Dian Sukmawati, S. Pd
Bahan Ajar
Masuknya Agama
dan Kebudayaan
Hindu-Buddha Ke
Indonesia
PETA KONSEP
Berita Dari
India
A
G Sumber Berita Dari Cina
A Berita Dari Yunani
M MASUKNYA AGAMA Prasasti, Kitab dan
DAN KEBUDAYAAN Bangunan Kuno
A HINDU-BUDDHA
D
A
N Teori Brahmana
K Teori Teori Ksatria
E
B Teori Waisya
U
D Teori Sudra
A
Y
A Teori Arus Balik
A
N
H
I
N Bentuk Interaksi
D PERKEMBANGAN
U AGAMA DAN
B KEBUDAYAAN
U
HINDU-BUDDHA Bentuk Akulturasi
D
D
H
A
PENDAHULUAN
A. Identitas Modul
Mata Pelajaran : Sejarah Indonesia
Kelas /Fase : X /E
Alokasi Waktu : 2 X 45 Menit (1 Pertemuan)
Judul Modul : Masuknya Agama dan Kebudayaan Hindu-Buddha Di Indonesia.
B. Capaian Pembelajaran
Peserta didik memahami konsep dasar kerajaan Hindu-Buddha; menganalisis manusia dalam
kerajaan Hindu-Buddha; menganalisis kerajaan Hindu-Buddha dalam ruang lingkup
lokal,nasional, dan global; menganalisis kerajaan Hindu-Buddha dalam dimensi masa lalu,
masa kini, dan masa depan; menganalisis kerajaan Hindu-Buddha dari pola perkembangan,
perubahan, keberlanjutan, dan keberulangan; menganalisis kerajaan Hindu-Buddha secara
diakronis (kronologi) maupun sinkronis.
C. Alur Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran berbasis masalah pada lingkup materi Teori-teori
masuknya agama dan kebudayaan Hindu – Buddha, diharapkan siswa mampu :
1) Menganalisis berbagai teori tentang proses masuknya agama dan kebudayaan Hindu
dan Buddha ke Indonesia.
2) Mengolah informasi tentang proses masuknya agama dan kebudayaan Hindu dan
Buddha ke Indonesia serta pengaruhnya pada kehidupan masyarakat Indonesia masa
kini.
3) Menuangkan hasil analisis dan pengolahan informasi tentang proses masuknya
agama dan kebudayaan Hindu dan Buddha ke Indonesia dalam bentuk tulisan.
D. Deskripsi Singkat Materi
Halo.. Siswa hebat, kamu tahu tidak jika Indonesia oleh
UNESCO dianggap sebagai negara Super power dalam bidang
kebudayaan?. Hal tersebut tidak terlepas dari keberagaman
udaya yang ada di Indonesia. Salah satu keberagaman yang
patut kita syukuri adalah terkait kehidupan beragama di
Indonesia yang sangat menjaga toleransi diantara
pemeluknya. Beberapa agama yang diakui oleh negara adalah
Hindu dan Budha. Kajian sejarah mencatat perjalanan
panjang hingga dua agama tersebut dapat sampai di
kepulauan Nusantara. Diskusi dan perdebatan mengenai
kedatangan kedua agama tersebut ke Nusantara menambah
khasanah kajian sejarah di Indonesia. Nah dalam modul ini,
kita akan membahas tentang kedatangan agama Hindu
Budha ke Nusantara. Fokus pembahasan akan meliputi mengenai teori- teori kedatangan,
perkembangan, dan proses akulturasi kebudayaan Hindu Budha dengan kebudayaan
masyarakat lokal di Nusantara. Ayo terus simak penjelasannya, pasti akan seru deh dan
kalian akan menemukan hal-hal yang baru dalam modul ini!.
E. Petunjuk Penggunaan Modul
BACALAH MODUL INI HINGGA TUNTAS
DAN PAHAM
IKUTI PETUNJUK KEGIATAN BELAJAR
YANG ADA PADA MODUL
CEK PEMAHAMANMU MELALUI
KEGIATAN EVALUASI
BELAJARLAH SECARA MANDIRI JIKA
MEMERLUKAN BANTUAN HUBUNGI
GURU
JANGANMELIHAT KUNCI JAWABAN
SEBELUM MENGERJAKAN EVALUASI
COCOKAN HASIL PEKERJAANMU
DENGAN KUNCI JAWABAN YANG ADA
JIKA NILAIMU MASIH KURANG, BELAJARLAH
LAGI PEMAHAMAN TENTANG MATERI
TERSEBUT
F. Materi Pembelajaran
MASUKNYA AGAMA DAN KEBUDAYAAN
HINDU-BUDHA KE NUSANTARA
Pada materi ini kita akan belajar tentang tiga hal yaitu perkembangan agama Hindu-
Buddha di India serta capaian-capaian yang dilakukan para penguasa pada masa saat itu;
Sumber- sumber sejarah yang menjelaskan tentang kedatangan atau interaksi bangsa India
dengan masayarakat lokal. Sumber sejarah yang dimaksud meliputi sumber tertulis, benda,
maupun lisan; serta kita perlu juga membahas mengenai teori-teori kedatangan kebudayaan
Hindu Budha ke Nusantara.
a. Lahirnya Agama Hindu
Pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Hindu di India berkaitan dengan sistem
kepercayaan bangsa Arya yang masuk ke India pada 1500 SM. Kebudayaan Arya
berkembang di Lembah Sungai Indus India. Bangsa Arya mengembangkan sistem
kepercayaan dan sistem kemasyarakatan yang sesuai dengan tradisi yang dimilikinya.
Sistem kepercayaan itu berupa penyembahan terhadap banyak dewa yang dipimpin oleh
golongan pendeta atau Brahmana. Keyakinan bangsa Arya terhadap kepemimpinan kaum
Brahmana dalam melakukan upacara ini melahirkan kepercayaan terhadap Brahmanisme.
Selanjutnya, golongan ini juga menulis ajaran mereka dalam kitab-kitab suci yang
menjadi standar pelaksanaan upacara-upacara keagamaan. Kitab suci agama Hindu
disebut Weda (Veda), Agama Hindu bersifat Politheisme, yaitu percaya terhadap banyak
dewa yang masing-masing dewa memiliki peranan dalam kehidupan masyarakat. Ada
tiga dewa utama dalam agama Hindu yang disebut Trimurti terdiri dari Dewa Brahma
(dewa pencipta), Dewa Wisna (dewa pelindung), dan Dewa Siwa (dewa perusak). Sistem
kemasyarakatan yang dikembangkan oleh bangsa Arya adalah sistem kasta. Sistem kasta
mengatur hubungan sosial bangsa Arya dengan bangsa-bangsa yang ditaklukkannya.
