KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan
kami kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan
Cerpen ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya
tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan
Cerpen ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga
terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu
Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan
syafa’atnya di akhirat nanti.
Kami mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas
limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik
maupun akal pikiran, sehingga kami mampu untuk
menyelesaikan pembuatan Cerpen sebagai tugas dari
mata pelajaran dengan judul ”Mafia’’.
Meskipun telah berusaha menyelesaikan cerpen ini
sebaik mungkin, kami menyadari bahwa ini semua
masih ada kekurangan. Oleh karena itu, kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
para pembaca guna menyempurnakan segala
kekurangan dalam penyusunan proposal penelitian ini.
Akhir kata, kami berharap semoga cerpen ini berguna
bagi para pembaca dan pihak-pihak lain yang
berkepentingan.Kami tentu menyadari bahwa cerpen ini
masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak
terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya.
2
DAFTAR ISI
Kata pengantar ........................................................................2
Daftar isi...................................................................................3
Motto .......................................................................................4
Bab 1 ........................................................................................5
Mafia ....................................................................................5
Bab 2 ......................................................................................13
Scholastica mikhaila...........................................................13
Bab 3 ......................................................................................17
Menjadi murid baru ...........................................................17
Bab 4 ......................................................................................22
Akhir cerita.........................................................................22
Penutup..................................................................................31
3
MOTTO
Hidup Jangan Terlalu
Banyak Di Sesali,Tetap
Melangkah Maju Untuk
Melihat Kedepan
4
BAB 1
MAFIA
Gadis itu mendongak, menyapu pandang
seluruh sudut perkarangan rumah berlantai tiga
yang terdapat garis polisi di sekelilingnya.
Puluhan tahun rumah ini resmi ditutup oleh polisi
karena sebuah kejadian mengerikan beberapa
tahun silam. Rumah yang dulu selalu mendapat
decakan kagum dari orang-orang sekarang penuh
oleh semak-semak belukar dan tertutup tanaman
liar.
Jari-jari tangan lentik itu mengusap pagar besi yang
sedikit berkarat dengan gerakan lambat. Matanya
tiba-tiba saja memanas. Sekelibat memori lama
kembali terputar ulang layaknya kaset rusak di
otaknya.
Gading itu memegangi dadanya yang terasa sangat
sesak. Setitik ait mata menitik keluar dari pelupuk
matanya.
“Aku kira dating kesini setelah puluhan tahun
lamanya rasa sakitnya nggak akan teras, tapi,
ternyata aku salah.”
“Ini sangat sakit. Aku…” Gadis itu menunduk,
mengigit bibir bawahnya menahan isakan yang
5
Bahunya bergetar, ia menangis sesegukan
memeluk pagar rumah tersebut yang masih terkunci
raoat oleh rantai besi dan gembok.
“Mikhaila merindukan kalian..”
Iya, gadis itu adalah Mikhaila. Kembali demi mencari
keadilan atas kematian orang tuanya. Menuntas
bersih kasus pembunuhan berantai sebelas tahun
yang lalu dirumah ini. Rumah lama keluarga
mikhaila yang sekarang ditutup garis polisi.
Mereka yang memulai maka itulah yang akan
mereka tuai. Darha harus dibalas dengan darah.
Akan Mikhaila buat merek menyesali semua
perbuatan bejatnya dulu. Mau melarikan diri
kemanapun dan sejauh apapun pasti akan Mikhaila
kejar, entah sampai ujung dunia sekalipun.
Cengkaraman tangan Mikhaila dipagar besi
mengerat. Tatapannya berubah tajam, gigi-gigi di
dalam mulut bergemelutuk.
“Akan guebuat hidup lo semua seperti di neraka”
“Ini bukan akhir melainkan sebuah awal dari semua
peristiwa yang ada.”
Ujung sudut bibir MIkhaila tertarik keatas
membentuk sebuah serinagi mengerikan. “Dan ini
adalah awal dari pembalasan dendam itu.”
“Bersiaplah menggali kuburan kalian sendiri.”
6
“Karena setelah ini permintaan maaf udah gak ada
gunanya. Terima konsekuensi yang ada dan ya,
selamat dating di gerbang menuju kematian.”
“This is not a game but a karma for a killer.”
