NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 1
ABOU T US
CEO: Hanan Jalil BANYUWANGI: Rozik
COO: Bagus Ary Wicaksono JEMBER, BONDOWOSO: Sutrisno
CMO: Febri Setyawan PROBOLINGGO: Rahmad Sholeh
ADVISORY BOARD: Nurcholis KALIMANTAN
Sunuyeko, KOTA BANJARBARU: Mardiyan
Edi Hayatullah, Hasan Abadi, Kresna Rudi Hartoyo
D. P. NTT
TIM REDAKSI CO: Matias Kayun
PEMIMPIN REDAKSI/PEMIMPIN KUPANG: Inosentius Naitio
UMUM/PENANGGUNG KAB TIMOR TENGAH
JAWAB: Riyadi Ngasiran SELATAN: Jekson Foat
REDAKTUR PELAKSANA: Hendik KAB SUMBA TIMUR: Ferdi Yulius
Budi Yuantoro Lukas
DEWAN REDAKSI: Awan Abdullah, CO JABAR: Tatang
Gatot Susanto, Nur Fakih, M. Mujib, CO JATENG: Bimo S
Yuristiarso Hidayat, Bagus Ary CO BANYUWANGI & BALI: Imam S
Wicaksono, Febri Setiyawan CO SULAWESI SELATAN: Ulil Albab
SEKRETARIS REDAKSI: Lionita Nidia CO SUMSEL: Noverta
Anavi CREATIVE & IT
REDAKTUR AHLI CO CREATIVE: Angga Wijanarko
ARKEOLOGI DAN SEJARAH: Dr. Dwi CO ND CHANNEL: Moh. Haikal
Cahyono Aslikh R
SOSIOLOGI POLITIK: Dr. Wahyudi CO IT: Prima
Winarjo TRANSLATOR
KESEHATAN: dr. Santoso Rahardjo BAHASA INGGRIS
SpOG MT Nalendro Sakti
HUKUM: Wahyudi Hidayat SH BAHASA CHINA
EKONOMI: Dr. Noor Shodiq Shofa Amelia
Askandar BAHASA ARAB
JAKARTA Mickyal Fichriz Balada Bella
CO: M. Mujib TIM MANAJEMEN
MABES POLRI, KEJAGUNG & GM BUSINESS: Yuyut Teguh
KPK: Dani GM SALES & DIGITAL ADVERTISING:
PARLEMEN: Olyvia Syntia Dewi Budi UKM
ISTANA: Huda Sabily CO DIVISI ANTAR LEMBAGA: Afin
POLDA METRO JAYA, PEMPROV & Kusani
DPRD DKI: Daniel PENGEMBANGAN USAHA: Henri
KEMENAG & KEMENSOS: A. Huda DIVISI HUKUM: Kantor Advokat &
KEMENTERIAN: Sirhan Sahri Konsultan Hukum Wahyudi Hidayat
SURABAYA: Yuristiarso Hidayat, SH & Associates
Isma Hakim Rahmat OMBUDSMAN: Ahmad Hasan SH
MOJOKERTO: Karina Norhadini ALAMAT REDAKSI
LAMONGAN: Amelia PUSAT: BTC Guest House Jl. Jaksa
SUMENEP: Nurul Anam Agung Suprapto II/52 Kota Malang
MALANG RAYA TELP: (0341) 3016519
KOTA BATU: M. Noer Hadi PERWAKILAN
KOTA MALANG: Amanda Egatya JAKARTA: Jl . Veteran 1 no. 26,
KABUPATEN MALANG: Ajeng Jasita Gambir Jakarta Pusat
Ingtyas SURABAYA: JX International Area
MATARAMAN: Office Basement blok A3 Jl. A. Yani
BLITAR RAYA: Fathan Hadi 99 Surabaya
TULUNGAGUNG: F. Iman MATARAMAN: Jl. Sumatra 112, Kel.
TRENGGALEK: Aby Karuniawan Sananwetan Kota Blitar
MAGETAN, PONOROGO: Riyanto KUPANG: Jl. Pisang RT: 027/RW: 009
TAPAL KUDA Kel. Oebobo Kec. Oebobo Kota
PASURUAN: Arie Yoenianto Kupang, NTT
# 2 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
CE O NO TE
praktik ilmu santet atau teluh di
wilayah Banten sudah dihayati dari
masa ke masa sejak zaman Banten
Lama atau sebelum masuknya
Islam.
Namun, praktik itu menjadi lebih
menonjol justru setelah Islam
dianut oleh penduduk Banten. Ini
disebabkan pada masa Hindu dan
Budha, unsur-unsur praktik magis
terlihat samar dan bercampur-
baur dengan unsur kepercayaan
animisme-dinamisme.
Menurut keyakinan penduduk
Banten, terdapat bermacam ilmu
teluh berdasarkan caranya: teluh
angin, teluh banyu, teluh geni,
dan teluh pangjarahan. Dua yang
pertama mengirim benda-benda
Salam Hormat, seperti jarum, paku, dan beling
Di Indonesia, santet atau teluh, (pecahan kaca) lewat angin dan air.
sihir, tenung, dan hal-hal yang Teluh geni (api/baja) memberi
dipandang bersumber dari dunia hasil lebih cepat, dengan
lain (otherworldly power) sudah memasukkan pisau kecil ke dalam
lama dikenal. Hampir setiap daerah sebuah gelas, ditutup kain, dan
memiliki tradisi mengirimkan dibacakan mantra-mantra; jika
energi negatif jarak jauh dengan pisau hilang dan air menjadi merah
maksud mencelakai orang lain. pertanda korban sebentar lagi
Menurut sejarawan Edi S. mengalami bencana.
Ekadjati, sebagaimana dikutip Sementara teluh pangjarahan
A. Masruri dalam The Secret of dilakukan dengan meminta kepada
Santet, ilmu teluh atau santet roh halus yang menempati kuburan.
adalah warisan masa lalu yang terus Ditengah kontroversi tafsir
bertahan dalam masyarakat hingga terhadap santet dan dunia
kini. perdukunan di Indonesia, segelintir
Edi merujuk naskah lontar yang masyarakat di Banyuwangi, justru
ditulis pada abad ke-6, Sanghyang mendeklarasikan perkumpulannya
Siksa Kandang Karesian. Naskah ini dengan dalih ingin meluruskan
menyebut teluh adalah perasaan persepsi masyarakat tentang santet.
sakit hati, murung, dan tidak senang Padahal Majelis Ulama Indonesia
yang dialihkan kepada orang lain. (MUI) dengan tegas melarang dunia
Dalam disertasinya di Universitas perdukunan karena tidak sesuai
Indonesia berjudul “Reaksi Sosial dengan ajaran agama.
Terhadap Tersangka Dukun Teluh
di Pedesaan Banten Jawa Barat Selamat Membaca,
(1985-1990)”, krimonolog Tb. Ronny Hanan Jalil
Nitibaskara menjelaskan bahwa CEO Nusa Daily Group
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 3
C ONTENT
Santet
6. Kata Disbudpar Banyuwangi Soal Festival Santet 20. Kontroversi Festival Santet, Sejarah Kelamnya
yang Digagas Perdunu dan Citra Kota Pariwisata Banyuwangi (2)
9. Didesak Ganti Nama Organisasi dan Istilah 29. Misteri Radiogram Bupati Purnomo saat Tragedi
Festival Santet, Jawaban Perdunu Banyuwangi ’98 (3)
12. Beda Santet dan Sihir Versi Perdunu 32. Ilmu Santet, dari Ilmu Putih Menjadi Ilmu Hitam (4)
15. Kontroversi Festival Santet, Sejarah Kelamnya dan 34. Fenomena Perdunu dan Santet: Antara Kearifan
Citra Banyuwangi sebagai Kota Pariwisata (1) Lokal dan Politik (5)
38. Perdunu Akhirnya Hapus Festival Santet
# 4 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
C ONTENT
News
40. Guspardi Gaus
Desak SKB Tiga
Menteri Dibatalkan,
Soal Atribut Sekolah
Pemerintah Gagal
Paham
44. Putri Pertama
Gusdur Tentang
SKB 3 Menteri
46. PBNU: Adanya
SKB Soal Seragam
Dinilai Sudah Tepat
51. MUI Sikapi SKB
3 Menteri, Desak
Segera Direvisi
Valentine
60. 5 Makanan
Pengganti
Coke lat
untuk Hadiah
Valentine
62. 10 Tempat
Wisata yang
Dipercaya
Bisa Membuat
Enteng Jodoh
Imlek 2021
55. Tidak Ada Perayaan
Imlek, Produsen
Lampion Sepi
Orderan
58. Tak Ada Perayaan
Cap Go Meh di
Tahun Baru Imlek
Kerbau Logam
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 5
FESTIVAL SANTET PERDUNU
Kata Disbudpar
Banyuwangi
inas Kebudayaan dan Pariwisata Mungkin sifatnya personal. Makanya kita
Banyuwangi angkat bicara terkait bersama dengan DKB akan melakukan
DFestival Santet yang rencananya klarifikasi,” kata Kepala Dinas Kebudayaan
akan digelar oleh Persatuan Dukun dan Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda
Nusantara (Perdunu). Dalam waktu dekat, saat dikonfirmasi wartawan.
Disbudpar bersama Dewan Kesenian Bramuda juga belum mengetahui
Blambangan (DKB) akan mengklarifikasi rencana Festival Santet yang akan digelar
hal tersebut kepada perkumpulan dukun oleh Perdunu. Karena memang, sampai
yang baru berdiri tersebut. detik ini Pemkab Banyuwangi belum
“Kita belum tahu itu organisasi apa. mengagendakan kegiatan Festival di
Makanya kita akan melakukan klarifikasi. tahun 2021 mengingat Pandemi Covid-19
# 6 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
belum berlalu. destinasi mistis di Banyuwangi. Yang
“Jika ngomong festival pasti melekat ada kata dia, adalah wisata religi. Wisata
Pemkab Banyuwangi. Tapi Festival santet ini merujuk pada minta masyarakat
itu tidak ada. Kami baru mencanangkan berkunjung di suatu tempat ibadah
wisata sehat. Dalam artian wisata dengan ataupun tempat sakral lainnya.
prokotol kesehatan ketat ditengah “Ndak ada wisata mistis atau destinasi
Pandemi COVID-19,” tambahnya. mistis. Adanya wisata religi. Seperti
Sementara terkait destinasi mistis, Alaspurwo, Pura dan makam Bupati
kata pria yang akrab dipanggil Bram ini, zaman terdahulu. Mungkin ini akan kita
mengaku selama ini tidak ada penyebutan sinergikan dan kita luruskan,” tambahnya.
SEPULUH TAHUN BRANDING KOTA WISATA
Menurut Bramuda, selama sepuluh Oleh sebab itulah, Bramuda mengajak
tahun terakhir, Pemkab Banyuwangi telah kepada semua pihak agar menjaga
berupaya membangun stigma kota wisata nama baik Banyuwangi yang kini sudah
di Kota Gandrung. Hal ini dilakukan untuk dikenal sebagai Kota Pariwisata, baik
menghapus stigma buruk pada zaman oleh wisatawan domestik maupun
dahulu, di mana Kota Ujung Timur Pulau mancanegara.
