The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku ini dikemas secara praktis, sederhana dan langsung tepat sasaran, agar semua pembaca
bisa membuat puisi dengan berbantuan aplikasi. Adapun tingkat kesukaran dan mudahnya
membuat puisi dengan menggunakan aplikasi penana itu ditentukan oleh tingkat pemahaman
si pembuat.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by aganiresyi4, 2023-06-08 04:20:34

Keterampilan Menulis Puisi Akrostik Berbatuan Media Audio-Visual dan Aplikasi Penana

Buku ini dikemas secara praktis, sederhana dan langsung tepat sasaran, agar semua pembaca
bisa membuat puisi dengan berbantuan aplikasi. Adapun tingkat kesukaran dan mudahnya
membuat puisi dengan menggunakan aplikasi penana itu ditentukan oleh tingkat pemahaman
si pembuat.

Keywords: keterampilan menulis,puisi teknik akrostik,media audio-visual,aplikasi penana

a.n Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual u.b. Direktur Hak Cipta dan Desain Industri Anggoro Dasananto NIP.196412081991031002 REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA SURAT PENCATATAN CIPTAAN Dalam rangka pelindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dengan ini menerangkan: Nomor dan tanggal permohonan : EC00202317983, 1 Maret 2023 Pencipta Nama : Resyi A. Gani, M.Pd., Rini Sri Indriani, M.Pd dkk Alamat : Jalan Ciheuleut RT. 002, RW. 009, Kel. Baranangsiang, Kec. Bogor Timur, Kota Bogor, Jawa Barat, Kode Pos: 16143 , Bogor, JAWA BARAT, 16143 Kewarganegaraan : Indonesia Pemegang Hak Cipta Nama : Resyi A. Gani, M.Pd., Rini Sri Indriani, M.Pd dkk Alamat : Jalan Ciheuleut RT. 002, RW. 009, Kel. Baranangsiang, Kec. Bogor Timur, Kota Bogor, Jawa Barat, Kode Pos: 16143 , Bogor, JAWA BARAT, 16143 Kewarganegaraan : Indonesia Jenis Ciptaan : Buku Judul Ciptaan : Keterampilan Menulis Puisi Teknik Akrostik Mahasiswa Berbantuan Audiovisual Penana Tanggal dan tempat diumumkan untuk pertama kali di wilayah Indonesia atau di luar wilayah Indonesia : 1 Maret 2023, di BOGOR Jangka waktu pelindungan : Berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak Ciptaan tersebut pertama kali dilakukan Pengumuman. Nomor pencatatan : 000450906 adalah benar berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Pemohon. Surat Pencatatan Hak Cipta atau produk Hak terkait ini sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.


LAMPIRAN PENCIPTA No Nama Alamat 1 Resyi A. Gani, M.Pd. Jalan Ciheuleut RT. 002, RW. 009, Kel. Baranangsiang, Kec. Bogor Timur, Kota Bogor, Jawa Barat, Kode Pos: 16143 2 Rini Sri Indriani, M.Pd Dusun Selaawi RT. 003, RW. 007, Desa Sukahayu, Kec. Rancakalong, Kab. Sumedang, Jawa Barat. Kode Pos: 45361. 3 Nur Hikmah, M.Pd. Rawageni RT. 002, RW. 009, Kel. Ratujaya, Kec. Cipayung, Kota Depok, Jawa Barat. Kode Pos: 16439 LAMPIRAN PEMEGANG No Nama Alamat 1 Resyi A. Gani, M.Pd. Jalan Ciheuleut RT. 002, RW. 009, Kel. Baranangsiang, Kec. Bogor Timur, Kota Bogor, Jawa Barat, Kode Pos: 16143 2 Rini Sri Indriani, M.Pd Dusun Selaawi RT. 003, RW. 007, Desa Sukahayu, Kec. Rancakalong, Kab. Sumedang, Jawa Barat. Kode Pos: 45361. 3 Nur Hikmah, M.Pd. Rawageni RT. 002, RW. 009, Kel. Ratujaya, Kec. Cipayung, Kota Depok, Jawa Barat. Kode Pos: 16439 Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)


1


2 KATA PENGANTAR Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh, Alhamdulilah hirobilalamin. Puji dan syukur kami panjatkan kepada Alloh SWT atas berkat dan karunianya akhirnya buku modul bahan ajar ini dapat selesai tahapan dengan judul bahan ajar “Keterampilan Menulis Puisi Teknik Akrostik Mahasiswa Berbantuan Audiovisual Penana” Penyusun menyadari dalam Menyusun bahan ajar dari hasil penelitian tim kami ini masih banyak kekurangan yang perlu perbaikan, mohon kiranya para pembaca dapat memberikan sarannya agar bahan ajar ini dapat lebih baik lagi. Dengan kerendahan hati Tim penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mensuport, memberi bantuan moril maupun materil dalam penelitian ini. Ucapan terima kasih kami haturkan kepada Yayasan Pakuan Siliwangi, Rektor UNPAK, Para-Wakil Rektor, Ketua LPPM, Dekan FKIP, Kaprodi PGSD, Teman Sejawat dan juga Mahasiswa PGSD semester V gasal tahun akademik 2022-2023 yang telah banyak memberikan bantuan kepada penyusun. Semoga kebaikan bapak ibu diberikan pahala yang setimpal. Sekali lagi penyusun haturkan banyak terima kasih atas segala dukungannya kepada penyusun untuk dapat menyelesaikan bahan ajar tepat waktu. Atas perhatiannya ucapkan terima kasih. Bogor, 27 Februari 2023 Penyusun, Resyi A. Gani, S.Kom., M.Pd. Rini Sri Indriani, M.Pd. Nur Hikmah, M.Pd.


3 PRAKATA Puisi adalah bentuk keindahan bagi setiap insan, dan siapa saja bisa membuatnya. Buku berjudul Keterampilan menulis teknik akrostik mahasiswa dengan berbnatuan Audiovisual penana, mencoba menyuguhkan dan mengemas beberapa hal penting cara membuat puisi akrostik dengan menggunakan aplikasi penanana. Buku ini dikemas secara praktis, sederhana dan langsung tepat sasaran, agar semua pembaca bisa membuat puisi dengan berbantuan aplikasi. Adapun tingkat kesukaran dan mudahnya membuat puisi dengan menggunakan aplikasi penana itu ditentukan oleh tingkat pemahaman si pembuat. Bogor, 28 Februari 2023 Penyusun, Resyi A. Gani, S.Kom., M.Pd. Rini Sri Indriani, M.Pd. Nur Hikmah, M.Pd.


