The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by yunita.21078, 2022-06-14 07:15:12

MODUL KD 3.3 SEJARAH INDONESIA KELAS XI

MODUL KD 3.3 SEJARAH INDONESIA KELAS XI

STRATEGI PERJUANGAN PADA MASA PERGERAKAN NASIONAL

SEJARAH INDONESIA
KELAS XI

PENYUSUN
YUNITA RAHMAWATI

21040284078
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan Rahmat sehingga
saya bisa menyelesaikan modul berjudul “ Strategi Perjuangan Pada Masa ” tepat pada waktu
untuk memenuhi tugas Pengembangan Bahan Ajar.

Modul merupakan salah satu jenis bahan ajar dalam bentuk buku maupun digital yang
digunakan untuk penunjang pembelajaran berdasarkan kompetensi dasar.

Dalam penyusunan modul masih terdapat kekurangan sehingga penulis mengharapkan
kritik dan saran dari segala pihak agar bisa menyempurnakannya modul ini.

Penyusun, 15 Mei 2022
Yunita Rahmawati

iii

DAFTAR ISI i
ii
HALAMAN JUDUL iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI 5
PETA KONSEP 5
PENDAHULUAN 5
A. Identitas Modul 5
B. Kompetensi Dasar dan Indikator 5
C. Petunjuk Penggunaan Modul 6
D. Materi Pembelajaran 9
KEGIATAN PEMBELAJARAN 6
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1 6
A. Tujuan Pembelajaran 3
B. Uraian Materi 9
9
1. Latar belakang strategi pergerakan nasional 9
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2
A. Tujuan Pembelajaran 17
B. Uraian Materi
17
C. RANGKUMAN
20
D. LATIHAN SOAL
21
E. PENILAIAN DIRI
22
EVALUASI

DAFTAR PUSTAKA

4

5

PENDAHULUAN

A. Identitas Modul

Mata Pelajaran : Sejarah Indonesia

Kelas/ Semester : X/2

Alokasi Waktu : 2X 45 Menit

B. Kompetensi Dasar

3.3 Menganalisis strategi perjuangan pada masa

Pergerakan nasional.

4.3 Menyajikan hasil penalaran strategi

Perjuangan pada masa pergerakan nasional

Dalam bentuk lisan, tulisan dan/ atau media lain.

C. Petunjuk Penggunaan Modul

D. Materi Pembelajaran
Materi pokok : Strategi Perjuangan Pada Masa
Pergerkan nasional.

PEMBELAJARAN
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1

LATAR BELAKANG PERJUANGAN PADA MASA PERGERAKAN
NASIONAL

Tujuan Pembelajaran
Setelah dilakukannya proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat menganalisis
strategi perjuangan pada masa pergerakan nasional yang pada saat itu strateginya

6

berupa organisasi-organisasi dalam daerah. Serta menyajikan hasil penalaran dalam
bentuk karya tulis tentang strategi perjuangan pada masa pergerakan nasional.
a. Uraian materi
1. Latar Belakang Munculnya Perjuangan Pada Masa Pergerakan Nasional.

Mari kita sama-sama simak gambar diatas, gambar tersebut mencerminkan perjuangan.
Pergerakan Nasional adalah istilah penyebutan satu fase dalam sejarah Indonwsia yaitu pada
masa perjuangan mencapai kemerdekaan lahirnya pergerakan nasional . Sebelum tahun 1900
bangsa Indonesia telah memberikan reaksi dan perlawanan terhadap penjajah Belanda, tetapi
perlawanan tersebut masih bersifat lokal atau kedaerahan. Kemudian setelah tahun 1900
perlawanan berubah menjadi bersifat perlawanan Nasional yang terorganisir secara lebih
teratur dan rasional.Munculnya kesadaran baru dengan cita-cita nasional yang disertai dengan
lahirnya organisasi modern sejak 1908 , memperlihatkan lahirnya satu kebangkitan semangat.

Masa pergerakan nasional dipelopori oleh kebijakan politik etis yang menghasilkan
golongan terpelajar. Golongan tersebut memanfaatkan media massa untuk membangkitkan
rasa nasionalisme sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah kolonialisme
Belanda.

1. Politik Etis dan Perbaikan Pendidikan

Kebijakan-kebijakan eksploitatif yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda
dinilai kurang memperhatikan kehidupan sosial masyarakat pribumi. Kondisi ini
mendorong seorang mantan pejabat kolonial Belanda bernama Eduard Douwes Dekker
menerbitkan sebuah novel Max Havelaar. Novel tersebut menjadi pemantik bagi tokoh-

7

tokoh humanis lain untuk menyuarakan pemikiran serupa. Pemikiran tersebit
dituangkan dalam konsep kebijakan baru yang dikenal sebagai politik etis atau politik
balas budi.

