The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Warta Minggu Edisi ke 06 - 11 Februari 2024

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Gereja Maria Bunda Karmel, 2024-02-10 10:00:54

Warta Minggu Edisi ke 06 - 11 Februari 2024

Warta Minggu Edisi ke 06 - 11 Februari 2024

Keywords: wm,warta minggu

2 WARTA MINGGU MBK - 11 FEBRUARI 2024 EDITORIAL Penanggung Jawab Paroki Tomang - Gereja MBK Jl. Karmel Raya No. 2 Jakarta Barat 11530 | Telp. (021) 535 0435, (021) 548 3853, WA. Sekretariat (021) 535 0435, WA. Redaksi (021) 535 0435 Email: [email protected] | Website : http://www.parokimbk.or.id Pemimpin Umum Pemimpin Redaksi Rm. Barnabas Krispinus Ginting O.Carm Rm. Michael Moeljo Hartomo O.Carm Marcella Lazuardi Komsos Gereja Maria Bunda Karmel Redaktur Pelaksana Robby Purba Judith Widjaya Fotografer Tim CPM Redaktur Benny N. Joewono Irene Angela Lukito Prayogi Dwi Sulistyo Lydia Hutabarat Michael Keenan Sunjoyo Natalie Angel Sunjoyo Raymunda Nattya S emua umat kristiani merupakan satu kesatuan yang disebut Tubuh Mistik Kristus. Maka, seperti halnya tubuh kita bila ada satu luka kecil saja, seluruh tubuh merasakan deritanya. Oleh persatuan dalam Tubuh Mistik Kristus ini, kita juga ikut menderita, ikut terluka bila ada sesama kita yang sakit. Semua anggota tubuh mistik Kristus saling solider satu dengan yang lain. Dari pesan Paus Fransiskus pada Hari Orang Sakit Sedunia 11 Februari 2024 kita baca: ... umat Kristiani khususnya, dipanggil untuk menjadi seperti Yesus yang penuh belas kasih. Mari kita peduli terhadap mereka yang menderita dan sendirian, mungkin terpinggirkan dan terasingkan. Dengan cinta terhadap sesama yang dilimpahkan Kristus Tuhan kepada kita dalam doa, khususnya dalam Ekaristi, marilah kita merawat luka kesendirian dan keterasingan. Dengan cara ini, kita akan bekerja sama dalam memerangi budaya individualisme, ketidakpedulian dan ‘budaya membuang’, serta memungkinkan tumbuhnya budaya kelembutan dan kasih sayang. Marilah kita khusus pada Perayaan Hari Orang Sakit Sedunia ini, mulai memberi perhatian khusus untuk mendoakan dan memberi silih bagi sesama kita yang sedang menderita sakit, bersolidaritas serta kasih pada mereka. Dengan demikian kita menghayati persatuan sesama manusia dan khususnya umat Kristiani dalam satu Tubuh – Tubuh Mistik Kristus. (ED) Redaksi menerima kiriman artikel dalam format .docx dan foto dalam format .jpg dari umat. Dan berhak memutuskan pemuatan artikel/foto atau tidak, setelah melalui proses pengeditan Solidaritas Kepada Saudara yang Menderita Sakit✨


