The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fathurrahman3072, 2023-01-06 09:42:56

Bab 8-MUNAKAHATTT

Bab 8-MUNAKAHATTT

Pendidikan
Agama Islam dan

Budi Pekerti

Untuk SMA Negeri 20 Kota Bekasi kelas XII

Disusun oleh :

Fathurrahman,S.Pd.I

‫السلام عليكم ورحمة الله وبركاته‬

BAB 8
Menyempurnakan Hidup Melalui

Pernikahan (Munakahat)

Sumber: www.Pixabay.com/ScribblingGeek

Ketentuan Pernikahan dalam Islam

• Pernikahan merupakan jalan terbentuknya institusi keluarga.

• Pernikahan merupakan fitrah pribadi/masyarakat.

• Adapun fungsi penikahan adalah: • Menurut Q.S. An-Nisā’/4: 1,
terkandung pesan indah dalam
a. Sebagai salah satu pilar kokohnya pernikahan:
sebuah masyarakat.
a. Manusia tidak perlu gelisah dalam
b. Sebagai penerus kelangsungan masalah jodoh (Q.S. Yāsīn/36: 36)
hidup manusia.
b. Ketentraman batin dan kasih sayang
c. Merupakan perlindungan dan hakiki akan dirasakan dalam pernikahan.
terjaganya akhlak dan tata susila.

d. Merupakan jalan bagi
berlangsungnya proses
pembentukan dan penanaman nilai.

Ketentuan Pernikahan dalam Islam

1.Pengertian Pernikahan
• Pernikahan yaitu akad yang menghalalkan pergaulan antara laki-laki dan

perempuan yang bukan mahramnya yang menimbulkan hak dan kewajiban
masing-masing.

﴾۳ :‫ ﴿الن َساء‬... ‫ فَا ْن ِك ُح ْوا َما َطا َب لَ ُك ْم ِم َن النِ َسا ِء‬...

Artinya:
“...Maka nikahilah perempuan yang kamu senangi...”

(Q.S. An-Nisā’/4: 3)

Ketentuan Pernikahan dalam Islam

2. Hal-hal Penting yang Perlu
Diperhatikan Menuju Pernikahan

a. Adanya kesiapan fisik dan mental.
Usia ideal menurut kesehatan dan
program KB adalah usia antara 20-
25 tahun bagi wanita dan usia 25-30
tahun bagi pria.

b. Kematangan mental dan kepribadian
pendidikan, perbedaan umur minimal
5 tahun antara laki-laki dan
perempuan.

Ketentuan Pernikahan dalam Islam

3. Faktor-faktor Penting Memilih Pasangan (H.R. Bukhari dan Muslim)

• Satu agama (Q.S. Al-Baqarah/2: 221), sabda • Hindari pasangan yang buruk kepribadiannya
Rasulullah saw.: (Q.S. An-Nūr/24: 26 dan 3).

‫ا َلونَِّل ِب َجيَِما ِل َهَصالَّ َوى ِلاِدل ْيلنهُِ َها َعلَفَ ْيا ِه ْظ َفَو ْر َسلَّ َم‬ ‫َع ْنهُ َع ِن‬ ُ‫لل ِلهُ َما َِلع ْنَهاه‬:‫أَبِتُ ْن ْيِك ُحُه َارْل ْي َم َرْرةَأَةُ َر ِِلَِ ْضربَ َيعا‬:‫قَاَع َْلن‬ • Tetap memelihara kesucian diri dalam
‫َو ِل َح َسبِ َها‬ ‫بِذَا ِت ال ِد ْي ِن تَ ِربَ ْت يَ َدا َك‬ pergaulan, karena pernikahan adalah ikatan
suci, dalam proses memilih pasangan pun tetap
(‫(رواه البخارى ومسلم‬ menempuh jalan kesucian.

Artinya: “Dari Abi Hurairah r.a. Nabi saw. • Memohon pertimbangan kepada Allah swt.
melalui shalat Istikharah.
bersabda: Seorang wanita dinikahi karena 4

(empat) hal: hartanya, kecantikannya,

keturunannya, dan agamanya, maka pilihlah
karena agamanya niscaya kamu beruntung.”