4 DAFTAR PUSTAKA A. Pendahuluan...........................................................................................................................26 B. Pengertian Keterampilan Menulis Puisi.............................................................................26 C. Jenis-jenis Puisi .....................................................................................................................26 D. Teknik Akrostik Berbantuan Media Audiovisual .............................................................26 E. Teknik Puisi Akrostik Berbantuan Audiovisual ..........................................................26 F. Aplikasi Penana ..........................................................................................................26 G. Karya Cipta Puisi Mahasiswa ......................................................................................26 Puisi Arkostik "Anugrah Ronansa" ....................................................................................26 Puisi Akrostik "Sahabat Dekatku" ......................................................................................26 Puisi Akrostik " Fani Chairu Nisa" .....................................................................................26


5 A. Pendahuluan Pembelajaran sastra diarahkan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa untuk berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Mata Kuliah Kajian Teori dan Sastra Indonesia adalah mata kuliah yang mempelajari keterampilan berbahasa. Menulis diantaranya keterampilan berbahasa yang tergolong produktif, butuh proses untuk mahasiswa membuat draf kasar akhirnya menghasilkan karya berkualitas tinggi. Selama proses menulis, perlu mengikuti beberapa langkah dengan mempertimbangkan aspek menulis seperti isi, tata bahasa, koherensi, serta kosa kata atau diksi. Menurut (Sapkota, 2012) mempersiapkan proses menulis yang kompleks dengan mempertimbangkan keterampilan termasuk aspek mental, psikologis, retoris dan kritis. Diantaranya keterampilan berbahasa menulis yang diajarkan dari sejak dini, menulis puisi atau menulis kreatif puisi dan pembelajaran menulis puisi bisa dijadikan sebagai media penanaman nilai-nilai moral. Orientasi pelaksanaan Pembelajaran adalah terwujudnya generasi yang berkarakter, sebagai jawaban atas terjadinya dekadensi moral bagi generasi muda (Agung, 2011). Pelaksanaan pendidikan karakter harus mampu menginternalisasikan nilai-nilai moral yang sesuai dalam kehidupan sehari-hari, dalam berbagai aspek (Buchori & Setyawati, 2015). Karakter penting diintegrasikan dalam proses pembelajaran, untuk melahirkan generasi yang berkualitas (Tsai, 2012). Sedang menurut Gagne (Sadiman, 2009: 6) keterampilan menulis dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara itu Briggs (Sadiman, 2009: 6) berpendapat media segala alat fisik keterampilan menulis dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Keterampilan menulis sangatlah penting untuk dimiliki setiap mahasiswa sejak dini. Karena keterampilan tersebut merupakan suatu bagian yang penting dalam kegiatan komunikasi atau menyampaikan gagasannya kepada orang lain. Sebagaimana pendapat


6 Tarigan Tahun 2008 (dalam Skripsi Pradita, Intan K.:3) “menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa dipergunakan untuk komunikasi secara tidak langsung secara tidak tatap muka”, maka menulis juga merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif. Sementara itu berkenaan dengan pembelajaran menulis merupakan keterampilan menulis puisi, berdasarkan hasil observasi penelitian mahasiswa PGSD semester V Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 25 November 2022 semester V PGSD FKIP UNPAK berdasarkan mengisi instrument penelitian dengan jumlah 24 orang terdiri dari 2 orang laki-laki dan 23 orang perempuan Tahun Akademik Gasal 2022/2023. menyatakan mahasiswa mengalami hambatan ketika menulis puisi menuang ide-ide menjadi kata-kalimat puisi, masih ragu-ragu dalam mengungkapkan perasaan melalui tulisan, yakni dikarenakan (1) mahasiswa belum mampu mengembangkan tema puisi, (2) mahasiswa kesulitan dalam menentukan pilihan kata dan kurangnya kosakata yang dimiliki, (3) mahasiswa kesulitan merangkai kata-kata dalam kesatuan makna puisi, serta (4) rendahnya minat untuk menulis puisi. Untuk mempermudah dalam menulis puisi, perlu diperhatikan beberapa langkah dalam menulis puisi. Sebagaiman pendapat Stephen Spender (dalam Tarigan, 1991:48) dalam menciptakan puisi diperlukan paling sedikit lima hal, yaitu: (1) Konsentrasi; (2) Inspirasi; (3) Kenangan; (4) Keyakinan akan puisinya; (5) Lagu sebagai rangsangan untuk menulis kata-kata dalam puisi. Tahapan tersebut dituangkan ke bentuk wadah publikasi sosial yaitu karya produktif menjelma dalam audiovisual desain canva dan publikasi sosial penana yang dapat diketahui khalayak puisi berbintang. Media pembelajaran Audiovisual canva dan publikasi sosial penana menjadi alternatif untuk menyajikan puisi, dimana materi ajar pada mata kuliah media pembelajaran kelas VA pada semester gasal 2021/2022 telah menempuh materi yakni memanfaatkan media Audiovisual desain Canva (www.canva.com) dan platform web Penana(www.penana.com) untuk keperluan publikasi sosial, diyakini mampu meningkatkan daya ingat serta retensi


7 mengenai suatu tujuan belajar yang telah dipahami mahasiswa. Namun ada sebagian dosen yang belum menyajikan pembelajaran dalam memvisualisasikan materi pembelajaran. Maka dari itu, pada penelitian ini akan mengkaji tentang penggunaan media audiovisual penana untuk meningkatkan keterampilan menulis puisi pada mahasiswa. Penelitian ini akan difokuskan pada bagaimana penggunaan media audiovisual penana dapat meningkatkan keterampilan menulis puisi pada mahasiswa semester V. B. Pengertian Keterampilan Menulis Puisi 1. Keterampilan Menulis Bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulis mempunyai fungsi yang sama, yaitu untuk menyampaikan informasi. Perbedaan terletak pada cara penyampaian informasi dan tujuan penyampaianya. Penyampaian informasi dengan menggunakan rangkaian huruf, kata, ataupun kalimat, dan tanda baca disebut bahasa tulis. Bahasa lisan tentunya menggunakan bunyi-bunyi artikulasi. Hal tersebut senada dengan pendapat Tarigan (1986: 3) mengemukakan bahwa berbicara adalah kemampuan seseorang dalam mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata yang bertujuan untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan orang tersebut. Selanjutnya bahasa tulis merupakan bahasa yang dilukiskan ke dalam media sehingga orang lain dapat memahami lambang grafik tersebut. Menulis merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa ragam tulis yang bersifat produktif. Menulis dapat dikatakan keterampilan berbahasa yang paling rumit di antara jenisjenis keterampilan berbahasa lainnya. Ini karena menulis bukanlah sekadar menyalin kata-kata dan kalimat-kalimat, melainkan juga mengembangkan dan menuangkan pikiran-pikiran dalam suatu struktur tulisan yang teratur. Menulis dapat diartikan sebagai kegiatan menuangkan ide/gagasan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai media penyampai (Tarigan, 1986:15). Menurut Djago