Jawa ini terkenal dengan sebutan Kota “Kita tidak ingin hal yang buruk pada
Santet. zaman dahulu itu menjadikan Banyuwangi
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 7
kota yang buruk. Nama baik yang sudah terkait ilmu-ilmu spiritual yang masih
kita bangun selama 10 tahun ini jangan ada di Banyuwangi. “Kita akan menggelar
dikotori dengan stigma yang jelek itu lagi,” festival santet. Banyak macam yang
pungkasnya. akan kita gelar di festival tersebut. Nanti
Seperti diketahui, sejumlah bagaimana pengenalaan orang terkena
pakar perdukunan di Banyuwangi santet atau sihir dan cara pengobatannya,”
mendeklarasikan organisasi bernama kata Ketua Umum Perdunu, Gus Abdul
Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu). Fatah Hasan.
Salah satu program kerja Perdunu ialah Selain itu, pihaknya juga akan
menggagas adanya “Festival Santet” yang mengenalkan sejumlah destinasi mistis
digelar setiap bulan Suro. Festifal Santet yang ada di Banyuwangi. Seperti Alas
ini digelar bukan untuk memberikan servis Purwo, Rowo Bayu, Antaboga dan lain
“nyantet” maupun mengajari orang cara sebagainya. “Kalau berbicara destinasi
menyantet. mistis, Banyuwangi tempatnya. Kalau yang
Namun festival ini bertujuan untuk diusulkan tadi ada tiga, Alas Purwo, Rowo
memberikan edukasi kepada masyarakat Bayu, dan Antaboga,” imbuhnya. (ozi/aka)
# 8 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
Jawaban Perdunu
Didesak Ganti Nama
ORGANISASI DAN ISTILAH FESTIVAL SANTET
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata masyarakat di luar Banyuwangi.
(Dibudpar) Banyuwangi memgklarifikasi Samsudin Adlawi, Pembina Dewan
Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu) Kesenian Blambangan (DKB) mengatakan,
terkait agenda Festival Santet dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
yang mereka programkan. (KBBI) istilah santet memiliki makna yang
Dalam kegiatan sama dengan sihir. “Jadi istilah santet itu
tersebut, sejumlah dalam KBBI artinya sama dengan sihir,
pihak mendesak yakni mencelakai orang,” katanya.
agar Perdunu DKB sebenarnya sudah mencoba
merubah nama untuk mengubah stigma masyarakat
organisasinya dan terkait pemaknaan kata santet seperti
istilah Festival yang dilakukan Perdunu saat ini. Santet
Santet. Sebab, hal dimaknai sebagai ilmu putih berupa
tersebut memiliki pengasihan atau mahabah dalam istilah
stigma negatif agama Islam.
khususnya bagi
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 9
# 10 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
Samsudin Adlawi, Pembina Dewan yang selama sepuluh tahun terakhir
Kesenian Blambangan (DKB) dikenal akan keindahan pariwisatanya.
mengatakan, dalam Kamus Besar “Lebih bijak istilah Festival Santet ini
Bahasa Indonesia (KBBI) istilah santet diganti. Bisa Festival Religi atau nama
memiliki makna yang sama dengan lainnya yang lebih elok,” harapnya.
sihir. “Jadi istilah santet itu dalam Hal senada juga disampaikan Ketua
KBBI artinya sama dengan sihir, yakni MUI Banyuwangi, KH Muhammad
mencelakai orang,” katanya. Yamin. Ia menyesalkan istilah dukun
DKB sebenarnya sudah mencoba yang digunakan oleh Perdunu. Sebab,
untuk mengubah stigma masyarakat MUI sendiri sudah menerbitkan fatwa
terkait pemaknaan kata santet seperti yang melarang praktek perdukunan.
yang dilakukan Perdunu saat ini. Santet “Dari apa yang sudah dipaparkan
dimaknai sebagai ilmu putih berupa Perdunu tadi, sebenarnya tujuannya
pengasihan atau mahabah dalam istilah baik. Namun penggunaan istilah dukun
agama Islam. dan santet inilah yang kemudian
Namun hasilnya tetap nihil. menjadi polemik,” kata kiai Yamin.
Kata santet sudah melekat dalam “Apalagi MUI sudah menerbitkan
paradigma masyarakat sebagai praktek fatwa larangan perdukunan. Karena
perdukunan untuk mencelakai orang. lebih banyak mudlorotnya. Ini malah
“Ini sudah melekat. Sulit untuk dirubah bisa kontra produktif,” tambahnya.
image santet ini,” katanya. Untuk itulah, pihaknya meminta
Untuk itulah, DKB berharap agar Perdunu mengganti nama
agar Perdunu lebih arif lagi dalam organisasinya termasuk juga istilah
penggunaan istilah Festival Santet. Ini Festival Santet yang menjadi agenda
juga untuk menjaga citra Banyuwangi program kerjanya.
JANGAN SAMPAI TIMBULKAN CITRA NEGATIF
“Jangan sampai penggunaan istilah orang saja. “Akan kita tindak lanjuti
yang tidak tepat, justru mengembalikan dalam rapat internal. Ditunggu saja,”
citra negatif Banyuwangi sebagai Kota imbuhnya.
Santet yang dalam sepuluh tahun Sementara Kepala Dinas Kebudayaan
terakhir mulai hilang,” katanya. dan Pariwisata Banyuwangi
Dari berbagai masukan tersebut, berharap forum ini bisa mengakhiri
Ketua Umum Perdunu Gus Abdul Fatah polemik terkait Festival Santet. “Kita
Hasan mengaku bisa memahami apa mendahulukan tabayun dalam apapun.
yang menjadi kegelisahan pemerintah Ini adalah cara Banyuwangi untuk
daerah dan pihak-pihak terkait. menyelesaikan masalah. InsyaAllah
“Kami sangat mengapresiasi forum akan ada titik temu terbaik,” katanya.
tersebut. Intinya kami memahami apa “Ini juga sekaligus kita jelaskan
yang diinginkan pemerintah daerah,” bagaimana cara berorganisasi terutama
katanya kepada wartawan. masalah perizinannya, juga bagaimana
Kendati demikian, perubahan nama cara festival. Termasuk juga menelaah
tersebut harus dibahas terlebih dahulu istilah dukun, yang menjadi khazanah
diinternal organisasi, mengingat tidak baik yang disematkan pada
Perdunu tidak hanya didirikan oleh satu organisasi ini,” tutupnya. (ozi/aka)
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 11
POLEMIK FESTIVAL SANTET
Beda Santet dan Sihir
Versi Perdunu
Beberapa hari terakhir, masyarakat Banyuwangi
dihebohkan Festival Santet yang rencananya akan digelar
oleh Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu). Festival
tersebut dikhawatirkan bakal mencoreng nama baik
Banyuwangi, yang sepuluh tahun terakhir dikenal sebagai
Kota Pariwisata.
Menanggapi hal tersebut, Perdunu forum klarifikasi yang digelar oleh
angkat bicara dan menjelaskan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
makna sebenarnya santet. Banyuwangi, Senin 8 Februari 2021.
“Festival Santet ini masih berupa Menurut Gus Fahru, ada
usulan. Kebetulan saya yang perbedaan mendasar antara santet
mengusulkan,” kata Dewan Pembina dengan sihir. Santet menurut dia
Perdunu Gus Fahrur Rozi dalam merupakan ilmu putih berupa
# 12 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
pengasihan atau mahabah Gus Fahru yang image Banyuwangi sebagai
dalam istilah agama islam. merupakan pimpinan Kota Santet, sampai
Sementara sihir merupakan padepokan di Alas Purwo sekarang masih belum
ilmu hitam yang tujuannya mengaku sering kedatangan hilang. Namun yang
untuk mencelakai orang. tamu dari luar Banyuwangi. diketahui orang luar, santet
“Jadi berbeda. Santet dan Hampir setiap tamu yang itu sama dengan sihir. Itu
sihir itu berbeda. Ini yang datang menanyakan yang harus kita luruskan,”
akan kita luruskan,” kata kepadanya terkait santet. tegasnya.
Gus Fahru. “Jadi kalau ngomong
PERDUKUNAN DIANGGAP KEARIFAN LOKAL
Kemudian, praktek “Kalau ditinjau dari sisi Namun, bagi masyarakat
perdukunan khususnya itu, sebenarnya apa yang luar Banyuwangi, santet
yang berkonotasi positif, dilakukan kiai sama dengan tidak lain adalah sihir.
menurut Gus Fahru, sudah dukun. Nah inilah yang “Namun secara nasional
menjadi kearifan lokal bagi harus diluruskan. Tidak ada mereka tidak bisa
masyarakat Banyuwangi. niatnya Perdunu menyakiti membedakan santet dan
Seperti pengobatan orang,” tambahnya. sihir. Apalagi isu santet
alternatif dan lain “Jadi hal-hal supranatural menjadi isu nasional pada
sebagainya. itu memang ada. Namun yang tahun 98. Ini akhirnya
“Kalau kita berbicara harus diperhatikan, semua menjadi kontroversi,”
kiai, kiai itu tugasnya itu hanyalah perantara. katanya.
mengajar ngaji masyarakat. Karena semuanya datang dari Apalagi MUI sudah
Namun, banyak orang bawa Allah SWT. Inilah akidah yang dengan tegas mengeluarkan
anaknya yang nangis terus akan kita luruskan,” tegasnya. fatwa yang mengharamkan
tapi tidak keluar air mata, Ketua MUI Banyuwangi, praktek perdukunan. Tentu
datangnya ke kiai. Ada ibu KH Muhammad Yamin ini menjadi hal yang kontra
bawa anaknya yang sudah mengatakan, mungkin produktif. “MUI sudah
besar tapi nggak nikah- benar istilah santet bagi mengeluarkan fatwa yang
nikah, datangnya ke kiai,” masyarakat Banyuwangi melarang perdukunan,”
sebutnya. berbeda dengan sihir. tegasnya. (ozi/aka)
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 13
# 14 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
eberapa hari terakhir,
masyarakat Banyuwangi
Bdihebohkan Festival
Santet yang rencananya
akan diselenggarakan oleh
Persatuan Dukun Nusantara
(Perdunu). Festival santet ini
dinilai dapat merusak citra
Banyuwangi yang selama
kepemimpinan Bupati Anas
dikenal sebagai Kota Pariwisata.
Tak hanya itu, Festival Santet
juga dikhawatirkan sejumlah
pihak akan membuka luka
lama atas terjadinya “Tragedi
Pembantaian di Banyuwangi”
pada Tahun 1998 silam.
Nusadaily.com mencoba
untuk mengulas sedikit
sejarah kelam terkait Tragedi
Pembantaian Banyuwangi 1998
hingga akhirnya Banyuwangi
bisa melejit dan dikenal sebagai
salah satu Kota Pariwisata di
Nusantara.
Termasuk perubahan makna
santet yang semula berarti ilmu
putih pengasihan, namun pada
perkembangannya berubah
KONTROVERSI menjadi konotasi negative
berarti sihir.
FESTIVAL SANTET TRAGEDI
Sejarah PEMBANTAIAN
BANYUWANGI
Kelamnya 1998
Isu santet Banyuwangi
bermula pada awal Bulan
dan Citra September 1998. Kala itu,
dua orang warga Kecamatan
Rogojampi yakni Junaidi (53)
dan As’ari (60) harus meregang
Banyuwangi nyawa dibatai oleh sosok-sosok
bertopeng.
Pembantaian berlanjut
keesokan harinya yang
sebagai Kota menewaskan Tafsir (70) Warga
Desa Gintangan Kecamatan
Blimbingsari.