Ketentuan Pernikahan dalam Islam

4. Hukum Pernikahan

Hukum pernikahan bersifat kondisional, artinya berubah menurut situasi dan kondisi seseorang dan lingkungannya.

Ada lima macam hukum pernikahan, yaitu sebagai berikut.

a. Jaiz/mubah (ٌ‫) َجا ِئز‬. Hukum ini adalah hukum d. Makruh (ٌ‫) َم ْك ُر ْوه‬. Mempunyai keinginan

asli pernikahan, artinya bagi yang sudah menikah, tetapi belum mampu memberi

memenuhi syarat, ia berhak menikah. nafkah (sandang, pangan, dan papan).

b. Sunnah (ٌ‫) ُسنَّة‬. Hukum ini berdasarkan e. Haram (ٌ‫) َح َرام‬. Hukum ini dikenakan bagi

pemahaman bahwa siapa saja yang mampu siapa saja yang menikah namun mempunyai

memenuhi syarat nikah, namun tidak maksud yang buruk/jahat, baik untuk

khawatir berbuat zina, ia disunnahkan pasangannya maupun diri sendiri.

melakukan pernikahan.

c. Wajib (ٌ‫) َوا ِجب‬. Hukum ini dikenakan bagi yang

sudah memenuhi syarat, karena

dikhawatirkan terjadi perzinaan maka ia

wajib melakukan pernikahan.

Ketentuan Pernikahan dalam Islam

5. Tujuan Nikah

a.Terciptanya ketentraman hati dan ketenangan pikiran
karena kehidupan yang diliputi cinta, mawaddah wa raḥmah
lahir dan batin antara suami dan istri (Q.S. Ar-Rūm/30: 21)

b.Untuk memperoleh keturunan yang sah (Q.S. Asy-
Syūrā/42: 11 dan 49-50).

c.Sebagai alat kendali bagi manusia agar tidak terjerumus
ke dalam jurang kemaksiatan (Q.S. Al-Isrā’/17: 32).

d.Untuk mewujudkan keluarga bahagia dan sejahtera Salah satu tujuan
(keluarga sakinah) (H.R. Jama’ah). pernikahan adalah
memperoleh keturunan yang
e.Memenuhi kebutuhan seksual yang halal, sah dan suci
(Q.S. Al-Baqarah/2: 187 dan 223). sah

Ketentuan Pernikahan dalam Islam

6. Rukun Nikah
a.Adanya calon suami;
b.Adanya calon Istri;
c.Wali perempuan;
Wali ada dua, yaitu sebagai berikut:
1)Wali Nasab, yaitu wali yang berdasarkan nasab (pertalian darah).
2)Wali hakim, yaitu wali yang berdasarkan wewenang.
d. Dua orang saksi;
e. Akad atau Ṣīgat atau “Ijab Qabul”

Ketentuan Pernikahan dalam Islam

7. Orang-orang yang Tidak Boleh Dinikahi

a. Keturunan: 3) Istri bapak (ibu tiri);
4) Istri anak (menantu).
1) Ibu dan seterusnya ke atas; c. Persusuan:
1) Ibu yang menyusui;
2) Anak perempuan dan seterusnya ke 2) Saudara perempuan sepersusuan.
bawah; d. Dikumpul:
1) Saudara perempuan istri;
3) Bibi, baik dari bapak atau ibu; 2) Bibi perempuan dari istri;
3) Keponakan perempuan dari istri.
4) Anak perempuan dari saudara
perempuan atau saudara laki-laki.

b. Pernikahan:

1) Ibu dari istri (mertua);

2) Anak tiri, apabila ibunya sudah
dicampuri;

