The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by st sayidah, 2023-05-28 08:25:22

TUGAS E-BOOK PENGANTAR PENDIDIKAN KEJURUAN

TUGAS PAPER ST. SAYIDAH 04 S1 PKK

Keywords: pengantar pendidikan kejuruan

Mata kuliah: Pengantar Pendidikan Kejuruan INTELARASI ANTARA KONSEP PENDIDIKAN TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN KEJURUAN Dosen Pengampu: Dr. Andi Hudiah, M.Pd Israwati Hamsar, S.Pd., M.Pd Andi Muadz S.Pd., M.Pd Disusun oleh: St. Sayidah ( 220208501047 ) 04 PKK JURUSAN PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2023


KATA PENGANTAR Dengan mengucap rasa syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Makalah ini penulis susun setelah mencari data-data yang relevan dari berbagai sumber. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Pengantar Pendidikan Kejuruan. Selain itu juga untuk menginformasikan wawasan baru bagi teman teman mahasiswa pendidikan kesejahteraan keluarga. Tiada gading yang tak retak, begitu pula penulis yang hanya manusia biasa yang berusaha memberikan hal terbaik yang penulis bisa. Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan agar penulis dapat lebih baik lagi di kemudian hari. Penghargaan setinggi-tingginya penulis sampaikan pada semua pihak yang telah membantu tersusunnya tugas makalah ini, semoga menjadi amal kebaikan dan mendapatkan pahala dari Tuhan yang Maha Esa. Amin. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. i


Daftar isi KATA PRNGANTAR……………………………………………………………………………i Daftar isi…………………………………………………………………………………………ii BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 A. Latar Belakang .............................................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 2 C. Tujuan ........................................................................................................... 2 BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................... 3 1. Pengetahuan Umum Dan Khusus ................................................................. 3 2. Penegtahuan Teoritis Dan Praktik ................................................................ 3 3. Pemahaman Konseptual Dan Keterampilan ................................................. 5 4. Kemampuan Kreatif Dan Keproduktif ......................................................... 6 5. Keterampilan Intelektual Dan Fisik ............................................................. 7 6. Kesiapan Hidup Dan Bekerja ...................................................................... 8 BAB III PENUTUP ................................................................................................. 9 A. Kesimpulan ................................................................................................... 9 B. Saran ............................................................................................................. 9 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 10 i


BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan dunia pendidikan saat ini sedang memasuki era yang ditandai dengan gencarnya inovasi teknologi, sehingga menuntut adanya penyesuaian sistem pendidikan yang selaras dengan tuntutan dunia kerja. Pendidikan kejuruan yang dikembangkan di Indonesia, dirancang untuk menyiapkan peserta didik atau lulusan yang siap memasuki dunia kerja dan mampu mengembangkan sikap profesional di bidang kejuruan. Lulusan pendidikan kejuruan, diharapkan menjadi individu yang produktif yang mampu bekerja menjadi tenaga kerja menengah dan memiliki kesiapan untuk menghadapi persaingan kerja. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, proses pembelajaran di sekolah merupakan faktor yang penting dalam terwujudnya tujuan pendidikan baik umum maupun khusus. Proses pembelajaran memiliki komponenkomponen yang saling berhubungan satu sama lain sebagai sebuah sistem. Komponen-komponen tersebut yaitu tujuan pembelajaran, materi/isi pembelajaran, metode pembelajaran, media dan evaluasi. Ketika komponen-komponen tersebut saling bekerja dengan baik, maka tujuan pendidikan pun akan tercapai. 1


Rumusan masalah 1. Pengetahuan umum dan khusus 2. Pengetahuan teoritis dan pakritis 3. Pemahaman konseptual dan keterampilan 4. Kemampuan kreatif dan reproduktif 5. Keterampilan intelektual dan fisik 6. Kesiapan hidup dan bekerja Tujuan 1. Memahami pengertian konsep Pendidikan teknologi dan kejuruan 2. Memahami pengertian teoritis dan praktis 3. Memahami konseptual dan keterampilan 4. Memahami kemampuan kreatif dan reproduktif 5. Mengetahui keterampilan intelektuan dan fisik 6. Mengetahui kesiapan hidup dan bekerja 2


3 BAB II PEMBAHASAN 1. Pengetahuan umum dan khusus Pendidikan teknologi dan pendidikan kejuruan menyiratkan dua konsep yang berbeda, antara pendidikan teknologi dan pendidikan kejuruan. Konseptualisasi pendidikan teknologi adalah pendidikan yang mengajarkan penggunaan teknologi untuk memecahkan masalah dalam memenuhi berbagai kebutuhan. Landasan pokok pendidikan teknologi adalah digunakannya keterampilan pemecahan masalah dalam berbagai bidang. Pendidikan teknologi mencakup pengetahuan umum (general), pengetahuan teoritis, pemahaman konseptual, bakat dan kemampuan kreatif, keterampilan intelektual, dan penyiapan berkehidupan. Sedangkan pendidikan kejuruan mencakup pengetahuan khusus, pengetahuan praktis/fungsional, pemberian skill/keterampilan, kemampuan reproduktif, keterampilan fisik, dan penyiapan bekerja. Jadi pendidikan teknologi dan pendidikan kejuruan adalah dua pendidikan yang memiliki penekanan berbeda. Agar menjadi efektif maka pendidikan teknologi dan pendidikan kejuruan disinergikan menjadi pendidikan teknologi kejuruan yang menerapkan kedua prinsip-prinsip tersebut di atas dalam meningkatkan relevansinya. Secara implisit Pendidikan Teknologi adalah pendidikan yang mengarah kepada pengembangan ketrampilan pemecahan masalah (problem-solving skills). Sedangkan Pendidikan Kejuruan/Vokasi adalah pendidikan yang berkaitan dengan ketrampilan penggunaan peralatan dan mesin-mesin (Sander dalam Pavlova, 2009). 2. Pengetahuan teoritis dan praktis a) Pengetahuan teoritis


4 Mengacu pada UU No 20 Tahun 2003 Pasal 3, pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dibidang tertentu. Pendidikan kejuruan pada hakikatnya harus menyiapkan peserta didik menjadi tenaga kerja yang profesional dan kompeten pada bidang keahliannya masing-masing, seorang profesional harus memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang kompeten. Pendidikan kejuruan dapat di klasifikasikan kedalam jenis oendidikan khusus (specializet education) karena kelompok pelajaran atau program yang disediakan hanya dipilih oleh orang-orang yang memiliki minat khusus untuk mempersiapkan dirinya bagi lapangan kerja di masa mendatang. Agar lapangan kerja khusus ini dapat sukses, maka Pendidikan kejuruan dimaksud untuk menyiapkan tenaga terampil yang dibutuhkan masyarakat. b) Pengetahuan praktis Pengalaman dapat diartikan sebagai memori yang menerima dan menyimpan peris-tiwa yang terjadi atau dialami oleh individu pada waktu dan tempat tertentu yang berfungsi sebagai referensi (Daehler & Bu-katko, 1985). Hal ini diketahui pengalaman merupakan peristiwa yang terjadi di lingkun-gan pekerjaan yang berfungsi sebagai referensi untuk membentuk keterampilan. Menurut Prosser dalam Djojonegoro (1998, p.23) pembelajaran yang paling efektif adalah pembelajaran yang menyamakan pem-belajaran yang ada di sekolah dengan situasi kondisi yang ada di industri yang akan dituju. Tetapi kenyataannya pada pembelajaran keju-ruan yang dilaksanakan di sekolah sulit untuk menyelaraskan dengan situasi/kondisi industri. Nolker (1983) mengatakan tempat pendidi-kan tidak memiliki sarana yang sepadan untuk membiasakan peserta didik pada wujud dan masalah – masalah kehidupan kerja. Wawasan yang diperlukan hanyalah dapat diperoleh dengan jalan mengumpulkan pengalaman praktik bekerja di tempat kerja yang sebenarnya. Aktivitas praktik yang pertama bagi siswa membentuk reaksi kritis mengenai persyaratan bidang kejuruan serta taraf pendidikan yang sudah dicapai. Tempat kerja yang paling cocok untuk praktik adalah yang paling mendekati wujud yang kemudian akan ditempati oleh peserta didik yang


5 bersangkutan. Kemampuan praktik kerja mencakup pengertian teori – teori di bidang keahlian (kognitif) dan keterampilan praktik (psikomo-torik). Kemampuan praktik seseorang didasari oleh pengetahuan – pengetahuan dasar yang dikombinasikan dengan gerakan – gerakan yang dilatih secara teratur yang akan menghasilkan keterampilan. Hal yang dilakukan ini akan membentuk pengalaman praktik. Pembelajaran dengan menggunakan pengalaman praktik yang dimiliki oleh peserta didik akan lebih efektif menjadikan siswa lebih terampil. Pembelajaran yang menggunakan praktik tentunya dapat terjadi kapanpun dan dimanapun baik di sekolah maupun di luar sekolah. Jika di sekolah kejuruan sudah tentu mener-apkan pembelajaran praktik sebagai cirinya. Ditambah lagi dengan adanya Pendidikan Sistem Ganda (PSG) berupa Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang tentunya dilaksanakan di indutri untukmengenal lebih banyak mengenai kondisi industri. Tetapi jika dilihat dari alokasi waktu PKL yang hanya 3-6 bulan tentunya hal itu dianggap kurang. Maka masih perlu tamba-han praktik agar dapat menambah pengalaman praktik siswa. Berdasarkan standar kompetensi yang dipelajari di Program Studi Keahlian Teknik Elektronika terdapat hal – hal yang dapat mereka kerjakan dan dapat menyentuh langsung ke masyarakat antara lain dapat memperbaiki peralatan elektronika seperti setrika, dispenser, komputer dan sebagainya. Dengan pengalaman praktik diharapkan selain siswa mendapat bekal untuk memasuki dunia kerja juga dapat merintis menjadi wiraswasta yang tentunya untuk bekal mereka di masa depan. Untuk melakukan hal itu semua tentunya memerlukan minat dan inisiatif dari siswa itu sendiri. Pengukuran pengalaman kerja sebagai sarana untuk menganalisa dan mendorong esiensi dalam pelaksanaan tugas pekerjaan. 3. pemahaman konseptual dan keterampilan Keterampilan konseptual adalah kemampuan seseorang dalam menyusun, mengembangkan, dan mengelola ide dan konsep. Konseptualisasi pendidikan teknologi adalah Pendidikan yang mengajarkan penggunaan teknologi untuk memecahkan masalah dalam memenuhi berbagai kebutuhan. Landasan pokok pendidikan teknologi adalah digunakannya keterampilan pemecahan