Pelaku masih sama, yakni
Pariwisata (1) sosok-sosok bertopeng atau
disebut ninja oleh masyarakat
Banyuwangi kala itu.
“Ia dianiaya pada pukul 02.00
dini hari. Kemudian diseret
*Tulisan ini berdasarkan hasil riset yang dilakukan dengan kendaraan hingga tewas.
oleh Komunitas Pegon Banyuwangi Kemudian, pada 3 September
giliran Desa Watukebo,
Blimbingsari yang jadi sasaran.
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 15
Januri (60), dibantai Pembantaian semakin
Januri (60), dibantai massa yang beringas. Ia digantung hingga meninggal dunia,” kata Bahrur Rohim
massa yang beringas.
menjadi-jadi. Tanggal 7-8
peneliti sejarah Bumi Blambangan yang tergabung dalam Komunitas Pegon Banyuwangi.
September setidaknya ada
Ia digantung hingga
Peristiwa ini, menurut Bahrur Rohim, menjadi pemicu awal pembantaian masal di Bumi Blambangan.
6 orang yang kehilangan
meninggal dunia,” kata
Setidaknya ada 70 lebih kasus pembunuhan selama Bulan September 1998. nyawanya.
Bahrur Rohim peneliti
Awalnya, korban yang disasar ialah mereka yang dituduh sebagai dukun santet. Namun, lambat laun
sejarah Bumi Blambangan
Mereka adalah Lahat
pembantaian merambat kepada para guru ngaji yang mayoritas merupakan warga Nahdliyin.
yang tergabung dalam
(60) warga Kecamatan
Komunitas Pegon Songgon, Ruslan [45]
Banyuwangi. warga Kecamatan
Peristiwa ini, Rogojampi.
menurut Bahrur Rohim, Keesokan harinya, Ibu
menjadi pemicu awal Jarah (55) dari Songgon,
pembantaian masal Abdur Rohim (60) dan
di Bumi Blambangan. Zainuddin (64) dari Kabat,
Setidaknya ada 70 lebih serta Kasturi (45) dari
kasus pembunuhan selama Gintangan harus menemui
Bulan September 1998. malaikat maut.
Awalnya, korban yang Tanggal 9 September
disasar ialah mereka giliran tiga nyawa warga
yang dituduh sebagai Songgon dan Blimbingsari
dukun santet. Namun, yang melayang. Sepasang
lambat laun pembantaian suami istri warga Gumuk
merambat kepada para Candi, Songgon, Juhari
guru ngaji yang mayoritas (60) dan Munajah (44)
merupakan warga tewas dibantai massa di
Nahdliyin. rumahnya.
Saat itu, hampir setiap Begitu juga dengan
hari terjadi pembantaian Mistari (45), warga Bomo,
di berbagai desa se- yang disatroni massa dan
Kabupaten Banyuwangi. digantung.
Pada 4 September, Sanusi “Keesokan harinya, Ibu
(60) dan Abdul Holik (38), Ikah (45) disatroni orang-
warga Kecamatan Kabat orang bertopeng. Namun ia
dijemput paksa oleh 200- masih bisa menyelamatkan
an massa pada pukul 21.00 diri. Sementara As’ari (60)
WIB. warga Rogojampi tewas
Bapak dan anak tersebut ditangan orang-orang
dibantai kemudian bertopeng,” katanya.
digantung. Di hari yang Begitu juga dengan
sama, Mail (60) juga Mistari (45), warga Bomo,
meregang nyawa setelah yang disatroni massa dan
dihantam berbagai benda digantung.
tajam dan tumpul. “Keesokan harinya, Ibu
Tanggal 5 September, Ikah (45) disatroni orang-
giliran Kasim (75) warga orang bertopeng. Namun ia
Patoman Kecamatan masih bisa menyelamatkan
Blimbingsari yang menjadi diri. Sementara As’ari (60)
korban. warga Rogojampi tewas
Ia tewas digantung di ditangan orang-orang
pohon jati sekitar 100 bertopeng,” katanya.
meter dari kediamannya. Pada 11 September,
Kurang lebih giliran Haji Yasin (65)
ada 75 orang yang seorang tokoh agama asal
mengeroyoknya dan Desa Balak, Kecamatan
menyeretnya ke tiang Songgon yang disatroni
gantungan. ratusan masa dan sosok-
“Awal kasus sosok bertopeng.
pembantaian, rata-rata Ia dianiaya dan
korban ialah orang yang meregang nyawa pada
dituduh sebagai dukun pukul 08.00 WIB. Di hari
santet,” kata pria yang yang sama, Ashari (61)
akrab disapa Ayung warga Kabat, Salam (50)
tersebut. dan Mahmud (50) warga
# 16 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
Kecamatan Rogojampi disatroni meregang nyawa dengan cara Keesokan harinya 16
masa. yang sama. September, pembantaian
“Ashari dan Salam tewas Begitu juga dengan H. Samsul semakin menggila. Yasin
diamuk masa. Sedangkan Hadi (68), seorang tokoh agama (60) dan Sawal (50) warga
Mahmud masih hidup, namun dari Tambong, Kabat yang Kecamatan Songgon tewas
rumahnya dibakar masa,” digantung massa. setelah dikroyok massa dan
katanya. Hal yang sama juga menimpa orang-orang bertopeng.
Tanggal 13 September, Arifin (65), warga Temuasri Dasuri (60) warga Labanasem
Seorang petani dari Kabat, Noha Kecamatan Sempu tewas dan Sahnan (65) dari Bunder
(59) menjadi korban amukan dibacok pada bagian lehernya. Kecamatan Kabat ditemukan
massa. Ia diseret dari rumahnya “Kali ini pembantaian tidak meninggal dengan bekas
sembari dibacoki dan dipukuli. hanya menyasar mereka penganiayaan berat.
Kemudian Pada 14 September, yang dituduh dukun santet. Sedangkan di Rogojampi,
Muhali (60) warga Watukebo Pembantaian juga menyasar nasib sial menimpa Asan (55),
Kecamatan Blimbingsari, para tokoh agama, khususnya Mar’puah (45), Sikin (45) dan
Saleh (65) warga Sukonatar yang berafiliasi dengan Nahdlatul Bukhori (55). Mereka tewas
Kecamatan Srono harus Ulama,” ungkap Ayung. dihajar massa.
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 17
“Pada hari yang sama, di tapi tak sedikit yang mengalami Saimin (65) dari
Kecamatan Songgon juga terjadi luka berat dan rumahnya Karangsari
beberapa penyerangan, meski hancur. Antara lain menimpa Kecamatan
tidak sampai memakan korban Mumsidi (46), Anwar (50), Sempu
jiwa. Namun rumah mereka Usman (60), Sukardi, Mito, rumahnya
hancur, baik dikarenakan Mustar dan Runaidi. dilempari
dilempari batu maupun dibakar Pada 20 September, empat batu
masa. Mereka adalah Lokir (60), orang menjadi korban. mereka dan
Imik/ Kadru (55), Dahlan (55), adalah Yasin (60), Madrok (95),
Ambiyak (70), Solehan (50) dan Sapwan (55).
Masduki (50). Juga Junaidi (18), Ketiganya adalah warga
ia didatangi pria bertopeng. Kecamatan Kabat. Kemudian
Namun, ia melakukan satu orang dari Kecamatan
perlawanan dan berhasil Songgon atas nama Abdul
selamat,” kata Ayung. Kohar (70). Nama
Menurut Ayung, pembantaian yang terakhir ini,
yang semakin tak terkontrol juga kehilangan
mulai membuat panik banyak rumahnya yang
pihak. Pengurus Cabang dirusak massa
Nahdlatul Ulama dan seluruh bertopeng.
kiai di Banyuwangi melakukan Hari
pertemuan pada 18 September. berikutnya,
Dalam pertemuan tersebut, 21 September
diserukan bahwa membunuh Saini (60)
orang dengan cara disihir dari Sragi
merupakan perbuatan haram. Kecamatan
Begitu juga dengan membunuh Songgon yang
para dukun santet dengan tanpa tewas setelah
proses hukum, juga diharamkan. dianiaya
Akan tetapi, seruan tersebut massa tepat
tak mampu meredam histeria tengah
massa yang kadung terbakar malam.
kecerugiaan, provokasi, dan Disusul oleh
ketakutan yang akut. Di hari Ibu Mar’ah
yang sama dengan pertemuan (45) dari
itu sendiri, setidaknya lima Temuguruh
nyawa yang melayang. Kecamatan
Diantaranya adalah Suko (60) Sempu yang
warga Karangsari Kecamatan diseret massa
Sempu, Misro (60) dari Kemiri hingga ajal
Kecamatan Singojuruh, Halil menjemput.
(60), Pondoknongko Kecamatan Suwandi (45),
Blimbingsari, Sahal (40) dari Sadelik (60)
Kabat, dan Ahmad Hadisin (35) dan Suhairi (60)
dari Gumuk Kecamatan Licin. dari Kecamatan
Tangga 19 September, Cluring juga
pembantaian tak menunjukkan tewas di tangan
tanda-tanda akan berhenti. massa pada saat
Sedikitnya ada empat nyawa itu. Juga, Maderok
yang melayang yaitu Hasim (55) (60) dari Kabat dan
dari Kabat, Nasir (52), Humaidi Bahrowi dari Gumuk
(48), dan Padil (60) dari Kecamatan Licin.
Kecamatan Giri. Selain korban Selang dua hari, pada
meninggal, di Giri juga terdapat 24 September kembali
korban penyerangan. terjadi pembantaian di
Meski tak sampai meninggal, Sempu dan Wongsorejo.
# 18 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
orangnya dianiaya hingga tewas. rumahnya. Mak Tik, istrinya, tak
Sedangkan Ibrahim (70) kuasa menolongnya.
juga dirusak rumahnya dan Begitu juga para tetangganya
ia meregang nyawa setelah tak ada seorang pun yang berani
kepalanya dikapak pada bagian melawan massa yang beringas
belakang hingga pecah. tersebut.
Kemudian pada tanggal 25- Pada 28 September,
27 September, pembantaian Hasan (64) dari Parangharjo
berkutat di Kecamatan Kecamatan Songgon, Bawi (70)
Singojuruh. Asri (50) dari dari Cluring, Sarkawi (53) dari
Alasmalang dan Muksin Gumirih Kecamatan Singojuruh,
(55) dari Gumirih Haji Syafi’i (70) dan Maroha
menjadi korban. (70) dari Sumberkencono
Keduanya, dibantai Kecamatan Wongsorejo,
dengan modus serupa. Prayitno (45) dari Temuguruh
Mereka diseret keluar Kecamatan Sempu menghadapi
dari rumahnya dan maut. Semuanya dibantai
disiksa sepanjang dengan sadis oleh massa.
jalan hingga tewas. Tanggal 29 September
Ibu Temu (50) pembantain masih berlanjut
juga ditemukan dan menewaskan tujuh orang.
tewas. Sedangkan Diantaranya, Ramli (45) dan
Tasripan Biseri (45) dari Kecamatan
(59) beserta Cluring, Sulastri (48) dan Ti’ah
keluarganya (55) dari Kecamatan Singojuruh,
diusir keluar Suhamo (81), Sukarno (56) dan
kampung. Aminah (45) dari Kecamatan
Selain itu, Kalipuro.