Ketentuan Pernikahan dalam Islam

8. Hak dan Kewajiban Suami-Istri b. Kewajiban istri:
1) Taat dan patuh pada perintah suami;
a. Kewajiban Suami: 2) Selalu menjaga kehormatan diri;
1) Menjadi pemimpin, memelihara, dan 3) Bersyukur atas nafkah yang diterima;
4) Membantu suami dan mengatur rumah
membimbing keluarga;
2) Memberi nafkah, pakaian, dan tempat tangga.
c. Kewajiban Suami dan istri:
tinggal; 1) Memelihara dan mendidik anak;
3) Bergaul dengan istri secara ma’ruf; 2) Berbuat baik terhadap mertua, ipar,
4) Bertanggung jawab sesuai dengan
dan kerabat lainnya;
fungsinya; 3) Setia dalam hubungan rumah tangga;
5) Memberi kebebasan berpikir dan 4) Saling membantu antara keduanya.

bertindak sepanjang sesuai norma.

Ketentuan Pernikahan dalam Islam

9. Hikmah Pernikahan

a. Menentramkan hati, menenangkan pikiran, melegakan perasaan.

b. Menyalurkan hajat fitrah biologis yang halal, sah, dan
mendapatkan keturunan.

c. Membina silaturahim kedua keluarga sejahtera, bertanggung
jawab sesuai dengan fungsi ibu dan bapak dalam rumah tangga
yang sakinah.

d. Menghindarkan diri dari penyakit-penyakit kelamin yang merusak

fisik, mental, serta terhindar dari krisis moral dalam masyarakat.

Hal-hal yang Berkaitan dengan Pernikahan

1. Ṭālaq (Perceraian)

a. Pengertian Ṭālaq dan Hukumnya bisa didamaikan dan hakim memandang perlu;
2) Sunah, apabila suami tidak mampu lagi
Ṭālaq atau perceraian adalah memutuskan tali ikatan
menunaikan kewajibannya;
pernikahan. Hukum asal dari Ṭālaq adalah makruh 3) Haram, apabila istri dalam keadaan haid, hamil,

(keterangan H.R. Abu Daud). Sabda Rasulullah saw.: dan keadaan suci yang dicampuri saat itu;

‫َعلَ ْي ِه‬ ُ‫الله‬ ‫الل ِه َص َّل‬ ‫ َقا َل َر ُس ْو ُل‬:‫تَ َعا َلى َع ْن ُه َما قَا َل‬ ُ‫ُع َم َ َور َس َّلَر َم ِاَضْب َغَي ال ُلضه‬ ‫ا ْب ِن‬ ‫َع ْن‬ 4) Makruh, yaitu Hukum asal Ṭālaq.
(‫داود‬ ‫ا ْل َح َلا ِل ِا َلى الل ِه ال َّط َلا ُق (رواه‬

Artinya: Dari Ibnu Umar r.a. Ia berkata

bahwasannya Rasulullah saw. telah bersabda:

“Sesuatu yang halal tetapi paling dibenci oleh Allah

adalah Ṭālaq”. (H.R. Abu Daud)

b. Hukum Ṭālaq ada empat, yaitu sebagai
berikut.

1) Wajib, apabila terjadi perselisihan yang tidak

Hal-hal yang Berkaitan dengan Pernikahan

c. Bentuk-bentuk Ṭālaq Ṭālaq tiga. Ṭālaq ini tidak dapat dirujuk
kembali kecuali mantan istrinya sudah
1) Ṭālaq raj’i, yaitu Ṭālaq yang menikah terlebih dahulu dengan laki-laki
membolehkan suami kembali kepada lain, dan keduanya telah berhubungan
mantan istrinya tanpa melakukan suami istri, kemudian bercerai dan telah
pernikahan baru, selama masih dalam habis masa ‘iddahnya.
masa ‘iddah, seperti Ṭālaq yang kesatu dan
Ṭālaq yang kedua.

2) Ṭālaq ba‘in. Ṭālaq ini dibagi menjadi
dua jenis, yaitu Ṭālaq ba ‘in sugrā yang
merupakan Ṭālaq yang tak dapat dirujuk
kembali kecuali dengan melangsungkan
akad nikah yang baru, dan yang kedua
adalah Ṭālaq ba ‘in kubrā yang merupakan

Hal-hal yang Berkaitan dengan Pernikahan

d. Jumlah atau Batas Ṭālaq

• Suami istri yang telah bercerai masih mungkin untuk berkumpul kembali,
namun untuk menghindari tindakan sewenang-wenang, maka jumlah Ṭālaq
yang membolehkan suami kembali kepada istrinya dibatasi hanya sampai 2
kali.

