar 1,5 meter sampai 2 meter atau lebih memanjang
sepanjang jalan umum.

Kenyamanan orang berjalan kaki dipengaruhi oleh cuaca dan jenis aktifitas. Tingkat
kenyamanan pejalan kaki dalam melakukan aktivitas berjalan dapat dicapai apabila jalur
pedestrian tersebut lancar dan bebas hambatan untuk berjalan tanpa adanya gangguan dari
aktivitas lain yang memakai jalur tersebut, selain itu jalur pedestrian harus lebar agar dapat
menampung arus lalu lintas pejalan kaki dari dua arah.

2.2 Kebijakan
2.2.1 Qanun Provinsi Aceh

Dalam Pasal 9 ayat (1) Qanun Kota Banda Aceh Nomor 3 Tahun 2007 Tentang
Pengaturan dan PembinaanPedagang Kaki Lima, dijelaskan “Untuk mempergunakan tempat
usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), setiap Pedagang Kaki Lima harus
mendapatkan izin tertulis terlebih dahulu dari Walikota.” Namun dalam kenyataannya
Pedagang kaki lima atau yang sering disebut PKL masih banyak yang belum mempuyai izin
tempat usaha tertulis dan hal ini PKL menimbulkan persoalan mengenai terganggunya
keindahan kota dengan berjualan memanfaatkan area pinggir jalan raya untuk memenuhi
kebetuhan ekonomi.

2.2.2 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 03/PRT/M/2014

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 03/PRT/M/2014 tentang pedoman
perencanaan, penyediaan, dan pemanfaatan prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki di
Kawasan Perkotaan. Peraturan Menteri ini dimaksudkan sebagai acuan bagi pemerintah
kabupaten/kota, perencana, dan pihak terkait dalam perencanaan, penyediaan, dan
pemanfaatan prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki pada rencana tata ruang wilayah
kabupaten/kota, rencana tata kawasan strategis kabupaten/kota, rencana tata bangunan dan
lingkungan, detailed engineering design. Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:

Pejalan Kaki adalah setiap orang yang berjalan di ruang lalu lintas jalan. Jaringan
Pejalan Kaki adalah ruas pejalan kaki, baik yang terintegrasi maupun terpisah dengan jalan,
yang diperuntukkan untuk prasarana dan sarana pejalan kaki serta menghubungkan pusat-
pusat kegiatan dan/atau fasilitas pergantian moda. Prasarana dan Sarana Jaringan Pejalan Kaki
adalah fasilitas yang disediakan di sepanjang jaringan pejalan kaki untuk menjamin
keselamatan dan kenyamanan pejalan kaki.

Peraturan Menteri ini bertujuan untuk mewujudkan jaringan pejalan kaki di kawasan
perkotaan yang aman, nyaman, dan manusiawi sehingga mendorong masyarakat untuk
berjalan kaki dan menggunakan transportasi publik.

Ruang lingkup Peraturan Menteri ini meliputi:
a. Ketentuan perencanaan prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki;
b. Ketentuan penyediaan prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki;
c. Ketentuan pemanfaatan prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki; dan
d. Tata cara perencanaan, penyediaan, dan pemanfaatan prasarana dan sarana jaringan

pejalan kaki.

BAB III

METODOLOGI PERENCANAAN

3.1 Metode Perencanaan

Penelitian ini menggunakan metode survey deskriptif Kualitatif. Suharto (2003: 99)
mengemukakan bahwa metode survei deskriptif digunakan untuk mengumpulkan data hasil
survey dengan pengamatan sederhana. Selanjutnya peneliti menggolongkan kejadian-kejadian
tersebut berdasarkan pengamatan melalui pengumpulan kuesioner, pengumpulan pendapat,
dan pengamatan fisik.

Penelitian deskriptif memusatkan perhatian kepada pemecahan masalah–masalah
aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian dilaksanakan. Dalam pelaksanaan penelitian
deskriptif, diharapkan dapat merumuskan masalah terkait dengan variable yang diteliti dan
menentukan jenis data yang diperlukan terkait dengan data kuantitatif dan kualitatif. Serta
menentukan prosedur pengolahan data hingga kemudian data dianalisa dan dapat disimpulkan.

