PENGANTAR SEMANTIK
OLEH
DR. HJ. R. PANCA PERTIWI HIDAYATI
SETIAWAN, S.PD., M.PD.
LILI SADELI, S.PD., M.PD.
ASAL KATA ‘SEMANTIK’
• Semantik atau Semasiologi ------semainein = bermakna atau
berarti’menandai’, ‘berarti’, samaino – verba dan sema
‘nomina’ (Yunani) = bermakna atau berarti, atau semantics
(bahasa Inggris)
• Semantik (dalam ilmu bahasa) : (1) penelitian makna kata
dalam bahasa tertentu menurut sistem penggolongan;(2)cabang
linguistik yang bertugas semata-mata meneliti makna kata,
asal mula makna, perkembangannya, serta sebab terjadinya
perubahan makna dalam sejarah bahasa.
PERKEMBANGAN SEMANTIK SEBAGAI
SUATU ILMU BAHASA
• Abad ke-17 melalui frase semantic philosophy
• 1894, istilah ‘semantik’ dikenal melalui American Philological
Association, yaitu dalam artikel Reflected Meanings: A point
in Semantics
• Breal menyebut semantik sebagai ilmu murni historis
(historical semantics), yang dalam bahasa Perancis dikenal
dengan istilah semantique dalam artikelnya yang berjudul “Le
Lois Intellectuelles du Langage”
• Historical semantics ---semantik dihubungkan dengan unsur-
unsur luar bahasa, mis. dengan logika, psikologi ( dalam artkel
Breal yang berjurul Essai de Semantique
Reisig (1825)konsep baru dalam linguistik,
‘semasiologi’perkembangan semantik terbagi atas
tiga masa pertumbuhan
• Masa pertama= underground period (menurut
Ullman) termasuk di dalamnya kegiatan Reisig
• Masa Kedua, semantik sebagai ilmu murni
historis (munculnya karya klasik Breal, 1883)
• Masa perkembangan ketiga, ditandai dengan
munculnya karya filologi Swedia, Gustaf Stern
(1931) yang berjudul “Meaning and Change of
Meaning with Special Reference to the English’
(kajian dilakukan secara empiris dengan bertolak
dari satu bahasa, yaitu bahasa Inggris)
Tahun 1990, Semantik dinyatakan sebagai Ilmu Makna
(bertolak dari pandangan Ferdinand de Saussure) Cours
de Linguisticque Generale---landasan aliran
strukturalisme: “Bahasa merupakan satu sistem yang
terdiri atas unsur-unsur yang salaing berhubungan, dan
merupakan satu kesatuan (the whole unified)’
pandangan ahli terhadap semantik menjadi berbeda
dengan yang sebelumnya.
• Pandangan historis mulai ditingggalkan
• Perhatian diarahkan pada struktur bahasa
• Semantik mulai dipengaruhi stilistika
• Studi semantik mulai terarah pada bahasa tertentu
• Hubungan antara bahasa dengan pikiran mulai dipeljari
• Semantik melepaskan diri dari filsafat
The Meaning of Meaning
(Odgen & Richards, 1923)
• Menekankan tiga unsur dasar:
– Thought of referrence (pikiran)
– Referent (acuan)
– Symbol (lambang)
Signifik=semasiologi=semologi=semiotik,
sememmik=semik=semantics (Palmer,
1977; Lyons, 1977; Leech, 1974, Lehrer,
1974)
HUBUNGAN SEMANTIK DENGAN ILMU
LAIN
• Antropologi- analisis makna dalam bahasa dapat menyajikan
klasifikasi budaya pemakai bahasa secara praktis
• Filsafat – persoalan makna tertentu dapat dijelaskan secara
filosofis, mis. makna ungkapan & peribahasa
• Psikologi- memanfaatkan gejala kejiwaan yang ditampilkan
manusia secara verbal atau nonverbal
• Sosiologi- memiliki kepentingan denganungkapan atau
ekspresi tertentu dapat menandai kelompok sosial atau
identitas
Gosip Jalanan (Slank)
• Pernahkah lo denger mafia judi, katanya banyak uang suap polisi,
tentara jadi pengawal pribadi
• Apa lo tahu mafia narkoba, keluar masuk jadi bandar di penjara,
terhukum mati tapi bisa ditunda
• Siapa yang tahu mafia selangkangan, tempatnya lendir-lendir
berceceran, uang jutaan bisa dapat perawan, kacau balau – kacau
balau negaraku ini
• Ada yang tahu mafia peradilan, tangan kanan hukum di kiri
pidana, dikasih uang habis perkara
• Apa bener ada mafia pemilu, entah gaptek apa manipulasi data,
ujungnya beli suara rakyat
• Mau tahu gak mafia di senayan, kerjanya tukang buat peraturan,
bikin UUD ujung-ujungnya duit
• Pernahkah gak denger teriakan Allahu Akbar, pakai peci tapi
kelakuan bar-bar, ngerusakin bar orang ditampar-tampar
Meneliti makna kata bahasa
Indonesia berarti meninjau
kembali & mengikuti
perkembangan cara berpikir
bangsa Indonesia.