Sistem ini membedakan masyarakat berdasarkan fungsinya. Golongan Brahmana
(pendeta) menduduki golongan pertama. Kesatria (bangsawan, prajurit) menduduki
golongan kedua. Waisya (pedagang dan petani) menduduki golongan ketiga, sedangkan
Sudra (rakyat biasa) menduduki golongan terendah atau golongan keempat. Sistem
kepercayaan dan kasta menjadi dasar terbentuknya kepercayaan terhadap Hinduisme.
Penggolongan seperti inilah yang disebut caturwarna.
b. Lahirnya Agama Buddha
Agama Buddha lahir sekitar abad ke-5 SM. Agama ini lahir sebagai reaksi terhadap
agama Hindu terutama karena keberadaan kasta. Pembawa agama Buddha adalah
Sidharta Gautama (563-486 SM), seorang putra dari Raja Suddhodana dari Kerajaan
Kosala di Kapilawastu. Untuk mencari pencerahan hidup, ia meninggalkan Istana
Kapilawastu dan menuju ke tengah hutan di Bodh Gaya. Ia bertapa di bawah pohon
(semacam pohon beringin) dan akhirnya mendapatkan bodhi, yaitu semacam penerangan
atau kesadaran yang sempurna. Pohon itu kemudian dikenal dengan pohon bodhi. Sejak
saat itu, Sidharta Gautama dikenal sebagai Sang Buddha, artinya yang disinari. Peristiwa
ini terjadi pada tahun 531 SM. Usia Sidharta waktu itu kurang lebih 35 tahun. Wejangan
yang pertama disampaikan di Taman Rusa di Desa Sarnath. Dalam ajaran Buddha
manusia akan lahir berkali-kali (reinkarnasi). Hidup adalah samsara, menderita, dan tidak
menyenangkan. Menurut ajaran Buddha, hidup manusia adalah menderita, disebabkan
karena adanya tresna atau cinta, yaitu cinta (hasrat/nafsu) akan kehidupan. Penderitaan
dapat dihentikan, caranya adalah dengan menindas tresna melalui delapan jalan
(astawida), yakni pemandangan (ajaran) yang benar, niat atau sikap yang benar,
perkataan yang benar, tingkah laku yang benar, penghidupan (mata pencaharian) yang
benar, usaha yang benar, perhatian yang benar, dan semadi yang benar.
c. Sumber Sejarah
1. Sumber Dari India
Bukti adanya hubungan dagang tersebut dapat diketahui dari kitab Jataka dan
kitab Ramayana tetapi tidak menyebutkan kapan India mengenal Indonesia. Kitab
sastra india yang dapat dipercaya adalah Kitab Mahaniddesa yang memberi
petunjuk bahwa masyarakat india telah mengenal beberapa tempat di Indonesia
pada abad ke-3 Masehi. Dalam kitab Geograpihike yang ditulis pada abad ke-
2 juga disebutkan telah ada hubungan dagang antara india dan Indonesia.
Dari kedua keterangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara intensif
terjadinya hubungan dagang antara Indonesia dan india mulai abad-abad
tersebut (abad ke 2-3 Masehi).
2. Sumber Dari Cina
Hubungan Indonesia dengan cina diperkirakan telah berkembang pada abad ke-5. Bukti-
bukti yang memperkuat hubungan itu di antaranya adalah perjalanan seorang
pendeta budha, fahien. Pada sekitar tahun 413 M, Fa Hien melakukan perjalanan dari
india ke YE-PO-TI (tarumanegara) dan kembali ke cina melalui jalur laut. Selanjutnya,
kaisar Cina, Wen Ti mengirim utusan ke She-Po (Pulau Jawa).
3. Sumber Dari Yunani
Hubungan dagang antara Indonesia dengan india, dan cina dapat diketahui dari
Claudius Ptolomeus, seorang ahli ilmu bumi Yunani. Dalam kitabnya yang
berjudul Geographike yang ditulis pada abad ke 2. Ptolomeus menyebutkan nama
Labadio yang artinya pulau jelai. Mungkin kata itu ucapan Yunani untuk
menyebut Yawadwipa, yang artinya juga pulau jelai. Dengan demikian, seperti
yang disebutkan dalam kitab Ramayana bahwa Yawadwipa yang dimaksud ialah
pula jawa.
4. Prasasti
Prasasti-Prasasti tertua di Indonesia yang menunjukkan hubungan Indonesia
dengan India, misalnya prasati Mulawarman di Kalimantan timur yang berbentuk
Yupa. Semua prasasati ditulis dalam bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa.
5. Kitab Kuno
Kitab-kitab kuno yang ada di Indonesia biasanya ditulis pada daun lontar yang
ditulis dengan menggunakan bahasa dan tulisan jawa kuno yang juga
merupakan pengaruh dari bahasa Sanskerta dan tulisan Pallawa.
6. Bangunan Kuno
Bangunan-bangunan kuno yang bercorak hindu ataupun budha terdiri atas candi,
stupa, relief, dan arca. Agama Hindu yang berkembang di Indonesia berbeda
dengan agama Hindu yang berkembang di India. Agama dan kebudayaan Hindu
disesuaikan dengan kebudayaan dan kepercayaan asli Indonesia yang
berintikan pemujaan roh leluhur (animism dan dinamisme). Dalam bidang
sastrapun terjadi penyesuaian, misalnya huruf Pallawa berubah menjadi huruf
kawi dan huruf jawa kuno. Demikian pula dalam seni bangunan, bentuk candi di
Indonesia lain dengan yang ada di India.
d. Teori-Teori Masuknya Agama dan Kebudayaan Hindu Budha.
Mengkaji proses masuknya pengaruh agama Hindu dan agama Budha ke wilayah
Nusantara, memang memerlukan analisis yang cukup dalam. Hal tersebut dikarenakan belum
terdapat kesepakatan yang bulat diantara para ahli mengenai siapa yang membawa
kebudayaan tersebut ke Nusantara. Secara garis besar, peneliti membagi proses masuknya
budaya Hindu-Buddha menjadi dua. Pendapat pertama bertolak dari anggapan bahwa bangsa
Indonesia berlaku pasif dalam proses ini. Para pendukung konsep pertama ini selalu
beranggapan bahwa telah terjadi kolonisasi oleh orang-orang India. Teori yang termasuk
dalam kelompok pendapat pertama antara lain: Teori Brahmana, Teori Ksatria, Waisya,
dan Sudra. Pendapat kedua yang muncul lebih akhir memberikan peranan aktif kepada
bangsa Indonesia. Yang termasuk dalam dalam pendapat kedua ini adalah Teori Arus Balik.