6 masalah dalam berbagai bidang. Konseptualisasi pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang berkaitan dengan skill menggunakan alat dan mesin. Upaya untuk mencapai kualitas lulusan pendidikan kejuruan yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja tersebut, perlu didasari dengan model penyelengaraan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan. Model penyelenggaraan pendidikan kejuruan yang bertujuan untuk membekali peserta didik pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan, yaitu model pasar, model sekolah, model sistem ganda, yang masing masing memiliki perbedaan karakteristik serta proses penyelenggaraanya. Efektifitas penerapan model penyelenggaraan pendidikan kejuruan harus sesuai dengan keadaan/karakteristik suatu wilayah sehingga model penyelenggaraan yang dipilih juga mampu mencapai tujuan yang telah ditentukan. 4. Kemampuan kreatif dan keproduktif Kreatif berarti memiliki kemampuan untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu yg baru. produktif yg berarti kemauan untuk menghasilkan sesuatu atau banyak mendatangkan hasil. Tevenson dalam Pavlova (2009) mengidentifikasi bahwa pendidikan teknologi mencakup pengetahuan umum (general), pengetahuan teoritis, pemahaman konseptual, bakat dan kemampuan kreatif, keterampilan intelektual, dan penyiapan berkehidupan. Pendidikan kejuruan mencakup pengetahuan khusus, pengetahuan praktis/fungsional, pemberian skill/keterampilan, kemampuan reproduktif, keterampilan fisik, dan penyiapan bekerja. Kreatifitas diarahkankepada pengembangan ketrampilan intelektual untuk membangun konsep-konsep dan teoriteori baru. Pengembangan ketrampilan berpikir kreatif dengan ketrampilan dan kecerdasanintelektual yang kuat menjadi keniscayaan bagi Pendidikan Teknologi. Pendidikan teknologi harus lebih mengarahkan pendidikannya untuk persiapan bagi individu untuk hidup danberkembang secara berkelanjutan secara akademik. Pendidikan Kejuruan/Vokasi disatu sisi menekankan pendidikan untuk penyiapanbekerja dengan pengembangan ketrampilan/skill yang cenderung ke fisik atau motoriksebagai perwujudan kecerdasan kinestetik. Kemampuan yang menonjol diperlukan


7 adalahkemampuan reproduktif yang didukung oleh pengetahuan praktis dan spesifik sertafungsional yang kuat sebagai ciri utamanya. Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang menghubungkan, menjodohkan, melatih manusia agar memiliki kebiasaan bekerja untuk dapat memasuki dan berkembang pada dunia kerja (industri), sehingga dapat dipergunakan untuk memperbaiki kehidupannya. Pendidikan kejuruan berhubungan dengan mempersiapkan seseorang untuk bekerja dan dengan memperbaiki pelatihan potensi tenaga kerja. Hal ini meliputi berbagai bentuk pendidikan, pelatihan, atau pelatihan lebih lanjut yang dibentuk untuk mempersiapkan seseorang untuk memasuki atau melanjutkan pekerjaan dalam suatu jabatan yang sah. Dalam proses pendidikan kejuruan perlu ditanamkan pada siswa pentingnya penguasaan pengetahuan dan teknologi, keterampilan bekerja, sikap mandiri, efektif dan efisien dan pentingnya keinginan sukses dalam karirnya sepanjang hayat. 5. Keterampilan intelektual dan fisik Kemampuan intelektual yang mencakup kapasitas untuk mengerjakan berbagai tugas kognitif dan kemampuan fisik yang mengacu pada kapasitas untuk mengerjakan tindakan-tindakan fisik. Semakin sehat kondisi fisik seorang anak semakin berkembang kemampuan intelektual,. bakat, minat yang disalurkan. a. Kemampuan Intelektual (Intelectual Ability), merupakan kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktifitas mental (berfikir, menalar dan memecahkan masalah). b. Kemampuan Fisik (Physical Ability), merupakan kemampuan melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, ketrampilan, kekuatan, dan karakteristik serupa.


8 6. Kesiapan hidup dan bekerja Kesiapan kerja berasal dari kata kesiapan dan kerja. Kesiapan merupakan modal utama bagi seseorang untuk melakukan pekerjaan sehingga dengan kesiapan yang dimiliki akan diperoleh hasil kerja yang maksimal. Dalyono (2012: 52) kesiapan adalah kemampuan yang cukup baik fisik dan mental. Kesiapan fisik berarti tenaga yang cukup dan kesehatan yang baik, sementara kesiapan mental, memiliki minat dan motivasi yang cukup untuk melakukan suatu kegiatan. Sejalan dengan pendapat tersebut, Slameto (2010:113) menyatakan bahwa, kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respon atau jawaban dalam cara tertentu terhadap suatu situasi. Arikunto (2001:54), kesiapan adalah suatu kompetensi berarti sehingga seseorang yang mempunyai kompetensi berarti seseorang tersebut memiliki kesiapan yang cukup untuk berbuat sesuatu. Lebih lanjut, Nasution (2003:179) kesiapan adalah kondisi yang mendahului kegiatan itu sendiri, tanpa kesiapan/ kesediaan ini proses mental tidak terjadi. Kesiapan adalah keadaan atau kesediaan seseorang untuk berbuat sesuatu (Dalyono, 2012:166). Pendidikan Kejuruan/Vokasi disatu sisi menekankan pendidikan untuk penyiapanbekerja dengan pengembangan ketrampilan/skill yang cenderung ke fisik atau motoriksebagai perwujudan kecerdasan kinestetik. Kemampuan yang menonjol diperlukan adalahkemampuan reproduktif yang didukung oleh pengetahuan praktis dan spesifik sertafungsional yang kuat sebagai ciri utamanya.


9 BAB III PENUTUP Kesimpulan Pendidikan teknologi dan pendidikan kejuruan menyiratkan duakonsep yang berbeda, antara pendidikan teknologi dan pendidikan kejuruan.Konseptualisasi pendidikan teknologi adalah pendidikan yang mengajarkan penggunaan teknologi untuk memecahkan masalah dalam memenuhi berbagaikebutuhan. Pendidikan teknologi mencakup pengetahuan umum (general), pengetahuan teoritis, pemahaman konseptual, bakat dan kemampuan kreatif,keterampilan intelektual, dan penyiapan berkehidupan. Sedangkan pendidikankejuruan mencakup pengetahuan khusus, pengetahuan praktis/fungsional, pemberian skill/keterampilan, kemampuan reproduktif, keterampilan fisik, dan penyiapan bekerja. Jadi pendidikan teknologi dan pendidikan kejuruan adalahdua pendidikan yang memiliki penekanan berbeda tetapi menjadi kesatuan pendidikan tekonologi kejuruan. Komparasi pendidikan kejuruan di negaralain perlu kita ketahui dan pelajari sebagai bahan kajian untuk memperbaikisecara terus- menerus pendidikan teknologi dan kejuruan di Indonesia Saran Disarankan kepada para calon tenaga kerja agar membekali diri dengan pendidikan yang memadai dan keteranoilan yang dibutuhka di dunia kerja, sehingga dapat bersaing secara positif dengan para calon tenaga kerja lainnya untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.


10 ASUMSI, FUNGSI DAN PERAN PENDIDIKAN KEKJURUAN St.Sayidah ( 220208501047) Program studi pengantar pendidikan kejuruan Fakultas teknik Universitas negeri makassar ABSTRAK Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Pengertian diatas bermakna bahwa, dalam pendidikan kejuruan mempunyai peran yang sangat besar dalam pembangunan sumber daya manusia utamanya di bidang ketenagakerjaan. Dengan adanya pendidikan kejuruan maka, untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkompeten di bidangnya sudah tidak diragukan lagi karena dalam masa pendidikan kejuruan sudah diberikan basic dasar dalam bekerja yang nantinya akan menjadi bekal jika bekerja di suatu instansi. Pendidikan kejuruan akan menjadi bagian yang sangat penting bagi pemberdayaan manusia karena, tanpa adanya pendidikan kejuruan maka para calon sumber daya manusia nantinya akan tergeser oleh sumber daya manusia yang lebih memiliki potensi. Pendidikan kejuruan diadakan untuk memupuk para calon seumber daya manusia sebagai sumber daya yang berkompeten dan mampu berkompetitif dengan sumber daya manusia yang lain. Pembangunan karakter dalam pendidikan kejuruan sebenarnya sudah tercipta dari minat serta bakat yang dimiliki. Maka dari itu, pendidikan kejuruan berperan untuk mengembangkan minat serta bakat dari peserta didiknya untuk kemudian menjadi bekal di masa yang akan datang PENDAHULUAN Pendidikan Kejuruan merupakan salah satu jalur pendidikan formal yang memiliki peran yang sangat besar dalam pembangunan seumber daya manusia utamanya dalam bidang ketenagakerjaan, sesuai dengan hakikat pendidikan kejuruan yang mempersiapkan para peserta didiknya untuk bekerja pada bidang tertentu. Sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, pendidikan kejuruan memiliki sejumlah persoalan


11 yang sedang dihadapi. Seperti misalnya, kurangnya hubungan antara pihak penyelenggara pendidikan kejuruan dengan dunia industri, kebutuhan sumber daya manusia yang terlampau banyak daripada jumlah lulusandansebagainya. Tersedianya sumber daya manusia yang kompeten dan handal di berbagai bidang dan jenjang, menjadi sangat penting dalam era global saat ini karena hanya dengan sumber daya manusia yang kompeten dan handal suatu negara akan mampu bertahan dan berperan dalam era yang penuh persaingan dan sekaligus peluang. Keunggulan komparatif yang berupa sumber daya alam yang melimpah, tenaga kerja yang murah, dipandang tidak kompetitif lagi. Sebaliknya, keunggulan kompetitif yang antara lain berupa tersedianya sumber daya manusia yang kompeten dan handal, akan lebih berpeluang dalam memenangkan persaingan era globalsaatini. Konsep pendidikan kejuruan yang berorientasi ke dunia kerja di dasarkan atas kebutuhan tenaga kerja di dunia industri dimana perencanaan ketenagakerjaan tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Program kebutuhan pasar kerja dan dunia pendidikan seharusnya dirancang secara integrasi dengan memperhatikan tujuan dan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Dalam konsep pengembangan pendidikan kejuruan maka, penyelenggara pendidikan kejuruan harus semakin lagin ditingkatkan bai dari segi guru produktif yang mengajarkanagarsemakinbertambah. PEMBAHASAN A. Strategi Pengembangan Pendidikan Kejuruan Menurut Moegjadi, secara umum ada 3 jenis tantangan yang harus dan akan dihadapi masa persaingan dalam berbagai aspek, Pertama, pertambahan dan distribusi penduduk serta perubahan struktur penduduk. Kedua, ketidakseimbangan dalam lingkungan hidup yang tidak hanya terbatas pada manusia tetapi juga floura dan fauna. Sektor pendidikan sebagai sektor krusial dalam penigkatan kualitas hidup manusia, menjadi sektor yang tidak kalah rumitnya mengahadapi perubhana-perubahan yang terjadi. Berbagai perkembangan implikasi perkembangan dunia saat ini telah memaksa dunia pendidikan harus memberikan kontribusi yang jelas, terarah dan terukur agar produk pendidikan tersebut dapat memberikan jaminan terpenuhinya kepentingan dan kebutuhan manusia,dan ketiga adalah dampak dari yang pertama dan kedua terhadap kehidupan sosial, politik, ekonomi dan pendidikan pada umumnya.


