The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by , 2017-08-27 14:11:58

Yeah Yeah Zine #1

Yeah Yeah Zine #1

YEAH‘[YEAH
ZINE #1

Yeah Yeah Zine!
yeah yeah zine!
yeah yeah zine!
yeah yeah zine!
yeah yeah zine!
yeah yeah zine!
yeah yeah zine!
yeah yeah zine!
yeah yeah zine!
yeah yeah zine!

Surabaya, Indonesia
contact/letter:

+6285755832466
[email protected]

Yeah Yeah Zine are:
Tito HR, M. Habib Syafaat & Tri Nanang BS

2

Yeah Yeah Zine! Editorial Hura-Hura!

Pengalaman pertama membaca zine sejujurnya saya dapat sewaktu SD.
Kakak saya punya setumpuk koleksi zine lokal di meja kamarnya, selain
koleksi kaset pita band-band underground. Masa SD yang biasanya diisi
dengan mengisi LKS, mencongak atau menggambar gunung di buku gambar
A4 mendadak berubah usai membaca salah satu zine. Saya tanpa ragu minta
dibelikan sepatu Converse, tiba-tiba anti Mc-Donald, benci Bush dan invasi
Amerika, serta mulai tertarik dengan kompilasi punk lawas rilisan Proton
Records ―Berpacu Dalam Melodic.‖

Pengalaman tersebut membawa saya hingga masa SMA. Masa dimana
mulai ada luapan rasa bosan, muak, kesal dan kecenderungan untuk melawan.
Trend hipster menjamur, anti-mainstream merebak, pergaulan bawah tanah
mulai masuk. Dan lagi-lagi, saya bertemu dengan zine punk sebagai bahan
bacaan: semangat ugal-ugalan, lempar molotov, dan bersenang-senang
sampai mampus. Saya pun kembali temukan kesenangan disitu.

Dan akhirnya sampai pada masa kuliah. Bersama beberapa kawan
seperjuangan, muncul kesepakatan untuk mulai merangkum karya dalam
konsep zine ini. Masih berlandaskan semangat do-it-yourself yang dibuat
seenak udel, kami tak berharap lebih selain bisa menyalurkan energi dan
membagi inspirasi.

Oke, bahasa kami memang masih buruk, media kami masih awut-
awutan, proses kami masih ugal-ugalan dan tulisan kami masih absurd; tapi
tak mengapa atas nama gairah, hura-hura dan senang-senang semata. Jangan
heran dengan nama zine kami, Yeah Yeah Zine memang dicomot langsung
tanpa tedeng aling-aling dan beban moral sedikitpun dari nama band art punk
asal New York, Yeah Yeah Yeahs! Trims berat Mbak Karen O. Oh Yeah!

Tito HR

3

musik-musik yang harus kalian
dengarkan dengan segera di
minggu yang mendung ini.

Inbox lebih keren, kata Budi. Banyak penyanyi dangdut semoknya. Enggak cuk, Dasyat lebih
keren. Kata Yudi. Penontonnya goyang-goyang terus. Lho enggak cuk, Inbox lebih asik. Kata Budi.
Banyak game-nya. Hancuk enggak, Dasyat lebih keren. Kata Yudi. Ada Olga-nya…

Daripada menghabiskan energi dan waktu meributkan acara
musik yang paling asyik disimak, segera saja kami haturkan
playlist berisi lagu-lagu dari musisi-musisi yang sepertinya
harus kalian coba dengarkan di minggu yang mendung ini. Minggu galau?
Jangan tanya. Putus cinta terjadi dimana-mana, meski ada juga benih-benih
cinta yang mulai tumbuh pasca move-on. Lagu dalam playlist ini seluruhnya
kami comot dalam situasi labil; situasi penuh godaan untuk menelan Baygon.
Ya, kami memang galau. Persetan. Karena musik yang kami pilih disini
bertujuan untuk ―menyelamatkan‖.