Untuk dapat memahami maksud dari proses masuknya Hindu-Buddha kamu dapat membaca
modul ini sampai selesai karena di dalamnya berisi tentang teori masuknya Agama Hindu-
Buddha tersebut selamat membaca
1. Teori Brahmana
Van Leur mengajukan keberatan baik terhadap teori ksatria atau pun teori Waisya.
Keberatan pertama adalah mengenai kolonisasi. Suatu kolonisasi yang melibatkan
penaklukan oleh golongan ksatria tentunya akan dicatat sebagai suatu kemenangan.
Namun, catatan itu tidak ditemukan dalam sumber-sumber tertulis di India. Di Indonesia pun
tidak ditemukan prasasti-prasasti sebagai bukti adanya penaklukan. Selain itu, suatu
kolonisasi selalu disertai oleh pemindahan segala unsur masyarakat dari tanah asal.
Misalnya, sistem kasta, kerajinan, bentuk rumah, tata kota, bahasa, pergaulan, dan
sebagainya. Dalam kenyataannya apa yang terdapat di Indonesia berbeda dengan yang
terdapat di India. Kalaupun ada pedagang-pedagang India yang menetap, mereka
bertempat tinggal di perkampungan-perkampungan khusus. Sampai sekarang masih
ditemukan Kampung Keling di beberapa tempat di Indonesia barat.
Mereka yang menetap di perkampungan khusus itu kedudukannya tidak berbeda
dengan rakyat biasa di tempat itu. Hubungan mereka dengan penguasa hanyalah dalam
bidang perdagangan, sehingga tidak dapat diharapkan adanya pengaruh budaya yang
membawa perubahan-perubahan dalam bidang tata negara dan agama. Hal ini menjadi lebih
jelas, karena sebagian besar pedagang itu adalah pedagang keliling yang berasal dari
kalangan masyarakat biasa.
Mengingat unsur-unsur budaya India yang terdapat dalam budaya Indonesia, van Leur
cenderung untuk memberikan peranan penyebaran budaya India pada golongan
brahmana. Para brahmana datang atas undangan para penguasa Indonesia, sehingga
budaya yang mereka perkenalkan adalah budaya golongan brahmana. Sayangnya dari teori
brahmana Van Leur itu masih belum jelas pada yang mendorong terjadinya proses
tersebut. Ia berpendapat bahwa dorongan itu adalah akibat kontak dengan India melalui
perdagangan. Bukan hanya melalui orang-orang India yang datang, tetapi mungkin juga
karena orang-orang Indonesia melihat sendiri kondisi di India.
Terdorong oleh keinginan untuk dapat bersanding dengan orang-orang India
dengan taraf yang sama dan terdorong pula untuk meningkatkan kemakmuran negerinya,
mereka pun mengundang Brahmana. Para brahmana ini kemudian melakukan upacara
vratyastoma, yakni upacara inisiasi yang dilakukan oleh para kepala suku agar menjadi
golongan ksatria. Pandangan ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan Paul
Wheatly bahwa para penguasa lokal di Asia Tenggara sangat berkepentingan dengan
kebudayaan India guna mengangkat status sosial mereka. Selain itu Van Leur
mengisyaratkan bahwa kaum brahmana memilki peranan penting dalam indianisasai di
nusantara. Hal ini terlihat dari adanya penemuan prasasati Yupa yang menggunakan bahasa
Sansekerta dan Tulisan Pallawa. Di India, bahasa dan huruf ini hanya digunakan dalam
kitab suci Weda dan upacara keagamaan, dan hanya golongan brahmana yang mengerti
dan menguasainya. Namun dalam ajaran Hindu Kuno, seorang brahmana dilarang
menyeberang laut apalagi meninggalkan tanah airnya. Jika ia melakukan tidnakan tersebut,
ia akan kehilangan hak atas kastanya. Dengan demikian mendatangkan para brahmana ke
Indonesia bukan merupakan tindakan wajar.
2. Teori Ksatria
R.C. Majundar berpendapat bahwa munculnya kerajaan Hindu di Indonesia
disebabkan oleh peranan kaum ksatria atau prajurit India. Para prajurit diduga melarikan
diri dari India dan mendirikan koloni-koloni di kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara
pada umumnya. Namun, teori ksatria yang dikemukakan oleh R.C. Majundar tidak
didukung oleh data yang memadai. Untuk memperdalam masalah ini, kamu dapat
membaca buku Sanusi Pane, Sejarah Indonesia.
Kekuatan teori ini terletak pada semangat untuk petualangan para kaum kesatria.
Meskipun demikian, teori ini tidak terlepas dari beberapa kelemahan berikut:
1) Golongan Ksatria tidak menguasai bahasa Sanseketa dan huruf Pallawa yang etrdapat dalam
kitab Weda
2) Tidak ada bukti arkeologis baik berupa prasasti yang menunjukkan adanya ekspansi
prajurit India ke Indonesia. adapun prasasti Tanjore yang menceritakan penaklukkan
kerajaan Sriwijaya oleh kerajaan Cola, tidak dapat digunakan sebagai bukti yang
memeprkuat teori ini. Prasasati Tanjore menjelasankan bahwa penaklukkan tersebut
terjadi pada abad XI M.
3) Tidak mungkin pelarian kesatria dari India mendapat kedudukan mulai sebagai raja di
wilayah lain. Di Indonesia pad amasa itu seseorang yang dapat menjadi pemimpin suatu
wilayah harus memenuhi syarat mempunyai kemampuan lebih tingi daripada yang lain.
