243 Lelaki yang kehilangan berat badan sebanyak lima kilo itu mengembuskan napas panjang, kemudian meneguk minumannya perlahan. “Sudah. Aku tidak ingin menjadi aktor lagi,” jawabnya mantap seraya menghunjamkan pandangan ke arah SuYeon lekat-lekat. “Dan aku ingin berhenti menyakitimu,” lanjutnya yang serta-merta membuat perasaan hangat seolah membuncah dari tubuh wanita yang kini tergeragap dari duduknya. Pipi Su-Yeon langsung bersemu merah. Wine mungkin bisa menjadikan alasan mengapa sekarang pipinya bisa terlihat seperti itu. Demi Tuhan, mengapa ia masih merona hanya karena Rye-On memperlakukannya secara romantis? Mereka bukan baru kenal kemarin sore! “Terlepas dari semua itu,” Rye-On mengalihkan pandang, “kontrakku dengan VE berakhir dua bulan lagi. Tadinya, aku tak pernah akan memikirkan dua kali untuk memperpanjangnya. Tapi setelah apa yang terjadi, sepertinya aku ingin berhenti bekerja sama dengan mereka.” Releks Su-Yeon menggeleng. “Lalu bagaimana dengan Key Oppa? Atau Yoon-Hee?” Ah, Su-Yeon jadi ingat akan sahabat-sahabatnya itu. Saat tahu apa yang dialami Su-Yeon beberapa hari belakangan, Yoon-Hee membuatkan sebuah gaun sederhana, tapi nyentrik untuknya. Sampai sekarang Su-Yeon masih belum memutuskan akan mengenakan gaun berwarna perpaduan hijau, biru tua, dan kuning cerah itu ke mana. Sementara Yeon-Joo berjanji akan membuatkan gaun pengantin kalau ia dan Rye-On menikah nanti. Bagi Su-Yeon, ini adalah tawaran yang super menggembirakan. Soo-Ae berjanji akan memberitakan mengenai Rye-On yang baik-baik saja, sedangkan Chae-Rin mengatakan sedang membuatkan lagu
244 yang terinspirasi dari kisah cinta Rye-On dan sahabatnya yang pelik. Wanita-wanitanya itu memang selalu ada saat dibutuhkan. Meski Su-Yeon tahu kalau sembilan puluh persen dari ucapan mereka adalah omong kosong, tapi setidaknya mereka meluangkan waktu untuk menghiburnya. Rye-On terkekeh pendek. “Dia sudah ada sebelum aku masuk ke VE. Kau tak perlu mencemaskannya.” Sambil mengembuskan napas lega, Su-Yeon menatap Rye-On yang tampak lebih kuat dibanding Rye-On beberapa minggu lalu. Ada pancaran semangat dari binar matanya. Akhirnya, Su-Yeon mengangguk, kemudian menjangkau tangan Rye-On yang menangkup di atas meja. “Apa pun keputusanmu, Rye-On,” ia mengeratkan genggamannya, “aku dukung sepenuhnya.” Di hadapannya, Rye-On tersenyum lebar seraya menggumamkan terima kasih. Rye-On lalu tersenyum lebar. “Tapi sebelum itu, kurasa kita harus melakukan sesuatu.” Mendengar itu, Su-Yeon langsung mengerang tertahan. “ Benar, inilah waktunya.” Lelaki itu mengangguk mantap. “Yup, ini waktunya,” ulangnya penuh keyakinan. ***
245 “nuna?!” panggil Hyun-Jae dengan raut kaget saat melihat kakaknya berdiri di depan pintu apartemen mereka di Deokso. Anak itu memang lebih dulu pulang setelah membujuk Ae-Ri waktu itu. Lagi pula, menurut Eomma, Hyun-Jae tidak bisa serius belajar jika terus-terusan berada di Seoul. “Kenapa tidak bilang akan pulang?” tanyanya sambil celingukan memperhatikan Su-Yeon yang melambai singkat ke arahnya sambil tersenyum lebar. “Kenapa kau tidak—Hyung!” jerit Hyun-Jae kemudian saat melihat Rye-On tiba-tiba muncul dari sisi kanan. “Kakau ke sini? Wah, aku rindu sekali padamu!” katanya sambil menerjang Rye-On yang nyaris terjungkal karena Hyun-Jae hampir bisa dibilang menubruk tubuhnya. Epilog