Salah satu tokoh humanisme dibalik gagasan politik etis adalah Conraad
Theodore Van Deventer. Pada 1899 Van Deventer melontar kritik tajam melalui sebuah
artikel berjudul Een Eerschuld. Dalam artikel tersebut terpapar ketimpangan sosial
akibat penerapan sistem tanam paksa dan sistem ekonomi liberal di Indonesia. Kedua
kebijakan tersebut menimbulkan penderitaan bagi rakyat Indonesia. Hal tersebut
membuat Van Deventer menilai bahwa pemerintah kolonialisme sudah seharusnya
memberikan balas budi terhadap rakyat Indonesia.

Pada 17 September 1901 Ratu Wihelmina secara resmi mengenalkan politik etis
sebagai kebijakan baru di Indonesia. Kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan
kemakmuran bangsa Indonesia melalui tiga program utama yaitu irigasi (pengairan) ,
migrasi (perpindahan pendudukan), dan edukasi (pendidikan).

Politik etis mengubah pandangan pemerintah kolonial Belanda terhadap
keberadaan sumber daya di Indonesia. Penerapan kebijakan tersebut
diimplementasikan melalui pembangunan beberapa infrastruktur yang bertujuan
memudahkan kebutuhan rakyat Indonesia.

Pelaksanaan politik etis dalam bidang pendidikan diwujudkan melalui
pengangkatan J.H. Abendanon sebagai Direktur Pendidikan di Hindia Belanda. Pada
dasarnya penyelenggaraan pendidikan di Indonesia sudah diupayakan pada oleh
pemerintahan kolonial Belanda sejak 1893 melalui pembukaan Earste School (Sekolah
Angka) untuk anak-anak bangsawan sedangkan untuk rakyat biasa didirikan Tweede
School (Sekolah Angkka Dua). Implementasi penerapan politik etis pada pendidikan
ditandai dengan pendirian sekolah pada 1903 yang diberi nama Volkschool (sekolah
desa) dengan masa belajar 3 tahun. Kemudian membangun sekolah lanjutan bernama
Vervologschool dengan masa belajar 3 tahun. Serta terdapat perbaikan dari kedua
sekolah tersebut dengan pendirian Meer Uitgebreid Lager Onderweijs (MULO) sebagai
setingkat SMP dan Algemeene SCHOL sebagai sekolah tingkat SMA.

Dalam perkembangannya anak-anak Indonesia diberi kesempatan untuk
mengenyam jenjang pendidikan yang sama. Salah satu sekolah tinggi yang ddirikan
pemerintah kolonial Belanda adalah STOVIA School tot van Inlandsche yang bertujuan
menghasilkan dokter jawa. Selain itu juga terdapat di surabaya juga didirikan sekolah

8

kedokteran bernama Nederland Indische Arsten School (NIAS). Pemerintah kolonial
juga mendirikann beberapa sekolah tinggi lain seperti Technische Hooge School
(Sekolah tinggi teknik) di Bandung, Rechts Hooge School (sekolah tinggi hukum) di
Jakarta, Landbouwkundige Hooge School (sekolah tinggi pertanian) di Bogor.

Sekolah Dokter Jawa (STOVIA) 1899

Tujuan penyelenggaraan sekolah tinggi untuk menghasilkan tenaga birokrat.
Kemudian tenaga tersebut direkrut untuk menempati jabatan-jabatan teknis di lingkungan
pemerintah kolonial. Untuk mencapai hal tersebut pemerintah mendirikan Oplesiding
School voor Inlandscehe Ambtenaren (OSVIA), yaitu sekolah yang dipersiapkan bagi
kalangan rakyat Indonesia untuk menjadi pegqwaii pemerintah. Golongan inilah yang
menjadi pelopor tumbuhnya semangat nasionalisme dan jiwa kebangsaan Indonesia.
2. Media Massa

Kemunculan erat media massa di Indonesia ada kaitannya dengan aktivitas orang-
orang Eropa. Pada 1744 Gubernur Jendral Gustaaf W. Baron van Imhoff mengeluarkan
izin penerbitan surat kabar pertama di Indonesia bernama Bataviasche Nouvels diikuti
kehadiran surat kabar berbahasa Belanda lain seperti De Locomotief pada tahun 1852
di Semarang dan Bataviaash Nieuwsblaad pada 1885 di Batavia.