8 Tarigan menulis berarti mengekpresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan. Sumarno (2009:5) juga mengungkapkan pendapatnya mengenai menulis yaitu: meletakkan simbol grafis yang mewakili bahasa yang dimengerti orang lain. Menulis dapat dianggap sebagai suatu proses maupun suatu hasil. Menulis merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk menghasilkan sebuah tulisan. Menurut Heaton dalam St. Y. Slamet (2008:141) menulis merupakan keterampilan yang sukar dan kompleks. M. Atar Semi (2007:14) dalam bukunya mengungkapkan pengertian menulis adalah suatu proses kreatif memindahkan gagasan ke dalam lambang-lambang tulisan. Burhan Nurgiantoro (1988: 273) menyatakan bahwa menulis adalah aktivitas aktif produktif, yaitu aktivitas menghasilkan bahasa. Berdasarkan pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan menulis merupakan kegiatan berupa penuangan ide/gagasan dengan kemampuan yang kompleks melalui aktivitas yang aktif produktif dalam bentuk simbol huruf dan angka secara sistematis sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Kegiatan menulis merupakan hasil kemampuan berbahasa yang dimiliki seseorang yang paling akhir setelah kemampuah menyimak, berbicara dan menulis (Iskandarwasid, 2011, 248). Keterampilan menulis dapat dikatakan sebagai keterampilan yang paling sulit dibandingkan tiga terampilan berbahasa lainnya. Hal ini disebabkan kemampuan menulis menghendaki penguasaan keterampilan bahasa lainnya di luar keterampilan menulis. Dalam menulis kita dapat menemukan jenis-jenis tulisan yang ditinjau dari keilmiahan karangan tersebut. Jenis-jenis tulisan (karangan) itulah yang akan kami bahas dalam makalah ini. Ditinjau dari keilmiahannya, karangan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu karangan fiksi dan karangan nonfiksi; karangan ilmiah, karangan populer, dan karangan ilmiah populer. Karangan fiksi adalah karangan yang didalamnya terdapat unsur khayal atau imajinasi pengarang. Dapat terjadi dari peristiwa yang sebenarnya atau peristiwa hasil rekaan mengarang saja. 1. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa


9 Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis ini, penulis haruslah terampil memanfaatkan grafolegi, struktur berbahasa, dan kosakata. Keterampilan menulis tidak akan datang secara otomatis, tetapi harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur. Dalam kehidupan modern ini, jelas bahwa keterampilan menulis sangat dibutuhkan. Keterampilan menulis merupakan suatu ciri dari orang yang terpelajar atau bangsa yang terpelajar. Keterampilan menulis dapat diklasifikasikan berdasarkan dua sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang tersebut adalah kegiatan atau aktivitas dalam melaksanakan keterampilan menulis dan hasil produk menulis itu. Klasifikasi keterampilan menulis berdasarkan sudut pandang kedua menghasilkan pembagian produk menulis atas empat kategori, yaitu: karangan narasi, eksposisi, deskripsi, dan argumentasi. Menulis Sebagai Suatu Cara Berkomunikasi Secara luas dapat dikatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan yang pasti terjadi sewaktu-waktu bila manusia atau binatang-binatang ingin berkenalan dan berhubungan satu sama lain. Seperti hewan-hewan lainnya, maka manusia berkomunikasi melalui gerak gerik reflex yang sederhana dan bunyi-bunyi yang tidak berupa bahasa. Akan tetapi hanya manusia sajalah yang telah mengembangkan bahasa (Webb,1975:26) proses komunikasi berlangsung melalui tiga media: visual atau non verbal, oral atau lisan, written atau tulis. Para peneliti biasanya meminta perhatian akan adanya 4 jenis aspek proses komunikasi yaitu: 1. Communicator 2. Message 3. Channel


10 4. Audience Kemajuan bagi suatu bangsa dan Negara diukur dari maju atau tidaknya komunikasi tulis bangsa tersebut. Maju atau tidaknya komunikasi tulis dapat dilihat dan diukur dari kualitas dan kuantitas hasil percetakan yang terdapat dinegara tersebut, antara lain meliputi penerbitanpenerbitan: surat kabar-surat kabar, majalah-majalah, dan buku-buku. Tulisan dipergunakan oleh orang-orang terpelajar untuk merekam, meyakinkan, melaporkan serta mempengaruhi orang lain dan maksud serta tujuan tersebut bias tercapai dengan baik oleh orang-orang (para penulis) yang dapat menyusun pikirannya serta mengutarakannya dengan jelas (mudah dipahami). Kejelasan tersebut bergantung pada pikiran, susunan organisasi, penggunaan katakata, dan struktur kalimat yang cerah. Kegiatan menulis lebih menunjukkan fungsi atau peranan intern penulis. Oleh sebab itu, kegiatan ini menjadi suatu keterampilan yang harus dilatihkan kepada seseorang. Dalam hal ini, Maugham (dalam Kartamiharja, 1971:16) berpendapat bahwa minat seseorang dapat dikembangkan menjadi suatu keterampilan dalam menulis (terutama menulis sastra) apabila dilatih dengan cara, yakni sebagai berikut: 1) Rajin membaca; 2) Berlatih terus menerus. Dalam hal ini, berlatih berlatih menangkap informasi, berpikir dan menulis; 3) Rajin mengisi buku harian dengan penuh disiplin; 4) Merantau jauh untuk melihat objek yang lebih luas untuk dijadikan objek tulisan; 5) Berlaku jujur dalam melukiskan suatu cerita yang benar; 6) Membiasakan diri setiap hari menuliskan sesuatu sehingga tumbuh minat dan merasa kekurangan dalam hidup kalau belum menulis. 1. Tujuan Keterampilan Menulis