1. Angels & Airwaves – “Heaven”
Benar, artinya surga. Suguhan rock luar angkasa futuristik; komet

meluncur, meteor berterbangan, planet-planet melayang, pasang headphone
dan dengarkan; kalian bisa segera tahu rasanya melawan gravitasi, berdiri
lebih tinggi dari atmosfer, ataupun meluncur langsung menuju batas galaksi.
Menghadirkan surga dalam irama space rock yang dramatis, ditambah kesan
optimistik dengan iringan gitar ala The Edge; “Heaven must be just like this…”

2. My Pet Sally – “Cinta 18”
Lagu lama. Pop-punk ceria yang pernah meramaikan kompilasi ―Berpacu

Dalam Melodic‖. Singkirkan dulu PWG; band ini sudah lebih dulu memakai
synthetizer, dengan vokalis cewek pula. Lirik cheesy tak jadi masalah. Cinta-
cintaan ala remaja labil 18 tahun mungkin bisa jadi inspirasi untuk jadi lebih
dewasa hadapi masalah yang sebabkan galau daripada menelan Antimo tiga
belas biji. Ekspresif sekali.

3. The Upstairs – “Alexander Graham Bell”

4

Jimi Multhazam adalah hipster ulung pencipta lirik-lirik memikat.
“Alexander Graham Bell” menonjolkan sisi gelap New Wave dan irama synth
yang membuat dansamu menjadi kaku bak robot. Vokal Jimi penuh misteri.
Tak mungkin lagu ini masuk acara musik pagi, kecuali Rapi Ahmad berani
nawarin cimeng ke Opa-nya Dahsyat. “Dan esok kita berdansa…”

4. Mew – “Am I Wry? No”
Post rock paling jenius di dunia saat ini. Album legendarisnya itu

Frengers, dan kalian bisa temui lagu nyentrik ini. Entah, intinya
menyenangkan saja menikmati lagu ini. Jika pacar kalian bernama Farah, lagu
ini dipastikan akan lebih mengena. Jika pacar kalian bernama Sumarliyah, tak
usah disesali. Keputusanmu untuk putus sudah tepat. Oya, ada rasa-rasa tuts
piano yang membuat “Am I Wry” makin terasa sukar meninggalkan telinga.
Nooooo!

5. The Clash – “Should I Stay Or Should I Go”
Bawa pomade kalian dan kita kembali ke era keemasan punk 70‖an. The

Clash mengajak menari, bernyanyi, sambil menepuk pantat siapapun. Di lagu
ini. Joe Strummer kembali merangkul pundak kalian, memaksa bibir untuk
tersenyum ala ala iklan Pepsodent Whitening, mendesah kepedesan ala ala
iklan Listerine. Tak perlu iri melihat mantan pacar sudah bisa move-on.
Mungkin dia sudah lebih dulu bertanya: “Should I Stay Or Shold I Go Now?”
Selamat move-on :))

galau iso dadi keterusan cuk lek digawe
meneng ae. mending ‘metu’ kono lo:

jogging kek, ngeband kek, mbolang kek,
nongkrong kek, organisir bakti sosial

kek, bantu2 bersih2 got kek, nggawe zine
kolektif kek. intine move on iku gerak rek,

jancuk!

5

M. Habib Syafaat

Tengah malam itu sekarang baru, tak ada suara
sangat sepi, segalanya
sepi. Tak seperti malam apapun. Benar-benar senyap dan

mencekam. Jika kubilang, ini

biasanya saat aku baru bangun seperti kota berhantu yang sama

tidur tengah malam seperti ini. sekali tak berpenghuni. Entahlah,

Coba siapapun bayangkan, betapa mungkin tak seseram itu. Aku

tabu jika ketika pertama kau segera beranjak dari tempat

membuka mata dari lelapmu, dan tidurku; melepas semua

kau tak mendengar suara apa-apa, pakaianku; meraih handuk dan

bahkan suara jangkrik yang menuju kamar mandi. Tak usah

biasanya jemangkrik sangatlah heran, aku memang memiliki

sulit kau jamah dengan kebiasaan mandi tengah malam

pendengaran telanjang; semak- seperti ini. Setelah mandi, aku

semak yang biasanya gemrisik keluar untuk mencari makan

diterpa anginpun ikut-ikutan tengah malam. Kebetulan, di

senyap. Aku hanya mendengar daerah yang aku tempati kini,

suara remang-remang lagu dari selalu ada penjual nasi goreng

grup band rock Social Distortion hingga pun tengah malam

yang mungkin berasal dari sebuah langgananku. Maka aku tak perlu

headset yang kupasang di bingung-bingung ketakutan

telingaku sebelum aku tidur tadi kelaparan di tengah malam sepi

sore; yang kini telah lepas dari seperti ini.