• Setelah Ṭālaq jatuh tiga kali, suami-istri tidak boleh lagi kembali kecuali istri
telah menikah lagi dengan orang lain, atas dasar suka sama suka sesudah
bergaul dan cerai lagi (pahami Q.S. Al-Baqarah/2: 229-230).

• Apabila terjadi Ṭālaq kesatu dan kedua, konsekuensinya adalah suami dapat
berkumpul kembali, kecuali dengan syarat-syarat tersebut.

Hal-hal yang Berkaitan dengan Pernikahan

e. Cara menjatuhkan Ṭālaq
Ada dua cara untuk menjatuhkan Ṭālaq:

1) Dengan kata-kata yang jelas (sharih), misalnya suami berkata kepada
istrinya, “Engkau saya Ṭālaq, engkau saya ceraikan.” Maka dengan perkataan
tersebut jatuh Ṭālaqnya, sekalipun tidak disertai dengan niat.

2) Dengan kata-kata samar atau sindiran (kinayah), misalnya suami berkata:
“Pergi engkau dari sini”, atau “Pulang ke rumah orang tuamu.” dengan
perkataan serupa ini, Ṭālaq belum jatuh apabila tidak disertai dengan niat.

Hal-hal yang Berkaitan dengan Pernikahan

f. Penyebab Terjadinya Ṭālaq hendak menjauhkan dirinya dari
istrinya.
1) Li’an yaitu suami dan istri saling
melaknat. Suami menuduh istri 4) Ta’lik Ṭalāq, yaitu seorang suami
berzina, tetapi tidak dapat yang melanggarjanjinya ketika
membuktikannya dengan 4 saksi. diucapkan saat akad nikah, seperti
tidak memberi nafkah istri 6 bulan
2) Ẓihār secara bahasa artinya berturut-turut, atau menyakiti badan
punggung, secara istilah seorang istri, sejalan dengan itu sang istri
laki-Iaki yang menyamakan istrinya tidak ridha kemudian mengadukan ke
seperti ibu sendiri Pengadilan Agama, jatuhlah ṭalāq
satu.
3) Ila’ yaitu seorang suami yang marah
sampai mengharamkan istrinya
bergaul dengannya atau bersumpah

Hal-hal yang Berkaitan dengan Pernikahan

2. Khulu’

• Khulu‘ yaitu ṭalāq yang diminta oleh istri kepada suaminya
dengan memberi 'iwadh atau tebusan yang disebabkan oleh
beberapa hal tertentu. Adapun faktor-faktor yang dapat
dijadikan alasan istri untuk meminta ṭalāq tebus (khulu')
adalah suami ternyata seorang pezina, pemabuk, penjudi,
dan selalu melakukan maksiat lainnya. Dengan demikian
khulu' dapat dilakukan jika ternyata antara suami dan istri
tidak ada persesuaian hidup, dan inisiatif justru datangnya
dari pihak istri, bukan dari pihak suami.

Hal-hal yang Berkaitan dengan Pernikahan

3. Fasakh

• Pengertian dari ṭalāq ini adalah ṭalāq yang dijatuhkan oleh hakim atas
pengaduan istri. Ṭalāq fasakh dapat dilakukan karena:
1)Adanya aib atau cacat pada salah satu pihak.
2)Suami tidak mampu memberikan nafkah (keterangan Q.S. Al-Aḥzāb/33: 49 dan

Q.S. Al-Baqarah/2: 229).
3)Adanya penipuan atau pengkhianatan dari pihak suami.
4)Diketahui adanya hubungan mahram antara suami-istri (Q.S. An-Nisā'/4: 23).

