HIV AIDS StopHIva 2023 Booklet
1 DAFTAR ISI Sejarah HIV AIDS Apa bedanya? Pengertian HIV AIDS Prevalensi di Indonesia Gambaran Penularan Kasus Cara Penularan Perkembangan HIV Menjadi AIDS Tes HIV Program dari Pemerintah Daftar Pustaka S T O P H I V A 2 0 2 3 2 3 4 5 6 7 8 9 10
HIV AIDS SEJARAH Kasus HIV AIDS pertama kali ditemukan pada tahun 1981 dimana sebuah sindrom baru muncul diantara kalangan pria homoseksual di Amerika Serikat. S T O P H I V A 2 0 2 3 Pada tahun 1986 Ilmuwan Perancis mengisolasi suatu virus baru yang dikenal sebagai virus HIV II, yang juga menyebabkan gejalagejala AlDS, virus ini dapat ditemukan di Afrika Barat. Kasus HIV AIDS pertama di Indonesia ditemukan di provinsi Bali pada tahun 1987 dimana seorang wisatawan asal belanda ditemukan tewas di sebuah hotel. Sejak ditemukannya kasus HIV AIDS pertama di Indonesia maka akhirnya disadari bahwa virus ini telah tersebar di berbagai provinsi. 2
HIV APA BEDANYA? APA BEDANYA? Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Virus HIV akan masuk ke dalam sel darah putih yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap infeksi akan menurun jumlahnya. S T O P H I V A 2 0 2 3 AIDS Acquired Immunodeficiency Syndrome Human Immunodeficiency Virus Kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV. 3
Di Indonesia PREVALENSI S T O P H I V A 2 0 2 3 Kementerian Kesehatan pelaporan penularan kasus human immunodeficiency virus (HIV) di Indonesia meningkat pada 2023. penularan kasus didominasi oleh ibu rumah tangga. Jumlah terinfeksi HIV mencapai 35%. Penularan HIV melalui jalur ibu ke anak menyumbang sebesar 20-45 persen dari total kasus. Sebanyak 45% persen bayi yang lahir dari ibu yang positif HIV akan lahir dengan HIV. kasus HIV pada anak usia 1-14 tahun mencapai 14.150 kasus Dari hasil tes HIV pada ibu hamil sebanyak 7.153 positif HIV. 4
penularan kasus GAMBARAN S T O P H I V A 2 0 2 3 Penularan HIV tertinggi berasal dari hubungan seks yang berisiko. Penularan HIV tertinggi terjadi pada kelompok homoseksual dan heteroseksual (Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, 2015) Penularan HIV AIDS dari Ibu ke Janin, yang mana penularannya dapat dimulai sejak dari dalam kandungan, saat proses kehamilan, hingga proses menyusui. Penularan HIV AIDS dari ibu ke janin kasusnya sudah banyak ditemukan dan diproyeksikan 20- 45% kasus HIV yang terjadi di Indonesia ditularkan melalui media ini. Penularan HIV ke ibu dan janin umumnya dapat terjadi karena suaminya melakukan perilaku seks yang berisiko (Abrori & Qurbaniah, 2017). 5
penularan CARA S T O P H I V A 2 0 2 3 Media Penularan HIV Cairan Darah Cairan Kelamin (cairan sperma dan vagina) ASI dan Plasenta HIV tidak menular melalui: Jabat tangan Berpelukan Berenang di kolam renang yang sama Gigitan serangga Penggunaan toilet umum 6
HIV menjadi AIDS PERKEMBANGAN S T O P H I V A 2 0 2 3 Periode masa jendela Periode masa jendela yaitu periode dimana pemeriksaan tes antibodi HIV masih menunjukkan hasil negatif walaupun virus sudah masuk ke dalam darah pasien dengan jumlah yang banyak. Fase infeksi akut Setelah HIV menginfeksi sel target, terjadi proses replikasi yang menghasilkan virus-virus baru (virion) dengan jumlah hingga berjutajuta virion. Viremia dari begitu banyak virion tersebut dapat memicu munculnya sindrom infeksi akut dengan gejala yang mirip penyakit flu atau infeksi mononukleosa. Fase infeksi laten Pada fase ini jarang ditemukan virion di plasma sehingga jumlah virion di plasma menurun karena sebagian besar virus terakumulasi di kelenjar limfa dan terjadi replikasi di kelenjar limfa. Fase infeksi laten berlangsung rata-rata sekitar 8-10 tahun (dapat 3-13 tahun) setelah terinfeksi HIV. Bila infeksi pada tahap laten tidak mendapatkan penanganan bisa menyebabkan HIV semakin berkembang dan menyebabkan infeksi HIV memasuki tahap ke-3 yaitu AIDS. Sistem kekebalan tubuh penderita sudah rusak parah pada tahap ini, sehingga penderita menjadi lebih mudah terserang infeksi lain. AIDS 7
Konseling dan tes sukarela (VCT) ini merupakan suatu pembinaan dua arah ataudialog yang berlangsung tak terputus antara konselor dan kliennya dengan tujuanuntuk mencegah penularan HIV, memberikan dukungan moral, informasi, sertadukungan lainnya kepada ODHIV, keluarga dan lingkungannya. Pada prinsipnya, VCT dilakukan secara sukarela dan bersifat rahasia. Artinya, dilakukan atas keinginannya sendiri, tanpa paksaan dari pihak lain untuk datang ke penyedialayanan VCT. Selama proses pra dan pasca konseling terjaga kerahasiaannya. Konseling pra-tes Tes HIV dengan menemui dokter, konselor terlatih, perawat, atau petugas kesehatan. Pada tahap ini, konselor berperan memberikan penjelasan mengenai informasi HIV AIDS, apa yang akan