Selain dalam bahasa Belanda, surat kabar di Indonesia diterbitkan dalam bahasa
Jawa dan Melayu. Secara umum, surat kabar berbahasa Melayu yang terbit di Indonesia
memiliki tiga bidang cakupan utama, yaitu budaya dan pendidikan gereja serta
komersial.

9

Surat kabar Medan Prijaji

Pada 1907 muncul surat kabar Medan Prijaji di Bandung. Medan Priaji merupakan
media massa pertama yang dicetak dan diterbitkan oleh golongan rakyat Indonesia sehingga
dikatakan sebagai pelopor pers bumiputra di Indonesia. Pada masa pergerakan nasional inilah
media massa merupakan sarana komunikasi utama dimanfaatkan untuk menyebarkan semangat
kebangsaan.

KEGIATAN PEMBELAJARAN II

ORGANISASI PADA MASA PERGERAKAN NASIONAL

Dari perbaikan sistem pendidikan dan juga adanya perkembangan media massa
melahirkan golongan intelektual yang memiliki cara pandang baru. Golongan tersebut
menyadari bahwa bangsa Indonesia harus keluar dari pengaruh pemerintah kolonial agar
bebas seperti bangsa lain. Kesadaran tersebut memicu bangkitnya nasionalisme di
Indonesia. Bangkitnya hal tersebut erat kaitannya dengan munculnya organisasi-organisasi
pergerakan nasional sebagai berikut.

a) Budi Utomo

Organisasi pertama yang berdiri di Indonesia adalah Budi Utomo. Kehadiran
organisasi ini erta kaitannya dengan kampanye pendidikan pendidikan yang dilakukan
Wahidin Sudirohusodo pada 1906. Kampanye tersebut bertujuan meningkatkan taraf
pendidikan bagi pelajar kurang mampu melalui pemberiaan dana belajar (studiefonds).

Ketika pelaksanaan kampanye di Jakarta, Wahidin Sudirohusodo bertemu dengan
Sutomo yang sedang menempuh pendidikan di Stovia. Sutomo kemudian mengajak

10

pelajar STOVIA lainnya untuk membicarakan dana belajar yang digagas oleh Wahidin
Sudirohusodo. Dalam diskusi yang dilakukan di perpustakaan STOVIA. Akan tetapi,
dalam diskusi ini terjadi perubahan tujuan yaitu kehendak mendirikan sebuah
organisasi sebagai penyalur aspirasi golongan priyayi Jawa. Kehendak ini diwujudkan
pada 20 Mei 1908 melalui pendirian organisasi yang bernama Budi Utomo

Rapat pertama Budi Utomo dilaksanakan di Yogyakarta pada 3-5 Oktober 1908
yang menghasilkan keputusan

a. Pembatasan ruang lingkup kegiatan organisasi hanya di pulau Jawa dan
Madura.

b. Penetapan R.T Ario Tirtokusumo sebagai ketua Budi Utomo.
c. Penetapan kota Yogyakarta sebagai pusat organisasi.
d. Pembatasan ruang gerak kegiatan organisasi hanya dalam bidang pendidikan

dan kebudayaan.
e. Penggantian slogan Budi Utomo dari “perjuangan untuk mempertahankan

penghidupan” menjadi “kemajuan secara serasi”.
Memasuki dasawarsa 1920-an, Budi Utomo memperlebar sayap kegiatan dari organisasi
etnik Jawa menjadi organisasi bersifat nasional. Selanjutnya, pada 1927 Budi Utomo
memutuskan bergabung dalam Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia
(PPPKI). Perubahan corak menjadi organisasi nasional yang terlibat dalam kegiatan politik
menyebabkan beberapa pengurus inti Budi Utomo mengundurkan diri.
b) Serekat Islam

Serekat Islam merupakan perkumpulan pedagang Islam yang awalnya bernama
Serekat Dagang Islam (SDI). Organisasi ini didirikan oleh R.M Tirtoadisuryo pada
1909. Pada 1912 Serekat Dagang Islam dipimpin oleh H.O.S. Cokroaminoto.
Perubahan nama dilatarbelakangi oleh pertimbangan ruang gerak yang lebih luas.