Mudjiono (35) Masa juga menyatroni
dari Kunir kediaman Syahroni di Pakis,
dan Aseri Banyuwangi. Namun, massa
juga tewas tak menemukan target hingga
dibantai oleh akhirnya putera Syahroni
orang-orang bernama Rahmat yang menjadi
bertopeng. sasaran.
Kemudian Namun, ia lepas dari maut
disusul Asmi karena pingsan dan disangka
(65) dari mati. Rahmat pun harus
Gambor dan mendapat perawatan serius di
Semi (60) dari RSUD Blambangan.
Kunir dan Menjelang akhir September
Saperik (70) tersebut, di Purwoharjo juga
dari Cluring terjadi pembantaian tiga
yang meregang orang residivis yang hendak
nyawa. menyatroni rumah Ahmad dari
Di Genteng Desa Purwoharjo.
juga terjadi hal Ketiganya kepergok warga
yang sama dan yang sedang berjaga. Tanpa
menimpa Irsyad ampun, Sio, Masykur, dan satu
(50) dan Tamim lagi tak teridentifikasi, tewas
(50). Sedangkan di dihajar warga yang siaga satu.
Banyuwangi, tepatnya Sedangkan di penghujung
di Pakis Rowo, juga September, giliran Untung (60)
menimpa Abdallah. warga Kebonsari, Benculuk,
Ia dijemput paksa oleh Cluring yang harus meregang
orang-orang tak dikenal di nyawa. (bersambung)
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 19
KONTROVERSI FESTIVAL SANTET
Sejarah Kelamnya dan Citra
Kota Pariwisata Banyuwangi (2)
Belum habis cerita soal hebohnya
Festival Santet yang rencananya akan
diselenggarakan oleh Persatuan Dukun
Nusantara (Perdunu) Banyuwangi. Selain
dinilai akan merusak citra Banyuwangi
yang selama kepemimpinan Bupati Anas
dikenal sebagai Kota Pariwisata, Festival
Santet juga dikhawatirkan sejumlah
pihak akan membuka luka lama atas
terjadinya “Tragedi Pembantaian di
Banyuwangi” pada Tahun 1998 silam.
Nusadaily.com bukan merupakan
mencoba untuk dukun santet. Di antara
mengulas sedikit para korban terdapat
sejarah kelam terkait guru mengaji, dukun
Tragedi Pembantaian suwuk (penyembuh)
Banyuwangi 1998 dan tokoh-tokoh
hingga akhirnya masyarakat seperti
Banyuwangi bisa Ketua RT dan RW yang
melejit dan dikenal merupakan warga
sebagai salah satu Kota Nahdlatul Ulama.
Pariwisata di Nusantara. Hal inipun membuat
Termasuk perubahan Pengurus Cabang
makna santet yang Nahdlatul Ulama
semula berarti ilmu (PCNU) Banyuwangi
pengasihan, namun bertindak. Difasillitasi
pada perkembangannya oleh PWNU Jawa Timur,
berubah menjadi PCNU Banyuwangi
konotasi negative menghadap
berarti sihir. Ketua PBNU KH.
Korban Tragedi Abdurrahman Wahid
Pembantaian alias Gus Dur pada awal
Banyuwangi Mayoritas bulan Oktober 1998.
Warga NU Dalam pertemuan
Tragedi Banyuwangi tersebut, Gus Dur
Tahun 1998 merupakan melontarkan bahwa
peristiwa pembantaian dalang di balik peristiwa
terhadap orang yang pembantaian dukun
diduga melakukan santet yang merambat
praktek ilmu hitam kepada tokoh-tokoh
(santet atau tenung). NU itu berada di dalam
Namun setelah kabinet. Namun, Gus Dur
dilakukan pendataan, tak merinci siapa tokoh
ternyata banyak yang dimaksud itu.
diantara para korban “Apa yang terjadi di
# 20 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
KONTROVERSI FESTIVAL SANTET
Sejarah Kelamnya dan Citra
Kota Pariwisata Banyuwangi (2)
Banyuwangi ini serupa para tersangka yang
dengan peristiwa berasal dari Kabat.
sebelumnya ketika Hingga pukul 09.00 WIB,
terjadi kerusuhan polisi baru bisa keluar.
SARA di Situbondo. Gus Dengan mengendarai
Dur mengungkapkan tiga mobil serta sirine
adanya operasi dari yang meraung-raung
salah seorang menteri,” mereka membawa para
kata Bahrur Rohim, tersangka ke Mapolres
Ketua Komunitas Pegon Banyuwangi. Tak selang
Banyuwangi. berapa lama, massa
Di waktu bersamaan, dengan mengendarai
kasus pembantaian di dua truk meluruk ke
Banyuwangi kembali Mapolres. Mereka
berlanjut. Mujiono membawa senjata tajam
(56), warga Jajag berunjuk rasa menuntut
Kecamatan Gambiran kebebasan kawan-
ditemukan tewas kawannya di Mapolres.
dengan kepala remuk. Sontak saja, polisi
Mujiono merupakan yang membentuk
korban tewas ke 94. pagar betis di depan
Selain itu, ada delapan mapolres bersiaga
korban luka-luka, 67 penuh. Ketika massa
rumah rusak, dan 246 mulai turun dari truk,
orang yang terpaksa tembakan peringatan
mengungsi. dihempaskan oleh
Pada tanggal 1-2 polisi. Gas air mata juga
Oktober, pasukan ditembakkan. Sontak
gabungan dari Brimob, saja terjadi kerusuhan.
Polwil, Polres dan Kodim Massa yang meluruk
melakukan penangkapan tersebut berhamburan
terhadap para pelaku dikejar polisi ke
pembantaian. Ada 15 perkampungan.
orang yang diamankan Tak seberapa lama,
oleh pasukan gabungan kembali datang satu
tersebut. Lima orang dari truk massa yang tidak
Kabat, lima orang dari hanya membawa
Songgon, empat orang senjata tajam, tapi
dari Glagah, dan seorang juga membawa
dari Singojuruh. Proses beberapa jerigen
penangkapan ini bukan bensin. Kerusuhan pun
perkara mudah. Mereka kembali meletup di
harus berhadapan Mapolres yang berada
dengan massa yang tak di Jalan Brawijaya itu.
rela kawannya ditangkap. Setidaknya ada 169
Polisi menghadapi orang yang diamankan
perlawanan cukup dari insiden tersebut.
alot ketika meringkus Tak berapa lama,
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 21
kembali datang susulan massa pada nenek tua tersebut.
dengan mengendarai satu buah Selang dua hari, tepatnya pada 6
truk. Polisi yang sedang mendata Oktober, Ketua PWNU Jawa Timur
dan mengobati 169 orang yang KH. Hasyim Muzadi menerima
ditangkap itu, pun langsung siaga. kedatangan Pangdam V Brawijaya
Namun, ketika diketahui hanya Mayjen TNI Djoko Subroto. Dari
berisi wanita dan anak-anak, pertemuan tersebut, diketahui
polisi bertindak lebih persuasif. ada beberapa oknum TNI yang
Mereka didata dan diberi terlibat. Keesokan harinya, Kiai
pengarahan. Mereka pun disuruh Hasyim lantas mengundang
pulang kembali. seluruh Pengurus Cabang
Pada pukul 14.00, massa Nahdlatul Ulama se-Jawa Timur
kembali datang ke Mapolres untuk melakukan pertemuan
Banyuwangi. Akan tetapi, kali khusus di kantor PWNU yang
ini massa mendukung upaya beralamat di Jalan Darmo.
polisi untuk menangkap para “Dari pertemuan tersebut
perusuh tersebut. Seribuan massa dilaporkan jumlah korban dari
yang berasal dari warga sekitar masing-masing daerah. Masing-
polres tersebut, segera disuruh masing dari Banyuwangi sejumlah
pulang oleh polisi. Ditakutkan 111 orang, Pasuruan 24 orang,
akan terjadinya bentrok antara Pamekasan 17 orang, Sumenep 7
dua massa yang bersebrangan orang dan Probolinggo 4 orang,”
tersebut. kata Bahrur Rohim.
Selanjutnya, pada 3 Oktober, Pada tanggal 7 Oktober tersebut,
Gus Dur mengeluarkan siaran Pangdam V Brawijaya Mayjen
pers. Ia mengancam kepada TNI Djoko Subroto melakukan
aparat yang tak kunjung peninjauan ke Banyuwangi.
bertindak akan dilaporkan Namun, kedatangannya tak
kepada Menkopolhukam/ Pangab mampu meredam gejolak massa.
Jenderal TNI Wiranto. Pada saat Pada saat bersamaan terjadi
yang sama, ia juga menghimbau pembantaian di siang bolong
kepada warga NU untuk tetap kepada Sriono (65). Warga
tenang dan tak terpancing atas Tegalpakis, Kalibaru itu, sedang
segala macam provokasi. Lebih- dimintai tolong oleh tetangganya
lebih hingga melampaui batas untuk membawakan semen
hukum. ke areal pemakaman guna
Di saat yang sama, di merenovasi batu nisan yang
Banyuwangi kembali dilakukan rusak. Kebetulan Sriono adalah
penangkapan kepada lima orang seorang kusir delman. Akan
dari Kecamatan Blimbingsari tetapi, di tengah jalan, ia diserang
dan Rogojampi. Di antaranya segerombolan massa yang tak
adalah Agus Santoso (20) dari dikenal hingga tewas.
Aliyan, Rogojampi dan Surapi Selain itu, di Tamansuruh
(56), Mistori (50) dan satu warga Kecamatan Glagah juga terjadi
tak teridentifikasi yang ketiganya penyerangan terhadap dua orang,
dari Kaligung Kecamatan Suroso dan Baehaqi. Ketika
Blimbingsari. Hal ini juga keduanya berada di kebun,
mendapat reaksi penolakan dari diserang sekelompok orang
massa. Namun, berhasil dihadang bertopeng. Untung saja keduanya
di Rogojampi dan di Dadapan, memiliki ilmu kebal, sehingga bisa
Kabat. Empat truk dan dua buah menyelematkan diri dari serangan
pick up yang membawa massa tersebut. Sedangkan nasib naas
berhasil dipulangkan oleh polisi. menimpa Dullah (60), warga
Meski pihak keamanan sedang Olehsari Kecamatan Glagah. Ia tak
gencar melakukan penangkapan, kuat menghadapi teror sehingga
namun tak menyurutkan massa memutuskan untuk gantung diri
untuk melakukan pembantaian. di rumahnya. Hal yang sama juga
Pada 4 Oktober, giliran Ibu dilakukan oleh Supran dan Senali.
Jumani (40) warga Klatak “Pada 9 dan 10 Oktober banyak
Kecamatan Kalipuro yang berserakan selebaran yang bernada
menjadi korban. Ia disatroni ancaman bagi siapapun yang hendak
massa bertopeng. Penganiayaan menyelematkan atau melindungi
pun berlangsung dengan sadis orang-orang yang tertuduh
# 22 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 23
# 24 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
dukun santet yang telah terdaftar. Mahmud Khaerudin, Rohim dan
Selebaran tersebut diatasnamakan Dollah Wijaya. Akibat teror yang
Gerakan Anti Tenung yang disingkat demikian masif ini, membuat
GANTUNG,” ungkap pria yang akrab orang yang tak kuat memutuskan
disapa Ayung ini. untuk bunuh diri. Seperti
Selain selebaran tersebut, halnya yang menimpa Dori asal
beberapa orang juga menerima Kecamatan Genteng. Guru ngaji
surat kaleng yang berisi ancaman. tersebut, ditemukan gantung diri
Para penerimanya antara lain di rumahnya pada 10 Oktober.