telingaku. Ya, memang benar-- Ya,

aku memang tak bisa tidur jika tak Tengah malam itu aku jalan
kaki. Benar-benar sepi, seperti
mengenakan headset untuk kota yang setengah penduduknya
adalah vampire, sehingga para
mendengarkan lagu-lagu manusia enggan keluar tengah
malam seperti ini, bahkan jauh
bernuansa rock, maka sebelum sebelum tengah malam hari.
Mungkin para ayah dan ibu
tidur, aku selalu memasang erat sedang sibuk menidurkan para
buyungnya sembari menyandang
benda tersebut sesaat sebelum golok di tangan dengan maksud
berjaga-jaga, mungkin ada juga
terlelap, dan pada saat bangun,

aku selalu menemui headsetku

telah terlepas. Segeralah aku

mengambil ponsel tempat

kutancapkan headset tadi dan

mematikan pemutar suara. Nah,

6

yang sibuk memasang beberapa pinggir jalan raya. Mungkin di
balokan kayu di pintu dan jendela
dengan maksud supaya vampire sana lebih ramai, pikirku.
tidak bisa masuk dalam rumahnya
dan mungkin, ada yang bersujud Sesampainya di sana. Sialan! Lagi-
sembari memegangi kaki patung
dalam gereja yang dianggapnya lagi sepi. Ah, nikmati saja, toh
bisa melindunginya dari serangan
vampire. Dan kalaupun ada yang mungkin kesepian bukan
di luar, mungkin itu hanya
beberapa gelandangan berrambut halangan bagi mereka yang ingin
panjang gimbal yang menyanyi-
nyanyi di pinggiran jalan kota di menikmati malam dengan ber-
samping tong sampah sembari
menghisap asap rokok bekas yang caffeine ria di warung kopi
mereka punguti dari tong sampah
di dekatnya, seakan-akan langganan, seperti aku. Setelah
menantang para vampire untuk
segera menebas mereka. Namun memesan kopi, aku duduk bersila
nyatanya, mereka malah selalu
terlihat aman dan tak ada satupun di bangku luas berbahan dasar
gelandangan yang diberitakan
mati disantap vampire. Apa iya bambu. Aku mengirim pesan
vampire itu mirip manusia?
Makan saja kok pilih-pilih? singkat kepada kekasihku yang

Entahlah, mungkin kesepian mungkin kini telah asyik
bukanlah halangan bagi mereka
yang merasa lapar, bahkan bermimpi denganku. “Sayang, aku
kelaparan, seperti aku. Aku
berjalan seorang diri menyusuri rindu.” Kenapa? aku toh memang
gang yang sempit dan anyir. Oh
ya, sepi. Aku menuju warung dalam keadaan sangat
penjual nasi goreng yang biasanya
kusinggahi tengah malam seperti merinduinya setelah beberapa hari
ini. Aku memesan satu piring
nasgor dan melahapnya seperti tanpa temu. Kemudian membaca
vampire yang baru bangun setelah
ribuan tahun berhibernasi. koran; sejenak menyulut rokok;
Beratus-ratus butir nasi goreng
habis tanpa sisa. Setelah makan, sesekali menyibak rambut yang
aku menuju warung kopi di
menutupi keningku; meludah ke

arah got jika bosan. Ya, bosan. Di

Koran tak ada yang menarik,

sudah keseribukiankalinya aku

membaca kasus pencabulan di

bawah umur. Memuakkan.

Kembali kuludahi got di

sampingku. Kulipat koran

kemudian kuletakkan. Kemudian

ku pergi setelah membayar

secawan kopi dan beberapa batang

rokok yang telah kubakar dan

kuhisap tadi.

Pulang saja, berjalan lagi.