“Scholastia Mikhalia Oceanna”
“Ini sekolah baru lo”.
Sebuah Audi RS7 berwarna putih berhenti di depan
sebuah bangunan bertingkat 4 yang memiliki luas
tanah hampir menyamao istana mereka. Itu adalah
SMA Samantha, sekolah paling paling bergengsi
dengan keseluruhan murid-murid yang berasal dari
kalangann atas. Juga sekolahan itu di dominasi para
anak pejabat, anak pengusaha, pemborong dan
bahkan putra putri kongloret Jakarta.
Mikhaila Mengedarkan pandangan keseluruh
penjuru sekolah walaupun hanya melihat dari luar
semuanya sudah nampak terlihat jelas dimata
Mikhaila.
Gadis itu menoleh pada saudara laki-lakinya “Dia
ada disini?”
“Hm, tapi gue gak saranin lo buat macam-macam
disini. Cukup awasin gerak-gerik dia, tunggu
7
rencana selanjutnya dari gue. Inget Mikh, jangan
gegabah ambil keputusan.”
“Jadi lo minta gue pindah kesini Cuma buat awasin
dia?Gila lo Kak”
Kakak laki-laki Mikhaila menatap dia tajam “Sekali lo
bergerak tanpa bisa kendaliin diri sendiri, hancur
semua rencana yang sudah kita susun rapih-rapih
sebelum Mikh. Nurut dna kerjain apa tugas yang gue
kasih, jangan ngebantah.” Kata Kakak MIkhaila
penuh penekanan disetiap kata-katanya.
“Terserah lo.” Mikhaila segera melepas seat-
beltnya. Seblum membuka pintu mobil gadis itu
menyempatkan diri menetap wajah kakak laki-
lakinya “Jangan bertele-tele kalau mau balas
dendam Kak, lo tahu sendiri gue bukan orang
penyabar”
Lantas Mikhaila pun turun dari mobil Kakaknya, ia
menutup pintu sedikit keras. Kesal dengan
Kakaknya yang terlalu suka mengulur-ulur waktu
untuk balas dendam.
Ternyata orang kaya bisa bertingkah kampungan
juga ketika melihat orang asing disekitaran mereka.
Banyak beberapa pasang mata yang
memperhatikan Mikhaila sewaktu kaki jenjang gadis
itu terarah memasuki kawasan sekolah.
Bukan Mikhaila namanya jika menghiraukan tatapan
mereka. Gadis itu setia mempertahankan wajah
8
datarnya untuk menatap keadaan sekitar. Tidak
peduli jika mereka menilainya sebagai murid baru
yang punya sifat angkuh.
"Serius dia murid baru disini ?
"Cantik hanger anjir!"
"Songong banget ya mbak mukanya. Pingin tonjok
aja deh rasanya."
"Sok cantik, najis!"
"Euww...sok jual mahal, padahal murahan."
"Subhanallah, masyaallah allahuakbar. Cantik
banget sih tuh cewek."
Kurang lebih seperti itulah pembicaraan mereka
mengenai Mikhaila. Pro dan kontra pasti ada, karena
tidak semua orang menyukai dirinya dan Mikhaila
paham akan hal itu. Makanya ia tak terlalu
memusingkan hinaan serta cacian mereka sebab
mereka bukanlah tandingan Mikhaila.
"Well, well, well."
Terpaksa Mikhaila memberhentikan langkah
kakinya begitu tiga siswi menghadang jalannya.
Mikhaila yakini ketiga gadis itu sudah ada sejak tadi
di belakangnya, mereka mengikuti Mikhaila. Karena
Mikhaila sempat melihat wajah mereka pada saat
melewati parkiran mobil tadi..
9
"Omg, lo murid baru di sekolahan kita? Really?"
Gadis berambut coklat terang terlihat membekap
mulutnya seolah-olah sedang terkejut "Setiap ada
murid baru disini pasti kita kasih sambutan selamat
datang loh. Iya kan temen-temen ?"
Para siswa siswi yang berada di koridor mengiyakan
ucapan gadis itu dengan berseru sama-sama
menjawab Tuh, denger nggak sih? Enaknya lo kita
kasih sambutan apa ya?"