11 Menurut Hugo Hartig merangkumnya sebagai berikut: 1) Assignment purpose (tujuan penugasan). Tujuan penugasan ini sebenarnya tidak mempunyai tujuan sama sekali. Penulis menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemauan sendiri (misalnya para siswa yang diberi tugas merangkum buku; sekretaris yang di tugaskan membuat laporan, notulen rapat) 2) Altruistic purpose (tujuan altruistic) Penulisan bertujuan untuk menyenangkan para pembaca, menghindarkan kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami, menghargai perasaan dan penalarannya , ingin membuat hidup para pembaca lebih muda dan lebih menyenangkan dengan karya itu. Tujuan altruistic adalah kunci keterbacaan sesuatu tulisan 3) Persuasive purpose (tujuan persuasive) Tujuan yang bertujuan menyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang di utarakan. 4) Informational purpose (tujuan informasional, tujuan penerangan) Tujuan yang bertujuan memberi informasi atau keterangan atau penerangan kepada para pembaca 5) Self – expressive purpose (tujuan pernyataan diri) Tujuan yang bertujuan memperkenalkan atau menyatakan diri sang pengarang kepada para pembaca 6) Creative purpose (tujuan kreatif) Tujuan ini erat berhubungan dengan tujuan pernyataan diri. Tetapi keinginan kreatifǁ disini melebihi pernyataan diri dan melibatkan dirinya dengan keinginan mencapai norma artistik, atau seni yang ideal, seni idaman. Tulisan yang bertujuan mencapai nilai artistic, nilai-nilai kesenian. 7) Problem-solving purpose (tujuan pemecahan masalah) Dalam tulisan seperti ini sang penulis ingin memecahkan masalah yang di hadapi. Sang penulis ingin menjelaskan, menjernihkan serta menjelajahi serta meneliti secara cermat pikiran-pikiran dan gagasan-


12 gagasannya sendiri agar dapat di mengerti dan di terima oleh pembaca. Setiap penulis harus mempunyai tujuan yang jelas dari tulisan yang akan ditulisnya. Menurut Suriamiharja (1996: 10), tujuan dari menulis adalah agar tulisan yang dibuat dapat dibaca dan dipahami dengan benar oleh orang lain yang mempunyai kesamaan pengertian terhadap bahasa yang dipergunakan. Sedangkan menurut Suparno (2008: 3), tujuan yang ingin dicapai seorang penulis bermacammacam sebagai berikut: 1) Menjadikan pembaca ikut berpikir dan bernalar. 2) Membuat pembaca tahu tentang hal yang diberitakan. 3) Menjadikan pembaca beropini. 4) Menjadikan pembaca mengerti. 5) Membuat pembaca terpersuasi oleh isi karangan. 6) Membuat pembaca senang dengan menghayati nilai-nilai yang dikemukakan seperti nilai kebenaran, nilai agama, nilai pendidikan, nilai sosial, nilai moral, nilai kemanusiaan dan nilai estetika. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuan menulis adalah agar pembaca mengetahui, mengerti dan memahami nilai-nilai dalam sebuah tulisan sehingga pembaca ikut berpikir, berpendapat atau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan isi tulisan. 2. Jenis-jenis Menulis Uraian jenis-jenis kegiatan menulis di atas menunjukkan kepada guru bahasa Indonesia ada banyak pilihan dalam merencanakan pembelajaran keterampilan menulis, di bawah ini dijelaskan secara singkat jenis-jenis tulisan berdasarkan isi tulisan. 1) Menulis Deskripsi Deskripsi adalah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata atas suatu benda, tempat, suasana atau keadaan. Seorang penulis deskripsi melalui tulisannya mengharapkan pembaca dapat melihat, mendengar, mencium bau, mencicipi dan


13 merasakan hal yang sama dengan penulis. Deskripsi pada dasarnya merupakan hasil dari pengamatan melalui panca indera yang disampaikan dengan kata-kata. 2) Menulis Narasi Narasi pada dasarnya adalah karangan atau tulisan yang berbentuk cerita. Seperti kalau orang bercerita tentang “mengisi liburan sekolah”, “mendaftarkan diri ke sekolah”, “pengalaman berkemah di hutan”, “kecelakaan lalu lintas di jalan raya”, atau “pertandingan olahraga”. Cerita itu tentunya didasarkan pada urut-urutan suatu kejadian atau peristiwa. Di dalam peristiwa itu ada tokoh, mungkin tokoh itu adalah penulis sendiri, teman penulis, atau orang lain, dan tokoh itu mengalami masalah atau konflik. Bisa saja dalam cerita itu menghadirkan satu konflik atau serangkaian konflik yang dihadapi oleh tokoh dalam ceritamu itu. Jadi, dalam sebuah narasi terdapat tiga unsur pokok, yaitu : peristiwa, tokoh, dan konflik. Ketiga unsur itu diramu menjadi satu dalam sebuah jalinan yang disebut alur atau plot. Dengan demikian, narasi adalah cerita berdasarkan alur. Sering juga narasi diartikan sebagai cerita yang didasarkan pada kronologi waktu. 3) Menulis Eksposisi Eksposisi/paparan merupakan tulisan hasil peninjauan terhadap suatu hal. Penyampaian gagasan dilakukan secara analitis kronologis waktu maupun ruang. Tulisan berjenis eksposisi biasanya merupakan bagian dari karangan ilmiah. Penulisan eksposisi dilakukan dengan cara menyusun kerangka karangan yang memuat kata-kata kunci yang didukung oleh penjelasanpenjelasan, contoh-contoh, ilustrasi, maupun bukti. 4) Menulis Argumentasi Argumentasi dibentuk dari kata argumen yang berarti alasan. Paragraf argumentasi adalah paragraf yang bertujuan untuk menyatakan kebenaran dengan didukung argumen atau alasan yang sesuai. Termasuk dalam bentuk ini adalah tulisan yang bertujuan mengajak, membujuk, dan mempengaruhi orang lain. Argumentasi sering pula dibedakan dengan persuasi yang lebih bertujuan membujuk atau mempengaruhi orang lain, sementara argumentasi diartikan sebagai tulisan yang isinya bersifat menyakinkan suatu hal kepada orang lain terhadap suatu hal. Paragraf argumentasi dapat


14 disusun dengan pola sebab-akibat. Artinya, paragraf tersebut diawali dengan kalimat utama yang merupakan sebab dan diikuti oleh beberapa akibat sebagai kalimat penjelasnya. Sebaliknya, paragraf argumentasi juga dapat disusun dengan pola akibatsebab yang berarti paragraf tersebut diawali dengan akibat yang merupakan kalimat utama dan diikuti oleh beberapa sebab sebagai kalimat penjelasnya. 3. Meningkatkan Keterampilan Menulis Untuk meningkatkan keterampilan menulis di kalangan pelajar, perlu diketahui faktor penyebab menurunnya kemampuan menulis, di antaranya: 1) Faktor Internal (dari dalam) yaitu faktor yang berasal dari diri kita sendiri atau timbul secara spontan dari hati nurani kita. Macam-macam faktor internal yang mempengaruhi keterampilan menulis yaitu: (a) Kurangnya minat menulis para pelajar (b) Kesulitan menuangkan ide (c) Malas membaca, jika seseorang sudah tidak tertarik untuk membaca maka sulit 2) Faktor Eksternal (dari luar) yaitu faktor yang berasal dari luar atau lingkungan sekitar. Kita sebagai makhluk sosial tidak akan lepas dari interaksi dengan sesama,baik langsung maupun dengan alat komunikasi lainnya seperti: handphone,surat, dan lain-lain. 7. Upaya-upaya meningkatkan keterampilan menulis Untuk meningkatkan keterampilan menulis sebenarnya tidak sulit, tetapi hanya membutuhkan ketelatenan dan kiat-kiat, diantaranya : 1) harus banyak membaca, arena dengan membaca kita dapat menuangkan ide-ide yang kita miliki ke dalam sebuah karya. 2) Melatih kemampuan menulis agar dapat menghasilkan karya yang baik dan benar.