Seperti pemburu vampire— Oh

bukan, sejujurnya aku malah lebih

suka dikata sebagai vampire yang

berbalik memburu para

pemburunya. Aku pasti akan

sangat bangga dengan diriku

7

sendiri. Aku akan melindungi dan Aku tak akan peduli, aku tahu
mempertahankan garis ras
keturunanku supaya tak semudah bahwa anak-cucu mereka pun
itu dilenyapkan oleh para
pemburu. Aku tidak akan terima pasti tak akan diam saja dan akan
jika dikata sebagai vampire
pengecut. Camkan ini! Aku akan berbalas dendam padaku. Aku siap
kebal dari peluru mereka yang
berbahan perak murahan itu; aku menerima akan membalaskan
tak akan begitu saja lenyap oleh
sorotan sinar ultraviolet buatan dendam kematianku. Loh,
mereka; aku tak akan lebam oleh
bom rakitan mereka; aku tak akan bagaimana aku bias mati?
kenapa-kenapa oleh senjata
buatan mereka. Hahaha, aku Entahlah, sebenarnya aku juga tak
hanya akan tertawa terbahak-
bahak melihat wajah mereka yang begitu yakin. Tetapi siapa yang
dipenuhi rasa keheranan. Aku
akan terus menghantui mereka. dapat menyangka apa-apa yang
Aku akan terus hadir dalam mimpi
buruk mereka. Bahkan ketika akan terjadi kelak. Bagaimanapun
mereka lari ketakutan, aku tak
akan melepaskan mereka. Aku juga, aku sama dengan bangsa
akan mengejar mereka. Aku akan
menerkan mereka dari belakang mereka, aku hanya partikel-
seperti raja belantara dan
mencabik-cabik mereka tanpa partikel kotor yang diciptakan
sedikitpun rasa kasihan. Persetan
dengan anak-cucu mereka yang Tuhan untuk mengisi kekosongan
menangisi kematian mereka, aku
tak peduli. Lalu bagaimana dengan alam. Tentu aku bisa mati
kawan-kawanku yang telah mati
dihabisi mereka? Apakah aku akan kapanpun sesuka Tuhan. Siapa
diam saja? Tentu tidak! Balas
dendam adalah sesuatu yang sangka, kelak anak-cucu mereka
manis dan menyenangkan. Maka
segeralah aku menggoglok darah akan kebal terhadap seringai
segar mereka. Dan tentunya, aku
akan menyisakan beberapa taring tajamku, siapa sangka juga,
kantong plastik darah untuk anak
-cucuku kelak, agar mereka tahu, kelak anak-cucu mereka memiliki
aku bukanlah vampire pengecut!
senjata yang jauh lebih canggih

dari nenek moyang mereka yang

darahnya tengah asyik kucicip

sekarang ini. Tapi sekali lagi, aku

tidak gentar. Aku bukan vampire

pengecut! Toh jika aku memang

benar-benar akan mati, aku yakin

anak-cucuku kelak akan

membalaskannya. Aku yakin,

anak-cucu mereka juga akan

berpikiran sama setelah

membunuhku. Anak-cucu mereka

juga tidak akan pernah

menyangka apa-apa yang akan

terjadi kelak lagi. Anak-cucu

mereka juga akan berpikir bahwa

mereka sama dengan bangsaku,

anak-cucu mereka akan berpikir

bahwa mereka hanya partikel-

partikel kotor yang diciptakan

Tuhan untuk mengisi kekosongan

8

alam. Tentu anak-cucu mereka

juga bisa mati kapanpun sesuka “BRUGGG!!!” Sialan!

Tuhan. Siapa sangka, kelak anak- Memikirkan apa aku tadi? Aku

cucuku akan jauh lebih hebat dan sempoyongan bangkit dari jatuh

kebal dariku sehingga senjata yang baru saja aku alami karena

anak-cucu mereka yang katanya tersandung batu yang lumayan

jauh lebih canggih itu tak lagi berukuran besar. Ya, akibat

mempan, seringai taringnya juga melamun akan hal tak berujung

jauh lebih tajam dariku sehinnga tadi. Permusuhan dan balas

anak-cucu mereka yang katanya dendam. Hey! Apa ini? Darah

kebal dari taringku tak akan lagi segar mengalir di kakiku? Loh,

kebal oleh taring anak-cucuku. bukankah darah segar adalah

Dan mungkin akan seterusnya santapan lezat bagi para vampire?

begitu. Yang bermusuhan tak akan Lalu bagaimana jika tiba-tiba

pernah redam. Balas dendam kemudian mereka menyerangku,

adalah hal terindah dan paling menerkamku dari belakang seperti

menyenangkan yang bisa raja belantara dan mencabik-

dilakukan. Maka dari itulah, aku cabikku tanpa sedikitpun rasa

menyebut kami sebagai partikel- kasihan? Lha, siapa peduli? Toh

partikel kotor yang benar-benar aku bukan manusia pengecut!!! (*)

sangat kotor.