3. Teori Waisya
Teori Waisya dikemukakan oleh N.J. Krom bahwa agama Hindu-Buddha masuk ke
Indonesia dibawa kaum pedagang dari India. Krom mengisyaratkan kemungkinan adanya
perkawinan antara pedangang-pedagang India dengan wanita lokal. Mereka menetap di
Indonesia dan kemudian memegang peranan dalam penyebaran pengaruh budaya India
melalui hubungan mereka dengan penguasa- penguasa Indonesia. Hal ini menunjukkan
bahwa perkawinan merupakan salah satu saluran penyebaran pengaruh kebudayaan yang
penting. Selain itu, N.J Krom berpendapat ada dua kemungkinan agama Hindu disebarkan
oleh golongan Waisya yaitu:
1) Para pedagang India melakukan perdagangan di Indonesia. Pada saat itu jalur
perdagangan melalui lautan yang tergantung denga adanya musim angin yang
menyebabkan mereka tergantung pada kondisi alam. Bila musim angin tidak
memungkinkan maka mereka akan menetap lebih lama untuk menunggu musim baik.
Melalui interaksi perdagangan itu, agama Hindu disebarkan kepada masyarakat
Indonesia. Menurut G. Coedes, yang memotivasi para pedagang India untuk datang ke
Asia Tenggara adalah keinginan untuk memperoleh barang tambang terutama emas
dan hasil hutan.
2) Para pedagang dari India yang singgah di Indonesia selanjutnya mendirikan
permukiman sambil menunggu angin musim yang dapat membawa mereka kembali ke
India. Mereka pun berinteraksi dengan penduduk sekitar dan menyebarkan agama
kepada penduduk lokal di Indonesia.
Melalui interaksi dengan penduduk setempat, para pedagang berhasil memperkenalkan
agama Hindu-Buddha. Dengan demikian, kaum pedagang memiliki peranan penting dalam
proses penyebaran agama dan kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia. Faktor yang
memperkuat teori waisya sebagai berikut:
1) Teori Waisya lebih mudah diterima oleh akal karena dalam kehidupan, faktor ekonomi
menjadi sangat penting. Perdagangan merupakan salah satu kegiatan perekonomian
dalam kehidupan masyarakat. Kegiatan perdagangan diaanggap memeprmudah para
pedagang asing untuk berinterasi dengan orang dari berbagai daerah.
2) keberadaaan kampung keling yaitu perkampungan para pedagang India di Indonesia.
Kampung Keling terdapat dibeberapa daerah di Indonesia, antara lain Jepara, Medan,
Aceh dan Malaka.
Meskipun teori Waisya memiliki sejumlah kekuatan, teori ini juga memiliki kelemahan
yaitu:
1) Kaum Waisya tidak menguasai bahasa Sansekerta dan aksara Palawa. Bahasa dan
akasara tersebut hanya dikuasai oleh kaum brahmana.
2) Sebagian besar kerajaan Hindu-Buddha terletak dipedalaman, jadi jika pengaruh
Hindu-Buddha diabawa pedagang tentu kerajaan-kerajaan tersebut terletak dipesisir.
3) Motif golongan Waisaya datang ke Indonesia hanya untuk berdagang, bukan
menyebarkan agama Hindu-Buddha. Oleh keran aitu hubunga yang terbentuk antara
penduduk dan saudagar (pedagang India) hanya berkisar pada kegiatan perdagangan
dan gidak akan membawa perubahan besar terhadap penyebaran agama Hindu-
Buddha. Meskipun ada perkampungan para perdagang India di Indonesia, kedudukan
mereka tidak berbeda dengan rakyat biasa ditempat tersebut. Mereka yang tinggal
menetap sebagian besar hanya pedagang keliling sehingga kehidupan ekonomi mereka
tidak jauh berbeda dengan penduduk setempatnya
4. Teori Sudra
Teori Sudra dikemukakan oleh van Faber. Menurut teori ini, di India banyak
terjadi perang. Dengan demikian, banyak pula tawanan perang. Indonesia dijadikan
sebagai tempat pembuangan bagi tawanan-tawanan perang. Para tawanan perang itulah
yang menyebarkan kebudayaan Hindu di Indonesia. Selain menjadi tawanan perang, Faber
juga mengisyaratkan bahwa kaum sudra ini datang ke nusantara kerena inisiatif sendiri.
Dasar yang digunakan Von Van Feber dalam teori ini sebagai berikut:
1) Golongan berkasta sudra (pekerja kasar) menginginkan kehidupan lebih baik. Oleh
karena dijadikan budak di India, mereka pergi ke daerah lain, termasuk Indonesia
2) Golongan berkasta sudra sering dianggap orang buangan. Oleh karena itu, golongan
ini meninggalkan daerahnya dan pergi ke daerah lain, bahkan keluar dari India
hingga ada yang sampai di Indonesia untuk mendapatkan kedudukan lebih baik dan
lebih dihargai.
Teori ini menimbulkan kontroversi karena kaum sudra dianggap tidak layak
menyebarkan agama Hindu. Golongan ini merupakan kelompok bawah, kaum budak, dan
memiliki derajad rendah. Oleh karena itu dalam urusan agama, kaum sudra tidak
mungkin menyebarkan agama Hindu. Adapun sanggahan lain dari para ahli terhadap teori
Sudra sebagai berikut:
1) Golongan sudra tidak menguasai ajaran agama Hindu karena tidak menguasai bahasa
Sansekerta yang digunakan dalam kitab Weda.
2) Tujuan utama kaum Sudra meninggalkan India untuk mendapatkan penghidupan dan
kedudukan lebih baik (memperbaiki keadaan/kondisi mereka). Kepergian mereka ke
tempat lain dilakukan untuk mewujudkan tujuan utama tersebut, bukan menyebarkan
agama Hindu.
5. Teori Arus Balik
Bosch sesuai pendirian dengan van Leur. Bertolak dari sifat unsur-unsur budaya
India yang diamatinya dalam budaya Indonesia. Ia juga berpendapat bahwa proses
indianisasi di Indonesia dilakukan oleh kelompok cendekiawan dalam masyarakat yaitu
para administrator atau clerk.
Untuk mengamati proses yang terjadi antara budaya Indonesia dan India, Bosch
menggunakan istilah penyuburan. Ia melihat dua jenis proses penyuburan. Penyuburan
pertama dan kemungkinan telah terjadi lebih dahulu adalah proses melalui pendeta agama
Buddha. Awal hubungan dagang antara Indonesia dan India bertepatan pula dengan
perkembangan pesat dari agama Buddha. Biksu-biksu agama tersebut menyebar ke
seluruh penjuru dunia melalui jalur-jalur perdagangan tanpa menghiraukan kesulitan-
kesulitannya. Mereka mendaki pegunungan Himalaya untuk menyebarkan agamanya
di Tibet. Dari Tibet kemudian melanjutkan dakwahnya ke utara hingga akhirnya
sampai ke Cina. Kedatangan mereka biasanya telah diberitakan terlebih dahulu.