"Xen, suruh mandi telur sama tepung aja. Tambahin
air comberan deh kalau perlu biar makin asik." Ya,
gadis bernama Xena itu menyunggingkan seringai.
Orang lain akan melihat itu sebuah seringai
mematikan tetapi Mikhaila menganggap seringai
Xena hanya lah senyum biasa. Tidak semengerikan
itu menurutnya, biasa saja.
"Di gedung olahraga sekolah yang lama aja Xen,
udah tempat paling asik tuh buat kita rayain
kedatangan nih cewek baru." Teman Xena memberi
usulan yang langsung mendapat persetujuan Xena.
Xena menatap wajah datar Mikhaila dengan senyum
manis "Mari kita mulai permainan ini teman baru."
"Silahkan, lo yang mulai dan gue yang akan
mengakhiri permainan ini."
Semua orang terperangah melihat tatapan Mikhaila
yang bahkan lebih mengerikan dari seringai Xena.
10
Disini lah Mikhaila berada, duduk dikursi dengan
kondisi kedua tangan terikat oleh tali. Ia berada di
sebuah gedung olahraga lama milik SMA Samantha,
letaknya dibelakang sekolah yang hanya di halangi
oleh pepohonan dan rumput rumput liar.
Semua murid SMA Samantha akan menjadi saksi
utama acara penyambutan Mikhaila sebagai siswi
baru disana, Mereka telah membawa satu plastik
telur dan tepung pada masing-masing tangannya.
Dalam hati Mikhaila mengumpati Xena. Jika bukan
karena pesan Kakaknya tadi pagi yang
menyuruhnya untuk tidak berbuat ulah saat baru hari
pertama masuk sekolah, kemungkinan besar tubuh
Xena hanya tinggal kepala saja. Xena berdiri sambil
bersidekap dada memutari tubuh Mikhaila tanpa
melunturkan senyumnya. "Udah siap belum temen
baruku ?" Tanya Xena dengan nada dibuat selembut
mungkin. Mikhaila mendongakkan kepalanya, tanpa
memberi ekspresi wajah apapun dia menjawab
"Silahkan."
Sedetik kemudian puluhan telur dan tepung
dilempar kearah Mikhaila begitu saja tanpa menaruh
rasa kasihan sama sekali. Sementara Mikhaila
hanya mampu menundukkan kepala, menerima
dengan diam perlakuan kurang ajar mereka. Kedua
tangannya yang berada diatas paha mengepal erat,
rahangnya mengeras, gigi-gigi dalam mulutnya
bergemelutuk.
11
"CONGRATULATION AND WELCOME TO SMA
SAMATHA, MIKHAILA HAHAHAHA..."
Mata yang semula terpejam tiba-tiba terbuka,
tatapan Mikhaila menajam bahkan lebih tajam dari
sebelumnya. Mata milik Mikhaila memerah entah
karena menahan amarah atau memang berkaca-
kaca.
"Gue udah janji bukan? Permainan ini lo yang mulai
dan akan gue akhiri setelah selesai."
Semua orang disana mengantupkan mulut mereka
tak terkecuali Xena sendiri. Mereka menunggu-
nunggu apa yang akan Mikhaila lakukan untuk
menutup permainan ini.
Ujung bibir Mikhaila tertarik keatas. Dengan sekali
hentakan tali yang mengikat tubuhnya. terlepas.
Mikhaila langsung beranjak dari kursi tidak
mempedulikan tubuh kotornya dan memilih
menghampiri Xena. Mata mereka saling beradu
pandang, Mikhaila dengan wajah datarnya dan Xena
dengan tatapant menantangnya.
PLAK
Satu tamparan berhasil lolos mengenai pipi mulus
Xena dengan sempurna. Mikhaila tersenyum
menyeringai. Belum cukup puas, Mikhaila kembali
menampar pipi Xena berulang kali secara
bergantian seakan tak memberi celah mulut gadis
sialan itu melontarkan makian padanya.
12
Mereka semua yang menonton sangat-sangat
terkejut atas tindakan Mikhaila barusan. Tidak
menyangka ada yang berani berbuat seperti itu pada
Xena, terlebih lagi Mikhaila adalah murid baru di
SMA Samantha yang belum mengenal seluk beluk
Xena dan seberapa besar pengaruh gadis itu di
sekolah.