15 3) Mempelajari kaidah-kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan mempelajari kaidah-kaidah penulisan tersebut kita dapat memahaminya dan bisa langsung mempraktekannya ke dalam tulisan yang kita buat. 4) Mempublikasikan hasil tulisan yang kita buat, seperti media elektronik dan cetak. Agar kita dapat mengetahui seberapa besar kemampuan kita. 5) Selalu percaya diri dengan apa yang kita tulis. Jika kita tidak percaya dengan apa yang kita tulis maka kita tidak akan puas dengan hasilnya. 8. Fungsi Keterampilan Menulis Pada prinsipnya fungsi utama dari tulisan adalah sebagai alat komunikasi yang tidak langsung. Menulis sangat penting bagi pendidikan karena memudahkan para pelajar berfikir. Juga dapat menolong kita berfikir kritis. Juga dapat mempermudahkan kita merasakan hubungan-hubungan, memperdalam daya tanggap atau persepsi kita, memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi, menyusun urutan bagi pengalaman. Menurut Suriamiharja (1996: 10), tujuan dari menulis adalah agar tulisan yang dibuat dapat dibaca dan dipahami dengan benar oleh orang lain yang mempunyai kesamaan pengertian terhadap bahasa yang dipergunakan. Sedangkan menurut Suparno (2008: 3), tujuan yang ingin dicapai seorang penulis bermacam-macam sebagai berikut. a. Menjadikan pembaca ikut berpikir dan bernalar. b. Membuat pembaca tahu tentang hal yang diberitakan. c. Menjadikan pembaca beropini. d. Menjadikan pembaca mengerti e. Membuat pembaca terpersuasi oleh isi karangan f. Membuat pembaca senang dengan menghayati nilai-nilai yang dikemukakan seperti nilai kebenaran, nilai agama, nilai pendidikan, nilai sosial, nilai moral, nilai kemanusiaan dan nilai estetika.


16 Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuan menulis adalah agar pembaca mengetahui, mengerti dan memahami nilai-nilai dalam sebuah tulisan sehingga pembaca ikut berpikir, berpendapat atau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan isi tulisan. 4. Puisi Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian puisi atau sajak adalah jenis sastra dengan bahasa yang terikat oleh irama, rima, serta susunan bait dan larik. Puisi mampu mengungkapkan emosi maupun pengalaman penulis yang berkesan kemudian dituangkan dengan gaya bahasa yang berima sehingga semakin menarik untuk dibaca. Beberapa ahli sastra kenamaan pun menjelaskan pengertian puisi. Sebut saja H.B. Jassin yang memaparkan bahwa puisi merupakan karya sastra yang diucapkan dengan perasaan. Puisi juga memiliki pikiran atau gagasan serta tanggapan terhadap kejadian tertentu. Selain H.B Jassin, Sumardi juga menjelaskan bahwa puisi sebagai bentuk karya sastra yang singkat namun padat dengan makna kiasan atau imajinatif serta diberi irama bunyi. Ini juga menjadikan suatu puisi memiliki daya pikat tersendiri. Gagasan atau pemikiran penyair (sebutan untuk pembuat puisi) dikemas menggunakan ragam pilihan kata indah untuk memikat pembaca atau pendengar. Itulah mengapa puisi memiliki nilai estetika tersendiri, karena setiap penyair memiliki ciri khasnya masing-masing. Secara umum, ciri-ciri puisi terdiri dari: a. Diksi yang digunakan lebih indah dan memiliki unsur kiasan b. Diksi tergantung dari rima persajakan agar menghasilkan irama indah c. Puisi memiliki bait-bait yang terdiri dari beberapa baris d. Tidak terlalu memperhatikan tokoh dan alur e. Seringkali menggunakan majas C. Jenis-Jenis Puisi


17 1. PuisiLama Merupakan jenis puisi berupa syair, pantun, mantra, talibun, atau gurindam. Jenis puisi lama ini memiliki ciri khas tersendiri. Misalnya puisi lama berupa mantra yang diciptakan dalam kepercayaan animisme. Maka tidak heran bila puisi ini memiliki sisi magis. Mantra tersebut nantinya dibacakan ketika ritual kebudayaan berlangsung. Sedangkan pantun merupakan jenis puisi lama dengan sajak a b a b dan terdiri dari empat baris, di mana dua baris pertama merupakan sampiran (pembuka) dan dua baris kedua berupa isi. Sama seperti talibun yang juga terdiri dari sampiran dan isi, meskipun barisnya bisa lebih dari empat asalkan jumlahnya genap. Berbeda dari pantun, rima dari puisi lama syair adalah a a a a, sama seperti gurindam yang terdiri dari dua baris. Isi baris pertama dalam gurindam berupa sebab, sedangkan baris kedua berisi akibat. 2. Ciri-ciri dari puisi lama yaitu: a. Gaya bahasa cenderung statis atau klise b. Biasanya berasal dari sastra lisan untuk disampaikan oleh satu individu ke individu lainnya c. Penyair cenderung anonim atau tidak diketahui 3. Berpegangan pada ketentuan irama, rima, baris, intonasi, serta bunyi dari puisi tersebut Puisi Baru atau Modern Pengertian puisi baru atau modern adalah bentuk puisi yang tidak terikat oleh jumlah baris, rima, irama, atau peraturan lain. Jenis puisi modern yaitu: a) Puisi naratif, yaitu puisi yang dihadirkan untuk memaparkan suatu cerita. Jenis puisi ini bersifat romansa, epic, dan balada. b) Puisi lirik, yaitu digunakan untuk memaparkan gagasan penyair seperti ode, serenade, dan elegi.