11

Dalam perkembangannya, Serakat 1.3 Gedung Sarekat Islam cabang Semarang
Islam mengajukan usulan kepada
pemerintah kolonial Belanda agar diakui
sebagai organisasi berbadan hukum. Akan
tetapi permohonan tersebut ditolak oleh
pemerintah kolonial disebabhkan
kekhawatiran pemerintah kolonial Belanda
terhadap munculnya paham-paham
revolusioner yang terbentuk dalam
aktivitas Serekat Islam.

Dalam perkembangannya, Serakat Islam mengajukan usulan kepada pemerintah
kolonial Belanda agar diakui sebagai organisasi berbadan hukum. Akan tetapi
permohonan tersebut ditolak oleh pemerintah kolonial disebabhkan kekhawatiran
pemerintah kolonial Belanda terhadap munculnya paham-paham revolusioner yang
terbentuk dalam aktivitas Serekat Islam.

Pada kongres tahun 1916vSerekat Islam menyeruakan pernyataan politik yang
memuat tujuan pernyatuan seluruh penduduk Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat
melalui cara-cara demokratis. Kemudian kongres tahun 1919 semaun mengusulkan
penerapan sifat dogmatis dalam asas ekonomi Serekat Islam. Usulan tersebut
bertentangan dengan gagasan H.O.S. Cokrominoto yang menginginkan penerapan asas
ekonomi bersifat nasional. Hal ini menyebabkan keanggotaan Serekat Islam mengalami
perpecahan.

c) Indische Partij

Douwes Dekker merupakan tokoh indo 1.4 pendiri Indische Partij
eropa yang memprakarsai berdirinya Indische
partij pada 25 Desember 1912. Douwes Dekker
kemudian mengajak Cipto Mangunkusumo dan
Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara)
ikut bergabung dalam indische Partij. Ketiga
tokoh tersebut dijuluki tiga serangkai.

12

Tujuan utama dari organisasai Indische Partij yaitu menyatukan semua
golongan masyarakat di Indonesia, baik golongan buniputra, Indo-Belanda, Tionghoa
maupun Arab. Upaya integrasi antar golongan yang dilakukan tiga serangkai seperti
Yogyakarta, Semarang, Madiun dan Surabaya. Selain menjalin kerjasama dengan elite
lokal, Indesche Partij menyebarkan gagasan nasionalisme melalui penerbitan surat
kabar De Expres dan majalah Het Tijdshrift.

Kehadiran organisasi Indische Partij dirasa Pemerintah Belanda menggangu
keamanaan umum. Pada 11 Maret 1913 pemerintah kolonial Belanda secara resmi
menyatakan Indische Partij sebagai organisasi terlarang. Namun perjuangan tiga
serangkai tersebut tidak berhenti setelah pelarangan tersebut. Ki Hajar Dewantara
kemudian membuat geram Bangsa Kolonial dengan menulis buku berjudul “Andai Aku
Seorang Belanda”. Hingga pada 1913 tiga serangkai tersebut dijaatuhi hukuman
pengasingan.

d) Perhimpunan Indonesia

Indische Vereeniging

terbentuk pada 1908 oleh pelajar

Indonesia yang menempuh pendidikan

di negeri Belanda. Bebrapa pelajar

tersebut yaitu Sutan Kesayangan,

R.M. Noto Suroto, R.P. Sosrokusumo,

Husein Djajadiningrat dan

Notodiningrat. Pada 1922 Indische

Vereeniging mengubah nama

organisasi menjadi Indonesische

Vereeniging mengubah nama

organisasi menjadi Indonesische

Vereeniging. Organisasi ini mulai

aktif mempelopori perjuangan meraih 1.5 Tokoh-tokoh pendiri Perhimpunan
Indonesia
kemerdekaaan Indonesia melalui

majalah Hindia Poetra.

13

Semangat nasionalisme yang diperjuangan oleh Indonesische Vereeniging
mencapai titik kulminasi pada 1925 melalui pergantian nama organisasi menjadi
perhimpuan Indonesia. Corak pergerakan perhimpunan Indonesia menjadi semakin
radikal ketika dipimpin oleh Moh. Hatta.