________

9

Kambing Kelas Kami

Tito HR

“Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah.
Guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau.”

(Soe Hok Gie)

Di ruangan seluas Ia bukannya orang paling
kandang kambing pintar sekelas, ia hanya orang
ukuran medium yang paling pemberani. Rocky,
dengan penerangan lampu 10 namanya. Bapaknya memang
watt dan warna cat tembok hijau sedari dulu mengidolakan
yang sudah mulai meluntur, kami Sylvester Stallone, tapi belakangan
duduk seolah-olah mendengarkan di tahun 90-an bapaknya juga
apa yang dari tadi dikatakan turut serta dalam hingar-bingar
wanita tua di depan sana yang musik grunge dan menghayati
seolah menceramahi kami sambil salah satu nabinya. Tak heran
sesekali menggores tinta putih nama lengkap Rocky mengundang
kapur ke papan tulis hijau yang makna kekuatan sekaligus sedikit
sudah mulai penuh akan coretan. kontroversi: Rocky Cobain.
Buku-buku tebal yang kami bawa
dari rumah tak mampu menjawab Bu guru seperti tak terima.
berbagai asumsi dan pertanyaan Perintahnya seakan dibantah. Ia
dari wanita itu. Kami menjelajahi mendelik. Diraihnya penggaris
intisari dari berbagai buku untuk kayu. Dimainkanlah ujungnya.
menemukan kata kunci yang Gelegar suara penggaris kayu
berhubungan dengan pertanyaan yang entah bagaimana caranya
bu guru itu tapi hasilnya selalu sehingga bisa menimbulkan bunyi
nihil. Tiba-tiba dari sudut kanan, sekeras itu membuat takut seluruh
siswa bertubuh jangkung bermata siswa di ruang kelas, tak terkecuali
cekung mengacungkan tangan. Rocky. Dan, kami akhirnya sadar,
Nadanya sedikit berteriak saat ia kami hanyalah kambing-kambing
mulai bicara. pendidikan yang dipaksa makan
rumput yang tak pernah kami
“Maaf, bu. Nggak ketemu. suka dengan ancaman rotan. Kami
Nggak ada di buku.” mungkin akan tumbuh besar
dengan otak yang menampung

rerumputan ilmu yang tak pernah lalu pulang, walaupun lima menit
kami harapkan. Kami adalah ini terasa seperti lima abad dengan
kambing-kambing peliharaan perang dunia tanpa henti.
yang pada masanya nanti akan
terjual sebagai buruh-buruh Lonceng berbunyi. Yeah!
dengan didikan tak boleh Semua senang. Semua riang.
melawan. Didikan yang berkata Kepala kami tak tertunduk lagi.
bahwa melawan berarti bersiap Kami langsung bersiap-siap
menjadi kambing kurban. menyambar tas, berdoa dan
kemudian enyah dari ruangan ini.
Kami hanya termangu. Guru Kami membayangkan aneka
sialan. Itu yang kami katakan jajanan, cilok dan mainan yang
dalam hati. Ia menerapkan sistem biasa berjejer di depan sekolah
diktator yang kejam sehingga saat pulang. Kami tahu itu adalah
tulang-tulang kami menjadi rapuh rumput favorit kami. Tapi
untuk melawan. Pertanyaan perasaan senang kami terhenti
kembali dilontarkan oleh guru itu. dengan amat cepat saat guru
Air mukanya keruh. Tampak sialan itu menggedar-gedor papan
kelelahan dan bosan sekali tulis dengan penggarisnya.
mengajar. Itu ia lampiaskan secara
membabi buta di kelas kami di jam “Pertanyaan yang tadi ibu beri
terakhir ini. Matanya tiba-tiba belum terjawab, siapa yang
menatap satu-satu siswa seakan menyuruh kalian pulang! SIAPA!”
mencari mangsa untuk dimaki-
maki. Untung saja semuanya Dan rasa benci kami kini
menunduk, termasuk Rocky yang berubah menjadi dendam.
menunduk dengan muka Dendam kesumat. Rasa lemas dan
memerah. Sisi Cobain yang was-was kini bertambah dosisnya
depresif muncul dari dalam menjadi makin beringas. Rocky
dirinya. Stallone enyah entah terlihat menendang kaki meja. Tak
kemana. Mungkin hancur terkena seberapa keras, tapi suaranya
uppercut mental dari seorang cukup untuk membuat kandang
guru tua hampir darah tinggi yang kambing terdengar menarik bagi
sok berkuasa. Doa dipanjatkan. macan.
Jika guru ini mati sekarang, kami
akan melakukan perayaan dan “Kamu lagi, Rocky! Maju!
berteriak gembira sekencang- Maju ke depan!” instruksi
kencangnya. Kambing akan bebas mengerikan menggetarkan seisi
dari gembalanya yang kejam. Tapi, ruangan. Bocah jangkung Rocky
lima menit lagi bel pulang Cobain sedang membuat neraka
berbunyi, doa mati tidak jadi. versinya sendiri. Tak lama, tampak
Lebih baik menunggu sebentar Rocky berdiri sambil menunduk