18 c) Puisi deskriptif, yaitu puisi yang berisi ungkapan, pendapat, atau kesan penyair. Contohnya satire atau puisi lain yang bersifat kritik sosial. Selain itu, puisi modern juga memiliki ciri-ciri tersendiri, seperti: a) Gaya bahasa bersifat dinamis dan tidak ada acuan tertentu sehingga dapat berubahubah sesuai keinginan penyair. b) Biasanya puisi modern terdiri dari dua hingga empat baris per bait namun tidak begitu terpaku pada rima di tiap barisnya. c) Isi puisi modern seringkali mengungkapkan keresahan yang melanda diri penyair. d) Satu baris bisa saja hanya mengandung gatra atau kata yang memiliki satu fungsi sintaksis seperti subjek, predikat, objek, dan keterangan. Menulis puisi adalah kemampuan mengungkapkan gagasan, pendapat dan perasaan kepada pihak lain dengan menggunakan bahasa tulis yang bersifat literer (Depdiknas 2003 : 8). Ketepatan pengungkapan gagasan harus didukung oleh ketepatan bahasa sastra yang digunakan. Selain komponen kosakata dan konteks kesastraan, ketepatan bahasa sastra juga didukung oleh konteks dan penggunaan majas. Menurut Arswendo Atmowiloto (dalam Hasnun 2004 : 146) menulis puisi di samping memiliki minat dan ambisi terus meneus, juga bisa menulis dan membaca. Selain membaca dan menulis, untuk bisa menulis puisi perlu latihan secara rutin. Latihan menulis ini bertujuan untuk mempertajam pengamatan dan meningkatkan kemampuan bahasa (Rahmanto 1988:118). Menulis puisi pada hakikatnya adalah mengakibatkan apa yang dilihat, dirasakan, dan dipikirkannya. Proses pengimajian atau pengembangan lahir dan batin merupakan awal dari proses kreatif (Depdiknas 2004:73). D. Teknik Akrostik Berbantuan Media Audiovisual Teknik adalah cara yang dilakukan orang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode, yaitu cara yang harus dilakukan agar metode yang dilakukan berjalan efektif dan efisien. Pada dasarnya teknik menunjukkan cara yang dilakukan seseorang yang sifatnya lebih


19 bertumpu pada kemauan dan pribadi seseorang. Susanto Sofyan (2019) akrostik merupakan kata benda, yang artinya sebuah sajak (kata lain dari puisi, yang huruf awal baris-barisnya menyusun sebuah kata atau beberapa kata apabila dibaca secara vertikal dari atas kebawah). Pola rima dan Cahyanti, Asri & Ulfa |202 juga larik dapat bervariasi karena puisi akrostik lebih dari puisi deskripsi yang mana menjelaskan kata yang dibentuk. Harley dan Noyes dalam Abduh (2018) mengungkapkan bahwa akrostik menggunakan nama kunci atau ungkapan yang ditulis secara vertikal dan setiap puisi dimulai dengan huruf awal dari nama kunci atau ungkapan tersebut. Media audiovisual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media auditif (mendengar) dan visual (melihat). Paduan antara gambar dan suara membentuk karakter sama dengan obyek aslinya Ani Cahyadi (2019). Media audiovisual adalah media yang secara serentak dapat menampilkan gambar dan suara dalam waktu yang bersamaan, yang berisi pesan-pesan pembelajaran. Media pembelajaran ini mempunyai lebih dari satu komponen sehingga merupakan integrasi lebih dari beberapa unsur sehingga dapat menampilkan suara dan gambar bergerak secara serentak telah direncanakan secara matang, sistematis dan logis sesuai dengan tujuan dan tingkat kesiapan siswa yang menerimanya Muhammad Ramli (2012). Menurut beberapa pendapat ahli diatas maka dapat disimpulkan teknik akrostik berbantuan media audiovisual adalah cara yang dilakukan seseorang dalam menulis puisi dengan menentukan sebuah atau beberapa kata terlebih dahulu dan kemudian disusun secara vertikal dari atas kebawah. Pada setiap awal baris dan membentuk bait. Kemudian mengkait-kaitkan huruf awal tersebut dengan ide, gagasan, pendapat atau perasaan seseorang kedalam wujud sajak-sajak indah. Yang dimana dalam proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan media audiovisual untuk menyampaikan materi sehingga mengaktifkan indera pendengaran dan


20 penglihatan siswa yang menjadikan penyajian isi pembelajaran keterampilan menulis puisi mudah dipahami.. Berikut beberapa contoh puisi akrostik yang ditulis oleh mahasiswa, puisi ditulis berdasarkan nama mereka masing-masing yang temanya adalah cita-cita. 1. Shiba Sabila Semua yang telah kulalui bukanlah hal sia-sia Harapan hidupku bukanlah biasa Impianku adalah Berdoa pada Tuhan sudah tertanam dalam jiwa Akhir dari semua penantianku semoga bahagia 2. Hikmah Hal yang selalu aku harapkan menjadi nyata, yaitu Ingin bisa menguasai berbagai Bahasa di seluruh dunia, namun Keinginanku yang paling sederhana saat ini, yaitu Membahagiakan kedua orang tua, dan menjadi Anak yang bisa mengangkat derajat orang tua dengan menjadi anak sholehah Hanya sesederhana itu namun aku ingin 4. Cyndi Aulia Cita-citaku… suatu impian Yang kuinginkan Nanti kelak Diberi kemudahan Illahi Ta’ala Andai kubisa Untuk mengejar


21 Lalu kugapai Indahnya ciptaanmu Allah Ta’ala 5. Tarisa Terus kukejar apa yang selalu kuinginkan dalam angan Apa pun rintangannya akan kucoba untuk lawan Relawan itulah cita-cita yang kuimpikan Inginku meraihnya walaupun aku tahu banyak tantangan yang menghadang Selama aku mampu, aku akan terus berjuang Apa pun hasilnya, akan kuterima dengan hati yang lapang Selain menulis puisi akrostik dari nama sendiri, mahasiswa juga ada yang membuat contoh pengalaman pribadi. Contoh berikut bisa dilihat di bawah ini. 1. Rindu Ibu Rasa pilu menghantui setiap mimpi indahku Ingin rasanya aku menggapai paras cantikmu Namun apalah daya tangan tak kuasa Di mana aku bisa menggapaimu kembali Untuk bersimpuh di kakimu Ibu, aku sangat rindu padamu Biarkan belaian kasihmu menyentuhku Untuk menuntunku di setiap langkahku 2. Pergi ke Dunia


22 Pergi ke kota luasnya dunia Entah sampai kapan akan berakhir Rahasia dunia masih tersimpan Gaung alam pun masih menggema Indahnya dunia berkilau di depan mata Kalau kumati, tak bisa kulihat dunia Entah kapan kan kulihat dunia lagi Dunia-Mu lebih tinggi dari menara Untuk itu aku kan pergi lagi Namun tak bisa dicari Indahnya dunia-Mu di siang hari Air mataku pun kering jika tak melihat dunia-Mu lagi 3. Aku Kangen Aku terpuruk dalam sepi Kau tinggalkan aku sendiri Ulahmu yang meninggalkan aku Kini aku merasa kesepian Aku kangen kamu sayang Nanti bila kau tinggalkan aku Gugur sudah impian Engkau selalu yang kukenang Nan jauh dihatiku 4. Sepak Bola Sudah lama saya suka bola Entah di mana saya bermain bola