246 “Sudah, sudah, kau berlebihan sekali,” tegur Su-Yeon seraya menepuk-nepuk punggung adiknya yang masih memeluk kekasihnya begitu erat. “Kenapa kau malah mengabaikanku?” protesnya kemudian seakan baru tersadar akan kejanggalan itu. “Aku sudah bosan pada Nuna,” jawabnya tidak tahu diri, membuat Su-Yeon nyaris menggeplak kepalanya. “Kau i—” “Ahn Su-Yeon?” Tiba-tiba terdengar suara Eomma dari arah dalam, membuat mereka bertiga membeku. Astaga, mereka lupa keberadaan Eomma. “Kaukah itu?” tanyanya dengan suara yang terdengar semakin dekat. Ketiganya saling pandang. Sambil melepaskan pelukan dari Rye-On, Hyun-Jae menepuk pundak lelaki itu pelan. “Good luck, Hyung,” katanya, lalu berlari ke dalam, digantiin dengan sosok Eomma yang tampak kaget melihat siapa yang datang. “Aku pulang!” kata Su-Yeon tertahan saat tak ada komentar yang keluar dari mulut ibunya. “Kenapa tidak bilang akan datang?” tanyanya, berusaha mengabaikan Rye-On yang berdiri di sebelah putrinya. “Untung aku sedang menyiapkan makan malam,” beri tahunya. Su-Yeon menggigit bibir dan melirik Rye-On gelisah. “Eomma, ini Kim Rye-On....” “Jangan banyak bicara! Cepat ajak tamumu masuk,” suruh ibunya, lalu bergegas ke dapur. “Annyeong haseyo, Eomoni!” kata Rye-On akhirnya setelah lama ia berpandangan dengan Su-Yeon yang balas mengedikkan bahu. Ia juga tidak tahu situasi macam apa yang terjadi. Tidak biasanya Eomma bertingkah begitu. Sambil melangkah maju dan membungkukkan badan sembilan puluh derajat, Rye-On kembali buka suara, “Saya Kim Rye-On,” lanjutnya memperkenalkan diri.
247 Tak lama, Appa keluar dari kamar dengan rambut kusut. “Lho, ada tamu?” tanyanya enteng sebelum duduk di sofa ruang tengah. “Annyeong haseyo, Abeoji. Saya Kim Rye-On.” Kali ini, ia membungkuk ke hadapan pria yang tengah membuka koran tersebut. Appa melirik sedikit, lalu mengangguk. “Duduklah. Entah mengapa aku seperti sudah lama mengenalmu,” komentarnya setelah menatap Rye-On agak lama. Lagi-lagi, Su-Yeon dan Rye-On saling tatap. Keduanya benar-benar tidak tahu apa yang merasuki orangtua Su-Yeon tersebut. “Appa dan Eomma memintaku mencarikan judul drama Hyung,” seru Hyun-Jae dari kamarnya. “Mereka berdua menonton semuanya secara maraton,” lanjutnya, kali ini sambil melongokkan kepala di pintu. Baik Su-Yeon atau Rye-On lantas ternganga. “Be-benarkah?” tanya Su-Yeon tergeragap. Bagaimana bisa ayah dan ibunya meluangkan waktu berharga mereka untuk menyaksikan tayangan yang selama ini mereka cela? Dari sofa, Appa mengangguk-angguk. “Aktingmu boleh juga,” komentarnya, lalu kembali memfokuskan pandangan ke surat kabar yang membentang di depannya. Tak lama, Eomma memanggil semuanya untuk berkumpul di meja makan. Ada banyak sekali hidangan di meja, membuat Rye-On yang selama ini hanya melahap makanan restoran atau instan terkagum-kagum. Di lain sisi, ia masih merasa asing bergabung bersama keluarga Ahn. Cara penyambutan mereka yang aneh masih membuatnya agak waswas. “Jadi apa Hyung masih akan menjadi selebritas setelah apa yang terjadi?” tanya Hyun-Jae sambil memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.