Semangat antinasionalisme yang diperjuangkan perhimpunan Indonesia
diwujudkan melalui kerja sama dengan beberapa organisasi antar bangsa. Perhimpunan
Indonesia terlibat aktif dalam organisasi internasional seperti liga Demokrasi
Internasional di Paris (1926), Liga Penentang Imperialis dan Kolonialisme di Brussel
(1927), Kongres Wanita Internasional di Swiss (1927) dan Liga Kominterm di Berlin
(1927).

e) Organisasi Keagamaan
1. Muhammadiyah

Organisasi Muhammadiyah didirikan pada 18 November 1912 di Yogyakarta.
Pendirian orgaanisasi ini berawal dari keprihatinan Ahmad Dahlan terhadap kondisi
umat islam yang saat itu belum menerapkan ajaran islam dan masih mempercayai unsur
mistik. Tujuan organisasi ini memajukan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat
yang didasari atas ajaran islam dalam pengertian modern. Tujuan tersebut
diimplementasikan melalui pembentukan lembaga pendidikan, pendirian lembaga
kesehatan serta penerbitan surat dan kabar buletin. Peranan muhammadiyah dalam
bidang pendidikan terlihat dari pendirian beberapa sekolah. Pada 1919 didirikan Hooge
School Muhammadiyah sebagai sekolah tingkat lanjutan. Lembaga pendidikan tersebut
berganti nama menjadi Kweekschool Muhammadiyah pada 1921.

2. Nahdatul Ulama

Nahdatul Ulama didirikan pada 31 januari 1926 atas prakarsa K.H. Wahab
Chasbullah dan K.H. Hasyim Asyhari. Organisasi yang berpusat di Surabaya ini
memiliki tujuan utama yaitu membela kepentingan kaum muslim dan para kiai
tradisional serta memelihara dan menyantuni fakir miskin.

Organisasi nahdatul Ulama ini cenderung kurang menerima perubahan-perubahan yang
dilakukan oleh penganut Wahabi. Pada perkembangannya organisasi ini saling bertolak
belakang dapat bersatu atas nama kebangsaan. Salah satu upaya yang dilakukan dalam

14

memperkuat ajaran islam di tengah masyarakat yaitu dengan mengubah tradisi
berkhotbah menggunakan bahasa Arab amenjadi bahasa daerah.
3. Perkumpulan Politik Katolik Jawi

Perkumpulan Politik Katolik Jawi (PPKJ) dibentuk oleh I.J. Kasimo pada 22
Februari 1925. Organisasi ini berfokus pada dua bidang utama yaitu sosial dan
pendidikan.

F. Partai Komunis Indonesia

kemunculan paham komunis di Indonesia tidak lepas dari kehadiran seorang
pemimpin kaum buruh Belanda bernama H.J.M. Sneevliet. Pada 9 Mei 1914
Sneevlietbersama J.A. Brandsteder, H.W. Dekker dan Bargsma memprakarsai
bedirinya sebuah organisasi baru bernama Indische Sociaal-Democratische
Vereeniging (ISDV). Pada kongres yang berlangsung pada bulan Mei 1920 organisasi
ini berganti Partai Komunis Hindia. Kemudian pada desember 1920 berganti lagi
menjadi Partai Komunis Indonesia. PKI mulai gencar melanv=carkan aksinya
propoganda untuk melawan kapitalisme di Indonesia. Aksi tersebut dijalankan melalui
gerakan-gerakan di kalangan kaum buruh.
G. Partai Nasional Indonesia

kemunculan Partai Komunis Indonesia berkaitan erat dengan sebuah
perkumpulan mahasiswa berrnama Algemeene Studie Club. Pada 4 juli 1927
Algemeene Studie mengadakan rapat di Bandung. Rapt tersebut menghasilkan
kesepakatan pembentukan sebuah organisasi baru bernama perserikatan Nasional
Indonesia dipercayakan kepada Soekarno, sedangkan beberapa tokoh yang menjadi
pengurus organisasi antara lain Cipto Mangunkusumo, Anwari, Sartono, Iskaq
Tjokroadisurjo, Soenarjo, Budiarto dan Samsi. Nama organisasi tersebut kemudian
berganti nama menjadi Partai Nasional Indonesia pada 1929.

15

Pada akhir tahun 1929 berkembang
isu bahwa PNI berencana melakukan
pemberontakan terhadap pemerintah
kolonial Belanda pada 1930. Atas desakan
parlementer, pemerintah kolonial Belanda
akhirnya menangkap tokoh-tokoh PNI pada
29 Desember 1929

1.5 Kongres pertama PNI

H. Taman Siswa

Ki Hajar Dewantara merupakan penggagas berdirinya Taman Siswa yang
didirikan di Yogyakarta pada 3 Juli 1922. Konsep yang ditekankan oleh Ki Hajar
Dewantara disebut dengan “sistem among”. Pelaksanaan pendidikan di Taman Siswa
mengedepankan terwujudnya bangsa yang setia, patriotik, bersemangat, berdedikasi
tinggi serta memiliki kemandirian.