PENYEBUTAN ‘AKSI TEROR’
Pada tanggal 11 Oktober, Gus kata Ayung.
Dur menggelar apel akbar Generasi Pasca pertemuan di Tuban yang
Muda NU di Parkir Timur Senayan. tak memberikan pencerahan
Apel tersebut juga dihadiri oleh yang memuaskan itu, 18 Oktober
Menkopolhukam/ Pangab Jenderal kembali digelar pertemuan para
TNI Wiranto. Namun, dalam kiai se-Jawa Timur di Banyuwangi.
sambutannya, tak memberikan Kali ini, Menkopolhukam/ Pangab
suatu penjelasan yang memuaskan. Jenderal TNI Wiranto hadir
Hanya hal-hal normatif saja. langsung. Lagi-lagi pihak keamanan
Bahkan, ia tidak menunjukkan tak mampu memberikan klarifikasi
keprihatinannya kepada para kiai yang memuaskan.
yang menjadi target sasaran pada KH. Yusuf Muhammad dari
peristiwa tersebut. Jember menjadi juru bicara
Selang tiga hari kemudian, 14 para kiai. Ia menuduh adanya
Oktober, digelar pertemuan 2.000 keterlibatan elit politik dan ABRI
kiai dari seluruh Jawa Timur yang sendiri sebagai dalang aksi teror
diselenggarakan PWNU Jatim di tersebut. Akan tetapi, Wiranto
Pesantren Daruttauhid, Langitan, lagi-lagi hanya menjawab dengan
Tuban. Dalam pertemuan yang normatif dan berjanji untuk
dihadiri oleh Pangdam V Brawijaya membawa aspirasi masyarakat ke
dan Kapolda Jatim itu, diungkapkan Jakarta.
keresahan para kiai. Di antaranya Pada 22 Oktober, PBNU
adalah indikasi pembiaran yang menggelar rapat khusus untuk
dilakukan oleh aparat keamanan. membahas perkembangan aksi
Tuduhan ini, tak mendapat teror di Jatim. Dalam keterangan
jawaban yang memuaskan dari dua pers yang disampaikan oleh
pimpinan tertinggi keamanan di Katib Syuriyah PBNU KH. Said
Jawa Timur itu. Aqil Siroj, PBNU menolak asumsi
Dalam pertemuan tersebut, tentang pembalasan eks PKI di
bahkan Ketua PCNU Banyuwangi balik aksi teror selama ini. Hal
KH. Abdurrahman Hasan adu ini menjawab sejumlah dugaan
data dengan Kapolda Mayjen Pol. yang dilontarkan oleh aparat
Moch. Dayat, SH. MBA. Kapolda keamanan. Mereka mengambil
menyebutkan korban tewas di kesimpulan demikian hanya
Banyuwangi hanya 90 orang. berdasarkan pola silang [x] di
Namun, PCNU Banyuwangi setiap bekas luka yang ada di jasad
menyebut lebih dari itu. Ada para korban.
148 korban dengan rincian Di paruh kedua bulan Oktober
101 tewas, 7 mati bunuh diri tersebut, intensitas aksi kekerasan
karena ketakutan, 7 orang luka di Banyuwangi menurun cukup
berat dan ringan dan 33 orang drastis. Namun, merambat ke
selamat. Dari 101 orang yang daerah lain. Mulai dari Jember,
tewas tersebut, 96 diantaranya Pasuruan, Malang, Madura
merupakan warga Nahdlatul hingga ke Jawa Tengah. Baru
Ulama. pada 28 Oktober dikabarkan
“Sejak pertemuan itu, Ketua kembali terjadinya pembantaian
PWNU Jatim juga meminta kepada di Dusun Kepatihan, Desa
warga NU untuk mengubah nama Cluring, Kecamata Cluring.
tragedi tersebut dari pembantaian Sejumlah massa pada pukul 23.00
dukun santet menjadi aksi terror,” menyatroni kediaman Baseri (45).
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 25
Tak puas dengan menghabisi massa yang sama mendatangi sama-sama tewas dengan sangat
nyawa Baseri, selang 30 menit, kediaman Basuri (74). Keduanya mengenaskan.
NOVEMBER – DESEMBER TAHUN 1998
Bisa dikatakan, memasuki Pada persidangan pertama tersangka yang disidangkan.
bulan November dan Desember para pelaku pembantaian, Bupati, Kapolwil, Kapolres, dan
aksi kekerasan maupun teror di 10 November, tercatat sudah Dandim hadir menyaksikan
Banyuwangi berangsur-angsur ada 241 tersangka yang telah persidangan tersebut.
reda. Meski di daerah lain ditangkap dengan berbagai Pada 12 November tersiar
masih terus menghangat. Hal tuduhan terkait hal tersebut. kabar, salah seorang tersangka
ini bisa jadi karena sejumlah Pada sidang pertama yang atas nama Kompol alias
penangkapan oleh pihak bertepatan dengan hari Rodiyat meninggal dunia dalam
kepolisian terus digencarkan. pahlawan itu, ada delapan orang tahanan. Warga Kecamatan
# 26 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
Singojuruh tersebut, meninggal Agus, Madarus, Ajit, Tatang dan
setelah ditemukan pingsan oleh sejumlah tersangka lainnya.
petugas Polres Banyuwangi. Ada Tidak mungkin mereka berani
spekulasi, matinya Kompol bukan melakukan pengeroyokan
karena sakit, melainkan adanya hingga tewas, misalnya, jika
upaya pembunuhan padanya. sejak awal terdapat pencegahan
Namun hal tersebut tak terbukti dan penindakan saat kasus
karena keluarga Kompol tak perdana muncul. Lebih-lebih
bersedia dilakukan otopsi pada si jika dikaitkan dengan tradisi
mayat. yang selama ini ada. Tertuduh
Meskipun telah dilakukan dukun santet di Banyuwangi
banyak penangkapan, akan tetapi tidak langsung dibunuh. Namun,
hal tersebut belum menyentuh melalui mekanisme adat yang
aktor utama. Yang mana, menurut dikenal dengan sumpah pocong.
Ketua PCNU Banyuwangi kala itu, Jika ini gagal, biasanya akan
KH. Abdurahman Hasan, tidak dilakukan pengusiran. Bukan
merepresentasikan “pelaku” dengan pembantaian.
yang sesungguhnya. Menurutnya, Sedangkan yang poin yang kedua,
pelaku yang ditangkap hanyalah masih berdasarkan pengakuan
pion-pion kecil yang digerakkan pelaku, adanya orang-orang yang
oleh skenario besar. tak dikenal. Mereka memainkan
Tuduhan ini, muncul dari peran yang cukup vital seperti
pengakuan para tersangka yang halnya berada di barisan paling
ditangkap saat persidangan. depan dan memberi komando.
Banyak pengakuan-pengakuan Hal ini, misalnya, terbukti dari
yang ganjil. Dua hal yang patut pengakuan Saruri (25). Warga
digarisbawahi adalah adanya Segobang, Licin itu terdakwa
kondisioning massa dan sebagai pembunuh Arifin (80).
masuknya sosok-sosok yang tak Dalam peristiwa tersebut, ia
dikenal. Untuk poin pertama mendengar percakapan dari
ini, misalnya, pengakuan dari kerumunan massa tersebut,
Suwarno (45). dengan bahasa yang tak
Tersangka pembunuh Mujiono dikenalinya. Bahasa yang tak
dari Gambiran itu, mengaku lazim digunakan di kampungnya.
pada saat menjelang kejadian Pengakuan yang sama juga
sedang ronda malam. Tiba-tiba diungkapkan oleh banyak
ada orang yang berteriak, “Siapa tersangka lainnya.
yang keluarganya kena santet, Hingga kini, setelah dua
ayo ikut! Kita bunuh para dukun dekade peristiwa tersebut
sihir!”. Ajakan tersebut segera berlangsung, tak ada kejelasan
mengingatkannya pada istrinya apa pun. Semuanya masih serba
yang telah berbulan-bulan sumir. Berbagai teorema yang
menderita sakit yang aneh. muncul hanya sebatas obrolan
Sekilas, motif Suwarno terkesan warung kopi. Berbagai kajian
sebagai dendam pribadi. Akan pun hanya berhenti di meja-meja
tetapi, jika dicermati lebih diskusi dan makalah-makalah
mendalam, apa yang dilakukan lusuh. Warga Nahdliyin menjadi
oleh Suwarno tersebut muncul korban. Tak hanya sebagai
karena kondisioning masa itu korban pembantaian, tapi juga
yang melazimkan pembunuhan korban atas propaganda yang
dukun santet. Hal yang sama menyeretnya pada tindakan
juga terungkap dalam kesaksian brutal tersebut. (*/bersambung)
*Tulisan ini berdasarkan hasil riset yang dilakukan
oleh Komunitas Pegon Banyuwangi
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 27
# 28 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
Misteri Radiogram
Bupati Purnomo
saat Tragedi
Banyuwangi ’98 (3)
eski Persatuan Dukun Bumi Blambangan.
Nusantara (Perdunu) Dari salinan radiogram yang
Mmenyatakan akan tercantum di buku Geger Santet
menghapus Festival Santet, namun Banyuwangi terbitan Institut Studi
nyatanya santet masih menjadi Arus Informasi (ISAI), radiogram
pergunjingan di masyarakat. Hal ini itu diterbitkan pada 6 Februari 1998
tak lepas dari sejarah kelam tragedi dengan Nomor: 300/70/439.013/1998
pembantaian di Banyuwangi pada oleh Bupati Turyono Purnomo Sidik.
Tahun 1998 silam terhadap mereka Radiogram berkategori penting itu
yang diduga memiliki ilmu santet. ditujukan kepada seluruh camat
Meski dalam perjalannya, banyak di dan pembantu bupati yang ada di
antara para korban bukanlah dukun Kabupaten Banyuwangi.
santet. Dalam radiogram tersebut,
Nusadaily.com mencoba mengulas aparat pemerintahan diminta
kembali kronologi peristiwa untuk melakukan pendataan serta
pembantaian tersebut. Diantaranya pengamanan terhadap orang-orang
ialah munculnya radiogram Bupati yang diduga memiliki ilmu supra
Banyuwangi kala itu, Kolonel Polisi natural. Selain itu, para camat dan
(Purn) Turyono Purnomo Sidik Muspika diinstruksikan mencegah
yang ditengarai sebagai pemicu awal sedini mungkin terjadinya peristiwa
terjadinya pembantaian masal di perusakan terkait isu dukun santet.
KADES DIMINTA MENDATA WARGA
YANG DIANGGAP DUKUN
Para camat juga diminta yang dikeluarkan. Tapi saya lupa
mengimbau melalui kepala desa, nomer berapa. Dan itu ditangkap
RW, dan RT, apabila ada warga yang oleh masyarakat sebagai legitimasi
pernah dituduh masyarakat sebagai pembantaian itu. Sehingga terjadi
tukang santet, supaya mengamankan pergerakan massa kembali
diri atau pindah ke tempat lain. Selain melakukan pembantaian,” ujar
itu, melaporkan setiap kejadian ke Bahrur Rohim, Ketua Komunitas
Pos Kodal Tibwil. Pegon Banyuwangi.
