Redaksi menerima kiriman artikel dalam format .docx dan foto dalam format .jpg dari umat.Dan berhak memutuskan pemuatan artikel/foto atau tidak,setelah melalui proses pengeditanEDITORIALParoki Tomang - Gereja MBKJl. Karmel Raya No. 2 Jakarta Barat 11530 | Telp. (021) 535 0435, (021) 548 3853, WA. Sekretariat (021) 535 0435,WA. Redaksi (021) 535 0435 Email: [email protected] | Website : http://www.parokimbk.or.idWARTA MINGGU MBK - EDISI PASKAHPenanggung Jawab Redaktur PelaksanaRobby PurbaJudith WidjayaPemimpin UmumPemimpin RedaksiRm. Agustinus Suyadi, O.CarmRm. Michael Moeljo Hartomo O.CarmMarcella LazuardiKomsos GerejaMaria Bunda KarmelFotografer Tim CPMRedakturBenny N. JoewonoElisabeth KartiniEve Leecia CenIrene Angela LukitoLolita PelamoniaMichael Keenan SunjoyoNatalie Angel SunjoyoSigit Kurniawan2Setelah bersama saudara-saudara seiman dalam pertemuanpertemuan APP di lingkungan membahas Tema APP KAJ 2026 yaitu: “Pertobatan untuk Merawat Bumi, Rumah Kita Bersama.” Tema ini merupakan bagian dari Arah Dasar (Ardas) KAJ 2026 yang berfokus pada “Keutuhan Alam Ciptaan”, tentu kita perlu untuk menerukannya dengan tindakan nyata agar ada buah-buah permenungan itu.Bumi dan alam semesta yang oleh Pencipta dipercayakan pada kita sering kita “salibkan”. Kita siksa, kita rusak, sehingga dapat kita lihat betapa kerusakan alam lingkungan terjadi pada lingkungan hidup kita – yang membuahkan bencana dengan buahbuah kerugian dan penurunan mutu kehidupan kita semua.Oleh karena itu, Paskah tahun ini harus menjadi momen Pertobatan Ekologis. Kita dipanggil menyadari bahwa dosa juga merusak hubungan kita dengan alam. Kebangkitan Kristus memberi energi spiritual untuk beralih dari gaya hidup konsumtif menuju aksi nyata yang berkelanjutan: mengurangi plastik, memilah sampah, dan menghemat energi.Marilah kita menjadikan Paskah ini titik balik sikap kita untuk lebih memperhatikan kelestarian lingkungan dengan ketulusan dan kecintaan pada sesama serta alam semesta, rumah kita yang di anugerahkan Tuhan pada kita semua. Sehingga kita boleh bangga bisa berkata bahwa kita telah bangkit bersama Tuhan dalam melanggengkan karya penciptaan-Nya.Selamat Paskah. Kiranya Damai Kristus menyertai seluruh umat dan alam semesta. (ED)Selamat Paskah!
4man Katolik. Tanpa Paskah, Gerejatidak pernah ada. Itu berarti kita jugatidak ada. Tidak ada orang Katolik.Tidak ada jemaat yang berkumpul digereja. Hanya Paskahlah yangmelahirkan Gereja (: orang-orang yangpercaya kepada Kristus). Maka, tepatsekali kata-kata Paulus,“Jika Kristustidak bangkit, sia-sialah iman kita”(1Kor. 15:14).Manakala Paskah menjadi perayaanterbesar, lantas apa yang mesti kitalakukan? Secara rutin, setiap tahunkita telah merayakan Paskah denganpersiapan yang panjang. Banyakkegiatan telah kita aktualisasikan:Puasa dan pantang yang diawalidengan pengenaan abu di dahi;Pendalaman Iman APP; Devosi JalanSalib selama 7 Jumat; PenerimaanSakramen Tobat secara pribadi;Perayaan liturgi pekan suci; dan anekakegiatan lain. Semua telah dirancangdan dikelola dalam kepanitiaandengan biaya yang tidak murah.Apakah semua itu telah membawakepada iman yang mendalam?CATATAN MINGGU ROMO PAROKIWARTA MINGGU MBK - EDISI PASKAHSecara istimewa, Paskah tahun iniada dalam kerangka tema: KeutuhanCiptaan. Menariknya, pada haripertama kebangkitan, Yesus dikenalioleh Maria Magdalena sebagaiPenjaga Taman (Yoh. 20:15). Realitasini memberi banyak permenungan:a) Dengan adanya sebutan penjagataman, berarti kuburan itudigambarkan sebagai sebuah taman.b) Dalam kisah penciptaan, Adamdisebut juga sebagai Penjaga TamanEden (Kej. 2:15). Berarti, kebangkitanYesus merupakan penciptaan baruyang dijaga secara baru pula.c) Maria Magdalena bisa mengenaliYesus, ketika ia dipanggil-Nya,“Maria”(Yoh. 20:16). Berarti, Paskahmengalirkan pengalaman “mendengar”dan “melihat” Yesus.Secara ringkas, Paskah berartimendengarkan suara panggilanTuhan, agar bersama dengan-Nya,kita memelihara atau menjagaciptaan yang telah ditebus-Nya. Maka,Paskah dalam konteks ekologis tidaksekadar menanam pohon, memilahsampah plastik, membuat sumurresapan, hemat air, dan sebagainya.Hal-hal itu kiranya sudah harus menjadiPASKAH:Iman,Transformasi,PemulihanPASKAH:Iman,Transformasi,PemulihanPaskah adalah sukacita. Dengangempita kita bersorak: alleluia.Inilah hari raya terbesar dalam