12 Masalah yang selalu dihadapi adalah bukan tidak disadarinya arti penting dan strategi pendidikan, tetapi selalu terkait dengan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukan atau melaksanakan pendidikan tersebut. Apalagi pada jenjang pendidikan menengah, terdapat jenis pendidikan yang berbeda yaitu: pendidikan umum; menitikberatkan pada pendidikan akademik dan memberi peluang yang seluas-luasnya kepada lulusannya untuk memasuki perguruan tinggi. Sedangkan pendidikan kejuruan lebih memberi kesempatan kepada lulusannya untuk memasuki dunia kerja dan industri, dan bukan berarti mereka tidak memiliki kesempatan untuk memasuki atau melanjutkan ke perguruan tinggi. Dalam bidang pendidikan kejuruan salah satu yang masih menjadi keprihatinan adalah kemampuan sekolah menengah kejuruan untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja. Hal ini dilatarbelakangi oleh kemajuan masyarakat dan dunia kerja yang sangat cepat, sebagai akibat dari laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Meningkatkan kerjasama antara pendidikan kejuruan dengan dunia usaha dan dunia industri merupakan cara yang efektif dan memang seharusnya dilakukan untuk meningkatkan mutu sekolah kejuruan, disamping untuk mengefisienkan material yang dibutuhkan sekaligus untuk mengetahui secara mendasar, apa yang sebenarnya diinginkan oleh dunia usaha dan dunia industri terhadap sekolah kejuruan. Karena itu, pengelolaan sekolah kejuruan yang baik menjadi penting agar manajemen sekolah kejuruan dapat melakukan kerjasam dengan mitra dari dunia usaha dan dunia industri dengan baik. Sebab, salah satu instrumen terpenting bagi penyelenggaraan sekolah kejuruan adalah kemampuannya memiliki mitra dengan dunia usaha dan dunia industri. Namun demikian, bukan berarti aspek dengan kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri saja yang akan meningkatkan kinerja sekolah kejuruan, sebab masih terdapat aspek- aspek lainnya. Salah satu aspek yang dapat meningkatkan kinerja sekolah kejuruan adalah berorientasi kepada pasar. Berorientasi kiepada pasar merupakan strategi sekolah kejuruan menghadapi tuntutan dan tantangan dunia usaha dan dunia industri. B. Pasar Pendidikan Kejuruan Berorientasi Pada Pasar Keterkaitan antara dunia pendidikan, khususnya pendidikan kejuruan dengan kebutuhan masyarakat untuk memperoleh pekerjaan, merupakan suatu tuntutan terhadap pertumbuhan, perkembangan, dan dinamika masyarakat. Berkenaan dengan pendidikan kejuruan, diharapkan pendidikanini mampu mengembangkan pemberdayaan lulusannya sehingga tujuan sosilal-ekonomi menjadi kenyataan di masyarakat. Menurut Simanjuntak, dkk (1990:75) upaya peningkatan mutu lulusan tidak mungkin semata-mata mengandalkan sumber daya yang ada di sekolah. Sumber daya dari luar sekolah, terutama dari dunia usaha dan dunia


13 industri sebagai konsumen tenaga kerja, seyogianya ikut mendukung pendidikan menengah kejuruan sampai dengan saat ini. Salah satu tolak ukur dari keberhasilan suatu proses pendidikan adalah apabila ada relevansi hasil lulusan dengan pasar tenaga kerja dan bagi institusi pendidikan yang mempunyai unit produksi seharusnya mengarahkan produknya dengan kebutuhan pasar dalam hal ini dunia usaha dan dunia industri bahkan masyarakat luas. Alasan utama dari pembelajaran orientasi dunia kerja adalah peserta didik dapat memperoleh berbagai keterampilan dan bahkan mereka mempelajari mengenai industri dan karir. Karena bagaimanapuninstitusi pendidikan seharusnya tidak hanya berpikir bagaimana hasil lulusannya berkualitas namun demikian seharusnya juga memperhatikan keinginan pasar yang selalu berubah. Jadi, berdasarkan konsep pemasaran alasan keberadaan sosial dan ekonomi bagi organisasi termasuk didalamnya institusi pendidikan adalah memuaskan kebutuhan konsumen dan keinginan tersebut sesuai dengan sasaran organisasi. Menurut Supriatna (1997:48) alasan penggunaan program pemberdayaan dan dinamika sosial lewat pendidikan masyarakat adalah karena adanya energi sosial yang bisa ditingkatkan kualitasnya bagi tujuan sosial-ekonomi, pengembangan pendidikan yang relevan dengan dunia kerja dan bisnis, sikap dan perilaku individu dalam bekerjasama dan berintegrasi sebagai bentuk kelangsungan budaya, pendidikan sebagai akar pembangunan dan kekuasaan sentral dalam kehidupan masyarakat umum dan elit penguasa. Oleh karena itu konsistensi terhadap pemberdayaan merupakan wujud nature collective or communal. Pendidikan kejuruan seharusnya menerapkan strategi one step ahead dari perkembangan teknologi dan pasar dunia di Indonesia. Pendidikan kejuruan harus selalu mengantisipasi kebutuhan pasar industri dan menyesuaikan pengajaran dan pelatihan untuk menjawab kebutuhan tersebut. Fleksibilitas tinggi diterapkan baik di sisi praktek maupun teori. Kebutuhan pasar atau peluang berusaha ditangkap oleh unit produksi dan diterjemahkan di dalam pengajaran dan pelatihan yang dapat menjamin kontinuitas pendidikan kejuruan. Pendidikan kejuruan terus berusaha untuk menghasilkan lulusan yang dapat menjawab kebutuhan pasar. Pendidikan kejuruan yang baik adalah pendidikan kejuruan yang dapat beradaptasi dengan lingkungan dunia usaha dan dunia industri. Demikian pula dapat memenuhi kebutuhan tuntutan pasar tenaga kerja. Selain itu juga, dari pihak sekolah kejuruan harus mampu mempersiapkan para calon siswanya untuk bersaing dalam dunia industri. Agar tidak tertinggal dengan lulusan lainnya yang telah mahir dan tidak asing dengan perkembangan teknologi informasi. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan kejuruan berorientasi dunia kerja akan dapat berkembang dan berhasil manakala hasil lulusannya atauproduksinya dapat diterima dan diserap oleh pasar. Karena keberhasilan institusi pendidikan seharusnya tidak diukur dari seberapa banyak menghasilkan lulusan sumber daya manusia tetapi bagaimana menghasilkan lulusan yang dapat terserap di


14 dunia kerja, sehingga lulusannya tidak menambah pengangguran dan hal tersebut dapat menambah beban pemerintah. Oleh karena itu, semua komponen pendidikan; tenaga pengajar; kurikulum, sarana dan prasarana, gedung harus diorientasikan kepada kebutuhan dan keinginan pasar. Dalam rangka mewujudkan pendidikan sekolah kejuruan di masa depan, yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja yang dibutuhkan dalam pembangunan dan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan maka diperlukan manajemen stratejik untuk mengelola permasalahn yang nantinya akan dihadapi. Begitu pula harus tetap saling membangun hubungan yang baik dengan mitra usaha agar nantinya lulusan yang ingin bekerja tidak menjadi pengangguran karena telah memiliki basic yang diajarkan waktu sekolah kejuruan. KESIMPULAN Pendidikan kejuruan berorientasi dunia kerja akan dapat berkembang dan berhasil manakala hasil lulusannya atau produksinya dapat terserap oleh dunia kerja. Karena apabila hal tersebut terjadi. Hal ini juga berdampak pada pengembangan sumber daya manusia baik secara regional, nasional, internasional bahkan global sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing. Sehingga di era global ini negara kita tidak hanya mengandalkan keunggulan comporative. Untuk menghasilkan lulusan yang berdaya saing nasional bahkan global diperlukan institusi pendidikan yang mampu mencetak lulusan yang memenuhi kebutuhan pasar global. Selain itu, penting pula bagi pihak penyelenggara sekolah kejuruan untuk memberikan update mengenai kemajuan khususnya dalam hal teknologi informasi. Alasan penggunaan program pemberdayaan dan dinamika sosial lewat pendidikan masyarakat adalah karena adanya energi sosial yang bisa ditingkatkan kualitasnya bagi tujuan sosial-ekonomi, pengembangan pendidikan yang relevan dengan dunia kerja dan bisnis, sikap dan perilaku individu dalam bekerjasama dan berintegrasi sebagai bentuk kelangsungan budaya, pendidikan sebagai akar pembangunan dan kekuasaan sentral dalam kehidupan masyarakat umum dan elit penguasa. Oleh karena itu konsistensi terhadap pemberdayaan merupakan wujud nature collective or communal.


15 PERAN PENDIDIKAN KEJURUAN DI ERA 4.0 St.Sayidah ( 220208501047) Program studi pengantar pendidikan kejuruan Fakultas Teknik, Universitas negeri makassar ABSTRAK Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang berorientasi pada pengembangan proses dan hasil pembelajaran. Tidak hanya diajarkan teori – teori saja, tetapi mereka dihadapkan dengan praktik tentang apa yang mereka pelajari sesuai dengan jurusan masing – masing. Era 4.0 merupakan integrasi pemanfaatan internet dengan lini produksi di dunia industri yang memanfaatkan kecangihan teknologi dan informasi. Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, diperlukan penguatan kualitas sumber daya manusia yang mampu menghadapi tantangan ini. Maka pendidikan kejuruan harus memiliki peran maksimal dalam menghasilkan lulusan kerja yang siap dan mampu bersaing dalam menghadapi industri 4.0. PENDAHULUAN Sekolah di Indonesia dituntut untuk dapat mengantisipasi semakin pesatnya perkembangan teknologi yang terjadi dalam era revolusi industri 4.0. Rancangan kurikulum dan metode pendidikan pun harus dapat menyesuaikan dengan iklim bisnis yang terus berkembang, jasa pendidikan dan bisnis industri juga sangat cepat perkembangannya, dan semakin kompetitif yang harus mengikuti perkembangan teknologi dan informasi.Perubahan yang terjadi dalam era revolusi


16 industri juga sangat berpengaruh pada karakter manusia, dunia kerja sehingga keterampilan yang diperlukan juga cepat berubah.Tantangan yang kita hadapi adalah bagaimana mempersiapkan dan memetakan angkatan kerja dari lulusan pendidikan yang benar-benar siap kerja, yang dengan kata lain profesional sesuai dengan bidang keahlianya, dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Dunia kerja di era revolusi industri 4.0, merupakan integrasi pemanfaatan internet dengan lini produksi di dunia industri yang memanfaatkan kecangihan teknologi dan informasi. Tugas pemerintah dan para pemangku kepentingan yang terkait ialah mempersiapkan sumber daya manusia unggul dan berdaya saing dengan memastikan pembangunan ekonomi linear dengan pembangunan manusia. Kualitas tenaga kerja yang tinggi akan hadir apabila kualitas pembangunan manusia Indonesia berdaya saing unggul. Akses terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, gizi, dan fasilitas publik lainnya akan menentukan kualitas manusia dan tenaga kerja Indonesia. B. METODE Metode atau langkah-langkah yang dilakukan dalam pembuatan artikel ini adalah dengan menggunakan studi pustaka/studi literatur. Topik dalam pembuatan artikel ini sudah di tentukan oleh ibu/bapak dosen mata kuliah “Pengantar Pendidikan Kejuruan”, sedangkan sistematika berikutnya mulai dari pembuataan judul, abstrak, inti, pendahuluan hingga pembahasan menggunakan literatur baca mulai dari e-book, jurnal, artikel, makalah, laporan penelitian terdahulu, karya ilmiah, ensiklopedia, internet, dan sumber-sumber lainnya. Dalam pembuatan artikel ini juga terdapat sistem mengumpulkan seluruh informasi yang terpercaya (relevan) dengan topik yang sudah ditentukan dari pembahasan sebelumnya. Metode studi pustaka ini dilakukan dengan mempelajari dan membaca beberapa literatur-literatur yang berkaitan dengan topik permasalahan yang menjadi objek pembahasan di dalam artikel. PEMBAHASAN Keunggulan suatu bangsa tak lagi bertumpu pada kekayaan alam, melainkan pada keunggulan sumber daya manusia, yaitu tenaga pendidik yang mampu menjawab