• makna bahasa, khususnya makna kata, terpengaruh oleh berbagai
konteks.
• Makna kata dapat dibangun dalam kaitannya dengan benda atau
objek di luar bahasa.
• Dalam konsepsi ini, kata berperan sebagai label atau pemberi nama
pada benda-benda atau objek-objek yang berada di alam semesta.
• Makna kata juga dapat dibentuk oleh konsepsi atau pembentukan
konsepsi yang terjadi dalam pikiran pengguna bahasa.
• Proses pembentukannya berkait dengan pengetahuan atau persepsi
penggunaan bahasa tersebut terhadap fenomena, benda atau peristiwa
yang terjadi di luar bahasa.
• Dalam konteks ini, misalnya penggunaan bahasa akan tidak sama
dalam menafsirkan makna kata demokrasi karena persepsi dan
konsepsi mereka berbeda terhadap kata itu. Selain kedua konsepsi itu,
makna kata juga dapat dibentuk oleh kaitan antara stimulus, kata
dengan respons yang terjadi dalam suatu peristiwa ujaran.
Beranjak dari ketiga konsepsi ini maka kajian semantik pada
dasarnya sangat bergantung pada dua kecenderungan. Pertama,
makna bahasa dipengaruhi oleh konteks di luar bahasa, benda, objek
dan peristiwa yang ada di alam semesta. Kedua, kajian makna bahasa
ditentukan oleh konteks bahasa, yakni oleh aturan kebahasaan suatu
bahasa.
MAKNA KATA (Slametmuljana)
• Hubungan antara tanda bunyi fisiologis dengan
pengertian yang dimaksud atas dasar
perjanjian masyarakat bahasa tertentu.
• Bidang penelitian semantik Indonesia ialah
hubungan antara kata-kata Indonesia dengan
pengertian yang ditunjuk atas dasar perjanjian
masyarakat bahasa Indonesia.
• Dalam konteks ini, misalnya penggunaan bahasa akan
tidak sama dalam menafsirkan makna kata demokrasi
karena persepsi dan konsepsi mereka berbeda terhadap
kata itu.
• Selain kedua konsepsi itu, makna kata juga dapat
dibentuk oleh kaitan antara stimulus, kata dengan respons
yang terjadi dalam suatu peristiwa ujaran.
• Beranjak dari ketiga konsepsi ini maka kajian semantik
pada dasarnya sangat bergantung pada dua
kecenderungan. Pertama, makna bahasa dipengaruhi oleh
konteks di luar bahasa, benda, objek dan peristiwa yang
ada di alam semesta. Kedua, kajian makna bahasa
ditentukan oleh konteks bahasa, yakni oleh aturan
kebahasaan suatu bahasa.
PERAN KONTEKS DALAM PEMAKNAAN
BAHASA
(Relativitas Bahasa, Pemaknaan Bahasa)
• Bahasa sangat erat kaitannya dengan budaya (language is a part of
culture )
• Mengingat kajian makna bahasa tidak hanya mencakup makna kata
dan makna kalimat saja melainkan juga makna ujaran, tentu lebih
bijak bagi kita apabila kajian makna bahasa mempertimbangkan
kedua kecenderungan itu.
• Bahasa merupakan wujud dari tindakan penggunaan bahasa yang
bergantung pada situasi penggunaan bahasa.
• ciri-ciri yang melekat pada situasi harus teridentifikasi. Ciri yang
menyangkut penutur dan pendengar, tempat bertutur serta objek yang
dibicarakan, misalnya merupakan unsur-unsur situasi berbahasa.