Lantas apakah Mikhaila merasa terancam karena
kebenaran tersebut? Haha, tentu saja tidak.
Harusnya Xena yang harus berhati-hati dengannya
sebab gadis itu belum tahu menahu perilah asal usul
dirinya yang sebenarnya.
"Ini baru permulaan, tunggu kejutan selanjutnya dari
gue Xenandria Aprillia."
BAB 2
Scholastica Mikhaila
Kabar Mikhaila menampar Xena digedung
lama tadi benar-benar merambat luas dengan cepat.
Kejadian itu bahkan sempat trending nomer satu di
twitter karena ada murid di Samantha yang sengaja
mengeksposnya ke sosial media. Mikhaila tidak
masalah bila perbuatannya harus tersebar luas,
malahan ia senang, sebab dengan viralnya video
tersebut membuat Xena tak punya muka lagi
13
mengangkuhkan kedudukkannya pada anak-anak
Samantha.
Namun akibat dari perbuatannya tersebut Mikhaila
harus berurusan dengan kepala sekolah. Baru hari
pertama sudah banyak sekali masalah yang terjadi
silih berganti, bagaimana hari-hari berikutnya nanti?
Oh rasanya kepala Mikhaila ingin pecah memikirkan
itu semua.
"Siapa nama kamu ?" Kepala sekolah menatap
Mikhaila mengintimidasi. Dari tatapan matanya saja
pria itu tidak menyukai Mikhaila.
"Scholastica Mikhaila."
"Pindahan dari Nevada High School, benar?"
Mikhaila mengangguk singkat.
"Anak baru loh Bu, udah berani melukai Xena."
Kepala sekolah itu menoleh untuk menatap guru
kesiswaan perempuan yang sedang menghelai
nafas "Coba kita dengarkan dari sisi Mikhaila dulu
Pak, tadi jugakan kita sudah mendengarkan
penjelasan Xena secara langsung dan sekarang
biarkan Mikhaila menjelaskan kronologi kejadian
sebenarnya."
"Jadi Ibu sejak awal tidak mempercayai ucapan
Xena,begitu ?"
"Bukan Pak. Dua tahun belakangan ini kita tahu dari
banyaknya siswa siswi yang masuk kesini pasti
14
mengadu hal-hal serupa. Mari bekerja dengan
profesional Pak."
Kepala sekolah itu seperti sedang memendam
amarah, lihatlah wajah sampai lehernya memerah
layaknya kepiting baru selesai direbus.
"Jadi, Mikhaila apakah Bu Yuna boleh bertanya
nak?"
Sekarang Mikhaila mengetahui nama guru cantik itu,
yaitu Bu Yuna. Mikhaila menyunggingkan senyum
tipis dan mengangguk "Boleh Bu."
Pintar sekali gadis itu mencari muka didepan guru.
Kepala sekolah tersebut terus menerus
memperhatikan setiap gerak-gerik Mikhaila dengan
tatapan tidak suka. Tentu saja Mikhaila tak
menggubris perbuatannya itu, biarlah pria bau tanah
itu bertingkah sesukanya.
"Coba jelaskan kronologi kejadian tadi pagi dari sisi
kamu sendiri."
"Ketika saya sedang berjalan dikoridor ingin mencari
ruang kepala sekolah, Xena dan teman-temannya
menghadang jalan saya Bu. Dia bilang ingin
memberi penyambutan atas kedatangan saya
sebagai murid baru disekolahan ini. Awalnya saya
mengira sambutan itu hanya sekedar sambutan
biasa tapi ternyata Xena malah membawa saya ke
gedung lama. Dia mengumpulkan semua anak-anak
15
disini untuk melempari saya dengan telur dan
tepung. Tindakan. saya menampar Xena semata-
mata sebagai pembelaan diri Bu, dari sekian
banyaknya murid disini nggak ada satu pun yang
membela saya sama sekali saat itu Bu."
"HEH! Tidak mungkin Xena, putriku, melakukan
tindakan perundungan seperti itu kepada kamu!"
Pria bau tanah itu masih tidak bisa menerima
kebenaran sebenarnya.
Mikhaila memutar bola mata dongkol, ia menatap Bu
Yuna yang tengah menggelengkan kepala padanya
seolah-olah menyuruhnya supaya tidak
menghiraukan ucapan kepala sekolah.