17 tantangantantangan yang sangat cepat. Agar lulusan sekolah mampu beradaptasi secara dinamis dengan perubahan dan tantangan itu, pemerintah melontarkan berbagai kebijaksanaan tentang pendidikan yang memberikan ruang yang luas bagi sekolah dan masyarakatnya untukmenentukan program dan rencana pengembangan sendiri sesui dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing. Pendidikan menduduki posisi sentral dalam pembangunan karena sasarannya adalah peningkatan kualitas SDM. Oleh karena itu, pendidikan juga merupakan alur tengah pembangunan dari seluruh sektor pembangunan. (Sutiyatno, 2015) Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang berorientasi pada pengembangan proses dan hasil pembelajaran. Tidak hanya kebutuhan belajar di sekolah, tetapi kualitas lulusan menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan kejuruan.. Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang berorientasi pada pengembangan proses dan hasil pembelajaran. Proses akan menempa peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Kualitas lulusan menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan kejuruan. (Sukartono, 2016)Pendidikan kejuruan merupakan jenis pendidikan yang unik karena bertujuan untuk mengembangkan pemahaman, sikap dan kebiasaan kerja yang berguna bagi individu sehingga dapat memenuhi kebutuhan sosial, politik, dan ekonomi sesuai dengan ciri yang dimiliki. Pendidikan dan pelatihan kejuruan merupakan pendekatan pendidikan yang menekankan pada kebutuhan industri sehingga peningkatan dan pengembangan individu dapat dilakukan di industri Dari beberapa pendapat di atas, dapat diartikan pendidikan kejuruan adalah sebuah kegiatan proses belajar mengajar yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja secara profesional bidang tertentu. Maksudnya adalah setiap peserta didik yang telah menyelesaikan pendidikan pada bidang teknologi dan kejuruan dapat langsung terjun ke dunia kerja tanpa diragukan lagi kemampuannya. Sebab, peserta didik yang telah lulus melalui jenjang pendidikannya kejuruan sudah mempunyai bekal dan pengalaman pada bidang tertentu. Pendidikan kejuruan berfungsi menyiapkan siswa menjadi manusia Indonesia seutuhnya yang mampu meningkatkan kualitas hidup, mampu mengembangkan dirinya, dan memiliki keahlian dan keberanian membuka peluang meningkatkan penghasilan. Sebagai suatu pendididikan khusus, pendidikan kejuruan direncanakan untuk mempersiapkan peserta didik untuk


18 memasuki dunia kerja, sebagai tenaga kerja produktif yang mampu menciptakan produk unggul yang dapat bersaing di pasar global dan professional yang memiliki kualitas moral di bidang kejuruannya (keahliannnya). Di samping itu pendidikan kejuruan juga berfungsi mempersiapkan siswa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Fungsi pendidikan kejuruan menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja produktif antara lain meliputi: a. Memenuhi keperluan tenaga kerja dunia usaha dan industri. b. Menciptakan lapangan kerja bagi dirinya dan bagi orang lain. c. Merubah status siswa dari ketergantungan menjadi bangsa yang berpenghasilan (produktif). Sedangkan sebagai tenaga kerja professional siswa mampu mengerjakan tugasnya secara cepat, tepat dan effisien yang didasarkan pada unsur-unsur berikut: a. ilmu atau teori yang sistematis, b. kewenangan professional yang diakui oleh klien, c. sanksi dan pengakuan masyarakat akan keabsahan kewenangannya dan d. kode etik yang regulative. Selanjutnya, menyiapkan siswa menguasai IPTEK dimaksudkan agar siswa: a. Mampu mengikuti, menguasai, dan menyesuaikan diri dengan kemajuan IPTEK. b. Memiliki kemampuan dasar untuk dapat mengembangkan diri secara berkelanjutan Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan kejuruan yang efektif perlu diperhatikan adanya beberapa prinsip pendidikan kejuruan di antaranya: a. Tugas-tugas latihan dilakukan dengan cara, alat dan mesin yang sama seperti yang ditetapkan di tempat kerja. b. Peserta didik dilatih dalam kebiasaan berpikir dan bekerja seperti yang diperlukan dalam pekerjaan itu sendiri.


19 c. Guru telah mempunyai pengalaman yang sukses dalam penerapan keterampilan dan pengetahuan pada operasi dan proses kerja yang akan dilakukan. d. Sejak awal latihan sudah ada pembiasaan perilaku yang akan ditunjukkan dalam pekerjaannya. e. Pelatihan diberikan pada pekerjaan yang nyata. (Prof.Dr.H.Muhammad Yahya, 2018)Tantangan dan peluang industri 4.0 mendorong inovasi dan kreasi pendidikan kejuruan. Pemerintah perlu meninjau relevansi antara pendidikan kejuruan dan pekerjaan untuk merespon perubahan, tantangan, dan peluang era industri 4.0 dengan tetap memperhatikan aspek kemanusiaan (humanities). Tantangan pendidikan kejuruan semakin kompleks dengan industri 4.0. (Ibrohim et al., 2018)menjelaskan bahwa pendidikan kejuruan (Vocational Education) sebagai pendidikan yang berbeda dari jenis pendidikan lainnya harus memiliki karakteristik sebagai berikut; 1) berorientasi pada kinerja individu dalam dunia kerja; 2) justifikasi khusus pada kebutuhan nyata di lapangan; 3) fokus kurikulum pada aspek-aspek psikomotorik, afektif, dan kognitif; 4) tolok ukur keberhasilan tidak hanya terbatas di sekolah; 5) kepekaan terhadap perkembangan dunia kerja; 6) memerlukan sarana dan prasarana yang memadai; dan 7) adanya dukungan masyarakat. Menghadapi industri 4.0, pendidikan kejuruan membutuhkan dukungan masyarakat. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan diri lulusan pendidikan kejuruan sehingga lulusannya merasa aman sebagai pekerja yang terampil karena adanya dukungan dan pengakuan dari masyarakat. Pada dasarnya pendidikan kejuruan dapat disediakan atau difasilitasi oleh masyarakat dan pemerintah untuk mempersiapkan dan merubah individu secara cepat dalam memenuhi tuntutan dunia kerja dan perubahan zaman termasuk fase industri 4.0. Pengembangan pendidikan kejuruan harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat dalam sistem untuk menjawab tantangan industri 4.0.


20 Muatan pembelajaran abad 21 harus selalu menyesuaikan dengan perubahan termasuk di era industri 4.0. Muatan pembelajaran diharapkan mampu memenuhi keterampilan abad 21 (21st century skills); 1) pembelajaran dan keterampilan inovasi meliputi penguasan pengetahuan dan keterampilan yang beraneka ragam, pembelajaran dan inovasi, berpikir kritis dan penyelesaian masalah, komunikasi dan kolaborasi, dan kreatifitas dan inovasi, 2) keterampilan literasi digital meliputi literasi informasi, literasi media, dan literasi ICT, 3) karir dan kecakapan hidup meliputi fleksibilitas dan adaptabilitas, inisiatif, interaksi sosialdan budaya, produktifitas dan akuntabilitas, dan kepemimpinan dan tanggung jawab (ARIFIN, 2018). (Johan, 2014)Usaha peningkatan kualitas SDM bisa ditempuh dengan upaya sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi untuk menetapkan standar kompetensi profesionalisme di masing-masing sektor. Upaya peningkatan kualitas SDM untuk bersaing dalam menghadapi industri 4.0 harus segera dilaksanakan dalam rangka mencapai kemajuan dan mengejar ketertinggalannya dari negara-negara lain. Seiring dengan kedudukan dan peran tenaga kerja yang sangat penting dalam pelaksanaan pembangunan nasional, momentum berlakunya industri 4.0 harus menjadi agenda nasional dalam menata persoalan tenaga kerja selama ini seperti tercantum dalam Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pun layak dipertimbangkan sebagai payung hukum dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja secara umum sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Paradigma baru peningkatan kualitas tenaga kerja bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu standar kompetensi kerja, pelatihan berbasis kompetensi serta sertifikasi kompetensi oleh lembaga yang independen. (Prof.Dr.H.Muhammad Yahya, 2018)Dalam jangka waktu yang singkat, kemampuan berinovasi dan penguasaan teknologi merupakan keniscayaan untuk segera dilakukan karena mayoritas output pendidikan dasar dan menengah akan bekerja di sektor bawah atau tenaga kasar. Ketrampilan ini bisa diupayakan dengan cepat karena siswa akan diajarkan bagaimana cara bekerja yang kreatif dan inovatif. Adapun pengembangan kemampuan membangun jaringan diprioritaskan bagi tenaga kerja level manajemen yang umumnya diemban oleh lulusan perguruan tinggi. Akan tetapi, jika ketrampilan ini dimiliki oleh semua level pendidikan maka dapat meningkatkan kualitas kerja lulusan pendidikan sehingga daya saing tenaga kerja kita meningkat.


21 Menyiapkan sumber daya manusia memang bukan pekerjaan mudah dan bisa dilakukan secara instan. Akan tetapi, apabila pendidikan kita (guru dan sekolah) bisa membekali siswa dengan kedua ketrampilan tersebut, lulusan pendidikan kita akan memiliki rasa percaya diri dan motivasi untuk mengembangkan diri secara optimal sehingga mampu bersaing secara global. KESIMPULAN Peranan dunia pendidikan dalam menyongsong datangnya industri 4.0, sangat di harapkan. Baik berupa pendidikan secara formal, non formal dan informal apalagi dalam lingkup perdidikan kejuruan. Karena bagaimanapun dengan adanya industri 4.0 ini akan melahirkan dampak bagi manusia Indonesia untuk mengejar kompetensi yang di harapkan agar masyarakat Indonesia dapat bersaing dengan masyarakat negara Pendidikan kejuruan memiliki kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia, yakni melalui kemampuan untuk menghasilkan SDM atau tenaga kerja yang terampil dan produktif sesuai tuntutan era globalisasi. Pendidikan kejuruan dapat diartikan sebagai pendidikan keduniakerjaan. Dunia kerja dan pekerjaan berubah dan berkembang akibat kemajuan teknologi.