Hal-hal yang Berkaitan dengan Pernikahan

4. ‘Iddah
a.Pengertian dari ‘iddah adalah masa menanti bagi kaum perempuan yang diceraikan
suaminya (baik cerai hidup maupun cerai mati). Tujuan ditetapkan ‘iddah, salah satunya
adalah adanya kehamilan atau tidak.
b.Macam-macam ‘iddah:
1)Apabila sedang hamil, ‘iddahnya sampai anak Iahir. Apabila tidak hamil, ‘iddahnya 4 bulan

1O hari. Pahami Q.S. Al-Baqarah/2: 234.
2)Perempuan yang dicerai suaminya, ‘iddahnya: Apabila sedang hamil, ‘iddahnya sampai

saat Iahir. Apabila tidak hamil, ‘iddahnya tiga kali suci (quru’). (Perhatikan Q.S. Al-
Baqarah/2: 228).

3)Apabila tidak haid, 'iddahnya tiga bulan.

Hal-hal yang Berkaitan dengan Pernikahan

c. Kewajiban suami dalam masa ‘iddah

Selama masa ‘iddah, seorang suami berkewajiban memberi nafkah
lahir, dengan ketentuan sebagai berikut:

1)Memberi nafkah, pakaian dan tempat tinggal bagi istri yang di ṭalāq
raj'i.

2)Memberi tempat kediaman bagi sang istri yang ṭalāq tiga dan ṭalāq
tebus, jika ia tidak mengandung.

3)Memberikan nafkah, pakaian dan tempat tinggal bagi istri yang ṭalāq
tiga dan ṭalāq tebus apabila mengandung (keterangan H.R. Ahmad
dan Nasa'i, dan pahami (Q.S. Aṭ-Ṭalāq/65: 1, 6-7)

Hal-hal yang Berkaitan dengan Pernikahan

a.Pengertian rujū’. Maksud dari rujū’ maupun suami teraniaya.
adalah kembalinya suami kepada istri yang
telah di ṭalāq, yaitu ṭalāq satu atau ṭalāq c.Rukun rujū’. 1) Istri disyaratkan: Sudah
dua. pernah bercampur suami-istri. Dalam ṭalāq
raj'i, Masih dalam 'iddah 2) Suami
b.Hukum rujū’. Asal hukumnya “mubah" disyaratkan: Balig, berakal, dan dengan
(boleh), bisa jadi sunah apabila maksud kemauan sendiri (tanpa paksaan). 3) Ṣigāt
rujū’ untuk memperbaiki hubungan antara (ucapan): Ṣarīḥ (terang-terangan), Kināyah
keduanya. Bisa jadi makruh apabila (sindiran) (keterangan surah Al-Baqarah/2:
perceraian lebih bermanfaat bagi kehidupan 228 dan Aṭ-Ṭalāq/65: 2).
mereka, dan bisa menjadi haram apabila
menyebabkan satu pasangan, baik istri

Hal-hal yang Berkaitan dengan Pernikahan

6. Ḥaḍānah (balig). Sekalipun anak tersebut diasuh
oleh ibunya dan tinggal bersamanya,
Pengertian Ḥaḍānah adalah “mengasuh namun nafkah belanjanya tetap menjadi
dan memelihara anak kecil yang belum tanggung jawab ayahnya (keterangan
dapat mengatur dan menjaga dirinya H.R. Abu Daud dan Hakim). Syarat-
sendiri.” Persoalan Ḥaḍānah timbul syarat menjadi Ḥaḍānah: Berakal sehat,
apabila terjadi perceraian antara suami- Merdeka, Melaksanakan ajaran agama,
istri, sementara mereka mempunyai Dapat menjaga kehormatan dirinya,
anak yang belum mumayyiz (masih kecil Dapat dipercaya, Menetap bersama
dan belum balig). Keadaan seperti ini anak yang dididiknya
menjadikan istri lebih berhak mengasuh
anak tersebut sampai anak itu mengerti
dan dapat mengatur dirinya sendiri