23 Pada waktu kecillah saya suka bola Aku pun terasa gembira kalau ada bola Kepada siapa saya belajar bola Banyak orang yang suka bola Oh….bola ke mana engkau pergi Langkahku sudah tak kuat untuk mengejarmu Andai aku jadi pemain sepak bola E. Teknik Puisi Akrostik Berbantuan Audiovisual Puisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Rahmat Djoko Pradopo medefinisikan puisi sebagai karangan terikat. Keterbatasan puisi tersebut berdasarkan keterikatan atas (1) Banyak baris dalam tiap bait, (2) Banyak kata dalam tiap baris, (3) Banyak suku kata dalam tiap baris, (4) Rima, dan (5) Irama. Puisi adalah bentuk sastra yang menggunakan bahasa yang singkat, padat, dan menekankan penggunaan kata-kata bermakna konotatif, penggunaan gaya bahasa atau majas, serta memerlukan kemerduan pengungkapan. Teknik adalah cara yang dilakukan orang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode, yaitu cara yang harus dilakukan agar metode yang dilakukan berjalanefektif dan efisien. Pada dasarnya teknik menunjukkan cara yang dilakukan seseorang yang sifatnya lebih bertumpu pada kemauan dan pribadi seseorang. Sebagaimana pendapat Susanto Sofyan (2019) akrostik merupakan kata benda, yang artinya sebuah sajak (kata lain dari puisi, yang huruf awal baris-barisnya menyusun sebuah kata atau beberapa kata apabila dibaca secara vertikal dari atas kebawah). Pola rima dan Cahyanti, Asri & Ulfa, 2002 juga larik dapat bervariasi karena puisi akrostik lebih dari puisi deskripsi yangmanamenjelaskan kata yang dibentuk. Harley dan Noyes dalam Abduh (2018) mengungkapkan bahwa akrostik menggunakan nama kunci atau


24 ungkapan yang ditulis secara vertikal dan setiap puisi dimulai dengan huruf awal dari nama kunci atau ungkapan tersebut. Media audiovisual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media auditif (mendengar) dan visual (melihat). Paduan antara gambardan suara membentuk karakter sama dengan obyek aslinya Ani Cahyadi (2019). Media audiovisual adalah media yang secara serentak dapat menampilkan gambar dan suara dalam waktu yang bersamaan, yang berisi pesan-pesan pembelajaran. Media pembelajaran ini mempunyai lebih dari satu komponen sehingga merupakanintegrasi lebih dari beberapa unsur sehingga dapat menampilkan suara dan gambarbergerak secara serentak telah direncanakan secara matang, sistematis dan logis sesuai dengan tujuan dan tingkat kesiapan siswa yang menerimanya Muhammad Ramli (2012). Menurut beberapa pendapat ahli diatas maka dapat disimpulkan teknik akrostikberbantuan media audiovisual adalah cara yang dilakukan seseorang dalam menulis puisi dengan menentukan sebuah atau beberapa kata terlebih dahulu dan kemudiandisusun secara vertikal dari atas kebawah. Pada setiap awal baris dan membentuk bait. Kemudian mengkait-kaitkan huruf awal tersebut dengan ide, gagasan, pendapat atau perasaan seseorang kedalam wujud sajak-sajak indah. Yang dimanadalam proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan media audiovisual untuk menyampaikan materi sehingga mengaktifkan indera pendengaran dan penglihatan siswa yang menjadikan penyajian isi pembelajaran keterampilan menulis puisi mudah dipahami. Puisi dapat dimaknai sebagai kemampuan mengungkapkan perasaan, buah pemikiran dan secara jelas tercemin dari kata-kata yang dirangkai sehingga dapat membuahkan gambaran situasi yang dialami penulis, keterampilan menulis mahasiswa yang akan dicapai pada penelitian ini dilihat dari kemampuan mahasiswa menuangkan pikiran, ide dan perasaan


25 ungkapan jiwa terhadap objek nyata melalui pengamatan lingkungan sekitarnya dituangkan melalui media audiovisual canva dan publikasi sosial penana berbasis android. Audiovisual merupakan media yang mampu menampilan gambar serta suara jadi selain gambar media tersebut bisa menghasilkan sumber suara, penggabungan kedua unsur gambar dan suara tersebut dapat memiliki kemampuan yang baik. Dijelaskan Andayani (2014:52) audiovisual kumpulan media audio serta visual disebut media penglihatan pendengaran serta membuat pemaparan isi materi dengan baik. Diperkuat oleh Rusman (2013:63) media gabungan audio serta visual biasa disebut pendengaran penglihatan. Selanjutnya Rahma, dkk (2020:106) dalam jurnal internasionalnya menerangkankan media audio visual cara dilihat langsung serta dapat tersentuh oleh mahasiswa. Sedangkan pendapat Wati (2016:44) audio visual dimanfaatkan dalam kegiatan menuntut ilmu dalam memudahkan menulis serta kata yang disampaikan dalam penyampaian ilmu pengetahuan, ide, serta sikap dalam pembelajaran. Menurut Arsyad (2017:4) alat didalamnya berisi pesan bernilai edukatif yang berbentuk gambar atau suara untuk merangsang pikiran audien. Menurut beberapa pendapat bahwa menulis puisi menggunakan media audiovisual adalah cara yang dilakukan seseorang menulis puisi dengan menentukan beberapa kata terlebih dahulu dan disusun secara vertikal dari atas kebawa, setiap awal baris dan membentuk bait, kemudian mengkait-kaitkan huruf awal tersebut dengan ide, gagasan, pendapat atau perasaan seseorang kedalam wujud sajak-sajak indah, dimana proses pembelajaran menerapkan media audiovisual, menyampaikan materi sehingga mengaktifkan indera pendengaran dan penglihatan mahasiswa menjadikan penyajian isi pembelajaran keterampilan menulis puisi mudah dipahami. D. Aplikasi Penana Penana adalah platform publikasi sosial yang dirancang untuk calon penulis memiliki ide puisi, menyertakan fitur-fitur inti dari platform web (www.penana.com) untuk memberikan