22 SEJARAH PENDIDIKAN KEJURUAN DI INDONESIA Oleh: St. Sayidah (220208501047) Program Studi Pendidikan kesejahteraan keluarga Universitas Negeri Makassar ABSTRAK Indonesia menjadi salah satu negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dan hanya sekitar 7.000 pulau yang berpenghuni. Secara astronomi, letak Indonesia diapit oleh dua benua yaitu Benua Asia dan Australia serta dua samudra yaitu Samudra Hindia dan Pasifik. Indonesia terkenal dengan sumber daya alam (SDA) yang melimpah ruah di setiap wilayahnya. Oleh sebab itu, pada zaman dahulu Indonesia diincar oleh banyak bangsa barat hanya untuk menguasai hasil rempah dan memperbudak mereka, beberapa di antaranya yaitu Portugis, Belanda, Inggris, Jepang. Dari zaman sebelum merdeka hingga sekarang kita sudah mengenal tentang istilah pendidikan. Namun, pendidikan di Negara Indonesia pada zaman dahulu sangat buruk. Tidak semua rakyat Indonesia bisa menempuh jenjang pendidikan yang layak. Padahal pendidikan menjadi salah satu kebutuhan yang paling penting bagi individu untuk membentuk karakter suatu bangsa. Oleh sebab itu, kita sebagai bangsa Indonesia yang hidup di zaman modern ini wajib bersyukur karena semuanya sudah mengalami banyak perubahan. Beberapa catatan tentang sejarah pendidikan di Indonesia mulai dari pendidikan pada masa (penjajahan) Portugis, Belanda, Jepang; Masa Kemerdekaan; Orde Baru hingga Reformasi. Setiap masa pendidikan memiliki kesamaan tujuan tetapi dengan sistem penerapan yang berbedabeda. Dalam artikel ini dibahas tentang bagaimana sejarah pendidikan dari masa ke masa mampu membentuk karakter suatu bangsa sehingga kita sebagai bangsa Indonesia yang hidup di zaman modern tidak lupa bersyukur dan mampu memanfaatkan kemajuan teknologi semaksimal mungkin


23 ke arah yang lebih positif. Kita harus mampu memetik setiap pelajaran dan makna yang terkandung dari diciptakannya pendidikan di masa lalu. A. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan manusia untuk bisa berproses dan berinteraksi di dunia luar dengan semua masyarakat sekitarnya. Pendidikan juga menjadi salah satu bekal terpenting di masa depan. Pendidikan itu sudah kita kenal sejak zaman sebelum Negara Indonesia merdeka hingga saat ini. Pendidikan menjadi salah satu hal pokok yang harus dipehatikan karena pendidikan mampu membentuk karakter pribadi setiap orang apabila sungguh-sungguh dalam menekuninya. Pendidikan adalah proses pembelajaran tentang akhlak, ilmu pengatahuan dan keterampilan yang menjadi kebiasaan turun-temurun sekelompok orang untuk melakukan pengajaran, pengamatan, pelatihan atau penelitian. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat (1), pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Secara langsung maupun tidak langsung pendidikan mampu memberikan kita ilmu pengetahuan baru, membentuk karakter pribadi yang lebih baik dan mempermudah kita merintis karir di masa mendatang. Pendidikan menurut salah satu tokoh yaitu M. J. Langeveld (1980), merupakan suatu upaya yang dilakukan secara sengaja oleh seseorang yang dewasa untuk membantu mencapai kedewasaan seseorang terutama anak-anak yang masih belum dewasa . Sejarah pendidikan mencatat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kualitas pendidikan paling rendah dibandingkan negara-negara lainnya, meskipun usaha pemerataan sistem pendidikan sudah dilakukan dan dianggap meningat cukup signifikan, (Jakarta, CNN Indonesia). Pendidikan saat ini secara umum mungkin sudah dilakukan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Pendidikan ini biasa kita kenal dengan istilah “sekolah” yaitu salah satu pendidikan formal yang ada di Indonesia. Sistem pendidikan yang dilakukan pun hampir keseluruhan menggunakan teknologi-teknologi canggih seperti komputer/laptop, LCD proyektor, handphone, WiFi, dsb. Berbeda dengan pendidikan pada zaman-zaman sebelum merdeka mulai dari pendidikan pada masa (penjajahan)


24 Portugis, Belanda, Jepang; Masa Kemerdekaan; Orde Baru hingga Reformasi. Pendidikan di zaman penjajahan (sebeum merdeka) memang dikatakan tidak semua rakyat Indonesia mampu mengeyam jenjang pendidikan yang baik. Hanya rakyat Indonesia tertentu saja yang mampu mengenyam jenjang pendidikan seperti keturunan bangsawan (darah biru). Oleh sebab itu, selagi kita masih memiliki kesempatan mengenyam jenjang pendidikan yang lebih tinggi maka harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mampu merubah masa depan. B. METODE Metode atau langkah-langkah yang dilakukan dalam pembuatan artikel ini adalah dengan menggunakan studi pustaka/studi literatur. Topik dalam pembuatan artikel ini sudah di tentukan oleh ibu/bapak dosen mata kuliah “Pengantar Pendidikan Kejuruan”, sedangkan sistematika berikutnya mulai dari pembuataan judul, abstrak, inti, pendahuluan hingga pembahasan menggunakan literatur baca mulai dari e-book, jurnal, artikel, makalah, laporan penelitian terdahulu, karya ilmiah, ensiklopedia, internet, dan sumber-sumber lainnya. Dalam pembuatan artikel ini juga terdapat sistem mengumpulkan seluruh informasi yang terpercaya (relevan) dengan topik yang sudah ditentukan dari pembahasan sebelumnya. Metode studi pustaka ini dilakukan dengan mempelajari dan membaca beberapa literatur-literatur yang berkaitan dengan topik permasalahan yang menjadi objek pembahasan di dalam artikel. C. HASIL Pendidikan sudah wajib menjadi salah satu penentu masa depan seseorang. Dengan disusunnya visi dan misi yang akurat di dalam suatu ruang lingkup lembaga pendidikan tentunya dapat menjamin lembaga pendidikan tersebut mampu membentuk karakter individu yang menempuh pendidikan di dalamnya menjadi lebih baik dan bertanggung jawab dengan lingkungan sekitarnya. Visi dan misi dalam suatu pendidikan harus memiliki sasaran yang jelas dan tanggap terhadap masalah-masalah bangsa. Oleh sebab itu, menjadi suatu hal yang sangat wajar apabila dalam pendidikan terdapat perubahan-perubahan subsistem pendidikan. Karena untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan pendidikan suatu bangsa. Pendidikan dari masa ke masa harus tetap berjalan dengan baik dan disertai dengan landasan Visi dan Misi yang jelas dan mampu menjawab tantangan di zaman mendatang. Pendidikan di Indonesia sudah ada sejak masa


25 sebelum kemerdekaan dan sesudah kemerdekaan. Pertama, ajaran agama menjadi landasan pendidikan di antaranya, yaitu Pendidikan Agama Hindu-Budha, Pendidikan Agama Islam, dan Pendidikan Agama Katholik dan Kristen Protestan. Kedua, kepentingan penjajah menjadi landasan pendidikan di antaranya yaitu pendidikan pada masa Portugis, pendidikan pada masa Belanda (VOC), dan pendidikan pada masa Jepang. Ketiga, pendidikan pada masa Kemerdekaan. Keempat, pendidikan pada masa Orde Baru. Kelima, pendidikan pada masa Reformasi. D. PEMBAHASAN 1. Ajaran Agama menjadi landasan Pendidikan a. Pendidikan Hindu-Budha Sistem pendidikan semenjak periode awal berkembangnya agama Hindu-Budha di Indonesia sepenuhnya sudah bermuatan keagamaan. Pelaksanaan pendidikan keagamaan Hindu-Budha berada di padepokan-padepokan. Ajaran Hindu-Budha ini memberikan corak praktik pendidikan di zaman kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha di Kerajaan Kutai (Pulau Kalimantan), Kerajaan Tarumanegara hingga Majapahit (Pulau Jawa), Kerajaan Sriwijaya (Pulau Bali dan Sumatera). Kaum Brahmana pada masa Hindu-Budha merupakan kaum yang menyelenggarakan pendidikan dan pelajaran. Maka perlu diketahui bahwa sistem kasta yang diterapkan di Indonesia tidak terlalu keras seperti sistem kasta yang ada di India. Adapun beberapa materi-materi yang dipelajari ketika pendidikan keagamaan Hindu-Budha berlangsung, yaitu teologi (ilmu agama), bahasa dan sastra (ilmu kecakapan), ilmu-ilmu kemasyarakatan (ilmu sosial), ilmu-ilmu eksakta (ilmu perbintangan), ilmu pasti yaitu (perhitungan waktu, seni bangunan, seni rupa), dsb. Pada periode akhir berkembangnya pendidikan Keagamaan Hindu-Budha, pola pendidikan dilakukan oleh para guru pengajar di padepokan-padepokan tidak lagi bersifat kolosal dalam kompleks, dengan jumlah murid relatif terbatas dan bobot materi pembelajaran yang bersifat religius dan spiritual. Selain belajar untuk menuntut ilmu, para murid di padepokan ini juga harus bekerja demi terpenuhinya kebutuhan sehari-hari mereka. Jadi dapat disimpulkan bahwa pada masa pendidikan keagamaan Hindu-Budha pengelola pendidikan adalah kaum Brahmana, bersifat


26 tidak formal, dapat mengundang guru untuk datang ke istana, dan pendidikan kejuruan dilakukan secara turun-temurun melalui jalur kastanya masing-masing. b. Pendidikan Islam Saudagar asal Gujarat pada abad ke-13 menjadi salah satu ciri-ciri dari mulainya pendidikan berlandaskan ajaran Islam di Indonesia. Mula-mula kehadiran mereka terjalin melalui hubungan teratur dengan para pedaganag asal pulau Sumatra dan Jawa. Kemudian, para saudagar yang beragama Islam asal Gujarat itu di Indonesia menjadi penyebar agama Islam. Ajaran agama Islam awal berkembang di kawasan pantai pesisir, sementara ajaran agama Hindu masih kuta di kawasan pedalaman. Kerajaan Samudra-Pasai (1297) di Indonesia menjadi kerajaan Islam pertama lebih tepatnya Aceh. Jauh sebelum Kerajaan Samudra-Pasai berdiri pengaruh ajaran Islam sudah masuk terlebih daulu ke Indonesia. Terbukti dengan adanya batu nisan seorang wanita bernama Fatimah binti Maimun pada tahun 476 H (1082 M) di Leran, dekat Gresik Jawa Timur. Pada masa prakolonial pendidikan agama Islam berbentuk pendidikan di pesantren, pendidikan di musola/langgar dan pendidikan di madrasah. Pertama, Pendidikan di musola/langgar dilaksanakan secara sederhana dengan binaan guru mengaji yang memiliki status dibawah kyai, materi yang diajarkan membaca Al-Qur’an dan Fiqih Dasar. Kedua, Pendidikan di pesantren memiliki sistem pendidikan pemondokan sederhana, materi pembelajaran bersifat khusus (keagamaan), penghormatan tertinggi kepada guru, tidak ada gaji untuk guru karena memotivasi santri sematamata karena Allah SWT., dan santri datang untuk menuntut ilmu secara suka rela. Ketiga, pendidikan di madrasah memiliki sistem pendidikan yang mengajarkan agama dan ilmu pengetahuan seperti astronomi (ilmu falak), dan ilmu pengobatan. Ketiga sistem pendidikan Islam ini tetap bertahan sejak datangnya kolonial Belanda hingga saat ini. c. Pendidikan Katholik dan Kristen Prostestan Pendidikan Katholik bermula dari abad ke-16 melalui orang-orang Portugis yang menguasai Malaka. Portugis memiliki usaha mencari rempah-rempah untuk dijual di Eropa, dikarenakan saat itu harga rempah-rempah sangat mahal. Portugis bersama misionaris Katholik-Roma berperan ganda sebagai penasehat spiritual, menempuh perjalanan jauh disertai menyebar agama agama yang diyakini pada setiap tempat yang di datanginya. Segera setelah Portugis dan Katholik-Roma