Setelah mereka tiba di tempat tujuan biasanya mereka berhasil bertemu dengan kalangan
bangsawan istana.
Dengan penuh ketekunan para biksu itu mengajarkan agama mereka. Selanjutnya
dibentuklah sebuah sanggha dengan biksu-biksunya. Melalui biksu ini timbul suatu
ikatan dengan India, tanah suci agama Buddha. Kedatangan biksu-biksu India di
berbagai negeri ternyata mengundang arus balik biksu dari negeri-negeri itu ke India. Para
biksu kemudian kembali dengan membawa kitab-kitab suci, relik dan kesan-kesan. Bosch
menyebut gejala sejarah ini sebagai gejala arus balik. Aliran agama lain dari India yang
meninggalkan pengaruh di Indonesia adalah agama Hindu. Berbeda dengan agama
Buddha, para brahmana agama Hindu tidak dibebani kewajiban untuk menyebarkan
agama Hindu. Hal ini karena pada dasarnya seseorang tidak dapat menjadi Hindu, tetapi
seseorang itu lahir sebagai Hindu.
Dengan konsep seperti, proses hinduisasi di Indonesia menjadi semakin menarik,
karena tidak dapat dipungkiri orang-orang Indonesia pasti awalnya tidak dilahirkan
sebagai Hindu, tetapi dapat beragama Hindu. Untuk dapat menjelaskan fenomena ini harus
dilihat terlebih dahulu watak khas agama Hindu. Agama Hindu pada dasarnya bukanlah
agama untuk umum dalam arti bahwa pendalaman agama tersebut hanya mungkin
dilakukan oleh golongan brahmana. Beranjak dari kenyataan ini, terdapat berbagai
tingkat keketatan pelaksanaan prinsip tersebut. Hal itu tergantung dari aliran sekte yang
bersangkutan. Adapun sekte agama Hindu yang terbesar pengaruhnya di Jawa dan Bali
adalah sekte Siwa-Siddhanta.
Aliran Siwa-Siddhanta sangat esoteris. Seseorang yang dicalonkan untuk menjadi
seorang brahmana guru harus mempelajari kitab-kitab agama selama bertahun-tahun dan
setelah diuji baru dizinkan menerima inti ajarannya langsung dari seorang brahmana
guru. Brahmana inilah yang selanjutnya membimbingnya hingga ia siap untuk ditasbihkan
menjadi brahmana guru. Setelah ditasbihkan, ia dianggap telah disucikan oleh Siqa dan
dapat menerima kehadirannya dalam tubuhnya pada upacara-upacara tertentu. Bukti
yang memperkuat teori Arus Balik yaitu:
1) Adapanya Prasasati nalanda yang menyebutkan bahwa Raja Balaputradewa dari
Sriwijaya meminta kepada Raja di india untuk mmebangun wihara di Nalanda
sebagai tempat untuk menimba ilmu para tokoh dari Sriwijaya.
2) Adanya misi dharmaduta yangd ilakukan di Indonesia pada abad 2 M. Pelaksanaan
misi ini dibuktikan degna penemuan arca Buddha yang terbuat dari perunggu di
Sembaga (Sulawesi Selatan), Jember (Jawa Tikur), dan Bukit Siguntang (Sumtara
Selatan). Arca-arca tersebut termasuk kedalam aliran Amarawati yang berasal dari
India Selatan. Selain itu, ditemukannya arca aliran Gandhara dari india Utara di Kota
Bangun (Kalimantan Timur). Arca-arca tersebut diperkirakan dibuat pada abad II-V
Masehi.
E. Faktor-Faktor pendorong Agama dan Kebudayaan Hindu-Buddha Mudah diterima di
Nusantara
1. Rakyat Indonesia belum mengenal agama
Sebelum masuknya agama Hindu-Budha ke Indonesia, Indonesia masih menganut
sistem kepercayaan yang bukan termasuk agama. Sistem kepercayaan tersebut adalah
animisme dan dinamisme. Animisme adalah Animisme adalah suatu kepercayaan yang
menyakini bahwa segala sesuatu memiliki jiwa/roh, sedangkan Dinamisme adalah suatu
kepercayaan yang menyakini bahwa setiap benda (baik mati maupun hidup) mempunyai
kekuatan atau daya yang sifatnya gaib. Oleh karena itulah, kenapa ajaran agama Hindu
dan Budha mudah diterima oleh masyarakat Indonesia kala itu, karena belum mengenai
agama dan masih menganut sistem kepercayaan dari nenek moyang.
2. Sifat dasar rakyat Indonesia yang terbuka
Sifat terbuka dan ramah tamah orang Indonesia sudah ada sejak dulu kala, dan dulu
rakyat Indonesia cukup terbuka dalam menyambut para pedagang dan orang asing yang
masuk ke Indonesia. Oleh karena itulah, ajaran agama yang dibawa oleh tokoh-tokoh
Hindu-Budha dari luar Indonesia bisa mudah diterima ajarannya oleh masyarakat
Indonesia.
3. Agama Hindu Budha memiliki kultur yang hampir mirip dengan kepercayaan awal
masyarakat
Kultur budaya agama Hindu dan Budha pada kenyataannya memiliki beberapa
kemiripan dengan kultur kepercayaan animisme dan dinamisme masyarakat Indonesia
kala itu. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya kemiripan dari bangunan punden
berundak yang memiliki bentuk bangunan suci agama budha yang dipergunakan
sebagai tempat peribadatan, kemiripan dari upacara keagamaan, hingga kepercayaan
yang sama terhadap kehidupan setelah mati. Dikarenakan kesamaan dalam kultur
budaya yang terjalin antara ajaran Hindu Budha dengan kepercayaan masyarakat lokal,
membuat penyebaran agama ini menjadi semakin mudah dan bisa dengan baik diterima.
4. Pengaruh Para Raja atau Penguasa
Pengaruh raja atau penguasa di indonesia menjadi faktor penting dalam berkembangnya
agama Hindu-Budha di Indonesia, dan menjadi alasan yang kuat mengapa rakyat
Indonesia mudah menerima ajaran agama Hindu-Budha.Dalam sudut pandang orang
dulu, penguasa atau raja merupakan orang yang paling dihormati. Sehingga jika
penguasa tersebut menganut agaman Hindu atau Budha tentulah rakyatnya akan
mengikuti apa yang dilakukan oleh penguasanya.