Radiogram ini diterbitkan pasca Bahrurrohim mengatakan, mana-
pembunuhan dukun santet bernama nama orang yang diduga dukun santet
Sumarno alias Pak No, warga Desa itu malah dipegang oleh kepala dusun
Kaligondo, Kecamatan Genteng, 4 dan hansip yang kemudian dipanasi
Februari 1998, dan beberapa kasus oleh provokator untuk melakukan
serupa setelahnya. Belakangan, tindakan anarkis.
buntut radiogram itu berkembang liar Pesan radiogram bupati pun
di masyarakat. Beberapa nama yang berujung maut bagi Muhammad
didata sebagai dukun santet bocor dan Yasin, warga Kampung Krajan, Desa
warga seolah-olah mendapat tugas Watukebo, Kecamatan Rogojampi,
dari negara untuk mengenyahkan Banyuwangi. Pria 70 tahun itu tewas
dukun santet di lingkungan mereka. dianiaya karena dianggap sebagai
“Setidaknya ada 2 radiogram dukun santet pada 15 September 1998.
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 29
# 30 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
PEMBANTAIAN SUDAH DIRENCANAKAN
Menurut pria yang biasa dalam data itu mengakhiri disapa Ayung ini, para ulama
dipanggil Ayung, berdasarkan hidup dengan gantung diri. di Kabupaten Banyuwangi
kesaksian Said, warga Pada 9 dan 10 Oktober banyak menganggap bahwa meskipun
Watukebo, pada malam sebelum berserakan selebaran yang radiogram yang dikeluarkan
pembantaian terhadap Yasin, bernada ancaman bagi siapapun dimaksudkan untuk maksud
warga berkumpul di rumah yang hendak menyelematkan sebenarnya (benar-benar
kepala dusun bernama Uwo. atau melindungi orang-orang bertujuan untuk mengamankan
Rapat itu awalnya membahas yang tertuduh dukun santet orang-orang dengan ilmu
penanggulangan aksi kekerasan yang telah terdaftar. Selebaran supranatural), penerapannya
terkait isu dukun santet yang tersebut diatasnamakan kurang tersembunyi. Sehingga
merebak di sejumlah daerah di Gerakan Anti Tenung yang informasi mengenai orang-
Banyuwangi. disingkat GANTUNG. orang yang diduga memiliki
Namun dalam pertemuan Selain selebaran tersebut, ilmu supranatural tersebut
yang berlangsung pada 14 beberapa orang juga menerima bocor ke pihak massa
September 1998 itu, ada surat kaleng yang berisi pembantai.
kesepakatan untuk membunuh ancaman. Para penerimanya Bukannya terlindungi,
orang yang diduga sebagai antara lain Mahmud Khaerudin, mereka yang terdata usai
dukun santet. Targetnya tiga Rohim dan Dollah Wijaya. melapor ke aparat desa justru
orang, namun satu orang “Akibat teror yang demikian menjadi bulan-bulanan masa
mengungsi, jadi tinggal dua masif ini, membuat orang yang hingga nyawanya melayang.
orang yang dibidik warga, yakni tak kuat memutuskan untuk “Berdasarkan hal tersebut
Yasin dan Sikin. Keduanya bunuh diri. Ada nama Dori asal para ulama menilai bahwa
akhirnya dieksekusi warga Kecamatan Genteng. Guru ngaji kepemimpinan Bupati Pur
secara sadis sekitar pukul 02.00 itu ditemukan gantung diri di gagal dan membentuk Gerakan
WIB. rumahnya pada 10 Oktober,” 101 untuk menuntut Bupati
Pendataan itu juga membuat ungkapnya. Pur mundur dari jabatannya,”
beberapa orang yang masuk Menurut pria yang akrab tutupnya.
AKTOR DIBALIK TRAGEDI BANYUWANGI ’98 BELUM TERUNGKAP
Dikutip dari Wikipedia.org, ditangkap puluhan orang dan massal, orang bisa sembunyi
beberapa penyelidikan pernah ditetapkan sebagai tersangka dibalik massa itu,” kata Sosiolog
dilakukan untuk mengungkap dan menerima sanksi kurungan Soetandyo Wignjosoebroto saat
kronologi, dalang, dan motif dengan kurun waktu yang diwawancarai TvOne.
dibalik peristiwa ini. Seperti bervariasi. Meskipun begitu, Bahkan, Pada Desember
beberapa mahasiswa datang dalang utama atau orang yang 2007, tim dari Nahdlatul Ulama
untuk melakukan penelitian mencetuskan pertama kali tidak membuka kembali investigasi
maupun Menteri Pertahanan dan pernah tertangkap ataupun kasus ini dengan memberikan
Panglima Angkatan Bersenjata terungkap. pengaduan kepada Komnas
saat itu, Jendral Wiranto datang “Kejahatan kemanusiaan itu HAM dengan maksud agar
ke Banyuwangi untuk memantau adalah kejahatan yang dilakukan peristiwa tersebut bisa diurai,
penyelidikan. oleh warga-warga sipil dalam dalang-dalangnya bisa diseret
keadaan tidak perang. Dalam ke pengadilan dan keluarga
Komisi Nasional Hak Asasi kasus Banyuwangi ini memenuhi korban yang tertuduh sebagai
Manusia (Komnas HAM) waktu sebagai pelanggaran HAM berat dukun santet bisa dibersihkan
itu juga telah membentuk tim karena terdapat dua unsur yaitu nama baiknya. Namun hal ini
untuk menyelidiki dan telah unsur sistematis dan unsur terkendala dari keluarga korban
mengumumkan pernyataan meluas,” kata Ahmad Baso, yang sudah tidak ingin jika kasus
bahwa terdapat indikasi komisioner Komnas Ham saat ini dibuka lagi. Keluarga korban
pelanggaran HAM berat pada diwawancarai TvOne. hanya meminta rehabilitasi
kasus ini. Namun karena “Sistem hukum di negara kita atas kejadian tersebut dan
kurangnya keseriusan, akhirnya ini kan menuduh, mendakwa dan tidak menginginkan aktor-
penyelidikan dihentikan. memidanakan orang perorang. aktor dari peristiwa ini diadili.
Selain itu, dalam kasus ini telah Kalo itu dikerjakan secara (bersambung)
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 31
ILMU SANTET, DARI ILMU PUTIH
MENJADI ILMU HITAM (4)
Diakui atau tidak, Santet makna ilmu santet berkembang
merupakan kearifan lokal yang lebih luas lagi. Bahkan kini
dulunya lazim dilakukan oleh ilmu santet identik dengan
masyarakat Banyuwangi. Santet ilmu hitam (black magic).
semula dikenal sebagai ilmu Pergeseran makna ini terjadi
putih atau white magic. Namun lantaran terjadi penyimpangan
dalam perkembangannya, santet dalam penerapannya. Ilmu
mengalami pergeseran makna hitam condong lebih dominan
menjadi ilmu kuning (yellow dipraktekkan, sehingga terjadi
magic), ilmu abu-abu (grey labeling ilmu santet identik
magic), hingga akhirnya menjadi dengan ilmu hitam.
ilmu hitam (black magic). “Ilmu hitam ini identik
“Kalau secara akademik dengan santet karena terjadi
(santet) itu kan mengalami penyalahgunaan. Itu karena
pergeseran. Awalnya santet masuk lebih dominan digunakan
ilmu putih atau white magic. penyimpangannya, akhirnya yang
Seperti pengasihan, penglaris. menguat dan terjadi stereotype
Kalau istilahnya dalam agama terhadap ilmu santet sebagai ilmu
mahabbah. Doa dan mantra hitam. Istilahnya dalam perspektif
seperti itu kan lazim dilakukan akademik terjadi konstruksi
oleh masyarakat Banyuwangi,” sosial,” jelas dosen yang disertasi
kata DR. Sukidin, pakar sosiolog doktoralnya membahas tentang
Universitas Jember. Santet Banyuwangi ini.
Seiring perubahan zaman,
PERGESERAN MAKNA SANTET JAUH
SEBELUM TRAGEDI BANYUWANGI ‘98
Menurut Sukidin, santet enemy atau musuh bersama.
mengalami pergeseran makna Hal ini diperkuat dengan kultur
dari ilmu putih menjadi ilmu masyarakat Banyuwangi yang
hitam terjadi berpuluh-puluh notabene nilai religiusitasnya
tahun yang lalu. Bahkan, sebelum masih sangat kuat.
terjadinya Tragedi Banyuwangi “Masyarakat Banyuwangi
Tahun 1998 yang menewaskan notabene masih memiliki nilai
banyak korban, istilah santet religiusitas kuat dan masih
sudah berkonotasi negatif. “Jauh memegang teguh nilai tradisional.
sebelum itu. Tragedi Banyuwangi Begitu dihadirkan istilah santet
’98 itu hanya menumpang saja,” sebagai ilmu hitam atau ilmu
imbuhnya. musyrik, etika keagamaan dan
Ketika terjadi konstruksi sosial hilang karena santet
sosial pemaknaan santet sebagai dianggap common enemy.
praktek perdukunan ilmu hitam, Bahkan, kala itu membunuh
kata Sukidin, maka dukun santet dukun santet dianggap jihad,”
dianggap sebagai common ungkapnya.
# 32 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
ILMU SANTET, DARI ILMU PUTIH
MENJADI ILMU HITAM (4)
PERGOLAKAN
POLITIK NASIONAL
PEMICU TRAGEDI
BANYUWANGI 1998
Sukidin memaparkan, kalau ditarik
ke belakang faktor utama peristiwa
Pembantaian Dukun Santet Banyuwangi
1998 sebenarnya bukan karena santet itu
sendiri. Melainkan adanya pergolakan
perpolitikan nasional saat-saat terakhir
masa Orde Baru.
Hanya saja, stigma negative terhadap
ilmu santet inilah yang dimanfaatkan oleh
aktor-aktor yang ingin membuat kekacauan
sebagai pemantik awal. Isu santet sengaja
dihembuskan agar masyarakat Banyuwangi
yang menganggap dukun santet sebagai
common enemy tersulut emosinya, sehingga
melakukan pembantaian secara membabi
buta.
“Momentum 98 itu memanfaatkan
stigmatisasi itu. Chaos terjadi karena
masyarakat memandang santet sebagai
stigma negative. Begitu digerakkan
oleh aktor-aktor yang ingin membuat
kekacauan, masyarakat yang memandang
santet sebagai hal yang negative akhirnya
tersulut, hingga akhirnya chaos tak bisa
dihindarkan,” tambahnya.
Padahal, banyak diantara para korban
pembantaian ternyata bukanlah dukun santet
seperti yang dituduhkan. Banyak diantara
mereka yang merupakan guru ngaji, dukun
suwuk (penyembuhan), hingga tokoh agama
dan tokoh masyarakat yang berafiliasi dengan
Nahdlatul Ulama.
“Itu sebenarnya kan untuk menghentikan
pendirian PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)
supaya tidak berkembang. Masyarakat
ditakut-takuti dengan isu santet itu.