RENUNGAN WARTA MINGGU MBK - 11 FEBRUARI 2024 3 BELAS KASIH TANPA BATAS Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” (Markus 1:40) Banyak kisah di dalam Alkitab mengenai Yesus yang menyembuhkan banyak orang dan mujizat penyembuhan terjadi. Salah satunya seperti pada Injil hari ini dimana Yesus menyembuhkan orang yang terkena penyakit kusta. Pada masa itu, penyakit kusta adalah salah satu penyakit yang menular sehingga orang yang menderita penyakit ini akan dikucilkan dan dijauhkan. Kita tahu bahwa Yesus mempunyai kuasa untuk menyembuhkan dan dari kisah penyembuhan yang sudah banyak Yesus lakukan, kebanyakan mereka berteriak dan memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan mereka. Namun, hal ini berbeda kepada orang kusta yang menyerahkan keputusan untuk menyembuhkannya kepada Yesus. Dengan kondisi penyakitnya dan banyak orang yang mengucilkannya, dia tidak yakin bahwa Yesus mau menyembuhkannya sehingga dia bertanya “Kalau Engkau mau.” Pernyataan orang kusta tersebut merupakan pernyataan yang tidak memaksa Yesus. Yesus yang mendengar pernyataan tersebut tanpa ragu melakukan tindakan yang di luar aturan dan kebiasaan yang harus menjauhi orang sakit kusta. Dengan belas kasihan Yesus mendekat dan tidak mengusirnya bahkan Yesus menyentuh dan menyembuhkannya. Melalui kisah tersebut kita dapat melihat bagaimana kepedulian dan kasih tanpa batas yang Yesus berikan kepada orang kusta tersebut. Yesus dengan kasihnya yang begitu besar dan tanpa batas mau memperhatikan mereka yang dianggap terpinggirkan atau diabaikan oleh masyarakat. Kuasa penyembuhan yang dimiliki Yesus mempunyai kekuatan yang sangat besar dalam menyembuhkan dan mengubah keadaan kita saat kita datang kepada-Nya dengan iman. Dengan iman yang kuat dan berpengharapan, kita yakin bahwa Yesus pasti dapat menyembuhkan setiap sakit penyakit yang kita alami. Kita juga diajak untuk memiliki keprihatinan terhadap sesama yang menderita dan untuk dapat menjadi saluran kasih dan penyembuhan dalam hidup mereka. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk mengikuti teladan Yesus dalam memberikan kasih kepada mereka yang membutuhkan. Dengan merenungkan hal-hal ini, kita diingatkan akan kasih Allah yang tak terbatas, kuasa-Nya untuk menyembuhkan, pentingnya iman dalam hidup kita, dan panggilan kita untuk melayani dan mencintai sesama seperti yang dilakukan oleh Yesus. (Gina)


WARTA MINGGU MBK - 2 APRIL 2023 5 TALAK WARTA MINGGU MBK - 11 FEBRUARI 2024 JADWAL TUGAS TALAK LINGKUNGAN PAROKI TOMANG MBK Perayaan Hari dan Tanggal Waktu Lingkungan Wilayah 16.30 St. Yohanes Salib, St. Laurensius 14 19.00 St. Antonius, St. Yoakim 10 06.30 St. Maria Bunda Hati Kudus 15 09.00 St. Albertus dari Trapani, St. Louis Ibaraki 16 11.30 St. Thomas 1 16.30 Christophorus 3 19.00 St. Maria Ratu Rosario, St. Paulus, St. Benedictus 2 IMLEK Sabtu, 10 Februari 2024 09.00 PANITIA IMLEK (Wilayah 6) 6 16.30 MIK MIK 19.00 St. Vincentius 12 06.30 Bunda Maria Penolong Abadi, St. Yoseph 5 09.00 St. Silvanus, St. Gregorius 17 11.30 St. Angelus, St. Elisa 8 16.30 St. Maria Ratu Para Malaikat, St. Maria Ratu Keluarga 6 19.00 St. Yohanes Rasul, St. Yohanes Maria Vianney 9 16.30 St. Anna 7 19.00 St. Yoakima de Vedruna, St. Sesilia, St. Faustina 13 Rabu, 14 Februari 2024 19.00 St. Paulus Chong Hasang 11 16.30 Ignatius Peis 10 19.00 St. Maria Bunda Yang Murah Hati 15 06.30 St. Perawan Maria, St. Antonius Padua 2 09.00 St. Theresia Lisieux, St. Teresa Avila 14 11.30 St. Alfonsus, St. Bartholomeus 12 16.30 St. Katarina Siena 16 19.00 St. Agustinus 1 16.30 St. Maria Bintang Timur 4 19.00 Justo Takayama Ukon, Ba. Yohana Scopelly 3 06.30 St. Yohanes Leonardi 9 09.00 St. Maria Ratu Damai, St. Maria Bunda Allah 6 11.30 OMK OMK 16.30 St. Maria Bunda Rosario 7 19.00 Angela Merici, Bernardus 5 MINGGU PRAPASKAH II Sabtu, 24 Februari 2024 Minggu, 25 Februari 2024 Sabtu, 17 Februari 2024 Minggu, 18 Februari 2024 HARI MINGGU BIASA V HARI MINGGU BIASA VI Sabtu, 10 Februari 2024 Minggu, 11 Februari 2024 HARI RABU ABU Selasa, 13 Februari 2024 MINGGU PRAPASKAH I Sabtu, 3 Februari 2024 Minggu, 4 Februari 2024 FEBRUARI 2024