5. Tidak ada Unsur Paksaan
Alasan lain mengapa ajaran Hindu-Budha bisa mudah ditrima oleh rakyat indonesia
karena tidak unsur pemaksaan untuk menganut agama Hindu-Buddha adalah anggapan
bahwa seseorang tidak dapat menjadi Hindu, tetapi seseorang itu lahir sebagai Hindu.
Anggapan inilah yang membuat para Brahmana agama Hindu tidak terbebani dalam
menyebarkan agama Hindu di Indonesia. Jadi, orang-orang Indonesia yang pasti pada
mulanya tidak dilahirkan sebagai Hindu dapat beragama Hindu.
6. Sistem Pemerintahan dalam Rakyat
Orang Indonesia telah memilih salah seorang anggota masyarakat sebagai kepala suku,
yang dianggap sebagai wakil dari nenek moyang. Ketika agama Hindu masuk ke
Indonesia, meski sistem pemerintahan berubah dengan dipimpin suatu kelompok
masyarakat oleh seorang raja, perubahan ini dapat diterima dengan baik oleh orang-
orang Indonesia. Karena dengan adanya raja, rakyat merasa terlindungi dan
kesejahteraannya tercukupi.
7. Sistem kepercayaan dalam Rakyat
Orang-orang Indonesia jaman dahulu masih memuja roh nenek moyang dan
mempercayai benda-benda yang keramat (animisme dan dinamisme), yaitu berupa
menyembah benda-benda dianggap nenek moyang mereka berada dan juga melakukan
upacara pemujaan roh nenek moyang. Hal ini hampir mirip dengan kepercayaan agama
Hindu, dengan adanya arca dan upacara-upacara yang dilaksanakan oleh Hindu.
F. Rangkuman
Dari uraian di atas terlihat bahwa hubungan
dagang antara Indonesia dan India merupakan suatu faktor
dalam proses masuknya pengaruh budaya India.
Hubungan dagang telah menyebabkan terjadinya proses
tersebut. Akan tetapi, proses hinduisasi sendiri adalah
sesuatu yang terpisah dari proses perdagangan. Akibat proses
ini terjadi perubahan dalam birokrasi pemerintahan.
Perubahan ini memang dapat berakibat pada jalannya
perdagangan, tetapi inti perubahan yang terjadi sebagian
besar terletak pada bidang keagamaan.
Hal ini bukan hanya berlaku untuk bidang-bidang yang jelas bercorak agama
seperti sastra, seni rupa, dan seni bangunan suci, tetapi juga berpengaruh pada tata upacara
di kraton, organisasi ketatanegaraan, dan kelembagaan masyarakat.
Penyuburan budaya Hindu-Buddha di Indonesia yang terjadi melalui kontak
dengan golongan agama dari India sebagian besar langsung berpengaruh pada golongan
elit zaman kuno di Indonesia. Bertolak dari kedudukan golongan ini, maka dengan
sendirinya akan tersebar pengaruh di kalangan yang lebih luas. Para ahli yang telah
meniliti masyarakat Indonesia kuno sebagian besar berpendapat bahwa unsur budaya
Indonesia kuno masih nampak dominan dalam seluruh lapisan masyarakat. Salah satu
hal yang mencolok dalam suatu masyarakat Hindu adalah adanya kasta. Keterangan-
keterangan dari sumber sumber epigrafi dan sastra kuno, atau pun pengamatan
terhadap keadaan di Bali sekarang, tidak menggambarkan kondisi seperti di India.
Kasta memang ada. Suatu indikasi bahwa masalah tersebut dipahami. Akan tetapi
ciri-ciri kasta di Bali berbeda dengan sistem kasta di India. Bosch menyimpulkan bahwa
masyarakat Indonesia melaksanakan teori tentang kasta, tetapi tidak memindahkan
wujudnya yang telah tercipta dalam perkembangan di India. Demikan pula dalam seni,
hingga sekarang para ahli belum berhasil untuk menghubungkan dengan pasti gaya seni
banggunan candi dengan salah satu daerah di India.
Bangunan candi tidak dapat dipungkiri adalah sebuah bangunan yang
mengandung unsur-unsur budaya India. Akan tetapi dalam pelaksanaannnya para
seniman Indonesia hanya menggunakan dasar-dasar teoritis yang tercantum dalam
Silpasastra sebagai dasar untuk konsep pembangunannya. Oleh karena itu dapat dikatakan
bangsa Indonesia hanya mengambil unsur budaya India sebagai dasar pembuatannya,
sementara hasilnya adalah sesuatu yang bercorak Indonesia.
Penelitian bahan epigrafi dan sastra kuno serta eskavasi arkeologi masih dapat
mengungkapkan keterangan lebih banyak lagi mengenai corak budaya Indonesia kuno
yang mendapat pengaruh budaya India. Tetapi inti masuknya pengaruh budaya India
G. Penugasan Mandiri
Bacalah modul masuknya Agama dan Kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia
setelah itu coba kamu buat kesimpulannya dengan menjawab pertanyaan dalam kolom
yang masih kosong dibawah ini.
NO TEORI TOKOHNYA KELEMAHAN KELEBIHAN
1 Teori Ksatria
2 Teori Waisya
3 Teori Sudra
4 Teori Brahmana
5 Teori Arus Balik
H. Latihan Soal
a. Pilihan ganda
Pilihlah jawaban yang tepat!
1. Perhatikan gambar dibawah ini!
Prasasti Yupa merupakan prasasti pertama yang pernah dibuat oleh
Kerajaan Kutai, sekaligus menjadi peninggalan tertua dari kerajaan
Hindu tersebut. Prasasti ini menjadi bukti sejarah terkuat bahwa pernah
ada kerajaan Hindu yang terletak di Kalimantan. Prasasti Yupa
berbentuk seperti tiang batu yang dipakai untuk mengikat kurban
hewan atau manusia yang dipersembahkan pada para Dewa. Tak hanya
dijadikan alat ikat untuk persembahan, terdapat tulisan yang diukir
dengan menggunakan Bahasa Sansekerta atau Huruf Pallawa. Dari
ketujuh prasasti yang masih bisa dilihat hingga kini, beberapa prasasti
memiliki topik pembahasan yang berbeda-beda mengenai Raja Mulawarman. Dilansir dari
berbagai sumber, Prasasti Yupa berisi tentang kehidupan politik, kehidupan sosial,
kehidupan berbudaya, dan kehidupan agama. Berdasarkan fakta sejarah diatas, teori yang
tepat untuk menjelaskan masuknya agama dan kebudayaan Hindu Buddha ke Indonesia
dibawah kerajaan Kutai adalah…
a. Teori Brahmana
b. Teori Ksatria
c. Teori Waisya
d. Teori Sudra
e. Teori Arus Balik
2. Teori Ksatria menjelaskan bahwa masuknya pengaruh Hindu di kepulauan Indonesia
dibawa oleh kaum Ksatria atau para prajurit India. Para Prajurit diduga melarikan diri dari
India dan mendirikan kerajaan-kerajaan di kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara.