248 Rye-On yang sedari tadi berusaha fokus menelan makanannya, langsung menggeleng cepat-cepat. Bukankah ibu Su-Yeon tidak suka profesinya itu? “Aku... aku ingin mengundurkan diri,” jawabnya setelah melihat Su-Yeon memberi kode agar dirinya mengatakan yang sebenarnya. “Benarkah?” tanya anak itu lagi dengan raut kaget bukan main. “Itu artinya kau akan jadi pengangguran?” “Ya!” Su-Yeon langsung menegurnya karena kelewatan. “Tidak. Aku akan melanjutkan sekolah profesi untuk menjadi,” Rye-On melirik ayah dan ibu Su-Yeon yang tampak menanti jawabannya penuh minat, “pengacara,” lanjutnya akhirnya. Appa lantas berdeham, diam-diam menyembunyikan senyum. Pun dengan Eomma yang tak bisa mengaburkan binar dalam matanya. “Wow, keren!” sambut Hyun-Jae seraya mengacungkan jempol. “Tapi kalau kau pensiun, aku tak bisa ketemu Ae-Ri lagi, dong,” desahnya kecewa. “Kau kan tahu di mana dia tinggal,” komentar Rye-On ala kadar. Pikirannya masih menganalisa gerak-gerik ayah dan ibu kekasihnya. “Dengar-dengar, kau suka abalone ya?” Akhirnya Eomma bertanya juga. “Y-ya, Eomoni.” Rye-On mengangguk. Ia mengangguk-angguk. “Nanti kubuatkan jeonbojuk kalau kau sudah jadi menantuku.” Dari sisi lain, Appa ikutan bertanya, “Jadi, kapan kalian menikah?” Di hadapannya, Rye-On lantas terbatuk dengan wajah memerah. Apa itu artinya mereka sudah mendapatkan restu? Di sebelahnya, Su-Yeon tersenyum lebar. Wanita itu lalu menggenggam tangannya di bawah meja dengan mata
249 berkaca-kaca. Ia tidak menyangka bahwa orangtuanya akan membiarkan mereka menikah. Tadinya, ia memikirkan akan ada drama seperti yang sudah-sudah. Namun, ternyata apa yang dipikirkannya salah. Benar apa yang dikatakan semua orang, bahwa tempat terbaik di seluruh muka bumi ini adalah rumah. Dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Melihat kerendahan hati Appa dan Eomma tersebut, Su-Yeon lantas buka suara, “Terima kasih, Appa, Eomma.” Karena sudah membiarkan lelaki pilihanku menjadi anggota baru keluarga kita. Appa mengangguk, pun dengan Eomma yang sama terharunya dengan putrinya. “Melihat apa yang terjadi, kami tahu kalau Kim Rye-On adalah lelaki yang tepat untuk mendampingimu.” “Jagalah Su-Yeon untuk kami, Rye-On. Dia adalah putri kami satu-satunya. Tak bisa kukatakan betapa beruntungnya kau mendapatkan dia,” ujar Appa penuh kesungguhan. Dari posisinya, Rye-On lantas berdiri dan membungkuk hormat kepada calon mertuanya tersebut. “Meski aku tidak akan bisa memperlihatkan seisi dunia kepadanya,” katanya sambil memandangi Su-Yeon lekat, “tapi aku akan menunjukkan seperti apa itu bahagia.” Mendengar kalimat tersebut, Su-Yeon tak bisa lagi membendung air matanya. Di hadapan keluarga yang dicintainya, lelaki yang memiliki hatinya mengatakan apa yang selama ini ingin ia dengar. Jika ditanya apa momen yang paling berharga dalam hidupnya, tanpa ragu lagi Su-Yeon akan menjawab, “Hari ini.” Karena hari inilah kebahagiaannya tergenapi. —end—
250 adelIany Azfar adalah seorang gadis minang yang dilahirkan dua puluh lima tahun lalu di sebuah kota kecil di Sumatera Barat, Batusangkar. Adelia senang membaca novel roman, baik novel lokal atau terjemahan. Selain senang membaca, Adelia juga senang mendengarkan musik dari berbagai genre. Semua disesuaikan dengan mood. Ia bermimpi untuk dapat memiliki sebuah penerbitan sendiri suatu hari nanti. Karena bagaimanapun, Adelia percaya bahwa sesuatu yang besar dimulai dari sebuah mimpi. Jadi, ia tak pernah takut untuk memimpikan sesuatu yang di luar jangkauannya karena dirinya percaya bahwa keajaiban itu nyata. Adelia dapat dihubungi di: Instagram: @adeliaazfar Tentang Penulis
Ahn Su-Yeon Usia 27 tahun. Karier gemilang sebagai pengacara. Punya pacar seorang aktor yang sedang naik daun. Dikelilingi para sahabat yang menyayanginya. Namun, satu hal yang tidak dimilikinya, yaitu restu orangtua untuk meresmikan hubungan dengan Rye-On, kekasihnya. Alasannya hanya satu, ibunya tidak suka punya menantu seorang selebritas. Heol! Kim Rye-On Usia 27 tahun. Lulusan sekolah hukum. Memilih pengacara sukses. Digila-gilai lawan mainnya yang menawan. Namun, selain belum mendapatkan restu untuk menikahi Ahn Su-Yeon, Rye-On juga dihadapkan pada kenyataan di mana ia harus memilih antara wanita atau karier yang dicintainya.