26 pengalaman mobile bagi pengguna. Portal wowkeren.com dalam artikelnya penana dirancang untuk calon penulis memiliki puisi dituangkan melalui berbagai cerita dalam format serial maupun kolaboratif dan keperluan publikasi sosial mengekspresikan puisi tersebut melalui penana berbasis Android. Jadi penulis akan berkolaboratif dengan penulis puisi lainnya. F. Karya Cipta Puisi Mahasiswa Puisi Akrostik Berbantuan Audio Visual Penana JUDUL PUISI Puisi Anugrah Ronan https://www.youtube.com/watch?v=A1q4hGEscKk Puisi Arkostik "Anugrah Ronansa" Puisi Erland Berikut link video YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=Xi669QEgIgo&t=10 Penerapan Penana Puisi Erland Novendra Puisi Fani Chairu Nisa https://www.youtube.com/watch?v=VWuPkuQA_-Y Puisi Akrostik "Sahabat Dekatku"


27 DESKRIPSI BAHAN AJAR Buku berjudul Keterampilan Menulis Puisi Teknik Akrostik Mahasiswa Berbantuan Audiovisual Penana (Bahan Ajar Mata Kuliah Kajian Teori dan Sastra Indonesia) ini berisi penjelasan mengenai keterampilan berbahasa dalam menulis keterampilan puisi memerlukan teknik akrostik, haruslah terampil memanfaatkan grafolegi, struktur berbahasa, dan kosakata, menulis tidak akan datang secara otomatis, tetapi harus melalui latihan secara terus menerus dan melakukan praktik. Menulis merangkaikan kosakata tertuang pada puisi merupakan kata kunci yang menguatkan analisis pada data metode penelitian yang dipilih. Buku ini juga menguraikan salah satu jenis menulis puisi akrostik dengan menghadirkan contoh konkret puisi karya cipta dosen dan mahasiswa dengan mengggunakan berbantuan media pembelajaran Audiovisual dengan desain aplikasi canva dan audio original puisi mahasiswa dan penggunaan aplikasi Penana Android keperluan publikasi puisi media sosial dituangkan melalui berbagai cerita dalam format serial maupun kolaboratif, mengekspresikan puisi berkolaboratif dengan penulis puisi. Untuk menguatkan penggunaan aplikasi penana ini pada bab selanjutnya disajikan cara penginstalan dan panduan penggunaan aplikasi Penana.


28 DAFTAR PUSTAKA Agung, L. (2011). ‘Character Education Integration’. International Journal of History Educaation, 12(2), 392–403. Anonim. Penana. www.penana.com, [diakses tanggal 14 Maret 2022]. Arista, P., Kaswari, K., & Kresnadi, H. (2018). ‘Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual Terhadap Keterampilan Menulis Puisi Di Kelas V Sekolah Dasar Negeri 21 Pontianak Barat’. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, 7(9). Arsyad, A., 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers. Buchori, A., & Setyawati, R. D. (2015). ‘Development learning model of charactereducation through e-comic in elementary school’. International Journal of Education and Research, 3(9), 369–386. Endah Dwi Cahyanti,, dkk. 2021. Keterampilan Menulis Puisi Berbantuan Audiovisual. 2021, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan STKIP Kusuma Negara IIIe-ISSN 2716-0157 Semnara 2021 STKIP Kusuma negara. Moleong, Lexy J. 2009. ‘Metode Penelitian Kualitatif’. Bandung: Remaja Rosdakarya. Semi, M. Atar. 2007. ‘Dasar-Dasar Keterampilan Menulis’. Rev.ed. Bandung: Penerbit Angkasa. Sugiyono. 2012. ‘Metode Penelitian Pendidikan’ (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabet. Portal berita artikel. Penana. https://www.wowkeren.com/berita/tampil/00327839/6.html Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menulis sebagai SuatuKeterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Tsai, K. C. (2012). ‘Bring character education into classroom’. European Journal of Educational Research, 1(2), 163–170. Tarigan, Henry Guntur. 2008. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Cahyadi, Ani. (2019). Pengembangan Media Dan Sumber Belajar: Teori Dan Produser, Cet-1: Banjarmasin: Laksita Indonesia. Dalman. (2018). Keterampilan Menulis. Depok. PT. Raja Grafindo Persada. Hamsa, H., Sukirman, S., & Firman, F. (2019). Menulis Puisi Dengan Teknik Akrostik. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 8(2), 67-74. Melasarianti, L., Krisnawati, V., & Martha, N. U. (2019). Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi Melalui Teknik Akrostik Berbasis Media Gambar Pahlawan Nusantara. Jinop (Jurnal Inovasi Pembelajaran), 5(1), 55-64. Mujiyanto, G., & Ivana, L. (2019). Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi DenganTeknik Akrostik. Dialektika: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 6(2), 126-138. Nurhikmah, N., & Halimah, A. (2020). Pengaruh Penggunaan Teknik Akrostik Terhadap Kemampuan Menulis Puisi Pada Peserta Didik Kelas V Sd Inpres Panaikang Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa. Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, 2(2). Oktaviana, E., Yudha, C. B., & Ulfa, M. (2019). Upaya Meningkatkan KemampuanMenulis Puisi Dengan Menggunakan Metode Picture And Picture Di Kelas Iv Sdn Kalisari 03 Jakarta Timur. Simposium Nasional Mulitidisiplin (Sinamu), 1. Putri Maharani Eka. (2019). Puisi Akrostik: Cara Mudah Membuat Puisi. Kuningan. Goresan Pena. Putriningsih, A. (2017). Peningkatan Keterampilan Menulis Puisi Dengan Teknik Akrostik Dan Media Gambar Pada Siswa Kelas VII SMP NEGERI 33 Purworejo Tahun Pelajaran 2016/2017 (Doctoral Dissertation, Pbsi-FKIP).


29 Ramli, Muhammad. (2012). Media Dan Teknologi Pembelajaran, Cet-1: Banjarmasin: IAIN Antasari Press. Rohilah, R., Asri, S. A., & Ayuningrum, S. (2020, December). Meningkatkan Keterampilan Menulis Puisi Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Melalui Metode Estafet Writing. In Prosiding Seminar Nasional Pendidikan STKIP Kusuma Negara II (Pp. 148-155). Sudarma, P. (2020). Mengupas Puisi. CV Media Educations. Susanto, Guntur Henry. (2018). Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa: Bandung: Angkasa. Utami, P. P., Widiatna, A. D., Herlyna, Ariani, A., Karyati, F., & Nurvrita, A. S. (2021). Does civilservant teachers’ job satisfaction influence their absenteeism?International Journal of Evaluation and Research in Education, 10(3), 854–863. https://doi.org/10.11591/ijere.v10i3.21625 Yusman, L., & Defita, L. (2020). Meningkatkan Kemampuan Menulis Puisi Melalui Teknik Akrostik Dengan Memanfaatkan Lingkungan Sekolah Pada Siswa Kelas V. Jurnal Elementary: Kajian Teori Dan Hasil Penelitian Pendidikan Sekolah Dasar, 3(2), 48-52.


Click to View FlipBook Version