WARTA MINGGU MBK - EDISI PASKAH 5habitus, bukan lagi seakan-akanprogram baru. Lebih daripada itu,konsep “Penjaga Taman” berarti tugaskita sebagai manusia yang telahditebus dan diciptakan kembali olehkebangkitan Yesus adalah menjagadunia ini, agar tidak jatuh lagi olehbujukan setan. Untuk itu, ada tiga halpenting yang bisa menjadi bahandasar:IMAN. Paskah telah melahirkan orangorang yang percaya. Percaya: karenadibela Yesus dengan sengsara-Nya;diselamatkan Yesus dengan kematianNya; dan dimuliakan Yesus dengankebangkitan-Nya. Tuhan tidak pernahtinggal diam melihat kesengsaraanmanusia yang dibelenggu setan. Iaturun tangan langsung serayamengambil peran utama dalammengalahkan setan dengan menjadimanusia. Ia pun menderita, mati, dandikuburkan. Namun, puncak dariperjuangan itu adalah faktakebangkitan. Ia hidup dan bukan mati.Dengan hidup seperti manusia Yesus,kita juga akan mengalamikebangkitan.TRANFORMASI. Iman selalumembawa perubahan. Tidak mungkinada iman, kalau di situ tidak adaperubahan. Iman Paskah bermula darikematian yang dipuncaki kebangkitan.Sebelum memahami kebangkitan,para murid dibelenggu rasa takut,cemas, dan gelisah. Merekamengurung diri dalam rumah denganpintu terkunci. Sebagian kehilanganharapan akan masa depan, sehinggakembali ke kampung halaman. Taksedikit yang putus asa, lantasmengambil jala untuk kembali kepekerjaan semula. Namun, Iman Paskahmengubah segalanya: kegagalanmenjadi keberhasilan, pengkhianatanmenjadi kesetiaan, ketakutan menjadikeberanian. Akal budi akan tercerahkandalam pengertian. Hati akan terbukauntuk memahami. Langkah makinringan untuk mewartakan belaskasihTuhan.PEMULIHAN. Sepanjang malam, Petrusbersama teman-temannya menebarkanjala di danau Genesaret. Meski ahli dibidangnya, mereka tidak mendapatkanapa-apa. Seekor pun tidak. Merekamenepi di pantai dengan lelah dangontai. Saat itulah, Yesus menjumpaimereka dan meminta supayamenebarkan jala ke tempat yang lebihdalam. Alhasil, ikan dalam jumlah besarbisa mereka tangkap, sehingga perahumereka hampir tenggelam olehbanyaknya muatan. Dari situ, Yesuslantas berkata,“Jangan takut! Mulaisekarang kamu Kujadikan penjalamanusia.” Iman Paskah tidak membuatorang berkutat pada masa lalu. SetelahPaskah kita tidak kembali kepada dirikita sendiri. Paskah adalah pemulihanhati, pikiran, dan gerakan, sehinggamenjadi selaras dalam tugas “PenjagaTaman.”CATATAN MINGGU ROMO PAROKI(Rm. Agustinus Suyadi, O.Carm)Selamat Paskah.Semoga menjadi baru danmembarui seluruh muka bumi.
FOKUS8 WARTA MINGGU MBK - EDISI PASKAHEnsiklik Laudato Si jelas-jelas menyatakan bahwa manusia sebagai salah satu ciptaan Tuhan, terkait dengan semua ciptaan lainnya. Manusia sebagai makhluk yang berakal budi, diharapkan mau meluangkan waktu dalam kesibukannya untuk merenung dan melakukan refleksi atas keberadaannya di dunia. Harapannya, kejernihan pikiran dan kejernihan hati akan membantu manusia untuk menemukan kembali keselarasan dengan dunia ciptaan. Bukan lagi relasi yang sifatnya mengambil keuntungan belaka, tetapi mulai memikirkan gaya hidup serta kebiasaan yang selama ini bisa jadi justru merusak tatanan hidup berdampingan dengan ciptaan Tuhan lainnya.Ekologi integral tidak hanya berhenti pada permenungan atau refleksi saja, tetapi harus dapat terwujud dalam semua tindakan dan perilaku manusia. Tingkah laku sederhana yang menjauhkan manusia dari nafsu untuk mengeksploitasi, melukai dan keegoisan kepada sesama manusia, kepada tanaman, kepada hewan peliharaan dan semua ciptaan Tuhan.