I. Organisasi Perempuan

pada masa pergerakan nasional, peranan kaum perempuan tersebut berlanjut
melalui pembentukan organisasi-organisasi yang menitikberatkan pada perbaikan dan
kedudukan sosial perempuan. Berikut beberapa organisasi perempuan pada masa
pergerakan nasional.

1. Putri Mardika

Organisasi Putri Mardika merupakan organisasi perempuan yang pertama kali,
didirikan pada 1912 diJakarta. Organisasi ini bertujuan memberikan bantuan dan
bimbingan kepada kaum perempuan bumiputra dalam menuntut pendidikan serta
menyatakan pendapat di depan umum. Tujuan tersebut diimplementasikan melalui
pemberian beasiswa dan penerbitan majalah secara berkala. Tokoh-tokoh organisasi ini
yaitu P.A. Sabarudin, R.A. Sutinah Joyopranoto, R.R. Rukmini dan Sadikun
Tondokusumo.

16

2. Kartini Fonds

Kartini Fonds didirikan oleh Nyonya C.Th. Van Deventer salah satu tokoh
humanis Belanda yang menjadi penggagas politik etis. Usaha utama yang dilakukan
organisasi ini untuk mengembangkan peranan kaum perempuan adalah mendirikan
sekolah bernama Sekolah Kartini di Jakarta, Bogor, Semarang, Madiun, Malang,
Cirebon, Pekalongan, Surabaya serta Rembang.

3. Aisyah

Aisyah merupakan organisasi perempuan bagian dari Muhammadiyah.
Organisasi ini terbentuk pada 22 April 1917 diprakarsai oleh H.J. Siti Walidah.
Organisasi ini bertujuan memajukan pendidikan dan keagamaan bagi kaum perempuan,
merawat anak yatim dan menanamkan rasa kebangsaan melaui kegiatan organisasi.

4. Wanita Katolik

Wanita Katolik berdiri pada 26 Juni 1924 berpusat di Yogyakarta yang digagas
oleh Raden Ayu Maria Sulastri Darmosepuro. Tujuan dari organisasi ini menampung
aspirasi kaum perempuan katolik dalam bidang pendidikan, ketrampilan dan
kebudayaan.

PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ORGANISASI MODERAT DAN ORGANISASI
RADIKAL

a) Persamaan Organisasi Moderat dengan Organisasi Radikal
• Menggunakan organisasi modern sebagai alat perjuangan
• Perjuangan bersifat nasional
• Tidak menggunakan kekerasan senjata
• Dipimpin oleh kaum terpelajar
• Ingin mendapatkan kemerdekaan

b) Perbedaaan Organisasi Moderat dengan Radikal
Perbedaan perjuangan organisasi pergerakan nasional dengan strategi radikal

dan strategi moderat memiliki perbedaan antara lain: cara perjuangan yang dilakukan
kalau radikal tidak mau bekerjasama dengan belanda, sedangkan kooperatif mau

17

bekerjasama dengan Belanda. Organisasi bersifat radikal menginginkan langsung
kemerdekaan politik, sedangkan moderat menginginkan kemerdekaan ekonomi terlebih
dahulu baru kemudian kemerdekaan politik.

Rangkuman

a) Latar belakang munculnya pergerakan nasional diawali dengan adanya politik etis,
perbaikan pendidikan dan media massa pada masa pemerintah kolonial.

b) Strategi yang ada pada masa pergerakan nasional dilakukan dengan membentuk
organisasi-organisasi baik radikal maupun moderat.

c) Jika persamaan organisasi radikal dan moderat dilihat dari tujuan utama yang harus
ingin diwujudkan sedangkan perbedaannya bisa dilihat dari cara pergerakannya.

E. Latihan Soal
PILIHAN GANDA
Kerjakan Soal dibawah ini, dengan memilih jawaban yang paling tepat !!!!

1. Penerapan politik etis telah mengubah kedudukan wilayah Indonesia dari wingewest
menjadi wilayah yang perlu dikembangkan. Perubahan kedudukan tersebut sejalan
dengan tujuan pemerintah kolonial Belanda untuk….
a. memenuhi kebutuhan hidup bangsa Indonesia
b. Memperbaiki kondisi keuangan negeri Belanda
c. Memenuhi kritikan tokoh-tokoh humanis Belanda
d. Mengupayakan pemerataan penduduk di wilayah Indonesia
e. Membatasi kegiatan eksploitasi sumber daya alam di Indonesia