Perkawinan Menurut UU No. 1 Tahun 1974

a.Dalam UU No. 1 tahun 1974 2. Pencatatan Perkawinan
pasal 2 ayat (1) ditegaskan
bahwa perkawinan sah apabila Dalam UU No. 1 tahun 1974 pasal 2 ayat (2) dinyatakan
dilakukan menurut hukum bahwa setiap perkawinan dicatat menurut peraturan
agama masing-masing. perundang-undangan yang berlaku. Kemudian dirinci
agar:
Selanjutnya dijelaskan:
a. Terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat
a.Perkawinan sah apabila dilakukan Islam Indonesia.
menurut Hukum Islam.
b. Pencatatan nikah harus dilakukan oleh Pegawai
b.Perkawinan menurut Hukum Pencatat Nikah.
Islam adalah akad yang sangat
kuat untuk menaati perintah Allah, c. Setiap perkawinan harus dilaksanakan di hadapan
dan pelaksanaannya merupakan pengawas Pegawai Pencatat Nikah.
ibadah.
d. Perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan
Pegawai Pencatat Nikah tidak mempunyai ketentuan

hukum.

Perkawinan Menurut UU No. 1 Tahun 1974

3. Tujuan dan Batasan-batasan Poligami Pengadilan hanya memberi izin berpoligami apabila:

• Dalam UU No. 1 tahun 1974 pasal 3 ayat (12) a. Istri tidak dapat menjalankan kewajibannya
dinyatakan “Pada azasnya bahwa dalam suatu sebagai istri.
perkawinan seorang pria hanya boleh
mempunyai seorang istri, sementara seorang b. istri mendapat cacat badan atau penyakit
perempuan hanya boleh mempunyai seorang yang tidak dapat disembuhkan.
suami.”
c. Istri tidak dapat melahirkan keturunan.
• Pengadilan memberi izin kepada seorang suami • Dalam mengajukan permohonan poligami,
untuk beristri lebih dari satu, apabila berikut adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi:
dikehendaki oleh pihak yang bersangkutan.
Selanjutnya, pada pasal 4 dan 5 ditegaskan a. Adanya persetujuan dari pihak istri.
bahwa suami yang akan beristri lebih dari
seorang, wajib mengajukan permohonan b. Adanya kepastian bahwa suami mampu
kepada pengadilan di daerah tempat tinggalnya. menjamin keperluan hidup istri-istri dan anak-
anak mereka.

c. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil
terhadap istri-istri dan anak-anak mereka.

Hak dan Kedudukan Wanita dalam Keluarga
Berdasarkan Hukum Islam

1.Wanita dalam Islam

• Ajaran Islam menghapus seluruh bentu-
bentuk kezaliman terhadap kaum wanita,
dan mengangkat derajatnya selayaknya
seorang manusia.

• Wanita merupakan salah satu makhluk
Allah swt. Yang tentunya penciptaannya
juga mengandung hikmah, salah satunya
adalah dengan adanya wanita maka
proses berlangsungnya kehidupan
manusia akan terus berjalan sampai
datangnya Hari Akhir.

Hak dan Kedudukan Wanita dalam Keluarga
Berdasarkan Hukum Islam

2. Hak wanita dalam keluarga

• Hak menurut bahasa adalah ketetapan dan kesesuaiannya dengan realitas, sementara istilah adalah hal-hal yang
ditetapkan dengan ketentuan syar’i dan kecenderungan untuk menerapkannya.
• Hak-hak wanita dalam Islam adalah sebagai berikut:

a. Hak untuk memiliki kebebasan;
b. Hak rumah sebagai tempat privasi;
c. Hak untuk mengemukakan pendapat;

d. Hak untuk menuntut ilmu;
e. Hak terkait kepemilikan harta;
f. Hak dalam pernikahan;

g. Hak dalam berwasiat.