FOKUSWARTA MINGGU MBK - EDISI PASKAH 9Ensiklik Laudato Si secara tegas mengambil contoh Santa Theresia Lisieux sebagai teladan yang menampilkan keterhubungan manusia dengan sesamanya, yang diistilahkan sebagai “jalan kecil cinta.” Manusia diharapkan tidak melewatkan kesempatan untuk sebuah kata lembut, untuk sebuah senyuman, untuk suatu gerakan kecil apa pun yang menebarkan perdamaian dan persahabatan dengan sesama manusia lainnya (artikel 230 Ensiklik Laudato Si).Sosok Santo Fransiskus adalah panutan lainnya yang mempraktikkan ekologi integral dengan kegembiraan dan ketulusan. Dia telah menunjukkan kepedulian khusus terhadap ciptaan Allah dan kaum miskin serta mereka yang tersisihkan. Santo Fransiskus membantu kita melihat bahwa ekologi integral membutuhkan keterbukaan hati dan pikiran yang akan membawa kita kepada hakikat manusia. Tanggapannya terhadap dunia di sekelilingnya jauh melebihi apresiasi intelektual atau perhitungan ekonomi, karena baginya setiap makhluk adalah seorang saudari yang bersatu dengannya oleh ikatan kasih sayang (artikel 11 Ensiklik Laudato Si).Lima Aspek Ekologi IntegralAda lima aspek ekologi integral. Pertama adalah Keterkaitan (Interkoneksi). Artinya, segala sesuatu di dunia ini saling terhubung; kerusakan lingkungan berdampak pada manusia, dan sebaliknya. Kedua adalah Pendekatan Holistik atau Utuh. Pendekatan ini mendorong manusia untuk menggabungkan dimensi ekologis, sosial, ekonomi, budaya, dan kehidupan sehari-hari.Aspek yang ketiga adalah Keadilan Sosial. Aspek ini memusatkan perhatian pada perlindungan kelompok rentan yang paling terdampak oleh perubahan iklim dan degradasi lingkungan. Keempat adalah Spiritualitas dan Moralitas. Aspek ini menekankan bahwa merawat lingkungan adalah tanggung jawab moral dan panggilan iman untuk menghormati ciptaan Tuhan. Aspek yang terakhir adalah Habitus Baru. Artinya, manusia diminta untuk mengubah perilaku dari konsumsi berlebihan dan antroposentrisme (manusia sebagai pusat) menuju pola hidup berkelanjutan yang harmonis.(Nicolas Nurpatria)
FOKUS10 WARTA MINGGU MBK - EDISI PASKAHAjakan untuk melakukan pertobatan ekologis terkadang menimbulkan pertanyaan bagi diri kita masing-masing: apa yang bisa saya lakukan untuk itu? Ada peluang kita terjebak pada halhal yang sifatnya besar, melibatkan banyak orang atau bahkan hanya membayangkan kegiatan seremonial atau aktivitas sesaat saja. Padahal, ada sejumlah hal kecil yang bisa kita lakukan sebagai pribadi, keluarga, kelompok bahkan sebagai paroki (Laudato Si Movement Indonesia). Hal-hal itu antara lain adalah: 1. Membawa botol minum (tumbler) sendiri setiap acara lingkungan dan gereja.2. Menghabiskan porsi makanan agar tidak ada sisa (zero food waste), baik itu dalam keluarga maupun dalam kegiatan bersama umat lain.3. Membawa tas belanja yang tidak sekali pakai, diutamakan bukan dari bahan plastik, bisa berupa bahan kain atau yang lebih ramah lingkungan, pada saat pergi berbelanja ke pasar atau minimarket.4. Mematikan lampu dan alat elektronik yang tidak digunakan di rumah.5. Memilah sampah plastik, kertas, dan organik dari rumah, dalam wadah yang berbeda/terpisah.6. Mengurangi penggunaan detergen, pasta gigi, shampo, atau sabun secara berlebihan.7. Menanam tanaman hijau di pot atau pekarangan rumah.8. Tidak menggunakan sedotan plastik saat membeli minuman di luar.9. Berjalan kaki atau bersepeda jika bepergian dalam jarak dekat, atau memanfaatkan angkutan publik yang tersedia.10.Mengumpulkan jelantah (minyak goreng bekas) untuk disetor ke bank sampah.11.Mengurangi penggunaan tisu dan beralih ke sapu tangan kain.12.Membawa wadah dan peralatan makan sendiri saat membeli makanan (rantang/kotak makan/sendok/garpu) atau menggunakan perangkat makan yang tidak sekali pakai.13.Menggunakan air bekas cucian beras atau sayuran untuk menyiram tanaman.14.Menggunakan sabun cuci yang ramah lingkungan dan menyiram halaman dengan air bekas cucian tersebut.15.Menggunakan kembali pakaian lama atau mendonasikan pakaian atau barang bekas layak pakai agar tidak jadi sampah.Pertobatan Ekologis: Apa saja Hal-hal Sederhana yang Bisa Kita Lakukanuntuk Membangun Habitus Baru?