2. Media massa (pers) di Indonesia telah muncul sejak masa kekuasaan VOC.
Kemunculan media massa dilatarbelakangi oleh
a. penerbitan buku tenatng cerita hikayat dan dongeng di Indonesia
b. Pemerbitan pamflet yang memuat keputusan pemerintah kolonial
c. Pengumpulan berita-berita internasional dalam arsip pemerintah
d. Pencatatan kegiatan pemerintahan dalam bentuk notulen.
e. Penerbitan laporan berkala dalam bentuk tulisan tangan

3. Pada 1927 Budi Utomo memutuskan bergabung dalam permufakatan Perhimpunan
Politik Kebangsaan Indonesia. Berdasarkan fakta tersebut, dapat diketahui bahwa Budi
Utomo mengalami perubahan…

18

a. sifat menjadi organisasi nasional
b. haluan menjadi organisasi politik
c. paham menjadi organisasi kebangsaaan
d. sikap menjadi organisasi kooperatif
e. bentuk menjadi organisasi permufakatan

4. Kehadiran Serikat Islam memicu kekhawatiran pemerintah kolonial Belanda terhadap
munculnya paham-paham revolusioner. Sikap tersebut ditunjukan oleh pemerintah
kolonial Belanda melalui..
a. pembekuan aktivitas Serikat Islam tingkat lokal
b. penangkapan tokoh-tokoh pimpinan Serikat Islam
c. penolakan status badan hukum yang diajukan Serikat Islam
d. Pelarangan surat kabar Oetoesan Hindia yang diterbitan oleh Serikat Islam
e. penyusupan ke dalam tubuh Serikat Islam untuk menciptakan perpecahan

5. Dalam upaya menancapkan pengaruhnya di tengah masyarakat, ISDV melancarkan
taktik infiltrasi ke sejumlah organisasi seperti Sarekat Islam. Dipilihnya Sarekat Islam
sebagai sekutu ISDV karena organisasi tersebut memiliki…
a. cara pandang yang dogmatis
b. basis massa yang relatif
c. pemimpin muda yang reaksioner
d. basis massa yang cenderung radikal
e. cabang yang terpisah dengan organisasi induk

6. Pada 1923 Indonesische Vereeniging menerbitkan majalah bernama Hindia Poetra.
Dalam perkembangannya, nama majalah ini diubah menjadi Indonesia Merdeka.
Perubahan tersebut merupakan salah satu upaya Indonesische Vereeniging untuk…
a. menyatukan pemikiran para pelajar Indonesia di Belanda melalui media massa
b. meningkatkan semangat nasionalisme dengan menerapkan unsur-unsur
keindonesiaan
c. mengkritik pemerintah kolonial Belanda yang menjalankan kebijakan-
kebijakan represif
d. meminimalisasi timbulnya konflik internal dalam keanggotaan Indonesische
Vereeniging
e. meluaskan ruang lingkup agar majalah terbitan Indonesische Vereeniging dapat
diakses seluruh pelajar

7. Berikut sekolah tinggi pada massa kolonial Belanda yang paling tepat ditunjukkan oleh
a. STOVIA dan Technische Hooge School
b. STOVIA dan Rechts Hooge School
c. Technische Hooge School dan Rechts Hooge School
d. Technische Hooge School dan NIAS
e. Rechts Hooge School dan NIAS

19

8. Pelaksanaan pendidikan di Taman Siswa diwujudkan melalui pengajaran kebudayaan
positif dan berpegang pada filsafat hidup nasional dengan jiwa universal. Berdasarkan
pemahaman tersebut, dapat diketahui bahwa Taman Siswa..
a. mengedepankan budaya nasional untuk tercapainya kehidupan yang positif
b. mengembangkan pemahaman adaptasi budaya dalam kegiatan pengajaran
c. menerapkan semangat universal untuk mempertahankan kebudayaan yang
positif.
d. mengadopsi unsur positif kebudayaan asing untuk diimplementasikan dalam
pendidikan
e. menyuarakan pentingnya filsafat pendidikan nasional dalam aktivitas
pendidikan universal

9. Siapakah pendiri organisasi Taman Siswa…
a. Ki Hajar Dewantara
b. Cipto Mangunkusumo
c. Iskaq Tjokroadisurjo
d. Ahmad Dahlan
e. K.H. Hasyim Asyhari

10. Apakah organisasi modern pertama yang berdiri di Indonesia..
a. Budi Utomo
b. Sarekat Islam
c. Partai Komunis Indonesia
d. Partai Nasional Indonesia
e. Taman Siswa

ESSAY

1. Pada akhir abad XIX tokoh-tokoh humanis Belanda mengkritik pemerintah kolonial
Belanda secara tajam. Jelaskan latar belakang munculnya kritikan tersebut!