"Mikhaila, kamu boleh kembali ke kelas sayang.
Nanti istirahat kesini lagi kita selesaikan masalah
bersama Xena juga."
"Baik Bu."
16
BAB 3
MENJADI MURID BARU
Satu kelas yang menyadari kedatangan
Mikhaila sontak melempar tatapan kebencian
mereka. Namun Mikhaila membalasnya dengan
ekspresi datar, seakan tak memberi reaksi apa-apa
selain acuh tentunya.
Bu Yuna telah memasukkan Mikhaila ke kelas 12
IPA 2,termasuk kelas unggulan disekolah ini setelah
IPA 1.Mikhaila berjalan menghampiri guru yang
mengajar didepan, ia mencium tangan guru
tersebut.
17
"Kamu murid baru ya ?" Tanya guru wanita tersebut.
"Iya Bu dia murid baru yang udah mukulin Xena tadi
pagi!"
Sahutan salah satu siswi itu berhasil mengundang
satu kelas menyoraki Mikhaila dan mengatainya
dengan berbagai umpatan yang ada.
"SUDAH DIAM KALIAN SEMUA!!" Bentakan guru
tersebut berhasil membungkam mulut mereka
semua.
Ujung sudut bibir Mikhaila tertarik keatas, melempar
senyum meremehkan. Tidak peduli reaksi mereka
yang melototi dirinya.
"Silahkan perkenalkan nama kamu, Nak."
Mikhaila mengangguk singkat lantas ia
mengedarkan pandangan ke seluruh kelas
"Perkenalkan nama saya Scholastica Mikhaila,
pindahan dari Nevada High School."
"Baik, ada yang ingin kalian tanyakan pada Mikhaila
?"
"NGGAK BUUU!"
Guru yang entah bernama siapa itu langsung
mempersilahkan Mikhaila untuk mencari tempat
duduk sendiri yang belum terisi alias masih kosong.
18
Mikhaila menemukan tempat paling nyaman
dikelas, yaitu barisan belakang dekat jendela. Ketika
sedang melangkah menuju bangku kosong itu, tak
sengaja netra Mikhaila menangkap gerak-gerik
mencurigakan dari salah satu siswi disini.
Benar saja, saat Mikhaila melewati bangkunya gadis
itu tiba-tiba menjulurkan kaki kirinya hingga
membuat Mikhaila hampir tersandung.
Satu kelas dibuat menahan tawa atas kejadian
barusan. Menegakkan badannya, wajah Mikhaila
masih terlihat tenang tanpa terpancing emosi.
Kakinya kembali berjalan dan dengan sengaja ia
menginjak kaki gadis itu yang masih menjulur hingga
mengundang jeritan kesakitan sang empu. Mikhaila
menatap gadis itu lewat lirikan matanya lalu
tersenyum miring.
"Siapa suruh kaki lo halangin jalan ratu ?"
Akhirnya setelah berjam-jam duduk seorang diri
mendengarkan penjelasan guru yang menerangkan
materi, berkumandang juga bel istirahat yang sejak
tadi semua murid nanti-nanti.
Mikhaila merapikan buku-bukunya diatas
meja, mendengar bentakan seseorang spontan ia
mendongakkan kepala. Ternyata itu ulah gadis yang
membuat ia hampir tersandung tadi. Dia sedang
19
membentak seorang gadis berkaca mata yang
duduk dibangku paling depan sambil menyodorkan
sebuah buku tulis keatas mejanya. Dapat Mikhaila
pastikan dia memaksa gadis berkaca mata itu untuk
mengerjakan tugas sekolahnya.
"Mulai berani lo sama gue ?! Cupu aja belagu banget
tingkah lo, sok nolak mau kerjain tugas gue!! Heh!
Kalau bukan bantuan beasiswa, lo nggak bakalan
bisa masuk ke sekolahan inii!! Modal otak aja lo
bangga-banggain, ya iya lah secara keluarga lo kan
cuma pemulung asongan yang sering keliling di
pinggir jalan!"
suara tawa mengejek mereka membuat kuping
Mikhaila panas mendengarnya. Kasihan sekali gadis
berkaca mata itu, ia bahkan sampai menangis
sesegukan karena di rendahkan oleh mereka
berdua.