FOKUSWARTA MINGGU MBK - EDISI PASKAH 1116.Mengganti bohlam lampu rumah dengan jenis LED yang hemat energi.17.Membatasi waktu mandi untuk menghemat penggunaan air bersih, atau mengurangi penggunaan bathtub saat mandi.18.Mencabut steker/kabel charger dari stopkontak jika sudah tidak dipakai, seperti melepaskan charger HP dari colokan listrik saat tidak digunakan atau saat sudah penuh.19.Menghindari penggunaan piring dan gelas styrofoam atau plastik sekali pakai.20.Belajar membuat pupuk kompos dari sampah dapur organik.21.Mencuci kendaraan dengan ember (bukan selang) untuk hemat air.22.Mengurangi penggunaan kertas, atau menggunakan kertas di kedua sisinya (dua muka) untuk mengurangi limbah kertas.23.Membeli produk dalam kemasan besar (bulk) untuk mengurangi sampah kemasan kecil.24.Menghindari penggunaan pengharum ruangan semprot yang mengandung aerosol.25.Menggunakan AC secara hemat energi, misalnya dengan mematok suhu AC ruangan di angka yang tidak terlalu dingin.26.Membuat lubang biopori di halaman rumah untuk resapan air dan kompos.27.Memanfaatkan botol plastik bekas sebagai pot tanaman atau kerajinan tangan.28.Mematikan keran air saat sedang menyabuni badan atau tangan atau menyikat gigi.29.Memilih produk pembersih rumah tangga yang berlabel ramah lingkungan.30.Mengurangi konsumsi daging merah sesekali untuk mengurangi jejak karbon.Ada 2 catatan penting dari Frans Budi Santika tentang tiga puluh alternatif yang akan dijalankan oleh umat Katolik. Pertama, tindakan itu perlu dihayati sebagai tindakan ketaatan dan memuliakan Tuhan, bawa dalam doa. Misalnya, saat menghemat air atau tidak membuang makanan, ucapkan doa syukur terima kasih atas kebaikan Tuhan dan juga doakan mereka yang masih berkekurangan. Kedua, setelah melakukan hal itu, lanjutkan dengan melakukan tindakan kecil membantu orang-orang terpinggirkan (miskin) di sekitar kita. Ayo, bersama-sama kita membangun habitus baru dengan cinta yang besar!(Nicolas Nurpatria)
FOKUSWARTA MINGGU MBK - EDISI PASKAHThomas Berry CP, seorang imam Katolik dari Ordo Passionist, merupakah salah satu tokoh yang dikenal oleh berbagai kalangan dalam menginisiasi berbagai gerakan ekologis di seluruh dunia. Ia mengenalkan konsep The Great Work (Tugas Besar) yang merupakan terjemahan dari Laudato Si. Secara singkat, Thomas Berry mengatakan bahwa peran manusia adalah berpartisipasi dalam proses transisi. Manusia memiliki tugas untuk mengubah relasi dengan bumi yang selama ini bersifat eksploitatif dan merusak menuju suatu relasi yang mengembangkan keduanya. Ia mengutip artikel 76 dari Ensiklik Laudato Si yang menyatakan bahwa: “Alam sebagai ciptaan merupakan karya cinta kasih Allah dimana setiap makhluk memiliki nilai dan arti.”Prinsip DasarDalam menghayati dan menerapkan isi Ensiklik Laudato Si dalam kehidupan manusia untuk memulihkan relasinya dengan bumi, Thomas Berry memperkenalkan tiga prinsip utama. Prinsip yang pertama adalah diferensiasi. Ketika manusia memahami konteks keberadaannya di samping ciptaan lainnya, artinya manusia perlu memahami dirinya sebagai bagian 12Laudato Si:Tali Persaudaraan Manusia dan Ciptaan Lainnya
FOKUSWARTA MINGGU MBK - EDISI PASKAHdari seluruh komunitas yang ada di bumi. Thomas Berry menyampaikan bahwa 1Kor. 12: 12; 14-15 perlu dipahami dalam kerangka pikir bahwa manusia dituntut untuk memberikan penghargaan kepada “Tubuh Kristus” lainnya, bukan hanya sesama manusia belaka, tetapi juga berbagai jenis ciptaan yang ada di bumi.Prinsip yang kedua adalah subjektivitas. Artinya, setiap ciptaan Allah memiliki martabat sebagai ciptaan yang membawa kehadiran Illahi. Bukan hanya pada diri manusia, tapi lagilagi juga pada ciptaan lainnya. Konsekuensinya, setiap ciptaan tidak dapat memperlakukan ciptaan lain semata-mata sebagai objek untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya sendiri belaka. Ia menguti 1 Kor. 12: 16, 22-23 dan memberikan penekanan pada ayat yang berbunyi: “tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh seperti yang dikehendakiNya. Justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan terhadap anggota tubuh yang kurang terhormat dan kurang elok, kita berikan perhatian khusus.” Tentunya hal tersebut menjadi tantangan besar bagi manusia yang seringkali merasa bahwa martabatnya paling luhur sebagai ciptaan Allah dan memandang rendah ciptaan lainnya. Prinsip yang terakhir adalah persatuan. Prinsip ini menegaskan bahwa adanya keterikatan antara satu ciptaan dengan ciptaan lainnya. Tidak ada satu ciptaan pun yang bisa dipisahkan dari ciptaan lain di bumi, bahkan di alam semesta. Dalam ekaristi, doa yang didaraskan pun mengakui bahwa roti dan anggur merupakan hasil dari bumi dan usaha atau karya tangan manusia. Eratnya persatuan ini digambarkan oleh Thomas Berry dengan kutipan 1Kor. 12: 26-27 berikut ini: “Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua (baca: manusia dan ciptaan lainnya) adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.”(Nicolas Nurpatria)13