SAJIAN UTAMA 6 WARTA MINGGU MBK - 11 FEBRUARI 2024 S iapakah “Orang Sakit” itu? Sejak kapan dan apa alasan Gereja menetapkan Hari Orang Sakit Sedunia? Mengapa dipilih tanggal 11 Februari? Apakah ada kekhususan yang ditawarkan Gereja sebagai bentuk perayaan? Sakit adalah kondisi atau gejala yang dialami oleh suatu individu yang mengganggu kesehatan dan kualitas hidupnya. World Health Organization (WHO) secara khusus mendefinisikan sakit sebagai gangguan fisik atau mental yang mempengaruhi fungsi normal tubuh dan menyebabkan rasa tidak nyaman. Sakit dapat bersifat sementara atau kronis. Sakit merupakan masalah serius yang dapat mempengaruhi banyak aspek kehidupan seseorang, baik secara fisik maupun mental. Hari Orang Sakit Sedunia (World Day of the Sick) ditetapkan Paus Yohanes Paulus II pada 13 Mei 1992, dan mulai dirayakan pada 11 Februari 1993. Bapa Suci menetapkan Hari Orang Sakit Sedunia (HOSS) setahun setelah beliau sendiri didiagnosa menderita penyakit parkinson awal 1991. Hari itu dibaktikan khusus sebagai “hari khusus untuk doa dan berbagi, untuk mempersembahkan penderitaan kita.” Pesta Bunda Maria dari Lourdes dipilih menjadi HOSS karena banyak peziarah dan pengunjung Lourdes yang telah disembuhkan melalui doa-doa Bunda Perawan. Pemilihan tanggal 11 Februari juga punya makna mengikutsertakan Bunda Maria dalam permohonan akan kesembuhan. Alasan Bapa Suci Yohanes Paulus II dalam menetapkan HOSS nampak dari ketiga tema umum yang terusmenerus didengungkan setiap tahun, yaitu: Mengingatkan umat beriman untuk berdoa secara khusuk dan tulus untuk mereka yang sakit. Mengundang semua orang Kristiani untuk merefleksikan dan menanggapi penderitaan manusia. Mengakui dan menghormati semua orang yang bekerja dan melayani dalam bidang kesehatan dan sebagai pemerhati kesehatan. Ini berarti bahwa dalam rangka Hari Orang Sakit Sedunia Sembuhkan Hubungan untuk Menyembuhkan Yang Sakit


SAJIAN UTAMA WARTA MINGGU MBK - 11 FEBRUARI 2024 7 HOSS, seluruh Gereja diundang untuk berdoa secara khusus bagi orang sakit, di samping juga untuk merenungkan makna penderitaan dalam peziarahan manusia menuju rumah Bapa. Paroki-paroki diundang untuk merayakan Hari Orang Sakit Sedunia secara konkret dengan mengadakan misa untuk orang sakit di setiap paroki. Pada kesempatan itu, perlu digalakkan penyadaran tentang peran iman dalam menghadapi penderitaan dan sakit, demikian pula ditingkatkan kesadaran tentang arti kristiani dari penderitaan dan sakit. Setiap tahun Bapa Suci menerbitkan pesan khusus untuk HOSS, dan memilihkan tema untuk perayaan tahunan HOSS. “Tidak baik kalau manusia sendirian — Menyembuhkan Orang Sakit dengan Menyembuhkan Hubungan,” adalah tema pesan Paus Fransiskus pada peringatan Hari Orang Sakit Sedunia tahun 2024. Kita Diciptakan untuk Bersama, Bukan Sendirian “Tidak baiklah, kalau manusia sendirian” (lih. Kejadian 2:18). Berdasarkan firman Tuhan tentang Adam ini, Paus mencatat bahwa pemikiran pertama Tuhan bagi manusia pertama adalah bahwa dia harus berada dalam persekutuan dan hubungan dengan makhluk lain. Sejak semula, Allah, yang adalah kasih, menciptakan kita untuk persekutuan, oleh karena itu sejak lahir kita dikarunia kemampuan untuk membangun relasi dengan sesama. Karena rancangan persekutuan ini berakar kuat di dalam hati manusia, maka pengalaman ditinggalkan dan sendirian sungguh akan dirasakan sebagai suatu pengalaman yang menakutkan, menyakitkan, dan bahkan tidak manusiawi. Hal ini terutama terjadi ketika kita berada dalam kerentanan, ketidakpastian dan ketidakamanan, yang seringkali disebabkan oleh penyakit yang serius. Paus Fransiskus menekankan bahwa pandemi Covid-19 dan perang yang sedang berlangsung telah mengisolasi banyak orang. Bukan hanya para pasien yang tidak boleh dikunjungi, tetapi juga para perawat, dokter, dan tenaga pendukung yang kewalahan bekerja dan terkurung di ruang isolasi. Tentu saja, kita pasti ingat semua orang yang harus menghadapi saat kematiannya sendirian, yang hanya dibantu oleh petugas kesehatan, namun jauh dari keluarganya sendiri.