27 menduduki suatu pulau, menjadikan penduduk setempat sebagai pemeluk Katholik-Roma merupakan usaha utama yang mereka lakukan. Kemudian, untuk mendidik anak-anak setempat didirikanlah acara seminar-seminar. Namun, hanya sekitar setengah abad (500 tahun) kekuasaan Portugis itu bertahan dan tidak berlangsung lama karena diusir oleh Spanyol. Kemudian sistem pendidikan bercorak agama Kristen-Protestan tersebar di bawah pengaruh bangsa Belanda di Indonesia. 2. Kepentingan Penjajah menjadi landasan Pendidikan a. Pendidikan pada Masa Portugis Indonesia mengalami perkembangan dari aspek ekonomi yaitu perdagangan pada abad ke-16. Saat itu datanglah Portugis disusul dengan bangsa Spanyol datang ke Indonesia untuk berdagang dan menyebarkan Agama Nasrani (Khatolik). Portugis datang ke Indonesia bersama dengan missionaris salah satu namanya ialah Franciscus Xaverius. Dalam penyebaran agama Nasrani (Katholik), menurut Franciscus Xaverius sangat diperlukan untuk mendirikan sekolah-sekolah (seminarie). Pada tahun 1536 telah berdiri sebuah seminarie di Ternate yang menjadi sekolah agama anak-anak orang terkemuka. Pelajaran yang dierikan di sekolah Nasrani (Katholik) ini ada beberapa diantaranya pelajaran agama, membaca, menulis dan berhitung. Kabupaten Solor, Flores Timur juga mendirikan semacam seminarie dan mempunyai kurang lebih 50 orang murid yang juga mengajarkan bahasa Latin. Tujuh kampung di Ambon penduduknya sudah beragama Katholik pada tahun 1546, di kampung ini ternyata juga menyelenggarakan pengajaran untuk rakyat umum. Pengajaran ini sering menimbulkan pemberontakan sehingga akhir abad ke-16 musnahlah kekuatan Portugis di Indonesia. Ini menandakan hilang juga missi Katholik di Maluku. Hilangnya tenaga missi itu menjadi salah satu akibat dari jatuhnya Negara sehingga usaha-usaha pendidikan terpaksa harus diberhentikan. b. Pendidikan pada Masa Belanda Belanda datang ke Pulau Jawa Indonesia untuk berdagang dan menciptakan kekuasaan baru setelah berakhirnya kekuasaan Portugis pada akhir abad ke-16. Belanda yang bergabung dalam badan perdangan VOC, menganggap bahwa agama Katholik yang disebarkan oleh Portugis perlu


28 digantikan dengan agama Protestan yang dianutnya. Dengan itulah sekolah-sekolah keagamaan didirikan terutama di daerah yang dulunya telah terpengaruh agama Nasrani (Katholik) oleh Portugis dan Spanyol. Sekolah pertama di Ambon didirikan oleh VOC pada tahun 1607. Pembelajaran yang diberikan yaitu membaca, menulis dan sembahyang. Guru pendidik berasal dari Belanda dan mendapat upah. Salah satu alasan tidak ada susunan persekolahan dan gereja di Pulau Jawa karena Pulau Jawa tidak terkena pengaruh Portugis. Pada tahun 1617 sekolah pertama didirikan di Jakarta, lima tahun kemudia pada 1622 sekolah itu mempunyai murid 92 laki-laki dan 45 perempuan. Sekolah ini memiliki tujuan untuk menghasilkan tenaga-tenaga kerja yang cakap sehingga dapat dipekerjakan di administrasi dan gereja pada pemerintahan. Bahasa Belanda menjadi bahasa pengantar hingga tahun 1786. Pendidikan kejuruan mulai muncul sejak abad ke19 dan pada abad ke-20 muncul golongan baru yaitu golongan cerdik, pandai yang mendapat pendidikan Barat, namun golongan ini tidak mendapat tempat dan perlakuan wajar dalam masyarakat kolonial. Partai yang timbul sesudah tahun 1908 ada yang berdasarkan Sarekat Islam, berdasarkan sosial seperti Muhamadiyah, ada pula berdasarkan asas kebangsaan seperti Indische Partij. Indische Partij merupakan pergerakan yang pertama kali merumuskan semboyan Indie los van Nederland yang berarti “Indonesia Merdeka” dan diambil alih oleh PNI (1928). c. Pendidikan pada Masa Jepang Jepang merupakan salah satu negara penjajah Indonesia yang berlangsung lumayan pendek (17 Maret 1942–17 Agustus 1945). Jepang menguasai Indonesia dimana perang, segala usaha Jepang di tunjuukan hanya untuk perang. Murid-murid bergotong-royong mengumpulkan batu, kerikil, dan pasir untuk pertahanan, halaman seolah ditanami umbi-umbian dan sayur untuk bahan pangan, menanam pohon jarak untuk menambah pasokan minyak demi kepentingan perang. Runtuhnya pengaruh kolonial Belanda diikuti dengan tumbangnya sistem pendidikannya pula. Banyak orang Belanda diinternir oleh pemerintah militer Jepang sehingga banyak sekolah-sekolah untuk anak Belanda dan Indonesia kalangan atas lenyap. Hanya susunan sekolah untuk anak-anak Indonesia saja yang tertinggal. Sekolah rendah seperti Sekolah Desa 3 tahun, Sekolah Sambungan 2 tahun, ELS, HIS, HCS masing-masing 7 tahun, Schakel School 5 tahun, dan MULO dihapus semua. Pendidikan Sekolah Rakyat (Kokomin Gakko) 6 tahun, Sekolah Menengah Cu Gakko (laki-laki) dan Zyu Gakko (perempuan) 3 tahun yang ada di Indonesia sejak masa Jepang dan masih banyak


29 lagi sekolah kejuruan (sekolah guru), yaitu sekolah untuk mempersipkan tenaga pendidik dalam jumlah yang besar demi memompa dan mempropagandakan semangat Jepang kepada anak didik. 3. Pendidikan Pasca Kemerdekaan a. Pendidikan pada Masa Kemerdekaan Tokoh pendidik yang berjasa pada masa kolonial Belanda seperti Ki Hajar Dewantara, Moh. Syafe’i dari INS, Mr. Suwandi yang mengganti ejaan Bahasa Indonesia yang disusun sebelumnya oleh Van Phuysen. Dari beberapa tokoh di atas, pemerintahan Indonesia telah berupaya untuk mengangkat tokoh yang berjasa dalam pendidikan Indonesia dimasa kolonial ini pada awal pendidikan masa kemerdekaan. Pengangkatan Menteri PP dan K. Prof. Dr. Priyono dari partai Kiri Murba menjadi tanda pengaruh masuknya ideologi kiri di dunia pendidikan. b. Pendidikan pada Masa Orde Baru Usaha pembangunan terencana dalam Pelita I sampai Pelita II, III dan seterusnya telah dilancarkan oleh pemerintahan Orde Baru dengan tokoh-tokoh teknorat dalam pucuk pimpinan pemerintahan. Rencana pendidikan dalam Pelita I ini dapat dikembangkan menurut satu rencana dan menyesuaikan keuangan Negara. Harga minyak tanah yang melonjak naik pada masa orde baru ini berakibat pada keuangan Negara yang membengkak. Hal ini menjadi penyebab di dirikannya SD Inpres (Instruksi Presiden) mengangkat guru-guru dan mencetak buku pelajaran. Hasil dari Pelita I dalam bidang pendidikan yaitu telah ditatar lebih dari 10.000 orang guru. Enam puluh tiga koma lima juta buku SD kelas I telah dibagikan, 6000 gedung SD dibangun, 57.740 orang guru terutama guru SD diangkat, serta 5 Proyek Pusat Latihan Teknik yaitu di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan Ujung Pandang telah dibangun. c. Pendidikan pada Masa Reformasi Kurikulum 1994 digunakan pada masa pemerintahan Habibie telah mengalami penyempurnaan pada masa pemerintahan Gus Dur. Pendidikan pada masa pemerintahan Megawati mengalami perubahan tatanan, antara lain:


30 1. Diubahnya Kurikulum 1994 ke Kurikulum 2000 menjadi Kurikulum 2002 setelah disempurnakan (Kurikulum Berbasis Kompetensi), yaitu kurikulum dalam orientasinya dalam pendidikan fokus pada 3 aspek utama yang dikembangkan, antara lain aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik. 2. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disahkan pada 8 Juli 2003 yang memberikan dasar hukum untuk membangun pendidikan nasional dengan menerapkan prinsip demokrasi, desentralisasi, otonomi, keadilan dan menjujung HAM. Setelah jabatan Megawati turun dan digantikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono, UU No. 20/2003 masih berlaku ditambah dengan UU RI No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen. Setelah penetapan UU tersebut disusul dengan pergantian Kurikulum KBK menjadi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) berdasarkan pada PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. KTSP merupakan kurikulum operasional yang dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan, tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan serta silabus. KESIMPULAN Dari artikel yang sudah dibuat dapat disimpulkan bahwa sejarah pendidikan di Indonesia memiliki cerita yang manarik masa ke masa nya. Sejarah pendidikan Indonesia di masa lampau hingga sekarang memberikan kita gambaran bahwa dalam bentuk apapun pendidikan itu tetaplah penting untuk membentuk karakter pribadi kita. Walaupun sistem penerapannya berbeda-beda tetapi pendidikan memiliki kesamaan tujuan. Mulai dari pendidikan keagamaan, pendidikan karena penjajah hingga pendidikan pasca kemerdekaan. Setiap masa wajib mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan bangsa di masa itu dan mampu menjawab tantangan di masa mendatang.