Hak dan Kedudukan Wanita dalam Keluarga
Berdasarkan Hukum Islam

3. Kedudukan Wanita dalam Keluarga

Allah berfirman dalam Q.S. An-Nisā’/4: 32 sebagai berikut.
‫َوَِل تَتَ َمنَّ ْوا َما فَ َّض َل اللهُ بِ ٖه بَ ْع َض ُك ْم َع ٰلى بَ ْعض ۗ ِلل ِر َجا ِل نَ ِص ْي ٌب ِم َّما ا ْكتَ َسبُ ْوا ۗ َو ِللنِ َسا ِء نَ ِص ْي ٌب ِم َّما ا ْكتَ َس ْب َن ۗ َو ْسئَـلُوا اللهَ ِم ْن فَ ْض ِل ٖه ۗ اِ َّن الل َه َكا َن بِ ُك ِل‬

﴾۳٢ :‫َش ْيء َع ِل ْي ًما ﴿النساء‬
Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian
kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi Iaki-Iaki ada bagian dari apa yang mereka usahakan.

Dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah
sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. An-Nisā’/4: 32)

Hak dan Kedudukan Wanita dalam Keluarga
Berdasarkan Hukum Islam

• Seorang suami/ayah adalah Sumber: Dokumen Penerbit
seorang pemimpin. Dia
bertanggung jawab terhadap yang
dipimpinnya, sementara seorang
istri/ibu adalah seorang pemimpin
di rumah suaminya. Dengan
demikian, kedudukan wanita
sebagai ibu dalam keluarga
memiliki peran yang sangat
penting, karena hanya wanita yang
mengandung dan melahirkan,
sehingga berlangsungnya generasi
Islami masa depan akan tetap ada.

Hak dan Kedudukan Wanita dalam Keluarga
Berdasarkan Hukum Islam

• Seorang istri mampu memberikan inspirasi kepada suami dengan kontribusinya, melalui:

a. Ketaatan sebagai bentuk bakti istri terhadap d. Cara bagaimana seorang istri dalam
suami, sepanjang ketaatan tersebut tidak menjaga harta benda suaminya, menjaga
bertentangan dengan syari'at. rahasia-rahasianya, memperhatikan sanak
saudaranya.
b. Ikhlas dan bersyukur atas pemberian suami,
meski sedikit. Dikabulkan segala e. Memberikan semangat dan motivasi kepada
keinginannya, sesuai syar'i dengan penuh suami, agar tidak mudah putus asa dalam
rasa hormat. Jika terpaksa menolak, memperjuangkan kebenaran, akibatnya
dilakukan dengan cara yang santun. suami lebih tabah, ulet, sabar, kuat dalam
menghadapi Iika-Iiku kehidupan.
c. Pelayanan seorang istri kepada suami,
mengatur makanannya dan waktunya, f. Menjaga penampilan diri, dengan menjaga
menjaga ketenangan dan istirahatnya. kecantikan lahir batin, merawat keindahan
fisik maupun psikis.

Ikhtisar

• Pernikahan adalah akad yang menghalalkan antara laki-laki dan perempuan
yang bukan mahram, yang menimbulkan hak dan kewajiban masing-masing.
Pernikahan bertujuan agar tercapai ketenteraman, memperoleh keturunan
yang sah, memenuhi kebutuhan seksual dengan cara yang halal, benar, dan
sah sesuai syariat serta terwujudnya keluarga bahagia.

• Rukun nikah terdiri atas: calon mempelai laki-laki dan perempuan, wali
mempelai perempuan, saksi, akad.

• Ṭalāq adalah memutuskan tali ikatan pernikahan.
• ‘Iddah adalah masa menuggu bagi setiap wanita yang bercerai dari suaminya,

baik cerai mati atau cerai hidup.

Ikhtisar

• Rujū’ adalah kembalinya suami kepada istri yang telah diceraikannya.

• Hak wanita dalam keluarga adalah hak mutlak yang dimiliki seorang wanita,
yaitu memiliki kebebasan, rumah sebagai tempat pribadi, mengemukakan
pendapat, menuntut ilmu, kepemilikan harta, wasiat, dan hak dalam
pernikahan.

• Kedudukan wanita dalam keluarga tergantung dari peran yang disandangnya,
terkadang sebagai ibu dan terkadang sebagai istri yang tentunya peran
tersebut sangat membantu terbentuknya keluarga yang sakinah, mawaddah,
dan waraḥmah.


Click to View FlipBook Version