SAJIAN UTAMA 8 WARTA MINGGU MBK - 11 FEBRUARI 2024 Kita juga ikut merasakan kepedihan, penderitaan dan keterasingan yang dirasakan oleh mereka yang karena perang dan konsekuensi tragisnya, tidak memperoleh dukungan dan bantuan. Namun, pada saat yang sama, bahkan di negara-negara yang menikmati perdamaian dan sumber daya yang lebih besar, orang-orang yang lanjut usia dan sakit seringkali mengalami kesendirian dan bahkan kadangkadang ditinggalkan. Realitas yang suram ini terutama disebabkan oleh budaya individualisme yang dengan segala cara mengagungagungkan produktivitas, memupuk mitos efisiensi, acuh tak acuh, bahkan tidak berperasaan, ketika individu tidak lagi memiliki kekuatan yang dibutuhkan untuk mengimbanginya. Individualisme yang demikian itu melahirkan ‘budaya membuang’, di mana “manusia tidak lagi dipandang sebagai nilai terpenting yang harus diperhatikan dan dihormati, terutama ketika mereka miskin atau cacat, ‘belum berguna’ – seperti bayi dalam kandungan, atau ‘tidak lagi diperlukan’. – seperti orang tua” (Fratelli Tutti, 18). Sungguh disayangkan bahwa cara berpikir seperti itu melatarbelakangi pengambilan keputusan politik tertentu yang tidak berpusat pada martabat manusia dan kebutuhannya, serta tidak selalu mendukung strategi dan sumber daya yang diperlukan untuk memastikan bahwa setiap manusia menikmati hak dasar atas kesehatan dan akses terhadap layanan kesehatan. Ketidakpedulian pada kelompok rentan dan isolasi terhadap mereka ini juga diperparah dengan pengurangan pelayanan kesehatan yang hanya sebatas penyediaan pelayanan, tidak ada “perjanjian terapeutik” antara dokter, pasien dan anggota keluarga.