At Kinderfield Simprug, webelieve every child has theirown special potential. Wecreate a supportive and funlearning environment wherestudents can grow in theirstudies, social skills, andemotions. Through meaningfulactivities, we help childrenbecome confident, curious, andresponsible learners who areready for the future.Our SchoolSchoolfor lifewe prepare students not only to do well in school,but also to be ready for life. We encourage curiosity,build good character, and help students growconfident with the skills they need for the future.The students at Kinderfield Simprug have great potential and have achieved manyaccomplishments in different competitions and activities. Through hard work andregular practice, they continue to develop their talents and abilities. These achievementsare not only about winning trophies, but also about building confidence, learningdiscipline, and having the courage to try new challenges. We are very proud of ourstudents who always do their best and make the school proud.At Kinderfield Simprug, students also joinCommunity Service and religious activities. Theyvisit social care homes and different places ofworship such as churches, temples, vihara, andmosques. Through these activities, students learnto respect differences and understand differentreligions. These experiences help them becomecaring, respectful, and kind individuals towardothers.KINDERFILD SIMPRUGOur ActivityPrincipalMs Yuli
Hini terjadi pada saat ini, ketika saya berusia11 tahun, kelas 6 SD.Pada saat hari pertama pembagian kelas,saya terpisah dengan seluruh teman baiksaya. Teman-teman saya waktu kelas 5 SDadalah orang-orang yang positif dan selalumendukung saya. Sedangkan di kelas 6 SD,saya tidak punya siapa-siapa, saya tidakpunya teman sama sekali. Saya adalahorang yang pendiam di kelas dan tidakpandai bergaul, hingga akhirnya ada 1orang dari teman sekelas saya pada saatkelas 5 SD yang saya kenal, sayamemberanikan diri untuk mengobroldengannya. Anggap saja namanya Nana.Nana sendiri ternyata memiliki grup yangberanggotakan 3 orang. Setelah beberapabulan, saya dimasukkan ke dalam grup ituoleh Nana. Saya dimasukkan ke dalamgrup whatsapp mereka.Di sinilah kejadiannya dimulai. Ternyatagrup itu berisi anak-anak yang toxic.Mereka bertiga suka sekali bergosip danberkata kasar, juga suka berbohong padaorang tua. Mereka sering bilang bahwasaya adalah “anak polos, ketinggalan jaman,ketinggalan info” dan berbagai macamjulukan lainnya, sehingga hal inimenyebabkan saya sering diejek.Saya tetap berada di grup ini karenaterpaksa, karena saya adalah orang yangtidak mudah bergaul, dan teman-temansaya yang lain di kelas justru lebih burukdari mereka. Saya tidak punya pilihan.Kenapa ini terjadi? Karena saya memangtidak suka melihat TikTok, Instagram,Snapchat, dan inilah yang membuat sayaketinggalan info. Karena banyak informasiyang tidak baik di sosial media tersebut.Teman-teman saya banyak yang tidakbenar pemikirannya akibat banyakmenonton di sosial media tersebut. Seperticontohnya, teman saya sudah banyak yangsetuju dengan LGBT dan sudah pernahmelihat gambar-gambar pornografi. Sayatidak mau otak saya rusak.Walaupun banyak hinaan yang sayaterima, saya tetap bertahan. Saya tetap bisamemisahkan mana yang baik dan yangburuk. Misalnya, ketika mereka memilikirahasia pada orang tua mereka, merekatidak jujur, tapi saya tidak pernah mengikutimereka, karena saya tahu itu salah.Waktu teman-teman saya bergosip, sayatidak pernah ikut gosip. Kalaupun terpaksaduduk dekat mereka, saya hanyamendengarkan saja. Saya tidak pernahmenceritakan gosip itu kembali ke temanteman yang lain, karena saya tahu itu salah.Saya tidak pernah malu meski dibilang“paling ketinggalan jaman” karena saya tahukalau saya sudah melakukan hal yang benaryang diperintahkan Tuhan.“Lihat, Akumengutus kamu seperti domba ke tengahtengah serigala,sebab itu hendaklah kamucerdik seperti ular dan tulusseperti merpati”.