"Emang kenapa kalau dia cuma anak pemulung
asongan?" Sahut Mikhaila dari tempat duduknya.
Beranjak berdiri dari kursi, Mikhaila pun
memutuskan untuk menghampiri mereka. Ia akan
membungkam mulut sialan gadis itu, lihat saja nanti.
"Seenggaknya ada yang bisa dia banggain selain
harta orang tua."
"Nggak usah ikut campur urusan gue lo, sialan!
Minggir!" Gadis berambut ikal itu mendorong bahu
Mikhaila agar menyingkir dari hadapannya.
20
Spontan Mikhaila menundukkan kepala kemudian
melirik kearah bahunya. Ia mengusap-usap bahunya
sendiri seolah-olah tengah membersihkan debu
disana.
"Songong banget ya lo bocah!" Bentak gadis itu tak
terima. Dipikir ia ini kuman apa?
Mikhaila menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir
miliknya "Ssttt..."
"Baru aja tadi gue kasih peringatan sama lo, jangan
sampai kaki lo beneran gue patahin biar lo nggak
bisa jalan lagi. Ohh, atau mau gue robek bibir lo aja
biar bibir sialan lo itu nggak bisa menghakimi orang
lain lagi. Mau, hm?"
Gadis berambut ikal itu menatap Mikhaila ngeri.
"Psikopat!" Makinya tepat didepan wajah Mikhaila.
"That's true." Mikhaila maju satu langkah lebih dekat
sengaja mengikis jarak diantara mereka berdua lalu.
berbisik tepat ditelinga gadis berambut ikal ini "Kalau
sampai gue lihat tingkah lo masih rugiin orang lain,
siap-siap aja ancaman gue barusan jadi kenyataan."
Mikhaila menjauhkan diri, ia tersenyum manis
seolah tidak terjadi apa-apa pada mereka. Tubuh
gadis berambut ikal itu menegang, bibirnya bergetar.
Sungguh ia benar-benar merinding sekaligus
ketakutan mendengar ancaman Mikhaila.
21
"Paham kan, teman baruku ?" Mikhaila menjauhkan
diri, ia tersenyum manis seolah tidak terjadi apa-apa
pada mereka. Tubuh gadis berambut ikal itu
menegang, bibirnya bergetar. Sungguh ia benar-
benar merinding sekaligus ketakutan mendengar
ancaman Mikhaila.
"Paham kan, teman baruku ?"
BAB 4
AKHIR CERITA
Ekor mata Mikhaila melirik kearah belakang, dia
merasa. ada seseorang yang tengah mengikutinya
saat ini. Mikhaila mencoba berpikir positif mungkin
itu murid lain yang kebetulan satu tujuan dengannya
ingin pergi ke kantin.
22
Sudut bibir Mikhaila mengulas seringai, diam-diam
ia mengeluarkan handphone dari saku
almamaternya. Mikhaila berpura-pura tengah
mengangkat panggilan dan merubah posisi
tubuhnya menghadap besi pembatas.
Kebenarannya ia sedang memotret penguntit itu,
Mikhaila tahu orang tersebut sedang bersembunyi
dibalik dinding pembatas toilet perempuan dan laki-
laki.
Tidak ingin mengambil pusing Mikhaila berbalik
badan dan kembali melanjutkan jalannya sambil
menyelipkan rambut ke belakang telinga.
Kantin pada waktu istirahat kali ini benar-benar
membludak Mikhaila rasanya sangat ingin
mengebom antrian manusia itu dengan bom nuklir.
Untung saja ia sangat gesit memanfaatkan situasi
jadi bisa sedikit menyelip antrian.
Mikhaila membawa nampannya menuju meja
kosong dibelakang. Suasana kantin sangat ramai
dan riuh membuat telinga Mikhaila panas
mendengar suara mereka.
Mendadak ingatan Mikhaila kembali pada kejadian
saat masih berada di tangga tadi. Buru-buru
Mikhaila mengeluarkan handphonenya, ia membuka
galeri dan mengzoom hasil potretannya beberapa
menit lalu.
"Farisa?" Gumam Mikhaila.
23
Banyak pertanyaan bersarang diotak Mikhaila
mengenai alasan Farisa mengikutinya secara diam-
diam. Apakah dia adalah tangan kanan seseorang
yang dibayar untuk menjadi penguntitnya?