Namun, teori Ksatria dianggap memiliki kelemahan, yaitu ....
a. kaum bangsawan menguasai bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa
b. tidak ditemukan perkawinan penduduk pribumi dengan kaum Kesatria
c. para Kesatria tidak memiliki kemampuan untuk menetap lama di luar wilayah India
d. dalam catatan sejarah, kerajaan-kerajaan di India dan Nusantara bekerja sama dengan
baik
e. teori Kesatria kurang disertai dengan bukti-bukti yang mendukung, seperti tugu
penaklukan
3. Perhatikan pernyataan berikut!
1) Agama Hindu-Buddha di Indonesia disebarkan oleh para pedagang India
2) Para pedagang India menetap di Indonesia dan mengenalkan agama Hindu-Buddha
melalui cara interaksi
Pernyataan tersebut berkaitan dengan teori masuknya agama Hindu-Buddha di Indonesia
yang dikemukakan oleh ....
a. C.C Berg
b. N.J. Krom
c. J.L. Moens
d. J.C. van Leur
e. F.D.K. Bosch
4. Universitas Nalanda didirikan pada abad ke 5 M oleh Dinasti Gupta, berjarak 72 km dari
kota Patna yang merupakan ibukota negara bagian Bihar pada saat sekarang. Merupakan
universitas tertua yang pernah didirikan di dunia. Kebesaran Universitas Nalanda ditandai
dengan banyaknya pelajar yang berasal dari luar negeri datang untuk menimba ilmu. Tak
terkecuali pelajar dari Sriwijaya yang berpusat di Sumatera. Tak hanya mengirimkan
pelajar, Prasasti Nalanda mencatat Raja Balaputra Dewa, raja dari kerajaan Sriwijaya juga
mendedikasikan sebuah biara untuk tempat tinggal para bhiksu kepada Universitas
Nalanda. Berdasarkan fakta sejarah diatas, teori yang tepat untuk menjelaskan masuknya
agama dan kebudayaan Hindu Buddha ke Indonesia dibawah kerajaan Sriwijaya adalah…
a. Teori Brahmana
b. Teori Ksatria
c. Teori Waisya
d. Teori Sudra
e. Teori Arus Balik
5. Perhatikan pernyataan berikut!
1) Kitab suci agama Buddha ditulis dalam bahasa rakyat sehari-hari
2) Agama Buddha tidak mengena sistem kasta
3) Agama Buddha mengajarkan umatnya untuk meninggalkan kehidupan duniawi
4) Pengenalan rakyat akan agama Buddha dilakukan di India
Faktor yang mendorong perkembangan agama Buddha di Indonesia ditunjukan oelh
pernyataan nomor ....
a. 1) dan 2)
b. 1) dan 3)
c. 2) dan 3)
d. 2) dan 4)
e. 3) dan 4)
b. Uraian
Kerjakan soal-soal berikut!
1. Bagaimana sistem kasta yang berkembang di Indonesia pada masa Hindu-Buddha?
2. Masuknya agama Hindu Buddha telah menyebabkan terjadinya sinkretisme dalam praktik
keagamaan. Apa yang dimaksud sinkretisme? berikan contoh sinkrietisme pada masa
Hindu-Buddha?
3. Jelaskan pengaruh bahasa Sansekerta dan Pali dalam proses integrasi bangsa Indonesia
pada masa Hindu-Buddha?
4. Bagaiman kedudukan kaum brahmana dalam proses penyebaran agama Hindu-Buddha di
Indonesia?
5. Teori Sudra menyatakan bahwa kedatangan agama Hindu di Indonesia dibawa oleh orang-
orang India yang berkasta Sudra. Akan tetapi, hanya sedikit yang menyepakati teori ini.
Mengapa demikian?
KUNCI JAWABAN
Penugasan Mandiri
NO TEORI TOKOHNYA KELEMAHAN KELEBIHAN
Para Ksatria tidak Kaum Ksatria
memahami bahasa menunjukan rasa
1 Teori Ksatria R.C. Majundar sangsekerta dan semangat dalam
huruf pallawa berpetualang ke seluruh
dunia
Para Pedagang Banyak Sumber Daya
tidak mengerti Alam (SDA) di Indonesia
2 Teori Waisya N.J Krom bahasa sangsekerta dan para pedagang yang
dan huruf pallawa berasal dari India dan
menyebarkan agama
Hindu-Budha ketika
berdagang
Budak dan tawanan Para budak atau
3 Teori Sudra Van Faber tidak memahami tawanan lebih cepat
bahasa sangsekerta akrab dengan
dan huruf pallawa masyarakat sekitar
sehingga lebih mudah
komunikasi
4 Teori Van Leur Dalam tradasi Di Indonesia, banyak
Brahmana F.D.K Bosch Hindu-Budha kaum prasasti Hindu-Budha
Brahmana pantang yang menggunakan
5 Teori Arus menyebrang lautan bahasa sansekerta dan
Balik huruf pallawa. Bahasa
Kemungkinaan tersebut pada saat itu
orang Indonesia hanya dikuasi oleh
untuk belajar kaum Brahmana
agama Hindu- Ada kemungkinaan para
Budha ke india bangsawan di Indonesia
sulit, karena pada pergi ke India untuk
masa itu orang belajar agama Hindu-
indonesia masih Budha dan Budaya,
bersifat pasif. tujuanya agar dengan
ilmu yang mereka dapat
dari india, para
bangsawan bisa
membuat kekuasaan di
Indonesi dengan
mencotoh kebudayan
Hindu-Budha
Latihan Soal
a. Pilihan Ganda
1. Jawaban a.
Sesuai dengan pendapat J.C. van Leur bahwa Hinduninasi di Indonesia disebabkan
oleh peranan kaum Brahmana. Pendapat van Leur didasarkan atas temuan prasati yang
menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf pallawa dimana bahasa dan huruf tersebut
hanya dikuasai oleh kaum Brahmana.