Menyembuhkan Luka Kesendirian dan Isolasi Tuhan menyampaikan firman “Tidak baik, kalau manusia sendirian” pada awal penciptaan dan dengan demikian mengungkapkan kepada kita makna mendalam dari rancangan-Nya bagi umat manusia. Namun, pada saat yang sama, luka dosa yang mematikan, yang menjalar dengan menimbulkan kecurigaan, keretakan, perpecahan mengakibatkan keterasingan. Dosa menyerang manusia dan seluruh relasi mereka: dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain, dan ciptaan. Keterasingan seperti ini menyebabkan kita kehilangan makna hidup kita; keterasingan menghilangkan kegembiraan cinta dan membuat kita mengalami perasaan menyendiri yang menyesakkan. Kata Paus Fransiskus, lahir ke dunia karena orang tua kita menyambut kita, dan kita masingmasing “diciptakan untuk cinta” dan dipanggil ke dalam persekutuan dan persaudaraan. Karenanya, terapi terbaik bagi mereka yang sakit adalah dengan menawarkan cinta dan persekutuan kepada mereka, dengan mundur dari kesibukan hidup kita, yang dengannya kita juga menemukan kembali diri kita sendiri. Bentuk perawatan pertama yang diperlukan dalam penyakit apapun adalah kedekatan yang berbela rasa dan penuh kasih sayang. Oleh karena itu, merawat orang sakit berarti merawat semua relasi yang tadi telah disebutkan: dengan Tuhan, dengan orang lain – anggota keluarga, teman, petugas kesehatan – dengan ciptaan, dan dengan diri mereka sendiri. Dapatkah ini dilakukan? Ya, hal itu dapat dilakukan dan kita semua dipanggil untuk memastikan hal itu terjadi. Mari kita melihat gambaran Orang Samaria yang Baik Hati (bdk. Lukas 10:25-37), pada kemampuannya untuk merendah dan mendekatkan diri pada orang lain, pada kasih lembut yang ia gunakan untuk merawat luka-luka saudaranya yang menderita. “Kepada kalian yang sedang mengalami penyakit, baik sementara maupun kronis, saya sampaikan ini: Jangan malu dengan kerinduan akan kedekatan dan kelembutan!” kata Paus. Jangan menyembunyikannya dan jangan pernah berpikir bahwa kamu adalah beban bagi orang lain. Pada masa perubahan yang besar ini, kita dipanggil untuk menjadi seperti Yesus yang penuh belas kasih. Mari kita peduli terhadap mereka yang menderita dan sendirian, mungkin terpinggirkan dan terasing. SAJIAN UTAMA WARTA MINGGU MBK - 11 FEBRUARI 2024 9


SAJIAN UTAMA 10 WARTA MINGGU MBK - 11 FEBRUARI 2024 Bapa Suci mengajak umat Kristiani untuk mengambil inspirasi dari tatapan Yesus yang penuh belas kasih melalui ‘doa dan Ekaristi’, untuk “menyembuhkan luka kesendirian dan keterasingan.” Dengan cara ini, kita akan bekerjasama dalam memerangi budaya individualisme, ketidakpedulian dan ‘budaya membuang’, serta memungkinkan tumbuhnya budaya kelembutan dan kasih saying. Orang sakit, orang rentan, dan orang miskin adalah inti dari Gereja. Hal-hal tersebut juga harus menjadi inti keprihatinan kemanusiaan dan perhatian pastoral kita.” (Elis dari berbagai sumber)


Bagaimana tradisi pengurapan minyak semasa hidup Yesus? Minyak nabati dalam tradisi Israel memiliki fungsi penting, baik dalam ritus keagamaan maupun untuk keperluan pemulihan dari sakit. Injil Lukas (Lukas 10:34) mengisahkan orang Samaria yang baik hati. Ketika ia menjumpai orang yang dirampok dan dipukuli dan tergeletak di pinggir jalan ia pergi kepadanya lalu membalut lukalukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Demikian juga fungsi minyak sebagai tanda kuasa Tuhan nampak dalam peristiwa ketika Yesus mengutus 12 murid-Nya dengan pergi berdua-dua dan memberi mereka kuasa untuk mewartakan Injil Tuhan. Maka mereka pergi dan memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka” (Markus 6:12-13). Bagaimana tradisi pengurapan minyak dalam Gereja Awali? Tradisi kuasa penyembuhan dengan minyak juga diteruskan dalam Gereja Perdana. Santo Yakobus, SAJIAN UTAMA WARTA MINGGU MBK - 11 FEBRUARI 2024 11 SAKRAMEN PENGURAPAN ORANG SAKIT Pengurapan Orang Sakit dalam Perjanjian Baru