11

dekat papan tulis. Kakinya sedikit merah yang menggoda. Tapi itu
hanya impian, itu hanya khayalan,
bergetar. Tubuhnya yang karena kami dilarang pulang,
karena kami dilarang jajan, karena
jangkung menutupi coretan ibu kami dilarang melawan, karena
kami hanya mampu memandang
guru itu yang awalnya jelas Rocky yang berdiri di depan
dengan tubuh yang bergetar
terpampang di papan. Matanya ketakutan, karena kami hanyalah
kambing-kambing pendidikan
menampilkan emosi yang tinggi, yang pada masanya nanti akan
dikurbankan pada cukong-cukong
tapi tak ditunjukkan karena takut dan mandor-mandor bak gembala
dengan cambuk api yang siap
oleh gembala sialan ini. Foto mencambuk kami dikala kami
melawan.
presiden dan wakil presiden yang
Tampak Rocky amat sangat
menggantung tepat di atasnya menahan hasrat untuk melakukan
hal-hal yang berujung pada siksa
dengan senyum ganjil yang agak batin yang lebih kejam. Guru itu
memang mempunyai sejuta cara
aneh dan background bendera untuk mengintimidasi murid-
muridnya bahkan hanya dengan
merah putih yang nampak tak menjetikkan jari. Kelas kami
terkutuk. Nenek sihir itu terlalu
sampai seperempat hanya bisa sukar untuk dilawan. Entah apa
yang ada di pikiranya, mengapa ia
diam saja, melamun, memandang tak memulangkan kami saja. Ia
bisa segera bersantai di rumah,
kosong. Pun juga dengan kami tidur-tiduran di sofa, rileks,
menonton acara infotainment
yang sedang mengalami tekanan siang hari yang dibumbui gosip-
gosip terkini, tapi mengapa ia kini
yang mungkin sama rasanya malah sibuk mengurus kami
sampai keterlaluan seperti ini.
dengan tekanan yang dialami Jari-jemari kaki kami ingin segera
melepaskan diri dari jerat tali
koruptor, atau bahkan teroris yang sepatu, pun juga mata kami ingin
segera pulang untuk melihat Tom
akan dihakimi ataupun dihukum & Jerry berlarian. Alangkah
malangnya nasib kami hari ini.
mati. Tapi kami yakin bahwa
12
hanya dengan penggaris kayunya

yang tampak usang itu saja bu

guru laknat ini bisa langsung

menyembelih kami. Tak terbayang

leher ini digorok oleh sesuatu yang

tumpul namun keras.