2. Jawaban e.
Menurt Van Leur, kelemahan dari teori Ksatria salah satunya yaitu di Indonesia, tidak
terdapat prasasti atau tugu peringatan yang berisi tentang suatu kemenangan yang
berkaitan dengan India.
3. Jawaban b
Jawaban Pernyataan pada soal merujuk pada teori Waisya yang dikemukakan oleh N.
J. Krom. Berdasarkan teori ini, para pedagang dari India memiliki peran penting dalam
proses penyebaran agama Hindu-Buddha di Indonesia. Para pedagang India tersebut
melakukan kontak dengan penduduk asli Indonesia sembari mengenalkan ajaran
Hindu-Buddha. Adapun F.D.K Bosch, C.C Berg, dan J.L. Moens merupakan
pendukung dari teori Ksatria, sedangkan J.C. van Leur merupakan pencetus teori
Brahmana.
4. Jawaban e.
Menurut F.D.K Bosch teori Arus balik lebih menekankan pada peranan bangsa
Indonesia sendiri dalam proses penyebaran kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia.
Artinya, orang-orang di Kepulauan Indonesia terutama para tokoh-tokohnya yang
pergi ke India. Bukti memperkuat teori Arus Balik adalah adanya prasasti Nalanda
yang menyebutkan bahwa Raja Balaputradewa dari Sriwijaya meminta kepada raja di
india untuk membangun wihara di Nalanda sebagai tempat untuk menimbah ilmu para
tokoh dari Sriwijaya
5. Jawaban a.
Agama Buddha dapat berkembang dan diterima dengan mudah oleh masyarakat
Indonesia karena dua faktor. Pertama, kitab suci agama Buddha ditulis dalam bahasa
rakyat sehari-hari. Kedua, agama Buddha tidak mengenal sistem kasta. Jadi jawaban
b. Uraian
1. Pada masa Hindu-Buddha sistem masyarakat diatur berdasarkan sistem kasta. Dalam
sistem kasta setiap orang sudah ditentukan derajatnya. Pengaturan sistem kasta
menyebabkan mobilitas sosial masyarakat sangat terbatas. Misalnya orang yang berasal
dari kasta sudra tidak dapat berpindah ke kasta Ksatria.
2. Sinkretisme adalah perpaduan dua kepercayaan yang berbeda untuk mencari keserasian
dan keseimbangan. Suatu kepercayaan mengalami sinkretisme apabila terjadi percampuran
yang membentuk integrasi baru meliputi konsep kebenaran, cara melakukan ritual,
lambang visual keagamaan, dan pelaksanaan ritual. Contoh perpaduan agama Hindu-
Buddha yaitu agama Syiwa Buddha. Bahkan agama campuran ini juga diwarnai dengan
kepercayaan-kepercayaan asli Indonesia. Dewa-dewi yang berasal dari kercayaan asli
dimasukkan susunan para dewa Hindu seperti Sang Hayang Tunggal dan Sang Hyang
Wenang
3. Perkembanga agama Hindu-Buddha mempengaruhi penggunaan bahasa masyarakat di
Indonesia. Bentuk pengaruh tersebut terlihat dari penggunaan bahasa Sansekerta dan Pali.
Bahasa Sansekerta digunakan sebagai pengantar dalam kitab suci agama Hindu. Adapun
bahasa Pali digunakan sebagai pengantar kitab suci agama Buddha. Perkembangan kedua
bahasa tersebut di Indonesia tidak menyebabkan bahasa Jawa Kuno dan Bahsa Melayu
Kuno punah. Kedua bahsa lokal tersbut tetap berkembang dan berpadu dnegna bahasa
sansekerta. Bahkan, dalam perkembangannya, bahsa-bahasa lokal yang berakulturasi
dengan bahasa Sansekerta dan Pali diguankan sebagai sarana komunikasi anatarpulau.
4. Menurut van leur, golongan brahmana merupakan pembawa agama Hindu-Buddha di
Indonesia. Van Leur berpendapat demikian karena hanya kaum brahmana yang berhak
mempelajari dan mengerti isi kitab suci Weda. Kedatangan kaum brahmana tersebut
diduga karena undangan para penguasa lokal di Indonesia yang tertarik dengan agama
Hindu atau sengaja datang untuk menyebarkan agama Hindu di Indonesia.
5. Munculnya teori Sudra menimbulkan kontroversi di kalangan para ahli karena kaum Sudra
dianggap tidak layak untuk menyebarkan agama Hindu. Kaum Sudra merupakan kelompok
bawah, kaum budak, dan memilikiderajat terendah. Golongan sudra juga tidak menguasai
ajaran agama Hindu karena mereka tidak menguasai bahasa Sansekerta yang digunakan
dalam kitab weda. Oleh karena itu dalam urusan keagamaan, kaum sudra tidak mungkin
menyebarkan agama Hindu. Selain itu, kaum Sudra meninggalkan India dengan tujuan
mendapatkan peghidupan dan kedudukan yang lebih baik (memperbaiki keadaan/kondisi
mereka). Jika mereka pergi ke tempat lain, pasti untuk mewujudkan tujuan utama mereka,
bukan untuk menyebarkan agama Hindu.
REFERENSI
Jurnal
Wartayasa, I. K. (2018). Kebudayaan Bali dan Agama Hindu. Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial dan
Humaniora, 1(2), 173-192.
https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/ganaya/article/view/97
Suwena, I. W. (2018). Dinamika Kebudayaan Bali: Suatu Kajian Kebudayaan Sebagai
Proses. Sunari Penjor: Journal of Anthropology, 2(2), 89-101.
https://ojs.unud.ac.id/index.php/penjor/article/download/46133/27919
Kiriana, I. N. (2015). Sinkretisme Dalam Agama Hindu Dan Buddha di Bali. Jurnal
Penjaminan Mutu, 1(02), 71-78.
http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/JPM/article/view/1372
Internet
Mengapa Hindu Indonesia Aneka Ragam?
https://phdi.or.id/artikel.php?id=mengapa-hindu-indonesia-aneka-ragam
Masuknya Hindu-Buddha ke Nusantara
https://www.kompas.com/stori/read/2021/04/15/172416179/masuknya-hindu-
buddha-ke-nusantara?page=all