Gereja Yerusalem (Bdk. Galatia 1:19) menulis demikian: “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni “ (Yakobus 5:14- 15). Apa maksud Gereja menyelenggarakan Sakramen Urapan Orang Sakit? Kitab Hukum Kanonik No. 998 menerangkan maksud Gereja bahwa, dengan Pengurapan Gereja menyerahkan kepada Tuhan mereka yang menderita dan memulihkan umat beriman yang sakit berbahaya, agar Ia meringankan dan menyelamatkan mereka, diberikan dengan mengurapkan minyak kepada mereka serta mengucapkan kata-kata yang ditetapkan dalam buku-buku liturgi. Mengapa Gereja mempraktikkan Pengurapan Orang Sakit? Praktik pengurapan orang sakit ditujukan untuk orang yang sakit atau orang yang akan mengalami operasi besar yang dapat membahayakan keselamatan hidupnya. Katekismus Gereja Katolik (KGK No. 1511) menegaskan bahwa Gereja percaya dan mengakui bahwa di antara tujuh Sakramen ada satu yang sangat khusus ditentukan untuk menguatkan orangorang yang dicobai oleh penyakit yaitu: Urapan Orang Sakit. “Urapan Orang Sakit yang kudus ini ditetapkan oleh Kristus Tuhan kita, sebagai Sakramen Perjanjian Baru yang sebenarnya dan sesungguhnya, disinggung oleh Markus (Bdk. Markus 6:13), tetapi dianjurkan kepada orang beriman dan diumumkan oleh Yakobus, Rasul dan saudara Tuhan (Bdk. Yakobus 5:14-15). Bagaimana Pengurapan dipraktikkan oleh Gereja sekarang ini? Katekismus Gereja Katolik (KGK No. 1513) menegaskan bahwa Konstitusi Apostolik “Sacram unctionem infirmorum”, terbit 30 November 1972 menentukan seturut Konsili Vatikan II (Bdk. Sacrosanctum Concilium No.73) menentukan pembaruan dalam rumusan Sakramen Urapan Orang Sakit, bahwa mulai sekarang dalam ritus Roma berlaku yang berikut ini: “Sakramen Urapan Orang Sakit diberikan kepada mereka, yang keadaan kesehatannya sangat 12 WARTA MINGGU MBK - 11 FEBRUARI 2024 SAJIAN UTAMA Praktik Pengurapan Orang Sakit dalam Gereja


terancam, dengan mengurapi mereka di dahi dan di tangan dengan minyak zaitun yang telah diberkati sesuai dengan peraturan atau, sesuai dengan keadaan, dengan minyak nabati lain yang diberkati sesuai dengan peraturan, sambil mengucapkan satu kali kata-kata yang berikut ini “Semoga karena pengurapan suci ini Allah yang Maharahim menolong Saudara dengan rahmat Roh Kudus. Semoga Tuhan membebaskan Saudara dari dosa dan membangunkan Saudara di dalam rahmat-Nya” (Bdk. Kitab Hukum Kanonik 847). Dalam praktik hidup beriman orang masih memiliki pandangan kuat dengan disertai rasa khawatir bahwa Sakramen Pengurapan Orang Sakit hanya diperuntukkan bagi orang orang yang mau meninggal. Padahal tidaklah demikian yang dimaksudkan oleh Gereja Awali. Pengurapan Orang Sakit sejak awal diperuntukkan bagi orang orang yang mau mengembalikan kondisi batinnya yang tertekan atau tercobai batinnya karena sakit yang dialaminya. Mengapa berkembang pemikiran bahwa Pengurapan Orang Sakit hanya untuk orang yang mau meninggal? Paham Pengurapan hanya untuk orang yang mau meninggal tumbuh karena perkembangan sejarah hidup beriman. Katekismus Gereja Katolik No. 1512 memberikan gambaran perkembangan itu demikian: “Dalam tradisi liturgi baik di Timur maupun di Barat terdapat kesaksian-kesaksian sejak dahulu kala mengenai Urapan Orang Sakit dengan minyak yang diberkati. Lama-kelamaan Urapan Orang Sakit ini diberikan hanya kepada orang dalam sakratul maut, sehingga ia dinamakan sebagai “perminyakan terakhir”. Meskipun terjadi perkembangan macam ini, namun Gereja tidak pernah berhenti berdoa kepada Tuhan, supaya orang sakit sembuh kembali, seandainya itu berguna bagi keselamatannya”. Jadi sangat jelas bahwa Sakramen Pengurapan Orang Sakit tidak dimaksudkan untuk orang yang mau meninggal tetapi bagi siapa saja yang batinnya menderita karena sakit yang dialaminya. SAJIAN UTAMA WARTA MINGGU MBK - 11 FEBRUARI 2024 13 Perkembangan Paham Pengurapan hanya untuk Orang Mau Meninggal