31 LANDASAN FILOSOFI PENDIDIKAN KEJURUAN Oleh: St. Sayidah (220208501047) Program Studi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Universitas Negeri Makassar Abstrak Pendidikan dan pembelajaran telah dirancang, dikembangkan, dan dilaksanakan atas dasar filosofi, teori, dan praktik. Bagian dari ini adalah dasar pendidikan. Salah satu landasan tersebut adalah landasan filosofis. Filsafat yang terdiri dari Metafisika, Epistemologi, dan Aksiologi sangat penting bagi pendidikan dan pembelajaran. Ini membantu para pendidik untuk mempertimbangkan bekerja berdasarkan makna dan prinsip filosofi yang berbeda termasuk idealisme, realisme, esensialisme, dan pragmatisme. A. Pendahuluan Landasan-landasan pendidikan dan pembejaran adalah asumsi, atau gagasan, keyakinan, prinsip yang dijadikan titik tolak atau pijakan dalam rangka berpikr atau melakukan praktik pendidikan dan pembelajaran. Landasan-landasan pendidikan meliputi Landasan-Landasan Historis, Filosofis, Politik, Ekonomi,Psikologis, Sosiologis, Antropologis, dan Komparatif. Dalam konteks ini pendidikan dapat dimaknai berbeda-beda sesuai dengan prinsip-prinsip yang dijiwai dari masingmasing landasan-landasan ini. Fokus dari karya ilmiah ini adalah deskripsi mengenai Landasan Filosofis Pendidikan Kejuruan .Diharapkan bahwa pembahasan ini dapat beranfaat bagi para Mahasiswa yang sedang mempelajari Landasan-Landasan Pendidikan. B. Metode


32 Karya ilmiah ini ditulis sebagai tugas individu yang bertujuan untuk mendeskripsikan Landasan Filosofis Pendidikan Kejuruan. Karya ilmiah ini dihasilkan dengan melakukan literatur baca mulai dari e-book, jurnal, artikel, makalah, laporan penelitian terdahulu, karya ilmiah, ensiklopedia, internet, dan sumber-sumber lainnya. Dalam pembuatan artikel ini juga terdapat sistem mengumpulkan seluruh informasi yang terpercaya (relevan) dengan topik yang sudah ditentukan dari pembahasan sebelumnya. C. Pembahasan Apa perlunya filsafat dalam pengembangan pendidikan kejuruan menjadi pertanyaan mendasar dan menarik untuk dibahas dan diurai secara rinci. Mengutip pernyataan Dewey bahwa tugas philosopher adalah memberikan garis-garis arahan bagi perbuatan. Karenanya filsafat sangat penting dalam setiap proses pengembangan pendidikan agar sadar arah, benar, dan sesuai kebutuhan. Filsafat pendidikan kejuruan menunjukkan garis arahan kemana pendidikan kejuruan akan digerakkan atau dirancangprogramkan. Pendidikan kejuruan sebagai pendidikan untuk bekerja (education-for-work) didasarkan atas philosophy esensialisme, eksistensialisme, dan pragmatisme. Strom mengutip pernyataan Miller (1994) bahwa pragmatisme merupakan philosophy yang paling efektif untuk education-for-work. Karena philosophy pragmatisme menyeimbangkan philosophy esensialisme dan eksistensialisme. Disamping itu philosophy lainnya yang mendasari pendidikan kejuruan adalah philosophy humanisme dalam kaitannya dengan personal growth dan philosophy progressive dalam kaitannya dengan reformasi sosial. Philosophy esensialisme merupakan akar dari idealisme dan realisme. Esensialisme bertujuan mendidik manusia bernilai guna, bermakna bagi kehidupan, dan kompeten. Esensialisme menekankan peran dan fungsi pendidik atau pelatih dalam proses pembelajaran, ahli, dan menguasai subyek materi, mengembangkan skill dengan berlatih, pengulangan, pengkondisian, dan pengembangan kebiasaan baik dalam mempengaruhi perilaku peserta didik. Pembelajaran peserta didik dilakukan secara progresif dari skill yang kurang komplek ke skill yang lebih komplek. Esensialis biasanya mengajarkan subyek materi membaca, menulis, mengkaji literatur, bahasa asing, sejarah, matematika, sains, seni dan musik.


33 Plato sebagai tokoh esensialis menyatakan bahwa dunia jasmani senantiasa berubah sedangkan dunia akali abadi tidak berubah. Tujuan philosophy baginya adalah untuk memperoleh pengetahuan sejati. Manusia sering membuat pernyataan “ini kepala saya, ini otak saya, ini mata saya, ini hidung saya, ini telinga saya, ini mulut saya, ini tangan saya, ini kaki saya, ini badan saya, dan seterusnya”. Lalu “saya ini siapa?”. Saya bukan kepala, bukan otak, bukan mata, bukan hidung, bukan telinga, bukan mulut, bukan tangan, bukan kaki. Saya adalah sang Roh esensi dari manusia. Philosophy eksistensialisme menyatakan setiap individu manusia membentuk makna kehidupannya sendiri-sendiri. Memilih jalan hidupnya sendiri-sendiri. Realitas kehidupan bersifat subjektif. Manusia selalu akan menemukan dirinya dalam dunia, kontek utamanya adalah kesadaran diri siapakah aku. Soren Kierkegaard menulis alam manusia dan identitas manusia berbeda bergantung pada tata nilai dan keyakinan yang mereka pegang/anut. Tugas paling berat bagi setiap orang menurutnya adalah menjadikan dirinya eksis sebagai individu yang unik bermakna (personal growth). Jean Paul Sartre meyakini individu menciptakan hakikat dirinya sendiri melalui pilihan dan tindakan secara bebas. Profesi dengan segala tindakan dan akibatnya adalah pilihan. Karenanya dalam philosophy jawa perlu tatas, tutus, titis, titi lan wibawa (mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup). Struktur ciptaan manusia semacam lembaga-lembaga dapat secara serius membatasi dan melemahkan kebebasan manusia. Simone de Beauvoir memberi sintesis akibat buruk cara pendidikan kaum perempuan mengakibatkan tersingkirnya kaum perempuan secara sistematis dalam perannya sebagai yang lain dari kaum laki-laki. Kemudian Friedrich Neitzsche dengan prinsip fundamentalnya menyatakan bahwa setiap manusia memiliki kehendak untuk berkuasa (will to power). Menurutnya, ada dua jenis nilai dalam kehidupan manusia yaitu nilai yang diciptakan oleh golongan lemah (“moralitas budak”) dengan menjunjung tinggi keutamaankeutamaan semacam belas kasih, cinta altruism, kelemahlembutan, serta nilai golongan kuat (“moralitas tuan”) dengan keutamaan semacam kekuatan dan keberanian. Pragmatisme atau eksperimentalisme merupakan gerakan philosophy Amerika yang menginginkan hasil yang kongkrit. Sesuatu yang penting harus pula kelihatan dalam kegunaannya. Oleh karena itu, pertanyaan “what is” harus dieliminir dengan “what for”. Pragmatisme merupakan


34 philosophy bertindak, mempertanyakan bagaimana konsekuensi praktisnya dalam hidup manusia. Kaitannya dengan dunia pendidikan kejuruan, kaum pragmatisme menghendaki pembagian persoalan teoritis dan praktis. Pengembangan teori memberi bekal etik dan norma- tif, sedangkan praktik mempersiapkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Proporsionalisasi teori dan praktis itu pentingagar pendidikan tidak melahirkan material- isme terselubung ketika terlalu menekankan pada hal praktis. Juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan praktis masyarakat, sebab kalau demikian yang terjadi berarti pendidikan dapat dikatakan disfungsi. John Dewey sebagai tokoh pragmatis dan progressive menyatakan hidup ini tidak statis, melainkan bersifat dinamis. All is in the making, semuanya dalam perkembangan. Pandangan Dewey mencerminkan teori evolusi dan kepercayaannya pada kapasitas manusia dalam kemajuan moral dan lingkungan masyarakat, khususnya melalui pendidikan. Pengalaman (experience) adalah salah satu kunci dalam philosophy instru- mentalisme. Philosophy instrumentalisme Dewey dibangun berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan berpangkal dari pengalaman-pengalaman. Untuk menyusun kembali pengalam- an-pengalaman tersebut diperlukan pendidikan yang merupakan transformasi yang terawasi dari keadaan tidak menentu ke arah keadaan tertentu. Dalam pandangan yang berbeda John Dewey meyakini bahwa tujuan dasar pendidikan adalah untuk mempertemukan kebutuhan individu untuk pemenuhan pribadinya dan persiapan menjalani hidup. Siswa pendidikan kejuruan diajari bagaimana memecahkan masalah secara berbeda-beda sesuai kondisi individu masing-masing. Dewey menolak gambaran siswa sebagai individu yang pasif, dikendalikan oleh tekanan ekonomi pasar dan eksistensinya dibatasi dalam mengembangkan kapasitas intelektualnya. Dewey memandang siswa adalah aktif memburu dan mengkonstruksi pengetahuan. Pemikiran Dewey secara filosofi dikenal sebagai pragmatisme yang dalam tahuntahun terakhir diidentifikasi sebagai filosofi pendidikan kejuruan yang paling utama Pendidikan pragmatis mencoba menyiapkan siswa dapat memecahkan masalah-masalah nyata secara logis dan rasional, terbuka mencari dan menemukan alternatif- alternatif solusi serta siap melakukan eksperimen. Outcome yang diharapkan dari pendidikan pragmatis adalah masyarakat berpengetahuan yang secara vokasional mampu beradaptasi, mampu mencukupi dirinya sendiri, berpartisipasi dalam masyarakat demokrasi, dan berpandangan bahwa belajar dan beraksi adalah proses yang panjang.


35 Dalam kaitan dengan dunia pendidikan kejuruan dan vokasi, kaum pragmatisme menghendaki pembagian yang tetap terhadap persoalan yang bersifat teoritis dan praktis. Seperti yang sudah dipraktikkan di dunia pendidikan kejuruan 60% praktik dan 40% teori atau nanti bisa sebaliknya karena industri sekarang sudah berbasis pengetahuan. Pengembangan terhadap yang teoritis akan memberikan bekal yang bersifat etik dan normatif, sedangkan yang praktis dapat mempersiapkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Proporsionalisasi antara teoritis dan praktis itu penting agar pendidikan kejuruan dan vokasi tidak melahirkan materialisme terselubung ketika terlalu menekankan yang praktis. Pendidikan kejuruan juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan praktis masyarakat, agar tidak dikatakan disfungsi dan tidak memiliki konsekuansi praktis. Pragmatisme sebagaimana definisi Miller, menyeimbangkan kedua filosofi esensilisme dan eksistensialisme dan memberi ruang ide baru yang praktis. Pragmatisme tanggap terhadap perkembangan inovasi-inovasi program seperti tech-prep yang menyediakan pendidikan kejuruan bertemu dengan kebutuhan tuntutan tempat kerja. Praktisi pendidikan untuk dunia kerja (educationfor-work) dapat menerapkan filosofi pragmatisme atau dipadukan dengan filosofi esensialisme dan eksistensialisme untuk merefleksikan kegiatan dalam membentuk atau mengadopsi visi lembaganya. Humanisme adalah philosophy yang menegaskan harkat dan martabat manusia ditentukan oleh kemampuannya untuk menentukan benar salah secara universal. Humanisme mendo- rong moralitas universal berdasarkan komunalitas kondisi manusia, menganjurkan solusi sosial kemasyarakatan dan masalah-masalah budaya secara konprehensip. Manusia sebagai mahluk hidup lebih penting nilainya dari mahluk hidup lainnya. Kecerdasan spiritual sangat besar pengaruhnya kepada kesuksesan hidup penuh makna bagi seseorang. Swami Prabhupada menyatakan ada empat hal yang selalu membuat manusia sibuk. Kesibukan tersebut berhubungan dengan masalah: (1) eating, (2) sleping, (3) mating, dan(4) depending. Disisi lain binatang juga melakukan keempat hal ini. Lalu Prabhupada mempersoalkan apa bedanya manusia dengan binatang?. Prabhupada menyatakan tanpa prinsip-prinsip kecerdasan spiritual manusia adalah binatang berkaki dua berjalan paling tegak, paling buas melebihi harimau dan singa. Secara pragmatis pendidikan kejuruan lahir dari kebutuhan nyata sistim ekonomi, melayani sistim ekonomi karena diturun- kan dari kebutuhan pasar kerja. Pendidikan kejuruan terkait langsung