Menakutkan. Tapi kami bisa apa,

kami hanya kambing-kambing

pendidikan yang seenaknya saja

diberi makan rumput-rumput

beku, daun-daun kering yang

sudah kecoklatan, dan batu-batu

koral. Jika surga dan keadilan

memang ada, harusnya kami,

kambing-kambing yang

menenteng buku pelajaran ini

sudah menikmati daun ganja

sekarang. Mahal dan

menggembirakan rasanya, seperti

cilok dengan bumbu merah-

Kami sudah tak tahan lagi. lambung kami, menari-nari. Kami

Beberapa dari kami sudah tak merasa beruntung abang tukang

betah bahkan untuk sekedar diam cilok itu belum pulang meski

saja. Banyak diantara mata-mata sekolah sudah sepi. Sambil terus

kami yang memerah, karena lelah, mengunyah, kami melihat kelas

juga karena naik darah. Andai saja kami dari ujung jalan. Entah apa

ada keajaiban, andai saja kami bisa yang baru saja terjadi disana,

melawan, andai saja, andai saja. semuanya terasa begitu cepat. Ibu

itu tiba-tiba kaget, kemudian

*** pingsan, tak sadarkan diri. Yang

kami tahu sebelum itu, Rocky

Berebutan. Ya, kami laksana berteriak kencang tepat di depan

kambing kelaparan yang disuguhi muka ibu guru itu: “Anjing kau!

rumput terbaik dari New Zaeland Kami bukan kambing yang

di siang yang mendekati sore ini. seenaknya saja bisa kau atur dan

Cilok yang kami impikan akhirnya kau marahi, bodoh!” (*)

bisa kami raih dan kini masuk di

________

“Kami adalah kambing-kambing
peliharaan yang pada masanya nanti akan

terjual sebagai buruh-buruh dengan
didikan tak boleh melawan. Didikan yang
berkata bahwa melawan berarti bersiap

menjadi kambing kurban…”

13

Tri Nanang BS

Telah ia jadikan suatu dalam syair-syair air.

madah. Kata-kata “CACAPARUS GOROGOTI” ada

bersayap bianglala makna yang tersembunyi dalam

yang telah ia tenun dari dedaun bunyi. Aku hendak menerka-

dan pepohonan yang rimbun. nerka. Namun maknanya ditiup

Sayup-sayup lirih terdengar dari angin seperti putik-putik sari yang

tepi kali. Nampaknya ia sedang lepas dari kelopaknya.

mandi atau sekedar mencuci diri.

Air kali itu hitam dan berbau. Badak bercula sedang
memadukan langkah. Tenang...
Rupanya ia sedang membasuh badak bercula lebih sabar dalam
bertingkah. Ia tak hendak
malu. Masa kanak-kanak telah ia menabrakkan diri seperti seorang
priyayi yang sedih ditinggal
habiskan untuk berendam dalam kekasih. Atau seorang anak
durhaka dan kurang ajar yang
kolam hitam. Barangkali, air mata telah dicampakkan pacar. Lalu
dipulangkan ia pada senja dengan
sedihnya akan larut, mengalir dari taksi atau mobil pribadi. lalu
dipaksanya ia untuk mandi.
sungai ke laut dan bercampur Membasuh hatinya yang perih.
Sekedar membuang bala jadi
dengan keheningan samudera. sampah.

Aku kenal ia. Ia bukan
primata kera , gorila atau
sejenisnya. Aku melihatnya sebagai
badak bercula. Namun bukan
anggota famili Rhinocerotidae.
Kulitnya hitam dan keras. Namun
tidak pada kedalaman hatinya.

Ia tak pandai bersembunyi. Lantas bagaimanakah badak
Aku masih mendengar bunyi- bercula dalam balada?
bunyi sunyi yang sering ia lagukan