Dalam penulisan laporan ini, hasil perencanaan dituangkan menggunakan kata-kata
tertulis dan didukung dengan data yang dapat memperkuat laporan hasil pembahasan. Dalam
perencanaan penelitian dan masa pengumpulan data, pengamatan objek studi perencanaan
dampak keberadaan pedagang kaki lima terhadap kawasan pedestrian secara langsung akan
dilaksanakan oleh penulis dikawasan Jalan Teuku Nyak Arief seputaran Lapangan Tugu
hingga Halte Transkoeta Radja Universitas Syiah Kuala, Kopelma Darussalam, Syiah Kula
Kota Banda Aceh.

3.2 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan hal krusial dalam meneyelesaikan laporan studio
proses perencanaan yang sedang dalam tahap penyelesaian. Keakuratan dan keaslian data
merupakan hal penting dan dapat berdampak pada hasil akhir laporan perencanaan. Metode
pengumpulan data yang akan dilakukan oleh penulis adalah menggunakan data primer :

Dalam pengumpulan data primer, penulis menggunakan dua teknik pengumpulan data, anatara
lain :

1) Observasi
Dokumentasi kondisi eksisiting kawasan wilayah studi. Observasi lapangan menegenai
dampak keberadaan pedagang kaki lima terhadap lingkungan sekitar area bedestrian.
Serta melihat secara langsung letak permasalahan dan potensi yang dapat dikembangkan
seluas kawasan studi yang telah diputuskan.

2) Kuesioner
Untuk data kuisioner penulis akan menyebarkannya dengan metode online, dengan
target pengumpulan sampel sebanyak 30 data dari sejumlah pejalan kaki aktif yang
melewati kawasan Jalan Teuku Nyak Arief seputaran Lapangan Tugu hingga Halte
Transkoeta Radja Universitas Syiah Kuala, Kopelma Darussalam, Syiah Kula Kota
Banda Aceh, untuk mengetahui Untuk mengetahui persepsi pejalan kaki terhadap
dampak yang dirasakan akibat keberadaan para PKL dipedestrian. Metode ini akan
dilakukan dengan penyebaran kuisioner acak, sehingga hasil yang di dapatkan dapat
imbang tanpa memberatkan salah satu pihak yang menjadi target pengisian sampel.
Berikut lapiran kuesioner yang akan disebarkan kepada sejumlah pejalan kaki aktif yang
melewati kawasan Jalan Teuku Nyak Arief seputaran Lapangan Tugu hingga Halte
Transkoeta Radja Universitas Syiah Kuala, Kopelma Darussalam, Syiah Kula Kota
Banda Aceh.

KUESIONER PERSEPSI PEJALAN KAKI TERHADAP DAMPAK KEBERADAAN
PEDAGANG KAKI LIMA DI KAWASAN PEDESTRIAN

A. Identitas Penilai

Nama :

Alamat :

Usia :

Jenis Kelamin :

Pekerjaan :

B. Pertanyaan Kuesioner
Petunjuk pengisian : berilah tanda () untuk jawaban yang anda berikan pada kotak yang
telah disediakan.
1. Seberapa sering Anda berjalan kaki dikawasan pedestrian ?
kali dalam sehari
Lebih dari 2 kali dalam sehari
2 kali dalam seminggu
Lebih dari 2 kali dalam seminggu

2. Untuk tujuan apa Anda berjalan kaki dikawasan pedestrian?
Bekerja
Ke Kampus
Jalan-jalan santai
Lainnya (sebutkan):……………………………………………………………..

3. Moda apa yang Anda gunakan sebelum dan setelah berjalan kaki?
Kendaraan pribadi (mobil dan sepeda motor)
Kedaraan umum (Transkoeta Radja)
Berjalan kaki
Lainnya (sebutkan):……………………………………………………………..