(Matius 10:16).Bagaimana cara saya bertahan? Setiapmalam sebelum tidur, saya selalu membacaalkitab, saya mendekatkan diri saya padaTuhan, selalu mengikuti hati nurani saya, jikabenar saya lakukan, jika tidak benar, tidaksaya lakukan, saya juga terbuka denganorang tua saya. Saya selalu menceritakanapa yang terjadi pada mereka. Seminggusekali, setiap hari Jumat saya juga mengikutikomsel dan pendalaman iman. Saya bisakuat karena saya punya komunitas yangmembangun yang bisa menguatkan imansaya.Bagi teman-teman yang membaca ini,yang mengalami pengalaman seperti yangsaya alami, Janganlah takut untuk berbuatbenar. Kalau temanmu meninggalkan kamu,itu berarti bukan teman yang baik, itu adalahteman yang negatif. Kalau kamu bertemandengan teman-teman yang baik danmembuat diri kamu lebih positif, itu pastidatangnya dari Tuhan. Namun, jika kamumengalami keburukan, seringkali kamu tahuitu salah namun tetap kamu lakukan, temanteman itu datangnya bukan dari Tuhan.Bergabunglah dengan komunitas yang bisamembangun imanmu, supaya kamu tetapdapat bertahan. (CGS)16 WARTA MINGGU MBK - EDISI PASKAHBIJI SESAWIDDoommbbaa ddii TTeennggaahh SSeerriiggaallaaalo semuanya. Pada kesempatanini, saya ingin bercerita mengenaipengalaman hidup saya. Kejadian
10 WARTA MINGGU MBK - EDISI PASKAHSERBA SERBI18Judulnya, Risen, sebuah film lawastahun 2016. Film ini mengisahkanClavius, seorang tribun Romawiyang diutus Pontius Pilatus untukmenyelidiki hilangnya jenazah Yesusdi tengah rumor kebangkitan-Nya.Clavius (Joseph Fiennes) hanyalahtokoh rekaan. Film ini berlatar diYerusalem tahun 33 Masehi,beberapa hari setelah penyalibanYesus Kristus. Di tengahpergunjingan hilangnya jenazahYesus, Clavius mencurigai muridmurid Yesus telahmenyembunyikannya. Bersamatentaranya, Clavius memburu muridmurid Yesus yang saat itu memangsembunyi di rumah-rumah terkunci.Sampai di suatu kesempatan Claviusberhasil menangkap MariaMagdalena.“Ke mana kau membawa Yesus?” tanyaClavius.“Dia ada di sini,” jawab Maria.“Apa dia jin? Hantu? yang bisa hidupkembali?”“Buka hatimu dan lihatlah.”“Aku bisa dapatkan yang inginkudapatkan darimu, menyiksamu sampaimati.”“Itu tak penting.”“Kalau begitu serahkan yang lain, dankau akan kubebaskan.”“Aku sudah bebas.”Jawaban terakhir Maria Magdalena itusungguh menyentuh hati saya: akusudah bebas. Saya bisa memahamibahwa kebebasan yang ditawarkanClavius sama sekali tak ada artinyadibanding dengan kebebasan yangdiberikan Tuhan Yesus kepadanya.Keselamatan jiwa melampaui kebebasanfisik.PPAASSKKAAHH::AAkkuu SSuuddaahh BBeebbaass!!PASKAH:Aku Sudah Bebas!ADA DIALOG menarik dalamfilm yang saya tonton dimasa libur lebaran tahun ini.
WARTA MINGGU MBK - EDISI PASKAH 19SERBA SERBIMaria Magdalena merupakan sosokperempuan yang dibebaskan Yesusdari tujuh roh jahat. Ia juga menjadisalah satu saksi penyaliban dankebangkitan Yesus. Maria dariMagdala ini telah menjadi manusiabaru berkat Yesus — bukan lagimanusia lama yang dikenal olehClavius seperti terungkap dalam filmitu. Sebagai manusia bebas, denganperistiwa kebangkitan, Maria dan paramurid semakin berkobar-kobarmengikuti Yesus.***Rasanya semua orang, termasuksaya, pernah merasakakanpengalaman batin yang sesak, hiduptidak lincah, batin terasa terpenjaraoleh kesalahan-kesalahan dan dosadosa masa lalu. Karenanya, satusatunya cara untuk mendapatkebebasan adalah pergi ke ruangpengakuan untuk menerimaSakramen Rekonsiliasi atau SakramenTobat. Sakramen Rekonsiliasi menjadialasan saya sangat bersyukurdipanggil menjadi Katolik. GerejaKatolik itu menyediakan banyak sekalisaluran rahmat Allah secara cumacuma.Minggu lalu, saya memutuskanuntuk mengaku dosa. Kebetulan,paroki menyediakan waktu untukpengakuan dosa selama masaprapaskah. Sebenarnya saya pernahmengakukan dosa-dosa tertentu,cuma saya tidak mengakukannyalebih detail. Terus terang, ini cukupmembebani batin saya. Soal ini, sayasempat berkonsultasi kepada duaorang imam Jesuit yang dikenalsebagai pembimbing spiritual.“Romo boleh nanya? Apakah dosayang pernah kita akukan dan tidak kitalakukan lagi, boleh kita sampaikan dikamar pengakuan lagi denganmenyebut dosa secara lebih spesifikdan detail?”