14 WARTA MINGGU MBK - 11 FEBRUARI 2024 SAJIAN UTAMA Kapan saat yang tepat untuk menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit? Katekismus Gereja Katolik No.1514 menerangkan bahwa urapan orang sakit “bukanlah Sakramen bagi mereka yang berada di ambang kematian saja. Maka saat yang baik untuk menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit adalah ketika saat kritis atau mendesak, yaitu bila orang beriman mulai ada dalam bahaya maut karena menderita sakit atau sudah lanjut usia” (SC 73; Bdk. Juga KHK No.1004, 1005, 1007 Bolehkah menerima Sakramen ini beberapa kali? Katekismus Gereja Katolik No. 1515 menerangkan demikian. Kalau seorang sakit yang telah menerima urapan ini sehat kembali, maka ia dapat menerima lagi Sakramen ini, apabila ia sakit berat lagi. Dalam menderita penyakit yang sama, Sakramen ini dapat diulangi, kalau keadaan makin buruk. Dianjurkan agar seorang yang menghadapi operasi besar, menerima Urapan Orang Sakit. Demikian juga berlaku untuk orang tua renta, yang kekuatannya mulai melemah. Dapatkah Sakramen ini diberikan kepada orang sakit dalam kondisi tidak sadar? Kitab Hukum Kanonik No.1006 menjelaskan bahwa orang-orang sakit, yang sewaktu masih sadar diri memintanya sekurang-kurangnya secara implisit, hendaknya sakramen itu diberikan. Dalam kasus lain, dapatkah Sakramen ini diberikan kepada orang yang berdosa berat? Kitab Hukum Kanonik No.1006 menjelaskan bahwa Pengurapan Orang Sakit hendaknya jangan diberikan kepada mereka, yang membandel dalam dosa berat yang nyata. Apakah buah-buah rohani ketika orang menerima Sakramen ini? Katekismus Gereja Katolik No.1532 menerangkan bahwa buah-buah rahmat khusus dari Sakramen ini adalah: (1) Orang sakit dipersatukan dengan sengsara Kristus demi keselamatannya sendiri dan keselamatan Gereja; (2) penghiburan, perdamaian, dan keberanian untuk menderita secara Kristen akibat sengsara yang ditimbulkan oleh penyakit atau oleh usia lanjut; (3) pengampunan dosa, apabila orang sakit tidak dapat menerimanya melalui Sakramen Pengakuan; (4) penyembuhan, kalau ini berguna bagi keselamatan jiwa; (5) persiapan untuk peralihan ke hidup abadi. (Rm. Michael M. Hartomo O.Carm) Rahmat Rohani Sakramen Pengurapan Orang Sakit Siapa Penerima dan Boleh Berapa Kali?


16 WARTA MINGGU MBK - 11 FEBRUARI 2024 SEPUTAR MBK Rapat Dewan Paroki Pleno 2024 Rapat Dewan Paroki Pleno (DP Pleno) perdana 2024 dilaksanakan pada Minggu (4/2) di Auditorium. Semua perangkat karya turut hadir, salah satu agenda pentingnya adalah Sosialisasi Pemilihan Dewan Paroki Harian (DPH), Koordinator Wilayah (Korwil)/Ketua Stasi, Ketua Lingkungan (Kaling), Ketua Seksi (Kasi) untuk masa tugas 2024-2027. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne MBK dan Sapaan Sabda dari Romo Barnabas Krispinus Ginting O.carm. Romo menyampaikan bahwa tugas utama adalah mewartakan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah dapat direalisasikan sebagai berikut: 1) Menjadikan paroki ini menjadi tempat yang indah. 2) Tempat di mana namaMu dimuliakan. Ada 5 pilar gereja di mana kita hidup menggereja melalui cara hidup jemaat perdana, yakni hidup dalam kasih karunia Tuhan: 1) Menjaga persekutuan dan persatuan. 2) Menjaga pewartaan-Nya. 3) Menjaga pelayanan. 4) Menjaga kesaksian - melihat Allah hadir. 5) Menjaga kekudusan - Liturgia. “Jadikan paroki menjadi tempat yang indah, paroki yang dimuliakan. Gereja mengembangkan Kerajaan Allah. Pesan Yesus bagi para rasul maupun 70 murid-Nya yaitu kesediaan kita. Kita bersedia maka Tuhan sendiri akan memberi kuasanya” pesan Romo. Sosialisasi Pemilihan Ada dua tahap pemilihan yaitu tahap pertama untuk Dewan Paroki Harian dan pelantikannya bulan Juli. Sedangkan tahap kedua untuk Koordinator Wilayah/Ketua Stasi, Ketua Lingkungan, Ketua Seksi dan pelantikannya bulan Agustus. Evaluasi, Laporan, Rencana Kerja Seksi Perencanaan dan Evaluasi (PE) memaparkan laporan program karya 2023 baik di wilayah, seksi, kategorial, serta Tim Sinergi Bidang Prioritas (TSBP). Dapat disimpulkan bahwa secara global banyak peningkatan dan kenaikan, seperti jumlah kehadiran, terlaksananya program karya, persiapan yang matang, keterlibatan umat, dan sebagainya. Lalu Laporan dari Panitia Natal 2023 Wilayah XIV, rencana kerja Panitia Imlek 2024 Wilayah VI, rencana kerja Panitia Paskah 2024 Wilayah XV, serta laporan keuangan paroki 2023. Semoga tiap perangkat karya dapat saling bersinergi dan menyukseskan Dewan Paroki 2024-2027. (Judith)