dilakukan pada saat tes dan bagaimana jika hasilnya positif. TES HIV S T O P H I V A 2 0 2 3 Pemeriksaan HIV yang paling sering digunakan yaitu pemeriksaan VCT atau Voluntary Counseling and Testing, dimana tes ini dilakukan untuk mengetahui status HIV dan dilakukan secara sukarela serta melalui proses konseling terlebih dahulu sampai pada proses tes dan postes. Manfaat melakukan tes VCT 1. Untuk pencegahan dan pengendalian penularan HIV 2. Membantu perubahan perilaku sehat bagi masyarakat 3. Mendeteksi sedini mungkin terkait risiko terkena HIV AIDS 4. mendapat pengobatan antiretroviral untuk menekan perkembangan virus HIV bagi ODHIV. Konseling dan tes sukarela (VCT) terus memainkan peran penting dalam pencegahan, perawatan, dan pengobatan HIV. Tahap konseling tes HIV Tes HIV Tahap yang hanya dilakukan ketika klien menyetujuinya, tanpa paksaan dan secara sukarela. Pada tahap ini petugas laboratorium mengambil sedikit darah untuk diperiksa. Konseling pra-tes Tahap dimana konselor menyampaikan hasil pemeriksaan darah. Hasil tes darah bersifat rahasia, hanya dokter atau konselor yang mengetahui hasil pemeriksaan. Kemudian jika hasilnya reaktif atau positif maka akan diberikan pendampingan, memutuskan rencana pengobatan. Biasanya tahap ini klien akan diberi pilihan dalam untuk mendapat pendampingan dari konselor, peer support atau mandiri. 8
a. meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan HIV dan AIDS melalui kerja sama nasional, regional, dan global di bidang hukum, organisasi, pembiayaan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan sumber daya manusia; b. mengutamakan komitmen nasional dan internasional; c. meningkatkan advokasi, penjangkauan, dan pengembangan kapasitas; d. meningkatkan upaya pengendalian HIV dan AIDS yang berkeadilan, terjangkau, bermutu dan adil serta berdasarkan bukti, dengan mengedepankan upaya preventif dan promotif; e. meningkatkan jangkauan layanan terhadap kelompok masyarakat berisiko tinggi, tertinggal, terpencil, perbatasan dan kepulauan serta permasalahan kesehatan; f. meningkatkan pendanaan untuk pengendalian HIV dan AIDS; g. meningkatkan pembangunan dan pemberdayaan sumber daya manusia yang adil dan berkualitas dalam penanggulangan HIV dan AIDS; h. meningkatkan ketersediaan dan keterjangkauan pengobatan, mendukung pemeriksaan HIV dan AIDS serta menjamin keamanan, kegunaan dan mutu sediaan obat dan bahan/peralatan yang diperlukan untuk pengendalian HIV dan AIDS; Dan i. meningkatkan pengelolaan pencegahan HIV dan AIDS yang akuntabel, transparan, efisien dan efektif. PEMERINTAH PROGRAM DARI S T O P H I V A 2 0 2 3 Permenkes no. 21 tahun 2013 Berdasarkan Pasal 5 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS (“Permenkes 21/2013”), menyatakan bahwa strategi yang digunakan dalam melakukan kegiatan penanggulangan HIV dan AIDS, meliputi: Dengan adanya peraturan tersebut bertujuan untuk menurunkan hingga meniadakan infeksi HIV baru, menurunkan hingga meniadakan kematian yang disebabkan oleh keadaan yang berkaitan dengan AIDS, meniadakan diskriminasi terhadap ODHIV, meningkatkan kualitas hidup ODHIV, dan mengurangi dampak sosial ekonomi dari penyakit HIV dan AIDS pada individu, keluarga dan masyarakat. 4
DAFTAR PUSTAKA Adhi, Irawan Sapto. (2020). 4 Tahapan Infeksi HIV Menjadi AIDS. Https://Health.Kompas.Com. https://health.kompas.com/read/2020/06/16/080200268/4-tahapan-infeksihiv-menjadi-aids?page=all Admin. (2016). Penderita HIV-AIDS Harus Didekati. Https://Kanor.Bojonegorokab.Go.Id. https://kanor.bojonegorokab.go.id/berita/baca/51#:~:text=Namun tidak menular melalui kontak,tubuh penderita mengandung virus HIV. Bullan, L., Permatasari, R., Adawiah, S. R., Herdianti, V. N., Adam, Z., & Yusantari, S. (2022). Edukasi Resiko Penularan HIV/AIDS pada Ibu Rumah Tangga dan Lansia. Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2(3), 291-296. Aziz, A. R., Efliani, D., & Redho, A. (2020). Perilaku Seksual Penderita HIV/AIDS dalam upaya pencegahan penularan di RSUD Arifin Ahmad Provinsi Riau. Jurnal Mutiara Ners, 3(2), 112-119. Ardhiyanti, Y., Lusiana, N. and Megasari, K., 2015. Bahan ajar AIDS pada asuhan kebidanan. Deepublish. Dinkes.jatimprov.go.id. (2013). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 15 Oktober 2023 dari https://dinkes.jatimprov.go.id/userfile/dokumen/Permenkes%20No%2021%20Tah un%202013%20Penanggulangan%20HIVAIDS.pdf Febryanto, D., 2023. BAB 2 TREND DAN ISSUE HIV/AIDS. HIV DAN PALIATIF, p.13. Fiana AL, Ismail A, Maullasari S, Rohman IA. Layanan Informasi melalui Voluntary Counseling and Testing pada Kelompok Resiko Tinggi (Analisis Bimbingan Konseling Islam). KONSELING EDUKASI "Journal Guid Couns. 2021;5(1):122–40 S T O P H I V A 2 0 2 3 10
StopHIva 2023