14

Badak bercula tinggal dalam mencari tawa. Menyisir hari.
panggung tawa. Dengan bunga- Bermain dengan kumbang dan
bunga yang bercerita ribuan ilalang. Mengejar mentari,
kumbang. Pepohonan senang membacakan puisi, menerka pagi ,
sebab berbuah matang. Lebah- menapaki udara dan embun yang
lebah yang memanen madu dari basah. Kala mentari tepat di atas
nektar. Ataupun rumput yang kepala, ia teduh kan badannya
bercengkrama dengan lumut. pada bayangan pohon yang
Badak itu lebih tenang, namun rindang. Sembari berdendang,
apabila penyakit datang meradang, beberapa bagian badan ia
badak terbujur lemas pada goyangkan. Entah dari mana ia
ranjang. Rupanya ia kurang mendapatkan senandung musik
makan. itu. barangkali ilham dari intuisi?
Ia rebahkan tubuhnya yang rapuh
Aduh.. aduh.. apabila ia sudah dalam kerasnya kayu-kayu. Lalu ia
sembuh, hutan dan sabana jadi pejamkan mata. Bermimpi badak
gaduh. Untuk sekedar menebar punya sayap untuk terbang tinggi.
kartu atau menggosokkan badan Memakan awan seperti memakan
pada tumbuhan paku. Badak mana kembang gula rasa manis
yang telah aku jumpa dalam berwarna-warni. Lalu kala petang
suaka? Tak sebegini jua balada. datang. Mentari lelah mulai
Tak sebegitu jua rupanya. memerah. Badak bangun dari
mimpi indah. Maka badak
Aku lupa, badak bercula berpulang kembali ke kandang.
pandai benar buat madah. Pada malam meremang, badak
Keelokan kata-kata ia semaikan hendak bermain dengan kunang-
jadi padi di sawah. Dipanen oleh kunang. Jangkrik berderik
petani, dicuci dengan air kali, menyanyikan larik-larik. Lalu kala
dinanak menjadi nasi, lalu bersua rembulan tiba. Badak sudah
dimakan oleh ribuan insani. Tak masanya untuk mendoa. Ia tata
usah berhati-hati, barangkali jerami menjadi tumpukan selimut
madahnya telah bercampur lembut. Lalu ia bacakan doa-doa
dengan darah, daging dan sum- sastra. Berharap, semoga esok
sum pada hati. lebih berbahagia.

Kala fajar tiba, badak bercula Begitulah balada dari badak
menata langkah pergi ke hutan bercula. . . Sekian. . . Sampai
hujan dataran rendah, padang jumpa kala esok tiba. (*)
rumput basah. Ia mengembara

_______

15

why so serious-kata
joker dan kini dunia
menjadi terlampau
serius. politik jadi
tuhan uang jadi tuhan
iblis pun bisa jadi
tuhan. di gotham batman
bercinta dengan
musuhnya sendiri. bane
beraksi seolah juru
selamat tapi kota
justru meledak. hebat.
mana joker mana
joker. gotham
memburumu. mereka
tak butuh seribu
gordon sekalipun
mereka tak butuh

16

bruce wayne mereka
tak butuh Alfred
menghadrikan sarapan
di sarang kelelawar
mereka butuh badut
pembunuh tanpa tujuan
agar dunia tak
terlampau serius
mereka butuh setan
agar kebenaran tak
terlalu memaksakan
mereka butuh hiburan
mereka butuh joker.
joker mana joker
mana datanglah joker
joker!

‘Memburu Badut Gotham’--by Tito HR

17

JANGKRIK- BY M HABIB SYAFAAT

Jangkrik!
Ini nasib, ini takdir
Ini hidup, ini nyata
Ini garis, ini fakta
Ini tabir, ini lahir
Ini nasir, ini tohir
Ini paku, ini palu
Ini mur, ini baut
Ini langit, ini bumi
Ini bulan, ini
matahari

18

Ini itu, ini bukan
itu

Lelaki, wanita,
setengah
keduanya. Krik!
Bayi, anak-
anak, remaja,
orang tua, manula.
Krik!
Kucing, anjing,
semut, gajah,

19

macan, gorila.
Krik!

Nangka, durian,
mangga, jeruk,
apel, nanas. Krik!

Air, api, tanah,
udara. Krik!

Panas, dingin,
hangat, sejuk.
Krik!

Gunung, pantai,
pulau, air terjun.
Krik!

20

Semua macam
yang bermacam-
macam. Bedebah!.
Krik!

Jangkrik!
Semuanya
jangkrik! --
krik! -- krik!
-- krik! --
jangkrik!
Pun juga aku

21

Di halaman 22, sebenarnya zine ini
akan memuat tulisan tentang
Beatles—itulah kenapa cover kami
memakai foto Beatles In USA. Tapi
karena berbagai pertimbangan,
rencana itu akhirnya ditunda dan
diubah secara mendadak menjadi
halaman yang khusus menampilkan
quote-quote super dari Om Mario
Teguh. Tapi lagi-lagi rencana itu
batal karena ternyata lebih keren
hidup dengan cara kita sendiri
daripada harus menuruti bualan
Mario Teguh. Dan dengan berat
hati, akhirnya telah diputuskan
bahwa halaman 22 adalah halaman
terakhir dari zine motherfucker ini.
Matur sembah nuwun :))

yeah!

[email protected]

22


Click to View FlipBook Version