2. Perhimpunan Indonesia merupakan salah satu organisasi masa pergerkan nasional yang
gencar memperjuangkan tujuan kemerdekaan Indonesia. Bagaimana upaya
Perhimpunan Indonesia untuk menggalang dukungan internasional terhadapa tujuan
tersebut?

3. Sebutkan 3 organisasi yang bersifat radikal berserta pendirinya!
4. Sebutkan klasifikasi 3 organisasi yang bersifat moderat beserta pendirinya!
5. Apa perbedaan cara perjuangan yang dilakukan organisasi radikal dengan moderat?

PILIHAN GANDA KUNCI JAWABAN

1. A 6. B
2. E 7. A
3. E 8. E
4. A 9. A
5. B 10. A

20

ESSAY

1. Latar belakang dari munculnya kritikan tersebut dikarenakan kebijakan-kebijakan
eksploitatif yang dilakukan pemerintah Belanda sebelum akhir abad XX dinilai
kurang memperhatikan kehidupan sosial bumiputra.

2. Upaya tersebut diwujudkan melalui kerja sama dengan beberapa organisasi pemuda
antarbangsa.

3. Klasifikasi organisasi meliputi
a. Perhimpunan Indonesia pendirinya Sutan Kasayangan, R.M. Noto Suroto, R.P.
Sosrokusumo, Husein Djajadiningrat dan Notodiningrat
b. Partai Komunis Indonesia pendirinya Cipto Mangunkusumo, Anwari, Sartono, Iskaq
Tjokroadisurjo dll.
c. Partai Komunis Indonesia pendirinya Sneevlie, J.A. Brandsteder, H.W. Dekker dan
Bergsma.

4. Klasifikasi organisasi moderat meliputi
a. Budi Utomo pendirinya Wahidin Sudiro Husodo dan Sutomo
b. Muhammadiyah pendirinya Ahmad Dahlan
c. Sarekat Islam pendirinya R.M. Tirtoadisuryo

5. cara perjuangan yang dilakukan kalau radikal tidak mau bekerjasama dengan belanda,
sedangkan moderat mau bekerjasama dengan Belanda.

A. Penilaian Diri

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan jujur dan bertanggungjawab !

No Pertanyaan Jawaban

Ya Tidak

1. Saya dapat menyebutkan tentang kerajaan Islam yang

pernah berdiri di Indonesia

2. Saya dapat menjelaskan bagaimana kehidupan masyarakat

masa kerajaan Islam

3. Saya dapat menjelaskan bagaimana kehidupan

Pemerintahan masa Kerajaan Islam

4. Saya dapat menjelaskan bagaimana kehidupan budaya

masa kerajaan Islam

5. Saya dapat menyebutkan bukti-bukti peninggalan masa

Islam yang masiih ada hingga masa kini

6. Saya dapat menjelaskan nilai-nilai dan unsur budaya masa

kerajaan Islam yang masih berkelanjutan hingga masa kini

Keterangan :
Apabila ada jawaban “Tidak” maka segera lakukan pemahaman materi
pembelajaran, khususnya pada bagian yang masih “Tidak”.

21

Apabila semua jawaban “Iya”, maka kamu dapat melanjutkan pada pembalajaran
berikutnya.

EVALUASI

Penugasan Keterangan
Siswa diminta untuk membentuk 4 1. Setaip kelompok membahas 9
kelompok. Kemudian setiap kelompok
menganalisis 9 organisasi pada masa organisasi yang ada pergerakan
pergerakan nasional berdasarkan klasifikasi, nasional.
upaya pergerakan, persamaan dan 2. Setiap kelompok membuat proyek
perbedaan organisasi yang bersifat radikat berupa mading sesuai hasil tersebut.
dengan organisasi yang bersifat moderat.
Peserta didik diminta membentuk kelompok
berdasarkan jumlah kerajaan Islam yang
dipelajari. Kemudian setiap kelompok
menyajikan hasil analisis tersebut dalam

bentuk proyek berupa mading.

22

Daftar Pustaka
Marwati Djoened, Poesponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia Jilid III:
Balai Pustaka (Persero)
Prasetyo Doni, Melkisedek Bagas dan Samsudar Makfi, Sejarah Indonesia : PT Intan Pariwara

23

24


Click to View FlipBook Version