SEPUTAR MBK Sosialisasi Pemilihan Dewan Paroki Panitia Natal 2023 - Wilayah XIV Rapat Dewan Paroki Pleno 2024 Laporan Program Karya 2023 oleh Seksi PE


18 WARTA MINGGU MBK - 11 FEBRUARI 2024 SEPUTAR MBK Minggu depan sudah masuk Masa Prapaskah. Saat Masa Prapaskah dilaksanakan Aksi Puasa Pembangunan (APP). Bersumber dari Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta, APP tahun 2024 adalah “Memperkuat Solidaritas dan Subsidiaritas untuk Mewujudkan Kesejahteraan Bersama.” Diharapkan gerakan APP ini dapat memperkuat Solidaritas dan Subsidiaritas, serta komitmen dan aksi nyata yang berdampak. Ada 4 sub tema yang dikupas yaitu: 1. Gerakan Pertobatan Hati – Solidaritas dan Subsidiaritas dalam Lingkungan Warga Sekitar 2. Pertobatan yang Membawa Berkat – Solidaritas dan Subsidiaritas dalam Mewujudkan Kesejahteraan Sosial 3. Strategi Berbagi di Abad Digital – Solidaritas dan Subsidiaritas dalam Mewujudkan Kesejahteraan Mental Spiritual 4. Mengubah Diri, Mengubah Bangsa – Solidaritas dan Subsidiaritas dalam kehidupan Berbangsa dan Bernegara Sosialisasi APP diselenggarakan pada Senin (5/2) di Auditorium. Dalam pengantarnya, Romo Titus Brandsma Pantjaja adji Wilasa O.Carm menyampaikan bahwa Pendalaman APP tidak semua negara ada. Pertobatan wujud kita dengan pendalaman bersama semakin menghayati dan melaksanakan di lingkungan, masyarakat, dan sebagainya. “Dalam pelaksanaan pendalaman APP minatnya cukup membanggakan. Di paroki peminat menjadi pemandu hingga bulan ini mencapai 80 orang. Paroki Malang hanya 10 orang saja, sedikit peminatnya. Karena tidak percaya diri, orang masih berpikir menjadi pemandu harus yang punya latar belakang teologi, sejarah, kerasulan, dan lain-lain” tutur Romo. Romo mengakui pertemuan pendalaman ada peningkatan jumlah umat yang hadir. Walaupun pertemuan rosario mayoritas banyak umat hadir. “Ini menunjukkan minat umat semakin besar dan mental pastorsentris, umat sudah mulai mendengarkan minat awam. Seiring berjalannya waktu, mereka punya kemampuan semakin berkembang” ujarnya. Romo Adji berpesan untuk para pemandu tetap semangat walaupun nanti dalam karya pelayanannya ada yang kurang baik, ditolak, diabaikan, dan sebagainya. Tugas kita yaitu mewartakan Injil. (Judith) Memperkuat Solidaritas dan Subsidiaritas


WARTA MINGGU MBK - 2 APRIL 2023 5 SEPUTAR MBK WARTA MINGGU MBK - 11 FEBRUARI 2024 19 JA Gianto Judith Widjaya Maria Leslie Prasetyo Hartono 4 Pembicara


Click to View FlipBook Version