Kemungkinan besar hal itu bisa terjadi mengingati
musuh keluarganya tersebar luas di penjuru kota.
Mikhaila mengidikkan bahu tak acuh memilih
mengenyampingkan masalah mengenai Farisa
terlebih dulu. Perutnya sedikit nyeri akibat belum
mendapat asupan sejak pagi tadi.
"Baby, dia cewek yang tadi udah nampar dan
permaluin aku didepan anak-anak."
Sialan, baru satu suapan yang berhasil ia telan
sebuah suara menggagalkan suapan kedua masuk
ke dalam mulut Mikhaila.
Mikhaila belum memastikan siapa gadis itu tapi
mendengar dari suaranya dia dapat menebak, pasti
orang itu yang sempat menghadang jalannya pagi
tadi.
"Aku mau kamu kasih paham sama dia biar dia
nggak macem-macem lagi sama aku."
Sudut bibir Mikhaila tertarik keatas. Lantas Mikhaila
pun menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam
mulutnya yang belum sempat ia makan tadi.
Brak
24
"Kalau gue ngomong tatap mata gue anjing! Cupu
banget sih lo, tadi aja berani koar-koar permaluin
gue didepan anak satu sekolah giliran gue bawa
cowok gue lo nggak berani? Lo takut, hah ?!
Lemah!"
Detik berikutnya kepala Mikhaila mendongak
memusatkan pandangan ke Xena seorang. Tetapi
kehadiran seorang laki-laki disamping Xena yang
diakui gadis itu sebagai kekasihnya tadi benar-benar
sangat mengejutkan Mikhaila. Walaupun begitu dia
masih mempertahankan wajah datarnya, Mikhaila
tidak ingin membuat Xena ataupun orang lain curiga.
Sialnya lagi kedua tangan Mikhaila sedikit
gemeteran, bagaimana bisa Xena mengenal laki-laki
mematikan dan mengerikan seperti Malvenzo?
Mikhaila mengumpati saudara laki-lakinya itu yang
rela memasukkan Mikhaila ke kandang musuhnya
sendiri. "Tumben kamu bilang gitu? Biasanya juga
siapapun yang sakitin aku langsung kamu kasih
pelajaran." Kening Xena terlihat mengerut penuh
kecurigaan "Atau jangan-jangan kamu pernah
ketemu dia sebelum jadian sama aku, iya ?!"
"Kalau gue bilang pergi, berarti pergi. Lo mau bantah
perintah gue ?" Nada suara Malvenzo berubah.
Seketika hal itu membuat mulut Xena mengantup
rapat "Yaudah ayo kita pergi."
Sebelum pergi Xena sempat menatap Mikhaila sinis,
jangan lupa jari telunjuk yang mengacung berani
25
menunjuk wajah Mikhaila "Awas lo! Urusan kita
belum selesai cewek cupu!"
Setelah mengisi perut dikantin Mikhaila tak
langsung pergi ke kelas. Mikhaila berniat mencari
tahu tentang seluk beluk Malvenzo disekolah ini,
dirinya sama sekali tidak mengetahui ternyata
mereka satu sekolah. Dulu ada sebuah kabar yang
menyatakan Malvenzo pergi ke Italia karena
diasingkan oleh tetua mafia sebab laki-laki itu telah
melanggar aturan berat sebagai ketua Mafia wilayah
utara. Malvenzo membunuh tangan kanannya
sendiri dengan alasan yang belum pasti dan masih
menjadi misteri sampai saat ini.
Mikhaila menyusuri setiap ruang kelas yang
terdapat di lantai tiga lewat kaca jendela.
Menghiraukan tatapan ketakutan penghuni kelas.
Akibat bermasalah dengan Xena tadi pagi beberapa
murid menjadi segan ketika menyadari kehadiran
Mikhaila di dekat mereka. Sampai dikelas paling
ujung Mikhaila belum juga menemukan keberadaan
Malvenzo. Sebenarnya laki-laki itu memiliki rencana
apa, bagaimana bisa seseorang yang berumur 22
tahun dan telah lulus sarjana S1 di Harvard dengan
gelar cumlaude rela membuang waktu berharganya
untuk menjadi anak sekolah lagi dan menyatu
bersama anak-anak SMA Samantha lainnya tanpa
mempunyai rencana besar dibaliknya.