“Sebenarnya dosa yang pernah kitaakukan sudah diampuni. Tapi, bisa jadiada akar atau efek yang masih tersisaatau jadi beban pikiran ataukegelisahan, maka itu bisa sajadilakukan supaya tidak menjadi beban.Karenanya, saya lebih suka istilahSakramen Rekonsiliasi daripadasakramen pengakuan dosa. Rekonsiliasi,pun dengan diri sendiri, kan lebihdalam daripada sekadar pengakuandosa (walau ini juga tidak mudah).”Senin pagi saya memberanikan dirimengaku dosa dengan lebih spesifikdan detail. Di kamar pengakuan,seorang imam dengan kepala penuhuban duduk menyamping dengan mataterpejam. Bertindak in persona Christi,imam Karmelit tersebut mendengarkan,menasihati, memberi penitensi danabsolusi dengan kemurahan hati.Setelah memanjatkan doa sebagaiwujud penitensi, bolehlah saya berujar:aku sudah bebas. Rekonsiliasi denganAllah dan diri sendiri ini mengalirkanenergi baru. Saatnya meninggalkanmasa lalu dan mengejar apa yang adadi depan mata.Dan, bila roh jahat kembali lagi daningin mengungkit-ungkit dosa-dosadan kelemahan masa lalu, senjatautamanya adalah menghardik diasembari berujar: aku sudah bebas.Termasuk apabila roh jahat tersebutmengiming-imingi kenikmatanduniawi, kesempatan yang tidak adil,serta kebebasan semu, senjatanyasama: aku sudah bebas!Selamat Paskah!(Sigit Kurniawan)
WARTA MINGGU MBK - EDISI PASKAHSERBA SERBI21karena manusia terlalu serakah untukmengeksploitasi alam dan lingkungandengan semena-mena. Manusia sudahmenyalahartikan tanggung jawab yangdiberikan Tuhan kepadanya. Manusialebih cenderung menguasai danmengeksploitasi alam yangdikaruniakan Tuhan ketimbangmenjaga dan merawatnya dengan baik.Karena itu, Paus Fransiskus memintakita untuk melakukan pertobatanekologis. Permintaan ini bukan hanyaditujukan kepada umat Katolik,melainkan juga seluruh manusia,penghuni bumi ini.Bukanlah tidak mungkin bahwagambaran umum mengenai tema APP2026 yang dikemukakan di atasmemberikan semacam “beban lebih”kepada para pemandu untukmencermati dan mempelajari tema inidengan lebih serius. Para pemanduyang terbiasa berperan sebagaifasilitator dalam menguraikan danmerefleksikan Firman Tuhan sebagaipraktik kehidupan bersama dalam APPtahun-tahun sebelumnya, kini harusmemperkaya pengetahuan denganmembaca Ensiklik Laudato Si ataumengupdate sejumlah informasi yangberkaitan dengan fenomena krisisTema yang Serius dan MenantangMenjadi pemandu pada APP 2026terasa ngeri-ngeri sedap. APP 2026memiliki tema yang cukup serius danmenantang bagi umat Katolik padamasa kini yaitu ”Pertobatan untukMerawat Bumi, Rumah Kita Bersama.”Tema ini sangat relevan dengankondisi yang dialami masyarakat duniadalam menghadapi kondisi ekologibumi yang begitu kritis. Bencana alamterjadi di mana-mana. Banyak hutanditebang sehingga proses rantaimakanan yang berlaku di sana tidakberjalan semestinya. Di kota-kotabesar volume sampah semakinmembludak dan pemerintah daerahtidak memiliki solusi untukmengatasinya. Di sejumlah belahandunia, ekologi bumi yang kritis itumenjadi salah satu penyebabkematian masyarakat kelas bawah.Pada tahun 2015, pembicaraanmengenai kondisi ekologi yangbegitu kritis itu sudah pernahdisuarakan dengan lantang oleh PausFransiskus dalam ensikliknya yangberjudul Laudato Si. Dalam ensiklik itu,Paus menyerukan bahwa bumisebagai rumah kita bersama sedangberteriak kesakitan. Bumi menderitaMMeenneemmuukkaann KKeebbaaiikkaann AAllllaahhddaallaamm TTeemmaa AAPPPP 22002266::SShhaarriinngg SSeeoorraanngg PPeemmaanndduuMenemukan Kebaikan Allahdalam Tema APP 2026:Sharing Seorang Pemandu
22 WARTA MINGGU MBK - EDISI PASKAHSERBA SERBIekologi dari media massa atau mediasosial.Sebuah Tema yang FamiliarSebagai seorang pemandu Paroki,saya merasa bahwa tema APP 2026 inimenuntut saya untuk memilikiparadigma yang luas mengenaikondisi ekologi saat ini. Tema APP inimerupakan realisasi dari tema ArdasKAJ yang berlaku pada tahun ini, yaituKeutuhan Alam Ciptaan dan sekaligusberhubungan pula dengan TahunYubileum Santo Fransiskus dari Asisiyang telah ditetapkan Paus Leo XIVpada tahun 2026 ini. Sebagaiinformasi, oleh Gereja Katolik, SantoFransiskus dari Asisi dinobatkansebagai pelindung kelestarianlingkungan. Kendati demikian, materimengenai krisis ekologi sebenarnyabukanlah hal yang baru bagi umatGereja Katolik. Pada tema APP tahuntahun sebelumnya, Gereja juga selalumenyisipkan materi mengenai kondisiekologi yang kritis. Masih jelas dalamingatan kita bahwa tema BulanKeluarga 2025 mengambil temaseputar ekologi, yaitu “Alamku,Imanku.” Kendati sudah menjadipengetahuan bersama umat, bagisaya, tema ekologi adalah sebuahtema yang tidak pernah selesai(unfinished theme) dalam kehidupanini karena dalam praktik sehari-hari,kita menjadi bagian dari ekologi itusendiri.Dengan tema yang relatif familiardengan umat itu, saya memilikikepercayaan diri untuk memandutema APP 2026 sebanyak 4 kalipertemuan di beberapa lingkungan.Pada tahun ini, saya memandu