Masyarakat dibuat chaos dan mengalami
trauma, sehingga tidak memikirkan masalah
perpolitikan,” imbuhnya. (*/bersambung)
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 33
unculnya Persatuan memutuskan untuk tidak ada dua kemungkinan yang
Dukun Nusantara menggunakan istilah santet melatarbelakangi berdirinya
M(Perdunu) Indonesia pada setiap kegiatannya nanti, Perdunu dengan Festival
menimbulkan kontroversi di setelah mendapatkan berbagai Santet tersebut. Kemungkinan
tengah masyarakat Banyuwangi. masukan dari sejumlah pihak. pertama, Perdunu benar-
Sebab, organisasi yang diklaim Fenomena berdirinya benar ingin mengembalikan
sebagai wadah para dukun Perdunu dan Festival khazanah bahwa santet atau
tersebut mengagendakan Santet ini rupanya menarik ilmu perdukunan merupakan
Festival Santet sebagai salah perhatian pakar sosiologi kearifan lokal Banyuwangi.
satu program kerjanya. Meski dari Universitas Jember, Hal ini tidak lepas dari
pada akhirnya, Perdunu DR. Sukidin. Menurutnya makna awal santet yang
# 34 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
semula memilki arti ilmu pergeseran makna menjadi ilmu “Itu kan hanya ingin
putih atau white magic. hitam atau sihir,” kata Sukidin. menunjukkan nilai lokal yang
“Kalau kita tarik ke belakang, Bisa jadi, Perdunu ingin sebenarnya tujuannya ingin
sebenarnya ilmu santet ini melakukan edukasi kepada mengedukasi. Mereka (dukun)
memiliki makna ilmu putih, masyrakat terkait fenomena sebenarnya tidak akan mau
seperti pengasihan, penglaris, praktek perdukunan di secara terang-terangan. Karena
bahkan penyembuhan. Banyuwangi. Karena diakui atau manusia di permukaan itu kan
Atau dalam istilah agama tidak, praktek-praktek tersebut ingin dilihat baik. Jadi menurut
disebut mahabbah. Meski sampai saat ini masih ada, meski saya itu nantinya arahnya ingin
dalam perkembangannya, kebanyakan terdapat unsur mengedukasi kepada nilai-nilai
santet kemudian mengalami penipuan di dalamnya. kearifan local,” imbuhnya.
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 35
Kemungkinan kedua, kata seekstrim masa Orde Baru dulu.
Sukidin, berdirinya Perdunu “Dari kacamata teori struktur,
ini juga patut diduga ada unsur sosiologi makro, selagi tidak ada
politik yang melatarbelakanginya. aktor (chaos) sulit terjadi. Tapi
Hal ini merujuk pada peristiwa rentan kalau itu ditumpangi oleh
Tragedi Banyuwangi Tahun 1998 aktor-aktor yang berkepentingan
yang sebenarnya dilatarbelakangi untuk membuat kekacauan.
pergolakan politik nasional. Bisa dari aspek politik maupun
Bisa jadi, kata Sukidin, ekonomi,” ujar Sukidin.
berdirinya Perdunu ini untuk Jika kemudian pemerintah
mencari sensasi mengingat daerah salah mengambil langkah,
Banyuwangi tengah berda pada maka bisa terjadi benturan (vis a
masa peralihan kekuasaan. vis) antar kelompok masyarakat.
Apalagi, dalam sepuluh tahun Apalagi, masyarakat Banyuwangi
terakhir Banyuwangi ibarat dikenal sebagai masyarakat
wanita seksi yang banyak religi dan tradisional yang cukup
digandrungi para lelaki. kental. Ketika kelompok yang pro
“Bisa jadi juga seperti itu. Cuma terhadap santet sebagai ilmu putih
skalanya tidak seperti Tragedi ’98. dihadapkan dengan kelompok
Kalau 98 konstalasi politiknya kan yang menganggap santet sebagai
nasional. Kalau ini, politik lokal. ilmu hitam, maka kekacauan sulit
Artinya secara nasional agak jauh. dihindarkan.
Sekarang politik nasional belum “Banyuwangi masyarakatnya
ada momen, kayaknya ini bersifat religious tradisional. Ketika
lokal saja. Banyuwangi ini kan kelompok yang pro terhadap hal
lagi seksi-seksinya. Bisa jadi ini sensitive ini bisa vis a vis dengan
teskis untuk Bupati Banyuwangi kelompok yang kontra. Pertentangan
pengganti Pak Anas. Mereka ingin kelompok religius dan abangan bisa
punya panggung,” imbuhnya. saja terjadi. Persoalan ini juga harus
Potensi Benturan Masyarakat dibaca. Karena itu (santet) hal yang
Menurut Sukidin, meski sensitive,” paparnya.
bersifat lokal persoalan ini bisa “Karena kita dalam beragama
menjadi bola panas jika tidak sendiri juga rentan dibenturkan.
disikapi secara bijak. Sebab, Ada agama moderat, ada garis
stigma negative santet sudah keras atau fundamental. Bisa
sangat melekat dan membekas tengkar sendiri. Itu dipecah belah.
di masyarakat. Bahkan, tidak Dalam arti seperti itu. Masyarakat
menutup kemungkinan terjadinya kita masih rentan. Ketika diisukan
chaos jika ada oknum-oknum seperti itu, agama garis keras dan
tertentu yang menunggangi untuk sebagainya, wah kamu begitu
menciptakan kekacauan. berarti kamu dan saya tidak sama.
Meski sebenarnya hal itu Padahal dia sama-sama islam.
juga sulit terjadi, mengingat Akhirnya terpecah belah bahkan
perpolitikan saat ini tidak terjadi benturan,” tegas Sukidin.
# 36 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
POTENSI KEMBANGKAN WISATA RELIGI
Meski ada potensi benturan, dipertahankan, di sisi lain
di sisi lain menurut Sukidin orang tidak lagi takut karena itu
hal tersebut juga bisa menjadi menjadi sebuah pertunjukan yang
peluang baru bagi pemerintah memiliki daya tarik,” kata Sukidin.
daerah untuk mengembangkan Sukidin pun menyarankan
sektor pariwisata Banyuwangi. kepada Pemkab Banyuwangi
Kearifan lokal tersebut jika agar merangkul para dukun
dikemas dengan baik dengan yang tergabung dalam Perdunu
menggunakan istilah yang tersebut. Sehingga santet yang
lebih halus akan menghadirkan selama ini berkonotasi negative,
destinasi wisata baru di Bumi perlahan-lahan akan kembali
Blambangan. pada makna sebenarnya.
Dia mencontohkan seperti seni “Saran kami harus dirangkul.
tradisional tari seblang, jaranan, Namun, penggunaan istilah dukun
kebo-keboan dan seni budaya dan santet untuk saat ini lebih
lainnya yang bersentuhan dengan baik tidak digunakan. Karena
ilmu gaib, namun ketika dikemas memang masih membekas di
dengan baik dan ditonjolkan masyarakat bahwa santet identik
unsur seni budayanya justru dengan ilmu hitam. Diganti
menjadi daya tarik tersendiri bagi dengan bahasa yang lebih halus,
wisatawan. mungkin bisa bisa pakai istilah
“Seperti kesenian tradisional, religi, supranatural atau yang
itu dulu kan sakral. Namun lainnya,” tutup dosen yang
sekarang berubah dari tuntunan disertasi doktoralnya mengupas
jadi tontonan. Kesakralan tentang Santet Banyuwangi ini.
dan aroma mistisnya masih (*/selesai)
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 37
Perdunu Akhirnya
Hapus Festival Santet, Tapi…
# 38 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
setelah menggelar rapat refrensi untuk memutuskan
internal, pihaknya sepakat untuk apakah digunakan apa di hapus.
menghilangkan istilah santet Baru setelah diputuskan, nanti
dalam setiap kegiatan Perdunu. akan kita daftarkan ke Kemenkum
“Hasil dari rapat di internal HAM,” sebutnya.
Perdunu, Perdunu sepakat untuk “Termasuk untuk program kerja
tidak menggunakan santet dalam selain Festival Santet, tidak ada
setiap kegiatan yang digelar perubahan. Tujuannya pun tetap
Perdunu,” katanya saat pers rilis sama, edukasi kepada masyarakat
di Aula Kantor PCNU Banyuwangi, maupun kepada pelaku
Rabu 10 Februari 2021. supranatural,” tambahnya.
Keputusan ini diambil, karena Sementara Dewan Pembina
berdasarkan masukan-masukan Perdunu Gus Hadi Sholehan
dalam forum klarifikasi di mengatakan, penghilangan istilah
Kantor Disbudpar Banyuwangi santet ini merupakan iktikad
beberpa hari yang lalu, kata santet baik dari Perdunu atas keresahan
memang memiliki makna yang masyarakat.
tabu dan menimbulkan keresahan “Karena sedari awal tujuannya
di masyarakat. Perdunu ini baik. Tidak ada
“Selain permintaan Pemda, niatan buruk. Apalagi, pelopor
kesannya Perdunu ini mayoritas dari
memang kalangan pesantren. Untuk
“Hasil dari membuat itu, kita putuskan untui tidak
rapat di internal resah kata- menggunakan istilah santet lagi,”
katanya.
kata santet
Perdunu, ini. Kemudian Gus Hadi berharap, dengan
Perdunu sepakat itu (Festival ini polemik dari Festival Santet
Santet)
bisa segera berakhir. “Dengan
untuk tidak juga masih keputusan ini, harapan kita
menggunakan wacana untuk persoalan Festival Santet ini bisa
segera berakhir,” tutupnya.
program kerja.
santet dalam Jadi masih Seperti diketahui, beberapa
setiap kegiatan belum final,” hari terakhir, masyarakat
imbuhnya.
Banyuwangi dihebohkan dengan
yang digelar Kendati munculnya Perdunu. Pasalnya,
Perdunu,” demikian, kata organisasi yang mengaku
sebagai perkumpulan dukun ini
Gus Fatah,
pihaknya berencana menggelar Festival
belum bisa Santet sebagai program kerjanya.
mengganti kata dukun dalam Sontak hal tersebut menuai
penamaan organisasi tersebut. protes dari sejumlah pihak.
“Perdunu dengan kepanjangan Festival Santet dinilai kontroversi
Persatuan Dukun Nusantara dan dapat merusak citra
Indonesia. Penggunaan Banyuwangi sebagai Kota
dukun sementara masih akan Pariwisata. Tak hanya itu, festival
digunakan,” tegasnya. tersebut dianggap akan membuka
Hal ini dikarenakan makna luka lama atas Tragedi Santet
ersatuan Dukun dari kata dukun tersebut masih Banyuwangi 1998.
Nusantara (Perdunu) bias. Untuk itu, pihaknya Perdunu kemudian diminta
PIndonesia akhirnya memilih untuk melakukan kajian agar mengganti penggunaan
memutuskan untuk menghapus terlebih dahulu baru kemudian istilah santet dan dukun yang
Festival Santet yang beberapa memutuskan untuk mengganti menjadi nama organisasi
hari ini menjadi pergunjingan atau tidak kata dukun tersebut. tersebut. Terlebih, MUI sudah
masyarakat. “Kita akan mengkaji lebih mengeluarkan fatwa yang
Ketua Umum Perdunu, Gus dalam lagi, dari segi bahasa, melarang praktek perdukunan.
Abdul Fatah Hasan mengatakan, budaya. Kami belum memiliki (ozi/kal)
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 39
Guspardi Gaus
Desak SKB
Tiga Menteri
Dibatalkan
SOAL ATRIBUT SEKOLAH
PEMERINTAH GAGAL PAHAM
uspardi Gaus desak SKB tiga menteri dibatalkan. Yakni Kementerian
Pendidikan dan kebudayaan, Agama, Dalam Negeri. SKB terkait
Gpenggunaan pakaian seragam dan atribut di sekolah. Salah satu
pointnya terdapat melarang Pemda atau sekolah mengkhususkan seragam
dan atribut dengan keagamaan tertentu.