36 dengan sistim pendidikan dan bursa tenaga kerja. Ada hubungan yang sangat erat diantara masyarakat disatu sisi dengan sekolah dan pasar kerja disisi lain. Pendidikan kejuruan lebih memerlukan kebijakan antar departemen secara sinergis. Thompson menyarankan perlunya kebijakan sumberdaya manu- sia dalam pengembangan dan pemanfaatan tenaga kerja sebagai sumberdaya ekonomi individu maupun keluarga. Tujuan ditetap- kannya kebijakan sumber daya manusia adalah agar peluang- peluang kerja bagi semua yang membutuhkan menjadi seimbang, bebas memilih jenis-jenis okupasi atau pekerjaan dan menjamin pendapatan masyarakat. Pendidikan kejuruan menjamin proyeksi perkembangan potensi setiap individu sesuainya “men and jobs” dengan kerugian income dan produksi yang minimal. Prinsip dasar pendidikan kejuruan adalah manusia dilatih untuk keperluan okupasi, jabatan, pekerjaan yang diperlukan masyara- kat. Pendidikan kejuruan menekankan “learning by doing” dan “hans-on experience”. Kerjasama pihak penyelenggara pendidikan kejuruan dengan DU-DI mutlak diperlukan baik berkaitan dengan pengembangan standar-standar kompetensi, pelatihan kompeten- si produktif, sertifikasi dan juga rencana penyerapan lulusan. Efektivitas pendidikan kejuruan diukur dari jumlah lulusan yang terserap dan bekerja di DU-DI atau berwirausaha. Pada dimensi sosial pendidikan kejuruan secara formal menyiapkan generasi muda memenuhi kebutuhan dunia kerja. Perbaikan dan pengaturan keseimbangan diantara kebutuhan individu, masyarakat, kebutuhan sosial, dan pengaturan kurikulum dalam pendidikan kejuruan akan menjadi masalah bagi pendidik. Sistim dan kurikulum pendidikan kejuruan harus memberikan jaminan kebebasan bagi setiap individu dan gender untuk berkarier. Bukan sebuah sistim pencipta kuli atau tukang atau mesin-mesin pemuas ekonomi yang bertentangan dengan prinsip esensialisme dan eksistensialisme. Pendidikan kejuruan bukan pendidikan kelas dua secara struktural untuk kalangan menengah ke bawah, tetapi pendi- dikan kejuruan adalah pendidikan dengan jalur tersendiri. Pendidikankejuruan akan efisien jika menjamin ketersediaan tenaga kerja secara memadai (Thompson). Karenanya, prinsip dasar pendidikan kejuruan harus melatih masyarakat menguasai kompetensi pekerjaan-pekerjaan atau jabatan-jabatan yang diperlukan oleh masyarakat sebagai demand. Pendidikan kejuruan harus mengembangkan eksistensi manusia bukan merampasnya. D. Penutup


37 Mengkaji berbagai aliran filasafat pendidikan dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan arah pengembangan kurikulum dan pembelajaran. Filsafat menyediakan petunjuk untuk implementasi, misalnya untuk pengembangan program, pemilihan kegiatan pembelajaran, tujuan kurikulum, perencanaan dan penggunaan sarana dan prasarana, dan identifikasi kebutuhan yang penting dalam pendidikan kejuruan. Dengan mengkaji berbagai aliran filsafat diharapkan pendidikan kejuruan mempunyai dasar yang kuat dan pasti menuju arah yang sesuai dengan tujuan.


38 REFERENCES https://www.researchgate.net/publication/328457490_Pengaruh_pengalaman_praktik_prestasi_bel ajar_dasar_kejuruan_dan_dukungan_orang_tua_terhadap_kesiapan_kerja_siswa_SMK https://eprints.uny.ac.id/65861/4/4.%20Bab%20II.pdf https://eprints.uny.ac.id/8549/3/BAB%202- 06504241020.pdf http://staffnew.uny.ac.id/upload/131655274/pendidikan/bahan-diktat-bab-i.docx https://kumparan.com/asep-totoh/pendidikan-smk-1vKDMse2Oh3 https://educhannel.id/blog/artikel/kesiapan-kerja.html https://www.google.com/url?q=https://eprints.uny.ac.id/62863/2/BAB%2520II_Revisi.pdf&usg=AOvVa w3nCC00KXy2r927eq4vt1-y https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://eprints.uny.ac.id/63363/4/BAB%2520 2.pdf&ved=2ahUKEwiLquPp7LL9AhWZ1XMBHfdYAUIQFnoECAoQBg&usg=AOvVaw2XJ2F8_h3fn 4q7zA8A yEmx http://repository.uin-suska.ac.id/6364/2/BAB%20I.pdf Murniati AR, M., Nasir Usman, 2009, Implementasi Manajemen Stratejik Dalam Pemberdayaan Sekolah Menengah Kejuruan, Ciptapustaka Media Perintis, Bandung Ali Mohamad, Pendidikan untuk Pembangunan Nasional: Menuju Indonesia yang Mandiri dan Berdaya Saing Tinggi, Grasindo Suyitno, S., & Pardjono, P. (2018). INTEGRATED WORK-BASED LEARNING ( I-WBL ) MODEL DEVELOPMENT IN LIGHT VEHICLE ENGINEERING COMPETENCY. Jurnal Pendidikan Vokasi, 8(1), 1–11. Suyitno, S., Widianto, I., & Suryaneta, B. M. (2018). Development of Learning Media for The Course of Two-Stroke Gasoline Motors to Improve Students ’ Learning Outcomes. Jurnal Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan, 24(1), 83–90. https://doi.org/10.21831/jptk.v24i1.18008


39 Suyitno, S., Widianto, I., & binti Masrul, S. (2018). Development of Learning Media for the Course of Two-Stroke Gasoline Motors to Improve Students’ Learning Outcomes. Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, 24(1), 83-90. Suyitno, S., & Pardjono, P. (2018). Integrated workbased learning (I-WBL) model development in light vehicle engineering competency of vocational high school. Jurnal Pendidikan Vokasi, 8(1), 1-11. Suyitno, S. (2016). Pengembangan Multimedia Interaktif Pengukuran Teknik untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMK. Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, 23(1), 101-109. Suyitno, S. (2019). Design of Hydraulic Operated Clutch on Typical Motorcycle. Automotive Experiences, 2(2), 41-46. Suyitno, S., & Jatmoko, D. (2019). Analysis of Industrial Practice Problems in Automotive Students. TAMAN VOKASI, 7(2), 22-26 Hasan, B. 2012. Pendidikan Kejuruan di Indonesia. (Online), http://pto.umpwr.ac.id/?p=379 diakses tanggal 20 Maret 2023 Andini. 2008. Pendidikan Kejuruan one1thousand100education.wordpress.com/ - 180k diakses tanggal 20 Maret 2023 ARIFIN, I. (2018) ‘Nilai-Nilai Humanistik Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan di Era Globalisasi dan Revolusi industri 4.0’. Ibrohim, I. et al. (2018) ‘Mengembangkan Literasi Informasi Melalui Belajar Berbasis Kehidupan Terintegrasi Stem Untuk Menyiapkan Calon Guru Sains Dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0: Revieu Literatur’, Education and Human Development Journal, 3(1), pp. 81–90. doi: 10.33086/ehdj.v3i1.90. Johan, A. B. (2014) ‘Peran Pendidikan Kejuruan dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN ( MEA )’. Prof.Dr.H.Muhammad Yahya, M. K. M. E. (2018) ‘Era Industri 4.0: Tantangan dan Peluang Perkembangan Pendidikan Kejuruan Indonesia’.


40 Sukartono (2016) ‘Revolusi Industri 4.0 dan Dampaknya terhadap Pendidikan di Indonesia’. Sutiyatno, S. (2015) ‘Pentingnya pendidikan kejuruan berorientasi pasar tenaga kerja’. Suyitno, S., & Pardjono, P. (2018). INTEGRATED WORK-BASED LEARNING ( I-WBL ) MODEL DEVELOPMENT IN LIGHT VEHICLE ENGINEERING COMPETENCY. Jurnal Pendidikan Vokasi, 8(1), Suyitno, S., Widianto, I., & Suryaneta, B. M. (2018). Development of Learning Media for The Course of Two-Stroke Gasoline Motors to Improve Students ’ Learning Outcomes. Jurnal Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan, 24(1), 83–90. https://doi.org/10.21831/jptk.v24i1.18008 Prasetya, A., & Suyitno, S. (2018). PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN SISTEM DIFFERENTIAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SMK TAMTAMA KROYA TAHUN AJARAN 2017/2018. Auto Tech: Jurnal Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Muhammadiyah Purworejo, 12(01). Sugianto, A., & Suyitno, S. (2018). PENGARUH KEGIATAN PRAKTEK KERJA INDUSTRI TERHADAP KESIAPAN KERJA DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 8 PURWOREJO. Auto Tech: Jurnal Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Muhammadiyah Purworejo, 12(01). Widiyono, Y., Nugraeni, I. I., Purwoko, R. Y., & Suyitno, S. (2018). The Development of ELearning using Communicative Competence. In Proceedings of International Conference of Social Science, ICOSS 2018. European Alliance for Innovation (EAI). Suyitno, S. (2017). PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN TRAINER KELISTRIKAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SMK MUHAMMADIYAH KUTOWINANGUN. Auto Tech: Jurnal Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Muhammadiyah Purworejo, 10(01). Dalyono, Bambang; Lestariningsih, Enny Dwi. 2017. Implementasi Penguatan Pendidikan Karakter di Sekolah. Pada tanggal 20 Maret


41 Zulhijrah, Zulhijrah; Pratama, Irja Putra. 2019. Reformasi Pendidikan Islam Di Indonesia. Pada tanggal 20 Maret Abdullah, Anzar. 2007. Kurikulum Pendidikan di Indonesia sepanjang sejarah (Suatu tinjauan kritis filosofis). Pada tanggal 20 Maret Anam, Saeful. 2017. Karakteristik Dan Sistem Pendidikan Islam: Mengenal Sejarah Pesantren, Surau dan Meunasah di Indonesia. Pada 20 Maret Fadjrin, Subhan. 2013. Makalah Sejarah Pendidikan di Indonesia: Pentatonix. Pada 20 Maret (http://subhanfadjrin.blogspot.com) di akses pada tanggal 20 Maret 2023, pukul 22.20 WIB (https://www.kompasiana.com) di akses pada tanggal 20 Maret (https://widuri.raharja.info/index.php) di akses pada tanggal 20 Maret (https://kompasiana.com) pada tanggal 20 Maret


Click to View FlipBook Version