banyaklingkungan baru, yang sebelumnyatidak pernah saya kunjungi. Sayamerasa senang karena saya bertemudengan sejumlah umat lingkunganyang bersemangat untuk mengikutiAPP 2026. Saya memberikan apresiasiyang sebesar-besarnya kepadabeberapa lansia yang juga terlibatdalam kegiatan ini di tengah hujanyang deras atau di tengah cuaca yangbegitu panas.Dalam sesi sharing, merekamenceritakan pengalaman yangpernah mereka jalani sebagai bentukkontribusi rasa peduli mereka terhadapekologi. Banyak dari mereka pernahterlibat dalam kegiatan ekologis dalammasyarakat seperti penanaman bibitpohon lamtoro sebagai cara konservasitanah dan penanaman pohonmangrove untuk mencegah abrasi,pembuatan eco enzyme sebagai pupuk,pemilahan sampah organik dananorganik di lingkungan kerja mereka,atau menggerakkan masyarakat untukmelakukan kerja bakti bersih-bersihlingkungan dan masih banyak kegiatanlain yang inspiratif. Saya sungguhbanyak belajar dari pengalamanpengalaman yang mereka sharingkanitu. Pengalaman-pengalaman yangmereka sharingkan itu menjadi insightdan amunisi yang berguna bagi sayauntuk semakin mendalami temaekologi.Non Multa Sed MultumMengenai jumlah kehadiran pesertayang datang dalam kegiatan APP 2026,saya memiliki cerita untuk setiaplingkungan yang saya pandu. Adabeberapa lingkungan yang melibatkanbegitu banyak orang, yang terdiri darianak-anak sampai para lansia, untukmengikuti kegiatan ini. Menurut opinisaya, melibatkan anak-anak dan kaum
WARTA MINGGU MBK - EDISI PASKAH 23(Paul Heru Wibowo)SERBA SERBImuda dalam kegiatan sepertipendalaman iman atau APP ini akanmendidik mereka untuk memilikisensitifitas yang sering disebutsebagai “Sentire cum ecclesia” atauberpikir (to think) dan merasa (to feel)dengan keprihatinan Gereja. Namun,ada juga beberapa lingkungan lainyang menghadirkan jumlah pesertayang tidak banyak. Biasanya kondisidemikian disebabkan oleh langkanyakeluarga muda di lingkungan. Banyakkeluarga muda telah pindah dariJakarta Barat dan memiliki rumah diwilayah Serpong dan BSD.Meski begitu, saya sungguh merasasenang karena dalam jumlah yangbegitu terbatas,umat yang mengikutikegiatan APP 2026 masih memilikisemangat dan antusiasisme yangtinggi. Untuk hal ini, saya ingatdengan pepatah Latin,“Non multa sedmultum.” Artinya, bukan kuantitasyang utama, melainkan kualitas(kedalaman). Dari pembicaraan yangsaya lakukan dengan mereka setelahkegiatan kepemanduan usai, sayamengetahui bahwa persoalan krisisekologis seperti yang diserukan PausFransiskus dalam Laudato Si ternyatajuga menjadi perhatian mereka.Beberapa orang di antara merekabahkan menyampaikan keprihatinanyang mendalam terhadap nasib parakorban banjir bandang dan tanahlongsor di 3 provinsi di Sumatera diakhir November 2025 yang sampaihari ini tiba-tiba menghilang daripemberitaan.Pertobatan Ekologis SebagaiKesadaran BersamaPerkara krisis ekologis yang kitarenungkan dalam tema APP 2026sebenarnya bukanlah tema yangmudah untuk dipahami karena krisisekologis adalah perkara yangmelibatkan lintas disiplin. Dalamensiklik Laudato Si yang tersusun dalam194 halaman itu, Paus Fransiskusbahkan menyinggung kulturkonsumerisme yang ditanamkankapitalisme sebagai salah satu variabelyang menyebabkan krisis ekologis sulituntuk diurai. Paus Fransiskus tidakbermaksud untuk membujuk ataumemprovokasi umat untuk melawankapitalisme atau pemerintah yangdespot dan oligarkis agar teriakan danrasa sakit yang didera bumi dapatdisembuhkan.Sebaliknya, Paus Fransiskus menuntunkita untuk memiliki kesadaran bersamadalam keluarga, komunitas, lingkungan,dan paroki bahwa kita harus melakukanpertobatan ekologis dengan langkahlangkah kecil yang produktif yangdapat kita lakukan. Semua perubahanitu dapat dimulai dari diri kita dan daridalam keluarga. Jika kesadaran untukmelakukan silih dengan lebihmenghormati alam ciptaan sebagaibentuk pertobatan ekologis itu dapatdilaksanakan dan dipraktikkan secarakonsisten, bukanlah hal yang mustahilbila harmoni manusia dengan bumidapat tercapai. Dengan cara ini, kitabersama Santo Fransiskus dari Asisidapat memuji Allah Sang PenciptaAlam Raya ini,“Terpujilah Engkau,Tuhan.”Sungguh, tema APP 2026membantu saya untukmerenungkan kebaikan Allahdalam Masa Prapaskah ini.
PaskahSelamatTerima kasih atas kasih dan dukunganpenyantun, donatur, DPH, sekolah, dan umatGereja MBK untuk Pendidikan anak-anak ASAKMBK.Kebaikan Anda adalah berkat bagi kami.Semoga damai dan sukacita Paskah selalumenyertai.It’s not how much we give but how muchlove we put into givingMother Teresa