4. Apakah lebar trotoar yang tersedia sudah memenuhi kebutuhan aksebilitas anda?
Ya
Tidak

5. Menurut pendapat Anda, apakah jalur pejalan kaki yang Anda lewati selama ini sudah
nyaman?
Ya
Tidak

6. Apakah Anda merasa terganggu dengan keberadaan pedagang kaki-lima di sepanjang
trotoar yang Anda lewati?
Ya
Tidak
Alasannya:………………………………………………………………………

3.3 Desain Survey
Demikian dilampirkan tabel desain survey tentang dampak keberadaan
Arief seputaran Lapangan Tugu hingga Halte Transkoeta Radja Unive

NO TUJUAN VARIABEL

1. Mengidentifikasi apa saja • Kondisi kawasan •

dampak yang ditimbulkan pedestrian akibat •
dari keberadaan pedagang keberadaan PKL
kaki lima di kawasan
• Persepsi pejalan kaki akibat

keberadaan PKL di

pedestrian bagi kenyamanan kawasan pedestrian

aksebilitas pejalan kaki dan

lingkungan sekitar kawasan

pedestrian

Table 3.1 Daftar

n Pedagang Kaki Lima terhadap kawasan pedestrian di Jalan Teuku Nyak
ersitas Syiah Kuala, Kopelma Darussalam, Syiah Kula Kota Banda Aceh.

SUMBER DATA METODE OUTPUT
ANALISIS

• Observasi Metode Deskriptif Mengetahui apa saja
• Kuesioner Kualitatif dampak keberadaan
para PKL di Kawasan
pedestrian terhadap
para pengguna jalur
pejalan kaki dan
bagaimana dampak
keberdaan para PKL
terhadap kawasan
sekitar pedestrian

r kebutuhan Data

3.4 Pelaksanaan Kegiatan

Kegiatan ini dilaksanakan Selama empat bulan, dimulai dari bulan September hingga

bulan desember. Rincian kegiatan dapat dilihat pada tabel.

NO Kegiatan Jadwal
September Oktober November Desember
1234123412341234

A. Tahap Persiapan

1. Menyiapkan List Kebutuhan Data
2. Membuat Rencana Kerja
3. Survey Awal
4. Mengumpulkan Data Sekunder
5. Membuat Peta Dasar
6. Membuat Tor
7. Meninjau Kebijakan
8 Menyusun Laporan Pendahuluan
9. Evaluasi Laporan Pendahuluan
10. Merevisi Laporan Pendahuluan

B. Tahap Pengumpulan dan Pengolahan Data

1. Melakukan Survey Kedua

2. Mengumpulkan Data (Prime
DanSekunder)

3. Melengkapi Data

4. Mengolah Data

5. Evaluasi Laporan Data

6. Merevisi Laporan Data

C. Tahap Akhir

1. Menyusun Laporan Akhir
2. Evaluasi Laporan Akhir
3. Merevisi Laporan Akhir

Table 3.2 Rincian Kegiatan Studio Proses Perencanaan

BAB IV
GAMBARAN UMUM WILAYAH

4.1 Letak Geografis dan Batas Administrasi Wilayah Studi

Kopelma Darussalam adalah sebuah gampong di Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda
Aceh. Memiliki luas sebesar 275 Hektar, yang terbagi atas 5 dusun yaitu dusun timur, dusun
barat, dusun selatan, dusun utara dan dusun sederhana, yang memiliki jumlah penduduk sekitar
3976 orang diantaranya 1892 penduduk laki-laki dan 2084 penduduk perempuan dengan
jumlah total Kartu Keluarga adalah 1094 KK. Adapun batas-batas administrasi dari kawasan
kopelma Darussalam adalah sebagai berikut:

a. Bagian Utara : Gampong Rukoh
b. Bagian Selatan : Gampong Limpok
c. Bagian Timur : Beurabong
d. Bagian Barat : Krueng (Sungai) Aceh

Gambar 4.1 Batas Administrasi Gampong Kopelma Dasrussalam

Tempat dan lokasi studi yang akan diidentifikasi dan diulas berada Jalan Teuku Nyak Arief
seputaran Lapangan Tugu hingga Halte Transkoeta Radja Universitas Syiah Kuala, Kopelma
Darussalam, Syiah Kula Kota Banda yang memiliki jarak kurang lebih 70 m dan lokasi studi
merupakan jalan akses utama menuju Universitas Syiah Kuala dan Universitas Islam Negeri
Ar-Raniry. Berdasarkan klasifikasi fungsinya, jalan Teuku Nyak Arief dikelompokkan
kedalam jalan arteri primer.

Gambar 4.2 Kawasan Wilayah Studi

BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Click to View FlipBook Version