•
• Salah satu contoh upaya penggambaran konteks
berbahasa dalam kajian makna adalah lewat penggunaan
kata ganti atau yang lazim dikenal dengan deiksis.
• Deiksis, antara lain menggambarkan unsur-unsur
peristiwa berbahasa, seperti aspek waktu, ruang, dan
objek berikut peristiwa yang dirujuk dalam penggunaan
bahasa.
• Tentu saja tidak semua unsur yang melekat pada situasi
berbahasa dapat diwujudkan melalui unsur bahasa, kata
atau kalimat. Untuk itu, peran nirlinguistik, aspek-aspek
di luar bahasa perlu diperhitungkan dalam kajian makna
bahasa.
• Kata “deiksis” berasal dari bahasa Yunani,
“deiktikos” yang berarti ‘hal penunjukkan
secara langsung’. Istilah deiksis digunakan
untuk merujuk diri kita sendiri, orang lain, dan
objek yang berada di lingkungan kita. Mereka
digunakan untuk menempatkan kegiatan dalam
kerangka waktu yang relatif ke masa kini. Istilah
deiksis memperlihatkan hubungan sosial –
lokasi sosial individu dalam hubungannya
dengan yang lain. Mereka juga digunakan untuk
menempatkan bagian dari teks dalam
hubungannya dengan bagian yang lain.
• Ekspresi deiksis secara khusus
ditampakkan dengan kata ganti, kata
tunjuk (‘ini/itu, this/that, these/those),
waktu tertentu dan keterangan tempat
(here and now), beberapa kata kerja-
tindakan (come/go), dan tenses.
SEMANTIK DAN TATA BAHASA
(SEMANTICS AND GRAMMAR)
• Serbaneka tentang Tata Bahasa
• Kita telah mempelajari beberapa konsep yang berkaitan
dengan:
1. tatabahasa formal (formal grammar);
2. tatabahasa nosional (notional grammar);
3. kategori tata bahasa (grammatical categories);
4. tatabahasa dan leksikon (grammar and lexicon);
5. hubungan-hubungan gramatikal (grammatical relations).
EMPAT TINGKATAN MAKNA
• Aras Makna Linguistik • Aras Makna Proposisi
(mempersoalkan apakah
(makna-makna leksikal & sebuah
makna-makna struktural kalimat/proposisi/ujaran
sebuah bahasa) benar/tidak benar)
• Harus ada pemahaman • Mencakup kelogisan
tentang fungsi unsur makna dan keempirisan
bahasa yang digunakan; makna
ciri kalimat; partikel
perangkai
TINGKATAN MAKNA YANG LAIN
• Aras Makna Pragmatik • Aras Makna
(analisis terhadap Kontekstual (Analisis
pemahaman akan tujuan terhadap bangun ujaran
dan fungsi sebuah tutur) dengan pengetahuan
sebelumnya atau
pengetahuan bersama
sesai konteks yang
melingkupinya)
ARAS ANALISIS SEMANTIK
• MAKNA LINGUISTIK TERBAGI ATAS MAKNA
LEKSIKAL & MAKNA GRAMATIKAL
• MAKNA LEKSIKAL TERDIRI ATAS HAKIKAT MAKNA
(MAKNA DENOTASI & KONOTASI); HUB.
ANTARMAKNA (SINONIMI, ANTONOMI,
HIPRNMI/HIPONIMI, HOPMONIMI, POLISEMI,
PENJAMINAN MAKNA); PERK. MAKNA (PERGESERAN
MAKNA, PENGEMB. METAFORA, KETERJADIAN
IDIOM)
• Makna gramatikal terdiri dari: makna
morfologis (makna infleksi& derivasi); makna
frase (NN, NV, NA, VV, VN, VA, AA, AN,
AV); MAKNA SINTAKSIS (HUB.
KATEGORIAL, FUNGSIONAL, & PERAN);
MAKNA NOSI UMUM (BERITA, TANYA,
PERINTAH, SERU); MAKNA PEMARKAH
KOHESI ( ANTARKLAUSA,
ANTARKALIMAT); MAKNA PARTIKEL
(WAKTU, TEMPAT, SEBAB, MODUS,
CARA, TUJUAN)