Anggota DPR RI Fraksi PAN Guspardi Gaus menyebut, keputusan SKB 3
Menteri tersebut tidak bijak dan berpotensi memicu kontroversi. Dia juga
menilai sikap pemerintah yang “gagal paham”. Yakni dalam menyikapi
persoalan dan sangat berlebihan seperti kasus yang terjadi Di SMKN 2
Padang.
# 40 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 41
“Masih banyak persoalan dan kearifan lokal di masing-
dunia pendidikan yang lebih masing daerahnya. Kata dia,
esensi untuk diprioritaskan. yang tidak boleh itu adalah
Seperti pembelajaran daring “pemaksaan” bagi siswa yang
(jarak jauh) akibat COVID-19. berlainan keyakinan untuk
Utamanya untuk murid- memakai atribut tertentu di
murid di daerah terpencil dan luar keyakinan agama yang
tertinggal yang tidak ada aliran dianutnya.
listrik dan jaringan internetnya. “Sedang dalam UU tentang
Persoalan ini kan harus segera Pemerintahan Daerah,
dituntaskan. Ini justru keluar menegaskan bahwa otonomi
SKB 3 menteri. Saat masih daerah adalah hak penduduk
banyak sekolah yang belum yang tinggal dalam suatu
menyelenggarakan belajar tatap daerah untuk mengatur,
muka,” paparnya kepada awak mengurus, mengendalikan dan
media Sabtu 6 Februari 2021. mengembangkan urusannya
Dikatakannya pula, bahwa sendiri demi kepentingan
aturan dalam SKB ini malah masyarakat setempat sesuai
salah kaprah. Dan berpotensi dengan peraturan perundang-
dapat menimbulkan undangan yang berlaku,” papar
permasalahan baru. Karena GG.
“membebaskan” para peserta GG menambahkan, SKB
didik yang notabene belum yang dimaksudkan mengatur
dewasa itu. Mereka “boleh cara berpakaian mulai
memilih” seragam dan atribut jenjang pendidikan dasar
tanpa atau seragam. Bahkan sampai menengah. Padahal
atribut dengan kekhususan rentang usia tersebut adalah
agama. masa pertumbuhan dan
” Hal ini dikhawatirkan akan perkembangan siswa.
menggiring dan mendorong “Sementara siswa-siswa kita
para peserta didik berpikir menganut agama beragam
“liberal”. Padahal cita-cita mulai Islam, Kristen, Katolik,
pendidikan nasional itu Hindu, Buddha, dan Konghucu.
adalah “menjadikan manusia Justru di usia inilah harus
yang beriman dan bertaqwa ditanamkan dan dituntun
kepada Tuhan Yang Maha Esa. para siswa. Agar tidak boleh
Berakhlak mulia dalam rangka melanggar cara berpakaian yang
mencerdaskan kehidupan diajarkan agama. Hendaknya
bangsa. Sebagaimana termaktub para siswa diwajibkan untuk
dalam UU No 20 th 2003 tentang berpakaian sesuai dengan
sistem pendidikan nasional,” ajaran agama sesuai keyakinan
urai pria yang akrab disapa GG. masing-masing, bukan malah
SKB Kebiri Semangat Otonomi membebaskan,” tegas GG yang
Daerah anggota Baleg itu.
Anggota Komisi II DPR RI Masih Kata GG, semestinya
ini juga menegaskan bahwa SKB 3 menteri ini dibatalkan
SKB ini juga telah mengkebiri saja. Guna menghindari
semangat otonomi daerah no kontroversi di kemudian
32 /2004. Dan di-amandemen hari. Lebih baik ciptakan
dengan UU no 12/2008. kesejukan dan ketenteraman
Kewenangan pengaturan dan di masyarakat yang sudah sulit
tata cara berpakaian di sekolah akibat wabah Covid-19.
ini harusnya cukup diatur oleh ”Jangan ditambahi lagi
pemerintah daerah. Bukan oleh beban. Mari kita jaga kerukunan
pemerintah pusat. dan harmoni kehidupan
Karena pemerintah daerah antarumat beragama, karena
yang lebih memahami kita semua bersaudara,”
keberagaman adat budaya pungkas GG.(sir/cak)
# 42 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 43
Putri Pertama
Gusdur Tentang
SKB 3 Menteri
tas dikeluarkannya surat tugas untuk menjaga kegiatan
keputusan Bersama (SKB) beragama secara moderat, Artinya,
A3 Menteri terkait aturan cara pandang dan praktik beragama
seragam beratribut agama, dalam kehidupan bersama dengan
Koordinator Jaringan Gusdurian cara mengejawantahkan esensi
Alissa Wahid mengatakan sekolah ajaran agama yakni melindungi
negeri harus menjadi wakil negara martabat kemanusiaan,
dalam mendidik peserta didik. membangun kemaslahatan umum,
Artinya, pengelola sekolah negeri dan menaati
harus membuat keputusan yang konstitusi sebagai “Pengelola
berdasarkan dengan konstitusi. kesepakatan sekolah negeri itu
“Pengelola sekolah negeri itu bangsa,” katanya.
(harus) memiliki perspektif sebagai Dirinya menilai, (harus) memiliki
wakil negara, bukan perspektif sekolah sebagai
individu. Tapi mewakili negara. wakil negara perspektif sebagai
Karena itu selalu menggunakan setidaknya wakil negara,
kacamata negara dalam mengelola harus memiliki
institusi,” kata Alissa, dalam empat hal yang bukan perspektif
webinar bertajuk Sekolah Sebagai kemudian individu. Tapi
Penyemai Toleransi di Jakarta ditanamkan
beberapa waktu yang lalu. kepada peserta mewakili negara.
Dikatakan Anak pertama dari didiknya. Karena itu selalu
Mantan Presiden ke 4 itu, SKB 3 Keempat hal
Menteri soal peraturan seragam tersebut adalah menggunakan
beratribut agama merupakan komitmen kacamata negara
langkah yang tepat untuk menjamin kebangsaan atau
toleransi, dan Peserta didik bisa cinta tanah air, dalam mengelola
dilatih nilai-nilai dalam Pancasila toleransi, anti institusi,”
yaitu manusia yang adil dan kekerasan, dan
beradab, persatuan Indonesia, dan penerimaan terhadap tradisi.
ketuhanan yang maha esa. “Empat hal inilah yang harus
Menurutnya Alissa, sekolah harus kita pastikan bahwa pengelola
memiliki paham-paham yang sesuai sekolah negeri itu memiliki ini.
dengan pandangan negara. Sekolah Sehingga, mereka tidak kemudian
khususnya sekolah negeri harus terjebak dalam praktik-praktik
membuat pemahaman keagamaan eksklusivisme beragama dan
yang berkembang di lingkungannya bahkan melakukan diskriminasi,”
tidak eksklusif apalagi ekstrem. tandas putri pertama KH
“Kementerian Agama memiliki Abdurrahman Wahid.(sir/lna)
# 44 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 45
PBNU:
ADANYA
SKB SOAL
SERAGAM
DINILAI
SUDAH
TEPAT
etua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
(PBNU) Bidang Pendidikan KH Hanief
KSaha Ghafur mengatakan adanya
Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri
mengenai seragam sudah tepat.
“Sekolah dan perguruan tinggi negeri
harus menjadi ruang interaksi yang terbuka,
beragam, dan toleran sehingga menjadi wahana
pendidikan multikulturalisme dan toleransi.
SKB tersebut menempatkan sekolah pada
posisi yang tepat dan benar secara hukum dan
hak asasi manusia, khususnya penghormatan
terhadap hak-hak publik di sekolah publik,”
ujar Hanief dalam keterangan tertulisnya di
Jakarta, Senin.
Hanief yang juga Ketua Program Doktor
Kajian Stratejik dan Global Universitas
Indonesia tersebut menegaskan sekolah
publik tidak dibenarkan mewajibkan siswa
menggunakan seragam beridentitas tunggal
berdasarkan agama tertentu.
Khusus bagi siswi Muslimah, sekolah
juga tidak bisa melarang mereka yang ingin
mengenakan hijab. Sepanjang telah sesuai
dengan ketentuan yang berlaku. Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan telah mengatur
secara terperinci mengenai aturan seragam
bagi siswa muslimah.
# 46 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 47
Sebar Video
Mesum
untuk Modus
“Enak-Enak”,
Pemuda Ngawi
Dilaporkan
ke Polisi
Menteri Pendidikan dan juga datang dari Ketua Lembaga
Kebudayaan, Menteri Agama, Pendidikan Ma’arif Nahdlatul
dan Menteri Dalam Negeri Ulama PBNU KH Z Arifin Junaidi.
menerbitkan SKB Nomor 02/ Arifin menilai SKB tiga menteri
KB/2O2l, Nomor 025-199 Tahun memberikan jaminan kepada
2021 dan Nomor 219 Tahun 2021 para siswa, guru, dan pihak
tentang Penggunaan Pakaian sekolah agar menjaga nilai-nilai
Seragam dan Atribut Sekolah keberagamaan, serta keagamaan
Negeri di Indonesia. Penerbitan dalam dunia pendidikan.
SKB itu diharapkan menjadi “SKB itu sudah menjamin
landasan bagi sekolah untuk tidak keberagaman sekaligus
memaksakan penggunaan atribut keberagamaan. Itu sudah
keagamaan tertentu kepada murid terjamin. Sekolah tidak boleh
dan guru di sekolah negeri. mewajibkan siswanya untuk
Dukungan atas penerbitan SKB memakai seragam dengan
# 48 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021
identitas agama tertentu. Tidak SKB 3 menteri, mengatur Abdul Mu’ti juga dengan tegas
boleh,” kata Arifin. tentang keragaman dan menyatakan SKB tiga menteri
Arifin menjelaskan, melalui keberagamaan. Tidak hanya mengenai seragam sekolah
SKB tersebut kasus pemaksaan bagi siswa Muslim, tetapi juga bukanlah masalah besar.
siswa mengenakan atribut siswa non-Muslim. Sekolah Menurut Mu’ti di negara-
keagamaan tertentu semestinya harus menghargai perbedaan negara maju, seragam tidak
tidak terulang. Ia mencontohkan dan kebebasan beragama. menjadi persoalan karena tidak
kasus terakhir yang menjadi “Saya malah berharap, SKB terkait mutu pendidikan.
polemik adalah saat siswa non- tiga menteri tentang seragam “Kalau saya cermati subtansi
Muslim di Sekolah Menengah sekolah ini tidak hanya berlaku dan tujuannya, SKB itu tidak ada
Kejuruan Negeri (SMKN) 2 untuk sekolah negeri saja, tapi masalah. Substansinya terkait
Padang diminta mengenakan juga sekolah swasta,” tegas dengan jaminan kebebasan
hijab. Demikian dengan daerah Arifin. menjalankan ajaran agama
lain dimana umat Muslim Sekretaris Umum Pengurus sebagaimana diatur dalam pasal
minoritas. Pusat Muhammadiyah KH 29 UUD 1945,” jelas Mu’ti.(eky)
NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021 | # 49
# 50 | NUSA MAGZ ISSUE #32 | 15-21 FEBRUARI 2021