"Mencariku, Scholastica ?"
26
Lantas Mikhaila segera membalik badan
begitu mendengar suara bariton dari arah belakang,
tepatnya disebuah tangga. Disana Malvenzo terlihat
sedang duduk dianak tangga paling tengah,
memunggungi Mikhaila.
Mikhaila masih berdiri ditempatnya,
mengeratkan kepalan tangan di sisi badan.
Mengantupkan bibirnya rapat-rapat membiarkan
Malvenzo mendominasi obrolan mereka berdua.
"Nggak pernah gue duga ternyata cewek penuh
dendam masa lalu ini berani nginjak wilayah musuh
bebuyutan keluarganya sendiri." Malvenzo mulai
berdiri, ia membalik badan seraya memamerkan
seringai andalan "Lo udah bosen hidup atau gimana,
Scholastica, hm?"
"Gue sama sekali nggak tau kalau lo juga ada disini."
Ekspresi Mikhaila masih datar, tidak ada raut
ketakutan dari sorot matanya ketika membalas
tatapan tajam Malvenzo "Apa rencana lo datang
kesini, Malvenzo?" Malvenzo menunduk seraya
mendengus geli lalu kembali mendongak dengan
memasang ekspresi datar
"Yang jelas itu bukan urusan lo."
"Kalau niat lo kesini cuma buat gagalin rencana gue,
jelas itu jadi urusan gue!"
27
"Gagalin rencana lo nggak ada di list rencana awal
gue. Terserah lo mau bunuh dia, cincang dia jadi
daging panggang atau bakar dia hidup-hidup gue
nggak peduli." Laki-laki tampan berjangkung tegas
itu pelan-pelan mulai melangkah mendekati Mikhaila
dan berdiri tepat dihadapan gadis itu sampai-sampai
ujung sepatu mereka saling bertemu.
"Rahasia lo bakal aman ditangan gue asalkan lo
juga bisa bungkam soal biodata asli gue. Kita saling
jaga rahasia aja, biar rencana lo sama rencana gue
tetap aman dan berjalan sempurna."
Mikhaila mendongak membuat netra mereka saling
bertemu pandang.
"Apa rencana lo sebenarnya? Dan apa yang bikin lo
kabur dari tempat pengasingan demi datang kesini
dan nyamar jadi anak Samantha ?"
"Sekali lagi, itu bukan urusan lo." Malvenzo
membalik badan menjadi memunggungi Mikhaila,
laki-laki itu hendak melangkah pergi namun
perkataan Mikhaila berhasil menghentikan
langkahnya.
"Emang bukan urusan gue. Tapi dulu kita pernah
kecil dan besar bareng sebelum akhirnya terpecah
belah karena ulah lo sendiri. Malvenzo, gue kenal lo
lebih dari siapapun. Lo bukan tipe orang yang suka
mau turun tangan langsung buat selesain masalah
nggak penting."
28
Malvenzo melirik Mikhaila dari balik bahunya lalu
menatap ke depan lagi.
"Nanti lo juga bakal tau. Kita memang punya
rencana yang berbeda tapi tujuan kita sama,
Mikhaila."
TAMATTT
-0o0-
29
BIOGRAFI
Penulis bernama Muhamad Fahri Siddiq. Penulis
lahir 27 Agustus 2006, penulis tinggal di JL Gudang
Air RT01 RW002 kelurahan Rambutan, Kecamatan
Ciracas.
Penulis pertama kali masuk Sekolah Dasar (SD)
tahun 2012 melanjutkan (SMP) Negri 257 Jakarta
Kec.Ciracas. Kemudian lulus ditahun 2022. Setelah
itu penulis melanjutkan sekolah menengah pertama
(SMK) Negeri 66 sekarang duduk di semester 1.
30
PENUTUP
Sekian cerita pendek dari saya Muhamad Fahri Siddiq,
cerita yang berjudul “MAFIA” ini hanya fiktif belaka atau non
fakta. Sekian saya mohon maaf bila ada salah kata atau ada
kata-kata yang tidak mengenakan untuk anda, sekian dari saya
Wassalamualaikum Wr Wb.
31